Anda di halaman 1dari 16

TUGAS KEPERAWATAN JIWA

Tentang
MAKALAH GANGUAN TINGKAH LAKU PADA ANAK DAN
REMAJA

Oleh
Kelompok 1

1. ADI SUDRAJAT
2. ISKAK
3. SLAMET MUJIONO
4. AGUS EKO WIDODO
5. NINIK SULISTIYANI
6. NANING AMBAR R

Dosen Pembimbing
SHANTI R LEKSONO, S.Kep Ns

STIKES PEMKAB JOMBANG


PRODI S-1 ( ANJANG ) KEPERAWATAN
TAHUN 2009
BAB I
PENDAHULUAN

I. Latar Belakang

Era globalisasi telah membuat kehidupan mengalami perubahan yang signifikan,


bahkan terjadi degradasi moral dan sosial budaya yang cenderung kepada pola-pola
perilaku menyimpang, Hal ini sebagai dampak pengadopsian budaya luar secara berlebihan
dan tak terkendali oleh sebagian remaja kita. Persepsi budaya luar ditelan mentah-mentah
tanpa mengenal lebih jauh nilai-nilai budaya luar secara arif dan bertanggung jawab. (Sulis
Styawan, 2007)

Tak dimungkiri pula, kehadiran teknologi yang serba digital dewasa ini banyak
menjebak remaja kita untuk mengikuti perubahan ini. Hal ini perlu didukung dan disikapi
positif mengingat kemampuan memahami pengetahuan dan teknologi adalah kebutuhan
masa kini yang tidak bisa terelakkan. Namun, filterisasi atas merebaknya informasi dan
teknologi super canggih melalui berbagai media komunikasi seringkali terlepas dari
kontrol. Pola perilaku budaya luar (baca: pengaruh era global), sering kali dianggap
sebagai simbol kemajuan dan mendapat dukungan berarti di kalangan remaja. Kemajuan
informasi dan teknologi telah membawa ke arah perubahan konsep hidup dan perilaku
sosial. Pengenalan dan penerimaan informasi dan teknologi tumbuh pesat bahkan menjadi
kebutuhan hidup. Perlu kiranya menjadi keprihatinan bersama, sekaligus menaruh
perhatian lebih bila mengamati dan menjumpai sebagian dari remaja yang makin
menikmati dan menghabiskan masa remajanya dengan kegiatan yang kurang berfaedah
bahkan sama sekali tak berguna demi masa depannya. Masalahnya sejauh mana nilai
positif dari kemajuan tersebut mampu dipilih dan dipilah secara cermat dan
bertanggungjawab oleh remaja. Ini sangat urgen, karena persoalannya menyangkut masa
depan remaja itu sendiri dan bisa jadi negara tercinta ini, akan kehilangan satu mata rantai
generasi penerus (the loss generation).
Memang, sebagai bagian dari masalah sosial, kenakalan remaja merupakan masalah
yang serius karena akan mengancam kehidupan suatu bangsa. Penyakit remaja muncul
sebagai akibat melemahnya pengertian dan kewaspadaan terhadap kebutuhan dan
permasalahan usia remaja itu sendiri. Sifat-sifat sulit diatur, berontak, merajuk, kumpul-
kumpul, suka meniru, mulai jatuh cinta, hura-hura dan sebagainya, adalah rangkaian pola
perilaku yang selalu muncul membayangi sisi kehidupan remaja.
Jika tidak dikontrol dan diawasi, hal ini tentu dapat memicu timbulnya masalah sosial, di
mana tercipta situasi yang kurang atau tidak mengenakkan dalam masyarakat. Contoh
perilaku remaja yang mengindikasikan timbulnya permasalahan sosial bagi lingkungan
sekitarnya seperti: kebiasaan merusak fasilitas umum dan sosial, coret-coret dinding,
minum minuman beralkohol, tawuran antar remaja, kebut-kebutan di jalan raya dan bahkan
sampai pada perilaku seks bebas (free sex) dan pemakaian obat-obatan terlarang. Kondisi
ini ada bukan untuk dimusuhi atau dijauhi, tetapi mesti dipahami dan didekati karena
merupakan integritas remaja di dalam menemukan identitas diri dan pengakuan pribadinya.
Mengamati dan memahami pola-pola perilaku remaja yang memang sangat rumit dan
tinggi kompleksitasnya, maka sebelum terlambat, segenap potensi sosial yang tersedia
harus diarahkan dan diupayakan secara terpadu dan berkesinambungan untuk melibatkan
perannya. Penanganan permasalahan kenakalan remaja pun tidak hanya ditekankan pada
remaja itu sendiri, melainkan multi dimensi..
Gangguan jiwa pada anak-anak merupakan hal yang banyak terjadi, yang umumnya
tidak terdiagnosis dan pengobatannya kurang adekuat. Masalah kesehatan jiwa terjadi pada
15% sampai 22% anak-anak dan remaja, namun yang mendapatkan pengobatan jumlahnya
kurang dari 20% (Keys, 1998). Karena gangguan ini sering tidak dianggap serius seperti
gangguanm yang bersidat fisik atau jasmaniah, karena kondisi sosial masyarakat sekarang
ini masih kurang memperhatikan maslah kejiwaan

II. Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengindentifiksi gangguan perilaku pada anak
dan remaja serta memahami perawatan pada permasalahan tersebut
.
BAB II
TINJAUAN TEORI

DEFENISI
Juvenile delinquency ( kenakalan remaja ) ialah perilaku jahat/dursila, atau
kejahatan/kenakalan anak-anak muda; merupakan gejala sakit ( patologis ) secara sosial
pada anak-anak dan remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial, sehingga
mereka itu mengembangkan bentuk tingkah laku yang menyimpang.
Pengertian kenakalan remaja menurut Resolusi PBB 40/33 tentang UN Standard Minimum
Rules for the Administration of Juvenile Justice ( Beijing Rules ) khusus dalam rules 2.2
adalah salah seorang anak atau orang muda ( remaja ) yang melakukan perbuatan yang
‘dapat dipidana’ menurut sistem hukum yang berlaku dan diperlakukan secara berbeda
dengan orang dewasa(4)
BATASAN TENTANG REMAJA
Perkembangan usia anak hingga dewasa dapat diklasifikasikan menjadi empat yaitu :
a. Anak, seorang yang berusia di bawah 12 tahun
b. Remaja dini, seorang yang berusia 12 – 15 tahun
c. Remaja penuh, seorang yang berusia 15 – 17 tahun
d. Dewasa muda, seorang yang berusia 17-21 tahun
e. Dewasa, seorang berusia di atas 21 tahun.
Remaja adalah masa peralihan dari kanak-kanak ke dewasa. Para ahli sependapat bahwa
remaja adalah mereka yang berusia antara 13 tahun sampai dengan 18 tahun.
TEORI PERILAKU KENAKALAN REMAJA
Berikut ini adalah beberapa teori tentang penyebab kelakuan kenakalan remaja :
1. Teori Differential Asociation
Teori yang dikemukakan oleh E. Sutherland ini pada dasarnya melandaskan diri pada
proses belajar. Kejahatan seperti juga perilaku pada umumnya merupakan suatu yang
dipelajari.
2. Teori Anomie
Teori anomie yang diajukan Robert Merton merupakan teori yang berorientasi pada kelas.
Itilah anomie sendiri sebetulnya berasal dari seorang pakar sosiologi perancis, Emile
durkeim, yang berarti suatu keadaan tanpa norma. Konsep anomie ini kemudian oleh
Merton diformulasikan dalam rangka menjelaskan keterkaitan antara kelas-kelas sosial
dengan kecenderungan pengadaptasiannya dalam sikap dan perilaku kelompok. Merton
berusaha menunjukkan bahwa berbagai struktur sosial yang mungkin terdapat di
masyarakat dalam realitasnya telah mendorong orang-orang dengan kualitas tertentu
cenderung berperilaku menyimpang ketimbang mematuhi norma-norma kemasyarakatan.
3.Teori Sub-budaya Delinkuen
Teori ini dilontarkan oleh Albert K Cohen, yang menjelaskan terjadinya peningkatan
perilaku delinkuen di daerah kumuh. Fokus perhatiannya terarah pada satu pemahaman
bahwa perilaku delinkuen di kalangan usia muda, kelas bawah merupakan cerminan
ketidakpuasan mereka terhadap norma-norma dan nilai kelompok kelas menengah yang
mendominasi.
4. Teori Netralisasi
Pada dasarnya teori netralisasi ini beranggapan bahwa aktivitas manusia selalu
dikendalikan oleh pikirannya. Menurut teori ini orang-orang berperilaku jahat atau
menyimpang disebabkan adanya kecenderungan di kalangan mereka untuk merasionalkan
norma-norma dan nilai-nilai ( yang seharusnya berfungsi sebagai pencegah perilaku jahat )
menurut persepsi dan kepentingan mereka sendiri.
5. Teori Kontrol
Teori kontrol atau sering juga disebut teori kontrol sosial berangkat dari asumsi atau
anggapan bahwa individu di masyarakat mempunyai kecenderungan yang sama
kemungkinannya, menjadi ‘baik’ atau ‘jahat’. Baik jahatnya seseorang sepenuhnya
tergantung pada masyarakatnya membuatnya demikian, dan menjadi jahat apabila
masyarakatnya membuatnya demikian.
ETIOLOGI
Beberapa penyebab dari kenakalan remaja meliputi gangguan-gangguan perilaku.
Penyebab gangguan perilaku mungkin berasal dari anak sendiri atau mungkin dari
lingkungannya, akan tetapi akhirnya kedua faktor ini saling mempengaruhi Anak sendiri
1. Penyebab yang diturunkan. Diketahui bahwa ciri dan bentuk anggota tubuh dapat
diturunkan. Demikian juga beberapa sifat kepribadian yang umum dapat diturunkan dari
orangtua kepada anaknya.
2. Penyebab yang diperoleh pada waktu anak berkembang. Telah lama diketahui bahwa
gangguan otak seperti trauma kepala, ensefalitis, neoplasma dan lain-lain dapat
mengakibatkan perubahan kepribadian. Anak dengan sindroma otak organik ini
mungkin menunjukkan hiperkinesia, kegelisahan, kecenderungan untuk merusak dan
kekejaman.
3. Lingkungan, Meskipun faktor-faktor yang diturunkan itu mempengaruhi perilaku anak,
akan tetapi faktor lingkungan sering lebih menentukan. Dan karena lingkungan itu dapat
diubah maka dengan demikian gangguan perilaku itu dapat dipengaruhi atau dapat
dicegah. Beberapa penyebab gangguan perilaku yang berasal dari lingkungan
ialah:Orangtua, Saudara-saudara, Orang lain di rumah, Hubungan di sekolahnya,
Keadaan ekonomi

