Anda di halaman 1dari 7

RAGAM BAHASA

MAKALAH
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH
Sosiolinguistik
yang dibina oleh Bapak Dr. Rizman Usman, M.Pd

oleh
Devita Riesmayanti
140212807761

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


PROGRAM PASCASARJANA
PRODI KEGURUAN BAHASA
September 2014

PENDAHULUAN
Bahasa adalah alat yang kita gunakan sehari-hari tidak hanya untuk
berkomunikasi dengan orang lain di sekitar kita, tetapi juga sebagai media untuk
menyampaikan maksud dan pesan dari ujuran yang kita ucapkan. Sumarsono
(2013:29) menyatakan bahasa sebagai bunyi-bunyi yang bersistem, yang
dihasilkan oleh organ-organ tutur (organ of speech). Hal yang senada juga
dikemukakan oleh Hidayatullah (2009) dalam Wibowo (2001:3) bahwasanya
bahasa ialah sistem simbol bunyi yang bermakna dan berartikulasi (dihasilkan
oleh alat ucap) yang bersifat arbitrer dan konvensional, yang dipakai sebagai alat
berkomunikasi oleh sekelompok manusia untuk melahirkan perasaan dan pikiran.
Bahasa dan masyarakat adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, karena
bahasa dan masyarakat saling mempengaruhi satu sama lain.
1.1

Latar belakang
Makalah ini dibuat untuk mengulas seputar bahasa yang ada di masyarakat,

ciri-ciri serta variasinya dalam masyarakat.


1.2

Rumusan masalah
Permasalahan yang muncul di lingkup bahasa antara lain:
1. Apa definisi bahasa menurut pakar linguistik?
2. Apa definisi dari dialek?
3. Sebutkan jenis-jenis dialek apa sajakah yang ada di masyarakat
menurut penutur, pengguna, pemakaiannya dan medianya?

1.3 Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini antara lain:
1. Memberi penjelasan kepada pembaca tentang definisi bahasa.
2. Menyebutkan definisi dari dialek.
3. Menyebutkan jenis-jenis dialek menurut penutur,

pengguna,

pemakaiannya, dan medianya.


PEMBAHASAN
Penggunaan bahasa erat kaitannya dengan masyarakat. Hal ini dikarenakan
bahasa mencerminkan individu atau kelompok tertentu (Sumarsono, 2013:20).
Bahasa adalah elemen terpenting dalam kehidupan bermasyarakat, dimana sebuah

bahasa akan menggambarkan suatu masyarakat atau sebagi identitas dari suatu
kelompok.
2.1

Definisi bahasa
Fungsi dari bahasa tidak hanya sebagai alat komunikasi semata melainkan

sebagai identitas penutur atau lebih dikenal dengan istilah fungsi sosial
(Sumarsono, 2013:20). Senada dengan Sumarsono, Wardhaugh (1986:1)
mendefinisikan bahasa sebagai apa yang diucapkan oleh anggota masyarakat
tertentu. Peranan bahasa sebagai fungsi sosial dapat diamati dengan siapa penutur
berbicara dan bagaimana hubungan antara penutur dan pendengar.
Apabila penutur berbicara dengan orang yang lebih tua bahkan disegani,
maka pemilihan katanya tentu akan berbeda apabila penutur berbicara dengan
teman sebaya. Seperti contoh di suku Jawa, pada saat penutur sedang berbicara
dengan orang yang lebih tua, maka hendaknya penutur menggunakan bahasa Jawa
krama atau krama inggil sebagai bentuk penghormatan terhadap orang tersebut.
Begitu pula sebaliknya, saat penutur berbicara dengan teman sebaya, bisa
menggunakan bahasa Jawa ngoko yang lebih informal.
2.2

Definisi dialek
Dialek bisa diartikan sebagai bahasa yang digunakan oleh sekelompok

masyarakat tertentu (Sumarsono, 2013:21). Yule (2010:240) mendefinisikan


dialek yang digunakan untuk menggambarkan fitur tata bahasa dan kosatakata
serta aspek pengucapan. Dengan kata lain, dialek juga dapat diartikan sebagai
pembeda antara bahasa yang sama, namun memiliki dua dialek yang berbeda
(dimana masing-masing penutur dapat saling memahami bahasa yang digunakan)
dan dua bahasa yang berbeda (masing-masing penutur tidak dapat memahami
bahasa

yang

digunakan)

(Yule,

2010:241).

