Anda di halaman 1dari 12

INVERTER VOLT/HERTZ KONTROL

SEBAGAI PENGENDALI MOTOR AC 3 FASA

MAKALAH TUGAS AKHIR

Oleh

EMMANUEL AGUNG NUGROHO

NIM : C. 431. 05. 0022

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SEMARANG
2009

1
INVERTER VOLT/HERTZ KONTROL
SEBAGAI PENGENDALI MOTOR AC 3 FASA
E. Agung Nugroho Sri Heranurweni, ST, MT Supari, ST, MT
NIM : C. 431. 05. 0022 NIS : 0655700301020070 NIS : 0655700301020033
Mahasiswa Dosen Pembimbing II Dosen Pembimbing I
Jurusan Teknik Elektro Jurusan Teknik Elektro Jurusan Teknik Elektro
Fakultas Teknik Fakultas Teknik Fakultas Teknik
Universitas Semarang Universitas Semarang Universitas Semarang

ABSTRAK

Ada dua permasalahan pokok kelistrikan yang disebabkan oleh pemakaian motor
induksi di industri yaitu munculnya daya reaktif induktif yang menyebabkan menurunnya
kualitas daya dan faktor daya dengan impedansi tinggi, serta meningkatnya jatuh
tegangan. Permasalahan kedua muncul sebagai akibat dari sistem kendali motor secara
konvensional yang terbatas pada pengendalian pada saat start saja yang hanya mampu
menekan arus mula tanpa memperhatikan sistem pengendalian yang proporsional dengan
memperhatikan pemanfaatan daya pada saat motor berjalan. Sistem pengendalian yang
konvensional ini menyebabkan konsumsi energi listrik tidak efisien, hasil produksi tidak
fleksibel, dan sangat memungkinkan mudah rusaknya motor listrik karena selalu dipaksa
bekerja pada kecepatan maksimal.
Mengatasi permasalahan tersebut dalam perancangan alat tugas akhir ini
menawarkan sistem pengendalian motor listrik yang memperhatikan permasalahan
perbaikan kualitas daya dan faktor daya dan sekaligus mampu mengendalikan motor baik
pada saat start ataupun pada saat motor berjalan yaitu dengan teknik Inverter SPWM
(Sinusoidal Pulse Width Modulation) yang terkendali secara volt/hertz. Teknik ini
bertujuan untuk mengendalikan tegangan keluaran dan frekuensi kerja inverter 3 fasa
secara bersama-sama dan proporsional melalui satu pengaturan tegangan referensi pada
rangkaian konverter Volt/Hertz. Pengaturan tegangan DC referensi pada konverter
volt/hertz menghasilkan pulsa digital yang digunakan sebagai input data mikrokontroller
yang diprogram untuk menghasilkan sinyal referensi SPWM berupa gelombang sinus 3
fasa. Gelombang sinus 3 fasa yang terkendali amplitudo dan frekuensi ini dibandingkan
dengan sinyal Carrier gelombang segitiga sehingga terjadi perbandingan indeks modulasi
pada teknik SPWM yang menentukan tegangan dan frekuensi keluaran inverter 3 fasa.
Perancangan inverter volt/hertz berhasil membangkitkan sumber 3 fasa sebagai
pengendali motor AC 3 fasa dari sumber tegangan 1 fasa dengan arus motor berupa
gelombang sinus yang sefasa terhadap tegangan sumber sebagai bukti perbaikan faktor
daya. Selain itu motor listrik mampu dikendalikan kecepatannya dari frekuensi 10 Hz
hingga 50 Hz secara linier..
Kata kunci : Volt/hertz kontrol, SPWM inverter 3 fasa, Indeks Modulasi.

1. Pendahuluan belitan motor tersebut pada frekuensi tetap


Untuk menjalankan kecepatan suatu ataupun bisa juga dilakukan dengan
motor AC diperlukan beberapa metode mengatur frekuensi kerja motor tersebut
pengaturan diantaranya adalah pengaturan dengan tegangan tetap, dan bisa juga
jumlah kutub stator pada belitan stator dilakukan dengan pengaturan frekuensi dan
motor atau bisa dilakukan dengan tegangan secara bersamaan.
pengaturan tegangan yang mensuplay

