Anda di halaman 1dari 30

BAB VIII

PELURUHAN GAMMA

Suatu inti atom dapat berada dalam keadaan tereksitasi, misalnya sebagai akibat

peluruhan α, β atau tumbukan antar neutron. Dalam keadaan tereksitasi elektron pindah ke

keadaan tingkat dasarnya sambil melepaskan energi dalam bentuk radiasi sinar γ.

0,427MeV 0,492MeV 0,327MeV γ γ γ γ γ 0,040MeV 0 γ misal: 27 Al 
0,427MeV 0,492MeV 0,327MeV
γ
γ
γ
γ
γ
0,040MeV
0
γ
misal:
27
Al
0 n
1
28
Al
sinar γ
13
13

208

81

Ti

Energi sinar γ yang dipancarkan sama dengan selisih energi antara tingkat - tingkat energi di

antara mana inti melakukan transisi.

E

E

E

E

γ 1 1

E

o

γ E

2

E

2 1

γ E

3

E

3 o

Selama

E

γ

ΔE

h

h

c

λ

;

jika h = = 6,62618 . 10 -34 J. s dan c diketahui

12,4

maka

Perhitungan yang lebih teliti harus melibatkan adanya pentalan inti. Jadi energi yang dilepaskan dalam transisi diberikan kepada sinar γ serta sebagai energi kinetik yang terpental.

E

γ λ

ΔE

E

γ

E pental

E

pental

2

p i

2 m

dengan p i = momentum inti atom yang terpental

= momentum sinar γ dari kekekalan momentum.

1

2

p

 

E

c

γ

sehingga E

pental

E

2

γ

 
 

2 m c

2

 

E

2

E

E

γ

2

γ

m c

2

 

E

γ

1

2

E

γ

m c

2

γ

p

i

E pental

maka

  E

E

γ

c

2

2 m

Interaksi Sinar γ dengan Materi Interaksi antara sinar γ dengan materi bisa terjadi melalui bermacam- macam proses, yang peting untuk diperhatikan dalam spektrometri sinar γ, yaitu: hamburan Compton, efek totolistrik dan produksi pasangan.

a. Hamburan Compton. Menurut teori kuantum cahaya dari Enstein bahwa foton berperilaku sebagai partikel, dalam massa berupa massa bergeraknya telah diperkuat oleh hasil percobaan Compton. Compton memperluas konsep tentang foton tersebut, foton tidak saja merupakan gumpalan energi yang bergerak dengan kecepatan cahaya di ruang hampa. Dalam interaksinya

dengan materi, foton berperilaku sebagai partikel dengan momentum linier

p

ε

. Compton

 

c

mengandaikan bahwa sistem fisisnya yaitu sistem interaksi antara satu foton dengan satu elektron. Energi foton tersebut adalah ε h

satu elektron. Energi foton tersebut adalah ε  h  foton datang h  ' 

foton datang

h '

 θ foton terhambur elektron terhambur
θ
foton terhambur
elektron terhambur

Gambar 8.1. Hamburan Compton. Berdasarkan ungkapan energi partikel menurut relativistik khusus.

3

ε

p

2

m

ε

c

o

2

c

4

p

2

c

2

, untuk foton

m

o

0

maka ε p c sehingga momentum liniernya adalah

Foton menumbuk elektron kemudian mengalami hamburan dari arah semula sedangkan elektronnya menerima impuls dan mulai bergerak. Menurut hukum kekekalan energi:

E  E awal 2 m c akhir    h h ' o
E
 E
awal
2
m
c
akhir
  
h
h
'
o
E
k = h
 
h
'

E

k

2 m c o
2
m
c
o

Menurut hukum kekekalan momentum linier:

searah sumbu x: h

searah sumbu y:

c

h

'

0

p sin θ

c

h υ

cos h υ '

c

sin

c

p cos θ p sin θ

sin

(8.1)

(8.2)

(8.3)

Persamaan (8.2) dan (8.3) dikalikan kecepatan cahaya c

8.2

x c

p cos θ

p c cos θ

h

h

'

cos

h

c

h

c

'cos

Kemudian dikuadratkan sehingga

2

2

p

p

(8.3) x c

cos

2

c

c

2

cos

2

2

θ

θ

h

h 2

υ

2

h

h

' cos

2 h

'

sin

' sin

h

2

' cos

p c sin θ

p sin θ

h

c

h

2

'

