Anda di halaman 1dari 17

PRINSIP DASAR EVALUASI PEMBELAJARAN

MAKALAH
Disusun untuk memenuhi tugas matakuliah Evaluasi Pendidikan IPA
yang dibina oleh Bapak Dr. Hadi Suwono, M.Si.

Oleh
Kelompok 2/Off C:
1. Amelia Ananda
(120341421942)
2. Dianti Wulandari
(120341421941)
3. Winda Meliawati
(100342400963)

The Learning University

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
Januari 2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur Alhamdulillah kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan
karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Prinsip Dasar
Evaluasi Pembelajaran dengan baik dan lancar. Shalawat dan salam kepada
baginda nabiullah Muhammad SAW selaku tokoh reformasi yang mengajarkan
kepada kebenaran khususnya bagi umat muslim yang telah menunjukan kepada
jalan kebenaran dan kebaikan.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas yang telah diberikan oleh
dosen pengampu dan penulis juga tidak lupa menyampaikan terima kasih atas
segala bantuan yang telah diberikan terutama kepada:
1. Dr. Hadi Suwono, M.Si, selaku dosen pembimbing matakuliah Evaluasi
Pendidikan.
2. Para asisten dosen Evaluasi pendidikan yang juga ikut membantu dan
berpartisipasi dalam perkuliahan dan membantu dalam penyelesaian makalah.
3. Teman-teman yang telah berbagi ilmu selama masa perkuliahan.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh
karena itu segala saran dan masukan sangat diperlukan guna lebih baik untuk
penulisan makalah selanjutnya. Harapan penulis semoga makalah ini bisa
bermanfaat baik bagi penulis maupun pihak-pihak lain.

Malang, Januari 2015

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam suatu proses pembelajaran komponen yang turut menentukan
keberhasilan suatu proses adalah evaluasi. Melalui evaluasi orang akan
mengetahui sampai sajauh mana penyampaian pembelajran atau tujuan
pendidikan dapat dicapai sesuai dengan tujuan yag diinginkan. Evaluasi
merupakan salah atu kegiatan utama yang harus dilakukan dalam kegiatan
pendidikan dan pembelajaran. Melalui evaluasi, kita akan mengetahui
perkembangan hasil belajar, intelegensi, bakat khusus, minat, hubungan sosial,
sikap peserta didik serta keberhasilan suatu program.
Menurut Arikunto (2013), untuk mengadakan evaluasi meliputi dua
langkah, yaitu mengukur dan menilai. Dalam istilah asingnya, pengukuran adalah
measurement, dan penilaian adalah evaluation. Dari kata evaluation inilah
diperoleh kata Indonesia evaluasi yang berarti menilai (tetapi dilakukan dengan
mengukur terlebih dahulu).
Melalui pemahaman terhadap makna evaluasi seperti yang telah
dijabarkan sebelumnya, maka kita menyusun makalah ini untuk membahas
Prinsip Dasar Evaluasi dengan harapan sebagai calon pendidik kita dapat
memahami prinsi-prinsip dasar dalam evaluasi.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat dirumuskan masalah
sebagai berikut:
1. Bagaimana perkembangan penilaian berdasarkan perkembangan teori
belajar?
2. Bagaimana hakikat dan tujuan penilaian hasil belajar dalam pembelajaran
sains?
3. Bagaimana penilaian kelas/penilaian berbasis kelas dalam pembelajaran
sains?
4. Bagaimana manfaat penilaian hasil belajar dalam pembelajaran sains?
5. Bagaimana perbedaan perbedaan PAN dan PAP?
1.3 Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan penulisan makalah
sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui perkembangan penilaian berdasarkan perkembangan


