Anda di halaman 1dari 18

JENIS-JENIS PELARUT

Pelarut adalah benda cair atau gas yang melarutkan benda padat, cair atau gas, yang menghasilkan
sebuah larutan. Pelarut paling umum digunakan dalam kehidupan sehari-hari adalah air. Pelarut lain yang juga
umum digunakan adalah bahan kimia organik (mengandung karbon) yang juga disebut pelarut organik.

Solvent

heksana
Benzena

Rumus kimia

Titik
didih

Pelarut non-Polar
CH3-CH2-CH2-CH2- 69 C
CH2-CH3
C6H6
80 C

Toluena

C6H5-CH3

Dietil eter

Konstan
ta
Dielektr
ik

Massa
jenis

2,1

0,655
g/ml
0,879
g/ml
0,867
g/ml
0,713
g/ml

2,3
2,4

CH3CH2-O-CH2-CH3

111
C
35 C

Kloroform

CHCl3

61 C

4,8

Etil asetat

CH3-C(=O)-OCH2-CH3

77 C

6.0

4,3

1,498
g/ml
0,894
g/ml

Pelarut polar Aprotic


(Merupakan pelarut polar yang tidak melepaskan proton)
1,4-Dioksana
/-CH2-CH2-O-CH2- 101
2,3
1.033
CH2-O-\
C
g/ml
Tetrahidrofuran (TH
/-CH2-CH2-O-CH2- 66 C
7,5
0.886
F)
CH2-\
g/ml
Diklorometana (DC
CH2Cl2
40 C
9,1
1.326
M)
g/ml
Asetona
CH356 C
21
0.786
C(=O)-CH3
g/ml
Asetonitril (MeCN)
CH3-CN
82 C
37
0.786
g/ml
Dimetilformamida (
H-C(=O)N(CH3)2
153
38
0.944
DMF)
C
g/ml
Dimetil
CH3-S(=O)-CH3
189
47
1.092
sulfoksida (DMSO)
C
g/ml

Pelarut Polar protic


(merupakan plarut polar yang melepaskan proton)
Asam asetat
CH3-C(=O)OH
118
6,2
1.049
C
g/ml
n-Butanol
CH3-CH2-CH2-CH2118
18
0.810
OH
C
g/ml
Isopropanol (IPA)
CH3-CH(-OH)-CH3 82 C
18
0.785
g/ml

n-Propanol

CH3-CH2-CH2-OH

97 C

20

Etanol

CH3-CH2-OH

79 C

30

Metanol

CH3-OH

65 C

33

Asam formiat

H-C(=O)OH

58

air

H-O-H

100
C
100
C

80

0.803
g/ml
0.789
g/ml
0.791
g/ml
1.21
g/ml
1.000
g/ml

Pelarut yang digunakan untuk ekstraksi


Jenis pelarut berkaitan dengan polaritas dari pelarut tersebut. Hal yang perlu
diperhatikan dalam proses ekstraksi adalah senyawa yang memiliki kepolaran
yang sama akan lebih mudah tertarik/ terlarut dengan pelarut yang memiliki
tingkat kepolaran yang sama. Berkaitan dengan polaritas dari pelarut, terdapat
tiga golongan pelarut yaitu:
a.

Pelarut polar

Memiliki tingkat kepolaran yang tinggi, cocok untuk mengekstrak senyawasenyawa yang polar dari tanaman. Pelarut polar cenderung universal digunakan
karena biasanya walaupun polar, tetap dapat menyari senyawa-senyawa dengan
tingkat kepolaran lebih rendah. Salah satu contoh pelarut polar adalah: air,
metanol, etanol, asam asetat.
b.

Pelarut semipolar

Pelarut semipolar memiliki tingkat kepolaran yang lebih rendah dibandingkan


dengan pelarut polar. Pelarut ini baik untuk mendapatkan senyawa-senyawa
semipolar dari tumbuhan. Contoh pelarut ini adalah: aseton, etil asetat,
kloroform
c.

Pelarut nonpolar

Pelarut nonpolar, hampir sama sekali tidak polar. Pelarut ini baik untuk
mengekstrak senyawa-senyawa yang sama sekali tidak larut dalam pelarut polar.
Senyawa ini baik untuk mengekstrak berbagai jenis minyak. Contoh: heksana,
eter
Macam macam cairan penyari :
a.

Air

Termasuk yang mudah dan murah dengan pemakaian yang luas, pada suhu
kamar adalah pelarut yang baik untuk bermacam-macam zat misalnya : garamgaram alkaloida, glikosida, asam tumbuh-tumbuhan, zat warna dan garamgaram mineral.
Umumnya kenaikan suhu dapat menaikkan kelarutan dengan pengecualian
misalnya pada condurangin, Ca hidrat, garam glauber dll. Keburukan dari air
adalah banyak jenis zat-zat yang tertarik dimana zat-zat tersebut meripakan
makanan yang baik untuk jamur atau bakteri dan dapat menyebabkan
mengembangkan simplisia sedemikian rupa, sehingga akan menyulitkan
penarikan pada perkolasi.
b.

Etanol

Etanol hanya dapat melarutkan zat-zat tertentu, Umumnya pelarut yang baik
untuk alkaloida, glikosida, damar-damar, minyak atsiri tetapi bukan untuk jenisjenis gom, gula dan albumin. Etanol juga menyebabkan enzym-enzym tidak

bekerja termasuk peragian dan menghalangi perutumbuhan jamur dan


kebanyakan bakteri. Sehingga disamping sebagai cairan penyari juga berguna
sebagai pengawet. Campuran air-etanol (hidroalkoholic menstrum) lebih baik
dari pada air sendiri.
c.

