Anda di halaman 1dari 20

Pekerjaan Arsitektur

PEKERJAAN LANTAI KERAMIK

Umum
Lingkup Pekerjaan :
a. Plesteran kasar untuk dasar pasangan ubin keramik lantai.
b. Pasangan ubin keramik tanah liat untuk lantai pada area-area, sesuaikan dengan yang
ditunjukkan pada gambar.
c. Tile Grout untuk pengisi nut nut keramik / joint filler.
d. Pasangan ubin keramik untuk tangga.
Pekerjaan yang berhubungan :
a. Pekerjaan Pasang bata
b. Pekerjaan screed lantai.
c. Pekerjaan Waterproofing ( pada area basah ).
Standard
a.
b.
c.
d.
e.

PUBI : Persyaratan Umum Bahan Bangunan Indonesia 1982 (NI-3)


ANSI : American National Standard Institute
ISO : 13006
TCA : Tile Council of America, USA
TCA 137.1 Recommended Standard Spesifikation for Ceramic Tile

Persetujuan
Contoh bahan
Guna persetujuan Direksi/Perencana, Kontraktor harus menyerahkan contoh-contoh semua
bahan yang akan dipakai; keramik, bahan-bahan additive untuk adukan, dan bahan untuk tile
grouts.
Mock-up/contoh pemasangan
Sebelum mulai pemasangan, kontraktor harus membuat contoh pemasangan yang
memperlihatkan dengan jelas pola pemasangan, warna dan groutingnya.
Mock-up yang telah disetujui akan dijadikan standard minimal untuk pemasangan keramik.

Pekerjaan Arsitektur

Brosur
Untuk keperluan Direksi/Perencana, Kontraktor harus menyediakan brosur bahan guna
pemilihan jenis bahan yang akan dipakai.
Kondisi Lingkungan
Suhu dan ventilasi ruang dimana keramik akan dipasang harus dijaga agar sesuai dengan
rekomendasi pabrik sehingga tidak mempengaruhi rekatan keramik.
Bahan/Produk
Hunian
Kualitas I ukuran : 30 x 30 cm
Tile Adhesive berbahan dasar semen, filler, aditif dan pasir silica yang dikemas kualitas
baik sebagai pelekat keramik pada lantai atau menggunakan adukan 1 pc : 4 ps.
Tile grout sebagai pengisi celah-celah / nat antar keramik, memakai merk berkualitas baik.
Warna disesuaikan dengan warna keramik.

Pemasangan
Umum
a. Sebelum pekerjaan dimulai, lebih dahulu harus dipelajari dengan seksama lokasi
pemasangan keramik, kualitas, bentuk dan ukuran keramiknya dan kondisi pekerjaan
setelah studi diatas dilaksanakan, maka tentukan metoda persiapan permukaan
pemasangan keramik, joints dan curing, untuk diusulkan kepada Direksi Lapangan.
b. Pemborong harus menyiapkan tiling manual, yang berisi uraian tentang bahan, cara
instalasi, sistim pengawasan, perbaikan/koreksi, perlindungan, testing dan lain-lain untuk
diperiksa dan disetujui Direksi Lapangan.
c. Sebelum instalasi dimulai, siapkan lay out nat-nat, hubungan dengan finishing lain dan
dimensi-dimensi joint, guna persetujuan Direksi/Perencana.
d. Pemilihan Tile
Tile yang masuk ke lokasi harus diseleksi, agar berkesesuaian dengan ukuran, bentuk dan
warna yang telah ditentukan.
e. Pemotongan Tile
Ujung potongan tile harus dipoles dengan gurinda atau batu grinda.
L e v e l.
a.

Kecuali ditentukan lain pada spesifikasi ini atau pada gambar, level yang tercantum pada
gambar adalah level finish lantai karenanya screeding dasar harus diatur hingga

Pekerjaan Arsitektur

b.
c.

memungkinkan pada tiles dengan ketebalan yang berbeda permukaan finishnya


terpasang rata.
Lantai harus benar-benar terpasang rata; baik yang ditentukan datar maupun yang
ditentukan mempunyai kemiringan.
Lantai yang ditentukan mempunyai kemiringan, keimiringan tidak boleh kurang dari 25
mm pada jarak 10 m untuk area toilet. Sedangkan untuk area lain, tidak boleh kurang
dari 12 mm pada jarak 10 m. Kemiringan harus lurus hingga air bisa mengalir kearah
floor drain tanpa meninggalkan genangan.
Jika ketebalan screed tidak memungkinkan untuk mendapatkan kemiringan yang
ditentukan, kontraktor harus segera melaporkan kepada Direksi untuk mendapatkan jalan
keluarnya.

Persiapan Permukaan
a.
b.

c.

d.

