Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pajak sebagai sumber utama penerimaan utama penerimaan Negara perlu terus
ditingkatkan, sehingga pembangunan nasional dapat dilaksanakan dengan kemampuan
sendiri berdasarkan prinsip kemandirian. Peningkatan kesadaran masyarakat dibidang
perpajakan harus ditunjang denga iklim yang mendukung peningkatan peran aktif masyarakat
serta pemahaman akan hak dan kewajibannya dalam melaksanakan peraturan perundangundangan perpajakan.
Penagihan pajak dengan surat paksa diatur dalam UU NO.19 tahun 2000. Bilamana
utang pajak tidak dibayar, maka KPP menerbitkan surat teguran, dilanjutkan dengan
penerbitan surat perintah melakukan penyitaan, dan apabila masih belum dibayar, lalu
dilakukan tindakan lelang oleh kantor lelang Negara atas permintaan kantor pelayanan pajak
yang bersangkugtan, penyitaan dilakukan oleh jurusita pajak. Tindakan penyitaan dapat
dilakukan seketika dan sekaligus tanpa menunggu urutan-urutan penagihan pajak. Tindakan
penagihan pajak selama ini dilaksanakan adalah berdasarkan pada UU No.19 Tahun 1997.
Dengan UU penagihan pajak yang demikian itu diharapakan dapat memberi penekanan
yang lebih pada keseimbangan antara kepentingan masyarakat wajib pajak dan kepentingan
Negara . keseimbangan kepentingan dimaksud berupa pelaksanaan hak dan kewajiban oleh
kedua belah pihak yang tidak berat sebelah/tidak memihak, adil, serasi, dan selaras dalam
wujud tata aturan yang jelas dan sederhana serta memberikan kepastian hokum.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana prosedur penagihan pajak dengan surat paksa?
2. Bagaimana akibat hokum akibat penagihan pajak dengan surat paksa?

BAB II
PEMBAHASAN
A. Proses Penagihan Pajak dengan Surat Paksa Berdasarkan UU No. 19 Tahun 2000
Penagihan Pajak dengan Surat Paksa

Page 1

Dasar Hukum
Undang-undang Nomor 19 tahun 1997 tentang Penagihan Pajak dengan Surat Paksa
sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 19 tahun 2000.
Dalam Undang-Undang ini, yang dimaksud dengan :
1. Pajak adalah semua jenis pajak yang dipungut oleh Pemerintah Pusat, termasuk Bea
Masuk dan Cukai, dan pajak yang dipungut oleh Pemerintah Daerah, menurut undangundang dan peraturan daerah.
2. Wajib Pajak adalah orang pribadi atau badan yang menurut ketentuan peraturan
perundang-undangan perpajakan ditentukan untuk melakukan kewajiban perpajakan,
termasuk pemungut pajak atau pemotong pajak tertentu.
3. Penanggung Pajak adalah orang pribadi atau badan yang bertanggung jawab atas
pembayaran pajak, termasuk wakil yang menjalankan hak dan memenuhi kewajiban
Wajib Pajak menurut ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.
4. Badan adalah sekumpulan orang dan atau modal yang merupakan kesatuan baik yang
melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang meliputi perseroan terbatas,
perseroan komanditer, perseroan lainnya, badan usaha milik Negara atau Daerah dengan
nama dan dalam bentuk apapun, firma, kongsi, koperasi, dana pensiun, persekutuan,
perkumpulan, yayasan, organisasi massa, organisasi sosial politik, atau organisasi yang
sejenis, lembaga, bentuk usaha tetap, dan bentuk badan lainnya.
5. Pejabat adalah pejabat yang berwenang mengangkat dan memberhentikan Jurusita Pajak,
menerbitkan Surat Perintah Penagihan Seketika dan Sekaligus, Surat Paksa, Surat
Perintah Melaksanakan Penyitaan, Surat Pencabutan Sita, Pengumuman Lelang, Surat
Penentuan Harga Limit, Pembatalan Lelang, Surat Perintah Penyanderaan dan surat lain
yang diperlukan untuk penagihan pajak sehubungan dengan Penanggung Pajak tidak
melunasi sebagian atau seluruh utang pajak menurut undang-undang dan peraturan
daerah.
Penagihan Pajak dengan Surat Paksa