2

cos

2

Kemudian dikuadratkan sehingga:

p

2

c

2

sin

2

θ h

2 '

2

sin

2

Persamaan (8.4) + (8.5)

8.4

(8.5)

4

p

p

p

2

2

2

c

c

c

2

2

2

2

2

c

2

2

cos

cos

2

h υ

p

sin

2

2 h υ

sin

2



h υ

h υ

2

2

2 h υ

h υ cos

2 h υ

h υ cos

h υ cos

h υ '

2

h υ '

2

sin

2

h υ '

2   sin

2

sin

2

h υ '

2

Energi total elektron sebelum tumbukan adalah

E

m

o

c

2

E

k

Setelah tumbukan adalah :

E

2

m

o

2

c

4

p

2

c

2

,

E

m o 2 c 4  p 2 c 2

m

o

2 c

4

p

2

c

2

sin

2

(8.6)

(8.7)

(8.8)

Berdasarkan hukum kekekalan energi maka persamaan (8.7) = (8.8)

m

o

c

2

E

k

 
m

m

o

2

c

4

p

2

c

2

 

m

o

c

2

E

k

2

m

o

2

c

4

p

2

c

2

2 4 m c o
2
4
m
c
o

2 m

o

c

2

E

k

E

k

2

2 4 m c o
2
4
m
c
o

p

2

c

2

p

2

c

2

2 m

o

c

2

E

k

E

k

2

Substitusikan persamaan (8.1) ke (8.9)

p

p

2

2

c

c

2

2

= 2 m

= 2 m

o

o

c

c

2

2

h υ - h υ '

h υ - h υ '

+

+h υ

h υ - h υ '

2

+2 h υ

2

h υ ' +

h υ '

2

Substitusikan persamaan (8.6) ke (8.10)

(h υ)

2

-2 h υ

h υ ' cos

2 m

o

c

2

(h

+ (h υ ')

- h

2

')

2 m

o

c

2

(h

- h

')

2 h

h

'

1 - cos

 

m

o

c

 

 

'



'

1

cos

 

m

c

h

c

υ'

 

  

c

υ'

o

υ

  

=

υ

1

cos

 

h

  

 

-

 

c

c

 

c

c

= 2 m

:

2 h

o

(2 h

2

c

2

h

h υ - h υ '

' - 2 h

c

2

)

+h υ

2

+2 h υ

h

' cos

h υ '+

h υ '

2

(8.9)

8.10

8.11

5

karena c

λ

1

λ

c

dan

1

λ'

m

c

1

1

 

o

h

λ

λ'

m

o

c

λ'

λ

λ'

h

λ

 

λ

λ'

h

1

 

m

c

 

o

1

1

λ

λ'

1

cos

1

λ

λ'

1

cos

cos

'

c

maka

8.12

Persamaan (8.12) menyatakan pergeseran panjang gelombang karena hamburan Compton dan

h

m

o

c

= λ o

disebut panjang gelombang Compton dari partikel penghambur

 

λ

λ

o 1

cos

o

A

untuk elektron

 

' )= 2 h

h

' (1

cos

' )

h

h

' (1

cos

)

dan E

h υ '

sehingga

λ = 2,42. 10

ο

-2

Dari persamaan

c

2

2 m

m

o

o

c

2 (h

di mana

(h

h

E

- h

h υ

γ γ '

)

(8.13)

6

m

E

E

o

γ

γ

E

c

2

( E

γ

- E

γ

E E

') = E

'

γ

E

γ

' (1

cos

- E

γ

' =

γ

γ

m

o

E

c

2

E

'

(1

cos

)

= E

γ

' +

γ

γ

m

c

2

(1

cos

)

'


o

1 +

E

E

'

γ

γ

 

γ

m

o

c

2

E

γ

(1- cos

)

1 +

E

γ

m

o

c

2

( 1 -

cos

)

)

*

Berdasarkan hukum kekekalan energi

E

E

= E

- E

γγc = E ' + E '

(**)

c

γ

γ

di mana E ' = energi sinar γ terhambur

γ

E γ = energi sinar γ mula-mula

E c = energi

elektron Compton

Apabila E ' disubstitusikan dari persamaan (*) ke (**) maka akan diperoleh:

