Anda di halaman 1dari 9

Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan ITB

POLA KEBERLANJUTAN PRINSIP TRI HITA KARANA DALAM


PENGELOLAAN SUMBERDAYA AIR UNTUK PERTANIAN BERBASIS
SUBAK DI KAWASAN PERKOTAAN
(Studi Kasus : Subak Ayung, Subak Gaji, Subak Seminyak, Kabupaten Badung, Provinsi
Bali)
Komang Elva Equitari

(1)

, Suhirman, Drs, SH, MT., Dr. (2)

(1)

Perencanaan Wilayah dan Kota, Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK), ITB.
Kelompok Pembangunan dan Pengembangan Kebijakan, Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan
(SAPPK), ITB.
(2)

Abstrak
Sistem irigasi subak di Bali adalah salah satu bentuk sistem irigasi berbasis masyarakat dimana
peran kearifan lokal berupa konsep Tri Hita Karana sangat berpengaruh di dalamnya. Namun
keberlanjutan prinsip Tri Hita Karana yang melandasi keberlanjutan subak di Bali saat ini pun
menghadapi tantangan terutama di perkotaan dimana terjadi perubahan kondisi fisik, sosial dan
ekonomi di wilayah subak tersebut berada. Tesis ini menemukenali pola keberlanjutan prinsip Tri
Hita Karana dengan melihat keberlanjutan komponen parahyangan, pawongan dan palemahan yang
dijabarkan dalam 14 kriteria dan indikator yang lebih operasional. Kriteria dan indikator tersebut
kemudian digunakan untuk melihat fenomena di 3 (tiga) lokasi studi kasus, yaitu : Subak Ayung,
Subak Gaji dan Subak Seminyak. Hasil penelitian ini menunjukan keberlanjutan prinsip Tri Hita
Karana di masing-masing studi kasus, jika dikaitkan dengan karakteristik perkotaan di masingmasing studi kasus diperoleh 3 (tiga) pola yaitu: (1) keberlanjutan komponen parahyangan
dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi dan sosial perkotaan; (2) keberlanjutan komponen
palemahan dipengaruhi oleh perkembangan komponen fisik, sosial dan ekonomi perkotaan; (3)
keberlanjutan komponen pawongan paling dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi perkotaan.
Kata-kunci : keberlanjutan, subak, kawasan perkotaan, Tri Hita Karana

Pengantar
Sistem irigasi subak di Bali salah satu bentuk
sistem irigasi masyarakat dimana peran kearifan
lokal sangat berpengaruh di dalamnya. Subak
sebagai lembaga irigasi petani tradisional
diperkirakan sudah ada di Bali kurang lebih
sejak seratus tahun yang lalu. Agama Hindu
yang berkembang di Bali saat itu yang memiliki
konsep Tri Hita Karana yang kemudian dijadikan
sebagai asas dan diterapkan pada sistem subak
dalam penyediaan dan pengelolaan air untuk
kegiatan pertanian. Namun keberlanjutan
prinsip Tri Hita Karana yang melandasi
keberlanjutan subak di Bali saat ini pun
menghadapi tantangan terutama di perkotaan

dimana terjadi perubahan kondisi fisik, sosial


dan ekonomi di wilayah subak tersebut berada
Sistem irigasi adalah usaha penyediaan,
pengaturan dan pembuangan air irigasi untuk
menunjang pertanian yang jenisnya meliputi
irigasi permukaan, irigasi rawa, irigasi air bawah
tanah, irigasi pompa dan irigasi tambak (PP No.
20/2006
tentang
Irigasi).
Berdasarkan
bentuknya, sistem irigasi dibagi dalam dua jenis
yaitu sistem birokrasi dan sistem masyarakat
(Tang, 1991). Dalam sistem irigasi birokrasi,
sumber air diatur oleh sebuah badan
pemerintah nasional atau regional. Sedangkan
dalam sistem masyarakat, sumber air diatur oleh
salah satu organisasi komunal atau asosiasi
irigasi. Namun perkembangannya menunjukan
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota 2 SAPPK No.1 | 1

