Anda di halaman 1dari 20

Laporan Praktikum Hari/Tanggal : Senin, 7 Desember 2009

Teknologi Minyak, Emulsi, Dosen : 1. Ir. Semangat Ketaren, Msi


dan Oleokimia 2. Dr. Ir. Ani Suryani, DEA
Asisten : 1. Alfian F34050904
2. Nazarudin R. S F34050088
3. Nutriana D F34051462
4. Kartika S.S.P F34052438
5. Umi Reza L F34052400

PEMBUATAN DAN ANALISIS PRODUK EMULSI

Disusun Oleh :

Nur Hidayat F34061189


Lely Rachma F34060799
Dian Fajarika F34062522
Yuli Purwati F34060691
Menasita M. G74054329

DEPARTEMEN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Produk emulsi seperti sabun cair, sabun transparan, skin cream, dan
mayones merupakan beberapa contoh produk hasil pertanian yang telah banyak
dikenal masyarakat. Pembuatan produk-produk tersebut dapat dilakuakan dengan
cara mudah dan sederhana, yang bisa juga dibuat oleh masyarakat pada umumnya.
Produk-produk tersebut tentunya juga memiliki standar kualitas penerimaan
konsumen.
Pembuatan produk emulsi yang biasa dilakukan adalah dengan metode gom
basah, metode gom kering, dan metode botol, yang masing-masing ditujukan
untuk menghasilkan produk emulsi dengan penggunaan yang berbeda.
Pengembangan produk tersebut pun pastinya akan terus dilakukan untuk dapat
memenuhi kebutuhan konsumen, tentunya dalam berbagai macam aspek.
Pengembangan produk tersebut secara langsung juga akan meningkatkan nilai
tambah hasil pertanian sebagai bahan baku produk.
Oleh karena itu diperlukan sumber daya manusia yang dapat melakukan
pembuatan dan pengembangan produk-produk emulsi yang banyak dibutuhkan
masyarakat. Mahasiswa merupakan salah satu pihak yang nantinya akan menjadi
ujung tombak pengembangan produk tersebut. Sehingga perlu adanya
pengetahuan dasar yang dimiliki mahasiswa bagaimana membuat produk emulsi
dan metode analisis kualitas produk tersebut.

B. Tujuan

Praktikum ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui cara pembuatan


produk minyak dan emulsi yaitu sabun transparan, sabun cuci tangan cair, skin
cream,dan mayones.
II. TINJAUAN PUSTAKA

Emulsi adalah sediaan yang mengandung bahan obat cair atau larutan obat
yang terdispersi dalam cairan pembawa dan distabilkan oleh zat pengemulsinya
atau surfaktan yang cocok ( Farmakope Indonesia Ed.III ).
Emulsi merupakan sediaan yang mengandung dua zat yang tidak dapat
bercampur, biasanya terdiri dari minyak dan air, dimana cairan yang satu
terdispersi menjadi butir-butir kecil dalam cairan yang lain. Dispersi ini tidak
stabil, butir – butir ini bergabung ( koalesen ) dan membentuk dua lapisan yaitu
air dan minyak yang terpisah yang dibantu oleh zat pengemulsi ( emulgator )
yang merupakan komponen yang paling penting untuk memperoleh emulsa yang
stabil .
Semua emulgator bekerja dengan membentuk film ( lapisan ) di sekeliling
butir – butir tetesan yang terdispersi dan film ini berfungsi agar mencegah
terjadinya koalesen dan terpisahnya cairan dispersi sebagai zat pemisah.
Terbentuk dua macam tipe emulsi yaitu tipe M/A dimana tetes minyak terdispersi
dalam fase air dan tipe A/M dimana fase intern adalah air dan fase ekstern adalah
minyak .
Zat-zat pengemulsi ( Emugator ) yang biasa digunakan adalah PGA, PGS,
Gelatin, Tragacantha, Sapo, ammonium kwartener, senyawa kolestrol, Surfaktan
seperti Tween dan Span, kuning telur atau merah telur, CMC, TEA, Sabun, dll.
Asam stearat adalah jenis asam lemak dengan rantai hidrokarbon yang
panjang, mengandung gugus karboksil di salah satu ujungnya dan gugus metil
yang lain, memiliki 18 atom karbon dan merupakan asam lemak jenuh karena
tidak memiliki ikatan rangkap di antara atom karbonnya. Menurut Poucher
(1974), asam stearat sering digunakan sebagai dasara pembuatan krim dan sabun.
Asam stearat berbentuk padatan berwarna putih kekuningan (Wade dan Weller,
1994) dan berperan memberikan konsistensi dan kekerasan pada sabun (Mitsui,
1997). Asam stearat meleleh pada suhu 69,6 0C dan mendidih pada suhu 240 0C.
Titik didih dan titik leleh asam stearat relative lebih tinggi disbanding asam lemak
jenuh yang memiliki atom karbon lebih sedikit dan relative lebih rendah
disbanding asam lemak jenuh dengan atom karbon yang lebih banyak.
Skin Cream
Skin Cream adalah sdiaan cair berupa suspensi atau dispersi yang digunakan
sebagai obat luar dapat berbentuk suspensi zat padat dalam serbuk halus dengan
bahan pensuspensi yang cocok , emulsi tipe o/w dengan surfaktan yang cocok.
Krim tangan dan badan adalah sediaan dan kosmetika yang digunakan untuk
maksud melindungi kulit supaya tetap halus dan lembut dan kering, bersisik dan
mudah pecah. (Formularium Kosmetika Indonesia, 1985, 330-357).
Asam stearat merupakan bahan dasar dalam pembuatan skin cream yang
merupakan pelembab alami, sehingga membantu menjaga kelembaban kulit
(Anonim, 2008). Trietanolamina (TEA) berfungsi sebagai emulgator atau bahan
pengemulsi. Bahan ini berfungsi agar mencegah terjadinya koalesen dan
terpisahnya cairan dispersi sebagai zat pemisah (Anonim, 2009). Gliserin dalam
pembuatan skin cream berfungsi sebagai pelembut untuk menjaga kehalusan dan
kelembutan kulit (Nugraha, 2009). Parfum pada pembuatan skin cream
digunakan sebagai pewangi sedangkan penambahan lidah buaya berfungsi sebagai
pelembab karena kandungan lignin yang terdapat pada lidah buaya mampu
menembus dan meresap ke dalam kulit, dan dapat membuat pertahanan hilangnya
cairan tubuh dari permukaan kulit, sehingga kulit tidak cepat kering dan tetap
terjaga kelembapannya (Minarsih, 2007)