Kontraktor harus menyiapkan permukaan sehingga memenuhi syarat yang diperlukan,


sebelum memasang ubin/keramik.
Secara tertulis, kontraktor harus memberikan laporan kepada Direksi Lapangan tiap
kondisi yang menurut pendapatnya akan berpengaruh buruk pada pelaksanaan
pekerjaan.
Permukaan beton yang akan diplester untuk penempelan ubin/keramik, harus
dikasarkan dan dibersihkan dari debu dan bahan-bahan lepas lainnya. Sebelum
dilaksanakan plesteran, permukaan ini harus dibebaskan.
Penyimpangan kerataan permukaan beton tidak boleh lebih dari 5 mm untuk jarak 2
mm, pada semua arah, Tonjolan harus dibuang (Chip off) tekukan kedalaman diisi
dengan mortar (1 : 2), sehingga plesteran dasar (Setting bed) mempunyai ketebalan
yang sama

Pemasangan Lantai Keramik


a.

b.

c.
d.

Tile dipasang pada permukaan yang telah discreed.


Komposisi adukan untuk screeding :
- Area kering
: 1 pc : 4 ps
- Area basah
: 1 pc : 2 ps
Pada pemasangan di area yang luas, harus dilaksanakan secara kontiniu. Dan harus
disediakan Kepalaan (guide line course) pada interval 2,0 m 2,5 m. Pemasangan tile
lainnya berpedoman pada guide line ini.
Kikis semua mortar yang mempel pada nat dan bersihkan ketika proses pemasangan tile
berlangsung. Pasangan tile tidak boleh diinjak dalam waktu 24 jam setelah pemasangan.
Nat-nat pada pemasangan tile harus diisi dengan bahan tile grout berwarna dan kondisi
pemasangan harus sesuai dengan rekomendasi pabrik.

Pemeriksaan (Inspection)
a.

Rekatan (bond).
Ketika pelaksanaan pemasangan tile, ambil beberapa tile yang telah terpasang, secara

Pekerjaan Arsitektur

b.

random, untuk memastikan bahwa adukan perekat telah merekat dengan baik pada
bagian belakang tile dan telah terpasang dengan baik.
Tension Test.
Tension test harus dilakukan pada pasangan ubin di dinding; terutama di exterior.
Test harus dilaksanakan pada area pekerjaan tiap tukang. Test dilaksanakan tiap hari
kerja dan sampel diambil secara random jika umur pemasangan sample tidak lebih dari 5
hari, kekuatan rekatan harus minimal 3 kg/cm2.

Perlindungan dan Pembersihan


Perlindungan
a.

Kontraktor harus melindungi ubin yang telah terpasang maupun adukan perata dan harus
mengganti, atas biaya sendiri kerusakan yang terjadi, Penyerahan pekerjaan dilakukan
dalam keadaan bersih.

b.

Setelah pemasangan, kontraktor harus melindungi tile lantai yang telah terpasang. Jika
mungkin dengan mengunci area tersebut. Batasi lalu lintas diatasnya; hanya untuk yang
penting saja.

Pembersihan
Secara prinsip, permukaan tile dibersihkan dengan air, menggunakan sikat, kain lap, dan
sebagainya. Tetapi jika area-area yang tidak bisa dibersihkan hanya dengan air, pembersihan
memakai campuran air dengan hidrochloric acid, perbandingan 30 : 1. Sebelum pembersihan
dengan asam ini, lindungi semua bagian yang memungkinkan akan berkarat atau rusak oleh
asam. Setalah dibersihkan dengan asam ini, bersihkan area ini dengan air biasa, hingga tidak
ada campuran asam yang tersisa.
Pembersihan dan Perapihan
- Pekerjaan pembersihan meliputi pembersihan pekerjaan pemasangan lantai keramik dari
kotoran kotoran atau bercak bercak lainnya dari material yang tidak semestinya ada.
- Pekerjaan perapihan meliputi perapihan terhadap hasil pekerjaan pemasangan lantai
keramik yang tidak semestinya atau tidak memenuhi standart teknis seperti perapihan
permukaan finishing keramik yang tidak lurus antar nat, yang hasilnya tidak sesuai dengan
standart teknis.
- Semua pekerjaan pembersihan dan perapihan tersebut harus mendapat persetujuan dari
konsultan pengawas bahwa pekerjaan tersebut telah bersih, rapih dan telah sesuai dengan
keinginan pihak owner maupun standart teknis.
- Pada pekerjaan pemasangan finishing lantai keramik, harus benar benar rapih, lurus, rata
dan vertikal.

Pekerjaan Arsitektur

- Bagian bagian yang kotor di bersihkan dengan material bantu/alat bantu yang tidak
menimbulkan cacat/goresan pada permukaan pekerjaan yang dibersihkan/dilaksanakan.

