Anda di halaman 1dari 22

LABORATORIUM SATUAN PROSES I

SEMESTER GANJIL TAHUN AJARAN 2013/2014

MODUL

: Pembuatan Senyawa Kompleks Tembaga


Sulfat Pentahidrat (CuSO4. 5H2O) dari
Limbah Tembaga.

PEMBIMBING

: Iwan Ridwan, S.T.

Praktikum : 19 Juni 2014


Penyerahan : 26 Juni 2014
(Laporan)

Oleh
Kelompok

:5

Nama

: 1. Nisa Mardiyah

131424018

2. Nova Puspita

131424019

3. Puteri Aulia Rahmah

131424020

Kelas

: 1A TKPB

PROGRAM STUDI DIPLOMA IV TEKNIK KIMIA


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2014

I.

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tembaga (II) sulfat mempunyai nilai ekonomis yang tinggi dan banyak
manfaatnya di laboratorium maupun lingkungan. Di lingkungan garam tembaga
banyak digunakan dalam bidang pertanian, misalnya sebagai larutan Bordeaux
yang mengandung 1-3% CuSO4 untuk pembasmi jamur pada sayur dan tumbuhan
buah, selain itu CuSO4 banyak digunakan di kolam renang sebagai pembunuh atau
penghambat pertumbuhan ganggang atau lumut, sehingga jika tembaga (II) sulfat
ditambahkan ke dalam air kolam renang menyebabkan air kolam berwarna jernih
kebiru-biruan. Di laboratorium garam tembaga (II) sulfat banyak digunakan untuk
bahan

praktikum

dalam

beberapa

modul

misalnya

modul

termokimia,

stokhiometri,elektrokimia,gravimetrik. Oleh karena itu, untuk kebutuhan teknis dapat


disediakan oleh laboratorium dengan cara recovery tembaga menjadi tembaga (II)
sulfat pentahidrat, sehingga dapat memperkecil biaya.
1.2 Tujuan Percobaan
Setelah mempelajari dan melakukan percobaan, mahasiswa diharapkan mampu :
1. Membuat kristal tembaga (II) pentahodrat dari limbah tembaga
2. Mengenal sifat-sifat kristal tembaga (II) sulfat pentahidrat
3. Menganalisis produk dengan menghitung rendemen dan jumlah air kristal
(hidrat) secara stoikhiometri.

II.

LANDASAN TEORI
Dalam suatu Sistem Periodik Unsur (SPU), tembaga (Cu) termasuk ke dalam
golongan transisi. Tembaga, perak dan emas disebut logan koin karena dipakai sejak
lama sebagai uang dalam bentuk lempengan (koin). Hal ini disebabkan oleh logam ini
tidak reaktif, sehingga tidak berubah dalam waktu yang lama. Tembaga adalah logam
berdaya hantar listrik tinggi, maka dipakai sebagai kabel listrik. Tembaga tidak larut
dalam asam yang bukan pengoksidasi tetapi tembaga teroksidasi oleh HNO3 sehingga
tembaga larut dalam HNO3. Bentuk pentahidrat yang lazim terhidratnya, yaitu
kehilangan empat molekul airnya pada 110 0C dan kelima-lima molekul air pada
1500C. Pada 6500C, tembaga (II) sulfat mengurai menjadi tembaga (II) oksida (CuO),
sulfur dioksida (SO2) dan oksigen (O2).
Tembaga (Cu) merupakan salah satu logam yang paling ringan dan paling aktif.
Cu+ mengalami disproporsionasi secara spontan pada keadaan standar (baku). Hal ini
bukan berarti larutan senyawa Cu(I) tidak mungkin terbentuk. Untuk menilai pada

keadaan bagaimana mereka ditemukan, yaitu jika kita mencoba membuat (Cu +) cukup
banyak pada larutan air, Cu2+ akan berada pada jumlah banyak sebab konsentrasinya
harus sekitar dua juta dikalikan pangkat dua dari Cu+. Disproporsionasi akan menjadi
sempurna. Di jalan lain pihak jika Cu+ dijaga sangat rendah (seperti pada zat yang
sedikit larut atau ion kompleks mantap), Cu 2+ sangat kecil dan tembaga (I) menjadi
mantap.
Tembaga (II) sulfat mempunyai banyak kegunaan di bidang industri diantaranya
untuk membuat campuran Bordeaux (sejenis fungsida) dan senyawa tembaga lainnya.
Senyawa ini juga digunkan dala penyepuhan dan pewarnaan tekstil serta sebagai
bahan pengawet kayu. Bentuk anhidratnya digunakan untuk mendeteksi air dalam
jumlah kelimut. Tembaga sulfat juga dikenal sebagai vitriol biru.
Tembaga (II) sulfat merupakan padatan kristal biru, CuSO 4.5H2O triklini.
Pentahidrat ini dibuat dengan mereaksikan tembaga (II) oksida atau tembaga (II)
karbonat dengan H2SO4 encer, larutannya dipanaskan hingga jenuh dan pentahidrat
yang biru mengkristal jika didinginkan. Pada skala industri, senyawa ini dibuat
dengan memompa udara melalui campuran tembaga panas dengan H2SO4 encer.
Dalam bentuk pentahidrat, setiap ion tembaga (II) dikelilingi oleh empatmolekul air
pada setiap sudut segi empat. Kedudukan