Sabun Transparan
Sabun mandi adalah garam natrium atau kalium dari asam lemak yang
berasal dari minyak nabati dan atau lemak hewani. Sabun tersebut dapat berwujud
padat, lunak atau cair, berbusa dan digunakan sebagai pembersih (Kmikaze,
2002). Kirk et al., (1954) menyatakan bahwa sabun adalah bahan yang digunakan
untuk tujuan mencuci dan mngemulsi, terdiri dari dua komponen utama yaitu
asam lemak dengan rantai karbon C12-C18 dan sodium atau potassium. Sabun
yang dibuat dengan NaOH dikenal sebagai sabun keras (hard soap), sedangkan
sabun yang dibuat dengan KOH dikenal dengan sabun lunak (soft soap) (Kirk et
al., 1954).
Sabun transparan sering disebut sebagai sabun gliserin. Disebut demikian
karena pada proses pembuatan sabun transparan ditambahkan sekitar 10-15 persen
gliserin. Jenis sabun ini memiliki tampilan yang transparan dan lebih berkilau
dibandingan jenis sabun lainnya serta mampu menghasilkan busa yang lebih
lembut di kulit.
Sabun transparan dapat dihasilkan dengan sejumlah cara yang berbeda.
Salah satu metode tertua adalah dengan cara melarutkan sabun dalam alkohol
dengan pemanasan lembut untuk membuat larutan jernih, yang kemudian diberi
pewarna dan pewangi. Warna dari sabun batangan akhir tergantung pada pilihan
bahan awal dan bila tidak digunakan sabun yang berkualitas baik, kemungkinan
akan berwarna sangat kuning (Williams dan Schmitt, 2002).
Gliserin merupakan produk samping dari pemecahan minyak atau lemak
untuk menghasilkan asam lemak. Kegunaan gliserin selalu berubah-ubah sesuai
dengan produknya. Beberapa manfaat gliserin yaitu, pengawet buah dalam
makanan kaleng, sebagai bahan dasar lotion, untuk menjaga kebekuan pada
dongkrak hidroulik, sebagai bahan tinta printer, kue dan permen. Gliserin
merupakan humektan, sehingga dapat berfungsi sebagai pelembab pada kulit.
Keasaman permukaan kulit normal adalah antara 4-6,5 pada orang sehat,
meskipun bervariasi antara kulit satu dengan kulit yang lain. Pada sebuah
penelitian di India dilakukan pengukuran pH permukaan kulit 55 orang berkulit
coklat (Indian) yang terdiri dari 30 laki-laki dan 25 perempuan pada rentang usia
12-58 tahun di forehead dan di belakang pergelangan tangan. Rata-rata nilai pH
kulit forehead dan belakang pergelangan tangan adalah 5,51 +- 0,032 dan 5,56 +-
0,040 untuk laki-laki. Nilai perempuan adalah 5,73 +- 0,032 dan 5,84 +- 0,28.1.
Penelitian itu juga menemukan bahwa pH kulit tidak bergantung pada umur. Kulit
laki-laki secara signifikan sedikit lebih asam daripada perempuan dan nilai rata-
rata pH kulit di forehead dan belakang pergelangan tangan tidak berbeda
signifikan pada laki-laki, sedangkan pada perempuan perbedaan cukup signifikan
yaitu 5% (almazini,2009).
Sabun yang dipasarkan di masyarakat mempunyai nilai pH 7 hingga 9.2
Sabun dapat meningkatkan pH permukaan kulit. Semakin netral dan alkalin sabun
akan membuat kulit relatif lebih alkalin, yang mengundang pertumbuhan
Propionibacterium. Jumlah Propionibacteria secara signifikan dihubungkan
dengan pH kulit 14. Oleh karena itu lebih baik untuk menggunakan sabun dengan
pH yang lebih rendah, khususnya untuk orang rentan terhadap jerawat. Menjaga
pH kulit sangat penting untuk mengontrol jumlah bakteri di permukaan kulit pada
pasien dengan jerawat (almazini,2009).
Telah disebutkan sebelumnya bahwa pH bahan pembersih termasuk sabun
memberikan efek pada kelembaban kulit. Gehring et al. melaporkan bahwa
emulsi berbagai komponen dengan nilai pH 7,5 memiliki efek mengeringkan pada
kulit daripada emulsi yang sama dengan pH 4,5. Jadi sabun yang memiliki pH
tinggi selain meningkatkan pertumbuhan bakteri Propionibacterium juga semakin
membuat kering kulit.
Potensial iritan dari agen pembersih bergantung pada sejumlah faktor salah
satunya pH. Pembersih asam kurang mengiritasi daripada pembersih yang bersifat
netral dan alkalin, dan orang yang rentan terhadap kulit kering direkomendasikan
untuk menggunakan pembersih bersifat asam (almazini,2009).

