Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM DASAR-DASAR PROSES


REKRISTALISASI ASAM OKSALAT
(H)

(Item putih aja logo ugmnya)


Disusun oleh:
Kanda Wiba Pratama

13/349259/TK/41074

Prinka Padmaratri

13/348147/TK/40804

LABORATORIUM DASAR DAN PROSES


JURUSAN TEKNIK KIMIA
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS GADJAH MADA
2014

LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM DASAR-DASAR PROSES


Dengan judul mata praktikum:

REKRISTALISASI ASAM OKSALAT

Disusun oleh:
Nama Praktikan
Kanda Wiba Pratama
Prinka Padmaratri

NIM
13/349259/TK/41074
13/348147/TK/40804

Tanda Tangan

Yogyakarta, 17 Oktober 2014(Tanggal maju ke bapaknya aja,NIM?)

Dosen Pembimbing

Asisten

Indra Perdana, S.T., M.T., Ph.D.

Rendy Bayu Aji

NIP 197311271999031002

REKRISTALISASI ASAM OKSALAT

I.

TUJUAN PERCOBAAN
Percobaan ini bertujuan untuk meningkatkan kemurnian asam
oksalat kotor dengan metode pelarutan dan penyaringan serta
menentukan kemurnian asam oksalat.

II.

DASAR TEORI
Kelarutan adalah

suatu

istilah

yang

digunakan

untuk

menyatakan jumlah maksimum zat yang dapat larut dalam sejumlah


zat pelarut atau larutan tertentu. Kelarutan suatu zat pada pada suatu
pelarut tergantung pada jenis pelarutnya. Ada zat yang mudah larut
tetapi ada juga yang sedikit larut. Kelarutan suatu zat juga sangat
dipengaruhi oleh suhu. Pada umumnya semakin tinggi suhu maka
semakin besar kelarutan suatu zat.
Kristalisasi merupakan metode untuk pemurnian zat dengan
pelarut dan dilanjutkan dengan pengendapan. Dalam kristalisasi
senyawa organik dipengaruhi oleh pelarut. Pelarut kristalisasi
merupakan pelarut dibawa oleh zat terlarut yang membentuk padatan
dan tergantung dalam struktur kristal kristal zat terlarut tersebut
(oxtoby, 2001).
Rekristalisasi merupakan suatu pembentukan kristal kembali
dari larutanatau leburan dari material yang ada. Sebenarnya
rekristalisasi hanyalah sebuah proses lanjut dari kristalisasi. Apabila
kristalisasi (dalam hal ini hasil kristalisasi) memuaskan rekristalisasi
hanya bekerja apabila digunakan pada pelarut pada suhu kamar,
namun dapat lebih larut pada suhu yang lebih tinggi. Hal ini bertujuan
supaya zat tidak murni dapat menerobos kertas saring dan yang
tertinggal hanyalah kristal murni (Fessenden,1983).
Adapun faktor faktor yang mempengaruhi kecepatan
pembentukan kristal adalah :
1. Derajat lewat jenuh

2. Jumlah inti yang ada, atau luas permukaan total dari kristal
yang ada
3. Pergerakan antara larutan dan kristal
4. Viskositas
5. Jenis dan banyaknya pengotor (Handojo,1995)
Pada kristalisasi terdapat syarat agar kristalisasi berjalan
optimum. Adapun syarat pelarut yang baik untuk kristalisasi adalah :
1. Pelarut yang hanya melarutkan zat zat yang akan
dimurnikan dalam keadaan panas, sedangkan pengotornya
tidak larut dalam pelarut tersebut.
2. Pelarut yang digunakan sebaiknya memiliki titik didih
rendah agar mempermudah pengeringan kristal.
3. Pelarut yang digunakan harus inert, tidak bereaksi dengan
zat yang dimurnikan (Cahyono,1998).
Prinsip utama dalam proses kristalisasi adalah :
1. Pendinginan
Larutan yang

akan

dikristalkan

didinginkan

sampai

terbentuk kristal pada larutan tersebut. Metode ini digunakan


untuk zat yang kelarutan mengecil bila suhu diturunkan.
Pendinginan dilakukan 2 kali yaitu pendinginan larutan
panas sebelum penyaringan dan pendinginan sesudah
penguapan.
2. Larutan Solven
Larutan yang dikristalkan merupakan senyawa campuran
antara solven dan solut. Setelah dipanaskan maka solven
menguap dan yang tertinggal hanya kristal. Metode ini
digunakan bila penurunan suhu tidak begitu mempengaruhi
kelarutan zat pada pelarutnya. Penguapan bertujuan untuk
menghilangkan atau meminimalisir solven atau zat pelarut
sisa yang terdapat pada filtrat.

