Anda di halaman 1dari 13

Home Ir. H.

Supriyadi MM Kewirausahaan Materi Pendidikan Kewirausahaan :


Motivasi Wirausaha

Materi Pendidikan Kewirausahaan : Motivasi


Wirausaha
in Ir. H. Supriyadi MM, Kewirausahaan - on 7:15:00 PM

MOTIVASI WIRAUSAHA
Dosen : Ir. H. Supriyadi, M.M
A. Teori Motivasi
Motivasi adalah kemauan untuk berbuat sesuatu, sedangkan motif adalah dorongan,
kebutuhan, keinginan, dorongan atau impuls. Motivasi tergantung kepada kekuatan motifnya.
Motif dengan kekuatan terbesarlah yang akan menentukan perilaku seseorang. Motif yang
kuat mungkin saja berkurang apabila telah mencapai kepuasan atau mengalami kegagalan
(Alma, 2005).
Terdapat beberapa teori motivasi yang memiliki sudut pandang berbeda, antara lain:
1. Hirarki Kebutuhan Maslow
Merupakan teori motivasi yang paling popular. Maslow membuat urutan kebutuhan
manusia, dengan asumsi bahsa kebutuhan seseorang tergantung dari apa yang telah
dipunyainya, dan kebutuhan merupakan hirarki berdasar kepentingannya. Hirarki tersebut
terbagi menjadi 5 tingkatan, yaitu:
Perwujudan diri
Penghargaan
Sosial
Kemanan
Fisiologis

Gambar 4: Hirarki Kebutuhan Maslow (Sumber:Alma, 2005)

Bila 1 kebutuhan sudah terpenuhi, maka akan muncul tingkat kebutuhan yang lebih
tinggi. Kebutuhan yang lebih rendah tidak harus terpenuhi secara total, bisa saja setelah
sebagian kebutuhan terpenuhi kebutuhan diatasnya muncul.
-

Kebutuhan fisiologis : makanan, udara,istirahat, sex, rumah, dan fungsi-fungsi tubuh lainnya
dan perlindungan dari unsur-unsur itu

Kebutuhan keamanan : bebas dari rasa takut, perlindungan terhadap bahaya, ancaman dan
kemiskinan

Kebutuhan sosial : afiliasi, asosiasi, diterima dalam persahabatan, kasih sayang

Kebutuhan penghargaan : prestasi tinggi, kompetensi, kreativitas, dan kemandirian pribadi


(Irianto, 2005)

Kebutuhan perwujudan diri : prestasi tinggi, eksistensi dalam bidang yang digeluti atau
peran yang dilakukan
2. Teori Motivasi Hawthorne
Merupakan hasil penelitian Elton Mayo di Hawthorne Illinois, Western electronic Coy
yang dimulai pada tahun 1924. Hasil penelitian menemukan bahwa untuk meningkatkan
prestasi kerja karyawan, perlu adanya faktor human relation. Jika karyawan mendapat
perlakukan khusus secara pribadi maka produktivitasnya akan meningkat. Dapat disimpulkan
bahwa hubungan personal ataupun penghargaan teerhadap pribadi maupun kelompok akan
berpengaruh terhadap motivasi kerja seseorang. Oleh karena itu perhatian, penghargaan dan
hubungan personal yang dibina oleh seorang wirausaha kepada anak buah maupun rekan
kerjanya.
3. Teori X dan Y Mc.Gregor
Teori X mengasumsikan bahwa kebanyakan orang lebih suka dipimpin, tidak punya
tanggungjawab dan ingin selamat saja. Mereka dimotivasi oleh uang, keuntungan dan
ancaman hukuman. Manajer yang menganut teori x akan menganut system pengawasan dan
disiplin yang ketat terhadap para pekerja.
Teori Y mengasumsikan bahwa seseorang menjadi malas bukan karena bakat atau
pembawaan sejak lahir. Semua orang sebenarnya bersifat kreatif. Tugas pimpinan untuk
merangsang dan membangkitkan kreativitas karyawannya.
Teori X dan Y dapat membantu memetakan kecenderungan orang. Misalnya
seseorang yang sebetulnya menganut teori Y, tapi ketika ia menjadi pemimpin ia perlu juga
melakukan pendekatan sesuai teori X, misalnya dalam mengawasi para pekerja.

