Anda di halaman 1dari 26

I.

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Indonesia mempunyai perairan laut yang lebih luas dari pada daratan, oleh karena itu

Indonesia di kenal sebagai negara maritim. Perairan laut Indonesia kaya akan berbagai biota
laut baik flora maupun fauna. Demikian luas serta keragaman jasad jasad hidup di dalam yang
kesemuanya membentuk dinamika kehidupan di laut yang saling berkesinambungan
(Nybakken 1988).
Ekosistem laut merupakan suatu kumpulan integral dari berbagai komponen abiotik
(fisika-kimia) dan biotik (organisme hidup) yang berkaitan satu sama lain dan saling
berinteraksi membentuk suatu unit fungsional. Komponen- komponen ini secara fungsional
tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Apabila terjadi perubahan pada salah satu dari
komponen-komponen tersebut maka akan menyebabkan perubahan pada komponen lainnya.
Perubahan ini tentunya dapat mempengaruhi keseluruhan sistem yang ada, baik dalam kesatuan
struktur fungsional maupun dalam keseimbangannya.
Dewasa ini, perhatian terhadap biota laut semakin meningkat dengan munculnya
kesadaran dan minat setiap lapisan masyarakat akan pentingnya lautan. Menurut Bengen (2001)
laut sebagai penyedia sumber daya alam yang produktif baik sebagai sumber pangan, tambang
mineral, dan energi, media komunikasi maupun kawasan rekreasi atau pariwisata. Karena itu
wilayah pesisir dan lautan merupakan tumpuan harapan manusia dalam pemenuhan kebutuhan
di masa datang.

Salah satu sumber daya laut yang cukup potensial untuk dapat dimanfaatkan adalah
lamun, Lamun (seagrass) adalah tumbuhan berbunga (angiospermae) yang berbiji satu
(monokotil) dan mempunyai akar rimpang, daun, bunga dan buah. Dimana secara ekologis
lamun mempunyai beberapa fungsi penting di
daerah pesisir. Lamun merupakan produktifitas primer di perairan dangkal di seluruh
dunia dan merupakan sumber makanan penting bagi banyak organisme.
Padang lamun merupakan ekosistem yang tinggi produktifitas organiknya, dengan
keanekaragaman biota yang cukup tinggi. Pada ekosistem, ini hidup beraneka ragam biota laut
seperti ikan, krustacea, moluska ( Pinna sp,Lam bis sp, Strombus sp), Ekinodermata
( Holothuria sp, Synapta sp, Diadema sp, Arcbaster sp, Linckia sp) dan cacing ( Polichaeta)
(Bengen, 2001).
Lamun (sea grass) adalah tumbuhan berbunga (Angiospermae) yang telah beradaptasi
hidup terendam dalam air di lingkungan laut (Nybakken 1988).dalam beberapa pustaka
padanan kata sea gressdi gunakan lamun atau alang-alang laut,namun untuk keseragamanya
di gunakan istilah lamun.
Ekosistem lamun adalah asalah satu ekosistem perairan pantai dan berperan penting
dalam menunjang kelangsungan papulasi biota yang hidup di daerah tersebut (peristiwadi
1994).tumbuhan ini sering kali menjadi komponen dominan di lingkungan pesisir (Dahuri
dkk,1996).Perairan dangkal yang agag berpasir yang menjadi tempat hidupnya dan sering di
jumpai berasosiasi dengan hutang mengrove dan terumbu karang (Nontji 1987).

Nybakken (1988)menyatakan bahwa padang lamun adalah merupakan salah satu


ekosistem bahari paling produktif di daerah pantai yang berfungsi dalam menstabilkan sedimen
dan melindungi daerah pantai dari pengaru erosi.Lamun juga berperan sebagai perangkap
sedimen dan selanjutnya membentuk substrat.Lamun yang padat dan luas alalah merupakan
tempat hidup bermacam-macam biota laut seprti ikan,molusca,uadang dan mamalia(Duyung)
(nontji,1987).
Ekosistem lamun merupakan salah satu ekosistem denngan produktifitas yang cukup
tinggi serta mempunyai berbagai fungsi yang sangat luas.Padang lamun dapat mendukung
produtifitas biota alaut yang hidup di sekitarnya,dalam rantai makanan didaerah
subtropis,hamper seluru priduksi di padang lamun di manfaatkan oleh infertebrata,sedangkan di
daerah tropis hasil produksi primer di manfaatkan oleh ikan-ikan herbifora yang memanfaatkan
padang lamun sebagai tempat perlindungan,pembesaran dan mencari makanan (peristiwadi dan
Sapulete,1994).
Keberadaan lamun di perairan di tentukan oleh factor-faktor fisik antara
lain;Kedalaman,salinitas,temperature,kecepatan arus perairan,dan tipe substrat.Di samping itu
aktifitas

