Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

PENDAHULUAN
ANALISIS PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Disusun untuk memenuhi tugas
Mata Kuliah Analisis Pengambilan Keputusan

DISUSUN OLEH :
MOHAMMAD NUZULUL SAPUTRO

1711-023

MANAJEMEN BISNIS INDUSTRI


SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INDUSTRI
KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN
JAKARTA
2014

I. Pengertian Pengambilan Keputusan


a. Pengertian Keputusan
Terdapat beberapa pengertian keputusan yang telah disampaikan oleh para
ahli, diantaranya adalah sebagai berikut :
(1).Menurut Ralp C. Davis
Keputusan adalah hasil pemecahan masalah yang dihadapinya dengan tegas.
Suatu keputusan merupakan jawaban yang pasti terhadap suatu pertanyaan.
Keputusan harus menjawab pertanyaan tentang apa yang dibicarakan dalam
hubungannya dengan perencanaan. Keputusan dapat pula berupa tindakan
terhadap pelaksanaan yang sangat menyimpang dari rencana semula.
(2).Menurut Mary Follet
Keputusan adalah suatu hukum atau sebagai hukum situasi.
Apabila semua fakta dari situasi itu dapat diperolehnya dan semua yang
terlibat, baik pengawas maupun pelaksana mau mentaati hukumnya atau
ketentuannya, maka tidak sama dengan mentaati perintah. Wewenang tinggal
dijalankan, tetapi itu merupakan wewengan dari hukum situasi.
(3).Menurut James A.F. Stoner
Keputusan adalah pemilihan diantara alternatif-alternatif. Definisi ini
mengandung tiga pengertian, yaitu :
Ada pilihan dasar logika atau pertimbangan
Ada beberapa alternatif yang harus dan dipilih salah satu yang terbaik
Ada tujuan yang ingin dicapai, dan keputusan itu makin mendekatkan
pada tujuan tersebut.
(4).Menurut Prof.Dr.Prajudi Atmosudirjo,SH.
Keputusan adalah suatu pengakhiran dari proses pemikiran tentang suatu
masalah atau problema untuk menjawab pertanyaan apa yang harus diperbuat
guna mengatasi masalah tersebut, dengan menjatuhkan pilihan pada suatu
alternatif.
Dari pengertian-pengertian keputusan di atas, dapat ditarik suatu kesimpulan
bahwa: keputusan merupakan suatu pemecahan masalah sebagai suatu hukum
situasi yang dilakukan melalui pemilihan satu alternatif dari beberapa alternatif

b. Pengertian Pengambilan Keputusan


Terdapat beberapa pengertian pengambilan keputusan yang telah disampaikan
oleh para ahli, diantaranya adalah sebagai berikut :
(1).Menurut George R. Terry

Pengambilan keputusan adalah pemilihan alternatif perilaku (kelakuan)


tertentu dari dua atau lebih alternatif yang ada.
(2).Menurut S.P. Siagian
Pengambilan keputusan adalah suatu pendekatan yang sistematis terhadap
hakikat alternatif yang dihadapi dan mengambil tindakan yang menurut
perhitungan merupakan tindakan yang paling tepat.
(3).Menurut James A.F. Stoner
Pengambilan keputusan adalah proses yang digunakan untuk memilih suatu
tindakan sebagai cara pemecahan masalah
Dari pengertian-pengertian pengambilan keputusan di atas, dapat ditarik suatu
kesimpulan bahwa : Pengambilan keputusan merupakan suatu proses
pemilihan alternatif terbaik dari beberapa alternatif secara sistematis untuk
ditindaklanjuti (digunakan) sebagai suatu cara pemecahan masalah
II. Proses Pengambilan Keputusan
a. Proses Pengambilan Keputusan
Proses pengambilan keputusan merupakan tahap-tahap yang harus dilalui atau
digunakan untuk membuat keputusan. Tahap-tahap ini merupakan kerangka
dasar, sehingga setiap tahap dapat dikembangkan lagi menjadi beberapa sub
tahap (disebut langkah) yang lebih khusus/spesifik dan lebih operasional.
Secara umum, proses pengambilan keputusan terdiri atas tiga tahap, yaitu
sebagai berikut :
(1).Penemuan Masalah
Tahap ini merupakan tahap untuk mendefinisikan masalah dengan jelas,
sehingga perbedaan antara masalah dan bukan masalah (misalnya isu) menjadi
jelas.
(2).Pemecahan Masalah
Tahap ini merupakan tahap penyelesaian terhadap masalah yang sudah ada
atau sudah jelas. Langkah-langkah yang diambil adalah sebagai berikut :

