Anda di halaman 1dari 15

Teori Stufenbau adalah teori mengenai sistem hukum oleh Hans Kelsen yang menyatakan bahwa

sistem hukum merupakan sistem anak tangga dengan kaidah berjenjang dimana norma hukum
yang paling rendah harus berpegangan pada norma hukum yang lebih tinggi, dan kaidah hukum
yang tertinggi (seperti konstitusi) harus berpegangan pada norma hukum yang paling mendasar
(grundnorm).
Menurut Kelsen norma hukum yang paling dasar (grundnorm) bentuknya tidak kongkrit
(abstrak)
Contoh norma hukum paling dasar abstrak adalah Pancasila

STUFENBAU TEORI HANS KELSEN DAN TINJAUAN TERHADAP TATA


URUTAN PERUNDANG-UNDANG DI INDONESIA

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Pasca reformasi 1998 dan diiringi dengan amandemen konstitusi (UUD 1945) struktur
ketatanegaraan Republik Indonesia mengalami perubahan mendasar. Pasalnya kedudukan
Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) tidak lagi menjadi lembaga negara tertinggi. MPR
sebagai badan perwakilan (legislatif) kedudukannya sejajar dengan lembaga negara (tinggi)
lainnya. MPR sejajar dengan DPR (Dewan Perwakilan Rakyat), DPD (Dewan Perwakilan
Daerah), Presiden dan Wakil Presiden, MA (Mahkamah Agung), MK (Mahkamah Konstitusi),
BPK (Badan Pemeriksa Keuangan), bahkan kedudukan MPR sejajar dengan KY (Komisi
Yudisial) sebagai Lembaga Negara.i[i]
Itulah salah satu perubahan mendasar an po dari struktur ketatanegaraan. Perubahan
lainnya yang berpengaruh terhadap format ketatanegaraan adalah tentang tata tata urutan
peraturan perundang-undangan. Dimana Ketetapan MPR tidak lagi menjadi bagian dari hierarki
perundang-undangan karena jenisnya yang bukan bersifat mengatur. Hierarki atau tata urutan
perundang-undangan berdasarkan Undang-Undang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan
Nomor 10 Tahun 2004, Pasal 7 (1), yaitu: Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945 (UUD 1945), Undang-Undang (UU)/Peraturan Pemerintah Pengganti UndangUndang (Perpu), Peraturan Pemerintah (PP), Peraturan Presiden (Perpres), dan Peraturan Daerah
(Perda).
Yang menjadi inspirasi hierarki tata urut perundang-undangan di atas adalah seorang
pemikir yang bernama Hans Kelsen. Hans Kelsen dilahirkan dari pasangan kelas menengah

Yahudi berbahasa Jerman di Prague pada tanggal 11 Oktober 1881. Saat berusia tiga tahun,
Kelsen dan keluarganya pindah ke Wina dan menyelesaikan masa pendidikannya. Kelsen adalah
seorang agnostis, namun pada tahun 1905 Kelsen pindah agama menjadi Katolik demi
menghindari masalah integrasi dan kelancaran karir akademiknya. Namun identitas Kelsen
sebagai keturunan Yahudi tetap saja mendatangkan banyak masalah dalam hidupnya. Kelsen
pada awalnya adalah pengacara publik yang berpandangan sekuler terhadap hukum sebagai
instrument mewujudkan kedamaian. Pandangan ini diinspirasikan oleh kebijakan toleransi yang
dikembangkan oleh rezim Dual Monarchy di Habsburg.ii[ii]
Teori umum tentang hukum yang dikembangkan oleh Kelsen meliputi dua aspek penting,
yaitu aspek statis (nomostatics) yang melihat perbuatan yang diatur oleh hukum, dan aspek
dinamis (nomodinamic) yang melihat hukum yang mengatur perbuatan tertentu. Friedmann
mengungkapkan dasar-dasar esensial dari
pemikiran Kelsen sebagai berikut:iii[iii]
1. Tujuan teori hukum, seperti tiap ilmu pengetahuan, adalah untuk mengurangi kekacauan dan
kemajemukan menjadi kesatuan.
2. Teori hukum adalah ilmu pengetahuan mengenai hukum yang berlaku, bukan mengenai hukum
yang seharusnya.
3. Hukum adalah ilmu pengetahuan normatif, bukan ilmu alam.
4. Teori hukum sebagai teori tentang norma-norma, tidak ada hubungannya dengan daya kerja
norma-norma hukum.
5. Teori hukum adalah formal, suatu teori tentang cara menata, mengubah isi dengan cara yang
khusus. Hubungan antara teori hukum dan sistem yang khas dari hukum positif ialah hubungan
apa yang mungkin dengan hukum yang nyata.
Pendekatan yang dilakukan oleh Kelsen disebut The Pure Theory of Law, mendapatkan
tempat tersendiri karena berbeda dengan dua kutub pendekatan yang berbeda antara mahzab
hukum alam dengan positivisme empiris. Beberapa ahli menyebut pemikiran Kelsen sebagai
jalan tengah dari dua aliran hukum yang telah ada sebelumnya.
Hierarki tata urutan perundang-undangan adalah kumpulan norma-norma. Norma atau
kaidah (kaedah) merupakan pelembagaan nilai-nilai baik dan buruk dalam bentuk tata aturan
yang berisi kebolehan, anjuran, atau perintah. Baik anjuran maupun perintah dapat berisi kaidah
yang bersifat positif atau negatif sehingga mencakup norma anjuran untuk mengerjakan atau
anjuran untuk tidak mengerjakan sesuatu, dan norma perintah untuk melakukan atau perintah
untuk tidak melakukan sesuatu.
Apabila ditinjau dari segi etimologinya, kata norma itu sendiri berasal dari bahasa Latin,
sedangkan kaidah atau kaedah berasal dari bahasa Arab. Norma berasal dari kata nomos yang
berarti nilai dan kemudian dipersempit maknanya menjadi norma hukum. Karya Plato yang
berjudul Nomoi biasa diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan istilah The Law.iv[iv]
Sedangkan kaidah dalam bahasa Arab, qoidah berarti ukuran atau nilai pengukur.