Pekerjaan Arsitektur

PEKERJAAN KUSEN, PINTU

PEKERJAAN KUSEN PINTU ALUMINIUM

Pasal 1 Umum
1.1. Lingkup Pekerjaan
1.1.1. Menyediakan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat bantu
lainnya untuk melaksanakan pekerjaan sehingga dapat dicapai hasil
pekerjaan yang baik dan Sempurna.
1.1.2. Pekerjaan ini meliputi seluruh kusen pintu, seperti yang
dinyatakan/ditunjukkan dalam gambar serta shop drawing dari
Kontraktor.
1.2. Pekerjaan yang berhubungan
a.

Pekerjaan Sealant

b.

Pekerjaan Pintu Rangka Aluminium.

1.3. Design Criteria


Seluruh pintu dan jendela harus mampu menahan beban angin (tarik maupun
tekan) : 120 Kg/M2.
1.4. Standard
a.

ASTM :

b.

C 509 - Cellular Elastomeric Preformed Gasked and Selain Material.

c.

C 2000 - Clasification System for Rubber Products in


Applications.

d.

C 2287 - Nonrigid Viny Chloride Polymer and Copolymer Molding


and Extinasion Compounds.

Automatic

1.5. Persetujuan-persetujuan
1.5.1. Shop drawing :
a. Harus memperlihatkan dengan jelas dimensi, sistim konstruksi,
hubungan-hubungan antar komponen, cara pengangkuran dan
lokasinya, penempatan hardware, dan detail-detail pemasangan.

Pekerjaan Arsitektur

b. Harus memperlihakan kesesuaiannya dengan gambar rencana dan


spesifikasi.
c. Shop drawing harus dikoordinasikan dengan "Ironmongery" guna
ketepatan perkuatan-perkuatan yang diperlukan serta lokasi dari
hardware tersebut.
d. Shop drawing harus memperlihatkan juga detail-detail pemasangan
kaca, gasket, serta sealant.
1.5.2. Contoh bahan :
a. Kontraktor harus menyerahkan 3 set contoh semua bahan yang
memperlihatkan tekstur, finishing dan warna. Sampul profil-profil
extruded panjangnya minimum 300 mm. Untuk aluminium sheet,
ukuran 300 x 300 mm2, ketebalan sesuai dengan yang akan dipakai.
b. Semua sampul harus diberi tanda yang memperlihatkan ketebalan,
jenis alloy, warna dan pekerjaan dimana bahan tersebut akan
dipakai.
1.6. Pengadaan dan Penyimpanan Material.
1.6.1. Bahan harus didatangkan ke lapangan dalam keadaan kemasan pabrik,
lengkap dengan instruksi-instruksi pemasangan.
1.6.2. Kaca harus disimpan dan diamankan dari karat, guratan, goresan dan
kemungkinan pecah.

Pasal 2 Bahan/Produk
2.1. Kusen Aluminium yang digunakan :
Bahan

Bentuk profil
Warna Profil
Lebar Profil
Pewarnaan

: Aluminium framing system sesuai standard mutu SNI


dengan bahan baku aluminium menggunakan Alloy
6063 dengan T5.
ukuran 1,5 x 3 inchi, tebal 1,15 1,2 mm.
: Sesuai shop drawing yang disetujui Perencana/MK.
: Natural (contoh warna diajukan Kontraktor).
: Pemakaian lebar bahan sesuai yang
ditunjukkan dalam gambar.
: Standart.

Pekerjaan Arsitektur

Warna
: Hitam/coklat standart
Nilai Deformasi : Diijinkan maksimal 2 mm.
2.2. Persyaratan bahan yang digunakan harus memenuhi uraian dan syarat-syarat
dari pekerjaan aluminium serta memenuhi ketentuan- ketentuan dari pabrik
yang bersangkutan.
2.3. Konstruksi kusen aluminium yang dikerjakan seperti yang ditunjukkan dalam
detail gambar termasuk bentuk dan ukurannya.
2.4. Bahan yang akan diproses fabrikasi harus diseleksi terlebih dahulu sesuai
dengan bentuk toleransi ukuran,
ketebalan, kesikuan, kelengkungan dan
pewarnaan yang dipersyaratkan.
2.5. Untuk keseragaman warna disyaratkan, sebelum proses fabrikasi warna profilprofil harus diseleksi secermat mungkin. Kemudian pada waktu fabrikasi unitunit, jendela, pintu partisi dan lain- lain, profil harus diseleksi lagi warnanya
sehingga dalam tiap unit didapatkan warna yang sama. Pekerjaan memotong,
punch dan drill, dengan mesin harus sedemikian rupa sehingga diperoleh hasil
yang telah dirangkai untuk jendela, dinding dan pintu mempunyai toleransi
ukuran sebagai berikut :
-

Untuk tinggi dan lebar 1 mm.

