Anda di halaman 1dari 23

LEMBAR PENGESAHAN

Nama

: Gadista P. Annisa

NIM

: 030.09.100

Universitas

: Trisakti

Fakultas

: Kedokteran

Tingkat

: Program Studi Pendidikan Dokter

Bidang Pendidikan

: Ilmu Kandungan dan Kebidanan

Periode

: 2 Juni 2014 4 Agustus 2014

Judul Referat

: Persalinan Normal dengan Miopia Tinggi

Telah Diperiksa Dan Disetujui Pada Tanggal :


Bagian Ilmu Jkebidanan dan Kandungan
RSUD Budhi Asih
Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti
Co-Assistant

Pembimbing

Gadista P. Annisa

dr. I.G.N Elbatiputera Sp.OG

DAFTAR ISI
1

LEMBAR PENGESAHAN 1
DAFTAR ISI .. 2
KATA PENGANTAR 3
BAB I
PENDAHULUAN 5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA ... 6
II.I. Anatomi dan Fisiologi Bola Mata .. 6
II.I.I Anatomi . 6
II.I.II Fisiologi 8
II.II Miopi .. 9
II.II.I Definisi . 9
II.II.II Faktor Risiko .. 10
II.II.III Epidemiologi . 10
II.II.IV Tipe Miopia .. 11
II.III Persalinan Normal 12
II.III.I Definsi . 12
II.III.II Fisiologi Persalinan Normal ... 12
2

III. Perubahan dan Gangguan Penglihatan pada Kehamilan . 15


BAB III
PERSALINAN NORMAL DENGAN MIOPI TINGGI 20
BAB IV
KESIMPULAN .. 23
DAFTAR PUSTAKA 24

KATA PENGANTAR

Puji syukur yang sebesar-besarnya penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha
Esa yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga referat dengan judul
Persalinan Normal dengan Miopia Tinggi ini dapat selesai dengan baik dan tepat pada
waktunya.
Referat ini disusun dalam rangka memenuhi tugas akhir Kepaniteraan Klinik Bidang
Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti di RSUD Budhi Asih periode 2 Juni 2014 4
Agustus 2014. Di samping itu, referat ini ditujukan untuk menambah pengetahuan bagi kita
semua.
Dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih atas bantuan
dan kerja sama yang telah diberikan selama penyusunan referat ini, kepada :
1.

Dr. I.G.N Elbatiputera, Sp. OG selaku pembimbing referat,

2.

Para dokter spesialis di Departemen Ilmu Kebidanan dan Kandungan RSUD Bidhi
Asih, dan

3.

Rekan-rekan Anggota Kepaniteraan Klinik di Bagian Ilmu Kebidanan dan


Kandungan RSUD Budhi Asih
Penulis menyadari masih banyak kekurangan, maka penulis sangat mengharapkan

saran dan kritik yang membangun dari semua pihak, supaya referat ini dapat menjadi lebih
baik dan dapat berguna bagi semua yang membacanya.
Penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila masih banyak kesalahan maupun
kekurangan dalam makalah ini.

Jakarta, 10 Juni 2014


Penulis

BAB I
PENDAHULUAN

Myopia atau mata minus dapat diklasifikasikan sebagai myopia simpleks dan myopia
patologis. Myopia simpleks biasanya ringan dan myopia patologis hampir selalu progresif.
Keadaan ini biasanya diturunkan orang tua pada anaknya. Myopia tinggi adalah salah satu
penyebab kebutaan pada usia dibawah 40 tahun. Myopia tinggi adalah myopia dengan ukuran
6 dioptri atau lebih. Penderita dengan minus diatas 6 dioptri mempunyai risiko 3 4 kali
lebih besar untuk terjadinya komplikasi pada mata. Pada beberapa orang, myopia tinggi dapat
menyebabkan kerusakan retina atau ablasio.1
Myopia diklasifikasikan menjadi sangat ringan atau rendah < 3 dioptri. sedang atau
menengah 3 6 dioptri, parah atau tinggi > 6 dioptri. Terdapat ke khawatiran bahwa pasien
dengan myoia tinggi berisiko untuk terjadinya robekan retina apabila mereka melalui
persalinan normal pervaginam. Tetapi dalam beberapa studi telah menunjukkan wanita hamil
yang mempunyai riwayat kelainan pada mata yang melahirkan secara pervaginam tidak
mempunyai efek merugikan pada retina pasien tersebut.1
Seorang wanita mengalami banyak perubahan pada saat kehamilan, baik sistemik maupun
ocular. Perubahan penglihatan pada kehamilan sering terjadi, dan sebagian besar
berhubungan secara spesifik dengan kehamilan itu sendiri. Kehamilan sering dihubungkan
dengan perubahan mata, yang biasanya bersifat sementara, namun dapat juga menetap.2

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.I. ANATOMI DAN FISIOLOGI BOLA MATA