Masalah yang Selalu dihadapi Remaja


Berikut ada lima daftar masalah yang selalu dihadapi para remaja di sekolah :
1. Perilaku Bermasalah (problem behavior).
Masalah perilaku yang dialami remaja di sekolah dapat dikatakan masih dalam kategori
wajar jika tidak merugikan dirinya sendiri dan orang lain. Dampak perilaku bermasalah
yang dilakukan remaja akan menghambat dirinya dalam proses sosialisasinya dengan
remaja lain, dengan guru, dan dengan masyarakat. Perilaku malu dalam dalam mengikuti
berbagai aktvitas yang digelar sekolah misalnya, termasuk dalam kategori perilaku
bermasalah yang menyebabkan seorang remaja mengalami kekurangan pengalaman. Jadi
problem behaviour akan merugikan secara tidak langsung pada seorang remaja di sekolah
akibat perilakunya sendiri.
2. Perilaku menyimpang (behaviour disorder).
Perilaku menyimpang pada remaja merupakan perilaku yang kacau yang menyebabkan
seorang remaja kelihatan gugup (nervous) dan perilakunya tidak terkontrol (uncontrol).
Memang diakui bahwa tidak semua remaja mengalami behaviour disorder. Seorang remaja
mengalami hal ini jika ia tidak tenang, unhappiness dan menyebabkan hilangnya
konsentrasi diri.
Perilaku menyimpang pada remaja akan mengakibatkan munculnya tindakan tidak
terkontrol yang mengarah pada tindakan kejahatan. Penyebab behaviour disorder lebih
banyak karena persoalan psikologis yang selalu menghantui dirinya.
3. Penyesuaian diri yang salah (behaviour maladjustment).
Perilaku yang tidak sesuai yang dilakukan remaja biasanya didorong oleh keinginan
mencari jalan pintas dalam menyelesaikan sesuatu tanpa mendefinisikan secara cermat
akibatnya. Perilaku menyontek, bolos, dan melangar peraturan sekolah merupakan contoh
penyesuaian diri yang salah pada remaja di sekolah menegah (SLTP/SLTA).
4. Perilaku tidak dapat membedakan benar-salah (conduct disorder).
Kecenderungan pada sebagian remaja adalah tidak mampu membedakan antara perilaku
benar dan salah. Wujud dari conduct disorder adalah munculnya cara pikir dan perilaku
yang kacau dan sering menyimpang dari aturan yang berlaku di sekolah. Penyebabnya,
karena sejak kecil orangtua tidak bisa membedakan perilaku yang benar dan salah pada
anak. Wajarnya, orang tua harus mampu memberikan hukuman (punisment) pada anak saat
ia memunculkan perilaku yang salah dan memberikan pujian atau hadiah (reward) saat
anak memunculkan perilaku yang baik atau benar. Seorang remaja di sekolah
dikategorikan dalam conduct disorder apabila ia memunculkan perikau anti sosial baik
secara verbal maupun secara non verbal seperti melawan aturan, tidak sopan terhadap guru,
dan mempermainkan temannya . Selain itu, conduct disordser juga dikategorikan pada
remaja yang berperilaku oppositional deviant disorder yaitu perilaku oposisi yang
ditunjukkan remaja yang menjurus ke unsur permusuhan yang akan merugikan orang lain.
5. Attention Deficit Hyperactivity disorder,
Attention Deficit Hyperactivity disorder yaitu anak yang mengalami defisiensi dalam
perhatian dan tidak dapat menerima impul-impuls sehingga gerakan-gerakannya tidak
dapat terkontrol dan menjadi hyperactif. Remaja di sekolah yang hyperactif biasanya
mengalami kesulitan dalam memusatkan perhatian sehingga tidak dapat menyelesaikan
tugas-tugas yang diberikan kepadanya atau tidak dapat berhasil dalam menyelesaikan
tugasnya. Jika diajak berbicara, remaja yang hyperactif tersebut tidak memperhatikan
lawan bicaranya. Selain itu, anak hyperactif sangat mudah terpengaruh oleh stimulus yang
datang dari luar serta mengalami kesulitan dalam bermain bersama dengan temannya.

