Anda di halaman 1dari 9

Bahan-Bahan Penyebab Polusi dari Kapal Sesuai Marpol 73/78

Operasional kapal laut merupakan salah satu penyebab terjadinya polusi di laut, baik polusi
yang ada di perairan maupun polusi udara. Penyebab terjadinya polusi tersebut bukan saja oleh
kecelakaan kapal namun juga disebabkan operasional normal dai kapal. Meskipun polusi yang
disebabkan oleh kapal hanya 30 persen dari keseluruhan penyebab polusi, namun issue tentang
polusi akibat kegiatan pelayaran tetap merupakan hal yang sangat penting. Minyak dan residu
minyak yang terbuang di laut melalui kegiatan operasional saat membersihkan dek ataupun bagianbagian dari kapal, jika di akumulasikan akan lebih besar volumenya dibandingkan dengan minyak
yang terbuang akibat terjadinya kecelakaan kapal. Selain pembuangan minyak, pembuangan air
ballast, sampah, kotoran, dan gas buang juga memberikan kontribusi dalam terjadinya polusi di
laut.
Definisi Pencemaran Lingkungan Laut
Pencemaran lingkungan laut berarti dimasukkannya oleh manusia secara langsung atau tidak
langsung,bahan atau energi kedalam lingkungan laut termasuk kuala yang mengakibatkan atau
mungkin membawa akibat buruk sedemikian rupa seperti kerusakan pada kekayaan hayati laut dan
kehidupan dilaut,bahaya bagi kesehatan manusia ,gangguan terhadap kegiatan kegiatan di laut
termasuk penangkapan ikan dan penggunaan laut yang sah lainnya, penurunan kualitas kegunaan
air laut dan pengurangan kenyamanan. (UNCLOS 1982)
Pencemaran laut adalah masuknya atau dimasukkannya mahluk hidup, zat, energi dan atau
komponen lain kedalam laut oleh kegiatan manusia atau oleh proses alam sehingga kualitas air
laut turun sampai ketingkat tertentu yang menyebabkan laut menjadi kurang atau tidak berfungsi
lagi sesuai dengan peruntukkannya. (UU LINGKUNGAN HIDUP)
1.1 Sekilas tentang MARPOL 73/78
Untuk mencegah semakin meningkatnya polusi diperairan maka, IMO sebagai badan PBB
yang berkecimpung dalam dunia maritim, membentuk konvensi yang bertujuan untuk mencegah
terjadinya polusi lebih lanjut akibat operasional kegiatan pelayaran di laut. Konvensi tersebut
dikenal dengan MARPOL 73/78. MARPOL di sahkan pada 2 Nopember 1973 oleh IMO. Meskipun
sudah disahkan konvensi ini belum dilaksanakan sampai pada tanggal 2 Oktober 1983. Setelah
pengesahan tahun 1973, pada tahun 1978 konvensi ini mengalami amandemen yang dikenal dengan
MARPOL Protocol 1978.
Dalam MARPOL terdapat enam ANNEX, yaitu:
1.

Annex I - Peraturan-peraturan untuk pencegahan pencemaran oleh Minyak (berlaku 2


Oktober 1983)

2.

Annex II - Peraturan-peraturan pencegahan pencemaran oleh bahan cair berbahaya

dalam keadaaan curah (Mulai berlaku 6 April 1987)


3.
Annex III - Peraturan-peraturan untuk pencegahan pencemaran oleh zat-zat berbahaya
yang diangkut melalui laut dalam kemasan, atau peti atau tangki jinjing atau mobil tangki dan
gerbong tangki(Mulai berlaku 1 Juli 1991)
4.
Annex IV - Peraturan-peraturan untuk pencegahan pencemaran oleh kotoran manusia
5.

dan hewan dari kapal (diberlakukan 27 September 2003)


Annex V - Peraturan-peraturan untuk pencegahan pencemaran oleh sampah dari kapal

(berlaku 31 Desember 1988)


6.
Annex VI - Peraturan-peraturan untuk pencegahan pencemaran udara dari kapal-kapal
1.2 Bahan Penyebab Polusi
Unsur unsur pokok pencemaran lingkungan laut adalah

Kegiatan pelayaran

Kegiatan pengeboran

Kegiatan penyulingan (refinery).