Pola Keberlanjutan Prinsip Tri Hita Karana dalam Pengelolaan Sumberdaya Air berbasis Subak di Kawasan Perkotaan

sistem irigasi masyarakat dianggap lebih efektif


dalam
pengelolaan
sumberdaya
air
dibandingkan dengan sistem irigasi birokrasi
yang pada umumnya menyediakan aturan yang
seragam tanpa memperhatikan kondisi fisik dan
sosial setempat.
Peran kearifan lokal masyarakat Hindu Bali
berupa Konsep Tri Hita Karana dijadikan
falsafah dalam berjalannya sistem subak ini.
Konsep
ini
artinya
dalam
mencapai
kesejahteraan hidup perlu adanya harmonisasi
antara tiga komponen meliputi komponen
parahyangan, komponen palemahan dan
komponen pawongan. Komponen parahyangan
diartikan terjadinya keharmonisan hubungan
antara manusia dengan Tuhan YME. Komponen
palemahan diartikan keharmonisan hubungan
manusia dengan alam. Sedangkan komponen
pawongan diartikan keharmonisan antara
manusia dengan manusianya (Sutawan, 2008).
Sistem subak sudah ada di Provinsi Bali sekitar
100 tahun yang lalu. Saat ini beberapa kawasan
telah berkembang menjadi kawasan perkotaan
dan ditetapkan sebagai kawasan metropolitan
SARBAGITA.
Kawasan
perkotaan
adalah
kawasan yang mempunyai kegiatan utama
bukan pertanian dengan susunan fungsi
kawasan
sebagai
tempat
permukiman
perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan
jasa pemerintahan, pelayanan sosoial dan
kegiatan ekonomi (UU 26/2007 tentang
Penataan Ruang). Perkembangan kawasan
perkotaan ini akan menyebabkan perubahan
karakteristik wilayah, terkait dengan komponen
fisik, sosial dan ekonominya. Hal ini akan
berpengaruh pada eksistensi kegiatan pertanian
secara umum dan pengelolaan sumberdaya air
untuk pertanian yang berbasis subak secara
khusus.
Subak sangat berperan dalam pengelolaan
sumberdaya air untuk pertanian khususnya dan
perekonomian di Provinsi Bali secara umum.
Maka keberlanjutan sistem subak ini perlu
dijaga. Keberlanjutan sistem subak itu sendiri
perlu dianalisis sesuai konteks Tri Hita Karana,
karena konsep Tri Hita Karana ini yang selama
ini mempengaruhi keberlanjutan sistem subak.
2 | Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota 2 SAPPK No.1

Oleh karena itu perlu diketahui keberlanjutan


konsep Tri Hita Karana di masing-masing subak
terkait, dalam konteks perkembangan kawasan
perkotaan agar sistem subak dapat terus
keberlanjutan yang akan menjamin pengelolaan
sumberdaya air untuk pertanian secara efektif
dan sesuai dengan tujuan pembangunan.
Metode
Jenis penelitian yang digunakan untuk melihat
pola keberlanjutan prinsip Tri Hita Karana dalam
pengelolaan sumberdaya air berbasis subak di
kawasan perkotaan adalah penelitian kualitatif
eksploratori. Jenis penelitian ini dipilih karena
penelitian ini masih dalam tahap memaparkan
keterangan, informasi, data untuk menjelaskan
fenomena pola keberlanjutan prinsip Tri Hita
Karana dalam pengelolaan sumberdaya air
berbasis
subak
di
kawasan
perkotaan.
Pendekatan penelitian kualitatif eksploratori
yang dianggap sesuai dengan penelitian ini
adalah metode studi kasus (case study). Lokasi
penelitian
ditetapkan
secara
purposive
berdasarkan kriteria, yakni subak yang berada
dalam kawasan perkotaan dengan fungsi
kawasan sebagai kawasan inti, pinggiran dan
desa-kota. Maka studi kasus yang dipilih adalah
Subak Ayung, Subak Gaji dan Subak Seminyak
Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan
adalah metode survei melalui wawancara semi
terstruktur kepada informan kunci. Daftar
pertanyaan
wawancara
semi
terstruktur
dibangun berdasarkan kriteria dan indikator
yang telah disusun untuk menemukenali pola
keberlanjutan prinsip Tri Hita Karana dalam
pengelolaan sumberdaya air berbasis subak di
kawasan perkotaan
Metode Analisis Data
Metode analisis data yang digunakan untuk
memaknai hasil wawancara adalah metoda
analisis isi (content analysis). Analisis isi secara
sederhana diartikan sebagai metode untuk
mengumpulkan dan menganalisis muatan dari
sebuah teks. Teks dapat berupa kata-kata,
makna gambar, simbol, gagasan, tema dan

Komang Elva Equitari

bermacam
bentuk
pesan
yang
dapat
dikomunikasikan.
Analisis
isi
berusaha
memahami data bukan sebagai kumpulan
peristiwa fisik, tetapi sebagai gejala simbolik
untuk mengungkap makna yang terkadang
dalam
sebuah
teks,
dan
memperoleh
pemahaman
terhadap
pesan
yang
direpresentasikan (Bell, 2001).