Page 2

6. Jurusita Pajak adalah pelaksana tindakan penagihan pajak yang meliputi penagihan
seketika dan sekaligus, pemberitahuan Surat Paksa, penyitaan dan penyanderaan.
7. Pengadilan Negeri adalah Pengadilan Negeri yang daerah hukumnya meliputi tempat
tindakan penagihan pajak dilaksanakan.
8. Utang Pajak adalah pajak yang masih harus dibayar termasuk sanksi administrasi berupa
bunga, denda atau kenaikan yang tercantum dalam surat ketetapan pajak atau surat
sejenisnya berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.
9. Penagihan Pajak adalah serangkaian tindakan agar Penanggung Pajak melunasi utang
pajak dan biaya penagihan pajak dengan menegur atau memperingatkan, melaksanakan
penagihan seketika dan sekaligus, memberitahukan Surat Paksa, mengusulkan
pencegahan, melaksanakan penyitaan, melaksanakan penyanderaan, menjual barang yang
telah disita.
10. Surat Teguran, Surat Peringatan atau surat lain yang sejenis adalah surat yang diterbitkan
oleh Pejabat untuk menegur atau memperingatkan kepada Wajib Pajak untuk melunasi
utang pajaknya.
11. Penagihan Seketika dan Sekaligus adalah tindakan penagihan pajak yang dilaksanakan
oleh Jurusita Pajak kepada Penanggung Pajak tanpa menunggu tanggal jatuh tempo
pembayaran yang meliputi seluruh utang pajak dari semua jenis pajak, Masa Pajak, dan
Tahun Pajak.
12. Surat Paksa adalah surat perintah membayar utang pajak dan biaya penagihan pajak.
13. Biaya Penagihan Pajak adalah biaya pelaksanaan Surat Paksa, Surat Perintah
Melaksanakan Penyitaan, Pengumuman Lelang, Pembatalan Lelang, Jasa Penilai dan
biaya lainnya sehubungan dengan penagihan pajak.
14. Penyitaan adalah tindakan Jurusita Pajak untuk menguasai barang Penanggung Pajak,
guna dijadikan jaminan untuk melunasi utang pajak menurut peraturan perundangundangan.
Penagihan Pajak dengan Surat Paksa

Page 3

15. Objek Sita adalah barang Penanggung Pajak yang dapat dijadikan jaminan utang pajak.
16. Barang adalah tiap benda atau hak yang dapat dijadikan objek sita.
17. Lelang adalah setiap penjualan barang di muka umum dengan cara penawaran harga
secara lisan dan atau tertulis melalui usaha pengumpulan peminat atau calon pembeli.
18. Kantor Lelang adalah kantor yang berwenang melaksanakan penjualan secara lelang.
19. Risalah Lelang adalah Berita Acara Pelaksanaan Lelang yang dibuat oleh Pejabat Lelang
atau kuasanya dalam bentuk yang ditentukan oleh ketentuan peraturan perundangundangan lelang.
20. Pencegahan adalah larangan yang bersifat sementara terhadap Penanggung Pajak tertentu
untuk keluar dari wilayah Negara Republik Indonesia berdasarkan alasan tertentu sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
21. Penyanderaan adalah pengekangan sementara waktu kebebasan Penanggung Pajak
dengan menempatkannya di tempat tertentu.
22. Gugatan atau Sanggahan adalah upaya hukum terhadap pelaksanaan penagihan pajak atau
kepemilikan barang sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan yang
bersangkutan.
23. Walikota.
24. Pemerintah Daerah adalah pemerintah daerah yang wilayah hukumnya meliputi tempat
tindakan penagihan pajak dilaksanakan.
25. Menteri adalah Menteri Keuangan Republik Indonesia.
26. Hari adalah hari kalender."
Jurusita adalah pelaksana tindakan penagihan pajak yang meliputi penagihan seketika dan
sekaligus, pemberitahuan Surat Paksa, penyitaan dan penyanderaan. Tugas Jurusita Pajak:
Penagihan Pajak dengan Surat Paksa