Sabun Cair
Bahan yang banyak dijumpai untuk pembuatan sabun cair adalah Sodium
Lauril Sulfat (SLS) adalah senyawa surfaktan. Surfaktan ini bentuknya jel yang
berfungsi sebagai pengangkat kotoran. Selain itu terdapat pula Dietanolamida
(DEA) adalah surfaktan nonionik yang dihasilkan dari minyak atau lemak. Di
dalam kosmetika, DEA berfungsi sebagai surfaktan dan zat penstabil busa (Wade
dan Weller, 1994). William and Schmitt (2002) menyebutkan dietanolamida
sebagai penstabil busa yang paling efektif. Dietanolamida tidak pedih di mata,
mampu meningkatkan tekstur kasar busa serta dapat mencegah proses
penghilangan minyak secara berlebihan pada kulit dan rambut (Suryani et al.,
2002).
Surfaktan (surface active agents) merupakan senyawa aktif yang
digunakan untuk menurunkan energi pembatas yang membatasi dua cairan yang
berbeda tingkat kepolarannya dan tidak saling larut (Matheson, 1996). Tegangan
antar muka suatu fasa yang berbeda derajat polaritasnya akan menurun jika gaya
tarik-menarik antar molekul yang berbeda dari kedua fasa (adhesi) lebih besar
dibandingkan gaya tarik menarik anta molekul yang sama dalam fase tersebut
(kohesi).
Gliserin merupakan produk samping pemecahan minyak atau lemak untuk
menghasilkan asam lemak. Gliserin diperoleh sebagai hasil samping pembuatan
sabun atau dari asam lemak tumbuhan dan hewan, berbentuk cairan jernih, tidak
berbau, dan memiliki rasa yang manis. Pada pembuatan sabun transparan, gliserin
berfungsi dalam pembuatan struktur transparan.
Menurut Mitsui (1997), gliserin telah lama digunakan sebgai humektan.
Humektan (moisturizer) adalah skin conditioning agents yang dapat meningkatkan
kelembaban kulit (George dan Serdakowski, 1996). Fungsinya adalah sebagai
komponen higroskopis yang mengundang air dan mengurangi jumlah air yang
meninggalkan kulit.
Triethanolamina (TEA) merupakan trialkohol dengan tiga kelompok
hidroksil, memiliki rumus kimia C6H15NO3, bertindak sebagai basa lemah karena
satu-satunya pasangan elektron elektron dalam atom nitrogen. Kimia ini
digunakan sebagai bahan untuk menyeimbangkan pH dalam persiapan kosmetik,
perlengkapan mandi dan bahkan produk pembersih. Di antara kosmetik dan
kebersihan yang digunakan untuk tujuan ini adalah termasuk lotion kulit, mata
gel, pelembab, shampoo, busa cukur, dll. Mirip dengan natrium dan ammonium,
dapat digunakan untuk pembuatan surfaktan
(http://pt.wikipedia.org/wiki/Trietanolamina).

Mayones
Mayones merupakan produk emulsi pangan yang menggunakan bahan-
bahan seperti telur dan minyak dalam proses pembuatannya. Kunci sukses
pembuatan mayones adalah pada saat pencampuran minyak zaitun atau minyak
jagungnya. Harus tetes demi tetes hingga tercampur rata baru tambahkan tetesan
berikutnya (http://resep-masakan-top.blogspot.com/2009/03/cara-resep-membuat-
mayonaise.html).
III. METODOLOGI

A. Bahan dan Alat


Sabun Cair :
Sodium Lauril sulfat + air 12 gram + 30 ml
Cocoamide DEA + air 1 g + 10 ml
Asam sitrat + air 0,1 g + 10 ml
NaCl + air 4 g + 10 ml
Gliserin + air 10 ml + 30 ml

Skin Cream:
Asam Stearat 10 gram
Akuades 5 ml
Trienolamina (TEA) 2 ml
Gliserin 25 ml
Parfum 2 tetes

