Anda di halaman 1dari 9

ABSTRAK

Nama

: Ardan Aziz Rahman

Jurusan

: Psikologi

Judul

: Penjelasan fenomena Self deprecating pada kasus walikota bodoh yang


melibatkan Joko Widodo.

Makalah ini berisikan tentang penjelasan mengenai aplikasi teori self


deprecating pada kehidupan sosial sehari hari.Melalui tulisan ini juga, penulis berusaha
menjelaskan definisi dari self deprecating dan apakah penyebab individu melakukan hal
tersebu. Selain itu penelitian ini berusaha membuktikan apa kaitan self deprecation dengan
self esteem dengan menggunakan analisis sebuah kasus. Kasus yang dianggakat pada tulisan
kali ini adalah kasus walikota bodoh yang terjadi di pertengahan tahun 2011 di Solo. Kasus
ini dimulai dari sebuah perseteruan walikota Solo dan Gubernur Jawa Tengah dalam upaya
membangun mall di Surakarta. Dalam pembangunan itu, mereka merubuhkan bekas pabrik es
Saripetojo yang merupakan bangunan cagar budaya. Rencana itu mendapat tentangan keras
oleh Joko Widodo. Mereka berdua saling membalas respon pertanyaan di media. Terakhir,
Bibit Waluyo menyatakan jika Joko Widodo merupakan wali kota bodoh lantaran menentang
kebijakan provinsi ( Tempo, 2011) Setelah kejadian tersebut, Joko Widodo, mengeluarkan
pernyataan kepada media yang berisikan penggambaran dirinya namun menggunakan kata
kata bodoh sebagai nilai yang dapat menunjukan siapa dirinya. Kasus diatas merupakan
kasus yang sesuai untuk mencari sebuah analisis teori self deprecating karena adanya
persamaan karakteristik tindakan Joko Widodo terhadap penjelasan teori self depricating.
Sehingga kasus ini dapat menjadi jawaban atas tujuan penulisan yaitu, menjelaskan tergolong
dalam hal apa dan penyebab apa suatu individu menunjukan fenomena tersebut.

BAB I
Pendahuluan
1.1.

Latar Belakang
Setiap orang berfikir mengenai orang lain yang memberikan kontribusi penting

terhadap kehidupan. Dalam pengalaman kita, banyak orang yang melakukan usaha lebih
untuk berfikir mengapa orang lain melakukan apa yang mereka lakukan, apa emosi dan
perasaanya, dan mencoba memprediksi apa yang dilakukan dimasa mendatang ( Baron &
Bryne, 2011). Pernyataan tersebut berkaitan dengan bagaimana individu menggapai self
esteem, karena hal tersebut menitik beratkan pada usaha individu membuat suatu penilaian
diri. Namun, pada kenyataanya banyak orang mengalami masalah self esteem. Masalah selfesteem pada seseorang disebabkan adanya diskrepansi antara pandangan yang dimiliki
seseorang mengenai dirinya saat ini (perceived self) dengan pandangan idealnya terhadap
dirinya atau yang disebut dengan ideal self (Mruk, 2006). Adanya ketidak sesuaian antara
ideal-self (Kondisi yang diinginkan) dan perceived self (kondisi yang dimiliki) hal ini
mendorong seseorang menampilkan perilaku tertentu yang ingin ia tampilkan kepada orang
lain (Rosenberg dalam Wang dan Ollendick, 2001). Walau perilaku yang dimunculkan
menjadi tampak dibuat-buat dan dipaksakan (Wang dan Ollendick, 2001). Sehingga untuk
memberikan solusi masalah tersebut adalah adanya