γ

E

E

 

c

γ

 

E

E

 

γ

 

E

 

γ

 

E

γ

 

1

+

E

γ

 

( 1

 

)

m

o

c

2

- cos

 

1

 

1

γ

1

 

E

γ

 

( 1

 

cos

)

m

o

c

2

 

1

 

E

γ

(1 - cos

)

1

 

2

 

m

o

c

 

1 +

 

E

γ

 

( 1

cos

)

 

m

o

c

2

E

γ

 

( 1

 

)

 

m

o

c

2

-

cos

1

 

E

γ

 

( 1

)

 

m

o

c

2

   

cos

(***)

7

Sinar γ akan kehilangan energi maksimum (atau elektron Compton akan menerima energi

ο terhadap elektron.

maksimum) bila terjadi tumbukan frontal dengan sudut

180

cos

cos 180

ο

  1

Pada saat itu energi elektron Compton.

E

c

E

maks

c maks

 




 

E

γ

(1

1)

 

m c

2

E

 

o

 
 

γ

1

 

E

γ

(1

1)

 

m

o

c

2

2E

γ

 

2

 
 

m

o

c

E

γ

1

2E

γ

 

m

o

c

2

2E

γ

E

 

 

1

 

m

o

c

2

γ

1

 

1

 

2E

   

2

γ

E

γ

1

m

1

o

1

c

 

m

o

c

2

 

m

o

c

2

E

 
 

γ

1

 

1

 
 
 

m

c

2

 

o

(****)

Karena energi E '

γ

dapat bervariasi antara harga minimum untuk

180

o dan maksimum untuk

o (lihat persamaan (*) maka spektrum energi elektron Compton akan terbentang dari energi

0 sampai energi maksimum yang sedikit lebih kecil dari energi foton mula-mula (lihat persamaan

(****)). Sedangkan energi foton terhambur E '

akan terbentang dari energi foton mula-mula

0

γ

(foton

1

2

m

o

c

datang)

sampai

2 yaitu 0,257 MeV

ke

harga

minimum

yang

selalu

lebih

kecil

dari

8

Dalam peristiwa hamburan Compton ini terjadi, baik gejala absorpsi maupun hamburan.

Pada daerah energi sinar gejala ini mempunyai probabillitas yang sama untuk terjadi. Pada

daerah energi sinar γ < 1,6 MeV, gejala hamburan akan menjadi lebih penting. Dengan kata lain

fraksi energi yang hilang dari foton - foton berenergi rendah adalah cukup kecil, karena

hamburan yang terjadi hampir merupakan hamburan kenyal, tetapi kehilangan energi itu makin

menjadi besar dengan naiknya energi sinar γ.

Koefisien absorpsi:

Perubahan intensitas sinar γ:

ΔI

dI

dI

I





μ I Δx μ I dx

 μ dx

dI

I

 μ

dx

ln I

ln I - ln c



μ x

ln c

μ x

 

x

I o dx I ln  μ x c I  μ x  e
I
o
dx
I
ln
 μ x
c
I
μ x
e
c
 μ x
I
c e
, untuk x
0, I
 0
I
 c e
o
I
c
o
 μ x
I
I
e

o

I  c e o I  c o  μ x  I  I

I

I

o

I

o

c

di mana: I o =intensitas sinar γ mula- mula (sebelum masuk ke material).

I= intensitas sinar γ setelah melewati ketebalan x dari material.

Dari

 

I

h



 

μx

 

I

o

h



o

I

I

o

e

I

I

e

μ x

I

I

e

μx

h

o



h



e

μ x

o

 

o

 

ln

I

I

 

e

μ x

o



μ x

 

o

 
 

ln I

I

di mana E = h = energi dari foton = jumlah dari foton yang menyeberangi satu satuan luas dalam satu satuan waktu (fluks).