Jika pengertian norma atau kaidah sebagai pelembagaan nilai itu dirinci, kaidah atau
norma yang dimaksud dapat berisi:
(i) kebolehan atau yang dalam bahasa Arab disebut ibahah, mubah (permittere);
(ii) anjuran positif untuk mengerjakan sesuatu atau dalam bahasa Arab disebut sunnah;
(iii) anjuran negatif untuk tidak mengerjakan sesuatu atau dalam bahasa Arab disebut makruh;
(iv) perintah positif untuk melakukan sesuatu atau kewajiban (obligattere); dan
(v) perintah negatif untuk tidak melakukan sesuatu atau yang dalam bahasa Arab disebut haram
atau larangan (prohibere).v[v]
Berlakunya suatu norma senantiasa dapat dikembalikan kepada berlakunya norm yang
lebih tinggi, demikian selanjutnya, sehingga akhirnya sampai pada grundnorm.vi[vi]
Kaidah hukum dapat pula dibedakan antara yang bersifat umum dan abstrak (general and
abstract norms) dan yang bersifat konkret dan individual (concrete and individual norms).
Kaidah umum selalu bersifat abstrak karena ditujukan kepada semua subjek yang terkait tanpa
menunjuk atau mengaitkannya dengan subjek konkret, pihak, atau individu tertentu. Kaidah
hukum yang bersifat umum dan abstrak inilah yang biasanya menjadi materi peraturan hukum
yang berlaku bagi setiap orang atau siapa saja yang dikenai perumusan kaidah hukum yang
tertuang dalam peraturan perundang-undangan yang terkait.
Sementara itu, kaidah hukum individuil selalu bersifat konkret. Kaidah konkret ini
ditujukan kepada orang tertentu, pihak, atau subjek-subjek hukum tertentu, atau peristiwa dan
keadaan-keadaan tertentu.
Sebagai contoh dapat dikemukakan, misalnya, (i) kaidah hukum yang ditentukan oleh
pengadilan dalam bentuk putusan (vonnis) selalu berisi hal-hal dan subjek hukum yang bersifat
individuil dan konkret, misalnya si A dipidana 10 tahun; (ii) kaidah hukum yang ditentukan oleh
pejabat pemerintahan (bestuur), misalnya, si B diberi izin untuk mengimpor mobil bekas, atau si
X diangkat menjadi Direktur Jenderal suatu departemen; (iii) kaidah hukum yang dilakukan oleh
kepolisian, misalnya, si A ditangkap dan ditahan untuk tujuan penyidikan; atau (iv) kaidah
hukum yang ditentukan dalam perjanjian perdata, misalnya, si X berjanji akan membayar sewa
rumah yang ditempatinya kepada pemilik rumah.
Keempat contoh di atas jelas menggambarkan sifat kaidah hukum yang bersifat konkret
dan individuil (concrete and individual norms) yang sangat berbeda dari sifat kaidah hukum
yang umum dan abstrak (general and abstract norms).vii[vii]
Kelsen mengemukakan Pure Theory of Law yang terjemahannya teori murni tentang
hukum (yang murni bukan hukumnya tetapi teorinya), ajarannya yaitu: dalam membuat teori
hukum haruslah bersih/murni dari pengaruh unsur-unsur lain.
Murni di sini dimaksudkan tidak dipengaruhi oleh ilmu ilmu lain, unsur/ajaranajaran
lain misalnya agama filsafat, sejarah, sosiologi, antropologi, ekonomi dan sebagainya.
Untuk mendukung teori murni tentang hukumnya, Kelsen mengemukakan teori
Stufenbau yaitu mengenai keberlakuan kaidah hukum. Keberadaan kaidah yang lebih rendah

ditentukan oleh kaidah lebih tinggi dengan demikian kaidah konkrit berlaku berdasarkan kaidah
abstrak, sedangkan kaidah abstrak berlaku berdasarkan kaidah dasar atau grundnorm. viii[viii]
Berdasarkan uraian itulah penilis tertarik untuk mengkaji lebih dalam tentang Teori
Hirarki Norma atau Tufenbautheori Hans Kelsen dengan judul: STUFENBAU TEORI HANS
KELSEN DAN TINJAUAN TERHADAP TATA URUTAN PERUNDANG-UNDANG DI
INDONESIA
B. IDENTIFIKASI MASALAH
Dari rumusan tersebut di atas penulis menarik sekali untuk mengkaji tentang:
1. Bagaimanakah teori norma menurut Hans Kelsen?
2. Bagaimana penggunaan Stufenbau Teori Kelsen terhadap Tata Urutan Peraturan Perundangundangan ?
C. TUJUAN DAN MANFAAT PENULISAN
Tujuan penulisan ini untuk mengetahui:
1. Untuk mengetahui Teori Norma Hukum Hans Kelsen.
2. Untuk mengetahui penggunaan Stufenbau Theory Hans Kelsen dalam penerapannya di
Indonesia.