manusia

yang

memanfaatkan

sumber

daya

pesisir

seperti

penambangan

pasir,pengerukan dan penimbunan(Reklamasi pantai),pemikiman,dan pariwisata merupakan


ancaman terhadap beberapan lamun di perairan (Dahuri dkk 1996).
Lamun merupakan salah satu jenis tumbuhan akuatik yang memiliki manfaat bagi
manusia.Jenis tumbuhan ini telah di manfaatkan sebagai bahan baku industry kertas dan bahkan
sebagian masyakat Indonesia telah mengkonsumsi lamun jenis tertentu sebagai bahan makanan

(Romimohtarto dan juwana,2001.nontji(1987)melaporkan di kepulauan seribu masyarakat telah


mengkonsumsi lamun jenis Enhalus acoroides sebagai bahan makanan.
Melihat potensi dan manfaat lamun yang sangat besar bagi manusia,maka upayah
pengelolaan dan pemanfaatannya perlu di kembangkan dan di lestarikan.Untuk memperoleh
dan menggali informasi yang lebih detail terhadap keberadaan jenis-jenis lamun yang hidup di
perairan,maka di rasakan perlun untuk di lakukan kegiatan praktekum Ekologi Perairan dengan
judul Studi Ekologi Perairan di Zona Intertidal Pulau DONGROTU Desa Sidangoli Dehe
Kacamatan Jailolo Selatan Kabupaten Halmahera Barat.

1.2

Tujuan dan Manfaat Praktekim

a.

Tujuan Praktikum

Tujuan yang ingin di capai dalam kegiatan praktekum ini adalah sebagai berikut:
1. Inventarisasai jenis-jenis lamun yang di temukan di perairan pulau Dongrotu
2. Untuk mengetahui tingkat kepadatan,pola sebaran,keanekaragaman jenis dan indeks
dominasi jenis-jenis lamun yang di temukan
b.

Manfaat praktikum
Di harapkan memberikan informasi tentang jenis-jenis lamun yang terdapat di perairan

pulau Dongrotu,agar dapat di upayakan tindakan pengelolaan dan pemanfaatannya dengan tetap
menjaga kelestarian lingkungannya.Selain itu juga hasil praktikum ini diharapkan menambah
wawasan pengetahuan tentang sumber daya lamun pada khususnya.

II. TINJAUAN PUSTAKA


2.1

Klasifikasi Lamun
Lamun memiliki bunga, berpolinasi, menghasilkan buah dan menyebarkan bibit seperti

banyak tumbuhan darat. Dan klasifikasi lamun adalah berdasarkan karakter tumbuh-tumbuhan.
Selain itu, genera di daerah tropis memiliki morfologi yang berbeda sehingga pembedaan
spesies dapat dilakukan dengan dasar gambaran morfologi dan anatomi.
Lamun merupakan tumbuhan laut monokotil yang secara utuh memiliki perkembangan
sistem perakaran dan rhizoma yang baik. Pada sistem klasifikasi, lamun berada pada Sub kelas
Monocotyledoneae, kelas Angiospermae. Dari 4 famili lamun yang diketahui, 2 berada di
perairan Indonesia yaitu Hydrocharitaceae dan Cymodoceae. Famili Hydrocharitaceae
dominan merupakan lamun yang tumbuh di air tawar sedangkan 3 famili lain merupakan lamun
yang tumbuh di laut.
Lamun merupakan tumbuhan yang beradaptasi penuh untuk dapat hidup di lingkungan
laut. Eksistensi lamun di laut merupakan hasil dari beberapa adaptasi yang dilakukan termasuk
toleransi terhadap salinitas yang tinggi, kemampuan untuk menancapkan akar di substrat
sebagai jangkar, dan juga kemampuan untuk tumbuh dan melakukan reproduksi pada saat
terbenam. Lamun juga memiliki karakteristik tidak memiliki stomata, mempertahankan kutikel
yang tipis, perkembangan shrizogenous pada sistem lakunar dan keberadaan diafragma pada
sistem lakunar. Salah satu hal yang paling penting dalam adaptasi reproduksi lamun adalah
hidrophilus yaitu kemampuannya untuk melakukan polinasi di bawah air.

Secara rinci klasifikasi lamun menurut Bujang (2005) adalah sebagai berikut:
DIVISISO

:Magnoliophita

KELAS

:Liliopsida

ORDO

:Hidrocharitales

FAMILLY

:Hidrocharrtaecae

GENUS

:Enhalus
Cymodocea
:Halophila

SPESIS

:Enhalus
Cymodocae rotundata

ORDO
2.2.

