Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN
Anestesiologi adalah cabang ilmu kedokteran yang mendasari berbagai tindakan
meliputi pemberian anestesi, penjagaan keselamatan penderita yang mengalami pembedahan,
pemberian bantuan hidup dasar, pengobatan intensif pasien gawat, terapi inhalasi dan
penanggulangan nyeri menahun. Pada prinsipnya dalam penatalaksanaan anestesi pada suatu
operasi terdapat beberapa tahap yang harus dilaksanakan yaitu pra anestesi yang terdiri dari
persiapan mental dan fisik pasien, perencanaan anestesi, menentukan prognosis dan persiapan
pada pada hari operasi. Sedangkan tahap penatalaksanaan anestesi terdiri dari premedikasi,
masa anestesi dan pemeliharaan, tahap pemulihan serta perawatan pasca anestesi.1,2
Proyeksi tulang punggung kearah depan diharapkan merupakan suatu garis
lurus.Penyimpangannya, tidaklah diharapkan. Skoliosis didefinisikan sebagai terjadinya
kurvatura

ke

lateral,

dengan

putaran satu

atau lebih

pada tulang

punggung.

Skoliosismerupakan suatu kondisi yang rumit. Ditengarai dengan suatu keadaan tidak
hanyaterjadinya kecondongan kesamping tetapi juga perputaran kolumna vertebralis pada
aksislongitudinal. Serta sering bersamaan dengan terjadinya kiposis dan lordosis.

BAB II
LAPORAN KASUS
A. IDENTITAS PASIEN
Tanggal
: 6 Desember 2014
Nama umur
: Tn. Sukarman
Umur
: 59 tahun
Jenis Kelamin
: Laki-laki
BB
: 80 kg
Gol. Darah
: B+
Alamat
: RT. 16 Talang Bakung, Jambi.
No. Reg
: 785730
Ruangan
: Kelas II
Diagnosa
: Fraktur 1/3 distal Femur Dekstra
Tindakan
: Pro ORIF fraktur 1/3 distal femur dekstra

B. HASIL KUNJUNGAN PRA ANESTESI


1. ANAMNESA
a. Keluhan Utama
Os mengeluh bentuk kaki kanannya tidak sama dengan kaki kiri 3 minggu
SMRS.
b. RPP
1 tahun yang lalu os mengalami kecelakaan tunggal, saat kecelakaan os sadar
(+), mual (-), muntah (-). Sehari setelah kejadian os dioperasi untuk pemasangan
pen.
3 minggu SMRS setelah pemasangan pen setahun yang lalu, os merasa kakinya
besar sebelah, nyeri hilang timbul (+), os kontrol dengan hasil rontgen dan dokter
spesialis tulang menyatakan bahwa pen os ada yang patah dan harus di perbaiki.
c. RPD
Riwayat Hipertensi : (-)
Riwayat Asma
: (-)
Riwayat DM
: (-)
Riwayat Batuk Lama : (-)
Riwayat Operasi
: 2x
Riwayat Penyakit lain : (-)
d. Riwayat Kebiasaan
Merokok (-)
Minum alkohol (-)
Minum jamu-jamuan (-)
2. PEMERIKSAAN FISIK UMUM
a. Vital Sign
Kesadaran
: Compos Mentis
2

b.
c.
d.
e.
f.

Tekanan Darah
Nadi
RR
Suhu
Kepala
Mata
THT
Leher
Thoraks
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi

: 150/90 mmHg
: 72 x/menit
: 18 x/menit
: Afebris
: Normocephal
: SI -/-, CA -/-, RC +/+, isokor +/+
: DBN
: Pembesaran KGB (-), JVP 52 mmH2O
: Simetris, jejas (-)
: Vokal Fremitus +/+, krepitasi (-), nyeri tekan (-)
: Sonor (+)
: Cor
: Reg. BJ I, II, Gallop (-), Murmur (-)
Pulmo
: Vesikuler +/+, Whezing -/-, Rhonki -/-.

g. Abdomen
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi
h. Genital
i. Ekstremitas

: Simetris, Distended (-), venektasi (-), tumor (-), herniasi (-)


: Nyeri tekan (-), Nyeri lepas (-), hepato/splenomegali (-)
: Timpani (+)
: Bissing usus (+) normal.
: Tidak diperiksa
: Akral hangat, udem (-), Motorik 555/555/555/555, asimetris
ka-ki
3. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Darah Rutin
WBC
: 6,6 103/mm3
( 3,5 10,0 )
6
3
RBC
: 6,57 10 /mm ( 3,80 - 5,80 )
HGB
: 11,4 gr/dL
( 11,0 16,5 )
HCT
: 38,6%
( 35,0 - 50,0 )
3
3
PLT
: 302 10 /mm
(150 390 )
PCT
: 0,227 %
( 0,100 1,500)
3
MCV
: 59 m
( 80
97 )
MCH
: 17,3 pq
( 26,5 - 33,5 )
MCHC : 29,4 gr/dL
( 31,5 35,0 )
RDW
: 17,3 %
( 10,0 15,0 )
MPV
: 9,2 m3
( 6,5 11,0 )
PDW
: 5,2 %
( 10,0 18,0 )
Masa Pendarahan : 3 ( 1 - 3 menit )
Masa Pembekuan : 4
( 2 6 menit )
LED
: 17 /Jam

b. Kimia Lengkap
Kimia Darah
Faal Hati
SGOT
SGPT

: 16 U/L
: 14 U/L

( < 40 )
( < 41 )