Page 4

1. Melaksanakan Surat Perintah Penagihan Seketika dan Sekaligus


2. Memberitahukan Surat Paksa
3. Melaksanakan penyitaan atas barang Penanggung Pajak berdasarkan Surat Perintah
Melaksanakan Penyitaan
4. Melaksanakan penyanderaan berdasarkan Surat Perintah Penyanderaan.

Surat Paksa
Penagihan dengan surat paksa dilakukan apabila jumlah tagihan pajak tidak atau kurang bayar
sampai dengan tanggal jatuh tempo pembayaran, atau sampai dengan jatuh tempo penundaan
pembayaran atau tidak memenuhi angsuran pembayaran pajak. Apabila Wajib Pajak lalai
melaksanakan kewajiban membayar pajak dalam waktu sebagaimana ditentukan dalam surat
teguran maka penagihan selanjutnya dilakukan oleh juru sita pajak.
Pengertian surat paksa telah diatur dalam Pasal 1 angka 12 Undang-undang no. 19 tahun 2000
tentang Penagihan Pajak Dengan Surat Paksa yang berbunyi: Surat paksa adalah surat perintah
membayar utang pajak dan biaya penagihan pajak
Sedangkan menurut Rusdji (2005:25), yaitu surat yang diterbitkan apabila Wajib Pajak tidak
melunasi utang pajaknya sampai dengan tanggal jatuh tempo.
Dari pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa surat paksa adalah surat perintah
membayar utang pajak dan biaya penagihan pajak yang diterbitkan apabila Wajib Pajak tidak
melunasi utang pajaknya sampai dengan tanggal jatuh tempo.
Surat paksa diterbitkan apabila Wajib Pajak atau Penanggung Pajak tidak melunasi utang
pajaknya sampai dengan tanggal jatuh tempo dan Penanggung Pajak tidak memenuhi ketentuan
dalam keputusan persetujuan angsuran atau penundaan pembayarannya.
Penagihan Pajak dengan Surat Paksa

Page 5

Sebagai surat yang mempunyai kuasa hukum yang pasif, tentu memiliki cirri-ciri dan kriteria
tersendiri. Dalam Undang-undang no. 19 tahun 2000 sebagai perubahan atas Undang-undang
no.19 tahun 1997 Pasal 7 ayat 1 menyebutkan bahwa fisik dari surat paksa sendiri di bagian
kepalanya bertuliskan Demi Keadilan dan Ketuhanan Yang Maha Esa.
Dalam Pasal 7 ayat 2 disebutkan bahwa surat paksa sekurang-kurangnyaharus memuat:
1. Nama Wajib Pajak atau nama Wajib Pajak dan Penanggung Pajak
2. Dasar penagihan
3. Besarnya utang pajak
4. Perintah untuk membayar
Selain kriteria di atas, surat paksa juga mempunyai karakteristik sebagai berikut:
1. Surat paksa langsung dapat digunakan tanpa bantuan putusan peradilan dan tidak dapat
digunakan untuk mengajukan banding
2. Mempunyai kedudukan hukum yangsama dengan grosse akte, yaitu putusan peradilan
perdata yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap
3. Mempunyai fungsi ganda yaitu menagih pajak dan biaya penagihannya
4. Dapat dilanjutkan dengan tindakan penagihan penyanderaan
Surat Penyitaan
Penyitaan merupakan tindakan penagihan lebit lanjut setelah Surat Paksa. Surat Penyitaan
diterbitkan apabila utang pajak belum dilunasidalam jangka waktu 224 jam setelah Surat Paksa
diberitahukan, untuk itu maka dapat dilakukan tindakan penyitaan atas barang-barang Wajib
Pajak. Dalam penagihan pajak dengan surat paksa, juru sita pajak berwenang melakukan
penyitaan terhadap harta kekayaan Wajib Pajak. Untuk melaksanakan penyitaan barang milik
Penanggung Pajak tersebut diperlukan suatu prosedur yang mengatur secara rinci, jelas dan tegas
yang meliputi status, nilai serta tempat penyimpanan atau penitipan barang sitaan milik
Penagihan Pajak dengan Surat Paksa

