Anda di halaman 1dari 15

REFERAT

SUBSTANCE-RELATED DISORDERS

Disusun oleh
Nadia Andriani Putri Maizalius
03010200
Bagian Ilmu Kesehatan Jiwa
Fakultas Kedokteran, Universitas Trisakti
Jakarta, 27 Agustus 2013

DAFTAR ISI
halaman
KATA PENGANTAR 3
DAFTAR ISI.. 2
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang. 4
B. Tujuan Penulisan.. 4
C. Manfaat Penulisan 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi. 5
B. Kriteria dan Diagnosis.. 5
C. Diagnosis Banding..... 9
D. Penatalaksanaan... 9
E. Epidemiologi.... 11
F. Etiologi..... 12
G. Prognosis... 13
H. Kesimpulan... 14
DAFTAR PUSTAKA. 15

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas nikmat dan karuniaNya
sehingga kami dapat menyelesaikan referat Ilmu Kedokteran Jiwa yang berjudul SubstanceRelated Diseases.
Referat ini penulis susun sebagai tugas tambahan dalam modul Mental Emosional di
Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti Jakarta.
Pada kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:
1. dr. Hartanto Gondoyuwono, Sp. KJ. AR selaku KPM Mental Emosional Fakultas
Kedokteran Universitas Trisakti Jakarta
2. dr. Joice Viladelvia Kalumpiu, selaku sekertaris Modul Mental Emosional Fakultas
Kedokteran Universitas Trisakti Jakarta.
3. Seluruh staf pengajar Modul Mental Emosional Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti
Jakarta.
Penulis sadar bahwa dalam referat ini masih terdapat kekurangan dan kesalahan, walaupun
begitu penulis berharap referat yang telah penulis susun ini dapat bermanfaat kedepannya baik
untuk pembaca atau sebagai sumber informasi.

Jakarta, 27 Agustus 2013

Nadia Andriani Putri Maizalius

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Gangguan psikotik adalah gangguan mental di mana kepribadian seseorang akan
menjadi sangat bingung dan orang tersebut juga kehilangan kontak dengan realitas
kehidupan. Ketika episode psikotik terjadi, seseorang menjadi tidak yakin tentang apa yang
nyata dan apa yang tidak nyata. Orang tersebut biasanya jugamengalami halusinasi, delusi,
ucapan kacau serta ketidak jelasan kata-kata.
Terkadang pecandu yang putus obat dari metamfetamin dan alkohol mengalami
gejala-gejala seperti delusi dan halusinasi. Hal ini dikenal sebagai gangguan SubstanceRelated Disorders.
Di dalam DSM-IV-TR, substance-related disorders dibagi menjadi dua kelompok
yaitu yang pertama adalah gangguan penggunaan zat, yang mencakup ketergantungan serta
penyalahgunaan zat, dan gangguan yang dikarenakan oleh zat yang meliputi keracunan zat,
penarikan dari pemakaian zat, serta sindrom kejiwaan lainnya yang merupakan
konsekuensi patofisiologi langsung dari penggunaan zat. DSM-IV-TR membedakan
gangguan mental karena zat dari gangguan mental organik, yang biasanya disebabkan oleh
kondisi medis umum.
B. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan referat ini adalah untuk mengetahui cara diagnosis serta
penatalaksanaan dari Substance-Related Disorders.
C. Manfaat Penulisan
Manfaat penulisan referat ini ialah untuk memberi wawasan serta pengetahuan
kepada penulis serta pembaca referat ini mengenai diagnosis serta penatalaksanaan
dari Substance-Related Disorders.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi
Di dalam DSM-IV-TR, substance-related disorders dibagi menjadi dua kelompok
yaitu yang pertama adalah gangguan penggunaan zat, yang mencakup ketergantungan serta
penyalahgunaan zat, dan gangguan yang dikarenakan oleh zat yang meliputi keracunan zat,
penarikan dari pemakaian zat, serta sindrom kejiwaan lainnya yang merupakan
konsekuensi patofisiologi langsung dari penggunaan zat. DSM-IV-TR membedakan
gangguan mental karena zat dari gangguan mental organik, yang biasanya disebabkan oleh
kondisi medis umum.
DSM-IV-TR memberikan definisi generik untuk ketergantungan, penyalahgunaan,
intoksikasi, penarikan dan, dengan beberapa pengecualian, kriteria khusus set untuk
masing-masing negara-negara ini untuk hampir semua zat penyalahgunaan. Bagi beberapa
zat, diagnosa ini mungkin dibuat dengan tidak adanya satu set kriteria tertentu.
Definisi dari substance-induced syndromes selain dari intoksikasi dan penarikan
berbasis dari kriteria DSM untuk sindrom tertentu dapat ditemukan juga di DSM-IV-TR.
Pada bagian ini menitik beratkan kepada masalah dalam definisi dan diagnosis dari kondisi
yang lebih rumit. Terlebih lagi, jika ada seseorang yang menggunakan lebih dari satu zat
dalam kurun waktu yang sama, hal ini akan lebih memperumit diagnosis.
Addiction, cocainism, dan alcoholism. Kata-kata ini banyak digunakan untuk
menggabarkan substance-related disorders. Walaupun begitu, biasanya kata-kata diatas
digolongkan sebagai ketergantungan obat.
Kesehatan Mental dan Zat
Interkoneksi antara kesehatan mental/emosi dan penggunaan zat adalah begitu
pervasif bahwa pemahaman ikatan ini memberi kita wawasan berharga kedalam fungsi dari
pikiran manusia pada setiap tingkatan. Alasan untuk ikatan ini adalah neurotransmitter
dipengaruhi oleh zat psikoaktif sama halnya keterlibatan pada penyakit mental. Banyak
orang dengan masalah mental tertarik pada zat psikoaktif dalam usaha untuk
mengembalikan kesetimbangan kimia otak mereka dan mengkontrol agitasi, depresi, dan
gangguan mental lainnya. Begitu juga sebaliknya. Untuk beberapa orang dengan
penyalahgunaan zat, kimiawi otak mereka menjadi cukup tidak setimbang untuk
mengaktifkan a preexisting mental illnes, menimbulkan satu keadaan sakit mental, atau
menyerupai gejala dari salah satunya. Ditemui tiga faktor utama yang mempengaruhi
kesetimbangan sistem saraf pusat dan untuk itu kerentanan pada manusia terhadap penyakit
mental sama baiknya dengan kecanduan (addiction) adalah faktor herediter, lingkungan
dan penggunaan zat psikoaktif.
B. Kriteria dan Diagnosis
Seperti yang telah disebutkan oleh penulis, Substance-Related Disorders terbagi
menjadi dua kelompok yang lebih rinci akan dijabarkan sebagai berikut ini:
1. Ketergantungan Zat
a. Ketergantungan adalah suatu keadaan yang terdiri dari kognitif, perilaku
serta psikologis yang bersama-sama memberikan efek yang signifikan
setelah pemakaian zat yang kontinyu atau berulang dalam kurun waktu
dua belas bulan.
5