4. Teori pola A dan pola B Arygyris


Teori pola A beranggapan bahwa orang atau individu tidak punya perasaan, tidak
terbuka, suka menolak eksperimen dan tidak mau menolong orang lain. Teori pola B
beranggapan bahwa setiap orang memiliki perasaan, punya tenggang rasa, bersifat terbuka,
mau melakukan eksperimen dan mau menolong orang lain. Agryrys menyatakan meskipun
pola A serupa dengan teori X dan pola B serupa dengan teori Y, sebenarnya tidak selalu
demikian. Dalam keadaan tertentu pola A bisa berhubungan dengan teori Y dan pola B bisa
berhubungan dengan teori X. Kombinasi XA, XB, atau YA dan YB bisa saja terjadi.
5. Teori Hygiene Herzberg
Merupakan hasil studi Herzberg di Pittsburgh. Herzbergh menginterview insinyur
dan akuntan tentang hal-hal apa saja yang menyenangkan dan tidak menyenangkan dalam
pekerjaan. Dari penelitian ini ditemukan ada 2 kategori yang mempengaruhi perilaku.
Kategori pertama disebut faktor hygiene, yaitu faktor lingkungan yang mempengaruhi
ketidakpuasan dalam melakukan pekerjaan. Rincian faktor hygiene antara lain:

Administrasi dan kebijaksanaan

Supervise

Kondisi kerja

Hubungan interpersonal

Uang, status, security


Kategori kedua disebut dengan faktor motivator, yaitu hal-hal yang memotivasi orang
untuk bekerja. Hal-hal yang termasuk faktor motivator antara lain:

Prestasi

Penghargaan

Tantangan pekerjaan

Bertambah tanggungjawab

Ada kemungkinan pengembangan diri

6. Teori Motivasi Model Porter dan Lawyer


Pada gambar di atas ditunjukkan bahwa upaya tergantung pada nilai imbalan serta
probablitas untuk memperoleh imbalan tersebut. Sebaliknya, persepsi upaya dan proabilitas
imbalan dipengaruhi juga oleh hasil penampilan sesungguhnya. Jelas bahwa bila seseorang
tahu dia mampu mengerjakan suatu tugas atau punya pengalaman mengerjakannya maka dia
memiliki perkiraan yang lebih baik mengenai upaya yang dibutuhkan dan probabilitas
imbalannya.
Penampilan sesungguhnya dari suatu pekerjaan ditentukan oleh upaya yang
dicurahkan serta dipengaruhi oleh kemampuan untuk melaksanakan dan persepsinya tentang
tugas. Penampilan, sebaiknya dilihat dari imbalan intrinsik (misalnya rasa keberhasilan dan
aktualisasi diri) dan imbalan ekstrinsik (seperti kondisi kerja dan status). Setelah imbalan
diangggap seimbang, maka terjadilah kepuasan. Model motivasi Porter dan Lawyer ini lebih
kompleks dari teori motivasi lainnya tetapi jelas memberi gambaran yang lebih lengkap dari
sistem motivasi.
Dalam organisasi bisnis, para wirausahawan harus menilai struktur imbalan dengan
hati-hati melalui perencanaan yang teliti, dan uraian yang jelas tentang tugas-tugas.
7. Teori Prestasi Mc Clelland
Pada dasarnya motivasi seseorang ditentukan oleh tiga kebutuhan:
a.

Kebutuhan akan kekuasaan (need for power)

b. Kebutuhan akan afiliasi (need for affiliation)


c.

