Anda di halaman 1dari 12

ASFIKSIA

ASFIKSIA DALAM FORENSIK


Dalam bidang forensik ada beberapa keadaaan atau jenis asfiksia yang sering
dijumpai. Biasanya berkaitan dengan hambatan saluran nafas secara mekanik atau disebut
juga asfiksia mekanik.
Korban kematian karena asfiksia mekanik termasuk yang sering diperiksa oleh dokter.
Umumnya urutan ke 3 sesudah kecelakaan lalu lintas dan trauma mekanik. Pemeriksaan
terhadap korban penting karena sering perbuatan pembunuhan ditutupi seakan akan bunuh
diri. Seperti penjeratan biasanya perbuatan pembunuhan tetapi dapat juga karena perbuatan
bunuh diri. Tidak selamanya korban yang didapati mati dalam keadaan tergantung berarti
mati gantung, mungkin bisa saja sesudah mati baru digantung. Demikian juga korban yang
diangkat dari air dengan dugaan tenggelam.pemeriksaan TKP sebelum korban dibawa
kerumah sakit mempunyai arti yang sangat penting dalam menjelaskan kematian asfiksia
secara medikolegal.
Asfiksia mekanik dibidang forensik yang sering dijumpai:
1. Pembekapan (smothering) yaitu saluran nafas bagian luar, mulut dan hidung ditutup
serentak.
2. Penyumbatan saluran nafas (gagging dan choking).
3. Tekanan di daerah leher
a) Pengaruh berat badan (mati gantung, hanging)
b) Tenaga dari luar
Penjeratan (strangulation)
Pencekikan (throttling, manual strangulation)
Gantung (hanging)
4. Tersumbat oleh cairan (tenggelam, drowning)
5. Gangguan gerakan pernapasan (dada ditekan, traumatic asphyxia)

A. PEMBEKAPAN

Pembekapan (smoothering) adalah asfiksia yang terjadi karena ditutupnya


saluran nafas bagian luar yaitu hidung dan mulut korban sekaligus. Biasanya
dilakukan pada korban yang lemah dan tak berdaya. Bisa dilakukan dengan telapak
tangan atau memakai benda lain seperti kain, handuk, bantal, plester tebal, menekan
muka korban kekasur dan lain lain.
Dapat juga terjadi karena kecelakaan pada anak karena tertindih bantal atau
tertindih buah dada karena ketiduran waktu menyusukan bayi. Dan dapat juga terjadi
bunuh diri dengan cara mengikatkan gulungan kain atau bantal menutup muka.
TANDA POST MORTEM
Dijumpai tanda tanda pembendungan, muka bengkak (congested), bintik perdarahan
pada bola dan kelopak mata (tardeous spot), mata melotot dan sianose pada bagian akral
tubuh seperti kuku, bibir, hidung dan kuping, luka lecet dan hematom karena tekanan
dibagian dalam bibir.
Pada pembunuhan, bila digunakan tenaga lebih dari seperlunya, didapati luka lecet
disekitar mulut dan hidung. Tetapi bila dipakai bahan yang halus atau muka korban
dibalikkan kekasur maka tanda tanda kekerasan seperti lecet mungkin sedikit atau tidak
didapati sama sekali.
B. PENYUMBATAN SALURAN NAFAS
Sumbatan saluran nafas bagian atas oleh benda asing. Pada gangging sumbatan
pada orofaring, mulut disumpal dengan kain, sedangkan pada choking sumbatan pada
laringofaring. Ini sering terjadi pada anak anak karena tertelan bonbon, kacang dan
lain lain. Jenis asfiksia ini jarang ditemukan, kecuali pada pembungkaman korban
dengan penyumpalan mulut dengan kain, begitu juga pada pembunuhan anak.
TANDA POST MORTEM
Adanya benda asing didalam mulut. Benda asing bisa berupa potongan kain, kertas
koran, tisu, sapu tangan, gigi palsu dan sebagainya