b. Sementara Toleransi ialah kebutuhan dari suatu zat untuk mencapai efek
yang diinginkan. Penarikan terjadi ketika darah atau konsentrasi
jaringan dari suatu zat melakukan penolakan terhadap seorang indicidu
yang telah mempertahankan penggunaan berat secara berkepanjangan
pada zat tersebut. Dalam kondisi ini individu kemungkinan akan
mengambil zat tersebut untuk meredakan atau untuk menghindari gejala
putus obat yang tidak menyenangkan. Baik toleransi atau putus obat
diperlukan anamnesisnya untuk diagnosis terhadap ketergantungan zat,
akan tetapi riwayat toleransi atau putus obat biasanya dikaitkan dengan
prognosis yang lebih buruk.
2. Penyalahgunaan zat
a. Penyalahgunaan zat sebagaimana telah didefinisikan dalam DSM-IV-TR
termasuk pada seseorang yang terus menggunakan zat, meski telah
menyebabkan masalah saat pemakaian oleh seorang individu yang tidak
memenuhi kriteria sebagai ketergantungan zat. Untuk memenuhi kriteria
penyalahgunaan zat, masalah dari penyalahgunaan zat ini harus terjadi
berulang-ulang atau menetap dalam jangka waktu kurang lebih dua
belas bulan. Dalam kriteria, penyalahgunaan zat tidak termasuk kafein
dan nikotin.
Selain daripada hal-hal yang telah disebutkan diatas, ada beberapa zat yang
penggunaannya juga banyak menyebabkan ketergantungan dan penyalahgunaan. Sangatlah
penting untuk mengetahui perbedaannya untuk dapat menentukan diagnosis yang tepat,
penatalaksanaan, serta prognosis dari keadaan tersebut.
Sama halnya pada ketergantungan ataupun penyalahgunaan alkohol. Kadangkadang kita sulit membedakannya dikarenakan gejala yang hampir sama, yang perlu
diketahui ialah jika terjadi penyalahgunaan alkohol maka mungkin tidak akan perlanjut
menjadi ketergantungan, sementara seseorang yang mengalami ketergantungan alkohol
akan terus mengalami ketergantungan. Sebagai dokter, akan lebih baik lagi jika turut
menentukan ada tidaknya ketergantungan fisiologis saat ini karena diduga memiliki nilai
prognostik yang kuat, karena pada akhirnya akan menunjukkan keadaan klinis yang akan
lebih kritis. Diagnosis akan ketergantungan secara fisiologis ditentukan atas dasar ketika
adanya gejala putus obat yang lebih kuat daripada toleransi.
Lain halnya pada alkoholisme primer, yang saat ini telah dimasukkan dalam
konteks psikiatri, keadaan ini lebih mengarah kepada ketergantungan pada alkohol yang
menyebabkan keadaan psikopatologi, yang paling sering terlihat adalah timbulnya sebuah
kecemasan atau adanya gangguan mood yang berulang. Sedangkan pada Alkoholisme
Sekunder lebih mengacu pada ketergantungan pada alkohol yang disebabkan dari
pengobatan pada diri sendiri untuk keadaan kejiwaan yang dikiranya mendasari gangguan
tersebut, dan hal ini pada umumnya terjadi pada pasien dengan schizophrenia dan bipolar
disorder.
Di lain sisi, gangguan akibat alkohol meliputi keracunan, penarikan, keracunan
delirium, kejang, demensia yang dipicu oleh alkohol, gangguan psikotik yang dipicu oleh
alkohol, serta disfungsi seksual. Intoksikasi alkohol terjadi dalam waktu yang tidak lama
dan biasanya reversibel, dengan onset yang tergantung pada toleransi, banyaknya alkohol
yang diminum dan dicerna. Terkadang juga dipengaruhi beberapa hal seperti reaksi dengan
zat lain maupun kondisi medis pada pasien itu sendiri.
Sedangkan, ada suatu episode akut dari delirium yang biasa disebabkan oleh
putusnya konsumsi alkohol, yang biasa dikenal sebagai Delirium Tremens . Tetapi,
Delirium Tremens juga dapat terjadi saat intoksikasi alkohol. Halusinasi auditorik mungkin
bisa ditemukan dan bersifat menyiksa, atau mungkin berhubungan dengan kinestetis.
Delirium tremensdapat muncul tiba-tiba, tetapi biasanya terjadi secara bertahap yaitu dua
6

