Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Kanker payudara merupakan salah satu masalah utama kesehatan
perempuan di dunia, terutama di negera berkembang seperti Indonesia dan salah
satu alasan semakin berkembangnya kanker ini disebabkan oleh rendahnya
cakupan deteksi dini dan screening. Berdasarkan data Globocan, International
Agency for Research on Cancer (IARC) tahun 2001, kanker payudara menempati
urutan pertama dari seluruh kanker pada perempuan, incident rate 38 per 100.000
perempuan kasus dan ditemukan sebesar 22,7% dengan jumlah kematian 14%
pertahun dan kanker leher rahim menempati urutan kedua dengan incident rate 16
per 100.000 perempuan kasus dan yang ditemukan 9,7% dengan jumlah kematian
9,3% pertahun dari seluruh kanker perempuan di dunia. (Antara. 2008).
The American Cancer Sociaty (2008) memperkirakan setiap tahunnya
sekitar 178.000 wanita Amerika dan 2.000 pria Amerika akan didiagnosis terkena
kanker payudara (Cancer, 2008). Sedangkan berdasarkan data dari badan
registrasi Kanker Ikatan Dokter Ahli Patologi Indonesia (IAPI) tahun 2010 Untuk
penderita kanker serviks, jumlahnya juga sangat tinggi. Setiap tahun tidak kurang
dari 15.000 kasus kanker serviks terjadi di Indonesia. Itu membuat kanker serviks
disebut sebagai penyakit pembunuh wanita nomor satu di Indonesia. Sementara
kanker payudara, merupakan penyakit dengan kasus terbanyak kedua setelah

kanker serviks. Penderita kanker payudara di Indonesia pada tahun 2010 sebanyak
5.207 kasus.
Untuk mengurangi angka kejadian yang terjadi maka pemerintah
menyelenggarakan program deteksi dini kanker payudara, yaitu dengan
pemeriksaan payudara sendiri dan melakukan perawatan payudara. Perawatan
payudara selama kehamilan adalah salah satu bagian penting yang harus
diperhatikan sebagai persiapan dalam pemberian ASI. Selama kehamilan payudara
akan membengkak dan daerah sekitar puting warnanya akan lebih gelap. Dengan
adanya pembengkakkan tersebut, payudara menjadi mudah teriritasi bahkan
mudah luka. Oleh karena itu perlu dilakukan perawatan payudara selama hamil.
(Saryono Pramitasari, 2009).
Akan tetapi, pada kenyataannya banyak ibu hamil mengabaikan perawatan
payudara. Ini dikarenakan ibu malas atau sesungguhnya ibu belum mengetahui
manfaatnya. Apabila selama kehamilan ibu tidak melakukan perawatan payudara
dan perawatan tersebut hanya dilakukan pasca persalinan, maka akan
menimbulkan beberapa permasalahan, seperti ASI tidak keluar atau ASI keluar
setelah beberapa hari kemudian, puting susu tidak menonjol sehingga bayi sulit
menghisap, produksi ASI sedikit, dan tidak cukup dikonsumsi bayi, infeksi pada
payudara, payudara bengkak, bernanah, dan muncul benjolan di payudara.
Perawatan payudara adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara sadar atau
teratur untuk memelihara kesehatan payudara waktu hamil dengan tujuan untuk
mempersiapkan laktasi pada waktu postpartum. Jika seorang ibu hamil tidak
melakukan perawatan payudara selama kehamilan dengan baik dan hanya

melakukan perawatan menjelang melahirkan atau setelah melahirkan maka sering


dijumpai kasus-kasus yang akan merugikan ibu dan bayi. Kasus tersebut antara
lain ASI tidak keluar dan baru keluar setelah hari kedua atau lebih. Puting susu
tidak menonjol sehingga bayi sulit menghisap, produksi ASI sedikit sehingga tidak
cukup dikonsumsi bayi, infeksi pada payudara, payudara bengkak atau bernanah,
munculnya benjolan di payudara. Salah satu indikator derajat kesehatan
masyarakat adalah angka kematian bayi, sedangkan faktor paling penting yang
berperan dalam pencegahan kematian bayi adalah perilaku pemberian Air
Susu Ibu (ASI). Berdasarkan penelitian Mutakhir ditemukan bahwa 16% kematian
bayi dapat dicegah jika semua bayi diberikan ASI pada hari pertama setelah lahir,
sedangkan jika diberikan pada 1 jam pertama setelah lahir maka 22% kematian
bayi dapat dihindarkan (Depkes. RI, 2006).
Terjadinya Bendungan ASI terbanyak di Indonesia adalah pada ibu-ibu
pekerja.sebanyak 16% dari ibu yang menyusui (Depkes.RI, 2006). Kondisi
kehamilan membuat banyak perubahan pada wanita di lihat dari segi fisik
perubahan-perubahan itu antara lain berat badan bertambah,perubahan pada
kulit,dan perubahan pada payudara.Perawatan payudara selama kehamilan adalah
salah satu bagian penting yang harus di perhatikan sebagai persiapan dalam
pemberian ASI. (Saryono-Roischa Dyah Pramitasari, 2009).
Setelah persalinan, perawatan payudara bertujuan untuk menjaga
kelangsungan produksi ASI, termaksud melakukan senam nifas atau olahraga
ringan,tentu saja keadaan kesehatan dan kecukupan gizi juga berpengaruh
terhadap produksi ASI (Musbikin, 2006)
Untuk memperoleh produksi ASI yang cukup dan sehat, payudara perlu