Kegiatan terminal/ pelabuhan

Kegiatan galangan kapal

Secara garis besar pencemaran di laut disebabkan oleh:


1. Polusi oleh minyak
Menurut MARPOL 73/78 : Minyak adalah semua jenis minyak bumi seperti minyak
mentah (crude oil) bahan bakar (fuel oil), kotoran minyak (sludge) dan minyak hasil
penyulingan (refined product)
2. Polusi akibat muatan kapal
Muatan kapal yang dimaksud adalah muatan kapal berbahaya yang bisa menyebabkan
terjadinya polusi jika terjadi tumpahan dari muatan tersebut. Muatan berbahaya dikenal
dengan istilah barang berbahaya
Suatu barang atau substansi yang dapat menimbulkan suatu resiko kepada kesehatan,
keselamatan jiwa, kerusakan lingkungan dan properti .
Barang berbahaya dapat berupa cairan, padat, atau gas. Barang berbahaya tersebut
memerlukan perhatian khusus karena bisa menyebabkan terjadinya kebakaran atau ledakan
yang bisa mebahayakan lingkungan di sekitarnya.
Menurut MARPOL 73/78 : Naxious liquid substances. Adalah barang cair yang beracun
dan berbahaya hasil produk kimia yang diangkut dengan kapal tanker khusus (chemical
tanker). Bahan kimia dimaksud dibagi dalam 4 kategori (A,B,C, dan D) berdasarkan derajad
toxic dan kadar bahayanya.
Kategori A : Sangat berbahaya (major hazard). Karena itu muatan termasuk bekas pencuci
tanki muatan dan air balas dari tanki muatan tidak boleh dibuang ke laut.
Kategori B : Cukup berbahaya. Kalau sampai tumpah ke laut memerlukan penanganan
khusus (special anti pollution measures).

Kategori C : Kurang berbahaya (minor hazard) memerlukan bantuan yang agak khusus.
Kategori D : Tidak membahayakan, membutuhkan sedikit perhatian dalam menanganinya.
Penggolongan tersebut digunakan sebelum tahun 2007, namun setelah tahun 2007
pengelompokkan menjadi:
X, Y, Z and OS
OS or Other Substances - termasuk, jus apple, semen, batu bara, dextrose solution, glucose
solution, kaoline slurry, molasses and water
Category X: jika dibuang dari proses pencucian tanki setelah bongkar muatan atau
deballasting akan menimbulkan major hazard baik bagi ekosistem laut maupun manusia
sehingga tidak boleh dibuang ke laut
Category Y: jika dibuang dari proses pencucian tanki setelah bongkar muatan atau
deballasting akan menimbulkan hazard baik bagi ekosistem laut maupun manusia sehingga
terdapat batasan pembuangan pada lingkungan laut
Category Z: jika dibuang dari proses pencucian tanki setelah bongkar muatan atau
deballasting akan menimbulkan minor hazard baik bagi ekosistem laut maupun manusia
sehingga batasannya lebih longgar dalam jumlah dan kualitas yang boleh dibuang ke laut
Other Substances: zat yang tidak termasuk dalam X, Y, Z yang tidak membahayakan
ekosistem laut dan manusia yang menggunakan laut, saat pelaksanaan pencucian tanki
muatan dan deballasting
3. Polusi akibat kotoran hewan/manusia (sewage)
Yang dimaksud kotoran (sewage) adalah
a)
b)

Pembuangan dari toilet.urinoir dan wc.