sampai tiga hari setelah berhentinya konsumsi alkohol dan mencapai puncaknya pada hari
ke empat sampai ke lima. Hal ini biasanya tidak berbahaya dengan jangka waktu yang
pendek. Pada kebanyakan kasus yang telah terjadi, Delirium Tremens juga mereda setelah
tiga hari, walaupun terkadang masih timbul gejala sisa pada minggu-minggu terakhir.
Delirium tremens kadang berkaitan dengan kondisi medis seperti infeksi, hematoma
subdural, trauma, penyakit hati, serta gangguan metabolisme. Maka dari, tanyalah dengan
seksama mengenai riwayat penyakit pasien agar dapat diberikan penatalaksanaan yang
tepat.
Selain alkohol, ada juga opioid. Opioid juga mencakup morfin dan heroin. Hampir
selutuh pasien dengan ketergantungan opioid memiliki toleransi yang signifikan. Diagnosis
ditegakkan saat penggunaan opioid yang sedang berlangsung dan adanya perilaku yang
kompulsif.
Disamping itu, ada kokain yang biasanya dapat dikunyah dalam bentuk daunnya,
dihirup atau bisa juga disuntikkan. Terkadang ada juga yang menyatukkan kokain dan
heroinSpeedballing, dan hal ini termasuk amat membahayakan dikarenakan dapat
memberikan efek depresi pernafasan yang berat.
Intoksikasi opioid dan overdosis biasanya bisa dibalikkan dengan pemberian
naloxone. Gejala putus opioid ialah suatu sindroma yang diikuti oleh penurunan dosis pada
pemakai yang lama dan berat. Sindrom ini biasanya mulai dalam enam sampai delapan jam
setelah dosis terakhir dan puncaknya diantara empat puluh delapan dan tujuh puluh dua
jam; gejalanya akan berakhir dalam tujuh sampai sepuluh tahun. Tanda-tanda dan
gejalanya adalah lakrimasi, rhinorrhea, dilatasi pupil, diaforesis, diare, hipertensi ringan,
dan mungkin insomnia. Sindroma seperti flu dengan keluhan dan keinginan untuk
konsumsi opioid lagi.
Telah dipaparkan bahwa alkohol memiliki efek yang sangat banyak terhadap tubuh
manusia, termasuk gejala kejang akibat pemberhentian konsumsi alkohol. Hal ini biasa
terjadi antara tujuh sampai tiga puluh delapan jam setelah konsumsi alkohol terakhir pada
peminum berat; rata-rata saat dua puluh empat jam. Sebanyak 10 persen dari peminum
berat mengalami kejang grand mal, sepertiganya terkena delirium tremens dan dua persen
lainnya mengarah ke status epileptikus. Diketahui bahwa alkohol menurunkan ambang
kenjang, dan kemungkinan saat terputusnya konsumsi alkohol menyebabkan hal-hal seperti
diatas.
Pada keracunan amfetamin, terdapat perubahan perilaku dan psikologis ditambah
lagi dengan perubahan perilaku fisiologis yang signifikan serta adanya sindrom susunan
saraf pusat. Biasanya hal ini berlangsung tidak lebih dari satu jam setelah pemakaian,
tergantung obat dan jenis yang dipakai. Halusinasi dan ilusi biasanya terlihat pada
intoksikasi amfetamin tanpa delirium yang berarti.
Selain amfetamin, ada juga golongan substansi halusinogen yang termasuk derivat
indolamin serta derivat penylakylamine. Halusinogen biasanya diminum secara oral,
walaupun sebagian ada yang dihirup atau disuntikkan. Pada penggunaan obat halusinogen,
dapat terjadi perubahan yang berarti seperti terjadinya depersonalisasi, derealisasi,
halusinasi, ilusi, perubahan persepsi, synesthesia. DSM-IV-TR biasanya meminta paling
tidak dua gejala dari yang telah disebutkan diatas. Halusinogen juga dapat menyebatkan
flashback saat dilakukan pemberhentian dari pemakaian. Gejala-gejala yang muncul juga
dapat disebabkan oleh stress dan penggunaan obat lainnya pada waktu yang sama.
Cannabis. Termasuk marijuana, hashish, dan THC. Dosis THC yang dibutuhkan
untuk memperoleh efek farmakologis pada manusia dari menghisap sekitar 2-22 mg. THC
larut dalam lemak dan dengan cepat di absorbsi setelah inhalasi. Setelah dihisap atau dicerna, THC
akan diubah oleh hati menjadi lebih dari 60 zat metabolit, beberapa diantaranya juga berupa
psikoaktif.Biasanya dihirup tapi akhir-akhir ini biasanya dicampur di makanan. Jika terjadi

keracunan biasanya setelah sepuluh sampai tiga puluh menit setelah merokok cannabis dan
terjadi selama tiga jam. Sebagai molekul lipovilik, cannabinoids dan metabolitnya emiliki
7

