Anda di halaman 1dari 15

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORITIS


2.1 Tinjauan Pustaka
Penelitian Prakoso dkk (2014) meneliti mengidentifikasi hubungan antara
perilaku dan tingkat konsumsi energi dengan status gizi anak. Penelitian ini
menggunakan metode cross sectional dan dilakukan secara random pada 81
orang. Status gizi diukur dengan menggunakan indeks BB/U WHO 2005, untuk
perilaku diukur menggunakan kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan status gizi
anak sebagian besar dalam kategori normal (76,5%), kemudian untuk perilaku ibu
dalam memenuhi gizi anak kategori baik (58%) dan kurang baik (42%).
Sedangkan hasil uji statistik chi square menunjukkan hubungan bermakna antara
perilaku terhadap status gizi (p = 0,02).
Persamaan penelitian sekarang dengan penelitian terdahulu adalah samasama mengkaji status gizi pada anak. Perbedaannya adalah pada penelitian
sebelumnya mengkaji perilaku ibu dan status gizi pada anak. Sedangkan pada
penelitian sekarang mengkaji peran ibu dan status gizi pada anak usia sekolah.
2.2 Landasan Teoritis
2.2.1 Peran Ibu Pada Pemenuhan Gizi Anak
2.2.1.1 Pengertian Peran
Peran adalah perangkat tingkah laku yang diharapkan atau dimiliki
oleh orang di masyarakat, peran terutama ditentukan oleh ciri-ciri individu
yang bersifat khas atau istimewa (Depdiknas, 2012). Peran juga dapat
diartikan sebagai perilaku yang berkenaan dengan siapa yang memegang

posisi tertentu. Posisi mengidentifikasi status atau tempat seseorang dalam


suatu sistem sosial (Friedman, 2008).
Peran adalah seperangkat tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain
terhadap kedudukan dalam suatu sistem. Sistem membutuhkan sentuhan atau
tindakan

seseorang

yang

dapat

mengelola,

menjaga,

merubah,

dan

memperbaiki suatu sistem. Suatu sistem membutuhkan peran dari seseorang.


Peran dipengaruhi oleh keadaan sosial baik dari dalam maupun dari luar dan
bersifat stabil (Barry dkk, 2013).
2.2.1.2 Pengertian Ibu
Ibu adalah salah satu dari kedudukan sosial yang mempunyai banyak peran,
peran sebagai seorang istri dari suaminya, sebagai ibu dari anak-anaknya,
dan sebagai seorang yang melahirkan menyusui dan merawat anak-anaknya. Ibu
juga berfungsi sebagai benteng keluarga yang menguatkan anggota-anggota
keluarganya. Ibu sebagai seorang yang sangat penting dalam rumah tangga. Ibu
yang merawat anak-anaknya, menyediakan makanan untuk anggota keluarganya
dan terkadang bekerja untuk menambah pendapatan keluarga. Peran ibu adalah
tingkah laku yang dilakukan seorang ibu terhadap keluarganya untuk merawat
suami dan anak-anaknya (Santoso, 2009).
2.2.1.3 Peran Ibu Dalam Pemenuhan Gizi Anak
Peran seorang ibu sangat besar dalam proses kehidupan awal seorang anak.
Sejak bayi lahir, ibu yang menyusui atau menyuapi makanan ke mulut bayi.
Freud menempatkan tokoh ibu paling penting dalam perkembangan seorang
anak. Sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya, ibu mempunyai peranan

untuk mengurus rumah tangga, sebagai pengasuh serta pendidik untuk anakanaknya, pelindung dan sebagai salah satu kelompok dari peranan sosialnya, dan
sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya, di samping itu ibu juga bisa
mencari nafkah untuk tambahan dalam menopang ekonomi keluarganya
(Dagun, 2012).
Menurut Maharani (2008), menyatakan bahwa seorang ibu harus
mengetahui berbagai hal yang terkait dengan perannya meliputi mengetahui
makanan bergizi, jadwal makanan, cara mempersiapkan, cara menyajikan
serta dalam mempersiapkan perlengkapan makannya. Seorang ibu harus
mampu melatih makan pada anaknya dan sanggup mengantisipasi sewaktu
anak susah makan. Alan (2009) menyatakan bahwa peran ibu dalam
memberikan makanan pada anak adalah sebagai berikut :
a. Membentuk pola makan anak
Pola makan adalah cara seseorang dalam memilih makanan dan
memakannya sebagai tanggapan terhadap pengaruh fisiologis, psikologis budaya
dan sosial (Waryana, 2010). Makanan berperan penting dalam pertumbuhan
fisik dan kecerdasan anak. Pola makan yang baik dan teratur perlu diperkenalkan
sejak dini. Penting sekali membina dan mengembangkan keterampilan makan
pada anak yang dimulai sejak dini.
Kebutuhan bahan makanan perlu diatur, sehingga bayi mendapatkan
asupan

