Anda di halaman 1dari 28

PRODUKSI AUDIO VISUAL

OLEH :
I KOMANG TRI EDI WARDANA
1315057013
9F

JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK INFORMATIKA


FAKULTAS TEKNIK DAN KEJURUAN
UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA
2014

1. DESKRIPSI PRODUKSI / PRODUCTION


Video production adalah usaha produksi di bidang multimedia yang khusus menangani
kebutuhan pemrosesan video. Macamnya banyak sekali, dapat dalam bentuk transfer video,
editing video, dokumentasi even, company profile, pembuatan film atau iklan pendek dan
lain sebagainya. Usaha ini masih dekat dengan bentuk usaha production house (PH) atau
rumah produksi yang lebih professional dalam menghasilkan produk-produknya. Juga
hampir sama dengan editing video yang jauh lebih simple, karena editing video itu cukup
mengedit video saja. Usaha video production ini dapat dikatan berada ditengah-tengah
antara usaha editing video dan PH. Karena dalam video production tidak cukup mengedit
video saja, tapi juga melakukan pengambilan gambar atau shooting. Bahkan jika mampu,
sekaligus membuat script atau naskah skenario suatu film, iklan, lalu menyutradarai
pengambilan gambarnya. Melihat kondisi kerja yang demikian, dapat jadi jika personelpersonel yang dimiliki telah mumpuni dan professional. Usaha video production ini dapat
berkembang dan menjelma menjadi PH yang besar dengan jumlah karyawan yang banyak.

2. SHOOTING / PENGAMBILAN GAMBAR

Shot adalah bagian dari adegan. Seperti halnya kata-kata yang diajarkan, diurutkan satu
sesudah yang lain, belum tentu membentuk satu kalimat, begitu juga sambungan gambargambar menjadi satu rangkaian tertentu belum dengan sendirinya berkata sesuatu. Bila
hubungan gambar yang satu dengan yang lain itu memang dimaksudkan untuk menceritakan
sesuatu haruslah ada unsur-unsur yang menunjukkannya. Unsur-unsur itu dapat dicari dalam
komposisi gambar-gambar itu sendiri, misalnya: obyek yang bergerak dalam frame, dalam
dialog yang diteruskan, atau dalam hubungan penonton dengan obyek-obyek dalam ceritera
itu sebagai akibat dari letak kamera atau lensa khusus yang dipergunakan. Segala cara untuk

menghubungkan

gambar-gambar

dalam

satuan

tertentu

(editing)

sehingga

bisa

menyampaikan arti tertentu kepada penonton biasanya dipakai secara bergantian dan
dicampur-campur. Karena susunan gambar-gambar menjadi satu shot diatur menurut aturan
tertentu itu, penonton yang melihatnya akan bisa mengartikannya. Penonton akan mampu
membaca dan menafsirkan apa yang mau diungkapkan oleh kalimat tertentu itu.
Teknik-teknik dalam pengambilan gambar :
a) Camera Angle (Sudut pengambilan gambar)

Bird eye view : Pengambilan gambar dilakukan dari atas dari ketinggian tertentu
sehingga memperlihatkan lingkungan yang sedemikian luas dengan benda-benda
lain yang tampak dibawah sedemikian kecil. Pengambilan gambar biasanya
menggunakan helikopter maupun dari gedung-gedung tinggi.

High Angle : Sudut pengambilan gambar tepat diatas objek,pengambilan gambar


seperti ini memeiliki arti yang dramatik yaitu kecil/kerdil.

Low Angle : Pengambilan gambar dari bawah objek, sudut pengambilan gambar
ini merupakan kebalikan dari high angle. Kesan yang ditimbulkan dari sudut
pandang ini adalah keagungan atau kejayaan.

Eye Level : Pengambilan gambar ini mengambil sudut sejajar dengan mata
objek, tidak ada kesan dramatik tertentu yang didapat dari eye level ini, yang ada
hanya memperlihatkan pandangan mata seseorang yang berdiri.

Frog Level : Sudut pengambilan gambar ini diambil sejajar dengan permukaan
tempat objek berdiri, seolah-olah memperlihatkan objek menjadi sangat besar.

b) Frame Sixe

Extreem Close-up (ECU) : Pengambilan gambar sangat dekat sekali, hanya


menampilkan bagian tertentu pada tubuh objek. Fungsinya untuk kedetailan
suatu objek.

Big Close-up (BCU) : Pengambilan gambar hanya sebatas kepala hingga dagu
objek. Fungsi untuk menonjolkan ekpresi yang dikeluarkan oleh objek.

Close-up : Ukuran gambar sebatas hanya dari ujung kepala hingga leher.
Fungsinya untuk memberi gambaran jelas terhadap objek.

Medium Close-up (MCU) : Gambar yang diambil sebatas dari ujung kepala
hingga dada. Fungsinya untuk mepertegas profil seseorang sehingga penonton
jelas.