kelima dan keenam dari oktahedral

ditempati oleh atom oksigen dari anion sulfat, sedangkan molekul air kelima terikat
oleh ikatan hidrogen, salah satu sifat dari logam tembaga yaitu tembaga tidak larut
dalam asam yang bukan pengoksidasi tetapi tembaga teroksidasi oleh HNO3 sehingga
tembaga larut dalam HNO3.
3Cu(s) + 8H+(aq) + 2NO3-(aq)
3Cu2+(aq) + 2NO(g) + 4H2O
Logam tembaga dibuat dari tembaga sulfida (Cu2S) yang dioksidasi dengan oksigen.
Cu2S + 2O2
2CuO + SO2
2CuO + Cu2S
SO2 + 4Cu
Garam tembaga dalam larutan berwarna biru pucat, karena membentuk ion
Cu(H2O)42+. Jika larutan ini ditambah amonia akan menghasilkan ion Cu(NH 3)42+ yang
berwarna biru pekat. Senyawa CuCl2, Cu2Br2, Cu2I2 sukar larut dalam air dengan Ksp
masing-masing 1,9.10-7; 5.10-9; dan 1.10-12. Senyawa Cu2O dan Cu2S dapat dibuat
langsung dari unsurnya pada shu tinggi. Kedua senyawa ini cenderung
nonstoikhiometri karena dapat pula sebagian membentuk CuO dan CuS.
Senyawa-senyaa Cu (I) berwarna putih kecuaili oksidasinya merah. Sedangkan
senyawa Cu (II) hidratnya biru dan anhidratnya abu-abu. Senyawa-senyawa Cu (II)
lebih stabil dalam larutan. Mereka beracun dan mengion yang kberwarna gelap (biru
gelap) yang terbentyk dengan lautan amonia berlenihan. Cu digunakan buat

kabel/kawat/peralatan listrik; dalam logam-logam paduan; monel, perunggu kuningan,


perak jerman, perak nikel untuk ketel dan lain-lain.
Secara umum garam tembaga (I) tidak larut dalam air dan tidak berwarna,
perilakunya mirip perilaku senyawa perak (I). Mereka mudah dioksidasi menjadi
senyawa tembaga (II), yang dapat diturunkan dari tembaga (II) oksida, CuO, hitam.
Garam-garam tembaga (II) umumnya berwarna biru, baik dalam bentuk hidrat, padat,
maupun dalam larutan air, warna ini benar-benar khas hanya untuk ion
tetraakuokuprat (II) [Cu(H2O)4]2+ saja. Batas terlihatnya warna ion kompleks
tetraakuokuprat (II) dalam larutan air, adalah 500 g dalam batas konsentrasi 1 dalam
104. Garam-garam tembaga (II)anhidrat, seperti tembaga (II) sulfat anhidrat CuSO 4,
berwarna putih (atau sedikit kuning).
Larutan amonia bila ditambahkan dalam jumlah yang sangat sedikit terbentuk
endapan biru suatu garam basa (tembaga sulfat basa). Bila dalam ke adaan basah
dibiarkan terkena udara, tembaga (II) sulfida cenderung teroksidasi menjadi tembaga
(II) sulfat, dan karenanya menjadi dapat larut dalam air. Banyak sekali panasyang
dilepaskan pada proses ini.
Persamaan reaksi kristalisasi secara keseluruhan adalah :
Cu +3H2O + H2SO4+ 2HNO3

CuSO4.5H2O + 2NO2 (berwarna kuning coklat)

Kristal CuSO4.xH2O yang terbentuk dapat dilihat pada Gambar

III.

PERCOBAAN
3.1 Alat dan Bahan Kimia yang Digunakan

Alat

Bahan

o
1
2
3
4
5
6

Gelas kimia 250 mL (1 buah)


Gelas ukur 50 mL (1 buah)
Corong (1 buah)
Kaca arloji (1 buah)
Batang pengaduk (1 buah)
Pemanas (hotplate)

Limbah tembaga dari kabel bekas


Larutan H2SO4 pekat
Larutan HNO3 pekat
Aquades

7
8
9
10

Pipet tetes (2 buah)


Cawan penguap (1 buah)
Timbangan
Kertas saring
3.2 Prosedur Kerja
1. Membuat Kristal CuSO4.5H2O

50 mL air
dimasukk
an ke
dalam
gelas
kimia

Campura
n
tersebut
dipanaska
n

Tambahk
an 10
mL
H44SO44

Aduk
hingga
semua
tembaga
larut

5 gr
tembag
a
dimasu
kkan

tambahk
an 15 mL
HNO33
pekat

Saat
masih
panas,
campuran
disaring

lakukan
sampai 3
kali,
sehingga
kristal
bebas dari
nitrat

Larutan
disimpan
hingga
terbentuk
kristal

kristalka
n
kembali

Cuci
kristal
dengan
sedikit
air

Larutkan
ke
dalamair
sedikit
mungkin

2. Analisis kadar air dalam kristal CuSO4.xH2O

Berat
kristal
yang
diperoleh
ditimbang

Menggerus kristal
CuSO44.xH22O sampai
bubuk

Menimbang cawan
penguap yang telah
dingin berisi bubuk
kristal CuSO44.xH22O
berwarna putih

Menimbang berat
kosong cawan
penguap

memasukan kristal
CuSO44.xH22O yang
telah menjadi bubuk
ke dalam cawan
penguap dan
menimbang
beratnya

Mendinginkan
cawan penguap

Memanaskan cawan
penguap yang telah
terisi bubuk kristal
sampai serbuk
kristal menjadi
berwarna putih

3.3 Diagram Alir Pembuatan CuSO4.5H2O


Padatan tembaga (Cu) dari
limbah kabel = 5 gram

Pelarutan aquades 50 mL
+ 10 mL H2SO4 pekat + 15
mL HNO3 pekat

Pemanasan

1000C

Pendinginan (kristalisasi)
t=24 jam

Analisi kristal
(rendemen
+ gravimetri)

3.4 Tabel Pengamatan


No.