Asam oksalat (C2H4O4) adalah suatu senyawa asam karboksilat


yang produk komersialnya biasanya terbentuk butiran dihidrad
(C2H2O4.2H2O) dan memiliki berat molekul 126,07 gram/mol
(Perry,2008). Kelarutan asam oksalat dalam air adalah 90 gram/mL
pada suhu 20 derajat celcius. Asam oksalat bersifat iritan serta korosif.
Selain itu, asam oksalat juga bersifat flammable dan bersifat toxic
sehingga sangat berbahaya bagi tubuh.
Asam oksalat merupakan salah satu bahan baku yang
dibutuhkan pada industri yang mempunyai kegunaan sebagai berikut :
1. Sebagai bahan pelapis yang melindungi logam dari kontak.
2. Menetralkan kelebihan alkali pada pencucian dan sebagai
bleaching.
3. Bahan pencampur zat warna dalam industri tekstil dan cat.
4. Sebagai inisiator dalam pabrik kimia.
III.

METODOLOGI PERCOBAAN
a. Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah:
1. Asam oksalat kotor yang diperoleh dari Laboratorium Dasar
dan Proses, Jurusan Teknik Kimia, Universitas Gadjah Mada.
2. Asam oksalat pro analitis yang diperoleh dari Laboratorium
Dasar dan Proses, Jurusan Teknik Kimia, Universitas Gadjah
Mada.
3. Larutan HCl x N yang diperoleh dari Laboratorium Dasar dan
Proses, Jurusan Teknik Kimia, Universitas Gadjah Mada.
4. Larutan NaOH y N yang diperoleh dari Laboratorium Dasar
dan Proses, Jurusan Teknik Kimia, Universitas Gadjah Mada.
5. Boraks (natrium tetraboraks) yang diperoleh dari Laboratorium
Dasar dan Proses, Jurusan Teknik Kimia, Universitas Gadjah
Mada.
6. Aquadest yang diperoleh dari Laboratorium Dasar dan Proses,
Jurusan Teknik Kimia, Universitas Gadjah Mada.
7. Indikator Phenolphthalein yang diperoleh dari Laboratorium
Dasar dan Proses, Jurusan Teknik Kimia, Universitas Gadjah
Mada.

8. Indikator Methyl Orange yang diperoleh dari Laboratorium


Dasar dan Proses, Jurusan Teknik Kimia, Universitas Gadjah
Mada.
9. Es batu yang diperoleh dari Laboratorium Dasar dan Proses,
Jurusan Teknik Kimia, Universitas Gadjah Mada.
10. Kertas saring Whatman 40 yang diperoleh dari Laboratorium
Dasar dan Proses, Jurusan Teknik Kimia, Universitas Gadjah
Mada.

56
7
3
2
1
4

b. Alat
Alat-alat yang digunakan dalam percobaaan ini adalah sebagai
berikut:

Keterangan :
1. Erlenmeyer 250 mL
2. Corong Buchner
3. Kertas saring

3
6

4
5

4.
5.
6.
7.

1
2

Filtrat
Pengaduk
Gelas beker
Asam oksalat
Gambar 1. Rangkaian Alat Penyaringan Vakum

Keterangan:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Gelas beker berisi larutan asam oksalat


Pemanas listrik
Steker
Statif
Termometer raksa
Kipas angin
Klem

Gambar 2. Rangkaian Alat Pemekatan Larutan Asam Oksalat

Keterangan:
7

61. Statif

2. Klem
3. Buret 50 mL
4. Erlenmeyer 125 mL

4
2

Gambar 3. Rangkaian Alat Titrasi

Keterangan:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Gelas beker 250 mL


Magnetic stirrer
Pengaduk magnet
Knop pengatur skala
Kristal asam oksalat
Gelas arloji
Steker
Gambar 4. Rangkaian Alat Pelarutan

3
4
1
2

Keterangan:
1.
2.
3.
4.