Faal Hati
3

Ureum
Kreatinin

: 27,7 mg/dL ( 15 39 )
: 0,9 mg/dL ( = 0,9 1,3 = 0,6 1.1 )

Gula Darah

GDS

: 110 mg/dL

( < 200 )

c. Pemeriksaan Radiologi
X-Ray
X-Foto Thoraks
: Cor dan Pulmo dalam batas normal
X-Foto Femur
: Fraktur 1/3 distal femur kanan dengan delayed union.
CT-Scan
: Pemeriksaan Penunjang yang lain
4. STATUS FISIK ASA
1/2/3/4/E
5. RENCANA TINDAKAN ANESTESI
1. Diagnosa pra bedah
: Fraktur 1/3 distal femur dekstra
2. Tindakan bedah
: Pro ORIF.
3. Status fisik ASA
:2
4. Jenis / tindakan anestesi
: Spinal Anestesi
Pramedikasi (jam : 10.20 wib)
Ranitidin 50 mg
Ondancentrone 4 mg
Dexamethason 10 mg
Asam Traneksamat 1.000 mg

LAPORAN ANESTESI
Tanggal
Nama
Umur
Jenis Kelamin
BB
Ruangan
Diagnosa
Operator
Ahli Anestesi

: 6 Desember 2014
: Tn. Sukarman
: 59 tahun
: Laki-laki
: 80 kg
: Kelas II
: Fraktur 1/3 distal femur dekstra
: dr. Budi Justitia, Sp.OT
: dr. Sulistyowati, Sp. An

1. Keterangan Pra Bedah


a. Keadaan umum
Kesadaran
GCS
Tanda vital

: Tampak sakit sedang.


: Compos Mentis
: 15 ( E=4, M=6, V=5 )
: Tekanan Darah
: 150/90 mmHg
Nadi
: 72 x/menit
RR

: 18 x/menit

Suhu

: Afebris

b. Laboratorium
Hb
: 11,4 gr/dL
Leukosit
: 6,6 103/mm3
Ht
: 38,6 %
Eritrosit
: 6,57 106/mm3
Trombosit
: 302 103/mm3
Masa Pendarahan : 3
Masa Pembekuan : 4
c. Status Fisik : ASA II
2. Tindakan Anestesi
a. Metode
: Regional Anestesi
b. Premedikasi : Ranitidin 50 mg, ondancentrone 4 mg, deksamethason 10 mg, asam
traneksamat 1.000 mg.
3. Keadaan Selama Operasi
a. Letak Penderita
b. Intubasi
c. Penyulit Intubasi
d. Penyulit Waktu Anestesi/Operasi
e. Lama Anestesi
Urine

: Miring
: Tidak di intubasi
: Tidak Ada
:: 3 jam
: 500 cc.
5

f. Jumlah Cairan
Input

Output
Perdarahan

: RL 4 Kolf 2000 mL
HES 1 kolf 500 mL
PRC 1 Kantong 500 mL
NaCl 300 mL
Total 3.300 mL
: 500 cc
: 700 cc

Kebutuhan cairan pasien ini;


BB = 80 Kg
Defisit Cairan karena Puasa (P)
P = 6 x BB x 2cc
= 6 x 80 x 2 cc
= 960 cc
Maintenance (M)
M = BB x 2 cc
= 80 x 2 cc
= 160 cc
Stress Operasi (O)
O = BB x 8 cc (Operasi Besar)
= 80 x 8 cc
= 640 cc
Perdarahan
Total = Suction + kassa + duk
= 350 + 200 + 150
= 700 cc
Estimasi Blood Volume
75 x BB = 75 x 80
= 6,000 ml

Estimasi Blood Loss


20% EBV = 20% x 6,000
= 1,200 ml
Kebutuhan cairan selama operasi
Jam I
= PP + M + O
= (960) + 160 + 640
= 1,280 cc
Jam II
= PP + M + O
= (960) + 160 + 640
= 1,040 cc
Jam III
= (960) + 160 + 640
= 1,040 cc
Total Cairan
= 1,280+1,040+1,040
= 3,360 cc
4. Pra Anestesi
Penentuan status fisik ASA : 1/2/3/4/5/E
Mallapati
:1
6

Persiapan:
a. Pasien telah diberikan Informed Consent
b. Puasa 6 jam sebelum operasi
c. Persiapkan 1 kantong PRC
5. Monitoring
TD awal = 150/90 mmHg, Nadi = 72 x/menit, RR = 18x/menit
Jam (WIB)

TD (mmHg)

Nadi (x/menit)

