Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam proses pemisahan kimia, kromatografi merupakan salah satu cara
yang sering digunakan untuk memisahkan suatu zat analit dari komponen yang tidak
diinginkan dengan distribusi solut diantara fasa diam dan fasa gerak. Dengan
pentingnya kromatografi sebagai cabang ilmu yang harusnya dikuasai oleh kimiawan,
penulis mencoba menjabarkan tentang sejarah, jenis-jenis dan teori mengenai
kromatografi.. Sehingga diharapkan pembaca khususnya mahasiswa lebih memahami
tentang proses pemisahan kimia kromatografi. Walaupun dalam penyusunan makalah
ini penulis menggunakan sumber bahan yang dapat diandalkan tapi diharapkan pula
mahasiswa juga memperluas wawasannya dengan membaca dari buku relevan lainnya.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah definisi kromatografi?
2. Apa sajakah macam-macam kromatografi?
3. Apa saja teori kromatografi?
1.3 Tujuan
1. Mengetahui definisi kromatografi.
2. Mengetahui macam-macam kromatografi.
3. Mengetahui teori kromatografi.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 SEJARAH KROMATOGRAFI

Gambar 2.1 Michael Tswett


Kromatografi pertama kali diteliti sejak zaman kuno, dan digunakan para ahli
kimia pada abad ke 19 , deskripsi mengenai kromotografi yang mendetail pertama kali
diutarakan secara umum oleh Michael Tswett, seorang ahli botani Rusia, yang bekerja di
Warsaw. Pada tahun 1906, dia mempublikasikan sebuah deskripsi tentang pemisahan pada
klorofil dan pigment lainnya dalam ekstraksi tumbuhan yang memiliki peralatan yang
hampir sama dengan gambar 2.2.

Gambar 2.2 Kromatografi kolom


Tsweet menerangkan bahwa jika klorofil dalam petroleum eter dituras melalui
satu lajur penjerap (saya menggunakan kalsium karbonat secara amnya yang dipadatkan
dalam satu tiub kaca yang sempit) , maka pigmen-pigmen akan terpisah dari dari atas
hingga ke bawah dalam beberapa zona yang berwarna mengikuti jujukan jerapan ,

yangmana pigment yang lebih terjerap akan tersesar dengan perlahan berbanding dengan
pigmen yang kurang terjerap lalu memaksa pigmen-pigmen lain ke bawah . Pengasingan
ini adalah lengkap secara praktikal sekiranya satu zona pelarut yang tulen mengekori
sasuatu pigmen. Seperti spektrum cahaya , komponen yang berbeda dalam campuran
pigmen itu akan terpisah secara sistematik pada lajur kalsium karbonat dan setiap pigment
boleh diidentifikasi dan ditentukan kuantitinya. Saya menamakan penyediaan sedemikian
sebagai kromatogram dan kaedah itu dinamakan kromatografi.
Kemunculan warna pada tiap zona disebut kromatografi, dari Bahasa Yunani
dengan kata warna dan tulis yang secara harfiah berarti menulis warna, walaupun
warna-warna hanya kebetulan dan tidak menegaskan prinsip dari metode.
Sekarang kromatografi mencakup bermacam-macam proses yang didasarkan pada
perbedaan distribusi pada komponen sampel diantara dua sampel. Satu fasa yang bersisa
ditetapkan di dalam sistem dan disebut dengan fasa stasioner (fasa diam). Fasa yang
lainnya , disebut fasa gerak, yang melewati celah atau melalui permukaan , pada fasa yang
ditetapkan. Perpindahan pada fasa gerak menyebabkan perbedaan migrasi pada komponen
sampel.
Kromatografi dapat dikatakan memiliki kesamaan dengan proses ekstraksi berulang
Craig. Keduanya sama-sama menggunakan dua fasa , yangmana salah satunya
menggunakan fasa gerak. Bagaimanapun, dalam kromatografi fasa gerak bergerak secara
terus menerus. Pada setiap titik kolom , kesetimbangan diantara fasa-fasanya sangat cepat ,
walaupun tidak pernah tercapai sempurna. Proses Craig terbatas digunakan untuk dua
pelarut yang tidak dapat bercampur, sebaliknya kromatografi juga menggunakan jenis fasa
yang lain. Dibandingkan kerumitan peralatan yang digunakan pada Craig proses,
pemisahan kromatografi dapat dicapai dengan secarik kertas dan gelas beker, atau buret
yang diisi sebagian dengan fasa stasioner (diam).