Pembuangan dari tempat pengobatan seperti hopital,dispensary yang dibuang ke
westafel atau scupper
c) Pembuangan dari ruangan tempat binatang hidup
d) Buangan lain yang bercampur dengan buangan diatas
4. Polusi akibat pembuangan sampah dari atas kapal (garbage)
Yang dimaksud sampah (garbage) adalah segala macam makanan,buangan rumah tangga
dan operasional tapi tidak termasuk ikan segar atau bagiannya,yang secara normal
dihasilkan selama pengoperasian kapal secara normal dan harus dibuang secara continue
atau periodik
5. Polusi akibat udara gas buang
Pencemaran karena kegiatan pelayaran diakibatkan oleh:
1. Kapal tubrukan .
2. Kapal kandas.
3. Kapal kebakaran.
4. Kapal tenggelam.
5. Jatuhnya muatan.
6. Kegiatan penumpang dan awak kapal.
7. Pengoperasian normal kapal.

Pada saat pengoperasian normal kapal lokasi penyebab terjadinya polusi di laut adalah:
Dari ruang pemesinan :
1. Kebocoran bahan bakar
2. Kebocoran minyak lumas.
3. Tumpahan bahan bakar dan minyak pelumas
4. Air laut dari poros propeller dfan installasi pendingin mesin.
Dari ruang muat: Sistim ballast, Pencucian tanki, Muatan tumpah atau jatuh
Dari ruang akomodasi: Kotoran manusia, Sampah

SUMBER DAN BAHAN-BAHAN PENYEBAB POLUSI


1. Sumber polusi akibat minyak
Polusi yang disebabkan oleh minyak bukan saja disebabkan opleh terjadinya kecelakaan kapal
yang bisa mengakibatkan terjadinya tumpahan minyak dilaut, namun juga dikarenakan
kegiatan operasional kapal. Bahan bakar dan minyak lumas merupakan kebutuhan mendasar
pada operasional kapal.

Beberapa kapal, secara sengaja maupun tidak sengaja membuang cairan minyak dan bahan
kimia yang lainnya ke perairan lepas. Pada umumnya minyak atau cairan yang mengandung
minyak serta bahan kimia berbahaya lainnya berasal dari tumpahan bahan bakar saat pengisian,
perawatan kapal, dan buangan dari sumur bilga. Minyak dan bahan bahan kimia tersebut bisa
membahayakan kehidupan biota laut ataupun manusia. Meskipun tumpahan tersebut sedikit,
namun kandungan bahan kimia di dalammnya bisa membahayakan kehidupan biota di laut.
Bahan bakar permesinan memang bahan yang beracun, namun minyak pelumas meskipun
kandungan racunnya tidak setinggi bahan bakar, juga sangat membahayakan lingkungan di

laut, karena minyak yang masuk dalam perairan akan mudah menyebar diakibatkan sifatnya
yang mampu membuat lapisan tipis di permukaan air.
Produk yang dianggap sebagai polutan antara lain:
a. Bahan bakar
b. Minyak pelumas
c. Minyak yang digunakan dalam sistem hidrolis
d. Zat aditif pada sistem pendingin
e. Bahan pembersih
f. Gemuk
g. Cat badan kapal
Jika produk produk ini memasuki perairan dan kemudian masuk kedalam hewan hewan laut,
maka akan memberikan dampak bukan hanya pada hewan laut saja, namun juga berdampak
pada manusia. Siklus kehidupan hewan laut akan terganggu yang akan mengubah juga
keseluruhan ekosistem di laut. Apabila polutan polutan tersebut masuk kedalam hewan laut dan
kemudian dikonsumsi oleh manusia maka, bahan polutan tersebut juga masuk kedalam tubuh
manusia.
2. Sumber polusi akibat muatan berbahaya kapal
Pada pokok bahasan sebelumnya telah disebutkan bahwa muatan berbahaya adalah Suatu
barang atau substansi yang dapat menimbulkan suatu resiko kepada kesehatan, keselamatan
jiwa, kerusakan lingkungan dan properti .
Istilah bahan berbahaya adalah nama umum dan menurut hukum bahan kimia didefinisikan
sebagai
Bahan berbahaya atau formulasi menurut Chemicals Law.
Bahan, formulasi dan produk dapat membentuk atau melepaskan bahan
atau formulasi berbahaya selama proses pengangkutan,
Bahan, formulasi dan produk bersifat mudah meledak
Berikut adalah beberapa definisi yang dapat digunakan:
Bahan/zat adalah unsur atau senyawa kimia bagaimana terjadinya di alam atau