RR

10.20
10.35
10.50
11.05
11.20
11.35
11.50
12.05
12.20
12.35
12.50

150/90
115/60
108/62
109/62
120/67
110/63
111/62
122/69
112/69
120/64
120/68

90
70
70
70
78
70
75
72
81
87
90

(x/menit)
22
19
20
24
22
19
17
18
18
20
21

6. Ruang Pemulihan
1. Masuk Jam : 13.00 WIB
2. Keadaan Umum
: Kesadaran: CM, GCS: 15
3. Tanda vital : TD : 130/70 mmHg
Nadi :75 x/menit
RR : 18 x/menit
4. Pernafasan : Baik
5. Scoring Alderate:
Aktifitas
:1
Pernafasan : 2
Warna Kulit : 2
Sirkulasi
:2
Kesadaran : 2
Jumlah
:9
Instruksi Post Operasi:

Monitoring tanda vital, kesadaran, dan perdarahan


Tidur baring menggunakan bantal 1x24 jam
Boleh makan dan minum secara bertahap
Cek Hb post transfuse.
Terapi sesuai operator dr. Budi Justitia, Sp. OT

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi
Anestesi regional adalah hambatan impuls nyeri suatu bagian tubuh sementara pada
impuls saraf sensorik, sehingga impuls nyeri dari satu bagian tubuh diblokir untuk sementara
(reversibel). Fungsi motorik dapat terpengaruh sebagian atau seluruhnya. Tetapi pasien tetap
sadar.1
B.

Pembagian Anestesi/Analgesia Regional


1. Blok sentral (blok neuroaksial), yaitu meliputi blok spinal, epidural, dan kaudal.
Tindakan ini sering dikerjakan.
2. Blok perifer (blok saraf), misalnya anestesi topikal, infiltrasi lokal, blok lapangan,
dan analgesia regional intravena.

C.

Keuntungan Anestesia Regional


1. Alat minim dan teknik relatif sederhana, sehingga biaya relatif lebih murah.
2. Relatif aman untuk pasien yang tidak puasa (operasi emergency, lambung penuh)
karena penderita sadar.
3. Tidak ada komplikasi jalan nafas dan respirasi.
4. Tidak ada polusi kamar operasi oleh gas anestesi.
5. Perawatan post operasi lebih ringan.

D.

Kerugian Anestesia Regional


1. Tidak semua penderita mau dilakukan anestesi secara regional.
2.

Membutuhkan kerjasama pasien yang kooperatif.


8

3.

Sulit diterapkan pada anak-anak.

4. Tidak semua ahli bedah menyukai anestesi regional.


5. Terdapat kemungkinan kegagalan pada teknik anestesi regional.
E.

Persiapan Anestesi Regional


Persiapan anestesi regional sama dengan persiapan anestesi umum karena untuk

mengantisipasi terjadinya reaksi toksik sistemik yg bisa berakibat fatal, perlu persiapan
resusitasi. Misalnya: obat anestesi spinal/epidural masuk ke pembuluh darah kolaps
kardiovaskular sampai cardiac arrest. Juga untuk mengantisipasi terjadinya kegagalan,
sehingga operasi bisa dilanjutkan dg anestesi umum.
PEMBAHASAN BLOK SENTRAL
Blok neuroaksial akan menyebabkan blok simpatis, analgesia sensoris dan blok motoris
(tergantung dari dosis, konsentrasi, dan volume obat anestesi lokal).
I.

Anastesi Spinal
Anestesi spinal ialah pemberian obat anestetik lokal ke dalam ruang subarachnoid.

Anestesi spinal diperoleh dengan cara menyuntikkan anestetik lokal ke dalam ruang
subarachnoid. Anestesi spinal/subaraknoid disebut juga sebagai analgesi/blok spinal
intradural atau blok intratekal.2
Untuk mencapai cairan serebrospinal, maka jarum suntik akan menembus kutis
subkutis Lig. Supraspinosum Lig. Interspinosum Lig. Flavum ruang epidural
durameter ruang subarachnoid.

Gambar 1. Anestesi Spinal

Medula spinalis berada didalam kanalis spinalis dikelilingi oleh cairan serebrospinal,
dibungkus oleh meningens (duramater, lemak dan pleksus venosus). Pada dewasa berakhir
setinggi L1, pada anak L2 dan pada bayi L3. Oleh karena itu, anestesi/analgesi spinal
dilakukan ruang sub arachnoid di daerah antara vertebra L2-L3 atau L3-L4 atau L4-L5

Indikasi:
9

1. Bedah ekstremitas bawah


2. Bedah panggul
3. Tindakan sekitar rektum perineum
4. Bedah obstetrik-ginekologi
5. Bedah urologi
6. Bedah abdomen bawah
7. Pada bedah abdomen atas dan bawah pediatrik biasanya dikombinasikan
dengan anestesi umum ringan
Kontra indikasi absolut:
1. Pasien menolak
2. Infeksi pada tempat suntikan
3. Hipovolemia berat, syok
4. Koagulapatia atau mendapat terapi koagulan
5. Tekanan intrakranial meningkat
6. Fasilitas resusitasi minim
7. Kurang pengalaman tanpa didampingi konsulen anestesi.