Mid Shoot (MS) : Pengambilan gambar sebatas kepala hingga pinggang.


Fungsinya memperlihatkan sosok objek secara jelas

Knee Shoot (KS) : Pengambilan gambar sebatas kepala hingga lutut. Fungsinya
hampir sama dengan Mid Shot.

Full Shoot (FS) : Pengambilan gambar penuh objek dari kepala hingga kaki.
Fungsinya memperlihatkan objek beserta lingkungannya.

Long Shoot (LS) : Pengambilan gambar lebih luas dari pada Full Shoot.
Fungsinya menunjukkan objek dengan latar belakangnya.

Extreem Long Shoot (ELS) : Pengambilan gambar melebihi Long Shoot,


menampilkan lingkungan si objek secara utuh. Fungsinya menunjukkan bahwa
objek tersebut bagian dari lingkungannya.

1 Shoot : Pengambilan gambar satu objek. Fungsinya memperlihatkan


seseorang/benda dalam frame.

2 Shoot : pengambilan gambar dua objek. Fungsinya memperlihatkan adegan


dua orang yang sedang berkomunikasi.

3 shoot : pengambilan gambar tiga objek. Fungsinya memperlihatkan adegan


tiga orang sedang mengobrol.

Group

Shoot

Pengambilan

gambar

sekumpulan

objek.

Fungsinya

memperlihatkan adegan sekelompok orang dalam melakukan suatu aktifitas.


c) Moving camera

Zooming (In/Out) : Gerakan yang dilakukan oleh lensa kamera mendekat


maupun menjauhkan objek, gerakan ini merupakan fasilitas yang disediakan
oleh kamera video dan kameramen hanya mengoperasikannya saja.

Panning (Left/Right) : Yang dimaksud dengan gerakkan panning yaitu kamera


bergerak dari tengah ke kanan atau dari tengah ke kiri, namun bukan kameranya
yang bergerak tapi tripodnya yang bergerak sesuai arah yang diinginkan.

Tilting (Up/Down) : Gerakan tilting yaitu gerakan ke atas dan ke bawah, masih
menggunakan tripod sebagai alat bantu agar hasil gambar yang didapat
memuaskan dan stabil.

Dolly (In/Out) : Gerakan yang dilakukan yaitu gerakan maju mundur, hampir
sama dengan gerakan Zooming namun pada dolly yang bergerak adalah tripod
yang telah diberi roda dengan cara mendorong tripod maju ataupun menariknya
mundur.

Follow : Pengambilan gambar dilakukan dengan cara mengikuti objek dalam


bergerak searah.

Framing (In/Out) : Framing adalah gerakan yang dilakukan oleh objek untuk
memasuki (in) atau keluar (out) framming shot.

Fading (In/Out) : Merupakan pergantian gambar secara perlahan-lahan. Apabila


gambar baru masuk menggantikan gambar yang ada disebut fade in, sedangkan
jika gambar yang ada perlahan-lahan menghilang dan digantikan gambar baru
disebut fade out.

Crane Shoot. : Merupakan gerakan kamera yang dipasang pada alat bantu mesin
beroda dan Bergerak sendiri bersama kameramen, baik mendekati maupun
menjauhi objek.

Gerakan objek (moving object) :


a. Kamera sejajar objek. Kamera sejajar mengikuti pergerakan objek, baik ke
kiri / kanan.
b. Walking (In/Out) Objek bergerak mendekati (in) maupun menjauhi (out)
kamera.

3. AUDIO PRODUCTION
Produksi audio merupakan produksi untuk pembuatan program audio yang dirancang untuk
diperdengarkan kepada pendengar. Program radio ini direkam dan biasanya disimpan di alat

penyimpan berupa kaset atau CD. Selain itu program radio ini bisa disiarkan secara langsung
dengan gelombang, kegiatan produksi audio ini biasanya dilakukan oleh stasiun radio. Elemenelemen yang digunakan dalam media audio yaitu kata, musik dan efek suara. Dalam produksinya
program dalam audio dibagi dalam program radio dan musik rekaman. Jenis-jenis produksi audio
bisa dijabarkan sebagai berikut:
a. Program Radio
Radio merupakan media auditif, yang hanya bisa dinikmati dengan alat pendengaran.
Penyampaian gagasan, ide dan pesan radio melalui gelombang elektromaknetik yang berupa
sinyal-sinyal audio. Berdasarkan jenisnya, konten dalam program radio dibagi menjadi:

Program hiburan
Informasi yang disajikan dalam program ini bersifat untuk menghibur para pendengar

radio. Isi program di dalamnya termasuk musik, humor, drama, kuis dan lain-lain. Pada
umumnya program hiburan ini menjadi program utama radio-radio di Indonesia.

