Anda di halaman 1dari 166

Metering and Regulating Station (MRS)

asepsaiba / 13 September 2008

Metering and Regulating Station

Originally uploaded by asepsaiba

Gambar di samping adalah Metering and Regulating Station disingkat MRS,


berfungsi sebagai alat custody transfer antara pemasok dan konsumen gas bumi.
Komponen utamanya adalah unit meter untuk menghitung volume/flow gas dan
regulator untuk mengatur/menurunkan tekanan. Tipe dan jenis meter maupun
regulator disesuaikan dengan jumlah gas yang disalurkan dan tekanan yang
dibutuhkan.

Beberapa pertimbangan dalam pemilihan tipe M/RS antara lain :


Fungsi M/RS; sebagai penurun (regulating) tekanan atau sebagai pengukur laju alir
(volume) gas
Karakteristik jaringan (tekanan, impurities upstream)
Karakteristik beban (volume, tekanan downstream)
Kondisi lingkungan

Adapun komponen-komponen utama pada M/RS terdiri atas :


Isolation Valve (Inlet-Outlet); mengisolasi tekanan masuk (inlet) & tekanan keluar
(outlet).
Insulating Joint / Insulating Flange (Inlet-Outlet); mengisolasi tegangan proteksi
katodik (CP) dari jaringan pipa ke modul stasiun (MR/S) serta pipa setelahnya.
Gas Filter; menyaring gas yang masuk dari partikel serta impurities lainnya.
Safety Shut Off Valve/ Slam Shut Valve; sebagai pengaman tekanan berlebih, yang
menghentikan aliran gas dengan menutup otomatis dan dibuka secara manual.

Regulator Active; mengatur tekanan keluar (outlet)


Regulator Monitor (optional)
Relief Valve; mengeluarkan gas yang bertekanan ke udara melalui vent stack.
Check Valve; menahan aliran balik (return).
Meter Gas; mengukur jumlah volume gas yang mengalir/ dipakai pelanggan.
Manometer (Inlet-Outlet); mengukur tekanan gas.
Thermometer (Inlet-Outlet); mengukur temperatur gas.
Volume Corrector / Flow Computer; mengkoreksi secara elektronik volume gas
(standar) menjadi volume kontrak.
Automatic Meter Reader (AMR); alat bantu untuk mendisplay volume secara
otomatis setiap pemakaian gas bumi (yang terkoreksi) secara real-time.

Setiap M/RS memiliki identifikasinya masing-masing yang ditunjukan dengan sistem


identifikasi sebagai berikut :

4/6-(40-10)/(6-4)-G.400-2000

Keterangan :
4/6 = Diameter pipa masukdan keluar , (inchi)
(40-10) = Tekanan masuk maks dan min, (bar)
(6-4) = Tekanan keluar maks dan min, (bar)
G.400 = Ukuran Meter Gas, G size.
2000 Kapasitas maks, m3/jam

Salam kenal Kang,


Saya mau bertanya. Apakah Pressure Transmitter (Static pressure) tidak Diff Press
Tx. Bisa menggukur ketinggian level 2 fluida (Interface water & Oil Thickness) dalam
sebuah tanki . Data yang ada SG Oil = 0.8202 , SG Water = 0.9720 , range
pengukuran ketinggian fluida 36 Feet.
Terima kasih atas pencerahannya Kang!!

TeknisiInstrument
June 4, 2012 at 20:54

Rate This

Kang Wendie,
Salam kenal kembali.
Secara pribadi, saya belum pernah menggunakan pressure transmitter (static)
untuk mengukur interface level (water/oil). Setahu saya, pressure transmitter yang
diterapkan untuk pengukuran level bekerja berdasarkan tekanan hidrostatis, Jadi
pressure transmitter tidak dapat membedakan apakah tekanan yang
dirasakannya itu berasal dari tekanan hidrostatis air atau minyak. Sehingga
transmitter hanya akan mendeteksi total level (Pair+Poil).

Mari kita coba:


range = 36ft = 432 inci

katakan saja level air = 50% (0 s/d 50) = 216 inci,


sehingga Pair = 0,9720 x 216 = 209,952 inH2O
Maka level oil = 50% (50 s/d 100) = 216 inci,
sehingga Poil = 0,8202 x 216 = 177,1632 inH2O,
Ptotal = Pair + Poil = 209,952 + 177,1632 = 387.1152 inH2O

Katakan saja ada perubahan level air dari 50% ke 75%, sehingga:
katakan saja level air = 75% (0 s/d 75) = 324 inci,
sehingga Pair = 0,9720 x 324 = 314,928 inH2O
Maka level oil = 25% (75 s/d 100) = 108 inci,
sehingga Poil = 0,8202 x 108= 88,5816 inH2O,
Ptotal = Pair + Poil = 314,928+ 88,5816 = 403,5096 inH2O

Angka-angka pada perhitungan di atas berdasarkan asumsi jika level yang diukur
adalah pada tangki open-top (terbuka), jika tangkinya bertekanan, maka tekanan
hidrostatis yang terukur oleh pressure transmitter (static) ditambah dengan tekanan
yang bekerja pada tangki tersebut.

Jadi, berapapun SG liquid-nya, berapa macam pun jenis liquid yang ada pada tangki,
pressure transmitter hanya akan mendeteksi total hidrostatic pressure yang timbul
oleh liquid tersebut.

Itu hanya menurut saya, mungkin ada teknologi lain yang memungkinkan
penggunaan pressure (static) transmitter untuk mengukur interface level.

Untuk mengukur interface level, biasanya digunakan displacer (floater), yang hanya
akan mengukur liquid dengan SG yang telah ditentukan atau sesuai dengan
displacer/levelnya.

Ada juga level transmitter yang memiliki dua buah floater dengan dua buah output,
yang mampu mengukur level interface dua buah liquid yang berada pada tangki
yang sama.

Oh ya, pendapat saya mungkin saja salah.

Salam,
TeknisiInstrument

kaka
May 27, 2014 at 20:04

Rate This

Assalamualaikum kang,
Bagaimana cara mengkalibrasi interface level pada tangki bertekanan dengan
mengunakan pneumatic fisher contoller 2500. Terima kasih sebelumnya.

gani
June 27, 2012 at 15:35

Rate This

Punteun kang

Bade naros, upami koneksi AMR (automatic meter reading) nganggo sinyal GSM teu
tiasa konek wae problemna naonnya kang? settingan modem sareng PC tos Ok tp di
dial teh teu tiasa wae.

Nuhun kang

TeknisiInstrument
July 20, 2012 at 23:11

Rate This

Kang Gani,
Maaf banget, saya belum pernah menangani AMR.

Hanya sedikit pendapat saja, coba dial-up ke nomor GSM lain yang dipasang pada
HP yang bisa komunikasi dengan dial-up (biasanya HP jadul), jika berhasil, mungkin
AMRnya bermasalah.

Sekali lagi, maaf saya tidak bisa diskusi banyak mengenai AMR.

Salam,
TeknisiInstrument

ojomandeg
July 5, 2012 at 09:29

Rate This

Assalamualaikum Sdraku
Slm kenal
Maaf saya sama2 lulusan smk, tp bukan smk instrumen hehe, kebetulan sy skrg
bekerja dilembaga pendidikan. Oya mau tanya ni, kira2 klo seorang lulusan teknik
instrumentasi kira-kira pasar kerjannya kemana ya? dan skill ato ketrampilan yang
dimiliki oleh seorang teknisi instrumen/ instrumen engineer kira2 apa saja? atau
instrumen desinger?
Terimakasih atas tanggapannya

ata

TeknisiInstrument
July 21, 2012 at 21:21

Rate This

Waalaikum salam wrwb.


Pak Ata, pasar teknisi instrument bisa saja dari mulai pabrik kecil sampai pabrik
besar, umumnya pada pengolahan pulp and paper, pertambangan, pabrik kimia,
minyak dan gas bumi, pabrik obat, dan hampir pada semua pabrik yang di
dalamnya terdapat proses produksi.

Skill untuk teknisi umumnya analisis, troubleshooting dan problem solving. serta
memberikan rekomendasi teknis mengenai perbaikan sistem jika diperlukan.

Salam,
TeknisiInstrument

Darwis
July 25, 2012 at 14:44

Rate This

sy seorang proses operator di refinery mas,background pendidikan sy


automation,..dan sy jg mengetahui ttg sebagian peralatan instrument krn jk ada
masalah di peralatan instrument,kami melaporkan ke instrument maintenance area
dgn kendala begini-begini dan bersama-sama berdiskusi untuk menyelesaikan
masalah,..hmmjika sy berganti job sbg instrument technician sy kira sy mampu
insyaallah mas,he..
yg ingin sy tanyakan=
#> skill apa yg ditekankan job sbg seorang instrument technician khususnya di
offshore mas?
(krn sy berprinsip peralatan instrumentasi di refinery dgn di offshore sm sj,mungkin
tambahannya safety-nya di tiap equipmentnya beda-beda berdasarkan lokasiapalagi tahu kondisi proses operasi dr suatu plant tsbt-YG SY TAHU.betul gak mas?
serta pekerjaan instrument technician jk di refinery selama pengalaman sy a/ sbb =
zero check transmitter,restruck control valve,check thermocouple/level
glass,PM/PDM,loop check system instrumentasi-safe guarding system per
equipment.adapun instrument baru skr kebanyakan digital seperti pabrik baru
kami ROPP,sy blm tahu cara mengkalibrasinya,dsb krn sebagian besar transmitter
di field kami analog u/ penunjukannya)
BISA SEDIKIT BERBAGI CERITA MAS..
makasih

salam
Darwis

TeknisiInstrument
August 14, 2012 at 16:54

Rate This

Mas Darwis,
Terima kasih sharing ceritanya, luar biasa.
Sebetulnya tidak ada skill khusus, yang diperlukan sama saja seperti yang
diceritakan mas Darwis di atas. Jujur saja, saya belum bisa bikin perbandingan
bagaimana instrumentasi di darat dan di lepas pantai, saya hanya berfikir, secara
fungsi sama saja. Hanya beda media dan sistem.

Yang berbeda mungkin sertifikasi safety untuk personnel, misalnya sertifikasi HUET,
sea survival, firefigting dll.

Salam,
TeknisiInstrument

saridjan
July 27, 2012 at 11:17

Rate This

Assalamualaikum Kang Ade,salam kenal & Selamat menjalankan ibadah puasa.mau


nanya saya lagi kesulitan calibration diworshop: LT type 5300 Radar by Rosemount
masih baru.
model :24195,model no:5301 HA2S,VH2S,
VYAM00063ABE
Panjang Probe dari flange : 630mm
Kemudian sy buatkan tempat calibration dg pipe uk 3,Tinggi 670mm,sy kasih slang
transparan.Setelah sy letakan LT diatas pipe tsb,belum terisi air,trus sy conec diHart
475 terbaca URV 0,630m,LRV 0,000m.
1).Bagaimana cara mencari Range(apakah range itu sama dg panjangnya Probe).
2).Setelah pipe sy isi air(sebelum terisi air,indikasi LT Level 0,000m,measure
0,000m),sy cari 0% 100% terbaca 0%=3,900mA,100%=20,800mA(udah sy ulang
hasilnya tetap sama) Kang,kenaapa hasilnya nga bisa tepat 4,000mA 20,000mA.
Apakah ada menu/program yg kurang(salah)yg harus dimasukan pd Hart 475 tsb(Tank (Probe Type rigit sinale),Geometry(monting type pipe/chamber).
Maaf ya Kang masih belajar jadi technician trimks atas jawabannya,Wassalam.

TeknisiInstrument
August 14, 2012 at 16:56

Rate This

Wa alaikum salam.
Kang Saridjan, salam kenal kembali.
Wah.. maaf banget, kebetulan saya belum pernah ngutak-ngatik transmitter jenis
itu, jadi saya belum bisa menjawabnya.
Maaf banget.

Salam,
TeknisiInstrument

safii
August 8, 2012 at 16:06

Rate This

asalam.
kang saya mau minta tolong. saya mau angkat masalah barton recorder tapi saya
kurang data.
fungsi dan kegunaan barton recorder apa aja ya pak? saya kekurangan data untuk
menjelaskan fungsinya pak.
padahal di tempat saya untuk tes bocor masih pakai presure gauge. saya mau
rekomendari pakek barton recot tapi cara mempresentasikan biar yakin gimana
pak. saya kerja di PJB PLTU.

sekian terimakasih
salam
safii 085 640 456 081

TeknisiInstrument
August 14, 2012 at 17:08

Rate This

Wa alaikum salam.
Kang Safii, mungkin bisa baca di sini:

http://www.recorderchartsandpens.com/barton_recorder.php

http://trionics.com/wp-content/uploads/2010/08/Barton-Manual.pdf

http://www.c-a-m.com/forms/Product.aspx?prodID=01a89599-3ff0-4c97-b5923a9bd1eafed1

Salam,
TeknisiInstrument

rian
August 12, 2012 at 14:41

Rate This

mas, saya mau bertanya tentang pertimbangan/ +- pemilihan jenis flow transmitter
(DP, magnetic, mass flow, dll) dan apa bisa menggantikan jenis FT yg satu dgn yg
lain tanpa mengubah desain proses/sistem instrumentasinya, thanks

TeknisiInstrument
September 1, 2012 at 20:06

Rate This

Mas Rian,
Untuk perbandingan berbagai macam flowmeter, link berikut ini berisi bacaan yang
mungkin bisa membantu:

http://www.coleparmer.com/TechLibraryArticle/668

Salam,
TeknisiInstrument

TeknisiInstrument
September 1, 2012 at 20:10

Rate This

Maaf, satu lagi link yang berisi tabel komparasi berbagai macam flowmeter:

http://www.toshiba.co.jp/sis/en/seigyo/find/products/pdf/Comparison_table_for_flow
meter.pdf

Semoga membantu.

Salam,
TeknisiInstrument

adi

August 29, 2012 at 10:35

Rate This

mo taya kang apakah dalam meteran lpb merk hexing he 120 bsa ngehapus ato
menormalkan power limitnya

TeknisiInstrument
September 1, 2012 at 20:09

Rate This

Kang Adi,
Sepertinya itu power meter (kwh meter) listrik ya?
Mohon maaf, saya belum pernah menangani kwh meter dimaksud.
Kang Adi bisa buka blog teman saya di (http://www.instalasilistrikrumah.com)
Dan bisa bertanya banyak mengenai listrik di sana.

