Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN TEKHNIK PENGAMBILAN DARAH MELALUI KAPILER DENGAN

PENGECATAN GIEMSA UNTUK PEMERIKSAAN MALARIA


Tekhnik pengambilan darah melalui kapiler
Tujuan : Mendapatkan spesimen darah kapiler yang memenuhi persyaratan
untuk pemeriksaan malaria dan beberapa pemeriksaan rapid test imunologi

Lokasi : ujung jari tangan / anak daun telinga ( dewasa )


tumit / ibu jari kaki ( bayi )
Alat-alat : alcohol 70%
- lancet steril
-kapas steril
-plester
Cara kerja :
1. Bersihkan daerah yang akan di tusuk alcohol 70% dan biarkan menjadi
kering kembali.
2. Pegang bagian yang akan di tusuk supaya tidak bergerak dan di tekan
sedikit agar rasa nyeri berkurang.
3. Tusuk dengan cepat memakai lancet steril. Pada ibu jari tusukan tegak
lurus dengan garis sidik jari. Bila memakai anak daun telinga tusukan
dilakukan dipinggir bukan pada sisinya.Tusukan harus cukup dalam.
4. Buang tetes darah pertama keluar dengan memakai kapas kering. Tetes
darah berikutnya dipakai untuk Pemeriksaan.
Pewarnaan Giemsa
Pewarnaan sediaan darah tebal dapat dilakukan dengan pewarnaan Giemsa
Dasar teori
Mikroorganisme yang ada dialam ini mempunyai morfologi, struktur dan sifatsifat yang khas, begitu pula dengan bakteri. Bakteri yang hidup hampir tidak
berwarna

dan

kontras dengan

air, dimana

sel-sel

bakteri

tersebut

disuspensikan. Salah satu cara untuk mengamati bentuk sel bakteri sehingga
mudah untuk diidentifikasi ialah dengan metode pengecatan atau pewarnaan.
Hal tersebut juga berfungsi untuk mengetahui sifat fisiologisnya yaitu
mengetahui reaksi dinding sel bakteri melalui serangkaian pengecatan.
Tujuan dari pewarnaan
Untuk memudahkan melihat bakteri dengan mikroskop, memperjelas ukuran
dan bentuk bakteri, untuk melihat struktur luar dan struktur dalam bakteri
seperti dinding sel dan vakuola, menghasilkan sifat-sifat fisik dan kimia yang

khas daripada bakteri dengan zat warna, serta meningkatkan kontras


mikroorganisme dengan sekitarnya.
Faktor yang mempengaruhi pewarnaan bakteri yaitu fiksasi, peluntur warna,
subtrat, intensifikasi pewarnaan dan penggunaan zat warna penutup.
Pewarnaan gram pertama kali mulai dikembangkan pada tahun 1884 oleh ahli
histologi yaitu Cristian Gram.
Zat warna adalah senyawa kimia berupa garam-garam yang salah satu
ionnya berwarna. Garam terdiri dari ion bermuatan positif dan ion bermuatan
negatif. Senyawa-senyawa kimia ini berguna untuk membedakan bakteribakteri karena reaksinya dengan sel bakeri akan memberikan warna berbeda.
Perbedaan inilah yang digunakan sebagai dasar pewarnaan bakteri.
Sel-sel warna dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu asam dan basa. Jika
warna terletak pada muatan positif dari zat warna, maka disebut zat warna
basa. Jika warna terdapat pada ion negatif, maka disebut zat warna asam.
Contoh zat warna basa adalah methylen blue, safranin, netral red, dan lainlain. Sedangkan anionnya pada umumnya adalah Cl -, SO4-, CH3COO-,
COOHCOO?. Zat warna asam umumnya mempunyai sifat dapat bersenyawa
lebih cepat dengan bagian sitoplasma sel sedangkan zat warna basa mudah
bereaksi dengan bagian-bagian inti sel. Pewarnaan bakteri dipengaruhi oleh
faktor-faktor seperti : fiksasi, peluntur warna, substrat, intensifikasi pewarnaan
dan penggunaan zat warna penutup.
Metode Giemsa merupakan gold standard. Kelebihan dari metoda Giemsa
ini adalah biaya relatif murah. Meskipun demikian masih terdapat kendala
yaitu memerlukan tenaga laboratorium yang terlatih dan hasil diperoleh dalam
waktu yang lebih lam Hingga saat ini diagnosis malaria dilakukan dengan
cara konvensional yaitu dengan membuat sediaan darah tebal dan tipis yang
dipulas dengan pewarnaan Giemsa dan diperiksa di bawah mikroskop
cahaya. Hasil pemeriksaan negatif tidak selalu berarti tidak mengidap
penyakit malaria, khususnya pada orang-orang yang mendapat pengobatan
anti malaria ataupun mereka yang tinggal di daerah hipoendemis. Sediaan
darah tebal berguna untuk mengkonsentrasikan parasit di dalam bidang
sediaan, jadi untuk menegakkan diagnosis malaria harus menggunakan
sediaan darah tebal. Sediaan darah tipis berguna untuk melihat morfologi
parasit sekaligus menentukan spesies parasit.