μ = -

o

konstanta absorpsi

x

   

o

= fluks awal

= fluks akhir setelah melewati ketebalan x material

μ = koefisien absorpsi material

μ = ρ μ m

 

9

Jika sinar γ yang datang berbeda - beda energinya maka:

 

1

 

 

01

e

2 - μ

1

x 3

+

02

- μ

e

2

x

+

, 01 , μ

μ

1

2

02 , μ

fluks awal

,

3 03 koefiesien absorpsi

03

- μ

e

3 x

μ = = absorpsi μ a + μ s + scattering

+

b. Efek fotolistrik (E γ < 1 MeV)

Pada tahun 1905 Einstein mengusulkan bahwa radiasi elektromagnetik terdiri atas paket-paket energi seperti partikel. Jika frekuensi gelombang elektomagnetik tersebut adalah ,

besar paket energi adalah h . Paket energi ini disebut foton, yang terpancar waktu osilator harmonis sumber turun tingkat tenaganya. Dengan konsep ini Einstein berhasil menjelaskan peristiwa efek fotolistrik yang pertama kali diamati oleh Hertz dan selanjutnya diteliti secara eksperimen oleh P. Lenard. Dengan peralatan seperti yang ditunjukkan pada Gambar 8.2, mereka mengamati bahwa cahaya yang menyinari suatu elektroda, sehingga elektron - elektron lepas dari permukaan elektroda tersebut. Elektron - elektron yang terlepas ini memiliki energi kinetik yang bertambah besar dengan bertambah besarnya frekuensi cahaya. Cahaya dari lampu menyinari elektroda K (fotokatoda), maka elektron- elektron yang terlepas dari elektrode tersebut akan bergerak menuju elektrode A (Anoda) dan menimbulkan arus listrik dalam rangkaian luar yang dapat diamati dengan galvanometer G.

i + - e K A G V
i
+
-
e
K
A
G
V

Gambar 8.2. Skema Pengamatan Efek Fotolistrik.

10

Energi kinetik elektron yang terlepas tersebut (disebut fotoelektron), yang besarnya

dapat diukur dengan memasang Voltmeter V tegangan searah, yang besarnya dapat diatur. Kutub

positif dihubungkan dengan elektrode K dan kutub negatif yang dihubungkan dengan elektrode

A. Dengan demikian elektrde A memberikan gaya tolak pada elektron. Jika energi potensial

penghambat listrik elektron yang timbul akibat pemasangan tegangan searah ini sama dengan

atau lebih besar dari energi fotelektron mula- mula adalah K pada saat fotoelektron terpancar dari

fotokatode, aliran elektron di anode dan arus di galvanometer G akan berhenti. Potensial ini

disebut potensial penghenti ( stopping potensial ) V o . Jika muatan elektron adalah K = e V o

maka V o = K

e

Dari hasil- hasil eksperimen P. Lenard menunjukkan bahwa:

1). Tidak ada waktu tunda antara penyinaran elektrode dan terlepasnya fotoelektron dari katode

(timbul arus).

2). Pada frekuensi cahaya yang tetap ( pamjamg gelombang λ tetap atau warna sama ) dan

potensial V tetap, maka arus i yang timbul berbanding lurus dengan intensitas cahaya I, yang

grafiknya sebagai berikut:

i

0 I
0
I

Grafik 3. Hubungan antara Arus Listrik i dengan Intensitas Cahaya I untuk Frekuensi dan Potensial Listrik Konstan

3). Pada frekuensi dan intensitas cahaya yang tetap, arus i yang timbul berkurang dengan

bertambahnya potensial V yang terpasang

4). Untuk suatu permukaan bahan, nilai potensial penghenti V tergantung pada frekuensi cahaya

11

5). Einstein menjelaskan hasil hasil di atas sebagai berikut: Elektron-elektron pada fotokade, fotokatode disinari akan menyerap cahaya. Masing-masing h.sebelum elektron dapat dilepas dari permukaan fotokade, energi yang telah diserap tersebut harus dapat digunakan elektron untuk melawan energi ikat elektron pada permukaan fotokade (Kusminarto,1993, p.33). Energi yang diperlukan umtuk melepaskan ikatan ini disebut fungsi kerja (work

function ) W fotokade, yang berkaitan dengan potensial fungsi kerja sebesar

V

W

o e

Untuk setiap bahan logam memiliki fungsi kerja fotoelektron tertentu (lihat Tabel 2.1 dan Tabel

2.2)

0

31 21 1 V potensial perintang V o
31
21
1
V potensial perintang
V o

Grafik 4. Hubungan antara Potensial Penghenti dan Intensitas Cahaya

Tabel 2.1. Bahan dan Fungsi Kerja Fotoelektron (Kenneth Krane, 1992, p. 100).