Identifikasi alterntif-alternatif keputusan untuk memecahkan masalah

Perhitungan mengenai faktor-faktor yang tidak dapat diketahui


sebelumnya atau di luar jangkauan manusia, identifikasi peristiwaperistiwa di masa datang (state of nature)

Pembuatan alat (sarana) untuk mengevaluasi atau mengukur hasil,


biasanya berbentuk tabel hasil (pay off table).

Pemilihan dan penggunaan model pengambilan keputusan

(3).Pengambilan Keputusan
Keputusan yang diambil adalah berdasarkan pada keadaan lingkungan atau
kondisi yang ada, seperti kondisi pasti, kondisi beresiko, kondisi tidak pasti,
dan kondisi konflik.
b. Pendapat Para Ahli tentang Proses Pengambilan Keputusan
(1).Menurut Simon (1960)
Simon (1960) mengajukan model yang menggambarkan proses pengambilan
keputusan. Proses ini terdiri atas tiga fase, yaitu :
1. Intelligence
Tahap ini merupakan proses penelusuran dan pendeteksian dari lingkup
problematika serta proses pengenalan masalah. Data masukan diperoleh,
diproses, dan diuji dalam rangka mengidentifikasikan masalah.
2. Design
Tahap ini merupakan proses menemukan, mengembangkan, dan menganalisis
alternatif tindakan yang bisa dilakukan. Tahap ini meliputi proses untuk
mengerti masalah, menurunkan solusi, dan menguji kelayakan solusi.
3. Choice
Pada tahap ini dilakukan proses pemilihan diantara berbagai alternatif tindakan
yang mungkin dijalankan. Hasil pemilihan tersebut kemudian
diimplementasikan dalam proses pengambilan keputusan.

Ketiga langkah proses pengambilan keputusan yang telah disampaikan oleh


Simon (1960) dapat digambarkan sebagai berikut :

INTELLIGENCE
(Penelusuran Lingkup Masalah)

Sistem Infromasi Manajemen/


Pengolahan Data Elektronik

DESIGN
(Perancangan Penyelesaian Masalah)
CHOICE
(Pemilihan Tindakan)

Ilmu Manajemen/
Operation Research

IMPLEMENTATION
(Pelaksanaan Tindakan)

Gambar 1.1 Fase Proses Pengambilan Keputusan


Meskipun implementasi termasuk tahap ketiga, namun ada beberapa pihak
berpendapat bahwa tahap ini perlu dipandang sebagai bagian yang terpisah
guna menggambarkan hubungan antar fase secara lebih komprehensif. Dalam
hal ini, Model Simon juga menggambarkan kontribusi Sistem Informasi
Manajemen (SIM) dan Ilmu Manajemen/Operations Research (IM/OR)
terhadap proses pengambilan keputusan.
Dari gambar dan deskripsi di atas, jelas bahwa Pengolahan Data Elektronik
(PDE) dan SIM mempunyai kontribusi dalam fase Intelligence, sedangkan
IM/OR berperan penting dalam fase Choice. Tidak tampak pendukung yang
berarti pada tahap design.
(2).Menurut Richard I. Levin, dkk
Menurut Richard, et., all. Proses Pengambilan Keputusan terdiri atas 6 tahap,
yaitu sebagai berikut :
1. Observasi
Tahap ini berupa (aktivitas proses) kunjungan lapangan, konprensi, observasi,
dan riset yang dapat menjadi informasi dan data penunjang.
2. Analisis dan Pengenalan Masalah
Tahap ini dapat berupa (aktivitas proses) penentuan penggunaan, penentuan
tujuan, dan penentuan batasan-batasan yang dapat menjadi pedoman atau
petunjuk yang jelas untuk mencari pemecahan yang dibutuhkan.
3. Pengembangan Model