Program berita
Program berita yang disajikan dalam program radio bersifat memberikan informasi

kepada pendengarnya. Informasi yang disajikan dalam program berita radio yaitu current
affair, feature dan entertainment. Curent affair meliputi berita-beritastraight-news di
yang sedang aktual dan faktual, informasi ini disajikan dengan bahasa yang langsung
tanpa ada alur cerita di dalamnya. Feature berisi tentang sisi lain dari berita yang sedang
hangat diperbincangkan di masyarakat. Gaya bahasanya berbeda dengan straight-news,
karena feature menggunakan alur cerita dalam memberitakan informasinya. Berita
entertainment berisi tentang berita yang menghibur dan ringan untuk diperdengarkan.
Berita ini meliputi lifestyle dan tokoh-tokoh selebritis di dunia hiburan.

Program campuran
Program campuran berisi tentang materi-materi yang mendukung acara siaran radio

sehingga menjadikan kemasan sebuah radio menjadi lebih menarik. Materi-materi


tersebut yaitu iklan, radio exposure, station ids dan opening atau closing dari programprogram siaran radio. Iklan dalam radio bisa berupa spot iklan ataupun ad-lib. Iklan adlib merupakan iklan yang hanya disampaikan oleh penyiar radio, sedangkan spot iklan
merupakan iklan yang diproduksi dengan kemasan yang menarik sehingga bisa menjadi
menarik untuk pendengarnya. Radio exposure merupakan promo dari program-program

acara dari sebuah radio. Station ids yaitu identitas dari radio tersebut seperti tagline,
moto atau sejenisnya. Station ids ini akan dikemas ke dalam produksi audio sehingga
menjadi menarik untuk didengarkan oleh para pendengarnya. Opening dan closing tune
digunakan sebagai pembuka dan penutup acara radio. Opening dan closing ini pembuatan
produksinya disesuaikan dengan program radionya.
b. Music recording
Music recording merupakan sebuah proses produksi untuk merekam musik.
Pelaksanaannya biasanya dilakukan oleh studio rekaman baik yang bersekala kecil sampai
perusahaan major label. Produksi musik ini di dalamnya melibatkan proses kreatifitas untuk
menentukan instrumen dan aransemen musiknya. Music recordingini biasanya dilakukan
oleh para musisi untuk merekam lagunya sebagai bahan pembuatan album musiknya ataupun
single untuk promo band mereka. Selain digunakan oleh para musisi, music recordingjuga
dilakukan di dalam bagian produksi film untuk mengisi scoring music dalam film tersebut.
Secara sederhana proses produksi audio-visual terbagi atas 3 tahap yakni (1) pra produksi
(pre production), (2) produksi (production), (3) pasca produksi (post production)

Fasilitas Penunjang Produksi Media Audio-visual

Karya audio visual adalah karya kreatif. Kreativitas merupakan kunci kualitas.
Termasuk dalam krativitas di sini adalah kreativitas menggunakan alat. Prinsip
mengutamakan kreativitas ini perlu ditekankan di awal karena pada praktiknya sulit
menentukan batas ideal peralatan yang diperlukan untuk sebuah produksi audio visual. Mulai
dari nilai nominal jutaan hingga milyaran rupiah. Beberapa film yang dibuat secara
independen (istilah untuk produksi yang tidak melibatkan modal besar) ternyata sukses sangat
gemilang. Sebaliknya, banyak film yang dibuat dengan peralatan mahal dan sangat lengkap,
justru tidak menghasilkan karya yang memuaskan. Sebagai permulaan dapat diperkirakan
kebutuhan peralatan yang cukup lengkap dengan harga yang variatif (tergantung merk),
menyesuaikan dengan anggaran.

4. WORKING ON CAMERA
4.1 Bagian-bagian kamera
Kamera adalah alat paling populer dalam aktivitas fotografi, nama ini diambil dari camera
obscura, yang merupakan bahasa Latin yang berarti "ruang gelap". Camera Obscura
merupakan kotak kamera yang belum dilengkapi dengan film (seluloid) untuk menangkap
gambar atau bayangan.
Kamera video pada pertama dibuat oleh John Logie Baird, yang menggunakan cakra
elektromekanikal berupa Nipkow Disk. Projek eksperimentasi kamera video ini dijalankan
oleh pihak BBC pada tahun 1930an. Sistem Baird ini digunakan hingga tahun 1940an.
Selepas itu, bentuk kamera video telah beralih ke jenis elektronik sepenuhnya dengan
menggunakan Cathode Ray Tube. Penggagas kamera video jenis ini adalah Vladimir
Zworykin pemilik Iconoscope dan Philo T. Farnsworth pemilik Image Dissector. Sehingga
tahun-tahun 1980an, teknologi kamera maju dan mula menggunakan Solid-State Image
Sensors, antaranya adalah CCD dan seterusnya berkembang menjadi CMOS Active Pixel
Sensors, penemuan ini telah menyelesaikan masalah yang biasa didapati jika menggunakan
teknologi Tube seperti Image Burn-In. perkembangan teknologi baru juga membuat
penggunaan kamera digital yang lebih praktis.

