Anda di halaman 1dari 10

PENGERTIAN ANTROPOMETRI

Antropometri berasal dari bahasa Yunani yaitu anthropos dan metros.


Anthropos artinya tubuh dan metros artinya ukuran. Sehingga Antropometri dapat
diartikan ukuran dari tubuh. Sementara menurut Jellife pada tahun 1966,
antropometri adalah pengukuran dari berbagai dimensi fisik tubuh dan komposisi
tubuh secara kasar pada beberapa tingkat umur dan tingkat gizi. Imu antropometri
mulai digunakan sejak Hipocrates pada 400 masehi mengenai bentuk tubuh yang
tinggi, kurus dan pendek kurus. Dalam fisioterapi, antropemetri merupakan salah
satu jenis pengukuran untuk menunjang pemeriksaan.
Adapun karakteristik antropometri yaitu :

Ciri yang menggambarkan dimensi tubuh


Dimensi tubuh : tinggi badan, berat badan, lingkar tubuh, komposisi lemak,

Diintegrasikan dengan temuan riwayat dan sistim review dengan hasil tes
lainnya

Digunakan untuk penegakan diagnosa


Pengukuran antropometri meliputi :

Tinggi badan

Berat badan

Panjang segmental

Lingkar segmen tubuh

Indeks massa tubuh

Komposisi lemak tubuh


Data yang dihasilkan dalam pengukuran digunakan untuk :

Pendokumentasian
Mengetahui somatipe tubuh
Tingkat abnormalitas tubuh
Menentukan olahraga yang sesuai
Dalam antropometri juga dikenal Indeks antropometri. Indeks

antropometri adalah bentuk penyajian parameter antropometri (berat badan dan


tinggi badan) yang dikaitkan dengan variabel umur atau merupakan kombinasi

antara keduanya, yaitu berat badan dengan umur (BB/U), tinggi badan dengan
umur (TB/U) dan berat badan dengan tinggi badan (BB/TB). Indeks-indeks ini
digunakan sebagai Indikator status gizi karena nilai-nilainya digunakan dalam
penentuan status gizi seseorang.

PENGUKURAN ANTROPOMETRI
1. Tinggi Badan
Pengukuran Tinggi badan merupakan pengukuran terhadap panjang seluruh
tubuh dalam posisi vertikal. Alat yang digunakan untuk mengukur tinggi
badan yaitu meteran metal, midline dan yang paling sering digunakan
adalah mikrotoise.

Mikrois
e

Ada pun cara untuk melakukan pengukuran yaitu


Pilihlah tempat dengan dinding vertical (sedapat mungkin 90 derajat)
dan permukaan lantai yang horizontal (180 derajat).
Letakan microtoise di lantai dan tarik pita sentimeter ke atas sepanjang
dinding sampai angka 0 muncul dan persis pada penunjuk angka
microtoise.
Pasang ujung microtoise pada dinding dengan paku/ lakban.
Periksa kembali alat penunjuk angka pada microtoise di lantai apakah
masih menunjukan angka 0. Jika tidak pasang ulang posisi
microtoise yang benar
Subjek yang akan diukur tidak boleh menggunakan alas kaki dan topi.
Mikrotoa digeser ke atas sehingga lebih tinggi dari subjek yang akan
di ukur.

Pastikan bahwa subjek tersebut tidak menggunakan alas kaki dan


tutup kepala (Topi).
Subjek yang akan diukur berdiri tegak lurus dan rapat ke dinding
tepat dibawa mikrotoa (kepala bagian belakang, bahu bagian
belakang, pantat dan tumit harus rapat ke dinding serta pandangan rata
ke depan)
Geser mikrotoa sampai menyentuh tepat pada bagian atas kepala dan
pastikan sisi mikrotoa tetap menempel rapat ke dinding.
Lalu baca penunjukan mikrotoa dengan pembacaan dilakukan dari
arah depan tegak lurus dengan mikrotoa (Posisi pembacaan sangat
mempengaruhi hasil tinggi badan.
Pencatatan tinggi badan silakukan dengan ketelitian satu angka
sibelakang koma. (0,1)