II.I.I Anatomi
Bola mata berbentuk bulat dengan panjang maksimal 24 mm. Bola mata di
bagian depan (kornea) mempunyai kelengkungan yang lebih tajam sehingga
terdapat bentuk dengan 2 kelengkungan yang berbeda.3
Bola mata dibungkus oleh 3 lapisan jaringan, yaitu:3
a. Sklera merupakan jaringan ikat yang kenyal dan memberikan bentuk pada
mata, merupakan bagian terluar yang melindungi bola mata. Bagian terdepan
sklera disebut kornea yang bersifat transparan yang memudahkan sinar
masuk ke dalam bola mata. Kelengkungan kornea lebih besar dibanding
sclera.
b. Jaringan uvea merupakan jaringan vaskular. Jaringan sklera dan uvea dibatasi
oleh ruang yang potensial mudah dimasuki darah bila terjadi perdarahan pada
ruda paksa yang disebut perdarahan suprakoroid.
Jaringan uvea ini terdiri atas iris, badan siliar, dan koroid. Pada iris
didapatkan pupil yang oleh 3 susunan otot dapat mengatur jumlah sinar
masuk ke dalam bola mata. Otot dilatator dipersarafi oleh parasimpatis,
sedang sfingter iris dan otot siliar di persarafi oleh simpatis. Otot siliar yang
terletak di badan siliar mengatur bentuk lensa untuk kebutuhan akomodasi.
Badan siliar yang terletak di belakang iris menghasilkan cairan bilik mata
(aquos humor), yang dikeluarkan melalui trabekulum yang terletak pada
pangkal iris di batas kornea dan sklera.
c. Lapis ketiga bola mata adalah retina yang terletak paling dalam dan
mempunyai susunan lapis sebanyak 10 lapis yang merupakan membran
neurosensoris yang akan merubah sinar dan diteruskan ke otak. Terdapat
rongga yang potensial antara retina dan koroid sehingga retina dapat terlepas
dari koroid yang disebut ablasio retina.

Badan kaca mengisi rongga si dalam bola mata dan bersifat gelatin yang hanya
menempel papil dan saraf optik, makula dan pars plana. Bila terdapat jaringan
ikat di dalam badan kaca disertai dengan tarikan pada retina, maka akan robek
dan terjadi ablasi retina.
Lensa terletak di belakang pupil yang dipegang di daerah ekuatornya pada
bagian badan siliar melalui Zonula Zinnii. Lensa mata mempunyai peranan pada
akomodasi atau melihat dekat sehingga sinar dapat difokuskan di daerah makula
lutea.
Terdapat 6 otot penggerak bola mata, dan terdapat kelenjar lakrimal yang
terletak di daerah temporal atas di dalam rongga orbita.3

II.I.II. Fisiologi
Cahaya adalah sebuah bentuk radiasi elektromagnetik yang terdiri atas paket
paket individual seperti partikel yang disebut foton yang berjalan menurut cara
cara gelombang. Jarak antara dua puncak gelombang dikenal sebagai panjang
gelombang. Fotoreseptor di mata peka hanya pada panjang gelombang antara

400 dan 700 nanometer. Cahaya tampak ini hanya merupakan sebagian kecil
dari spektrum elektromagnetik total. Cahaya dari berbagai panjang gelombang
pada pita tampak dipersepsikan sebagai sensasi warna yang berbedabeda.
Panjang gelombang yang pendek dipersepsikan sebagai ungu dan biru, panjang
gelombang yang panjang diinterpretasikan sebagai jingga dan merah.3
Pembelokan sebuah berkas cahaya (refraksi) terjadi ketika suatu berkas cahaya
berpindah dari satu medium dengan tingkat kepadatan tertentu ke medium
denagn tingkat kepadatan yang berbeda. Cahaya bergerak lebih cepat melalui
udara daripada melalui medium transparan lainnya seperti kaca atau air. Ketika
suatu berkas cahaya masuk ke sebuah medium yang lebih tinggi densitasnya,
cahaya tersebut melambat (begitu pula sebaliknya). Berkas cahaya mengubah
arah perjalanannya ketika melalui permukaan medium baru pada setiap sudut
kecuali sudut tegak lurus.3
Dua faktor berperan dalam derajat refraksi : densitas komparatif antara dua
media dan sudut jatuhnya benda ke medium kedua. Pada permukaan yang
melengkung seperti lensa, semakin besar kelengkungan, semakin besar derajat
pembiasan dan semakin kuat lensa. Suatu lensa dengan permukaan konveks
(cembung) menyebabkan konvergensi atau penyatuan, berkasberkas cahaya,
yaitu persyaratan untuk membawa suatu bayangan ke titik fokus. Dengan
demikian, permukaan refraktif mata besifat konveks. Lensa dengan permukaan
konkaf (cekung) menyebabkan divergensi (penyebaran) berkasberkas cahaya,
suatu lensa konkaf berguna untuk memperbaiki kesalahan refrektif mata
tertentu, misalnya berpenglihatan dekat.3
II.II. MIOPIA
II.II.I Definisi

Bila bayangan benda yang terletak jauh difokuskan di depan retina oleh mata
yang tidak berakomodasi, mata tersebut mengalami myopia, atau nearsighted.
Pada myopia, panjang bola mata anteroposterior dapat terlalu besar atau
kekuatan pembiasan media refraksi terlalu kuat. Jika objek digeser lebih dekat
dari 6 meter, bayangan akan bergerak mendekati retina dan terlihat lebih fokus.
Titik tempat bayangan terlihat paling tajam fokusnya di retina disebut titik
jauh. Derajat myopia dapat diperkirakan dengan menghitung kebalikan dari
titik jauh tersebut.4