Page 6

Penanggung Pajak dengan tetap memberikan perlindungan kepentingan pihak ketiga maupun
masyarakat Wajib Pajak.
Menurut Undang-undang no. 19 tahun 2000 tentang Penagihan Dengan Surat Paksa, Penyitaan
adalah tindakan juru sita pajak untuk menguasai barang dengan penanggungan pajak, guna
dijadikan jaminan untuk melunasi utang pajak menurut peraturan perundang-undangan.
Sedangkan penyitaan menurut Hadi (2001:4), yaitu serangkaian tindakan dari juru sita pajak
yang dibantu oleh 2 orang saksi untuk menguasai barang-barang dari Wajib Pajak, guna
dijadikan jaminan untuk melunasi utang pajak sesuai dengan perundang-undangan.
Undang-undang no.19 tahun 2000 Pasal 14 ayat 1 menjelaskan bahwa penyitaan dapat
dilaksanakan terhadap milik Wajib Pajak yang berada di tempat tinggal, di tempat usaha, di
tempat kedudukan atau di tempat lain termasuk penguasaannya yang berada di tangan pihak lain
yang dibebani dengan hak tanggungan sebagai jaminan pelunasan utang tertentu

Pajak sebagai sumber utama penerimaan Negara perlu terus ditingkatkan, sehingga
pembangunan nasional dapat dilaksanakan dengan kemampuan sendiri berdasarkan prinsip
kemandirian. Peningkatan kesadaran masyarakat dibidang perpajakan harus ditunjang
dengan iklim yang mendukung peningkatan peran aktif masyarakat serta pemahaman akan
hak dan kewajibannya dalam melaksanaka peraturan perundang- undangan perpajakan.
Peran serta masyarakat wajib pajak dalam memenuhi kewajiban pembayaran pajak
berdasarkan ketentuan perpajakan sangat diharapkan. Namun dalam kenyataannya masih
dijumpai adanya

tunggakan pajak sebagai akibat tidak dilunasinya utang pajak

sebagaiamana mestinya.
Perkembagan jumlah tunggakan pajak dari waktu ke waktu menunjukkan jumlah yang
semakin besar. Peningkatan jumlah tunggakan pajak ini masih belum dapat diimbangi dengan
kegiatan pencairannya, namun demikian secara umum penerimaan dibidang pajak
meningkat.
Penagihan pajak dengan surat paksa termasuk dalam penagihan pajak yang bersifat aktif,
yang merupakan paksaan yang bersifat langsung. Oleh karena itu, sebelum penagihan pajak
Penagihan Pajak dengan Surat Paksa