Diskusi
1.

tersedianya mekanisme sanksi. Keberlanjutan

prinsip Tri Hita Karana Subak Ayung secara


rinci, seperti dalam Tabel 1 berikut :
Tabel 1. Keberlanjutan Prinsip Tri Hita Karana di
Subak Ayung
Parahyangan
Pawongan
Palemahan
Upacara/ritual
tetap
terlaksana
tetap
terlaksana
sesuai awigawig2

wujud fisik
masih
bertahan
ditunjang
pula oleh
adanya
instrumen
pengendalian
lahan

Peran prajuru3
subak sangat
penting untuk
menjaga
keberlanjutan
ritual ini

pola
pengaturan
pengelolaan
usaha tani
dan
pengaturan
air masih
dilakukan
secara
bersama

Keberadaan
Pura tetap
dihormati dan
dipelihari oleh
krama
tercemin dari
partisipasi dan
frekuensi ritual
yang
dilaksanakan di
pura tesebut

Produktivitas
diatas ratarata
produktivitas
di Kab.
Badung

Petani penggarap
sebagian besar
merupakan
pemilik lahan

Pemanfaatan
lahan untuk
bertani
dengan
tingkat alih
fungsi lahan
ke kegiatan
non
pertanian 0%
Ketersediaan
air
mencukupi
kebutuhan
krama

Partisipasi warga
dalam kegiatan
perencanaan,
pengawasan dan
pemeliharaan
cukup tinggi
dibandingkan
dengan kawasan
lainnya.
Terdapat sistem
sanksi dan
reward guna
meningkatkan
partisipasi
anggota.

Subak Ayung

Subak Ayung secara administratif terletak di


Desa Buduk. Dalam konteks perkotaan
Metropolitan Sarbagita, Desa Buduk termasuk
kawasan perkotaan. Namun dari kriteria
perkotaan yang dimiliki masih menunjukan Desa
ini masih bersifat pedesaan. Ketersediaan
komponen fisik perkotaan belum sepenuhnya
dimiliki dan kegiatan utama perekonomian
masih didominasi kegiatan pertanian. Kegiatan
pertanian di Desa Buduk masih terjaga
keberlanjutannya karena selama ini belum
terjadi alih fungsi lahan pertanian. Namun
komponen sosial menunjukan kepadatan
penduduk mulai meningkat dan mulai terjadi
fenomena migrasi
Hasil
analisis
menunjukan
komponen
parahyangan tetap berkelanjutan dan tetap
menjadi pedoman dalam pengelolaan pertanian
yang
dipercaya
sebagai
usaha
dalam
peningkatan kesejahteraan bersama krama1
subak. Komponen palemahan di Subak Ayung
menunjukan
masih
berkelanjutan,
hal
disebabkan wujud fisik sawah masih lestari dan
tidak terjadi alih fungsi lahan. Selain itu
keberlanjutan dapat dilihat perwujudan keadilan
dalam pemenuhan kebutuhan dasar. Hal ini
dilakukan dengan pengelolaan bersama usaha
tani guna mencapai kesejahteraan bersama.
Keberlanjutan komponen pawongan di Subak
Ayung pun masih berjalan dengan baik. Hal ini
ditunjukan dengan masih jelasnya batas
keanggotaan, pengaturan yang sesuai dengan
kondisi setempat, krama subak masih dapat
dipengaruhi oleh pengaturan yang sama, dan

Sistem
keanggotaan
jelas walaupun
saat ini
menunjukan tidak
ada lagi syarat
minimal yang
dibutuhkan untuk
menjadi anggota
subak
Proporsi
keanggotaannya
menunjukan
anggota aktif
lebih banyak dari
anggota pasif.

Sumber dana :
internal dan
eksternal

Sumber : Hasil Analisis, 2013

Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota 2 SAPPK No.1 | 3

Pola Keberlanjutan Prinsip Tri Hita Karana dalam Pengelolaan Sumberdaya Air berbasis Subak di Kawasan Perkotaan

2.