Prosedur Percobaan

Hasil Pengamatan

Dimasukkan air ke dalam Pada suhu ruang, air sebanyak 50 mL dimasukkan ke

gelas kimia.
Ditambahkan

dalam gelas kimia


mL Pada saat H2SO4 pekat 98% dimasukkan ke dalam

10

H2SO4 pekat
3

Ditambahkan

tembaga.
Ditambahkan

gelas kimia yang berisi aquades 50 mL, terjadi reaksi


eksoterm
gram Saat larutan ditambahkan 5 gram Cu, terjadi reaksi

yang mengakibatkan adanya gelembung


mL Saat ditambahkan 15 mL HNO3 pekat terjadi

15

HNO3 pekat
5

Dilakukan

perubahan warna pada larutan menjadi sedikit


kebiruan
pengadukkan Hotplate di set pada suhu 100OC, terjadi perubahan

terus menerus 30 menit warna larutan dari biru bening menjadi biru pekat,
6

dan dipanaskan
Disaring larutan

muncul gelembung dan asap saat proses pemanasan


Penyaringan dilakukan pada saat larutan masih panas.
Saat penyaringan terbentuk sedikit endapan seperti

kristal pada filtrat di bagian bawah gelas kimia


Didiamkan dan ditimbang Setelah didiamkan selama 3 hari, endapan kristal
kristal yang terbentuk

CuSO4 semakin banyak. Endapan lalu disaring dan


dimasukkan ke dalam oven untuk mengurangi kadar
air yang terkandung di dalam kristal.

No. Waktu
1

(menit)
0

Pengamatan

Temperatur Keterangan

Larutan masih berwarna 270C

Reaksi berlangsung di ruang

bening,

asam

dan

tembaga

belum larut.
Terjadi perubahan warna 600C
menjadi biru aqua dan
tembaga bereaksi dengan
HNO3 dan H2SO4, terdapat
sedikit
kecoklatan.

gas

kuning

10

Asap

semakin

warna

larutan

banyak, 650C
berubah

lebih tua dari sebelumnya,


menjadi biru tua.

15

Asap seperti pada saat 10 730C


menit,

warna

larutan

semakin tua, Cu perlahanlahan hampir larut semua.

20

Asap

lebih 780C

menjadi

banyak, warna semakin


6

25

tua.
Cu hampir larut semua, 870C
asap

menjadi

banyak,

warna tetap biru tua.

30

Warna
tembaga

semakin
sudah

pekat, 920C
larut

semua.

35

Cu sudah larut, warnanya 950C


biru tua sempurna

40

Asap banyak, Cu larut 1000C


sempurna, warna biru tua.

IV.

PENGOLAHAN DATA
1. Menghitung rendemen CuSO4.5H2O
Diketahui :
Massa Cu = 5 gr
Massa kristal = 21,97 gr
BM CuSO4.5H2O = 249,55 g/mol
BA Cu = 63,55 g/mol
Ditanya : Rendemen =.....%
Jawab :
Reaksi : Cu2+ + SO42- + 5H2O

CuSO4.5H2O

Mol CuSO4.5H2O = mol Cu =

Massa Cu
BA Cu
5 gr
63,55 gr /mol
0,0786 mol

Massa CuSO4.5H2O = Mol CuSO4.5H2O x BM CuSO4.5H2O


= 0,0786 mol x 249,55 gr/mol
= 19,6146 gram
21,97 gram
100 =112
Rendemen = 19,6146 gram
2. Menghitung kadar air dalam kristal CuSO4.xH2O
Berat cawan + CuSO4.xH2O = 91,78 gram
Berat CuSO4.xH2O = 1,06 gram,
Berat setelah dikeringkan = 91,38 gram
Berat CuSO4 = 0,4 gram
CuSO4.xH2O CuSO4
Analisis Hidrat

Cara 1
berat CuSO 4. xH 2 O
Berat CuSO 4
=
BM CuSO 4+ X ( BM H 2 O) BM CuSO 4
1,06 gr
0,4 gr
=
159,5
gr /mol
159,5 gr /mol+ X (18)
169,07=63,8+ 7,2 X

105,27=7,2 X
X =14,62

Cara 2
Berat H2O = 1 0,4 gr
= 0,6 gr
Berat H 2O
Mol H2O = BM H 2O
0,6 gr
= 18 gr /mol
= 0,033 mol
berat CuSO 4
Mol CuSO4 = BM CuSO 4
=

Hidrat (x)

= 2,5078 x 10-3 mol


mol H 2 O
=
mol CuSO 4
=

X(H2O)

0,4 gr
159,5 gr /mol

0,033 mol
2,5078 x 103 mol

= 13,1589

3. Tuliskan semua reaksi yang terjadi.


V.

