Anda di halaman 1dari 36

KEPEMIMPINAN

01/24/15

JOKO MURSITHO

Kemampuan seseorang untuk


mempengaruhi orang lain agar
beraktivitas dalam mencapai
tujuan kelompok

01/24/15

JOKO MURSITHO

Teori-Teori
Kepemimpinan

Teori Sifat
Keberhasilan seorang pemimpin
ditentukan oleh sifat-sifat, perangai
atau ciri-ciri yang dimilikinya
Pemimpin itu dilahirkan bukan
diciptakan

01/24/15

JOKO MURSITHO

Teori Perilaku
Seorang pemimpin mempunyai dua aspek perilaku:
Fungsi Kepemimpinan :
- task-related (pemecahan masalah)
- group maintenance (sosial)
Gaya Kepemimpinan :
- task-oriented (lebih mengarahkan dan mengawasi)
- employee-oriented (lebih memotivasi)
01/24/15

JOKO MURSITHO

Teori Situasi
Perilaku Kepemimpinan seorang pemimpin
harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi
yang dihadapinya
L = f ( l, f, s )

01/24/15

JOKO MURSITHO

Teori X dan Teori Y


McGregor
Anggapan Teori X :

Rata-rata manusia itu malas dan tidak


menyukai pekerjaan

Mereka harus dipaksa, diawasi, diarahkan


atau diancam dengan hukuman agar mau
bekerja

Rata-rata manusia suka diarahkan, tidak


suka bertanggung jawab, ambisinya kecil,
menginginkan keamanan/keterjaminan

01/24/15

JOKO MURSITHO

Anggapan Teori Y :

01/24/15

Bekerja adalah kodrat seperti bermain dan


beristirahat
Orang akan melakukan pengendalian dan
pengarahan diri
Prestasi kerja merupakan kepuasan
Orang suka bertanggung jawab
Orang mempunyai kapasitas besar untuk
menyelesaikan masalah
Potensi yang dimiliki manusia belum
sepenuhnya dimanfaatkan

JOKO MURSITHO

TEORI KEPEMIMPINAN
KONTINGENSI FIEDLER

Efektifitas suatu kelompok/organisasi tergantung


pada interaksi antara kepribadian pemimpin dengan
situasi.
Situasi dirumuskan dengan 2 karakteristik :
- Derajat situasi dimana pemimpin menguasai,
mengendalikan, dan mempengaruhi situasi
- Derajat situasi yang menghadapkan pemimpin
dengan ketidakpastian

01/24/15

JOKO MURSITHO

Fiedler:

Dalam situasi yang menguntungkan dan tidak


menguntungkan, gaya kepemimpinan yang efektif
adalah yang berorientasi pada tugas

Dalam situasi yang moderat, gaya kepemimpinan


yang efektif adalah yang berorientasi pada
hubungan

Untuk menjadi pemimpin yang efektif, mereka


harus mampu menyesuaikan gaya
kepemimpinannya dengan situasi yang dihadapi

Apabila sulit dalam penyesuaian, maka situasi


harus diubah atau mengganti pemimpin yang
cocok dengan situasi

01/24/15

JOKO MURSITHO

KEPEMIMPINAN
SITUASIONAL

PAUL HERSEY KENNETH BLANCHARD

DIDASARKAN ATAS HUBUNGAN ANTARA :

Kadar Bimbingan dan Arahan


(Perilaku Tugas) Pemimpin

Kadar Dukungan Sosio-emosional


(Perilaku Hubungan) Pemimpin

Level Kesiapan (Kematangan) Bawahan

01/24/15

JOKO MURSITHO

TEORI KEPEMIMPINAN
SITUASIONAL

(Paul Hersey & Kenneth Blanchard)


Gaya Kepemimpinan

Pola perilaku yang diperlihatkan seseorang


pada saat mempengaruhi aktivitas orang lain,
seperti yang dipersepsikan orang lain tersebut

Gaya Kepemimpinan merupakan kombinasi


antara Perilaku Tugas dan Perilaku Hubungan

01/24/15

JOKO MURSITHO

Perilaku Tugas
Kadar upaya Pemimpin dalam
mengorganisasikan dan menetapkan
peranan
para anggota kelompoknya, menjelaskan
aktivitas setiap anggota, serta menentukan
kapan, dimana, dan bagaimana cara
menyelesaikan

01/24/15

JOKO MURSITHO

Perilaku Hubungan
Kadar upaya pemimpin dalam membina
hubungan pribadi diantara mereka
sendiri, dan dengan para anggota
kelompok yaitu dengan membuka lebar
saluran komunikasi, menyediakan
dukungan sosio-emosional, sentuhan
psikologis dan pemudahan perilaku
kelompok

