Anda di halaman 1dari 19

KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA

Hubungan Peraturan Pemerintah RI Nomor 11 Tahun 1975 dengan


Keputusan Menkes RI No. 1250/MENKES/SK/XII/2009
Dosen Pengampu: Tjokorda Bagus Putra Marhaendra, S.H, S.T, M.Erg

Oleh :

GEDE PRAMANA PUTRA


011205010

AKADEMI TEKNIK RADIODIAGNOSTIK DAN RADIOTERAPI BALI


(ATRO BALI)
2014

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang
Maha Esa. Karena atas berkat dan rahmat beliaulah penulis dapat menyelesaikan makalah
yang berjudul Hubungan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 11 Tahun
1975

dengan

Keputusan

Menteri

Kesehatan

Republik

Indonesia

No.

1250/MENKES/SK/XII/2009.
Makalah ini dibuat dalam rangka memperdalam pemahaman akan kesehatan dan
keselamatn kerja yang sangat diperlukan dengan harapan dapat menciptakan lingkungan
kerja yang aman dan nyaman bagi pekerja khususnya pekerja radiasi. Dalam proses
pendalaman materi ini, tentunya kami mendapatkan bimbingan, arahan, koreksi dan saran,
untuk itu rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya kami sampaikan kepada Bapak Tjokorda
Bagus Putra Marhaendra, S.H, S.T, M.Erg, selaku dosen mata kuliah Kesehatan dan
Keselamatan Kerja ,Rekan-rekan mahasiwa yang telah banyak memberikan masukan untuk
makalah ini.
Saya menyadari bahwa masih sangat banyak kekurangan yang mendasar pada
makalah ini. Oleh karna itu saya mengundang pembaca untuk memberikan kritik dan saran
yang bersifat membangun untuk kemajuan ilmu pengetahuan ini. Akhir kata penulis berharap
agar makalah ini bermanfaat bagi semua pembaca.

Denpasar, Desember 2014

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..........................................................................................................


DAFTAR ISI.........................................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
1.1.Latar belakang ................................................................................................................
1.2.Rumusan masalah ...........................................................................................................
1.3.Tujuan penulisan ............................................................................................................
1.4.Manfaat penulisan ..........................................................................................................
1.5.Sistematika penulisan.....................................................................................................
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pengertian Keselamatan dan Kesehatan Kerja .............................................................
2.2. Tujuan Keselamatan dan Kesehatan Kerja ...................................................................
BAB III PEMBAHASAN
3.1. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia no. 11 tahun 1975 ......................................
3.2. Hubungan Peraturan Pemerintah RI No. 11 Tahun 1975 dengn Keputusan Menteri
Kesehatan RI No.1250/MENKES/SK/XII/2009 ..........................................................
BAB IV PENUTUP
4.1. Kesimpulan ...................................................................................................................
4.2. Saran .............................................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA ..........................................................................................................

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Keselamatan dan kesehatan kerja difilosofikan sebagai suatu pemikiran dan upaya
untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmani maupun rohani tenaga kerja
pada khususnya dan manusia pada umumnya, hasil karya dan budayanya menuju
masyarakat makmur dan sejahtera. Sedangkan pengertian secara keilmuan adalah suatu
ilmu pengetahuan dan penerapannya dalam usaha mencegah kemungkinan terjadinya
kecelakaan dan penyakit akibat kerja.
Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) tidak dapat dipisahkan dengan proses
produksi baik jasa maupun industri. Perkembangan pembangunan setelah Indonesia
merdeka menimbulkan konsekwensi meningkatkan intensitas kerja yang mengakibatkan
pula meningkatnya resiko kecelakaan di lingkungan kerja.
Hal tersebut juga mengakibatkan meningkatnya tuntutan yang lebih tinggi dalam
mencegah terjadinya kecelakaan yang beraneka ragam bentuk maupun jenis
kecelakaannya. Sejalan dengan itu, perkembangan pembangunan yang dilaksanakan
tersebut maka disusunlah UU No.14 tahun 1969 tentang pokok-pokok mengenai tenaga
kerja yang selanjutnya mengalami perubahan menjadi UU No.12 tahun 2003 tentang
ketenaga kerjaan.
Walaupun sudah banyak peraturan yang diterbitkan, namun pada pelaksaannya
masih banyak kekurangan dan kelemahannya karena terbatasnya personil pengawasan,
sumber daya manusia K3 serta sarana yang ada. Oleh karena itu, masih diperlukan upaya
untuk memberdayakan lembaga-lembaga K3 yang ada di masyarakat, meningkatkan
sosialisasi dan kerjasama dengan mitra sosial guna membantu pelaksanaan pengawasan
norma K3 agar terjalan dengan baik.
1.2. Rumusan Masalah

Dari latar belakang yang telah dijabarkan dengan jelas diatas, maka penulis ingin
merumuskan masalah sebagai berikut :

Bagaimana hubungan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 11 Tahun


1975 dengan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1250/MENKES/SK/XII/2009 ?