Gambar 1. CCD yang dikembangkan khusus untuk penggambaran ultraviolet dalam


sebuah kemasan sambungan kawat.

Pada dasarnya setiap camera yang kita gunakan terdiri dari 3 bagian yaitu; Lensa, Body Camera,
VCR (video camera recorder):

4.1.1 LENSA
Lensa pada kamera berfungsi sebagai sebuah mata bagi kamera, hal yang paling utama
dalam menentukan apa dan bagaimana kamera akan melihat subjek dan seberapa baik
pandangan yang ditransmisikan ke chip sensor kamera. Lensa mempunyai fungsi
menangkap obyek secara optik yang menghasilkan gambar dan di teruskan ke permukaan
tabung kamera (natinya oleh tabung camera diubah lagi dari optik ke elektrik). Lensa
terkadang amat mahal yang harganya bahkan dapat mengalahkan body kamera dan perlatan
pendukung lainnya. Hal tersebut amatlah wajar, karena pengembangan fotografi lebih
banyak didedikasikan untuk mengembangkan teknologi lensa yang semakin baik.

Jenis lensa di bedakan menurut Focal Length yakni panjang jarak antara pusat optik lensa
atau dengan titik di mana gambar terlihat dalam keadaan focus (sensor kamera). Focal
Length biasanya diukur dalam satuan milimeter. Jenis lensa juga disebutkan dalam nilai fstop yaitu seperti F 1.4, F 2.0, F 5.6 dan lain-lain.

Berdasarkan pemahaman tersebut di atas jenis-jenis lensa dapat diklasifikasikan menjadi


subkelompok seperti lensa prime, lensa makro, lensa wide angle, Lensa normal, Lensa tele,
dan lensa zoom:
a. Lensa Prime
Lensa prime merupakan lensa yang memiliki panjang fokus lensa yang tetap. Seperti

lensa 50mm F1.4 misalnya, lensa 35mm F2.8 dan sebagainya. Karena panjang fokus
yang tetap, maka tidak akan bisa melakukan zooming, dan terpaksa harus mendekat atau
menjauhi objek bila ingin menyesuaikan frame. Keuntungan dari lensa prime adalah
kedalaman fokus yang lebih tajam dan lebih cepat serta mendapatkan latar bokeh atau
blur yang sangat halus.
b. Lensa makro.
Lensa Marco adalah lensa yang digunakan untuk melakukan pengambilan gambar objek
yang sangat dekat (kurang dari 15 cm dari objek), terkadang lensa makro dapat
mengambil objek dalam jarak 0 mm. Lensa ini sangat baik digunakan untuk merekam
benda-benda kecil, seperti capung, serangga, buah yang kecil-kecil, terkadang digunakan
untuk extreme close up pada objek seperti aster, uang, binatang-binatang kecil seperti
semut, telur ulat atau produk-produk advertising. Penggunaan lensa makro akan
membangun gambar yang sangat detail dan mendramatisir. Lensa macro berbeda dengan
lensa biasanya, di dalamnya ditambah beberapa jenis lensa sehingga kita bisa merekam
gambar dari jarak sangat dekat dengan perbandingan antara subyek dengan yang
ditangkap oleh lensa bisa mencapai 1:1.
c. Lensa Wide-Angle.
Merupakan lensa yang memiliki focal length atau panjang fokus pendek. Focal length
yang pendek ini akan menghasilkan efek visual mendorong objek menjauh dari Anda
dan membuatnya terlihat lebih kecil. Keunggulan lensa wide-angle adalah Anda dapat
relatif dekat dengan objek saat pengambilan gambar, dan tetap mendapatkan latar
belakang horizontal yang sangat lebar. Lensa wide-angle kadang juga disebut lensa fish
eye.
Kelemahan lensa wide-angle yaitu adanya konvergensi (memberikan efek distorsi atau
melengkung) yang membuat struktur vertikal muncul atau berkumpul ke arah tengah
frame. Akan tetapi kelemahan ini terkadang dijadikan kelebihan oleh beberapa
sinematografer untuk menunjukan efek visual yang berbeda pada gambar. Contoh lensa
wide-angle adalah 15mm, 17mm, 24mm dan 28mm.
d. Lensa Normal.
Lensa normal merupakan lensa yang mencoba untuk meniru bagaimana mata manusia
melihat dan merupakan lensa yang paling serbaguna. Lensa ini biasa di sebut lensa