2.2 JENIS-JENIS KROMATOGRAFI


Jenis-jenis kromatografi dapat dibagi berdasarkan nama fasenya (mobile-stationary) atau
mekanismenya. Berdasarkan nama fasenya yaitu terbagi gas-liquid (GLC), gas-solid
(GSC), liquid-liquid (LLC), dan liquid-solid (LSC). Berdasarkan mekanismenya misalnya

pertukaran ion dan kromatografi gel. Atau dapat juga dilihat dari salah satu fasenya. Jika
dilihat dari fase geraknya terbagi menjadi kromatografi cair, gas, adsorpsi, dan partisi. Jika
dilihat dari fase diamnya terbagi menjadi kromatografi kolom, kertas, dan lapis tipis.
Jika ditunjukkan dalam kolom menjadi seperti berikut.
Kriteria

Nama
Kromatografi cair, kromatografi gas

Fasa mobil

Kromatografi adsorpsi, kromatografi partisi


Kromatografi pertukaran ion

Mekanisme

kromatografi gel
Kromatografi kolom, kromatografi lapis tipis,

Fasa stationer

kromatografi kertas

Menurut Christian ( :558), kromatografi diklasifikasikan berdasarkan jenis proses


kesetimbangan yang terjadi, yaitu menjadi adsorption, partition, ion exchange, dan pore
penetration.
Jenis-jenis tersebut termasuk dalam variasi kromatografi elusi. Kromatografi elusi ini
diklasifikasikan berdasarkan teknik operasinya. Dimana sampel yang kecil dan diskret
dilewatkan kemudian dicuci sehingga terbawa melewati kolom oleh fase gerak. Hal ini
dijelaskan oleh Tswett.
1. Kromatografi Cair-Padat atau Kromatografi Adsorpsi (Liquid-solid or adsorption
chromatography)
Fasa diamnya cair dan fasa geraknya padat. Sampel padatan ini berlaku sebagai
adsorbatnya atau zat yang diadsopsi. Ditemukan oleh Tswett dan diperkenalkan lagi
oleh Kuhn dan Lederer pada 1931. Digunakan secara luas pada analisis organik
atau biokimia. Silika gel atau alumina digunakan sebagai bahan pelapis kolom.
Karena tipenya yang memiliki perbandingan antara luas permukaan dan volumenya
yang besar sehingga reaksi kimia pada permukaannya pun maksimal. Namun,
hanya ada sedikit adsorben yang cocok, sehingga penggunaannya terbatas.
Koefisien distribusi untuk adsorpsi bergantung pada konsentrasi total. Sehingga
menunjukkan kecenderungan hasilnya yang tidak sempurna.