waku paruh kira-kira 50 jam dan efeknya bisa berlangsung 12-14 jam. Untuk
mendiagnosanya, paling tidak harus ada dua dari ketentuan berikut yang terjadi selama 2
jam, yaitu: injeksi conjunctival, kelaparan yang meningkat, bibir keringm dan takirkardia.
Keracunan dengan depresi sistem saraf pusat (termasuk alkohol, benzodiazepin, barbiturat,
dan lainnya), tidak seperti cannabis, biasanya menurunkan rasa lapar, menurunkan sikap
agresif, terdapat nystagmus atau ataxia. Dalam dosis rendah, intoksikasi halusinogen
mungkin mirip dengan keracunan cannabis. Cannabis-induced delusional disorder adalah
sindrom yang terjadi cepat setelah pemakaian. Hal ini biasanya perhebungan dengan
adanya delusi, emosi yang labil, depersonalisasi, dan bisa saja terjadi amnesia ringan.
Ecstasy (MDMA) Ekstasi merupakan obat yang sangat popular di seluruh dunia
dengan campuran situmant dan efek halusinogen. Banyak pemakai yang melaporakan efek
stimulant dan euphoria, Ecstasy biasanya juga meningkatkan hasrat untuk berhubungan
intim dan sering dilaporkan bahwa penggunanya sering melakukan aktivitas seks yang
tidak aman. Penggunaan MDMA yang akut banyak ditakutkan menyebabkan kematian,
GHB (Gamma-hydroxybutyrate) banyak digunakan dalam dosis kecil untuk
meningkatkan masa otot karena berhubungan dengan Growth Hormone. Pada orang yang
suka dengan kehidupan malam, biasanya dosis yang lebih tinggi akan digunakan. GHB ini
mudah sekali untuk terjadi overdosis dan bisa menyebabkan kematian.
Ketamin. Banyak dikenal sebagai Speical K, ketamine adalah anastesi disosiatif
yang banyak sekali digunakan oleh kedokteran hewan. Gunanya adalah untuk efek
disosiatif serta halusinasi.
Nikotin diketahui mempunya efek euforia dan kurang lebih mirip dengan pemakai
kokain dan opioid. Nikotin bisa menyebabkan ketergantungan. Efek putus zat niktotin
muncul jika pemakaiannya dberhentikan setelah pemakaian yang lama. Sindroma putus
kokain meliputi empat atau lebih: disforik atau mood depresi, insomnia, iritabilitas,
frustasi, pemarah, anxietas, susah untuk konsentrasi, tidak sabaran, menurunnya heart rate,
dan tingginya nafsu makan atau bertambahnya berat badan. Setelah pemberhentian nikotin
dilakukan, heart rate mungkin akan berkurang sebanyak 5-12 kali per menit dari biasanya,
dan penambahan berat badan 2-3kg pada tahun pertama.
Inhaler. Dalam kelas substansi ini termasuk golongan alifatik dan aromatik dari
hidrokarbon yang ditemukan dalam produk seperti gasoline, lem, cat. Semua tipe zat ini
dapat menyebabkan ketergantungan, penyalahgunaan, maupun keracunan. Tidak ada
kriteria spesifik untuk kasus ketergantungan dan penyalahgunaan. Dalam kasus keracunan
bisa terlihat jelas dari perubahan perilaku atau psikologis didukung dengan rasa pusing
atau gangguan melihat, nystagmus, kordinasi yang kurang, bicara yang tidak tertata, cara
jalan yang tidak mantap, tremor, serta euforia. Sementara dosis yang lebih besar akan
memperlihatkan keadaan lethargy dan lemahnya otot, stupor, hingga koma. Keracunan
inhalasi ini hampir mirip dengan keracunan yang disebabkan oleh depresi sistem saraf
pusat.
DSM-IV-TR tidak memberikan kategori diagnosis untuk ketergantungan atau
penyalahgunaan kafein. Namun jika kafein digunakan dalam jangka yang lama lalu tibatiba diputus dapat menyebabkan pusing, tetapi tidak begitu parah sehingga tidak perlu
pengobatan yang lebih lanjut. Dalam dosis yang sangat banyak, kafein dapat menyebabkan
kegagalan pernafasan serta kejang grand mal. Sementara di individu yang sudah terjadi
toleransi, keracunan mungkin tidak terjadi kecuali individu tersebut mengkonsumsi kafein
dalam jumlah yang tinggi. DSM-IV-TR pun menyebutkan bahwa kelainan yang
disebabkan oleh kafein terkadang muncul seperti gangguan tidur, tetapi tidak dilanjutkan
lebih jelas lagi.
Dalam DSM IV, Diagnosis Ketergantungan Obat ditegakkan berdasarkan pola
adaptasi yang salah dari penggunaan zat, dan mengarah kepada penderitaan yang amat
terlihat dan dapat terjadi pada kapan saja dalam jangka watu dua belas bulan. Adanya
8

toleransi yang biasanya diikuti oleh kebutuhan yang meningkat dari jumlah obat untuk
mencapai efek yang diinginkan, atau terlihat efek yang lama-lama menghilang walaupun
dengan penggunaan obat yang terus-menerus dan dosis yang sama. Efek putus obat yang
meliputi karakter khas dari sindroma putus obat ini atau zat yang sama atau paling
mendekati akan dikonsumsi agar merasa lega atau untuk menghindari gejala putus obat.
Zat yang dikonsumsi umumnya dalam dosis yang besar atau berlebih dalam waktu yang
lebih lama dari yang ditargetkan, serta terdapat riwayat gagal dalam berjuang untuk
mengurangi penggunaan zat. Kegiatan sosial maupun yang berhubungan dengan pekerjaan
pun akhirnya banyak ditinggalkan karena penggunaan zat ini
Sementara kriteria penyalahgunaan zat mencakup penggunaan zat berulang yang
menyebabkan gagalnya melakukan kewajiban baik di sekolah, tempat kerja maupun rumah
(contoh umumnya adalah seringnya absen dari tempat kerja maupun sekolah dan
menurunnya performa dalam sekolah atau kerja yang drastis), penggunaan zat berulang
dalam situasi yang membahayakan misalnya saat menyetir.
Selain ketergantungan obat dan penyalahgunaan zat, ada juga keracunan zat yang
biasanya didahului oleh penggunaan obat tertentu yang dapat menimbulkan efek, atau
terjadinya perilaku yang tidak wajar atau adanya perubahan psikologis dikarenakan dari
efek zat tersebut di sistem saraf pusat, dan hal ini biasanya terjadi saat itu juga atau bisa
juga beberapa waktu setelah penggunaan zat.
Dan yang terakhir adalah kriteria diagnostik untuk efek putus opioid, yang
termasuk dalam kriteria A yaitu penghentian atau pengurangan dari penggunaan opioid
yang telah lama dan terus menerus serta pemberian dari antagonis opioid setelah beberapa
waktu menggunakan opioid. Bisa juga timbul tiga atau lebih gejala seperti mood yang
dysphoric, nausea atau muntah-muntah, nyeri otit, lakrimasi atau rhinorrhea, dilatasi pupil,
diare, menguap, demam, atau insomnia yang termasuk dalam kriteria B. Sedangkan kriteria
C adalah gejala-gejala di kriteria B yang menyebabkan hilangnya fungsi sosial serta hal
penting lainnya.
C. Diagnosis Banding
Untuk menyingkirkan diagnosis banding dari zat-zat lainnya, maka diperlukannya
pemeriksaan lebih lanjut, sekaligus untuk memastikan diagnosis serta melanjutkan terapi.
Pada saat ini, urinalisis tetap menjadi standar rata-rata untuk tes alkohol dan obat.
Kebanyakan urinalisis dimulai dengan kromatografi kualitatif berlapis tipis, termasuk
teknik radioimmunoassay atau enzyme multiplied immunoassay, dan enzyme-linked
immunoassay. Lebih spesifik dan sensitif lagi dengan menggabungkan kromatografi gas
dan mass spectometry, teknik ini dapat mengurangi rasio false positive.
Untuk konsumsi alkohol juga dapat dilihat dari serum glutamic-oxaloacetic
transaminase (SGOT), serum glutamic-pyruvic transaminase (SGPT), gammaglutamyltransferase (GGT), dan lactate dehydrogenase (LDH) juga busa dengan adanya
meningkatan dari mean corpuscular volume (MCV) menandakan adanya penyalahgunaan
alkohol yang baru-baru saja terjadi.
D. Penatalaksanaan
Tujuan utama dari pengobatan ketergantungan zat ialah menghindari seluruh
pemakain zat tersebut (kecuali untuk dosis pemeliharaan pengganti dan sebagai terapi).
Untuk pasien dengan ketergantungan obat, pemulihan tidak akan pernah ada habisnya.
Relaps atau penggunaan kembali sering terjadi pada pasien dengan ketergantungan obat
dan alkohol. Sebanyak sembilan puluh persen pasien dengan ketergantungan biasanya akan
relaps dalam kurun waktu dua belas bulan.
9