BAB II
STUFENBAU TEORI HANS KELSEN DAN TINJAUAN TERHADAP TATA URUTAN
PERUNDANG-UNDANG DI INDONESIA

A. NORMA
1.

Pengertian Norma
Suatu pernyataan tentang realitas dikatakan benar, karena pernyataan tersebut

berhubungan dengan realitas atau karena pengalaman kita menunjukkan kesesuaian dengan
relitas tersebut. Suatu norma adalah bukan pernyataan tentang realitas sehingga tidak dapat
dikatakan benar atau salah dengan ukuran realitas. Validitas norma tidak karena keberlakuannya.
Pertanyaan mengapa sesuatu seharusnya terjadi tidak pernah dapat dijawab dengan penekanan
pada akibat bahwa sesuatu harus terjadi, tetapi hanya oleh penekanan bahwa sesuatu seharusnya
terjadi.ix[ix]
Norma adalah suatu ukuran yang harus dipatuhi oleh seseorang dalam hubungannnya
dengan sesamanya atau dengan lingkungannya. Istilah norma berasal dari bahsa latin, atau
kaidah dalam bahasa arab, dan sering juga disebut pedoman, patokan, atau aturan dalam bahasa
Indonesia.x[x]
Suatu norma itu baru ada apabila terdapat lebih dari satu orang, karena norma itu pada
dasarnya mengatur tatacara bertingkah laku seseorang terhadap orang lain, atau terhadap
lingkungannya. Setiap norma itu mengandung suruhan-suruhan yang didalam bahasa asingnya
disebut dengan das Sollen (ought to be/ought to do).xi[xi]
Norma hukum itu dapat dibentuk secara tertulis ataupun tidak tertulis oleh lembagalembaga yang berwenang yang membentuknya, sedangkan norma moral. adat, agama, dan
lainnya terjadi secara tidak tertulis, tumbuh dan berkembang dari kebiasaan-kebiasaan yang ada
dalam masyarakat.xii[xii]
2.

Norma Superior Dan Norma Inferior


Analisis hukum, yang menyingkap karakter dinamis dari sistem normatif dan fungsi

norma dasar, juga menunjukan kekhususan lebih lanjut dari hukum, yaitu: Hukum mengatur
kriterianya sendiri sepanjang suatu norma hukum menentukan cara norma lain dibuat, dan juga
isi dari norma tersebut. Sejak suatu norma hukum adalah valid karena dibuat dengan cara yang
ditentukan oleh norma hukum lain, maka norma terakhir merupakan alasan validitas yang
pertama.xiii[xiii]
Hubungan antara norma yang mengatur pembuatan norma lain dan norma lain tersebut
dapat disebut sebagai hubungan super dan sub-ordinasi dalam konteks spasial. Norma yang
menentukan pembuatan norma lain adalah superior, sedangkan norma yang dibuat adalah

inferior. Tata Hukum, khususnya sebagai personifikasi negara bukan merupakan sistem norma
yang dikoordinasikan satu dengan yang lainnya, tetapi suatu hirarki dari norma-norma yang
memiliki level berbeda. Kesatuan norma ini disusun oleh fakta bahwa pembuatan norma, yang
lebih rendah, ditentukan oleh norma lain, yang lebih tinggi. Pembuatan yang ditentukan oleh
norma yang paling tinggi menjadi alasan utama validitas keseluruhan tata hukum yang
membentuk kesatuan.xiv[xiv]
3.

Norma Statis Dan Dinamis


Hans Kelsen mengemukakan adanya dua system norma, yaitu system norma statis
(nomostatics) dan system norma dinamik (nomodynamics). Norma statis adalah system yang
melihat pada isi suatu norma, dimana suatu norma umum dapat ditarik menjadi norma khusus,
atau norma khusus itu dapat ditarik dari suatu norma yang umum. Contoh dari norma statis
adalah:
- Dari suatu norma umum yang menyatakana hendaknya engkau menghormati orang tua dapat
ditarik/dirinci norma khusus, seperti kita wajib membantunya kalau orang tua itu dalam keadaan
susah, kita harus merawatnya kalau sedang sakit.
Sistem norma yang dinamik adalah suatu system norma yang melihat pada berlakunya
suatu norma dari cara pembentukannya dan penghapusannya. Menurut hans kelsen, norma itu
berjenjang jenjang dan berlapis-lapis dalam susunan yang hierarkis, dimana norma yang lebih
tinggi berlaku, bersumber, dan berdasar pada norma yang lebih tinggi lagi, demikian seterusnya
pada akhirnya regressus ini berhenti pada norma yang paling tinggi yang disebut norma dasar
(grundnorm) yang tidak dapat lagi ditelusuri siapa pembentuknya atau dari mana asalnya. Norma
dasar atau biasa yang disebut grundnorm, basicnorm, atau fundamentalnorm ini merupakan
norma yang tertinggi yang berlakunya tidak berdasar dan tidak bersumber pada norma yang lebih
tinggi lagi, tetapi berlaku secara presupposed, yaitu lebih dahulu ditetapkan oleh masyarakat.xv
[xv]

4.