:Pota mogetunaceae
MorfologI Lamun
Berbagai bentuk pertumbuhan tersebut mempunyai kaitan dengan perbedaan ekologik

lamun (den Hartog, 1977). MisalnyaParvozosterid dan Halophilid dapat dijumpai pada hampir
semua habitat, mulai dari pasir yang kasar sampai lumpur yang lunak, mulai dari daerah
dangkal sampai dalam, mulai dari laut terbuka sampai estuari. Magnosterid dapat dijumpai
pada berbagai substrat, tetapi terbatas pada daerah sublitoral sampai batas rata-rata daerah
surut. Secara umum lamun memiliki bentuk luar yang sama, dan yang membedakan antar

spesies adalah keanekaragaman bentuk organ sistem vegetatif. Menjadi tumbuhan yang
memiliki pembuluh, lamun juga memiliki struktur dan fungsi yang sama dengan tumbuhan
darat yaitu rumput. Berbeda dengan rumput laut (marine alga/seaweeds), lamun memiliki akar
sejati, daun, pembuluh internal yang merupakan sistem yang menyalurkan nutrien, air, dan gas.

Akar
`Terdapat perbedaan morfologi dan anatomi akar yang jelas antara jenis lamun yang

dapat digunakan untuk taksonomi. Akar pada beberapa spesies seperti Halophiladan Halodule
memiliki karakteristik tipis (fragile), seperti rambut, diameter kecil, sedangkan spesies Thalass
odendr on memiliki akar yang kuat dan berkayu dengan sel epidermal. Jika dibandingkan
dengan tumbuhan darat, akar dan akar rambut lamun tidak berkembang dengan baik. Namun,
beberapa penelitian memperlihatkan bahwa akar dan rhizoma lamun memiliki fungsi yang
sama dengan tumbuhan darat. Akar-akar halus yang tumbuh di bawah permukaan rhizoma, dan
memiliki adaptasi khusus (contoh : aerenchyma, sel epidermal) terhadap lingkungan perairan.
Semua akar memiliki pusat stele yang dikelilingi oleh endodermis. Stele mengandung phloem
(jaringan transport nutrien) dan xylem (jaringan yang menyalurkan air) yang sangat tipis.
Karena akar lamun tidak berkembang baik untuk menyalurkan air maka dapat dikatakan bahwa
lamun tidak berperan penting dalam penyaluran air.
Struktur rhizoma dan batang lamun memiliki variasi yang sangat tinggi tergantung dari
susunan saluran di dalam stele. Rhizoma, bersama sama dengan akar, menancapkan tumbuhan
ke dalam substrat. Rhizoma seringkali terbenam di dalam substrat yang dapat meluas secara
ekstensif dan memiliki peran yang utama pada reproduksi secara vegetatif dan reproduksi yang
dilakukan secara vegetatif merupakan hal yang lebih penting daripada reproduksi dengan
8

pembibitan karena lebih menguntungkan untuk penyebaran lamun. Rhizoma merupakan 60


80% biomas lamun.
Daun
Seperti semua tumbuhan monokotil, daun lamun diproduksi dari meristem basal yang
terletak pada potongan rhizoma dan percabangannya. Meskipun memiliki bentuk umum yang
hampir sama, spesies lamun memiliki morfologi khusus dan bentuk anatomi yang memiliki
nilai taksonomi yang sangat tinggi. Beberapa bentuk morfologi sangat mudah terlihat yaitu
bentuk daun, bentuk puncak daun, keberadaan atau ketiadaan ligula. Contohnya adalah puncak
daunCymodocea
Serrulata berbentuk lingkaran dan berserat, sedangkan C. Rotundata datar dan halus.
Daun lamun terdiri dari dua bagian yang berbeda yaitu pelepah dan daun. Pelepah daun
menutupi rhizoma yang baru tumbuh dan melindungi daun muda. Tetapi genus Halophila yang
memiliki bentuk daun petiolate tidak memiliki pelepah.
Anatomi yang khas dari daun lamun adalah ketiadaan stomata dan keberadaan kutikel
yang tipis. Kutikel daun yang tipis tidak dapat menahan pergerakan ion dan difusi karbon
sehingga daun dapat menyerap nutrien langsung dari air laut. Air laut merupakan sumber
bikarbonat bagi tumbuh-tumbuhan untuk penggunaan karbon inorganik dalam proses
fotosintesis.