Pada umumnya, keberhasilan pengobatan biasanya lebih baik pada orang dengan
sosial-ekonomi yang tinggi tetapi stabil, dan tidak ada riwayat keluarga menderita hal yang
sama.
Keberhasilan pengobatan tergantung dari lamanya pengobatan serta dukungan
penuh dari lingkungan sekitar. Ada banyak cara pengobatan yang diantaranya adalah terapi
psikososial yang meliputi terapi individu. Terapi individu dapat dijalankan sendiri maupun
disambil dengan terapi obat. Terapi ini termasuk dalam terapi kognitif dan terapi perlaku.
Terapi perilaku memegang peranan penting untuk menghindari pasien menjadi kepribadian
dengan ciri psikotik. Selain terapi individu, ada juga terapi grup, dan juga terapi keluarga.
Sementara untuk pasien dengan keadaan pemakaian zat tertentu, ada kalanya pasien
perlu diberikan obat untuk detoksifikasi, serta mencegah terjadinya keinginan untuk
mengkonsumsi kembali, skap euforia, atau mencegah komplikasi terjadinya
neuropsikologi. Dalam hal ini, Naltrexone, diketahui sebagai indikator untuk mencegah
terjadinya relaps pada pemakai opioid, dan sekarang juga banyak digunakan pada kasus
alkoholisme. Pada pemakai opioid, naltrexone sebaiknya diberikan pelan-pelan agar tidak
terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Selain naltrexone, ada juga agonis opioid yang sering digunakan untuk
menghilangkan ketergantungan pada pengguna opioid dan kokain. Obat ini biasa dikenal
sebagai Methadone and levo-alpha acetyl methadol (LAAM). Sayangnya hanya sedikit
pasien dengan ketergantungan opioid yang diberikan methadone. Sementara LAAM,
diketahui memiliki waktu paruh yang lebih lama dan keuntungan, yaitu pemakaiannya
yang hanya tiga kali dalam seminggu. Akan tetapi, LAAM mungkin dapat menyebabkan
aritmia dan oleh karena itu LAAM sebaiknya tidak digunakan sebagai first-line treatment.
Buprenorphine. Obat ini terbukti sangat baik untuk ketergantungan opioid, biasanya
digunakan 4:1 dengan suboxone dalam bentuk tablet sublingual, akan tetapi obat ini akan
kurang bermanfaat jika digunakan pada penderita dengan penyalahgunaan zat.
Di samping obat-obat diatas, ada pula Disulfiram, disulfiram ini membuat efek
penolakan pada pengguna alkohol. Obat ini bekerja memberikan rasa sakit yang krusial
pada pasien, sehingga pasien akan merasa tersiksa jika mulai mengkonsumsu alkohol lagi.
Pada pasien dengan penggunaan zat yang kemungkinan terdapat gangguan bipolar,
dapat diberikan Lithium dan antikonvulsan seperti divalproex. Sementara pada kasus
pasien yang tidak terdapat riwayat depresi sebelumnya dan ketergantungan alkohol, dapat
diberikan sentralin yang juga terbukti efektif pada pengguna nikotin.
Selain daripada medikamentosa yang telah disebutkan diatas jika pasien dengan
kecanduan cannabis dan terdapat ciri psikotik dapat diberikan olazanpine yang sama
efektifnya dengan haloperidol, tetapi menimbulkan gejala ekstrapiramidal yang sedikit.
Detoksifikasi opioid juga dapat diberikan clonidine. Sementara benzodiazepine merupakan
drug of chouce untuk pengguna alkohol.
Rehabilitasi diberlakukan pada pasien dengan gangguan psikotik. Ini adalah
gabungan dari terapi individu, counseling, edukasi, pencegahan terjadinya penggunaan
kembali, dan terapi grup. Pasien biasanya dimonitor secara pasti oleh dokter dan diberikan
pengajaran agar nantinya setelah keluar bisa menjadi individu yang lebih aktif lagi.
Poin yang paling penting disini ialah pencegahan terutama pada pelajar, orang tua,
serta pekerja mengenai penggunaan zat-zat terlarang. Telah diketahui bahwa usia untuk
konsumsi alkohol juga ditingkatkan ke umur 21, yang telah diyakini dapat membantu
mengurangi kecelakaan lalu lintas serta kematian di masa muda. Pada sekolah, tempat
kerja, maupun tempat-tempat umum lainnya sebaiknya diberikan penyuluhan tentang
betapa merugikan dan bahayanya penyalahgunaan serta ketergantungan pada zat-zat.
Kombinasi psikoterapi dan farmakoterapi juga diduga lebih efektif daripada terapi
psikoterapi atau farmakoterapi sendiri. Terapi ini rata-rata digunakan untuk mencegah
penggunaan opioid berulang, menjaga dosis methadone, serta untuk terapi ketergantungan
alkohol.
10