Subak Gaji

Subak Gaji secara administratif terletak di Desa


Dalung. Dalam konteks perkotaan Metropolitan
Sarbagita, Desa Dalung termasuk kawasan
perkotaan.
Desa
Dalung
menunjukan
perkembangan yang pesat, hal ini dapat dilihat
dalam
pemenuhan
kriteria
perkotaan.
Ketersediaan fasilitas perkotaan cukup lengkap
mengingat Desa Dalung menjadi salah satu
pusat permukiman di Kabupaten Badung.
Komponen sosial menunjukan kepadatan
penduduk mulai meningkat dan mulai terjadi
fenomena migrasi yang cukup tinggi. Sedangkan
komponen ekonomi menunjukan kegiatan
ekonomi tidak lagi didominasi oleh pertanian
Hasil
analisis
menunjukan
komponen
parahyangan
mulai
mengalami
ancaman
berkelanjutan namun sebagaian besar krama
masih menjadikan komponen parahyangan
sebagai pedoman dalam pengelolaan pertanian.
Sedangkan komponen palemahan di Subak Gaji
mulai
terancam
keberlanjutannya,
hal
disebabkan wujud fisik sawah mulai berkurang
akibat alih fungsi lahan pertanian menjadi
kegiatan budidaya non pertanian. Namun untuk
tetap berkelanjutan dilakukan penyesuaian
dengan situasi dan kondisi setempat seperti
ketidakseragaman pola usaha tani. Sedangkan
keberlanjutan komponen pawongan di Subak
Gaji masih berjalan dengan baik. Hal ini
ditunjukan dengan masih jelasnya batas
keanggotaan, pengaturan yang disesuaikan
dengan kondisi setempat, krama subak masih
dapat dipengaruhi oleh pengaturan yang sama,
dan
tersedianya
mekanisme
sanksi.

Tabel 2. Keberlanjutan Prinsip Tri Hita Karana di


Subak Gaji
Parahyangan
Upacara/ritual
tetap
terlaksana
namun karena
pelaksanaan
upacara/ritual
meliputi jenis
ritual dan
penanggung
jawab mulai
menurun
walaupun
secara umum
upacara yang
dilakukan dari
awal tahapan
hingga akhir
cukup lengkap.
Peran prajuru
subak sangat
penting untuk
menjaga
keberlanjutan
ritual ini

Pawongan
Dilakukan
usaha-usaha
yang tidak
sesuai dengan
awig-awig
subak gaji
namun tetap
berdasarkan
kesepakatan
bersama seperti
sistem pola
tanam yang
bervariasi guna
meningkatkan
kesejahteraan
bersama

Palemahan
Sistem
keanggotaan
jelas walaupun
saat ini
menunjukan
tidak ada lagi
syarat minimal
yang
dibutuhkan
untuk menjadi
anggota subak.

Produktivitas
hampir sama
dengan ratarata
produktivitas di
Kab. Badung

Proporsi
keanggotaannya
menunjukan
anggota aktif
lebih banyak
dari anggota
pasif.

Keberadaan
Pura tetap
dihormati dan
dipelihari oleh
krama
tercemin dari
partisipasi dan
frekuensi ritual
yang
dilaksanakan di
pura tesebut.

Alih fungsi
lahan pertanian
sebesar
34,16%

Partisipasi
warga dalam
kegiatan
perencanaan,
pengawasan
dan
pemeliharaan
menurun

Diberlakukan
sistem sanksi
sebagai
mekanisme
menjaga
partisipasi
anggota dalam
kegiatan subak.

Keberlanjutan prinsip Tri Hita Karana Subak


Gaji secara rinci, seperti dalam Tabel 2
berikut.
3.

Subak Seminyak

Subak Seminyak secara administratif terletak di


Kelurahan Seminyak. Dalam konteks perkotaan
Metropolitan Sarbagita, Kelurahan Seminyak
ditetapkan sebagai kawasan inti. Secara fisik
Kelurahan Seminyak menunjukan ketersediaan
fasilitas perkotaan yang lengkap.
4 | Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota 2 SAPPK No.1

Sumber dana :
internal dan
eksternal

Sumber: Hasil Analisis, 2013

Komponen sosial menunjukan kepadatan


penduduk sedang dan mulai terjadi fenomena
migrasi keluar. Sedangkan komponen ekonomi
menunjukan kegiatan ekonomi tidak lagi
didominasi oleh pertanian melainkan didominasi
oleh kegiatan pariwisata.

Komang Elva Equitari

Hasil
analisis
menunjukan
keberlanjutan
komponen parahyangan di Subak Seminyak
sudah terancam dan tidak lagi menjadi pedoman
utama
dalam
pengelolaan
kehidupan
masyarakat setempat sebagai dampak dari
hilangnya wujud fisik pertanian berupa sawah.
Komponen palemahan di Subak Seminyak pun
terancam keberlanjutannya, hal disebabkan
wujud fisik sawah mulai berkurang akibat alih
fungsi lahan pertanian menjadi kegiatan
budidaya non pertanian dan saat ini tidak ada
lagi pengaturan bersama terkait dengan usaha
pengelolaan padi. Keberlanjutan komponen
pawongan di Subak Seminyak ini pun terancam
karena sudah tidak ada lagi aturan yang
mengikat anggota didalamnya, partisipasi
anggota dalam kegiatan subak menurun, tidak
ada mekanisme sanksi dan pendanaan
kelembagaan tergantung dari dana eksternal.