Gycerinum (Gliserin)

Terutama dipergunakan sebagai cairan penambah pada cairan menstrum untuk


penarikan simplisia yang mengandung zat samak. Gliserin adalah pelarut yang
baik untuk tanin-tanin dan hasil-hasil oksidanya, jenis-jenis gom dan albumin
juga larut dalam gliserin. Karena cairan ini tidak atsiri, tidak sesuai untuk
pembuatan ekstrak-ekstrak kering.

d.

Eter

Sangat mudah menguap sehingga cairan ini kurang tepat untuk pembuatan
sediaan untuk obat dalam atau sediaan yang nantinya disimpan lama.
e.

Solvent Hexane

Cairan ini adalah salah satu hasil dari penyulingan minyak tanah kasar. Pelarut
yang baik untuk lemak-lemak dan minyak-minyak. Biasanya dipergunakan untuk
menghilangkan lemak dari simplisia yang mengandung lemak-lemak yang tidak
diperlukan, sebelum simplisia tersebut dibuat sediaan galenik, misalnya strychni,
secale cornutum.
f.

Acetonum

Tidak dipergunakan untuk sediaan galenik obat dalam, pelarut yang baik untuk
bermacam-macam lemak, minyak atsiri, damar. Baunya kurang enak dan sukar
hilang dari sediaan. Dipakai misalnya pada pembuatan Capsicum oleoresin
(N.F.XI)
g.

Chloroform

Tidak dipergunakan untuk sediaan dalam, karena efek farmakologinya. Bahan


pelarut yang baik untuk basa alkaloida, damar, minyak lemak dan minyak atsiri.

Faktor-faktor yang Berpengaruh pada Ekstraksi Bahan Alam


00.47 LANSIDA 6 comments

Sekedar mengingat kembali, istilah ekstraksi yaitu metode untuk memisahkan komponen solut (zat terlarut) dari campurannya
dengan menggunakan sejumlah massa pelarut. Ada beberapa alasan mengapa memilih metode ekstraksi, antara lain :

Apabila senyawa yang akan dipisahkan terdiri dari komponen-komponen yang mempunyai titik didih yang berdekatan.

Sensitif terhadap panas

Merupakan campuran azeotrop.

Berdasarkan fase zat terlarut dan pelarut, ekstraksi dibedakan menjadi ekstraksi cair cair, ekstraksi padat-cair dan ekstraksi gas-cair.
Ekstraksi padat cair sering disebut dengan pelindian atau leaching. Jika zat terlarut yang tidak dikehendaki akan dihilangkan dari
padatan dengan menggunakan air maka proses leaching tersebut dinamakan pencucian. Proses ekstraksi padat cair ini banyak
digunakan pada industri bahan makanan, farmasi dan ekstraksi minyak nabati. Beberapa pelarut organik sering digunakan dalam
ekstraksi padat-cair adalah alkohol (etanol), heksan, kloroform dan aseton.
Sedang faktor-faktor yang berpengaruh dalam proses ekstraksi antara lain :
1. Jenis pelarut
Jenis pelarut mempengaruhi senyawa yang tersari, jumlah solut yang terekstrak dan kecepatan ekstraksi. Dalam dunia farmasi dan
produk bahan obat alam, pelarut etanol, air dan campuran keduanya lebih sering dipilih karena dapat diterima oleh konsumen.
2. Temperatur
Secara umum, kenaikan temperatur akan meningkatkan jumlah zat terlarut ke dalam pelarut. Temperatur pada proses ekstraksi
memang terbatas hingga suhu titik didih pelarut yang digunakan.
3. Rasio pelarut dan bahan baku
Jika rasio pelarut-bahan baku besar maka akan memperbesar pula jumlah senyawa yang terlarut. Akibatnya laju ekstraksi akan
semakin meningkat. Akan tetapi semakin banyak pelarut, proses ekstraksi juga semakin mahal. digunakan maka proses hilirnya akan
semakin mahal.
4. Ukuran partikel
Laju ekstraksi juga meningkat apabila ukuran partikel bahan baku semakin kecil. Dalam arti lain, rendemen ekstrak akan semakin
besar bila ukuran partikel semain kecil.
Pemilihan pelarut dalam proses ekstraksi
Pelarut yang baik pada proses ekstraksi adalah berdasarkan pada interaksi antara solut-pelarut. Pemilihan pelarut ekstraksi ini dapat
dipilih menggunakan :
1. Tabel Robin (Robin Chart)
Tabel Robin menyajikan sistem pemilihan pelarut bagi suatu solut berdasarkan komposisi kimianya. Tabel Robin menyajikakan deviasi
negatif, positif, atau netral dari interaksi solut-pelarut terhadap larutan ideal. Deviasi negatif dan netral mengindikasikan interaksi
yang bagus diantara kelompok solut dan pelarut, sehingga kelarutan solut dalam pelarut menjadi tinggi.
2. Parameter kelarutan Hildebrand
Penggunaan parameter kelarutan dalam pemilihan pelarut adalah berdasar aturan kimia yang telah dikenal yakni like dissolved
like. Jika gaya antar molekul antara molekul pelarut dan solute memiliki kekuatan yang mirip, maka pelarut tersebut merupakan
pelarut yang baik bagi solut tersebut.
3. Pertimbangan Kriteria Pelarut
Selain menggunakan parameter kelarutan Hildebrand atau Tabel Robin, pemilihan pelarut juga dilakukan dengan mempertimbangkan
beberapa kriteria pemilihan pelarut seperti :
1. Selektivitas
Pilih pelarut yang selektif sesuai polaritas senyawa yang akan disari agar mendapat ekstrak yang lebih murni.
2. Kestabilan kimia dan panas
Pelarut yang dipilih harus stabil pada kondisi operasi ekstraksi dan proses hilir.
3. Kecocokan dengan solut
Pelarut tidak boleh bereaksi dengan senyawa yang terlarut.
4. Viskositas
Jika viskositas pelarut yang rendah maka koefisien difusi akan meningkat sehingga laju ekstraksi pun juga meningkat.
5. Recoveri pelarut