C. MATI GANTUNG

Tindakan bunuh diri dengan cara ini sering dilakukan karena dapat dimana dan
kapan saja dengan seutas tali, kain, dasi atau bahan apa saja yang dapat melilit leher.
Demikian pula pada pembunuhan atau hukuman nmati dengan cara penggantungan
yang sudah digunakan sejak zaman dahulu.
Jenis mati gantung:
Dari letak tubuh ke lantai dapat dibedakan 2 tipe:
1. Tergantung total (complete), tubuh tergantung diatas lantai
2. Setengah tergantung (partial), bagian dari tubuh masih menyentuh lantai. Sisa berat
badan 10-15 kg pada orang dewasa sudah dapat menyebabkan tersumbat saluran nafas
dan hanya diperlukan sisa berat badan 5 kg untuk menyumbat arteri karotis.
Dari letak jeratan dibedakan:
1. Tipikal (typical hanging) dimana letak simpul dibelakang leher, jeratan berjalan
simetris disamping leher dan dibagian depan leher di atas jakun. Tekanan pada saluran
nafas dan arteri karotis paling besar pada tipe ini.
2. Atipikal, letak simpul bisa dimana saja selain tipikal.
SIMPUL
Ada 2 jenis simpul yaitu simpul hidup (running noose) dan simpul mati (satu atau
lebih). Pemeriksaan jenis dan panjang bahan yang dipakai, serta jenis simpul dapat
membantu menentukan cara kematian. Pada waktu membebas lilitan dari leher korban,
tidak boleh membuka simpul, tetapi lilitan dipotong diluar simpul, karena bentuk simpul
bisa membantu penentuan kematian secara medikolegal.
SEBAB KEMATIAN
Walaupun sebab kematian mati gantung adalah karena asfiksia, tetapi sering disertai
sebab yang lain yaitu tekanan pada pembuluh darah (arteri maupun vena) di leher dan
reflek inhibisi vagal. Yang paling sering adalah campuran asfiksia dengan sumbatan pada
pembuluh darah. Dengan demikian sebab kematian bisa terjadi karena:

Asfiksia karena tersumbatnya saluran pernapasan


Kongesti vena sampai menyebabkan perdarahan di otak
Iskemi serebral karena sumbatan pada arteri carotis dan arteri vertebralis

Syok vagal, karena tekanan pada sinus carotis menyebabkan jantung berhenti
berdenyut.
Fraktur atau dislokasi tulang vertebral cervicalis 2 dan 3. Ini didapati pada
hukuman gantung karena korban dijatuhkan terhentak.
PRIODE FATAL
Pada judicial hanging kematian berlangsung sangat cepat karena fraktur di vertebra
cervicalis yang menagkibatkan perdarahan di medula oblongata. Sering didapati jantung
masih berdenyut untuk beberapa saat kemudian. Bila kematian karena penutupan arteri
juga berlangsung cepat karena iskemi otak, sedangkan kematian berlangsung lebih lambat
pada penyumbatan vena. Bila yang tersumbat adalah saluran pernapasan, maka kematian
bisa berlangsung dibawah 5 menit.
TANDA POST MORTEM
Tanda post mortem sangat berhubungan dengan penyebab kematian atau tekanan di
leher. Kalau kematian terutama akibat sumbatan pada saluran pernapasan maka dijumpai
tanda tanda asfiksia, respiratory distress, sianose dan fase akhir konvulsi lebih
menonjol. Bila kematian karena tekanan pembuluh darah vena, maka sering didapati
tanda tanda pembendungan dan perdarahan di konjungtiva bulbi, okuli dan di otak
bahkan sampai ke kulit muka. Bila tekanan lebih besar sehingga dapat menutup arteri,
maka tanda tanda kekurangan darah di otak lebih menonjol yang menyebabkan
gangguan pada sentra respirasi, dan berakibat gagal nafas. Tekanan pada sinus karotis
menyebabkan jantung tiba tiba berhenti dengan tanda tanda post mortem yang
minimal. Tanda tanda di atas jarang berdiri sendiri, tetapi umumnya akan didapati tanda
tanda gabungan.
PEMERIKSAAN LUAR
Pada pemeriksaan luar penting diperiksa bekas jeratan di leher yaitu:
1. Bekas jeratan (ligature mark) berparit, bentuk oblik seperti V terbalik, tidak
bersambung, terletak dibagian atas leher, bewarna kecoklatan, kering seperti kertas
perkamen, kadang kadang disertai luka lecet dan vesikel kecil di pinggir jeratan.
Bila lama tergantung, dibagian atas jeratan warna kulit lebih gelap karena adanya
lebam mayat.