dipersiapkan terutama selama kehamilan, bahkan setelah melahirkan. Segera


setelah persalinan, bayi sebaiknya ditempatkan bersama ibunya agar sedini
mungkin dapat mengisap payudara ibu. Setelah persalinan, perawatan payudara
juga masih diperlukan untuk menjaga kelangsungan produksi ASI (Musbikin,
2006).
Banyak ibu-ibu yang mengeluh bahwa sekitar hari ketiga atau keempat
sesudah melahirkan, payudara tentu sering terasa lebih penuh serta nyeri,
keadaan seperti itu yang membuat ibu malas untuk menyusui bayinya. Hal
tersebut di sebabkan karena ibu tidak tahu bahwa semua itu merupakan tandatanda bahwa ASI mulai banyak produksi. Apabila dalam keadaan tersebut
ibu menghindari menyusui karena alasan nyeri lalu memberikan susu formula pada
bayi, pembengkakan berlanjut, payudara akan bertambah bengkak atau penuh
(Nontji. 2006). Untuk mengatasi beberapa masalah tersebut diatas bagi ibu-ibu
Pasangan Usia Subur (PUS) yang akan melahirkan perlu mendapatkan pendidikan
dan pelatihan untuk menambah tingkat pengetahuan dalam rangka persiapan
menghadapi kelahiran, perawatan bayi, perawatan payudara ibu setelah melahirkan.
Informasi ini masih sangat terbatas oleh karena itu penulis tertarik untuk
melakukan usulan penulisan studi kasus tentang Asuhan Kebidanan pada Ibu
Nifas Post Partum dengan Payudara Bengkak.

B. Ruang Lingkup

Berdasarkan latar belakang di atas saya mengambil judul Asuhan


Kebidanan pada Ibu Nifas Post Partum dengan Payudara Bengkak di Puskesmas
Pembantu Cemagi Tahun 2013.
Maka Ruang lingkup kewenangan bidan dalam memberikan pelayanan pada
ibu nifas dengan payudara bengkak adalah kompetensi ke-5
C. Tujuan Penulisan
a. Tujuan umum
Dapat melaksanakan Asuhan Kebidanan pada Ibu Nifas Post Partum
dengan Payudara Bengkak di Puskesmas Pembantu Cemagi Tahun 2013.
b. Tujuan Khusus
Untuk melaksanakan tujuan umum tersebut maka harus ada rencana
pelaksanaan Asuhan Kebidanan pada Ibu Nifas Post Partum dengan Payudara
Bengkak di Puskesmas Pembantu Cemagi Tahun 2013 yaitu:
a. Melakukan pengkajian pada ibu nifas dengan payudara bengkak.
b. Melakukan pemeriksaan yang terdiri dari pemeriksaan umum, dan
pemeriksaan fisik pada ibu nifas dengan payudara bengkak, menganalisa data
ibu nifas dengan payudara bengkak.
c. Melakukan rencana penatalaksanaan asuhan kebidanan sesuai dengan apa
yang telah direncanakan pada ibu nifas dengan payudara bengkak.
d. Melakukan asuhan penatalaksanaan yang komprehensif pada ibu nifas dengan
payudara bengkak
D. Metode Penulisan

Metode yang penulis gunakan dalam bentuk Studi kasus dengan teknik
wawancara, observasi, Studi dokumentasi, dan pemeriksaan atau pengukuran.
E. Manfaat Penulisan
1. Manfaat Praktis
a. Bagi Peneliti
Menerapkan secara langsung ilmu yang didapat selama perkuliahan mengenai
manajemen asuhan kebidanan pada ibu nifas post partum dengan payudara
bengkak.
a. Bagi Masyarakat
Dapat menambah wawasan bagi masyarakat tentang asuhan kebidanan pada
ibu nifas post partum dengan payudara bengkak.
b. Bagi Tenaga Kesehatan
Sebagai masukan guna meningkatkan pelayanan asuhan kebidanan pada ibu
nifas post partum dengan payudara bengkak
2. Maanfaat teoritis
a. Bagi institusi
Asuhan ini diharapkan dapat menambah kurikulum, menambah
pengetahuan bagi para bidan mengenai Asuhan Kebidanan pada ibu nifas dengan
payudara bengkak, dan sebagai masukan dalam mengevaluasi program yang
sedang berjalan dan bahan pertimbangan dalam rangka pengambilan keputusan
kebijakan dan perbaikan dalam rangka penanggulangan payudara bengkak pada
ibu nifas pada masa yang akan datang sehingga menciptakan wahana dan
pengembangan pengetahuan mahasiswa Akademi Kebidanan Bali Wisnu Dharma.
Dan bisa dijadikan pedoman untuk promosi kesehatan khususnya ibu nifas dengan

payudara bengkak.
2). Bagi program studi/ ilmu pengetahuan.
Sebagai masukan tambahan bagi penelitian lebih lanjut tentang asuhan
kebidanan pada ibu nifas dengan payudara bengkak dalam pengembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi.
3). Bagi pembaca/penulis
Dapat memberikan masukan tambahan bagi kegiatan penelitian sejenis
dikemudian hari yang lebih spesifik guna pencegahan dan penanganan payudara
bengkak pada ibu nifas. Dan meningkatkan wawasan penulis tentang Asuhan
Kebidanan yang diberikan pada ibu nifas dengan payudara bengkak sehingga
meningkatkan

bekal

nantinya

dalam

melaksanakan

masyarakat.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

pengabdian

kepada

A. Konsep Dasar Nifas


1. Pengertian Masa Nifas
Masa nifas (Peurperium) adalah di mulai setelah plasenta lahir dan
berakhir

ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil.