Salam,
TeknisiInstrument

rach89
May 29, 2013 at 18:57

Rate This

lpb merk hexing


lpb merk actaris
lpb merk itron
lpb merk H&I
power limitnya bisa di ubah tinggal menghitung code numericnya di sandingkan
dengan no kwh, limitnya mau nyampe berapa ampere
bwt actaris tekan bersamaan 7+0 dan 7+4 dengan jeda 2 detik, tinggal reset,

Hanggoro Asmoro
August 30, 2012 at 21:10

Rate This

asalm. kang punya penjelasan ttg Electromagnetic Flowmeter tpi klo ada yg b.indo..
saya ada tugas kang, mhon bantuannya. oya sya alumni muda 2011 jg dari stm
pemb. jurusan tek.pendingin. tx kang. wasalm.

TeknisiInstrument
September 1, 2012 at 20:05

Rate This

Wa alaikum salam wrwb.


Salam kenal Kang Hanggoro Asmoro.
Sebagai bahan bacaan, bisa dibuka link berikut, pada link tersebut dijelaskan cukup
detail bagaimana cara kerja magnetic flowmeter.

http://aeroconsystems.com/ts_pics/Gagliardi_flowmeter/Flow_meter.html

http://www.omega.com/prodinfo/magmeter.html

Untuk bahasa Indonesia, bisa pakai google translate.

Salam,
TeknisiInstrument

irwan prihatna
September 2, 2012 at 06:26

Rate This

Assalamuallaikum.

Salam kenal kang,


Saya mau nanya, dulu akang nerusin kuliah dimana? soalnya sama mau kuliah
sambil kerja,, punya referensi yang bagus ngga kang? saya mau ambil jurusan
instrument and control system.

salam,
Irwan.P

TeknisiInstrument

September 4, 2012 at 08:49

Rate This

Wa alaikum salam wrwb.


Salam kenal kembali, silakan kirim email ke ade[dot]ahmat[at]gmail[dot]com, Insya
Allah kita bisa diskusi.

Salam,
TeknisiInstrument

gorigelo@yahoo.com
September 3, 2012 at 20:54

Rate This

maksih kang, kang blh minta nomer kontaknya? gorigelo@yahoo.com

TeknisiInstrument
September 4, 2012 at 08:50

Rate This

Jika ingin silaturahmi, bisa kirim email ke ade[dot]ahmat[at]gmail[dot]com

Salam,
TeknisiInstrument

tatang
September 15, 2012 at 16:46

Rate This

Assalamualaikum,
kang Ade,

punten kang ,
bade naros,saya lagi ngerjain tugas tentang control valve maintenance,
tapi pas nyoba searching di google kok g ada yang ngebahas secara lengkap ya??

punya link nya g kang tentang control valve maintenace itu apa aja?
hatur nuhun sateuacan na kang,

TeknisiInstrument
September 16, 2012 at 22:16

Rate This

Wa alaikum salam wrwb.

Sudah coba ini?

http://www.documentation.emersonprocess.com/groups/public/documents/book/cvh
99.pdf

Silakan buka chapter 8

Salam,
TeknisiInstrument

gani
September 17, 2012 at 08:47

Rate This

Punteun Kang Ade,


Bade naros upami ngetest resistansi insulatiing joint prosedurna kumaha? Gaduh
referensina kang? Sareng wiringna kumaha?
Hatur nuhun

TeknisiInstrument
September 18, 2012 at 20:18

Rate This

Kang Gani,
Saya belum pernah melakukan pengetesan resistansi insulating joint, jadi maaf
banget, saya tidak bisa membantu, Mungkin ada rekan lain yang bisa membantu?

Salam,
TeknisiInstrument

bayu
September 17, 2012 at 12:44

Rate This

assalamualaikum kang, mau nanya, gmana cara kalibrasi control valve


menggunakan hart protocol?

TeknisiInstrument
September 18, 2012 at 20:16

Rate This

Wa alaikum salam,
Sudah saya respon di sini:

https://teknisiinstrument.wordpress.com/qa/basic-knowledge/#comment-738

Salam,
TeknisiInstrument

tubagus
September 29, 2012 at 09:57

Rate This

Assalamuallaikum wr wb
Salam kenal kang

Aku baru nyemplung di dunia instrumen n msh buta sama sekali kang, aku minta
ilmunya sdikit kang,
Ditempat kerja aku tiap minggunya ada diskusi evaluasi kerja kita masing2, nah
minggu depan girilan aku untuk buka topik, aku niatnya mau buka topik tentang
pressure transmiter, aku minta penjelasanya kang, langkah2a dr awal sampe tahap
kalibrasi dan pemasangan kembali,
Matur nuhun sebelumnya moga2 akang slalu di beri kesehatan selalu
Aminnn

TeknisiInstrument
September 30, 2012 at 07:52

Rate This

Wa alaikum salam wrwb.


Ada bacaan yang bagus mengenai pengukuran tekanan, silakan buka link berikut:

http://www.omega.com/literature/transactions/volume3/pressure.html

Ini yang sudah diterjemahkan oleh google translate:

http://translate.google.com/translate?sl=auto&tl=id&js=n&prev=_t&hl=en&ie=UTF8&layout=2&eotf=1&u=http%3A%2F%2Fwww.omega.com%2Fliterature
%2Ftransactions%2Fvolume3%2Fpressure.html

Salam,
TeknisiInstrument

ahmad
October 3, 2012 at 13:22

Rate This

Assalamualaykum
punten kang, kalau pressure/temp gauge yang dibeli dari manufaktur apakah perlu
dilakukan bench calibration sebelum di-install di field?

Salam,

TeknisiInstrument
October 3, 2012 at 19:29

Rate This

Wa alaikum salam wrwb.


Kang Ahmad, salam kenal.
Jika saat pembelian disyaratkan bahwa pressure/temperature gauge yang dibeli
harus dilengkapi dengan calibration certificate yang dikeluarkan oleh manufacturer,
maka menurut saya tidak perlu lagi dikalibrasi. Keakuratan kalibrasi bisa mengacu
pada sertifikat dimaksud. Kecuali perusahaan Kang Ahmad memiliki kebijakan
(policy) lain mengenai masalah ini, yang menyatakan bahwa setiap press/temp
gauge baru yang akan dipasang harus di benc calibration. Maka kita harus berusaha
untuk taat pada aturan tersebut.

Jika memungkinkan, bench calibration bagus juga dilakukan sebagai base line data,
jika kita ingin membuat trending kerusakan press/temp gauge tertentu.

Salam,
TeknisiInstrument

Fagan
October 13, 2012 at 11:40

Rate This

Assalamuallaikum wr wb
Salam kenal mas,
Bisa minta diagram cara penginstalan kalibrasi barton recorder untuk separator
dengan menggunakan U TUBE mas,trims.klo bisa minta link SOP kalibrasinya
kalo ada

Salam,Fagan

TeknisiInstrument
October 15, 2012 at 17:39

Rate This

Wa alaikum salam wrwb.


Salam kenal kembali,
Silakan download manualnya di sini: http://trionics.com/wpcontent/uploads/2010/08/Barton-Manual.pdf

Pada Section 3 halaman 11, ada gambar arrangement-nya, test gauge bisa diganti
dengan U-tube (manometer pipa U).

Penjelasannya juga ada di sana.

Salam,
TeknisiInstrument.

Rizal Azmi
November 7, 2012 at 17:20

Rate This

Pak Ade.. blognya bagus pak.. mohon izin pak ya simpan link bapak di blog saya ya?
http://rizalprocess.wordpress.com/
terimakasih banyak atas sharing ilmunya ya..

salam, Rizal Azmi

TeknisiInstrument
November 21, 2012 at 20:15

Rate This

Pak Rizal Azmi,


Terima kasih. SIlakan Pak, diijinkan, senang bisa berbagi link.

Salam,
TeknisiInstrument

ag
November 8, 2012 at 19:05

Rate This

Assalamuallaikum kang
Salam kenal
Kang boleh minta tolong jelasin tentang RTD
1.tentang tipe-tipe rtd ?
2.prinsip kerja rtd ?

3.kelebihan sama kekurangan setiap rtd ?


maaf kang jika pertanyaannya terlalu banyak sebelumnya terima kasih kang

wassalamualaikum

TeknisiInstrument
November 21, 2012 at 20:14

Rate This

Wa alaikum salam.
Salam kenal kembali Pak Ag,

1. Tipe-tipenya:
Carbon resistor elements, Strain free elements, Thin film elements, Wire-wound
elements, Coiled elements

2. Prinsip kerjanya:
RTD (Resistance Temperature Detector) biasanya terbuat dari material murni
seperti platinum, nikel atau tembaga. Material tersebut memiliki perubahan
resistansi yang tertentu terhadap perubahan temperatur yang dialaminya. Sehingga
dengan mengetahui resistansinya, maka bisa diketahui temperature yang
dialaminya.

3. Kelebihan RTD
Akurasi yang tinggi, pergeseran nilai yang kecil, rentang ukur yang lebar serta
cocok untuk aplikasi yang presisi.

4. Kekurangan RTD
Pada temperatur yang sangat tinggi, diperlukan material pelindung yang khusus
agar akurasi tetap terjaga, karena dengan pelindung biasa, material pelindung bisa
mempengaruhi nilai pengukuran.

Lebih jelasnya bisa dibaca di:

http://en.wikipedia.org/wiki/Resistance_thermometer

Salam,
TeknisiInstrument

akbar
November 14, 2012 at 17:48

Rate This

Assalamualaikum pak ade .


salam kenal pak ,
mau tanya nh untuk SIWAREX U PLC for SIMATIC S7 dan ET 200M , di dalam
selection and ordering data kami ada yg single-channel dan two channel apa
perbedaannya , apakah dalam single maupun two channel bisa untuk
menkoneksikan beberapa timbangan (load cell). mohon bantuannya . terimakasih

TeknisiInstrument
November 21, 2012 at 20:04

Rate This

Wa alaikum salam.
Pak Akbar, salam kenal kembali.
Wah, kebetulan saya nggak punya pengalaman mengenai Semens PLC.
Tapi sekedar komentar dan pendapat, mungkin satu channel mengakomodasi satu
buah load cell, berarti dua channel mampu mengakomodasi dua buah load cell.

Istilah channel dalam I/O PLC biasanya mewakili satu saluran input/output, untuk
analog input 8 channel, berarti bisa mengakomodari delapan puah analog input.

Salam,
TeknisiInstrument

Nila
November 20, 2012 at 14:12

Rate This

Assalamualaikum

Selamat sore, saya boleh tanya contact numbernya? saya sedang study tentang
pressure transmitter untuk pemakaian di Indonesia. kalo misalkan bisa tukar fikiran
dengan bapak.

TeknisiInstrument
November 21, 2012 at 19:59

Rate This

Wa alaikum salam.
Bisa melalui email ade[dot]ahmat[at]gmail[dot]com

Salam,
TeknisiInstrument

Syafrizal A
November 22, 2012 at 15:34

Rate This

Assalamu alaikum kang

kang mohon bagi ilmu nya tentang DCS donk kang, kebetulan saya ingin belajar
DCS Yokogawa CS 3000. Terima Kasih kang.

TeknisiInstrument
November 23, 2012 at 21:30

Rate This

Wa alaikum salam.
Kang Syafrizal, terus terang, kalau DCS Yokogawa saya belum punya pengalaman,
tapi insya Allah akan saya coba mengenai konsepnya nanti, mungkin berbasis merk
lain. Semoga saja saya masih diberi kesempatan untuk bisa menulisnya.

Salam,
TeknisiInstrument

annonimous
November 23, 2012 at 10:36

Rate This

assalamualaikum kang
kang sama mau minta tolong minta dijelaskan tentang temperature transmitter
mulai dari definisi,prinsip kerja serta bagian-bagian dalam transmitter tersebut
sebelumnya terima kasih kang
maaf bila pertanyaannya terlalu banyak

TeknisiInstrument
November 23, 2012 at 21:34

Rate This

Wa alaikum salam.
Kang annonimous, pertanyaannya sich sedikit, tapi memerlukan jawaban yang
panjang.. hehehe Just kidding!

Kalau boleh tahu, transmitter electronic atau pneumatic yang ingin diketahui?
Jika segalanya memungkinkan, insya Allah kita akan belajar bersama, mungkin
tidak sekarang, tapi insya Allah jika saya masih diberi kesempatan untuk menulis
dan belajar lagi.

Salam,
TeknisiInstrument

annonimous
November 26, 2012 at 09:00

Rate This

yang elektronik aja kang gimana ?


siap kang ditunggu jawabannya
terima kasih sebelumnya kang

Soto Kemiri ( dapur pati ) / Waroeng krebet malang


December 23, 2012 at 19:58

Rate This

Gan mau tanya, jika pemasangan outlet pipa (pengambilan sensor) flow steam ke
transmitter yang di flange orrifice apa harus selalu 45 derajat ke arah samping atas,
dan apa bila di pasang secara vertical apa ada pengaruh nya?

TeknisiInstrument
January 3, 2013 at 21:02

Rate This

Terus terang saya belum punya pengalaman mengenai pemasangan transmitter


pada media steam. Namun menurut beberapa referensi yang pernah saya baca,
tapping point untuk sensing line transmitter pada orifice bisa dipasang antara arah
jam 10 dan jam 2.

Salam,
TeknisiInstrument

anggi septiyan
January 4, 2013 at 16:24

Rate This

assalamualaikum kang,
punya dokumen atau link tentang standarisasi instalasi grounding pada alat
instrument kang.?

hatur nuhun, sukses selalu

salam,
anggi s

anggo
January 10, 2013 at 07:49

Rate This

ass kang ,
mau nanya , punya link atau doc mengenai prosedur instalasi kabel grounding dan
yang nancep ke tanahnya?

terima kasih kang, sukses selalu

salam,
asep

TeknisiInstrument
January 10, 2013 at 07:56

Rate This

Wa alaikum salam,
Coba cari di dokumen:

IEEE Std 1143-1994 (IEEE Guide on Shielding Practice for Low Voltage Cables), dan
IEEE Std 1100-2005 (IEEE Recommended Practice for Powering and Grounding
Electronic Equipment)

Salam,
TeknisiInstrument

ryan pratama
January 16, 2013 at 18:52

Rate This

ass bg,
range sama span itu di control process apaan artinya ya ?

TeknisiInstrument
January 16, 2013 at 20:53

Rate This

Wa alaikum salam wrwb.

Bang Ryan Pratama, terima kasih sudah mampir di blog ini.


Range merupakan rentang ukur dari nilai terrendah (lower range value = LRV) dari
parameter yang akan diukur sampai dengan nilai tertinggi (upper range value =
URV) dari parameter yang akan diukur. LRV merupakan nilai dimana sebuah
instrument harus mengeluarkan/menerima nilai 0% pengukuran (misalnya 4mA),
dan URV merupakan nilai dimana sebuah instrument harus
mengeluarkan/menerima nilai 100% pengukuran (misalnya 20mA).
Sedangkan span merupakan selisih diantara URV dan LRV.