Baskom
Es batu
Gelas beker 250 mL
Larutan asam oksalat
Gambar 5. Rangkaian Alat Pendinginan

Gambar coba digambar sendiri pake corel, pak indra biasanya


gamau gambarnya sama
c. Cara Percobaan
1. Standardisasi Larutan HCl x N
Boraks ditimbang sebanyak 0,2004 gram dengan
gelas arloji menggunakan neraca analitis digital, kemudian
dilarutkan dengan 25 mL aquadest yang diambil
menggunakan pipet volume 25 mL ke dalam Erlenmeyer
100 mL, lalu larutan boraks dipanaskan hingga seluruh
boraks larut, indikator methyl orange ditambahkan
sebanyak 3 tetes ke dalam larutan boraks tersebut. Buret
diisi dengan larutan HCl x N sebanyak 50 mL yang telah

dibuat dengan bantuan corong gelas. Larutan boraks


dititrasi dengan menggunakan larutan HCl x N hingga
terjadi perubahan warna dari kuning menjadi jingga.
Volume HCl x N yang dibutuhkan untuk titrasi dicatat dan
diulangi untuk berat boraks sebesar 0,2043 gram dan
0,2016 gram sehingga didapatkan 3 data percobaan.
2. Standardisasi Larutan NaOH y N dengan Larutan HCl x N
Larutan NaOH y N yang telah dsiapkan diambil
sebanyak 10 mL dengan menggunakan pipet volume 10
mL kemudian dimasukkan ke dalam Erlenmeyer 125 mL.
Buret diisi dengan larutan HClxN yang terlah dibuat
dengan bantuan corong gelas. Indikator phenolphthalein
ditambahkan ke dalam larutan NaOHyN sebanyak 3 tetes.
Larutan NaOHyN dititrasi dengan larutan HClxN hingga
terjadi perubahan warna dari ungu menjadi bening.
Volume larutan HClxN yang diperlukan untuk titrasi
dicatat dan diulangi hingga didapat 3 data percobaan.
3. Penentuan Kadar Larutan Asam Oksalat Kotor
Asam oksalat kotor sebanyak 1,0118

gram

ditimbang di atas gelas arloji menggunakan nerasa analitis


digital. Asam oksalat kotor kemudian dilarutkan dengan 50
mL aquadest yang diambil dengan pipet volume 25 mL
dalam gelas beker 250 mL, lalu aduk hingga homogen.
Larutan asam oksalat tersebut diambil sebanyak 5 mL
menggunakan pipet volume 5 mL, lalu dimasukkan ke
dalam Erlenmeyer 125 mL. Indikator phenolphthalein
ditambahkan sebanyak 3 tetes ke dalam larutan asam
oksalat tersebut. Buret diisi dengan larutan NaOHyN
sebanyak 50 mL dengan bantuan corong gelas. Larutan
asam oksalat dititrasi dengan larutan NaOHyN hingga
terjadi perubahan warna dari bening menjadi ungu.

Volume NaOHyN yang digunakan untuk titrasi dicatat dan


diulangi dari mengambil 5 mL larutan asam oksalat ke
Erlenmeyer 125 mL sampai akhir hingga diperoleh 3 data
percobaan.
4. Penentuan Kadar Larutan Asam Oksalat Pro Analitis
Asam oksalat pro analitis ditimbang sebanyak
1,0079 gram di atas gelas arloji menggunakan neraca
analitis digital, kemudian dilarutkan ke dalam 50 mL
aquadest yang diambil dengan pipet volume 25 mL ke
dalam gelas beker 250 mL, lalu diaduk hingga homogen.
Larutan asam oksalat diambil sebanyak 5 mL dengan
menggunakan pipet volume 5 mL lalu dimasukkan ke
dalam Erlenmeyer 125 mL. Indikator phenolphthalein
ditambahkan sebanyak 3 tetes ke dalam larutan asam
oksalat tersebut. Buret diisi dengan larutan NaOHyN
sebanyak 50 mL dengan bantuan corong gelas. Larutan
asam oksalat dititrasi dengan larutan NaOHyN sehingga
terjadi perubahan warna dari bening menjadi ungu.
Volume NaOHyN yang diperlukan untuk titrasi dicatat.
Percobaan diulangi dari mengambil 5 mL larutan asam
oksalat menggunakan pipet volume 5 mL lalu dimasukkan
ke dalam Erlenmeyer 125 mL sampai akhir, sehingga
didapat 3 data percobaan.
5. Proses Pemurnian Asam Oksalat Kotor
Asam oksalat kotor sebanyak 20,0412 gram
ditimbang diatas Petri dish menggunakan neraca analitis
digital. Aquadest sebanyak 100 mL disiapkan dalam gelas
beker 250 mL yang diambil menggunakan pipet volume
25 mL. Alat pengaduk magnetik dirangkai kemudian gelas
beker 250 mL yang telah terisi aquadest diletakkan diatas
pengaduk magnetik. Pengaduk magnetik dihidupkan pada

