Anda di halaman 1dari 5

JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No.

1, (2013) 1-5
1

PASTA RINGAN GEOPOLIMER


BERBAHAN DASAR LUMPUR BAKAR
SIDOARJO DAN FLY ASH PERBANDINGAN
3:1 DENGAN TAMBAHAN ALUMINUM
POWDER dan SERAT ALAM
Resti Nur Arini, Triwulan dan Januarti Jaya Ekaputri
Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan,Institut Teknologi Sepuluh November.
Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111
E-mail : triwulan@ce.its.ac.id
Abstrak
Pada umumnya proses pembuatan beton ringan masih
menggunakan unsur semen sebagai bahan pengikat. Akhir-akhir
ini mulai diperkenalkan beton geopolimer yang ramah lingkungan
sebagai green concrete. Pembuatan geopolimer yang ramah
lingkungan dapat mereduksi penggunaan semen yang dalam
pembuatanny menghasilkan gas CO2 dalam jumlah banyak.
Dimana semen digantikan sebagai fly ash dan lumpur bakar.
Beton ringan akan dalam bentuk pasta ringan geopolimer
dengan tujuan untuk mendapatkan komposisi dasar yang baik
untuk selanjutnya bisa dipakai sebagai beton ringan geopolimer.
Untuk pembuatan pasta ringan akan ditambahkan
aluminum powder agar pasta dapat mengembang, selain itu
ditambahkan juga fiber. Untuk pembuatan pasta ringan ada 3 tahap
yang dilakukan dalam percobaan. Percobaan pertama membuat
pasta dasar campuran superplasticiser yang tepat untuk
mendapatkan kuat tekan maksimum, percobaan kedua membuat
pasta ringan dengan mencari kadar aluminum powder yang tepat,
percobaan ketiga membuat pasta ringan berserat dengan mencari
komposisi serat yang tepat.
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan didapatkan
hasil bahwa pada percobaan pertama untuk pembuatan pasta dasar
diperoleh penggunaan superplasticiser yang baik sebanyak 3.5%
dengan kuat tekan maksimum 49.50Mpa. Sedangkan untuk
percobaan kedua pembuatan pasta ringan diperoleh penambahan
0.25% aluminum powder dengan kuat tekan maksimum 2.13Mpa.
Sedangkan untuk percobaan ketiga pembuatan pasta ringan
berserat diperoleh penambahan 1.5% serat dengan kuat tkan
maksimum 5.65Mpa.

Kata kunci : pasta ringan geopolimer, fly ash,


lumpur bakar, alumunium powder, serat
I PENDAHULUAN
Pada umumnya proses pembuatan beton ringan
masih menggunakan unsur semen sebagai bahan pengikat
pada campuran beton. Akhir-akhir ini mulai diperkenalkan
beton geopolimer yang ramah lingkungan sebagai solusi

beton inovasi untuk mengurangi emisi CO2 akibat


penggunaan semen portland (Ekaputri,J.J dan Triwulan,
2011).
Geopolimer yang ramah lingkungan dapat
mengurangi jumlah energi yang diperlukan karena
berkurangnya pemakaian semen, lebih awet dan lebih
murah, bahan ini juga tetap menunjukkan perilaku mekanik
memuaskan (wartawarga, 2009). Sebagai pengganti semen
digunakan bahan pengganti diantaranya fly ash dan
pemanfaatan lumpur Sidoarjo. Fly ash merupakan limbah
dari hasil residu pembakaran batubara atau bubuk batu bara
(ASTM C.168). Untuk saat ini fly ash sangat potensial
sebagai bahan subsitusi terhadap semen dan diharapakan
sifat pozolanik yang dikandung dapat meningkatkan kuat
tekan beton geopolimer yang berbahan dasar fly ash. Selain
penggunaan fly ash sebagai bahan dasar beton geopolimer,
digunakan juga pemanfaatan lumpur Sidoarjo sebagai
bahan pencampur fly ash. Lumpur Sidoarjo yang sekarang
ini semakin menumpuk dan menyebar perlu dimanfaatkan,
untuk membantu mengurangi volume lumpur yang semakin
hari meluas, sehingga limbah alami ini dapat diolah menjadi
bahan yang berguna.
Beton ringan akan dibuat menjadi beton ringan
geopolimer dalam bentuk pasta ringan geopolimer dengan
tujuan untuk mendapatkan komposisi dasar yang baik untuk
selanjutnya bisa dipakai sebagai beton ringan geopolimer.
Pada penelitian ini akan membuat pasta ringan
geopolimer 14M dengan tujuan untuk mencari komposisi
dasar yang baik untuk selanjutnya bisa dibuat sebagai
bentuk beton ringan geopolimer dengan memanfaatkan
limbah seperti fly ash dan lumpur Sidoarjo.