Page 7

yang bersifat aktif itu dilakukan penagihan pajak yang bersifat pasif. Seperti telah disebutkan
sebelumnya, penagihan pajak yang bersifat pasif meliputi: penyerahan surat ketetapan pajak
dan penerbitan surat teguran/ surat peringatan.
Surat ketetapan pajak yang diterbitkan pejabat kepada Wajib Pajak atau penanggung
pajak pada umumnya berjangka waktu 30 (tiga puluh) hari. Apabila dalam jangka waktu 30
(tiga puluh) hari kewajiban pajak belum dipenuhi, maka pejabat menerbitkan Surat Teguran .
Penagihan pajak dengan surat paksa dapat pula dilakukan apabila terhadap penanggung
pajak telah dilaksanakan penagihan seketika dan sekaligus, atau penanggung pajak tidak
memenuhi ketentuan sebagaimana tercantum dalam kepetusan persetujuan angsuran atau
penundaan pembayaran pajak. Dalam hal ini apabila terhadap penanggung pajak yang
bersangkutan dapat diterbitkan surat paksa tanpa menunggu jatuh tempo atau tanpa
menunggu lewat waktu 21 (dua puluh satu) hari sejak surat terguran diterbitkan.
Adapun proses penagihan pajak dengan surat paksa adalah sebagai berikut:
1) Surat paksa diterbitkan oleh pejabat dalam hal ini Kepala Kantor Pelayanan Pajak
(Kepala KPP) apabila Penanggung Pajak tidak melunasi utang pajak sampai dengan
tanggal jatuh tempo pembayaran pada surat teguran atau surat peringatan atau lain
yang sejenis, terhadapa penanggung pajak telah dilaksanakan penagihan seketika
dan sekaligus, atau penanggung pajak tidak memenuhi ketentuan sebagaimana
tercantum dalam keputusan persetujuan angsuran atau penundaan pembayaran.
2) Surat paksa diserahkan kepada jurusita pajak yang akan melaksanakan tugas
penagihan pajak dengan surat paksa.
3) Surat paksa diberitahukan oleh jurusita pajak dengan pernyataan dan penyerahan
surat paksa kepada penanggung pajak.
4) Pemberitahuan surat paksa dituangkan dalam berita acara yang sekurang-kurangnya
memuat hari dan tanggal pemberitahuan surat paksa, nama jurusita pajak, nama
yang menerima, dan tempat pemberitahuan surat pajak.
5) Surat paksa terhadapa orang pribadi diberitahukan oleh jurusita pajak kepada:
a. Penanggung pajak ditempat tinggal, tempat usaha atau ditempat lain yang
memungkinkan.
b. Orang dewasa yang bertempat tinggal bersama ataupun yang bekerja
ditempat usaha penanggung pajak, apabila penanggung pajak yang
bersangkutan tidak dapat dijumpai.

Penagihan Pajak dengan Surat Paksa

Page 8

c. Salah seorang ahli waris atau pelaksanaan wasiat atau yang mengurus harta
peninggalannya apabila Wajib Pajak telah meninggal dunia dan harta
warisan belum dibagi, atau
d. Para ahli waris, apabila wajib pajak meninggal dunia dan harta warisan telah
dibagi.
Wajib pajak atau penanggung pajak harus memenuhi kewajibannya dalam jangka waktu
2 (dua)kali 24 (dua puluh empat) jam setelah surat paksa diberitahukan. Apabila kewajiban
pajak tidak dipenuhi dalam jangka waktu 20 (dua puluh) kali 24 (dua puluh empat) jam,
pejabat menerbitkan surat perintah melaksanakan penyitaan dana ata barang yang disita akan
dilakukan penjualan secara lelang harus didahului dengan pengumuman lelang.
Pengumuman lelang dilaksanakan sekurang-kurangnya 14 (empat belas) hari setelah
penyitaan, sedangkan lelang dilaksanakan sekurang-kurangnya 14 (empat belas) hari setelah
pengumuman lelang.
Proses penagihan pajaka sejak habisnya jangka waktu surat ketetapan pajak atau jatuh
tempat pembayaran (mulai berjalannnya tenggang waktu 7 hari sebelum pejabat menerbitkan
Surat Teguran hingga pelaksanaan lelang memakan waktu minimal 58 hari.
Tata cara pemberitahuan Surat Paksa diatur dalam pasal 10 ayat (1) UU PPSP yaitu
pemberitahuan Surat Paksa dilakukan oleh jurusita dengan pernyataan dan penyerahan surat
paksa kepada penanggung pajak yang dituangkan dalam berita acara.
Menurut pasal 8 ayat (1) UU No.19 tahun 2000 dinyatakan bahwa surat paksa
diterbitkan apabila:
a. Penanggung pajak tidak melunasi utang pajak sampai dengan tanggal jatuh
tempo pembayaran dan kepadanya telah diterbitkan surat teguran atau surat
peringatan atau surat lain yang sejenis.
b. Terhadap penanggung pajak telah dilaksanakan penagihan seketika dan
sekaligus.
c. Penanggung pajaktidak memenuhi ketentuan sebagaimana tercantum dalam
keputusan persetujuan angsuran atau penundaan pembayaran pajak dalam hal
terjadi keadaan diluar kekuasaan pejabat, surat paksa dalam hal terjadi keadaan
diluar kekuasaan pejabat, surat paksa pengganti dapat diterbitkan oleh pejabat
karena jabatan dan mempunyai kekuatan eksekutorial serta
kedudukan hukum yang sama dengan surat paksa yang asli.