skala 5 kemudian asam oksalat kotor yang telah ditimbang


dimasukkan ke dalam gelas beker yang telah terisi
aquadest, sedikit demi sedikit. Pengadukan dilakukan
selama 30 menit sampai didapat larutan yang jenuh.
Pengadukan dihentikan, larutan disaring ke dalam
Erlenmeyer

vakum

dengan

bantuan

kertas

saring

Whatman 40 dan corong Buchner kemudian filtrat


dituangkan ke dalam gelas beker 250 mL. Filtrat
dipanaskan dengan pemanas listrik pada skala 600 W dan
dijaga suhunya agar tidak lebih dari 80 oC sampai volume
filtrat setengah volume awal. Pemanasan dihentikan, filtrat
didinginkan dengan es batu yang telah ditambah air sambil
digoyang-goyang sehingga diperoleh kristal-kristal asam
oksalat. Kristal yang telah terbentuk disaring ke dalam
Erlenmeyer

vakum

dengan

bantuan

kertas

saring

Whatman 40 dan corong Buchner kemudian difiltrasi


vakum. Kristal-kristal asam oksalat pada kertas saring
dioven pada suhu 70 oC selama 15 menit dengan Petri dish
sehingga diperoleh kristal asam oksalat bebas air. Petri
dish yang berisi kristal asam oksalat terebut dimasukkan
ke dalam eksikator selama 5 menit.
6. Penentuan Kadar Larutan Asam Oksalat Hasil Pemurnian
Asam oksalat hasil pemurnian ditimbang sebanyak
1,0095 gram di atas gelas arloji dengan menggunaka
neraca analitis digital kemudian dilarutkan ke dalam 50
mL aquadest yang diambil dengan pipet volume 25 mL
dalam gelas beker 250 mL dan diaduk hingga homogen.
Larutan asam oksalat diambil sebanyak 5 mL dengan
menggunakan pipet volume 5 mL lalu dimasukkan ke
Erlenmeyer

125

mL.

Indikator

phenolphthalein

ditambahkan sebanyak 3 tetes ke dalam larutan asam

oksalat tersebut. Buret diisi dengan larutan NaOHyN


sebanyak 50 mL dengan bantuan corong gelas. Larutan
asam oksalat dititrasi dengan larutan NaOHyN sehingga
terjadi perubahan warna dari bening menjadi ungu.
Volume NaOHyN yang diperlukan untuk titrasi dicatat.
Percobaan diulangi dari mengambil 5 mL larutan asam
oksalat menggunakan pipet volume 5 mL sampai akhir
hingga diperoleh 3 data percobaan.
d. Analisis Data
A. Penentuan normalitas larutan HCl x N
1. Penentuan normalitas Larutan HCl x N
Normalitas larutan HCl dihitung dengan
persamaan :

N=

Dengan N

2. w
BM .V

: normalitas HCl sesungguhnya, N

: berat boraks,g

: volume HCl untuk titrasi, g/ml

BM

: berat molekul boraks, g/mol

2. Penentuan normalitas larutan HCl x N rata-rata

Normalitas HCl rata-rata =

Dengan,
HCl hasil titrasi, N

N HCl

N HCl
n

:jumlah normalitas larutan

n : jumlah data

B. Penentuan normalitas Larutan NaOH y N


1. Penentuan normalitas larutan NaOH y N
Normalitas larutan NaOH y N harus
ditentukan dengan titrasi

menggunakan larutan

HCl x N, dan dapat dihitung dengan persamaan :

N NaOH =

V HCl . N HCl
V NaOH

Dengan N NaOH

: Normalitas NaOH, N

V NaOH

: Volume NaOH,ml

N HCl

: Normalitas larutan HCl x N

VHCl

: Volume HCl, ml

rata-rata,N

2. Penentuan normalitas larutan NaOH y N rata-rata


Normalitas

NaOH

rata-rata

N NaOH
n

Dengan

N NaOH

: jumlah normalitas larutan

NaOH hasil titrasi, N

n : jumlah data
C. Penentuan Kadar Asam Oksalat
i.