Keberlanjutan prinsip Tri Hita Karana Subak


Seminyak secara rinci, seperti dalam Tabel 3
berikut.
Tabel 3. Keberlanjutan Prinsip Tri Hita Karana di
Subak Seminyak
Parahyangan
Upacara/ritual
tetap terlaksana
namun
dibeberapa sisi
keberlanjutannya
mulai terancam
karena
pelaksanaan
upacara/ritual
meliputi jenis,
dan penanggung
jawab tidak
dilakukan secara
keseluruhan
sesuai dengan
keyakinan
masyarakat
setempat yang
tercantum dalam
awig-awig subak
seminyak.
Pelaksanaan
ritual menjadi
tanggung jawab
pengurus subak

Pawongan
Ketersediaan
lahan
pertanian di
subak ini
menipis
akibat laju
alih fungsi
lahan yang
tinggi

Usaha-usaha
bersama
terkait
penentuan
pola tanam
sudah tidak
dilaksanakan
lagi

Palemahan
Sistem
keanggotaan
jelas walaupun
saat ini
menunjukan
tidak ada lagi
syarat minimal
yang
dibutuhkan
untuk menjadi
anggota subak.

Proporsi
keanggotaannya
menunjukan
anggota pasif
lebih banyak
dari anggota
aktif.

Lanjutan
Parahyangan
berkurangnya
jumlah krama
subak dan
berkurangnya
areal sawah
yang
menyebabkan
terdapat pura
yang statusnya
dihapuskan

Pawongan
Produktivitas
dibawah ratarata
produktivitas di
Kab. Badung

Palemahan
Mengalami
penurunan baik
itu pada tahap
perencanaan,
pengawasan
dan
pengendalian.

Alih fungsi
lahan pertanian
sebesar 93,7%

Tidak ada
mekanisme
sanksi yang
dijalankan jika
terjadi
pelanggaran
terhadap awigawig

Ketersediaan
air mencukupi
kebutuhan
krama
Sumber : Hasil Analisis, 2013

Sumber dana :
eksternal

Perkembangan fisik, sosial dan ekonomi


perkotaan mempengaruhi keberlanjutan prinsip
Tri Hita Karana secara langsung maupun tidak
langsung. Berdasarkan keterkaitan karakteristik
di studi kasus dan keberlanjutan pinsip Tri Hita
Karana di masing-masing studi kasus dalam
tabel diatas maka secara umum keberlanjutan
prinsip Tri Hita Karana dalam subak di kawasan
perkotaan seperti dalam Tabel 4 berikut.

Kesimpulan
Sistem subak merupakan bentuk kearifan lokal
masyarakat
Bali
dalam
mengolah
dan
mendistribusikan
sumberdaya
air
untuk
pertanian. Maka keberlanjutan sistem subak
dikaji berdasarkan keberlanjutan kearifan lokal
tersebut. Berdasarkan kajian literatur, penelitian
ini menghasilkan 3 komponen yang kemudian
diturunkan dalam 14 aspek yang dapat
digunakan untuk mengetahui keberlanjutan
subak. Komponen pertama adalah keberlanjutan
komponen parahyangan yang terdiri dari aspek
(1)
Keberlanjutan
Pelaksanaan
Upacara/Kegiatan Ritual Keagamaan; dan

Sumber : Hasil Analisis, 2013


Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota 2 SAPPK No.1 | 5

Pola Keberlanjutan Prinsip Tri Hita Karana dalam Pengelolaan Sumberdaya Air berbasis Subak di Kawasan Perkotaan

Tabel 4. Pola Keberlanjutan Prinsip Tri Hita Karana dalam Subak di Kawasan Perkotaan
Karakteristik
Perkotaan
Peningkatan
ketersediaan Fisik
perkotaan

Keberlanjutan Prinsip Tri Hita Karana


Parahyangan
Palemahan
Ketersedian fisik
fisik perkotaan akan

perkotaan tidak
menjadi penunjang
berpengaruh
pertumbuhan wilayah
keberlanjutan secara
sehingga kebutuhan
langsung terhadap
lahan non pertaniaan
keberlanjutan
akan meningkat dan
komponen
memicu alih fungsi
parahyangan.
lahan pertanian. Hal ini

menunjukan semakin
Jika komponen
tinggi ketersediaan fisik
palemahan dan
perkotaan maka
pawongannya
semakin tinggi ancaman
terancam maka
terhadap komponen
komponen
palemahan
parahyangan ini akan
terancam
keberlanjutannya
Perubahan sosial
kependudukan tidak
berpengaruh langsung
pada keberlanjutan
komponen
parahyangan

