Anda di halaman 1dari 18

I.

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Hortikultura merupakan subsektor pertanian yang berkembang pesat dan


mampu memberikan sumbangan yang berarti bagi perekonomian nasional.
Subsektor hortikultura terutama sayuran merupakan salah satu kegiatan agribisnis
dalam rangka memanfaatkan peluang dan keunggulan komperatif, berupa iklim
yang bervariasi, lahan yang subur serta tenaga kerja yang memadai.
Produk hortikultura terdiri dari sayuran, tanaman hias, buah-buahan dan
tanaman obat. Sayuran merupakan salah satu produk hortikultura yang banyak di
konsumsi oleh masyarakat yang tinggal di pedesaan maupun perkotaan. Sayuran
bukan merupakan makanan primer tetapi banyak yang menganggap sayuran
sebagai menu pelengkap untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat.
Buncis (Phaseolus vulgaris L.) merupakan salah satu jenis tanaman sayuran
polong yang memiliki banyak manfaat. Menurut Rukmana (1995), tanaman
buncis mempunyai peranan dan sumbangan cukup besar terhadap pendapatan
petani, peningkatan gizi masyarakat, pendapatan negara melalui pengurangan
impor dan peningkatan ekspor, pengembangan agribisnis dan peluang kesempatan
kerja.
Komoditas buncis biasanya di ekspor ke Singapura, Hongkong dan Jepang.
Singapura adalah negara dengan permintaan buncis terbesar. Produk buncis yang
paling dimintai oleh Singapura adalah buncis prancis. Buncis prancis adalah salah
satu jenis buncis yang memiliki rasa lebih manis dan berukuran lebih kecil
dibandingkan buncis pada umumnya. Buncis Prancis adalah tipe buncis yang

berumur pendek dan memiliki suhu optimum untuk pertumbuhan sekitar 20 oC


25oC.
Sayuran buncis yang di ekspor adalah sayuran yang berkualitas tinggi,
sehingga diperlukan penanganan sebelum dan sesudah panen secara tepat.
Pengendalian mutu sebelum panen dilakukan dengan memperhatikan faktor-faktor
yang mempengaruhi pertumbuhan sayuran, misalnya syarat tumbuh, cara
budidaya, pemupukan, serta pemberantasan hama dan penyakit. Selanjutnya
kualitas sayuran juga dipengaruhi oleh penanganan pascapanen yaitu tindakantindakan yang dilakukan setelah panen. Penanganan pascapanen seharusnya
dilakukan dengan seksama dan hati-hati agar penyebab kemunduran mutu dapat
diperkecil (Tim Penulis PS,1993).
Masalah yang sering dihadapi dalam agribisnis buncis prancis adalah petani
kurang memperhatikan penanganan pascapanen dengan tepat sehingga dapat
menyebakan penurunan mutu dan memperbesar kehilangan hasil. Penanganan
pascapanen merupakan hal yang penting untuk diperhatikan mengingat produk
pertanian bersifat mudah rusak dan tidak bertahan lama. Berbagai kasus
ditolaknya produk pertanian Indonesia di luar negeri dikarenakan mutunya yang
rendah. Penanganan pascapanen yang tepat tidak hanya menguntungkan bagi
petani karena akan memperkecil kehilangan hasil namun juga bagi konsumen
karena mengonsumsi sayuran yang bermutu baik.
Kegiatan pascapanen buncis haruslah dipandang sebagai satu bagian dari
suatu sistem secara keseluruhan, dimana setiap mata rantai kegiatan memiliki
peran yang saling terkait. Oleh karena itu, penulis bermaksud melakukan Praktik