1
Pengaturan kutub pada kondisi tersebut cukup besar, tegangan searah yang
operasional kerja motor jelas tidak dihasilkan adalah :
mungkin karena jumlah kutub sudah
3 3
ditentukan pada saat perancangan belitan Vdc = Vp (1)
stator motor sedangkan dengan hanya π
mengubah frekuensi sumber saja tidak dengan Vdc dan Ep masing-masing adalah
cukup, karena pengendalian motor AC tegangan keluaran searah dan tegangan
harus menjaga keseimbangan kerapatan bolak-balik antar fasa-masukan.
fluks.
Perancangan sistem yang diusulkan
ini merupakan pilihan terbaik dalam sistem
pengendalian motor saat ini yaitu dengan
mengendalikan frekuensi dan tegangan
keluaran inverter secara berimbang dan
bersama-sama untuk mengendalikan
Gambar 1 Skema daya VVVF
kecepatan motor AC 3 fasa. Teknik
pengendalian frekuensi dan tegangan
Tegangan searah keluaran bridge
keluaran inverter secara bersama-sama
rectifier setelah ditapis dengan kapasitor,
semacam ini dikenal dengan istilah Volt/
selanjutnya dikonversi menjadi tegangan
Hertz kontrol.
bolak-balik oleh inverter. Tegangan bolak-
Dalam perkembangan elektronika
balik dan frekuensi keluaran inverter dapat
daya sistem seperti ini umumnya
bervariasi sesuai dengan kendali inverter
dinamakan Variable Speed Drive (VSD),
tersebut. Inverter dikendalikan dengan
tetapi karena kendalinya mengubah
menggunakan teknik modulasi lebar pulsa
tegangan dan frekuensi maka divais ini
(PWM).
dinamakan juga Variable Voltage Variable
Teknik PWM pada sistem VVVF
Frequency (VVVF). Pengendalian motor
dibentuk dari suatu gelombang referensi
AC dengan menggunakan VVVF selain
tiga fasa dibandingkan dengan gelombang
dapat mengendalikan torka dan kecepatan
pembawa (carrier) berupa gelombang
secara baik, juga mempunyai keuntungan
segitiga frekuensi tinggi (5000 Hz). Misal
lain, antara lain :
untuk fasa U jika nilai sesaat gelombang
1. Penggunaan energi menjadi efisien,
frekuensi fasa U (Vu) lebih tinggi dari nilai
2. Peningkatan fleksibelitas produksi,
sesaat gelombang segitiga (Vcarr) maka
3. Peningkatan umur komponen mekanik,
transistor T1 akan menerima sinyal ON.
4. Memudahkan untuk pemeliharaan
Pada kondisi ini tegangan fasa U bernilai
Vdc/2,sedangkan jika nilai sesaat
2. Tinjauan Pustaka
gelombang fasa U (Vu) lebih rendah dari
a. Variable Voltage Variable
nilai sesaat gelombang segitiga (Ecarr) maka
Frekuensi
transistor T2 akan menerima sinyal ON,
Skema daya VVVF yang digunakan
pada kondisi ini tegangan nilai fasa U
untuk pengendalian arus bolak-balik (AC
bernilai –Ed/2. Komponen dasar
Drive) dilukiskan seperti pada Gambar 1.
gelombang tegangan keluaran VVVF akan
Bridge Rectifier yang terdiri dari enam
mempunyai nilai sebagai berikut :
dioda yang dihubungkan jembatan
V (2)
berfungsi untuk mengkonversikan V
ph}= dc ksin ω t
tegangan bolak-balik menjadi tegangan 2
searah (penyearah). Untuk meratakan dengan :
tegangan keluaran dipasang tapis kapasitor V
elektronik C pada terminal keluaran k = r (3)
penyearah. Jika nilai keluaran kapasitor Vc

3
adalah factor modulasi dengan nilai masing-masing dua saklar berpasangan
maksimum sama dengan satu. Sin ωt untuk menghasilkan setiap fasa untuk
adalah frekuensi sudut gelombang setiap lengannya. Lengan “a” dibentuk
referensi, Vr dan Vc masing-masing adalah oleh saklar A pada sisi positif dan saklar
amplitudo gelombang referensi dan A’ pada sisi negatif yang bekerja secara
gelombang pembawa. Jadi, komponen bergantian demikian pula dengan saklar
dasar gelombang keluaran VVVF dapat “b” dan “c”. Dengan teknik kendali
diatur amplitudo dan frekuensinya dengan SPWM maka konfigurasi saklar daya
cara mengatur amplitude dan frekuensi inverter diatas dapat menghasilkan
gelombang referensi yang menentukan beberapa kemungkinan pensaklaran seperti
kualitas modulasi frekuensi yang didapat. pada gambar berikut :
Untuk VVVF factor modulasi maksimum
adalah satu, maka tegangan keluaran
maksimum VVVF adalah :
3 Ed 3 3E n 000 001 010 011
V iimak = = = 0 . 83 E ii (4)
2 2 2π