Pemberian dukungan sosial untuk

meningkatkan self esteem karena sesungguhnya diindikasikan bahwa self esteem dipengaruhi
oleh dukungan sosial (Kinnunen, dkk; Baumister; dalam Guindon, 2010Banyak usaha yang
dapat dilakukan untuk meraih self esteem. salah satunya adalah aplikasi dari self presentation
yaitu self deprecation. Self deprecation diartikan sebagai penunjukan informasi negatif
dengan tujuan mempromosikan diri terhadap orang lain ( Tedeschi&Melburg, 1984 ).
Dengan menggunakan teori self deprecation dalam konteks upaya untuk meraih
tujuan self esteem hal ini dapat dijadikan sebuah teori dasar dalam menjawab kasus mantan
walikota Solo yang hangat di tahun 2011. Perseteruan tersebut bermula dari rencana Jawa
Tengah membangun mall di Surakarta. Dalam pembangunan itu, mereka merubuhkan bekas
pabrik es Saripetojo yang merupakan bangunan cagar budaya. Rencana itu mendapat
tentangan

keras

oleh

Joko

Widodo.

Mereka berdua saling "berbalas pantun" di media. Terakhir, Bibit Waluyo menyatakan jika
Joko Widodo merupakan wali kota bodoh lantaran menentang kebijakan provinsi ( Tempo,
2011) Setelah kejadian tersebut, Joko Widodo, mengeluarkan pernyataan kepada media yang
2

berisikan penggambaran dirinya namun menggunakan kata kata bodoh sebagai nilai yang
dapat menunjukan siapa dirinya ( Replubika, 2011 ). Sehingga penelitian ini berusaha
menjelaskan serta mengulas hal tersebut lebih mendalam dengan harapan dapat menemukan
penjelaskan dan kemungkinan penyebab dari fenomena tersebut.
1.2.

Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang dipaparkan, perumusan masalah yang

diajukan adalah:
Apakah fenomena pendeklarasian walikota bodoh yang melibatkan Joko Widodo
merupakan aplikasi dari self deprecation?
1.3.Tujuan
Penelitian ini berusaha menjelaskan mengapa Joko Widodo mendeklarasikan nilai
negatif tersebut sebagai penggambaran diri dan apa kemungkinan penyebab hal tersebut
dengan menggaitkan teori psikologi sosial. Selain itu penelitian ini berusaha membuktikan
apa kaitan self deprecation dengan self esteem dengan menggunakan analisi kasus tersebut.

1.4. Sistematika Penulisan


Laporan penelitian ini memiliki lima bab, yang terdiri dari:
Bab 2 yang berisi tinjauan pustaka. Dalam bab 2 ini terdapat teori-teori yang digunakan
untuk mendukung penelitian.
Bab 3 berisikan penjabaran kasus yang diangkat sebagai bahasan.
Bab 4 berisikan analisis kasus menggunakan teori teori psikologi sosial.
Bab 5 berisikan kesimpulan, saran, dan diskusi.

BAB II
Tinjauan Pustaka
Pada bagian ini dipaparkan teori-teori yang digunakan sebagai landasan bagi
penelitian ini. Secara umum, terdapat dua teori yang akan menjadi acuan peneliti, yaitu teori
self-deprication dan self-esteem.
2.1. Self-Deprication
Seseorang akan melakukan kecendrungan untuk melakukan tindakan untuk meraih
atau mendapatkan sesuatu jika terdapat suatu tujuan yang akan dicapai. Dengan kata lain, kita
memiliki kemungkinan melakukan sesuatu tindakan dari diri sendiri di beberapa kondisi
sampai suatu tujuan tertententu tercapai. Berbagai cara dilakukan seseorang dalam
melaksanakan social influence: suatu tindakan yang dilakukan seseorang untuk mengubah
tingkahlaku satu atau banyak orang ( Baron & Bryne, 2011), salah satunya aplikasi dari self
influence adalah self presentation: Usaha untuk mengatur perilaku diri untuk membangun
ketertarikan bagi orang lain (Schlenker & Weigold , 1989 ). Tidak hanya itu, menurut
Tedeschi dan Melburg dalam buku Impression management and influence in organization
terdapat beberapa teknik yang digunakan seseorang dalam mendapatkan perhatian terhadap
orang lain, yaitu self-disclosure: memberikan informasi yang tidak ditanyakan untuk orang
lain dan self deprecation : Menunjukan informasi negatif dengan tujuan mempromosikan diri
terhadap orang lain ( Tedeschi&Melburg, 1984 ). Self-deprecation memiliki efek strategis
kepada penilaian diri. Menurut penelitian (Jones, Rhodewalt, Berglas, & Skelton, 1981)
mengindikasikan bahwa hal tersebut merupakan salah satu variabel yang penting dalam
menaikan self esteem. Self esteem dapat didefinisikan sebagai penilaian diri yang dibuat oleh
individu ( Baron & Byrne, 2011 ).