1.3. Tujuan Penulisan


Berdasarkan penjabaran latar belakang dan rumusan masalah diatas, maka adapun tujuan
dari dibuatnya makalah ini adalah

Untuk mengetahui hubungan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 11


Tahun 1975 dengan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1250/MENKES/SK/XII/2009.

1.4. Manfaat Penulisan

Bagi Institusi, Sebagai sumber pustaka bagi Mahasiswa Akademi Teknik


Akademi Teknik Radiodiagnostik dan Radioterapi (ATRO) Bali.

Bagi Penulis, Menambah pengetahuan dan pemahaman mengenai tata


pelaksanaan keselamatan dan kesehatan kerja terutama pada pekerja radiasi dalam
peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 1975 serta
hubungannya dengan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1250/MENKES/SK/XII/2009.

Bagi Pembaca, Memberi gambaran yang jelas mengenai tata pelaksanaan


keselamatan dan kesehatan kerja terutama pada pekerja radiasi dalam peraturan
Pemerintah Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 1975 serta hubungannya dengan
Keputusan

Menteri

Kesehatan

1250/MENKES/SK/XII/2009.

Republik

Indonesia

Nomor

1.5. Sistematika Penulisan


BAB I

PENDAHULUAN

Pendahuluan berisi tentang latar belakang masalah, rumusan masalah,


tujuan penulisan, manfaat penulisan dan sistematika penulisan.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
Tinjauan pustaka berisi tentang tinjauan teori.

BAB IV PEMBAHASAN
Bab ini berisi tentang pembahasan dari rumusan masalah yaitu hubungan
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 1975 dengan
Keputusan

Menteri

Kesehatan

Republik

1250/MENKES/SK/XII/2009
BAB V

PENUTUP
Bab ini berisi tentang simpulan dan saran.

DAFTAR PUSTAKA

Indonesia

Nomor

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Keselamatan dan Kesehatan Kerja


Pengertian keselamatan dan kesehatan kerja menurut Edwin B. Flippo (1995),
adalah pendekatan yang menentukan standar yang menyeluruh dan bersifat (spesifik),
penentuan kebijakan pemerintah atas praktek-praktek perusahaan di tempat-tempat
kerja dan pelaksanaan melalui surat panggilan, denda dan hukuman-hukuman lain.
Secara filosofis, Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) diartikan sebagai
suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan jasmani maupun rohani tenaga
kerja, pada khususnya, dan manusia pada umumnya, hasil karya dan budaya menuju
masyarakat adil dan makmur. Sedangkan secara keilmuan K3 diartikan sebagai suatu
ilmu pengetahuan dan penerapannya dalam usaha mencegah kemungkinan terjadinya
kecelakaan dan penyakit akibat kerja. (Forum, 2008, edisi no.11)
Keselamatan kerja merupakan sarana utama untuk pencegahan kecelakaan
seperti cacat dan kematian akibat kecelakaan kerja. Keselamatan kerja dalam
hubungannya dengan perlindungan tenaga kerja adalah salah satu segi penting dari
perlindungan tenaga kerja. (Sumamur, 1992).

2.2. Tujuan Keselamatan dan Kesehatan Kerja


Beberapa pendapat para ahli tentang tujuan dari keselamatan dan kesehatan
kerja antara lain :

Menurut Gary J. Dessler (1993), untuk sedapat mungkin memberikan jaminan


kondisi kerja yang aman dan sehat kepada setiap pekerja dan untuk
melindungi sumber daya manusia.

Menurut Sumamur (1992), tujuan dari keselamatan dan kesehatan kerja


adalah :

a) Melindungi tenaga kerja atas hak dan keselamatannya dalam


melakukan pekerjaannya untuk kesejahteraan hidup dan
meningkatkan kinerja.
b) Menjamin keselamatan orang lain yang berada di tempat kerja.
c) Sumber produksi dipelihara dan dipergunakan secara aman dan
efisien.
Menurut pendapat Sumamur (1992), menyebutkan bahwa dalam aneka
pendekatan keselamatan dan kesehatan kerja antara lain akan diuraikan
pentingnya perencanaan yang tepat, pakaian kerja yang tepat, penggunaan
alat-alat perlindungan diri, pengaturan warna, tanda-tanda petunjuk, labellabel, pengaturan pertukaran udara dan suhu serta usaha-usaha terhadap
kebisingan.