DIAGNOSIS DAN GEJALA KLINIS


Menurut PPDGJ III pedoman diagnostik untuk gangguan tingkah laku ( F-91 ):
1. Gangguan tingkah laku berciri khas dengan adanya pola tingkah laku dissosial, agresif
atau menentang yang berulang dan menetap.
2. Penilaian tentang adanya gangguan tingkah laku perlu memperhitungkan tingkat
perkembangan anak. Tempertantrum merupkan gejala normal pada perkembangan anak
berusia 3 tahun, dan adanya gejala ini bukan merupakan dasar bagi diagnosis ini. Begitu
pula pelanggaran terhadap hak orang lain (seperti tindak pidana dengan kekerasan) tidak
termasuk kemampuan anak berusia 7 tahun dan dengan demikian bukan merupakan
kriteria diagnostik bagi anak kelompok usia tersebut.
3. Diagnosis ini tidak dianjurkan kecuali tingkah laku seperti yang diuraikan di atas
berlanjut selama 6 bulan atau lebih.
Gejala Klinis:
1. Perkelahian atau menggertak pada tingkat berlebihan
2. Kejam terhadap hewan atau sesama manusia
3. Pengerusakan yang hebat atas barang milik orang lain
4. Membakar
5. Pencurian
6. Pendustaan berulang-ulang
7. Membolos dari sekolah dan lari dari rumah
8. Sering meluapkan tempertantrum yang hebat dan tidak biasa
9. Perilaku provokatif yang menyimpang
10. Sikap menentang yang berat dan menetap
DIAGNOSA BANDING
1. Gangguan emosional pada kanak-kanak
2. Gangguan kebiasaan

