Anda di halaman 1dari 5

Hukum Dan Permasalahan Berkaitan Pembedahan Plastik

Fenomena bedah plastik merupakan suatu isu yang hangat di masa kini. Para ahli medik
mendefinisikan bedah plastik atau pembedahan kecantikan sebagai pembedahan yang
dilakukan untuk mempercantik bentuk dan rupa atau bahagiah tubuh seseorang. Kadangkala ia dilakukan atas kemahuan yang sendiri seperti kecantikan, trend, dan kadang-kala
karena darurat (terpaksa).
Operasi kecantikan yang dilakukan karena darurat atau semi-darurat adalah pembedahan
yang terpaksa dilakukan, seperti menghilangkan cacat, menambah atau mengurangi organ
tubuh tertentu yang rosak dan buruk. Melihat pengaruh dan hasilnya, pembedahan tersebut
sekaligus memperindah bentuk dan rupa tubuh.
Cacat dapat dibahagikan kepada ada dua jenis:
1. Cacat yang sediakala sejak dari lahir.
2. Cacat yang timbul akibat sakit yang dideritai.

Cacat yang terhasil sejak dari lahir misalnya, bibir sumbing, bentuk jari-jemari yang
bengkok dan lain-lain. Cacat akibat sakit misalnya cacat yang timbul akibat penyakit kusta ,
akibat kemalangan dan luka kesan terbakar dan sebagainya. Dalam kes ini, sudah tentu
cacat tersebut sangat mengganggu penderita secara fizikal mahupun mental penghidapnya.
Dalam keadaan sedemikian syariat membolehkan si penderita menghilangkan kecacatan,
memperbaiki atau mengurangi kesan akibat kecacatan tersebut melalui pembedahan.
Ini kerana kecacatan tersebut mengganggu si penderita secara mental mahupun fizikal
sehingga dia boleh mengambil keringanan untuk melakukan pembedahan. Dan juga karena
hal itu sangat diperlukan oleh si penderita. Keperluan yang mendesak juga termasuk dalam
perkara darurat. Ia sebagai salah satu sebab keluarnya rukhsah (keringanan) dalam hukum.
Setiap pembedahan yang tergolong sebagai pembedahan kecantikan yang memang
diperlukan untuk menghilangkan gangguan, hukumnya boleh dilakukan dan tidak
termasuk mengubah ciptaan Allah.
Berikut merupakan penjelasan Imam An-Nawawi untuk membezakan antara pembedahan
kecantikan yang dibolehkan dan yang diharamkan:
Dalam menjelaskan hadith Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam:






























"Allah melaknat wanita-wanita yang mentatu dan yang meminta untuk ditatukan, yang
mencukur (menipiskan) alis (bulu kening) dan yang meminta dicukur, yang mengikir gigi
supaya kelihatan cantik dan merubah ciptaan Allah." [Riwayat Muslim No:3966.]
Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan sebagai berikut:

, ) (

,
..
..
) ( ..
, ,

,
(
) ..
, ) (



,
,
,
..
, ,
) ( : .
,
,

"Al-Washimah" adalah wanita yang mentatu. Iaitu melukis belakang telapak tangan,
pergelangan tangan, bibir atau anggota tubuh lainnya dengan jarum atau sejenisnya
sehingga mengeluarkan darah lalu diletakkan dengan tinta/ dakwat untuk diwarnai.
Perbuatan tersebut haram hukumnya bagi yang mentatu ataupun yang minta untuk
ditatukan. Sementara "An-Naamishah" adalah wanita yang menghilangkan atau mencukur
bulu wajah.
Adapun "Al-Mutanammisah" adalah wanita yang meminta dicukurkan. Perbuatan ini juga
haram hukumnya, kecuali jika tumbuh janggut (seperti lelaki- pent.) atau misai pada wajah
wanita tersebut, dalam hal ini dia boleh mencukurnya. Sementara "Al-Mutafallijat" adalah
wanita yang menjarangkan giginya, biasa dilakukan oleh wanita-wanita tua atau dewasa
supaya kelihatan muda dan lebih indah. Karena jarak renggang antara gigi-gigi tersebut
biasa terdapat pada gadis-gadis kecil. Apabila seorang wanita sudah beranjak tua giginya
akan membesar, sehingga ia menggunakan kikir untuk mengecilkan bentuk giginya supaya
lebih indah dan agar kelihatan masih muda.
Perbuatan tersebut jelas haram hukumnya baik yang mengikir ataupun yang dikikirkan
giginya berdasarkan hadith tersebut di atas. Dan tindakan itu juga termasuk merubah
ciptaan Allah, pemalsuan dan penipuan. Adapun sabda nabi: "Yang mengikir giginya supaya
kelihatan cantik" maknanya adalah yang melakukan hal itu untuk mempercantik diri. Sabda