standart karena gambar yang di hasilkan bersifat biasa dan datar tidak ada distorsi atau
melengkung.
e. Lensa Tele.
Lensa tele memiliki focal length yang panjang (secara fisik pun lensa tersebut akan
sangat panjang), jika menggunakan lensa ini subyek jadi terasa dekat. Keuntungan
menggunakan lensa ini kita dapat mengambil gambar dari jarak jauh dengan focal length
panjang akan membawa objek lebih dekat dan meningkatkan ukuran objek dalam frame,
ruang tajam sempit sehingga obyek terlihat lebih jelas. Kerugiannya yakni goyangan
sangat terasa pada hasil rekaman. Contoh lensa tele antara lain 100mm, 250mm, 300mm,
800mm.
f. Lensa Vario/Zoom.
Lensa jenis ini merupakan penggabungan dari lensa sudut lebar sampai ke lensa tele.
Lensa zoom merupakan lensa yang paling istimewa karena bisa sangat fleksibel. Jadi kita
tidak perlu lagi mengganti lensa, cukup satu lensa sudah mencakup semua jenis lensa.
Jenis lensa bervariasi dalam panjang fokus interval, biasanya cukup jauh, misal 1855mm, 24-70mm, atau 18-200mm, bahkan 70-300mm. Fleksibilitas yang ditawarkan
juga seperti wide-angle, tele, dan wide-angle ke telefoto. Dengan lensa zoom, kita dapat
menggunakannya dalam segala situasi. Ukuran focal length pada lensa zoom biasanya
selalu diikuti oleh interval nilai f-stop, contohnya adalah 24mm 300mm f3.5-F5.6, yang
berarti f-stop terendah pada kisaran 24mm dapat menghadirkan f-stop hingga f3.4 dan
ketika zoom untuk 300mm f-stop terendah yang dapat dihadirkan hanya f5.6. Namun ada
sebagian lensa yang dapat menghadirkan f-stop tetap pada seluruh rentang lensa,
misalnya 18-55mm f2.8, yang berarti f-stop dapat tetap konstan dalam zoom in terjauh
dan zoom out terdekat. Pada umumnya kamera video sudah dilengkapi dengan lensa
zoom.

Gambar 2. Lensa Zoom wide-angle to normal 18-55 mm


dan Lensa Zoom normal to tele 55 250 mm.
4.2 Fokus
Focus adalah pengaturan lensa yang tepat untuk jarak tertentu. Gambar dikatakan fokus
apabila proyeksi gambar yang dihasilkan oleh lensa jatuh di permukaan tabung atau CCD
jelas dan tajam. Sehingga nampak juga di viewfinder dan monitor kamera.
Titik Fokus adalah titik dimana ketajaman utama diletakkan, dimana pada kamera
ditetapkan pada titik-titik yang ada pada view finder (lubang intip) atau pada LCD (live
view) di era kamera digital sekarang.
Posisi titik fokus bisa di tentukan dengan memindahkan posisi titik focus yang ada pada
kamera. Pemindahan titik focus dapat dilihat dengan aktifnya titik merah pada kotak
kotak pilihan titik focus. (lihat gambar)

Jumlah titik fokus pada tiap kamera berbeda-beda. Umumnya pada kamera dengan
teknologi yang lebih maju, jumlah titik fokus akan lebih banyak.Dengan memindahkan
titik fokus, kita akan dapat menentukan bagian mana pada foto yang menjadi titik utama,
dimana pada bagian tersebut akan lebih tajam dari yang lainnya.

Pada gambar diatas, dapat dilihat yang menjadi titik fokus adalah wajah sang model.
Dimana pada hasil fotonya nanti, bagian yang paling tajam adalah wajah dari sang model.
Selain dengan memindahkan titik fokus pada kamera, ada juga cara menentukan titik
fokus tanpa memindahkan titik fokus pada kamera.

4.3 Zoom Lens


Zooming adalah gerakan lensa zoom mendekati atau menjauhi objek secara optik,
dengan mengubah panjang fokal lensa dari sudut pandang (telephoto) ke sudut lebar
(wide angle).
i.

Zoom in : mendekatkan objek dari long shot ke close up

ii.

Zoom out : menjauhkan objek dari close up ke long shot.

iii.

Zooming bisa dilakukan dengan dua cara:

iv.

Manual: dengan memutar ring zoom pada lensa

v.

Servo : Biasanya tombol zoom servo ada pada handle camera sehingga
terjangkau jari pada waktu mengoperasikan kamera

4.4 White Balance


White balance merupakan sebuah fungsi yang ada dalam sebuah kamera untuk
menentukan warna putih yang sesungguhnya dari obyek yang diambil sehingga warna
keseluran akan tampak natural. Jika kamera sudah tahu warna putih yang benar, maka
kamera tersebut akan dapat menentukan warna yang lain dengan benar karena warna
yang lain juga berpedoman pada warna putih.

Pada kebanyakan kamera fungsi white balance ini dapat dilakukan dengan otomatis (auto
white balance) atau bisa juga menggunakan preset (pengaturan) pabrik dan juga bisa
dilakukan secara manual. Jika white balance salah, maka gambar yang dihasilkan akan
salah pula, misalnya gambar akan cenderung oranye, kebiru-biruan atau yang lainnya.