Penatalaksanaan Gangguan Psikiatrik pada Anak-anak dan Remaja


Perawatan berbasis komunitas saat ini lebih banyak terdapat pada managed care.
Yaitu dengan cara-cara yaitu :
Pencegahan primer
Melalui berbagai program sosial yang ditujukan untuk menciptakan lingkungan yang
meningkatkan kesehatan anak. Contohnya adalah perawatan pranatal awal, program
intervensi dini bagi orang tua dengan faktor resiko yang sudah diketahui dalam
membesarkan anak, dan mengidentifikasi anak-anak yang berisiko untuk memberikan
dukungan dan pendidikan kepada orang tua dari anak-anak ini.
Pencegahan sekunder
Dengan menemukan kasus secara dini pada anak-anak yang mengalami kesulitan di
sekolah sehingga tindakan yang tepat dapat segera dilakukan. Metodenya meliputi
konseling individu dengan program bimbingan sekolah dan rujukan kesehatan jiwa
komunitas, layanan intervensi krisis bagi keluarga yang mengalami situasi traumatik,
konseling kelompok di sekolah, dan konseling teman sebaya.
Dukungan terapeutik bagi anak-anak diberikan melalui psikoterapi individu, terapi
bermain, dan program pendidikan khusus untuk anak-anak yang tidak mampu
berpartisipasi dalam sistem sekolah yang normal. Metode pengobatan perilaku pada
umumnya digunakan untuk membantu anak dalam mengembangkan metode koping yang
lebih adaptif.
Terapi keluarga
penyuluhan keluarga penting untuk membantu keluarga mendapatkan keterampilan dan
bantuan yang diperlukan guna membuat perubahan yang dapat meningkatkan fungsi semua
anggota keluarga.
Pengobatan berbasis rumah sakit dan Rehabilitasi.
Unit khusus untuk mengobati anak-anak dan remaja, terdapat di rumah sakit jiwa.
Pengobatan di unit-unit ini biasana diberikan untuk klien yang tidak sembuh dengan
metode alternatif yang kurang restriktif, atau bagi klien yang beresiko tinggi melakukan
kekerasan terhadap dirinya sendiri ataupun orang lain.
Program hospitalisasi parsial juga tersedia, memberikan program sekolah di tempat (on-
site) yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan khusus anak yang menderita penyakit
jiwa. Seklusi dan restrein untuk mengendalikan perilaku disruptif masi menjadi
kontroversi. Penelitian menunjukkan bahwa metode ini dapat bersifat traumatik pada anak-
anak dan tidak efektif untuk pembelajaran respon adaptif. Tindakan yang kurang restriktif
meliputi istirahat (time-out), penahanan terapeutik, menghindari adu kekuatan, dan
intervensi dini untuk mencegah memburuknya perilaku.
Farmakoterapi.
Medikasi digunakan sebagai satu metode pengobatan. Medikasi psikotropik digunakan
dengan hati-hati pada klien anak-anak dan remaja karena memiliki efek samping yang
beragam.
a. Perbedaan fisiologi anak-anak dan remaja memengaruhi jumlah dosis, respon klinis, dan
efek samping dari medikasi psikotropik.
b. Perbedaan perkembangan neurotransmiter pada anak-anak dapat memengaruhi hasil
pengobatan psikotropik, mengakibatkan hasil yang tidak konsisten, terutama dengan
antidepresan trisiklik.
BAB III
PEMBAHASAN