diproduksi dengan cara sintesis (misalnya asbes, bromin,etanol, timbal, dll)


Formulasi adalah paduan, campuran atau larutan dari dua bahan atau lebih (misalnya

cat, larutan formaldehid dll)


Produk adalah bahan/zat atau formulasi yang diperoleh atau terbentuk selama proses
produksi. Sifat-sifat ini lebih menentukan fungsi produk daripada komposisi kimianya.

Sifat dari bahan-bahan berbahaya:


1. Inflammable substances (bahan mudah terbakar)
Bahan mudah terbakar terdiri dari sub-kelompok bahan peledak, bahan pengoksidasi,
bahan amat sangat mudah terbakar (extremely flammable substances), dan bahan sangat
mudah terbakar (highly flammable substances). Bahan dapat terbakar (flammable
substances) juga termasuk kategori bahan mudah terbakar (inflammable substances)
tetapi penggunaan simbol bahaya tidak diperlukan untuk bahan-bahan tersebut
2. Explosives (bersifat mudah meledak)
Bahan dan formulasi yang ditandai dengan notasi bahaya explosive dapat meledak
dengan pukulan/benturan, gesekan, pemanasan, api dan sumber nyala lain bahkan tanpa
oksigen atmosferik. Ledakan akan dipicu oleh suatu reaksi keras dari bahan. Energi
tinggi dilepaskan dengan propagasi gelombang udara yang bergerak sangat cepat.
Sebagai contoh, asam nitrat dapat menimbulkan ledakan jika bereaksi dengan beberapa
solven seperti aseton, dietil eter, etanol.
3. Oxidizing (pengoksidasi)
Bahan-bahan dan formulasi yang ditandai dengan notasi bahaya oxidizing biasanya
tidak mudah terbakar. Tetapi bila kontak dengan bahan mudah terbakar atau bahan
sangat mudah terbakar mereka dapat meningkatkan resiko kebakaran secara signifikan.
Dalam berbagai hal mereka adalah bahan anorganik seperti garam (salt-like) dengan