2. Berat Badan
Alat yang digunakan untuk menimbang berat badan yaitu timbangan badan.

Timbangan

Cara untuk
melakukan penimbangan :
Badan
Letakkan alat timbang di bagian yang rata/datar dan keras
Jika berada di atas rumput yang tebal atau karpet tebal atau
permadani, maka pasang kaki tambahan pada alat timbangan untuk
bisa mengatasi daya pegas dari alas yang tebal
Pastikan alat timbang menunjukkan angka

00.00

sebelum

melakukan penimbangan
Ketika alat timbang sudah menunjukkan angka 00.00 mintalah
anak tersebut untuk berdiri di tengah-tengah alat timbang dengan
pakian seminimal mungkin
Pastikan posisi pasien dalam keadaan berdiri tegak, mata/kepala lurus
ke arah depan, kaki tidak menekuk.

Lihat jarum penunjuk, catat hasil dalam kg

3. Indeks Massa Tubuh


Indeks Massa Tubuh dapat dihitung dengan menggunakan rumus:
IMT =

BB(kg)
TB2 (m2)

Keterangan :
IMT = Indeks Massa Tubuh
BB = Berat Badan (dalam kilo gram)
TB = Tinggi Badan (dalam meter)
Contoh : Seseorang dengan tinggi badan 170 cm dan berat badan 60 kg.
Maka Indeks Massa Tubuh orang tersebut, dapat dihitung sebagai berikut:
IMT=

BB ( kg )
2

TB ( m )

60
=20,76
1,72

4. Panjang Segmental
Alat yang digunakan untuk melakukan pengukuran panjang segmental
adalah midline.

Midline

Pengukuran panjang Segmental meliputi :


a. Pengukuran Panjang Tungkai
Melakukan pengukuran panjang tungkai, posisi pasin tidur terlentang
dan menggunakan titik tubuh sebagai patokan. Dapat dilakukan dengan
3 cara, yaitu:
True length (TL)

Posisi pasien tidur terlentang dengan menggunakan titik tubuh untuk


dijadikan patokan, yaitu dari SIAS ke Maleolus Medialis dengan
melalui patella
Bone lenght (BL)
Posisi pasien tidur terlentang dengan menggunakan titik tubuh untuk
dijadikan patokan, yaitu dari Trochanter Mayor ke Tuberositas Tibia
Apperence lenght(AL).
Posisi pasien tidur terlentang dengan menggunakan titik tubuh untuk
dijadikan patokan, yaitu dari umbilicus ke maleolus lateralis melalui
patella
Ada juga yang mengukur Panjang Tungkai berdasarkan :
Pengukuran Panjang Tungkai Anatomis (PTA)
Posisi pasien tidur terlentang dengan menggunakan titik tubuh untuk
dijadikan patokan, yaitu

dari trochantor mayor ke

malleolus

medialis atau lateralis


Pengukuran Panjang Tungkai Fungsional (PTF)
Posisi pasien tidur terlentang dengan menggunakan titik tubuh untuk
dijadikan patokan, yaitu dari umbilicus ke malleolus medialis
b. Pengukuran Panjang Tungkai Atas
Melakukan pengukuran panjang tungkai atas, posisi pasin tidur
terlentang dan menggunakan titik tubuh sebagai patokan. Dapat
dilakukan dengan 2 cara, yaitu :
Mengukur panjang tungkai atas dari trochantor mayor ke condilus
tibialis medialis atau lateralis
Mengukur panjang tungkai atas dari SIAS ke join space sendi lutut
c. Pengukuran Panjang Tungkai Bawah
Melakukan pengukuran panjang tungkai bawah, posisi pasin tidur
terlentang dan menggunakan titik tubuh sebagai patokan yaitu Jarak
antara tuberositas tibialis dengan malleolus medialis atau lateralis

5. Lingkar Segmen Tubuh


Pengukuran lingkar segmen tubuh ditujukan untuk mengetahui apakah ada
atropi otot, oedema, mengetahui bentuk otot, dan ketebalan tubuh. Alat yang
digunakan untuk mengkur lingkar segmen tubuh yaitu midline.

