Anda di halaman 1dari 3

Laboratorium Darah :

Jenis Pemeriksaan

Hasil Pemeriksaan

Nilai Normal

Hasil Interpretasi

15,4 g/dL

13-18 g/dL

Normal

47 %

40-52 %

Normal

Leukosit

10.600 /uL

5.000-10.000 /uL

Meningkat

Trombosit

213.000 /uL

150.000-350.000 /uL

Normal

LED

52 mm/Jam

0-10 mm/jam

Meningkat

5,38 (juta /uL)

4,6-6,2 (juta /uL)

Normal

Hb
Hematokrit

Eritrosit
Hitung Jenis Leukosit :

Basofil

0%

0-1 (%)

Normal

Eosinofil

1%

1-3 (%)

Normal

Neutrofil Batang

3%

2-6 (%)

Normal

Neutrofil Segmen

86 %

50-70 (%)

Meningkat

Limfosit

8%

20-40 (%)

Menurun

Monosit

2%

2-8 (%)

Normal

Ureum

29 mg/dl

15-40 mg/dl

Normal

Kreatinin

0,6 mg/dl

0,5-1,5 mg/dl

Normal

Asam Urat

2,9 mg/dl

2,4-5,7 mg/dl

Normal

GDS

107 mg/dl

<180 mg/dL

Normal

SGOT

76 mg/dl

5 - 40 mg/dL

Meningkat

SGPT

83 mg/dl

5 - 41 mg/dL

Meningkat

Na

141 mEq/L

135-145 mEq/L

Normal

4,2 mEq/L

3,5-5,0 mEq/L

Normal

Cl

101 mEq/L

95 105mEq/L

Normal

INTERPRETASI :

Leukosit meningkat (leukositosit) menandakan adanya infeksi.

LED meningkat menunjukkan adanya infeksi kronis.

Neutrofil Segmen meningkat dan Limfosit menurun menunjukkan gambaran shift to the
left yang biasa terdapat pada keadaan infeksi bakteri yang akut.

SGOT dan SGPT yang meninggi menunjukkan adanya abnormalitas fungsi hati,
menunjukkan adanya hepatitis viral yang akut atau sedang berlangsung. Umumnya jarang
karena virus hepatitis itu sendiri, namun akibat infeksi CMV ataupun EBV.

Lumbal Pungsi :
Jenis Pemeriksaan

Hasil Pemeriksaan

Nilai Normal

Hasil Interpretasi

Jernih

Jernih

Normal

Nonne

Positif

Pandy

Positif

Sel

0-5 /mm3

Normal

Protein

15-45 mg/dl

Meningkat

Glukosa

76

48-86 mg/dl

Normal

Cairan LCS

INTERPRETASI :

Tes Nonne :
Tes ini dilakukan untuk menguji kadar globulin dalam cairan otak. Pada kasus diatas
didapatkan hasil positif yang menandakan kadar globulin tinggi yang ditunjukan dengan
semakin tebal cincin keruh pada perbatasan.

Tes Pandy :
Tes ini dilakukan untuk melihat kadar protein dalam cairan otak. Hasil positif yang didapat
menunjukkan adanya kadar protein yang tinggi.

Protein meningkat pada keadaan :


o ringan 360 mg/dl :
Infeksi virus/multiple sclerosis;
o > 360 mg/dl :
Meningitis bakteri, tuberkulosis, tumor,
perdarahan otak, sindrom Guillain Barre.
Dalam kasus ini kadar protein meningkat namun tidak diikuti dengan penambahan jumlah
sel keadaan ini disebut disosiasi sitoalbuminik. Peningkatan kadar protein di dalam cairan

otak dikarenakan pembentukan antibodi (albumin) yang meningkat. Keadaan seperti ini
khas pada kasus sindrom Guillain Barre.
Elektromiografi (EMG) :
EMG menunjukkan berkurangnya rekruitmen motor unit. Dijumpai degenerasi aksonal
setelah onset gejala, sehingga ampilitudo CMAP dan SNAP kurang dari normal. prolongasi
masa laten motorik distal (menandai blok konduksi distal) dan prolongasi respon gelombang
F (tanda keterlibatan bagian proksimal saraf), blok hantar saraf motorik, serta berkurangnya
kecepatan hantar saraf.

Patofisiologi
Mekanisme bagaimana infeksi, vaksinasi, trauma, atau faktor lain yang mempresipitasi
terjadinya demielinisasi akut pada SGB masih belum diketahui dengan pasti. Banyak ahli
membuat kesimpulan bahwa kerusakan saraf yang terjadi pada sindroma ini adalah melalui
mekanisme imunlogi.
Bukti-bukti bahwa imunopatogenesa merupakan mekanisme yang menimbulkan jejas saraf
tepi pada sindroma ini adalah:
1. didapatkannya antibodi atau adanya respon kekebalan seluler (celi mediated immunity)
terhadap agen infeksious pada saraf tepi.
2. adanya auto antibodi terhadap sistem saraf tepi
3. didapatkannya penimbunan kompleks antigen antibodi dari peredaran pada pembuluh
darah saraf tepi yang menimbulkan proses demyelinisasi saraf tepi.
Proses demyelinisasi saraf tepi pada SGB dipengaruhi oleh respon imunitas seluler dan
imunitas humoral yang dipicu oleh berbagai peristiwa sebelumnya, yang paling sering adalah
infeksi virus.
Peran imunitas seluler Dalam sistem kekebalan seluler, sel limposit T memegang peranan
penting disamping peran makrofag. Prekursor sel limposit berasal dari sumsum tulang (bone
marrow) steam cell yang mengalami pendewasaan sebelum dilepaskan kedalam jaringan
limfoid danperedaran.
Sebelum respon imunitas seluler ini terjadi pada saraf tepi antigen harus dikenalkan pada
limposit T (CD4) melalui makrofag. Makrofag yang telah menelan (fagositosis)
antigen/terangsang oleh virus, allergen atau bahan imunogen lain akan memproses antigen
tersebut oleh penyaji antigen (antigen presenting cell = APC).
Kemudian antigen tersebut akan dikenalkan pada limposit T (CD4). Setelah itu limposit T
tersebut menjadi aktif karena aktivasi marker dan pelepasan substansi interlekuin (IL2),
gamma interferon serta alfa TNF.
Kelarutan E selectin dan adesi molekul (ICAM) yang dihasilkan oleh aktifasi sel endothelial
akan berperan dalam membuka sawar darah saraf, untuk mengaktifkan sel limfosit T dan
pengambilan makrofag . Makrofag akan mensekresikan protease yang dapat merusak protein
myelin disamping menghasilkan TNF dan komplemen.