2
II. URAIAN PENELITIAN
A. Beton Geopolimer
Beton geopolimer adalah senyawa silikat alumino
anorganik, yang disintesiskan dari bahan-bahan produk
sampingan seperti abu terbang (fly ash) dan abu sekam padi
(rice hush ash) yang banyak mengandung alumunium dan
silikon (Davidovits, 1997).
Beton geopolimer merupakan beton geosintetik yang
reaksi pengikatannya terjadi melalui reaksi polimerisasi dan
bukan melalui reaksi hidrasi seperti pada beton
konvensional (Davitdovits, 2005). Gel pengikat pada
geopolimer menampilkan persamaan struktural pada
panjang skala nanometer dengan panjang atom seperti
material zeolitic. Dalam beberapa kasus khususnya dengan
adanya kandungan air yang tinggi, suhu tinggi, rendah
sintesa dan perbandingan Si/Al tinggi sampai membentuk
formasi nanokristal terhadap gel geopolimer (Provis et al,
2005).
Beton geopolimer lebih ramah lingkungan, karena
selain dapat menggunakan bahan pembuangan industri,
proses pembuangannya juga tidak perlu energi, seperti pada
proses pembuatan semen hingga suhu 800o C cukup dengan
pemanasan 60oC selama sehari penuh, maka bisa dihasilkan
beton berkualitas tinggi (Sanggapramana, 2011).
Hal yang menarik dalam pembuatan beton
geopolimer adalah dengan membandingkan energi yang
dibutuhkan terhadap emisi gas rumah kaca CO2 semen
portland dan semen geopolimer adalah sebagai berikut :
Tabel 2.1 Energi yang dibutuhkan, MJ/ton
Tipe
Kalsinasi
Penghancuran
Portland semen
3200
430
geopolimer
600
390

Total
3430
990

sumber: davitdovits, 2005

Tabel 2.2 Emisi gas rumah kaca, CO2 dalam ton/ton


Portlan semen
1.00
geopolimer

0.15 0.20
sumber: Davitdovits, 2005

Pada penelitian ini akan dibuat pasta ringan


geopolimer dengan ditambahkannya zat pengembang
berupa alumunium powder dengan tujuan untuk membentuk
pori-pori udara didalam pasta yang selanjutnya bisa
difungsikan sebagai beton ringan geopolimer.
B. Material Penyusun Pasta ringan Geopolimer
Komposisi pasta ringan geopolimer teridri dari fly ash,
lumpur bakar Sidoarjo, alkali aktivator, alumunium powder
dan serat.
1 Fly ash, Menurut ASTM C618 (ASTM, 1995:304) abu
terbang (fly ash) didefinisikan sebagai butiran halus
hasil residu pembakaran batubara atau bubuk batu bara.
Banyaknya hasil material, hanya fly ash dan slag telah
terbukti menjadi sumber material yang dapat membuat
geopolimer. Fly ash dianggap menguntungkan karena
reaktivitas partikelnya lebih halus daripada slag. Selain