Sabun Transparan
Asam stearat 7g
Minyak kelapa 20 ml
Larutan NaOH 30% 20 ml
Gliserin 7 ml
Etanol 15 ml
Gula atau sukrosa 11 g
Cocoamide DEA 1 ml
NaCl 0,2 g
Asam sitrat 1g
Air 6,5 ml

Mayones
2 butir kuning telur
250 ml minyak (minyak zaitun, kedelai, jagung atau kelapa)
50 ml air matang
1 sendok teh cuka
1 sendk teh seledri cincang (atau bumbu-bumbu yang lain sesuai selera
seperti paprika, bawang,dll)
½ sendok teh garam
Adapun alat-alat yang digunakan pada praktikum kali ini antara lain adalah gelas
piala, gelas ukur, neraca elektrik, sudip, mixer, Brcfieldviscosimeter,
penetrometer, dan oven.

B. Metode Pembuatan Produk


a. Sabun Cair:
1.SLS yang telah larut dalam air ditambahkan larutan CDEA, kemudian
dicampur dengan asam sitrat, NaCl dan gliserin.
2. Setelah semua bahan tercampur rata dan sedikit mengental ukur PH sabun,
PH sabun yang aman adalah 10-11
3. Tambahkan pewangi dan pewarna sesuai selera.

b. Pembuatan Skin Cream


1. Asam stearat dipanaskan sampai mencair seluruhnya
2. Sementara iku akuades, TEA dan gliserin dicampur pada wadah yang lain
tanpa pemanasan
3. Setelah tercampur merata asam stearat dimasukan sambil diaduk cepat dan
merata. Emulsi yang terbentuk akan mengembang dan berbentuk krim
berwarna putih susu.
4. Setelah emulsi terlihat stabil baru ditambahkan bahan pewangi.

c. Sabun Transparan
Asam stearat dicairkan pada suhu 700C selama 15 menit, kemudian
tambahkan minyak dan aduk hingga rata. Kemudian NaOH ditambahkan dan
diaduk selama 2-4 menit hingga terbentuk sabun. Sabun kemudian dilarutkan
dalam etanol. Gliserin, gula, asam sitrat, ccoamide DEA, NaCl dan air
ditambahkan dan diaduk terus hingga campuran menjadi homogeny.
Campuran dituangkan ke dalam cetakan dan didiamkan hingga mengeras.
Sabun yang telah keras dikeluarkan dari cetakan.

d. Mayones
Kuning telur dikocok menggunakan mixer. Minyak sedikit demi sedikit
dimasukkan bergenatian dengan air. Setelah tercampur rata, cuka, seledri dan
garam dimasukkan dalam campuran.

C. Analisis Produk
1. Nilai pH
Timbang contoh sebanyak 1 gram masukkan ke dalam tabung. Tambahkan
9 ml aquadea, kemudian kocok secukupnya. Ukur pH contoh
menggunakan kertas pH atau pHmeter.
2. Viskositas (British Standard 757)
Contoh sebanyak 33.35gram dilarutkan dengan aquades pada labu takar
sampai volume mencapai 500 m, kemudian dipanaskanpada suhu 600C.
Diukur viscositasnya menggunaka Brcfieldviscosimeter.
3. Kapasitas Emulsi (Beuchat, 1977)
Sebanyak 2 gram contoh diencerkan dengan aquades sampai volume
mencapai 200 ml, lalu diblender 1 menit sambil ditambah dengan minyak
sampai minyak tidak teremulsikan. Tuang ke gelas ukur diamkan 10 menit.
Jumlah minyak yang teremulsi dinyatakan sebagai kapasitas emulsi.
4. Stabilitas Emulsi (Acton dan Saffle, 1970)
Contoh sebanyak 10 gram dimasukkan kedalam oven dengan suhu 450C
selama 1 jam kemudiaan dimasukkan ke dalam pendingin bersuhu di
bawah 00C selama 1 jam, lalu diapanaskan dalam oven dengan suhu 450C
dan dibiarkan sampai beratnya konstan. Stabilitas emulsi dapat dihitung
berdasarkan rumus berikut :

SE (% ) =
berat fase yang tersisa
x 100%
berat total bahan emulsi
5. Kekerasan Produk
Pengukuran dilakukan menggunakan penetrometer. Jarum pada
penetrometer dijatuhkan pada contoh dan dibiarkan untuk menembus
bahan selama 5 detik (atau pada interval waktu tertentu) pada temperatur
konstan. Kedalaman dari penetrasi jarum ke dalam bahan dinyatakan
dalam sepersepuluh milimeter dari angka yang ditunjukkan pada skala
penetrometer.
6. Stabilitas Busa
Timbang contoh sebanyak 1 garam, kemudian dimasukkan ke dalam
tabung ulir. Tambahkan 9 ml aquades kedalamnya, kemudian kocok
menggunakan vortex selama 1 menit. Hitung tinggi busa setelah
pengocokan, diamkan selama 1 jam dan hitung tinggi busa akhir setelah
didiamkan