Kontra indikasi relatif:


1. Infeksi sistemik
2. Infeksi sekitar tempat suntikan
3. Kelainan neurologis
4. Kelainan psikis
5. Bedah lama
6. Penyakit jantung
7. Hipovolemia ringan
8. Nyeri punggung kronik

Persiapan analgesia spinal

Pada dasarnya persiapan untuk analgesia spinal seperti persiapan pada anastesia
umum. Daerah sekitar tempat tusukan diteliti apakah akan menimbulkan kesulitan, misalnya
ada kelainan anatomis tulang punggung atau pasien gemuk sekali sehingga tak teraba
tonjolan prosesus spinosus. Selain itu perlu diperhatikan hal-hal di bawah ini:
1.

Informed consent
Kita tidak boleh memaksa pasien untuk menyetujui anestesia spinal
10

2.

Pemeriksaan fisik
Tidak dijumpai kelainan spesifik seperti kelainan tulang punggung

3.

Pemeriksaan laboratorium anjuran


Hemoglobin,

Hematokrit,

PT

(Prothrombine

Time),

PTT

(Partial

Thromboplastine Time)

Peralatan analgesia spinal


1.

Peralatan monitor: tekanan darah, nadi, saturasi oksigen, dll.

2.

Peralatan resusitasi

3.

Jarum spinal
Jarum spinal dengan ujung tajam (ujung bambu runcing/quinckebacock) atau
jarum spinal dengan ujung pinsil (pencil point whitecare)

Gambar 2. Jarum Spinal

Anastetik lokal untuk analgesia spinal

Berat jenis cairan serebrospinalis (CSS) pada 37 C adalah 1.003-1.008. Anastetik


lokal dengan berat jenis sama dengan CSS disebut isobarik. Anastetik lokal dengan berat
jenis lebih besar dari CSS disebut hiperbarik. Anastetik lokal dengan berat jenis lebih kecil
dari CSS disebut hipobarik. Anastetik lokal yang sering digunakan adalah jenis hiperbarik
diperoleh dengan mencampur anastetik lokal dengan dextrose. Untuk jenis hipobarik
biasanya digunakan tetrakain diperoleh dengan mencampur dengan air injeksi.3
Anestetik lokal yang paling sering digunakan:
1. Lidokaine (xylocain, lignokain) 2%: berat jenis 1.006, sifat isobarik, dosis 20100mg (2-5ml)
2. Lidokaine (xylocain,lignokain) 5% dalam dextrose 7.5%: berat jenis 1.033,
sifat hyperbarik, dosis 20-50 mg (1-2ml)
11

3. Bupivakaine (markaine) 0.5% dlm air: berat jenis 1.005, sifat isobarik, dosis
5-20mg (1-4ml)
4. Bupivakaine (markaine) 0.5% dlm dextrose 8.25%: berat jenis 1.027, sifat
hiperbarik, dosis 5-15mg (1-3ml)

Teknik analgesia spinal

Posisi duduk atau posisi tidur lateral dekubitus dengan tusukan pada garis tengah ialah
posisi yang paling sering dikerjakan. Biasanya dikerjakan di atas meja operasi tanpa dipindah
lagi dan hanya diperlukan sedikit perubahan posisi pasien. Perubahan posisi berlebihan dalam
30 menit pertama akan menyebabkan menyebarnya obat.
1. Setelah dimonitor, tidurkan pasien misalkan dalam posisi lateral dekubitus. Beri bantal
kepala, selain enak untuk pasien juga supaya tulang belakang stabil. Buat pasien
membungkuk maximal agar processus spinosus mudah teraba. Posisi lain adalah duduk.

Gambar 3. Posisi Duduk dan Lateral Decubitus

2. Perpotongan antara garis yang menghubungkan kedua garis Krista iliaka, misal L2-L3,
L3-L4, L4-L5. Tusukan pada L1-L2 atau di atasnya berisiko trauma terhadap medula
spinalis.
3. Sterilkan tempat tusukan dengan betadine atau alkohol.
4. Beri anastesi lokal pada tempat tusukan, misalnya dengan lidokain 1-2% 2-3ml.
5. Cara tusukan median atau paramedian. Untuk jarum spinal besar 22G, 23G, 25G dapat
langsung digunakan. Sedangkan untuk yang kecil 27G atau 29G dianjurkan
menggunakan penuntun jarum yaitu jarum suntik biasa semprit 10 cc. Tusukkan
introduser sedalam kira-kira 2cm agak sedikit ke arah sefal, kemudian masukkan jarum
spinal berikut mandrinnya ke lubang jarum tersebut. Jika menggunakan jarum tajam
12

(Quincke-Babcock) irisan jarum (bevel) harus sejajar dengan serat duramater, yaitu pada
posisi tidur miring bevel mengarah ke atas atau ke bawah, untuk menghindari kebocoran
likuor yang dapat berakibat timbulnya nyeri kepala pasca spinal. Setelah resistensi
menghilang, mandarin jarum spinal dicabut dan keluar likuor, pasang semprit berisi obat
dan obat dapat dimasukkan pelan-pelan (0,5ml/detik) diselingi aspirasi sedikit, hanya
untuk meyakinkan posisi jarum tetap baik. Kalau yakin ujung jarum spinal pada posisi
yang benar dan likuor tidak keluar, putar arah jarum 90 biasanya likuor keluar. Untuk
analgesia spinal kontinyu dapat dimasukan kateter.