Misal:
Range= 0 sampai 150 PSI (LRV=0PSI; URV=150PSI) ; Span=150-0=150 PSI
Range= 50-300 degC (LRV=50 degC; URV=300 degC); Span=300-50=250 degC

Namun ada beberapa vendor/manufacturer instrument yang menyebutkan hal


spesifik mengenai range, misalnya untuk sebuah transmitter, disebutkan max
sensor module range = 0-800 PSIG, kadang-kadang disebut sensor limit =800 PSIG.
Dan untuk ketahanan sensor dari pressure, disebut MAWP (maximum allowable
working pressure), misalnya MAWP=3000PSIG.
Dari contoh ini bisa disimpulkan bahwa transmitter tersebut:
Tahan diberi tekanan sampai 3000PSIG.
Hanya bisa mengukur tekanan sampai 800PSIG.
Memiliki range maximum (dan bisa dikalibrasi) antara 0 sampai 800 PSIG.
Span maximumnya adalah 800 PSIG.
Bisa dikalibrasi 0-100; 0-200; 0-300; 0-325, 0-750, 0-800 asal jangan melebihi 0800.

Untuk lebih jelasnya mengenai penggunaan istilah, bisa mengacu pada buku
manual masing-masing instrument.

Semoga membantu, dan mohon maaf jika ada kekeliruan.

Salam,
TeknisiInstrument

Syafrizal A
January 21, 2013 at 11:12

Rate This

Assalamu alaikum kang


Mohon info nya ne kang tentang Gas GC ( Chromatografi )
Terima Kasih banyak kang.

TeknisiInstrument
January 23, 2013 at 06:07

Rate This

Wa alaikum salam.
Pak Syafrizal, info tentang apakah yang dimaksud? apakah prinsip kerjanya atau
apanya?

Salam,
TeknisiInstrument

Syafrizal A
January 23, 2013 at 13:48

Rate This

Assalamu alaikum Kang


Pertanyaan saya tentang prinsip kerjanya kang.
Mohon penjelasannya kang, Terima Kasih.

TeknisiInstrument
February 14, 2013 at 16:47

Rate This

Wa alaikum salam wrwb.

Kang Syafrzal,
Terus terang, saya hanya tahu sedikit saja tentang Gas Chromatograph Analyzer.
Tapi insya Allah saya akan berusaha menjawabnya.

GC analyzer, atau Gas Chromatograph Analyzer, merupakan perangkat analisis


untuk mengetahui komponen-komponen yang terkandung di dalam gas (campuran),
misalnya hidrokarbon. Hidrokarbon mengandung banyak komponen gas (methane,
ethane, buthane dst).

Prinsipnya adalah dengan mengelompokkan atau memisahkan setiap komponen


agar bisa dianalisis secara individu, sehingga kuantitasnya bisa diketahui.

Salah satu metoda memisahkan setiap komponen adalah dengan mengalirkan


sampel gas ke dalam sebuah kolum khusus, yang disebut packed column, yaitu
sebuah tabung/tubing berukuran kecil (sangat kecil) yang didalamnya di pasangi
komponen khusus yang bisa memperlambat komponen gas tertentu berdasarkan
sifat gasnya. Sehingga, setelah melewati packed column tersebut, gas yang lebih
ringan akan keluar dari colum lebih cepat (duluan), dan sebaliknya, komponen gas
yang lebih berat akan terlambat (keluar lebih akhir dari packed column.

Gas yang keluar dari column tersebut, sekarang sudah terpisah-pisah berdasarkan
beratnya, kemudian sampel gas tersebut dilewatkan ke dalam sebuah detektor
khusus yang mengukur kuantitas sampel gas.

Gas sampel tersebut, masuk ke dalam analyzer dibawa oleh carrier gas (biasanya
helium). Heliuum tersebut juga diukur oleh detektor lain sebagai referensi nol (atau
base line).

Setelah semua komponen gas dideteksi oleh detector, artinya sudah selesai saru
siklus, kemudian GC controller akan menganalisis dan menghitung kuantitas setiap
komponen gas tersebut dalam satuan persen.

GC controller/analyzer biasanya menyimpan data setiap komponen dalam memorynya sehingga dengan menggunakan komunikasi data industrial (semisal modbus),
data-data tersebut bisa diakses dan ditarik ke sistem DCS/PLC atau
controller/recorder/indicator lainnya.

Demikian seterusnya, analisis berulang yang disebut siklus.

Semoga membantu, mohon maa jika jawabannya kurang pas.

NB: Referensi dari wikipedia: http://en.wikipedia.org/wiki/Gas_chromatography

Salam,
TeknisiInstrument

syarifhidayat
January 22, 2013 at 12:22

Rate This

assalamualaikum, kang ade


nepangkeun, abdi syarif.. nembe pisan gabung..
abdi parantos janten teknisi instrument hampir 15 taun, ngan teteup bae seueur
hal hal anu teu acan kahartos..diantawis na :

1. parameter apa saja yang berpengaruh untuk menentukan range pada magnetik
flowmeter?
2. di tempat saya kerja sekarang (industri gula rafinasi) ada satuan BRIX, yaitu
satuan kekentalan sirup gula ( upami teu lepat mah ). untuk alat ukurnya bisa
menggunakan massflow atau refractometer. yang jadi pertanyaan, bila saya tidak

memiliki alat alat tersebut ( yang ada hanya DP Transmitter type capilary tube ),
apakah bisa menggunakan transmitter tersebut? apakah saya harus membuat
semacam pipa sirkulasi dulu untuk menempatkan DP transmitter? lalu
penghitungan range dan kalibrasinya bagaimana?

TeknisiInstrument
January 23, 2013 at 08:55

Rate This

Wa alaikum salam wrwb.


Salam kenal Pak Syarif,
Sebenarnya sama Pak, saya juga masih awam tentang instrumentasi. Menulis di
blog ini bukannya menguasai instrumentasi, ini hanya berceloteh saja hehehe.

1. Terus terang saja, saya jarang (sangat jarang) menangani magnetic flowmeter.
Range flow meter biasanya bergantung pada diameter flowtube (jarak antara
elektroda), serta bergantung pada laju alir (velocity) sehingga diameter pipa akan
berpengaruh terhadap kecepatan laju aliran (velocity). Mungkin ini spesifik dengan
magnetic flowmeter yang bersangkutan, bisa dilihat di manualnya. Untuk parameter
konfigurasi, mungkin ini spesifik dengan magnetic flowmeter yang bersangkutan,
bisa dilihat di manualnya.

2. Waduh, saya belum pernah menangani alat ukur kadar gula. Ini hanya pendapat
saja: Menurut wikipedia (http://en.wikipedia.org/wiki/Brix), brix adalah satuan
derajat kadar gula dalam sebuah cairan. Yang diukur adalah specific gravity (atau

densitas, rho), sehingga jika SG/density sudah diketahui, dengan menggunakan


pendekatan tabel, maka kadar gula bisa ditentukan. Mass flowmeter mengukur
masa sebuah fluida.
Jika digabung dengan beberapa parameter lain (seperti temperature, static
pressure dll) biasanya hal ini dilakukan oleh flow computer, mungkin saja dP
transmitter bisa mengukur massflow sehingga bisa diketahui density, dengan
beberapa parameter lain (formulasinya bisa dilihat di link berikut:
http://www.arian.cl/downloads/man-arian_flow_cad_software.pdf). Sekali lagi, saya
belum pernah melakukan hal ini. Ini hanya pendapat pribadi, yang sangat mungkin
keliru dan salah.

Mohon maaf tidak bisa membantu banyak :)


Salam,
TeknisiInstrument

syarifhidayat
January 25, 2013 at 13:08

Rate This

Hatur nuhun pisan masukanna, kang. :)

TeknisiInstrument
January 27, 2013 at 15:20

Rate This

Pak Syarif,
Sami2 :)

Salam,
TeknisiInstrument

ragassta@gmail.com
January 26, 2013 at 15:33

Rate This

assalammulaikum kang,
salam kenal saya instind @36..

maf bisa minta bantuannya kang, tlong jelasin tenang PID serta contohnya kang,
hehe..
terimakasih kang,

TeknisiInstrument
February 14, 2013 at 17:31

Rate This

Wa alaikum salam wrwb.


Kang Ragassta,
Wah. sebenarnya saya-pun masih awam mengenai teori PID hehehe.
PID (Proportional, Integral Derrivative), merupakan metode atau mode
pengendalian/control agar kinerja sebuah loop sesuai dengan keinginan, responnya
cepat, error-nya sedikit atau minimum.

Secara matematis, diformulasikan sebagai:

mv = ke + (k/Ti)e dt + kTd(de/dt)
dimana,
mv = manipulated variable atau output controller
k = gain

Ti = komponen integral (time)


Td = komponen derivative (time)
e = error (SP-PV)
SP = Set Point
PV = Process Variable

Secara fungsi, ke, merupakan komponen proportional, yang berfungsi untuk


merespon error, sehingga sesuai dengan gain, komponen ini akan memberikan
reaksi koreksi terhadap dinamika perubahan PV, dibandingkan dengan SP, semakin
besar gain (semakin kecil PB, proportional band), maka controller akan lebih
responsif, namun menimbulkan osilasi pada proses, bahkan bisa off-spec.

Ti (komponen intgral), merupakan komponen yang berfungsi untuk


mengakumulasi/mengintegrasikan error untuk setiap rentang waktu tertentu,
makanya disebut integral. komponen ini akan memberikan koreksi jika untuk setiap
waktu tertentu, terkumpul sejumlah error yang signifikan. Komponen ini akan
memberi efek memperlambat respon kontrol secara keseluruhan, namun akan
membantu mengurangi error yang berkepanjangan, yang biasa disebut offset.

Td (komponen integral), merupakan komponen PID yang berfungsi untuk


memberikan reaksi awal, berdasarkan berupa prediksi, berdasarkan kelakuan error,
pada proses yang dinamis, biasanya terdapat percepatan error (bukan kecepatan,
tapi percepatan), makanya komponen ini akan mendiferensiasikan error, yaitu
perbedaan error yang terjadi untuk setiap waktu tertentu (de/dt). Jika error memiliki
percepatan berarti, maka komponen ini akan memberikan reaksi awal dalam
mengoreksi error, Sehingga komponen ini bisa membantu mempercepat osilasi
pada proses. Namun memiliki efek membuat proses gonjang-ganjing.

Apa lagi ya. oh ya untuk menganalisisnya, diperlukan transformasi laplace,


dimana saya juga kurang faham.. hehehe mohon maaf.

Contoh implementasi dari PID control ini misalnya, level control, temperature
control, servo control, motor speed control, flow control, pressure control dan lain2.

Mohon maaf jika jawabannya tidak pas.

Salam,
TeknisiInstrument

Syafrizal A
January 30, 2013 at 09:52

Rate This

Assalamu alaikum Kang


Mohon sangat nich bantuannya Kang, saya mau tanya prinsip kerja Gas
Chromatografi ( GC ).
Terima kasih banyak Kang.

TeknisiInstrument
February 14, 2013 at 16:49

Rate This

Wa alaikum salam wrwb.

Kang Syafrizal, sudah saya jawab di:


https://teknisiinstrument.wordpress.com/qa/tanya%e2%99%a5jawab-2/#comment844

Salam,
TeknisiInstrument

Syafrizal A
February 15, 2013 at 09:56

Rate This

Assalamu alaikum Kang


Terima Kasih atas info GC nya Kang, Infonya benar-benar sangat membantu.

TeknisiInstrument
February 15, 2013 at 13:43

Rate This

Wa alaikum salami

Sama-sama.

Salam,
TeknisiInstrument

septiap nugraha
February 17, 2013 at 15:45

Rate This

assalamualaikum kang

saya maw nanya tentang flow meter vortex yokogawa type dy mungkin akang
pernah berpengalaman dengan itu, jadi di line instalasinya ada vibrasi yang
mungkin saya tidak tau seberapa besar vibrasi nya, sehingga mengganggu
keseimbangan dari flow meter tersebut, jadi ada satu saat dia harus nya reading,
tetapi aktual nya tidak, dan begitu pun sebaliknya, di alarm hart muncul high vibrasi
padahal mode high vibrasi sudah di not action kan. di settingan nya ada beberapa
hal yang ingin saya tanyakan seperti TLA adjusment apa fungsi dari TLA adjusment
dan pengaruhnya untuk apa, bagaimana cara saya untuk menghilangkan high
vibrasi tersebut.

terimakasih
salam,
teknisiInstrument.

TeknisiInstrument
February 18, 2013 at 20:48

Rate This

Wa alaikum salam wrwb.

Kang Septiap Nugraha,


Mohon maaf sebelumnya, saya belum pernah menangani flow meter vortex
yokogawa type dy.

Tapi hanya sedikit saran saja, identifikasi dulu sumber vibrasinya, komponen
pembangkit vibrasi diantaranya adalah pompa, apakah flowmeter-nya terpasang
dekat pompa, jika ya, apakah memungkinkan untuk di-relokasi. Apakah mungkin
jika dipasangi flexible hose di saluran discharge pompa? Coba juga pasang clamp
tambahan pada piping-nya, agar vibrasinya terserap oleh struktur.

Mohon maaf tidak bisa menjawab dengan pas.

Salam,
TeknisiInstrument

prisma
March 4, 2013 at 16:09

Rate This

salam kenal Kang

saya Prisma
kang saya mau belajar tentang TeknisiInstrument.
nah ini saya bingung..
Saya punya Alat ARC Hamilton satu Set.
tp Saya ndak bisa Untuk Calibration nya ??

saya cari di youtube tidak ada.

saya mau calibration Kadar PH ?


DO dan yang lainnya.
Mohon bantuannya kang ??

TeknisiInstrument
March 7, 2013 at 10:54

Rate This

Kang/Teh (maaf kalau salah) Prisma,

Salam kenal kembali, kalau boleh tahu, ARC Hamilton tipe/model apa?
Mau kalibrsasi PH meter, atau mau mengukur kadar PH?

Salam,
TeknisiInstrument

mansyur wandan
March 20, 2013 at 17:27

Rate This

mas saya pernah bekarja di manufaktur bagian maintenance electric,sekarang saya


kerja di electric perkapalan,saya hanya bisa membaca Sequences electrik saja,ga
bsa desain,sya pingin bisa design ada ga bimbingan,juga dimana cari webside ttg
electric merin fersi indonesia,makasih mas,sebelumnya

TeknisiInstrument
March 20, 2013 at 23:13

Rate This

Mas Mansyur Wandan,


Salam kenal.
Wah terus terang, saya belum pernah menangani elektrikal perkapalan. Menurut
saya, secara prinsip, electrical system untuk perkapalan mungkin sama saja dengan
untuk aplikasi lainnya.

Untuk memulainya, mungkin bisa mempelajari prinsip kerja dari switch, relay dan
ladder diagram, karena dasarnya itu.
Berikut ini ada link untuk mempelajari hal-hal di atas, bahasa inggris, tapi relatif
mudah dipahami.