b. Inverter 3 fasa
100 101 110 111
Untuk menjalankan motor AC 3 fasa
Gb. 3 Konfigurasi saklar daya inverter 3 fasa
dengan sistem kendali volt/hertz control
3 lengan
diperlukan rangkaian daya sebagai media
pengasutan. Teknik SPWM inverter sangat Dari konfigurasi pensaklaran diatas maka
tepat sebagai implementasikannya. dapat diturunkan suatu persamaan
Rangkaian daya inverter tiga fasa tiga tegangan antar fasa sebagai berikut :
lengan (three-leg inverter) yang memiliki
enam buah saklar dan sumber tegangan ⎡Vab ⎤ ⎡1 − 1 0 ⎤ ⎡a ⎤
⎢V ⎥ = V ⎢0 1 − 1 ⎥ ⎢b ⎥
DC. Suatu converter DC to AC jenis ⎢ bc ⎥ dc ⎢ ⎥⎢ ⎥ (5)
sumber tegangan (voltage-type inverter) ⎢⎣Vca ⎥⎦ ⎢⎣− 1 0 1 ⎥⎦ ⎢⎣c ⎥⎦
harus memenuhi dua syarat, yaitu saklar
Sedangkan persamaan tegangan fasa yang
yang terletak pada satu lengan tidak boleh
dihasilkan oleh inverter diatas adalah
konduksi secara bersamaan hingga
sebagai berikut :
menimbulkan arus hubung singkat, dan
arus sisi AC harus selalu dijaga ⎡V a ⎤ ⎡ 2 − 1 − 1 ⎤ ⎡a ⎤
⎢V ⎥ = 1 V ⎢− 1 2 − 1 ⎥⎥ ⎢⎢b ⎥⎥ (6)
kontinuitasnya. Mengacu pada kedua ⎢ b ⎥ 3 dc ⎢
syarat tersebut maka akan terdapat 23 ⎢⎣Vc ⎥⎦ ⎢⎣− 1 − 1 1 ⎥⎦ ⎢⎣c ⎥⎦
kondisi (delapan kondisi saklar) seperti
Sehingga dari kedua persamaan diatas
ditunjukan pada Gambar berikut
dapat dibuat suatu tabel nilai tegangan
keluaran inverter sebagai berikut :
Tabel 1 Nilai tegangan keluaran inverter
3 fasa