1.Cymodocae rotundata

2. Enhalus acoroides

2.3 Pola Sebaran


Padang lamun menyebar hampir di seluruh kawasan perairan pantai Indonesia. sangat
mudah. Padang lamun biasanya sangat mirip dan bahkan menyerupai padang rumput di daratan
dan hidup pada kedalaman yang relative dangkal (1-10 meter) kecuali beberapa jenis seperti
Halodule sp., Syringodium sp. dan Thalassodendrum sp., yang juga di temukan pada
kedalaman sampai dengan 20 meter dengan penetrasi cahaya yang relative rendah. Malah
pernah dilaporkan jenis Halophila yang di temukan pada kedalaman 90 meter oleh Taylor
(1928) yang ditulis dalam Den Hartog (1970). Namun umumnya sebagian besar padang lamun
menyebar pada kedalaman 1 10 meter. Di beberapa perairan dangkal, kita dapat menyaksikan
padang lamun dengan kepadatan yang cukup tinggi yang memberikan kesan hijau pada dasar
perairan.

10

Untuk tipe perairan tropis seperti Indonesia, padang lamun lebih dominant tumbuh
dengan koloni beberapa jenis (mix species) pada suatu kawasan tertentu yang berbeda dengan
kawasan temperate atau daerah dingin yang kebanyakan di dominasi oleh satu jenis lamun
(single species). Penyebaran lamun memang sangat bervariasi tergantung pada topografi pantai
dan pola pasang surut. Anda bisa saja menjumpai lamun yang terekspose oleh sinar matahari
saat surut di beberapa pantai atau melihat bentangan hijau yang didalamnya banyak ikan-ikan
kecil saat pasang. Jenisnya pun beraneka ragam, yang di pantai Indonesia sendiri, kita bisa
menjumpai 12 jenis lamun dari sekitar 63 jenis lamun di dunia dengan dominasi beberape jenis
diantaranya Enhalus acoroides, Cymodocea spp, Halodule spp., Halophila ovalis, Syringodium
isoetifolium, Thallasia hemprichii and Thalassodendron ciliatum. Dan saya percaya kawasan
perairan Indonesia yang sangat luas mempunyai jenis lamun yang lebih dari perkiraan beberapa
lembaga penelitian. Sampai kini konsentrasi penelitian terhadap jenis-jenis lamun dan
ekosistem lamun belum sepenuhnya terlaksana. Kurangnya minat beberapa peneliti untuk lebih
fokus kearah padang lamun dan minimnya dana penelitian yang di alokasikan ke sektor ini
11

serta minimnya publikasi mengenai padang lamun merupakan penghambat utama bagi
pengetahuan dan pemahaman tentang padang lamun kepada masyarakat sementara masyarakat
sebagian besar belum sepenuhnya tahu dan mengerti tentang habitat yang satu ini. masysrakat
pantai khususnya banyak sekali tergantung pada habitat ini, yang langsung atau tidak langsung
dapat mempengaruhi terhadap kebutuhan sehari-hari mereka. Kita mungkin tidak menyadari
kalau menurunnya produksi beberapa jenis ikan-ikan dan udang-udang pantai ekonomis
Indonesia lebih banyak karenakan semakin menipisnya padang lamun yang merupakan habitat
alami dari ikan-ikan pantai seperti ikan berinang (Siganus spp.) atau beberapa udang putih
(Penaeus spp.) lainnya.
2.4

Prameter lingkungan
Suhu

Suhu dilaut adalah salah satu faktor yang sangat penting bagi kehidupan organisme di laut,
karna suhu mempengaruhi baik aktifitas metabolisme ataupun perkembang biakan dari
organisme organisme tersebut (Hutabarat dan Evans,1986). Toleransi suhu dianggap sebagai
faktor penting dalam menjelaskan biogeografi lamun dan suhu yang tinggi di perairan dangkal
dapat juga menentukan batas kedalaman minimum untuk beberapa spesies ( Rustendi, 2001 ).
Tumbuhan lamun yang hidup di daerah tropis umumnya tumbuh pada daerah dengan
kisaran suhu air antara 28 -30C. sedangkan suhu air yang terlampau tinggi akan
membahayakan pertumbuhan lamun (Zieman,1975 dalam Supriharyono,2002 ).