Kebutuhan akan keberhasilan (need for achievement)


Teori ini mencoba menjelaskan perilaku manusia yang berorientasi pada prestasi.
Menurut teori tersebut, seseorang yang mempunyai need for achievement yang tinggi selalu
mempunyai pola pikir tertentu, ketika ia merencanakan untuk melaksanakan sesuatu, selalu
mempertimbangkan apakah perkerjaan yang akan dilakukan cukup menantang atau tidak.
Seandainya pekerjaan itu cukup memberikan tantangan, maka kemudian ia memikirkan
kendala-kendala apa yang mungkin dihadapi dalam pencapaian tujuan, strategi apa yang
dapat digunakan, untuk mengatasi kendala dan mengantisipasi konsekuensinya.
Ciri lain dari need for achievement adalah kesediaannya untuk memikul
tanggungjawab sebagai konsekuensi usahanya, berani mengambil resiko yang sudah
dperhitungkan, kesediaannya untuk mencari informasi, untuk mengukur kemajuannya, dan
menginginkan kepuasan dari apa yang telah dikerjakannya. Mc Clelland juga

memperkenalkan konsep tentang kompetensi, yang kemudian menjadi dasar munculnya


konsep pengembangan sumberdaya manusia berbasis kompetensi (competency Based Human
Resources Development). Menurutnya kompetensi terdiri dari 6 elemen yakni keterampilan
(skills), pengetahuan (knowledge), peran social (social roles), citra diri (self image), sifat
(traits) dan motif (motives) (Sutomo, 2007).

8. Teori Z ,Ouchi
William G.ouchi (1982) meneliti rahasia kesuksesan yang dinikmati oleh perusahaan
Jepang. Penelitian ini menemukan bahwa produktivitas dan kepercayaan saling
bergandengan. Ouchi kemudian memberikan gambaran organisasi tipe-Z, sebagai berikut:

Mengharapkan pekerja akan bekerja seumur hidup di perusahaan tersebut

Bekerja dengan penuh rasa intim, seperti sebuah clan (paguyuban)

Penuh dengan system informasi mutakhir

Keputusan diambil secara kolektif

Tidak menetapkan laba sebagai tujuan akhir, laba dipandang sebagai imbalan terhadap
perusahaan yang telah melayani konsumen dengan baik dan benar, yang telah memberi hidup
yang layak pada karyawannya, dan cukup bertanggungjawab sebagai warga

Menganut sifat egalitarian


Teori-teori motivasi di atas dapat membantu seorang wirausaha mengembangkan
strategi untuk meningkatkan motivasi baik untuk diri sendiri maupun orang lain (terutama
apabila dalam usaha yang dilakukan terdapat karyawan/anak buah). Seseorang yang belum
memulai usahanya dan baru akan memulai berwirausaha, bisa mempelajari beragam teori
mengenai motivasi namun yang lebih penting adalah menumbuhkan motivasi dalam diri
untuk berwirausaha.

B. Menumbuhkan Minat Wirausaha


Minat seseorang untuk berwirausaha bisa muncul dari dalam diri (faktor internal)
maupun dari luar diri (faktor eksternal).
Faktor internal antara lain :

1.

Merasa tidak puas dengan pekerjaan atau aktivitas yang saat ini digeluti, sehingga ingin
punya aktifitas yang lebih mengasyikkan/menantang

2. Senang coba coba


3. Keinginan kuat untuk mandiri (tidak tergantung pada orang lain)
4. Keinginan kuat untuk mewujudkan mimpi, ide atau inovasinya
5. Minat dan komitmen tinggi terhadap wirausaha
Faktor eksternal antara lain
1. Kehilangan pekerjaan
2. Ada sumber daya yang sayang kalau tidak dimanfaatkan, misalnya ada lokasi strategis,
mendapat modal, warisan, dll
3. Mengikuti latihan atau inkubator bisnis, lalu mendapatkan tugas untuk mengembangkan
usaha
4. Ada relasi atau rekanan yang membuka peluang usaha, atau bisa diajak bekerjasama
5. Dorongan dari keluarga, teman atau kerabat.
Dari kedua faktor tersebut, faktor internal memiliki peranan yang lebih kuat. Bisa
saja seseorang awalnya termotivasi untuk berwirausaha karena adanya faktor eksternal,
namun dukungan faktor internal tetap diperlukan untuk menjaga konsistensinya dalam
merintis usahanya tersebut. Misalnya, Mr.X merintis usaha karena baru saja kehilangan
pekerjaan. Dalam merintis usaha tentu saja Mr.X menemui berbagai halangan, seandainya
motivasi dalam diri Mr.X tidak cukup kuat (misalnya tidak punya keinginan kuat untuk
mandiri, komitmen untuk berwirausaha rendah) tentu akan mudah menyerah menghadapi
kegagalan yang ditemui. Sebaliknya jika Mr.X memiliki motivasi yang tinggi rintangan
hanyalah dianggap sebagai sandungan kecil yang tidak akan membuatnya berhenti
melangkah. Seorang wirausaha sebaiknya senantiasa berupaya menumbuhkan minat dari
dalam dirinya agar selalu termotivasi untuk mengelola usahanya dengan lebih baik dan lebih
baik lagi. Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk membangun minat berwirausaha
antara lain:
dampak positif dari wirausaha
Minat akan tumbuh apabila seseorang mampu melihat keuntungan dari dampak positif
dari sesuatu. Seseorang akan tertarik untuk menekuni dunia wirausaha apabila dirinya melihat
dampak positif yang akan didapat dari wirausaha. Beberapa contoh dampak positif wirausaha
dalam kehidupan seseorang adalah:
a.