Beberapa hal yang mempengaruhi gangguan perilaku pada anak dan remaja
Setelah dianalisis secara bivariat antara beberapa variabel, maka untuk melengkapinya
dianalisis secara statistik dengan rumus product moment guna melihat keeratan hubungan
tersebut. Kesimpulannya ada hubungan negative antara keberfungsian keluarga dengan
kenakalan remaja yang dilakukan. Artinya semakin tinggi tingkat berfungsi sosial
keluarga, akan semakin rendah tingkat kenakalan remajanya, demikian sebaliknya semakin
rendah keberfungsian sosial keluarga maka akan semakin tinggi tingkat kenakalan
remajanya.
Secara jenis kelamin terlihat remAja pria lebih cenderung melakukan kenakalan pada
tinglat khusus, walaupun demilikan juga remaja perempuan yang melakukan kenakalan
khusus. Dari sudut pekerjaan atau kegiatan sehari-hari remaja ternyata yang menganggur
mempunyai kecenderungan tinggi melakukan kenakalan khusus demikian juga mereka
yang berdagang dan menjadi buruh juga tinggi kecenderungannya untuk melakukan
kenakalan khusus. Pemenuhan kebutuhan keluarga juga berpengaruh pada tingkat
kenakalan remajanya, artinya bagi keluarga yang tiap hari hanya berpikir untuk memenuhi
kebutuhan keluarganya seperti yang orang tuanya bekerja sebagai buruh, tukang, supir dan
sejenisnya ternyata anaknya kebanyakan melakukan kenakalan khusus.
Demikian juga bagi keluarga yang interaksi sosialnya kurang dan tidak serasi anak-
anaknya melakukan kenakalan khusus. Kehidupan beragama keluarga juga berpengaruh
kepada tingkat kenakalan remajanya, artinya dari keluarga yang taat menjalankan agama
anak-anaknya hanya melakukan kenakalan biasa, tetapi bagi keluarga yang kurang dan
tidak taat menjalankan ibadahnya anak-anak mereka pada umumnya melakukan kenakalan
khusus.Hal lain yang dapat dilihat bahwa sikap orang orang tua dalam sosialisasi terhadap
anaknya juga sangat berpengaruh terhadap tingkat kenakalan yang dilakukan, dari data
yang diperoleh bagi keluarga yang kurang dan masa bodoh dalam pendidikan (baca
sosialisasi) terhadap anaknya maka umumnya anak mereka melakukan kenakalan khusus.
Dan akhirnya keserasian hubungan antara keluarga dengan lingkungan sosialnya juga
berpengaruh pada kenakalan anak-anak mereka. Mereka yang hubungan sosialnya dengan
lingkungan serasi anak-anaknya walaupun melakukan kenakalan tetapi pada tingkat
kenakalan biasa, tetapi mereka yang kurang dan tidak serasi hubungan sosialnya dengan
lingkungan anak-anaknya melakukan kenakalan khusus.
Peranan Lembaga Pendidikan Untuk tidak segera mengadili dan menuduh remaja sebagai
sumber segala masalah dalam kehidupan di masyarakat, barangkali baik kalau setiap
lembaga pendidikan (keluarga, sekolah, dan masyarakat) mencoba merefleksikan peranan
masing-masing.
Pertama, lembaga keluarga adalah lembaga pendidikan yang utama dan pertama.
Kehidupan kelurga yang kering, terpecah-pecah (broken home), dan tidak harmonis akan
menyebebkan anak tidak kerasan tinggal di rumah. Anak tidak mersa aman dan tidak
mengalami perkembangan emosional yang seimbang. Akibatnya, anak mencari bentuk
ketentraman di luar keluarga, misalnya gabung dalam group gang, kelompok preman dan
lain-lain. Banyak keluarga yang tak mau tahu dengan perkembangan anak-anaknya dan
menyerahkan seluruh proses pendidikan anak kepada sekolah. Kiranya keliru jika ada
pendapat yang mengatakan bahwa tercukupnya kebutuhan-kebutuhan materiil menjadi
jaminan berlangsungnya perkembangan kepribadian yang optimal bagi para remaja.
Kedua, bagaimana pembinaan moral dalam lembaga keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Kontras tajam antara ajaran dan teladan nyata dari orang tua, guru di sekolah, dan tokoh-
tokoh panutan di masyarakat akan memberikan pengaruh yang besar kepada sikap,
perilaku, dan moralitas para remaja. Kurang adanya pembinaan moral yang nyata dan
pudarnya keteladanan para orangtua ataupun pendidik di sekolah menjadi faktor kunci
dalam proses perkembangan kepribadian remaja. Secara psikologis, kehidupan remaja
adalah kehidupan mencari idola. Mereka mendambakan sosok orang yang dapat dijadikan
panutan. Segi pembinaan moral menjadi terlupakan pada saat orang tua ataupun pendidik
hanya memperhatikan segi intelektual. Pendidikan disekolah terkadang terjerumus pada
formalitas pemenuhan kurikulum pendidikan, mengejar bahan ajaran, sehingga melupakan
segi pembinaan kepribadian penanaman nilai-nilai pendidikan moral dan pembentukan
sikap.
Ketiga, bagaimana kehidupan sosial ekonomi keluarga dan masyarakat apakah mendukung
optimalisasi perkembangan remaja atau tidak.
Saat ini, banyak anak-anak di kota-kota besar seperti Jakarta sudah merasakan kemewahan
yang berlebihan. Segala keinginannya dapat dipenuhi oleh orangtuanya. Kondisi semacam
ini sering melupakan unsur-unsur yang berkaitan dengan kedewasaan anak. Pemenuhan
kebutuhan materiil selalu tidak disesuaikan dengan kondisi dan usia perkembangan anak.
Akibatnya, anak cenderung menjadi sok malas, sombong, dan suka meremehkan orang
lain.
Keempat, bagaimana lembaga pendidikan di sekolah dalam memberikan bobot yang
proposional antara perkembangan kognisi, afeksi, dan psikomotor anak. Akhir-akhir ini
banyak dirasakan beban tuntutan sekolah yang terlampau berat kepada para peserta didik.
Siswa tidak hanya belajar di sekolah, tetapi juga dipaksa oleh orangtua untuk mengikuti
kegiatan ekstrakurikuler di sekolah dan mengikuti les tambahan di luar sekolah. Faktor
kelelahan, kemampuan fisik dan kemampuan inteligensi yang terbatas pada seorang anak
sering tidak diperhitungkan oleh orangtua. Akibatnya, anak-anak menjadi kecapaian dan
over acting, dan mengalami pelampiasan kegembiraan yang berlebihan pada saat mereka
selesai menghadapi suasana yang menegangkan dan menekan dalam kehidupan di sekolah.
Kelima, bagaimana pengaruh tayangan media massa baik media cetak maupun elektronik
yang acapkali menonjolkan unsur kekerasan dan diwarnai oleh berbagai kebrutalan.
Pengaruh-pengaruh tersebut maka munculah kelompok-kelompok remaja, gang-gang yang
berpakaian serem dan bertingkah laku menakutkan yang hampir pasti membuat masyarakat
prihatin dan ngeri terhadap tindakan-tindakan mereka. Para remaja tidak dipersatukan oleh
suatu identitas yang ideal. Mereka hanya himpunan anak-anak remaja atau pemuda-
pemudi, yang malahan memperjuangkan sesuatu yang tidak berharga (hura-hura),
kelompok yang hanya mengisi kekosongan emosional tanpa tujuan jelas.