Untuk diagonal 2 mm.

2.6. Accesssories
Sekrup dari stainless steel galvanized kepala tertanam, weather strip dari vinyl,
pengikat alat penggantung yang dihubungkan dengan aluminium harus ditutup
caulking dan sealant. angkur-angkur untuk rangka/kusen aluminium terbuat
dari steel plate tebal 2-3 mm, dengan lapisan zink tidak kurang dari (13)
mikron sehingga dapat bergeser.
2.7. Bahan finishing
Treatment untuk permukaan kusen jendela dan pintu yang bersentuhan dengan
bahan alkaline seperti beton aduk atau plester dan bahan lainnya harus diberi
lapisan finish dari laquer yang jemih atau anti corrosive treatment dengan
insulating varnish seperti asphaltic varnish atau bahan insulation lainnya.

Pasal 3 Pelaksanaan
3.1. Sebelum memulai pelaksaan Kontraktor diwajibkan meneliti gambar-gambar

Pekerjaan Arsitektur

dan kondisi dilapangan (ukuran dan peil lubang dan membuat contoh jadi
untuk semua detail sambungan dan profil aluminium yang berhubungan
dengan sistem konstruksi bahan lain.
3.2. Prioritas proses fabrikasi, harus sudah siap sebelum pekerjaan dimulai, dengan
membuat lengkap dahulu shop drawing dengan petunjuk Perencana/MK.
3.3. Semua frame/kusen baik untuk dinding, jendela dan pintu dikerjakan secara
fabrikasi dengan teliti sesuai dengan ukuran dan kondisi lapangan agar
hasilnya dapat dipertanggungjawabkan.
3.4. Pemotongan aluminium hendaknya dijauhkan dari material besi untuk
menghindarkan penempelan debu besi pada permukaannya. Disarankan untuk
mengerjakannya pada tempat yang aman dengan hati-hati tanpa menyebabkan
kerusakan pada permukaannya.
3.5. Pengelasan dibenarkan menggunakan non-activated gas (argon) dari arah
bagian dalam agar sambungannya tidak tampak oleh mata.
3.6. Akhir bagian kusen harus disambung dengan kuat dan teliti dengan sekrup,
rivet, stap dan harus cocok. Pengelasan harus rapi untuk memperoleh kualitas
dan bentuk yang sesuai dengan gambar.
3.7. Angkur-angkur untuk rangka/kusen aluminium terbuat dari steel plate setebal
2 - 3 mm dan ditempatkan pada interval 600 mm.
3.8. Penyekrupan harus dipasang tidak terlihat dari luar dengan sekrup anti
karat/stainless steel, sedemikian rupa sehingga hair line dari tiap sambungan
harus kedap air dan memenuhi syarat kekuatan terhadap air sebesar 1.000
kg/cm2. Celah antara kaca dan sistem kusen aluminium harus ditutup oleh
sealant.
3.9. Disyaratkan bahwa kusen aluminium dilengkapi oleh kemungkinankemungkinan sebagai berikut :
a. Dapat menjadi kusen untuk dinding kaca mati.
b. Dapat cocok dengan jendela geser, jendela putar, dan lain-lain.
c. Sistem kusen dapat menampung pintu kaca frameless.
d. Untuk sistem partisi, Harus mampu moveable dipasang tanpa harus
dimatikan secara penuh yang merusak baik lantai maupun langit-langit.
e. Mempunyai accessories yang mampu mendukung kemungkinan diatas.

Pekerjaan Arsitektur

3.10. Untuk fitting hard ware dan reinforcing materials yang mana kusen aluminium
akan kontak dengan besi, tembaga atau lainnya maka permukaan metal yang
bersangkutan harus diberi lapisan chormium untuk menghindari kontak korosi.
3.11. Toleransi pemasangan kusen aluminium disatu sisi dinding adalah 10 - 25 mm
yang kemudian diisi dengan beton ringan/grout.
3.12. Khusus untuk pekerjaan jendela geser aluminium agar diperhatikan sebelum
rangka kusen terpasang. Permukaan bidang dinding horizontal (pelubangan
dinding) yang melekat pada ambang bawah dan atas harus waterpass.
3.13. Untuk memperoleh kekedapan terhadap kebocoran udara terutama pada ruang
yang dikondisikan hendaknya ditempatkan mohair dan jika perlu dapat
digunakan synthetic rubber atau bahan dari synthetic resin. Penggunaan ini
pada swing door dan double door.
3.14. Sekeliling tepi kusen yang terlihat berbatasan dengan dinding agar diberi
sealant supaya kedap air dan kedap suara.
3.15. Tepi bawah ambang kusen exterior agar dilengkapi flashing untuk penahan air
hujan.