gizi

yang

diperlukan

secara

utuh

sesuai

dengan

usia

dan

kebutuhannya. Pola makan anak sebaiknya diatur sesuai dengan waktu lapar dan
pengosongan lambungnya. Perhatikan juga jarak waktu pemberian makan, supaya

anak tidak diberi makan ketika masih kenyang. Tidak benar memaksa anak
menghabiskan makanannya jika anak sudah tidak mau makan. Sikap memaksa
hanya akan membuat anak trauma pada makanan. Pola makan kelompok
masyarakat atau keluarga akan menjadi pola makan anak dimana seorang anak
itu tinggal. Seorang anak dapat memiliki kebiasaan makan dan selera makan,
yang terbentuk dari kebiasaan dalam masyarakatnya. Jika menyusun hidangan
untuk anak, hal yang perlu diperhatikan adalah memenuhi kebutuhan zat gizi
untuk hidup sehat dan bertumbuh kembang. Kecukupan zat gizi ini berpengaruh
pada kesehatan dan kecerdasan anak, maka pengetahuan dan kemampuan
mengelola makanan sehat untuk anak adalah suatu hal yang amat penting
(Santoso, 2009).
Makan dapat dijadikan media untuk mendidik anak supaya anak dapat
menerima, menyukai, memilih makanan dan menentukan jumlah makanan
yang cukup dan bermutu, dengan demikian dapat dibina kebiasaan yang baik
tentang waktu makan. Melalui cara pemberian makan yang teratur anak biasa
makan pada waktu yang lazim dibiasakan. Kebiasaan itu dengan sendirinya
akan membentuk pola makan pada anak (Santoso, 2009).
b. Menciptakan situasi yang menyenangkan
Suasana makan juga menentukan mood anak, jika di lingkungan rumah
ada taman bermain tak ada salahnya jika mengajak anak main disana. Suasana
bertemu teman-teman sepermainannya akan membuat anak cenderung lebih
bersemangat makan. Namun perlu diingat makanan yang dibawa harus ditutup
dengan baik untuk menghindari debu dan kuman. Tidak benar memaksa

anak untuk makan, biarkan anak makan atas inisiatif sendiri. Seperti halnya
orang dewasa nafsu makan anak juga dipengaruhi suasana hatinya. Anak
sedang merasa tidak bahagia, tertekan atau tidak dicintai dapat menyebabkan
selera makan anak akan menurun.
Cara lain yang bisa dilakukan adalah dengan memberi kesempatan kepada
anak untuk memilih menu favoritnya. Suasana makan yang menyenangkan
juga

bisa

diciptakan

didalam

rumah

bisa

sambil

nonton televisi,

mendengarkan lagu kesenangan, atau makan bersama-sama keluarga yang lain,


sehingga menambah nafsu makan pada anak.
c. Penyajian makanan yang menarik
Penyajian makanan yang menarik bisa dilakukan dengan banyak cara
diantaranya perhatikan dalam menyajikan makanan. Penyajian makanan yang
menarik dapat merangsang keinginan anak untuk makan. Penyajian makanan
yang menarik dapat dengan menggunakan perangkat makan

yang

menarik

misalnya bergambar karakter kartun yang lucu dengan warna-warna yang


menarik, variasi menu dan berikan perubahan rasa.
2.2.1.4 Faktor-faktor yang mempengaruhi peran ibu dalam pemenuhan
gizi pada anak usia sekolah
Peran dipengaruhi oleh banyak hal. Termasuk dalam hal ini adalah
peran ibu dalam memenuhi gizi anak. Beberapa hal yang dapat menjadi
faktor-faktor yang mempengaruhi peran ibu dalam pemenuhan gizi anak usia
sekolah adalah sebagai berikut (Santoso, 2009).
a. Pendidikan

Bidang

pendidikan

memegang

peranan

penting.