Guna meningkatkan nilai ekonomis proses, pelarut perlu direcoveri sehingga dapat digunakan kembali. Pelarut yang mempunyai titik
didih rendah, lebih ekonomis untuk direkoveri dan digunakan kembali.
6. Tidak mudah terbakar
Untuk kepentingan safety, perlu memilih pelarut yang tidak mudah terbakar
7. Tidak beracun
Pilih pelarut yang tidak beracun untuk keamanan produk dan keamanan bagi pekerja.
8. Murah dan mudah diperoleh
Pilih pelarut yang harganya murah dan mudah diperoleh.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tanaman kacang tanah (Arachis hipogea L) termasuk tanaman polong-polongan atau legium kedua
terpenting setelah kedelai di Indonesia. Tanaman ini merupakan salah satu tanaman palawija jenisleguminoceae yang
memiliki kandungan gizi cukup tinggi antara lain protein, karbohidrat dan minyak.

Gamba 1.1 Kacang sebagai bahan baku ekstraksi


Sekarang pemanfaatan kacang tanah makin luas dari minyak nabati hingga selai. Kandungan minyak yang
terdapat di dalam kacang tanah cukup tinggi yaitu berkisar antara 40-50% dan merupakan minyak nabati yang bebas
kolesterol. Karena kandungan minyaknya cukup tinggi maka kacang tanah merupakan sumber minyak yang penting.
Minyak kacang tanah seperti juga minyak nabati lainnya merupakan salah satu kebutuhan manusia, yang
dipergunakan baik sebagai bahan pangan (edible purpose) maupun bahan non pangan. Sebagai bahan pangan minyak
kacang tanah digunakan untuk minyak goreng, bahan dasar pembuatan margarin mayonaise, salad dressing, mentega
putih (shortening) dan mempunyai keunggulan bila dibandingkan dengan minyak jenis lainnya karena dapat dipakai
berulang-ulang untuk menggoreng bahan pangan. Sebagai bahan non pangan, minyak kacang tanah digunakan
dalam industri sabun, face cream, shavingcream, pencuci rambut dan bahan kosmetik lainnnya. Dalam bidang
farmasi minyak kacang tanah dapat dipergunakan untuk campuran pembuatan adrenalin dan obat asma.
Minyak kasar hasil ekstraksi selalu mengandung asam lemak bebas sebagai hasil aktifitas enzim lipase
terhadap gliserida selama minyak tersebut disimpan.Besarnya asam lemak tersebut digunakan sebagai ukuran kualitas
minyak.Makin besar asam lemak bebas yang terkandung dalam minyak tersebut maka kualitasnya makin rendah.
Minyak atau lemak yang disimpan pada kondisi penyimpanan yang tidak baik apabila diolah atau dimanfaatkan akan
dihasilkan minyak atau lemak dengan kandungan asam lemak bebas tinggi.
Penelitian ini bertujuan mempelajari kondisi optimum dari pengaruh volume pelarut dan suhu ekstraksi
pada proses ekstraksi minyak kacang tanah secara batch dengan menggunakan pelarut n-heksana. Penelitian ini
diharapkan bermanfaat untuk mengetahui dan mempraktekkan secara langsung cara pengambilan minyak dari kacang
tanah dengan proses ekstraksi. Sealin itu dapat digunakan sebagai dasar penelitian selanjutnya.

Ekstraksi adalah proses pemisahan suatu zat dari campurannya dengan membagi
sebuah zat terlarut diantara dua pelarut. Hal ini dilakukan untuk mengambil zat terlarut
tersebut dari satu pelarut ke pelarut lain. Ekstraksi sangat berperan penting dalam bidang
industri untuk penentuan kadar kafein dalam produksi teh kering atau pun bahan lain yang
mengandung kafein.
1.2 Tujuan
Setelah melakukan percobaan mahasiswa dapat:
1.
Mengetahui cara pemisahan dengan metode ekstraksi soxhlet.
2.
Menentukan kadar lemak dalam sampel dengan metode ekstraksi soxhlet.
3.
Menghitung massa yang hilang pada proses ekstraksi
1.3 Manfaat
Adapun manfaat yang dihasilkan dari praktikum ini adalah :
1. Dapat mengetahui alat dan prosedur kerja ekstraksi menggunakan pelarut

2. Dapat mengetahui kemampuan pelarut heksan dalam mengekstraksi lemah pada kacang.
3. Dapat mengetahui waktu yang di butuhkan heksan dalam mengekstraksi kacang tanah dalam
volume tertentu.

BAB II
DASAR TEORI
2.1 Pengertian Ekstraksi
Kelarutan Senyawa dalam suau pelarut dinyatakan sebagai jumlah gram zat terlarut
dalam 100 mL pelarut pada 25 0C. Senyawa akan larut dalam suatu pelarut jika kekuatan
atraktif antara kedua molekul (zat terlarut dan pelarut) adalah sesuai atau disukai.
Yang polar larut dalam pelarut polar, dan sebaliknya. Jadi sifat kepolaran senyawa non
polar terjadi karena perbedaan keelektronegatifannya kecil atau sama, misalnya C-C, C-H ;
sedangkan senyawa polar terdapat perbedaan keelektronegatifan besar seperti pada C-O, C-N,
C-X. Demikian pula diantara molekul yang mengandung O-H, atau N-H akan terjadi ikatan
hidrogen
(antar
molekul)
sangat
menentukan
kelarutan