01/24/15

JOKO MURSITHO

TEORI KEPEMIMPINAN SITUASIONAL


( Hersey-Blanchard)
Untuk mengefektifkan kepemimpinannya,
seorang Pemimpin harus mampu
menyesuaikan Gaya Kepemimpinannya
dengan Tingkat Kematangan ( maturity )
pengikut/ bawahannya
Tingkat Kematangan ini dipengaruhi oleh
Kemampuan (Kematangan Pekerjaan) dan
Kemauan (Kematangan Psikologis)
dalam memikul tanggung jawab untuk
mengarahkan perilaku sendiri

01/24/15

JOKO MURSITHO

Kematangan Pekerjaan menunjukkan


kemampuan melakukan suatu tugas/
pekerjaan dan berkaitan dengan pengalaman,
pengetahuan serta keterampilan
Kematangan Psikologis menunjukkan
kemauan atau motivasi untuk melakukan
suatu tugas/ pekerjaan dan erat kaitannya
dengan rasa yakin (PD) serta komitmen
Ada empat tingkatan kematangan, yaitu : M1
(tidak mampu, tidak mau),
M2
(tidak mampu-mau),
M3
(mampu-tidak mau), dan
M4
(mampu-mau)
01/24/15

JOKO MURSITHO

Gaya Kepemimpinan Dasar


(Paul Hersey dan Kenneth Blanchard)

Tinggi
G3

G2
PARTICIPATING

(Partisipasi)
PERILAKU
HUBUNGAN
G4

01/24/15

(Konsultasi)

G1
DELEGATING
(Delegasi)

Rendah
PERILAKU TUGAS

SELLING

TELLING
(instruksi)
Tinggi

JOKO MURSITHO

TELLING
Memberikan instruksi spesifik dan menyelia
pelaksanaan pekerjaan secara seksama (ketat)
SELLING
Menjelaskan keputusan dan memberi
kesempatan bawahan memperoleh kejelasan
PARTICIPATING
Tukar menukar ide dan memudahkan dalam
pengambilan keputusan
DELEGATING
Mendelegasikan tanggung jawab pengambilan
keputusan dan pelaksanaan pekerjaan
01/24/15

JOKO MURSITHO

Tingkat Kematangan

(Paul Hersey dan Kenneth Blanchard)

Tinggi
M2 M4
Rendah ke Sedang
- Tidak Mampu
- Mampu
- Mau
- Mau
KEMAUAN
M1 M3
Rendah
- Tidak Mampu
- Tidak Mau

Sedang ke Tinggi
- Mampu
- Tidak Mau

Rendah
Tinggi
KEMAMPUAN
01/24/15

Tinggi

JOKO MURSITHO

KEMATANGAN
Kemampuan dan Kemauan seseorang
untuk memikul tanggung jawab dalam
mengarahkan perilaku mereka sendiri
Variabel kematangan ini hanya
dipertimbangkan untuk tugas tertentu
yang dilaksanakan
Seseorang dapat saja matang dalam
melaksanakan sesuatu tugas tertentu,
namun tidak matang untuk tugas-tugas
yang lain
01/24/15

JOKO MURSITHO

BASIS
OF
POWER
John French dan Bertram Raven
1. Kuasa Paksaan (Coercive Power) :
Didasarkan pada rasa takut dari para pengikut.
Ketidakpatuhan kepada pemimpin akan mengarah
kepada hukuman yang tidak diinginkan pengikut.
2. Kuasa Legitimasi (Legitimate Power) :
Didasarkan pada posisi sah yang dipegang
pemimpin yang menimbulkan kepatuhan dari
pengikutnya.
3. Kuasa Keahlian (Expert Power):
Didasarkan atas keahlian, keterampilan, dan
pengetahuan yang dapat diandalkan dari pemimpin
yang memudahkan perilaku kerja bagi pengikutnya,
sehingga menimbulkan rasa hormat dan kepatuhan.

01/24/15

JOKO MURSITHO

4. Kuasa Ganjaran (Reward Power) :

Didasarkan pada kemampuan pemimpin


menyediakan imbalan bagi pengikutnya.
Kepatuhan akan mendatangkan insentif postif
bagi pengikutnya.
5. Kuasa Referensi (Referent Power) :

Didasarkan atas rasa suka dan kagum dari


pengikut, sehingga menimbulkan kepatuhan.