Perubahan Sosial

Jika komponen
palemahan dan
pawongannya
terancam maka
komponen
parahyangan ini akan
terancam
keberlanjutannya
Perubahan ekonomi
perkotaan akan
berpengaruh pada
komponen
parahyangan

Perubahan Ekonomi

Perubahan ekonomi
masyarakat perkotaan
menjadi dominasi di
sektor non pertanian
menyebabkan
kegiatan yang
berkaitan dengan
permohonan
kelestarian usaha tani
mulai menurun

Sumber : Hasil Analisis, 2013

6 | Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota 2 SAPPK No.1

Pawongan
Ketersedian fisik
perkotaan tidak
berpengaruh
langsung terhadap
keberlanjutan
komponen
pawongan.
Namun apabila
komponen
palemahan terancam
akan mempengaruhi
pengelolaan
kelembagaan subak

Perubahan sosial
perkotaan akan
berpengaruh pada
komponen palemahan

Perubahan sosial
perkotaan akan
berpengaruh pada
komponen pawongan

Peningkatan jumlah dan


migrasi penduduk
menyebabkan
kebutuhan lahan
semakin meningkat
yang secara langsung
menyebabkan alih
fungsi lahan pertanian

perubahan sosial
kependudukan
berpengaruh pada
perilaku masyarakat
perkotaan. hal ini
akan mempengaruhi
pengelolaan
kelembagaan subak

Perubahan ekonomi
perkotaan akan
berpengaruh pada
komponen palemahan

Perubahan ekonomi
perkotaan akan
berpengaruh pada
komponen pawongan

Penggunaan lahan
sebagai pertanian sudah
tidak lagi bernilai
ekonomis maka akan
memicu alih fungsi
lahan pertanian

Kegiatan pertanian
bukan lagi penggerak
utama
perekonomian. Hal
ini dapat
mempengaruhi
perilaku krama subak
yang kemudian
berpengaruh kepada
keterlibatan krama
dalam organisasi dan
pengaturanpengaturan
didalamnya

Komang Elva Equitari

(2)
Keberlanjutan
Keberadaan
Artefak/Kebendaan Penunjang Upacara/Ritual
Keagamaan.
Komponen
kedua
adalah
keberlanjutan komponen palemahan yang terdiri
dari aspek : (1) Keberlanjutan Pengelolaan
Usaha Tani; (2) Tingkat Produktivitas; (3)
Pemanfaatan Lahan; dan (4) Pemanfaatan
Sumberdaya. Sedangkan komponen ketiga
adalah keberlanjutan komponen pawongan yang
terdiri dari aspek : (1) Jangka Waktu Organisasi;
(2) Sistem Keanggotaan Subak; (3) Hak atas air;
(4) Partisipasi anggota dalam perencanaan; (5)
Partisipasi anggota dalam pengawasan; (6)
Partisipasi anggota dalam pengendalian; (7)
Sanksi; dan (8) Mobilitas Sumber Dana.
Kemudian aspek-aspek tersebut diturunkan
dalam kriteria dan indikator yang lebih
operasional untuk melihat pola keberlanjutan
prinsip Tri Hita Karana dalam
pengelolaan
sumberdaya air untuk pertanian berbasis subak
di kawasan perkotaan.
Dalam konteks perkotaan, perkembangan fisik,
sosial
dan
ekonomi
mempengaruhi
keberlanjutan prinsip Tri Hita Karana secara
langsung maupun tidak langsung dalam
pengelolaan sumberdaya air untuk pertanian
berbasis subak. Terdapat 3 (tiga) pola, yaitu :
1.

dalam
konteks
kawasan
perkotaan,
keberlanjutan komponen parahyangan
dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi.
Kota sebagai aglomerasi kegiatan ekonomi
ditandai oleh rendahnya rumah tangga
pertanian dan tingginya alih fungsi lahan
pertanian. Perkembangan ekonomi ini
menyebabkan kegiatan pertanian tidak lagi
menjadi
mata
pencaharian
utama.
Keberlanjutan komponen parahyangan
pada prinsipnya merupakan berlanjutnya
wujud rasa terima terima kasih dan
permohonan kepada Tuhan YME terkait
kegiatan
pertanian
melalui
ritual
keagamaan dan kebendaan. Temuan studi
menunjukan semakin ke inti kota, kegiatan
pertanian cenderung menjadi kegiatan
sampingan bagi masyarakat setempat. Hal
ini menunjukan orientasi ekonomi
ini
mempengaruhi keberlanjutan pelaksanaan
ritual dan keberlanjutan keberadaan

