Anda di halaman 1dari 4

Karakteristik Guru Teladan

Written by
Friday, 02 July 2010 04:21

Peran guru dalam implementasi/pelaksanaan pendidikan budi pekerti tidak mudah. Guru
dituntut menjadi figur: ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.
Ungkapan ini, menurut Ki Hajar dewantara diartikan sebagi sikap pimpinan (guru) harus mampu
memberi teladan kepada murid-muridnya, seperti bertindak jujur dan adil. Guru juga harus
mampu memberi motivasi kepada murid untuk belajar keras. Guru juga perlu untuk memberikan
kepercayaan kepada muridnya untuk mempelajari sesuatu sesuai minat dan kemampuannya.
Guru tinggal merestui dan mengarahkan saja.

Pendek kata, guru hendaknya menjadi garda (garis depan), memberi contoh, menjadi
motivator, dalam penanaman budi pekerti. Sering ada pepatah yang menyinggung pribadi guru,
yaitu sebagai figur yang harus
digugu (dianut) dan
ditiru. Inilah figur ideal yang didambakan setiap bangsa. Figur inilah yang menghendaki seorang
guru perlu menjadi suri teladan dalam aplikasi pendidikan budi pekerti. Jika guru sekedar bisa
ceramah atau omong kosong saja, kemungkinan besar anak akan kehilangan teladan.

Sikap dan tindakan guru, langsung ataupun tidak langsung akan menjadi acuan dan contoh
murid-muridnya. Kalau begitu, budi pekerti guru harus juga mencerminkan pribadi luhur yang
ideal.

Untuk itu, dalam tulisan ini akan diungkap karakteristik guru ideal yang bisa menjadi teladan
bagi murid-muridnya. Berdasarkan citra guru ideal itu, murid-murid akan belajar budi pekerti.
Jika seorang guru sampai berbuat yang menyimpang dari kriteria tersebut, berarti murid akan
semakin kacau balau. Hal ini menunjukkan manakala seorang guru memberikan teladan yang
buruk, murid-murid akan semakin runyam keberadaannya. Karena itu, guru harus menjadi
potret budi pekerti yang luhur, agar murid-muridnya semakin berakhlak baik. Ahmad Syauqi
berkata: Jika guru berbuat salah sedikit saja, akan lahirlah siswa-siswa yang lebih buruk
darinya.

1/4

Karakteristik Guru Teladan


Written by
Friday, 02 July 2010 04:21

Karakteristik Guru Teladan

Saya sudah mengatakan bahwa manusia tidak ada yang sempurna, pernah berbuat salah,
khilaf ataupun dosa. Begitu juga dengan seorang guru, ia juga manusia biasa seperti yang
lainnya. Namun, ketika guru melakukan sebuah kesalahan atau kekhilafan maka respon
masyarakat akan lebih besar bila dibandingkan dengan yang lain. Mungkin akan terucap: Guru
saja sudah berbuat seperti itu, apalagi yang lain.

Hal ini terjadi, karena pada dasarnya guru itu adalah teladan bagi murid-muridnya dan juga
yang lain untuk mewujudkan hal-hal yang baik. Dengan demikian, bagi para guru harus
senantiasa hati-hati agar senantiasa terpelihara dari perbuatan yang tidak baik.

Untuk bisa menjadi teladan, maka ada beberapa karakteristik yang perlu diperhatikan
sebagaimana diungkap oleh Mahmud Samir al-Munir dalam bukunya al-Muallimur Rabbany-G
uru Teladan
.

Pertama, Karakteristik Akidah, Akhlak dan Prilaku, yaitu: Guru harus mempunyai akidah yang