Gb. 2 Konfigurasi inverter 3 fasa 3 lengan

Konfigurasi inverter 3 fasa 3 lengan


dibentuk oleh 6 buah saklar daya dengan

4
c. Teknik Modulasi Lebar Pulsa (biasanya sinusoidal) dengan sinyal Carrier
Inverter sebagai rangkaian (biasanya gelombang segitiga) dalam suatu
penyaklaran elektronik dapat mengubah perbandingan amplitudo tertentu yang
sumber tegangan searah menjadi tegangan disebut dengan indeks modulasi. Indeks
bolak-balik dengan besar tegangan dan modulasi adalah perbandingan antara
frekuensi dapat diatur. Baker (1991) amplitudo sinyal refrensi sinusoida (Ar)
sebagaimana dikutip Gendroyono (1999), dan amplitudo sinyal carrier segitiga (Ac).
mengelompokkan inverter menjadi tiga Indeks modulasi dirumuskan:
kelompok utama, yaitu: M = Ar/Ac (7)
a. Inverter tegangan berubah dengan M = Indeks modulasi
(VVI=Variable Voltage Inverter) Ar = Amplitudo sinyal referensi
b. Inverter sumber arus (CSI) Ac = Amplitudo sinyal carrier
c. Inverter PWM Indeks modulasi yang nilainya antara 0
Faktor daya pada inverter VVI dan CSI sampai 1 akan menentukan lebar pulsa
menurun mengikuti kecepatan, sedangkan tegangan rata-rata dalam satu periode.
pada inverter PWM mempunyai faktor
daya mendekati satu pada seluruh tingkat
kecepatan.
PWM adalah satu teknik yang
terbukti baik untuk mengatur inverter guna
mendapatkan tegangan berubah dan
frekuensi berubah dari tegangan tetap
sumber DC (Grant dan Seidner: 1981).
Bentuk gelombang tegangan keluaran
inverter tidak sinusoida murni karena
mengandung banyak komponen frekuensi
yang tidak diinginkan. Jika keluaran Gambar 4 Pembangkitan PWM Sinusoida
inverter ini dicatu ke motor AC, komponen Satu Fasa Secara Analog
tersebut akan menambah kerugian, getaran
dan riak pada motor. Grant dan Seidner Prinsip kerja pembangkitan sinyal PWM
juga menyatakan bahwa harmonik yang sinusoida satu fasa adalah mengatur lebar
timbul dapat dihindari jika frekuensi pulsa mengikuti pola gelombang sinusoida.
pembawa mempunyai variasi berupa Frekuensi sinyal referensi menentukan
kelipatan dari frekuensi pemodulasi. frekuensi keluaran inverter.
Teknik modulasi dengan perbandingan Dari gambar 4 pembangkitan sinyal
frekuensi pembawa dan pemodulasi yang PWM sinusoida satu fasa dapat dilakukan
demikian disebut PWM sinkron. Teknik dengan menggunakan 2 buah sinyal sinus
PWM sinkron ini mampu menghasilkan (sin(ωt) dan -sin(ωt)) dan 1 sinyal segitiga.
bentuk gelombang dengan komponen Sedangkan pembangkitan sinyal PWM
harmonik berfrekuensi jauh lebih tinggi sinusoida satu fasa dapat dilakukan dengan
dari frekuensi fundamental. Frekuensi menggunakan 1 sinyal sinus (sin(ωt)) dan 2
tinggi ini memberikan keuntungan pada sinyal segitiga (sgt(ωt) dan –sgt(ωt).
sistem. Karena kebocoran induktansi motor Dari mekanisme teknik PWM
menyebabkan impedansi tinggi pada (Gambar 4) diperoleh nilai rata-rata
komponen yang tidak diinginkan, maka tegangan beban sebanding secara
secara efektif menapis keluaran inverter proporsional dengan nilai sesaat
(Gendroyono: 1999). gelombang referensi. Sehingga dengan
Untuk membangkitkan sinyal kontrol meningkatnya nilai sesaat gelombang
pada sistem PWM dilakukan dengan referensi, tegangan keluaran juga akan
mengkomparasikan sinyal referensi meningkat dan sebaliknya jika menurun

5
maka tegangan keluaran akan menurun. dihasilkan oleh rangkaian penyearah ini
Aplikasi teknik PWM dengan berfungsi sebagai tegangan sumber
menggunakan referensi gelombang sinus rangkaian daya inverter.
selanjutnya dikenal dengan istilah SPWM Untuk mengendalikan inverter 3
(Sinusoidal Pulse Width Modulation) fasa maka diperlukan adanya pulsa pemicu
dengan prinsip yang sama dengan cara saklar daya dengan sistem kontrol 3 fasa.
kerja teknik PWM diatas. Pada teknik ini Pulsa-pulsa pemicu saklar daya pada
sifat tegangan keluaran akan mengikuti sistem ini dihasilkan melalui metode
referensi yang diberikan dan jika sinyal SPWM inverter yang memadukan sinyal
sinusoidal sebagai sinyal referensi yang referensi 3 fasa dengan sebuah sinyal
diberikan berupa gelombang 3 fasa maka carrier frekuensi tinggi. Referensi 3 fasa
sinyal keluaran yang dihasilkan juga pola dihasilkan dari pemrograman mikrokontrol
pensaklaran 3 fasa sesuai referensinya. yang memanfaatkan pulsa masukan
berskala digital dari rangkaian V to F
3. Perancangan inverter V/Hz konverter.
kontrol
Pengendalian inverter 3 fasa a. Volt/Hertz konverter
dengan metode kendali volt/hertz control Rangkaian volt /hertz mengubah
ini menggunakan sistem open loop dengan nilai masukan berupa tegangan analog
bentuk yang sederhana mengambil perintah menjadi sinyal dalam bentuk pulsa pada
referensi dari sumber luar. Sumber luar ini sisi keluarannya. LM 331 merupakan IC
berupa konverter tegangan ke frekuensi monolitik yang didalamnya terdapat
yang diaplikasikan dengan kombinasi sebuah komparator yang berfungsi sebagai
rangkaian LM 331. Garis besar pembanding tegangan masukan pada pin 7
perancangan rangkaian kontrol inverter dengan tegangan lerengan secara periodik
volt/hertz adalah sebagai berikut : yang dihasilkan dari rangkaian RC pada
pin 6. Jika kondisi tegangan pada pin 7
lebih positif dari tegangan pada pin 6 maka
komparator akan membangkitkan sebuah
pulsa yang memicu transistor untuk
melewatkan tegangan pada sisi kolektor
menjadi pulsa pada sisi keluarannya.
Gambar 5 Skema umum Inverter Volt/hertz Seiring dengan naiknya tegangan masukan
pada pin 7 maka semakin sering
Sumber AC yang tersedia oleh PLN komparator menghasilkan pulsa sehingga
merupakan sumber 1 fasa ataupun 3 fasa semakin tinggi frekuensi pulsa kotak yang
dengan tegangan tetap dan frekuensi yang dihasilkan oleh keluaran transistor. Untuk
tidak dapat diatur. Kondisi ini memaksa menghasilkan konversi tegangan menjadi
semua peralatan listrik seperti motor dan frekuensi pada aplikasi LM 331
lain-lainnya bekerja pada frekuensi dan dirumuskan dengan persamaan berikut :
tegangan yang tetap. Hal ini sangat V in Rs 1
f out = x x
merugikan jika dilihat dari efisiensi daya 2 . 09 Rl R τ .C τ
listrik dan peralatan listrik itu sendiri.
Untuk merancang suatu inverter baik satu
fasa ataupun 3 fasa diperlukan tegangan
DC sebagai masukannya sehingga
tegangan AC yang disediakan oleh PLN
perlu disearahkan terlebih dulu melalui
rangkaian single phase rectifier ataupun
three phase rectifier. Tegangan DC yang

