Anda di halaman 1dari 6

NASKAH ROLE PLAY

TUTORIAL A

Di suatu kecamatan Terlanjur Sederhana, tinggal lah satu keluarga yang dipimpin oleh
Dokter S. Dokter S memiliki seorang isteri bernama Ny. W yang kegiatan sehari-harinya sebagai
ibu rumah tangga. Dokter S memilik 3 orang anak bernama A, B dan C. Anak A, saat ini duduk
di bangku SMU kelas 3 dan berkeingingan melanjutkan pendidikan di fakultas kedokteran. Anak
B duduk di bangku sekolah dasar kelas 2 dan menderita autism. Sedangkan Anak C, yang masih
berusia 2 tahun saat ini menderita penyakit jantung bawaan.
Di suatu sore, Dokter S baru pulang dari Puskesmas tempatnya bekerja. Sesampainya di
teras rumah, Dokter S mendapati isterinya sedang merenung sendirian.
Dokter S: Ma, ada masalah apa? Kok diem aja di luar? Anak-anak mana?
Ny. W: Iya nih, Pa. Mama lagi mikirin keluarga kita.
Dokter S: Memangnya mikirin masalah apa Ma?
Ny. W: Ini lho, Pa. Si A kan sebentar lagi mau ujian nasional. Dia cerita ke mama kalau dia
ingin seperti Papa, ingin jadi dokter.
Dokter S: Bagus donk, Ma. Berarti ada yang gantiin Papa nanti jadi dokter.
Ny. W: Masalahnya biayanya itu lho Pa. Kan anak-anak kita yang lain juga butuh biaya besar
buat perawatannya.
Dokter S: Tenang Ma. Pasti ada jalan. Sekarang kita omongin aja gimana cara penyelesaiannya.
Ny. W: Enaknya gimana ya Pa?
Dokter S: kita masuk dulu yuk Ma. Papa capek abis kerja.

Dokter S dan isterinya masuk ke dalam rumah sambil terus memikirkan penyelesaian
yang ada di keluarganya. Di dalam rumah, Dokter S segera duduk di sofa untuk melepas lelah,
sedangkan isterinya menyiapkan kopi hangat dan kue lapis untuk suami tercinta.
Dokter S: Sini Ma ngobrol sama Papa soal yang tadi.
Ny.W menuruti permintaan suaminya dan duduk di sampingnya untuk membicarakan masalah di
keluarganya.
Ny. W: Jadi gimana ya Pa?
Dokter S: Hmm Kayaknya kita harus bikin suatu rancangan anggaran Ma untuk minimal 1
tahun ke depan.
Ny. W: Ide bagus, Pa. Sebentar Mama ambil kertas dan pulpen untuk bikin coret-coretannya
dulu Pa.
Dokter S: Oke Ma. Sekalian bawa anak-anak ke sini ya Ma. Papa kangen sama anak-anak.
Sekalian supaya si anak A juga bisa tau rinciannya dan bisa kasih masukan juga. Kan dia sudah
cukup besar untuk tau masalah ini.
Setelah mengambil kertas dan pulpen, Ny.W memanggil anaknya yang pertama dan membawa 2
anaknya yang lain. Ketika semuanya sudah berkumpul, mereka mulai membicarakan masalah
yang akan dibahas dan dicari penyelesaiannya.
Anak A: Ada apa Pa? Tumben ngajak ngumpul setelah pulang kerja Pa. Gimana di
Puskesmas?
Dokter S: Alhamdulillah di puskesmas lancar-lancar aja Nak. Begini, Papa sama Mama lagi
mau ngobrol-ngobrol aja.
Ny. W: Anak B, sini saying sama Mama. Ny. W memanggil anaknya yang menderita autism,
namun sang anak tetap asik dengan dunianya sendiri.
Dokter S: Dituntun aja Ma, dibawa ke sini. Si Kecil ditidurin dulu di box biar ga terlalu banyak
gerak. Kasihan nanti sesak lagi.

Isterinya mengikuti permintaan suaminya, lalu segera duduk lagi untuk berdiskusi dengan suami
dan anak pertamanya.
Ny. W: Yaudah Pa kita mulai aja obrolannya. Kira-kira gimana ya?
Anak A: Memangnya mau bicarain apa, Ma, Pa?
Ny. W: Ini lho Nak, mama sama papa lagi mau bikin anggaran untuk 1 tahun ke depan. Kan
kamu mau masuk kedokteran, dan adik-adikmu juga mbaktuh perawatan rutin.
Dokter S: Iya, makanya mama sama papa mau bikin anggaran supaya tau biaya yang
dimbaktuhin untuk 1 tahun itu berapa.
Ny. W: Nah, ini juga supaya kita bisa rencanain pengeluaran yang prioritas yang mana.
Anak A: Oh Gitu
Dokter S: Untuk sembaklan, pendapatan Papa kerja di puskesmas sekitar Rp. 4.000.000,-. Kirakira pengeluaran kita untuk sembaklan berapa ya Ma? Dan untuk apa aja ya Ma?
Ny. W: Kita kan masih harus bayar sekolah anak kita yang pertama Pa. Kita juga harus mikirin
pengobatan 2 anak kita itu yang memang rutin dilakukan.
Dokter S: Selain itu Ma, kita juga harus mikirin anak kita yang mau masuk fakultas kedokteran.
Jadi mau tidak mau kita harus nyisihin uang tiap mbaklan untuk biaya tes, masuk, dll.
Ny. W: Ya sudah Pa, Mama tulis rinciannya di kertas, Papa yang kasih masukannya ya.
Setelah kurang lebih 1 jam berdiskusi, akhirnya keluarga Dokter S berhasil memmbakat
rancangan anggaran untuk 1 tahun ke depan. (Untuk rancangan anggarannya akan dilampirkan).