Kerja Lapang di PT. Bumi Sari Lestari (Fruits and Vegetables Exporter) yang
terletak di Desa Soropadan Kecamatan Pringsurat Kabupaten Temanggung.
Perusahaan menjalin kemitraan dengan kelompok tani di sekitar Temanggung
untuk memenuhi permintaan pasar luar negeri. Sayuran buncis yang diekspor
merupakan buncis prancis kualitas nomer satu, hal ini menunjukan PT.Bumi Sari
Lestari melakukan dengan baik kegitatan pascapanen dengan baik. Dengan
melakukan PKL di PT Bumi Sari Lestari dapat digali lebih banyak tentang
kegiatan pascapanen buncis prancis agar dapat meminimalisir susut pascapanen.
Sehingga dapat menghasilkan buncis berdaya saing untuk memenuhi permintaan
pasar dan meningkatkan nilai ekspor.
B. Tujuan
Tujuan Praktik Kerja Lapangan (PKL) yang akan dilakukan sebagai berikut :
a. Mengetahui kondisi umum dan kegiatan utama PT. Bumi Sari Lestari di
Desa Soropadan, Kecamatan Pringsurat, Kabupaten Temanggung, Jawa
Tengah.
b. Mengetahui kegiatan penanganan pascapanen buncis prancis di PT. Bumi
Sari Lestari, di Desa Suropadan, Kecamatan Pringsurat, Kabupaten
Temanggung, Jawa Tengah.
c. Mengetahui permasalahan dan solusi yang berkaitan dengan penanganan
pascapanen buncis prancis di PT. Bumi Sari Lestari, di Desa Soropadan,
Kecamatan Pringsurat, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.
C. Sasaran Praktik Kerja Lapangan

Sasaran Praktik Kerja Lapangan ini adalah kegiatan yang berkaitan dengan
penanganan pascapanen buncis prancis yang dilakukan PT. Bumi Sari Lestari
(Fruits and Vegetables Exporter) di Desa Soropadan, Kecamatan Pringsurat,
Kabupaten Temanggung.
D. Manfaat Praktik Kerja Lapangan
Praktik kerja lapangan yang akan dilaksanakan diharapkan dapat
memberikan manfaat antara lain :
1. Mendapatkan pengalaman

dalam

melakukan

kegiatan

penanganan

pascapanen sebagai bekal di kehidupan nyata setelah lulus studi.


2. Menambah pengetahuan tentang penanganan pascapanen khususnya
penanganan pascapanen buncis prancis.

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Aspek Agronomi Buncis


Buncis merupakan salah satu jenis sayuran polong yang memiliki banyak
kegunaan. Sebagai bahan sayuran, buncis dapat dikonsumsi dalam keadaan muda.
Buncis yang dipetik muda memiliki rasa sedikit manis sehingga sangat cocok
untuk bahan sayuran. Namun, buncis yang sudah tua kurang cocok untuk dibuat
sayur karena kulitnya yang cukup keras.
Tanaman buncis memiliki klasifikasi sebagai berikut :
Divisi
: Spermatophyta
Subdivisi
: Angiospermae
Kelas
: Dicotyledoneae
Ordo
: Leguminales
Familia
: Leguminoceae
Subfamilia : Papillionaceae
Genus
: Phaseolus
Spesies
: Phaseolus vulgaris (Cahyono, 2003).
Kacang buncis yang sudah umum dibudidayakan pada dasarnya
digolongkan menjadi dua jenis yaitu :
1. Buncis tipe merabat (pole bean) atau sering disebut French beans atau
snap beans.
Tipe buncis ini umumnya dipanen sebagai polong muda sehingga

masyarakat Indonesia menyebutnya buncis saja.


Sewaktu pertanaman (berkebun), tanaman buncis ini memerlukan

turus (lanjaran) untuk merambat.


2. Buncis tipe tegak atau tidak merambat (Bush bean) yang sering disebut
kidney beans. Buncis tipe ini dibedakan menjadi dua macam yaitu :
Kacang jogo (kacang merah) atau disebut Rode boon. Ciri-cirinya
tinggi tanaman 30 cm, bijinya berwarna merah atau merah

berbintik-bintik putih, dan pada umumnya dipanen saat polong

sudah tua atau pada bagian biji-bijinya saja.


Kacang cokelat atau Bruine boon. Ciri-cirinya tinggi tanaman 40
cm, bijinya berwarna ungu, cokelat atau warna lain, dan bijinya
dapat dipanen saat polong muda maupun saat polong tua
(Rukmana, 1994)