sifat pengoksidasi kuat dan peroksida-peroksida organik. Contoh bahan tersebut adalah
kalium klorat dan kalium permanganat juga asam nitrat pekat.
4. Very Toxic (Sangat Beracun)
Bahan dan formulasi yang ditandai dengan notasi bahaya very toxic dapat
menyebabkan kerusakan kesehatan akut
Barang-barang tersebut diklasifikasikan menjadi:
- Class 1Bahan Peledak
o Zat yang memiliki sifat ledak hebat
o Zzat dan bahan yangmemiliki sifat bahaya peleakan namun bukan ledakan hebat
o Zat dan bahan yang dapat menimbulkan bahaya kebakaran atau ledkan kecil atau
keduanya, namun bukan menimbulkan ledakan hebat.
o Zat dan bahan yang tidak begitu membahayakan
o Zat yang sangat peka
- Class 2 Gas, yang dimampatkan, di cairkan atau dilarutkan dibawah tekanan
- Class 3Cairan mudah terbakar
o Cairan dengan titik bakar rendah
o Cairan dengan titik bakar sedang
o Cairan dengan titik bakar tinggi
- Class 4 bahan padat mudah terbakar
o Bahan padat mudah terbakar
o Bahan padat mudah terbakar atau zat yang mudah mengeluarkan uap panas
- Class 5Zat oksidasi dan yang dapat beroksidasi
- Class 6Zat beracun dan menimbulkan gangguan iritasi
- Class 7Zat radioaktif
- Class 8Bahan yang menimbulkan karat
- Class 9Bahan lainnya yang berbahaya
3. Sumber polusi akibat kotoran
Sewage memiliki pengertian:
(a) air buangan dan kotoran lainnya yang berasal lubang buangan dari toilet, urinair, WC
dalam bentuk apapun.
(b) buangan dari sumber tempat atau balai pengobatan (apotik, bahan-bahan pengobatan)
yang dibuang melalui wastafel, atau lubang buangan lainnya
(c) buangan dari tempat yang didalamnya terdapat
(d) buangan lainnya yang tercampur oleh jenis buangan yang disebutkan diatas
Yang perlu diperhatikan adalah pada poin (a) air buangan dari toilet yang merupakan air
buangan bekas dari kamar mandi tidak temasuk dalam istilah sewage.
4. Sumber polusi akibat sampah
Garbage means all kinds of victual, domestic and operational waste excluding fresh fish and
parts there of, generated during the normal operation of the ship and liable to be disposed of
continuously or periodically except those substances which are defined or listed in other
Annexes to the present Convention
5. Sumber polusi akibat gas buang
Emission Gases from Ships
Oxides of Nitrogen (NOx) create Ozone
Sulphur Oxides (SOx) create acidification
Carbon Dioxide (CO2) is a GHG
Carbon Monoxide (CO)
Hydrocarbons (HC) gas, soot and some particulates

The concentration of the differing exhaust gases is variable according to the engine type,
engine settings and fuel type.

TINDAKAN PENCEGAHAN/PENGURANGAN TERHADAP POLUSI


Pencegahan polusi dilaut dialksanakan dengan cara antara lain pembangunan konstruksi
kapal yang bisa meminimalisasi terjadinya polusi di laut, penambahan peralatan pencegah polusi
dan pengawasan terhadap sistem pembuangan bahan-bahan yang bisa menyebabkan polusi.

Pencegahan polusi melalui pembangunan konstruksi kapal:


1. Segregated ballast tank (SBT)
Segregated ballast tank merupakan tangki ballast yang terpisah dai tangki bahan bakar
maupun dari tanki muatan yang hanya dipergunakan untuk operasional sistem ballast, dan
memiliki sistem pemipaan yang juga terpisah. Pemisahan ini bertujuan untuk mengurangi
resiko polusi saat pengosongan tangki ballast.
2. Dedicated ballast tank
Dedicated ballast tank merupakan tangki ballast yang hanya diisi dengan air ballast yang
bersih sehingga saat pembuangan air ballast tidak akan menimbulkan polusi
3. Pembatasan ukuran tanki
when the ship is equipped with a holding tank the capacity of such tank shall be to the
satisfaction of the Administration for the retention of all sewage having regard to the
operation of the ship, the number of persons on board and other relevant factors. The
holding tank shall have a means to indicate visually the amount of its contents; and that the
ship is equipped with a pipeline leading to the exterior convenient for the discharge of
sewage to a reception facility and that such a pipeline is fitted with a standard shore
connection in compliance with regulation 11 of this Annex.
4. Subdivision and stability
5. Protective location of SBT (double hull)
6. Retention on board.
Pencegahan polusi melalui penambahan peralatan pencegah polusi di atas kapal:
1. Oily water seperator

2.
3.
4.
5.
6.

Oil discharge Monitoring and Control Systen


Interface Detector
Instalasi pembuangan kedarat
Oil record book
SOPEP

Pencegahan polusi melalui pengawasan pembuangan bahan bahan yang mengandung polutan:
1.
2.
3.
4.

Kadar buangan
Daerah buangan
Receiption Facility
Penegakan hukum