kebendaan di kawasan perkotaan. Selain


perkembangan ekonomi, perubahan sosial
masyarakat
perkoataan
juga
mempengaruhi keberlanjutan komponen
parahyangan. Temuan studi menunjukan
pertumbuhan penduduk dan migrasi
menyebabkan ketersediaan tenaga kerja di
sektor pertanian meningkat.
Karena
aspek
ekonomi
perkotaan
sudah
menunjukan pertanian bukanlah mata
pencaharian
utama,
maka
terdapat
kecenderungan memperkerjakan petani
pendatang yang bukan beragama Hindu.
Hal
ini
menyebabkan
keberlanjutan
pelaksanaan
ritual
keagamaan
dan
pemeliharaan kebendaan oleh petani
penggarap tersebut tidak bisa dilakukan
dan dipaksakan. Sedangkan perkembangan
ketersediaan
fisik
perkotaan
tidak
berpengaruh langsung pada komponen
parahyangan.
2.

dalam konteks perkotaan, keberlanjutan


komponen palemahan dipengaruhi oleh
perkembangan komponen fisik, sosial dan
ekonomi perkotaan. Ketiga komponen ini
menyebabkan meningkatnya kebutuhan
akan lahan dan harga lahan. Hal ini
memicu alih fungsi lahan pertanian
menjadi kegiatan budidaya non pertanian.
Keberlanjutan komponen palemahan dapat
dilihat pula dalam keberlanjutan usaha
tani. Semakin tinggi alih fungsi lahan
akibat perkembangan fisik, sosial, dan
ekonomi perkotaan, maka semakin sulit
pola usaha tani dilakukan secara seragam.
Hal ini berpengaruh produktivitas padi,
temuan
studi
menunjukan
terjadi
penurunan produktivitas jika pola usaha
tani tidak dilakukan secara seragam sesuai
kesepakatan bersama.

3.

dalam konteks perkotaan, keberlanjutan


komponen pawongan dipaling dipengaruhi
oleh
perkembangan
ekonomi.
Perkembangan ekonomi ini menyebabkan
kegiatan pertanian tidak lagi menjadi mata
pencaharian
utama.
Temuan
studi
menunjukan
perkembangan
ekonomi
menyebabkan terjadi perbedaan tujuan
para anggota krama subak. Perbedaan
tujuan ini yang mempengaruhi ketaatan
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota 2 SAPPK No.1 | 7

Pola Keberlanjutan Prinsip Tri Hita Karana dalam Pengelolaan Sumberdaya Air berbasis Subak di Kawasan Perkotaan

pada aturan, dan keterlibatan dalam


perencananaan,
pengawasan
dan
pengendalian. Hal ini akan mempengaruhi
keberlanjutan lembaga subak karena
fungsi-fungsi yang dijalani lembaga ini
tidak lagi dapat berjalan. Sedangkan
perkembangan fisik dan sosial perkotaan
tidak berpengaruh secara langsung pada
komponen pawongan. Hal ini disebabkan
perkembangan fisik dan sosial akan
memicu
alih
fungsi
lahan
dan
mempengaruhi jumlah krama subak.
Namun
temuan
studi
menunjukan
pengurangan
anggota
krama
tidak
berpengaruh pada keberlanjutan lembaga
subak, bilamana masih terdapat kesamaan
tujuan dari para anggota krama subak.
Dari pemenuhan kriteria yang mempengaruhi
pola keberlanjutan prinsip Tri Hita Karana dalam
subak dapat diketahui bahwa komponen
palemahan yang terwujud dari keberadaan
sawah itu mempengaruhi keberlanjutan subak
secara
umum.
Maka
untuk
menjaga
keberlanjutan subak di kawasan perkotaan,
beberapa rekomendasi yang dapat diusulkan
antara lain :
1.

Pengawasan dan pengendalian alih fungsi


lahan pertanian yang tidak sesuai dengan
peraturan-peraturan yang ada.

2.

Adanya mekanisme insentif dan disinsentif


yang disesuaikan dengan situasi dan
kondisi setempat guna menjegah alih
fungsi lahan.

Setelah itu perlu penguatan aspek pawongan


yang terwujud dari pengorganisasian subak itu
sendiri, beberapa rekomendasi yang dapat
diusulkan antara lain adanya pelatihan
organisasi
yang
dapat
meningkatkan
kemampuan pengorganisasian subak.