D. Epidemiologi
The Epidemiologic Catchment Area melaporkan bahwa 13.8% dari penduduk Amerika
akan mengkonsumsi alkohol seumur hidup dan paling tidak 9 juta penduduk Amerika
ketergantungan alkohol, dan 6 juta lainnya adalah penyalahguna alkohol. Suatu studi
menyatakan bahwa penyalahguna alkohol terkadang masih meminum alkohol sampai akhir
khayatnya. Morbiditas dan mortalitas mengenai alkohol cukup tinggi, khususnya jika dikaitkan
dengan kekerasan dan penyakit liver. Sebanyak 25% pasien di rumah sakit umum ialah akibat
konsumsi alkohol yang kronis.
Alkohol adalah faktor utama penyabab sirosis, yang terjadi ada 10% alkoholisme.
Alkohol juga memiliki efek disfungsi seksual dan menurunkan fertilitas lewat efek yang
diberikan pada level testosteron, dan secara tidak langsung membuat atrofi testis. Peningkatan
level estrogen pada laki-laki juga bisa berakibat menjadi gynekomastia dan hilangnya bulubulu badan. Sedangkan pada peminum alkohol berat, dapat meningkatkan resiko terjadinya
gagal jantung dan cardimyopati.
Penelitian menunjukkan bahwa pengguna opioid lebih banyak laki-laki dan biasanya
terkait dengan penyakit psikopatologis. Kecanduan heroin biasanya terjadi selama 2-6 tahun.
Di tahun 1999, kira-kira 1.5 juta penduduk Amerika dengan usia lebih dar 12 tahun
adalah pemakai kokain dan telah didapat bahwa 20% kematian di New York pada tahun 1999
disebabkan oleh kokain. Kokain juga banyak ditemukan di hasil urin para pembunuh.
Penggunaan kokain yang kronis dapat menyebabkan gangguan neurotransmitter terutama
dopamin dan norepinefrin, yang akan berhubungan dengan depresi, fatigue, abulia, rendahnya
kepercayaan terhadap diri sendiri, rendahnya libido, dan parkinsonisme ringan. Komplikasi
yang bisa terjadi adalah agitasi, infark myokard, diaforesism takikardiam QRS memanjang,
hematom subarachnoid, asidosis, aritmia, bahkan kematian.
Cannabis merupakan zat yang cukup terkenal di kalangan remaja. Hampir 75%
pengguna obat-obatan memilih cannabis. Rata-rata bisa mencapai 4.8% hingga 5.4% tiap
tahunnya di populasi Amerika. Pengguna cannabis yang kronis biasanya mudah dikenali
dengan memorinya yang suka hilang dan atensinya yang makin parah jika digunakan terus
menerus. Pada pengguna cannabis juga mungkin terjadi kebingungan, ketakutan, dan
paranoid. Studi mengatakan bahwa penyalah guna cannabis empat kali lebih mungkin
menunjukkan gejala depresi daripada yang tidak konsumsi cannabis.
Pasien dengan masalah psikiatri dan penyalahgunaan zat-zat biasanya memiliki
ketergantungan pada nikotin dan sekitar 430,000 kematian per tahunnya disebabkan oleh
pemakaian tembakau dalam jangka waktu yang panjang. Prevalensi dari pengguna nikotin
mulai meningkat sejak tahun 1999 dan lebih banyak pada laki-laki daripada perempuan. Di
Indonesia sendiri, merokok biasanya dimulai dari bangku SMP kelas 3, bahkan ada yang
melaporkan bahwa sekarang sudah banyak anak SD yang merokok.
Sampai akhir tahun 2002, studi epidemiologi pada penyalahgunaan zat remaja telah
mendapatkan hasil positif dari beberapa temuan. Diantara temuan dari studi terbaik yang
tersedia dari beberapa tahun terakhir adalah bahwa 7% -17% dari remaja berusia 13 sampai 18
tahun telah memenuhi kriteria DSM untuk penyalahgunaan zat atau ketergantungan dan
bahwapenggunaan alkohol dan penggunaan narkoba secara umum sudah tersebar luas di
kalangan remaja. Namun, data awal dari tahun 2001 menunjukkan bahwa mungkin ada
penurunan yang signifikan dalam penggunaan beberapa zat dalam banyak kelompok umur
Studi ECA menemukan bahwa 16,7 persen penduduk America serikat dengan usia 18
tahun dan keatas cocok dengan kriteria DSM-III yang beruhubungan dengan penyalahgunaan
atau ketergantungan. 13,8 persen memenuhi kriteria untuk gangguan yang berkaitan dengan
alkohol, dan 6,2 persen memenuhi kriteria untuk penyalahgunaan atau ketergantungan obat
selain alkohol atau tembakau. NCS menemukan prevalensi seumur hidup 26,6 persen terhadap
penyalahgunaan zat dan ketergantungan, jauh lebih tinggi dari 16,7 persen ditemukan di ECA.
11