Beberapa fiur white balance pada kamera, antara lain :

Auto kamera akan menebak temperatur warna berdasar program yang ditanam dari
sononya oleh pembuat kamera. Anda bisa menggunakannya pada kebanyakan situasi,
namun tidak disetiap situasi (misal: memotret saat sunset/sunrise)

Tungsten disimbolkan dengan ikon bohlam. Karena itu cocok digunakan saat anda
memotret di ruangan dengan sumber cahaya bohlam.

Fluorescent disimbolkan dengan ikon lampu neon, gunakan saat memotret di


ruangan dengan pencahayaan lampu neon.

Daylight biasanya dengan simbol matahari, gunakan saat berada di bawah sinar
matahari

Cloudy disimbolkan dengan awan, gunakan saat memotret di cuaca mendung

Flash simbolnya kilat, jika anda menggunakan lampu flash (strobe) gunakan preset
ini.

Shade biasanya simbolnya rumah atau pohon, gunakan saat memotret dalam rumah
(siang hari) atau anda berada di daerah bayangan bukan sinar matahri langsung.

4.5 Exposure
Exsposure secara sederhana dapat diartikan sebagai pencahayaan pada kamera. Untuk
mendapatkan gambar yang normal, tidak gelap (under exposure) dan tidak sangat terang
(over exposure). Ada tiga hal pokok yang berkaitan dengan Exsposure pada camera yakni
yang pertama
Aperture (Diafragma) atau juga sering disebut Iris,
yaitu sejumlah lembaran metal tipis yang disusun sedemikian rupa sehingga bisa
dibuka dan ditutup untuk mengatur banyaknya sinar yang masuk ke lensa kamera. Iris
seperti pupil mata kita yang bisa membesar dan mengecil sesuai cahaya yang masuk.
Bila Iris dibuka selebar mungkin, lensa mengirim sinar maksimum de dalam kamera,
sebaliknya kalau bukaan iris dikurangi lubang diafragma akan menyempit, sehingga
sinar yang masuk ke kamera jadi sedikit. Bukaan diafragma diukur dalam satuan fstop: f/1.4 f/22. lebih kecil nomor f-stop = bukaan diafragma besar, lebih besar
nomor f-stop = bukaan diafragma kecil. Pengaturan iris secara manual dapat
dilakukan dengan memutar ring iris di lensa kamera. Yang kedua adalah gain

Gain
Gain yang berfungsi apabila pengambilan gambar dalam keadaan kurang cahaya,
yang apabila dengan keadaan normal dengan bukaan f-stop maksimal (f/1.4) masih

under exposure. Dengan Gain kita bisa mengangkat exposure secara digital. Gain
pada seri kamera DSLR cinematography disebut sebagai ISO (international standard
organisation). Jika kita menaikan Gain atau ISO konsekuensinya membuat gambar
menjadi agak coral atau Grain (pecah, gambar bergerimis seperti pasir). Dan yang
ketiga adalah Deph of Field
Deph of Field
Secara definisi Depth of Field (DOF) adalah rentang jarak yang dimiliki subjek foto
untuk menghasilkan variasi ketajaman/fokus pada foto yang dihasilkan. Secara
harfiah, arti Depth of Field berarti kedalaman ruang. Hasil DOF bervariasi tergantung
pada jenis kamera dan aperture dan jarak fokus. Depth of Field (DOF) lebar berarti
sebagian besar dari dari obyek yang terdekat kamera sampai obyek terjauh akan
memiliki ketajaman yang merata. Cara untuk mendapatkan DOF lebar akan
menggunakan setingan aperture bukaan kecil/angka besar. Dengan menggunakan
aperture angka besar atau disebut bukaan kecil misal F8, akan mendapatkan hasil
yang lebih luas area ketajaman fotonya dari pada menggunakan setingan aperture
F3.5. Semakin kecil aperture, semakin luas jarak fokus atau area ketajaman foto
Anda.
Sedangkan Depth of Field (DOF) yang sempit berarti hanya bagian titik tertentu saja
yang memiliki area ketajaman, sementara obyek sisanya akan blur/ tidak fokus. Cara
untuk mendapatkan DOF sempit gunakan setingan Aperture bukaan besar (angka
kecil). Misalkan menggunakan F1.8 maka akan mendapatkan sedikit saja area
ketajaman foto yang dihasilkan. Semakin besar aperture, semakin sedikit area tajam
foto.

Gambar pengggunaan Depth of Field

4.6 Composition/ Komposisi gambar


o

Headroom
ruang antara bagian atas kepala subjek dan bagian atas dari tepian frame. Ini
mungkin sebagaian orang menjadi masalah sepele, tetapi ini penting untuk
mendapatkan jarak yang tepat foto portrait.