2..2. Self-esteem
Definisi self-esteem awal menekankan pada makna self-esteem sebagai
kompetensi (competence), yaitu penilaian individu tentang kondisi kemampuannya saat ini
(actual/real self), yang sering dibandingkan dengan kondisi kemampuan yang diinginkan
individu (ideal self). Setelah itu, pemahaman mengenai konsep self esteem semakin

berkembang (Mruk,Santrock dalam Larasati 2012 ) mengungkapkan bahwa self-esteem


adalah
evaluasi global terhadap diri, yaitu apakah secara keseluruhan seseorang merasa dirinya baik
atau buruk. Serupa dengan definisi sebelumnya, Rice (1996) mengungkapkan bahwa
selfesteem adalah penilaian seseorang mengenai berharga atau tidaknya diri. Selain itu self
esteem juga didefinisikan sebagai keberhargaan (worthiness) atau sikap yang dimiliki
individu terhadap dirinya sendiri, dari perasaan bahagia dan tidaknya diri sendiri (Mruk,
2006). Definisi terbaru dikemukakan oleh Baron & Byrne dalam buku Social Psychology
yang mengatakan bahwa Self esteem dapat didefinisikan sebagai penilaian diri yang dibuat
oleh individu. Pemberian dukungan sosial untuk meningkatkan self esteem didasari anggapan
bahwa self esteem dipengaruhi oleh dukungan sosial (Kinnunen, dkk; Baumister; dalam
Larasati, 2012). Intervensi yang termasuk kategori ini adalah. Pemberian dukungan sosial
disusun untuk membantu tiap-tiap klien yang terlibat untuk memperkecil jarak antara kondisi
diri saat ini (actual self) dengan kondiri diri yang diinginkan (ideal self). Seperti yang
dikemukakan yang dikemukakan oleh Frey dan Carlock (1984)

BAB III
3.1 Pengambaran kasus
Pada tahun pertengahan 2011, media di Indonesia diwarnai dengan kasus Gubernur
Provinsi Jawa Tengah, Bibit Waluyo yang mengeluarkan kata kata Walikota bodoh kepada
walikota Solo, Joko Widodo. Berangkat dari masalah itu, terdapat salah satu fenomena sosial
yang dapat diamati. Joko Widodo menjadikan kata kata walikota bodoh tersebut menjadi
penggambaran nilai nilai pada dirinya. Hal ini dikemukakan Joko Widodo pada media
Replubika pada tanggal 29 Juni 2011, Pada saat itu, Joko Widido berkata bahwa Saya itu
orang bodoh. Saya kan tadi sudah ngomong, saya itu orang bodoh. Mestinya saya mengukur
diri. Kalau saya bisa bermanfaat, kenapa tidak. Kalkulasi dan hitung-hitungan saya, saya
masuk kategori nggak pintar, gimana mau menyelesaikan masalah," (Rakyat Merdeka Online,
2011). Jokowi menyampaikan hal itu saat ditemui di sela-sela acara peresmian Pusat Studi
dan Pendampingan Koperasi, Usaha Mikro Kecil dan Menengah di Aula Universitas Sebelas
Maret, Solo, oleh Menteri Koperasi dan UKM Syarif Hasan, (Selasa siang, 29/6). Dia
menyebut dirinya bodoh karena sebelumnya dimintai tanggapan atas pernyataan keras

Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo, yang menyebutnya Walikota bodoh. Saat itu, dia
menjawab dengan merendah, bahwa dirinya memang bodoh. Cemoohan Gubernur Bibit
Waluyo kepada Jokowi, seperti diberitakan media massa di Jawa Tengah kemarin (Senin,
28/6), Hal ini dilatar belakangi oleh sikap Jokowi yang menentang kebijakan Gubernur dalam
rencana pembangunan mal di tanah eks bangunan Pabrik Es Saripetojo di Solo. Pemkot Solo
menolak pembangunan tersebut mengingat Saripetojo masuk dalam Benda Cagar Budaya
(BCB) yang perlu dilestarikan. Diakui Jokowi, Pemprov Jateng berhak atas tanah itu karena
berstatus milik Pemprov. Tapi dia menolak kalau yang dibangun disana pusat perbelanjaan
modern.
BAB IV
Analisis Kasus
Hal ini merupakan suatu fenomena sosial yang menarik untuk di amati. Melalui
fenomena ini kita bisa melihat bagaimana suatu individu menggunakan informasi negatif
yang digunakan atau dikenakan pada dirinya menjadi suatu nilai tersendiri yang digunakan
untuk mempromosikan dirinya. Terlepas dari tujuan promosi tersebut, kita dapat mengamati
bahwa Jokowi menggunakan kata kata Bodoh yang sejatinya bermakna negatif tersebut
sebagai suatu hal yang tidak ditutupi bahkan di publikasikan ke masyarakat luas melalui
media. Selain itu, kata kata bodoh yang digunakan untuk menggambarkan nilai pribadi yang
ada dalam dirinya.

Hal ini selaras dengan pengertian self deprecation yaitu penunjukan

informasi negatif dengan tujuan mempromosikan diri terhadap orang lain. Informasi negatif
disini didefinisikan sebagai informasi yang merendahkan diri karena makna kata kata tersebut
adalah merujuk pada hal yang tidak baik. Pernyataan verbal yang disampaikan Joko Widodo
secara langsung tersebut memiliki maksud untuk memberikan makna atau penilaian
pemerhati media terhadap siapa dirinya. Melalui kata kata tersebut audience akan berfikir
bahwa ini adalah bentuk sesuatu tingkah penerimaan stigma buruk dengan tujuan
menggunakan stigma buruk tersebut sebagai bahan penunjukan identitas dirinya. Walaupun
kembali pada teori awal perilaku yang dimunculkan menjadi tampak dibuat-buat dan
dipaksakan (Wang dan Ollendick, 2001).
Namun patut disadari, walaupun Joko Widodo melakukan Self-Depricating namun
bukan berarti nilai negatif terbut akan berakibat buruk pada popularitasnya. Hal ini terbukti
bahwa, dengan melakukan hal tersebut Joko Widodo mendapatkan banyak empati dari warga
Solo dan sekitarnya. Selain itu media banyak menjadikan ucapan provokatif Joko Widodo
6