Stabilitas busa (% ) =
tinggi busa akhir
x100%
tinggi busa awal
7. Daya Bersih
Kain bersih ukuran 10 x 10 cm. Timbang mentega sebanyak 1 gram
kemudian oleskan secara merata pada seluruh permukaan kain. Tempatkan
air sebanyak 200 ml dalam gelas piala kemudian diukur kekeruhannya (A
ftu tubidity). Masukkan kain yang telah diolesi mentega ke dalam gelas
piala yang telah berisi air sabun tersebut dan diamkan selama 10 menit. Air
yang telah didiamkan tersebut diukur kekeruhannya (A ftu tubidity).
Daya Bersih = B − A
8. Uji Organoleptik
Pengujian organoleptik yang akan dilakukan adalah uji hedonik
(kesukaan). Uji kesukaan untuk sabun dilakukan terhadap tampilan aroma
dan tekstur. Skala penilaian yang diberikan yaitu : (1) tidak suka, (2) agak
suka, (3) netral, (4) agak suka, (5) suka.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil
Sabun
Pengujian Sabun Cair Skin Cream Mayones
Transparan
Step
Minyak Minyak SLS SLS Tambah Langsung
Biasa by
Kelapa Sawit Cair Bubuk Aloevera Semua
Step
pH 10 11 11 10 7 7,5 5 5
Viskositas
≤1 ≤1 600 600 50,18 47
(cp)
Kapasitas
40 42 55 38 80 0
Emulsi (ml)
Stabilitas
92,38 28,71 100 98,2 99,52 95,34
Emulsi (%)
Kekerasan
Produk 1,2 4,26
(mm/5 dt)
Stabilitas
33,333 27,27 80 0,5
Busa (%)
Daya Bersih 48 34 118 5

Organoleptik
Sabun Transparan

Minyak
Keterangan: Minyak Kelapa
Sawit
Busa Tekstur Busa Tekstrur
1 : Tidak suka (%) 0,00 0,00 23,33 0,00
2 : Kurang suka (%) 16,67 0,00 33,33 26,67
3 : Netral (%) 33,33 20,00 26,67 46,67
4 : agak suka (%) 43,33 50,00 10,00 20,00
5 : suka (%) 6,67 30,00 6,67 6,67
Sabun cair

SLS Cair SLS SLS Bubuk


SLS Cair
Bubuk
Keterangan: Busa Tekstur Busa Tekstur
1 : Tidak suka (%) 0.00 3.33 0.00 0.00
2 : Kurang suka (%) 30.00 36.67 3.33 0.00
3 : Netral (%) 43.33 46.67 43.33 16.67
4 : agak suka (%) 20.00 13.33 40.00 73.33
5 : suka (%) 6.67 0.00 13.33 10.00

Mayones
Direct Mixer Step by step
Keterangan: Aroma Tekstur Aroma Tekstur
1 : Tidak suka (%) 56.67 40.00 43.33 33.33
2 : Kurang suka (%) 26.67 36.67 43.33 33.33
3 : Netral (%) 10.00 16.67 10.00 16.67
4 : agak suka (%) 6.67 6.67 3.33 16.67
5 : suka (%) 0.00 0.00 0.00 0.00