Tanaman buncis dapat ditanam dengan cara monokultur maupun tumpang


sari. Sebelum dilakukan penanaman dilakukan pengolahan tanah terlebih dahulu
untuk membersihkan gulma dan menyiapkan area tanam. Pupuk dasar yang
diberikan dapat berupa pupuk kandang atau kompos sebanyak 15-20 ton/ha. Hal
ini bertujuan untuk memperbaiki struktur tanah. Pengaplikasian pupuk dilakukan
dengan cara ditebar sepanjang larikan satu minggu sebelum tanam. Pada setiap
lubang dimasukan 2 benih buncis. Pada saat penanaman diberikan pupuk KCL
dan TSP dengan perbandingan 1:1 sebanyak 150-200 kg/ha. Cara permberiannya
dengan menyebarkan di sekitar lubang tanam. Pupuk urea diberikan saat tanaman
berumur satu minggu dan sebulan dengan dosis 150-200 kg/ha sekali pemberian
pupuk. Pemberian urea dilakukan dengan cara membenamkan pupuk dengan jarak
5-10 cm dari tanaman (Setianingsih & Khoerudin, 2002).
Tanaman buncis dapat tumbuh di daerah yang mempunyai ketinggian antara
300 600 meter dari permukaan laut (m dpl), pertumbuhan terbaik yaitu pad
ketinggian 1.000 m dpl. Selama pertumbuhannya tanaman ini membutuhkan suhu
antara 20o C - 25o C, cukup sinar matahari dan kelembaban udara yang cukup
tinggi. Tanaman ini cocok ditanam pada tanah Andosol dan Latosol yang subur,

tata air baik, bebas dari cendawan ataupun nematoda, dan pada pH 5,5 6,0
(Rukmana, 1994).
Tanaman buncis terdiri dari akar, batang, daun, bunga, dan biji. Akar
tanaman buncis berbentuk tunggang dan serabut. Akar tunggang tumbuh lurus ke
dalam hingga kedalaman sekitar 11-15 cm, sedangkan akar serabut tumbuh
menyebar (horizontal) dan tidak dalam. Batang tanaman buncis berbengkokbengkok, berbentuk bulat, berambut halus, beruras-uras dan lunak tetapi cukup
kuat. Batang tanaman berwarna hijau, tetapi ada pula yang berwarna ungu
tergantung pada varietasnya. Selain itu, batang tanaman buncis bercabang banyak
dan menyebar merata sehingga tanaman tampak rimbun.
Daun tanaman buncis berbentuk bulat lonjong, ujung daun meruncing, tepi
daun rata, berambut halus dan memiliki tulang daun menyirip. Ukuran daun
buncis sangat bervariasi, tergantung pada varietasnya. Daun yang berukuran kecil
memiliki lebar 6-7,5 cm dan panjang 7,5-9 cm. Sedangkan daun berukuran besar
memiliki lebar 10-11 cm dan panjang 11-13 cm.
Bunga tanaman buncis berbentuk bulat panjang (silindris) dengan panjang
1,3 cm dan lebar bagian tengah 0,4 cm. Bunga buncis berukuran kecil dengan
kelopak bunga berjumlah 2 buah pada bagian bawah atau pangkal bunga dan
berwarna hijau. Bunga buncis memiliki tangkai yang panjangnya sekitar 1 cm.
Bunga tanaman buncis merupakan malai (panicle). Tunas utama dari panicle
bercabang dan setiap cabang tumbuh tunas bunga. Selain itu, bunga tanaman
buncis tergolong bunga sempurna atau berkelamin dua (hermaprodit), karena

benang sari dan kepala putik terdapat dalam satu tandan bunga. Persarian bunga
tanaman buncis dapat terjadi dengan bantuan serangga atau angin.
Buncis memiliki bentuk dan warna yang bervariasi tergantung varietasnya.
Buncis memiliki struktur halus, tekstur renyah, ada yang berserat dan ada yang
tidak berserat, serta terdapat yang bersulung pada ujung polong dan ada juga yang
tidak bersulung. Buncis tersusun bersegmen-segmen. Jumlah biji dalam satu
polong bervariasi antara 5 14 buah, tergantung pada panjang polong. Biji buncis
yang sudah agak tua memiliki tekstur keras dan warnanya bervariasi tergantung
varietasnya. Biji buncis berukuran agak besar, berbentuk bulat lonjong dengan
bagian tengah (mata biji) agak melengkung (cekung), berat biji buncis berkisar
antara 16 40,6 gr (berat 100 biji), tergantung varietasnya (Cahyono, 2003).
B. Aspek Ekonomi Buncis
Prospek pengembangan budidaya buncis di Indonesia sangat cerah. Selain
keadaan agroklimatologis yang cocok, budidaya buncis dapat berdampak positif
terhadap peningkatan pendapatan petani, perbaikan gizi, pengembangan agribisnis
serta peningkatan ekspor. Tanaman buncis termasuk tanaman yang mudah untuk
dibudidayakan sehingga menjadi salah satu sayuran komersil pilihan petani.
Tanaman buncis memiliki potensi ekonomi yang baik, hal ini dikarenakan
peluang pasar sayuran buncis cukup luas yaitu untuk sasaran pasar dalam negeri
maupun pasar luar negeri. Pasar luar negeri yang berpotensi dalam mengonsumsi
buncis antara lain Singapura dan Jepang. Beberapa tahun terakhir, Singapura
memesan buncis dari Indonesia sekitar 2 - 3 ton per hari. Varietas atau kultivar