Beberapa dari hal ini mungkin karena pertanyaan dari NCS mengenai resep obat-obatan yang
diajukan ketika pasien melaporkan gejala ketergantungan, dan perbedaan dalam kriteria
(DSM-III vs DSM-III-R).
Namun, mungkin juga telah terjadi peningkatan dalam prevalensi. Untuk obat-obatan
terlarang dan nonmedis penggunaan obat resep, tingkat ketergantungan seumur hidup untuk di
NCS adalah 7,9 persen. NCS juga memaparkan dalam kurun waktu 12 bulan memperkirakan
untuk kekambuhan dalam tiap pecandu (termasuk ketergantungan dan penyalahgunaan)
sebesar 8,2 persen, sementara 4,5 persen alkohol ketergantungan, dan 1,8 persen
ketergantungan obat. Kecuali untuk tembakau, pria jauh lebih mungkin dibandingkan
perempuan menggunakan narkoba dan alkohol dan lebih memnungkinkan untuk terjadinya
ketergantungan. Sebagai contoh, prevalensi ketergantungan alkohol seumur hidup dan 12
bulan adalah sebanyak 20,1 persen dan 6,6 persen untuk laki-laki, tetapi hanya 8,2 persen dan
2,2 persen untuk perempuan.
Selain itu insiden dari alkoholisme lebih rendah pada orang lanjut usia, tetapi
penyalahgunaan dari resep obat biasanya sering terjadi, termasuk penyalahgunaan dari
benzodiazepin dan obat hipnotik lainnya. Ditambah lagi, pasien yang dirawat dirumah
terkadang diberikan pengobatan yang berlebih untuk mencegah hal-hal yang mengganggu.
Individu dengan retardasi ringan (kisaran IQ 60-85) gampang dikelabui dan susah
belajar dari pengalaman sehingga mereka menjadi target yang mudah dalam kasus ini.
Penggunaan zat terlarang juga diduga lebih banyak pada ras kulit putih daripada ras kulit
hitam saat remaja. Konsumsi alkohol yang berlebihan juga dilaporkan lebih banyak pada
daerah perkotaan.
E. Etiologi
Beberapa peneliti telah melakukan penilitian tentang kencedurangan ketergantungan obat
dari segi genetik, karena mungkin saja ada kecenderungan genetik untuk satu jenis tertentu dari
alkoholisme: jenis yang dimulai pada masa remaja dan yang berhubungan dengan impulsifitas,
perilaku antisosial serta perilaku kriminal. Gen dapat memegang peran dalam hal ini, gen juga
bisa mempengaruhi level dopamin di otak, yang diketahui jika jumlah dopamin di otak tinggi
maka besar kemungkinannya untuk terjadi alkoholisme.
Kebanyakan dari pasien biasanya memiliki latar belakang keluarga yang kurang
harmonis, ditambah lagi pergaulan yang salah, dan pada awalnya cenderung coba-coba dan
lama-kelamaan makin tertarik untuk mengkonsumsi dalam dosis yang lebih besar. Tetapi bisa
juga pasien memiliki ciri kepribadian yang depresif dan cenderung menyendiri sehingga
kemauannya sulit ditebak oleh lingkungan sekitar dan menjadi tertarik untuk mencoba sesuatu
yang baru.
Penelitian juga menyebutkan bahwa peran-peran seperti perawat, dokter gigi, apoteker
yang mempunyai akses yang mudah ke obat-obatan biasanya lebih memungkinkan untuk
melakukan penyalahgunaan terhadap obat-obatan sedatif dan lainnya tanpa pengawasan,
terutama pada individu yang masa kecilnya kurang menyenangkan
Banyak juga yang menyalahgunakan obat sebagai sumber energi mereka, hal ini
biasanya ditemukan pada individu yang memiliki pekerjaan yang jamnya tidak pasti, seperti
artis, juga dipercaya dapat menaikkan tingkat kepercayaan diri.
Dari segi neurobiologi, kemajuan dalam biologi seluler dan molekuler menunjukkan
keinginan untuk konsumsi zat adiktif terkait dengan hiperaktifitas dari system dopaminergik
susunan saraf pusat, yang paling menonjol adalah dari area tegmental ventral ke nucleus
accumbens dan daerah yang diproyeksikan oleh nucleus accumbens, korteks orbitofrontal dan
sistem mesolimbik, yang akhirnya mempengaruhi gyrus cinguli. Data menunjukkan bahwa
jaringan limbik, paralimbik, dan regio striatum otak termasuk struktur yang terlibat dalam
hubungan stimulus-reward (amigdala), motivasi insentif (subcallosal gyrus / nukleus
accumbens), dan antisipasi (anterior cingulate cortex). Sistem ini diaktifkan oleh kesenangan
"normal" tetapi menjadi 10 kali lebih tinggi bagi penyalahgunaan zat. Dengan menggunakan
12