Switch: (http://www.allaboutcircuits.com/vol_4/chpt_4/1.html)
Relay elektromagnetik: (http://www.allaboutcircuits.com/vol_4/chpt_5/index.html)
Ladder diagram: (http://www.allaboutcircuits.com/vol_4/chpt_6/index.html)

Jika ketiga topik di atas sudah dipahami, insya Allah ada gambaran.

Salam,
TeknisiInstrument

mansyur wandan
March 21, 2013 at 13:43

Rate This

wadu makasih banyak ni arahanya mas.kalau ada info ttg study electric basic
design fersi indonesia tlg kabari mas atau ada kursus dimana gitu. lewat
email,Arpatiew@yahoo.co.id
facebook namanya siapa nih mas

sukses selalu bersama keluarganya,aminWassalam

TeknisiInstrument
March 22, 2013 at 13:24

Rate This

Mas Mansyur Wandan,


Sama-sama.
Coba buka blog teman saya: http://instalasilistrikrumah.com
Coba tanya-tanya apakah beliau bisa mengadakan kursus dimaksud.

Salam,
TeknisiInstrument

mansyur wandan
March 23, 2013 at 22:55

Rate This

ass.wr.wb,sorry kang dtg lagi ni.sebelumnya lagi2 sy ucapkan terima kasih yg bnyk
krn adanya ling yg dikasih ke sya jdi tau bnyk.
ini ada problem baru dikapal saya, lagi dock di kakinada india.belum ketemu sdh 2
hri penyakitnya dari pihak dock & saya sendiri sbg electrician,sebelumnya,setelah
black out,generator saya di kapal,yg out.440V,60 HZ, kemudian supply power shore
conection 440V 50 HZ,yg terjadi adlh sbgn lampu tdk bsa nyala kedap kedip,Aircon
central terlihat running tapi amper naik tdk seperti biasany Ga tinngi,hingga terjadi
aising (bunga es) pd compresoor & evap,kasus yg sama juga setelah supply power
diganti dgn teg.440V & Frek. 60HZ,hanya lampu2 yg nyala bagus,
akhirnya kembali ke generotor (Ganset), kapal,semuanya berfungsi dgn.sempurna,
kira2 penyakitnya dimana? minta arahanya Oh iya kang,terlihat conection dri shore
conection R-S-T & Earth apakah ini pengaruhnya? harusnya R-S-T & Netral krn E
adalah kombinasi dri N yg keluar dri sumber generator, atau kang punya ide
cemerlang? makasih sebelumnya. sukses selalu Wassalam

TeknisiInstrument
March 31, 2013 at 22:21

Rate This

Wa alaikum salam wrwb.

Mas Mansyur Wandan, sebelumnya saya mohon maaf, karena sepertinya saya
kurang kompeten menjawab pertanyaan mengenai kelistrikan tersebut. hehe..
maaf.

Tapi insya Allah saya akan coba untuk menjawab.


Kalau saya tidak salah ingat, motor (pada AirCon atau motor apapun), merupakan
beban induktif yang menggunakan lilitan. Kita tahu bahwa pada beban induktif
berlaku impedansi, yang merupakan resultan antara resistansi dengan induktansi
(dan mungkin kapasitnasi). Pada beban induktif, akan menghasilkan induktansi
yang besarnya adalah:
(XL=2fL)
Seperti ditulis di atas, bahwa frekuensi normal adalah 60Hz, kemudian diberi supply
50Hz (dengan tegangan yang sama). Merujuk pada rumus yang tadi, jika fekuensi
turun, maka induktansi akan turun, dan impedansi akan turun juga, sehingga arus
akan naik.

Dan jika lampu yang digunakan menggunakan ballast, maka hal tadi sepertinya
berlaku juga.

Mohon maaf jika jawabannya kurang pas.

Salam,
TeknisiInstrument

irfans
April 1, 2013 at 17:51

Rate This

assallammualaikum
salam kenal kang, saya mau tanya tentang fungsi dari booster, relay, solenoid dan
positioner pada control valve???

sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas bantuan nya kang..

TeknisiInstrument
April 2, 2013 at 14:08

Rate This

Wa alaikum salam wrwb.


Kang Irfans, salam kenal kembali.

Booster:
Berfungsi sebagai penguat sinyal pneumatic. Biasanya dipakai pada actuator yang
besar dimana sinyal pneumatic dari positiner tidak cukup besar untuk
menggerakkan actuator.

Relay:
Dalam hal ini adalah penumatic relay, adalah sebuah alat yang biasanya digunakan
pada komponen pneumatic atau electro-pneumatic, yang berfungsi untuk me-relay,
atau meneruskan satu bentuk sinyak menjadi sinyal penumatic yang disesuaikan
dengan kebutuhan, misalnya dipakai pada positioner, i/p converter, pneumatic
controller dll.

Solenoid:
Dalam hal ini adalah solenoid valve, adalah sebuah valve yang digerakkan oleh
solenoid, yaitu kumparan yang digerakkan oleh tenaga/sinyal listrik, umumnya
berupa valve on/off yang digerakkan oleh sinyal listrik.

Positioner:
Sesuai namanya, adalah sebuah alat untuk memposisikan travel/stem valve sesuai
dengan yang diinginkan. Dalam fungsinya, positioner menerima sinyal dari
controller, dan juga mendeteksi posisi stem (atau bukaan) dari control valve, jika
posisi yang dideteksi oleh positioner tidak sama dengan sinyal yang dia terima,
maka positioner akan mengoreksi posisi stem atau bukaan valve, agar selalu sesuai
dengan sinyal perintah dari controller. Positioner bertugas untuk selalu menjaga
agar bukaan control valve sesuai dengan sinyal yang diperintahkan oleh controller.

Semoga membantu, mohon maaf jika kurang pas.

Salam,
TeknisiInstrument

syarif hidayat
April 16, 2013 at 13:24

Rate This

assalamualaikum, kang ade,,,


tepang deui sareng abdi, syarif.
saya ingin mengetahui lebih jauh mengenai vortex flowmeter, aplikasinya bisa
dipakai untuk mengukur apa saja selain fluida?
apakah efektif untuk mengukur dry steam (>600 degC)?
apa yang harus diperhatikan sebelum membeli/memakai flowmeter tersebut?

hatur nuhun pisan kana waleran na..

Syarif Hidayat

TeknisiInstrument
April 17, 2013 at 22:17

Rate This

Wa alaikum salam wrwb.


Eh Kang Syarif, kumaha damang?

Wah jujur saja, saya belum pernah secara langsung menangani vortex flowmeter.
Insya Allah saya cari tahu dulu..

Mungkin link berikut bisa membantu:

http://www.smartmeasurement.com/Products/FlowMeters/Vortex.aspx

http://www.abb.com/product/us/9AAC100411.aspx

http://www2.emersonprocess.com/en-us/brands/rosemount/flow/vortexflowmeters/8800-series/pages/index.aspx

http://www.proteusind.com/vortex/

Punten pisan
Salam,
TeknisiInstrument

syarif hidayat
April 24, 2013 at 13:26

Rate This

alhamdulillah, sae
hatur nuhun kana waleranna,,,,,,

Syarif Hidayat

TeknisiInstrument
April 25, 2013 at 16:17

Rate This

Sami-sami Kang,

Salam,
TeknisiInstrument

Tomi
May 12, 2013 at 14:17

Rate This

salam kenal kang,


saya ingin tanya tentang LVDT. apakah LVDT bisa dikalibrasi? kalau bisa mohon
instruksinya. kemudian bagaimana cara mengetahui suatu LVDT masih berfungsi
baik atau rusak.?
Terima kasih sebelumnya

TeknisiInstrument
May 13, 2013 at 00:27

Rate This

Kang Tomi,
Salam kenal kembali.

Maaf sebelumnya, apakah yang dimaksud hanya LVDT-nya saja, atau sudah
terpasang pada suatu alat, menjadi semacam sensor, semisal sensor posisi?
Jika hanya LVDT (Linear Variable Differential Transformer) saja, sepertinya susah
dikalibrasi, paling di geser titik kerjanya saja. Karena LVDT merupakan komponen
pasif, Untuk mengubah variable (voltage output), yang paling mungkin adalah
dengan menggerakkan core/intinya, yang biasanya dijadikan sensor posisi.
Tetapi, jika LVDT tersebut didukung dengan rangkaian elektronika lain semisal
amplifier/komparator dan rangkaian pengolah sinyal lainnya, maka sepertinya bisa
dikalibrasi, untuk mendapatkan variasi tegangan keluaran (voltage output) yang
diinginkan sebagai respon dari posisi core/intinya.

Mohon maaf jika kurang pas.

Salam,
TeknisiInstrument

Budi
May 24, 2013 at 13:46

Rate This

Assalamualaikum kang ade,

Saya mau tanya kang tentang pressure transmitter untuk fluida gas. berikut
datanya:

Brand : Rosemount
Model : 3051 Smart Transmitter 3051CG5A22A1AM5B4E5Q4
Range : 0 600 psig
c/w : Bock and Bleed 1/2 Manifold

Pressure transmitter tsb 3 hari yang lalu terkena sambaran petir sehingga data
yang ditampilkan di HMI menunjukkan -200 psi, kadang juga menunjukkan 2000 psi.
Saya diminta untuk melakukan pengecekan field transmitter tsb dan belum pernah
melakukan pengecekan atau analisa kerusakan sebelumnya karena saya bertugas
sebagai scada engineer sedangkan instrument enginer yang bersangkutan sedang
tidak ada di tempat. Mohon bimbingannya kang untuk pengecekan kerusakan
transmitter step by step sampai pada pengambilan keputusan bisa diperbaiki atau
harus beli baru.

Terimakasih

TeknisiInstrument
May 24, 2013 at 22:14

Rate This

Wa alaikum salam wrwb.


Kang Budi, salam kenal.

Wah.. saya mohon tidak memakai istilah bimbingan ke saya.. hehehe.. kita diskusi
saja ya

Sebelumnya, saya akan asumsikan bahwa Kang Budi menampilkan nilai tekanan
dari pressure transmitter pada HMI melalui sinyal 4-20mA (mohon koreksi jika
salah).

Untuk melakukan pengecekan mungkin bisa dilakukan hal berikut:

1. Yakinkan dulu receiver (baik controller/DCS ataupun PLC) analog input modul-nya
berfungsi dengan baik, dengan cara lakukan loop check, dengan meng-inject sinyal
4-20mA pada channel analog input bersangkutan, jika di-inject 4mA maka harus
tampil 0PSI, dan jika di-inject 20mA maka pada HMI harus tampil 600 PSI.

2. Jika langkah satu hasilnya sudah OK, lakukan calibration check pada transmitternya (langkah-langkah kalibrasi bisa dilihat di manual book transmitter-nya).

3. Jika analog input sudah OK, transmitter sudah OK, seharusnya tidak ada masalah.
Tapi jika masalah transmitter erratic, mungkin ada interferensi sinyal dari luar, atau
kabel shield terganggu, atau secara tidak sengaja instrument ground bergabung
dengan electrical ground. Coba periksa grounding dan shielding-nya.

4. Jika transmitter tidak dapat dikalibrasi/rusak, maka transmitter harus diganti, baik
modular maupun keseluruhan unit-nya.

5. Setelah semua berfungsi kembali, periksa semua grounding/bonding di fasilitas


Kang Budi, karena jika grounding/bonding dan shielding-nya bagus, akan dapat
mengurangi resiko rusaknya transmitter dari sumber energy berlebih dari luar,
seperti petir dll,

Mohon maaf jika kurang tepat.

Salam,
TeknisiInstrument

Budi
May 25, 2013 at 10:07

Rate This

terimakasih kang ade atas jawabannya. Saya masih belum paham pada beberapa
penjelasan kang ade,hehehe.

1. Untuk loop check itu apakah bisa pakai Hart communicator 475 ? Apakah
pressure transmitter harus dilepas atau tidak saat loop check ? apakah kang ade
punya ilustrasi/gambar penggunaan hart communicator 475 untuk loop check ?
maklum saya belum pernah pakai hart com. Sekalian kang ilustrasi atau gambar
untuk melepas/memasang pressure transmitter

2. Jika langkah 1 hasilnya tidak ok, apakah bisa langsung bisa dikatakan
transmitternya rusak dan harus diganti ?

3. Apakah kang ade ada ilustrasi/gambar kabel shield, instrument ground dan
electrical ground yang terpasang di field ? kemudian untuk menyatakan transmitter
erratic itu apakah ada indikasinya di LCD pressure transmitter ?

Mohon penjelasannya ya kang ?


Terimakasih

Budi
May 25, 2013 at 11:52

Rate This

Maaf kang kelupaan, menyambung pertanyaan no 3 apakah ada wiring diagram


yang benar untuk pemasangan kabel shield, instrument ground dan electrical
ground ?

Terimakasih

TeknisiInstrument
May 25, 2013 at 17:24

Rate This

Kang Budi,
Pertama-tama, silakan download manual dari rosemount 3051 series pada link
berikut:

http://www2.emersonprocess.com/siteadmincenter/PM%20Rosemount
%20Documents/00809-0100-4001.pdf

1. jika dd-file-nya tersedia, maka bisa Pak. Wiring-nya bisa dilihat di halaman 23
pada manual tersebut.

2. 3051 series memiliki fitur self diagnostic, daftar hasil diagnostic dan saran
penyelesaian masalah bisa dilihat di halaman 92 pada manual tersebut.

3. Mengenai shield, bisa dilihat di halaman 27-28 pada manual tersebut.

Salam,
TeknisiInstrument

Ali
May 26, 2013 at 13:47

Rate This

Selamat siang Teknisi Instruments, saya mau bertanya bagaimana sih wiring
connection yang benar untuk LVDT & ada berapa jenis LVDT karena jumlah kabel
ada yang 5 atau 6 warna. Terima kasih Teknisi Instruments

TeknisiInstrument
May 26, 2013 at 15:29

Rate This

Pak Ali,
Selamat siang.
Apakah ada referensi merk dan model-nya?

Salam,
TeknisiInstrument

Grifaldi

May 27, 2013 at 08:53

Rate This

assalamualaikum kang, saya grifaldi KP36 mau tanya mengenai pengontrolan dgn
sistem Cascade itu apa? dan biasanya digunakan utk pengontrolan apa?
hatur nuhun

TeknisiInstrument
May 30, 2013 at 07:56

Rate This

Kang Grifaldi, wa alaikum salam wrwb.


Salam kenal.