buncis lokal yang dihasilkan di Indonesia memiliki kelebihan antara lain


polongnya berukuran panjang, berwarna hijau, cita rasanya lebih empuk dan
manis dibandingkan buncis Taiwan. (Rukmana, 1994).
Produksi buncis saat ini semakin meningkat seiring dengan kesadaran
masyarakat yang merasakan bahwa buncis merupakan salah satu sumber protein
nabati yang murah dan mudah untuk di kembangkan. Selain itu tanaman buncis
adalah tanaman yang dapat mempertahankan kesuburan dan produktivitas tanah
sehingga dapat mengurangi biaya untuk pemberian pupuk.
Peningkatan permintaan buncis harus diimbangi dengan peningkatan
kualitas dan kuantitas tanaman buncis mulai dari teknik budidaya sampai
penanganan pascapanen yang tepat. Harga buncis prancis relatif lebih mahal
dibandingkan dengan buncis biasa, selain itu permintaan ekspor buncis prancis
sangat tinggi sedangkan Indonesia belum mampu untuk memenuhi sehingga dapa
dikatakan budidaya buncis dapat menjadi peluang usaha yang sangat potensial.

C. Aspek Pascapanen Buncis


Penanganan pascapanen merupakan tindakan strategis dalam rangka
mendukung peningkatan produksi. Kontribusi penanganan pascapanen terhadap
peningkatan produksi tercermin dari penurunan kehilangan hasil dan tercapainya
mutu sesuai persyaratan mutu. Produk pertanian pada umumnya bersifat mudah
rusak dan tidak tahan lama sehingga dibutuhkan penanganan pascapanen yang
tepat untuk mempertahankan kualitas dan meningkatan daya simpan.

Periode pascapanen dimulai dari produk di panen sampai produk tersebut di


konsumsi, atau di proses lebih lanjut. Cara penanganan, dan perlakuan
pascapanen, serta masa simpan sangat menentukan mutu yang diterima konsumen.
Cara berproduksi yang tidak baik mengakibatkan mutu panen tidak baik pula, dan
sistem pascapanen hanya bertujuan untuk mempertahankan mutu produk yang
dipanen (penampakan, tekstur, cita rasa, nilai nutrisi dan keamanannya) (Antara,
2013).
Buncis termasuk salah satu jenis sayuran yang sangat mudah mengalami
kerusakan setelah pemanenan, baik kerusakan fisik (fisiologis), mekanis, maupun
mikrobiologis (serangan hama dan penyakit). Untuk mencegah kerusakan
kerusakan tersebut, maka perlu penanganan hasil panen yang baik agar sampai di
pasar dalam keadaan tetap baik atau masih segar. Menurut Cahyono (2003)
Penanganan pascapanen buncis meliputi kegiatan-kegiatan sebagai berikut :

1. Pengumpulan
Hasil panen buncis dimasukan ke dalam suatu wadah (karung, goni,
keranjang) untuk langsung diangkut ke tempat pengumpulan (penampungan).
Lokasi pengumpulan yang dipilih adalah tempat atau ruangan yang strategis,
yaitu teduh dan dekat dengan jaringan lalu lintas dan aman.
2. Sortasi dan Grading
Hasil panen buncis pada umumnya sering mengalami kerusakan akibat
serangan hama, penyakit maupun patah karena penanganan panen yang
kurang baik dan ukurannya pun tidak seragam. Oleh karena itu, pada sayuran
buncis tersebut perlu dilakukan sortasi dan grading untuk memisahkan antara
buncis yang rusak dengan buncis yang baik (utuh), serta untuk