studi tomografi emisi positron, satu kelompok menemukan reseptor dopamin D2 rendah di
korteks orbitofrontal pada penyalahgunaan metamfetamin. Jadi kecanduan tidak hanya penyakit
degeneratif atau lesi, tetapi juga sebuah proses yang juga melibatkan memori jangka panjang
pada tingkat molekuler. Studi obat tertentu telah dibangun di atas temuan ini dalam alkohol dan
opiat.
G.Prognosis
Untuk orang dengan masalah ketergantungan obat, tidak ada solusi cepat dan tidak ada
'obat' untuk penyalahgunaan narkoba. Pada akhirnya hasil dari penyalahgunaan narkoba adalah,
seperti inisiasi, tergantung pada interaksi yang unik antara obat, individu dan masyarakat di
samping intervensi pengobatan. Setelah ketergantungan telah dikembangkan, umumnya kondisi
kronis kambuh dan remisi yang berlangsung selama bertahun-tahun daripada bulan dan salah
satu yang sulit tetapi tidak mustahil untuk diatasi. Penelitian telah menunjukkan bahwa lebih
sedikit pecandu yang kurang kronis cenderung berhenti dalam jangka pendek, dan bahwa
perbaikan jangka pendek atau awal lebih cenderung mengarah pada perbaikan jangka panjang.
Sebagian besar studi memaparkan bahwa kematian orang dengan masalah kecanduan
sekitar 2-3% dari pecandu yang mati dalam satu tahun melakukan kontak dengan klinik atau
agen lainnya.
Beberapa faktor dapat menentukan prognosis dari suatu individu yang mencakup: jenis
zat yang digunakan, substansi yang memiliki rasio ketergantungan yang tinggi serta efek putus
obat yang parah biasanya berhubungan dengan prognosis yang buruk. Alasan penggunaan
substansi tersebut, remaja yang hanya ingin bereksperimen di saat-saat terpuruk kehidupannya
biasanya dikaitkan dengan prognosis yang baik. Kerapuhan individu tersebut, seperti latar
belakang keluarga yang buruk, nilai akademik yang buruk, pencari kesenangan, ciri
kepribadian impulsive maupun ciri kepribadian lainnya biasanya dikaitkan dengan prognosis
yang lebih buruk. Berhubungan dengan kelainan psikiatri seperti pasien dengan depresi,
schizophrenia, dan gangguan kepribadian biasanya memiliki prognosis yang lebih buruk.
Pemakaian substansi yang berbeda dalam jangka waktu yang sama atau dengan
ketergantungan alcohol biasanya memiliki prognosis yang lebih buruk. Lingkungan social yang
buruk seperti tuna wisma atau pengangguran juga memiliki prognosis yang lebih buruk.
Lamanya pemakaian zat tersebut, semakin lama durasi pemakaiannya akan lebih buruk
prognosisnya. Motivasi dari orang tersebut untuk berubah, jika pasien cukup bermotivasi dan
memiliki keinginan hidup yang kuat maka prognosis akan menjadi lebih baik. Ketersediaan
bantuan medis juga mempengaruhi prognosis.
Selain daripada itu, yang perlu diketahui, pada kelainan afek, prognosis dapat
diperburuk jika pada pasien terdapat depresi mayor atau alkoholisme primer dan adanya
alkoholisme sekunder di pasien dengan kelainan depresi. Studi menyebutkan bahwa populasi
dari alkoholisme primer dengan episode depresi mayor biasanya lebih banyak pada wanita,
ras kulit putih, menikah, sedikit pengalaman dengan obat-obatan, pernah ada percobaan
bunuh diri, dan memiliki saudara dekat dengan kelainan afek mayor. Jika sifat depresif ini
diberikan pengobatan yang adekuat, serta adanya penyuluhan, maka prognosis pasien akan
menjadi lebih baik lagi.
Pada pasien dengan schizophrenia kemungkinan kekambuhan dari ketergantungan zat
akan lebih tinggi daripada yang tidak menderita schizophrenia.

13

H. Kesimpulan
Di zaman yang sudah maju ini, makin banyak individu yang kurang peka terhadap
dirinya sendiri, terutama bagi individu yang lemah jika ada masalah hingga pada akhirnya
mereka memilih jalur lain. Hal ini tidak dapat dipungkiri, sudah terjadi banyak sekali di seluruh
dunia termasuk Indonesia. Pencegahan adalah sesuatu yang paling dibutuhkan oleh masyarakat
saat ini, termasuk dari penyuluhan mengenai akibat-akibat dari penyalahgunaan,
ketergantungan, maupun keracunan zat-zat terlarang yang harus diketahui sejak masih kecil.
Banyak kerugian yang akan didapat jika mengkonsumsi zat-zat tertentu dalam dosis
yang tidak jelas, dan sebaiknya jika ingin memakai zat tersebut untuk keperluan medis,
dikiranya perlu pengawasan dari dokter agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Prognosis pasien juga ditentukan oleh tingkat kemauan pasien serta disiplinnya pasien dalam
penggunaan zat tersebut dalam situasi kecanduan atau ketergantungan. Jika dalam kondisi
keracunan atau intoksikasi sebaiknya langsung dibawa ke rumah sakit terdekat agar cepat
ditangani dan bisa kembali seperti semula lagi.

14

DAFTAR PUSTAKA
1. Akil H, Owens C, Gutstein H, Taylor L, Curran E, Watson S: Endogenous opioids:
Overview and current issues. Drug Alcohol Depend 51:127, 1998.
2. American Psychiatric Association: Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders,
4th Edition, Text Revision. Washington, DC, American Psychiatric Association, 2000.
3. Drugs that cause psychiatric symptoms. Medical Letter on Drugs and Therapeutics 2002;
44:5962
4. Strakowski SM, DelBello MP, Fleck DE, Arndt S: The impact of substance abuse on the
course of bipolar disorder. Biological Psychiatry 2000; 48:477485
5. Allen Frances, Ruth Ross. DSM-IV-TR Case Studies: A Clinical Guide to Differential
Diagnosis. American Psychiatric Pub, 2001. 57. Print.
6. Beirut LJ, Dinwiddie SH, Begleiter H, Crowe RR, Hesselbrock V, Nurnberger JI Jr,
Porjesz B, Schuckit MA, Reich T: Familial transmission of substance dependence:
Alcohol, marijuana, cocaine, and habitual smoking. Arch Gen Psychiatry 55:982, 1998.
7. Thornhill, Joshua T. NMS Psychiatry. Lippincott Williams & Wilkins, 2011. 109-130.
eBook.
8. Kaplan, Harold I., Benjamin J. Sadock, and Virginia A. Sadock. k, M.D. Kaplan &
Sadock's Comprehensive Textbook of Psychiatry. Lippincott Williams & Wilkins, 2000.
Print.
9. Armenian Medical Network, . "Cannabis and Miscellaneos Substance use disorders."
2006: n. page. Print.
<http://www.health.am/psy/more/cannabis_and_miscellaneos_substance_use_disorders/>.
10. Vlahov D, Galea S, Resnick H, Ahern J, Boscarino JA, Bucuvalas M,Gold J, Kilpatrick D:
Increased use of cigarettes, alcohol, and marijuana among Manhattan, New York, residents
after the September 11th terrorist attacks. American Journal of Epidemiology
2002;155:988996

15