II.II.II. Epidemiologi
Prevalensi myopia bervariasi dengan usia dan faktor lainnya. Prevalensi
myopia meningkat pada usia sekolah dan dewasa muda, mencapai 20-25 %
pada populasi remaja dan 25-35 % pada dewasa muda di Amerika Serikat dan
negara-negara maju. Dilaporkan bahwa prevalensi myopia lebih tinggi pada
beberapa area di Asia, seperti China dan Jepang. Prevalensi myopia pada
populasi Asia sekarang mencapai 70-90 %. Prevalensi ini berkurang pada
populasi berusia di atas 45 tahun, mencapai 20 % pada usia 65 tahun, dan
menurun hingga 14 % pada orang berusia 70-an.4
II.II.III. Faktor Resiko
Faktor risiko yang penting dalam perkembangan myopia adalah riwayat
keluarga myopia. Penelitian menunjukkan prevalensi 33-60 % myopia pada
anak, yang kedua orang tuanya mengalami myopia. Pada anak yang memiliki
satu orang tua penderita myopia, prevalensinya adalah 23-40 %. Bila tak
satupun orang tua yang menderita myopia, hanya 6-15 % anak-anak mereka
yang myopia. Myopia yang diketahui dengan retinoskopi nonsikloplegik pada
masa bayi dan kemudian menurun menjadi emetropia sebelum anak tersebut
memasuki usia sekolah tampaknya adalah faktor risiko perkembangan myopia
pada masa kanak-kanak. Suatu analisis menyatakan bahwa anomali refraksi
yang dialami saat masuk sekolah adalah prediktor yang lebih baik untuk
mengetahui siapa yang akan mengalami myopia pada masa kanak-kanak
9

dibandingkan riwayat myopia pada orang tua. Anak dan dewasa muda dengan
anomali refraksi berkisar antara emetropia hingga hipertopia 0,5 D memiliki
kemungkinan mengalami myopia yang lebih besar dibanding individu berusia
sama dengan hiperopia lebih dari 0,5 D. Selain itu, risiko myopia lebih tinggi
pada anak dengan astigmat against-the-rule. Melakukan sejumlah pekerjaan
jarak dekat secara teratur dapat meningkatkan risiko myopia. Myopia
berkaitan dengan banyaknya waktu yang digunakan untuk membaca,
pendidikan yang lebih tinggi, dan pekerjaan yang melakukan banyak kegiatan
jarak dekat. Kurvatura kornea yang lebih tajam dan rasio panjang aksial
terhadap radius kornea yang lebih dari 3,00 dapat menjadi faktor risiko. Pada
anak - anak, kondisi yang mengganggu pembentukan penglihatan yang
normal sering menyebabkan myopia.4,5
II.II.IV. Tipe Myopia
Dikenal beberapa bentuk myopia seperti: 4
a. Myopia refraktif
Apabila unsur-unsur pembias lebih refraktif dibandingkan dengan rata-rata,
kelainan yang terjadi disebut myopia kurvatura atau myopia refraktif.
Bertambahnya indeks bias media penglihatan seperti yang terjadi pada
katarak intumesen, dimana lensa menjadi lebih cembung sehingga
pembiasan lebih kuat. Sama dengan myopia bias atau myopia indeks,
yakni myopia yang terjadi akibat pembiasan media penglihatan kornea dan
lensa yang terlalu kuat.
b. Myopia aksial
Myopia aksial terjadi bila mata berukuran lebih panjang daripada normal.
Untuk setiap milimeter tambahan panjang sumbu, mata kira-kira lebih
miopik 3 dioptri.
Menurut derajat beratnya, myopia dibagi dalam: 4,5
a. Myopia ringan, dimana myopia lebih kecil daripada 1 3 dioptri
b. Myopia sedang, dimana myopia lebih antara 3 6 dioptri
c. Myopia berat atau tinggi, dimana myopia lebih besar dari 6 dioptri

10

Pasien dengan myopia akan menyatakan melihat jelas bila dekat malahan
melihat terlalu dekat, sedangkan melihat jauh akan kabur atau biasa disebut
rabun jauh. Pasien akan memberikan keluhan sakit kepala, sering disertai
dengan juling dan celah kelopak yang sempit. Seseorang dengan myopia akan
memiliki kebiasaan mengerenyitkan matanya untuk mencegah aberasi sferis
atau untuk mendapatkan efek pinhole. Pasien dengan myopia juga memiliki
pungtum remotum yang dekat sehingga mata selalu dalam atau berkedudukan
konvergensi. Bila kedudukan mata ini menetap, maka penderita akan terlihat
juling ke dalam atau esotropia. Pada pemeriksaan funduskopi terdapat miopic
cressent yaitu gambaran bulan sabit yang terlihat pada polus posterior fundus
mata myopia, sklera oleh koroid. Pada mata dnegan myopia

tinggi

akan

terdapat pula kelainan pada fundus okuli seperti degenerasi makula dan
degenerasi retina bagian perifer. Myopia derajat tinggi menyebabkan
meningkatnya kerentanan terhadap gangguan-gangguan retina degeneratif
seperti ablatio retina ataupun gangguan lain seperti juling. Juling biasanya
esotropia atau juling ke dalam akibat mata berkonvergensi terus-menerus. Bila
terdapat juling keluar, mungkin fungsi satu mata telah berkurang atau terdapat
ambliopia.5

II.III. PERSALINAN NORMAL


II.III.I. Definisi
Persalinan atau partus adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi yang
dapat hidup dari dalam uterus melalui vagina ke dunia luar. Partus immaturus
ialah partus yang terjadi pada masa kehamilan kurang dari 28 minggu namun
lebih dari 20 minggu dengan berat janin antara 500 - 1000 gram. Partus
prematurus adalah suatu partus dari hasil konsepsi yang dapat hidup tetapi
belum cukup bulan. Berat janin antara 1000 sampai 2500 gram atau tua
kehamilan antara 28 minggu sampai 36 minggu. Sedangkan partus
postmaturus atau serotinus adalah partus yang terjadi 2 minggu atau lebih dari
waktu partus yang diperkirakan.2
II.III.II. Fisiologi Persalinan Normal