(Hanifa wiknjosastro,2002). Masa peurperium atau masa nifas setelah partus


selesai, dan berakhir kurang lebih 6 minggu. Tetapi alat genetal baru pulih seperti
sebelum ada kehamilan dalam waktu 3 bulan. (Sarwono, 2006).
Nifas adalah Periode 6 minggu pasca persalinan, disebut juga masa
involusi (Periode di mana sestem reproduksi wanita postpartum kembali kepada
keadaannya seperti sebelum hamil). Di Indonesia : periode 40 hari.(Dhyanti dan
Muki, 2009)
2. Perubahan Fisiologis
Bobak (2004), menjelaskan perubahan fisiologis masa nifas terdiri atas:
a. Proses involusi
Proses kembalinya uterus ke keadaan sebelum hamil setelah melahirkan
disebut involusi. Proses ini dimulai segera setelah plasenta keluar akibat
kontraksi otot-otot polos uterus. Perubahan involusi uterus berlangsung cepat.
Fundus turun kira-kira 1 sampai 2 cm setiap 24 jam. Hari postpartum keenam
fundus normal akan berada dipertengahan antara umbilicus dan simfisis pubis.
Uterus tidak akan dapat di palpasi pada abdomen pada hari ke-9 postpartum.
Peningkatan kadar estrogen dan progesteron bertanggung jawab untuk
pertumbuhan uterus selama masa hamil, pada masa postpartum kadar hormonhormon ini akan berkurang sehingga menyebabkan terjadinya autolisis.
Autolisis merupakan proses penghancuran diri sendiri dan perusakan secara
langsung jaringan hipertrofi secara berlebih yang terjadi di dalam otot uterin.

Enzim yang membantu yaitu enzim proteolitik yang akan memendekan


jaringan otot.
b. Lokia
Ambarwati (2009), membagi lokia menjadi empat macam, yaitu:
1) Lokia rubra/merah
Lokia ini muncul pada hari pertama hingga hari keempat postpartum. Cairan
yang keluar berwarna merah karena mengandung darah segar, jaringan sisasisa plasenta, dinding rahim, lemak bayi, lanugo dan mekonium.
2) Lokia sanguilenta
Cairan yang keluar berwarna merah kecoklatan dan berlendir. Berlangsung
dari hari ke-4 sampai hari ke-7 postpartum.
3) Lokia serosa
Lokia ini berwarna kuning kecoklatan, karena mengandung serum, leukosit,
dan robekan atau laserasi plasenta. Muncul hari ke-7 hingga hari ke-14
postpartum.
4) Lokia alba
Mengandung leukosit, sel desidua, sel epitel, selaput lendir servik dan serabut
jaringan yang mati, berlangsung selama 2 minggu sampai 6 minggu
c. Proses Laktasi dan Menyusui
Proses ini dikenal juga dengan istilah inisiasi menyusui dini, dimana ASI
baru akan keluar setelah ari-ari atau plasenta lepas. Plasenta mengandung hormon
penghambat prolaktin ( hormon plasenta ) yang menghambat pembentukan ASI.
Setelah plasenta lepas, hormon plasenta tersebut tidak diproduksi lagi, sehingga
susu pun keluar. Umumnya ASI keluar 2-3 hari setelah melahirkan. Namun,
sebelumnya di payudara sudah terbentuk kolostrum yang baik sekali untuk bayi,
karena mengandung zat kaya gizi dan antibodi pembunuh kuman.
1) Laktasi
Air Susu Ibu ( ASI ) merupakan nutrisi alamiah terbaik bagi bayi karena
mengandung kebutuhan energi dan zat yan dibutuhkan selama enam bulan
pertama kehidupan bayi. Namun, ada kalanya seorang ibu mengalami masalah

dalam pemberian ASI. Kendala yang utama adalah karena produksi ASI tidak
lancar.
2) Proses Laktasi
Proses ini timbul setelah ari-ari atau plasenta lepas. Plasenta mengandung
hormon

penghambat prolaktin ( hormon plasenta ) yang menghambat

pembentukan ASI. Setelah plaseta lepas, hormon plasenta tersebut tak ada lagi,
sehingga susu pun keluar.
3) Pengaruh Hormonal
Hormon-hormon yang terlibatdalam proses pembentukan ASI adalah
sebagai berikut :
a) Progesteron : mempengaruhi pertumbuhan dan ukuran alveoli. Kadar
progesteron dan estrogen menurun sesaat setelah melahirkan. Hal ini
menstimulasi produksi ASI secara besar-besaran.
b) Estrogen : menstimulasi sistem saluran ASI untuk membesar. Kadar estrogen
dalam tubuh menurun saat melahirkan dan tetap rendah untuk beberapa bulan
selam tetap menyusui.
c) Prolaktin : berperan dalam membesarnya alveoli pada masa kehamilan.
d) Oksitosin : Mengencangkan otot halus dalam rahim pada saat melahirkan dan
setelahnya, seperti halnya juga dalam orgasme. Setelah melahirkan, oksitosin
juga mengencangkan otot halus di sekitar alveoli untuk memeras ASI menuju
saluran susu. Oksitosin berperan dalam proses turunnya susu ( let-down/milk
ejection reflex ).
e) Human Placental Lactogen ( HPL ) : sejak bulan kedua kehamilan, plasenta
mengeluarkan banyak HPL yang berperan dalam pertumbuhan payudara,
puting, dan aerola sebelum melahirkan. Pada bulan kelima dan keenam
kehamilan, payudara siap

memproduksi ASI. Namun, ASI bisa juga

diproduksi tanpa kehamilan ( induced lactation ).