Menambah penghasilan

b. Lebih bebas berekspresi


c.

Menjadi pimpinan, pembuat aturan

d. Bisa bekerja dengan waktu dan tempat yang lebih fleksibel


e.

Dapat mengeksplorasi ide-ide kreatif

f.

Mengembangkan idealisme (misalnya seorang pecinta lukisan batik, membuka gerai lukisan
batik dengan harapan lukisan batik lebih dikenal luas dimana-mana).
Dampak positif wirausaha mungkin berbeda-beda pada setiap orang, tergantung pada
kebutuhannya.
2. Menajamkan mission statement, tujuan, perencanaan tertulis
Visi dan misi bisa dituliskan dalam kalimat yang mudah diingat, dan kemudian bisa
menjadi motto serta penyemangat disaat lemah. Misalnya layanan perawatan kecantikan
terbaik bagi wanita berjilbab. Tulisan tersebut dikenal dengan mission statement atau
pernyataan misi yang mengingatkan seseorang kepada tujuannya.

3. Memulai usaha dari bidang yang disukai, dibutuhkan atau sesuai dengan concern (kepedulian
utama).
Misalnya orang yang suka membuat brownies, bisa mulai dengan usaha brownies,
sehingga kalaupun belum bisa mengeruk untung besar, setidaknya bisa menyalurkan hobi.
Ada juga wirausaha yang memulai usaha berdasar apa yang menjadi kebutuhannya. Misalnya
Dewi Hughes yang awalnya kesulitan mendapatkan pakaian jadi yang sesuai ukuran
tubuhnya, lalu membuka butik yang khusus menyediakan pakaian untuk wanita bertubuh
besar. Selain menjual produk untuk dibeli orang lain, butik ini juga sekaligus untuk
memenuhi kebutuhannya. Usaha pada bidang yang disukai menimbulkan rasa cinta pada apa
yang dilakukan, kecintaan tersebut memberikan dampak cukup besar untuk memotivasi
seseorang dalam melakukan sesuatu.

4. Membangun dukungan
Minat dari dalam diri untuk berwira usaha bisa saja redup atau bahkan padam saat
menemui sandungan. Dukungan dari orang-orang terdekat atau yang dipercaya akan sangat
bermanfaat untuk menyalakan minat itu kembali, Dukungan bisa berupa dukungan moril,
misalnya memberikan semangat, nasehat, pandangan (beberapa orang membutuhkan second
opinion sebelum mengambil keputusan), tempat berkeluh kesah/curhat, dan lain sebagainya.