11

Partus dibagi menjadi 4 kala. Pada kala I serviks membuka sampai terjadi
pembukaan 10 cm. Kala I dinamakan pula kala pembukaan. Kala II disebut
pula kala pengeluaran, oleh karena berkat kekuatan his dan kekuatan
mengedan, janin didorong keluar sampai lahir. Dalam kala III atau kala uri
plasenta terlepas dari dinding uterus dan dilahirkan. Kala IV mulai dari
lahirnya plasenta dan lamanya 1 jam. Dalam kala itu, diamati apakah terjadi
perdarahan postpartum.2

Kala I
Klinis dapat dinyatakan partus dimulai bila timbul his dan wanita tersebut
mengeluarkan lendir yang bersemu darah. Lendir yang bersemu darah ini
berasal dari lendir kanalis servikalis karena serviks mulai membuka atau
mendatar. Sedangkan darahnya berasal dari pembuluh-pembuluh darah
kapiler yang berada di sekitar kanalis servikalis itu pecah karena pergeseranpergeseran ketika serviks membuka. Proses membukanya serviks sebagai
akibat his dibagi dalam 2 fase, yaitu:
a. Fase Laten
Berlangsung selama 8 jam. Pembukaan terjadi sangat lambat sampai
mencapai ukuran diameter 3 cm.
b. Fase Aktif
Dibagi ke dalam 3 fase lagi, yaitu:
i. Fase Akselerasi ; Dalam waktu 2 jam pembukaan 3 cm tadi menjadi 4
cm.
ii. Fase Dilatasi ; Maksimal Dalam waktu 2 jam pembukaan berlangsung
sangat cepat, dari 4 cm menjadi 9 cm.
iii. Fase Deselerasi ; Pembukaan menjadi lambat kembali, dalam waktu 2
jam, pembukaan 9 cm menjadi lengkap.

12

Fase-fase tersebut dijumpai pada primigravida. Pada multigravida pun terjadi


demikian, tetapi fase-fase tersebut menjadi lebih pendek. Mekanisme
membukanya serviks berbeda antara primigravida dan multigravida. Pada
yang pertama, ostium uteri internum akan membuka lebih dahulu, sehingga
serviks akan mendatar dan menipis. Baru kemudian ostium uteri eksternum
membuka. Pada multigravida ostium uteri internum sudah sedikit terbuka.
Ostium uteri internum dan eksternum serta penipisan dan pendataran serviks
terjadi dalam saat yang sama. Ketuban akan pecah dengan sendirinya ketika
pembukaan hampir atau telah lengkap. Tidak jarang ketuban harus
dipecahkam ketika pembukaan hampir atau telah lengkap. Bila ketuban telah
pecah sebelum mencapai pembukaan 5 cm, disebut ketuban pecah dini. Kala
I selesai apabila pembukaan serviks uteri telah lengkap. Pada primigravida
kala I berlangsung kira-kira 13 jam, sedangkan pada multipara kira-kira 7
jam.2
Kala II
Pada kala II his menjadi lebih kuat dan lebih cepat, kira-kira 2 sampai 3
menit sekali. Karena biasanya dalam hal ini, kepala janin sudah masuk di
ruang panggul, maka pada his dirasakan tekanan pada otot-otot dasar
panggul, yang secara reflektoris menimbulkan rasa mengedan. Wanita merasa
pula tekanan pada rektum dan hendak buang air besar. Kemudian perineum
mulai menonjol dan menjadi lebar dengan anus membuka. Labia mulai
membuka dan tidak lama kemudian kepala janin tampak dalam vulva pada
waktu his. Bila dasar panggul sudah lebih berelaksasi, kepala janin tidak
masuk lagi di luar his, dan dengan his dan kekuatan mengedan maksimal,
kepala janin dilahirkan dengan suboksiput di bawah simfisis dan dahi, muka
dan dagu melewati perineum. Setelah istirahat sebentar, his mulai lagi untuk
mengeluarkan badan, dan anggota bayi. Pada primigravida, kala II
berlangsung rata-rata 1,5 jam dan pada multipara rata-rata 0,5 jam. 2
Kala III
Setelah bayi lahir, uterus teraba keras dengan fundus uteri agak di atas pusat.
Beberapa menit kemudian ueterus berkontraksi lagi untuk melepaskan
plasenta dari dindingnya. Biasanya plasenta lepasdalam 6 sampai 15 menit
13

setelah bayi lahir dengan keluar spontan atau dengan tekanan pada fundus
uteri. Pengeluaran plasenta disertai dengan pengeluaran darah.2
Kala IV
Seperti diterangkan di atas, kala ini dianggap perlu untuk mengamati apakah
ada perdarahan postpartum.2