f) Proses Pembentukan Laktogen
Proses pembentukan laktogen melalui tahapan-tahapan berikut ini :

(1) Laktogenesis I
Pada fase terakhir kehamilan, payudara wanita memasuki fase laktogenesis
I. Saat itu payudara memproduksi kolostrum, yaitu berupa cairan kental yang
kekuningan. Pada saat itu, tingkat progesteron yang tinggi mencegah produksi
ASI yang sebenarnya. Namun, hal ini bukan merupakan masalah medis. Apabila
ibu hamil mengeluarkan (bocor ) kolostrum sebelum bayinya lahir, hal ini bukan
merupakan indikasi sedikit atau banyaknya produksi ASI sebenarnya nanti.
(2) Laktogenesis II
Saat melahirkan, keluarnya plasenta menyebabkan turunnya tingkat
hormon progesteron, estrogen, dan HPL secara tiba-tiba, namun hormon prolaktin
tetap tinggi. Hal ini menyebabkan produksi ASI besar-besaranyang dikenal
dengan fase laktogenesis II. Apabila payudara dirangsang, jumlah prolaktin dalam
darah akan meningkat dan mencapai puncaknya dalam periode 45 menit,
kemudian kembali ke level sebelum rangsangan tiga jam kemudian. Keluarnya
hormon prolaktin menstimulasi sel di dalam alveoli untuk memproduksi ASI, dan
hormon ini juga keluar dalam ASI itu sendiri. Penelitian mengindikasikan bahwa
jumlah prolaktin dalam susu lebih tinggi apabila produksi ASI lebih banyak, yaitu
sekitar pukul 02.00 dini hari hingga 06.00 pagi, sedangkan jumlah prolaktin
rendah saat payudara terasa penuh.
(3) Laktogenesis III
Sistem kontrol hormon endokrin mengatur produksi ASI selama kehamilan
dan beberapa hari pertama setelah melahirkan. Ketika produksi ASI mulai stabil,
sistem kontrol otokrin dimulai. Fase ini dinamakan laktogenesis III. Pada tahap
ini, apabila ASI banyak dikeluarkan, payudara akan memproduksi ASI dengan
banyak pula. Dengan demikian, produksi ASI sangat dipengaruhi oleh seberapa

sering dan seberapa

baik bayi menghisap, juga seberapa sering payudara

dikosongkan.
e). Proses Produksi Air Susu
Pengeluaran ASI merupakan suatu interaksi yang sangat kompleks antara
rangsangan mekanik, saraf, dan bermacam-macam hormon. Pengaturan hormon
terhadap pengeluaran ASI dapat dibedakan menjadi 3 bagian, yaitu :
(1) Produksi Air Susu Ibu ( prolaktin )
(2) Pengeluaran Air Susu Ibu ( oksitosin )
(3) Pemeliharaan Air Susu Ibu
f). Produksi Air Susu Ibu/Prolaktin
Dalam fisiologi laktasi, prolaktin merupakan suatu hormon yang disekresi
oleh glandula pituitari. Hormon ini memiliki peranan penting untuk memproduksi
ASI, kadar hormon ini meningkat selama kehamilan. Kerja hormon ini dihambat
oleh hormon plasenta. Dengan lepas atau keluarnya plasenta pada akhir proses
persalinan, maka kadar estrogen dan progesteron berangsur-angsur menurun
sampai tingkat dapat dilepaskan dan diaktifkannya prolaktin. Peningkatan kadar
prolaktin akan menghambat ovulasi, dan dengan demikian juga mempunyai fungsi
kontrasepsi. Namun, ibu perlu memberikan air susu 2 sampai 3 kali setiap jam
agar pengaruhnya benar-benar efektif. Kadar prolaktin paling tinggi adalah pada
malam hari, dan penghentian pertama pemberian air susu dilakukan pada malam
hari. Hal ini cukup efektif digunakan sebagai metode kontrasepsi yang lebih
reliabel untuk diterapkan apabila ingin menghindari kehmilan.

Sigit (2009), menerangkan reflek penting dalam proses laktasi yaitu:


(1) Refleks prolaktin
Puting susu terdapat banyak ujung saraf sensori. Sewaktu bayi menyusu
ujung saraf peraba yang terdapat pada puting susu terangsang. Rangsangan
tersebut dibawa ke hipotalamus di dasar otak, lalu memacu hipofisis anterior

untuk mengeluarkan hormon prolaktin ke dalam darah. Prolaktin memacu sel


kelenjar (alveoli) untuk memproduksi air susu. Jumlah air susu yang diproduksi
berkaitan dengan stimulasi hisapan, yaitu frekuensi, intensitas, dan lamanya bayi
menghisap.

Gambar 1. Refleks
Pada

prolaktin

ibu

menyusui, prolaktin

akan meningkat dalam

keadaan-keadaan

seperti :
(a) Stres
atau
pengaruh psikis
(b) Anastesi
(c) Operasi
(d) Rangsangan puting susu
(e) Tabungan kelamin
(f) Obat-obatan trangulizer hipotalamus seperti reserpin, klorpromazim, dan
fenotiazid
(2) Refleks aliran (Let Down Reflek)
Rangsangan yang ditimbulkan

oleh

bayi

saat

menyusui

selain

mempengaruhi produksi hormon prolaktin juga mempengaruhi hipofisis posterior


memproduksi hormon oksitosin. Hormon ini berfungsi memacu kontraksi otot
polos yang ada di dinding alveolus dan dinding saluran, sehingga ASI dipompa
keluar. Makin sering menyusui, pengosongan alveolus dan saluran makin baik,
sehingga kemungkinan terjadinya bendungan ASI makin kecil.