10

menyeragamkan kualitas di dalam kelompok kelas. Sortasi bertujuan untuk


mencegah penularan serangan hama dan penyakit ke buncis yang sehat
selama proses penyimpanan. Sedangkan kegiatan grading bertujuan untuk
menyeragamkan kualitas.
Di dalam kegiatan sortasi, buncis yang sehat dan utuh dipisahkan dari
buncis yang rusak, sekaligus memisahkan antara buncis yang berukuran besar
(panjang) dan buah buncis yang berukuran kecil (pendek). Sedangkan dalam
kegiatan grading, buncis di kelompokan ke dalam kelas-kelas mutu, yaitu
kelas mutu I, mutu II, dan kelas mutu III yang didasarkan pada kriteriakriteria tertentu sebagai berikut :
a. Kelas mutu I, yaitu buncis berukuran besar atau panjang dan berukuran
kecil atau pendek (baby buncis), utuh dan sehat (tidak terserang hama
dan penyakit), warna buah masih agak muda, dan biji dalam polong
belum tampak menonjol.
b. Kelas mutu II, yaitu buncis berukuran kecil atau pendek (tetapi bukan
baby buncis), utuh dan sehat (tidak terserang hama atau penyakit),
warna buah masih agak muda, dan biji dalam polong belum tampak
menonjol.
c. Kelas mutu III, yaitu buncis berukuran besar ataupun kecil, tetapi
terdapat cacat yang tidak parah.
Sortasi dan grading pada buncis dapat memberikan beberapa
keuntungan bagi petani dan konsumen, antara lain :
a. Memudahkan konsumen untuk mendapatkan kualitas buncis yang
dikehendaki .
b. Memudahkan pemasaran menurut standar mutu.
c. Dapat memberikan keuntungan yang lebih baik jika dibandingkan
dengan penjualan tanpa sortasi dan grading.

11

d. Dapat memberikan kepuasan dan meningkatkan kepercayaan pada


konsumen sehingga dapat menjamin penjualan yang lebih baik.
3. Pencucian buncis
Tanaman buncis yang disemprot dengan obat pengendali hama atau
penyakit (pestisida), umumnya menghasilkan polong yang masih mengandung
residu pestisida. Residu yang melekat pada buncis sangat membahayakan
kesehatan konsumen. Oleh karena itu buncis yang telah di grading dan sortasi
harus dicuci terlebih dahulu sebelum dijual kepasar. Pencucian buncis
dilakukan terpisah menurut kelompok yang telah ditetapkan dalam kegiatan
sortasi dan grading.
Pembersihan residu pestisida yang menempel pada buncis dapat
dilakukan dengan menggunakan Neutral Cleaner Brogdex dan Britex Wax.
Neutral Cleaner Brogdex berfungsi untuk membersihkan residu pestisida yang
terdapat pada buncis dan membunuh hama serta penyakit yang menempel pada
buah buncis. Sedangkan Britex Wax berfungsi untuk memperpanjang umur
kesegaran buncis.
4. Penyimpanan
Buncis termasuk sayuran mudah rusak setelah pemetikan sehingga perlu
penanganan yang tepat untuk memperpanjang kesegaran buncis. Hal ini
menyebabkan

sangat

diperlukannya

teknik

penyimpanan

yang

baik.

Penyimpanan buncis yang kurang baik dapat menyebabkan tingkat kerusakan


yang tinggi. Kegiatan penyimpanan pada dasarnya bertujuan untuk menekan
sekecil mungkin proses kehidupan buncis yang masih berlangsung sehingga
kesegaran buncis tersebut dapat dipertahankan lebih lama. Proses kehidupan
buncis yang telah dipetik dapat diperlambat dengan cara memperlambat laju

12

penguapan (transpirasi) dan laju pernafasan (respirasi) yang terjadi pada


buncis.
5. Pengepakan dan pengangkutan
Buncis yang akan dipasarkan sebaiknya dikemas dengan baik untuk
memudahkan perhitungan, pengangkutan, dan menambah penampilan menjadi
lebih menarik. Setiap kemasan buncis berisi buncis yang berukuran sama.
Selain pengepakan untuk konsumen, juga perlu dilakukan pengepakan untuk
pengangkutan. Kemasan untuk pengangkutan buncis harus memperhatikan
bahan dan desainnya. Bahan kemasan dari keranjang bambu, karton, atau
karung jala cukup baik untuk buncis. Desain kemasan untuk mengangkut
buncis dapat berbentuk segiempat atau bulat yang dindingnya diberi lubang
ventilasi.
Untuk mencegah kerusakan buncis selama pengangkutan hendaknya
memperhatikan hal-hal berikut :
Buncis yang telah dikemas dalam kandong plastik poly ethylene
disusun rapi di dalam kotak emas sampai penuh. Kemudian kotak

ditutup dan diikat dengan tali.