Dukungan bisa juga berupa rekanan kerja atau partner, misalnya usaha join dengan teman
atau saudara, tenaga kerja, jaringan pemasaran dan sebagainya. Dukungan material juga
memiliki peran oentung, misalnya support modal, pinjaman tempat, kendaraan, dsb. Maka
dalam menjalankan usahanya seorang wirausaha perlu mengidentifokasi pihak mana saja
yang dapat memberikan dukungan, dengan begitu ia dapat berbagi beban dan tidak merasa
berjuang sendirian.
5. Membekali diri
Keterampilan memberikan kontribusi cukup besar bagi seorang wirausaha.
Keterampilan tidak saja mampu meningkatkan kinerja seseorang, tapi juga memberikan rasa
percaya diri dalam menjalankan usahanya. Keterampilan bisa berupa hal-hal yang berkaitan
langsung dengan usahanya, maupun yang tidak berkaitan langsung tapi mendukung
kelancaran usahanya. Misalnya seseorang membuka usaha jasa konsultan tanaman hias, maka
ia perlu mengetahui seluk beluk merawat, menyuburkan, menanggulangi hama dan penyakit,
sampai pada pasar tanaman hias, yang merupakan keterampilan yang berhubungan langsung
dengan usahanya. Namun apabila ia memiliki pengetahuan yang cukup tentang cara melayani
konsumen dengan baik, menata interior kantor dengan baik, mengenali jenis-jenis konsumen,
mengetahui cara berpenampilan sehingga meyakinkan, tentu akan sangat mendukung
usahanya. Seorang wirausaha yang baik akan selalu berusaha mengembangkan dirinya,
sehingga keterampilannya senantiasa bertambah. Lebih dari itu, penambahan pengetahuan
akan memotivasi wirausahawan untuk mencoba ide baru baik terhadap produk maupun
system yang dijalankan sehingga minatnya terhadap usaha yang digeluti akan semakin besar.
6. Bersikap positif terhadap kegagalan
Wirausaha yang sukses biasanya memiliki kisah gagal di balik kesuksesannya. Dunia
usaha penuh dengan coba-coba, dimana gagal tentu saja menjadi salah satu resikonya. Tidak
sedikit wirausahawan yang menemukan bisnis yang cocok setelah berkali-kali berganti usaha
dan gulung tikar. Sikap positif terhadap kegagalan sangat diperlukan agar minat untuk wira
usaha tidak hilang setelah menemui kegagalan yang pertama. Seorang wira usaha perlu
memiliki kebiasaan untuk belajar dari pengalaman yang kurang mengenakkan, sehingga bisa
memulai lagi usaha dengan persiapan yang lebih matang.
7. Berserah diri pada Alloh SWT
Terakhir tapi tidak kalah pentingnya, harus tertanam dalam diri seorang wirausaha
bahwa rizki adalah kuasa Alloh SWT. Manusia harus berikhtiar untuk mendapatkan rizki itu,

namun Alloh SWT lebih tahu porsi yang pas untuk hamba-Nya. Berserah diri pada Alloh
SWT bukan berarti pasrah dan menyalahkan takdir atas kegagalan yang dialami, tapi berserah
diri terhadap apa yang dikehendaki Alloh SWT, memohon pertolongan-Nya, dan bersyukur
untuk apapun yang diterima. Seorang wirausaha yang berserah diri pada Alloh SWT, akan
berusaha dengan keras untuk mendapatkan hasil terbaik, tapi juga lebih tenang karena
memiliki tempat bergantung yang Maha Kuasa, serta tidak mudah stress apabila menghadapi
sandungan karena ia percaya bahwa Tuhan selalu memberikan yang terbaik untuknya.
C. Menjadi Wirausaha Sukses
Ahli maupun praktisi di bidang wirausaha banyak memberikan tips bagi para pemula
di bidang usaha agar bisa menjadi wirausaha sukses. Berikut ini beberapa tips yang dapat
dipraktekkan oleh para pemula di bidang wirausaha.

Winarto dalam Susilo (2005)

mengungkapkan kunci sukses wirausaha, antara lain:

1. Reputasi
Senantiasa menjaga reputasi (nama baik). Ini sangat penting sebab tanpa nama baik seseorang
tidak mungkin mendapatkan kepercayaan dari orang lain.
2. Tumbuh dari bawah
Sukses dimulai dari langkah kecil, bahkan mungkin dari nol. Sukses tidak mungkin dicapai
secara instant. Perlu perjuangan untuk bisa meraihnya
3. Konsentrasi
Bila seseorang telah memutuskan untuk masuk ke bidang tertentu, ia harus focus dan
berkonsentrasi.
4. Anti crowded/ kerumunan
Tidak menjadi pengikut, tidak terjun ke dalam tempat atau bidang yang telah banyak
dimasuki

orang

lain

(latah).