itu, fly ash yang mengandung rendah kalsium lebih


diharapkan dibandingkan slag yang digunakan sebagai
bahan baku (Hardjito dan Rangan, 2005. Fly ash
mengandung kalsium oksidasi, alumunium dan silicon.
Kandungan karbon dalam fly ash harus sedikit mungkin
sedangkan kandungan silika harus tinggi. Kandungan
unsur fly ash adalah :
Tabel 2.4 Komposisi fly ash kelas F berdasarkan tes
XRF
Persen
Persen
Komponen
Komponen
(%)
(%)
SiO2
52,2
K2O
0,4
Al2O3
38,6
MgO
0,5
Fe2O3
2,9
SO3
1,2
CaO
0,7
SO2
1,4
Na2O
0,5
LOI
sumber: januarti&triwulan, 2011
2 Lumpur Sidoarjo (LUSI) bahan ini berbentuk butiran
halus, berwarna abu-abu kehitaman, sangat plastis dan
memiliki nilai susut kering yang tinggi. Unsur kimia
yang terkandung didominasi oleh silika (> 50%),
alumina (26%) dan beberapa unsur lain seperti besi,
kalsium dan magnesium dengan jumlah yang relatif
kecil ( Lasino, Nur, Cahyadi, 2010).Pada pembuatan
beton geopolimer yang menggunakan lumpur Sidoarjo
basah (LUSI basah) tidak dapat langsung digunakan
sebagai perekat dalam beton tetapi bila dicampur
dengan fly ash dan larutan aktifator campuran ini bisa
dijadikan perekat yang baik. Lumpur basah, kering
maupun bakar (pada suhu 1000oC) bisa dijadikan beton
geopolimer, material ini tidak bersifat amorf sehingga
bisa dijadikan pengisi (filler) pada campuran beton
geopolimer bersama-sama dengan agregat kasar dan
agregat halus (Ekaputri dan Triwulan, 2006).
3 Pada pembuatan beton ringan geopolimer
akan
ditambahkan zat pengembang berupa alumunium
powder. Sehingga struktur pada beton akan terdapat
banyak pori-pori karena terjadi penambahan katalis
alumunium. Tujuan penambahan pada pasta alumunium
untuk mempercepat proses pengembangan adonan
bahan (Aroni dan Wittman,1992). Dengan pemberian
pasta alumunium dalam adukan maka akan timbul
reaksi kimia yang melepas sejumlah gas, dan setelah
adukan mengeras maka terbentuk struktur berpori
sehingga lebih ringan(Scheffler dan Colombo, 2005).
Proses kimia menyebabkan proses terbentuknya gas
hidrogen yang membuat adonan mengembang
membentuk pori-pori kecil (Subari,dkk., 2006),
sehingga dari reaksi tersebut akan menimbulkan jejak
pori-pori dalam badan beton yang sudah mengeras.
Semakin banyak gas yang dihasilkan akan semakin
banyak pori terbentuk dan beton akan semakin ringan.
4 Dalam penelitian ini, digunakan serat alam. Serat
alamnaturally occurring fibers adalah serat yang
berasal dari alam, dari hewan maupun tumbuhan. Serat
alami terbukti dapat memperbaiki sifat mekanis beton
seperti kuat tekan yang lebih tinggi dari beton
konvensional. Selain itu, serat alam juga mampu