6
proses pengisian data secara look up table
untuk dimasukkan kedalam mikrokontrol
maksimal 256 data. Sedangkan untuk
menghasilkan sinyal 3 fasa dilakukan
pemrograman aritmatik yang bertujuan
menciptakan dua buah sinyal lainya yang
saling tergeser ± 1200 dari sinyal pertama.

Gambar 6 Rangkaian konverter Voltage /


Hertz LM 331

Sinyal keluaran LM 331 merupakan pulsa


kotak dapat terkendali frekuensinya
melalui perubahan tegangan referensi
masukan. Pulsa persegi yang dihasilkan
LM 331 merupakan pulsa clock untuk
menghasilkan 8 bit pulsa dari rangkaian
konter 4520. Delapan bit pulsa rangkaian
konter 4520 merupakan data masukan yang
diperlukan oleh mikrokontroller untuk Gambar 7 Pengalokasian Port pada
membangkitkan referensi 3 fasa mikrokontroller AT 89S52

b. Referensi 3 fasa Sinyal 3 fasa yang dihasilkan oleh


Sinyal referensi berupa sinyal mikrokontroller juga masih berbentuk
sinusoidal 3 fasa yang masing-masing nilai-nilai diskret yang harus diubah
tergeser 1200. Proses pembentukan kembali menjadi sinyal analog. Untuk itu
gelombang ini dilakukan dengan diperlukan konverter Digital to Analog
memasukkan data secara look up table dari yang menterjemahkan sinyal diskret
suatu rangkaian simulasi dengan Power tersebut menjadi sinyal analog. Untuk
Simulator yang menghasilkan gelombang realisasi ini keluaran mikrokontroller
sinusoida 3 fasa. Metode look up table terkoneksi dengan rangkaian DAC 0808
adalah suatu metode pengisian data-data yang terkombinasi dengan beberapa
kedalam mikrokontroller dengan rangkaian penguat sebagai berikut :
mengambil data-data sampling yang
membentuk suatu gelombang analog.
Secara digital suatu gelombang sinusoidal
analog terdiri dari beberapa sinyal diskret
yang menjadi fundamental terbentuknya
gelombang tersebut. Data-data diskret
inilah yang diambil dan dialamatkan
kedalam mikrokontroller untuk
ditampilkan pada beberapa port
keluarannya.
Setiap port mikrokontroller jenis
AT89S52 memiliki 8 bit data maka jumlah Gambar 8 Sistem Minimum DAC.
bit maksimal dalam satu kelompok port
adalah 28 (256) data. Untuk itu data Pada rangkaian DAC ini juga
sampling diskret yang diambil dalam diberikan rangkaian summing amplifier dan
penguat operasional sehingga gelombang
7
persegi ataupun sinusoida yang dihasilkan modulasinya dan semakin besar juga
dapat diatur posisi offset-nya hingga tegangan yang dihasilkan oleh inverter.
membentuk gelombang AC dan dapat Sementara itu keluaran inverter akan selalu
diatur amplitudonya. mengikuti frekuensi sinyal referensinya.