Gambar 4. Tusukan Jarum pada Anestesi Spinal

6. Posisi duduk sering dikerjakan untuk bedah perineal misalnya bedah hemoroid (wasir)
dengan anestetik hiperbarik. Jarak kulit-ligamentum flavum dewasa 6cm.

Penyebaran anastetik lokal tergantung:


1. Faktor utama:
a. Berat jenis anestetik lokal (barisitas)
b. Posisi pasien
c. Dosis dan volume anestetik lokal
2. Faktor tambahan
a. Ketinggian suntikan
b. Kecepatan suntikan/barbotase
c. Ukuran jarum
d. Keadaan fisik pasien
e. Tekanan intra abdominal

Lama kerja anestetik lokal tergantung:


1. Jenis anestetia lokal
2. Besarnya dosis
13

3. Ada tidaknya vasokonstriktor


4. Besarnya penyebaran anestetik lokal

Komplikasi tindakan anestesi spinal :


1. Hipotensi berat
Akibat blok simpatis terjadi venous pooling. Pada dewasa dicegah dengan
memberikan infus cairan elektrolit 1000 ml atau koloid 500 ml sebelum
tindakan.
2. Bradikardia
Dapat terjadi tanpa disertai hipotensi atau hipoksia, terjadi akibat blok sampai
T-2
3. Hipoventilasi
Akibat paralisis saraf frenikus atau hipoperfusi pusat kendali nafas
4. Trauma pembuluh saraf
5. Trauma saraf
6. Mual-muntah
7. Gangguan pendengaran
8. Blok spinal tinggi atau spinal total

Komplikasi pasca tindakan


1. Nyeri tempat suntikan
2. Nyeri punggung
3. Nyeri kepala karena kebocoran likuor
4. Retensio urine
5. Meningitis

II.

Anestesia Epidural2,4
Anestesia atau analgesia epidural adalah blokade saraf dengan menempatkan obat di

ruang epidural. Ruang ini berada di antara ligamentum flavum dan duramater. Kedalaman
ruang ini rata-rata 5 mm dan di bagian posterior kedalaman maksimal pada daerah lumbal.
Obat anestetik lokal di ruang epidural bekerja langsung pada akar saraf spinal yang
terletak di lateral. Awal kerja anestesi epidural lebih lambat dibanding anestesi spinal,
sedangkan kualitas blokade sensorik-motorik juga lebih lemah.

14

Gambar 5. Anestesi Epidural

Keuntungan epidural dibandingkan spinal :

Bisa segmental

Tidak terjadi headache post op

Hipotensi lambat terjadi


Kerugian epidural dibandingkan spinal :

Teknik lebih sulit

Jumlah obat anestesi lokal lebih besar

Reaksi sistemis
Komplikasi anestesi / analgesi epidural :
1. Blok tidak merata
2. Depresi kardiovaskular (hipotensi)
3. Hipoventilasi (hati-hati keracunan obat)
4. Mual muntah
Indikasi analgesia epidural:
1. Untuk analgesia saja, di mana operasi tidak dipertimbangkan. Sebuah anestesi
epidural untuk menghilangkan nyeri (misalnya pada persalinan) kemungkinan
tidak akan menyebabkan hilangnya kekuatan otot, tetapi biasanya tidak cukup
untuk operasi.
2. Sebagai tambahan untuk anestesi umum. Hal ini dapat mengurangi kebutuhan
pasien akan analgesik opioid. Ini cocok untuk berbagai macam operasi, misalnya
15

histerektomi, bedah ortopedi, bedah umum (misalnya laparotomi) dan bedah


vaskuler (misalnya perbaikan aneurisma aorta terbuka).
3. Sebagai teknik tunggal untuk anestesi bedah. Beberapa operasi, yang paling sering
operasi caesar, dapat dilakukan dengan menggunakan anestesi epidural sebagai
teknik tunggal. Biasanya pasien akan tetap terjaga selama operasi. Dosis yang
dibutuhkan untuk anestesi jauh lebih tinggi daripada yang diperlukan untuk
analgesia.
4. Untuk analgesia pasca-operasi, di salah satu situasi di atas. Analgesik diberikan ke
dalam ruang epidural selama beberapa hari setelah operasi, asalkan kateter telah
dimasukkan.
5. Untuk perawatan sakit punggung. Injeksi dari analgesik dan steroid ke dalam
ruang epidural dapat meningkatkan beberapa bentuk sakit punggung.
6. Untuk mengurangi rasa sakit kronis atau peringanan gejala dalam perawatan
terminal, biasanya dalam jangka pendek atau menengah.