Tahap ini dapat berupa (aktivitas proses) peralatan pengambilan keputusan


antar hubungan model matematik, riset yang dapat menjadi (output proses)
model yang berfungsi di bawah batasan lingkungan yang telah ditetapkan.
4. Memilih Data Masukan yang Sesuai
Tahap ini dapat berupa data internal dan eksternal, kenyataan, pendapat, serta
data bank komputer yang dapat menjadi (output process) input yang memadai
untuk mengerjakan dan menguji model yang digunakan.
5. Perumusan dan Pengujian
Tahap ini berupa pengujian, batasan, dan pembuktian yang dapat menjadi
pemecahan yang membantu pencapaian tujuan.
6. Penerapan Pemecahan
Tahap ini berupa pembahasan perilaku, pelontaran ide, pelibatan manajemen,
serta penjelasan yang menjadi pemahaman manajemen untuk menunjang
model operasi dalam jangka yang lebih panjang.
(3).Menurut Sir Francis Bacon
Menurut Sir Francis Bacon Proses Pengambilan Keputusan terdiri atas 6 tahap,
yaitu sebagai berikut :
1. Merumuskan/Mendefiniskan Masalah
Tahap ini merupakan usaha untuk mencari permasalahan yang sebenarnya
2. Pengumpulan Informasi yang Relevan
Tahap ini merupakan pencarian faktor-faktor yang mungkin terjadi sehingga
dapat diketahui penyebab timbulnya masalah
3. Mencari Alternatif Tindakan
Tahap ini merupakan pencarian kemungkinan yang dapat ditempuh
berdasarkan data dan permasalahan yang ada
4. Analisis Alternatif
Tahap ini merupakan analisis terhadap setiap alternatif menurut kriteria
tertentu yang sifatnya kualitatif atau kuantitatif
5. Memilih Alternatif Terbaik
Tahap ini merupakan pemilihan alternatif terbaik yang dilakukan atas kriteria
dan skala prioritas tertentu
6. Melaksanakan Keputusan dan Evaluasi Hasil
Tahap ini merupakan tahap pelaksanaan dan pengambilan tindakan. Umumnya
tindakan ini dituangkan ke dalam rencana tindakan. Evaluasi hasil
memberikan masukan/umpan balik yang bergunan untuk memperbaiki suatu
keputusan atau mengubah tujuan semula karena telah terjadi perubahanperubahan.
(4).Menurut Prof.Dr.S.Prajudi Atmosudirjo
Menurut Prof.Dr.S.Prajudi Atmosudirjo Proses Pengambilan Keputusan terdiri
atas 5 tahap, yaitu sebagai berikut :
5

1. Seseorang mula-mula harus menyadari dan menempatkan diri sebagai


pimpinan dalam organisai dan bertanggung jawab sebagai pimpinan
organisasi serta harus memutuskan sesuatu jika dalam organisasi tersebut
muncul masalah.
2. Masalah yang dihadapi, terlebih dahulu harus ditelaah, mengingat masalah
tersebut memiliki macam-macam sifat, bentuk dan kompleksitasnya.
3. Setelah ditelaah, kemudian harus dianalisis situasi yang mempengaruhi
organisasi dan masalahnya.
4. Menelaah keputusan yang dibuatnya, terutama yang ditelaah adalah
alternatif-alternatif yang dikemukakan dengan konsekuensi masing-masing
untuk kemudia dipilih satu di antara alternatif-alternatif tersebut yang
dianggap paling tepat
5. Setelah keputusan diambil, kemudian keputusan itu dilaksanakan.
Keberhasilannya tergantung pada jiwa dan manajemen dari kepemimpinan.
III.Jenis-Jenis Pengambilan Keputusan
a. Pengambilan Keputusan Individu
Robin