Perhitungan normalitas teoritis asam oksalat


N as .teo=

W .n
BM . V

Dengan , Nas.teo
W
n
BM

: normalitas asam oksalat teoritis, N


: massa asam oksalat, g
: valensi asam oksalat
: berat molekul relative asam oksalat,

g/mol
V
: volume larutan, l
Perhitungan dilakukan untuk asam oksalat pro analitis.
ii.

Perhitungan normalitas asam oksalat hasil titrasi


N as=

V NaOH . N NaOH
V as

Dengan,

Nas

: normalitas asam oksalat, N

Vas

: volume asam oksalat, ml

NNaOH

: normalitas NaOH, N

VNaOH

: volume NaOH, ml

Perhitungan dilakukan untuk asam oksalat kotor, asam


oksalat pro analitis, dan asam oksalat hasil pemurnian.
iii.

Penentuan kadar asam oksalat


Kadar
membandingkan

oksalat

dapat

normalitas

ditentukan

asam

normalitas asam oksalat pro analitis

oksalat

dengan
dengan

Kas . kotor=

Kas .hasil pemurnian=

Dengan,

Nas.kotor

Nas.hasil pemurnian

Nas . kotor
100
Nas . pa

Nas . hasil pemurnian


100
Nas . pa

: normalitas asam oksalat kotor


:.normalitas

asam

oksalat

hasil

pemurnian
Nas.pa

: normalitas asam oksalat pro analitis

Kas.kotor

: kemurnian asam oksalat kotor

Kas.hasil pemurnian

:.kemurnian

pemurnian

asam

oksalat

hasil

IV.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Dari hasil percobaan dan perhitungan, diperoleh hasil yaitu,
berdasarkan percobaan standardisasi larutan HClxN dengan boraks,
diperoleh volume HCl yang diperlukan untuk titrasi sampel pertama,
kedua, dan ketiga sebesar 10,4 mL, 10,3 mL, dan 10,4 mL. Melalui
perhitungan, diperoleh normalitas larutan HCl untuk sampel pertama,
kedua, dan ketiga sebesar 1,0105x10-4 N, 1,0402x10-4 N, dan
1,0166x10-4 N. Normalitas HCl rata-rata adalah sebesar 1,0224x10-4 N.
Berdasarkan hasil titrasi dan perhitungan untuk standardisasi
larutan NaOHyN, dengan HClxN, diperoleh volume HClxN yang
diperlukan untuk titrasi sampel pertama, kedua, dan ketiga yang sama
besar yaitu 10,2 mL sebanyak 1,0200x10-4 N. Normalitas NaOHyN
rata-rata yang diperoleh melalui perhitungan sebesar 1,0200x10-4 N.
Berdasarkan hasil percobaan dan perhitungan diperoleh normalitas
asam oksalat kotor untuk sampel pertama, kedua, dan ketiga sebesar
2,0604x10-4 N, 2,0808x10-4 N, dan 2,0400x10-4 N. Normalitas asam
oksalat kotor rata-rata sebesar 2,0604x10-4 N. Untuk asam oksalat hasil
pemurnian diperoleh normalitas sampel pertama, kedua, dan ketiga
sebesar 3,1824x10-4 N, 3,1620x10-4 N, dan 3,1620x10-4 N. Untuk asam
oksalat pro analitis diperoleh normalitas untuk masing-masing sampel
sebesar 3,3048x10-4 N, 3,2640x10-4 N, dan 3,2640x10-4 N.
Kemurnian asam oksalat kotor yang didapat dalam percobaan ini
yaitu sebesar 62,8630 %, setelah pemurnian dilakukan kadar asam
oksalat yang didapat yaitu sebesar 96,6805 %. Dapat dilihat bahwa

asam oksalat hasil pemurnian memiliki kemurnian yang lebih tinggi


dibandingkan sebelum dilakukan pemurnian.
Asumsi-asumsi yang digunakan pada percobaan ini yaitu:
1. Semua pengotor dapat disaring dengan baik.
2. Kristal asam oksalat yang terbentuk dapat tersaring
sempurna.
3. Semua air yang terkandung pada asam oksalat dapat
diuapkan.