Ada beberapa situasi di mana resiko epidural lebih tinggi dari biasanya :
1. Kelainan anatomis, seperti spina bifida, meningomyelocele, atau skoliosis
2. Operasi tulang belakang sebelumnya (di mana jaringan parut dapat menghambat
penyebaran obat)
3. Beberapa masalah sistem saraf pusat, termasuk multiple sclerosis
4. Beberapa masalah katup jantung (seperti stenosis aorta, di mana vasodilatasi yang
diinduksi oleh obat bius dapat mengganggu suplai darah ke jantung)
Anestesi epidural sebaiknya dilakukan pada:
1. Kurangnya persetujuan
2. Gangguan pendarahan (koagulopati) atau penggunaan obat antikoagulan
(misalnya warfarin)
3. Risiko hematoma
4. Kompresi tulang belakang
5. Infeksi dekat titik penyisipan
6. Hipovolemia

16

Penyebaran obat pada anestesi epidural bergantung :


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Volume obat yg disuntikan


Usia pasien
Kecepatan suntikan
Besarnya dosis
Ketinggian tempat suntikan
Posisi pasien
Panjang kolumna vetebralis

Teknik anestesia epidural :


Pengenalan ruang epidural lebih sulit dibanding dengan ruang subarakhnoid.
1. Posisi pasien saat tusukan seperti pada analgesia spinal.
2. Tusukan jarum epidural biasanya dilakukan pada ketinggian L3-4.
3. Jarum yang digunakan ada 2 macam, yaitu:
a) jarum ujung tajam (Crawford)
b) jarum ujung khusus (Tuohy)

Gambar 6. Jarum Anestesi Epidural

4. Untuk mengenal ruang epidural digunakan banyak teknik. Namun yang paling
populer adalah teknik hilangnya resistensi dan teknik tetes tergantung.
a) Teknik hilangnya resistensi (loss of resistance)
Teknik ini menggunakan semprit kaca atau semprit plastik rendah resistensi yang
diisi oleh udara atau NaCl sebanyak 3ml. Setelah diberikan anestetik lokal pada
tempat suntikan, jarum epidural ditusuk sedalam 1-2 cm. Kemudian udara atau
17

NaCl disuntikkan perlahan dan terputus-putus. Sembari mendorong jarum


epidural sampai terasa menembus jaringan keras (ligamentum flavum) yang
disusul hilangnya resistensi. Setelah yakin ujung jarum berada dalam ruang
epidural, lakukan uji dosis (test dose)
b) Teknik tetes tergantung (hanging drop)
Persiapan sama seperti teknik hilangnya resistensi, tetapi pada teknik ini
menggunakan jarum epidural yang diisi NaCl sampai terlihat ada tetes Nacl yang
menggantung. Dengan mendorong jarum epidural perlahan secara lembut sampai
terasa menembus jaringan keras yang kemudian disusul oleh tersedotnya tetes
NaCl ke ruang epidural. Setelah yakin, lakukan uji dosis (test dose)
5. Uji dosis (test dose)
Uji dosis anestetik lokal untuk epidural dosis tunggal dilakukan setelah ujung jarum
diyakini berada dalam ruang epidural dan untuk dosis berulang (kontinyu) melalui
kateter. Masukkan anestetik lokal 3 ml yang sudah bercampur adrenalin 1:200.000.
Tak ada efek setelah beberapa menit, kemungkinan besar letak jarum sudah
benar
Terjadi blokade spinal, menunjukkan obat sudah masuk ke ruang subarakhnoid
karena terlalu dalam.
Terjadi peningkatan laju nadi sampai 20-30%, kemungkinan obat masuk vena
epidural.
6. Cara penyuntikan: setelah yakin posisi jarum atau kateter benar, suntikkan anestetik
lokal secara bertahap setiap 3-5 menit sampai tercapai dosis total. Suntikan terlalu
cepat menyebabkan tekanan dalam ruang epidural mendadak tinggi, sehingga
menimbulkan peninggian tekanan intrakranial, nyeri kepala dan gangguan sirkulasi
pembuluh darah epidural.
7. Dosis maksimal dewasa muda sehat 1,6 ml/segmen yang tentunya bergantung pada
konsentrasi obat. Pada manula dan neonatus dosis dikurangi sampai 50% dan pada
wanita hamil dikurangi sampai 30% akibat pengaruh hormon dan mengecilnya ruang
epidural akibat ramainya vaskularisasi darah dalam ruang epidural.
8. Uji keberhasilan epidural
Keberhasilan analgesia epidural :
a. Tentang blok simpatis diketahui dari perubahan suhu.
b. Tentang blok sensorik dari uji tusuk jarum.
c. Tentang blok motorik dari skala bromage

18

Melipat Lutut
++
+
-

Blok tak ada


Blok parsial
Blok hampir lengkap
Blok lengkap

Melipat Jari
++
++
+
-

Tabel 1. Skala bromage untuk Blok Motorik

Anestetik lokal yang digunakan untuk epidural


1. Lidokain (Xylokain, Lidonest)
Umumnya digunakan 1-2%, dengan mula kerja 10 menit dan relaksasi otot baik.
0.8% blokade sensorik baik tanpa blokade motorik.
1.5% lazim digunakan untuk pembedahan.
2% untuk relaksasi pasien berotot.
2. Bupivakain (Markain)
Konsentrasi 0.5% tanpa adrenalin, analgesianya sampai 8 jam. Volum yang
digunakan <20ml.
Komplikasi:
1.
2.
3.
4.