Norma Hukum Vertikal Dan Horizontal


Dinamika norma hukum dapat dibedakan menjadi dua, yaitu dinamika norma hukum
yang vertikal dan dinamika norma hukum yang horizontal. Dinamika norma hukum vertikal
adalah dinamika yang berjenjang dari atas ke bawah, atau dari bawah ke atas: dalam dinamika
yang vertikal ini norma hukum itu berlaku, berdasar, dan bersumber, pada norma hukum di
atasnya, norma hukum di atasnaya berlaku, berdasar, dan bersumber pada norma hukum yang
atasnya lagi, demikian seterusnya sampai pada suatu norma hukum yang menjadi dasar norma
hukum di bawahnya. Dinamika norma hukum vertikal ini dapat dilihat dalam tata susunan norma
hukum, yang ada di negara Republik Indonesia: Pancasila sebagai norma dasar negara
merupakan sumber dan dasar bagi terbentuknya norma-norma hukum dalam Batang Tubuh
Undang Undang Dasar 1945, dan seterusnya. Dalam dinamika norma hukum horizontal, suatu
norma hukum itu bergeraknya tidak ke atas atau tidak ke bawah, tetapi ke samping. Dinamika
norma horizontal ini tidak membentuk norma hukum baru akan tetapi tapi bergerak ke samping

karena adanya suatu analogi. Contoh pencurian listrik. Listrik bukanlah suatu benda, tetapi dapat
ditafsirkan secara analogi menjadi benda.xvi[xvi]
5.

Norma Hukum Umum dan Individual


Norma hukum dari segi alamat yang dituju (addressat) dapat dibedakan antara norma
hulkum umum dan individual. Norma hukum umum adalah suatu norma hukum yang ditujukan
untuk orang banyak dan tidak tertentu. Norma hukum umum sering dirumuskan dengan Barang
siapa., atau Setiap orang., ataupun Setiap warga negara. dan sebagainya sesuai
dengan addressat yang dituju. Norma hukum individual adalah norma hukum yang ditujukan
atau dialamatkan (addressatnya) pada seseorang, beberap orang, atau banyak orang yang telah
tertentu sehingga norma hukum yang individual ini biasanya dirumuskan dengan kalimat sebagai
berikut:xvii[xvii]
- Syafei Bin Muhammad Sukri bertempat tinggal di Jl. Pajajaran Raya No. 1 Jakarta.
- Para pengemudi bis lota jurusan Suta yang beroperasi antara jam 07.00 sampai 08.00 pada
tangggal 1 Januari 2011.

6. Norma Hukum Abstrak dan Kongkret


Norma hukum abstrak adalah suatu norma hukum, yang melihat pada perbauatan
seseorang yang tidak ada batasnya dalam arti tidak kongkret. Norma hukum abstrak
mmerumuskan suatu perbuaan secara abstrak, miusalnya mencuri, membunuh, menebang
pohon, dan sebagainya. Sedangkan norma hukum kongkret adalah melihat perbuatan seseorang
lebih nyata.xviii[xviii]
7.

Norma Hukum Einmahlig Dan Dauerhaftig


Norma hukum einmahlig adalah norma hukum yang berlakunya hanya satu kali dan
setelah itu selesai, jadi sifatnya hanya menetapkan saja, sehingga dengan adanya penetapan ini
norma hukum tersebut selesai. Contohnya adalah penetapan seseorang menjadi pegawai.
Norma hukum dauerhaftig adalah norma hukum yang berlaku secara terus-menerus
sampai peraturan itu dicabut atau diganti dengan peraturan yang baru.
Dari pembatasan norma-norma tersebut yang membedakan antara norma hukum umumindividual, norma hukum abstrak kongkret, serta norma hukum yang satu kali selesai, berlaku
terus menerus, maka norma hukum yang termasuk dalam suatu peraturan perundang-undangan
adalah suatu norma hukum yang bersifat umum-abstrak dan berlaku terus menerus, sedangkan
norma hukum yang bersifat individual kongkret dan sekali selesai merupakan keputusan yang
bersifat penetapan (beschikking). Di samping norma hukum yang termasuk dalam peraturan
perundang-undangan yang bersifat mengatur (regeling), yaitu yang umum-abstrak dan berlaku
terus menerus dan norma hukum yang bersifat menetapkan (beschikking) yaitu yang individualkongkret dan berlaku sekali saja.

8.