B. Pembahasan
Sabun Transparan
Sabun digunakan untuk menghilangkan kotoran-kotoran pada kulit. Hal
ini disebabkan karena pada sabun terdapat surfaktan (DEA) yang memiliki bagian
yang bersifat non polar yaitu gugus R untuk mengikat kotoran dan bagian yang
bersifat polar yang akan berikatan dengan air. Dengan kedua sifat tersebut, maka
kotoran yang ada pada kulit akan terikat pada sabun dan jika dicuci menggunakan
air maka kotoran tersebut akan terikut air juga karena sisi lain dari sabun berikatan
dengan air. Selain itu, Dietanolamin (DEA) juga berfungsi uantuk menstabilkan
busa dan membuat sabun menjadi lebih lembut.
Pada hasil praktikum diatas diperoleh hasil bahwa pH sabun transparan
yang dibuat, baik yang menggunakan minyak sawit maupun minyak kelapa dan
sabun cair maupun sabun transparan, sekitar 10-11. Tinggi atau rendahnya pH
dipengaruhi oleh banyaknya NaOH yang dimasukkan. Secara logika, penyusun
utama minyak adalah asam lemak yang bersifat asam dan jika ditambah NaOH
yang bersifat basa harusnya sabun memiliki pH netral. Namun, jika NaOH yang
ditambahkan terlalu banyak maka sabun yang dihasilkan akan bersifat basa. Untuk
sabun, pH tersebut terlalu tinggi dan akan menyebabkan kulit menjadi kering dan
meningkatkan peluang untuk tumbuhnnya bakteri Propionibacterium. Selain itu,
pH yang tinggi juga dapat menyebabkan iritasi.
Sedangkan untuk kekerasan, sabun yang terbuat dari minyak kelapa 1,2
dan untuk minyak sawit 4,26. Kekerasan pada sabun dipengaruhi oleh bahan baku
minyak yang digunakan. Sabun dari minyak kelapa sawit cenderung lebih keras
dibandingkan dengan minyak kelapa.
Untuk stabilitas busa, sabun dari minyak kelapa 33.33% sedangkan sabun
dari sabun dari minyak sawit 27.27%. Stabilitas busa dipengaruhi oleh banyak
atau sedikitnya DEA yang dimasukkan kedalam formula sabun dan mungkin
minyak yang digunakan. Sabun yang baik adalah sabun yang busanya lebih stabil,
karena rongga-rongga pada busa tersebut. Rongga-rongga tersebut menyebakan
busa memiliki permukaan yang lebih luas sehingga dapat menyerap kotoran debu
walaupun tidak banyak. Jadi, jika busa sabun lebih stabil maka kotoran yang
terikat dalam rongga-rongga tersebut akan lebih banyak.
Daya bersih sabun yang terbuat dari minyak kelapa 48 sedangkan sabun
dari minyak sawit 34. Daya pembersih produk cuci deterjen dan produk sabun
tergantung pada bahan pengisi. Bahan pengisi ini berfungsi menetralisir
kesadahan air atau melunakkan air, mencegah menempelnya kembali kotoran
pada bahan yang dicuci dan mencegah terbentuknya gumpalan dalam air cucian.
Tetapi jika air terlalu sadah, maka daya pembersih sabun apa pun tidak akan
optimal.
Berdasarkan uji organoleptik yang dilakukan, panelis yang menyatakan
tidak suka terhadap sabun yang terbuat dari minyak kelapa tidak ada, sedangkan
untuk minyak sawit 23.33% panelis tidak suka terhadap busanya dan tekstur 0 %.
Panelis yang menyatakan kurang suka terhadap sabun yang terbuat dari minyak
kelapa 16.67% untuk busa dan 0 untuk tekstur, sedangkan untuk minyak sawit
33.33%. Panelis netral terhadap busanya dan tekstur 33.33 %. Panelis yang
menyatakan netral terhadap sabun yang terbuat dari minyak kelapa 16.67% untuk
busa dan 20% untuk tekstur, sedangkan untuk minyak sawit 26.67% panelis netral
terhadap busanya dan tekstur 46.67%. Penelis yang menyatakan agak suka
terhadap sabun yang terbuat dari minyak kelapa 43.33% untuk busa dan 50%
untuk tekstur, sedangkan untuk minyak sawit 10% panelis tidak suka terhadap
busanya dan tekstur 20 %. Panelis yang menyatakan kurang suka terhadap sabun
yang terbuat dari minyak kelapa 6.67% untuk busa dan 30% untuk tekstur,
sedangkan untuk minyak sawit 6.67% panelis tidak suka terhadap busanya dan
tekstur 6.67 %. Secara umum, panelis lebih menyukai sabun yang terbuat dari
minyak kelapa.