Blok tidak merata


Depresi kardiovaskuler (hipotensi)
Hipoventilasi (hati-hati keracunan obat)
Mual-muntah

Tabel 2. Obat Anestesi Epidural

III. Anestesia Kaudal


Anestesi kaudal sebenarnya sama dengan anestesi epidural, karena kanalis kaudalis
adalah kepanjangan dari ruang epidural dan obat ditempatkan di ruang kaudal melalui hiatus
sakralis. Hiatus sakralis ditutup oleh ligamentum sakrokoksigeal tanpa tulang yang analog
dengan gabungan antara ligamentum supraspinosum, ligamentum interspinosum, dan

19

ligamentum flavum. Ruang kaudal berisi saraf sakral, pleksus venosus, felum terminale dan
kantong dura.
Indikasi : Bedah daerah sekitar perineum, anorektal misalnya hemoroid, fistula
paraanal.
Kontra indikasi : Seperti analgesia spinal dan analgesia epidural.
Teknik anestesia kaudal :
1. Posisi pasien terlungkup dengan simfisis diganjal (tungkai dan kepala lebih rendah
dari bokong) atau dekubitus lateral, terutama wanita hamil.
2. Dapat menggunakan jarum suntik biasa atau jarum dengan kateter vena ukuran 2022 pada pasien dewasa.
3. Untuk dewasa biasa digunakan volum 12-15 ml (1-2 ml/ segmen)
4. Identifikasi hiatus sakralis dengan menemukan kornu sakralis kanan dan kiri dan
spina iliaka superior posterior. Dengan menghubungkan ketiga tonjolan tersebut
diperoleh hiatus sakralis.
5. Setelah dilakukan tindakan a dan antisepsis pada daerah hiatus sakralis, tusukkan
jarum mula-mula 90o terhadap kulit. Setelah diyakini masuk kanalis sakralis, ubah
jarum jadi 450-600 dan jarum didorong sedalam 1-2 cm. Kemudian suntikan NaCl
sebanyak 5 ml secara agak cepat sambil meraba apakah ada pembengkakan di kulit
untuk menguji apakah cairan masuk dengan benar di kanalis kaudalis.

Gambar 7. Anestesi Kaudal

IV. Anestesi Spinal Total

Anestesi spinal total ialah anestesi spinal intratekal atau epidural yang naik sampai di
atas daerah servikal. Anestesi ini biasanya tidak disengaja, pasien batuk-batuk, dosis obat
berlebihan,

terutama

pada

analgesia

epidural

dengan

posisi pasien

yang

tidak

menguntungkan.
Tanda-tanda klinis:
20

1. tangan kesemutan
2. lidah kesemutan
3. napas berat
4. mengantuk kemudian tidak sadar
5. bradikardi dan hipotensi berat
6. henti napas
7. pupil midriasi.
Walaupun saraf phrenikus mungkin terkena blokade namun henti napas lebih
disebabkan oleh hipoperfusi pusat kendali napas. Kejadian ini timbul segera setelah tindakan
atau setelah 30-45 menit kemudian. Kejadian ini bersifat sementara namun apabila tidak
ditanggulangi dapat mengakibatkan henti jantung yang dapat merenggut nyawa pasien.
Pengenalan dini anestesia spinal total ini amat penting agar pertolongan dapat segera
dilakukan.
Tindakan terhadap anestesi spinal total ini adalah dengan menaikkan curah jantung,
infus cairan koloid 2-3 L, menaikkan kedua tungkai, kendalikan pernapasan dengan O2 100%
kalau perlu dengan intubasi dan intubasi ini dapat dilakukan dengan mudah karena telah
terjadi relaksasi otot maksimal, beri atropin untuk melawan bradikardi dan beri efedrin untuk
melawan hipotensi.
Efek Fisiologis Blok Neuroaksial
1. Efek Kardiovaskuler:
-

Akibat dari blok simpatis, akan terjadi penurunan tekanan darah (hipotensi). Efek
simpatektomi tergantung dari tinggi blok. Pada spinal, 2-6 dermatom di atas level
blok sensoris, sedangkan pada epidural, terjadi blok pada level yang sama.
Hipotensi dapat dicegah dengan pemberian cairan (pre-loading) untuk mengurangi
hipovolemia relatif akibat vasodilatasi sebelum dilakukan spinal/epidural anestesi,
dan apabila telah terjadi hipotensi, dapat diterapi dengan pemberian cairan dan
vasopressor seperti efedrin.

Bila terjadi spinal tinggi atau high spinal (blok pada cardioaccelerator fiber di T1T4), dapat menyebabkan bradikardi sampai cardiac arrest.

2. Efek Respirasi:
-

Bila terjadi spinal tinggi atau high spinal (blok lebih dari dermatom T5)
mengakibatkan hipoperfusi dari pusat nafas di batang otak dan menyebabkan
terjadinya respiratory arrest.

21

Bisa juga terjadi blok pada nervus phrenicus sehingga menyebabkan gangguan
gerakan diafragma dan otot perut yg dibutuhkan untuk inspirasi dan ekspirasi.