Norma Hukum Tunggal Dan Berpasangan

Norma hukum tunggal adalah suatu norma hukum yang berdiri sendiri dan tidak diikuti
oleh suatu norma hukum lainnya, jadi isinya hanya merupakan suatu suruhan (das Sollen)
tentang bagaimana kita harus bertindak atau bertingkah laku. Contohnya: Presiden memberi
grasi, amnesty, abolisi, dan rehabilitasi.
Norma hukum berpasangan terdiri dari norma hukum primer dan sekunder. Norma
hukum primer adalah suatu norma hukum yang berisi aturan/patokan bagaimana cara kita harus
berprilaku dalam masyarakat. Norma hukum primer ini biasa disebut das Sollen atau disebutkan
dengan istilah hendaknya. Contohnya: hendaknya kamu tidak mencuri.
Norma hukum sekunder adalah norma hukum yang berisi tata cara penanggulangannya
apabila norma hukum primer tidak dipenuhi. Norma hukum primer ini memberi pedoman bagi
penegak hukum untuk bertindak apabila norma hukum primer tidak dipenuhi. Contohnya:
.apabila kau membunuh dihukum 15 tahun penjara.
B. TINGKAT-TINGKAT DALAM TATA HUKUM
1. Konstitusi Dalam Arti Materiil Dan Formal
Struktur hierarkis tata hukum suatu negara adalah sebagai berikut: Dipresuposisikan
sebagai norma dasar, konstitusi adalah level paling tinggi dalam hukum nasional.xix[xix] Hans
Kelsen mengatakan bahwa konstitusi dalam arti formal adalah suatu dokumen nyata sebagai
seperangkat norma hukum yang mungkin diubahanya menurut ketentuan khusus yang
dimaksudkan agar perubahan norma ini sulit dilakukan. Konstitusi dalam arti materiil terdiri dari
aturan-aturan yang mengatur pembuatan norma hukum umum, khususnya pembuatan undangundang. Konstitusi formal biasanya juga berisi norma lain, yaitu norma yang bukan merupakan
bagian materi konstitusi.xx[xx] Tetapi hal ini adalah untuk menjaga norma yang menentukan
organ dan prosedur legislasi bahwa suatu dokumen nyata yang khusus dirancang dan bahwa
perubahan aturan-aturannya dibuat secara khusus lebih sulit. Hal ini karena materi konstitusi
adalah dalam bentuk konstitusional yang harus dipisahkan dari hukum biasa. Terdapat prosedur
khusus untuk pembuatan, perubahan, dan pencabutan hukum konstitusi.xxi[xxi]
Berbeda dengan Hans Kelsen, muridnya yang berkenamaan juga yaitu Hans Nawiasky
melihat norma tertinggi dalam negara selalu mempunyai kemungkinan mengalami perubahan,
baik oleh suatu peristiwa pemberontakan, coup detat.xxii[xxii]
Konstitusi dalam arti formal, khususnya ketentuan yang menentukan bahwa perubahan
konstitusi lebih sulit daripada perubahan hukum biasa, adalah mungkin hanya jika terdapat
konstitusi tertulis. Terdapat negara yang tidak memiliki meiliki konstitusi tertulis, seperti Inggris,
yang berarti tidak ada konstitusi formal. Maka konstitusi memiliki karakter hukum kebiasaan dan
tidak ada perbedaan antara konstitusi dengan hukum biasa. Sedangkan konstitusi dalam arti
materiil dapat berupa konstitusi tertulis atau tidak tertulis.xxiii[xxiii]
2.

Norma Umum Dibuat Berdasarkan Konstitusi: Undang-Undang dan Kebiasaan


Norma umum yang ditetapkan dengan cara legislasi atau kebiasaan, membentuk suatu
tingkatan di bawah konstitusi dalam hirarki hukum. Norma-norma umum ini diaplikasikan oleh
organ yang kompeten, khususnya pengadilan dan otoritas administratif. Organ pelaksana hukum