V.

KESIMPULAN
1. Hasil percobaan
Normalitas HCl rata-rata
Normalitas NaOH rata-rata
Normalitas asam oksalat kotor
Normalitas asam oksalat hasil pemurnian
Normalitas asam oksalat pro analitis
Kemurnian asam oksalat kotor
Kemurnian asam oksalat hasil pemurnian
2. Kemurnian asam oksalat hasil pemurnian

: 1,0224x10-4 N
: 1,0200x10-4 N
: 2,0604x10-4 N
: 3,1688x10-4 N
: 3,3048x10-4 N
: 62,8630%
: 96,6805%
lebih tinggi kadarnya

daripada kadar asam oksalat kotor sebelum dilakukan pemurnian.


3. Proses kristalisasi dan rekristalisasi dapat digunakan untuk
memurnikan asam oksalat kotor.

VI.

DAFTAR PUSTAKA
Brown, G.G., 1950, Unit Operation, Modern Asia Edition,

pp. 493-501, John Wiley and Sons, Inc., New York


Foust, A.S., 1980, Principle of Unit Operation, 2ed., pp. 494-

525, John Wiley and Sons, Inc., New York


Kirk, R.E. And Othmer, D.E., 1981, Encyclopedia of

Chemical Technology, 3ed., vol.16, pp.


Anonim, 2013, Kelarutan,
http://www.ilmukimia.org/2013/04/kelarutan.html?m=1,
diakses tanggal 13 Oktober 2014
Nugroho, Yulianto, 2012, Kristalisasi dan Rekristalisasi,
http://academia.edu/4771977/kristalisasi_dan_rekristalisasi,
diakses tanggal 13 Oktober 2014
Zulfikar, 2011, Kristalisasi,
http://www.chem-is-try.org/materi-kimia/kimiakesehatan/pemisahan-kimia-dan-analisis/kristalisasi/,
diakses pada tanggal 13 Oktober 2014
Hutapea, Sanjaya, 2011, Bab II Tinjauan Pustaka Asam
Oksalat,
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/31827/4/Chapt
er%2011.pdf
diakses pada tanggal 28 Oktober 2014.

VII.

LAMPIRAN
A. Identifikasi Hazard Proses dan Bahan Kimia
1. Hazard Proses

Hazard proses pada percobaan ini adalah ketika


memanaskan filtrat. Arahkan kipas menjauhi praktikan, agar
uap dari filtrat asam oksalat tidak terhirup oleh praktikan.
Karena uap filtrat asam oksalat bersifat toxic dan dapat
meracuni praktikan jika terhirup. Panas dari kompor listrik
harus diperhatikan agar tidak menyebabkan luka bakar pada
kulit. Dan listrik sebagai sumber tenaga dari kompor listrik.
Dalam pemakaian nya harus berhati hati karena jika tersengat
listrik dapat membahayakan praktikan.
Hazard dari bahan kimia yang digunakan pada percobaan
ini antara lain :
a. Asam oksalat kotor
Asam oksalat bersifat iritan jika terkena mata, kulit,
tertelan atau terhirup. Bersifat sedikit korosif jika
terkena mata dan kulit. Dan bersifat toxic, sehingga
dapat meracuni jika tertelan atau terhirup. Serta asam
oksalat dapat meledak pada suhu tinggi.
b. Asam oksalat pro analitis
Asam oksalat pro analitis bersifat iritan jika terkena
mata, kulit, tertelan atau terhirup. Bersifat sedikit
korosif jika terkena mata dan kulit. Bersifat toxic dan
dapat meledak pada suhu tinggi.
c. Larutan HCl XN
Larutan HCl XN bersifat iritan jika terkena mata, kulit,
tertelan atau terhitup. Bersifat korosif jika terkena kulit
dan mata, bersifat non-flammable, toxic, noncombustible dan reaktif terhadap air.
d. Larutan NaOH YN
Larutan NaOH YN bersifat iritan jika terkena mata,
kulit, tertelan atau terhirup. Bersifat korosif jika
terkena mata dan kulit. Bersifat non-flammable, toxic,
reaktif terhadap logam, dan higroskopis.
e. Boraks

Boraks bersifat iritan jika terkena mata dan kulit.