3. Efek Gastrointestinal:
-

Mual muntah akibat blok neuroaksial sebesar 20%, sehingga menyebabkan


hiperperistaltik gastrointestinal akibat aktivitas parasimpatis dikarenakan oleh
simpatis yg terblok. Hal ini menguntungkan pada operasi abdomen karena kontraksi
usus dapat menyebabkan kondisi operasi maksimal.

SKOLIOSIS
Definisi
Skoliosis adalah deformitas pada tulang belakang yang seharusnya lurus menjadi
miring.

Hubungan Anestesi Spinal dengan Skoliosis


Pada beberapa literatur anestesi spinal pada pasien skoliosis memiliki beberapa risiko.
Pembiusan spinal pada pasien dengan skoliosis dilakukan di ruang intratekal, yang memiliki
cairan spinal, dan aman untuk dilakukan beberapa operasi pada anestesi spinal. Pada pasien
dengan skoliosis berat injeksi pertama intratekal diberikan 6 mg bupivakain hiperbarik
menghasilkan blok motor dan sensoris yang tidak adekuat., tetapi pemblokan sensoris dan
motorik pada tingkatan Th 10 didapatkan dengan injeksi 6.25 mg bupivakain hipobarik (2
ml). Karena efek yang tidak diduga dari cairan anestesi lokal , pada operasi kedua diubah ke
injeksi intratekal 12.5 mg bupivakain hipobarik (4 ml), pemblokan motorik dan sensoris
didapatkan lagi pada Th 10. Pasien dilaporkan puas setiap dilakukan anestesi ini dan tidak
ada komplikasi.
Di artikel lainnya membahas tentang anestesi regional pada wanita yang mau
melahirkan secara sesar dengan skoliosis memiliki hubungan risiko potensial untuk ibu dan
22

janin olehkarena adanya perubahan fisiologis dan patologi pada skoliosis. Manajemen
anestesi pada kasus ini harus benar-benar teliti untuk ibu dan janin. Kebutuhan anestesi untuk
wanita yang akan melahirkan yang memiliki skoliosis anestesinya lebih sulit dibandingkan
dengan partus normal. Beberapa literatur melaporkan efek samping dari tindakan anestesi
spinal pada wanita yang akan melahirkan dengan skoliosis adalah sakit kepala.
Beberapa tindakan pencitraan seperti rontgen tulang belakang, CT-san, dan MRI dapat
membantu tindakan untuk anestesi regional pasien dengan skoliosis.
Gambar 1. Algoritma untuk pedoman teknik neuraxial pada pasien skoliosis

BAB IV
ANALISA KASUS

Pasien laki-laki usia 49 tahun datang dengan keluhan besar kedua paha kakinya tidak
sama. Setahun yang lalu os mengalami kecelakaan, dan telah dipasang ORIF , namun ORIF
23

pasien patah didalam , menyebabkan kaki os tidak sama besar. Os disarankan untuk operasi
kembali. Saat didalam ruang operasi , ditemukan tulang punggung os tidak lurus, dari
keterangan os, os sadar kalau tulang punggungnya tidak lurus, tetapi hal itu tidak
mengganggu os, dan os tidak berobat karena itu.
Pada keadaan skoliosis, tindakan anestesi spinal menjadi sulit untuk dilakukan, namun
bukan kontraindikasi absolute. Tindakan anestesi spinal pada pasien dengan skoliosis dapat
menimbulkan berbagai macam risiko, bisa kesulitan dalam menusuk jarum spinal, jarum
tidak masuk pada tempatnya, dan ruang untuk pemberian obat anestesi tidak tepat.
Untuk itu , jika ingin tetap dilakukan tindakan anestesi spinal pada pasien dengan
skoliosis, ketilitian dan pengalaman diperlukan untuk meminimalkan risiko.

DAFTAR PUSTAKA
1. Latief, Said. Analgesia Regional. Dalam: Petunjuk Praktis Anestesiologi edisi II.
Jakarta: Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif FKUI. 2009
2. Dobson, M. B. dkk. Penuntun Praktis Anestesi. Jakarta: EGC. 1994

24

3. Werth, M. Pokok-pokok Anestesi. Jakarta: EGC. 2010


4. Morgan, Edward dkk. Clinical Anesthesiology Fourth Edition. McGraw-Hill
Companies. 2006
5. Ozyrut, G, et al. Spinal Anestesi in Patien with Severe Thoracolumbar
Kyphoscoliosis. Case Report. Tohoku J. Exp. Med. Dipublikasi pada 31 Mei
2005. Hal: 239-242.
6. Bownes, C, et al. An Approach to Neuraxial Anaesthesia for The Severely
Scoliotic Spine. British Jpurnal or Anaesthesia. Dipublikasi pada 9 Mei 2013. Hal
1-5.
7. Smith, PS, et al. Regional Blockade for Delivery in Women With Scoliosis or
Previous Spinal Surgery. Original Article. International Journal of Obstetric
Anaesthesia. Dipublikasi pada 12 Juni 2003. Hal 17-22.
8. Veliath, DG, et al. Parturient with Kyphoscoliosis (operated) for Cesarean Section.
Journal of Anaesthesiology Clinical Pharmacology. Case Report. Dipublikasi pada
20 Januari 2012. Hal 124- 126.

25

Anda mungkin juga menyukai