Menurut Keputusan Menteri Tenaga Kerja R.I. No. Kep. 463/MEN/1993,


tujuan dari keselamatan dan kesehatan kerja adalah mewujudkan masyarakat
dan lingkungan kerja yang aman, sehat dan sejahtera, sehingga akan tercapai ;
suasana lingkungan kerja yang aman, sehat, dan nyaman dengan keadaan
tenaga kerja yang sehat fisik, mental, sosial, dan bebas kecelakaan.

BAB III

PEMBAHASAN

3.1. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 1975


BAB I KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Yang dimaksudkan dalam Peraturan Pemerintah ini dengan;
a) Dosis Radiasi: adalah jumlah energi yang dipindahkan dengan jalan ionisasi
kepada suatu volume tertentu atau kepada seluruh tubuh. yaitu biasanya
disamakan dengan jumlah energi yang diserap oleh jaringan atau zat lainnya tiap
satuan massa pada tempat pengukuran, sedangkan satuannya ialah rad. ekivalen
dengan jumlah energi yang diserap sebesar 100 erg tiap gram zat yang terkena
radiasi itu.
b) Nilai Batas yang diizinkan : adalah dosis radiasi yang masih dapat diterima oieh
seseorang tanpa menimbulkan kelainan-kelainan genetik atau somatik yang berarti
menurut tingkat kemajuan/pengetahuan pada dewasa ini, tidak termasuk untuk
tujuan kedokteran.
c) Petugas Proteksi Radiasi : adalah petugas yang ditunjuk oleh Penguasa Instalasi
Atom dan oleh Instansi .Yang Berwenang dinyatakan mampu melaksanakan
pekerjaan-pekerjaan yang berhubungan dengan persoalan proteksi radiasi.
d) Ahli Proteksi Radiasi: adalah seorang yang telah mendapat pendidikan khusus
dalam keselamatan kerja terhadap radiasi yang menurut penilaian Instansi Yang
Berwenang dianggap mempunyai cukup keahlian dan kemampuan untuk
menyelesaikan persoalan- persoalan yang berhubungan dengan proteksi radiasi

dan diangkat oleh Departemen Tenaga Kerja. Transmigrasi dan Koperasi sebagai
Ahli Keselamatan Kerja atas usul Instansi Yang Berwenang.
e) Pekerja Radiasi: adalah setiap orang yang karena jabatannya atau tugasnya selalu
berhubungan dengan medan radiasi dan oleh Instansi Yang Berwenang senantiasa
memperoleh pengamatan tentang dosis-dosis radiasi yang diterimanya.
f) Penguasa Instalasi Atom: adalah Kepala /Direktur Instalasi Atom atau orang lain
yang ditunjuk untuk mewakilinya.
g) Kecelakaan: adalah suatu kejadian di luar dugaan yang memungkinkan timbulnya
bahaya radiasi, dan kontaminasi, baik bagi pekerja radiasi maupun, bukan pekerja
radiasi.
h) Sampah Radioaktif: adalah zat-zat radioaktif dan bahan-bahan serta peralatan
yarlg telah terkena zat-zat radioaktif atau menjadi radioaktif karena operasioperasi nuklir dan tidak dapat dipergunakan lagi.
i)

Instansi Yang Berwenang: adalah Badan Tenaga Atom Nasional.

BAB II NILAI BATAS YANG DIIZINKAN


Pasal 2
Untuk menentukan Nilai Batas Yang Diizinkan ditetapkan dosis tertentu
sehingga menurut tingkat pengetahuan dewasa ini kemungkinan luka somatik dan
kerusakan genetik dapat dihindarkan.
Pasal 3
Ketententuan-ketentuan

Nilai.

Baitas

Yang

Diizinkan

sebagaimana

dimaksudkan pada Pasal 2 akan diatur lebih lanjut oleh Instansi yang berwenang.

10

BAB III PETUGAS DAN AHLI PROTEKSI RADIASI


Pasal 4
Setiap Instalasi Atom harus mempunyai sekurang-kurangnya seorang Petugas
Proteksi Radiasi.
Pasal 5
1. Setiap Penguasa Instalasi Atom, dengan persetujuan Instansi Yang
Berwenang, diwajibkan menunjuk dirinya sendiri atau orang lain di bawahnya
selaku Petugas Proteksi Radiasi.
2. Petugas Proteksi Radiasi bertanggung jawab atas segala sesuatu yang
berhubungan

dengan

keselamatan

setiap

orang

dalam

lingkungan

kekuasaannya kepada Penguasa Instalasi Atom.