Pasal 4 Pembersihan dan Perapihan


4.1. Pekerjaan pembersihan meliputi pembersihan pekerjaan pemasangan kusen,
pintu dan kaca dari kotoran kotoran atau bercak bercak lainnya dari material
yang tidak semestinya ada.
4.2. Pekerjaan perapihan meliputi perapihan terhadap hasil pekerjaan pemasangan
kusen, pintu dan kaca yang tidak semestinya atau tidak memenuhi standart
teknis seperti perapihan permukaan finishing kusen, pintu dan kaca yang tidak
lurus, tidak rata, yang hasilnya tidak sesuai dengan standart teknis.
4.3. Semua pekerjaan pembersihan dan perapihan tersebut harus mendapat
persetujuan dari konsultan pengawas bahwa pekerjaan tersebut telah bersih,
rapih dan telah sesuai dengan keinginan pihak owner maupun standart teknis.
4.4. Pada pekerjaan pemasangan kusen, pintu dan kaca, harus benar benar rapih,
lurus, rata dan vertikal atau flat.
4.5. Bagian bagian yang kotor di bersihkan dengan material bantu/alat bantu
yang tidak menimbulkan cacat/goresan pada permukaan pekerjaan yang
dibersihkan/dilaksanakan.

Pekerjaan Arsitektur

PEKERJAAN ALAT PENGGANTUNG & PENGUNCI

Pasal 1 Umum
1.1. Lingkup Pekerjaan
1.1.1. Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan,
perlengkapan daun pintu/daun jendela dan alat-alat bantu lainnya untuk
melaksanakan pekerjaan hingga tercapainya hasil pekerjaan yang baik
dan sempurna.
1.1.2. Pemasangan alat penggantung dan pengunci dilakukan meliputi seluruh
pemasangan pada daun pintu kayu, daun pintu aluminium dan daun
jendela aluminium seperti yang ditunjukkan/ disyaratkan dalam detail
gambar.

1.2. Pekerjaan yang berhubungan


a.

Pekerjaan Pintu Rangka Aluminium

1.3. Persyaratan Bahan


1.3.1. Semua 'hardware' yang digunakan harus sesuai dengan ketentuan yang
tercantum dalam buku Spesifikasi Teknis. Bila terjadi perubahan atau
penggantian 'hardware' akibat dan pemilihan merek, Kontraktor wajib
melaporkan hal tersebut kepada Perencana/MK untuk mendapatkan
persetujuan.
1.3.2. Semua anak kunci harus dilengkapi dengan tanda pengenal dari pelat
aluminium berukuran 3 x 6 cm dengan tebal 1 mm. Tanda pengenal ini
dihubungkan dengan cincin nikel kesetiap anak kunci.

Pasal 2 Bahan/Produk
2.1. Pekerjaan Kunci dan Pegangan Pintu.
a.

Semua pintu menggunakan peralatan kunci kualitas baik, bahan


stainless steel / bebas dan anti karat.

b.

Untuk pintu-pintu aluminium (unit hunian) dan pintu-pintu besi pada


ruang panel yang dipakai adalah kunci "mortise lock set" berbahan
stainless steel atau logam anti karat.

Pekerjaan Arsitektur

c.

Semua kunci-kunci tanam terpasang dengan kuat pada rangka daun


pintu. Dipasang setinggi 90 cm dari lantai atau sesuai petunjuk
Konsultan MK.

2.2. Pekerjaan Engsel.


a.

Untuk pintu-pintu aluminium pada umumnya menggunakan engsel


pintu kualitas baik, dipasang sekurang-kurangnya 2 buah untuk setiap
daun dengan menggunakan sekrup kembang dengan warna yang sama
dengan warna engsel. Jumlah engsel yang dipasang harus
diperhitungkan menurut beban berat daun pintu.

b.

Untuk pintu-pintu aluminium menggunakan engsel lantai (floor hinge)


double action, kualitas baik dipasang dengan baik pada lantai sehingga
terjamin kekuatan dan kerapihannya, dipasang sesuai dengan gambar
untuk itu.

d.

Untuk pintu-pintu aluminium menggunakan engsel kualitas baik


disertai pada posisi single action.