Gambar 2.1 Alat ekstraksi


Ekstraksi adalah metoda pemisahan yang melibatkan proses pemindahan satu atau
lebih senyawa dari satu fasa ke fasa lain dan didasarkan kepada prinsip kelarutan. Jika kedua
fasa tersebut adalah zat cair yang tidak saling bercampur, disebut ekstraksi cair-cair.Partisi
adalah keadaan kesetimbangan keberhasilan pemisahan sangat tergantung pada perbedaan
kelarutan senyawa tersebut dalam kedua pelarut.Secara umum prinsip pemisahannya adalah
senyawa tersebut kurang larut dalam pelarut yang satu dan sangat larut di pelarut lainnya.Air
banyak dipakai dalam sistem ekstraksi cair-cair senyawa organik karena banyak senyawa
organik yang bersifat ion atau sangat polar yang cukup larut dalam air Pelarut lainnya adalah
pelarut organik yang tidak bercampur dengan air (yaitu bukan dari golongan alkohol dan
aseton). Dalam sistem ekstraksi ini akan dihasilkan dua fasa yaitu fasa air (aqueos) dan fasa
organik. Selain syarat kelarutan yang harus berbeda jauh perbedaannya di kedua pelarut
tersebut, juga syarat lain adalah pelarut organik harus mempunyai titik didih jauh lebih
rendah dari senyawa terekstraksi (biasanya dibawah 100 0C), tidak mahal dan tidak bersifat
racun
Dasar metoda ekstraksi cair-cair adalah distribusi senyawa diantara dua fasa cair yang
berada dalam keadaan kesetimbangan. Perbandingan konsentrasi di kedua fasa cair disebut
koefisien distribusi (K) yaitu K=Ca/Cb. Perpindahan senyawa terlarut dari satu fasa ke fasa
lain akhirnya mencapai keadaan setimbang (pada suhu tertentu). Maka K bisa ditentukan.
Efisiensi proses ekstraksi ini tergantung pada jumlah ekstraksi dilakukan, bukan volume
pelarut. Hal ini dinyatakan dengan perhitungan konsentrasi zat terlarut :
Cn = Co [KV1/(KV1+V2)]n

Dimana Co adalah konsentrasi semula, V1 volume semula, K koefisien distribusi dan


V2 volume pengekstrak. Dengan persamaan ini kelihatan akan lebih efektif n kali ekstraksi
dari pada satu kali ekstraksi. Lebih baik dilakukan beberapa kali ekstraksi dari pada satu kali
dengan jumlah yang sama.
Tabel 2.1 Beberapa pelarut yang biasa digunakan ekstraksi
Jenis Pelarut
Titik Didih
Kerapatan
Sifat dan
0
C
g/mL
penggunaanya
Air
100
1,000
Sangat luas, polar,
ionik
Dietil Eter

35

0,714

Heksan

61

0,659

Benzen

80

0,879

Toluen
Pentan

111
36

0,876
0,626

Metanol

65

Kloroform
Metilen Klorida
Karbontetraklorid
a

61
41
77

1,492
1,335
1,594

Sangat luas, mudah


terbakar
Hidrokarbon/nonpolar
, terbakar
Aromatik, mudah
terbakar racun
Seperti benzen
Non polar, mudah
terbakar
Mudah terbakar racun
Sangat polar
Polar, beracun
Hidrokarbon, non
polar, racun

2.2 Proses Ekstraksi


2.2.1 Ekstraksi asam basa
Ekstraksi asam basa adalah termasuk jenis ekstraksi yang didasarkan pada sifat
asam dan basa senyawa organik, disamping kelarutannya.Senyawa asam atau basa organik
direaksikan dengan basa atau asam sehingga membentuk garamnya.Garam ini tidak larut
dalam pelarut organik (non polar) tetapi larut baik dalam air. Ekstraksi basa dikembangkan
untuk isolasi kovalen asam organik dari campurannya, juga kovalen basa organik (alkaloid)
yang diekstraksi dengan asam mineral dengan cara titrasi
2.2.2 Ekstraksi padat-cair
Ekstraksi padat-cair adalah juga termasuk cara ekstraksi yang lazim disebut ekstraksi
pelarut, dimana zat yang akan diekstraksi )biasanya zat padat) terdapat dalam fasa padat.
Cara ini banyak digunakan dalam isolasi senyawa organik (padat) dari bahan alam.Efesiensi
ekstraksi padat cair ini ditentukan oleh besarnya ukuran partikel zat padat yang mengandung
zat organik dan banyaknya kontak dengan pelarut. Maka dari itu dalam praktek isolasi bahan
alam harus menggunakan peralatan ekstraksi kontinu yang biasa disebut soxhlet
2.2.3 Penyaringan dan corong pisah