Cascade control merupakan kendali berundak, dimana output dari controller induk
diumpankan/diberikan kepada controller anaknya sebagai setpoint untuk controller
anaknya.
Misalnya sebuah heat exchanger, dengan menggunakan media pemanas
steam/uap.
Flow dari heat exchanger dikendalikan berdasarkan temperature yang diperlukan
untuk memanaskan media proses yang dipanaskan. Misalnya heat exchanger
memanaskan air dengan steam. flow steam diukur oleh flow transmitter, kemudian
sinyalnya diberikan kepada steam flow controller, keluaran dari steam flow
controller diberikan kepada steam flow control valve. Nah, pada output air yang
dipanaskan, dipasang temerature transmitter, kemudian keluaran dari termperature
transmitter tesebut diberikan kepada temperature controller, output dari
temperature controller diberikan kepada steam flow controller sebagai setpointnya.

Begitu kurang lebih


Mohon maaf jika jawabannya ngawur :)

Salam,
TeknisiInstrument

Grifaldi
May 30, 2013 at 13:25

Rate This

kalo dari Temperature Transmitter (untuk air yg di panaskan) -> Temperature


Controller -> Control Valve inlet steam ga bisa kang? knp harus pakai Flow Steam
harus d pakai?

maafkan saya yg junior ini yaa kang.. banyak nanya pisan hikshikss

TeknisiInstrument
May 31, 2013 at 23:05

Rate This

Kang Grifaldi,
Sistem instrumentasi biasanya mengikuti keinginan proses, bukan sebaliknya. Jadi
mengapa demikian (seperti komentar teknisiInstrument di atas) itu hanya
pemisalan kasus pada heat exchanger.

Tapi saya akan coba dari sisi proses-nya. Katakan saja sebuah heat exchanger
dikendalikan seperti pada komentar teknisiInstrument di atas, pada konfigurasi
demikian, maka salah satu keuntungan dari sistem kendali adalah, bahwa sistem
kendali demikian bisa memiliki sistem feedforward, dengan memberikan flow steam
(terkendali) tanpa feed-back dari temperature transmitter di sisi air yang
dipanaskan.

Biasanya, cascade digunakan jika ada dua parameter (atau mungkin lebih) yang
harus dikendalikan, namun hanya memiliki satu parameter yang bisa dimainkan.
Misalnya pada kasus contoh di atas, ada dua parameter yang harus dikendalikan,

yaitu flow steam (sebagai pemanas) dan temperature air (yang dipanaskan), dan
hanya satu control valve sebagai actuator, yaitu control valve yang mengatur
berapa banyak steam yang harus diberikan agar bisa menjaga temperature air yang
dipanaskan pada temperature yang diinginkan.

Kalau berminat membaca, sebetulnya banyak bahan bacaan seperti berikut:

http://www.bgu.ac.il/chem_eng/pages/Courses/oren%20courses/Chapter_10.pdf

https://controls.engin.umich.edu/wiki/index.php/CascadeControl

http://blog.opticontrols.com/archives/105

http://eng.upm.edu.my/~syafiie/class/ECH3112/cascade.pdf

Salam,
TeknisiInstrument

Ali
May 28, 2013 at 08:12

Rate This

Assalamualaikum TeknisiInstrument, LVDT yang saya gunakan adalah untuk position


control merk Ametek Solartronmetrology, kabel pada LVDT ini ada 5 warna. saya
kesulitan untuk menghasilkan output 4-20mA, Mohon bantuannya.. Thanks :)

TeknisiInstrument
May 30, 2013 at 07:51

Rate This

Wa alaikum salam wrwb.


Kang Ali, ametek solartron tipe apa ya?
Apakah sudah baca di manual book-nya?

Salam,
TeknisiInstrument

Ali
May 31, 2013 at 09:23

Rate This

Assalamualaikum Kang Ade, Begini kang LVDT ini bekas jadi saya tidak punya
manual book & saya liat LVDT ini juga tidak ada marking tipe pada bodi, mungkin
kang ade punya pengalaman dengan LVDT position control dengan 5 kabel yang
bisa disharing.

Thanks..

TeknisiInstrument
May 31, 2013 at 22:52

Rate This

Wa alaikum salam wrwb.

Kang Ali, repot juga ya kalo nggak ada manualnya hehehe


Terus terang, saya belum pernah menangani lvdt secara langsung.

Saya akan coba ikut berfikir.


Biasanya lvdt memiliki satu lilitan primer dan dua lilitan sekunder. Sehingga pada
sisi primer akan memiliki dua kabel dan pada sisi sekunder akan memiliki empat
kabel. Namun umumnya pada sisi sekunder, ada dua kabel yang digabung sebagai
CT (center tap) atau common-nya.
Coba diukur resistansi setiap kabel satu sama lainnya. Menurut saya, akan ada sua
kabel yang memiliki resistansi yang sama terhadap sebuah kabel, dan ada dua
buah kabel memiliki resistansi. Dan dua buah kabel tidak saling berhubungan
dengan ketiga kabel lainnya.

Kalau dimisalkan, menurut saya:


Kabel hitam-putih memiliki resistansi x ohm
kabel biru-kuning memiliki resistansi y ohm
Kabel ungu-kuning memiliki resistansi y ohm
kabel hitam terhadap biru/kuning/ungu memiliki resistansi ~
kabel putih terhadap biru/kuning/ungu memiliki resistansi ~.

Maka kemungkinannya adalah:


kabel hitam-putih kemungkinan adalah primer-nya
kabel biru-kuning kemungkinan adalah sekunder 1, dan
kabel ungu-kuning kemungkinan adalah sekunder 2
kabel kuning kemungkinan common-nya sekunder.

Mungkin bisa eksperiment:


sisi primer, sambungkan dengan tegangan 5 VAC, dan sisi sekundernya coba ukur
pakai oscilloscope, probe 1 ukur biru-kuning, dan probe 2 ukur ungu kuning.
Kemudian gerakkan core-nya atau stroke/displacement sensor-nya. Kemudian lihat
apa yang terjadi.

Catatan: Warna kabel hanya pemisalan, silakan sesuaikan dengan warna kabel
sebenarnya.

Mohon maaf jika tidak tepat. :)

Salam,
TeknisiInstrument

Pernyataan:
Komentar di atas bukanlah merupakan panduan, juga bukan instruction manual.
Analisa pada komentar di atas, sangat sangat sangat mungkin salah.
TeknisiInstrument tidak bertanggung jawab jika ada akibat langsung atau tidak
langsung dari komentar di atas.

dian
May 29, 2013 at 23:08

Rate This

salam kenal untuk semua


saya mau tanya apa ada kabel dari dial indikator ke PLC (programmeble logic
controller)???

trus gimna cara controlnya apakah harus membuat sofware atau bagaimana???
dial indikatror yg saya punya dial digital.
trima kasih sebelumnya

TeknisiInstrument
July 16, 2013 at 21:22

Rate This

Kang Dian,
salam kenal kembali.
Apakah dial indicator yang dimaksud adalah dial indicator untuk alignment?

Salam,
TeknisiInstrument

yos
July 16, 2013 at 13:49

Rate This

punten kang ade saya mau tanya masalah seputar instrument, pertanyaanya : Apa
penyebab terjadi nya postitioner pada control valve hunting?

Ket: (Postitioner Fisher DVC6200, Fisher Control valve globe sliding)

terimakasih sebelumnya kang ade.

TeknisiInstrument
July 16, 2013 at 21:30

Rate This

Kang Yos,
Salam kenal.
Apakah sudah pernah coba di-tuning?
Cara tuning ada di manual, silakan download pada link berikut:

http://www.documentation.emersonprocess.com/groups/public/documents/instructio
n_manuals/d103409x012.pdf

Terdapat di halaman 52 dan 53.

Salam,
TeknisiInstrument

izzudin
July 16, 2013 at 16:37

Rate This

salam kenal akang


saya mau tanya nih akang. pertanyaannya :
1. mau tanya, ada link tentang heat exchanger lengkap yang berbahasa indonesia
tidak?
2. kalau heat exchanger yang tipe U-tube ada juga tidak?
3. penyebab sering terjadinya kebocoran pada heat exchanger?
4. cara penangan kebocoran heat exchanger tipe U-tube bagaimana akang?
terimakasih atas jawabannya akang. dari izudin,yogyakarta

TeknisiInstrument
July 16, 2013 at 21:23

Rate This

Mas Izzudin,
Salam kenal kembali.
Wah maag sekali, saya tidak punya pengalaman mengenai heat exchanger.
Mungkin ada teman-teman yang membaca blog ini yang punya referensi?

Salam,
TeknisiInstrument

Denny
August 11, 2013 at 14:18

Rate This

Kang Ade,
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1434H yaa..,

Mohon informasinya apakah Kang Ade punya kenalan Teknisi/Supervisi yang bisa
men-setting/install :
Rosemount Analytical Model 5081-P-HT pH/ORP Transmitter dengan Model 381+
pH/ORP Sensor. Kami agak kesulitan karena Temperature nya tidak mau stop/ngunci
pada titik tertentu sehingga naik terus.
Seandainya Kang Ade punya kenalan tolong informasikan alamat email dan nomor
telp/HP nya yaa..,

Salam,
Denny

TeknisiInstrument
August 11, 2013 at 19:53

Rate This

Kang Denny,
Selamat hari raya idul fitri juga. terima kasih.

Saya coba cari2 dulu ya mudah2an ada teman yang pengalaman

Salam,
TeknisiInstrument

Cep Ruhe
August 12, 2013 at 02:15

Rate This

Kang Denny,

Mudah-mudahan bisa membantu, coba di buka lagi manualnya:

http://www2.emersonprocess.com/siteadmincenter/PM%20Rosemount%20Analytical
%20Documents/Liq_Manual_51-5081P.pdf halaman 115-117.

Sependek pengalaman saya, ORP ini gak rewel sejauh step2 installasi dan
konfigurasinya diikuti dengan benar.

Denny
August 20, 2013 at 11:55

Rate This

Kang Cep Ruhe,

Kami dan User Pertamina Cilacap masih kesulitan.., boleh kami minta no. HP Kakang
agar dapat berkomunikasi langsung..?

Salam,
Denny

Denny
August 20, 2013 at 12:07

Rate This

Kang Cep Ruhe,

Kami dan User Pertamina RU-IV Cilacap masih kesulitan.., boleh minta no HP Kakang
agar dapat berkomunikasi langsung..?

Salam,
Denny domisili di Cilacap
HP : 0815-7538-9070

Malik Razzaq Al Hakim


August 18, 2013 at 20:45

Rate This

assalamualaikum kang deny,


sebelumnya mau ngucapin juga Selamat hari raya idul fitri,
saya malik dari KP @36 salam kenal kang.

kang saya mau minta tolong ada nggak nih recomend untuk belajar drop pressure
sistem line pipa mau itu fluidnya gas atau liquid, sekalian dengan contoh kasus
perhitungan yang di pipa lurus, tikungan, katup.. saya udah cari2 cuman masih
kurang lengkap dan mudah dipahami..

best regards,

malik :)

Malik Razzaq Al Hakim


August 18, 2013 at 20:50

Rate This

maaf kq jd ke kang deny hihi, pertanyaannya ke teknisi instrument.

TeknisiInstrument
August 20, 2013 at 20:42

Rate This

Kang Malik,

Wa alaikum salam wrwb.


Selamat hari raya idul fitri juga.
Salam kenal.

Coba baca-baca di link berikut:

http://www.engineeringtoolbox.com/fluid-mechanics-t_21.html

Ada banyak link ke mekanika fluida, termasuk pressure loss/drop.

Salam,
TeknisiInstrument

iskandar
September 6, 2013 at 23:59

Rate This

salam kenal kang ade..


saya iskandar dan baru bergabung di blog ini,,,kalau di ijinkan saya mau tanya soal
pengertian tentang gas flow recorderitu saja kang ade yang saya tanyakan trima
kasih..

salam
iskandar

TeknisiInstrument
September 8, 2013 at 08:13

Rate This

Salam Kenal Mas Iskandar


Flow gas recorder adalah recorder umum (bisa berupa paper chart atau electronic
recorder/data logger), yang digunakan untuk merekam/me-record jumlah gas untuk
setiap satuan waktu tertentu, misalnya MCFD, MSCFD, MCFH, MSCFH dll. Sehingga
kita memiliki trending gas flow untuk setiap satuan waktu tertentu tadi.

Salam,
TeknisiInstrument

iskandarunin
September 17, 2013 at 00:38

Rate This

terima kasih kang Ade

TeknisiInstrument
September 18, 2013 at 11:15

Rate This

Kembali kasih.

Salam,
TeknisiInstrument

iskandarunin
September 17, 2013 at 00:34

Rate This

salam semuanya.

langsung aja ah saya mau tanya uraian mengenai fisher box control.matur nuhun
sedayana..,,,,

TeknisiInstrument
September 18, 2013 at 11:17

Rate This

Mas Iskandar,
Mungkin bisa lebih spesifik tipe dari controller yang dimaksud, serta masalah apa
yang ingin didiskusikan. Agar teman2 pembaca lain bisa bantu.

Salam,

TeknisiInstrumenet

edwin
September 19, 2013 at 16:06

Rate This

Pak Ade, salam kenal. Saya Edwin. Mungkin bisa kerja sama jika ada projek.
Kadang2 kami butuh engineer lepas dibeberpa projek dan jika Bapak butuh sensor
instrument. silahkan kontak via hp atau email . Edwin 0816-1488141 |
edwin@virera.com | website: http://www.virera.com. Banyak sensor indicator dan
controller hingga driver yg bisa kami supply. Salam

TeknisiInstrument
September 23, 2013 at 05:00

Rate This

Pak Edwin,
Salam kenal kembali.
Salam sukses Pak

Salam,
TeknisiInstrument

iskandarunin
September 21, 2013 at 11:48

Rate This

iya kang Ade,


yang saya maksud pengertian Fisher controller type 2500 dan type 4000 yang
menghubungkan ke LCV Liquid Control Valve dan PCV pressure Control
Valve.Demikian haya itu kang Ade..Hehe

Salam
Iskandar

TeknisiInstrument
September 21, 2013 at 22:18

Rate This

Mas Iskandar, Fisher 2500 adalah Pneumatic controller dengan sensor


displacer/floater, dengan menggunakan pneumatic relay sebagai computing
element. Displacer akan merespon perubahan level, dan akan mengubah posisi
flapper terhadap nozzle pada pneumatic relay, pneumatic relay akan mengeluarkan
output sebanding dengan perubahan level, baik berbanding lurus (direct) ataupun
berbanding terbalik (reverse/indirect). Output dari controller bisa langsung diberikan
ke control valve.