Semakin

tinggi

pendidikan semakin mudah menerima hal-hal baru dan bisa menyesuaikan dengan
mudah. Pendidikan yang semakin tinggi memungkinkan seseorang untuk dapat
menerima

informasi

tentang

pengetahuan

gizi

dengan

baik dan dapat

memperbaiki gizi keluarga terutama untuk anak (Notoadmodjo, 2010).


b. Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang
melakukan pengindraan terhadap suatu objek. Ibu sangat membutuhkan
pengetahuan yang cukup untuk mengetahui perannya. Peran dalam hal ini yaitu
untuk mengatasi kesulitan makan pada anak (Notoadmodjo, 2010).
c. Perilaku
Perilaku adalah merupakan perbuatan atau tindakan dan perkataan seseorang
yang sifatnya dapat diamati, digambarkan dan dicatat oleh orang lain
ataupun orang yang melakukannya. Untuk dapat menyusun menu yang
adekuat seorang ibu perlu memiliki pengetahuan mengenai bahan makanan,
zat gizi dan cara pengolahan makanan. Pengolahan makanan yang tepat akan
meningkatkan mutu makanan yang akan dikonsumsi oleh anak (Notoadmodjo,
2010).
d. Sikap
Sikap adalah pandangan atau perasaan yang disertai kecenderungan untuk
bertindak, sikap senantiasa terarah terhadap suatu hal atau objek. Manusia
dapat mempunyai sikap terhadap bermacam-macam hal. Sikap seseorang

terhadap makanan dipengaruhi oleh pelajaran dan pengalaman yang diperoleh


sejak masa kanak-kanak tentang makan dan makanan (Santoso, 2009).
Sikap merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak dan bukan
merupakan pelaksana motif tertentu. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau
aktivitas akan tetapi merupakan presdisposisi tindakan atau perilaku, begitu juga
sikap ibu dalam menentukan jenis makanan yang mengandung zat gizi cukup
dan sesuai dengan kebutuhan anak. Ibu dapat menentukan

sikap

dalam

mengatasi kesulitan makan pada anaknya dengan cara yang sesuai kemampuan
masing-masing ibu (Notoadmodjo, 2010).
e. Perhatian
Perhatian adalah keaktifan jiwa yang diarahkan kepada suatu obyek
(Ahmadi, 2009). Dewasa ini sering kali ibu terpaksa meninggalkan anaknya
untuk bekerja meskipun ibu sangat mencintai anaknya. Keadaan seperti ini mau
tidak mau ibu tidak bisa memberi kasih sayang penuh pada anaknya. Umumnya
ibu tidak mengerti bahwa pada umur yang begitu awal sudah ada kebutuhan
psikologis yang perlu dipenuhi. Ibu yang bekerja mungkin tidak bisa
memperhatikan
dibutuhkan

jenis

anak

makanan,

dengan

frekuensi makan

sempurna.

Ibu

dan

tidak cukup

zat

gizi

waktu

yang
untuk

memperhatikan dan mengatur segala sesuatu yang berkaitan dengan makan


anak. Pemberian makan pada anak membutuhkan perhatian ibu termasuk
dalam peran ibu dalam mengatasi kesulitan makan pada anak (Santoso, 2009).
f. Ekonomi

Kekurangan pendapatan ekonomi keluarga membawa konsekuensi buruk.


Kurangnya pendapatan keluarga akan menyebabkan ketahanan pangan akan
terganggu. Kemampuan rumah tangga memperoleh makanan untuk memenuhi
kebutuhan

nutrisi

untuk

seluruh

anggota

keluarganya akan

semakin

berkurang. Ketidakberdayaan keluarga memenuhi persediaan pangan secara


langsung akan berpengaruh terhadap pemenuhan nutrisi anggota keluarganya
termasuk untuk anak anaknya (Santoso, 2009).
g. Keterampilan
Keterampilan
makanan

anak

ibu

dapat

dalam

memilih,

berpengaruh

memasak

terhadap

dan

pemenuhan

menghidangkan
nutrisi

anak.