Corong pisah adalah alat untuk melakukan ekstraksi cair-cair yaitu proses
pengocokan sistem dua pelarut, agar proses partisi bisa berjalan lebih cepat. Setelah dibiarkan
beberapa lama sampai kedua pelarut terpisah dengan baik, baru dilakukan pemisahan salah
satu pelarut.Identifikasi pelarut bagian atas dan bawah, ditentukan atas dasar perbedaan
kerapatannya.Kerapatan yang besar ada di bagian bawah. Proses penyaringan merupakan
bagian penting dalam pemisahan zat padat dari larutan atau zat cair. Dilakukan dengan
menggunakan kertas saring yang dipasang dalam corong.
Ada dua macam cara penyaringan yaitu penyaringan gaya berat (biasa) dan
penyaringan dengan pengisapan (suction). Penyaringan biasa digunakan untuk
mengumpulkan cairan dari zat padat yang tak larut. Kertas saring yang digunakan adalah
jenis lipat (fluted). Penyaringan cara ini sering dilakukan pada kondisi panas (penyaringan
panas), misalnya untuk memisahkan karbon aktif setelah proses penghilangan warna larutan
(decolorizing). Cara penyaringan lain adalah penyaringan dengan pengisapan (suction), yaitu
cara penyaringan yang memerlukan kecepatan dan kuat dan digunakan untuk memisahkan
padatan kristal dari cairannya dalam rektalisasi. Pengisapan dilakukan dengan menggunakan
aspirator-air atau pompa vakum dengan desain khusus. Dan corongnya yang digunakan
adalah corong buchner atau corong hirsch
2.2.4 Pengeringan ekstrak
Ekstraksi yang melibatkan air sebagai pelarut umumnya air akan sedikit terlarut
dalam sejumlah pelarut organik seperti kloroform, benzen dan eter. A ir ini harus dikeluarkan
sebelum dilakuakn destilasi pelarut. Ada dua tahap pengeringan, pertama ekstrak
ditambahkan larutan jenuh natrium klorida (garam dapur) sejumlah volume yang sama.
Garam akan menaikkan polaritas air berarti menurunkan kelarutannya dalam pelarut organik.
Kemudian tambahkan zat pengering garam anorganik anhidrat yang betul betul kering atau
baru. Zat pengering ini adalah anhidrat dari garam berair kristal yang kapasitasnya sebanding
dengan jumlah air kristalnya. Yang umum digunakan adalah Magnesium Sulfat, Natrium
Sulfat. Magnesium sulfat adalah pengering paling efektif akan tetapi sangat mahal. Kalsium
klorida lebih murah akan tetapi sering membentuk komplek dengan beberapa senyawa
organik yang mengandung oksigen (misalnya etanol).

2.3

Prinsip dasar ekstraksi pelarut


Hukum fase Gibbs menyatakan bahwa :

P+V=C+2
Keterangan :
P = fase
C = Komponen
V = Derjat kebebasan
Pada ekstraksi pelarut , kita mempunyai P = 2 , yaitu fase air dan organik, C= 1, yaitu zat
terlarut di dalam pelarut dan fase air pada temperatur dan tekanan tetap, sehingga V = 1,
jadi kita akan dapat :
2 + 1 = 1+2, yaitu P + V = C + 2

2.4

Klasifikasi Ekstraksi
Beberapa cara dapat mengklasifikasikan sistem ekstraksi. Cara kalsik adalah
mengklasifikasikan berdasarkan sifat zat yang diekstraksi., sebagai khelat atau sistem ion
berasosiasi. Sekarang klasifikasi didasarkan atas proses ekstraksi. Bila ekstraksi ion logam
berlangsung , maka proses ekstraksi berlangsung dengan mekanisme tertentu .
Golongan ekstraksi berikutnya dikenali sebagai ekstraksi melalui solvasi sebab
spesies ekstraksi disolvasi ke fase organik. Golongan ekstraksi ketiga adalah proses yang
melibatkan pembentukan pasangan ion. Ekstraksi berlangsung melalui pembentukan spesies
netral yang tidak bermuatan diekstrksi ke fase organik. Sedangakan kategori terakhir
merupakan ekstraksi sinergis . Nama yang digunakan menyatakan adanya efek saling
memperkuat yang berakibat pada penambahan ekstraksi dengan memanfaatkan pelarut
pengekstraksi.
Tiga metode dasar pada ekstraksi cair-cair adalah ekstraksi bertahap, ekstraksi
kontinyu, dan ekstraksi counter current. Ekstraksi bertahap merupakan cara yang paling
sederhana. Caranya cukup dengan menambahkan pelarut pengekstraksi yang tidak bercampur
dengan pelarut semula kemudian dilakukan pengocokan sehingga terjadi kesetimbangan
konsentrasi yang akan diekstraksi pada kedua lapisan, setelah ini tercapai lapisan didiamkan
dan dipisahkan.
Kesempurnaan ekstraksi tergantung pada pada banyaknya ekstraksi yang dilakukan.
Hasil yang baik diperoleh jika jumlah ekstraksi yang dilakukan berulang kali dengan jumlah
pelarut sedikit-sedikit.(Khopkar 1990).Perbandingan antara konsentrasi solut dalam fase
organik terhadap solut dalam fase air disebut koefisien distribusi (Kd).

2.5 Tujuan Ekstraksi


Adapun tujuan daripada ekstraksi adalah untuk menarik semua komponen kimia yang
terdapat didalam simplisia. Basic daripada ekstraksi ini adalah perpindahan massa komponen
zat padat ke dalam pelarut dimana perpindahan mulai terjadi pada lapisan antar muka,
kemudian berdifusi masuk ke dalam pelarut.
Secara umum, terdapat empat situasi dalam menentukan tujuan ekstraksi:
1. Senyawa kimia telah diketahui identitasnya untuk diekstraksi dari organisme. Dalam kasus
ini, prosedur yang telah dipublikasikan dapat diikuti dan dibuat modifikasi yang sesuai untuk
mengembangkan proses atau menyesuaikan dengan kebutuhan pemakai.
2. Bahan diperiksa untuk menemukan kelompok senyawa kimia tertentu, misalnya alkaloid,
flavanoid atau saponin, meskipun struktur kimia sebetulnya dari senyawa ini bahkan
keberadaannya belum diketahui. Dalam situasi seperti ini, metode umum yang dapat
digunakan untuk senyawa kimia yang diminati dapat diperoleh dari pustaka.Hal ini diikuti
dengan uji kimia atau kromatografik yang sesuai untuk kelompok senyawa kimia tertentu.
3. Organisme (tanaman atau hewan) digunakan dalam pengobatan tradisional, dan biasanya
dibuat dengan cara, misalnya Tradisional Chinese medicine (TCM) seringkali membutuhkan
herba yang dididihkan dalam air dan dekok dalam air untuk diberikan sebagai obat. Proses ini
harus ditiru sedekat mungkin jika ekstrak akan melalui kajian ilmiah biologi atau kimia lebih
lanjut, khususnya jika tujuannya untuk memvalidasi penggunaan obat tradisional.
4. Sifat senyawa yang akan diisolasi belum ditentukan sebelumnya dengan cara apapun. Situasi
ini (utamanya dalam program skrining) dapat timbul jika tujuannya adalah untuk menguji
organisme, baik yang dipilih secara acak atau didasarkan pada penggunaan tradisional untuk
mengetahui adanya senyawa dengan aktivitas biologi khusus.