2. Kita dapat memastikan letak simpul dengan menelusuri bekas jeratan. Simpul terletak
dibagian yang tidak ada bekas jeratan, kadang kadang didapati juga bekas tekanan
simpul di kulit. Bila bahan penggantung kecil dan keras (seperti kawat) maka bekas
jeratan tampak dalam, sebaliknya bila bahan lembut dan lebar seperti selendang, maka
bekas jeratan tidak begitu jelas. Bekas juga dipengaruhi oleh lamanya korban
tergantung, berat badan korban (komplit dan inkomplit) dan ketatnya jeratan. Pada
keadaan lain bisa didapati leher dibeliti beberapa kali secara horizontal baru kemudian
digantung, dalam keadaan ini didapati beberapa bekas jeratan yang lengkap, tetapi
pada satu bagian tetap ada bagian yang tidak tersambung yang menunjukan letak
simpul.
3. Leher bisa didapati sedikit memanjang karena lama tergantung, bila segera diturunkan
tanda memanjang ini tidak ada. Muka pucat atau bisa bengkak, bintik perdarahan
tardeous spot tidak begitu jelas, konjungtiva bulbi dan palpebra, lidah terjulur dan
kadang tergigit, tetesan saliva di pinggir salah satu sudut mulut, sianose, kadang
kadang ada tetesan urine, feses dan sperma.
4. Bila korban lama diturunkan dari gantungan, lebam mayat didapati da kaki dan tangan
di bagian bawah. Bila segera diturunkan lebam mayat bisa didapati dibagian depan
atau belakang tubuh sesuai dengan letak tubuh sesudah diturunkan. Kadang penis
tampak ereksi akibat terkumpulnya darah.
PEMERIKSAAN DALAM
Pada pemeriksaan dalam perlu diperhatikan:
1. Jaringan otot setentang jeratan didapati hematom, saluran pernapasan congested,
demikian juga paru paru dan organ dalam lainnya. Terdapat tardeuos spot di
permukaan paru paru, jantung dan otak. Darah bewarna gelap dan encer.
2. Patah tulang lidah (os hyoid) sering didapati, sedangkan tulang rawan yang lain
jarang.
3. Didapati adanya robekan melintang berupa garis bewarna merah (red line) pada tunica
intima dari arteri carotis interna.

MEDIKOLEGAL

Biasanya perbuatan bunuh diri dilakukan sama banyaknya oleh kedua jenis kelamin
dan sepertinya tidak tergantung umur, artinya dilakukan dari remaja sampai orang tua.
Pemeriksaan di TKP penting untuk menjelaskan bila ada luka di tubuh korban.
Pembunuhannya dengan cara hanging jarang terjadi kecuali orang tidak berdaya atau
dilemahkan terlebih dahulu dengan kekerasan atau racun. Tidak jarang korban yang telah
mati, kemudian digantung untuk menghilangkan jejak pembunuhan.
Kecelakaan karena mati gantung sangat jarang, biasanya berhubungan dengan
pekerjaan yang sering menggunakan tali atau pada anak anak. Bisa terjadi accidental
hanging yang berhubungan dengan sexual asphyxia, dimana korban secara masochistik
dengaja mambuat partial asfiksia untuk mencapai derajat orgasme lebih tinggi. Dengan
menyetel tali yang dapat menjerat leher lebih kencang maka ia dapat mencapai orgasme
dan setelah itu tali di longgarkan kembali tetapi perbuatan melonggarkan ikatan ini
kadang kadang tidak sempat dilakukan karena korban kehilangan kesadaran akibat
asfiksia dan akhirnya mati. Dalam hal ini, di dekat korban sering didapati gambar
gambar porno, korban telanjang atau pakai baju wanita dan ada eyakulat.
D. PENJERATAN
Penjeratan adalah terhalangnya udara masuk kesaluran pernapasan akibat ada
tenaga dari luar. Disini tidak ada pengaruh berat badan seperti pada hanging.
Penjeratan terdapat beberapa tipe:
1. Penjeratan dengan tali.
2. Dicekik (manual strangulation)
3. Ditekan leher dengan bahan selain tali (misalnya potongan kayu, lengan)
4. Mugging, leher ditekan dengan lutut atau siku.
Penjeratan dengan tali
Sama dengan mati gantung, bahan apa saja dapat dipakai untuk maksud ini. biasanya
penjeratan dilakukan dalam pembunuhan, apalagi korban pemerkosaan. Walaupun sama
sama ada bekas jeratan dileher seperti hanging, tetapi strangulasi mempunyai ciri khusus
pula. Yang didapati dokter di meja autopsi hamya bekas jeratan dileher. Bentuk, jenis tali dan
simpul sering tidak disertakan pada mayat (telah dilepas), bila masih ada, tali diputuskan di
luar simpul supaya bisa di rekonstruksi kembali.
Sebab kematian
Kematian sering terjadi karena kombinasi beberapa sebab berikut:
1. Asfiksia, karena saluran nafas tertutup