Skin Cream
Skin Cream dalam praktikum ini ada 2 (dua) jenis yaitu skin cream tanpa
lidah buaya (Aloe vera) dan dengan lidah buaya. Cara pembuatan kedua jenis ini
sama. Analisis yang digunakan dalam pembuatan skin cream ini meliputi 5
analisis yaitu Uji pH, Viskositas, Kapasitas Emulsi, Stabilitas Emulsi dan Uji
Organoleptik.
Dalam uji pH skin cream tanpa lidah buaya memiliki pH netral (7)
sedangkan dengan lidah buaya memiliki pH yang lebih tinggi yaitu 7.5. Pada uji
viskositas, kedua skin cream ini memiliki viskositas yang sama yaitu 600 cp. Pada
uji kapasitas emulsi kedua skin cream ini memiliki perbedaan yang mencolok.
Pada skin cream tanpa lidah buaya memiliki nilai kapasitas emulsi 55 ml
sedangkan skin cream dengan lidah buaya memiliki nilai kapasitas emulsi yang
jauh lebih rendah yaitu 38. Artinya skin cream tanpa lidah buaya memiliki
kemampuan mengemulsikan minyak lebih besar dari pada skin cream dengan
lidah buaya. Pada analisis stabilitas emulsi skin cream tanpa lidah buaya mimiliki
nilai 100%, sedangkan pada skin cream dengan lidah buaya memiliki nilai 98.2.
Hal ini berarti skin cream tanpa lidah buaya lebih stabil. Uji organoleptik
dilakukan pada 30 responden. Hasilnya adalah responden lebih menyukai baik
aroma maupun tekstur dari skin cream dengan lidah buaya.
Sabun Cair
Pada praktikum pembuatan sabun cair dilakukan dengan mencampurkan
beberapa bahan diantaranya Sodium lauril sulfat, Cocoamide DEA , Asam sitrat,
NaCl, dan Gliserin. Semua bahan-bahan ini sebelum dicampurkan, masing-
masing dilarutkan dahulu ke dalam air dengan perbandingan air dan bahan pada
masing-masing bahan yang berbeda-beda. Hal ini dikarenakan agar bahan tesebut
terlarut dengan maksimal sehingga saat dicampurkan bahan mempunyai tekstur
yang halus dan tidak terjadi gumpalan-gumpalan pada sabun cair yang dihasilkan.
Selain komposisi yang harus diperhatikan dalam pembuatan sabun cair ini, PH
juga harus diukur dengan tepat untuk keamanan sabun yang dihasilkan. Ukuran
PH yang baik untuk sabun cair ini antara PH 10 hingga PH 11.
Fungsi dari masing-masing bahan yang digunakan diantaranya, sodium
lauril sulfat (SLS) merupakan senyawa surfaktan yang berguna untuk
mengangakat kotoran. Bahan SLS ini sering dijumpai pada sabun-sabun cair
dipasaran pada umumnya. Cocoamide DEA merupakan senyawa surfaktan dan zat
penstabil busa. Dengan penambahan DEA ini maka busa yang terbentuk lebih
baik dan dengan adanya kandungan surfaktan membantu proses pengangkatan
kotoran lebih maksimal. Asam sitrat mempunyai kemampuan untuk mengikat
bahan-bahan logam yang berguna sebagai katalisator dalam reaksi kimia.
Sehingga adanya asam sitrat mempermudah pembersihan dalam proses pencucian
dengan sabun cair. Gliserin merupakan hasil samping dari pemecahan asam
lemak, berbentuk cairan jernih, dan pada pembuatan sabun cair ini gliserin
merupakan bahan yeng membuat transparan pada sabun yang dihasilkan. Natrium
klorida (NaCl) yang ditambahkan merupakan senyawa yang digunakan sebagai
bahan yang yang dapat mengikat bahan lain seperti pewarna dan pewangi karena
sifatnya yang higroskopik.
Berdasarkan hasil pengujian analisis produk emulsi, sabun cair
mempunyai PH yang sesuai dengan yang dinginkan yaitu PH 10 sampai PH 11.
Penggunaan Sodium lauril sulfat cair menghasilkan PH yang lebih basa
dibandingkan dengan penggunaan SLS bubuk. Untuk viskositasnya kurang dari
atau sama dengan 1. Hal ini menunjukkan bahwa sabun cair mempunyai
kandungan air yang cukup tinggi sehingga membuat produknya cair. Untuk
kapasitas emulsinya cukup baik sebesar 40 hingga 42 ml. Penentuan kapasitas
emulsi ini dengan cara menuangkan minyak ke dalam campuran sabun cair dan
akuades hingga minyak tidak dapat teremulsikan lagi. Jumlah minyak yang
teremulsikan dinyatakan sebagai kapasitas emulsi. Dengan bertambahkan minyak
dalam sabun lama-kelamaan surfaktan dalam sabun kehabisan kemampunya
mengikat minyak yang ditambahkan sehingga minyak tersebut tidak mampu
teremulsi. Hasil pengujian analisis produk emulsi menunjukkan bahwa stabilitas
busa dan daya bersih untuk sabun cair dengan SLS cair lebih tinggi dibandingkan
dengan penggunaan SLS bubuk. Hal ini dapat dipengaruhi kandungan air yang
tinggi pada SLS cair membantu menyebarkan surfaktan dengan lebih baik untuk
proses pencucian.
Pengujian secara organoleptik menunjukkan bahwa para panelis cendeung
lebih menyukai tekstur dan busa untuk sabun cair dengan SLS bubuk. Hal ini
diketahui dari persentasi untuk tekstur, pada sabun cair dengan SLS bubuk
sebanyak 73.33 % menyatakan agak suka dan 10 % menyatakan suka. Sedangkan
untuk sabun cair dengan SLS cair hanya 13,33% menyatakan agak suka dan 0 %
menyatakan suka. Hal ini menunjukkan bahwa tekstur dan busa pada sabun cair
dengan SLS bubuk merupakan yang paling mendekati standar panelis.

Mayones
Mayones merupakan salah satu produk emulsi pangan yang menggunakan
bahan-bahan dasar seperti kuning telur, minyak (minyak zaitun, kedelai, jagung
atau kelapa). Pada praktikum ini digunakan minyak kelapa sebagai bahan
pencampur pembuatan mayones. Selain itu ditambahakan garam dan cuka untuk
memantapkan rasanya. Dalam pembuatan mayones digunakan dua metoda
meliputi, pertama, penambahan minyak sedikit demi sedikit pada campuran dan
kedua yaitu dengan menambahkan minyak secara langsung dalam pengadonan.
Yang perlu diperhatikan dalam pembuatan mayones ini adalah saat pengadukan.
Pengadukan atau blending menetukan tekstur dari mayones. Mayones yang baik
mempunyai tekstur yang kental dan cairannya tidak terputus-putus saat dialirkan.
Pada hasil praktikum mayones yang dihasilkan terlalu encer. Hal ini dapat
disebabkan kurangnya pengadukan dan banyaknya penambahan minyak.
Berdasarkan dari hasil praktikum, mayones dengan metoda pencampuran
minyak step by step (sedikit demi sedikit) memiliki tekstur yang lebih baik
dibandingkan dengan mayones yang dibuat dengan direct mixer (langsung
penambahan minyak sekaligus). Data hasil pengujian organoleptik menunjukkan
bahwa presentase tingkat kesukaan panelis terhadap tekstur mayones lebih tinggi
untuk mayones dengan metoda step by step dengan presentasi kesukaan 16.67.
Sedangkan untuk mayones direct mixer sebesar 6.67 %. Akan tetapi untuk aroma
mayones lebih banyak disukai untuk mayones direct mixer sebesar 6.67 %
sedangkan untuk mayones step by step hanya sebesar 3.33 %. Perbaikan aroma
untuk mayones ini dapat ditambahakan beberapa bahan perasa dan rempah-
rempah. Berdasarkan literatur dinyatakan bahwa kunci untuk pembuatan mayones
adalah pada saat pengadukan dan penambahan minyak sedikit demi sedikit untuk
membentuk tekstur mayones yang mengembang dan lembut.
V. KESIMPULAN