teori belajar.
2. Untuk mengetahui hakikat dan tujuan penilaian hasil belajar dalam
pembelajaran sains.
3. Untuk mengetahui penilaian kelas/penilaian berbasis kelas dalam
pembelajaran sains.
4. Untuk mengetahui manfaat penilaian hasil belajar dalam pembelajaran
sains.
5. Untuk mengetahui perbedaan perbedaan PAN dan PAP.
1.4 Manfaat Penulisan
Adapun manfaat penulisan ini antara lain sebagai berikut :
1. Bagi mahasiswa, dapat menambah wawasan tentang prinsip dasar evaluasi
pembelajaran, memberikan pengetahuan yang berkaitan dengan penilaian,
hakikat dan tujuan penilaian hasil belajar, penilaian kelas dan lain-lain
serta memotivasi mahasiswa untuk mempelajarinya lebih lanjut.
2. Bagi pendidik, dapat menambah pengetahuannya tentang manfaat dan arti
evaluasi dalam dunia pendidikan.
3. Bagi masyarakat, dapat menambah wawasan tentang prinsip dasar evaluasi
pembelajaran tersebut.

BAB II
PEMBAHASAN
3.1 Perkembangan Penilaian berdasarkan Perkembangan Teori Belajar
Perkembangan penilaian IPA mengalami perubahan penilaian dari
penilaian berbasis konten/isi menjadi penilaian berbasis kompetensi. Penilaian
berbasis kelas merupakan salah satu penilaian berbasis kompetensi (Pusat
Kurikulum, 2002) dalam Suwono (2012: 3). Penilaian berbasis kelas
menggunakan arti penilaian sebagai assessment yaitu kegiatan yang dilakukan
untuk memperoleh informasi tentang hasil belajar peserta didik pada tingkat kelas
dilakukan untuk memberikan penilaian yang seimbang pada ranah kognitif,
afektif, dan psikomotor. Penilaian dilakukan menggunakan berbagai teknik
penilaian, sehingga dapat diperoleh keutuhan gabaran prestasi dan kemajuan
belajar peserta didik.
Paradigma konstruktivisme selain mempengaruhi pola pembelajaran IPA
juga mempengaruhi penilaian IPA. Menurut Hill, dkk., (1998) paradigma
konstruktivisme menempatkan penilaian menjadi bagian penting dalam proses
pembelajaran. Selanjutnya dikatakan bahwa penilaian dalam bentuk konstruktivis
memiliki ciri-ciri: (a) dilakukan terintegrasi dengan pembelajaran, (b) mengukur
proses dan produk pembelajaran, (c) dilakukan dengan berbagai teknik sehingga
dapat mengukur segala aspek perkembangan berpikir peserta didik, dan (d)
bermanfaat untuk memperbaiki proses pembelajaran
Pembelajaran IPA yang konstruktivistik memberikan kesempatan kepada
peserta didik untuk mengembangkan konsep melalui keterampilan proses.
Keterampilan proses merupakan keterampilan yang digunakan untuk mencari dan
membangun pengetahuan (Gega, 1994) dalam (Suwono, 2012: 2). Keterampilan
proses IPA terdiri dari keterampilan proses dasar dan keterampilan proses
terintegrasi. Selanjutnya dikatakan bahwa keterampilan proses dasar antara lain
mengamati, membandingkan, mengklasifikasi, mengukur, mengkomunikasikan,
menganalisis, dan mengevaluasi. Keterampilan proses terintegrasi antara lain