2. Venous congestion, aliran arteri masih masuk ke otak, sementara aliran vena
tertutup.
3. Iskemik otak, darah arteri tidak mengalir lagi ke otak
4. Refleks vagal (vagal reflex)
PEMERIKSAAN POST MORTEM
Pemeriksaan luar
Bekasan jeratan di leher bewarna merah kecoklatan, bersambung di bawah atau
setentang cartilago thyroid, lecet disekitar jeratan karena perlawanan korban, kadang
kadang ada vesikel halus, ini menunjukkan korban masih hidup waktu dijerat. Warna bekas
jeratan terlihat kemerahan karena tali segera dilepas atau longgar setelah korban dijerat. Bila
tetap terjerat dalam waktu lama, bisa didapati warna bekas jeratan kecoklatan seperti kertas
permaken. Kematian biasanya berlangsung lebih lama dari hanging, karena korban memberi
perlawanan dengan menegangkan leher, sehingga proses kematian berlangsung lama. Itu
sebabnya tanda tanda asfiksia pada penjeratan lebih jelas terlihat. Muka terlihat bengkak
dan membiru, mata melotot, begitu juga lidah menjulur. Bintik perdarahan pada kening,
temporal, kelopak dan bola mata lebih jelas. Bisa didapati keluar feses dan urine. Bila
terdapat kejang mayat, maka perhatikan apakah ada benda yang di genggam seperti
rambut,kancing atau robekan baju pelaku, hal ini penting untuk mengetahui siapa pelaku
kejahatan.
Pemeriksaan dalam
Paling penting pemeriksaan daerah leher dimana terdapat lebam disetentang dan
sekitar penjeratan. Dijumpai fraktur tulang krikoid dan tulang rawan trachea lainnya. Mucosa
laring dan trachea menebal dan bewarna merah, kadang disertai perdarahan kecil. Paru paru
congested dengan tanda tanda perbendungan, tardieus spot, begitu juga tanda perbendungan
pada organ lain.
MEDIKOLEGAL
Umumnya karena pembunuhan. Dapat juga terjadi karena bunuh diri dengan
melilitkan tali beberapa kali sampai ia kehilangan kesadaran dan akhirnya mati karena ia
tidak bisa lagi melepaskan ikatan. Atau pakai kawat waja yang tetap terbentuk seperti waktu
dililitkan atau setelah dililit dengan tali beberapa kali kemudian diperketat dengan mengunci
dengan sepotong kayu.

Kecelakaan sering pula terjadi karena leher terbelit oleh dasi yang terjerat oleh mesin
yang berputar. Bayi terbelit leher oleh tali pusat waktu dilahirkan bukanlah hal yang jarang.
Demikian juga usaha mencapai kepuasan seks dengan membuat partial asfiksia.
OBSERVASI
Motif
Tanda asfiksia
Tanda jeratan di leher
Letak jeratan
Bekas tali

MATI GANTUNG
Bunuh diri
Kurang jelas
Miring, tidak kontiniu
Antara dagu dan laring
Keras, kering, coklat tua

PENJERATAN
Pembunuhan
Jelas
Horizontal dan kontiniu
Di bawah tiroid
Lunak dan kemerahan

Lecet setentang tali


Tanda perlawanan
fraktur laring dan trachea
Fraktur os hyoid
Dislokasi vertebra
Perdarahan pada saluran

seperti kulit disamak


Jarang dijumpai
Tidak ada
Jarang
Sering
Ada pada juridicial hanging
Sangat jarang