Bersifat non-flammable, non-combustible, dan nonreactive.
f. Aquadest
Aquadest bersifat non-corrosive, non-irritant, nonflammable, non-combustible, dan non-reactive.
g. Indikator Phenolphthalein
Indikator Phenolphthalein bersifat iritan jika terkena
mata, kulit, dan tertelan. Bersifat non-corrosive,
flammable, non-corrosive, non-toxic, non-reactive.
h. Indikator methyl orange
Indikator methyl orange bersifat iritan jika terkena
mata, kulit, tertelan dan terhirup. Dapat meladak pada
suhu tinggi, bersifat toxic, non-corrosive, dan nonreactive.
B. Penggunaan Alat Pelindung Diri
Alat pelindung diri yang dipakai selama percobaan ini
adalah :
1. Jas Laboratorium lengan panjang
Jas laboratorium digunakan untuk melindungi tubuh dari
kemungkinan terpapar bahan bahan kimia.
2. Masker
Masker melindungi hidung dan sistem pernafasan dari
kemungkinan terhirup bahan bahankimia berbahaya dan
melindungi mulut agar bahan kimia tidak tertelan.
3. Sarung tangan karet
Sarung tangan karet melindungi kulit dan tangan dari bahaya
terpapar bahan kimia berbahaya.
4. Goggles
Goggles melindungi mata dari kemungkinan terkena bahan
bahan kimia berbahaya.
5. Sepatu tertutup dan kaos kaki
Sepatu tertutup dan kaos kaki melindungi kaki dari
kemungkinan terkena bahan bahan kimia berbahaya.
C. Manajemen Limbah

Limbah yang dihasilkan dari percobaan ini adalah :


1. Limbah hasil standardisasi larutan HCl XN dengan boraks
dibuang ke limbah halogen.
Titrasi keI
II
III

Berat Boraks (gram)


0,2004
0,2043
0,2016

Volume HCl (mL)


10,4
10,3
10,4

2. Limbah HCL XN sisa dikembalikan ke botol penyimpanan


larutan HXl XN.
3. Limbah hasil standardisasi larutan NaOH YN dengan larutan
HCl XN dibuang ke limbah halogen.
4. Limbah hasil titrasi larutan asam oksalat kotor dengan larutan
NaOH YN dibuang ke limbah basa.
5. Limbah hasil titrasi larutan asam oksalat pro analitis dengan
larutan NaOH YN dibuang ke limbah basa.
6. Limbah hasil titrasi larutan asam oksalat hasil pemurnian
dengan larutan NaOH YN dibuang ke limbah basa.
7. Larutan NaOH YN sisa dikembalikan ke botol penyimpanan
larutan NaOH YN.
8. Larutan asam oksalat kotor sisa dibuang ke limbah asam.
9. Larutan asam oksalat pro analitis sisa dibuang ke limbah asam.
10. Limbah kertas saring dengan kristal asam oksalat disimpan
dalam gelas beker yang telah disediakan.
D. Data Percobaan
a. Standardisasi larutan HCl XN
Volume larutan boraks : 25 mL
Daftar I. Data Standardisasi Larutan HCl XN dengan Larutan Borak

b. Standardisasi Larutan NaOH YN


Daftar II. Data Standardisasi Larutan NaOH YN dengan
Larutan HCl XN

Titrasi keI
II
III

Volume H2C2O4.2H2O(mL)
5
5
5

Volume NaOH (mL)


10,1
10,2
10

c. Penentuan Kemurnian Asam Oksalat Kotor


Berat asam oksalat kotor : 1,0118 gram
Volume Larutan
: 50 mL
Daftar III. Data Hasil Titrasi Larutan Asam Oksalat dengan
Larutan NaOH YN

Titrasi keI
II
III

Volume H2C2O4.2H2O (mL)


5
5
5

Volume NaOH (mL)


15,6
15,5
15,5

d. Penentuan Kemurnian Asam Oksalat Hasil Pemurnian


Berat asam oksalat hasil pemurnian : 1,0106 gram
Volume larutan
: 50 mL
Daftar IV. Data Hasil Titrasi Larutan Asam Oksalat Akhir
dengan Larutan NaOH YN

e. Penentuan Kemurnian Asam Pro Analitis

Berat asam oksalat pro analitis


Volume larutan

: 1,0130 gram
: 50 mL

Daftar V. Data Hasil Titrasi Larutan Asam Oksalat Akhir


dengan Larutan NaOH YN

Titrasi keI
II
III

Volume H2C2O4.2H2O (mL)