c. Rangkaian Multiplier e. Rangkaian Driver


Multiplier AD 633 merupakan Saklar daya sejenis MOSFET atau
rangkaian pengali analog dengan dua buah IGBT bekerja berdasar pulsa pemicuan dari
sinyal masukan analog sebagai input rangkaian kontrol pada gate-nya tetapi
device-nya. bekerja pada ordo daya yang lebih tinggi
sehingga untuk mengendalikan setiap
saklar daya diperlukan rangkaian driver.
Rangkaian driver berfungsi untuk
memindahkan sinyal picu dari sistem
kontrol ke sistem daya dengan memisahkan
Gambar 9 Rangkaian pengali AD 633 bagian ground daya dari ground kontrol,
karena keduanya bekerja pada catu
Multiplier AD 633 diatas berfungsi tegangan yang berbeda.
sebagai pengali sinyal sinusoidal dari Kerusakan saklar statis MOSFET
rangkaian DAC dengan tegangan referensi juga sering terjadi karena panas yang
yang mengendalikan frekuensi rangkaian V ditimbulkan dari gesekan pulsa yang
to F. Gelombang sinusoidal yang melewatkan arus pada saklar tersebut,
dihasilkan oleh DAC merupakan untuk keamanan saklar daya tersebut
gelombang yang terkendali frekuensinya rangkaian driver juga dilengkapi dengan
oleh perubahan frekuensi dari rangkaian V deadtime untuk mengatur perpindahan
to F. Frekuensi gelombang sinusoidal pulsa pemicuan pada setiap saklar dalam
menjadi berubah jika tegangan refrensi satu lengan.
pada rangkaian V to F tersebut juga

To Power MOSFET
+15
berubah. Sehingga sinyal keluaran Buffer
CD 4050
Inverting
CD 4049
TLP 250 5
Dari 0
rangkaian pengali AD 633 mengalami dua SPWM
VR 100k 1k5
bentuk perubahan seiring berubahnya 200pF 18
tegangan DC referensi rangkaian V to F, V
Ground
yaitu perubahan amplitudo sekaligus Ground

perubahan frekuensinya.
Gambar 10 Rangkaian driver dengan
d. Rangkaian SPWM 3 fasa deadtime
Teknik SPWM sebagai pengendali
inverter memanfaatkan sinyal carier berupa Pada setiap aplikasi saklar daya
gelombang segitiga yang bekerja pada antara gate dan source diberikan sebuah
frekuensi 5000Hz. Teknik SPWM ini dioda Zener, (dalam aplikasi ini
diperlukan untuk menghasilkan pulsa menggunakan zener 18 volt). Dioda zener
pensaklaran inverter sekaligus pengatur berfungsi untuk melindungi driver TLP
tegangan keluaran inverter dengan 250 dari umpan balik tegangan daya
mengatur indeks modulasi pada sistem apabila terjadi hubung singkat pada
SPWM tersebut. Semakin rendah rangkaian daya.
amplitudo sinyal referensi indeks
modulasinya semakin kecil hal ini berarti
tegangan keluaran inverter juga kecil dan
semakin naik amplitudo gelombang
referensi maka semakin naik indek

8
4. Pengujian Inverter V/H kontrol gelombang sinus resultan kedua sinyal
a. Tabel 2 konversi rangkaianV/H tersebut. Dengan mempertimbangkan
tegangan maksimum yang saturasi pada
nilai 7 Vpp sedangkan tegangan DC dari
referensi rangkaian V to F maksimal pada
nilai 9 volt (tabel 1) maka gelombang sinus
yang dihasilkan oleh rangkain DAC diatur
sedemikian rupa sehingga pada nilai
tegangan DC maksimal gelombang sinus
yang dihasilkan tidak saturasi. Data-data
pengukuran rangkain AD 633 ditunjukkan
pada tabel berikut :