penyelesaian masalah, membuat keputusan, dan penelitian. Pembelajaran melalui


keterampilan proses membantu peserta didik mengembangkan sikap ilmiah.
3.2 Hakikat dan Tujuan Penilaian Hasil Belajar dalam Pembelajaran Sains
Menurut Suwono, (2012: 4) IPA merupakan ilmu pengetahuan tentang
sifat-sifat alam yang dikumpulkan oleh manusia melalui serangkaian proses yang
dilakukan secara sistematis. IPA merupakan organisasi enam domain yaitu:
1. Pengetahuan mengenai fakta, konsep, prinsip, hukum, dan definisi
2. Pengetahuan mengenai peristiwa dan penerapan dalam kehidupan seharihari
3. Keterampilan: menghitung, menalar, merumuskan pikiran dalam bentuk
lisan maupun tulisan, menyelesaikan problem/ persoalan, menggunakan
keterampilan proses (mencari informasi, merumuskan pertanyaa/ hipotesis,
merancang percobaan, melaksanakan percobaan dan mencatat data,
menganalisis data percobaan dan menafsirkan hasilnya menggunakan
komputer, menggunakan alat)
4. Sikap ilmiah (ketertarikan pada IPA, rasa ingin tahu, kritis, terbuka)
5. Menghubungkan pengetahuan IPA dengan teknologi dengan masyarakat
6. Kreativitas
Menurut Arikunto(2013), dalam dunia pendidikan, khususnya persekolahan,
penilaian mempunyai makna yang dapat ditinjau dari berbagi segi :
a. Makna bagi siswa
Dengan diadakannya penilaian, maka siswa dapat menegetahui sejauh
mana keberhasilan mereka dalam mengikut pelajaran yang diberikan oleh guru.

b. Makna bagi guru


Dengan hasil penilaian, guru dapat mengetahui siswa mana yang sudah
dan belum berhasil menguasai materi, selain itu guru juga dapat mengetahui
ketepatan materi yang disampaikan dan juga efektifitas metode yang dijalankan.
c. Makna bagi sekolah
Apabila guru melakukan penilaian, sekolah dapat mengetahui kondisi
belajar yang diciptakan oleh sekolah tersebut sudah berjalan sesuai harapan atau
belum, dapat digunakan sebagai pedoman untuk proses memenuhi standarisasi.
Menurut (Kuswanto, 2008) tujuan Sains adalah menguasai pengetahuan
Sains, memahami dan menerapkan konsep Sains, menerapkan keterampilan
proses, dan mengembangkan sikap. Tujuan penilaian ini sejalan dengan tiga ranah
dalam kerangka kurikulum IPA seperti ditunjukkan di bawah:
1. Penilaian Pengetahuan, pemahaman dan penerapan konsep Sains
Penilaian pengetahuan Sains merupakan produk dari pembelajaran Sains.
Penilaian ini bertujuan untuk melihat penguasaan peserta didik terhadap fakta,
konsep, prinsip, dan hukum-hukum dalam Sains dan penerapannya dalam
kehidupan. Peserta didik diharapkan dapat menggunakan pemahamannya tersebut
untuk membuat keputusan, berpartisipasi di masyarakat, dan menanggapi isu-isu
lokal dan global.
2. Penilaian Keterampilan dan Proses
Penilaian dilakukan tidak hanya terhadap produk, tetapi juga proses.
Penilaian proses Sains dilakukan terhadap keterampilan proses Sains, meliputi
keterampilan dasar Sains dan keterampilan terpadu tingkat awal. Keterampilan
proses Sains dasar meliputi observasi, inferensi, melakukan pengukuran,
menggunakan bilangan, klasifikasi, komunikasi, dan prediksi. Di samping itu,
peserta didik mulai diperkenalkan dengan kemampuan melakukan percobaan
sederhana dengan dua variabel atau lebih untuk menguji hipotesis tentang
hubungan antar variabel. Peserta didik juga dilatih mengkomunikasikan hasil

belajarnya melalui berbagai bentuk sepeti debat, diskusi, presentasi, tulisan,


danbentuk ekspresif lainnya.
3. Penilaian karakter dan sikap (sikap ilmiah)
Penilaian sikap ilmiah meliputi sikap obyektif, terbuka, tidak menerima
begitusaja sesuatu sebagai kebenaran, ingin tahu, ulet , tekun, dan pantang
menyerah.Selain