PEMBAHASAN
5.1. Nisa Mardiyah
Pada praktikum kali ini dilakukan pembuatan senyawa kompleks tembaga sulfat
pentahidrat (CuSO4. 5H2O) dari Limbah Tembaga. Limbah tembaga yang digunakan
didapat dari kabel bekas, sebanyak 5 gram. Tembaga sebanyak 5 gram ini dilarutkan
ke dalam HNO3 pekat. Hal ini karena tembaga tidak larut dalam asam yang bukan

pengoksidasi tetapi tembaga teroksidasi oleh HNO3 sehingga tembaga larut dalam
HNO3.
Pada pembuatan CuSO4.5H2O hal pertama yang dilakukan adalah menyiapkan 50 mL
H2O, kemudian ditambahkan 10 mL H2SO4 proses dilakukan di lemari asam, karena
reaksi eksoterm. Setelah larutan homogen, dimasukkan 5 gram limbah tembaga,
kemudian dimasukkan 15 mL HNO3 pekat, dan akhirnya dipanaskan hingga tembaga
larut.
Pada saat pemanasan, terjadi beberapa perubahan di dalam gelas kimia yaitu terjadi
perubahan warna, di mana semakin lama warna larutan semakin biru pekat dan
terdapat gas berwarna kuning kecoklatan. Tembaga yang dimasukkan ke dalam gelas
kimia tersebut semakin lama semakin larut, pada percobaan tembaga dapat larut
sempurna dalam waktu 40 menit dengan suhu 1000C.
Setelah pemanasan dilakukan, larutan disaring untuk memisahkan larutan dengan
pengotor. Pada saat penyaringan, terdapat gejala-gejala tertentu yaitu hasil filtrat
sudah mulai terbentuk kristal. Ini membuktikan bahwa larutan terlewat jenuh. Hasil
filtrat didiamkan hingga terbentuk kristal semakin banyak. Pendiaman filtrat
dilakukan selama 3 hari dan hasil kristal yang didapat setelah 3 hari terlihat semakin
banyak dibanding sebelumnya.
Kristal yang terbentuk disaring, kemudian dioven hingga kristal menjadi kering.
Kristal kemudian ditimbang, dan berat kristal yang terbentuk yaitu sebesar 21,97 gr.
Nilai dari massa kristal ini dapat digunakan untuk menghitung rendemen dengan
membandingkan massa secara teoritis, dimana massa secara teoritis berdasarkan hasil
perhitungan yaitu 19,6146 gr sehingga rendemen yang didapat sebesar 112%. Hasil
rendemen ini terlalu berlebih, hal ini disebabkan karena masih banyak terkandung
H2O.
Kristal yang telah kering diuapkan untuk mengetahui mol H 2O yang terkandung di
dalam kristal. Sebelum penguapan, kristal diambil sebanyak 1,06 gr kemudian di
tumbuk menggunakan alu hingga halus. Kirstal yang telah halus ini diuapkan hingga
warna serbuk kristal berubah menjadi warna putih. Hasil penguapan ini ditimbang
kembali dan berat hasil timbangan ini lebih kecil dibandingkan berat sebelum
penguapan. Di mana

5.2. Nova Puspita

5.3. Puteri Aulia Rahmah


Padatan CuSO4 pada praktikum ini dibuat dari air 50 mL, H2SO4 20 mL, padatan
tembaga sebanyak 5 gram, HNO3 pekat 15 mL yang dicampuran di dalam gelas kimia
yang dipanaskan sampai 1000C dan distiring. Proses dilakukan didalam lemari asam
dan dihentikan saat padatan tembaga larut seluruhnya.
Pada beberapa menit awal proses terdapat gas berwarna kecoklatan dan warna
larutan berubah menjadi hijau kebiruan. Warna larutan semakin lama semakin
kebiruan dan menjadi biru tua jernih yang pada awalnya agak keruh. Tembaga larut
semua setelah proses berlangsung selama 30 menit. Proses dihentikan setelah 40
menit karena sudah tidak terdapat asap kecoklatan lagi, kemudian larutan disaring.
Didalam kertas saring sudah terdapat sedikit butiran-butiran endapan CuSO 4. Setelah
larutan disaring, filtrat didinginkan dalam suhu ruangan selama 3 hari. Walaupun pada
hari praktikum dilakukan sudah terdapat endapan CuSO 4 namun agar hasil yang
didapatkan maksimal larutan didiamkan lebih lama.
Setelah 3 hari, terdapat endapan kebiruan di dasar gelas Kimia. Setelah itu,
dilakukan penyaringan dan penimbangan endapan CuSO4 yang didapat.
VI.

VII.

KESIMPULAN

KESELAMATAN KERJA
Bahan kimia yang digunakan pada percobaan ini adalah bahan kimia yang bersifat
korosif dan oksidator, maka dalam melakukan percobaan ini perlu diperhatikan:
1. Hati-hati menangani asam sulfat dan asam nitrat pekat dan perhatikan
prosedur cara pembuatan larutan dan lakukan dalam lemari asam, gunakan
sarung tangan, masker, karena asam sulfat, asam nitrat bersifat oksidator,
korosif dan reaksi dengan air bersifat eksotermis/eksplosif.
2. Limbah dikumpulkan dalam suatu tempat (jerigen yang tersedia)
3. Kristal tembaga (II) sulfat pentahidrat dikumpulkan dalam suatu tempat yang
bersih.