2/4

Karakteristik Guru Teladan


Written by
Friday, 02 July 2010 04:21

bersih dari hal-hal yang bertentangan dengannya. Senantiasa merasa diawasi oleh Allah swt. (
muraqabah
) dimanapun berada, melakukan koreksi diri (
muhasabah
) atas kelalaian dan kesalahan. Menanamkan sikap
tawadhu
(rendah hati), jangan sampai timbul perasaan
ujub
dan
ghurur
, karena orang yang
tawadhu
akan diangkatkan derajatnya oleh Allah Swt. Guru harus berakhlak mulia, berkelakuan baik,
dan menjauhi hal-hal yang bertentangan dengan hal itu, baik di dalam maupun di luar kelas.
Mampu mengatur waktu dengan baik, sehingga tidak ada waktu yag terlewatkan tanpa
mendatangkan manfaat duniawi dan ukhrawi. Senantiasa melandaskan niat ibadah kepada
Allah ketika mengajarkan ilmu. Tidak semata-mata mengandalkan kemampuan dan usaha
belaka dalam mengajar, tetapi juga berdoa meminta taufiq serta pertolongan dari Allah Swt.
Guru harus menjadi teladan siswa-siswa dalam segala perkataan, perbuatan dan prilaku. Guru
harus selalu jujur, adil, berkata yang baik, dan memberi nasihat serta pengarahan kepada anak
didik. Umar ibn Utbah, berpesan kepada pendidik anaknya: Hendaknya dalam memperbaiki
anakku, kamu perbaiki dirimu dahulu. Mata mereka mengikutimu. Yang baik menurut mereka
adalah apa yang kamu perbuat. Dan yang buruk menurut mereka adalah apa yang kamu
tinggalkan.

Kedua, Karakteristik Profesional. Profesi guru adalah profesi yang sangat mulia. Risalah yang
diemban guru sangat agung. Seorang guru harus memiliki bekal dan persiapan agar dapat
menjalankan profesi dan risalahnya. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan bagi seorang
guru dan dibutuhkan dalam proses belajar mengajar, yakni sebagai berikut: Menguasai materi
pelajaran dengan matang melebihi siswa-siswanya dan mampu memberikan pemahaman
kepada mereka secara baik. Guru harus memiliki kesiapan alami (fitrah) untuk menjalani proses
mengajar, seperti pemikiran yang lurus,
bashirah yang jernih, tidak melamun,
berpandangan jauh ke depan, cepat tanggap, dan dapat mengambil tindakan yang tepat pada
saat-saat kritis. Guru harus menguasai cara-cara mengajar dan menjelaskan. Dia mesti
menelaah buku-buku yang berkaitan dengan bidang studi yang diajarkannya. Sebelum
memasuki pelajaran, guru harus siap secara mental, fisik, waktu dan ilmu (materi). Maksud
kesiapan mental dan fisik adalah tidak mengisi pelajaran dalam keadaan perasaan yang kacau,
malas ataupun lapar. Kesiapan waktu adalah dia mengisi pelajaran itu dengan jiwa yang
tenang, tidak menghitung tiap detik yang berlalu, tidak menanti-nanti waktu usainya atau
menginginkan para siswa membaca sendiri tanpa diterangkan maksudnya, atau menghabiskan

3/4

Karakteristik Guru Teladan


Written by
Friday, 02 July 2010 04:21

jam pelajaran dengan hal-hal yang tidak ada gunanya bagi siswa. Sedangkan maksud kesiapan
ilmu adalah dia menyiapkan materi pelajaran sebelum masuk kelas. Dia menyiapkan apa yang
dikatakannya. Sebiasa mungkin, dia menghindari spontanitas dalam mengajar jika tidak
menguasai materinya.

Inilah garis besar yang diberikan oleh Mahmud Samir al-Munir, saya kemukakan kembali
karakteristik ini adalah sebagai wahana refleksi (renungan) buat kita semua para guru. Untuk bi
sa sempurna 100 % memenuhi karakteristik, saya pikir hal yang mustahil, sebab manusia jauh
dari kesempurnaan. Namun, paling tidak ini menjadi tolok ukur untuk terus melakukan yang
terbaik buat murid-murid kita ke depan.

Masyarakat secara umum juga harus bijaksana dalam menilai guru, jangan dianggap bahwa
guru itu adalah makhluk sacral (tidak pernah berdosa). Untuk itu kesalahan dari seorang guru
bukan berarti karirnya yang terakhir sebagai seorang pendidik, guru juga butuh nasehat, kritik
yang konstruktif sehingga kesempatan yang ada bisa menjadi wahana perubahan menjadi lebih
baik. Wallahu alamu. (
Diah Widya Ningrum, S.Pd.I : Penulis
adalah Guru Madrasah Aliyah Al-Jamiyatul Washliyah Perbaungan-Serdang Bedagai dan
Aktivis Perempuan Perduli Pendidikan Islam.)

4/4