(1991)

mengemukakan

model-model

pengambilan

keputusan

individual, dengan pendekatan contongency (model pengambilan keputusan


yang dipilih dan diguanakan sesuai dengan situasi tertentu, antara lain sebagai
berikut :
(1).The Satisficing Model
Esensi dari the satisficing model, pada saat dihadapkan pada masalah
kompleks, pengambil keputusan berusaha menyederhanakan masalah-masalah
pelik sampai pada tingkat dimana dia siap untuk memahaminya. Dalam model
ini pembatasan proses pemikiran diarahkan pada pengambilan keputusan
dengan

bounded

rationality

(rasionalitas

terbatas),

yaitu

proses

penyederhanaan model dengan mengambil inti masalah yang paling esensial


tanpa melibatkan seluruh permasalahan yang konkrit
Rasionalitas terbatas adalah batas-batas pemikiran yang memaksa orang
membatasi pandangan mereka atas masalah dan situasi. Pemikiran itu terbatas,
karena pikiran manusia tidak memiliki kemampuan untuk memisahkan dan
mengolah informasi yang bertumpuk. Bagi para pengambil keputusan,
daripada mempertimbangkan enam atau delapan alternatif, lebih baik cukup
bekerja dengan dua atau tiga alternatif untuk mencegah kekacauan. Pada
dasarnya, manusia sudah berpikir logis dan rasional, tetapi dalam batas-batas
yang sempit.
6

Langkah-langkah model pengambilan keputusan ini (the satisficing model)


adalah sebagai berikut :
Penetapan tujuan pengambilan keputusan berkaitan dengan adanya

masalah tertentu.
Menyederhanakan masalah
Penetapan standar minimum dari serangkaian kriteria keputusan
Mengidentifikasi serangkaian alternatif yang dibatasi
Menganalisis dan membandingkan setiap alternatif, apakah memenuhi
kendala, lebih besar atau sama dengan standar minimum dari

serangkaian keputusan
Apakah alternatif yang memenuhi syarat itu ada ?
Jika ya, pilih salah satu alternatif yang dianggap terbaik
Jika tidak, dilakukan kembali pencarian alternatif seperti pada langkah
kelima

MASALAH
Perumusan
Kebutuhan akan
Keputusan

MASALAH

Penyederhanaan
Masalah

Standar
Minimum
x
y
z

Perumusan
Kriteria

A1
A2
A3

Identifikasi
Alternatif

1. A1 > x, y, z ?
2. A2 > x, y, z ?
3. A3 > x, y, z ?
Bandingkan alternatifalternatif berdasarkan
kriteria yang telah disepakati

?
Ya

Ada alternatif yang


memuaskan ?

Pilihan
Memuaskan
Penentuan
Pilihan Terbaik

Tidak

A4
A5

Cari Alternatif Lain

Gambar 1.2 The Satisficing Model (Robbins, 1991)


(2).The Optimizing Decision Making Model
Dalam model ini, decesion maker yang penuh keyakinan berusaha menyusun
alternatif-alternatif, memperhitungkan untung rugi dari setiap alternatif itu
terhadap tujuan organisasi. Setelah itu, diperkirakan kemungkinan timbulnya
bermacam-macam kerjadian di kemudian hari, mempertimbangkan dampak
dari kejadian-kejadian itu terhadap alternatif-alternatif yang telah dirumuskan,
dan menyusun urut-urutannya secara sistematis sesuai prioritas. Barulah dibuat
keputusan yang dianggap sudah optimal karena telah memperhitungkan semua
faktor yang berkaitan dengan keputusan tersebut.

Model ini menggambarkan bagaimana individu harus memaksimalkan hasil


dari keputusan yang diambilnya. Lima tahap/langkah yang harus diikuti, baik
secara implisit maupun eksplisit dalam proses keputusan menurut model ini,
yaitu :

Tegaskan kebutuhan untuk suatu keputusan

Identifikasi kriteria keputusan

Alokasi bobot nilai pada kriteria

Kembangkan berbagai alternatif

Evaluasi alternatif-alternatif tersebut di atas

Pilih alternatif terbaik

(3).The Implicit Favorite Model


Model ini dirancang dalam kaitan dengan keputusan kompleks dan tidak rutin.
Model ini menyangkut proses penyederhanaan masalah yang kompleks oleh
individu pembuat keputusan. Bedanya dengan satisficing model, bahwa model
ini tidak memasuki tahap pengambilan keputusan melalui pengevaluasian
alternatif yang cukup sulit karena perlu rasional dan obyektif.