Penagihan Pajak dengan Surat Paksa

Page 9

mempunyai

Pasal 22 UU KUP menyebutkan bahwa hak untuk melakukan penagihan pajak termasuk
bunga, denda, kenaikan, dan biaya penagihan pajak, daluwarsa setelah melampaui waktu 5
(lima) tahun terhitung sejak penerbitan:
1. Surat tagihan pajak
2. Surat ketetapan pajak kurang bayar
3. Surat ketetapan pajak kurang bayar tambahan
4. Surat keputusan pembetulan
5. Surat keputusan keberatan
6. Putus banding
7. Putus peninjauan kembali
Daluwarsa penagihan pajak 5 (lima) tahun dihitung sejak surat tagihan pajak dan surat
ketetapan pajak diterbitkan. Dalam hal wajib pajak mengajukan permohonan pembetulan,
keberatan, banding atau peninjauan kembali, daluwarsa penagihan pajak 5 tahun dihitung
sejak tanggal penerbitan Surat keputusan Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan, Putusan
Banding, atau Putusan Peninjauan Kembali.
Surat paksa dikeluarkan segera setelah lewat 21 (dua puluh satu)hari sejak tanggal surat
teguran. Surat paksa diberitahukan oleh jurusita pajak dan pernyataan dan penyerahan salinan
surat paksa kepada penanggung pajak maksudnya mengingat surat paksa mempunyai
ketentuan eksekutorial dan kedudukan hukum yang sama dengan grosse akta.
B. Akibat Hukum Penagihan Pajak dengan Surat Paksa
Di Indonesia penagihan pajak dengan surat paksa (yang dilakukan pada waktu ini)
berdasarkan Undang-Undang Nomor 19 tahun 1959. Undang undang ini bermaksud
menyempurnakan Undang-undang Nomor 27 Tahun 1957 tentang penagihan pajak-pajak
Negara dengan surat paksa.
Surat paksa adalah surat keputusan yang sama mempunyai kekuatan yang sama dengan
grosse (asli) keputusan hakim dalam perkara perdata yang tidak diganggu gugat lagi dengan
cara memintakan banding kepada hakim yang lebih atas.
Surat paksa harus menggunakan Atas nama Keadilan karena perkataan-perkataan
itulah surat paksa mendapat kekuatan eksekutorial(kekuatan untuk dijalankan), dan
kekuatan itu didapatkannya karena keadilanlah yang semata-mata memerintahkan
pelaksanaan itu.
Surat paksa memuat perintah kepada wajib pajak untuk melunasi pajaknya yang sudah
barang tentu baru akan dikeluarkan setelah dipandang cukup alasannya oleh pihak fiskus.
Pasal (4) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1959 memuat ketentuan (dalam peraturanperaturan pelaksanaannya) siapa-siapa yang berwenang mengeluarkan surat paksa, yaitu:
1. Untuk pajak Negara : kepada inspeksi pajak yang bersangkutan
Penagihan Pajak dengan Surat Paksa Page 10