5
5
5

Volume NaOH (mL)


16,2
16
16

E. Perhitungan
a. Penetuan Normalitas larutan HCl XN
1. Penetuan normalitas larutan HCl XN.
Normalitas larutan HCl XN dihitung menggunakan
persamaan (4) sehingga diperoleh hasil sebagai berikut :
2 x 2,0004 gram
N HCl 1=
=0,1011 N
g
3
382
x ( 10,4 x 10 ) L
mol
N HCl 1=

N HCl 1=

2 x 2,043 gram
=0,1040 N
g
3
382
x ( 10,3 x 10 ) L
mol
2 x 2,016 gram
=0,1017 N
g
3
382
x ( 10,4 x 10 ) L
mol

2. Penentuan normalitas larutan HCl XN rata rata.


Normalitas larutan HCl XN rata rata dihitung
menggunakan persamaan (5) sehingga diperoleh hasil
sebagai berikut :
N HCl =

(0,1011+ 0,1040+0,1017)N
=0,1022 N
3

b. Penentuan Normalitas larutan NaOH YN


1. Penentuan normalitas larutan NaOH YN.
Normalitas larutan NaOH YN dihitung menggunakan
persamaan (6) sehingga diperoleh hasil sebagai berikut :
N NaOH 1=

10,2 mL x 0,1022 N
=0,1043 N
10 mL

N NaOH 2=

10,2 mL x 0,1022 N
=0,1043 N
10 mL

N NaOH 3 =

10,2 mL x 0,1022 N
=0,1043 N
10 mL

2. Penentuan normalitas larutan NaOH YN rata rata


Normalitas larutan NaOH YN rata rata dihitung
menggunakan persamaan (7) sehingga diperoleh hasil
sebagai berikut :
N NaOH =

0,1043 N +0,1043 N +0,1043 N


=0,1043 N
3

c. Penentuan Kadar Asam Oksalat


1. Penentuan normalitas teoritis asam oksalat
Normalitas teoritis asam oksalat dihitung menggunakan
persamaan (8) sehingga diperoleh hasil sebagai berikut :
N as .teo=

1,0079 gram x 2
=0,3200 N
g
126
x ( 50 x 103 ) L
mol

2. Penentuan normalitas asam oksalat hasil titrasi

Normalitas asam oksalat hasil titrasi dihitung menggunakan


persamaan (9) sehingga diperoleh hasil sebagai berikut :
Normalitas asam oksalat kotor

N as .kotor 1=

10,1mL x 0,1043 N
=0,2107 N
5 mL

N as .kotor 2=

10,2mL x 0,1043 N
=0,2127 N
5 mL

N as .kotor 3=

10 mL x 0,1043 N
=0,2086 N
5 mL

Normalitas asam oksalat hasil pemurnian


N as .hasil pemurnian 1=

15,6 mL x 0,1043 N
=0,3254 N
5 mL

N as .hasil pemurnian 2=

15,5 mL x 0,1043 N
=0,3233 N
5 mL

N as .hasil pemurnian 3=

15,5 mL x 0,1043 N
=0,3233 N
5 mL

Normalitas asam oksalat pro analitis


N as . pa 1=

16,2mL x 0,1043 N
=0,3379 N
5 mL

N as . pa 2=

16 mL x 0,1043 N
=0,3337 N
5 mL

N as . pa 3=

16 mL x 0,1043 N
=0,3337 N
5 mL

Normalitas asam oksalat hasil titrasi rata rata


dihitung menggunakan persamaan (10) sehingga
diperoleh hasil sebagai berikut :
N as .kotor =

0,2107 N +0,2127 N +0,2086 N


=0,2107 N
3

N hasil pemurnian =

N as . pa=

0,3254 N +0,3233 N + 0,3233 N


=0,2107 N
3

0,0,3379 N + 0,3337 N +0,3337 N


=0,3351 N
3

3. Penentuan kadar asam oksalat


Kadar asam oksalat kotor

dihitung

menggunakan

persamaan (11) sehingga diperoleh hasil sebagai berikut :


K as .kotor =

0,2107 N
x 100 =62,8631
0,3351 N

Kadar asam oksalat hasil pemurnian dihitung menggunakan


persamaan (12)
K as .kotor =

0,3240 N
x 100 =96,6805
0,3351 N