VIII.

MSDS BAHAN
1. MSDS H2SO4
SIFAT FISIKA dan KIMIA :
Keadaan fisik dan penampilan: Cairan.
Bau:
berbau,
namun
memiliki
bau
Rasa:
rasa
asam
Berat
Molekul:
98,08
Warna:
tak

(Cairan berminyak tebal.)


tersedak
ketika
panas.
Ditandai.
(Strong.)
g
/
mol
berwarna.

pH
(1%
soln
/
air):
Asam.
Titik
Didih:
270 C (518 F) - 340 deg. C terurai pada 340 deg. C
Melting Point: -35 C (-31 F) menjadi 10,36 deg. C (93% sampai 100% kemurnian)
Spesifik
Gravity:
1,84
(Air
=
1)
Densitas
Uap:
3.4
(Air
=
1)
Properti
Dispersi:
Lihat
kelarutan
dalam
air.
kelarutan:
Mudah larut dalam air dingin. Sulfat larut dalam air dengan pembebasan banyak
panas. Larut dalam etil alkohol.

PENANGANAN
Kontak
Mata:
Periksa dan lepaskan jika ada lensa kontak. Dalam kasus terjadi kontak, segera siram
mata dengan banyak air sekurang-kurangnya 15 menit. Air dingin dapat digunakan.
Dapatkan
perawatan
medis
dengan
segera.
Kontak
Kulit
:
Dalam kasus terjadi kontak, segera basuh kulit dengan banyak air sedikitnya selama
15 menit dengan mengeluarkan pakaian yang terkontaminasi dan sepatu. Tutupi kulit
yang teriritasi dengan yg sesuatu melunakkan. Air dingin mungkin dapat digunakan
pakaian.cuci sebelum digunakan kembali. benar-benar bersih sepatu sebelum
digunakan
kembali.
Dapatkan
perawatan
medis
dengan
segera.
Kulit
Serius
:
Cuci dengan sabun desinfektan dan menutupi kulit terkontaminasi dengan krim antibakteri.
Mencari
medis
segera
Inhalasi:
Jika terhirup, pindahkan ke udara segar. Jika tidak bernapas, berikan pernapasan
buatan. Jika sulit bernapas, berikan oksigen. Dapatkan segera perhatian medis.
Serius
Terhirup:
Evakuasi korban ke daerah yang aman secepatnya. Longgarkan pakaian yang ketat
seperti kerah, dasi, ikat pinggang atau ikat pinggang. jika sulit bernapas, beri oksigen.
Jika korban tidak bernafas, lakukan pernafasan dari mulut ke mulut.

PERINGATAN:
Ini mungkin berbahaya bagi orang yang memberikan bantuan lewat mulut ke mulut
(resusitasi) bila bahan dihirup adalah racun, infeksi atau korosif. Cari bantuan medis
segera.
Tertelan:
JANGAN mengusahakan muntah kecuali bila diarahkan berbuat demikian oleh
personel medis. Jangan pernah memberikan apapun melalui mulut kepada korban
yang sadar. Longgarkan pakaian yang ketat seperti kerah, dasi, ikat pinggang atau ikat
pinggang. Dapatkan bantuan medis jika gejala muncul.

2. MSDS HNO3
A. Sifat fisika :
1. Massa jenis : 1,502 gr/cm3
2. Titik didih : 86C
3. Titik lebur : -42C
4. Energi evaporasi : 9,43 kkal/mol pada 20oC
5. Berat molekul : 63,02 gram/mol
6. Nilai entropi : 37,19 kkal/mol oK pada 25oC
7. Tidak berwarna
B. Sifat kimia :
1.Merupakan oksidator yang kuat dan asam kuat
2.Reaksi dengan amonia menghasilkan amonium nitrat, menurut reaksi:
HNO3 + NH3 NH4NO3
3.Reaksi dengan nikel sulfida menghasilkan garam nikel nitrat, nitrogen monoksida,
belerang, dan air.
3 NiS + 8 HNO3 3 Ni(NO3)2 + 2 NO + 3 S + 4 H2O
4.Reaksi dengan NiS yang ditambah asam klorida, menghasilkan garam nikel klorida.
3 NiS + 2 HNO3 + 6 HCl 3 NiCl2 + 2 NO + 3 S + 4 H2O
5.Reaksi dengan logam perak akan membentuk perak nitrat dan nitrogen dioksida.
Ag + 2 HNO3 AgNO3 + NO2 + H2O
C. Identifikasi Bahaya
Potensi Efek Kesehatan Akut Sangat berbahaya jika terjadi kontak langsung dengan

kulit (korosive, iritatif), kontak dengan mata (korosive, iritatif), gangguan pencernaan
dan gangguan pernafasan. Dalam bentuk cairan atau spray bisa menyebabkan iritasi
mata
Potensi Efek Kesehatan Kronis Efek karsinogenik : tidak ada Efek mutagenik : tidak
ada Efek teratogenik : tidak ada Senyawa ini dapat meracuni paru-paru, membran
mukosa, sistem pernafasan bagian atas, kulit, mata, dan gigi. Jika terlalu lama atau
berulang-ulang terkena, maka dapat menyebabkan kerusakan organ tubuh. Jika terlalu
lama mengalami kontak dengan uap, maka dapat menimbulkan iritasi mata kronis dan
menyebabkan beberapa iritasi kulit. Jika terlalu lama atau berulang-ulang terkena uap,
dapat menyebabkan infeksi pernafasan.