No

Bahan logam

Fungsi kerja fotoelektron W( e V)

1.

Na

2,28

2.

Al

4,08

3.

Co

3,90

4.

Cu

4,70

5.

Zn

4,31

6.

Ag

4,73

7.

Pt

6,35

8.

Pb

4,14

Tabel 2.2. Bahan dan Fungsi Kerja Fotoelektron (Yos Sumardi, 1996/ 1997, p. 1153

No

Bahan logam

Fungsi kerja fotoelektron W(eV)

1.

Cs

1,9

12

3.

Li

2,5

4.

Ca

3,2

Energi masih tersisa adalah h . - W yang berupa energi kinetik fofoelektron pada saat

terpancar dari photokatode. Selanjutnya untuk menghentikan elektron tersebut agar tidak

mencapai anode diperlukan tegangan penghenti.

Jadi berlaku persamaan: K = h

- W =

e V

o

atau

V o

=

h

υ

W

-

e

e

Persamaan fotolistrik Einstein ini sangat memadahi untuk menjelaskan hasil eksperimen

di atas. Grafik V o hasil eksperimen yang diperoleh pada berbagai macam frekuensi untuk suatu bahan fotokatode tertentu sebagai fungsi akan berbentuk garis lurus, dan kemiringan garis lurus ini

dapat digunakan untuk menentukan nilai

k

h

secara teliti.

 

e

nilai k  h secara teliti.   e 0 v o V (volt)  (Hz) v

0

v o

V (volt)

(Hz)

v (Hz)

Grafik 3. Grafik Hubungan antara Frekuensi dengan Potensial Penghenti Suatu Bahan untuk Intensitas Cahaya Sembarang.

Dengan mengisikan nilai e yang diperoleh dengan percobaan tetes minyak Milikan yaitu

e = 1,602x10 -19 C, nilai tetapan Planck: di tentukan

h

ΔV

e

Δ

Besarnya konstanta Planck yang sampai sekarang diakui adalah h = 6,62618 . 10 -34 J.s.

13

c. Produksi Pasangan (E γ > 1,022 MeV) Proses ketiga yang sangat penting adalah interaksi antara sinar γ dengan materi, yang disebut produksi pasangan (pair production). Dalam proses produksi pasangan energi foton γ seluruhnya diubah menjadi materi (pasangan elektron dan positron). Energi foton γ ambang agar terjadi produksi pasangan elektron-positron adalah:

E  2 m c 2 γ o bahan hv awal E  h v
E
 2 m
c
2
γ
o
bahan
hv
awal
E
h
v 
E
i
nuc 2
E
m
c
f
e

bahan

e + e - akhir 2 K  m c  - e e
e
+
e
-
akhir
2
K
m
c
-
e
e

K

E

K

e

-

nuc

nuc

Menurut hukum kekekalan energi:

E E
i

h υ

f

E

nuc

karena m

e

m

e

m

e

c

2

m

K

e

maka

o

h υ

E

nuc

2 m

o

c

2

K

e

h υ

2 m

2
c

K

o
e

K

e

karena K

nuc

0 ( diam ) maka

h υ

2 m

o

c

2

K

e

K

e

m

c

2

K

E

e

e

nuc

K

E

K

e

K

nuc

nuc

nuc

K

nuc

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa syarat terjadi produksi pasangan elektron-positron adalah:

14

h

minimum

atau E

γ

=

2

2

m

o

m

o

c

c

2.0,511

2

2

MeV

c 2

c

2

E

γ

1,022 MeV

Koefisien absorpsi materi terhadap foton γ .

Perubahan intensitas (ΔI):

ΔI

= - μ I ΔI Δx = - μ I Δx

di mana

μ = konstanta pembanding (koefisien absorpsi)

dI

dI

I

= - μ I dx

= - μ dx

dI

I

= - μ

dx

ln I = - μ x + ln c

ln

I

c

= - μ x

I - μ x

= e

c

I = c e

- μ x

untuk x

I

o

Jadi I

I

0 maka I

sehingga I

- μ x

e

I

o

o

c e

c

- 0

I

 

c

di mana I = intensitas dari berkas setelah melewati ketebalan x dari material. I o = intensitas berkas mula mula (awal).