A1

Pemilihan
Alternatif yang
Disukai
MASALAH
Perumusan
Kebutuhan akan
Keputusan

A1
?
A2

Identifikasi
Calon Alternatif
Pembanding

A3

Identifikasi
Alternatif

A1

atau

A2

Pembandingan
Alternatif

Kriteia

Implicit
Favorite

A1

Perumusan Kriteria
Tambahan

Pemilihan Alternatif
Idaman

Gambar 1.3 The Implicit Favorite Model (Robbins, 1991)


Dari gambar di atas, dapat dijelaskan langkah-langkah dari model ini, yaitu
sebagai berikut :

Menentukan kebutuhan untuk mengambil keputusan karena ada


masalah

Mengidentifikasi alternatif dan langsung menetapkan pilihan satu


alternatif menurut preferensinya

Mengidentifikasi alternatif lain, kemudian dipilih lagi satu alternatif


lain sebagai pembanding untuk mengukuhkan alternatif favorit.

Memilih alternatif yang menjadi idaman pengambil keputusan.

(4).The Intuitive Model


The intuitive decesion making didefinisikan sebagai suatu proses bawah
sadar/tidak sadar yang timbul atau tercipta akibat pengalaman yang terseleksi.
Model ini tidak berarti sama sekali dilaksanakan tanpa analisis rasional.
Irasional dan rasional saling melengkapi dalam proses keputusan. Terdapat dua
pendekatan dalam menggunakan model ini, yaitu :

A front end approach

Pengambil keputusan mencoba untuk menghindari menganalisis masalah


secara

sistematis.

mengembangkan

Di
suatu

sini

intuisi

gagasan

diberi

yang

kekuasaan

mencoba

penuh

untuk

untuk

memunculkan

kemungkinan-kemungkinan yang luar biasa. Jadi keputusan tidak dibangun


dari data yang lalu.

A back end approach

Pengambilan keputusan menggunakan intuisi dengan bersandar pad analisis,


rasional, untuk mengidentifikan dan mengalikasi bobot nilai kriteria. Seperti
halnya untuk mengambang dan mengevalusi berbagai alterantif. Pada saat
tahap ini sudah dilaksanakan, si pengambil keputusan beristirahat satu atau
dua hari dari kegiatan keputusan ini, sebelum menentukan pilihan keputusan
akhir (final).

b. Pengambilan Keputusan Kelompok


Menurut Bodily (1985) model pengambilan keputusan kelompok dimulai dari
bentuk metode yang sederhana berlanjut ke bentuk lebih canggih, yang paling
baik dilaksanakan adalah dengan bantuan komputer. Bodily ingin
menggambarkan bahwa apapun metodenya, pada dasarnya harus dapat
memasukkan preferensi individu dan selanjutnya dapat mengakomodasikan
berbagai kepentingan kelompok.
Beberapa metode pengambilan keputusan kelompok yang dikemukakan oleh
Bodily, anatara lain sebagai berikut :
(1).Pareto Optimality
Perangkat optimal pareto memilih satu alternatif yang tidak didominasi oleh
alternatif lainnya. Kekurangan dari Pareto adalah adanya peringkat alternatifalternatif yang lengkap yang belum diidentifikasi sehingga setiap individu
memperoleh keuntungan dengan beralih dari alternatif non-Pareto ke alternatif
optimal pareto, karena pilihan kelompok dimulai jika perangkat pareto telah
diidentifikasi.

Pendekatan

yang

lebih

baik

adalah

terlebih

dahulu

10

mengidentifikasi alternatif optimal pareto. Jika ada beberapa alternatif pareto,


dibutuhkan metode lain untuk memilih satu alternatif.
(2).The Nash Bargaining Solution
Salah satu cara memandang masalah keputusan kelompok adalah tawar
menawar (bargaining). Nash merumuskan masalah tawar menawar ini sampai
kepada solusinya. Hasilnya adalah para pelaku harus meningkatkan produk
yang bermanfaat bagi mereka masing-masing (product individual utilities).
Peranan solusi Nash tersebut adalah menghitung sejauh mana keuntungan
relatif dari suatu tawar menawar dengan nilai dasar yang akan berlaku, bila
tidak ada kesepakatan. Pendekatan Nash didasarkan pada pengertian bersaing
dari pembuat keputusan kelompok dan solusi equilibrium terhadap masalah
tawar menawar. Dampak ancaman dari masing-masing pelaku ikut
dipertimbangkan.