II.IV. PERUBAHAN DAN GANGGUAN PENGLIHATAN PADA KEHAMILAN


Seorang wanita mengalami banyak perubahan pada saat kehamilan, baik sistemik
maupun okular. Pada saat kehamilan, terjadi perubahan fisiologis pada sistem
kardiovaskular, sistem hormon, metabolik, hematologik, dan sistem imunologik.
Akibat beberapa mekanisme ini, kehamilan menyebabkan perubahan pada mata.
Perubahan hormon dan metabolik yang terjadi pada saat kehamilan, hiperdinamisitas
sirkulasi kapiler retina mungkin menyebabkan progresivitas dari retinopati diabetika
pada wanita hamil dengan diabetes. Perubahan hormon merupakan perubahan
sistemik yang paling menonjol pada wanita hamil. Plasenta, kelenjar endokrin ibu,
dan kelenjar adrenal fetus mengkombinasi produktivitasnya menghasilkan pabrik
hormon berkekuatan tinggi. Kadar imun tersupresi, menyebabkan wanita hamil
tersebut mudah mengalami kelainan imun yang serius. Perubahan penglihatan pada
kehamilan sering terjadi, dan sebagian besar berhubungan secara spesifik dengan
kehamilan itu sendiri. Kehamilan sering dihubungkan dengan perubahan pada mata,
yang biasanya bersifat sementara, namun dapat juga menetap. Efek okular pada
kehamilan ini dapat bersifat fisiologis maupun patologis, atau bisa eksaserbasi dari
kondisi yang telah ada sebelumnya. Perubahan yang dapat terjadi pada mata termasuk
chloasma, spider angiomas dan ptosis. Perubahan yang dapat terjadi pada segmen
anterior yaitu berkurangnya kapiler di konjungtiva dan bertambahnya jaringan
granular di venula dan lengkungan kornea, perubahan ketebalan kornea, indeks
refraksi, ketidaksesuaian akomodasi dan refraksi, dan menurunnya tekanan
intraokular. Perubahan yang dapat terjadi pada segmen posterior termasuk perburukan
dari retinopati diabetik, korioretinopati serosa sentral, peningkatan resiko terjadinya
distrofi vitreokorioretinal perifer dan ablatio retina, dan efek yang menguntungkan
14

dari uveitis non-infeksiosa. Beberapa gangguan sistemik yang terjadi pada kehamilan
juga dapat mempengaruhi mata, seperti preeklampsia, penyakit Graves dan sklerosis
multipel. Gangguan intrakranial dengan efek pada okuler pada kehamilan yaitu
Pseudotumor cerebri, prolactinoma dan Sindroma Sheehans.2,4
Adneksa Okular
Chloasma atau yang lebih dikenal sebagai topeng kehamilan adalah proses
hormonal, yang ditandai dengan meningkatnya pigmentasi di sekitar mata dan pipi.
Perubahan pigmentasi tersebut akan hilang perlahan setelah melahirkan. Spider
angiomas, yang merupakan salah satu jenis telengiektasi, biasanya timbul pada saat
kehamilan di daerah muka dan tubuh bagian atas, dan juga hilang setelah melahirkan.
Ptosis telah dilaporkan timbul saat dan setelah kehamilan dan biasanya bersifat
unilateral. Mekanisme terjadinya ptosis diperkirakan akibat defek yang terjadi pada
aponeurosis m.levator akibat adanya perubahan cairan serta hormonal, akibat tekanan
pada saat proses kelahiran.2,4
Segmen Anterior Konjungtiva
Penurunan kapiler konjungtiva dan peningkatan jaringan granuler venula konjungtiva
telah dilaporkan terjadi dan hilang setelah kelahiran. Kerusakan Lensa Kehamilan
menginduksi terjadinya syndrome kekeringan mata yang timbul akibat gangguan
pada sel acinar kelenjar lakrimal. Kehamilan dapat mencetuskan perubahan dari
ekspresi faktor pertumbuhan (growth factor) kelenjar lakrimal dan redistribusi limfosit
dari periductal foci ke celah interacinar, serta meningkatkan reaktivitas imun terhadap
prolactin, TGF- beta 1 dan EGF pada sel duktus. 2,4
Kornea
Banyak wanita yang mengalami intoleransi terhadap lensa kontak saat kehamilan,
walaupun mereka tidak memiliki

masalah

dengan lensa kontak sebelum

kehamilannya. Suatu penelitian yang meneliti mengenai lengkungan kornea pada


wanita hamil menyebutkan peningkatan statistik yang signifikan pada lengkungan
kornea pada trimester kedua dan ketiga, namun akan hilang setelah melahirkan
ataupun setelah mulai menyusui. Kehamilan juga dihubungkan dengan perubahan
pada ketebalan dan sensitifitas kornea. Peningkatan ketebalan yang sedikit namun
dapat terukur pada kornea disebabkan oleh terjadinya edema pada saat kehamilan.
15

Sensitifitas kornea cenderung berkurang, dengan perubahan terbesar terjadi pada


tahap akhir kehamilan. Akibat dari variasi ketebalan tersebut, indeks refraksi kornea
juga dapat berubah. Namun dianjurkan untuk menunda pemberian resep maupun lensa
kontak sampai beberapa minggu setelah kelahiran. Gangguan Akomodasi dan
Refraksi Perubahan akomodasi dan gangguan refraksi pada masa kehamilan telah
dilaporkan. Hilangnya daya akomodasi yang bersifat sementara dapat terjadi pada saat
maupun sesudah kehamilan. Insufisiensi akomodasi dan paralisis dilaporkan
berhubungan dengan laktasi. Hasil operasi refraksi mata sebelum, selama ataupun
segera setelah kehamilan tidak dapat diprediksi, dan operasi ini disarankan untuk
ditunda hingga terjadi stabilitas refraksi setelah kelahiran. Myopia dapat meningkat
selama kehamilan. Ini telah dibuktikan oleh Pizzarello yang telah melakukan
penelitian pada 83 orang wanita hamil untuk menentukan penyebab perubahan
penglihatan selama kehamilan dan dan post partum. Wanita hamil yang mengeluh
terjadinya perubahan visual telah ditemukan perubahan pada kondisi myopia yang
telah ada pada kehamilan, yang kemudiannya kembali ke tingkat semulanya pada
post-partum. 2,4
Tekanan Intraokular
Kehamilan dapat memberikan keuntungan pada glaukoma. Kehamilan dihubungkan
dengan penurunan tekanan intraokular pada mata yang sehat dan hipertensi okular.
Pada subjek yang normal, kehamilan menurunkan tekanan intraokular sampai 19,6%.
Hampir 35% dari keseluruhan penurunan terjadi pada minggu ke 12 dan 18
kehamilan. Sedangkan pada hipertensi okular, kehamilan menurunkan tekanan
intraokular hingga 24,4%. Berbagai macam mekanisme telah diimplikasikan pada
hasil penelitian ini. Beberapa mekanisme ini termasuk adanya peningkatan keluaran
aqueous humor, penurunan resistensi vaskuler sistemik yang menyebabkan terjadinya
penurunan tekanan vena episclera, peningkatan elastisitas jaringan generalisata yang
menyebabkan berkurangnya kekakuan sklera, dan asidosis generalisata selama
kehamilan. 2,4
Gangguan Segmen Posterior
a. Retinopati Diabetika