I = h υ

h = energi masing- masing foton = jumlah foton yang melewati satu satuan luas dalam satu satuan waktu (disebut fluks)

15

Karena I

I

o

h

h





o

maka :

I = I

o

e

- μ x

h



=h



o

=

o

e

e

- μ x

- μ x

di mana:

o

= fluks awal

= menunjukkan fluks energi (intensitas) = jumlah fluks

μ = koefisien absorpsi linier

Bila I

I

o

maka I

I

I

e

- μ x

o

1

I

I

e

- μ x

2 o

o

1 - μ x

e

2

μ x e μ x ln e μ x 1 2 x 1 2 x
μ x
e
μ x
ln e
μ x
1 2
x
1 2
x
1 2

2

ln 2

ln 2

ln 2

μ

0,693

μ

I

o

e

- μ x

μ m

μ   

μ

ρ μ

ρ m

sehingga x 1

μ a

Z μ

e

2

0,693

ρ

μ m

μ

ρ N

A

A

μ

a

ρ N

A

A

μ

m

N

A

Z

μ

ρ

A

μ

e

μ

e

μ m = koefisien absorpsi massa μ a = koefisien absorpsi atom μ e = koefisien absorpsi electron.

Jika berkas foton yang datang energinya berbeda-beda maka :

 

1

01

e

2

- μ

1

3

x

e

- μ

2

x

 

+

01

fluks awal

01

μ

,

02

,

03

, μ

3

+ μ

s

, μ

1 2

koefisien absorpsi

μ = μ

a

+

03

koefisien absorpsi
a

s

koefisien hamburan

- μ

e

3

x

+

16

Energi peluruhan gamma Jika eksitasi inti awal dengan massa diam M o * dan keadaan akhir dengan massa diam M o . Dari hukum kekekalan energi dan momentum

*

c

P γ - P γ

2

M

0

P

a

P a

M

o

X Y

γ

*

M c

o

2

M

o

o

c

c

2

2

E

E

γ

γ

T a

T a

di mana: E γ = energi sinar γ p γ =momentum sinar γ

T a = energi kinetik recoil

p a = momentum akhir inti

Kecepatan inti recoil kecil, sehingga rumus non-relativistik dapat digunakan untuk menghitung energi kinetik T a

T

a

T

a

=

2
P

a

2 M

,karena P = - P

a

γ

=

o

2
P

γ

2 M

;

E

γ

= P

c

c

maka

o

E

2

= P

2

c

2

γ

c

 

E

2

P

2

=

γ

γ

c

2

E

2

 

γ

T

a 2 M

c

2

E

γ

M

E

E

E

o

γ

γ

γ

*

o

h

dan P

γ

c

2

M

c

h

2

λ

E

T

M

o

c

2

o

M

o

c

γ

2

T

a

a

; T

a

M

o

*

M

o

*

c

2

M

M

o

o

c

c

2

2



di mana:

M = massa keadaan dasar

o

sehingga

17

E γ = energi sinar γ digunakan untuk ekitasi inti yang lain dari nuklida yang sama dan energi eksitasi maksimum yang dapat disajikan

M

o

*

c

2



2 T a

Konstanta Peluruhan Sinar Gamma Waktu paruh dapat diestimasi dengan semiklasik yaitu dapat ditunjukkan dari persamaan Maxwell dengan suatu pemercepat muatan titik e memancarkan radiasi elektromagnetik.

dE

2

e

2

a

2

dt

3

c

3

 

a a

2

x

a

2

y

a

2

z

 

1

2

percepatan dari muatan

Dengan membuat model sederhana dari proses emisi, diasumsikan bahwa radiasi muatan (elektron dalam atom, proton dalam inti) berosilasi dengan gerak osilasi sederhana.

x

= x

cos ω t

 
 

o

y

= y

o

cos ω t

 

z

= z

cos ω t

 

o

 

1

R

~

x

2

o

+y

2

+z

2

2

 

o

o

R

= jari-jari dari atom atau inti

x

= x

cos ω t

 
 

o

v=

dx

= - x

ω sin ω t

 
 

dt

o

a=

dv

= - x

ω

2 cos ω t

 
 

dt

o

2
a

= R

2

ω

2

cos ω t

 

dE

=