nabi tersebut menunjukkan bahawa yang diharamkan adalah yang meminta hal itu
dilakukan atas dirinya dengan tujuan untuk mempercantik diri. Adapun bila hal itu
perlu dilakukan untuk tujuan perubatan atau karena cacat pada gigi atau
sejenisnya maka hal itu dibolehkan, wallahu a'lam.[Syarh Shahih Muslim
karangan Imam An-Nawawi XIII/107]

Suatu permasalahan yang perlu ditekankan di sini ialah para ahli medik yang melakukan
pembedahan kecantikan tersebut biasanya tidak membezakan antara keperluan yang
menimbulkan bahaya dengan keperluan yang tidak menimbulkan bahaya. Yang menjadi
kepentingan mereka hanyalah mencari keuntungan harta, dan memberi kepuasan kepada
pesakit dan pengikut hawa nafsu, materialistik dan penyeru kebebasan. Mereka
beranggapan setiap orang bebas melakukan apa sahaja terhadap tubuhnya sendiri. Ini jelas
sebuah penyimpangan. Karena pada hakikatnya jasad ini adalah milik Allah, Dia-lah yang
menetapkan ketentuan-ketentuan berkenaan dengannya sekehendakNya. Allah telah
menjelaskan kepada kita cara-cara yang telah diikrarkan Iblis untuk menyesatkan bani
Adam, di antaranya adalah firman Allah:








"Dan aku akan suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu mereka benar-benar
mengubahnya. Dan (ingatlah) sesiapa yang mengambil Syaitan menjadi pemimpin yang
ditaati selain dari Allah, maka sesungguhnya rugilah ia dengan kerugian yang nyata ." [AnNisa' 4:119]

Ada beberapa pelaksanaan pembedahan kecantikan yang diharamkan karena tidak


memenuhi ketentuan-ketentuan syariat yang disepakati dan kerana termasuk
mempermainkan ciptaan Allah serta bertujuan mencari keindahan dan kecantikan semata,
misalnya memperindah payu dara dengan mengecilkan atau membesarkannya atau
pembedahan untuk menghilangkan kesan ketuaan, kedutan kulit, mencantikkan bentuk
wajah dan anggota tubuh lain tanpa sebarang sebab yang selari dengan syariah.
Dalam hal ini syariat tidak membolehkannya. Karena tidak ada keperluan yang darurat
untuk melakukan hal itu. Hal itu dilakukan semata-mata untuk mengubah dan
mempermainkan ciptaan Allah sesuai dengan hawa nafsu dan syahwat manusia. Hal itu
jelas haram dan terlaknat pelakunya. Dan juga karena termasuk dalam dua perkara yang

disebutkan dalam hadith di atas, iaitu hanya ingin mempercantik diri dan mengubah
ciptaan Allah.
Dr.Muhammad Muhammad Al-Mukhtar Asy-Syinqiithi menyebutkan:



-

-
.
.
Ditambah lagi pembedahan kecantikan sperti itu banyak mengandungi unsur penipuan dan
pemalsuan. Demikian juga suntikan dengan zat-zat yang diambil secara haram dari janin
yang gugur, yang mana perbuatan tersebut merupakan kejahatan yang besar, dan kesan
samping serta mudharat lainnya yang timbul akibat operasi kecantikan sebagaimana
dijelaskan oleh pakar-pakar perbuatan.
[Dr.Muhammad Muhammad Al-Mukhtar Asy-Syinqiithi, Ahkamul Jirahah]

Berdasarkan penjelasan ini, dapat kita simpulkan bahawa apabila kecacatan atau
kekurangan yang ada pada diri termasuk dalam kategori darurat (seperti karena
kemalangan dan penyakit) yang menyukarkan diri atau menyebabkan kesukaran yang lain
yang mungkin terjadi, bukan dilakukan untuk mempercantik diri semata-mata tanpa
sebarang alasan yang selari dengan syara', maka pembedahan plastik/ kecantikan tersebut
boleh dilakukan inysa Allah.

http://addienblog.blogspot.com/2013/03/hukum-dan-permasalahan-berkaitan.html