2. Kromatografi Cair-Cair atau Kromatografi Partisi (Liquid-liquid or partition


chromatography)
Diperkenalkanoleh Martin dan Synge pada 1941. Fasa geraknya berupa lapisan
tipis cairan yang ditempatkan di permukaan padatan inert. Kombinasi cairan yang
dapat digunakan beragam sehingga metode ini sangat banyak digunakan. Ada
kromatografi fase normal (normal-phase chromatography) yang fasa geraknya
berupa cairan nonpolar dan fase diamnya cairan polar. Dan ada kromatografi fase
balik (reversed-phase chromatography) yang fase geraknya cairan polar dan fase
diamnya cairan nonpolar. Koefisien distribusinya tidak bergantung pada
konsentrasi, sehingga menghasilkan pemisahan yang baik. Hasil pemisahannya
berupa lapisan-lapisan atau sekat-sekat.
3. Kromatografi Gas-Padat (Gas-solid chromatography)
Teknik ini digunakan sebelum tahun 1800 untuk memurnikan gas, kemudian
menjadi tidak populer, tapi dinaikkan lagi oleh Hesse, Claesson, dan Philips pada
1940. Sebelumnya metode ini serupa dengan kromatografi adsoprsi cair, tetapi
kemudian para ilmuwan menggantinya dengan hal baru yaitu fasa solid sebagai
fasa gerak. Sehingga teknik ini masih digunakan. Misalkan untuk analisis senyawa
organik yang mudah menguap misal hidrokarbon dan ester. Atau analisis minyak
mentah dan minyak atsiri pun dapat digunakan metode ini.
4. Kromatografi Gas-Cair (Gas-liquid chromatography)
Diperkenalkan oleh James dan Martin pada 1952. Metode ini serbaguna dan
menyebabkan revolusi pada kimia organik. Pada saat itu, hambatan tersisa yang
paling serius terlihat pada komponen sampel atau turunannya harus memiliki
tekanan uap setidaknya beberapa torr pada suhu kolom. Ukuran sampel dari 1 g
sampai 100 g dapat diatasi, dan trace/renik yang berorde 10 -15 juga dapat dideteksi.
Pada masalah lain, Nobel Laureate A. J. P. Martin sudah memprediksikan bahwa
suatu hari laboratorium analitik akan dilengkapi dengan alat kromatografi gas yang
dapat memisahkan beberapa sampel secara otomatis dan mengirim beberapa
komponen untuk perangkat yang tepat untuk identifikasi dan pengukuran.
5. Kromatografi Pertukaran Ion (Ion exchange chromatography)

Jenis metode ini merupakan metode yang lebih spesifik dari kromatografi cairpadat (LSC). Dari namanya terlihat bahwa komponennya harus berupa ion. Fasa
diamnya berupa resin penukar ion.

6. Kromatografi Kertas (Paper chromatography)


Kromatografi kertas merupakan spesifikasi dari kromatografi cair-cair (LLC) yang
mana cairan sebagai fase diam merupakan perekam air/aliran yang teradsorpsi pada
lembaran kertas. Sampel dititikkan terlebih dahulu pada tepi kertas. Kemudian tepi
tersebut dicelupkan pada cairan yang sebagai fase gerak. Sampel-sampel tersebut
akan mengalir dan berhenti sesuai karakternya masing-masing.
7. Kromatografi Lapis Tipis (Thin-layer chromatography)
Jenis ini serupa dengan kromatografi kertas, hanya saja bahan kertas digantikan
dengan plat kaca atau plastic yang dilapisi dengan lapis tipis dari alumina, silika
gel, atau bahan-bahan bubuk. Sifatnya, lapis tipis ini jauh lebih dapat direproduksi
daripada kertas. Sehingga kromatografi lapis tipis menggantikan kromatografi
kertas.
8. Filtrasi gel (Gel filtration / size exclusion / pore penetration)
Yaitu proses pemisahan yang dilakukan dengan gel berisi modifikasi dari dekstran
(dextran)-jaringan tiga dimensi dari molekul linear polisakarida yang telah
berpindah silang (cross-linked). Sehingga gel tersebut membentuk suatu gel
berpori. Gel ini akan memisahkan material besar dengan material yang lebih kecil.
Material yang besar tidak dapat melewati pori tersebut. Material-material yang
besar membentuk struktur penyaring yang dapat memisahkan molekul-molekul
seukurannya. Molekul yang massa molekulnya antara 100 sampai beberapa
jutadapatdipekatkan kemudian terpisah.
9. Elektroforesis zona lanjut (Continuous-zone electrophoresis)
Terdiri dari pendekatan laras dobel (double-barreled). Selama elusi dalam
kromatografi kertas, terdapat medan listrik melintasi kertas tegak lurus dengan
aliran pelarut. Spesies ion dibelokkan pada suatu sudut, tergantung pada muatan
dan mobilitasnya. Prosedur ini menggunakan gradient menyeberang, membuat

kromatografi berlanjut mungkin terjadi. Jika tidak, kromatografi elusi merupakan


sekumpulan proses pokok.