Solusi dan Jalan Keluar yang Harus Ditempuh.


Siswa-siswi SLTP/SLTA adalah siswa-siswi yang berada dalam golongan usia remaja, usia
mencari identitas dan eksistensi diri dalam kehidupan di masyarakat. Dalam proses
pencarian identitas itu, peran aktif dari ketiga lembaga pendidikan akan banyak membantu
melancarkan pencapaian kepribadian yang dewasa bagi para remaja. Ada beberapa hal
kunci yang bisa dilakukan oleh lembaga-lembaga pendidikan.
Pertama, memberikan kesempatan untuk mengadakan dialog untuk menyiapkan jalan bagi
tindakan bersama. Sikap mau berdialog antara orangtua, pendidik di sekolah, dan
masyarakat dengan remaja pada umumnya adalah kesempatan yang diinginkan para
remaja. Dalam hati sanubari para remaja tersimpan kebutuhan akan nasihat, pengalaman,
dan kekuatan atau dorongan dari orang tua. Tetapi sering kerinduan itu menjadi macet bila
melihat realitas mereka dalam keluarga, di sekolah ataupun dalam lingkungan masyarakat
yang tidak memungkinkan karena antara lain begitu otoriter dan begitu bersikap
monologis. Menyadari kekurangan ini, lembaga-lembaga pendidikan perlu membuka
kesempatan untuk mengadakan dialog dengan para remaja, kaum muda dan anak-anak,
entah dalam lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat.
Kedua, menjalin pergaulan yang tulus. Dewasa ini jumlah orang tua yang bertindak otoriter
terhadap anak-anak mereka sudah jauh berkurang. Namun muncul kecenderungan yang
sebaliknya, yaitu sikap memanjakan anak secara berlebihan. Banyak orang tua yang tidak
berani mengatakan tidak terhadap anak-anak mereka supaya tidak dicap sebagai orangtua
yang tidak mempercayai anak-anaknya, untuk tidak dianggap sebagai orangtua kolot,
konservatif dan ketinggalan jaman.
Ketiga, memberikan pendampingan, perhatian dan cinta sejati. Ada begitu banyak orangtua
yang mengira bahwa mereka telah mencintai anak-anaknya. Sayang sekali bahwa egoisme
mereka sendiri menghalang-halangi kemampuan mereka untuk mencintaianak secara
sempurna. Yang perlu dipahami bahwa setiap individu memerlukan rasa aman dan
merasakan dirinya dicintai. Sejak lahir satu kebutuhan pokok yang yang pertama-tama
dirasakan manusia adalah kebutuhan akan “kasih sayang” yang dalam masa perkembangan
selanjutnya di usia remaja, kasih sayang, rasa aman, dan perasaan dicintai sangat
dibutuhkan oleh para remaja. Dengan usaha-usaha dan perlakuan-perlakuan yang
memberikan perhatian, cinta yang tulus, dan sikap mau berdialog, maka para remaja akan
mendapatkan rasa aman, serta memiliki keberanian untuk terbuka dalam mengungkapkan
pendapatnya.
Lewat kondisi dan suasana hidup dalam keluarga, lingkungan sekolah, ataupun lingkungan
masyarakat seperti di atas itulah para remaja akan merasa terdampingi dan mengalami
perkembangan kepribadian yang optimal dan tidak terkungkung dalam perasaan dan
tekanan-tekanan batin yang mencekam. Dengan begitu gaya hidup yang mereka tampilkan
benar-benar merupakan proses untuk menemukan identitas diri mereka sendiri yang
sebenarnya.