2. Untuk pajak daerah : kepala daerah yang bersangkutan


Ternyatalah kini, bahwa pelaksanaan surat paksa harus disesuaikan dengan cara
menjalankan vonis. Bilamana hakim telah memutuskan untuk menjatuhkan suatu hukuman
kepada seseorang untuk melunasi hutangnya, tetapi orang itu tetap ketinggalan dalam
memenuhi kewajibannya itu, maka kini tuntutan itu harus beralih kepada segenap miliknya.
UU penagihan pajak dengan surat paksa tidak memenuhi norma, karena menjadikan
Ditjen Pajak berfungsi sebagai lembaga eksekutif sekaligus legislative, dimana Ditjen Pajak
berperan sebagai pemungut pajak sekaligus sebagai penghukum pelanggar peraturan pajak.
Keberadaan UU PPSP (penagihan pajak dengan surat paksa) tersebut sebenarnya lebih
bertujuan pragmatis, agar Ditjen Pajak lebih cepat bertindak mengeksekusi Wajib Pajak
yang tidak menuruti aturan, karena jika menunggu proses peradilan umum bias-bisa tidak
menghasilkan apapun.
Menurut teori dalam ilmu pajak, UU No.19 Tahun 2000 tentang Penagihan Pajak
dengan Surat Paksa adalah merupakan hukum pajak formal, sama halnya dengan UU No. 28
Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan ( UU KUP), Santoso
Borotodiharjo, dalam bukunya Pengantar Ilmu Hukum Pajak mengatakan bahwa arti
hukuman pajak formil adalah peraturan-peraturan mengenai cara-cara untuk menjelmakan
hukum material.
Proses penagihan yang diatur dalam UU Penagihan yang baru ini adalah dimulai
dengan penyimpangan Surat Paksa yang mengharuskan Wajib Pajak/ Penanggung Pajak
untuk melunasi utang pajak dalam waktu 2 x 24 jam. Setelah itu, akan dikeluarkan Surat
Perintah Melakukan Penyitaan (pasal 12 ayat 1 UU PPSP). Dan setelah lewat 14 hari sejak
penyitaan utang pajak belum juga dibayar, dilanjutkan dengan pelelangan ( pasal 26 UU
PPSP)
Kalau dilihat seluruh rangkaian tindakan penagihan diatas, memang benarlah apa
yang dikemukakan oleh pakar ekonomi, bahwa UU PPSP ini member legitimasi kepada
Ditjen Pajak untuk sekaligus memungut pajak dan menghukum pelanggar peraturan pajak.
Mulai dari surat paksa sampai dengan keluarnya Surat Perintah melakukan penyitaan, WP
masih dberi kesempatan untuk melunasi utang pajaknya. Tapi setelah itu apabila utang pajak
belum juga dilunasi, maka akan dilanjutkantindakan penghukuman yaitu dengan melelang
harta WP.

BAB III
PENUTUP
Penagihan Pajak dengan Surat Paksa Page 11

1. Prosedur penagihan pajak dengan surat paksa dapat dilakukan apabila terhadap
penanggung pajak telah dilaksanakan penagihan seketika dan sekaligus, atau penanggung
pajak tidak memnuhi ketentuan sebagaimana tercantum dalam keputusan persetujuan
angsuran atau penundaan pembayaran pajak.
2. UU PPSP ( Penagihan pajak dengan surat paksa) bahwa surat paksa tidak dapat ditentang,
apabila terdapat pihak-pihak yang beranggapan dirugikan karena tidak sesuai dengan
ketentuan-ketentuan Hukum yang berlaku dapat dilakukan perlawanan dengan
mengajukan gugatan yang ditunjukkan kepada Pengadilan Pajak.

DAFTAR PUSTAKA
Mardiasmo, Perpajakan, Yoqyakarta : Andi, 2001

Penagihan Pajak dengan Surat Paksa Page 12

Jurnal Perpajakan Evans Emanual Sinulingga, Penagguhan Pajak dengan Surat Paksa
Berdasarkan Undang-undang Nomor 19 Tahun 2000
Undang-undang Perpajakan No. 19 Tahun 2000 Tentang Penagihan Pajak dengan Surat Paksa
http://www.ortax.org/ortax/?mod=aturan&page=show&id=4

Penagihan Pajak dengan Surat Paksa Page 13