2.3 TEORI DASAR KROMATOGRAFI


Teori dasar kromatografi pertama kali dikembangkan oleh Martin dan Synge untuk
kromatografi cair-cair. Teori dasar ini terus mengalami perkembangan untuk dapat
diterapkan pada kromatografi gas-cair. Namun demikian, dasar teori ini diusahakan untuk
dapat dipakai dalam berbagai metode kromatografi lainnya.
Pertama, marilah kita mempertimbangkan contoh kolom pada gambar 4-2. Molekul
sampel ditemukan pada fasa stasioner, yang mana dalam fasa ini tidak ada pergerakan dan
molekul sampel ada yang ditemukan pada fasa gerak, dimana molekul-molekul sampel
bergerak dengan kecepatan yang sama. Sehingga, bisa diketahui bahwa fasa gerak berperan
sebagai pembawa, dia melakukan pergerakan, sedangkan fasa stasioner merupakan
keadaan di mana molekul-molekul sampel tidak bergerak.

Kesetimbangan Distribusi
Lihat Gambar 4-2 yang menunjukkan penampang melintang kromatografi cair-cair
(partisi)
Jika suatu molekul cuplikan mengikuti proses kromatografi, dapat diamati bahwa
dalam fasa diam molekul-molekul tidak akan bergerak. Molekul komponen baru
akan bergerak maju bila dialirkan fasa gerak. Di dalam kolom, aliran fasa gerak ini
membawa serta komponen-komponen cuplikan ke bawah sepanjang kolom. Pada
saat fasa gerak mengalir sepanjang kolom terjadi kesetimbangan dinamis antara
komponen yang terlarut pada fasa gerak, dengan komponen yang terdapat pada fasa
diam. Tetapan kesetimbangannya disebut koefisien distribusi yang dapat dituliskan
dengan rumus :
CS
K=
CM
dengan
K = koefisien distribusi atau koefisien partisi
Cs = konsentrasi komponen dalam fasa diam
CM = konsentrasi komponen dalam fasa gerak

Koefisien distribusi K, seperti yang didefinisikan dalam persamaan 4-1,


dapat digunakan untuk berbagai mekanisme, tergantung dari sifat fasa dan tipe-tipe
interaksi antara komponen sampel dengan masing-masing fasa. Dalam hal ini tidak
perduli apakah apakah mekanismenya penukaran ion, partisi maupun adsorpsi, atau
penguapan larutan, nilai K merupakan gambaran yang menunjukkan perbandingan
relative komponen di dalam kedua fasa. Jika harga K besar, maka populasi
komponen di dalam fasa diam lebih besar daripada dalam fasa gerak, yang berarti
komponen-komponen tersebut menghabiskan waktunya lebih banyak pada fasa
diam. Untuk proses kesetimbangan yang betul-betul dinamis, maka fraksi waktu
total yang dihabiskan oleh molekul komponen di dalam fasa gerak berbanding lurus
dengan fraksi populasi total yang ditemukan dalam fasa gerak. Secara ringkas hal
di atas bisa dituliskan sebagai berikut : fraksi waktu yang dihabiskan molekul
dalam fasa gerak adalah merupakan perbandingan antara jumlah molekul dalam
fasa gerak terhadap jumlah total molekul. Secara matematis dapat dirumuskan
sebagai berikut :
Fraksi waktu yang dihabiskan

= Jumlah molekul pada fasa

gerak
molekul dalam fasa gerak

Jumlah molekul total


CM . VM
= CM .VM +CS .VS
1
= 1+ K Vs
VM

1
1+ k '

Persamaan 4-2 menghasilkan besaran baru k = K. Vs/Vm, yang disebut factor


kapasitas yang juga sama dengan Cs.Vs/Cm.Vm atau perbandingan mol komponen
sampel dalam fasa diam terhadap mol komponen dalam fasa gerak.