3
mendukung pembuatan beton berbusa (Frisaini, 2008).
Kandungan kimia yang terdapat dalam serat kenaf
antara lain; 45-65% selulosa, 8-13% lignin, dan 3-5%
pektin. Selulosa adalah komponen struktur utama dari
tumbuhan dengan hemiselulosa sebagai pengisi ruang
antara serat-serat selulosa dalam dinding sel tumbuhan.
Selulosa menyediakan kekuatan, kekakuan, dan
stabilitas dalam struktur tumbuhan. Serat kenaf
memiliki modulus tarik sekitar 200-300Mpa. Lignin
atau zat kayu bersifat amorf, tidak lebih polar (larut air)
dari pada selulosa dan bertindak sebagai perekat kimia
kedalam dan antarserat. Lignin, hemiselulosa, dan
pektin berfungsi sebagai matriks dan perekat, membantu
mengikat kerangka struktur selulosa serat alam
komposit (Clemons et al, 2005).
5 Alkali Aktivator
Pada pembuatan beton geopolimer menggunakan
Na2SiO3 (sodium silikat) dan NaOH (sodium
hidroksida) sebagai alkali aktifator.
a. Na2SiO3 (sodium silikat)
Na2SiO3 (sodium silikat) merupakan salah satu
bahan tertua dan paling aman yang sering
digunakan dalam industri kimia, hal ini
dikarenakan proses produksi yang lebih sederhana.
Sodium silikat mempunyai 2 bentuk, yaitu padatan
dan larutan, untuk campuran beton lebih banyak
digunakan dengan bentuk larutan.
b. NaOH (sodium hidroksida)
NaOH (sodium hidroksida) merupakan oksidasi
alkali yang reaktif dan merupakan basa yang kuat.
NaOH dihasilkan melalui elektrolisis larutan NaCl.
Na termasuk logam alkali pada golongan 1 pada
tabel periodik kecuali hidrogen dan semua unsur
ini sangat reaktif sehingga secara alami tidak
ditemukan dalam bentuk tunggal. NaOH (sodium
hidroksida) berfungsi untuk mereasikan unsurunsur Al dan Si yang terkandung dalam fly ash
sehingga dapat menghasilkan ikatan polimer yang
kuat

menunjukan bahwa superplasticiser dapat meningkatkan


workability dalam pengerjaan pasta dasar, semakin banyak
superplasticiser yang digunakan pada pembuatan pasta
dasar semakin mudah pengerjaan serta meningkatkan
keseragaman material.
.
B. Kuat Tekan Pasta ringan
Tes kuat tekan dilakukan terhadap 3buah benda uji
kuran 5cmx5cmx5cm pada umur 3,7,14 dan 21 hari dengan
penambahan variasi alumunium powder sebanyak 0.25%,
0.5%, 0.75%, 1%.

Gambar 4.2 Kuat tekan pasta ringan steam curing


Dari Gambar diatas 4.2 dapat dilihat bahwa kuat
tekan tertinggi pada penambahan alumunium sebanyak
0.25% pada umur 21 hari mencapai 2.13 Mpa, hal ini
menunjukan bahwa besarnya kuat tekan pasta ringan (Mpa)
yang dihasilkan berbanding terbalik dengan penambahan
prosentase alumunium.
C. Perbandingan kuat tekan curing suhu kamar dan steam

III. HASIL PENELITIAN


A. Kuat tekan pasta dasar
Tes kuat tekan dilakukan terhadap 6 buah benda uji
silinder ukuran 2cmx4cm pada umur 3,7,dan 14 hari.
Berikut adalah grafik pasta dasar :

Gambar 4.3 Perbandingan kuat tekan umur 21hari curing


suhu kamar dan steam
Dari data gambar 4.3 diatas menunjukan bahwa kuat
tekan tertinggi dicuring dengan steam. hal ini disebabkan
pada pasta ringan yang di curing suhu kamar akan
mengalami retak sehingga akan mempengaruhi kuat tekan,
maka dari itu pasta ringan harus disteam agar pasta tidak
terjadi retak dan mengahasilkan kuat tekan yang tinggi.

Gambar 4.1 Kuat tekan pasta dasar umur ke3,7 dan 14hari
Dari gambar 4.1 dapat disimpulkan pada pasta dasar
dengan perbandingan lusi bakar : fly ash 3:1kuat tekan
maksimum ditunjukan pada PD3,5 mencapai 49,50Mpa. ini

D. Hubungan Kuat Tekan dengan Berat Volume

Gambar 4.4 Hubungan berat volume Vs kuat tekan


Dapat gambar 4.4 dilihat dari data diatas dengan
penambahan %alumunium yang semakin banyak kedalam
pasta ringan kuat tekan menjadi rendah dan berat volume
cenderung menurun. Ini membuktikan bahwa semakin
banyak %alumunium yang ditambahkan kedalam pasta
ringan akan dapat mereduksi berat volume pada pasta
ringan.