Wardhaugh

(1986:40)

mengklasifikasikan dialek menjadi dua jenis, antara lain:


a. Dialek geografis atau dialek regional
Dialek geografis adalah dialek yang digunakan sebagai penanda dari mana
penutur berasal. Sumarsono (2013:21) menambahkan dialek geografis ditentukan
oleh letak geografis atau wilayah kelompok pemakainya dan batas-batas alam
seperti gunung, laut, sungai dan semacamnya dapat membatasi dialek satu dengan
yang lainnya. Pada umumnya, dialek geografis bisa ditandai dengan pengucapan,

pemilihan kata, dan struktur kalimatnya. Contoh yang mudah kita temui adalah
penggunaan bahasa Jawa yang diucapkan oleh penutur dari Solo-Jogja dengan
penutur dari Jawa Timur.
b. Dialek sosial
Dialek sosial secara umum dibedakan pengunaannya berdasarkan kondisi
sosial di dalam masyarakat, seperti pekerjaan, tempat tinggal, pendidikan,
pendapatan, latar belakang budaya, dan seterusnya (Wardhaugh, 1986:46). Di
samping itu, dialek sosial juga dibedakan oleh kelompok sosial seperti jenis
kelamin dan umur, status sosial, ekonomi, dan status kekuasaan (Sumarsono,
2013:25). Contohnya yang dapat kita amati adalah pengunaan bahasa Inggris di
kalangan ras kulit putih, afro-Amerika, dan Indian.
3.1

Jenis dialek menurut Penuturnya


Samjar (2013) menyebutkan beberapa jenis menurut penuturnya antara lain:

a. Idiolek
Idiolek adalah variasi bahasa yang bersifat perorangan, setiap orang
mempunyai variasi bahasa atau idioleknya masing-masing.
b. Dialek
Variasi bahasa dialek adalah variasi bahasa dari sekelompok penutur yang
jumlahnya relatif, berada pada suatu tempat atau wilayah atau area tertentu. Salah
satu contohnya adalah bahasa Indonesia dengan dialek Jawa, Jakarta, Papua, dan
sebagainya.
c. Kronolek atau Temporal
Kronolek adalah ragam bahasa dimana penggunaannya berdasarkan
perbedaan waktu. Contoh, penggunaan ragam bahasa Indonesia pada tahun 19401950 berbeda dengan penggunaan ragam bahasa Indonesia pada tahun 1970-1980.
d. Sosiolek
Sosiolek adalah variasi bahasa yang berkenaan dengan status, golongan, dan
kelas sosial penuturnya. Variasi bahasa ini juga menyangkut tentang usia,
pekerjaan, jenis kelamin, keadaan social ekonomi seseorang, dan lain-lain.
3.2 Jenis dialek menurut Penggunanya