Masing-masing

individu

mencari

kebaikan

untuk

kepentingan diri sendiri dan atau kelompoknya.

IV. Model-Model Pengambilan Keputusan


a. Rasional Analitis
Pengambil keputusan rasional analitis mempertimbangkan semua alternatif
dengan segala akibat dari pilihan yang diambilnya, menyusun segala akibat
dan memperlihatkan dan memperhatikan skala pilihan (scale of preference)
yang pasti, dan memilih alternatif yang memberikan hasil maksimum.
Pengambilan keputusan secara rasional analitis menurut Mangkusubroto dan
Trisnadi (1985) dapat digambarkan sebagai berikut :

11

LINGKUNGAN

ANALISIS KEPUTUSAN
Kecerdasan

Tidak pasti
Kompleks
Dinamis
Persaingan
Terbatas

Pilihan

Alternatif
Penetapan
kemungkinan
Persepsi
Infromasi Struktur Model
LOGIKA
Penetapan nilai
Preferensi waktu
Falsafah
Preferensi Preferensi risiko

Keputusan

Hasil

Aksi

Sukses,
tidak

Sensitifitas
nilai informasi

Bingung,
cemas

Berfikir

Puji,
cela

Gambar 1.4 Diagram Pengambilan Keputusan dengan Rational Analysis

b. Intuitif Emosional
Pengambil keputusan dengan intuitif emosional menyukai kebiasaan dan
pengalaman, perasaan yang mendalam, pemikiran yang reflektif dan naluri
dengan menggunakan proses alam bawah sadar. Proses ini dapat didorong oleh
naluri, orientasi kreatif, dan konfrontasi kreatif. Mereka yang menentang
pendekatan ini mengemukakan bahwa cara ini tidak secara efektif
menggunakan semua sarana yang ada bagi keputusan modern.

Model pengambil keputusan yang menggunakan intuisinya seringkali dikritik


sebagi immoral. Kritik yang sering dilontarkan terhadap pengambilan
keputusan dengan intuisi adalah karena kurang mengadakan analisis yang
terkendali maka perhatian hanya ditujukan pada beberapa fakta dan melupakan
banyak elemen penting. Dalam pengambilan keputusan dengan menggunakan
intuisi tidak banyak tergantung pada fakta yang lengkap. Model pengambilan
keputusan dengan intuisi menurut Mangkusubroto dan Trisnadi (1985) dapat
digambarkan sebagai berikut :

12

LINGKUNGAN
Kecerdasan
Pilihan
Tidak pasti
Kompleks
Dinamis
Persaingan
Terbatas

Intuisi

Persepsi

Bingung,
cemas

Informasi

Falsafah

Logika tidak
dapat
diperiksa

Hasil

Keputusan

Preferensi

Rasa tidak
enak

Berfikir

Aksi

Puji,
cela

Sukses,
tidak

Gambar 1.5 Diagram Pengambilan Keputusan dengan Intuitif Emosional

V. Metode-Metode Analisa Pengambilan Keputusan


a. Kewenangan Tanpa Diskusi
Metode pengambilan keputusan ini seringkali digunakan oleh para pemimpin
otokratik atau dalam kepemimpinan militer. Metode ini memiliki beberapa
keuntungan, yaitu cepat, dalam arti ketika organisasi tidak mempunyai waktu
yang cukup untuk memutuskan apa yang harus dilakukan. Selain itu, metode
ini cukup sempurna dapat diterima kalau pengambilan keputusan yang
dilaksanakan

berkaitan

dengan

persoalan-persoalan

rutin

yang

tidak

mempersyaratkan diskusi untuk mendapatkan persetujuan para anggotanya.