Leading line / looking room (arah pandang)


Leading line adalah garisan dalam gambar yang membawa mata ke satu titik lain
di dalam gambar.Pagar, jambatan, jalan, tangan semua boleh dijadikan sebagai
leading line untuk memandu mata.
Contoh contoh leading line:

Fitting the frame

Dividing the image into thirds (rule of thirds)


Komposisi rules of thirds adalah salah satu prinsip komposisi fotografi yang
paling dikenal dan paling populer bagi mayoritas penggemar potret

Camera Angles (low angle, high angle dan lain-lain)


sudut dimana kamera mengambil gambar suatu obyek, pemandangan atau adegan.
Dengan sudut tertentu kita bisa menghasilkan suatu shot yang menarik, dengan
perspektif yang unik dan menciptakan kesan tertentu pada adegan yang sedang
kita tayangkan.

180 Degree Rule


Untuk mengelakkan visual yang tidak mempunyai kesinambungan atau
continuity pergerakan subjek, maka bayangkan satu garisan yang menunjukkan
pergerakan subjek. Shot yang bagus akan sentiasa diambil dari sebelah garisan
sahaja. Jika gerakan dari kanan ke kiri screen maka setiap shot mestilah dari
kanan ke kiri. Jika hendak mengubah ke sebelah garisan maka masukkan satu
neutral shot dimana masukkan shot subjek dari hadapan atau belakang.

Shooting size (CU, ECU, MCU, FS, LS, ELS, OS)


Besar kecilnya subjek dalam sebuah frame dan masing-masing ukuran shot akan
memiliki makna yang berbeda-beda ketika diimplementasikan pada pengambilan
sebuah gambar atau shoting.

Camera Movement (follow, crane up, crane down, tilt up, tilt down, pan right, pan left)
Camera Movement adalah pergerakan camera yang dilakukan untuk dapat mengambil
gambar dari sudut yang diinginkan . Pergerakan kamera dapat dibagi sebagai berikut :
a. Follow
adalah gerakan kamera yang dilakukan dengan mengikuti object bergerak. Berbeda
dengan panning, follow through dilakukan dengan cara kamera ikut bergerak searah
dengan object.

b. Crane Up
Merupakan pergerakan camera ke atas dengan menggunakan crane.
c. Crane Down
Merupakan pergerakan camera ke bottom dengan menggunakan crane.
d. Tilt Up
Gerakan kamera dari bawah ke atas, pada poros tripod.Ini seperti halnya kita melihat
orang dari kaki sampai rambut.

e. Tilt Down
Gerakan kamera dari atas ke bawah, pada poros tripod seperti halnya kita melihat
orang dari rambut sampai kaki.
f. Pan Right
Gerakan kamera dari kiri ke kanan, pada poros tripod, seperti halnya menoleh dari kiri
ke kanan..
g. Pan Left
Gerakan kamera dari kanan ke kiri, pada poros tripod, seperti halnya menoleh dari kanan ke
kiri.
ANTICIPATING EDITING
1. Continuity
Continuity adalah suatu keadaan di mana terdapat kesinambungan antara gambar satu
dengan gambar sebelumnya. Sedangkan fungsi dari continuity adalah untuk
menghindari adanya jumping (adegan yang terasa meloncat), baik itu pada gambar
atau audio.
2. Membuat shoot size yang berbeda tipe pada setiap scene. (kombinasi antara LS,
FS, MS, CU, ECU)
Shot size/type of shot atau ukuran shot adalah besar kecilnya subjek dalam
sebuah frame.Type of shot itu terdiri atas :
ECU

: Extreme Close Up (detail shot)

VCU

: Very Close Up (shot wajah) dari atas kepala sampai dagu

BCU

: Big Close Up (tight CU, full kepala), wajah memenuhi layar

CU

: Close Up, dari keapala sampai pundak

MCU

: Medium Close Up,

Knee,

3/4Shot :

MLS
LS

: Medium Long Shot

: Long Shot

ELS

: Extra Long Shot (extereme LS, XLS)

Masing-masing ukuran shot di atas akan memiliki makna yang berbeda-beda ketika
diimplementasikan pada pengambilan sebuah gambar/shooting.
1. BCU

Big Close Up atau Big Close

atau

Shoot. Pengambilan gambar ini

BCS

dilakukan dengan hanya


memperlihatkan beberapa
bagian dari wajah seperti dari
dahi sampai dagu atau hanya
memperlihatkan beberapa
bagian dari benda.

2. CU atau
CS

Close Up atau Close Shoot


memperlihatkan keseluruhan
wajah seseorang atau bagian
benda dari jarak dekat.

3. ECU

Extreme Close Up merupakan


pengambilan gambar dengan
memperlihatkan bagian yang
sangat detil, misal bibir pada
manusia, mata pada manusia
atau angka dari sebuah jam.