Pasal 6
Petugas Proteksi Radiasi berkewajiban menyusun Pedoman Kerja, Instruksi,
dan lain-lain yang berlaku dalam lingkungan Instafasi Atom yang bersangkutan.
Pasal 7
1. Untuk mengawasi ditaatinya peraturan-peraturan keselamatan kerja terhadap
radiasi. Perlu ditunjuk Ahli Proteksi Radiasi oleh Instansi Yang Berwenang.
2. Ahli Proteksi Radiasi diwajibkan memberikan laporan kepada Instansi Yang
Berwenang dan Menteri Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Koperasi secara
berkala.

11

BAB IV KESEHATAN
Bagian Pertama
Pemeriksaan Kesehatan Calon Pekerja dan Pekerja Radiasi
Pasal 8
Setiap calon pekerja radiasi yang akan bekerja dalam Instalasi Atom wajib
mendapat pemeriksaan atas kesehatannya secara teliti dan mcnyeluruh oleh dokter
yang ditunjuk oleh Instalasi Atom setempat.
Pasal 9
1. Setiap pekerja radiasi disyaratkan sehat jasmaniah maupun rohaniah.
2. Setiap pekerja radiasi secara berkala wajib mendapat pemeriksaan atas
kesehatannya secara teliti dan menyeluruh oleh dokter yang ditunjuk oleh
Instalasi Atom setempat.
Pasal 10
1. Pemeriksaan berkala bagi pekerja radiasi dilakukan 1 (satu) kali dalam
setahun.
2. Apabila dipandang perlu pemeriksaan dapat dilakukan sewaktu-waktu.
3. Setiap pekerja radiasi yang memutuskan hubungan kerja dengan Instalasi
Atom wajib mendapat pemeriksaan atas kesehatannya secara teliti dan
menyeluruh oleh dokter yang ditunjuk oleh Instalasi Atom setempat.

12

Bagian Kedua
Kartu Kesehatan
Pasal 11
1. Setiap pekerja radiasi mempunyai kartu kesehatan guna mencatat secara
teratur hasil pemeriksaan medis dan disimpan di bawah pengawasan dokter
yang ditunjuk oleh InstalasiAtom setempat.
2. Petugas Proteksi Radiasi diwajibkan mencatat datam kartu khusus secara
teratur banyaknya dosis radiasi menurut jenis yang diterima oleh setiap
pekerja dalam Instalasi Atom setempat dan kartu tersebut disimpan di bawah
pengawasan Petugas Proteksi Radiasi.
Pasal 12
Kartu kesehatan tersebut pada Pasal 1l, tetap mengikuti pekerja radiasi dalam
tiap lingkungan pekerjaannya.
Bagian Ketiga
Penukaran Tugas Pekerjaan
Pasal 13
Petugas Proteksi Radiasi dapat menasehatkan untuk memindahkan seseorang
pekerja radiasi ke tempat lain, apabila Nilai Batas Yang Diizinkan untuk jangka
waktu tertentu dilampaui.

13

BAB V KETENTUAN-KETENTUAN KERJA DENGAN ZAT-ZAT


RADIOAKTIF DAN ATAU SUMBER RADIASI LAINNYA
Pasal 14
Semua pekerjaan yang memakai zat radioaktif terbuka dan zat radioaktif
tertutup serta sumber-sumber radiasi lainnya, harus mengikuti ketentuan-ketentuan
yang diatur lebih lanjut oleh Instansi yang Berwenang.
Pasal 15
Wanita hamil tidak diperkenankan menerima dosis radiasi yang melebihi Nilai
Batas Yang Diizinkan sebagai yang diatur pada Pasal 3.

BAB VI PEMBAGIAN DAERAH KERJA DAN PENGURUSAN SAMPAH


RADIOAKTIF
Pasal 16
Untuk menjaga keselamatan seseorang, maka di dalam Instalasi Atom perlu
diadakan pembagian daerah sesuai dengan tingkat bahaya radiasinya yang ditentukan
oleh. Instansi Yang Berwenang.
Pasal 17
Sampah radioaktif harus dikumpulkan, disimpan, dan dibuang pada tempat
dan dengan cara sebagai yang ditentukan dalam peraturan yang dikeluarkan oleh
Instansi Yang Berwenang.