12

Salinitas
Salinitas merupakan fariabel yang menentukan kehidupan organism aquatic pada
umumnya dan lamun pada khususnya. Dalam hal ini,terutama kaitan denagan keseimbangan
osmotim dan protoplasma lamun dengan medium dilingkungannya. Salinitas juga perpengaruh
terhadap biomassa, produktivitas, kerapatan, lebar daun dan kecepatan pulih lamun
(Walker,1985 dalam soedharma dkk,2009 ).
Spesies lamun memiliki kemampuan toleransi yang berbeda terhadap salinitas,namun
sebagian besar, memiliki kisaran antara 10 dan 40. Nilai salinitas optimum untuk spesies
lamun adalah 25 . (Dahuri,2003). Lebih lanjut toleransi salinitas berfariasi antara jenis dan
umur. Lamun yang tua dapat mentoleransi fluktuasi salinitas yang besar (Zieman,1986 dalam
soedharma dkk,2009).
Substrat
Lamun hidup berbagai macam tipe substrat, mulai dari lumpur sampai sedimen yang
terdiri dari endapan halus sebesar 40 %. Substrat berperan dalam menjaga stabilitas sedimen
yang mencakup dua hal yaitu : sebagai pelindung tanaman dari arus air laut dan temapat
pengolahan serta pemasok nutrien (Dahuri,2003).
Substrat antara lain berperan menentukan stabilitas kehidupan lamun, sebagai media
tumbuh bagi lamun sehingga tidak terbawa arus dan gelombang serta sebagai media untuk daur
dan sumber unsure hara ( Berwick,1983 dalam Imam,2007). Helai daun yang padat, efektif
meningkatkan laju sedimentasi di padang lamun melalui penagkapan partikel organic halus di

13

permukaan lamun, menahan partikel yang di haliskan oleh lamun (detritus) dan membungkus
serta menstabilkan sedimen yang terdeposit di akar dan rhizome yang kompleks ( Berwick,
1983 dalam Halburfijar, 2006).
Hampir semua tipe substrat dapat ditumbuhi oleh lamun, mulai dari substrat berlumpur
sampai berbatu. Lamun yang luas lebih sering di temukan pada substrat lumpur berpasir yang
tebal antara hutan rawa mangrove dan terumbu karang (Bengen,2002).
Kecerahan
Tumbuhan lamun biasanya hidup dilaut yang sangat dangkal, karana membutuhkan
cahaya yang sangat banyak untuk mempertahankan populasinaya. Namun pada perairan yang
jernih tumbuhan ini biasa tumbuh di tempat yang dalam ( Supriharyono,2000). Lamun
membutukan intensitas cahaya yang tinggi untuk melaksanakan proses fotosintesis. Hal ini
terbukti dari observasi yang menunjukan bahwa distribusi lamun hanya terbatas pada perairan
yang tidak terlalu dalam. Sedangkan umumnya kecerahan hanya mencapai kedalaman
maksimum 10 meter ( Dahuri,2003).
Kedalaman
Kedalaman periaran dapat membatasi distribusi lamun secara fertikal. Lamun tumbuh
disona intertidal bawah dan subtidal atas hingga mencapai kedalaman 30 meter. Zona intertidal
di cirikan oleh tumbuhan piunir yang di dominasi oleh Halophila ovalis,Cymodocea rotundata
dan Holodule pinifolia, sedangkan Thalassodendron ciliantum mendominasi zona intertidal
bawah ( Hutomo,1997 dalam soerdharma dkk,2009).

14

Selain itu, kedalaman peraiaran juga berpengaruh terhadap kerapatan dan pertumbuhan
lamun. Brouns dan Heijs (1986) dalam soedharma dkk (2009) mendapatkan pertumbuhan
tinggi Enhalus acoroiedes pada lokasi yang dangkal denga suhu tinggi. Selain itu di Teluk
Tampa Florida ditemukan kerapatan Thalassia testudinwn tinggi pada kedalaman sekitar 100
cm dan menurun sampai pada kedalaman 150 cm ( Durako dan Moffler, 1985 dalam
soedharma dkk,2009).
Kecepatan arus
Penyebab timbulnya arus karena beberapa factor antara lain sifat fisik air yang berbeda,
radiasi matahari yang tidak merata, angin, gravitasi bumi dan pasang surut. Arus laut terjadi
karena pemanasan berbeda, maka udara dimuka bumi mengalami tekanan yang berbeda beda
akibatnay angin akan bertiup tekanan tinggi ke tekanan rendah. Hembusan angin ini akan
mmbawa dan mengangkat massa air laut ( Karim, 2004 dalam Harbulfijar,2006).
Produktifitas lamun juga dipengaruhi oleh kecepatan arus diperairan. Pada saat \arus
sekitar 0,5 m/detik, jenis turtle grass ( Thalassia testudimum ) mempunyai kemampuan
maksimal untuk tumbuh ( Dahuri,2003 dalam Imam,2007).