Tabel 3 Data pengujian rangkaian AD


633

Dari tabel konversi diatas menghasilkan


suatu grafik V/H sebagai berikut :
Grafik Volt/Hertz kontrol

60
50

40
Hertz

30 Frekuensi
20
10
0
0.49 1.49 2.5 3.57 4.5 5.51 6.49 7.5 8.5
Volt

Gb. 11 Grafik konversi rangkaian V/H c. Pengujian Inverter 3 fasa 3


lengan
Berdasar grafik yang ditunjukkan pada Pengendalian saklar daya inverter 3
gambar 11 menghasilkan suatu rasio fasa 3 lengan yang terdiri dari 6 buah
perubahan tegangan ke frekuensi yang saklar semikonduktor dilakukan dalam 8
konstan pada indeks 5,5 kecuali pada nilai mode konduksi pemicuan saklar
tegangan 0,5 volt dengan indeks 8,6. Hal semikonduktor tersebut. Ke delapan mode
ini terjadi karena distribusi frekuensi pada konduksi tersebut membentuk 3 buah
tegangan dibawah 0,5 volt belum merata. siklus gelombang keluaran yang saling
tergeser 1200 listrik atau sering disebut
b.Pengujian rangkaian multiplier sebagai sistem 3 fasa.
Multiplier AD 633 dengan
tegangan suply 12 volt menghasilkan
tegangan keluaran saturasi pada amplitudo
7 VPP. Dengan mengalikan tegangan
masukan pada pin “x” yang terhubung
pada rangkaian DAC yang menghasilkan
gelombang referensi sinus dan “y” dari
tegangan DC referensi pada rangkaian V to
F maka keluaran rangkaian AD 633 berupa

9
Tabel 4 Data pengujian tegangan secara prinsip mempengaruhi perubahan
keluaran inverter 3 fasa 3 lengan kecepatan putaran motor. Hal ini dapat
dibuktikan dengan tabel pengujian berikut :

Tabel 5 Pengujian berbeban motor


Induksi 3 fasa

Berdasar tabel perubahan frekuensi


referensi inverter diikuti oleh perubahan
Berdasar data pengujian dengan kecepatan motor. Dengan rumus pada
menggunakan tegangan DC sumber 240 persamaan 1 kecepatan yang seharusnya
volt menunjukkan perubahan tegangan dihasilkan motor adalah sebagai berikut :
fasa-fasa yang teratur terhadap perubahan
frekuensi referensi yang diikuti oleh Tabel 6 Perhitungan kecepatan motor
1
perubahan tegangan Fasa- Netral ±
Induksi 3 fasa
3
dari tegangan antar fasa. Perubahan arus
juga sangat linier dan sangat kecil sehingga
tidak terjadi lonjakan pada saat motor
mulai berjalan dan setelah motor berjalan.
Pengujian arus keluaran inverter ini
membuktikan indikator keberhasilan
pengendali volt/hertz yang mampu
menekan lonjakan arus mula motor.
Berdasarkan data pengujian tabel 4 dapat
dilihat suatu grafik yang menunjukkan
tegangan AC yang dihasilkan dari sistem
inverter volt/hertz kontrol
Grafik Tegangan Inverter

180
160
140
120
Dari kedua tabel pengukuran dan
AC volt

100 Tegangan F-F


80
60
Tegangan F-N
perhitungan kecepatan motor diatas
40
20
menghasilkan suatu grafik pengukuran
0 sebagai berikut
8.02
8.65
9.84
11.2
13.6
16.3
19.4
21.8
24.5
27
29.9
32.9
35.2
38.4
40.8
43.5
46.4
50.5

Hertz Grafik perhitungan dan pengukuran RPM motor

1600
Gb. 12 Grafik tegangan inverter 3 fasa 1400
1200
1000
Pengukuran
RPM

800
Perhitungan
d. Pengujian Inverter Dengan 600
400
200
Pembebanan motor AC tiga fasa 0
8.02
8.65
9.84
11.2
13.6
16.3
19.4
21.8
24.5
27
29.9
32.9
35.2
38.4
40.8
43.5
46.4
50.5

Sistem inverter volt/hertz tiga fasa Hertz

ini dibebani dengan motor induksi tiga fasa


4 kutup. Perubahan frekuensi kerja inverter Gambar 13 Grafik pengukuran dan
3 fasa yang mensuplai motor 3 fasa ini perhitungan kecepatan motor

10
Dalam pengukuran putaran motor
baru dimulai pada frekuensi 8,65 hertz dan
hingga pada frekuensi 11,2 hertz baru
menunjukkan perbandingan yang sama
terhadap perhitungannya. Hal ini terjadi
karena indeks modulasi SPWM inverter
pada frekuensi tersebut masih sangat kecil
sehingga tegangan yang dihasilkan oleh
inverter juga masih sangat kecil sehingga
pada kondisi ini belum memenuhi torka
yang dibutuhkan untuk motor induksi 3
fasa melakukan start. Pada frekuensi 50 (a) tegangan antar fasa pada beban motor
Hz pengukuran juga menunjukkan grafik
kecepatan dibawah frekuensi perhitungan
hal ini dipengaruhi oleh faktor slip pada
motor induksi yang digunakan tersebut.
Faktor slip pada motor induksi yang
digunakan ini adalah sebagai berikut :
120 . f
ns =
P
120 . 50
ns = = 1500 RPM
4
n −n
S= s x 100 % (b) tegangan antara fasa dengan netral
ns (tegangan saluran) pada beban motor
1500 − 1400
S = x 100 %
1500
= 6 , 66 %
Deviasi kesalahan rata-rata dari
keseluruhan sistem inverter volt/hertz
sebagai pengendali torka dan kecepatan
motor induksi 3 fasa pada pembuatan alat
tugas akhir ini adalah :
RPM hitung − RPM ukur
Ds = x 100 % (8)
RPM hitung