harus diinstruksikan sesuai dengan tata hukum, yang juga menentukan prosedur yang harus
diikuti organ pada saat mengaplikasikan hukum. Maka norma umum hukum undang-undang atau
kebiasaaan memiliki dua fungsi besar, yaitu:
a. Menentukan organ pelaksana hukum dan prosedur yang harus diikuti;
b. Menentukan tindakan yudisial dan administratif organ tersebut.
Tindakan inilah yang menciptakan norma individual, yaitu penerapan norma hukum pada
kasus nyata.
3. Hukum Konstitusi
Karena fungsi pengadilan dalam kapasitasnya sebagai organ pelaksana hukum adalah
mengaplikasikan norma umum undang-undang atau kebiasaan terhadap kasus konkret, maka
pengadilan harus memutuskan apakah norma umum memberikan sanksi kepada perbuatan yang
diklaim oleh penuntut sebagai delik, atau diklaim oleh penggugat sebagai delik sipil, dan apakah
sanksinya?.
Pengadilan harus mampu menjawab tidak hanya pertanyaan tentang fakta (quaestio facti)
tetapi juga pertanyaan tentang hukum (quaestio Juris), dilakukan dengan menentukan apakah
norma umum tersebut yang diaplikasikan adalah valid yang berarti mempertanyakan apakah
norma tersebut telah dibuat dengan cara yang ditentukan oleh konstitusi. Fungsi pengadilan ini
menonjol khususnya ketika terdapat keraguan apakah perbuatan tergugat atau terdakwa
merupakan suatu delik. Pengadilan harus menentukan keberadaan suatu norma tersebut seperti
halnya menentukan eksistensi delik. Fungsi menentukan eksisitensi norma umum yang
diaplikasikan oleh pengadilan mengimplikasikan pentingnya fungsi penafsiran norma tersebut,
yaitu menentukan maknanya.
Norma konstitusi yang mengatur pembuatan norma umum yang diaplikasikan oleh
pengadilan dan organ pelaksana hukum lain adalah bukan norma lengkap yang independen.
Norma konstitusi secara intrinsik adalah bagian dari semua aturan hukum yang harus
diaplikasikan oleh pengadilan dan organ lain. Maka hukum konstitusi tidak dapat dikutip sebagai
suatu contoh norma yang tidak memberikan sanksi. Norma dari materi konstitusi adalah hukum
hanya dalam kaitan organiknya dengan norma yang memberikan sanksi yang dibuat berdasarkan
norma konstitusi tersebut. Dalam pandangan dinamis pembuatan norma umum ditentukan oleh
norma yang lebih tinggi, yaitu konstitusi, diproyeksikan sebagai bagian dari norma yang lebih
rendah.
4. Sumber Hukum
Pembuatan hukum dengan kebiasaan dan Undang-undang sering disebut sebagai dua
sumber hukum. Dalam konteks ini, hukum hanya dipahami sebagai norma umum, mengabaikan
norma individual yang bagaimanapun juga merupakan bagian dari hukum seperti yang lainnya.
Sumber hukum adalah ekspresi yang figuratif dan ambigu. Istilah tersebut tidak hanya
digunakan untuk menyebut metode pembuatan hukum, yaitu kebiasaan dan legislasi, tetapi juga
untuk mengkarakteristikan alasan validitas hukum khususunya alasan paling akhir. Maka norma
dasar menjadi dasar hukum. Namun dalam arti yang lebih luas, setiap norma hukum adalah

sumber bagi norma yang lainnya, karena memuat prosedur pembuatan norma atau isi norma
yang akan dibuat. Maka setiap norma hukum yang lebih tinggi adalah sumber hukum bagi norma
yang lebih rendah. Jadi sumber hukum adalah hukum itu sendiri.
5. Pembuatan dan Pelaksanaan Hukum
Suatu norma yang mengatur pembuatan norma lain adalah dilaksanakan dalam
pembuatan norma lain tersebut. Pembuatan hukum (Law Creating) adalah selalu merupakan
pelaksanaan hukum (Law applying).xxiv[xxiv] Adalah tidak benar mengklasifikasikan tindakan
hukum sebagai tindakan pembuatan hukum dan tindakan pelaksanaan hukum. Normalnya
pembuatan hukum dan pelaksanaan hukum terjadi dalam waktu yang sama. Pembuatan norma
hukum adalah suatu pelaksanaan dari norma yang lebih tinggi, dan pelaksanaan norma hukum
yang lebih tinggi normalnya adalah pembuatan suatu norma yang lebih rendah. Legislasi adalah
proses pembuatan hukum menurut konstitusi sehingga juga merupakan pelaksanaan hukum.
Pembuatan konstitusi pertama dapat dilihat sebagai suatu pelaksanaan norma dasar. Dengan
demikian aktivitas hukum selalu melibatkan baik pembuatan maupun pelaksanaan. Hal ini
berlaku baik pada legislatif, pengadilan, maupun organ administratif dalam suatu negara.
6.. Konflik Antar Norma
Kesesuaian atau ketidak kesesuaian antara keputusan pengadilan dengan norma umum
dan antara undang-undang dengan konstitusi serta jaminan konstitusi yang berkekuatan hukum
(res judicata).
Norma yang lebih tinggi, undang-undang, atau norma hukum kebiasaan, sekurangkurangnya menetapkan pembentukan dan isi dari norma keputusan pengadilan, yang
kedudukannya lebih rendah. Norma yang lebih rendah, bersama-sama dengan norma yang lebih
tinggi, termasuk ke dalam tata hukum yang sama hanya jika norma yang lebih rendah
bersesuaian dengan norma yang lebih tinggi. Tetapi siapa yang harus menetapkan apakah norma
yang lebih rendah sesuai dengan norma yang lebih tinggi , apakah norma khusus dari keputusan
pengadilan sesuai dengan norma umum dari hukum statusta dan hukum kebiasaan? Jawabannya
adalah adalah harus ada satu pengadilan tingkat terakhir, yang diberi hak untuk memberikan
keputusan akhir tentang perkara tersebut, yakni suatu otorita yang keputusannya tidak dapat
dibatalkan atau diubah lagi. Dengan keputusan tertinggi ini, maka perkara menjadi res judicata
(berkekuatan hukum) dan konstitusi menghendaki undang-undang sebagai valid hanya selama
undang-undang itu belum dibatalkan oleh organ yang berkompeten atau menurut cara yang biasa.
The unity of the legal order can never be endangered by any contradiction between a
higher and a lower norm in the hierarchy of law.xxv[xxv]
(Kesatuan tata hukum tidak pernah bisa terancam oleh suatu pertentangan antar norma
yang lebih tinggi dengan norma yang lebih rendah di dalam hirarkhi hukum).