16

Kehamilan dapat memperparah retinopati diabetika yang telah ada. Perubahan


diabetik yang terjadi selama kehamilan tidak jauh berbeda dengan yang ditemukan
pada pasien non diabetik dan pada pria. Namun, kehamilan pada pasien diabetes
yang terkontrol tidak menjadi faktor risiko untuk terjadinya komplikasi vaskular.
Gangguan pandangan yang diakibatkan oleh retinopati diabetika pada kehamilan
jarang terjadi, akan tetapi dapat terjadi konsekuensi yang buruk terhadap ibu dan
bayinya. Foto-koagulasi dengan laser harus dipertimbangkan untuk wanita hamil
dengan pre-proliferatif retinopati diabetika yang berat. Retinopati diabetika
proliferatif mungkin tidak membaik setelah kelahiran.

b. Korioretinopati serosa sentral


Ini adalah kelainan makular yang ditandai oleh ablatio retina serosa lokalisata.
Umumnya menyerang dewasa pada usia pertengahan sekitar 20 sampai 45 tahun.
Lebih banyak terjadi pada pria daripada wanita dengan perbandingan 10:1.
Kehamilan adalah salah satu faktor resiko terjadinya penyakit ini. Korioretinopati
serosa sentral pada wanita hamil sering dihubungkan dengan eksudat subretina
yang kemungkinan bersifat fibrinosa alami. Eksudat subretinal fibrinosa ini terlihat
pada 90% pasien, dibandingkan dengan kurang dari 20% korioretinopati sentral
serosa (tanpa kehamilan). Gangguan ini akan sembuh secara spontan pada akhir
kehamilan atau setelah melahirkan, namun dapat timbul kembali di luar kehamilan.
c. Distrofi Vitrokorioretinal Perifer (PVCRD)
Observasi dinamis yang diikuti pada 86 wanita hamil dengan distrofi
vitrokorioretinal (121 mata) menunjukkan bahwa kondisi tersebut berkembang
selama masa kehamilan pada 33,8% kasus. Menurunnya haemodinamik okular dan
kekakuan sklera adalah karakteristik kehamilan. Insidens tertinggi progresivitas
PVCRD diamati pada wanita hamil dengan sistem haemodinamik tipe hipokinetik.
d. Ablatio Retina Rhegmatogenosa
Wanita hamil dengan myopia tinggi, riwayat ablatio retina atau perlubangan retina,
atau diketahui memiliki degenerasi lattice umumnya dirujuk ke spesialis mata
untuk meminta saran manajemen kelahiran, apakah diperbolehkan melahirkan
spontan pervaginam, atau harus dilakukan profilaksis atas indikasi resiko tinggi
terjadinya kelainan retina. Banyak ahli obstetri masih mempercayai bahwa wanita
hamil dengan kelainan mata beresiko mengalami ablatio retina rhegmatogenosa
17

harus melahirkan dengan instrumen atau bahkan dianjurkan untuk Sectio Caesaria.
Telah dibuktikan bahwa tatalaksana prenatal untuk kelainan retina asimptomatik
tidak dianjurkan dan kelahiran spontan pervaginam diperbolehkan untuk dilakukan
oleh wanita dengan kelainan retina resiko tinggi.
e. Edema Makular
Edema makular dengan atau tanpa retinopati proliferatif juga dapat timbul pada
masa kehamilan. Hal tersebut dapat timbul ataupun memburuk selama kehamilan.
Telah ditunjukkan bahwa edema makular sering berhubungan dengan wanita hamil
yang menderita diabetes yang juga memiliki proteinuria dan hipertensi. Penelitian
juga menunjukkan bahwa pada beberapa kasus dapat membaik secara spontan
setelah kelahiran namun dapat juga menetap, dan menyebabkan kehilangan
penglihatan jangka panjang.
f. Uveitis
Uveitis mengacu pada peradangan dari traktus uvea, terdiri dari iris, badan siliar
dan choroid. Telah dilaporkan bahwa kehamilan berhubungan dengan sejumlah
kasus timbulnya uveitis non-infeksi dibandingkan dengan kondisi tanpa kehamilan.
Apabila kondisi tersebut timbul saat kehamilan, umumnya terjadi pada trimester
pertama.2,4