Menurut Amitai Etzioni:


1. Kuasa Posisi (Position Power) :
Didasarkan atas posisi sahnya dalam organisasi

2. Kuasa Pribadi (Personal Power) :


Didasarkan atas pengakuan para pengikut
01/24/15

JOKO MURSITHO

PENGARUH
(Influence)
Tindakan atau contoh yang langsung atau tidak
langsung menyebabkan adanya perubahan
dalam perilaku atau sikap dari orang atau
kelompok lain
Pengaruh merupakan akibat atau hasil dari
penggunaan kuasa (power)

01/24/15

JOKO MURSITHO

Hasil Dari Pengaruh

Komitmen
Orang yang dipengaruhi dalam hatinya setuju
dengan keputusan atau permintaan orang
yang mempengaruhi dan akan berusaha untuk
menjalankan permintaan atau melaksanakan
keputusan tersebut secara efisien

Kepatuhan (Compliance)
Orang yang dipengaruhi akan bersedia untuk
melakukan apa yang diminta oleh orang yang
mempengaruhi, namun ia kurang antusias
atau tidak penuh semangat atas permintaan
itu dan hanya akan melakukan usaha yang
minimal

01/24/15

JOKO MURSITHO

Perlawanan (Resistance)
Orang yang dipengaruhi menentang
terhadap usulan atau permintaan
orang yang berusaha
mempengaruhinya, dan bukan hanya
tidak acuh namun bahkan secara
aktif akan mencoba untuk
menghindari pelaksanaannya

01/24/15

JOKO MURSITHO

GUGUS KENDALI MUTU


(Quality Control Circle, QCC)
Pengertian
Kelompok kecil dari lingkup kerja
(4 sampai 10 orang) yang
dengan sukarela melakukan kegiatan
pengendalian dan perbaikan yang
berkelanjutan dengan menggunakan
teknik-teknik pengendalian kualitas

01/24/15

JOKO MURSITHO

Ide Dasar

Menyumbang pada perbaikan dan


pengembangan organisasi

Menghormati umat manusia dengan


membangun tempat kerja yang
memuaskan dan mempunyai arti

Potensi manusia yang tak terbatas

01/24/15

JOKO MURSITHO

SASARAN GUGUS KENDALI


MUTU

01/24/15

Pengembangan diri
Pengembangan bersama
Perbaikan mutu
Perbaikan komunikasi dan sikap
Pengembangan tim dan produtivitas kerja
Mengurangi keluhan dan absensi
Memperbaiki kedisiplinan dan partisipasi
Meningkatkan loyalitas dan kepuasan kerja
Memperkuat koordinasi di semua tingkatan
Meningkatkan keselamatan kerja
Meningkatkan efektivitas dan efisiensi
JOKO MURSITHO

KUNCI KEBERHASILAN
GUGUS KENDALI MUTU

01/24/15

JOKO MURSITHO

PERUNDINGAN KOLEKTIF
( Collective Bargaining )
Proses tawar-menawar antara wakil
pihak karyawan (pengurus serikat
buruh) dengan wakil pihak manajemen
tentang syarat-syarat hubungan kerja

01/24/15

JOKO MURSITHO

Fungsi Perundingan Kolektif

Menyusun dan merevisi peraturan-peraturan kerja


melalui negosiasi perjanjian kerja

Melaksanakan hasil-hasil perjanjian kerja

Menyepakati suatu metoda untuk menyelesaikan


perselisihan perburuhan selama berlakunya kontrak

01/24/15

JOKO MURSITHO

Proses Perundingan Kolektif


Persiapan Negosiasi
Menyusun rencana perundingan:
strategi, kebijakan, dan taktik
Memonitor lingkungan
Memilih tim perunding
Mendapatkan persetujuan manajemen puncak
Mempertimbangkan faktor pengaruh

01/24/15

JOKO MURSITHO

Negosiasi

Pengupahan :

gaji/upah, asuransi, program pensiun,


pelayan, dan benefits

kerja,
kegiatan
skedul kerja

lainnya

01/24/15

Jam kerja :

lama hari kerja, jam istirahat, giliran


liburan, cuti, kerja lembur, dan
lain yang memerlukan

Kondisi kerja :

keamanan kerja, perlakuan atasan, dan


elemen-elemen lingkungan kerja

JOKO MURSITHO

Administrasi Perjanjian Kerja


Sosialisasi

isi perjanjian

Penyesuaian-penyesuaian

perjanjian baru

Perjanjian

terhadap isi

kerja diadministrasikan
agar para karyawan taat terhadap
perjanjian kerja

01/24/15

JOKO MURSITHO

Kerjasama Serikat Buruh dan


Manajemen
Tujuannya
Untuk menghindari sikap permusuhan
dari pihak karyawan

01/24/15

JOKO MURSITHO

Pendekatan-Pendekatan

Konsultasi dengan pemimpin serikat buruh

Memberi perhatian terhadap masalah-masalah


dan kesejahteraan karyawan

Membentuk Panitia Kerja Bersama

Sosialisasi hasil perundingan

Bantuan pihak ketiga

01/24/15

JOKO MURSITHO

TERIMA KASIH
SAMPAI JUMPA
01/24/15

JOKO MURSITHO