Kenali kondisi di sekitar anak dan remaja


Pertama, aspek pendidikan formal/lingkungan sekolah. Pendidikan yang lebih
menekankan kepada bimbingan dan pembinaan perilaku konstruktif, mandiri dan kreatif
menjadi faktor penting, karena melatih integritas mental dan moral remaja menuju
terbentuknya pribadi yang memiliki daya ketahanan pribadi dan sosial dalam menghadapi
benturan-benturan nilai-niai (clash of value) yang berlaku dalam lingkungan remaja itu
sendiri berikut lingkungan sosialnya.
Kedua, aspek lingkungan keluarga, jelas memberi andil yang signifikan terhadap
berkembangnya pola perilaku menyimpang para remaja, karena proses penanaman nilai-
nilai bermula dari dinamika kehidupan dalam keluarga itu sendiri dan akan terus
berlangsung sampai remaja dapat menemukan identitas diri dan aktualisasi pribadinya
secara utuh. Remaja akan menentukan perilaku sosialnya seiring dengan maraknya
perilaku remaja seusianya yang notabene mendapat penerimaan secara utuh oleh
kalangannya. Oleh karenanya, peranan orang tua termasuk sanak keluarga lebih dominan
di dalam mendidik, membimbing, dan mengawasi serta memberikan perhatian lebih sedini
mungkin terhadap perkembangan perilaku remajanya.
Ketiga, aspek lingkungan pergaulan seringkali menuntut dan memaksa remaja harus dapat
menerima pola perilaku yang dikembangkan remaja. Hal ini sebagai kompensasi
pengakuan keberadaan remaja dalam kelompok. Maka, perlu diciptakan lingkungan
pergaulan yang kondusif, agar situasi dan kondisi pergaulan dan hubungan sosial yang
saling memberi pengaruh dan nilai-nilai positif bagi aktifitas remaja dapat terwujud.
Keempat, aspek penegakan hukum/sanksi. Ketegasan penerapan sanksi mungkin dapat
menjadi shock teraphy (terapi kejut) bagi remaja yang melakukan tindakan-tindakan yang
menyimpang. Dan ini dimulai dari lingkungan keluarga, sekolah, kepolisian dan lembaga
lainnya.
Terakhir, aspek sosial kemasyarakat. Terciptanya relasi-relasi sosial yang baik dan serasi
di antara warga masyarakat sekitar, akan memberi implikasi terhadap tumbuh dan
berkembangnya kontak-kontak sosial yang dinamis, sehingga muncul sikap saling
memahami, memperhatikan sekaligus mengawasi tindak perilaku warga terutama remaja di
lingkungannya. Hal ini tentu sangat mendukung terjalinnya hubungan dan aktifitas remaja
yang terkontrol.,
BAB VI.
KESIMPULAN.

Berdasarkan analisis di atas, ditemukan bahwa remaja yang memiliki waktu luang banyak
seperti mereka yang tidak bekerja atau menganggur dan masih pelajar kemungkinannya
lebih besar untuk melakukan kenakalan atau perilaku menyimpang. Demikian juga dari
keluarga yang tingkat keberfungsian sosialnya rendah maka kemungkinan besar anaknya
akan melakukan kenakalan pada tingkat yang lebih berat.Sebaliknya bagi keluarga yang
tingkat keberfungsian sosialnya tinggi maka kemungkinan anak-anaknya melakukan
kenakalan sangat kecil, apalagi kenakalan khusus. Dari analisis statistik (kuantitatif)
maupun kualitatif dapat ditarik kesimpulan umum bahwa ada hubungan negatif antara
keberfungsian sosial keluarga dengan kenakalan remaja, artinya bahwa semakin tinggi
keberfungsian social keluarga akan semakin rendah kenakalan yang dilakukan oleh remaja.
Sebaliknya semakin ketidak berfungsian sosial suatu keluarga maka semakin tinggi tingkat
kenakalan remajanya (perilaku menyimpang yang dilakukanoleh remaja.
Berdasarkan kenyataan di atas, maka untuk memperkecil tingkat kenakalan remaja ada dua
hal yang perlu diperhatikan yaitu meningkatkan keberfungsian sosial keluarga melalui
program-program kesejahteraan sosial yang berorientasi pada keluarga dan pembangunan
social yang programnya sangat berguna bagi pengembangan masyarakat secara
keseluuruhan Di samping itu untuk memperkecil perilaku menyimpang remaja dengan
memberikan program-program untuk mengisi waktu luang, dengan meningkatkan program
di tiap karang taruna. Program ini terutama diarahkan pada peningkatan sumber daya
manusianya yaitu program pelatihan yang mampu bersaing dalam pekerjaan yang sesuai
dengan kebutuhan.
DAFTAR PUSTAKA

1. Kartono,K.Patologi Sosial 2, Kenakalan Remaja. Rajawali, Jakarta,1986:6


2. Maramis, WF. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Cetakan Ketujuh. Airlangga Universsity
Press, Surabaya, 1998:516-528
3. Maslim, R. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa. Jakarta, 2004:137
4. Paulus, H. Juvenile Delinquency ( Pemahaman dan Penanggulangannya ). PT Citra
Aditya Bakti. Bandung, 1997: 9-34.

Anda mungkin juga menyukai