18

BAB III
PERSALINAN NORMAL PADA MIOPIA TINGGI

Banyak pendapat mengenai hal ini. Banyak yang mengatakan pasien dengan myopia
yang tinggi beresiko mengalami robekan retina pada saat melahirkan secara spontan. Namun
tidak ada kasus yang dilaporkan dalam literatur yang dapat menghubungkan ablasio atau
robekan retina dengan myopia pada wanita yang melahirkan.6
Socha et. Al telah melakukan suatu studi, dimana sebanyak 4895 operasi seksio
caesarea yang dilakukan telah diamati, 100 (2.04 %) diantaranya karena indikasi okular yang
telah dikonsulkan ke spesialis mata dan disarankan untuk persalinan secara operasi. Frekuensi
operasi seksio Caesarea atas indikasi okular telah meningkat banyak pada tahun 2005 hingga
2006 tapi merosot sejak tahun 2006. 6
Namun demikian, hal itu tetap menjadi dua kali lebih tinggi pada tahun 2000. Dua
kelainan mata yang paling sering mengarah ke operasi seksio Caesarea adalah myopia dan
retina diabetikum. Hampir setengah dari keputusan untuk operasi seksio Caesarea diambil
hanya berdasarkan indikasi oftalmologi.7
Literatur menunjukkan bahwa sedikit bukti untuk mendukung keyakinan bahwa
riwayat operasi pada retina sebelumnya meningkatkan risiko perlepasan retina pada
persalinan spontan. Papamicheal et al. telah melakukan survei pada 74 orang ahli kebidanan
di Kongres Kebidanan dan Kandungan Eropa di Lisbon, Portugal. Mayoritas dari dokter
spesialis kebidanan ini tidak mendukung pandangan ini. Kebanyakan dari responden (76 % di

19

antaranya) merekomendasikan persalinan yang dibantu alat (salah satu operasi seksio
Caesarea atau persalinan instrumental), sedangkan 24 % yang memberikan saran persalinan
yang normal dan tidak ada faktor lain yang mempengaruhi keputusan ini. Sebagian besar (58
% ) mengambil keputusan tentang pelaksanaan persalinan ibu hamil hanya berdasarkan
pendapat pribadi saja.6,7
Partisipan juga diminta untuk mengklasifikasikan pasien dengan myopia tinggi,
riwayat ablasio retina, riwayat keluarga dengan ablasio retina dan riwayat operasi mata
sebelumnya menjadi kategori risiko rendah, sedang atau tinggi untuk persalinan spontan.
Mayoritas membagikan myopia tinggi sebagai tidak berisiko atau risiko rendah (59 %),
riwayat ablasio retina sebagai risiko sedang-tinggi (73 %), riwayat keluarga dengan ablasio
retina sebagai risiko rendah-sedang (73 %) dan riwayat operasi mata sebelumnya sebagai
risiko tinggi (56 %).7
Apabila ditanyakan tentang kondisi mata yang manakah jika ada akan mempengaruhi
pengambilan keputusan klinis antara operasi seksio Caesarea dengan persalinan apontan
pervaginam, hanya 14 % responden mengatakan pasien tanpa riwayat kelainan mata, 13.6 %
lagi mengatakan pasien dengan riwayat ablasio retina, 61 % menghindar untuk menjawab
pertanyaan ini yang mengindikasikan mayoritas dokter spesialis masih bingung untuk
memilih apa yang lebih praktis. 48 % juga mengatakan pasien dengan riwayat ablasio
retinamerupakan indikasi untuk operasi seksio Caesarea. Hasil survei ini sejalan dengan data
yang dilakukan di Inggeris dan ini mungkin menunjukkan pegangan ini dipakai secara
internasional.6
Komentar yang diberikan kebanyakannya mirip; rata-rata menjelaskan persalinan
spontan harus dihindari karena peningkatan risiko ablasio retina akibat peningkatan tekanan
intra-okular yang disebabkan oleh manuver yang mirip Valsalva pada kala 2 persalinan. Tidak
ada bukti yang menunjukkan bahwa peningkatan tekanan intra-abdominal juga akan
meningkatkan tekanan intra-okular. Hal ini hanya dapat disebabkan oleh kondisi yang
mempengaruhi aliran drainase dari aqueous pada ruang anterior mata seperti glaukoma.
Selain itu, peningkatan tekanan intra-okular bukanlah faktor risiko untuk terjadinya ablasio
retina.7
Menurut pengamatan yang dilakukan oleh Prost, yang melakukan pengamatan
terhadap 42 pasien dengan myopia tinggi dan 4 pasien dengan myopia tinggi disertai riwayat
operasi ablatio retina pada salah satu mata, tidak terbukti adanya progresivitas dari perubahan
20