itu,

kemampuan

bekerjasama,

bertukar

pendapat,

mempertahankanpendapat, menerima saran, dan kemampuan sosial lainnya dapat


juga dilakukanmelalui pembelajaran Sains.
3.3 Penilaian Kelas/Penilaian Berbasis Kelas
Menurut Darkuni (2012: 70) penilaian berbasis kelas adalah penilaian
yang dilakukan oleh guru dengan menggunakan proses pengumpulan dan
penggunaan informasi serta hasil belajar siswanya untuk menetapkan tingkat
pencapaian dan penguasaan terhadap tujuan pendidikan yang ditetapkan dalam
kurikulum, yaitu menyangkut standar kompetensi, kompetensi dasar, dan
indikator pencapaian belajar siswa. Sedangkan menurut Suwono (2012:30)
penilaian berbasis kelas merupakan pengumpulan data hasil belajar siswa yang
bermakna.
Penilaian berbasis kelas didasari oleh adanya pertanyaan (a) apakah siswa
memperoleh hasil belajar yang maksimal? (b) apakah guru sudah mengajar
efektif? Jadi penilaian kelas adalah suatu pendekatan yang dirancang untuk
membantu guru menemukan bagaimana siswa atau kelompok siswa sedang beajar
dalam kelas.
Tujuan dari penilaian berbasis kelas antara lain: (1) menjamin agar
program pembelajaran tetap sesuai dengan kurikulum, (2) untuk mengetahui
kelemahan dan/ atau kelebihan dari potensi siswa selama proses pembelajaran
berlangsung, (3) mencari fakta atau sebab terjadinya kelemahan dalam proses
pembelajaran, (4) menentukan apakah siswa sudah mencapai atau menguasai
kompetensi yang dipersyaratkan oleh kurikulum.

Manfaat penilaian berbasis kelas misalnya memberikan umpan balik


terhadap kegiatan pembelajaran, mendorong untuk peningkatan kemampuan
siswa, memberi kegunaan hasil pembelajaran, menyimpulkan aapakah peserta
didik telah mencaai seluruh atau sebagian kompetensi yang telah ditetapkan
kurikulum (Sumarna, 2004) dalam Darkuni (2012: 71).
Prinsip dasar penilaian berbasis kelas:
1. Tujuan program pembelajaran setiap mata pelajaran harus dicapai siswa
berdasarkan kompetensi yang telah dipersyaratkan (Stardar kompetensi,
Kompetensi Dasar, dan Indikator Pencapaian)
2. Keberhasilan yang dicapai oleh siswa harus didasarkan pada kriteria yang
telah ditetapkan dan dijadikan rujukan
3. Penilaian berbasis kelas adalah proses penilaian yang dilaksanakan secara
internal oleh guru dikelas tersebut dan ini merupakan bagian integral dari
penilaian pihak lain misalnya Ujian Nasional, dsb
4. Penilaian berbasis kelas akan menghasilkan penilaian yang beragam dari
satu penilai dengan penilai lain
Jenis-jenis penilaian berbasis kelas atau dikenal juga dengan teknik penilaian
di kelas (TPK) dapat dilakukan sebagai berikut:
1. Tes tertulis, adalah penilaian berbasis kelas dengan menggunakan tes
secara tertulis. Siswa hanya memberikan jawaban atas pertanyaan atau
pernyataan yang diberikan. Bentuk tes ini dapat berupa pilihan ganda,
menjodohkan, benar-salah, isian singkat dan uraian (esai)
2. Tes perbuatan, tes ini dilakukan pada saat pembelajaran sedang
berlangsung yang memungkinkan terjadinya perbuatan atau praktek.
3. Pemberian tugas,
tes bentuk ini dapat digunakan untuk semua
matapelajaran sesuai dengan perkembangan siswa.
4. Penilaian proyek, adalah bentuk penilaian terhadap tugas yang harus
diselesaikan siswa dalam waktu tertentu.
5. Penilaian produk, adalah penilaian terhadap penguasaan keterampilan
siswa dalam membuat suatu produk (proses) dan penilaian terhadap
kualitas hasil kerjanya (produk).
6. Penilaian Sikap, adalah penilaian terhadap suatu konsep psikologi siswa.
Penilaian ini dilakukan dalam berbagai objek matapelajaran misalnya
minat terhadap pelajaran, sikap terhadap guru dan lain-lain