2.6 Metode Ekstraksi


2.6.1 Ekstraksi secara dingin
1. Metode maserasi
Maserasi merupakan cara penyarian sederhana yang dilakukan dengan cara merendam
serbuk simplisia dalam cairan penyari selama beberapa hari pada temperatur kamar dan
terlindung dari cahaya. Keuntungan dari metode ini adalah peralatannya sederhana. Sedang
kerugiannya antara lain waktu yang diperlukan untuk mengekstraksi sampel cukup lama,
cairan penyari yang digunakan lebih banyak, tidak dapat digunakan untuk bahan-bahan yang
mempunyai tekstur keras seperti benzoin, tiraks dan lilin.

Metode maserasi dapat dilakukan dengan modifikasi sebagai berikut :


Modifikasi maserasi melingkar
Modifikasi maserasi digesti
Modifikasi Maserasi Melingkar Bertingkat
Modifikasi remaserasi
Modifikasi dengan mesin pengaduk
Metode Soxhletasi
Soxhletasi merupakan penyarian simplisia secara berkesinambungan, cairan penyari
dipanaskan sehingga menguap, uap cairan penyari terkondensasi menjadi molekul-molekul
air oleh pendingin balik dan turun menyari simplisia dalam klongsong dan selanjutnya masuk
kembali ke dalam labu alas bulat setelah melewati pipa sifon.

Keuntungan metode ini adalah :


Dapat digunakan untuk sampel dengan tekstur yang lunak dan tidak tahan terhadap
pemanasan secara langsung.

Pemanasannya dapat diatur


Kerugian dari metode ini :

Karena pelarut didaur ulang, ekstrak yang terkumpul pada wadah di sebelah bawah
terus-menerus dipanaskan sehingga dapat menyebabkan reaksi peruraian oleh panas.
Jumlah total senyawa-senyawa yang diekstraksi akan melampaui kelarutannya dalam
pelarut tertentu sehingga dapat mengendap dalam wadah dan membutuhkan volume pelarut
yang lebih banyak untuk melarutkannya.
Bila dilakukan dalam skala besar, mungkin tidak cocok untuk menggunakan pelarut
dengan titik didih yang terlalu tinggi, seperti metanol atau air, karena seluruh alat yang
berada di bawah komdensor perlu berada pada temperatur ini untuk pergerakan uap pelarut
yang efektif.
Metode ini terbatas pada ekstraksi dengan pelarut murni atau campuran azeotropik dan tidak
dapat digunakan untuk ekstraksi dengan campuran pelarut, misalnya heksan : diklormetan = 1

: 1, atau pelarut yang diasamkan atau dibasakan, karena uapnya akan mempunyai komposisi
yang berbeda dalam pelarut cair di dalam wadah.
2. Metode Perkolasi
Perkolasi adalah cara penyarian dengan mengalirkan penyari melalui serbuk simplisia
yang telah dibasahi.Keuntungan metode ini adalah tidak memerlukan langkah tambahan yaitu
sampel padat (marc) telah terpisah dari ekstrak. Kerugiannya adalah kontak antara sampel
padat tidak merata atau terbatas dibandingkan dengan metode refluks, dan pelarut menjadi
dingin selama proses perkolasi sehingga tidak melarutkan komponen secara efisien.
2.6.2 Ekstraksi secara panas
1. Metode refluks
Keuntungan dari metode ini adalah digunakan untuk mengekstraksi sampel-sampel yang
mempunyai tekstur kasar dan tahan pemanasan langsung.
Kerugiannya adalah membutuhkan volume total pelarut yang besar dan sejumlah manipulasi
dari operator.
2. Metode destilasi uap
Destilasi uap adalah metode yang popular untuk ekstraksi minyak-minyak menguap
(esensial) dari sampel tanaman.Metode destilasi uap air diperuntukkan untuk menyari
simplisia yang mengandung minyak menguap atau mengandung komponen kimia yang
mempunyai titik didih tinggi pada tekanan udara normal.
2.7 Syarat Pelarut
Teknik pengerjaan meliputi penambahan pelarut organik pada larutan air yang
mengandung gugus yang bersangkutan.
Adapun syarat pelarut lainnya yaitu :

Harga konstanta distribusi tinggi untuk gugus yang bersangkutan dan konstanta
distribusi rendah untuk gugus pengotor lainnya.