Kesuksesan seorang wira usaha sangat dipengaruhi oleh karakter yang dimilikinya. Meski
begitu, memiliki karakter yang sesuai saja tidaklah cukup untuk membawa seseorangmenjadi
wirausahawan sukses. Kemauan dan kerja keras memiliki sumbangan yang tidak kelah
besarnya. Kombinasi antara karakter dan kemauan yang kuat akan membantu seorang
mengerahkan keterampilannya sehingga menjadi wirausaha sukses. Berikut beberapa tips dari
Sutomo ( 2007) yna merupakan hasil penelitian Timmon, agar seseorang dapat menjadi

wirausaha unggul. Apabila disimak, beberapa dari tips tersebut sesuai dengan karakter
wirausaha yang telah dibahas sebalumnya:
1. Total komitmen. Determinasi dan kesabaran
Seorang wira usaha, terutama pada fase awal membangun bisnis akan memberikan
waktunya sepenuhnya untuk usahanya. Seorang ibu yang berbisnis catering rela bangun
sebelum subuh untuk berbelanja dan memasak. Determinasi, keyakinan akan bisnis yang
dijalani. Tidak peduli pandangan dan cemoohan orang, tak peduli hasil-hasil jangka pendek,
wirausahawan perlu tetap teguh atas keyakinan menjalankan bisnisnya. Selain itu kesabaran
sangat diperlukan, karena umumnya hasil baru diperoleh dalam jangka waktu lama,
sementara dalam jangka pendek ia perlu mengeluarkan banyak biaya
2. Orientasi peluang dan sasaran
Wirausahawan harus jeli melihat peluang dari setiap perubahan. Bagi orang lain itu ancaman,
bisa saja baginya itu peluang. Sasaran sangat penting karena akan menjadi motivator bagi
sebagian besar pesiis. Hampir sebagian besar psbisnis sukses punya tujuan yang jelas dalam
hidupnya. Tanpa tujuan sulit dibayangkan seseorang dapat punya motivasi dan ketahanan
dalam dunia bisnis.
3. Berani berinisiatif dan mengambil tanggungjawab pribadi
Keistimeewaan seorang wirausahawan yang tidak dimiliki karyawan adalah kebebasa.
Kebebasan itu tidakl dimaknai sebagai keleluasaan untuk bertindak semaunya, melainkan
bebas dalam mengambil inisiatif untuk menjlankan ide-ide produktif serta berani bertanggung
jawab secara pribadi atas segala akibat dan dampak dari inisiatifnya itu.

4. Pemecah masalah yang ulet


Menghadapi masalah yang kompleks adalah pekerjaan sehari-hari pebisnis. Mulai dari
aspek pasar, pendanaan, produksi, SDM, ditangai oleh pewirausaha seorang diri. Hanya
keyakinan terhadap tujuan yang membuat wirausahawan mampu mengurai semua persoalan
yang muncul silih berganti dan mencari solusi-solusi yang cocok.
5. Mencari dan memanfaatkan umpan balik