sebagai bahan berita sehingga meninggkatkan intensitas penyebutan nama Joko Widodo di
Masyarakat. Tentu hal itu berakibat pada naiknya tingkat popularitas Joko Widodo pada saat
itu.
Kembali mengaitkan pada teori psikologi sosial, Joko widodo melakukan selfdeprecating salah satunya untuk mendapatkan atensi lebih dari kehidupan sosial. Atensi lebih
dari sosial tersubut diharapkan memberikan suatu umpan balik ( feedback ) oleh masyarakat.
Umpan balik yang diharapkan adalah umpan balik yang positif berupa dukungan dari sosial
berupa masyarakat yang berperan sebagai significant other sehingga dapat meningkatkan
penilaian terhadap diri sendiri atau yang lebih sering disebut dengan self-esteem.
Sehingga kaitan antara penggunaan metode self depricating terhadap kasus ini adalah sebagai
salah satu alat yang dapat mendatangkan feedback positif terhadap diri sehingga terdapat
peninggkatan self esteem. Tujuan lainya dari penggunaan metode self depricating adalah
menunjukan pribadi yang sederhana dan rendah hati sehingga dapat membuat dirinya dapat
lebih diterima oleh masyarakat. Pada kasus Joko Widodo, salah satu bukti diterimanya
metode self deprecating terhadap masyarakat adalah meningkatnya popularitas Joko Widodo
pada saat tersebut adalah munculnya respon positif dan intensitas media memberitakan.
Secara Ideal tujuan dari self depricating adalah seperti wacana di atas, namun perlu disadari
self depricating juga dapat menjadi sesuatu yang kurang baik. Sebagai contoh adanya
kemungkinan menurunya self esteem dari pelakunya karena terdapat variabel disonansi
kognitif. Disonasi kognitif adalah keadaan dimana ada keadaan internal suatu individu yang
jauh dari keadaan sehingga membuat rasa ketidaknyamana pada individu ( Baron & Byrne,
2011). Saat melakukan self depricating ada kemungkinan individu akan merasa nilai nilai
yang ditunjukan tidak sesuai dengan nilai dalam diri dan membuat penilaian terhadap diri
sendiri menjadi rendah. Sehingga penggunaan Self deprecating haruslah sesuai.

BAB V
7

Kesimpulan, Diskusi, Saran

Melihat kasus walikota bodoh yang melibatkan Joko Widodo kita dapat
melihat suatu contoh kasus self deprecating atau penggunaan informasi negatif dalam tujuan
mempromosikan diri terhadap orang lain. Kata kata bodoh yang digunakan sebagai penilaian
diri yang di publikasikan kepada media merupakan bentuk upaya promosi diri dan
penunjukan citra sederhana apa adanya yang akhirnya akan membawa empati pengguna
kepada sosok Joko Widodo. Atensi lebih dari sosial tersebut diharapkan memberikan suatu
umpan balik ( feedback ) oleh masyarakat kepada Joko Widodo. Umpan balik

yang

diharapkan adalah umpan balik positif berupa dukungan dari sosial berupa masyarakat yang
berperan sebagai significant other sehingga dapat meningkatkan penilaian terhadap diri
sendiri atau yang lebih sering disebut dengan self-esteem.
Pada makalah ini masih terdapat beberapa hal yang dapat di diskusikan. Salah satunya
adalah apakah self deprecating selamanya akan mendatangkan feedback negatif ? Selain itu
penelitian ini diharapkan akan lebih menjelaskan hasil penelitian terdahulu mengenai self
deprecation. Penulis juga merasa kurangnya perbandingan contoh lain yang menggambarkan
self deprecating dengan harapan jika terdapat dua atau lebih kasus analisis dapat lebih
menggambarkan faktor penyebab dan respon sosial terhadap self deprecation lebih jelas lagi.
Kedepanya, diharapkan penelitian ini lebih banyak menggunakan data statistik dalam
menjelaskan hasil dari sebuah teori. Sehingga hasil yang ditunjukan akan lebih jalas dan
dapat di interpretasikan secara objektif. Selain itu, diharapkan penelitian ini dapat lebih
banyak mengemukakan teori dan pengertian mengenai self lebih mendalam.

Referensi:
Ariyani, A. (2004). Perbedaan Hope dan Self Esteem antara Remaja yang Pernah
8

Menggunakan Narkoba dan Remaja yang Tidak Pernah Menggunakan Narkoba.


Tugas Akhir Profesi Klinis Dewasa. Depok : Fakultas Psikologi UI

Guindon, M.H. (2010). Self Esteem Across The Lifespan. New York : Routledge
Taylor &
Francis Group.
Mruk, C.J. (2006). Self Esteem Research, Theory and Practice : Toward A Positive
Psychology of Self Esteem, 3rd Ed. New York : Springer Publishing Co.
Ormrod, J.E. (2007). Educational Psychology : Developing Learners. United States:
Pearson Education, Inc.