14

BAB VII KECELAKAAN


Pasal 18
Dalam hal terjadi kecelakaan, setiap Instalasi Atom diwajibkan mengambil
tindakan dan menyelenggarakan pengamanan untuk keadaan darurat.
Pasal 19
Dalam hal terjadi kecelakaan, di mana anggota masyarakat umum mungkin
menjadi korban, harus segera diadakan hubungan dengan pejabat/Penguasa setempat.
Pasal 20
Tindakan pengamanan dipimpin oleh Penguasa Instalasi Atom atau orang lain
yang khusus ditunjuk untuk itu dibantu oleh pejabat/penguasa setempat.
Pasal 21
Dalam semua tindakan pertolongan terhadap kecelakaan, keselamatan
manusia diutamakan.
Pasal 22
Sebab-sebab kecelakaan harus segera diselidiki oleh suatu Team yang terdiri
dari Ahli Proteksi Radiasi dan Penguasa Instalasi Atom yang bersangkutan atau Wakil
yang ditunjuknya, yang dibentuk oleh Instansi Yang Berwenang serta hasilnya
dilaporkan kepada Instansi Yang Berwenang.

BAB VIII KETENTUAN PIDANA


Pasal 23
1. Pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan yang tersebut dalam Pasal-pasal 5
ayat (1),6,11 ayat (2) dan Pasa1 18, diancam dengan pidana denda setinggitingginya Rp. 100.000,- (seratus ribu rupiah).
2. Tindak Pidana yang dimaksudkan dalam ayat (1) adalah pelanggaran.

15

BAB IX KETENTUAN PENUTUP


Pasal 24
Hal-hal yang belum cukup diatur dalam Peraturan Pemerintah ini akan diatur
lebih lanjut oleh Instansi Yang Berwenang.
Pasal 25
Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar
supaya setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan
Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

16

3.2 Hubungan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 1975


dengan

Keputusan

Menteri

Kesehatan

Republik

Indonesia

Nomor

1250/MENKES/SK/XII/2009

Dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 1975


mengenai keselamatan terhadap radiasi telah dijelaskan bahwa kecelakaan adalah
suatu kejadian di luar dugaan yang memungkinkan timbulnya bahaya radiasi, dan
kontaminasi, baik bagi pekerja radiasi maupun, bukan pekerja radiasi. Maka dari itu,
jaminan keselamatan dan kesehatan kerja para tenaga kerja harus diprioritaskan atau
diutamakan dan diperhitungkan agar tenaga kerja merasa ada jaminan atas pekerjaan
yang mereka lakukan, baik yang beresiko maupun tidak.
Dalam

Keputusan

1250/MENKES/SK/XII/2009

Menteri

Kesehatan

mengenai

Republik

pedoman

kendali

Indonesia
mutu

Nomor
peralatan

radiodiagnostik dijelaskan bahwa kualitas dan keselamatan pelayanan radiodiagnostik


merupakan faktor terpenting karena dapat menimbulkan bahaya terhadap petugas,
pasien dan lingkungan sekitarnya apabila tidak dikelola dengan benar, salah satu
komponen kegiatan untuk menjamin kualitas pelayanan tersebut adalah dengan
menyelenggarakan kendali mutu (quality control) peralatan radiodiagnostik.
Dengan begitu, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 11 Tahun
1975 sangat berkaitan dengan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 1250/MENKES/SK/XII/2009 karena keselamatan terhadap bahaya radiasi
ditentukan oleh beberapa hal yang aslah satunya adalah kondisi peralatan
radiodiagnostik yang dapat diketahui melalui kendali mutu (quality control) yang
dilaksanakan dengan baik.

17

BAB IV
PENUTUP

4.1. Kesimpulan
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 1975 sangat
berhubungan atau berkaitan dengan Keputusan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia Nomor 1250/MENKES/SK/XII/2009, karena pedoman kendali mutu
(Quality Control) peralatan radiodiagnostik yang ada pada KEMENKES sangat
mempengaruhi keselamatan pekerja terhadap bahaya radiasi yang di atur dalam PP RI
no. 11 Thn 1975 tersebut.

4.2. Saran
Sebaiknya quality control dilakukan sesuai dengan peraturan yang ada
karena quality control dapat mempengaruhi terciptanya pelayanan radiodiagnostik
yang optimal dan tidak menimbulkan bahaya terhadap petugas, pasien dan
lingkungan sekitarnya.

18

DAFTAR PUSTAKA
Http://www.hukor.depkes.go.id/

Kepmenkes no 1250/menkes/sk/xii/2009. ( Diakses tanggal 18 September 2014 )


http://www.slideshare.net/titis007/pencegahan-kecelakaan-kerja