Umumnya ada
Sering ada
Sering
Jarang
Jarang
Ada, bersama buih dari mulut

pernapasan
Air ludah

Mengalir dari salah satu

dan hidung
Tidak ada

Tardieus spot
Muka

sudut mulut
Jarang
Pucat

Sering
Sianosis dan kongesti

E. PENCEKIKAN
Pencekikan sering terjadi pada perkelahian, sebab leher merupakan salah satu
sasaran yang dapat melumpuhkan dan mematikan. Sebab kematian dan mekanisme
kematian sedikit berbeda pada strangulasi dengan tali, karena disini penyebab kematian
lebih sering karena asfiksia. Kongesti otak atau iskemi otak jarang terjadi karena aliran
darah tidak tertutup total. Tanda post mortem yang khas adalah didapati adanya bekas
kuku jari tangan pada banyak tempat di leher korban.
Dari letak cengkraman jari jari, bisa diperkirakan penyerang memakai satu atau
kedua tangan, pakai tangan kanan atau kiri, menyerang dari depan atau belakang.
Yang sering juga penyebab kematian adalah ferleks vagal, dimana tekanan pada
sinus carotis dapat menyebabkan jantung tiba tiba berhenti berdenyut.
F. SUFOKASI

Sufokasi terjadi karena kekurangan atau ketiadaan 02. Bisa terjadi karena
korban korban berada dalam rungan kecil tertutup atau kepala dimasukkan dalam
kantong plastik tertutup yang di ikat dibagian leher. Kasus sufokasi sering terjadi pada
anak anak yang tidak sengaja bersembunyi dalam lemari es atau korban masuk
kedalam selokan yang pengap atau sumur yang kering. Bisa juga terjadi bila berada di
pegunungan dimana tekanan 02 sangat rendah. Sufokasi adalah bentuk asfiksia murni.
G. TENGGELAM
Tenggelam adalah bentuk kematian akibat asfiksia karena terhalangnya udara
masuk kedalam saluran pernapasan disebabkan tersumbat oleh cairan. Terhalangnya
udara masuk ke paru paru tidak perlu orang harus terbenam ke air, tetapi tertutup
saluran nafas atas oleh cairan cukup untuk membuatnya mati tenggelam.
Proses tenggelam
Proses tenggelam dimulai pada waktu orang masuk ke air karena panik atau
kelelahan, maka sebagian air masuk kemulut atau saluran pernapasan. Ini akan
menimbulkan reflek batuk yang menyebabkan korban perlu menghirup udara lagi
dengan berusaha menggapai ke permukaan, namun akibatnya lebih banyak lagi air
yang masuk menggantikan udara, ini terjadi berulang kali, akhirnya korban
tenggelam.
Setelah terjadi proses pembusukan, beberapa hari kemudian korban terapung
kembali karena gas pembusukan yang terkumpul dalam rongga perut dan dada, maka
korban akan muncul ke permukaan air, kecuali korban tersangkut didalam air atau
dimakan binatang. Bila gas pembusukan ini akhirnya keluar dari tubuh, maka korban
kembali tenggelam. Proses ini perlu diketahui dalam pencarian korban tenggelam.
Beberapa tipe tenggelam
Kematian karena tenggelam bisa melalui berbagai proses, maka tenggelam
dibedakan atas beberapa tipe:
1. Dry drowning, mati tenggelam tanpa ada air disaluran pernapasan. Mungkin karena
spasme laring atau inhibisi vagal yang mengakibatkan jantung berhenti berdenyut
sebelum korban tenggelam. Ini dikenal sebagai drowning type 1
2. Wet drowning, tenggelam dalam pengertia sehari hari baik di air tawar (drowning type
2a) maupun air asin (drowning type 2b).
3. Immersion syndrome, mati tenggelam karena masuk ke air dingin yang menyebabkan
inhibisi vagal.

4. Secondary drowning, tidak sesungguhnya mati tenggelam, tetapi mati sudah dirawat
akibat tenggelam. Tetap ada hubungannya dengan kelainan paru akibat tenggelam
(infeksi dan oedem)
Tenggelam basah (wet drowning)
Perlu dikenali proses kematian karena tenggelam basah dalam pengertian
sehari hari:
1. Air tawar
Air masuk ke paru paru sampai ke alveoli. Karena konsentrasi darah lebih tinggi
dari air, maka cairan di paru paru masuk kedalam sirkulasi darah, terjadi hemodilusi
yang diikuti dengan hemolisis, akibat kadar ion K dalam serum darah meningkat dan
kadar ion Na turun dan disertai peningkatan volume darah, beban jantung bertambah
berat, terjadi keadaan hipoksia dan fibrilasi ventrikel,berakhir terjadi kematian akibat
anoksia otak.
2. Air laut
Air laut yang masuk kedalam paru lebih hipertonik sehingga dapat menarik air dari
pembuluh darah. Akibatnya terjadi oedem paru, darah menjadi hemokonsentrasi.
Kadar ion chlor jantung kiri meningkat 30 40%, kadar ion Mg dalam darah
meningkat,RBC meningkat dibawah mikroskop butir darah tampak mengkerut.
Terjadi hipoksia. Kematian terjadi karena oedem paru.
Sebab kematian
Seperti dijelaskan ada berbagai tipe tenggelam, maka sebab kematian
tenggelam juga terjadi karena berbagai bentuk:
1.
2.
3.
4.

