Anda di halaman 1dari 2

Hadiah kematianku

Pagi terasa malam. Dunia terasa sepi. Hanya hembusan nafas yang menjadi lagu
kesepian dalam ruanganku. Kakiku tak henti menari menikmati dinginnya cuaca. Tanganku
yang lihai sedang menggambar pada putih terbentang. Menikmati secangkir kopi hangat
kuluapkan kesunyian pada kertas tulis. Otakku mengingat-ingat, menerawangi setiap
kejadian lampau. Suara petir menjadi bukti bahwa pagi ini sangat gelap. Tetesan air menjadi
isyarat bahwa langit sedang berduka. Kuhentikan kegiatanku dan menginjakkan kaki
pucatku pada dinginnya lantai dan berjalan menuju teras. Kududuk bersandar pada tembok.
Mulutku menggumam bersenandung merdu, mata kupejamkan, mencari ketenangan dalam
kegelapan. Kurasakan telapak tangan mengelus rambut hitamku, nafasku berhembus
teratur. Kubuka kelopak mataku untuk sekedar menoleh seorang disampingku. Bibirku
menipis membentuk sebuah lengkungan kecil, tanganku kuterbangkan menumpu pada
lengannya, mencoba mencari kehangatan, kueratkan pelukanku pada lengan kurusnya. Ya,
dia kembaranku, dia cerminku, kami mempunyai wajah yang sama, rambut hitam, mata
lebar, bahkan sifat kamipun tak jauh berbeda. Serasa dunia ini hanya ada kami berdua.
Semua yang kami punya selalu sama, namun sayang kita dilahirkan dengan nasib yang
berbeda. Sejak kecil, aku sangat ceria badanku sehat, dan aku normal seperti orang-orang
pada umumnya. Aku bersekolah, belajar dan bermain. Lain halnya dengan kembaranku,
tubuhnya sangat lemah, pipi tirusnya, tubuh kerignya, karena itulah aku mengalah jika ia
ingin ikut bersekolah. Dia tak seperti diriku, setiap hari dia hanya dirumah duduk menantiku
pulang. Terkadang aku iri, sebab dulu ketika orang tuaku masih hidup, dia lebih disayang
oleh orang tuaku, tapi perlahan-lahan kumengerti. Seharusnya aku bersyukur karena
tubuhku tak lemah seperti kembaranku.
Airin, maukah kau menemaniku membeli eskrim? Wajahku menengadah meminta
jawbnya. Ia tersenyum lalu mengangguk kecil. Aku dan Airin berjalan menelusuri lorong
hitam. Tangan kami saling bergenggaman satu sama lain, saling membagi kehangatan.
Kencangnya angin menerpa rambut hitam kami, membuatnya terbang terurai indah di
udara. Raut wajahku berbinar ketika kaki jenjangku berhenti didepan toko eskrim.
Kulangkahkan kakiku memasuki ruangan terang tersebut. Disampingku, Airin mengambil
dua benda padat bersuhu dingin, lalu memberikannya padaku. Aku dan Airinpun pergi keluar
dari ruangan terang ini. Sebelumnya kami membanyar dua es krim tersebut pada kasir.
Kudengar suara Airin memanggilku.
Aili, kau tau? Suara Airin mengintruksiku kami sedang berjalan santai di lorong
taman sambil memakan es krim.
Ehmm...!!!. Kuhanya menggumam, tak berniat menoleh pada Airin.
Di cuaca gelap seperti ini, biasanya kita akan kehilangan orang yang kita sayangi.
Ucapnya lirih. Aku tak begitu mengerti maksud dari perkataan Airin.
Airin menarik nafasnya panjang, lalu kembali berkata.
Orang-orang bilang dicuaca gelap seperti ini kita akan kehilangan seseorang yang
kita sayang, bahkan mungkin orang yanng kita sayang akan menghilang meninggalkan kita
selamnya. Itulah sebabnya mengapa banyak dari sebagian orang membenci musim hujan.
Aku hanya mengangguk polos mendengarnya.
Tapi aku tak percaya hal seperti itu. Balasku ssambil menyenggol bahunya. Ia
tertawa, lalu menggandeng lenganku.
Jika hal itu terjadi pada kita, kau akan percaya?. Tiba-tiba kuterdiam, kutatap
tajam wajahnya.
jangan bercanda bodoh seperti itu. Aku tak akan percaya hal-hal seperti yang kau
katakan. Ucapku sambil mencubit pelan perutnya.
Hahaha... oh iya! besok hari ulang tahun kita. Aku hanya tersenyum simpul pada
kembaranku. Kau tak akan memberikan hadiah untukku? Tanya Airin dengan tatapan
penuh harap.
haruskah? Candaku membuatnya memasang wajah kecewa dan sedih.
Yaahh,, Kau ini, ya sudahlah!. Aku marah Ucap Airin sambil berjalan mendahuluiku.
Aku mengejarnya sambil tertawa. Airin pun terus berjalan setengah berlari mendahuluiku.
Tiba-tiba, sebuah truk melaju kencang ke arah Airin. Aku tersentak, lalu berteriak memanggil
Airin. Namun, Airin tetap tak menoleh padaku. Bruk....!!! Tubuh Airin terpental jauh dengan
darah yang bercucur deras dikepalanya. Airin.....!!!
-Rumah SakitBau obat-obatan menyengat
masuk kedalam hidungku. Berbagai alat medis
bergelantungan di atas pmbaringannya. Cahaya lampu berkapsitas tinggi cukup terang
menerangi isi ruangan. Aku menatap nanar wajah saudara kembarku yang sedang terkapar
lemas di atas ranjang putih. Sudah 13jam ia tak sadarkan diri. Melihat jam tanganku,
kusedikit kecewa ketika waktu menunjukkan pukul 11:58. Bangunlah Airin dua menit lagi
ulang tahun kita. Aku semakin membungkukkan badanku pada kursi hitam. Tiba-tiba tangan
yang sedang kugenggam bergerak secara perlahan. Segera kuangkat wajahku. Mataku
berbinar ketika padanganku bertemu denan mata sayunya. Ia terseyum.

Akhirnya kau bangun juga. Ucapku pada Airin sambil memeluk erat tubuhnya.
Tentu saja aku akan bangun. Bentar lagi ulang tahun kita kan?. Jawabnya pelan.
Akupun tersenyum lebar mendengar perkataannya. Kulihat kembali jam tanganku. Satu
menit lagi Airin, detik detik akhir yang kita tunggu.. kugenggam erat tangannya dengan
penuh harap. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Hanya seutas senyum
yang ikhas terurai dari wajahya.
Saat jam 12 hanya tinggal lima detik, genggaman tangan Airin semain erat. Matanya yang
sayu perlahan terpejam. Hanya seutas seyuman yang dia tinggalkan. Tepat pukul 12.00
WIB. Tangannya tak lagi menggengm erat tanganku. Wajahnya tiba-tiba berubah pucat pasi.
Kuraba denyut jantungnya, taka ada lagi tanda kehiupan darinya. Airin.....tidak airin...!
Aku berteriak kencang. Dokter dan perawat bergegas menuju ruangan. Salah seorang
perawat membangunkan tubuhku yang terkulai lemas di lantai sambil berkata. Ikhlaskan
Dik. Biarkan dia pergi dengan tenang..
Sekarang aku percaya tentang ucapannya. Mungki inilah yang dia maksud sebagai hadiah
terakhirnya. Malam Rabu, 30-april-2014, Airin meninggalkkanku tuk selamanya. Semoga
amal
ibadahmu
diterima
di
sisiNya.
Amin.....!