Kelebihan dari pewarnaan Giemsa ini adalah biaya relatif murah. Meskipun
demikian masih terdapat beberapa kendala dan keterbatasan, dengan tenaga
laboratorium

yang

berpengalaman

sekalipun,

memakan

waktu

dan

membutuhkan upaya yang intensif, terutama bila parasit sedikit atau tidak
dijumpai di dalam darah pada saat pemeriksaan.
Dalam kasus-kasus dengan infeksi campuran P.vivax dan P.falciparum, sulit
membuat diagnosis yang benar bila P.vivax hanya muncul stadium cincin
atau bila persentase sel darah merah terinfeksi P.falciparum sangat sedikit
(time consuming).
Latar belakang Malaria
Malaria adalah penyakit yang disebabkan oleh satu atau lebih dari empat
Plasmodia yang menginfeksi manusia : P. Falciparum, P. Vivax, P.ovale dan
P.malariae.
Plasmodium falciparum dan plasmodium vivax merupakan spesies yang
banyak ditemukan, sedangkan plasmodium malariae dan plasmodium ovale
sampai saat ini tidak pernah ditemukan di Indonesia. Untuk diagsnoktik
laboratorium seorang penderita tersangka malaria harus menggunakan
sediaan darah tebal.
1 Dua spesies yang pertama ( P.falciparum, P.vivax) merupakan penyebab
lebih dari 95% kasus malaria di dunia.
2 P.falciparum ditemukan terutama di daerah
tropis dan resiko kematian lebih besar bagi orang yang tidak imun, karena
dapat
menyerang sel darah merah disemua umur dan obat biasanya resistensi.
Terdapat bukti bahwa penyakit ini mempunyai tingkat endemisitas yang tinggi
di beberapa
kawasan pemukiman di daerah tropis dan subtropis sejak masa prasejarah.
Hal ini berhubungan dengan modifikasi terhadap lingkungan alami yang
dilakukan oleh
manusia.
3 Sampai saat ini malaria masih merupakan problem didaerah tropis negara

yang berkembang dengan 300-500 juta kasus dan 2 -3 meninggal


pertahunnya.
Khususnya pada bayi dan anak angka kematian dan kesakitan pada umur
dibawah 5 tahun adalah 6% dan 11%, di Afrika 10% angka kematian yang
disebabkan oleh penyakit malaria.
4 Di Indonesia sampai saat ini penyakit malaria masih merupakan masalah
kesehatan masyarakat.
5 Angka kesakitan penyakit ini masih cukup tinggi, terutama di daerah
endemis dan yang non endemis malaria.
6 Di daerah tersebut masih sering terjadi letusan wabah yang menimbulkan
banyak kematian. Laporan pertama tentang adanya malaria di Indonesia oleh
tentara Belanda. Dilaporkan adanya wabah di Cirebon pada tahun 18521854.
Cara kerja:
1.Encerkan