15

III.METODOLOGI PENELITIAN
3.1

Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini di laksanakan pada:


Hari minggu tanggal,06-06-2010 di laksanakan pulau DONGROTU Desa Sidangoli
Dehe Kecamatan Jailolo Selatan Kabupaten Halmahera Barat
3.2

Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan selama pratikum:


1.
2.
3.
4.
5.
6.
3.3

Tali transek
Kuadran Besi (50x50cm)
Mistar Dan Kapiler
Kamera
Alat tulis menulis
Meter

:Pembuatan Lintasan
:Pengambilan sampel Lamun
:Pengukuran panjang daun,panjang buku-buku
:Dokumentasi
:Mencatat Data
:Mengukur panjang tali transek

Metode Pengambilan Data


Pengambilan sampel lamun di lakukan dengan menggunakan metode linetrasek dalam

kegiatan praktekim ini terdiri dari 1 stasiun 3 lintasan dengan jarak 16 meter.Tali di tarik
sepanjang 50 meter vertical kearah laut dengan menggunakan kuadran 50x50cm dan
penempatan kuadran sebanyak tiga kali(3x) secara sistimatika dengan ulang-ulang,jenis-jenis
lamun yang terliput dalam kuadran di ambil dengan menggunakan acak dan di hitung jumlah
individunya kemudian di identifikasi.
3.4.

Metode Analisis Data

16

lintasan ke : I
Enhalus acaroides (EA)
Panjang daun : 25 cm
Lebar : 1 cm
Daun : 4 helai

Lintasan ke : II
Panjang daun : 11 cm
Lebar : 0,5 cm
Panjang buku buku : 2 cm
Daun : 1 buku buku 2 sampai 3 helai

1.

Kepadatan (Krebs,1989)

X
A

17

Dimana:
D=Kepadatan setiap jenis (Ind/M)
X=Jumlah individu setiap jenis (Ind/M)
A=Luas Areal Yang terukur dengan kuadrat(M)
3

Pola sebaran(id)

Pola sebaran jenis-jenis lamun dihitung dengan menggunakan formula dari Krebs (1989)
sebagai berikut:

Id = n

xi xi
( xi )2( xi)

Dimana: Id = index of dispersion


n = Jumlah kuadran pengambilan jenis ke-i
xi = Jumlah individu pada kuadran jenis ke-i
xi= Jumlah kuadran total individu jenis ke-i
Uji lanjut biasa di lakukan dengan perbandingan nilai indeks Morisita yang di bakukan (Id)
dengan konstanta + 0,5 berdasarkan nilai-nilai pada batas kepercayaan 95%.
Prosedur pengujian sebagai berikut:
Penetapan 2 titk signifikasi (tinggkat nyata)yaitu:

18

X 0,975n+ Xi
( Xi )1

Indeks penyebaran seragam Mu =

Indeks penyebaran mengelompok Mc =

X 0,25n+ Xi
( Xi )1

Keterangan :X = Nilai chi kuadrat dari table pada derjat bebas


(n-1)dengan 1= o,975 2=0,025
Perhitungan indeks morisita yang di standarisasikan dengan ketentuan sebagai
berikut
IdMc
]
nMc

Jika Id Mc> maka Ip = 0,5+0,5

Jika Id Id > maka Ip =0,5+0,5

jika 1,0 >Id > Mu,maka Ip = -0, 5

Jika0,1 > Mu> Id,maka Ip =-0,5

Id 1
]
Mc1

Id 1
]
Mu1

IdMu
]
mu

Indeks Morisita yang di standarisasikan memiliki kisaran dari -1,0 sampai dengan +1,0
dengan batas kepercayaan 95% pada -0,5 dan + 0,5.
Jika Ip = 0,maka populasinya menyebar acak

19

Jika > 0,maka populasinya menyebar mengelompok


Jika Ip < 0,maka populasinya menyebar seragam
3. Keanekaragaman jenis (odum,1971)

H ' =

( ) ln( )
n
N
8

Di mana H = Shannon indeks


N = jumlah total individu
Ni = jumlah spesies ke-i
4

Indeks dominasi (Odum,1971)



N
C=(

d= 1-C

VI.. HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1

Deskripsi Lokasi Praktikum


Pulau Dongrotu adalah salah satu pulau yang terletak di bagian Utara Desa sidangoli

Dehe kecamatan Jailolo Selatan Kabupaten Halmahera Barat,dilihat dari segi lokasi praktikum
pulau Dongrotu di kelilingi oleh beberapa pulau, pulau-pulau ini memiliki beberapa potensi
yang terdiri dari potensi ekosistem mangrove,lamun,alga,dan gastropoda lain sebagainya yang

