Anda di halaman 1dari 1

BAB III

PENUTUPAN
Obsidian merupakan jenis batuan vulkanik yang secara keseluruhan
tersusun atas kaca amorf dan sedikit kristal feldspar, mineral hitam dan kuarsa.
Secara genesa proses terbentuknya obsidian dari ekstruktif lava felsik yang
mendingin dengan sangat cepat tanpa adanya waktu untuk pertumbuhan kristal.
Pada umumnya obsidian ditemukan dalam bagian tempat aliran larva rhyolitic
yang dikenal sebagi lava obsidian yang mengalir.
Obsidian dapat diklasifikasikan sebagai mineraloid. Walaupun
memiliki warna yang gelap namun obsidian merupakan batuan beku asam.
Obsidian terdiri dari SiO2 (silikon dioksida) yang bisanya memiliki kandungan
silika sekitar 70% atau bahkan lebih. Berat jenis obsidian berkisar dari 2.3 3.0,
memiliki pecahan choncoidal. tekstur kaca atau gelas, struktur massive, dan
kadar kekerasan bekisar 5 - 5.5 skala Mohs. Obsidian mimiliki warna yang
bervariasi tergantung pada kehadiran pengotor.
Kebanyakan obsidian didapatkan sebagai batuan beku luar pada gua
api Indonesia yang berumur relatif muda (Pleistosen Kuarter). Dikarenakan
bahan galian ini tergelong keras maka teknik penambangannya dapat dilakukan
dengan sistem penambangan kuari menggunakan peralatan sederhana. Pada
tahap awal penambangan untuk memperoleh blok-blok yang cukup besar
dimulai proses peledakan.
Berdasarkan sifat fisik dan kimia obsidian dimanfaatkan sebagai bahan
bangunan, karena sifatnya yang keras dan sangat resisten, obsidian dapat
dimanfaatkan sebagai fondasi bangunan. Bahan batu mulia karena sifatnya yang
kompak, beberapa jenis berwarna terang dan transparan obsidian dapat dibentuk
menjadi batu mulia. Bahan pembuatan batuan lainnya, seperti perlit
rekayasa/artificial ferlit. Bahkan sebagai perhiasan. Variasi dan keindahan
warna yang dimiliki obsidian mampu menjadikan perhiasan tampak lebih
elegan.