Gambar 2.

Refleks aliran (Let

Down Reflek)
Faktor-faktor

yang

meningkatkan

refleks Let Down Reflek adalah :


(a)
(b)
(c)
(d)

Melihat bayi
Mendengarkan suara bayi
Mencium bayi
Memikirkan untuk menyusui bayi

3. Perubahan Psikologis Ibu


Bahiyatun (2009), menerangkan faktor-faktor yang mempengaruhi
suksesnya masa transisi ke masa menjadi orang tua, yaitu:
a. Respon dan dukungan dari keluarga
b. Hubungan antara pengalaman melahirkan
c. Pengalaman melahirkan dan membesarkan anak, dan pengaruh budaya.
Periode ini diuraikan dalam tiga tahap, yaitu:
1) Taking in
Periode ini terjadi pada hari pertama sampai hari kedua sesudah melahirkan.
Ibu pada umumnya pasif, perhatiannya tertuju pada kekhawatiran akan tubuhnya.
2) Taking hold
Periode ini berlangsung hari kedua sampai keempat postpartum. Ibu
berusaha keras untuk menguasai ketrampilan untuk merawat bayi,
3) Letting go
Periode letting go terjadi setelah ibu pulang ke rumah dan sangat
berpengaruh terhadap waktu dan perhatian yang diberikan oleh keluarga. Ibu
mulai mengambil tanggung jawab terhadap perawatan bayi.

4. Kebijakan Masa Nifas


Kebijakan program nasional masa nifas mewajibkan paling sedikit empat
kali kunjungan masa nifas untuk mencegah, mendeteksi dan menangani masalah
yang terjadi. Menurut Saifuddin (2009), kebijakan nasional kunjungan masa nifas
terdiri atas:
a. 6-8 jam setelah persalinan
Asuhan yang diberikan pada kunjungan nifas 6-8 jam yaitu untuk :
i. mencegah perdarahan masa nifas oleh karena atonia uteri.
ii. Mendeteksi penyebab lain perdarahan serta melakukan rujukan

bila

perdarahan berlanjut.
iii. Memberikan konseling pada ibu tentang cara mencegah perdarahan yang
iv.
v.
vi.
b.
1)
2)
3)

disebabkan atonia uteri.


Pemberian ASI awal.
Mengajarkan cara mempererat hubungan antara ibu dan bayi baru lahir.
Menjaga bayi tetap sehat melalui pencegahan hipotermi.
6 hari setelah persalinan
Memastikan involusi uterus barjalan dengan normal.
Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi dan perdarahan.
Memastikan ibu mendapat makanan yang bergizi dan cukup cairan dan

mendapat istirahat yang cukup.


4) Memberikan konseling tentang perawatan bayi baru lahir.

Memastikan

ibu menyusui dengan baik dan benar.


c. 2 minggu setelah persalinan
Asuhan pada 2 minggu post partum sama dengan asuhan yang diberikan pada
kunjungan 6 hari post partum.
d. 6 minggu pada masa nifas
1) Menanyakan penyulit-penyulit yang dialami ibu selama masa nifas.
2) Memberikan konseling KB secara dini.
5. Standar Asuhan Ibu Nifas Normal
Saifuddin (2009), menerangkan standar asuhan ibu nifas normal, yaitu:
a. Kebersihan diri
Mengajarkan ibu bagaimana membersihkan daerah kelamin, mengingatkan
ibu untuk membersihkan diri setiap kali buang air kecil dan buang air besar.
Sarankan ibu mengganti pembalut setidaknya dua kali sehari, sarankan ibu

membersihkan tangan dengan sabun atau air sebelum dan sesudah membersihkan
daerah kelaminnya. Jika ibu ada luka episiotomi, sarankan untuk menghindari
menyentuh daerah luka.
b. Istirahat
Menganjurkan ibu untuk memenuhi kebutuhan istirahatnya, karena kurang
istirahat akan mempengaruhi produksi ASI, memperlambat proses involusi uters,
menyebabkan depresi dan tidak mampu untuk merawat bayi.
c. Latihan
Memberikan informasi kepada ibu tentang pentingnya mengembalikanotototot perut dan panggul kembali normal. Jelaskan bahwa beberapa latihan senam
nifas dapat mempercepat mengencangkan otot-otot perut dan panggul.
d. Gizi
Ibu menyusui harus mengkonsumsi tambahan 500 kalori setiap hari. Makan
dengan diet berimbang untuk mendapatkan protein, mineral, dan vitamin yang
cukup. Minum sedikitnya tiga liter setiap hari. Konsumsi zat besi selama 40 hari
pasca persalinan. Minum kapsul vitamin A (200.000 unit) agar bisa memberikan
vitamin A kepada bayi lewat Air Susu Ibu (ASI) yang diberikan.
e. Perawatan payudara
Menjaga payudara tetap bersih dan kering, apabila putting susu lecet
oleskan kolostrum atau ASI setiap kali selesai menyusui. Menyusui tetap
dilakukan dimulai dari putting susu yang tidak lecet, apabila lecet sangat berat
maka dapat diistirahatkan 24 jam. Apabila payudara bengkak karena bendungan
ASI dapat ditangani dengan cara mengompres payudara dengan menggunakan
kain basah dan hangat, coba keluarkan ASI, jika keluar bayi dapat segera disusui,
selesai menyusui kompres kembali menggunakan kain dingin pada payudara
B. Tujuan Masa Nifas
Tujuan dari pemberian asuhan kebidanan pada masa nifas adalah sebagai berikut :

1. Menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologis


2. Mendeteksi masalah, mengobati, dan merujuk bila terjadi komplikasi pada
ibu maupun bayi
3. Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi,
KB, cara dan manfaat menyusui, iminisasi, serta perawatan bayi sehari-hari.
4. Memberikan pelayanan KB
C. Masalah Saat Menyusui
Kegagalan dalam proses menyusui sering disebabkan karena timbulnya
beberapa masalah, baik masalah pada ibu maupun pada bayi. Masalah dari ibu
yang timbul selama menyusui dapat timbul sejak sebelum persalinan, pada masa
pasca persalinan dini, dan masa pasca persalinan lanjut. Masalah menyusui dapat
pula disebabkan karena kelainan khusus. Masalah pada bayi umumnya berkaitan
dengan manajemen laktasi, sehingga bayi sering menjadi bingung puting atau
sering menangis, yang sering diinterpretasikan oleh ibu dan keluarga bahwa ASI
tidak tepat untuk bayinya (Suradi, 2004).
Rosita (2008) mengemukakan bahwa terdapat beberapa masalah yang dapat
menghambat proses menyusui. Permasalahan yang sering terjadi dan cara
mengatasinya antara lain :
1. Puting mengalami perlukaan (puting lecet dan nyeri)
Keadaan seperti ini sering terjadi pada ibu menyusui, dikarenakan kesalahan
teknik melepaskan puting dari mulut bayi setelah selesai menyusui. Perawatan
payudara yang tidak benar juga mengakibatkan puting lecet karena membiarkan
puting dalam keadaan basah dan akan menumbuhkan kuman dan menimbulkan
infeksi serta lecet.
2. Payudara mengalami pembengkakan
Payudara yang bengkak biasanya dikarenakan bayi tidak sering menyusu
atau bayi malas menyusu mengakibatkan ASI menumpuk didalam payudara.
3. Bentuk putting melekat ke dalam (retracted nipple)

Masalah rectracted nipple sering terjadi pada ibu menyusui, penyebabnya


sampai saat ini belum diketahui secara pasti. Kemungkinan karena bawaan bentuk
payudara sejak lahir.
4. Saluran untuk keluarnya ASI tersumbat
Saluran ASI yang tersumbat akan mengakibatkan terjadinya benjolan pada
salah satu bagian payudara, misalnya ada benjolan di atas atau di bawah payudara.
Biasanya karena aliran darah yang tidak lancar ataupun karena payudara jarang
dihisap oleh bayi.
D. Pengertian Payudara Bengkak
1. Pengertian
Payudara bengkak adalah payudara yang mengalami pembengkakan oleh
karena masih adanya sisa ASI yang terkumpul pada saluran payudara sehingga
mengakibatkan terjadinya pembengkakan. Payudara bengkak ini sering terjadi
pada hari ketiga atau keempat sesudah ibu melahirkan.
Perbedaan payudara penuh dengan payudara bengkak adalah :
a. Payudara penuh : rasa berat pada payudara, panas dan keras
b. Payudara bengkak : payudara oedema, sakit, puting susu kencang, kulit
mengkilat walau tidak merah, dan bila diperiksa/dihisap ASI tidak keluar.
Badan bisa demam setelah 24 jam.
2. Tanda Gejala
Tanda dan gejala payudara bengkak adalah sebagai berikut :
1) Payudara ibu terlihat bengkak karena terdapat pengumpulan ASI di saluran
payudara.
2) Payudara ibu terasa sakit.
3) Puting susu kencang.
4) Kulit pada payudara mengkilat walau tidak merah. Jika merah dan berisi
nanah, payudara ibu mengalami radang.
5) ASI tidak keluar.
6) Badan ibu menjadi demam setelah 24 jam.

3. Faktor Penyebab Payudara Bengkak dan Pencegahannya


a. Adapun penyebab dari payudara bengkak adalah sebagai berikut :
1) Ibu tidak menyusu dini.
Inisiasi menyusu dini ( early initiation ) atau permulaan menyusu dini adalah
bayi mulai menyusui sendiri segera setalah lahir. Cara bayi melakukan inisasi
menyusu dini ini dinamakan the breast crawl atau merangkak mencari
payudara.
2) Perlekatan yang tidak baik antara ibu dan bayinya.
Terdapat berbagai macam posisi menyusui. Cara menyusui yang tergolong
biasa dilakukan adalah dengan duduk, berdiri, atau berbaring.
Ada posisi khusus yang berkaitan dengan situasi tertentu, seperti ibu
pascaoperasi caesar. Bayi diletakkan disamping kepala ibu dengan posisi kaki
diatas. Pada ASI yang memancar ( penuh ), bayi ditengkurapkan diatas dada
ibu, tangan ibu sedikit menahan kepala bayi, sehingga dengan posisi ini bayi
tidak tersedak.
3) Tidak menyusui semau bayi (on demand).
Penting bahwa bayi untuk minum air susu apabila ia menginginkannya dan
selama ia ingin minum. Oleh karena itu, penyediaannya jangan sampai tidak
cukup atau berlebihan. Apabila air susu yang diproduksi tidak dikeluarkan,
maka laktasi akan tertekan ( mengalami hambatan ) karena terjadi
pembengkakan alveoli dan sel keranjang tidak dapat berkontraksi. Air susu
ibu tidak dapat dipaksa masuk ke dalam duktus laktifer. Rutinitas dan pola
minum air susu ibu akan terbentuk dan minumnya akan lebih jarang apabila
laktasi tidak berfungsi penuh.
4) Tidak menyusui sampai payudara kosong atau setelah menyusui payudara
tidak dikosongkan.
Bayi sebaiknya mengosongkan payudara sebelum diberikan payudara yang
lain. Apabila bayi tidak mengosongkan yang kedua, maka pada pemberian air