D. Pertolongan Pertama

Kontak Mata Jika kontak dengan mata , basuh mata dengan air paling tidak selama
15 menit. Gunakan air dingin. Dan segera cari pertolongan medis.
Kontak Kulit Jika kontak, bilas bagian yang terkena asam Nitrat dengan air paling
tidak 15 menit sambil melepas pakaian yang terkontaminasi. Cuci pakaian yang
terkontaminasi sebelum dipakai lagi.
Kontak serius dengan kulit Cuci dengan sabun desinfektan dan oles kulit yang
terkontaminasi dengan krim anti-bakteri. Carilah segera pertolongan medis.
Penghirupan Jika terhirup, lepaskan ke udara segar. Jika terjadi gangguan
pernapasan, berikan pernapasan buatan. Jika sulit bernapas, berikan oksigen. Segera
cari pertolongan medis.
Penghirupan Serius Evakuasi korban ke daerah yang aman sesegera mungkin. Jika
terfjadi kesulitan bernafas, longgarkan pakaian korban dan berikan oksigen. Jika
korban tidak bernafas, berikan nafas buatan. AWAS: hal ini mungkin berbahaya bagi
orang yang memberikan nafas buatan sebab bahan-bahan beracun dan korosif dapat
terhirup. Segera cari pertolongan medis.
Pencernaan Jika tertelan jangan dimuntahkan kecuali diarahkan oleh ahli medis.
Jangan memberikan sesuatu pada mulut korban yang tidadk sadar. Loggarkan pakaian
korban. Segera cari pertolongan medis.
Pencernaan Serius Tidak tersedia

E. Menghindari Kecelakaan
Tumpahan kecil : Encerkan dengan air dan diserap dengan kain, atau serap dengan
bahan kering yang inert dan tempatkan dalam wadah pembuangan limbah yang sesuai.
Jika perlu, netralkan residu dengan larutan Natrium Karbonat encer.
Tumpahan banyak : Cairan korosif. Bahan pengoksidasi. Cairan beracun. Tutup
kebocoran jika tidak berbahaya. Serap dengan tanah kering, pasir atau bahan yang
tidak mudah terbakarb lainnya. Jangan menaruh air di samping wadah. Hindari kontak

dengan bahan yang mudah terbakar (kayu, kertas, minyak, kain, dan lain-lain). Jaga
kelembaban dengan menggunakan semprotan air. Jangan tumpahkan material.
Netralkan residu dengan larutan Natrium karbonat encer.

F. Penanganan dan Penyimpanan


Yang perlu diwaspadai : Wadah tetap terkunci, dan kering. Jauhkan dari panas.
Jauhkan dari sumber api dan material yang mudah terbakar. Jangan dimakan. Jangan
menghirup gas/asap/ uap. Jangan menambahkan air ke bahan ini. Jika ventilasi tidak
baik gunakan peralatan pernafasan yang baik. Jika tertelan, segera cari pertolongan
medis dan tunjukkan label bahan. Hindari kontak dengan kulit dan mata, jauhkan dari
bahan pereduksi, bahan mudah terbakar, bahan organik, logam, asam, alkali, dan
panas matahari. Dapat merusak permukaan logam. Simpan dalam drum logam atau
drum papan fiber yang terlapisi menggunakan bagian dalam yang terlapisi polyethylen
yang kuat.
Penyimpanan : Jaga wadah dalam keadaan tertutup rapat. Tempatkan wadah di ruang
berventilasi dan dingin. Pisahkan dari asam, alkali, agen pereduksi, dan bahan mudah
terbakar.
G. Proteksi Diri
Teknis perawatan Sediakan ventilasi yang kering untuk menjaga kelembaban air
dibawah nilai batas. Pastikan keran pencuci mata dan shower keselamatan dapat
digunakan dengan baik.
Perlindungan Personal Pelindung wajah. Pelindung tubuh lengkap. Respirator uap.
Pastikan memakai respirator yang bersertifikat. Sarung tangan dan sepatu boot dalam
keadaan baik.
Perlindungan personal saat tumpahan yang banyak Pakaian praktikum lengkap,
respirator uap, boot, sarung tangan. Menggunakan perangkat penutup hidung untuk
menghindari terserapnya zat.