= 5,8 % (c) arus pada salah satu fasa beban motor


Dengan faktor deviasi terbesar pada Gambar 14 Hasil pengujian sinyal keluaran
frekuensi dibawah 11,2 hertz, dan Inverter 3 fasa pada beban motor
sesudahnya sistem stabil. Jadi dengan
pertimbangan faktor slip pada motor 6. Kesimpulan
induksi diatas maka deviasi kesalahan 1. Perancangan alat volt/hertz control ini
masih dibawah toleransi faktor slip motor berfungsi sebagai sistem soft start
induksi. Dari sistem rangkaian inverter 3 dengan penyalaan yang sangat linier
fasa dengan pembebanan motor induksi sehingga meredam lonjakan arus mula
melalui kendali volt/hertz kontrol ini motor AC 3 fasa. Dengan sistem start
menghasilkan tegangan dan arus keluaran yang lembut dan sistem menghentikan
pada motor seperti pada gambar 14 yang tidak konstan stop pada motor
maka akan memperpanjang usia
pemeliharaan motor induksi tersebut.

11
2. Dengan sistem Volt/hertz control ini 2. Bambang Sutopo, F. Danang Wijaya,
maka Kecepatan kerja motor dapat Supari, Perbaikan Faktor Daya Motor
diatur sesuai dengan kebutuhan Induksi 3 fase menggunakan
kecepatan yang diperlukan oleh Mikrokontroler 68HC11, journal
aplikasi beban motor dengan tetap Teknik Elektro,2001.
menjaga kemampuan mekanik motor. 3. Rahsyid M.H, Power Electronics:
Hal ini terjadi karena torka motor Circuits, Devices and Applications, PT
relatif konstan pada setiap perubahan Prehallindo, Jakarta, 1999.
frekuensi dan kecepatan motor. 4. Riyadi, Slamet, Diktat Kuliah
3. Sistem Inverter volt/hertz kontrol yang Penggerak Listrik, Unika
terkendali SPWM ini juga Soegijapranata, 2007.
menawarkan solusi terhadap 5. Soemarto, Metode Baru Dalam
permasalahan harmonisa arus listrik Identifikasi Parameter Motor Induksi,
pada pembebanan motor induksi. Hal Epsilon : Journal of Electrical
ini dibuktikan dengan bentuk Engineering and Information
gelombang arus motor induksi yang Technology Vol. 1, No. 1, July 2003.
sinusoidal dan sefasa dengan tegangan 6. Supari, Kendali Tegangan Motor
masukannya. Induksi untuk Penghematan Energi
4. Pengendalian motor AC dengan Berbasis Mikrokontroler, Tesis S2,
menggunakan inverter volt/hertz TE-UGM, Yogyakarta, 2001.
kontrol membuktikan beberapa 7. SZABÓ C, Maria IMECS, Ioan Iov,
keuntungan, yaitu : INCZE, VOLT-HERTZ CONTROL
z Penggunaan energi menjadi efisien, OF THE SYNCHRONOUS MOTOR
z Peningkatan fleksebilitas putaran WITH RAMP EXCITING
motor VOLTAGE, Annals of the University
z Peningkatan umur komponen of Craiova, Electrical Engineering
mekanik series, No. 30, 2006.
z Memudahkan untuk pemeliharaan. 8. Zhenyu Yu and David Figoli, AC
Induction Motor Control Using
7. DAFTAR PUSTAKA Constant V/Hz Principle and Space
1. Akhmad Musafa, Simulasi Vector PWM Technique with
Pengendalian Kecepatan Motor TMS320C240, Texas Instruments
Induksi tiga Fasa tanpa Sensor Incorporated, April 1998.
Kecepatan, Program Studi Teknik
Elektro Fakultas Teknik-Universitas
Budi Luhur, email :
musafa_81@yahoo.com, 2007.

12