Pelaksanaan

3.1. Engsel atas dipasang 28 cm (as) dari permukaan atas pintu.


Engsel bawah dipasang 32 cm (as) dari permukaan bawah pintu.
Engsel tengah dipasang ditengah-tengah antara kedua engsel tersebut.
3.2. Penarikan pintu (door pull) dipasang 90 cm (as) dari permukaan lantai.
3.3. Seluruh perangkat kunci harus bekerja dengan baik, untuk itu harus dilakukan
pengujian secara kasar dan halus.
3.4. Tanda pengenal anak kunci harus dipasang sesuai dengan pintunya.
3.5. Kontraktor wajib membuat shop drawing (gambar detail pelaksanaan)
berdasarkan Gambar Dokumen Kontrak yang telah disesuaikan dengan
keadaan di lapangan. Didalam shop drawing harus jelas dicantumkan semua
data yang diperlukan termasuk keterangan produk, cara pemasangan atau
detail-detail khusus yang belum tercakup secara lengkap di dalam Gambar
Dokumen Kontrak, sesuai dengan Standar Spesifikasi pabrik.
3.6. Shop Drawing sebelum dilaksanakan harus disetujui dahulu oleh Manajemen
Konstruksi.

Pasal 4 Pembersihan dan Perapihan

Pekerjaan Arsitektur

4.6. Pekerjaan pembersihan meliputi pembersihan pekerjaan pemasangan alat


penggantung dan kunci pintu dan jendela kaca dari kotoran kotoran atau
bercak bercak lainnya dari material yang tidak semestinya ada.
4.7. Pekerjaan perapihan meliputi perapihan terhadap hasil pekerjaan pemasangan
alat penggantung dan kunci pintu dan jendela kaca yang tidak semestinya atau
tidak memenuhi standart teknis seperti perapihan pekerjaan alat penggantung
dan kunci pintu dan jendela kaca yang tidak lurus, tidak rata, yang hasilnya
tidak sesuai dengan standart teknis.
4.8. Semua pekerjaan pembersihan dan perapihan tersebut harus mendapat
persetujuan dari konsultan pengawas bahwa pekerjaan tersebut telah bersih,
rapih dan telah sesuai dengan keinginan pihak owner maupun standart teknis.
4.9. Pada pekerjaan pemasangan alat penggantung dan kunci pintu dan jendela
kaca, harus benar benar rapih, lurus, rata dan vertikal atau flat.
4.10. Bagian bagian yang kotor di bersihkan dengan material bantu/alat bantu yang
tidak menimbulkan cacat/goresan pada permukaan pekerjaan yang
dibersihkan/dilaksanakan.

PEKERJAAN PENGECATAN

Pekerjaan Arsitektur

Umum
1.1. Lingkup Pekerjaan
a. Persiapan permukaan yang akan diberi cat.
b. Pengecatan semua permukaan dan area yang ada pada gambar dan yang
disebutkan secara khusus, dengan warna dan bahan yang sesuai dengan
petunjuk Perencana.

1.2. Standard
-

PUBI : 54, 1982

PUBI : 58, 1982

NI

ASTM : D 361

BS No. 3900, 1970

AS K 41

:4

1.3. Persetujuan
1.3.1. Standard Pengerjaan (Mock-up)
a.

Sebelum pengecatan dimulai, Kontraktor harus melakukan


pengecatan pada satu bidang untuk tiap warna dan jenis cat yang
diperlukan. Bidang-bidang tersebut akan dijadikan contoh pilihan
warna, texture, material dan cara pengerjaan. Bidang-bidang yang
akan dipakai sebagai mock-up ini akan ditentukan oleh Direksi
Lapangan.

b.

Jika masing-masing bidang tersebut telah disetujui oleh Direksi


Lapangan dan Perencana, bidang-bidang ini akan dipakai
sebagai standar minimal keseluruhan pekerjaan pengecatan.

1.3.2. Contoh dan Bahan untuk Perawatan


a.

Kontraktor harus menyiapkan contoh pengecatan tiap warna dan


jenis pada bidang-bidang transparan ukuran 30 x 30 cm2. Dan
pada bidang-bidang tersebut harus dicantumkan dengan jelas
warna, formula cat, jumlah lapisan dan jenis lapisan (dari cat
dasar s/d lapisan akhir).

Pekerjaan Arsitektur

b.

Semua bidang contoh tersebut harus diperlihatkan kepada Direksi


Lapangan dan Perencana. Jika contoh-contoh tersebut telah
disetujui secara tertulis oleh Perencana dan Direksi Lapangan,
barulah Kontraktor melanjutkan dengan pembuatan mock-up
seperti tersebut diatas.

c.

Pemborong harus menyerahkan kepada Direksi Lapangan untuk


kemudian akan diteruskan kepada pemberi tugas minimal 5 galon
tiap warna dan jenis cat yang dipakai. Kaleng-kaleng cat tersebut
harus tertutup rapat dan mencantumkan dengan jelas indentitas
cat yang ada didalamnya. Cat ini akan dipakai sebagai cadangan
untuk perawatan, oleh pemberi tugas.

