Anda di halaman 1dari 5

MANFAAT SIRIH DAN LUMUT DALAM BIOPHARMACEUTICAL

oleh:
Dawam Suprayogi
14/372556/PBI/1271

Dewasa ini masyarakat dunia, termasuk Indonesia, mulai menggemari


penggunaan obat herbal yang diperoleh dari alam. Pemanfaatan pengobatan herbal
ramai dibicarakan, termasuk dalam manfaatnya. Dengan maraknya pengobatan
herbal, perlu juga dikenali kandungan senyawa yang terdapat dalam obat herbal
tersebut diantaranya adalah sirih dan lumut.
Daun sirih mempunyai aroma yang khas karena mengandung minyak atsiri
1-4,2%, air, protein, lemak, karbohidrat, kalsium, fosfor, vitamin A, B, C, yodium,
gula dan pati. Dari berbagai kandungan tersebut, dalam minyak atsiri terdapat fenol
alam yang mempunyai daya antiseptik 5 kali lebih kuat dibandingkan fenol biasa
(Bakterisid dan Fungisid) tetapi tidak sporadis. Minyak atsiri merupakan minyak
yang mudah menguap dan mengandung aroma atau wangi yang khas. Minyak atsiri
dari daun sirih mengandung 30% fenol dan beberapa derivatnya. Minyak atsiri
terdiri dari hidroksi kavikol, kavibetol, estragol, eugenol, metileugenol, karbakrol,
terpen, seskuiterpen, fenilpropan, dan tannin. Kavikol merupakan komponen paling
banyak dalam minyak atsiri yang memberi bau khas pada sirih. Kavikol bersifat
mudah teroksidasi dan dapat menyebabkan perubahan warna (Armianty, 2013).
Bryophyta (lumut) termasuk ke dalam golongan tumbuhan nonvaskular,
merupakan kelompok tumbuhan darat yang sangat sederhana. Saat ini dikenal tiga
kelas tumbuhan yang termasuk ke dalam divisi Bryophyta, ketiga kelas tersebut
mencakup lumut hati (liverwort, kelas Hepaticopsida), lumut tanduk (hornworts,
kelas Anthocerotopsida) dan lumut daun (moss, kelas Bryopsida) (Reece, et. al.,
2011). Salah satu kemampuan yang membantu Bryophyta untuk bertahan hidup dan
mempertahankan diri di tempat tumbuhnya adalah karena tumbuhan ini memiliki
senyawa bioaktif (Bodade et. al., 2008).
Lumut hati menghasilkan berbagai macam terpenoid lipofilik, senyawa
aromatik, dan acetogenin. Banyak senyawa ini memiliki aroma dan rasa yang khas,
serta menunjukkan sifat-sifat bioaktif yang berperan sebagai antibakteri. (Asakawa,