susu yang berikutnya payudara kedua ini yang diberikan pertama kali. Atau
bayi mungkin sudah kenyang dengan satu payudara, maka payudara yang
kedua digunakan pada pemberian air susu berikutnya.
5) Ibu menyusui tidak continue atau ibu menyusui tidak secara berkelanjutan.
6) Penggunaan BH yang ketat serta keadaan puting susu yang tidak bersih dapat
menyebabkan sumbatan pada duktus.
b. Pencegahan
1) Menyusui bayi segera setelah lahir (Inisiasi Menyusu Dini) dengan posisi dan
perlekatan yang benar.
2) Menyusui bayi tanpa jadwal semau bayi.
3) Keluarkan ASI dengan tangan/pompa bila produksi melebihi kebutuhan bayi.
4) Jangan memberikan minuman lain pada bayi. Berikan bayi ASI eksklusif.
5) Usahakan menyusui sampai payudara terasa kosong atau setelah menyusui
payudara dikosongkan.

E. Konsep Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas


Manajemen kebidanan adalah suatu pendekatan proses pemecahan
masalah yang digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan
tindakan berdasarkan teori ilmiah, temuan, keterampilan dalam rangkaian/tahapan
yang logis untuk mengambil suatu keputusan yang terfokus pada klien (Varney,
1997). Menurut Helen Varney, proses manajemen kebidanan terdiri dari 7 langkah
yang berurutan, dimulai dari:
1.

Pengkajian

2.

Interpretasi data

3.

Diagnosa/masalah potensial

4.

Kebutuhan tindakan segera

5.

Rencana asuhan kebidanan

6.

Implementasi/pelaksanaan

7.

Evaluasi

1. Pengkajian
Pengkajian merupakan langkah mengumpulkan semua data yang akurat
dan lengkap dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi klien secara
keseluruhan. Bidan dapat melakukan pengkajian dengan efektif, maka harus
menggunakan format pengkajian yang terstandar agar pertanyaan yang diajukan
lebih terarah dan relevan.
Pengkajian data dibagi menjadi:
a.

Data subjektif

b.

Data objektif

a. Data subjektif
Data subjektif diperoleh dengan cara melakukan anamnesa. Anamnesa
adalah pengkajian dalam rangka mendapatkan data pasien dengan cara
mengajukan pertanyaan-pertanyaan, baik secara langsung pada pasien ibu nifas
maupun kepada keluarga pasien. Bagian penting dari anamnesa adalah data

subjektif pasien ibu nifas yang meliputi: biodata/identitas pasien dan suami
pasien; alasan masuk dan keluhan; riwayat haid/menstruasi; riwayat perkawinan;
riwayat obstetri (riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu); riwayat
persalinan sekarang; riwayat dan perencanan keluarga berencana; riwayat
kesehatan (kesehatan sekarang, kesehatan yang lalu, kesehatan keluarga); pola
kebiasaan (pola makan dan minum, pola eliminasi, pola aktifitas dan istirahat,
personal hygiene); data pengetahuan, psikososial, spiri
b. Data objektif
Data objektif dapat diperoleh melalui pemeriksaan fisik sesuai dengan
kebutuhan dan pemeriksaan tandatanda vital; dan pemeriksaan penunjang.
Pemeriksaan fisik dilakukan dengan cara inspeksi, palpasi, auskultasi dan perkusi.
Pemeriksaan fisik meliputi: pemeriksaan keadaan umum pasien; kesadaran pasien;
tanda vital; kepala dan wajah (kepala, muka, hidung dan telinga); gigi dan mulut
(bibir, gigi dan gusi); leher; dada dan payudara; abdomen; ekstremitas
(ekstremitas atas dan bawah); genetalia (vagina, kelenjar bartholini, pengeluaran
pervaginam, perineum dan anus).
Sedangkan pemeriksaan penunjang dapat diperoleh melalui pemeriksaan
laboratorium (kadar Hb, hematokrit, leukosit, golongan darah), USG, rontgen dan
sebagainya.

2. Interpretasi data

Interpretasi data merupakan identifikasi terhadap diagnosa, masalah dan


kebutuhan pasien pada ibu nifas berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data
yang telah dikumpulkan. Diagnosa dapat didefinisikan, masalah tidak.
Pada langkah ini mencakup :
a.

Menentukan keadaan normal.

b.

Membedakan antara ketidaknyamanan dan kemungkinan komplikasi.

c.

Identifikasi tanda dan gejala kemungkinan komplikasi.

d.

Identifikasi keb

Interpretasi data meliputi:


a.

Diagnosa kebidanan

b.

Masalah

c.

Kebutuhan

3. Diagnosis kebidanan
Diagnosis yang ditegakkan oleh profesi (bidan) dalam lingkup praktik kebidanan
dan memenuhi standar Nomenklatur (tata nama) diagnosis kebidanan, yaitu :
a.

Diakui dan telah di di sahkan oleh profesi.

b.

Berhubungan langsung dengan praktisi kebidanan.

c.

Memiliki ciri khas kebidanan.

d.

Didukung oleh clinical judgement dalam praktik kebidanan.

e.

Dapat diselesaikan dengan pendekatan manajemen kebidanan.