Kelarutan pelarut organik rendah dalam air

Viskositas kecil dan tidak membentuk emulsi dengan air

Tidak mudah terbakar dan tidak bersifat racun

Mudah melepas kembali gugs yang terlarut didalamnya ntk keperluan analisa lebih
lanjut

2.8 Pelucutan (Striping)


Pelucutan adalah pengambilan kembali zat terlarut yang telah diekstraksi dari fase
organik
untuk
digunakan dalam analisis lebih lanjut :

Zat terlarut yang telah diekstrak dapat diukur absorbansinya menggunakan


kolorimeter untuk mengetahui konsentrasinya

Bila fase organik mudah menguap (dietil eter) dapat ditambah sedikit air kemudian
diuapkan di atas penangas air untuk mendapatkan zat terlarutnya

Bila pelarut pengekstrak tidak mudah menguap, zat terlarut dipisahkan dari pelarut
dengan cara kimia, yaitu dengan mencampur larutan asam atau reagensia lain dengan
pengocokan

2.9 Faktor-faktor yang mempengaruhi laju ekstraksi adalah:


Tipe persiapan sampel
Waktu ekstraksi
Kuantitas pelarut
Suhu pelarut
Tipe pelarut
Minyak dapat diekstraksi dengan perkolasi, imersi, dan gabungan perkolasi-imersi. Dengan
metode perkolasi, pelarut jatuh membasahi bahan tanpa merendam dan berkontak dengan
seluruh spasi diantara partikel. Sementara imersi terjadi saat bahan benar-benar terendam
oleh pelarut yang bersirkulasi di dalam ekstraktor. Sehingga dapat disimpulkan:
Dalam proses perkolasi, laju di saat pelarut berkontak dengan permukaan bahan selalu
tinggi dan pelarut mengalir dengan cepat membasahi bahan karena pengaruh gravitasi.
Dalam proses imersi, bahan berkontak dengan pelarut secara periodeik sampai bahan
benar-banar terendam oleh pelarut. Oleh karena itu pelarut mengalir perlahan pada
permukaan bahan, bahkan saat sirkulasinya cepat.
Untuk perkolasi yang baik, partikel bahan harus sama besar untuk mempermudah
pelarut bergerak melalui bahan.
Dalam kedua prosedur, pelarut disirkulasikan secara counter-current terhadap bahan.
Sehingga bahan dengan kandungan minyak paling sedikit harus berkontak dengan pelarut
yang kosentrasinya paling rendah.
Metode perkolasi biasa digunakan untuk mengekstraksi bahan yang kandungan minyaknya
lebih mudah terekstraksi. Sementara metode imersi lebih cocok digunakan untuk
mengekstraksi minyak yang berdifusi lambat.

BAB III
METOLOGI PERCOBAAN
3.1 Alat
Alat yang digunakan :
No.
Alat

Jumlah

1.

Labu Erlenmeyer

1 buah

2.

Pembakar spirtus

1 buah

3.

Statif

1 buah

4.

Klem

1 buah

5.

Termometer

1 buah

6.

Timbangan

1 buah

7.

Kaca arloji

1 buah

8.

Spatula

1 buah

9.

Botol semprot

1 buah

10.

Korek api

1 buah

11.

Corong pisah

1 buah

12.

Kertas saring

1 buah

13.

Stopwatch

1 buah

14.
15.

Gelas ukur
Kaki tiga

1 buah
1 buah

16.

Kasa

1 buah

17

Gelas kimia

1 buah

18

Corong

1 buah

3.2 Bahan
Bahan-bahan yang digunakan :
a. kacang tanah
b. n-hexane
c. air
3.3 Gambar Alat

Gambar 3.1 Ekstraktor soxhlet


Nama-nama instrumen dan fungsinya :
Kondensor : berfungsi sebagai pendingin, dan juga untuk mempercepat proses
pengembunan
Timbal
: berfungsi sebagai wadah untuk sampel yang ingin diambil zatnya
Pipa F
: berfungsi sebagai jalannya uap, bagi pelarut yang menguap dari proses
penguapan
Sifon
: berfungsi sebagai perhitungan siklus, bila pada sifon larutannya penuh
kemudian jatuh ke labu alas bulat maka hal ini dinamakan 1 siklus
Labu alas bulat: berfungsi sebagai wadah bagi sampel dan pelarutnya
Hot plate
: berfungsi sebagai pemanas larutan

3.4 Prosedur Percobaan


Prosedur kerja pada percobaan ini adalah:
1.
Menghaluskan butiran kacang tanah dengan menggunakan blender kemudian
menimbang sebanyak 200 gr.
2.
Memindahkan kacang tanah yang telah dihaluskan secara hati-hati ke dalam
selongsong yang diberi kapas pada kedua sisinya lalu mengikat dengan benang.

Mengisi labu pemanas dengan n-heksan sebanyak 250 mL dan menaruh batu didih di
dalam labu pemanas. Memanaskan labu sedemikian rupa sehingga n-heksane akan mendidih
secara sempurna. Mengalirkan air pendingin ke dalam kondensor.
4.
Mengekstraksi kacang tanah selama 3 kali sirkulasi. Setelah selesai, memasang labu
yang berisi n-heksane ke alat rotasi evaporator dan menguapkan sampai seluruh knheksane hilang.
5.
Membersihkan bagian luar labu dengan tissue, kemudian menimbang labu tersebut
dengan minyak/ lemak di dalamnya, mengukur volume minyak yang diperoleh.
6.
Menentukan kadar lemak dalam % dan menghitung berat jenisnya.
3.

BAB IV
ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
4.1 Data Percobaan
Tabel 4.1 Runtutan hasil pengamatan
No Zat Uji
Perlakuan
1
200 gram kacang Diblender atau
tanah
digiling lalu
ditambahkan nhexane
2
Campuran Awal
Disaring

Minyak kacang
yang di peroleh

Dilakukan
pemisahan
minyak kacang
dari pelarut nheksane

Penimbangan
berat minyak
yang di peroleh

Didiamkan min.
10 menit

Perbandingan
minyak yang di
peroleh

Antara kacang
yang di tumbuk
dengan kacang
yang di blender.

Hasil Pengamatan
Tumbukan kacang halus dan
kasar. Di bungkus dengan
kertas saring.
Membungkus minyak dengan
kertas saring. Guna untuk
mengambil minyak kacang
pada proses ekstraksi pelarut.
Pemisahan minyak dengan
pelarut dengan cara
menguapkan pelarut hingga di
peroleh minyak yang tidak
menguap.