20

mempunyai berbagai substrat,yaitu substrat berpasir dan substrat berlumpur khususnya daerah
lamun
4.3
Distribusi dan komposisi Jenis
Berdasarkan hasil praktikum dilapangan dan identifikasi di laboratorim,lamun yang di
temukan di perairan pantai Pulau Dongrutu,di temukan sebanyak 2 jenis lamun yaitu: Enhalus
acoroides, dan cymodocea rotundata,yang mempunyai panjang,lebar,panjang buku-buku dan
daun/1 buku-buku:Bentuk dari jenis-jenis lamun tersebut di perlihatkan pada lampiran
4.4
Deskripsi Jenis
Lamun atau disebut juga ilalang laut adalah satu satunya kelompok tumbuhan
tumbuhan berbunga yang tumbuh diperairan laut. Tumbuhan ini hidup dihabitat perairan yang
dangkal. Mempunyai tunas berdaun yang tegak dan tangkai tangkai merayap yang dinamakan
rimpang (rhizome). Tangkai merayap ini merupakan alat efektif untuk perkembangan
(Romimohtarto dan juwana, 2001).lebih lanjut dikemukakan bawah lamun memiliki bunga,
buah, dan menghasilkan biji. Mempunyai akar dan system internal untuk mengangkut dan zat
zat hara. Lamun tumbuh bertahun tahun, rimpangnya tumbuh memanjang dan membentuk
pasangan pasangan daun dan akar baru.
Bengen (2001) menyatakan bahwa lamun merupakan satu satunya tumbuhan
berbunga yang memiliki rhizome, daun dan akar sejati yang hidup terendam di dalam laut.
Lamun mengkolonisasi suatu daerah melalui penyebaran buah (propagule) yang dihasilkan
secara seksual ( diocious ). Lamun umumnya membentuk padang lamun yang luas didasar laut
yang masih dapat dijangkau oleh cahaya matahari yang memadai bagai pertumbuhan. struk tur
morfologi lamun secara umum diperlihatkan pada gmbar..
4.5 Struktur Komunitas

21

Gambar 1. Cymodocae rotundata (CR)

Ganbar 2.Enhalus acoroides (EA)

Cymodocae rotundata (CR) dan Enhalus acoroides (EA) merupakan hasil praktek yang
di laksanakan di desa sidongoli Dehe pulau dongrotu kecamatan jailolo selatan kabupaten
Halmahera barat
Lamun (seagrass) adalah tumbuhan berbunga (angiospermae) yang berbiji satu
(monokotil) dan mempunyai akar rimpang, daun, bunga dan buah. Jadi sangat berbeda dengan
rumput laut (algae) (Wood et al. 1969; Thomlinson 1974; Askab 1999).
Menurut Nontji (1987), lamun hidup di perairan dangkal yang agak berpasir sering
dijumpai di terumbu karang, lamun umumnya membentuk padang yang luas di dasar laut yang
masih dapat di jangkau oleh cahaya matahari yang memadai bagi pertumbuhannya. Padang
lamun merupakan ekosistem yang sangat tinggi produktifitas organiknya. Ke dalam air dan
pengaruh pasang surut serta struktur substrat mempengaruhi zona sebagian jenis lamun dan
bentuk pertumbuhannya. Lamun hidup di perairan yang dangkal dan jernih pada kedalaman
berkisar antara 2 C 12 meter dengan sirkulasi air yang baik
4.5.1

kepadatan jenis

22

Kepadatan adalah besar populasi dalam suatu unit ruangan yang di nyatakn dalam
jumlah individu atau biomassa dari populasi dari setia unit luas atau volume (Odum, 1971).
Sepsis yang memiliki nilai kepadatan tertinggi di sebabkan karena jenis substrat perairan sangat
sesuai dengan kehidupannya serta mampuh menempati ruang.Hal ini di tandai dengan
adanyasubstrat perairan berpasir dan berlumpur yang di temukan pada lokasi pengambilan
sampel.tingginya nilai kepadatan Enhalus acoroides di sebabkan sehingga sepsis lamun ini
sangat sesuai dengan habitat hidupnya yaitu substar berpasir bercampur lumpur,dan mampu
hadir dalam ruang atau kuadran dalam jumlah yang banyak do bandingkan dengan sepsis
lamun lainnya.
Organiosme yang memiliki kepadatan yang rendah di sebabkan karena peluang di
temukannya organism tersebut sangat sedikit.Kepadatan sepsis terendah menunjukan bahwa
jenis tersebut sanga tidak mampuh untuk bersaing dengan jenis lainnya,sehingga jenis tersebut
sangat lambat atau tidak mampu menempati ruang dan melipatgandakan jenisnya.(Nybaken,
1988).
Dari hasil analisis jenis-jenis lamun yang di temukan di perairan pantai pulau
DONGROTU dapat di lihat
Table 1.kepadatan jenis-jenis lamun di perairan pulau DONGRUTU