3. MSDS CuSO4
Bagian 1 - Identifikasi Bahaya
TINJAUAN DARURAT Warna: biru. Sensitif terhadap air. Peringatan! Berbahaya
jika tertelan. Dapat menyebabkan gangguan pencernaan dan iritasi saluran pernafasan
dengan luka bakar. Menyebabkan iritasi mata dan kulit dan luka bakar. Higroskopis.
Mutagen. Kemungkinan sensitizer.
Sasaran Organ: Darah, ginjal, hati.
Potensi Efek Kesehatan
Mata: Paparan partikulat dapat menyebabkan kelainan kornea. Menyebabkan iritasi
mata dan luka bakar.
Kulit: Dapat menyebabkan kulit menjadi sensitif, alergi, yang akan terlihat jelas pada
paparan bahan ini. Dapat menyebabkan gangguan pada kulit dan luka bakar. Dapat
menyebabkan gatal pada kulit.
Penelanan: Berbahaya jika tertelan. Dapat menyebabkan iritasi saluran pencernaan
ditandai dengan mual dan muntah. Penelanan garam tembaga dalam jumlah besar
dapat menyebabkan tinja berdarah dan muntah, tekanan darah rendah, sakit kuning
dan koma. Menelan senyawa tembaga dapat menghasilkan efek toksik sistemik pada
ginjal dan hati dan eksitasi saraf pusat diikuti oleh depresi.
Inhalasi: Dapat menyebabkan ulserasi dan perforasi septum hidung jika dihirup dalam
jumlah berlebihan. Dapat menyebabkan iritasi saluran pernafasan dengan luka bakar.
Kronis: kontak mata yang lama atau berulang-ulang dapat menyebabkan
konjungtivitis. Dapat menyebabkan kerusakan hati dan ginjal. Dapat menyebabkan
anemia dan kelainan darah lainnya sel. Tembaga yang terakumulasi dalam berbagai
jaringan dan dapat mengakibatkan kerusakan pada hati, kerusakan ginjal, dan otak.
Dapat menyebabkan reaksi alergi kulit pada beberapa individu.
Bagian 2 - Tindakan Pertolongan Pertama
Mata: Segera siram mata dengan banyak air sedikitnya selama 15 menit, sesekali
mengangkat kelopak mata atas dan bawah. Dapatkan bantuan medis.
Kulit: Dapatkan bantuan medis. Siram kulit dengan banyak air dan sabun setidaknya
selama 15 menit saat mengeluarkan pakaian yang terkontaminasi dan sepatu. Cuci
pakaian sebelum digunakan kembali.
Tertelan: JANGAN memancing muntah. Jika korban sadar, beri 2-4 cupfuls susu atau
air. Jangan pernah memberikan apapun melalui mulut kepada orang yang tidak sadar.
Dapatkan bantuan medis dengan segera.
Inhalasi: Hapus dari paparan udara segar segera. Jika sulit bernapas, berikan oksigen.
Dapatkan bantuan medis. JANGAN menggunakan mulut ke mulut resusitasi. Jika

pernapasan telah berhenti menerapkan pernapasan buatan menggunakan oksigen dan


perangkat mekanis yang sesuai seperti tas dan masker.
Catatan untuk Dokter: Individu dengan penyakit Wilson lebih rentan terhadap
keracunan tembaga kronis.
Antidote: Penggunaan d-Penisilamin sebagai agen chelating harus ditentukan oleh
tenaga medis yang berkualitas.
Bagian 3 - Tindakan pencegahan kebakaran
Informasi Umum: Seperti api apapun, memakai peralatan pernapasan mandiri dalam
tekanan-demand, MSHA / NIOSH (disetujui atau setara), dan alat pelindung penuh.
Selama terjadi kebakaran, gas terkontaminasi dan sangat beracun dapat dihasilkan
oleh dekomposisi termal atau pembakaran. Zat adalah noncombustible. Bahan ini
dalam jumlah yang cukup dan mengurangi ukuran partikel mampu menciptakan
ledakan debu.
Media pemadam: Gunakan media pemadam yang paling tepat untuk kebakaran
sekitarnya. Gunakan semprotan air, kimia kering, karbon dioksida, atau busa sesuai.
Bagian 4 - Tindakan Pelepasan Kecelakaan
Informasi Umum: Gunakan peralatan perlindungan pribadi yang layak seperti yang
ditunjukkan dalam Bagian 8.
Tumpahan / Kebocoran: Vacuum atau menyapu bahan dan tempat ke dalam wadah
pembuangan yang cocok. Bersihkan tumpahan segera, mengamati tindakan
pencegahan di bagian Peralatan pelindung. Hindari menghasilkan kondisi berdebu.
Sediakan ventilasi. Tempatkan di bawah suasana inert.
Bagian 5 - Penanganan dan Penyimpanan
Penanganan: Cuci sampai bersih setelah memegang. Hubungi dokter dan cuci
sebelum digunakan kembali. Gunakan hanya di daerah berventilasi baik. Minimalkan
debu dan akumulasi. Hindari kontak dengan mata, kulit pakaian, dan. Simpan wadah
tertutup rapat. Hindari konsumsi dan inhalasi. Jangan menelan atau menghirup.
Menangani bawah suasana inert. Simpan dilindungi dari udara.
Penyimpanan: Simpan dalam wadah tertutup rapat. Simpan di, daerah sejuk dan
kering, berventilasi baik jauh dari zat-zat yang tidak kompatibel. Jangan mengekspos
ke udara. Simpan dilindungi dari kelembaban. Simpan di bawah suasana inert.
Bagian 6 - Sifat Fisik dan Kimia
Bentuk: Kristal