2009). Penggunaan lumut dalam obat-obatan herbal telah umum di Cina, India, dan
di antara penduduk asli Amerika sejak zaman dahulu. Banyak senyawa terkandung
dalam lumut, diantaranya termasuk oligosakarida, polisakarida, gula alkohol, asam
amino, asam lemak, senyawa alifatik, kuinon fenolik, serta senyawa-senyawa
aromatik dan fenolik lainnya (Glime, 2012).
Aktivitas mikrobia sangat berkaitan erat dengan kehidupan manusia. Dalam
tubuh manusia terdapat mikrobia flora normal yang dalam kondisi stabil sangat
membantu metabolisme tubuh manusia. Selain itu, mikrobia juga berperan dalam
pengolahan makanan. Namun, bila mikrobia tumbuh pada makanan sebagai
cemaran tentunya akan merugikan manusia karena akan merusak bahan makanan
tersebut. Penggunaan tumbuhan sebagai upaya pengawetan makanan sudah
beberapa kali dilakukan diantaranya Suliantari, et. al. (2008) yang menggunakan
ekstrak sirih hijau (Piper betle L.), dan Fadhila, et. al. (2012) yang menggunakan
ekstrak tumbuhan lumut hati (Marchantia paleacea) sebagai aktibakteri patogen
pangan.
Pada penelitian Suliantari, et. al. (2008) tersebut, didapatkan bahwa ekstrak
etanol sirih hijau mempunyai aktivitas sebagai bahan antibakteri baik terhadap
bakteri Gram positif maupun bakteri Gram negatif dengan konsentrasi minimum
penghambatan (MIC) bervariasi antara 0.1 sampai 1 %. Bakteri yang paling peka
terhadap ekstrak etanol sirih dalam penelitian tersebut berturut-turut adalah
Pseudomonas aeruginosa (FNCC 063), Bacilus cereus (FNCC 057), dan Listeria
monocytogenes (FNCC 0156). Sedangkan bakteri yang paling tahan berturut-turut
adalah Escherichia coli (ATCC), Salmonella typhimurium (FNCC 0734) dan.
Staphylococcus aureus, (FNCC 047). Dalam ekstrak sirih hijau ditemukan beberapa
komponen yang diduga mempunyai aktivitas sebagai bahan antimikroba yaitu
kavikol, eugenol, karyofilen ( & ), 2 metoksi-4- (1-propenil) fenol, Kopaen,
silen ( & silen) dan kaleren.
Fadhila, et. al. (2012) menjelaskan, aktivitas ekstrak etanol lumut hati
mempunyai antibakteri tertinggi dibandingkan dengan ekstrak metanol, etil asetat,
dan heksana. Pengukuran zona hambat ekstrak etanol terhadap S.aureus (ATCC
5923), S. typhimurium (ATCC 14028), dan P. aeruginosa berturut-turut adalah
10,8 mm, 5,8 mm, dan 4,5 mm. Nilai minimum penghambatan MIC ekstrak etanol

terhadap S. aureus (ATCC 5923), S. typhimurium (ATCC 14028), dan P.


aeruginosa berturut-turut adalah 0,7 mg/ml, 8,0 mg/ml, dan 5,9 mg/ml. Ekstrak
etanol lumut memiliki kecenderungan sifat antibakteri lebih baik terhadap S. aureus
(ATCC 5923). Kandungan senyawa fenolik, triterpenoid, flavonoid diketahui
positif ada dengan kandungan total fenol sebesar 22 mg/g. Komponen antibakteri
dari ekstrak lumut sebagian besar merupakan senyawa polar yang larut dalam
pelarut polar.
Selain sebagai antibakteri patogen pangan, lumut juga dapat digunakan
sebagai penghambat aktifitas berlebihan dari mikroorganisme flora normal
(Junairiah, et. al., 2012) diantaranya E. coli (ATCC 25922), S. aureus (ATCC
25923) dan Candida albicans (ATCC 10231). Lumut yang digunakan dalam
penelitian ini adalah Dumortiera hirsuta. Zona hambat pada penelitian ini terlihat
pada Gambar 1 berikut.

Sumber: Junairiah,

et. al. (2012)

Gambar 1. Diagram batang diameter zona hambat pertumbuhan E. coli, S. aureus, dan C. albicans
pada berbagai konsentrasi ekstrak petroleum eter D. hirsuta

Penelitian yang baru-baru ini dilakukan oleh Widyana, et. al. (2014),
ekstrak lumut Octoblepharum albidium Hedw. mampu menghambat pertumbuhan
bakteri Staphylococcus epidermidis dan Pseudomonas aeruginosa. Kategori zona
hambat yang digunakan terlihat pada Tabel 1 berikut.

Diameter Zona Hambat

Respon Hambatan

20 mm

Sangat Kuat

11-19 mm

Kuat

5-10 mm

Sedang

>5 mm

Lemah

Sumber: Widyana, et. al. (2014)


Tabel 1. Katagori respon hambatan pertumbuhan bakteri berdasarkan diamater zona hambat.