7. Penilaian

portofolio,

adalah

penilaian

yang

dilakukan

terhadap

sekumpulan karya siswa yang disusun secara sistematis dan teorganisasi


yang dibuat selama proses pembelajaran dalam kurun waktu tertentu.
Hubungan antara indikator pencapaian kompetensi dengan teknik evaluasi
pembelajaran (jenis tagihan) yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran adalah
sebagai berikut:
No

Indikator

Alternatif Jenis Evaluasi

Menyebutkan,

menjelaskan, Tes tertulis, lisan

mengenali,

Klasifikasi tes yang

membedakan,

digunakan

mendefinisikan
2

Mendeskripsikan, menafsirkan, Tes tertulis bentuk uraian, Klasifikasi tes yang


memprediksi, mengkonversikan, lisan, portofolio

digunakan

satuan

tinggi

ukuran,

menganalisis,

menginterpretasikan,
membandingkan, menyimpulkan
Melakukan

pengamatan, Laporan hasil pengamatan,

mendata

laporan

data

yang

diperoleh
4

Menggolongkan,

Laporan

mengidentifikasikan

penggolongan,

hasil

identifikasi, unjuk kerja


5

Mengkomunikasikan,
mengungkapkan
menyajikan

Unjuk kerja (presentasi,


gagasan, diskusi, kelompok) karya

laporan,

cara tulis

menghitung, kerjasama
6

tingkat

rendah

mensintesis,

Keterangan

Mengukur, menggunakan alat, Unjuk kerja


memilih

alat,

mengurutkan

tahapan
mendemonstrasikan,

kerja,

tingkat

menunjukkan, mempraktekkan,
metode/cara,

menyusun

rangkaian
7

Mencari

informasi

ilmiah Tugas proyek, portofolio

(kliping, menentukan informasi


ilmiah/ metode baru, meyelidiki)
8

Mengadakan

percobaan, Portofolio, tugas proyek, Portofolio dan tugas

membudidayakan,
membuktikan,

laporan hasil

proyek diarahkan pada

memecahkan

kemampuan:

masalah

merancang

dan

melaksanakan
penelitian
9

Membuat

skema,

diagram, Hasil produk

model, awetan, daftar, grafik,


mengoleksi

(gambar,

alat,

kliping), membuat laporan


10

Sikap,

perilaku,

pengetahuan
11

Menerapkan

terhadap Portofolio, penilaian sikap, Karya tulis diarahkan


karya tulis

cara/

metode, Laporan,

pada penulisan ilmiah


unjuk

kerja,

menyempurnakan suatu metode/ karya tulis, presentasi


hasil penelitian

3.4 Manfaat Penilaian Hasil Belajar Dalam Pembelajaran Sains


Menurut Suwono (2012: 166), guru dapat memanfaatkan hasil penilaian
untuk perbaikan program dan kegiatan pembelajaran. Misalnya, guru dapat
mengambil keputusan terbaik dan cepat untuk memberikan bantuan optimal
kepada kelas dalam mencapai kompetensi yang telah ditargetkan dalam
kurikulum, atau guru harus mengulang pelajaran dengan mengubah strategi

pembelajaran, dan memperbaiki program pembelajarannya. Oleh karena itu


program yang telah dirancang , strategi pembelajaran yang telah disiapkan, dan
bahan yang telah disiapkan perlu dievaluasi, direvisi, atau mungkin diganti
apabila tidak efektif membantu peserta didik dalam mencapai penguasaan
kompetensi. Evaluasi dan refleksi yang dilakukan oleh guru diakhir semester
digunakan untuk memperbaiki proses pembelajaran yang akan digunakanpada
semester selanjutnya. Hal ini sangat penting terutama bila guru atau sekolah ingin
meningkatkan batas ketuntasan.
Manfaat penilaian bagi sekolah/ kepala sekolah dapat digunakan untuk
menilai keberhasilan siswa dan juga kinerja guru. Sekolah sebaiknya menganalisis
hasil penilaian siswa dan memetakan KD dan mata pelajaran mana yang sulit,
yang selanjutnya digunakan oleh sekolah untuk menyusun program peningkatan
pembelajaran pada KD atau mata pelajaran tersebut. Demikian pula dengan
kinerja guru, sekolah dapat menyusun program peningkatan kualitas guru kalau
ternyata ada guru-guru yang kualitasnya perlu ditingkatkan.
3.5 Perbedaan PAN dan PAP
Menurut Suryadi (2009) terdapat pendekatan dalam melakukan penilaian
yaitu pendekatan penilaian yang membandingkan orang-orang lain dalam
kelompoknya, yang dinamakan Penilaian Acuan Norma (Norm-ReferencedEvaluation), dan pendekatan penilaian yang membandingkan hasil pengukuran
seseorang dengan patokan batas lulus yang telah ditetapkan yang dinamakan
Penilaian Acuan Patokan (Criterion Referenced Evaluation).