Keterampilan ibu dalam memilih keragaman bahan dan keragaman jenis masakan
juga sangat diperlukan untuk menghindari kebosanan anak terhadap makanan.
Ibu yang memiliki keterampilan dalam memasak, memilih bahan dan
menyajikan

akan

menghasilkan

makanan

yang menarik

saat

disajikan.

Keterampilan dalam memberikan atau menyuapi makanan pada anak akan


meningkatkan kemauan anak untuk makan (Santoso, 2009).
h. Penyediaan makanan
Penyediaan makanan dipengaruhi oleh kondisi-kondisi yang bersifat
hasil karya manusia seperti sistem pertanian. Termasuk disini pengadaan
setelah dimasak, makanan akan dihidangkan untuk anak. Makanan yang
dihidangkan oleh ibu harus disajikan dengan menarik, dengan begitu anak
merasa senang bahkan puas sehingga meningkatkan selera makan, gairah
makan dan nafsu makan anak. Selanjutnya anak dapat mengkonsumsi semua

zat-zat gizi yang dibutuhkan (Sediaoetama, 2008). Pengadaan makanan perlu


diperhitungkan,
diseimbangkan

persediaan
dengan

nilai

bahan makanan

yang

dibutuhkan

anak

rata-ratakecukupan makanan yang dibutuhkan

sesuai umur dan berat badan anak (Santoso, 2009).


i. Ketersediaan waktu ibu
Dewasa ini seringkali seorang ibu terpaksa meninggalkan anaknya karena
harus bekerja, padahal sebagai seorang ibu masih harus bertanggung jawab
terhadap peran yang diembannya. Salah satunya berperan dalam memenuhi
kebutuhan nutrisi untuk anak terutama disaat anak mengalami kesulitan makan.
Ibu yang memilki banyak waktu untuk anak akan membuat waktu untuk sering
bersama. Kebersamaan itu dapat memberikan keakraban antara ibu dan anak.
Keakraban

antara

ibu

dan anak akan sangat menguntungkan disaat anak

mengalami kesulitan makan. Ibu akan mudah untuk mengatasinya karena anak
sudah merasa nyaman dan percaya sama ibunya. Ibu yang tidak memiliki
ketersediaan

waktu akan berpengaruh terhadap perannya dalam mengasuh

anaknya (Santoso, 2009).


2.2.2 Anak Usia Sekolah
2.2.2.1 Definisi
Anak sekolah menurut definisi WHO (World Health Organization) yaitu
golongan anak yang berusia antara 7-15 tahun , sedangkan di Indonesia lazimnya
anak yang berusia 7-12 tahun.
2.2.2.2 Karakteristik

Anak sekolah merupakan golongan yang mempunyai karakteristik mulai


mencoba mengembangkan kemandirian dan menentukan batasan-batasan norma.
Di sinilah variasi individu mulai lebih mudah dikenali seperti pertumbuhan dan
perkembangannya, pola aktivitas, kebutuhan zat gizi, perkembangan kepribadian,
serta asupan makanan (Yatim, 2008). Ada beberapa karakteristik lain anak usia ini
adalah sebagai berikut :
Anak banyak menghabiskan waktu di luar rumah
Aktivitas fisik anak semakin meningkat
Pada usia ini anak akan mencari jati dirinya
Anak akan banyak berada di luar rumah untuk jangka waktu antara 4-5 jam.
Aktivitas fisik anak semakin meningkat seperti pergi dan pulang sekolah, bermain
dengan teman, akan meningkatkan kebutuhan energi. Apabila anak tidak
memperoleh energi sesuai kebutuhannya maka akan terjadi pengambilan
cadangan lemak untuk memenuhi kebutuhan energi, sehingga anak menjadi lebih
kurus dari sebelumnya (Khomsan, 2010).
Pada usia sekolah dasar anak akan mencari jati dirinya dan akan sangat
mudah terpengaruh lingkungan sekitarnya, terutama teman sebaya yang
pengaruhnya sangat kuat seperti anak akan merubah perilaku dan kebiasaan
temannya, termasuk perubahan kebiasaan makan. Peranan orangtua sangat
penting dalam mengatur aktivitas anaknya sehari misalnya pola makan, waktu
tidur, dan aktivitas bermain anak (Moehyi, 2009).
2.2.2.3 Kebutuhan Nutrisi Anak Usia Sekolah