Gambar 4.6 Pasta ringan berserat steam curing


Dari Gambar 4.6 terlihat bahwa kuat tekan tertinggi
ditunjukan dengan penambahan %serat sebanyak 1,5%
dengan kaut tekan mencapai 6.08Mpa. Ini menunjukan
penambahan serat akan menghasilkan kuat tekan yang lebih
tinggi.
G. Berat volume vs kuat tekan pasta ringan berserat

E. Porositas Pasta Ringan

Gambar 4.7 pasta ringan berserat

Gambar 4.5 Porositas pasta ringan curing steam


Dari gambar 4.5 hasil pengujian porositas
menunjukan bahwa dengan banyaknya penambahan
alumunium powder kedalam pasta maka pori terbuka lebih
besar dibandingkan dengan pori tertutup dan semakin
sedikit penambahan alumunium powder akan mengurangi
pori terbuka. Terjadinya porositas terbuka lebih besar
dipengaruhi oleh penambahan persen alumunium powder
kedalam campurannya.
F. Pasta ringan berserat
Tes kuat tekan dilakukan terhadap 3buah benda uji
ukuran 5cmx5cmx5cm dengan penambahan variasi % serat
sebanyak 0.5%, 1%, 1,5%.

Dari Gambar 4.7 terlihat bahwa semakin banyak


jumlah fiber yang ditambahkan kedalam pasta akan
menghasilkan berat volume yang lebih besar terhadap pasta
ringan. Tetapi semakin banyak penambahan fiber kedalam
pasta akan menghasikn kuat tekan yang lebih tinggi.

IV. KESIMPULAN
1. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa
prosentase
superplasticiser
yang
tepat
untuk
mendapatkan kuat tekan pasta dasar maksimum yaitu
sebesar 3,5% dari berat binder, dengan kuat tekan pasta
dasar sebesar 49,50 Mpa.
2. Sedangkan hasil penelitian untuk pasta ringan
didapatkan prosentase alumunium yang tepat untuk
mendapatkan kuat tekan pasta ringan maksimum yaitu
sebesar 0,25% dari berat binder, dengan kuat tekan pasta
ringan 2,13 (steam curing).
3. Berdasarkan hasil penelitian pasta ringan berserat
didapatkan prosentase fiber yang tepat untuk
mendapatkan kuat tekan
pasta ringan berserat
maksimum yaitu sebesar 1,5% dari berat binder, dengan

5
kuat tekan pasta ringan
5,65Mpa(steam curing).

berserat

mencapai

UCAPAN TERIMA KASIH


Ucapan terima kasih saya haturkan kepada ibu Prof.
Dr. Ir. Triwulan, DEA & Dr. Eng. Januarti Jaya Ekaputri,
ST., MT selaku pembimbing saya, teman teman LJ 2010,
dan banyak pihak yang telah membantu selama proses
penulisan tugas akhir saya.

1.
2.

3.
4.

5.

6.

DAFTAR PUSTAKA
Triwulan dan Ekaputri, Januarti J.2006. Study on
Porong Mud-Based Geopolymer Concrete. Surabaya.
ASTM Committee C90. ASTM C618, Standard
Specification for Coal Fly Ash and Raw or Calcined
Natunal Pozzolan For Use in Concrete. ASTM
International,2002
Mulyono, Tri, 2003. Teknologi Beton .Jakarta.
Ekaputri, J.J dan Triwulan (2011). Beton Geopolimer
Berbahan Dasar Fly Ash, Trass dan Lumpur Sidoarjo.
Journal of Civil Engineering vol.31 no.2. Institut
Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya.
Hardjito, D., & Rangan, B. V. (2005). Development
and Properties of Low-Calcium Fly Ash-Based
Geopolymer Concrete. Research Report GC1,
Perth, Australia: Faculty of Engineering, Curtin
University of Technology.
Prasetya, C.W (2012). Pemanfaatna lumpur Sidoarjo
(LUSI) bakar untuk campuran beton ringan dengan
tambahan alumunium powder. Tugas Akhir FTSP ITS
SURABAYA.