Bahan/Produk
Untuk partisi digunakan cat jenis Emulsi Acrylic kualitas I, tidak mengandung bahan-bahan
tambahan yang membahayakan lingkungan dan kesehatan penghuni, dengan lapisan dasar
Alkali Resistance Sealer warna ditentukan Perencana.

Pelaksanaan

Pekerjaan Cat Langi-langit


a.

Yang termasuk dalam pekerjaan cat langit-langit adalah langit-langit calcium


silicate/GRC, pelat beton atau bagian-bagian lain yang ditentukan gambar.

b.

Cat yang digunakan sama dengan cat bagian dalam bangunan untuk plafond bagian
dalam dan cat luar bangunan untuk plafond bagian luar. Warna putih atau ditentukan
perencana setelah melakukan percobaan pengecatan.

c.

Plamur yang digunakan adalah plamur kayu kualitas baik.

d.

Selanjutnya semua metode/prosedur sama dengan pengecatan dinding kecuali tidak


digunakannya lapis alkali resistance sealer pada pengecatan langit-langit ini.

e.

Untuk Pekerjaan cat semprot bertekstur, dipakai juga Gypsum Spray dengan finish cat
emulsi kualitas baik.

f.

Sambungan-sambungan multiplex harus diberi flexible sealant agar tidak terlihat sebagai
retakan sesudah dicat.

Pekerjaan Arsitektur

3.3. Pekerjaan Cat Kayu


a.

Yang termasuk dalam pekerjaan cat kayu adalah bagian-bagian yang


berbahan dasar kayu atau bagian-bagian lain yang ditentukan gambar.

b.

Cat yang digunakan adalah jenis alkyd enamel kualitas baik, warna
ditentukan perencana setelah melakukan percobaan pengecatan.

c.

Bidang yang akan dicat diberi manie kayu warna merah 1 lapis,
kemudian diplamur dengan plamur kayu sampai lubang-lubang/poripori terisi sempurna.

d.

Setelah 7 (tujuh) hari, bidang plamur diamplas besi halus dan


dibersihkan dari debu kemudian dicat sekurang-kurangnya 3 (tiga) kali
dengan menggunakan kuas.

e.

Setelah pengecatan selesai, bidang cat yang terbentuk, utuh, tata, tidak
ada bintik-bintik atau gelembung udara dan bidang cat dijaga terhadap
pengotoran.

3.6. Pekerjaan Meni Kayu


a.

Yang termasuk pekerjaan ini adalah pengecatan seluruh permukaan


yang berbahan dasar kayu sebelum dicat dan atau bagian-bagian lain
yang ditentukan gambar.

b.

Meni yang digunakan adalah menie kayu warna merah kualitas baik.

c.

Semua kayu hanya boleh dimenie ditapak proyek dan mendapat


persetujuan Konsultan MK/Pengawas.

d.

Sebelum pekerjaan menie dilakukan, bidang kayu kasar harus diamplas


dengan amplas kayu kasar dan dilanjutkan dengan amplas kayu halus
sampai permukaan bidang licin dan rata.

e.

Pekerjaan menie dilakukan dengan menggunakan kuas, dilakukan lapis,


sedemikan rupa sehingga bidang kayu tertutup sempurna dengan
lapisan menie.

Pembersihan dan Perapihan


4.11. Pekerjaan pembersihan meliputi pembersihan pekerjaan permukaan dinding
yang telah di cat dari kotoran kotoran atau bercak bercak lainnya dari material
yang tidak semestinya ada.
4.12. Pekerjaan perapihan meliputi perapihan terhadap hasil pekerjaan pengecatan
atau permukaan dinding finishing cat yang tidak semestinya atau tidak

Pekerjaan Arsitektur

memenuhi standart teknis seperti perapihan pekerjaan permukaan dinding


finishing cat yang tidak rata, yang hasilnya tidak sesuai dengan standart teknis.
4.13. Semua pekerjaan pembersihan dan perapihan tersebut harus mendapat
persetujuan dari konsultan pengawas bahwa pekerjaan tersebut telah bersih,
rapih dan telah sesuai dengan keinginan pihak owner maupun standart teknis.
4.14. Pada pekerjaan permukaan dinding finishing cat, harus benar benar rapih,
bersih, rata dan vertikal.
4.15. Bagian bagian yang kotor di bersihkan dengan material bantu/alat bantu yang
tidak menimbulkan cacat/goresan pada permukaan pekerjaan yang
dibersihkan/dilaksanakan.