Laju Migrasi Komponen


Keefektifan proses kromatografi dalam memisahkan campuran komponen
tergantung pada laju migrasi komponen, yang berhubungan erat dengan
koefisien distribusi komponen di antara kedua fasa. Persamaan 4-2
menunjukkan fraksi waktu yang dihabiskankomponen dalam fasa gerak.Bila
persamaan 4-2 dikalikan dengan laju linear fasa gerak,u, maka akan
diperoleh laju migrasi komponen dengan rumusan :

Laju migrasi komponen =

1
=
1+ k '

1
1+ K

VS
VM

Dari persamaan 4-2 dapat disimpulkan bahwa laju migrasi komponen


ditentukan oleh :
a. Laju alir gas pembawa ( sama untuk semua komponen )
b. Perbandingan volum fasa diam terhadap fasa gerak ( sama untuk
semua komponen )
c. Koefisien distribusi ( spesifik untuk setiap komponen )
Untuk mengamati perjalanan komponen sepanjang proses kromatografi,
maka dalam praktek sering digunakan 2 teknik, yaitu :
a. Pengamatan setelah waktu eksperimen tertentu. Sebagai contoh
adalah dalam kromatografi kertas, yang mana pengamatan dilakukan
setelah waktu yang telah ditetapkan.
b. Pengamatan setelah melewati jarak tertentu. Sebagai contoh adalah
dalam kromatografi kolom, yang mana pengamatan dilakukan
setelah komponen sampai di ujung kolom. Pengamatan dapat
dilakukan oleh detector, misalnya dalam gas kromatografi atau

dengan teknik-teknik manual yang lain.


Waktu Retensi
Waktu retensi (tR) merupakan waktu yang diperlukan solute untuk keluar
dari kolom dan mencapai detector. Alur antara respon detector terhadap
waktu disebut kromatogram,
Gambar

Jika panjang kolom adalah L, maka dari batasan waktu retensi dan
persamaan 4-3, dapat dituliskan rumusan waktu retensi sebagai berikut :
L
L
'
'
= ( 1+ k )=tM (1+k )
tR = laju migras u

tM menggambarkan waktu retensi spesies yang tidak ditahan oleh kolom


atau waktu yang diperlukan fasa gerak untuk keluar kolom. Persamaan 4-4
di atas merupakan salah satu persamaan dsar besaran-besaran retensi bagi

semua bentuk kromatografi.


Volume Retensi
Selan waktu retensi, sering juga digunakan besaran retensi yang lain, yaitu
volum retensi yang merupakan volum fasa gerak yang diperlukan untuk
mengelusi komponen sampai keluar kolom. Jika laju air fasa gerak adalah F
yang harganya konstan, maka volum retensi bila dituliskan :
Volum = waktu x lajur air, atau,
VR= tR.F
Substitusi persamaan 4-5 ke dalam persamaan 4-4 menghasilkan :
VR = VM ( 1+k) = VM + K.Vs
Persamaan 4-6 merupakan persamaan dasar besaran retensi lain, di samping
waktu retensi. VM adalah volum fasa gerak yang ada di dalam kolom pada
waktu tertentu. VM disebut juga volum mati, yang merupakan volum
kosong yang tidak terisi fasa diam. VS adalah volum fasa diam, yang dalam
kromatografi dengan fasa diam padat, bisa berupa luas permukaan adsorpsi,
atau kapasitas penukaran ion ( kromatografi penukar ion). Laju migrasi

spesies ini sama dengan laju rata-rata molekul fasa gerak.


Retensi Relatif
Pengukuran waktu atau volume retensi hanya sedikit berperan

dalam

mengidentifikasi komponen, karena tR ditentukan dari kolom yang disusun dan


dioperasikan

sehingga, itu bukan karakter dari

komponen.

