Anda di halaman 1dari 13

Peroneal Palsy

Disusun oleh :
Ade Vella Feliza
Pembimbing :
dr. Nasrul Musadir, Sp.S

Pendahuluan
Peroneal palsy ataupun foot drop merupakan gejala yang paling terkenal.
Menyerang semua kelompok usia, tetapi lebih sering terjadi pada laki-laki
(laki-laki-wanita rasio 2.8:1). 90% dari lesi peroneal, dan mereka dapat
mempengaruhi kanan atau kiri dengan frekuensi yang sama.
Dalam sebuah penelitian oleh Cohen et al, risiko relatif palsy adalah 2,8 kali
lebih besar bagi pasien yang telah menerima anestesi epidural untuk
artroplasti total dibandingkan pada pasien yang dianestesi umum atau
esthesia tulang belakang.
Dalam penelitian yang sama, risiko relatif palsy adalah 6.5 kali lebih besar
pada pasien yang memilih Laminektomilumbalis.
Dari klinis yang sudah ada sebelumnya stenosis tulang belakang diyakini dapat
menigkatkan risiko untuk menjatuhkan bagian kaki dan pinggul karena
artroplastiproksimal ini.

Definisi
Peroneal Palsy adalah kelumpuhan pada kaki akibat
cedera ataupun terjepitnya saraf peroneus. Kaki menjadi
seperti kaki ayam yang sedang melangkah, yaitu kaki
tidak bisa menapak tanah dengan rata. Kaki juga tidak
punya kekuatan untuk melangkah.

Etiologi
Penyebab yang sangat sering adalah akibat tekanan dari luar seperti
penekanan pada saraf selama jongkok atau duduk bersilang kaki,
trauma,diabetes dan lepra.
Peroneal nerve palsy paling sering diakibatkan oleh duduk bersilang kaki
yang mana menyebabkan saraf peroneal terjepit antara caput fibula dan
condylus femur externa serta patella pada tungkai yang berlawanan.
Mekanisme lain yang diketahui sebagai penyebab peroneal nerve palsy
adalah trauma langsung, dislokasi lutut, fraktur tibia dan fibula,
myxedema pretibial, intoksikasi ergot dan malposisi diatas meja operasi.

Patofisiologi

Gejala Klinis
Berdasarkan lesinya :
1. Lesi pada kaput fibula
Sebagian besar kelumpuhan saraf peroneus terjadi pada daerah kaput fibula,
dimana saraf tersebut terletak superfisial dan rentan terhadap cedera

Cabang profunda lebih sering terkena dari pada saraf yang lain
Jika ke 2 cabang terkena (superfisial dan profuna) menimbulkan
parese/paralise jari kaki, dorso fleksi kaki dan jari kaki, serta bagian lateral
distal dari tungkai bawah

Jika hanya cabang profunda yang terkena, menimbulkan deep peroneal nerve
syndrome

2. Anterior tibial (deep peroneal) nerve syndrome


Saraf ini bisa terkena cedera pada kaput fibula atau lebih distal
Kelainan ini menimbulkan parese/paralise jari kaki dan dorsofleksi kaki
Gangguan sensoris terbatas pada kulit di sela jari-jari antara jari kaki 1
dan 2
Saraf ini dapat juga tertekan pada pergelangan kaki, sehingga
menyebabkan anterior tarsal tunnel syndrome yang menimbulkan gejala
parese danatropi pada M.extensor digitorum brevis. Sedangkan gangguan
sensoris bisa terdapat atau tidak pada kulit di sela jari-jari antara kaki 1
dan 2

3. Superficial peroneal nerve syndrome


Lesi bisa pada kaput fibula atau lebih distal
Menimbulkan parese dan atropi pada M.Peronei dan
gangguan eversi kaki
Gangguan sensoris pada kulit bagian lateral distal tungkai
bawah dan dorsum kaki, sedangkan kulit di sela jari-jari
antara jari kaki 1 dan 2 masih baik

Tatalaksana
Terapi rehabilitatif drop kaki bervariasi tergantung pada akar penyebab
kondisi orang tertentu.
AOS kaki dapat dilakukan dengan memasang pasien dengan Ankle Foot
Orthosis (Afo) atau kaki penjepit.
Pembedahan kadang-kadang digunakan untuk memperbaiki kerusakan
apa pun yang telah dilakukan untuk saraf.
Ada juga yang mengatakan cara pengobatannya yaitu, Sebelum
mengobati kelumpuhan karena gangguan saraf, baik saraf radialis,
ulnaris, maupun peroneus profundus, penderita haruslah melakukan
pemeriksaan. Pemeriksaan ini dengan alat EMG atau Electromyogram.

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan dengan foto polos pada lutut dan
pergelangan kaki harus diperoleh untuk mengevaluasi
adanya fraktur, lesi massa, atau arthritis jika ada riwayat
yang menunjukkan salah satu etiologi tersebut.
MRI pada lutut dan pergelangan kaki dapat lebih
menjelaskan lesi tulang atau menunjukkan ganglia
intraneural.

Prognosis
81% subyek dengan respon tibialis anterior dan 94%
dengan ekstensor digitorum brevis memiliki respon yang
baik (setidaknya 4 dari 5 pergelangan kekuatan
dorsofleksi) dibandingkan dengan mereka yang tidak
berespon baik. Selain itu, semua pasien dengan kompresi
nontraumatik memiliki hasil yang baik.

Komplikasi
Mengurangi kemapuan berjalan dan berkurangnya
sensasi dan kelemahan atau paralisis pada tungkai bawah
dan kaki secara permanen

Terima Kasih..