Daftar Pustaka
Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian :
Suatu Pendekatan Praktek. Reineka Cipta.
Jakarta
8 | Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota 2 SAPPK No.1

Bell, Philip. 2001. Content Analysis of Visual


Images. Dalam Jewit, Carey, dan VanLeewen,
Theo. Handbook of Visual Analysis.London:
Sage Publications.
Breinnkerhoff, D.W., A. A. Goldsmith, M. D.
Ingle and S. T. Walker., 1990. Institutional
Sustainability: A Conceptual Fremework. In.
D.W. Brinkerhoff and A.A. Goldsmith. (Eds);
Institutional Sustainability ini Agricultural and
Rural Development; A Global
Persfective.pp.19-48. Praeger Publisher. New
York
Economic and Social Commissions For Asia and
The Pacific. 2006. Sustainable Infrastructure in
Asia.
Francis Wahono, 2005. Pangan, Kearifan Lokal
dan Keanekaragaman Hayati, Penerbit
Cindelaras Pustaka Rakyat Cerdas, Yogyakarta
Koentjaraningrat. 1997. Kebudayaan Mentalitas
dan Pembangunan. Gramedia Pustaka Utama,
Jakarta.
Nasution Zahri. 2012. Kelembagaan Pengelolaan
Sumberdaya Perikanan "Lelang Lebak Lebung"
dan Kemiskinan Masyarakat Nelayan. IPB
Marendraoutra Priza. 2010. Eksplorasi
Penggunaan Metode Analisis Jejaring Sosial
Untuk Perumusan Strategi Pengembangan
Masyarakat : Studi Kasus Pengrajun Sepatu
Kawasan Cibaduyut. ITB
Keraf, A Keraf. 2002. Etika Lingkungan. Penerbit
Buku Kompas.
Miles, B Matthew & Hubermanm A Michael.
1992. Analisis Data Kualitatif. Sage Publication
Inc.
Nelson Valerie I., Sustainable Infrastructure
Management. 2008
Ness, David (2006), Sustainable infrastructure:
transport, energy and water doing more with
less by applying eco-efficiency principles,
Paper for UNESCAP Seoul Forum on Green
Growth, CSIRO Sustainability Newsletter No 62
Nyoman Sutawan. 2008. Organisasi dan
Manajemen Subak di Bali. Pustaka Bali Post
Ostrom Elinor. 2008. Governing the Common
The Evolution of Institutions for Collective
Action. Cambridge University Press
Pusposutardjo, S. l997b. Hampiran Sosiologi
Teknik (Engineering Sociology) sebagai Pilihan
dalam Pembangunan Pengairan, Bahan

Komang Elva Equitari

Penataran Diklat Pengairan, DPU Wilayah


Bandung
Pohtoh, Nia dan Kustiwan, Iwan. 2009.
Pengantar Perencanaan Perkotaan. ITB
Sawitri, Dewi. 2006. Peranan dan Potensi
Manusia dalam Keberhasilan Pengembangan
Wilayah berbasis Sumberdaya Lokal. ITB
Setiadi M Elly. 2007. Ilmu Sosial & Budaya.
Kencana Predana Media Group
Shui Yan Tang, 1991 . Institutional
Arrangements and Management of Common
Pool Resources. Blackwell Publishing.
Sirtha, Nyoman. 2008. Subak Konsep Pertanian
Religius. Paramita Surabaya
Soegijoko, Sugijanto & URDI. 2005. Bunga
Rampai Pembangunan Kota Indonesia dalam
Abad 21 : Konsep dan Pendekatan
Pembangunan Perkotaan di Indonesia.
Soetomo, Sugiono. 2009. Urbanisasi & Morfologi
: Proses Perkembangan Peradaban & Wadah
Ruang Fisiknya Menuju Ruang Kehidupan yang
Manusiawi. Graha Ilmu
Strong , W Alan & Hemphill, A Lesley. 2006.
Sustainanble Development Policy Directory.
Blackwell Publishing Ltd
Sudharto P. Hadi . 2002. Dimensi Hukum
Pembangunan Berkelanjutan, Semarang:
Badan Penerbit Undip
Suhartini. 2009. Kajian Kearifan Lokal
Masyarakat dalam Pengelolaan Sumberdaya
dan Lingkungan. Fakultas MIPA Universitas
Negeri Yogyakarta.
Uphoff, N. T. 1986. Local Instituional
Development: An Analytical Sourcebook with
Cases. Second Printing. Kumarian Press. USA.
Uphoff, N. Local Institutions and Participation
for Sustainable Development. International
Institute for Enviroment and Development.
London

Catatan Kaki
1

Krama adalah anggota dari suatu unit organisasi


dalam hal ini organisasi subak
2
Awig-awig adalah peraturan-peraturan suatu
organisasi subak
3
Prajuru adalah orang yang berfungsi sebagai
pengurus organisasi yang terdiri atas ketua, wakil
ketua, sekretaris, bendahara dan ketua munduk
(bagian dari subak)
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota 2 SAPPK No.1 | 9