Pekerjaan Arsitektur

PEKERJAAN LAIN-LAIN
PEKERJAAN SILICONE SEALANT

Pasal 1 Umum
1.1. Lingkup Pekerjaan
1.1.1. Meliputi : Pengadaan bahan, tenaga kerja, peralatan dan lain
sebagainya, untuk pekerjaan silicone sealant secara lengkap, terpasang
sempurna sesuai RKS.
1.1.2. Pekerjaan-pekerjaan yang harus diselesaikan dengan silicone sealant
antara lain:
a. Setiap hubungan antara kaca dengan rangka aluminium.
b. Setiap hubungan antara rangka aluminium dengan dinding beton.
c. Setiap hubungan antara kaca dengan kaca.
1.2. Pekerjaan yang berhubungan :
-

Pekerjaan Kusen Aluminium

Pasal 2 Persyaratan Bahan


2.1. Silicone sealant yang digunakan harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
a. Pengeringan netral
b. Modulus elastisitas tinggi

: 100 % (gerakan)

c. Kering sentuh

: 15 menit

d. Waktu pengerjaan

: Kurang dari 10 menit

e. Menyatu sepenuhnya

: 24 jam

f. Warna

: Ditentukan Kemudian

g. Tidak terpengaruh terhadap

:
-

Sinar Matahari

Hujan

Ozon

Perubahan

temperature

Pekerjaan Arsitektur

yang tinggi (62 oC s/d 205


oC)
h. Fire rating

: Tidak kurang dari 2 jam

i. Daya kedap suara

: 30 db

(khusus untuk perlakuan terhadap aluminium yang menggunakan


finishing Flourocarbon, sealant harus dipilih dari silicone rubber yang
compatible terhadap fluorocarbon)
2.2. Bahan Pelindung
Aluminium harus dilindungi dengan Blue Protection Masking Tape sekualitas
GINZA.
2.3. Filler menggunakan Polyurethane Backer Rod dengan sel terbuka yang
direkomendasi dari Dow Corning.

Pasal 3 Pelaksanaan
3.1. Pekerjaan silicone sealant ini harus dilaksanakan oleh Kontraktor khusus yang
ahli dalam bidang pekerjaan sealant, dibuktikan dengan melampirkan CV
tenaga ahli yang bersangkutan.
3.2. Untuk kaca, alumnium, concrete dan steel sebelum diberi perlakuan sealant
harus dilakukan pembersihan, bebas dari debu, minyak dan lain sebagainya
yang mengakibatkan berkurangnya daya rekat sealant.
Pembersihan dilakukan dengan Toluol.
3.3. Pemasangan Sealant harus dilakukan dengan menggunakan tekanan udara,
karena dapat mengatur keluarnya sealant dengan baik. Sesuaikan tekanan
udara untuk memperoleh pengisian joint yang cukup.
3.4. Jika joint sudah diisi, ratakan sealant dengan alat yang direkomendasi oleh
pabrik pembuat sealant. Masking Tape harus segera diangkat sebelum sealant
mengering (kira-kira 10 - 15 menit).
3.5. Silicone sealant harus dibersihkan sebelum mengering, dengan menggunakan
kain lap yang dibasahi dengan cairan pelarut.
3.6. Jika ada yang tercecer dan sealant sudah mengeras dapat dirapihkan dengan
pisau cutter yang tajam.
3.7. Ukuran joint yang digunakan untuk sealant minimal harus 6 mm dengan
perbandingan lebar dan dalam 2 : 1 (sebagai contoh untuk lebar 12 mm, dalam
6 mm).

Pasal 4 Pembersihan dan Perapihan

Pekerjaan Arsitektur

4.16. Pekerjaan pembersihan meliputi pembersihan pekerjaan permukaan silicone


sealent dari kotoran kotoran atau bercak bercak lainnya dari material yang
tidak semestinya ada.
4.17. Pekerjaan perapihan meliputi perapihan terhadap hasil pekerjaan pemasangan
silicone sealent yang tidak semestinya atau tidak memenuhi standart teknis
seperti perapihan pekerjaan permukaan silicone sealent yang tidak rata, masih
ada yang belum di silicone sealent yang hasilnya tidak sesuai dengan standart
teknis.
4.18. Semua pekerjaan pembersihan dan perapihan tersebut harus mendapat
persetujuan dari konsultan pengawas bahwa pekerjaan tersebut telah bersih,
rapih dan telah sesuai dengan keinginan pihak owner maupun standart teknis.
4.19. Pada pekerjaan permukaan silicone sealent, harus benar benar rapih, bersih,
rata dan tidak bolong/kosong.
4.20. Bagian bagian yang kotor di bersihkan dengan material bantu/alat bantu yang
tidak menimbulkan cacat/goresan pada permukaan pekerjaan yang
dibersihkan/dilaksanakan.

Anda mungkin juga menyukai