Manual-nya bisa dibaca di link berikut:

http://www.documentation.emersonprocess.com/groups/public/documents/instructio
n_manuals/d200124x012.pdf

http://www.documentation.emersonprocess.com/groups/public/documents/bulletins/
d200037x012.pdf

Salam,
TeknisiInstrument

dedek
October 3, 2013 at 21:24

Rate This

Kang Ade, Saya mau tanya. Kita disini sedang menggunakan Barton chart reader
202E. Di name tag nya, menyebutkan kalau range differential pressurenya 0-100
WC dan static pressure rangenya 100 psig. Range tsb bisa di re-scale menjadi 0-10
WC dan 20 psig gak ya? apakah sulit? dan apakah perlu penggantian part atau
hanya adjustment saja yg dibutuhkan.
Terimakasih atas bantuannya.
Dedek

dedek
October 3, 2013 at 21:25

Rate This

Kang Ade, Saya mau tanya. Kita disini sedang menggunakan Barton chart reader
202E. Di name tag nya, menyebutkan kalau range differential pressurenya 0-100
WC dan static pressure rangenya 100 psig. Range tsb bisa di re-scale menjadi 0-10

WC dan 20 psig gak ya? apakah sulit? dan apakah perlu penggantian part atau
hanya adjustment saja yg dibutuhkan.
Terimakasih atas bantuannya.
Dedek

TeknisiInstrument
October 20, 2013 at 23:09

Rate This

Salam kenal Kang Dedek.


Sepertinya harus mengganti bellows-nya (part dari DPU/Differential Pressure Unit)
dan mengganti pressure element untuk static pressure-nya.

Silakan baca manualnya di sini:

http://c-a-m.com/Forms/Product.aspx?prodID=4ea0774a-22f8-4fb0-83971fe7effcea24

Salam,
TeknisiInstrument

Abdul Haer
October 7, 2013 at 22:26

Rate This

salam kang ade,,


saya baru gabung di blog ini kang, kang klo boleh dan klo kang ade bisa sempet
jawab saya mau tanya soal flexible steam hose kang.
kira faktor apa saja ya kang yg bisa menyebabkan flexible steam itu bocor jika di
pasang di alat yg bergerak,,
makasih kang sebelumnya

salam haer

deni
October 18, 2013 at 01:28

Rate This

Assalammualaikum..
Salam kenal kang,sami2 org pdlrng.
Blognya mantap kang.sya udah lama ngikutin.. pngen nanya tpi blm prnah dpt
topik yg pas (maklum krja sya cma petugas packing biasa). salam sukses kang

TeknisiInstrument
October 20, 2013 at 22:49

Rate This

Wa alaikum salam.
Kang Deni, salam kenal. Tidak ada pekerjaan yang cuma Kang :) Semuanya
profesional.
Semoga sukses.

Salam,
TeknisiIntrument

duin_afries
October 24, 2013 at 16:56

Rate This

mas saya mau tanya mas gimana cara mengatasi high level, low level, high
pressure, low pressure, dan gas yang berlebihan pada separator produksi mas
tolong mas gimana cara mengatasinya mas,,,,,
sekian dan terima kasih mas,,,,,
apa ada linknya iy mas,,,,

TeknisiInstrument
October 24, 2013 at 17:08

Rate This

Mas Duin_Afries,
Salam kenal. Mungkin TeknisiInstrument bisa menyarankan:

1. Yakinkan semua transmitter (pressure dan level transmitter) terkalibrasi dengan


baik.
2. Yakinkan semua control valve (pressure dan level control valve) terkalibrasi
dengan baik.
3. Lakukan PID tuning untuk PIC dan LIC nya.
4. Jika level/pressure bermasalah sejak komisioning, coba periksa lagi valve sizingnya.

Salam,
TeknisiInstrument

Adhi Tama
October 25, 2013 at 11:37

Rate This

ass
mau tanya ada referensi penjual LVDT dan Load Cell g untuk di Indonesia

TeknisiInstrument
October 26, 2013 at 18:49

Rate This

Wa alaikum salam wrwb.


Pak Adhi Tama, wah.. maaf saya tidak punya info mengenai itu.

Maaf.
Salam,
TeknisiInstrument

ragassta@gmail.com
October 25, 2013 at 16:19

Rate This

Asslamulaikum kang..
punten bade tumaros, kalau dasar perhitungan kangge ngukur standar flow rate
atanapi volume flow rate nganggo orifice dengan alat ukur berupa (PT,DPT,TT)

itu dasar perhitungan na kumaha nya kang???


hatur nuhun

TeknisiInstrument
October 26, 2013 at 18:56

Rate This

Wa alaikum salam wrwb.


Pak/Bu ragassta (maaf kalau salah hehe).
DPT merupakan transmitter yang dipergunakan untuk mengukur perbedaan
tekanan di antara sisi upstream dan downstream orifice. Perbedaan tekanan yang
timbul berbanding (walau tidak lurus) dengan banyaknya flow yang mengalir
melalui orifice tersebut.
PT merupakan transmitter yang dipergunakan untuk mengukur static pressure atau
tekanan yang aktual saat pengukuran dilakukan, biasanya sensing point-nya
dipasang di upstream orifice, nilai static pressure ini nantinya berfungsi untuk
mengoreksi/mengkonversi nilai flow dari actual flow menjadi standard flow.
TT merupakan transmitter yang dipasang untuk mengukur temperatur saat
pengukuran dilakukan. sama halnya seperti PT, nilai pengukurannya nantinya
dipergunakan untuk mengoreksi/mengkonversi dari actual flow menjadi standard
flow.

Kalau berminat baca-baca, ada bacaan bagus di link berikut:

http://www.engineeringtoolbox.com/orifice-nozzle-venturi-d_590.html

http://www.efunda.com/formulae/fluids/calc_orifice_flowmeter.cfm

Mohon maaf jika jawabannya ngawur

Salam,
TeknisiInstrument

syarif hidayat
October 30, 2013 at 10:47

Rate This

Assalamualaikum, kang.
Minta pendapatnya
Transmitter untuk steam flow yg direkomendasikan jenis nya yg bagaimana? Di
tempat sy sekarang memakai magnetic flowmeter dengan suhu steam sekitar 250
hingga 300C, low pressure.dan sy meragukan umur pakai dari transmitter tsb
ditunggu pisan jawaban na.. hatur nuhun

TeknisiInstrument

October 30, 2013 at 12:16

Rate This

Wa alaikum salam wrwb.


Wah maaf banget Pak Syarif Hidayat, saya belum pernah kerkecimpung dengan
steam flow, jadi saya belum bisa memberi pendapat yang akurat,
Tapi, sejauh kondisi prosesnya masih dalam rentang yang dicantumkan dalam
spesifikasi, saya pikir akan cocok-cocok saja. Mungkin isunya masalah temperature,
kalau temperature kerja yang dicantumkan dalam spesifikasi masih memadai, saya
pikir ok ok saja.
Sekali lagi, saya belum bisa memberikan pendapat yang akurat mengenai masalah
ini.

Salam,
TeknisiInstrument

Yogi Syahputra
November 7, 2013 at 10:56

Rate This

Coba pake merk endress+hauser aja mas


kualitas terjamin :D

TeknisiInstrument
November 8, 2013 at 14:06

Rate This

Pak Yogi Syahputra,


terima kasih tambahan informasinya.

Salam,
TeknisiInstrument

Dei
October 30, 2013 at 10:51

Rate This

oh iya maf belum taaruf dulu


nama saya deri, instind angkatan 36..
salam kenal kang,

makasih atas jawaban serta recommendation link yg akang berikan..


eh iya kang, ini saya juga udah dapet jawabannya,..

http://solderhangat.wordpress.com/2012/01/05/ultrasonic-gas-metering-dasarperhitungan/

ya sekedar untuk sharing aja, hhe..

makasih kangh

TeknisiInstrument
October 30, 2013 at 12:18

Rate This

Kang Deri,
Salam kenal kembali.
Syukur kalo sudah dapat jawaban yang dicari. Saya ikut senang :)

Salam,
TeknisiInstrument

bakti
November 9, 2013 at 10:52

Rate This

akang-akang,

saya mau bertanyaapakah orifice dapat dipasang pada line vertical ??? kalo boleh
tau apa alasannya..

Gilank Rizky

November 25, 2013 at 17:39

Rate This

permisi akang-akang
saya mau bertanya kebetulan saya mahasisawa yang sedang mengerjakan tugas
akhir sya sedang mencari data tentang flow indikator yang fungsinya untuk change
over motor pompa yang bekerja ketika tekanan kecepatan air bergerak yang
melewati flow indikator jika tekenan berkurang maka akan mengaktifkan change
over pada motor yang stanby. yang saya mau tanyakan tentang flow indikatornya tu
sendiri dan cara perhitungan kerjanya. trimakasih atas bantuanya

TeknisiInstrument
November 25, 2013 at 22:51

Rate This

Mas Gilank Rizky,

Jika yang digunakan hanya flow indikator (biasanya disebut flowmeter, jika
penunjukkannya ada skala debit) tidak akan bisa memberikan sinyal untuk
digunakan sebagai sinyal kontrol, lain halnya jika memiliki keluaran/output switch.

Pada skala industri, biasanya digunakan flow transmitter, yang bisa mengeluarkan
sinyal 4-20mA (0-100%) yang mewakili flow yang diukur. Jenis flow transmitter
beragam, bisa di cari di google. Sinyal 4-20mA tersebut bisa dimasukkan ke dalam
controller (misalnya PLC, DCS, panel indicator yang memiliki output switch dll).

Bisa juga menggunakan flow switch yang akan memberikan sinyal on/off jika
mendeteksi flow tertentu.

Salam,
TeknisiInstrument

Gilank Rizky
November 26, 2013 at 23:18

Rate This

terimakasih kang atas infonya kang


maaf nih jadi nanya lagi kang jadi untuk flonya sendiri hanya untuk mengaktifkan
sinyal alaram dan sebagai pemberi perintah untuk change over pada pompa yang
stanby jika pompa yang satu mengalami gangguan. untuk flow sendiri di bantu oleh
manometer untuk indikator tekanan. nah yang saya mau tanyakan kembali tu flow

yang biasa menggunakan manometer untuk pendingin generator PLTA tu jenis flow
apa ya kang dan prinsip kerja pada plcnya tu seperti pa kang..
maaf kang jadi merepotkan saya sudah berusaha mencari tapi saya masih bingung
mohon bantuanya kang n bimbinganganya klo boleh saya minta alamat email
akang.

TeknisiInstrument
November 27, 2013 at 09:35

Rate This

Kang Gilank Rizky,


Salah satu metoda pengukuran aliran/flow adalah dengan menggunakan orifice
sebagai sensing element.Orifice dipasang pada pipa alir, jika ada aliran, maka akan
timbul perbedaan tekanan antara di bagian depan dan belakang orifice, perbedaan
tekanan ini berbanding (namun tidak berbanding lurus, tetapi akar kuadratis)
dengan jumlah alirannya. Perbedaan tekanan ini diukur oleh differential pressure
transmitter. Differential pressure transmitter tersebut memiliki keluaran sinyal arus
sebesar 4-20mA (4mA=0% pengukuran, dan 20mA=100% pengukuran). Sinyal
tersebut dimasukkan ke dalam PLC melalui analog input module. Di PLC, sinyal
analog dikonversi menjadi sinyal digital, kemudian di-skala-kan menjadi engineering
unit, misalnya gpm (galon per menit), liter per menit, galon per jam, liter per jam
dll). Jika sudah menjdai engineering unit, makan pada PLC tinggal diprogram.
Misalnya jika flow kurang dari 50GP, maka pompa cadangan running. jika flow lebih
dari 60 GPM, maka pompa cadangan mati.

Untuk tahu lebih jauh mengenai metoda pengukuran flow dengan orifice, link
berikut bisa menjadi bacaan:

http://www2.emersonprocess.com/siteadmincenter/pm%20daniel
%20documents/fundamentals-of-orifice-measurement-techwpaper.pdf

Bacaan mengenai bagaimana cara kerja differential pressure transmitter, mungkin


bisa baca di link ini:

http://www.coulton.com/beginners_guide_to_differential_pressure_transmitters.html

Jika ingin baca-baca mengenai PLC, link berikut bisa dicoba:

http://www.plcs.net/contents.

Email saya ade.ahmat{at}gmail.com

Ksng Gilank tinggal dimana?

Hope this helps.

Salam,
TeknisiInstrument

dona sherly
November 27, 2013 at 15:23

Rate This

Assalamualaikum kang.. punten saya mau bertanya perihal PID controler .. di


posting sebelumnya pernah ada yg menanyakan ya.. saya ingin bertanya lg dalam
kasus steam temperature misalnya.. disitu ada perubahan gain-gainnya dalam PID
tersebut dari 0.6 ke 1 misalnya.. itu kenapa bs dirubah ya dan apa dasarnya..
pengaruh perubahan gain tersebut untuk apa.. dan logicnya PID bisa
meminimalisasi error itu maksudnya seperti apa ya hehe maaf banyak nanya kang..
lg ngerjain project assignment :D mohon
bantuannya ya terima kasih kang

TeknisiInstrument
November 27, 2013 at 20:20

Rate This

Wa alaikum salam,
PID (Proportional, Integral, Derivative) merupakan mode controller yang digunakan
untuk continuous mode (bukan on/off). Agar process variable (variable yang
dikendalikan) sama dengan atau mendekati setpoint (nilai atau besaran proses
yang dikehendaki). Misalnya temperature steam pada contoh di atas. Misalnya
setpoint 500degF, maka dengan menggunakan PID controller nilai setpoint tersebut
bisa tercapai. nilai P, I dan D pada controller PID bisa disetting, istilah praktisnya

disebut tunning. Yaitu memberikan nilai P, I dan/atau D dengan maksud agar


process (misalnya temperature), dapat berjalan atau terkendali secara smooth,
tanpa osilasi, responsif, dan memiliki error (selisih antara setpoint dan process
variable) sekecil mungkin.

Pada parameter P, bisa digunakan Proportional Band (PB) atau Gain (kp),
kp=100/PB.
Sederhanya begini: semakin besar gain (kp) maka proses akan semakin responsif,
artinya controller akan segera merespon error untuk dikoreksi, namun memiliki efek
osilasi alias proses gonjang-ganjing. dan sebaliknya, semakin kecil gain maka
controller akan kurang responsif, tetapi akan memiliki osilasi yang minim. Kalau
pernah mengenal OP-AMP, gain itu seperti RF/Rin, dan memang RF/Rin adalah
gain :)

Untuk matematisnya, bisa lihat komentar pada link berikut:

https://teknisiinstrument.wordpress.com/qa/tanya%e2%99%a5jawab-2/#comment849

Jika tuning-nya pas, betul PID bisa memperkecil error, karena setiap error terjadi
akan selalu dikoreksi oleh PID controller. Note: error=SP-PV; sp=setpoint;
pv=process variable.