Pada usia sekolah ini kebiasaan makan pada anak tergantung padakehidupan
sosial, kadang-kadang anak malas makan di rumah karena kondis yang tidak
disukai. Pada usia ini kemampuan makan dengan menggunakan sendok, piring,
dan garpu sudah baik. Pada usia sekolah, tata cara dalam makan seperti makan
dengan posisi duduk, mencuci tangan sebelum makan, tidak mengisi mulut secara
penuh dan mengambil makanan secara bersamaan. Kadang-kadang anak usia
sekolah juga malas untuk makan akibat stress atau sakit sehingga perlu
pemantauan dan anak sekolah cenderung suka makan secara bersamaan dengan
teman sekolahnya (Hidayat, 2008).
2.2.2.4 Kecukupan Gizi yang Dianjurkan Untuk Anak Usia Sekolah
Angka kecukupan gizi (AKG) atau Recommended Dietary Allowances
(RDA) adalah banyaknya masing-masing zat gizi yang harus dipenuhi dari
makanan untuk mencukupi hampir semua orang sehat. Tujuan utama penyusunan
AKG ini adalah untuk acuan perencanaan makanan dan menilai tingkat konsumsi
makanan individu/masyarakat (Almatsier, 2009). Hardiansyah (2014) mengartikan
Angka Kecukupan Energi (AKE) adalah rata-rata tingkat konsumsi energi dari
pangan yang seimbang dengan pengeluaran energi pada kelompok umur, jenis
kelamin, ukuran tubuh (berat) dan tingkat kegiatan fisik agar hidup sehat dan
dapat melakukan kegiatan ekonomi dan sosial yang diharapkan. Selanjutnya
Angka Kecukupan Protein (AKP) dapat diartikan rata-rata konsumsi protein untuk
menyeimbangkan protein yang hilang ditambah sejumlah tertentu, agar mencapai
hampir semua populasi sehat (97.5%) di suatu kelompok umur, jenis kelamin, dan

ukuran tubuh tertentu pada tingkat aktivitas sedang. Angka kecukupan energi dan
protein pada anak usia sekolah dapat dilihat pada tabel 2.1 berikut:
Tabel 2.1 Angka Kecukupan Energi dan Protein pada Anak Usia Sekolah

Sumber: Hardiansyah (2014)


2.2.3 Status Gizi
2.2.3.1 Definisi
Status gizi merupakan ekspresi dari keseimbangan antara makanan yang
masuk ke dalam tubuh sebagai zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh (Supariasa
dkk, 2011). Sedangkan menurut Almatsier (2009) status gizi adalah keadaan tubuh
sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi. Status gizi adalah
tanda-tanda atau penampilan yang diakibatkan oleh keseimbangan antara
pemasukan gizi disatu pihak dan pengeluaran oleh organisme di pihak lain.
Status gizi ditentukan oleh dua hal yaitu terpenuhinya semua zat-zat gizi
yang diperlukan tubuh dari makanan dan peranan faktor-faktor yang menentukan
besarnya kebutuhan, penyerapan dan penggunaan zat-zat gizi. Zat gizi adalah
ikatan kimia yang diperlukan tubuh untuk melakukan fungsinya. Ada 3 fungsi
utama zat gizi, yaitu menghasilkan energi, membangun dan memelihara jaringan
serta mengatur proses-proses kehidupan Kebutuhan tubuh akan zat gizi ditentukan