4. MCU

Medium Close Up atau

atau

Medium Close Shoot

MCS

merupakan pengambilan
gambar yang memperlihatkan
kepala dan bahu sampai dada
bagian atas atau hampir
keseluruhan benda.
Pengambilan gambar ini biasa
disebut juga dengan Chest Shot.

5. MS

Medium Shoot merupakan


pengambilan gambar yang
memperlihatkan kepala sampai
pinggang, keseluruhan sebuah
benda atau sebagian besar
bangunan.

6. MLS

Medium Long Shoot


merupakan pengambilan
gambar yang memperlihatkan
bagian kepala sampai lutut
seseorang atau sebagian besar
dari sebuah bangunan.

7.

LS

Long Shoot atau Wide Angle

atau

atau Wide Shoot merupakan

WA

pengambilan gambar yang

atau

memperlihatkan keseluruhan

WS

tubuh dari manusia dengan


background yang masih cukup
luas. Bisa juga memperlihatkan
keseluruhan dari sebuah
bangunan.

8.

VWS

Very Wide Shot atau Very

atau

Wide Angle merupakan

VWA

pengambilan yang biasanya


untuk mengambil gambar
sebuah pemandangan yang
sangat luas.

9.

Eye level merupakan

EL

pengambilan gambar yang


sejajar dengan mata manusia.

Height Shot biasa juga disebut

10. HA

dengan Bird Eye yang


merupakan pengambilan
gambar dari tempat yang lebih
tinggi dari pada objek.
Sehingga memperlihatkan
objek menjadi lebih kecil.

Low Angle biasa juga disebut

11. LA

dengan Frog Eye merupakan


pengambilan gambar dari arah
bawah. Sehingga bisa
memperlihatkan Objek menjadi
lebih besar

Long Shots, secara umum penggunaan shot jauh ini akan dilakukan jika :

Untuk mengikuti area yang lebar atau ketika adegan berjalan cepat

Ketika subjek

Untuk menunjukkan dimana adegan berada/menujukkan tempat

Untuk menujukkan progres

Untuk menjukkan bagaimana posisi subjek memiliki hubungan dengan yang lain

Medium Shots, type shot seperti ini yang paling umum kita jumpai dalam film
maupun televisi. Jenis shot ini adalah paling aman, karena tidak ada penekanan khusus
seperti halnya pada Long Shots dan Close Shots. Semua adegan bisa ditampilkan
dengan netral di sini.
Close Shots, televisi adalah media close up. Awalnya premis ini karena berkaitan
dengan hal teknis. Pertama, acara dengan media televisi harus ditampilkan secara close
up karena ukuran televisi yang kecil jika dibandingkan dengan layar di bioskop. Ke
dua, berbeda juga dengan bisokop, acara televisi ditonton sambil lalu, akan lebih
cocok menampilkan gambar-gambar dengan close shot/padat.
3. Memperhatikan eye line (garis pandang mata) terutama shoot dialog (CU)
4. Memberi jeda (run in/ run out) saat akan memulai shoot/ merekam adegan
5. Extra editing material (Selalu shoot cutaway untuk editing. Misalnya shoot
keseluruhan suasana general scene, persekitaran, reaksi lawan dialog, dan
lainnya
6. Membuat master soot (establish shoot)
7. Memanfaatkan filter, baik filter lighting , maupun filter lensa. (filter : ND filter
Neutral Density Filters, UV filter, polarize filter )
Filter terdiri dari 4 pilihan. Filter umumnya terbagi dari empat bagian antara lain:
-

3200 K, digunakan untuk in door yang memiliki pencahayaan rendah atau sumber
cahaya yang dominant kuning (tungsten).

5600 K + ND (neutral density), digunakan untuk out door yang mempunyai


sumber cahaya matahari terik (top light).

5300 K, digunakan untuk out door dan in door dengan sumber cahaya dominant
putih atau cahaya kebiruan (daylight).

5600 K + 1/16 ND, digunakan bila intensitas sumber cahaya sangat tinggi sekali,
seperti di pantai dengan matahari terik (Over Light).

DAFTAR PUSTAKA
http://tipsfotografi.net/memahami-definisi-depth-of-field-atau-dof.html
https://ayosinaumultimedia.wordpress.com/2014/07/19/hubungan-aperture-dandepth-of-field/
http://www.academia.edu/7905763/PROSES_PRODUKSI_AUDIO
http://tips-mempercepat-komputerku.blogspot.com/2008/08/produksi-media-audiovisual.html
http://books.google.co.id/books?id=GXTcQacLhEoC&pg=PR5&lpg=PR5&dq=peng
ertian+video+production&source=bl&ots=YHlp0F8Jv&sig=97YWANyiSCy2_v4huxHEiHMELGY&hl=id&sa=X&ei=YPVQVJr0
AqfKmAXElIHgBw&redir_esc=y#v=onepage&q=production&f=false