C. STUFENBAU THEORY DALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN


REPUBLIK INDONESIA
Teori Hans kelsen yang mendapat banyak perhatian adalah hierarki norma hukum dan
rantai validitas yang membentuk piramida hukum (stufentheorie). Salah seorang tokoh yang
mengembangkan teori tersebut adalah murid Hans Kelsen, yaitu Hans Nawiasky. Teori Nawiaky
disebut dengan theorie von stufenufbau der rechtsordnung. Susunan norma menurut teori
tersebut adalah:xxvi[xxvi]
1. Norma fundamental negara (Staatsfundamentalnorm);
2. Aturan dasar negara (staatsgrundgesetz);
3. Undang-undang formal (formell gesetz); dan
4. Peraturan pelaksanaan dan peraturan otonom (verordnung en autonome satzung).
Staatsfundamentalnorm adalah norma yang merupakan dasar bagi pembentukan
konstitusi atau Undang-Undang Dasar (staatsverfassung) dari suatu negara. Posisi hukum dari
suatu Staatsfundamentalnorm adalah sebagai syarat bagi berlakunya suatu konstitusi.
Staatsfundamentalnorm ada terlebih dahulu dari konstitusi suatu negara.xxvii[xxvii]
Menurut Nawiasky, norma tertinggi yang oleh Kelsen disebut sebagai norma dasar (basic
norm) dalam suatu negara sebaiknya tidak disebut sebagai staatsgrundnorm melainkan
Staatsfundamentalnorm, atau norma fundamental negara. Grundnorm pada dasarnya tidak
berubah-ubah, sedangkan norma tertinggi berubah misalnya dengan cara kudeta atau revolusi.xxviii
[xxviii]
Berdasarkan teori Nawiaky tersebut, A. Hamid S. Attamimi membandingkannya dengan
teori Kelsen dan menerapkannya pada struktur tata hukum di Indonesia. Attamimi menunjukkan
struktur hierarki tata hukum Indonesia dengan menggunakan teori Nawiasky. Berdasarkan teori
tersebut, struktur tata hukum Indonesia adalah:xxix[xxix]
1)

Staatsfundamentalnorm: Pancasila (Pembukaan UUD 1945).

2)

Staatsgrundgesetz: Batang Tubuh UUD 1945, Tap MPR, dan Konvensi Ketatanegaraan.

3)

Formell gesetz: Undang-Undang.

4)

Verordnung en Autonome Satzung: Secara hierarkis mulai dari Peraturan Pemerintah hingga
Keputusan Bupati atau Walikota.
Penempatan Pancasila sebagai Staatsfundamental-norm pertama kali disampaikan oleh
Notonagoroxxx[xxx]. Pancasila dilihat sebagai cita hukum (rechtsidee) merupakan bintang
pemandu. Posisi ini mengharuskan pembentukan hukum positif adalah untuk mencapai ide-ide
dalam Pancasila, serta dapat digunakan untuk menguji hukum positif. Dengan ditetapkannya
Pancasila sebagai Staatsfundamentalnorm maka pembentukan hukum, penerapan, dan
pelaksanaanya tidak dapat dilepaskan dari nilai-nilai Pancasila.xxxi[xxxi]
Namun, dengan penempatan Pancasila sebagai Staats-fundamentalnorm berarti
menempatkannya di atas Undang-Undang Dasar. Jika demikian, Pancasila tidak termasuk dalam
pengertian konstitusi, karena berada di atas konstitusi. Untuk membahas permasalahan ini dapat