N
O
1
2

Kepadatan
(In/m)

Jenis
Cymodocea rotundata
Enhalus Ocoroides

0,44
1,48

Total

0,65

4.5.2. Pola Sebaran

23

Pola sebaran adalah kemampuan suatu suatu organism untuk berada pada suatu tempat
mengikuti model tertentu mengikuti model tertentu berdasarkan tingkah laku dan daya adaptasi
terhadap lingkungan (ludwing dan Reynol,1988)
Mc Nougton dan Wolf (1990)menyatakan bahwa pola sebaran individu-individu dalam
populasi dapat terjadi dalam tiga pola yaitu acak,seragam dan mengelompok.Pola sebaran acak
terjadi di man lingkungan sangat seragam dan tidak adanya kecenderungan untuk
berkumpul.Pola sebaran mengelompok dapat terjadi apabila individu-individu dari suatu
papilasi cenderung untuk membuat kelompok-kelompok dari ukuran tertentu (seperti
berpasang-pasangan,sedangkan pola sebaran seragam dapat terjadi di mana persaingan individu
sangat keras sehingga mendorong pembagian ruang yang sama.
Penyebaran organism ditentukan oleh berbagai

factor

seperti

perbedaan

habitat,perubahan cuaca,musin dan proses reproduksi,sehingga suatu populasi organism


cenderung berkumpul untuk mengimbangi pengaruh lingkungan yang besar.odum (1971)
menyatakan bahwa factor lingkungan dapat mempengaruhi pola penyebaran organism sehingga
mengakibatkan diferensiasi antara satu daerah dengan daerah lain.
Menurut Nybaken (1988) organism akan menyebar secara normal bila keadaan lingkungan fisik
dan biologisnya tersebar secara merata,seringkali fariasi local berskala keci terjadi sehingga
mengubah kumpulan serta dapat mempengaruhi penyebaran local tertentu.
Hasil analisis pola sebaran jenis-jenis lamun yang di temukan di perairan pulau
DONGROTU dapat di lihat pada tabel 2 berikut.
Tabe 2.Pola sebaran jenis-jenis lamun yang di temukan di perairan pulau DONGROTU

N
Jenis

Id

Indeks Sebaran Morisita


Mu
Mc
Ip

24

Bentuk Pola Sebaran

1.
2

Cymodocea

1,424 0,055
3,218 0,639

1,398
1,152

0,500
0,521

Mengelompok
Mengelompok

rotundata
Enhalus acoroidesi
4.5.3. Keanekaragaman ,Dominasi dan Kemerataan Jenis
Keanekaragaman dalam suatu suatu spesis menggambarkan perubahan-perubahan
dalam jumlah spesis yang terdapat di dalam suatu komunitas dan perubahan distribusi daru
individu-individu dalam satu sepsis.(Cox, 1967 dalam perinsi, 1997).
Nilai keanekaragaman jenis indeks dominasi tergantung pada variasi jumlah spesies
yang terdapat dalam suatu habitat.Brower (1978) dalam marsaoly (2002) menyatakan bahwa
suatu komunitas mempunyaikeanekaragaman jenis tinggi jika kelimpahan spesiesnya relative
sama atau hampir sama dan juga memiliki individu yang lebih banyak..Di tambahkan pula
apabila individu yang ada pada setiap spesies di suatu habitat menyebar secara merata,maka
nilai keanekaragaman spesies pada habitat tersebut akan tinggi pula.
Secara keseluruhan total nilai keanekaragaman jenis lamun di lokasi masi tergolong rendah.

V. KESIMPULAN DAN SARAN


5.1
Kesimpulan
Dari hasil praktikum ini dapat dapat di simpulkan sebagai berikut:
1. Lamun yang di temukan di perairan pulau DONGROTU sebanyak 2 jenis yaitu:
Thalassia hemprichi,dan enhalus acoroides,
2. Spesis yang memiliki kepadatan tinggi adalah enhalus acoroides
3. Pola sebaran jenis lamun yang di temukan adalah pola sebaran mengelompok
4. Keanekaragaman jenis lamun yang di temukan umumnya masih tergolong rendah

25

5.2

5. Spesies lamun yang mendominasi adalalah jenis enhalus acoroides.


Saran
Mengingat tumbuhan lamun adalah tumbugan aquatic yang sangat berperan penting
bagi biota perairan,maka perlu di lakukan riset dalam kaitannya dengan aspek bioekologis
lamun dan dampaknya terhadap biota perairan laut.

26