Mohon maaf jika jawabannya ngelantur :D

Salam,
TeknisiInstrument

dona sherly
November 28, 2013 at 09:13

Rate This

wah penjelasan yang luar biasa kang.. terima kasih banyak.. hehe saya nambah
pertanyaan lg ya soalnya keterbatasan materi dan narasumber.. terkait dgn
perubahan nilai PID itu ada yg menggunakan metode trial and error kan
berdasarkan pengalaman saat tunning.. apakah itu sah? kalo dgn teoritis kan ada
metode nichols ziegler yg sgt rumit itu saya sndiri belum paham.. dan kalo utk
pemula spt saya baiknya seperti apa dalam merubah nilai PID itu.. apa hanya dgn
melihat respon dalam sistem saja lalu bisa asal memasukan
penambahan/pengurangan nilai gain misalnya.. maaf pisan merepotkan mohon
bantuannya ya kang

TeknisiInstrument
November 29, 2013 at 20:50

Rate This

Sama-sama,
Senang bisa berdiskusi.

Jika kita sudah paham dengan karakter proses yang dikendalikan oleh PID
controller tersebut, sah-sah saja kita melakukan tunning dengan trial (kalo bisa
jangan error ehehehe). Dan pada praktik oprasional, biasanya metode trial-anderror sering dilakukan, apalagi pada sistem yang sudah dikenali karakteristiknya.
Walaupun trial-and-error, biasanya tetap menggunakan nilai dasar sebagai titik
awal yang merupakan nilai empiris hasil praktik atau pengalaman yang kumpulkan
dari beberapa percobaan (lihat link di bawah)

Metode nichols ziegler biasanya dilakukan saat start-up, dimana kita belum
mendapatkan nilai dasar (baseline) untuk parameter-parameter PID, dengan kata
lain, kita belum mengenali karakter sistem.

Pada link berikut ada bahan bacaan yang mungkin bermanfaat.

https://controls.engin.umich.edu/wiki/index.php/PIDTuningClassical

Salam,
TeknisiInstrument

Gilank Rizky
December 2, 2013 at 21:59

Rate This

terimakasih kang atas infonya sangat bermanfaat sekali bagi saya kang. maaf kang
bru bisa bales karena baru dapet koneksi kang ni email saya kang
gilang_laeanda@yahoo.co.id saya tinggal di daerah purwokerto jawa tengah kang
trimakasih kang atas bantuanya kang

TeknisiInstrument
December 28, 2013 at 09:20

Rate This

Kembali kasih,

Salam,
TeknisiInstrument

Gilank Rizky
December 2, 2013 at 22:09

Rate This

gilang_lawanda@yahoo.co.id kang maaf salah

Gani
December 20, 2013 at 15:24

Rate This

Assalamualaikum Kang Ade,

Permisi mau nanya kang, saya punya mov berprotokol fieldbus. Saya ingin
melakukan pengecekan dll pada mov ini. Tapi setelah baca sana sini ternyata
fieldbus membutuhkan semacam power conditioner. Apakah cukup dengan power
conditioner itu saja bisa mengkontrol mov tersebut? Atau harus membuat seperti
mini simulasi dengan controller? Apakah ada calibrator untuk fieldbus?

Hatur nuhun Kang.

TeknisiInstrument
December 28, 2013 at 09:19

Rate This

Wa alaikum salam wrwb.


Pak Gani, terus terang saja, saya tidak begitu familiar dengan fieldbus, kebanyakan
device yang pernah saya tangani berprotokol hart. Tapi menurut beberapa referensi
yang pernah saya baca, dengan menggunakan power conditioner saja sudah cukup
dan tidak perlu menggunakan controller (sebagai simulasi). Fied Communicator seri
475 ada yang memiliki protokol Fieldbus, coba periksa link berikut:

http://www2.emersonprocess.com/siteadmincenter/PM%20Asset%20Optimization
%20Documents/ProductReferenceAndGuides/475_ru_usermanual.pdf

Salam,
TeknisiInstrument

Muhammad
December 23, 2013 at 11:11

Rate This

Assalamualaikum Wr. Wb
Mas Ade yang saya hormati
Perkenalkan saya Muhammad, background saya di operasi, namun pengen sekali
belajar instrument. Saya butuh second opinion dari Mas Ade, apakah benar jika kita
membutuhkan respone yang cepat dari sebuah control valve, misal diberikan sinyal
1% dari DCS dilapangan sudah ikut membuka (control valvenya besar dan tipenya
damper) itu memerlukan adjusment gain di positioner yang lebih besar? Apakah
resiko gain yang besar bisa menimbulkan control valve hunting/sensitif pada
opening tertentu?

TeknisiInstrument
December 28, 2013 at 09:26

Rate This

Wa alaikum salam wrwb.


Secara prinsip betul, dengan memperbesar gain, maka control valve akan lebih
responsif, tapi cenderung hunting jika perubahan error antara command dengan
actual travel terlalu sering dan terlalu jauh. Gain itu merespon error (selisih antara
command dari DCS dengan actual travel dari travel sensor), bukan secara langsung
merespon sinyal command, jadi walaupun diberi sinyal 0,5% jika posisi travel aktual
berbeda jauh, misalnya 30%, maka positioner akan meresponya, tapi akan besar
kemungkinan untuk over/undershoot, itulah yang menyebabkan tendensi
hunting/terlalu sensitif.

Semoga membantu,
Salam,
TeknisiInstrument

zuhdie
January 3, 2014 at 10:10

Rate This

Assalamualaikum wr.wb. mas ade saya orang yang masih belajar tentang
instrument.ditempat saya kerja banyak flow meter yg dpasang dengan aliran
menurun,tapi setelah flow tersebut ada control valve untuk mengatur alliran
liquid..apakah dengan kondisi seperti itu aliran yang terbaca flow meter akurat?
bagaimana kinerja dari control valve tersebut?apa bisa mash bisa optimal?
karena menurut pengalaman saya yang masih belajar,belum pernah menemui
kondisi seperti itu

TeknisiInstrument
January 4, 2014 at 21:48

Rate This

Wa alaikum salam wrwb.


Mas Zuhdi,
Sama, sayapun masih belajar.
Maaf sebelumnya, dipasang dengan aliran menurun itu maksudnya seperti apa
ya?

Salam,
TeknisiInstrument

Elins Teknik
January 12, 2014 at 17:27

Rate This

gan untuk transmitter dan control valve untuk sistem cara perawatannya
bagaimana ya?. karena kalau di pabrik saya selama musim giling kan berjalan terus
alias di pakai. jika musim giling habis kan berhenti kisaran 5 bulan. selama tidak

musim giling bagaimana cara perawatannya ? tolong confirm ke


emaillukmanal78@yahoo.com

TeknisiInstrument
January 12, 2014 at 21:59

Rate This

Pak Elins Teknik,


Salam kenal.

Jika memungkinkan, untuk transmitter, dilakukan perawatan berkala, misalnya 6


bulanan atau tahunan, tergantung criticality-nya. Harusnya sudah ada studi
mengenai seberapa kritis peran transmitter tersebut terhadap kelangsungan plant,
sehingga bisa ditentukan strategi perawatannya. Sama halnya dengan control
valve.

Tapi membaca pernyataan di atas, bahwa selama musim giling terus digunakan,
maka pada masa jeda (bukan musim giling) bisa dilakukan perawatan umum,
seperti:

Inspeksi visual, meliputi: pemeriksaan semua koneksi tubing (jika ada) dari
kebocoran akibat korosi ataupun kelonggarannya akibat getaran. Periksa koneksi
kabel. Periksa fisik transmitter apakah ada cacat fisik yang bisa mengganggu
kinerja transmitter dll.

Calbration check: Lakukan calibration check dengan memberikan simulasi input,


misalnya memberikan tekanan untuk pressure transmitter, yakinkan pembacaan di
local indicator (jika ada) dan keluaran (output) transmitter sebagaimana mestinya.
Lakukan kalibrasi jika menyimpang.

Loop check: Lakukan loop check terhadap DCS/PLC (jika terhubung dengan
DCS/PLC) ataupun controller/recorder atau receiver yang lain. Yakinkan sinyal yang
dikirim oleh transmitter sama dengan pembacaan DCS/PLC/Controller/Recorder atau
receiver lainnya.

Hal serupa bisa dilakukan pada control valve, tentunya dengan menambahkan
stroke test.

Silakan mengacu pada buku manual untuk lebih detil bagaimana cara melakukan
hal-hal tersebut di atas.

Semoga membantu.

Salam,
TeknisiInstrument

TeknisiInstrument
January 12, 2014 at 22:11

Rate This

Saya sudah kirim ke email emaillukmanal78@yahoo.com, tapi tidak terkirim,


katanya Delivery to the following recipient failed permanently

Salam,
TeknisiInstrument

Gilank Rizky
January 25, 2014 at 01:09

Rate This

slamat malam kang gimna kabarnya kang semoga baek2 sja


saya cba kirim email pakah sudah d cek kang trimakasih kang

TeknisiInstrument
January 25, 2014 at 08:20

Rate This

Kabar baik, alhamdulillah.


Sudah saya respon.

salam,
TeknisiInstrument

muhammadtoher
February 18, 2014 at 19:49

Rate This

Halo kang ade, salam kenal kang..


Saya Toher dari banjarmasin, kang ade punya wiring diagram untuk motorized
valve AUMA gak? :)
kalau ada, Please share,,:)

TeknisiInstrument

February 20, 2014 at 01:57

Rate This

Halo Pak Muhammad Toher, salam kenal kembali,


coba check di link berikut:

http://www.auma.com/cms/AUMA/en/documents/redcms-p/node-8051/orderDESC/sort-friendly_name/1,111003,29635.html

atau ini:

http://www.auma.com/cms/AUMA/en/documents/redcms-p/node-8051/orderDESC/sort-friendly_name/1,111003,29635.html

Salam,
TeknisiInstrument

muhammadtoher
February 19, 2014 at 15:40

Rate This

Sore Mas Ade? Saya toher dari banjarmasin, salam kenal Mas Ade..:)
Mas Ade Ada punya wiring diagram Motorized Valve AUMA?

TeknisiInstrument
February 20, 2014 at 01:58

Rate This

Selamat malam Pak Muhammad Taher,


salam kenal kembali. sudah saya respon di atas ya,

Salam,
TeknisiInstrument

muhammadtoher

February 20, 2014 at 09:22

Rate This

Ok Mas, Mutursuwun.:)

TeknisiInstrument
April 15, 2014 at 20:18

Rate This

Kembali Kasih

Salam,
TeknisiInstrument

muhammadtoher
February 20, 2014 at 09:22

Rate This

Terima kasih banyak mas ade atas bantuannya, sangat membantu.


Salam Instrument..:)

TeknisiInstrument
March 10, 2014 at 10:15

Rate This

Kembali kasih.

TeknisiInstrument

hajar
February 26, 2014 at 22:02

Rate This

Slamat malam pak ade,


Saya mau bertanya. Bila output transmiter/tranduscer 4-20mA type actif mendapat
tegsngan 24 volt pada terminal/pin positif (+) dan negatif (-) nya secara langsung
karena kesalahan koneksi akan merusak rangkaian sensornya?
Setelah koneksi sdh benar transmiter masih bisa mengeluatkan arus 4-20mA
sesuai dengan input sensornya, hanya tidak dapat menunjukkan angka 0 pd
display-nya, tetapi dpt menunjukan nilai pengukuran bila arus output yang terukur
lebih dari 4mA.
Transmiter yang saya gunakan adalah scaletron untuk pengukuran silo dgn sensor
strain gauge.
Mohon bantuannya.
Teroma kasih sebelumnya pak ade.

TeknisiInstrument
March 10, 2014 at 10:32

Rate This

Pak Hajar,
Salam kenal.
Mungkin perlu diyakinkan (melalui manual book), apakah transmitter tersebut
memiliki proteksi reverse polarity, atau proteksi sejenis itu? Jika ya, mungkin tidak
akan merusak transmitter-nya.

Jika bacaan local indicator dengan sinyal output berbeda, mungkin local
indicatornya perlu dikalibrasi/adjust.

Salam,
TeknisiInstrument

Azka
March 9, 2014 at 21:39

Rate This

Salam kenal kang,


saya mau bertanya. Apakah pressure transducer merupakan alat ukur standar
untuk membaca tekanan fluida?
bila iya apa alasannya dan pendapat yg akang jelaskan bersumber dari mana?
terimakasih

TeknisiInstrument
March 10, 2014 at 11:13

Rate This

Pak Azka (atau ibu, mohon maaf jika salah :) )


Salam kenal kembali.
Menurut TeknisiInstrument, dibilang standard juga tidak. Tergantung dari jenis
pembacaan yang diinginkan. Jika pembacaan tekanan yang diperlukan hanya pada
local gauge, dan tidak ada device lain yang memerlukan sinyal bacaan tekanan
tersebut, maka sebuah pressure gauge (pressure indicator, atau manometer) juga
sudah cukup.
Tetapi lain ceritanya jika sinyal bacaan tekanan tersebut diperlukan oleh peralatan
lain semisal digital remote indicator, controller, recorder, DCS, PLC dan lain-lain,
maka memerlukan sebuah alat ukur tekanan yang memiliki kemampuan
mengirimkan sinyal bacaan tekanan tersebut. Alat tersebut umumnya disebut
pressure transmitter. Yang di-standard-kan biasanya sinyalnya, umumnya berupa
arus listrik dengan kisaran 4-20mA, ada pula yang memakai sinyal tegangan 05VDC, 1-5VDC dll.

Alasannya?
Best practice saja. logikanya begini: Jika kita hanya perlu membaca tekanan, maka
pressure gauge (manometer atau pressure indicator) saja sudah cukup. Jika kita
ingin mengirimkan sinyal bacaan tekanan tersebut ke alat lain semisal
controller/recorder, maka kita perlu alat pembaca tekanan yang memiliki
kemampuan mengirim sinyal. Jika controller-nya berupa controller elektronik, maka
kita perlu alat ukur tekanan yang mampu mengirimkan sinyal listrik/elektronik yang
representatif terhadap tekanan yang diukurnya, kemudian kita perlu presure
transducer (kebanyakan orang menyebutnya pressure transmitter untuk alat yang
bisa mengirimkan sinyal). Dan jika controller kita berupa controller pneumatic,
maka kita perlu pneumatic pressure transmitter, bukan pressure transducer.

Jadi semuanya bergantung pada kebutuhan.

Sumbernya dari mana?


Itu haya pendapat TeknisiInstrument, dari berbagai sumber :)

Salam,
TeknisiInstrument

Azka
March 11, 2014 at 23:14

Rate This

terimakasih atas jawaban dan bantuannya :D

TeknisiInstrument
April 15, 2014 at 20:21

Rate This

Kembali kasih,

Salam,
TeknisiInstrument

12030060rahmadhanprasadana tekim
March 20, 2014 at 08:19

Rate This

assalamualaikum,.
ijin bertanya pak,,
saya dari mahasiswa, ada gk pak referensi tentang transmitter

TeknisiInstrument
April 4, 2014 at 22:32

Rate This

Waalaikum salam wrwb.