Asfiksia, karena spasme laring.


Fibrilasi, ventikuler karena tenggelam di air tawar.
Oedem paru, karena tenggelam di air asin.
Inhibisi vagal, karena reflex.

TANDA POST MORTEM


pemeriksaan luar
Tanda tanda asfiksia seperti sianose pada kuku, bibir. Mata merah karena
perdarahan subconjungtiva, dari mulut dan hidung terdapat buih halus yang sukar
pecah, kadang menjulur seperti lidah. Lebam mayat lebih banyak dibagian kepala,
muka dan leher (karena posisi kepala di air lebih rendah). Bila didapati kejang mayat
(cadaveric spasme) tangan menggenggam rumput atau kayu merupakan bukti kuat

korban masih hidup waktu masuk ke air. Bila korban lama didalam air bisa didapati
telapak tangan dan kaki putih mengkerut seperti tukang cuci, kadang didapati kulit
kasar seperti kulit bebek, tapi tidak patognomosis karena itu terbentuk akibat
konsentrasi m. Errector pilli karena dingin atau proses kaku mayat. Adnya lumpur
dibadan, tangan korban, dibawah kuku atau pakaian penting diperhatikan. Pastikan
juga adanya luka luka post mortem apalagi bila korban terseret arus disungai atau
gigitan ikan dan binatang lainnya. Luka post mortem oleh batu batuan di sungai
didapati di tubuh bagian luar.
Pemeriksaan dalam
Penting memeriksa adanya lumpur, pasir halus dan benda asing lainnya dalam mulut
dan saluran nafas, lumen laring,trachea dan bronchus sampai ke cabang cabangnya.
Pada rongga mulut dan saluran pernapasan berisi buih halus yang mungkin bercampur
dengan lumpur. Paru paru tampak lebih besar viluminous dan oedematous apalagi
tenggelam di air laut, dengan cetakan iga di permukaan paru. Pada perabaan kenyal
ada pitting oedema, bila dipotong dan diperas tampak banyak buih. Darh lebih gelap
dan encer. Jantung kanan berisi darah dan dibagian kiri kosong. Oesofagus dan
lambung bisa terisi cairan sesuia dengan tempat dimana korban tenggelam, mungkin
menggandung lumpur, pasir dan lain lain. Ini petunjuk penting karena korban
menelan air waktu kelelap dalam air, apalagi bila didapati di duodenum yang
menunjukkan ada passage melewati pylorus.
Harus diingat bahwa pada dry drowning tidak didapati air atau kelainan di paru
maupun di lambung.
Pemeriksaan laboratorium untuk mendapatkan adanya diatome dapat dilakukan
dengan test destruksi. Begitu juga bilas paru untuk mendapatkan adanya pasir atau
telur cacing bila air terkontaminasi dengan feses, ini dilakukan bila pembuktian secara
makroskopis meragukan. Pemeriksaan kimia darah dapat dilakukan tetapi
memerlukan fasilitas dan biaya.
MEDIKOLEGAL
Secara medikolegal kematian karena tenggelam umumnya karena kecelakaan
apalagi dimusim hujan dan banjir. Bunuh diri dengan tenggelam bukan hal yang
jarang terjadi. Biasanya korban memilih tempat yang tinggi untuk meloncat dan
biasanya di tempat yang sering dilewati orang. Penting sekali menentukan apakah
korban mati karena tenggelam atau sudah mati baru ditenggelam kan. Pemeriksaan
menjadi sulit bila korban telah mengalami pembusukan atau pembusukan lanjut. Perlu
diperhatikan bahwa korban yang di angkat dari air, mengalami pembusukan lebih

cepat dari biasa. Oleh karena itu penundaan pemeriksaan akan mempersulit
pemeriksaan, selain bau yang akan dihadapi pemeriksa.