Diagnosa dapat berkaitan dengan para, abortus, anak hidup, umur ibu dan keadaan
nifas. kemudian ditegakkan dengan data dasar subjektif dan objektif.

4. Masalah
Masalah dirumuskan bila bidan bila menemukan kesenjangan yang terjadi
pada respon ibu terhadap masa nifas. Masalah ini terjadi belum termasuk dalam
rumusan diagnosis yang ada, tetapi masalah tersebut membutuhan penanganan
bidan, maka masalah dirumuskan setelah diagnosa. Permasalahan yang muncul
merupakan pernyataan dari pasien, ditunjang dengan data dasar baik subjektif
maupun objektif.

5. Diagnosa/ Masalah Potensial


Langkah ini merupakan langkah antisipasi, sehingga dalam melakukan
asuhan kebidanan, bidan dituntut untuk mengantisipasi permasalahan yang akan
timbul dari kondisi yang ada.

6. Kebutuhan Tindakan Segera

Setelah merumuskan tindakan yang perlu dilakukan untuk mengantisipasi


diagnosa/masalah potensial pada langkah sebelumnya, bidan juga harus
merumuskan tindakan emergensi yang harus dirumuskan untuk menyelamatkan
ibu dan bayi, secara mandiri, kolaborasi atau rujukan berdasarkan kondisi klien.

7. Rencana asuhan kebidanan


Langkah ini ditentukan dari hasil kajian pada langkah sebelumnya. Jika
ada informasi/data yang tidak lengkap bisa dilengkapi. Merupakan kelanjutan
penatalaksanaan terhadap masalah atau diagnosa yang telah diidentifikasi atau
diantisipasi yang sifatnya segera atau rutin. Rencana asuhan dibuat berdasarkan
pertimbangan yang tepat, baik dari pengetahuan, teori yang up to date, dan
divalidasikan dengan kebutuhan pasien. Penyusunan rencana asuhan sebaiknya
melibatkan pasien. Sebelum pelaksanaan rencana asuhan, sebaiknya dilakukan
kesepakatan antara bidan dan pasien ke dalam informed consent.
Rencana Asuhan Kebidanan Pada Ibu Nifas dengan Payudara Bengkak :
a. Sebaiknya, ASI diperas dengan tangan sebelum ibu menyusui.
b. Lakukan kompres dingin untuk mengurangi rasa nyeri dan dapat dilakukan
secara bergantian dengan kompres panas untuk melancarkan aliran darah.
c. Usahakan ibu menyusui lebih sering dan lebih lama pada payudara yang
bengkak untuk melancarkan aliran ASI dan menurunkan tegangan payudara.

d. Gunakanlah bra yang nyaman bagi ibu. Jangan menggunakan bra yang terlalu
ketat.
e. Pada saat menyusui, hendaknya menggunakan posisi yang nyaman bagi ibu
dan bayi sehingga saat menyusui payudara ibu tidak terlalu nyeri dan
menghindari putting lecet.

8. Implementasi
Pelaksanaan dapat dilakukan seluruhnya oleh bidan atau bersamasama
dengan klien atau anggota tim kesehatan. Bila tindakan dilakukan oleh dokter atau
tim kesehatan lain, bidan tetap memegang tanggung jawab untuk mengarahkan
kesinambungan asuhan berikutnya. Kaji ulang apakah semua rencana asuhan telah
dilaksanakan.

9. Evaluasi
Pada langkah ini dilakukan evaluasi keefektifan dari asuhan yang telah
diberikan. Evaluasi didasarkan pada harapan pasien yang diidentifikasi saat
merencanakan asuhan kebidanan. Untuk mengetahui keberhasilan asuhan, bidan
mempunyai pertimbangan tertentu antara lain: tujuan asuhan kebidanan;
efektifitas tindakan untuk mengatasi masalah; dan hasil asuhan kebidanan.

DAFTAR PUSTAKA

Ambarwati, 2008. Asuhan Kebidanan Nifas. Yogyakarta: Mitra Cendikia. (hlm:


47-49).
Depkes RI 2005. Kebijakan Departemen Kesehatan Tentang Peningkatan
Pemberian ASI Pekerja Wanita. www.depkes.go.id
Dhyanti dan Muki. 2009. Konsep Dasar Masa Nifas. Jakarta : Gramedia
Eny Retna Ambarwati, S.SiT, M.Kes, Asuhan Kebidanan Nifas. 2010. (online)
Available : http://www.idai.or.id/asi/artikel.aspq=2009421101430 2009.
Payudara Bengkak. (04 April 2013)
Kurniasih, D. 2011. Bila Payudara Bengkak Saat Menyusui. (online). Available :
http://www.menyusui.net/problem-menyusui/bila-payudara-bengkak-saatmenyusui/ (04 April 2013)
Rosi,

D. 2011. Pengetahuan Ibu Nifas. (online). Available :


http://www.bejocommunity.blogspot.com/2010/05/kti-pengetahuan-ibunifas.pdf.html (04 April 2013)

Lusa. 2011. Asuhan Kebidanan Pada Ibu Nifas. (online). Available :


http://www.lusa.web.id/asuhan-kebidanan-pada-ibu-nifas/ (05 April 2013)
Hanifa Wiknjosastro. 2002. Konsep Dasar Keluarga Berencana. Jakarta :
Gramedia
Sarwono. 2006. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
Saleha, Siti. 2009. Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas. Jakarta: Salemba
Medika.
Sulistyawati, Ari. 2009. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Pada Ibu Nifas.
Yogyakarta:
Andi.

.
http://iapindonesia.com/IAPI/?