Berdasarkan katagori tersebut, hasil penghambatan pertumbuhan bakteri


oleh ekstrak lumut O. albidium disajikan dalah Tabet 2 berikut.
Tingkat konsentrasi
ekstrak (%)
20
40
60
80
100
Kloramfenikol 2,5 mg
(Kontrol Positif)

Bakteri S. epidermidis
Sedang
Sedang
Kuat
Kuat
Kuat
Kuat

Bakteri P. aeruginosa
Sedang
Sedang
Sedang
Kuat
Kuat
Kuat

Sumber: Widyana, et. al. (2014)


Tabel 2. Tingkat kekuatan aktivitas ekstrak O. albidium terhadap bakteri S. epidermidis dan P.
aeruginosa

Dari paparan diatas, terlihat potensi besar yang masih belum dimanfaatkan
secara optimal. Penggunaan produk herbal dalam pengobatan akan menurunkan
risiko efek samping jangka panjang seperti yang dapat terjadi akibat penggunaan
obat-obatan kimia, khususnya antibiotik. Penggunaan antibiotik dalam jangka
panjang dapat menimbulkan resistensi mikrobia terhadap antibiotik (Bronzwaer, et.
al., 2002), oleh karena itu penggunaan produk herbal merupakan salah satu
alternatif yang layak dikembangkan untuk menjadi alternatif penanganan mikrobia.

Daftar Rujukan
Armianty, D. T., 2013. Efektivitas Anti Bakteri Ekstrak Daun Sirih (Piper Betle
Linn.) terhadap Bakteri Enterococcus faecalis (Penelitian In Vitro). Skripsi.
Universitas Hasanuddin. Makassar.
Asakawa, Y., 2009. Biologically Active Compounds from Bryophytes. Pure and
Applied Chemistry, 79(4). Diakses 17 Oktober 2014. Online:
http://dx.doi.org/10.1351/pac200779040557
Bodade, R. G., Borkar, P. S., Arfeen, S., Khobragade, C. N. 2008. In vitro Screening
of Bryophytes for Antimicrobial Activity. Journal of Medicinal Plants,
7(4): 23-28.
Bronzwaer, S.L., Cars, O., Buchhols, U., Molstad, S., Goettsch, W., 2002, A
European Study on The Relationship between Antimicrobial Use and
Antimicrobial Resistance, Emerging Infectious Disease, 8(3): 278-282
Fadhila, R., Iskandar, E. A. P., Kusumaningrum, H. D., 2012. Aktivitas Antibakteri
Ekstrak Tumbuhan Lumut Hati (Marchantia paleacea) terhadap Bakteri
Patogen dan Perusak Pangan. Jurnal Teknologi dan Industri Pangan, 23(2):
126-131.
Glime, M. J., 2012. Economic and Ethnic Uses of Bryophytes. Diakses 17 Oktober
2014. Online: http://flora.huh.harvard.edu/FloraData/001/WebFiles/fna27/
FNA27-Chapter2.pdf
Junairiah, Faizah, H., Salamun, 2012. Aktivitas Antibakteri dan Antifungi Ekstrak
Petroleum Eter Dumortiera hirsuta. Diakses 17 Oktober 2014. Online :
http://biologi.fst.unair.ac.id/wp-content/uploads/2012/04/Jurnal-HanikFaizah2.pdf
Reece, J. B., Urry, L. A., Cain, M. L., 2011. Campbell Biology, Ninth Edition. New
York: Pearson.
Suliantari, Jenie, B. S. L., Suhartono, M. T., Apriyantono, A., 2008. Antibakteri
Ekstrak Sirih Hijau (Piper betle L.) terhadap Bakteri Patogen Pangan.
Jurnal Teknologi dan Industri Pangan, 19(1): 17.
Widyana, W., Khotimah, S., Lovadil, I. 2014. Aktivitas Antibakteri Ekstrak Lumut
Octoblepharum albidium Hedw. terhadap Pertumbuhan Staphylococcus
epidermidis dan Pseudomonas aeruginosa. Protobiont, 3(2): 133-170.