Dialek yang dibedakan menurut pengunaannya atau fungsinya. Nababan


(1984) dalam Sumarsono (2013:27) menjelaskan sebagai berikut:
a. Fungsiolek
Fungsiolek adalah penggunaan ragam bahasa berdasarkan fungsinya.
Contoh yang dapat kita amati adalah penggunaan ragam bahasa dalam karya
sastra, pendidikan, pertanian,dan sebagainya.
3.3 Jenis dialek menurut Pemakaiannya
Sumarsono (2013:27) membagi variasi ragam bahasa menjadi tiga macam,
yaitu ragam bahasa baku, ragam bahasa non-baku dan ragam bahasa umum.
3.3.1 Ragam bahasa baku
Ragam bahasa baku adalah salah satu ragam bahasa yang mengacu pada
tolak ukur yang berlaku untuk kualitas dan kuantitas yang ditetapkan berdasarkan
kesepakatan (Sumarsono, 2013:27). Dalam ragam bahasa Indonesia, ragam baku
yang digunakan berasal dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Contoh
ragam bahasa baku dalam bahasa Inggris adalah bahasa Inggris yang digunakan
oleh radio BBC atau di kalangan Univeritas Oxford.
3.3.2 Ragam bahasa non-baku
Ragam bahasa non-baku dapat dicermati dalam bentuk tata bunyi, tata
bentukan, kosa kata, dan tata kalimat (Sumarsono, 2013:33). Dalam tata tulis baku
dan tata bunyi baku tercantum dalam EYD, sehingga tata tulis, tata bunyi, kosa
kata diluar EYD adalah tidak baku. Contoh kata yang baku dengan non-baku
antara lain aktivitas dengan aktifitas, anggota dengan anggauta, asas dengan
azas, cenderamata dengan cinderamata, dan lain sebagainya.
3.3.3 Ragam bahasa umum
Ragam baku umum ialah ragam baku yang didasarkan pada latar belakang
penutur, dimana aspek pendidikan mempunyai peran yang penting dalam
penggunaan ragam bahasa umum. Contoh ragam bahasa umum yang berasal dari
kosa kata bahasa asing seperti video, film, fitnah menjadi pideo, pilm, dan pitnah.
3.4 Jenis dialek menurut Medianya
Dialek selain dapat dibedakan menurut penutur, pengguna, serta
pemakainnya dapat diklsifikasikan menurut medianya, yang terdiri dari ragam
baku lisan (RGL) dan ragam baku tulis (RGT) (Sumarsono, 2013:31).

3.4.1 Ragam baku lisan


Beberapa contoh yang dapat ditemui dalam ragam baku lisan adalah
penggunaan kata bisa, nabrak, nerangin yang seharusnya diganti dengan kata
dapat, menabrak, dan menabrak karena dianggap kurang baku (Sumarsono,
2013:31). Contoh lain yang dekat dengan kita adalah pelafalan kata bank menjadi
bang, kata tahun dalam ragam baku lisan biasa diucapkan tanpa menggunakan
huruf h. Beberapa contoh kalimat yang dapat ditemui sehari-hari dan tidak baku
antara lain:
a. Aku ga bisa pulang soalnya ujan.
b. Aku enggak mau kalo masuk pagi.
c. Permisi Pak, Pak Hendranya ada?
3.4.2 Ragam bahasa tulis
Ragam bahasa tulis lebih mudah diidentifikasi daripada ragam bahasa lisan.
Hal ini dikarenakan pada ragam bahasa tulis menggunakan media tulis, sehingga
penggunaannya dapat dikaji. Sedangkan pada ragam bahasa lisan menggunakan
media lisan dan lebih sulit untuk dikaji. Beberapa contoh yang ada antara lain
penggunaan kata sistem dan analisis. Namun, dikalangan masyarakat umumnya
menggunakan kata sistim dan analisa. Demikian halnya dengan penggunaan kata
resiko dengan risiko, ijasah dengan kata ijazah, dan lain sebagainya.

PENUTUP
Kesimpulan
Ragam bahasa di masyarakat dapat dikategorikan menjadi beberapa jenis,
antara lain menurut penuturnya, penggunanya, pemakaiannya, dan medianya.
Penggunaan masing-masing ragam bahasa di masyarakat disesuaikan dengan
konteks, situasi serta kondisi antara penutur dan mitra tutur; dalam situasi apa
percakapan berlangsung, siapa mitra tutur kita, apa jabatannya dan umurnya, dan
sebagainya. Dengan adanya penyesuaian ragam bahasa yang digunakan, maka
akan mengurangi kesalah pahaman yang terjadi antara penutur dan mitra tutur.

DAFTAR PUSTAKA
Samjar. 2013. Variasi dan Ragam Bahasa. (Online).
Teorikux.blogspot.in/2013/10/variasi-dan-ragam-bahasa_1.html?m=1.
Diakses tanggal 10 November 2014.
Sumarsono. 2013. Sosiolinguistik. Yogyakarta: Sabda dan Pustaka Pelajar.
Wardhaugh, R. 1986. An Introduction to Sociolinguistics, First Edition. Oxford:
Basil Blackwell Ltd.
Wibowo, W. 2001. Manajemen Bahasa. Jakarta: Gramedia.
Yule, G. 2010. The Study of Language, Fourth Edition. New York:Cambridge
University Press.