Wirausahawan harus berpijak pada dunia nyata, dan diunia nyata yang paling penting
adalah pelanggan dan karyawan. Ke luar, umpan balik harus terus menerus dicari dan
dimanfaatkandalam pengembangan produk dan perbaikan layanan. Ke dalam, umpan balik
karyawan harus difasilitasi dan dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk peningkatan kinerja
perusahaan.
6. Internal focus of control
Yaitu orang yang terkendali secara internal, yang memiliki keyakinan bahwa nasibnya
sebagian besar tergantung dari dirinya sendiri. Keyakinan yang kuat terhadap diriinilah yang
membuat seorang wirausahawan banyak berorientasi bertindak mulai dari diri sendiri, dan
sekarang juga. Tindakan-tindakan konkret itulah yang kemudian menentukan nasibnya.
7. Pencari resiko moderat
Wirausaha perlu lebihh berani mengambil resiko disbanding orang kebanyakan.
Dengan keberanian ini ia berani memulai bisnis atau mengembangkannya. Seorang
wirausaha perlu menimbang resiko dengan matang. Perilaku orak kanan radikal yang
impulsive sangat berbahaya bagi bisnis. Resiko moderatlah yang diambil berdasarkan
pertimbangan pasar dan sumberdaya yang dimiliki. Kebanyakan wirausaha memodali sendiri
usahanya atau pinjaman yang harus dipertanggungjawabkan. Perhitungan yang matang atas
resiko tetap diperlukan tanpa menghilangkan kegairahan melihat ganjaran yang panas apabila
bisnisnya menghasilkan.
8. Kreatif realistis
Kreativitas bisnis berbeda dengan kreativitas seniman yang sering tak berpijak di
bumi. Kreativitas bisnis harus dapat diterima oleh masyarakat luas sebagai nilai-nilai yang
memberi manfaat.oleh Dough Hall, ini disebut orientasi otak seimbang, dapat berimajinasi
tapi juga mampu mengimplementasi. Pada kondisi sekarang yang menuntut perubahan dan
temuan-temuan yang berbeda dengan yang sebelumnya sudah ada, wirausaha yang kreatif
realistis memiliki peluang yang lebih besar untuk sukses.
D. Inti Wirausaha
Inti dari jiwa kewirausahaan adalah jiwa yang mampu menciptakan nilai tambah
dari keterbatasan (Suharno, 2008). Inti dari wirausaha sendiri, dikenal dengan konsep CORE,
yaitu :

RIOUSITY : Seseorang harus memiliki rasa keingintahuan yang besar sebelum menjadi wira usaha yang
baik

ENNES

: Harus memiliki keterbukaan berpikir tanpa melakukan pretense atau mencurigai sesuatu

SK

: Keberanian untuk mengambil resiko

ERGY

: Memiliki daya juang warior yang memiliki energi yang tinggi untuk mencapai sukses.
(Susilo, 2005)
Sutomo (2007) mengulas 4 keutamaan individiu pebisnis yang ditulis oleh Robert
C.Solomon, yaitu:
1. Kejujuran
Kejujuran dianggap sebagai sifat utama yang harus dimiliki oleh wirausahawan.
Wirausahawan sejati akan bersifat jujur walaupun ada kesempatan untuk berbuat tidak jujur.
Banyak bidang yang menyangkut teknis yang rumit sehingga sangat memungkinkan
pedagang untuk berbohong, misalnya jual beli computer, jasa reparasi barang elektronik, dll.
Kejujuran menjamin kelangsungan usaha dalam jangka panjang. meskipun dengan berbohong
seorang wirausaha bisa mendapatkan keuntungan berlipat ganda, namun akan membuat
pelanggan jera dan latti ke wirausaha yang lain.
2. Kewajaran
Adalah kesediaan memberikan apa yang wajar atau yang bisa diterima kepada semua
pihak yang terlibat dalam transaksi
3. Kepercayaan
Ditempatkan dalam hubungan timbale balik, saling percaya. Wirausaha yang memiliki
keutamaan ini bersedia menerima mitranya sebagai pihak yang dapat diandalkan.
Kepercayaan dibangun kerena pengalaman dan reputasi. Misalnya pada usaha eksport import,
dimana wirausaha tidak bertatap muka dengan pelanggan, hanya dihubungkan dengan media
komunikasi.
4. Keuletan
Ketahanan terhadap berbagai situasi sulit. Hal ini yang membuat pebisnis dapat
bangkit lagi setelah menderita kegagalan berulang-ulang. Wirausaha yang berhasil umumnya
amat tahan terhadap situasi yang bergejolak bahkan seringkali tak terkendali.
Dengan semakin berkembangnya dunia wirausaha, pelaku usaha seyogyanya tetap
menjunjung nilai-nilai etika keutamaan yang dapat menjamin kelanggengan usaha dalam
jangka panjang. Sebagai seorang wirausaha, nilai-nilai keutamaan tersebut hendaknya tidak

dianggap sebagai hambatan melainkan tantangan untuk mencapainya agar usaha dapat
berjalan berkelanjutan. Dengan demikian secara batin kesuksesan usaha akan diimbangi
dengan kebahagiaan rohani.

Anda mungkin juga menyukai