Keesokan harinya, saat malam hari Dokter S berangkat ke puskesmas tempatnya bekerja
untuk melaksanakan shift malamnya. Sesampainya di sana, Dokter S langsung masuk ke
ruangannya untuk menerima pasien yang sudah mendaftar dan menunggu kedatangannya.

Perawat yang mendampingi Dokter S segera memanggil pasien pertama untuk masuk ke
ruangan.
Perawat: Ny. D, silahkan masuk
Ny. D segera masuk ke ruangan setelah perawat memanggil namanya.
Ny. D: Selamat malam, dokter.
Dokter S: Selamat malam, mbak. Saya Dokter S yang bertugas malam ini. bu silahkan duduk.
Dengan ibu siapa? Usia berapa?
Ny D: Nama saya D, dok. Usia saya 30 tahun.
Dokter s

: ibu sudah menikah?

Ny. D : Sudah dok


Dokter S : ohh baiklah,mbak. maaf, boleh saya tahu pekerjaannya mbak?
Ny. D : hihihihihi masa dokter gak tau. Kupu- kupu malam, dok.
Dokter S: Ada keluhan apa mbak?
Ny. D: Ini dokter, saya sariawan sudah 1 bulan tapi enggak sembuh- sembuh. Saya juga sering
demam dok.
Dokter S: Ada keluhan lain enggak mbak?
Ny. D: Saya sering banget diare, Dok.
Dokter S : Keluhan sering demam dan sering diare sudah dialami sejak kapan mbak?
Ny. D : Sejak beberapa bulan terakhir ini dok. Oh iya dok, saya juga sering merasakan gatalgatal nih dok di leher, di ketiak, dan daerah selangkangan.
Dokter S : mbak suka mengalami keputihan tidak mbak? Kalau iya, warnanya apa? Bau tidak
mbak?
Ny. D : Iya dok, saya sering kputihan. Warnanya putih susu tapi tidak berbau kok dok

Dokter S: Gimana dengan berat badannya? Ada penurunan atau tidak?


Ny. D: Saya enggak nimbang sih dok. Tapi semua baju dan celana saya sekarang longgar.
Dokter S : Oh iya mbak, sebelumnya sudah pernah berobat atau belum?
Ny. D : Sudah pernah beberapa kali dok, tapi tetep sering kambuh.
Dokter S : keluarga ibu ada yang mengalami hal serupa?
Ny. D : tidak ada sepertinya, dok
Anamnesa terus berlanjut. Setelah beberapa menit melakukan anamnesa, Dokter S melakukan
pemeriksaan fisik dan menyarankan untuk melakukan pemeriksaan penunjang. Dari hasil
pemeriksaan yang dilakukan didapati pasien Ny. D ternyata menderita HIV AIDS.

4 hari kemudian, Ny. D datang kembali untuk mengambil hasil pemeriksaan laboratorium. Lalu
dokter menyampaikan hasil pemeriksaan dan diagnosis kepada pasien (breaking bad news).
Dokter S mengedukasi Ny D sebagai pasien tentang pencegahan penyebaran penularan HIV.
Dokter : saya sarankan agar ibu berbicara pada suami ibu tentang masalah ini. Karena hal ini
berisiko terjadi penularan. Hal ini berfungsi untuk mencegah penularan. Tapi tetap kami akan
bantu ibu sebaik mungkin.
Ny. D : dok, saya mohon jangan bilang ke siapa-siapa ya dok. Saya takut suami saya murka, dan
tahu bahwa saya pernah main dibelakang dia. Saya pulang dok, terima kasih.
Ny. D keluar ruangan.
Ketika rapat mingguan para staf Puskesmas, dokter D melaporkan bahwa maraknya pasien HIV
yang terjadi. Dan dimulailah pembahasan issue etik, budaya dan agama dalam penanggulangan
masalah HIV. ( diputar ppt isu etik penanggulangan HIV).
Beberapa hari setelah rapat para staf Puskesmas, Ny D datang kembali ke puskesmas untuk
bertemu dengan dokter S.

Ny W: Selamat malam Dokter.


Dokter S: Selamat malam mbak. Jadi bagaimana mbak keadaannya sekarang?
Ny W: dok minggu ini saya

Anda mungkin juga menyukai