oleh beberapa hal yaitu tingkat metabolisme, tingkat pertumbuhan, aktivitas fisik,
perbedaan daya serap dan penghancuran zat gizi tersebut dalam tubuh. (Achadi,
2014).
2.2.3.2 Penilaian Status Gizi
Status gizi dapat dinilai secara langsung maupun tidak langsung. Penilaian
langsung dapat dilakukan secara antropometri, klinis, biokimia dan biofisik.
Sedangkan penilaian status gizi secara tidak langsung dapa dilakukan melalui
survei konsumsi makanan, statistik vital dan faktor ekologi. Dalam penilaian
status gizi diperlukan beberapa parameter yang kemudian disebut dengan indeks
antropometri (Supariasa, dkk, 2011).
Pengukuran antropometri adalah pengukuran terhadap dimensi tubuh dan
komposisi tubuh. Beberapa pengukuran antropometri utama yang digunakan
antara lain adalah tinngi badan/strature (TB), berat badan (BB), lingkar lengan
(dengan komponen lemak bawah kulit dan otot tulang) dan lipatan lemak bawah
kulit.
Menurut Soekirman (2010) untuk mengetahui apakah berat dan tinggi badan
normal, lebih rendah atau lebih tinggi dari yang seharusnya, maka dilakukan
pembandingan dengan suatu standar internasional yang ditetapkan oleh WHO.
Untuk mengetahui status gizi diperlukan indikator yang merupakan kombinasi
antara BB, TB dan Umur dimana masing-masing indikator mempunyai makna
tersendiri. Indikator tersebut antara lain adalah sebagai berikut (Departemen Gizi
dan Kesehatan Masyarakat, 2007):
a. Berat Badan terhadap Umur (BB/U)

Merupakan indikator status gizi kurang saat sekarang dan sensitif terhadap
perubahan kecil. Dapat digunakan untuk memonitor pertumbuhan dan pengukuran
yang berulang dapat mendeteksi growth failure karena infeksi atau KEP.
Kekurangan pemakaian indeks ini adalah sulitnya mendapatkan umur yang akurat,
keliru dalam menginterpretasikan status gizi bila terdapat edema dan kesalahan
pengukuran yang dapat disebabkan oleh pengaruh pakaian atau anak bergerak saat
ditimbang serta adanya hambatan dari segi perspektif budaya.
b. Tinggi Badan terhadap Umur (TB/U)
Merupakan indikator status gizi masa lalu dan kesejahteraan dan
kemakmuran suatu bangsa. Kekurangan pemakaian indeks ini adalah sulitnya
mendapatkan umur yang akurat dan perubahan tinggi badan tidak banyak terjadi
dalam waktu singkat dan perlu dua orang untuk membantu mengukur tinggi anak.
c. Berat Badan terhadap Tinggi Badan (BB/TB)
Berat badan memiliki hubungan yang linear dengan tinggi badan. Indeks
BB/TB merupakan indeks yang independen terhadap umur. Merupakan indikator
untuk menilai status gizi saat kini dimana umur tidak perlu diketahui. Indeks ini
dapat digunakan untuk mengetahui proporsi badan gemuk, normal dan kurus.
2.2.3.3 Klasifikasi Status Gizi
Klasifikasi status gizi harus didasarkan atas ukuran baku (standar reference)
dan terdapat batasan-batasan yang disebut ambang batas. Ambang batas setiap
negara berbeda-beda tergantung pada kesepakatan ahli gizi di setiap negara. Baku
antropometri yang sering digunakan adalah baku Harvard dan baku World Health
Organization Natonal Center of Health Statistics (WHO-NCHS) (Supariasa,

dkk, 2011). Adapun penilaian status gizi menurut WHO-NCHS dapat dilihat pada
tabel 2.2 dibawah.
Tabel 2.2 Pengukuran Antropmetri menurut WHO-NCHS
Baku WHO-NCHS
> 2,0 SD
-2,0 s.d + 2,0 SD
< -2,0 SD
< -3,0 SD

BB/U
Gizi Lebih
Gizi Baik
Gizi Kurang
Gizi Buruk

TB/U
Normal
Pendek (stunted)

BB/TB
Gemuk
Normal
Kurus
Sangat Kurus

2.2.3.4 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Status Gizi


Suatu penyakit timbul akibat interaksi berbagai faktor baik internal maupun
eksternal. Dalam epidemiologi dikenal istilah trias epidemiologi (Host, Agen dan
Environment) yang berperan dalam terjadinya penyakit dan masalah kesehatan
lainnya. Timbulnya penyakit berkaitan dengan gangguan interaksi antara faktor
penjamu, agen dan lingkungan .Status gizi dipengaruhi oleh berbagai faktor yang
saling terkait, terutama asupan makanan dan penyakit infeksi. Kedua faktor
tersebut dipengaruhi oleh daya beli keluarga, besar keluarga, kebiasaan makan,
pelayanan kesehatan dasar, sanitasi serta fakor lingkungan dan sosial lainnya.
(Bustan, 2007)