dilakukan dengan melacak kembali konsepsi norma dasar dan konstitusi menurut Kelsen dan
pengembangan yang dibuat oleh Nawiasky, serta melihat hubungan antara Pancasila dan UUD
1945.
Kelsen membahas validitas norma-norma hukum dengan menggambarkannya sebagai
suatu rantai validitas yang berujung pada konstitusi negara. Jika bertanya mengapa konstitusi itu
valid, mungkin dapat menunjuk pada konstitusi lama. Akhirnya mencapai beberapa konstitusi
hingga konstitusi pertama yang ditetapkan oleh individu atau semacam majelis. Validitas
konstitusi pertama adalah presuposisi terakhir, postulat yang final, di mana validitas semua
norma dalam tata aturan hukum bergantung. Dokumen yang merupakan wujud konstitusi
pertama adalah konstitusi sesungguhnya, suatu norma mengikat, hanya dalam kondisi
dipresuposisikan sebagai validxxxii[xxxii]. Presuposisi inilah yang disebut dengan istilah
trancendental-logical pressuposition.
Semua norma hukum adalah milik satu tata aturan hukum yang sama karena validitasnya
dapat dilacak kembali, secara langsung atau tidak, kepada konstitusi pertama. Bahwa konstitusi
pertama adalah norma hukum yang mengikat adalah sesuatu yang dipreposisikan, dan formulasi
preposisi tersebut adalah norma dasar dari tata aturan hukum ini.xxxiii[xxxiii]
Kalimat terakhir jelas menunjukkan adanya dua hal, yaitu norma dasar adalah presuposisi
atas validitas konstitusi pertama. Norma dasar tidak dibuat dalam prosedur hukum oleh organ
pembuat hukum. Norma ini valid tidak karena dibuat dengan cara tindakan hukum, tetapi valid
karena dipresuposisikan valid, dan dipresuposisikan valid karena tanpa presuposisi ini tidak ada
tindakan manusia dapat ditafsirkan sebagai hukum, khususnya norma pembuat hukum.xxxiv
[xxxiv]
Logika Kelsen tersebut sering dipahami secara salah dengan mencampuradukkan antara
presuposisi validitas dan konstitusi, manakah yang merupakan norma dasar (grundnorm)?. Hal
inilah yang selanjutnya diselesaikan oleh Nawiasky dengan membedakan antara
staatsfundamental-norm dengan staatsgrundgesetz atau grundnorm dengan alasan bahwa
grundnorm pada dasarnya tidak berubah sedangkan staatsfundamentalnorm dapat berubah
seperti melalui kudeta atau revolusi.xxxv[xxxv]
Pendapat Nawiasky tersebut sebenarnya sejalan dengan pandangan Kelsen. Kelsen juga
menyatakan bahwa konstitusi memang dibuat sulit untuk diubah karena dengan demikian
menjadi berbeda dengan norma hukum biasa.xxxvi[xxxvi] Selain itu, Kelsen juga menyatakan
bahwa suatu tata hukum kehilangan validitasnya secara keseluruhan jika terjadi kudeta atau
revolusi yang efektif. Kudeta atau revolusi adalah perubahan tata hukum selain dengan cara yang
ditentukan oleh tata hukum itu sendiri. Kudeta atau revolusi menjadi fakta hilangnya presuposisi
validitas konstitusi pertama dan digantikan dengan presuposisi yang lain. Tata hukum yang
berlaku adalah sebuah tata hukum baru meskipun dengan materi yang sama dengan tata hukum
lamaxxxvii[xxxvii].

Berdasarkan uraian antara pandangan Kelsen dan Nawiasky tersebut dapat disimpulkan
bahwa staats-fundamentalnorm yang dikemukakan oleh nawiasky adalah presuposisi validitas
konstitusi pertama yang dikemukakan oleh Kelsen sebagai norma dasar. Sedangkan staatsgrundgesetz-nya Nawiasky adalah konstitusi dalam pandangan Kelsen. Pertanyaan selanjutnya
adalah apakah Pancasila merupakan staatsfundamentalnorm atau me-rupakan bagian dari
konstitusi?
Pancasila lahir dan dirumuskan dalam persidangan Badan Penyelidik Usaha Persiapan
Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada saat membahas dasar negara, khususnya dalam pidato
Soekarno tanggal 1 Juni 1945. Soekarno menyebut dasar negara sebagai Philosofische grondslag
sebagai fondamen, filsafat, pikiran yang sedalam-dalamnya yang diatasnya akan didirikan
bangunan negara Indonesia. Soekarno juga menyebutnya dengan istilah Weltanschauung atau
pandangan hidup. Pancasila adalah lima dasar atau lima asas

DAFTAR PUSTAKA
A. Buku-Buku
Ahmad Tafsir. Filsafat Umum. Akal Dan Hati Sejak Thales Sampai Capra.
Remajarosdakarya. Bandung. 2004.
Esmi Warassih. Pranata Hukum Sebuah Telaah Sosiologis. PT. Suryandaru Utama.
Semarang. 2005.
E.Utrecht/M.Saleh D. Pengantar Dalam Hukum Indonesia. Sinar Harapan. Jakarta.1989.
Herman Soewardi. Roda Berputar Dunia Bergulir. Kognisi Baru Tentang Timbul
tenggelamnya

Sivilisasi.

Bandung.

2009.

M. Daud Ali. Hukum Islam, Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Islam di Indonesia.
Rajagrafindo Persada. Jakarta. 2006.
Mochtar K & Arief S. Pengantar Ilmu Hukum Suatu Pengenalan Pertama Ruang Lingkup
Berlakunya

Ilmu

Hukum.

Alumni.

Bandung.

2000.

B. Peraturan Perundang-Undangan
Al Qur`anul Karim dan terjemahan dalam Al Qur`an Digital.
C. Internet
Nicoletta Bersier Ladavac. Hans Kelsen (1881 - 1973) Biographical Note and
Bibliography .http://www.ejil.org/journal/Vol9/No2/art11 .html, diakses tanggal 20
Desember
Stanford

2009
Encyclopedia

of

jam
Philosophy.

11.30
The

Pure

Theory

www.wikipedia.com, diakses tanggal 20 Desember 2009 jam 12.00 AM

AM
of

Law.

i
ii
iii
iv
v
vi
vii
viii
ix
x
xi
xii
xiii
xiv
xv
xvi
xvii
xviii
xix
xx
xxi
xxii
xxiii
xxiv
xxv
xxvi
xxvii
xxviii
xxix
xxx
xxxi
xxxii
xxxiii
xxxiv
xxxv
xxxvi
xxxvii