Kotak emas yang telah berisi kemasan buncis disusun rapi di dalam
alat pengangkutan. Antar kotak emas diberi sedikt celah untuk
sirkulasi udara agar keadaan di dalam ruang pengangkutan tidak panas

dan lembab.
Pengangkutan buncis sebaiknya dilakukan pada malam hari untuk
menghindari cuaca yang panas selama perjalanan sehingga penguapan

air yang berlebihan dapat dihindari.


Bila memungkinkan alat pengangkutan dilengkapi dengan ruangan
pendingin atau ruang pengatur atmosfir (menggunakan kontainer).

13

14

III. METODE PRAKTIK KERJA LAPANG


A. Tempat dan Waktu
1. Tempat
Praktik kerja lapangan ini akan dilaksanakan di PT. Bumi Sari Lestari
(Fruits and Vegetables Exporter) di Desa Soropadan di Kecamatan Pringsurat
Temanggung.
2. Waktu
Praktik kerja lapangan ini akan dilaksanakan selama 25 hari kerja,
dimulai antara bulan Januari sampai Februari 2015.
B. Materi Praktik Kerja Lapangan
Materi atau obyek yang akan dikaji dalam pelaksanaan Praktik kerja
Lapangan ini adalah kondisi umum perusahaan serta kegiatan penanganan
pascapanen buncis prancis di PT. Bumi Sari Lestari (Fruits and Vegetables
Exporter).
C. Metode Pelaksanaan
Metode yang digunakan dalam praktik kerja lapangan ini adalah metode
observasi patisipasi yaitu suatu metode pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan
dengan mengamati dan mengikuti kegiatan secara aktif yang dilakukan di PT.
Bumi Sari Lestari (Fruits and Vegetables Exporter). Jenis data yang akan diambil
terdiri dari :
a. Data primer
Data primer yaitu data yang diperoleh secara langsung ke lapangan
yang bersumber dari informan, dengan memakai teknik pengumpulan data
dan melakukan observasi (pengamatan langsung) partisipasi. Data primer
ini meliputi data gambaran umum perusahaan, visi dan misi perusahaan,
struktur organisasi perusahaan serta kegiatan-kegiatan yang berkaitan

15

dengan penanganan pascapanen buncis di PT. Bumi Sari Lestari ((Fruits


and Vegetables Exporter).
b. Data sekunder
Data sekunder yaitu data pendukung bagi data primer yang diperoleh
dari bahan-bahan literatur seperti buku, jurnal, arsip-arsip resmi meliputi
volume ekspor, volume barang masuk ke gudang, kriteria grade, kriteria
sortasi dan grading serta literatur lainnya yang berkaitan dengan
penanganan pascapanen buncis.

16

IV. JADWAL PRAKTIK KERJA LAPANGAN

Pelaksanaan kerja praktik ini akan dilaksanakan dengan alokasi waktu dan
kegiatan yang tertera pada tabel berikut :
Tabel 1. Jadwal Pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan
N

Minggu ke1
2

Rencana Kegiatan

o
Observasi pendahuluan dan pengenalan PT.

2
3

Bumi Sari Lestari Temanggung.


a. Pengenalan lingkungan.
b. Pengenalan produk yang diproduksi.
c. Pengenalan dengan kemitraan.
Partisipasi aktif dalam kegiatan di PT. Bumi
Sari Lestari Temanggung.
a. Mengikuti proses kegiatan panen.
b. Mengikuti proses kegiatan pascapanen.
Pengambilan data primer.
Pengambilan data sekunder untuk melengkapi

4
bahan penyusunan laporan Praktik Kerja
Lapangan.

DAFTAR PUSTAKA
Rukmana, Rahmat. 1994. Budidaya Buncis. Yogyakarta : Kanisius.
Cahyono, Bambang. 2003. Teknik Budidaya dan Analisis Usahatani Kacang
Buncis. Yogyakarta : Kanisius.

17

Setianingsih dan Khaerodin. 1993. Pembudidayaan Buncis Tipe Tegak dan


Merambat. Penebar Swadaya. Jakarta
Tim Penulis PS. 1993. Sayuran Komersil. Penebar Swadaya. Jakarta
Nyoman. S. Amtara dan Utama, I. M. S,.2013. Pascapanen Tanaman Tropika :
Buah dan Sayur. Tropical Plant Curiculum Project. Udayana University.

18