Penampilan: biru
Bau: berbau
pH: Tidak tersedia.
Tekanan Uap: 7.3 mm Hg @ 25 deg C
Kepadatan uap: Tidak tersedia.
Tingkat Penguapan: diabaikan.
Viskositas: Tidak tersedia.
Titik Didih: 150 deg C (Desember)
Pembekuan / Melting Point: 110 deg C (Desember)
Swa-sulut/suhu penyulutan otomatis Suhu: Tidak dipakai.
Titik Nyala: Tidak dipakai.
Suhu Dekomposisi: Tidak tersedia.
NFPA Rating: (perkiraan) Kesehatan: 2; mudah terbakar: 0; Reaktivitas: 0
Ledakan Batas, Lower: Tidak tersedia.
Atas: Tidak tersedia.
Kelarutan: Larut.
Spesifik Gravity / Densitas: 2.2840g/cm3
Molecular Formula: CuO4S.5H2O
Berat Molekul: 249,68
4. MSDS Logam Cu
Sifat Fisika Tembaga (Cu)
Nomor atom
Konfigurasi elektron
Elektronegativitas
Jari-jari metalik/pm (koordinasi 12)
Jari-jari ionik/pm
Energi ionisasi pertama/kJ.mol-1
Titik leleh/C
Titik didih/C
Densitas (20C)/g.cm-3

29
[Ar] 3d10 4s1
1,9
128
73 (+2); 77 (+1)
745
1083
2570
8,95

Selain itu, sifat tembaga secara fisik adalah sebagai berikut.


1.
Kuat dan ulet
2.
Dapat ditempa
3.
Tahan korosi
4.
Penhantar listrik dan panas yang baik
5.
Logam yang kurang aktif
c.
Sifat Kimia Tembaga (Cu)
Tembaga merupakan unsur yang relatif tidak reaktif sehingga tahan terhadap korosi.
Pada udara yang lembab permukaan tembaga ditutupi oleh suatu lapisan yang
berwarna hijau yang menarik dari tembaga karbonat basa, Cu(OH)2CO3.
Pada kondisi yang istimewa yakni pada suhu sekitar 300 C tembaga dapat bereaksi
dengan oksigen membentuk CuO yang berwarna hitam. Sedangkan pada suhu yang

lebih tinggi, sekitar 1000 C, akan terbentuk tembaga(I) oksida (Cu2O) yang berwarna
merah.
Tembaga tidak diserang oleh air atau uap air dan asam-asam non-oksidator encer
seperti HCl encer dan H2SO4 encer. Tetapi asam klorida pekat dan mendidih
menyerang logam tembaga dan membebaskan gas hidrogen. Hal ini disebabkan oleh
terbentuknya ion kompleks CuCl2(aq) yang mendorong reaksi kesetimbangan
bergeser ke arah produk.
2Cu(s) + 2H+(aq)
2Cu+(aq) + 4Cl-(aq)

2Cu+(aq) + H2(g)
2CuCl2-(aq)

Asam sulfat pekatpun dapat menyerang tembaga, seperti reaksi berikut.


Cu(s) + H2SO4(l)
CuSO4(aq) + 2H2O(l) + SO2(g)
Asam nitrat encer dan pekat dapat menyerang tembaga, sesuai reaksi berikut.
Cu(s) + HNO3(encer)
3Cu(NO3)2(aq) + 4H2O(l) + 2NO(g)
Cu(s) + 4HNO3(pekat)
Cu(NO3)2(aq) + 2H2O(l) + 2NO2(g)
Tembaga tidak bereaksi dengan alkali, tetapi larut dalam amonia oleh adanya udara
membentuk larutan yang berwarna biru dari kompleks Cu(NH3)4+. Selain itu,
tembaga panas dapat bereaksi dengan uap belerang dan halogen. Bereaksi dengan
belerang membentuk tembaga(I) sulfida dan tembaga(II) sulfida dan untuk reaksi
dengan halogen membentuk tembaga(I) klorida, khusus klor yang menghasilkan
tembaga(II) klorida.
Tembaga memiliki tingkat oksidasi +1, seperti halnya logam-logam alkali. Namun,
lebih umum dengan tingkat oksidasi +2 daripada +1. Tembaga sukar teroksidasi
sebagaimana ditunjukkan oleh nilai positif potensial reduksinya:
Cu2+(aq) + 2e Cu(s)
E = +0,34 V

DAFTAR PUSTAKA
1. Keenan, Kleinfelter, Wood. 1992. Kimia Untuk Universitas. Jilid 2. Edisi Keenam.
Erlangga. Jakarta.
2. Dickey, R. D. 1972. Identification and Correction of Copper Deficiency of
Rhododendron Simsi George Lindley Taber Cuttings. http://www.google.com.
Diakses, 24 November 2008.
3. Petrucci, Ralph H, 1987, alih bahasa suminar Ahmadi, Kimia Dasar Prinsip dan
Terapan Modern, jilid 3, Penerbit Erlangga
4. Shelva, G. 1990. Analisis Organik Kualitatif Makro Dan Semimskro. PT. Kalman
Media Pustaka. Jakarta.
5. http://www.Pembuatan CuSO4.5H2<<Annisanfushies Weblog.html
6. Ratu F, Mentik Hulupi, Recovery logam Tembaga (Cu) dengan Metoda
Elektrodeposisi dan Pembuatan Tembaga (II) Sulfat secara Presipitasi dari Limbah
Tembaga Laboratorium Kimia Terapan MKU Polban, Polban, 2011.

LAMPIRAN

Saat penyaringan,
larutan perlahanlahan turun ke
gelas kimia.

Saat
penyaringan,
larutan masih
dalam keadaan

Hasil Filtrat
ditampung di
dalam gelas
kimia.

Hasil filtrat
terlihat mulai
terbentuk kristal
berwarna biru
Filtrat sudah
terdapat
endapan/kristal