Sudah coba google?

Coba juga ini:


Pressure:

http://www.coulton.com/beginners_guide_to_differential_pressure_transmitters.html

Untuk transmitter jenis lain, coba cari manual book dari salah satu produk
transmitter yang ada di pasaran. Pada manual tersebut, biasanya dijelaskan
Principle of Operation di sana biasanya disertakan teorinya.

Salam,
TeknisiInstrument

rahmad
March 20, 2014 at 12:07

Rate This

Salam kenal mas.


Sy mau bertanya, gmna cara mengatasi preasure yang hunting ( tidak konsisten
preasurenya) ?

Trimakasih. :)

TeknisiInstrument
April 4, 2014 at 22:35

Rate This

Pak Rahmad,
Salam kenal.

Agak sulit mendiskusikan masalah tersebut, tanpa didukung data tambahan


hehehe.
Jika pressure yang hunting adalah pada sebuah system yang dikendalikan oleh
sistem instrumentasi (PID controller misalnya) Untuk mendapatkan pressure yang
stabil, bisa dicoba tuning.

Jika pressure tersebut hunting hanya pada bacaan pressure gauge, mungkin akibat
vibrasi dari piping/tubing, mungkin bisa dicoba dengan memasang pressure gauge
yang menggunakan glycerin.

Jika ada gambar system-nya, mungkin kita bisa berdiskusi kembali.

Salam,
TeknisiInstrument

muhammadtoher
March 20, 2014 at 13:52

Rate This

Mas numpang nanya donghee


Saya punya masalah dengan kalibrasi Silica Analyzer Silkostat 9210.. Pada saat
zero and slope calibration selalu message refference error,,bsa bantu mas??:)

TeknisiInstrument
April 4, 2014 at 22:37

Rate This

Salam kenal Pak.


Sayang sekali Pak, saya belum punya pengalaman dengan Silkostat 9210. Apakah
sudah merujuk pada manual booknya? Biasanya suka disertakan troubleshooting
guide.
Sekali lagi, mohon maaf karena tidak bisa menjawab :)

Salam,
TeknisiInstrument.

imam jauhari
March 21, 2014 at 12:11

Rate This

Aslmkm..mau tanya ni pa saya sekarang bekerja dibagian instrument analyzer kira2


skill apa aja ia yang harus dikuasai? Terimakasih

TeknisiInstrument
April 4, 2014 at 22:40

Rate This

Wa alaikum salam wrwb.


Wah sebetulnya saya juga masih awam mengenai analyzer hehe.
Tapi mungkin tergantung dari jenis analyzer-nya.
Kalau TeknisiInstrument, biasanya mengacu pada manual book terlebih dahulu.
Di sana biasanya dijelaskan segala sesuatunya, dari situ kita bisa tahu apa saja
yang harus kita pelajari.

Sekali lagi, mohon maaf tidak bisa menjawab.

Salam,
TeknisiInstrument

muhammadtoher
March 28, 2014 at 15:43

Rate This

Mas numpang nanya donghee


Saya punya masalah dengan kalibrasi Silica Analyzer Silkostat 9210.. Pada saat
zero and slope calibration selalu message refference error,,bsa bantu mas??:)

TeknisiInstrument
April 4, 2014 at 22:42

Rate This

Pak muhammadtoher,
Sudah dikomentari di komentar nomor #185
(https://teknisiinstrument.wordpress.com/qa/tanya%e2%99%a5jawab-2/#comment1358)

Salam,
TeknisiInstrument

zainialhinduan
March 28, 2014 at 15:53

Rate This

salam kenal kang


klo boleh sedikit menambahkan jawaban di atas,pressure transducer atau yg sering
disebut P to I biasanya hanya digunakan sebagai feedback sebagai bahan koreksi
dari suatu sistem closeloop yg controllernya masih menggunakan controller
pneumatic dan biasanya pressure yg dibaca relatif kecil 3 ~ 15 PSi,
mohon maaf klo ada kekeliruan dan terima kasih atas salam perkenalanya.

TeknisiInstrument
April 4, 2014 at 22:08

Rate This

Terima kasih atas tambahannya :)

Salam,
TeknisiInstrument

ragasta
April 15, 2014 at 17:55

Rate This

assalammualaikum kang

bade tumaros, manawi terang rumus kangge k-faktor???


kaleresan nuju setting turbin, mentok ni rumus k-faktor na,..
walerana di antos kang, nuhun

TeknisiInstrument
April 15, 2014 at 18:53

Rate This

Wa alaikum salam wrwb.


Pak Ragasta,
Salam kenal

Kita coba terjemahkan dulu pertanyaanya ya hehehe

ragasta :

assalammualaikum kang

bade tumaros, manawi terang rumus kangge k-faktor???

kaleresan nuju setting turbin, mentok ni rumus k-faktor na,..


walerana di antos kang, nuhun

Terjemahan bebasnya:
Mau bertanya, barangkali tahu rumus untuk k-factor???
Kebetulan sedang setting turbine (mungkin maksudnya turbine meter-red)

Pak Ragasta,
Sebelumnya saya mohon maaf jika saya tidak bisa ikut berdiskusi lebih mendalam,
karena saya juga jarang bersentuhan dengan tirbine meter, hanya pernah saja
hehehe.
Dulu pernah ada diskusi di blog ini, silakan ikuti link berikut:

https://teknisiinstrument.wordpress.com/2010/04/15/dry-leg-dan-wet-leg-pada-leveltransmitter/#comment-38

Salam,
TeknisiInstrument

TeknisiInstrument
April 15, 2014 at 19:01

Rate This

Pak Ragasta,
Sebagai tambahan, kalau TeknisiInstrument tidak salah ingat, untuk mendapatkan
k-factor, harus dilakukan prooving test pada test bench khusus, dengan
mengalirkan flow yang sudah diketahui, kemudian nanti pulsanya dihitung, berapa
pulsa yang dihasilkan untuk setiap satuan volume yang diketahui tersebut,
Misalnya, jika flow yang dialirkan adalah 1 gallon, dan menghasilkan 100 pulsa,
maka k-factor-nya adalah 100/1=100.

Salam,
TeknisiInstrument

lutfi rohman
May 5, 2014 at 16:29

Rate This

Salam terknisi instrument.


Mau tanya Pak.kalau mau mengatasi transmitter yg hunting bagaimana Pak.display
indikatornya tidak stabil selalu naik turun. .
Biasanya ditransmitter yokogawa.ada 3 terminal conection supply dan check.klo
supply untuk power 24 vdc.klo check untuk apa pak.
Terima kasih

TeknisiInstrument
May 5, 2014 at 21:50

Rate This

Pak Lutfi Rohman,

Salam kembali Pak.


Apakah analog output (4-20mA)-nya juga hunting?
Apakah sudah coba konek dengan field communicator (hart comm)? Coba periksa
apakah punya fitur damping time? Jika ya, coba naikkan, misalnya jika default-nya
0,4 detik, coba jadikan 0,6 atau angka dekat itu.

Apakah yang dimaksud adalah pressure transmitter? Jika ya, coba pasang pressure
gauge (pressure indicator) dengan sensing point yang sama dengan pressure
transmitter tersebut, jangan-jangan memang pressure-nya yang hunting.

Jika transmitter yang dimaksud adalah temperature transmitter dengan sensor RTD,
coba periksa koneksi RTD-nya, mungkin longgar

Coba juga lakukan loop check, jika saat loop check digital local indicator dan analog
output-nya masih tetap hunting, kemungkinan electronic module-nya bermasalah.

Jika di loop check ternyata tidak hunting, coba calibration check, jika itu pressure
transmitter, coba inject dengan pressure pada titik 0%, 25%, 50%, 75% dan 100%
(jika temperature transmitter, silakan inject dengan resistor (baik yang digital
ataupun dengan decade resistor box). Jika saat di-inject pressure/resistance,
ternyata digital indicator dan analog output-nya hunting, kemungkinan sensor
module-nya bermasalah.

Terminal Check/Test biasanya untuk melihat output analog-nya Pak. Coba ukur
dengan mA-Meter, sesuaikan terminal + dan nya. Tapi yakinkan dulu dengan
manual book-nya.

Semoga membantu,
Salam,
TeknisiInstrument

aiko
May 8, 2014 at 10:47

Rate This

i like this link

TeknisiInstrument
June 4, 2014 at 20:10

Rate This

Thanks

yayat hidayat
May 8, 2014 at 15:43

Rate This

assalamualaikum kang..punten nya ganggu,,saya masih sangat baru dalam sistem


instrumentasi..saya pengen tanya tentang flowmeter endress hauser,,cara mereset
angka di displaynya itu gimana yah,biar 0 kembali,,terima kasih kang..

TeknisiInstrument
May 9, 2014 at 08:10

Rate This

Wa alaikum salam wrwb.


Pak Yayat Hidayat, sama, saya juga masih belajar :)
tipe apa ya, flowmeter-nya?

Salam,
TeknisiInstrument

yayat hidayat
May 9, 2014 at 15:31

Rate This

promag 50 W endress + hauserr

TeknisiInstrument
May 9, 2014 at 21:33

Rate This

Pak Yayat Hidayat,

Terus terang saya belum pernah menangani tipe itu.


Apakah angka yang ingin direset tersebut adalah totalizer-nya?

Menurut manual book yang bisa di-download di sini:

https://portal.endress.com/wa001/dla/5000000/0373/000/06/BA046DEN_1209.pdf

Pada halaman 97, ada salah satu sinyal inputnya yang bisa dikonfigurasi untuk
mereset totalizer.

Atau silakan download Device Description, pada link berikut:

http://www.aalto.ca/aaltoinc/Datasheets/EHDF50.pdf

Lihat halaman 6, di situ ada peta menu bagaimana cara me-reset totalizer.

Salam,
TeknisiInstrument

Zegga Janotha
May 21, 2014 at 13:19

Rate This

Misi gan saya mau nanya, untuk sensor tekanan pompa yg set pointnya bisa diatur
itu apa namanya?

TeknisiInstrument
June 4, 2014 at 20:09

Rate This

Apakah yang dimaksud itu adalah pressure switch?

https://www.google.co.id/search?
q=adjustable+pressure+switch+untuk+pompa&tbm=isch&tbo=u&source=univ&sa
=X&ei=dBqPU7fjIIWcugTx0oGgAQ&ved=0CCMQsAQ&biw=1280&bih=628

Salam,
TeknisiInstrument

Bregas Damaresi
May 21, 2014 at 14:12

Rate This

Assalamu alaikum
Salam kenal mas
saya mau bertanya mas,
sistem kontrol instrumentasi di tempat saya kerja menggunakan DCS Yokogawa.
yg mana disini ada 3 mode operasi, yaitu: Manual, Auto, dan Cascade
yg ingin saya tanyakan adalah, Mengapa terjadi hunting ketika mode operasi
(misalnya pada control valve) dirubah dari manual mode ke Auto atau Cascade
mode??

dan ketika mode operasi dikembalikan lagi dari Auto atau Cascade mode ke manual
mode, nilai PV (Process Value) kembali stabil (tidak hunting)..??

Parameter PID sudah dilakukan tuning dan kalibrasi pada masa comissioning 5
bulan lalu

TeknisiInstrument
June 4, 2014 at 20:16

Rate This

Wa alaikum salam wrwb.


Salam kenal kembali Mas Bregas Damaresi.
Kalau saya tidak salah memahami, PV akan hunting ketika mode controller di set
AUTO, sedangkan PV stabil jika controller di set MANUAL.
Selam 5 bulan, mungkin sudah ada perubahan besaran proses, misalnya apakah
selama lima bulan terakhir sudah ada perubahan kapasitas produksi? Karena jika
terjadi perubahan kapasitas produksi, maka process load akan berubah, sehingga
mungkin parameter PID yang sudah di tune saat commissioning dulu sudah tidak
memadai lagi untuk meng-handle process load sekarang. Mungkin perlu
dipertimbangkan kembali untuk dilakukan PID tuning lagi.
Catatan: Yakinkan dulu transmitter dan control valve sudah terkalibrasi dengan
benar.

Salam,

TeknisiInstrument

Darwin
May 26, 2014 at 18:33

Rate This

Kang saya mau tanya tentang Zero dan Span maksudnya apa ???
Terima Kasih

Darwin
May 26, 2014 at 19:00

Rate This

ohh udah ada jawabannya dsini kang


https://teknisiinstrument.wordpress.com/qa/tanya%E2%99%A5jawab-2/#comment805 sory sory

TeknisiInstrument
June 4, 2014 at 20:00

Rate This

Kang Darwin,
Maaf baru bisa respon, syukur alhamdulillah kalau sudah menemukan
jawabannya :)

Salam,
TeknisiInstrument

kaka
May 27, 2014 at 20:14

Rate This

Assalamualaikum kang,
Bagaimana cara mengkalibrasi interface level pada tangki bertekanan dengan
menggunakan Fisher Controller 2500. Untuk pengukuran level minyak dan air.
Terima kasih sebelumnya.

TeknisiInstrument
June 4, 2014 at 19:58

Rate This

Wa alaikum salam.
Coba buka manual book-nya pada halaman 20, di link berikut:

http://www.documentation.emersonprocess.com/groups/public/documents/instructio
n_manuals/d200124x012.pdf

Di situ dijelaskan.

Salam,
TeknisiInstrument

Ambar
June 2, 2014 at 11:56

Rate This

Selamat Siang Kang Ade,

Bisa minta referensi untuk nama vendor/konsultan untuk training instrumen dan
kalibrasi proses kontrol yang qualified di Indonesia.

Salam,
Ambar

TeknisiInstrument
June 4, 2014 at 19:56

Rate This

Selamat siang Kang/Teh Ambar,


Mohon maaf baru bisa respon
Wah, maaf sekali saya tidak menyebutkan lembaganya, takut dikira iklan hehe.
coba aja di link ini: https://www.google.co.id/search?
q=instrument+and+control+training+indonesia&ie=utf-8&oe=utf8&rls=org.mozilla:en-US:official&client=firefoxa&channel=sb&gws_rd=cr&ei=BhePU8K5O8KgugTy4IHICw

Salam,
TeknisiInstrument

TeknisiInstrument
June 4, 2014 at 20:21

Rate This

Assalamu alaikum.
Berhubung komentar pada page ini sudah terlalu banyak (215 komentar), sehingga
akan memperlambat page loading, untuk alasan itu, TeknisiInstrument menutup
comment pada page ini. Jika ingin berdiskusi lagi, silakan lanjutkan di

TanyaJawab-3 (https://teknisiinstrument.wordpress.com/qa/tanya
%E2%99%A5jawab-3/)

Terima kasih,
Salam,
TeknisiInstrument