1. Penilaian Acuan Norma (PAN)


Secara singkat dapat dikatakan bahwa PAN ialah penilaian yang
membandingkan

hasil

belajar

siswa

terhadap

hasil

siswa

lain

dalam

kekompoknya. Pendekatan penilaian ini dapat dikatakan sebagai pendekatan apa


adanya, dalam arti, bahwa patokan pembanding semata-mata diambil dari

kenyataan-kenyataan yang diperoleh pada saat pengukuran/penilaian itu


berlangsung, yaitu hasil belajar siswa yang diukur itu beserta pengolahannya.
Penilaian ini sama sekali tidak dikaitkan dengan ukuran-ukuran ataupun patokan
yang terletak luar hasil-hasil pengukuran sekelompok siswa.
PAN pada dasarnya mempergunakan kurve normal dan hasil-hasil
penghitungannya

sebagai

dasar

penilaian.

Kurve

ini

dibentuk

dengan

mengikutsertakan semua angka hasil pengukuran yang diperoleh. Dua kenyataan


yang ada di dalam kurve normal yang dipakai untuk membandingkan atau
menafsirkan angka yang diperoleh masing-masing siswa ialah angka rata-rata
(mean) dan angka simpangan baku (standard deviation). Dapat dimengerti bahwa
patokan ini bersifat relatif, bisa bergeser ke atas atau ke bawah, sesuai dengan
besarnya dua kenyataan yang diperoleh di dalam kurve itu. Dengan kata lain,
patokan itu bisa berubah-ubah dari kurve normal yang satu ke kurve normal
yang lain. Ujian siswa dalam suatu kelompok pada umumnya naik, yaitu
sebagaimana terlihat dari angka-angka hasil pengukuran yang pada umumnya
lebih baik dan yang menghasilkan angka rata-rata yang lebih tinggi, maka patokan
menjadi bergeser ke atas (dinaikkan), sebaliknya, jika hasil ujian kelompok itu
pada umumnya merosot, patokannya bergeser ke bawah (diturunkan). Dengan
demikian, angka yang sama pada dua kurve yang berbeda akan mempunyai arti
yang berbeda. Demikian juga, nilai yang sama yang dihasilkan melalui bangunan
dua kurve yang berbeda akan mempunyai arti umum yang berbeda pula.
2. Penilaian Acuan Patokan (PAP)
PAP pada dasarnya berarti penilaian yang membandingkan hasil belajar
siswa terhadap suatu patokan yang telah ditetapkan sebelumnya. Pengertian ini
menunjukkan bahwa sebelum usaha penilaian dilakukan terlebih dahulu harus
ditetapkan patokan yang akan dipakai untuk membandingkan angka-angka hasil
pengukuran agar hasil itu mempunyai arti tertentu. Dengan demikian, patokan ini
tidak dicari-cari di tempat lain dan pula tidak dicari di dalam sekelompok hasil
pengukuran sebagaimana dilakukan pada PAN.