Skin cream cenderung memiliki pH netral walaupun skin cream dengan


lidah buaya bernilai sedikit diatas pH netral, dari uji viskositas diperoleh bahwa
skin cream tidak dipengaruhi oleh ada atau tidaknya penambahan lidah buaya.
Skin cream tanpa lidah buaya memiliki kemampuan mengemulsikan minyak lebih
besar dari pada skin cream dengan lidah buaya dan skin cream tanpa lidah buaya
lebih stabil. Skin cream dengan penambahan lidah buaya ternyata lebih disukai
oles responden baik dari segi tekstur maupun aroma.
Sabun transparan hasil praktikum memiliki nilai PH terlalu basa, baik sabun
dari minyak kelapa maupun dari minyak kelapa sawit. Namun, secara keseluruhan
berdasarkan uji organoleptik diketahui bahwa sabun transparan dari minyak
kelapa lebih disukai dibandingkan sabun transparan dari minyak kelapa sawit. Hal
ini juga didukung oleh hasil uji stabilitas busa dan daya bersih sabun, dimana
sabun transparan dari minyak kelapa memiliki nilai yang lebih tinggi.
Parameter pengujian kualitas sabun cair menunjukkan bahwa sabun cair
yang dibuat dengan penambahan SLS cair memiliki tingkat kestabilan emulsi,
sabilitas, dan daya bersih lebih baik dibandingkan dengan sabun cair penambahan
SLS bubuk. Namun, ternyata dimata panelis uji organoleptik diketahui bahwa
secara umum sabun cair dengan penambahan SLS bubuk lebih disukai daripada
dengan penambahan SLS cair.
Adapun untuk kualitas mayones yang dibuat dengan penambahan bahan
secara langsung menunjukkan kualitas mayones yang lebih baik daripada yang
dibuat dengan penambahan secara step by step, baik dari viskositas, stabilitas
emulsi, maupun kapasitas emulsinya. Akan tetapi berdasarkan penilaian panelis
uji organoleptik, mayones yang dibuat dengan penambahan bahan step by step
lebih disukai dibanding mayones yang dibuat dengan penambahan secara
langsung.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim .1979 . Farmakope Indonesia Ed . III . Depkes RI : Jakarta


Anonim.1985. Formularium Kosmetika Indonesia. Depkes RI : Jakarta
Almazini, Prima. 2009. Pengaruh sabun terhadap kesehatan kulit. [5 Desember
2009]
Gehring W, Gehse M, Zimmerman V, et al. Effect of pH changes in specific
detergent multicomponent emulsion on the water content of the stratum
corneum.
George E.D dan J. A. Serdakowski. 1996. The Formulation of Bar Soaps. Di
dalam Spitz, L. (ed). 1996. Soaps and Detergents, A. Teoritical and
Practical Review. AOCS Press. Illinois.
Kirk, R.E., D.F. Othmer, J.D. Scott dan A. Standen. 1954. Encyclopedia of
Chemical Technology. Vol 12. Interscience Publishers a Division of John
Wiley and Sons, Inc., New York Halaman 573-592.
Matheson, K. L. 1996. Formulation of Detergents. VISTA Chemical Co
Minarsih, L. 2007. Penentuan Stabilitas, Aseptabilitas dan Efektivitas Krim
Pelembab Aloe vera linn dengan Penembahan Propilenglikol dalam
Basis Vanishing Krim. Tesis Universitas Airlangga Surabaya.
Mitsui, T. 1997. New Cosmetic Science. Elsevier. Amsterdam.
Murphy, L.J. 1978. Mousturization a Systematic Apprach in Moisturizing and
Emmoliency Documentary Part I. C.J. Patterson Company, Kansas City.
Poucher, W.A. 1974. Perfumes, Cosmetics and Soap. Chapman and Hall. London
Suryani A., I. Sailah dan E Hambali. 2002. Teknologi Produksi Surfaktan. Jurusan
Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian. IPB.
Bogor.
Wade, A. dan P. J. Weller. 1994. Handbook of Pharmaceutical Excipients. 2nd
Edition. The American Pharmauceutical Association. Washington,
USA.
Williams, DF dan Schimitt, W.H. 2002. Kimia dan Teknologi Industri Kosmetika
dan Produk-Produk Perawatan Diri. Terjemahan. FATETTA, IPB,
Bogor.
http://pt.wikipedia.org/wiki/Trietanolamina. Didownload pada 5 Desember 2009.
http://resep-masakan-top.blogspot.com/2009/03/cara-resep-membuat-
mayonaise.html. Didownload pada 5 Desember 2009.

Anda mungkin juga menyukai