Midline

Pengukuran lingkar segmen tubuh meliputi :


a. Lingkar Lengan Atas
Pengukuran lingkar lengan atas menggunakan patokan
acromion. Adapun yang diukur yaitu:

dari acromion 10 cm ke distal


dari acromion 20 cm ke distal
dari acromion 30 cm ke distal

b. Lingkar Lengan Bawah


Pengukuran lingkar lengan bawah menggunakan patokan epicondilus.
Adapun yang diukur yaitu:

dari epicondilus lateralis 10 cm ke distal


dari epicondilus lateralis 20 cm ke distal
dari epicondilus lateralis 30 cm ke distal

c. Lingkar Tungkai Atas


Pengukuran lingkar tungkai atas menggunakan patokan SIAS. Adapun
yang diukur yaitu :

dari SIAS 10 cm ke distal

dari SIAS 20 cm ke distal

dari SIAS 30 cm ke distal

d. Lingkar Tungkai Bawah


Pengukuran lingkar tungkai bawah menggunakan patokan
Tuberositas. Adapun yang diukur yaitu :
dari tuberositas tibia 10 cm ke distal

dari tuberositas tibia 20 cm ke distal


dari tuberositas tibia 30 cm ke distal
e. Lingkar Kaki
Adapun cara untuk mengukur lingkar kaki yaitu dari maleolus
medialis dan lateralis tarik garis sampai jung kaki, ukur lingkar kaki
yang sudah ditandai
f. Lingkar Panggul
Mengukur lingkar panggul digunakan patokan SIAS, yaitu di ukur
dengan melewati kedua SIAS

g. Lingkar Dada

INTERPRETASI
Berat Badan
Interpretasi Berat Badan Berdasarkan Umur
STATUS

KETERANGAN

Gizi lebih

2 SD

Gizi Normal

-2 SD sampai dgn +2

Gizi kurang

<-2 SD sampai dgn -3 SD

Gizi buruk

-3 SD

Tinggi Badan
Interpretasi Tinggi Badan Berdasarkan Umur
STATUS

KETERANGAN

Tinggi

>+2 SD

Normal

-2 Sd s/d +2 SD

Pendek

<-2 SD

Berat Badan Berdasarkan Tinggi Badan


STATUS

KETERANGAN

Gemuk

>+2 SD

Normal

-2 SD s/d +2 SD

Kurus

<-2 SD s/d 3 SD

Sangat kurus

<-3 SD

Indeks Masssa Tubuh


STATUS

KRITERIA

Sangat kurus

<18

Kurus

18,5 20

Normal

20 25

Gemuk

25 -30

Obesitas

>30

Lingkar Lengan Atas

Interpretasi Lingkar Lengan Atas pada dewasa dan Remaja


STATUS
KETERANGAN
Normal

25,7 28,5

Obesitas

28,5 34,2

Obesitas Berat

34,2 39,7

Obesitas Sangat Berat

>39,7

Panjang Segmental dan Lingkar Segmen Tubuh


Secara umum interpretasi Panjang Segmental dan Lingkar Segmen Tubuh
dilakukan dengan membandingkan sisi kanan dengan sisi kiri atau
membandingkan sisi yang normal dengan sisi yang patologis. Contoh : Panjang
tungkai bawah yang kanan dibandingkan dengan panjang tungkai bawah yang
kiri.

DAFTAR PUSTAKA
Ariyani, Diny Eva.2012. Validasi Ukuran Lingkar Lengan Atas terhadap Indeks
Massa Tubuh dalam Mendeteksi Resiko Kekurangan Energi Kronis pada
Wanita (20-45 tahun) di Indonesia. Depok: Universitas Indonesia
Jahar, Nurhaedar. Penilaianstatus Gizi Berdasarkan Antropometri. Program
Studi Ilmu Gizi. Makasar: FKM Unhas.
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia. 2011.
No:1995/MENKES/SK/XII/2010. Standar Antropometri Penilaian Status
Gizi Anak
Soebroto, Sritomo. Prinsip-Prinsip Perancangan Berbasiskan Dimensi Tubuh
(Antropometri) dan Perancangan Stasiun Kerja. FTI-ITS.
Suyatno. Antropometri sebagai Indikator Status Gizi. Semarang: Universitas
Diponogoro.