Namun demikian, jika metode pengambilan keputusan ini terlalu sering
digunakan, ia akan menimbulkan persoalan-persoalan, seperti munculnya
ketidak percayaan para anggota organisasi terhadap keputusan yang ditentukan
pimpinannya, karena mereka kurang bahkan tidak dilibatkan dalam proses
pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan akan memiliki kualitas yang
lebih bermakna, apabila dibuat secara bersama-sama dengan melibatkan
seluruh anggota kelompok,daripada keputusan yang diambil secara individual.
b. Pendapat Ahli
Kadang-kadang seorang anggota organisasi oleh anggota lainnya diberi
predikat sebagai ahli (expert), sehingga memungkinkannya memiliki kekuatan
dan kekuasaan untuk membuat keputusan. Metode pengambilan keputusan ini
13

akan bekerja dengan baik, apabila seorang anggota organisasi yang dianggap
ahli tersebut memang benar-benar tidak diragukan lagi kemampuannya dalam
hal tertentu oleh anggota lainnya.
Dalam banyak kasus, persoalan orang yang dianggap ahli tersebut bukanlah
masalah yang sederhana, karenasangat sulit menentukan indikator yang dapat
mengukur orang yang dianggap ahli (superior). Ada yang berpendapat bahwa
orang yang ahli adalah orang yang memiliki kualitas terbaik; untuk membuat
keputusan, namun sebaliknya tidak sedikit pula orang yang tidak setuju dengan
ukuran tersebut. Karenanya, menentukan apakah seseorang dalam kelompok
benar-benar ahli adalah persoalan yang rumit.
c. Kewenangan Setelah Diskusi
Sifat otokratik dalam pengambilan keputusan ini lebih sedikit apabila
dibandingkan dengan metode yang pertama. Karena metode authority rule
after discussion ini pertimbangkan pendapat atau opini lebih dari satu anggota
organisasi dalam proses pengambilan keputusan. Dengan demikian, keputusan
yang diambil melalui metode ini akan mengingkatkan kualitas dan tanggung
jawab para anggotanya disamping juga munculnya aspek kecepatan
(quickness) dalam pengambilan keputusan sebagai hasil dari usaha
menghindari proses diskusi yang terlalu meluas. Dengan perkataan lain,
pendapat anggota organisasi sangat diperhatikan dalam proses pembuatan
keputusan, namun perilaku otokratik dari pimpinan, kelompok masih
berpengaruh.
Metode pengambilan keputusan ini juga mempunyai kelemahan, yaitu pada
anggota organisasi akan bersaing untukmempengaruhi pengambil atau
pembuat keputusan. Artinya bagaimana para anggota organisasi yang
mengemukakan pendapatnya dalam proses pengambilan keputusan, berusaha
mempengaruhi

pimpinan

kelompok

bahwa

pendapatnya

yang

perlu

diperhatikan dan dipertimbangkan.


d. Kesepakatan
Kesepakatan atau konsensus akan terjadi kalau semua anggota dari suatu
organisasi mendukung keputusan yang diambil. Metode pengambilan
keputusan ini memiliki keuntungan, yakni partisipasi penuh dari seluruh
anggota organisasi akan dapat meningkatkan kualitas keputusan yang diambil,
sebaik seperti tanggung jawab para anggota dalam mendukung keputusan
tersebut. Selain itu metode konsensus sangat penting khususnya yang
berhubungan dengan persoalan-persoalan yang kritis dan kompleks.
14

Namun demikian, metodepengambilan keputusan yang dilakukan melalui


kesepakatn ini, tidak lepas juga dari kekurangan-kekurangan. Yang paling
menonjol adalah dibutuhkannya waktu yang relatif lebih banyak dan lebih
lama, sehingga metode ini tidak cocok untuk digunakan dalam keadaan
mendesak atau darurat.
Keempat metode pengambilan keputusan di atas, menurut Adler dan Rodman,
tidak ada yang terbaik dalam arti tidak ada ukuran-ukuran yang menjelaskan
bahwa satu metode lebih unggul dibandingkan metode pengambilan keputusan
lainnya. Metode yang paling efektif yang dapat digunakan dalam situasi
tertentu, bergantung pada faktor-faktor:

Jumlah waktu yang ada dan dapat dimanfaatkan,


Tingkat pentingnya keputusan yang akan diambil oleh kelompok, dan
Kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh pemimpin kelompok
dalam mengelola kegiatan pengambilan keputusan tersebut.

Sumber :
http://hutantropis.com/metode-pengambilan-keputusan-dalam-organisasi
http://juliadi.wikispaces.com

15