Kita dapat

mengeliminasi pengaruh dari variable operasi jika kita membandingkan waktu


retensi sebuah komponen pada suatu senyawa yang telah diketahui yang bergerak
pada kolom dan kondisi yang sama. Sebelum melakukan rasio 2 waktu retensi,
penting untuk mengetahui waktu yang diperlukan eluen sebuah komponen pada
fasa gerak. Langkah ini merupakan prinsip karena semua komponen harus berjalan
dalam kolom sehingga jumlah waktu sama pada fasa gerak. Kita seharusnya hanya
membandingkan waktu ketika komponen berada dalam fasa stasioner. Pendapat
yang sama dapat diterapkan pada retensi relative volume. Retensi relative selalu
diberi symbol dimana tanda bintang menunjukaan standar substansi.

10

K
tRtM
VRVM
K
=
=
=
tRtM V RVM

Bentuk Pita dan Pelebaran Pita


a. Kromatografi Ideal
Pada kromatografi ideal, bentuk pita ( puncak ) kromatogram yang
diperoleh berupa puncak-puncak yang sangat sempit, yang terpisah satu sama lain.
Hal ini bisa dicapai jika molekul-molekul berkelakuan sama mulai masuk kolom
sampai keluar kolom. Dalam keadaan demikian, jika sejumlah molekul masuk
bersama-sama pula di ujung yang lain.
b. Kromatografi Nonideal
Namun, kenyataannya puncak atau pita kromatogram umumnya melebar,
berbentuk kurva mirip kurva Gauss. Pelebaran pita tersebut diperoleh sebagai hasil
penjumlahan gerakan

acak sejumlah besar partikel-partikel solute pada saat

bergerak sepanjang kolom. Perlu diketahui bahwa jika sebuah molekul bergerak
sepanjang kolom akan mengalami sejumlah besar perpindahan yakni perpindahan
dari fasa gerak ke fasa diam dan sebaliknya. Waktu keberadaan solute dalam setiap
fasa tidak menentu, kadang-kadang pendek dan kadang-kadang lama. Hasil acak
masing-masing proses menimbulkan sebaran simetrik kecepatan di sekitar harga
rata-rata. Lebar pita berbanding lurus dengan waktu tinggal dalam kolom dan
berbanding terbalik dengan laju alir fasa gerak.
Gambar 4-3a dan 4-3b berturut-turut memberikan gambaran tentang bentuk pita ideal dan
tak ideal suatu kromatogram.

11

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kromatografi berasal dari bahasa Yunani yang secara hariah berarti
menulis warna. Kromatografi pertama kali diutarakan oleh seorang botanis Rusia
bernama Michael Tswett dengan deskripsinya tentang pemisahan pada klorofil dan
pigment lainnya dalam ekstraksi tumbuhan. Kemudian jenis-jenis kromatografi itu
sendiri beragam diantaranya Kromatografi Cair-Padat atau Kromatografi Adsorpsi,
Kromatografi cair-cair atau kromatografi partisi, Kromatografi gas-padat,
kromatografi

gas-cair, kromatografi

pertukaran

ion,

kromatografi

kertas,

kromatografi lapisan tipis, filtrasi gel dan elektroforesis zona lanjut. Dan
dilanjutkan dengan teori-teori kromatografi yang mengemukakan tentang
kesetimbangan distribusi, laju migrasi komponen, waktu retensi,volume retensi,
retensi relatif, kromatografi ideal dan non-ideal.

12

3.2 Saran
Semoga makalah yang telah kami susun ini dapat memberikan informasi
yang dibutuhkan dalam menyelesaikan tugas. Makalah ini tidak luput dari
kekurangan dalam penulisannya, kami berharap akan adanya kritik dan saran untuk
lebih mengembangkan makalah ini, terima kasih.

Daftar Pustaka

http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia_dasar/pemurnian-material/kromatografi/
penulis :Yoshito Takeuchi pada 03-01-2009
diakses tanggal 21 Februari 2014 pukul 14:04 wib
Christian, GD. 1997. Analytical Chemistry.
Skoog,DA.1980.Principle of Instrumental Analysis.

13