Minyak yang di peroleh dari


proses ekstraksi pelarut, di
ukur berat minyak, serta di
tentukan kadar air yang
terkandung di dalamnya .
Di lakukanya perbandingan
minyak yang di peroleh pada
saat ekstraksi pelarut.

4.2 Analisis dan Pembahasan


Pada percobaan ini yaitu untuk mengetahui cara pemisahan dengan metode ekstraksi soxhlet
dan menentukan kadar minyak dalam sampel dengan metode ekstraksi soxhlet. Dalam hal ini,
kacang tanah yang dijadikan sebagai sampel padat yang akan diekstraksi dengan pelarut cair
yaitu n-hexane. Kacang tanah diblender sampai halus kemudian ditimbang sebanyak 200gr
yang berfungsi sebagai berat sampel, lalu kacang tanah dimasukkan ke dalam kertas saring
yang dibuat selongsong dan diberi kapas pada kedua sisinya yang berfungsi agar pada saat
ekstraksi serbuk kacang tanah tidak ikut keluar bersama dengan minyak. Setelah itu mengisi
labu pemanas dengan n-hexane sebanyak 250 mL yang berfungsi sebagai pelarut cair yang
mudah menguap untuk mengekstraksi kacang tanah dan di dalam labu pemanas diberi batu
didih yang berfungsi untuk menyerap panas agar tidak terjadi bumping pada saat pemanasan.
Selanjutnya mengalirkan air pendingin ke dalam kondensor yang berfungsi ketika n-hexane
menguap dan mengenai dinding kondensor, maka n-heksane akan masuk kembali ke dalam
labu pemanas bersama minyak kacang tanah. Mengekstraksi kacang tanah selama 3 kali
sirkulasi, selanjutnya memasang labu pemanas yang berisi campuran minyak kacang tanah
dan n-hexane ke alat evaporator yang berfungsi untuk menguapkan n-hexane sampai suhu
tertentu sehingga ketika semua kloroform hilang, hanya minyak kacang tanah yang terdapat
pada labu pemanas. Selanjutnya membersihkan bagian luar labu pemanas dengan
menggunakan tissue lalu menimbang berat labu pemanas yang berisi minyak yang berfungsi
untuk mengetahui berat minyak yang diperoleh ketika ekstraksi dengan metode ekstraksi
soxhlet.
Berdasarkan data di atas, kadar minyak kacang tanah yang diperoleh dari ekstraksi pelarut
padat cair dengan metode ekstraksi soxhlet yaitu sebanyak 27,60%. Dalam hal ini persen
kadar yang diperoleh sangat sedikit karena pada saat mengekstraksi hanya 3 kali sirkulasi
yang seharusnya ekstraksi dilakukan paling sedikit sebanyak 6 kali sirkulasi atau selama
kurang lebih 2 jam agar hasil minyak kacang tanah yang diperoleh dari ekstraksi soxhlet
memiliki persen yang lebih tinggi.

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Dari data percobaan dan pembahasan diatas, dapat disimpulkan beberapa hal yaitu :
Prinsip dari metode ini adalah mengekstrak lemak dengan menggunakan pelarut
organic, setelah pelarutnya diuapkan, lemaknya dapat ditimbang dan dihitung persentasenya.
Pelarut yang digunakan pada percobaan kali ini adalah n-heksana. Pemilihan pelarut
ini didasarkan pada sifatnya yang non polar, volatile dan dapat menarik lemak dan sukar larut
dalam air.
Mengetahui cara pemisahan dengan metode ekstraksi soxhlet yaitu dengan merangkai
alat ekstraksi lalu memasukkan pelarut ke labu pemanas dan mengisi zat padat pada
selongsong yang selanjutnya diekstraksi sampai menghasilkan minyak.
Kadar minyak dalam sampel kacang tanah yang diperoleh dari metode ekstraksi
soxhlet sebanyak

Adapun kesimpulan yang diperoleh dari hasil percobaan adalah :


Kelebihan dari metode sokhletasi adalah pelarut masih utuh, masih dapat digunakan
untuk ekstraksi bahan yang lain, dan dapat melarutkan bahan yang lebih banyak karena
adanya pemanasan.
Kekurangan metode sokhletasi adalah kurang efektif, karena harga pelarut mahal dan
lemak yang diperoleh harus dipisahkan dari pelarutnya dengan cara diuapkan

5.2 Saran
Beberapa hal yang dapat disarankan setelah proses ekstraksi ini berlangsungadalah
sebagai berikut :
Sebelum praktek pelajari atau memahami prosedur yang akan dilaksanakan.
Cek alat sebelum digunakan.
Lakukan pengontrolan saat proses berlangsung.
Berhati-hatilah saat melakukan proses ekstraksi.
Kerja sama kelompok sangat diperlukan.
Jaga kebersihan selama praktek.

DAFTAR PUSTAKA
Fessenden. 2009. Kimia Organik I. Bandung : Pendidikan Kimia Fakultas Tarbiyah dan
Keguruan UIN Sunan Gunung Djati Bandung
http://id.wikipedia.org/wiki/Kafeina
Alimin, dkk. Kimia Analitik. Makassar: Alauddin Press, 2007.
Ekstraksi Soxhlet. 2009. http://catatankimia.com/diakses pada tanggal 20 April 2012.
Kacang Tanah. 2011. http://id.wikipedia.org/diakses pada tanggal 20 April 2012.
Khopkar, SM. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: UI-Press, 2008.
Kloroform. 2011. http://id.wikipedia.org/diakses pada tanggal 20 April 2012.
Pudjaatmaka, Aloysius Hadyana. Analisis Kimia Kuantitatif. Jakarta: Erlangga, 1989.