Anda di halaman 1dari 11

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN


Pada penelitian ini, pembuatan asam oksalat dilakukan dengan metode
peleburan alkali menggunakan Natrium Hidroksida (NaOH) sebagai larutan pemasak.
Pemilihan larutan pemasak ini dikarenakan pada proses hidrolisis NaOH menghasilkan
konversi yang lebih besar dibandingkan dengan alkali lain.
Ada beberapa tahapan proses pembuatan asam oksalat dengan metode peleburan
alkali dengan larutan pemasak yaitu hidrolisis, filtrasi, pengendapan dengan CaCl 2,
pengasaman dengan H2SO4 dan pengkristalan.
Suhu yang digunakan untuk proses pemasakan adalah 98 oC pada variasi
konstrasi NaOH 3,5 N; 4 N dan 4,5 N dan variasi waktu pemasakan 50, 60, 70 dan 80
menit.
4.1 Pengaruh Waktu Pemasakan terhadap Yield Asam Oksalat yang Dihasilkan
Pada Gambar 4.1, 4.2, 4.3 dan 4.4 dapat dilihat bahwa terjadi peningkatan yield
asam oksalat seiring semakin lama waktu pemasakan dan akhirnya menurun pada
waktu pemasakan 70 menit. Hal ini menunjukkan bahwa wakltu pemasakan
mempengaruhi yield asam oksalat yang dihasilkan. Semakin lama waktu pemasakan
akan memperbesar kesempatan zat-zat pereaksi bersentuhan yang dapat meningkatkan
yield asam oksalat. Tetapi waktu reaksi yang cukup lama akan menyebabkan reaksi
lanjut terhadap asam oksalat, sehingga hasil yang diinginkan semakin berkurang
(Narimo, 2009).
Pada Gambar 4.1 dapat dilihat bahwa konversi maksimum dengan waktu
pemasakan 60 menit sebesar 0,129 gr. Pada Gambar 4.2 dapat dilihat bahwa didapatkan
konversi maksimum dengan waktu pemasakan 60 menit sebesar 0,306 gr. Dan pada
Gambar 4.3 dapat dilihat bahwa didapatkan konversi maksimum dengan waktu
pemasakan 60 menit sebesar 0,261 gr.

0.40
0.35
0.30
0.25
Berat (Gram)

0.20
Konsentrasi 3,5 N

0.15
0.10
0.05
0.00
40

50

60

70

80

90

Waktu (Menit)

Gambar 4.1 Pengaruh Waktu Pemasakan terhadap Yield Asam Oksalat pada
Konsentrasi NaOH 3,5 N
0.40
0.35
0.30
0.25
Berat (Gram)

0.20
Konsentrasi 4 N

0.15
0.10
0.05
0.00
40

50

60

70

80

90

Waktu (Menit)

Gambar 4.2 Pengaruh Waktu Pemasakan terhadap Yield Asam Oksalat pada
Konsentrasi NaOH 4 N

0.40
0.35
0.30
0.25
0.20

Berat (Gram)

0.15

Konsentrasi 4,5 N

0.10
0.05
0.00
40

50

60

70

80

90

Waktu (Menit)

Gambar 4.3 Pengaruh Waktu Pemasakan terhadap Yield Asam Oksalat pada
Konsentrasi NaOH 4,5 N

0.40
0.35
0.30
0.25
0.20
Berat (Gram)
Konsentrasi
0.15 3,5 N

Konsentrasi 4 N

Konsentrasi 4,5 N

0.10
0.05
0.00
40

45

50

55

60

65

70

75

80

85

Waktu (Menit)

Gambar 4.4 Pengaruh Waktu Pemasakan terhadap Yield Asam Oksalat pada
Konsentrasi NaOH 3,5 N; 4 N dan 4,5 N

90

Pada Gambar 4.4 dapat dilihat bahwa waktu pemasakan optimum dalam
pembuatan asam oksalat pada konsentrasib NaOH 3,5 N; 4 N dan 4,5 N dengan
menggunakan metode peleburan alkali berada pada waktu 60 menit.
4.2 Pengaruh Konsentrasi NaOH terhadap Yield Asam Oksalat yang Dihasilkan
Pada Gambar 4.5, 4.7 dan 4.8 dapat dilihat bahwa terjadi penurunan yield asam
oksalat yang dihasilkan seiring dengan kenaikan konsentrasi NaOH dan akhirnya
meningkat pada konsentrasi NaOH 4,5 N. Sedangkan Pada Gambar 4.6 dapat dilihat
bahwa terjadi kenaikan yield asam oksalat yang dihasilkan seiring dengan kenaikan
konsentrasi NaOH dan akhirnya menurun pada konsentrasi 4,5 N.
Pada Gambar 4.5 dan Gambar 4.7 dan Gambar 4.8 dapat dilihat bahwa pada
konsentrasi NaOH 4 N diperoleh yield minimum, yaitu sebesar 0,072; 0,08 dan 0,038.
Sedangkan pada gambar 4.5 dapat dilihat bahwa pada konsentrasi NaOH 4 N diperoleh
yield maksimum yaitu sebesar 0,306.