Patokan yang telah ditetapkan terlebih dahulu itu biasanya disebut batas
lulus atau tingkat penguasaan minimum. Siswa yang dapat mencapai atau
bahkan melampaui batas ini dinilai lulus dan yang belum mencapainya dinilai
tidak lulus. Mereka yang lulus ini diperkenankan menempuh pelajaran yang
lebih tinggi, sedangkan yang belum lulus diminta memantapkan lagi kegiatan
belajarnya sehingga mencapai batas lulus itu. Dapat dimengerti bahwa patokan
yang dipakai di dalam PAP bersifat tetap. Patokan ini dapat dipakai untuk
kelompok siswa yang mana saja yang memperoleh pengajaran yang sama. Dengan
patokan yang sama ini pengertian yang sama untuk hasil pengukuran yang
diperoleh dari waktu ke waktu oleh kelompok yang sama ataupun berbeda-beda
dapat dipertahankan.
Kelebihan penilaian PAN:
1. Dapat digunakan untuk menetapkan nilai secara maksimal.
2. Dapat membedakan kemampuan peserta didik yang pintar dan kurang
pintar, membedakan kelompok atas dan bawah.
3. Fleksibel artinya dapat menyesuaikan dengan kondisi yang berbeda-beda.
4. Dapat digunakan untuk menilai ranah kognitif, afektif dan psikomotor.
Kelebihan metode PAP:
1. Dapat membantu guru merancang program remidi.
2. Tidak membutuhkan perhitungan statistik yang rumit.
3. Dapat mengukur ketercapaian tujuan pembelajaran.
4. Nilainya bersifat tetap selama standar yang digunakan sama.
5. Hasil penilaian dapat digunakan untuk umpan balik atau untuk mengetahui
apakah tujuan pembelajaran sudah tercapai atau belum.
6. Banyak digunakan untuk kelas dengan materi pembelajaran berupa
konsep.

7. Mudah menilai karena ada patokan

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1. Perkembangan penilaian mengalami perubahan dari penilaian berbasis
konten/isi

menjadi

penilaian

berbasis

kompetensi

berdasarkan

perkembangan teori belajar kontruktivisme.


2. Hakikat dan tujuan penilaian hasil belajar dalam pembelajaran sains untuk
melihat penguasaan peserta didik terhadap fakta, konsep, prinsip, dan
hukum-hukum dalam Sains dan penerapannya dalam kehidupan.
3. Penilaian kelas/penilaian berbasis kelas dalam pembelajaran sains
merupakan pengumpulan data hasil belajar siswa yang bermakna dalam
pembelajaran ilmu secara ilmiah.
4. Manfaat penilaian hasil belajar dalam pembelajaran sains yaitu dapat
digunakan untuk menilai keberhasilan siswa dalam penguasaan konsep
serta kinerja guru dalam melakukan pengajaran.
5. PAN (Penilaian Acuan Norma) adalah pendekatan penilaian yang
membandingkan orang-orang lain dalam kelompoknya, sedangkan
(Penilaian

Acuan

Patokan)

adalah

pendekatan

penilaian

yang

membandingkan hasil pengukuran seseorang dengan patokan batas lulus


yang telah ditetapkan.
3.2 Saran
1. Sebaiknya dalam pemberian jangka waktu pengumpulan tugas lebih lama.
2. Sebaiknya dalam menyusun makalah lebih diperbanyak kajian literatur yang
digunakan, agar isi makalah lebih lengkap,

DAFTAR RUJUKAN
Arikunto, Suharsimi. 2013. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi
aksara
Darkuni, M. Noviar. 2012. Pengetahuan Dasar Kegiatan Mengajar. Universitas
Negeri Malang
Kuswanto.

2008.

Penilaian

Pembelajaran

IPA,

(online),

(http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/tmp/PENILAIAN
%20PEMBELAJARAN%20IPA_0.pdf), dikases tanggal 14 Januari
2015
Suryadi, 2009. Pendekatan Dalam Penilaian Hasil Belajar,(online), (http://
http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._ADMINISTRASI_PENDIDIK
AN/196807291998021SURYADI/PENDEKATAN_DALAM_PENILAIAN.pdf),

diakses

tanggal 13 Januari 2015


Suwono, Hadi. 2012. Penilaian Hasil Belaja IPA. Malang: Bayumedia Publishing.