terlebih dahulu larutan Giemsa dengan Aquades dengan

perbandingan 1:7 atau 1:10 tetes


2.Campur hingga rata
3.Letakkan sediaan diatas rak pewarna,kemudian pulas dengan campuran
giemsa dan aquades tadi menutupi seluruh sediaan dan biarkan selama 15
menit untuk sediaan darah tebal
4.Kemudian tuangkan air keran diatasnya perlahan sampai zat pewarna
hilang
5.Dikering anginkan dengan dialasi tissu
6.Diperiksa dibawah mikroskop
Cara pemeriksaan malaria:
1.Sediaan yang sudah diwarnai dan sudah kering diperiksa dengan
mikroskop
2.Tetes 1 tetes oil imersi diatas sediaan dan periksa dengan pembesaran
obyektif 100x dan okuler 5 sampai 6x
Carilah gambar tofozoid yang mempunyai inti berwarna merah sitoplasma
berwarna biru. Untuk trofozoid yang lebih tua dapat dibantu dengan adanya
pigmen yang berwarna coklat muda sampai tua bahkan sampai berwarna
hitam.

Bila

plasmodium

suda

diketahui,

maka

langkah

selanjutnya

memperkirakan

kemungkinan

adanya

plasmodium

yang

lain

(infeksi

campuran)
3.Pemeriksaan dilakukan dengan zig zag yaitu dari satu sisi ke sisi yang lain
kemudian kembali kesisi semula dan demikian seterusnya. Setiap menukar
arah hendaknya digeser satu lapangan pandang mikroskop demikian halnya
mikrometer selalu diatur agar diperoleh gambar jelas
Cara pelaporan hasil pemeriksaan:
1.Tidak dijumpai parasit malaria /100lp ditulis plasmodium (neg)
2.Dijumpai Plasmodium Falciparum ditulis F(+)
3.Dijumpai Plasmodium Vivax ditulis V(+)
4.Dijumpai Plasmodium Malariae ditulis M(+)
5.Dijumpai lebih dari 1 spesies plasmodium (infeksi campuran)
#plasmodium vivax dan plasmodium falciparum ditulis V+F(+)
#plasmodium falciparum dan plasmodium malariae ditulis F+M(+)
Hasil:
Dari pemeriksaan malaria menggunakan teknik pengambilan darah melalui
kapiler dengan pengecatan giemsa terhadap Ny.X mendapat hasil yaitu F (+)
yang artinya bahwa didalam darah Ny.X dijumpai Plasmodium Falciparum.
Pembahasan dan kesimpulan:
Dari hasil yang saya dapat pada saat pemeriksaan malaria menggunakan
metode pewarnaan Giemsa terhadap Ny.X yaitu F(+)
Hasil diatas menunjukkan bahwa didalam darah Ny.X terdapat plasmodium
falciparum yang merupakan salah satu indikasi adanya penyakit

malaria

dalam tubuh pasien tersebut.


Selain itu ada beberapa faktor kesalahan pada pemeriksaan malaria dengan
menggunakan metode Giemsa antara lain:
1.Tidak pastinya penentuan plasmodium parasit malaria sesuai morfologinya,
untuk itu perlu mendalami dan mengenal ciri morfologinya masing masing
stadium
2.Kwalitas pengenceran reagen pewarna kurang tepat
3.Waktu pewarnaan tidak tepat
4.Alat atau slide yang kurang bersih dan bebas lemak

Kesalahan seperti diatas dapat menyebabkan kurang akuratnya hasil


pemeriksaan

Malaria.

Sehingga

diharapkan

pemeriksa

benar

benar

memperhatikan cara kerja dan faktor diatas agar hasil yang didapatkan lebih
akurat.
Kesimpulan:
Dari hasil pemeriksaan dapat ditarik kesimpulan bahwa Ny.X

positif

menderita penyakit malaria yang diketahui dari ditemukannya plasmodium


falciparum dalam slide pemeriksaan malaria dengan menggunakan metode
pewarnaan giemsa.