0.40
0.35
0.30
0.25
Berat (Gram)

0.20
0.15

50 menit

0.10
0.05
0.00
3.0

3.5

4.0

4.5

5.0

Konsentrasi (N)

Gambar 4.5 Pengaruh Konsentrasi NaOH terhadap Yield Asam Oksalat pada Waktu 50
menit

0.40
0.35
0.30
0.25
Berat (Gram)

0.20
0.15

60 menit

0.10
0.05
0.00
3.0

3.5

4.0

4.5

5.0

Konsentrasi (N)

Gambar 4.6 Pengaruh Konsentrasi NaOH terhadap Yield Asam Oksalat pada Waktu 60
menit

0.40
0.35
0.30
0.25
Berat (Gram)

0.20
0.15

70 menit

0.10
0.05
0.00
3.0

3.5

4.0

4.5

5.0

Konsentrasi (N)

Gambar 4.7 Pengaruh Konsentrasi NaOH terhadap Yield Asam Oksalat pada Waktu 70
menit

0.40
0.35
0.30
0.25
Berat (Gram)

0.20
80 menit

0.15
0.10
0.05
0.00
3.0

3.5

4.0

4.5

5.0

Konsentrasi (N)

Gambar 4.8 Pengaruh Konsentrasi NaOH terhadap Yield Asam Oksalat pada Waktu 80
menit

0.35
0.30
0.25
0.20
Berat (Gram)
50 menit

0.15

60 menit

70 menit

80 menit

0.10
0.05
0.00
3.0 3.2 3.4 3.6 3.8 4.0 4.2 4.4 4.6 4.8 5.0
Konsentrasi (N)

Gambar 4.9 Pengaruh Konsentrasi NaOH terhadap Yield Asam Oksalat pada Waktu 50,
60, 70 dan 80 menit

Pada Gambar 4.9 menunjukkan bahwa konsentrasi NaOH sebagai larutan


pemasak tidak memiliki pengaruh yang terlalu signifikan terhadap yield asam oksalat
yang dihasilkan. Hal ini tidak sesuai dengan hasil dari peneliti-peneliti sebelum yang
menunjukkan konsentrasi NaOH sebagai larutan pemasak yang berbanding lurus
dengan yield asam oksalat yang dihasilkan sampai pada titik tertentu dimana terjadi
reaksi lanjut yang menyebabkan terurainya asam oksalat menjadi CO2 dan H2O.
4.3 Analisa Kadar Air Alang-alang
Alang-alang yang merupakan bahan baku dari penelitian ini diambil di sekitar
daerah Jamin Ginting, Padang Bulan, Sumatera Utara memiliki kandungan kadar air
sebesar 48,6 %. Menurut Budi (2012), kadar air alang-alang sebesar 93,76 %.
Perbedaan kadar air ini dikarenakan lokasi tumbuh dan keadaan lingkungan. Kadar
air tumbuhan lebih tinggi di tempat basah/lembab dibandingkan di tempat kering.
Menurut Santosa (1995), rendahnya jumlah air akan menyebabkan terbatasnya
perkembangan akar, sehingga menganggu penyerapan unsur hara oleh akar
tumbuhan.
4.4 Analisa Kadar Selulosa Alang-Alang
Kadar selulosa dari alang-alang kering yang digunakan sebagai bahan baku
yaitu sebesar 44,12 %. Kadar selulosa dari alang-alang kering ini sesuai dengan hasil
penelitian Wibisino, 2011 yang mendapatkan kadar selulosa sebesar 44,28 %.

4.5 Analisa Spektrofotometri Infra Merah


Analisa ini dilakukan untuk membandingkan antara asam oksalat hasil sintesis
dari alang-alang dengan asam oksalat standard. Spektrum infra merah asam oksalat
standar dan asam oksalat oksalat hasil sintesis dapat dilihat pada Gambar 4.10 dan 4.11.

Gambar 4.10 Spektrum Infra Merah Asam Oksalat Standar

Gambar 4.11 Spektrum Infra Merah Asam Oksalat Hasil Sintesis dari Alang-alang

4.6 Analisa pH Asam Oksalat

4.7 Analisa Titik Lebur Asam Oksalat


Analisa uji titik leleh dilakukan di ______________. Asam oksalat yang
diperoleh dari penelitian dianalisa dengan plat melting point apparatus dan diperoleh
titik lebur 106-108 oC. Menurut Perry (1998), asam oksalalat murni mempunyai titk
lebur 101,5 oC. Perbedaan hasil titik leleh 101,5 oC dengan 106-108 oC kemungkinan
disebabkan hasil kristalisasi belum murni atau masih terdapat pengotor.

4.9 Spesifikasi Asam Oksalat


No
1.
2.
3.

Karakteristik
Bentuk
pH
Melting Point

Asam Oksalat Hasil Sistesis dari


Alang-alang
Kristal jarum

Asam Oksalat
Standar
Kristal jarum

4.2

Pembahasan

4.2.1

Hasil Penentuan Kadar Air Alang-alang


Perhitungan Kadar Air
Kadar Air =

AB
x 100
AC

A = Berat Alang-alang + Botol Timbang (Basah)


B = Berat Alang-alang + Botol Timbang (Kering)
C = Berat Botol Timbang
Kadar Air =

25,35024,864
x 100
25,35024,350

25,35024,864
x 100
25,35024,350

= 48,6 %

4.2.2

Hasil Penentuan Kadar Selulosa Alang-alang Kering


Perhitungan Kadar Selulosa:
Kadar selulosa = B / A X 100%
B = Berat setelah dihidrolisis
A = Berat bahan baku

Kadar selulosa = 4,412 / 10,027 X 100%


= 44,001 %

4.2.3

Hasil Penentuan Titik Lebur Asam Oksalat

4.2.5

Pengaruh Konsentrasi NaOH dan Waktu Pemasakan terhadap Berat Asam


Oksalat yang Dihasilkan

Grafik 4.1 Pengaruh Konsentrasi NaOH dan Waktu Pemasakan terhadap Berat
Asam Oksalat yang Dihasilkan