retina dan terjadinya robekan retina, namun pada beberapa pasienditemukan adanya
perdarahan retina dan edema makular. Dari pengamatan tersebut disimpulkan bahwa myopia
tinggi bukan merupakan indikasi untuk dilakukan operasi caesar, namun sebaiknya tetap
dilakukan pemeriksaan oftalmologi pada pasien setelah melahirkan.
Penelitian lain juga mendukung hal ini. Penelitian yang dilakukan pada 10 wanita
yang telah mengalami 19 persalinan (10 prospektif dan 9 retrospektif) dan memiliki riwayat
ablatio retina sebelumnya, telah didiagnosa mengalami degenerasi lattice yang luas, atau
telah mendapat terapi simptomatik untuk kerusakan retina. Subjek diikuti sejak trimester
ketiga kehamilan sampai pada proses persalinan dan post partum, diawasi adanya perubahan
pada retina.7
Hasil penelitian tersebut menyatakan tidak ditemukannya perubahan pada retina pada
pemeriksaan postpartum, sehingga dapat disimpulkan terapi prenatal pada kelainan retina
asimptomatik tidak dianjurkan, dan kelahiran spontan per vaginam dapat dilakukan pada
wanita dengan resiko tinggi terjadinya kelainan retina. Penelitian yang dilakukan oleh Neri A
et al juga mendukung hal tersebut. Penelitian ini dilakukan dengan mengamati 50 wanita
dengan myopia (4.5 15.0 D) yang akan melahirkan. Dilakukan pemeriksaan funduskopi
pada seluruh responden sebelum dan setelah melahirkan. Berbagai macam tipe degenerasi
retina dan kerusakan retina ditemukan pada pemeriksaan pre partum, namun tidak ditemukan
adanya perburukan dari kelainan yang ada pada pemeriksaan post partum. Dari hasil
penelitian tersebut, disarankan untuk tetap dilakukan persalinan spontan per vaginam pada
pasien dengan myopia tinggi.7
Sebuah penelitian telah menunjukkan terdapat kecenderungan yang tinggi persalinan
secara seksio caesarean pada pasien denga myopia tinggi. Loncare et. Al telah meneliti 30553
persalinan selama 9 tahun di antara 1993 hingga 2002. Terdapat 87 % pasien melahirkan
secara spontan, 3 % melahirkan dibantu ekstraksi vakum dan 10 % persalinan secara seksio
caesarean. Di dalam jumlah tersebut terdapat 693 wanita hamil dengan myopia, 421 orang
(61 %) dengan myopia rendah, 159 orang (23%) dengan myopia sedang dan 113 orang (16
%) dengan myopia tinggi. Persalinan dengan operasi seksio caesarea dilaporkan kurang lebih
sama pada pasien yang tidak myopia, dan myopia tingkat rendah-sedang serta lebih tinggi
pada pasien dengan myopia tinggi.Tingkat persalinan secara ekstraksi vakum diamati lebih
tinggi pada pasien dengan myopia sedang dan tinggi berbanding pasien dengan myopia

21

rendah dan tidak myopia. Di antara semua pasien, pasien dengan myopia tinggi mempunyai
kadar persalinan secara operasi yang lebih tinggi berbanding persalinan spontan.6,7

BAB IV
KESIMPULAN

Hampir setengah dari keputusan untuk operasi seksio caesarea diambil hanya
berdasarkan indikasi oftalmologi. Oleh karena itu, sebelum dilakukannya operasi seksio
caesaria kita perlu mengklasifikasikan pasien dengan myopia tinggi, riwayat ablasio retina,
riwayat keluarga dengan ablasio retina dan riwayat operasi mata sebelumnya menjadi
kategori risiko rendah, sedang atau tinggi untuk persalinan spontan. Mayoritas membagikan
myopia tinggi sebagai tidak berisiko atau risiko rendah, riwayat ablasio retina sebagai risiko
sedang-tinggi, riwayat keluarga dengan ablasio retina sebagai risiko rendah-sedang dan
riwayat operasi mata sebelumnya sebagai risiko tinggi. Dua kelainan mata yang paling sering
mengarah ke operasi seksio Caesarea adalah myopia dan retina diabetikum.
Menurut penelitian yang ada, pasien dengan myopia tinggi disertai riwayat operasi
ablatio retina pada salah satu mata, tidak terbukti adanya progresivitas dari perubahan retina
dan terjadinya robekan retina, namun pada beberapa pasien ditemukan adanya perdarahan
retina dan edema makular. Dari pengamatan tersebut disimpulkan bahwa myopia tinggi
bukan merupakan indikasi untuk dilakukan operasi caesar, namun sebaiknya tetap dilakukan
pemeriksaan oftalmologi pada pasien setelah melahirkan. Dari hasil penelitian yang lain, juga
mengatakan tidak ditemukannya perubahan pada retina pada pemeriksaan postpartum,
sehingga dapat disimpulkan terapi prenatal pada kelainan retina asimptomatik tidak
dianjurkan, dan kelahiran spontan per vaginam dapat dilakukan pada wanita dengan resiko

22

tinggi terjadinya kelainan retina. Selain itu, persalinan dengan operasi seksio caesarea
dilaporkan kurang lebih sama pada pasien yang tidak myopia, dan myopia tingkat rendahsedang serta lebih tinggi pada pasien dengan myopia tinggi. Oleh karena itu, disarankan
untuk tetap dilakukan persalinan spontan per vaginam pada pasien dengan myopia tinggi.

DAFTAR PUSTAKA

1. Radjiman T. Ilmu Penyakit Mata. 1984. Penerbit Airlangga; Jakarta.


2. Prawirohardjo S. Buku Ajar Ilmu Kandungan. 2008. Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo; Jakarta.
3. Ilyas S. Ilmu Penyakit Mata. 2009. Balai Penerbit FKUI; Jakarta.
4. Ilyas S, Mailangkay HHB, Taim H, Saman RR, Simarmata M, Widodo PS. Ilmu
Penyakit Mata Untuk Dokter Umum dan Mahasiswa Kedokteran. Edisi kedua.
2002. CV Sagung Seto; Jakarta.
5. Vaughann D, Asbury T, Eva PR. Oftamologi Umum. Edisi 14. 2000. Widya
Medika; Jakarta.
6. Journal of Polandia. Myopia and delivery. Scientific journal of Croatia. Diakses
tanggal

10

juni

2014.

Available

at

http://hrcak.srce.hr/index.php?

show=clanak&id_clanak_jezik=98330&lang=en.
7. NCBI. Severe Myopia and Delivery. NCBI : Journal of Polandia. Diakses pada
tanggal

10

juni

2014.

Available

at

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/9026570.

23