Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sosial Budaya dalam Pesantren Sosial Budaya mencakup pola kehidupan
masyarakat sesuai dengan hasil pemikiran atau adat istiadat masyarakat tertentu.
Ketika masalah social budaya ditelaah dalam kehidupan pesantren maka yang
terlihat tentulah berbeda dengan pola kehidupan masayarakat luar. Karena pondok
pesantren (biasanya juga disebut pondok saja) merupakan sekolah Islam
berasrama (Islamic boarding school). Para santri (pelajar pesantren) belajar pada
sekolah ini sekaligus tinggal pada asrama yang disediakan pesantren. Biasanya
pesantren dipimpin oleh seorang kiai/kyai. Untuk mengatur kehidupan pondok
pesantren, kyai menujuk seorang santri senior untuk mengatu radik kelasnya,
mereka biasanya disebut Lurah Pondok. Pesantren adalah sekolah pendidikan
umum yang persentase ajarannya lebih banyak ilmu-ilmu pendidikan agama Islam
daripada ilmu umum. Bahkan ada pula pesantren yang hanya mengajarkan ilmu
agama Islam saja, umumnya disebut Pesantren Salaf. Jadi kehidupan dalam
pesantren memiliki sistem tersendiri yang berbeda dengan kehidupan luar namun
tidak bertentangan dengan sistem kehidupan yang dianut bangsa kita.
Dunia pesantren merupakan representrasi miniatur kehidupan

riil

dimasyarakat. Tapi, pesantren bukan benar-benar gambaran nyata masyarakat


secara umum, sebab unsur-unsur sosialnya kurang beragam dibanding unsurunsur social masyarakat yang lebih besar. Di pesantren, unsur-unsur sosial
pokoknya tidak lebih dari kiai sebagai figur sentral, guru-guru atau asatizah
sebagai pembantu kiai, dan para santri. Kalau pun ada anasir sosial lain di luar
anasir pokok, seperti tukang masak, tukang kebun, dan para pekerja lainnya,
peran nyata lebih sebagai pelengkap miniatur masyarakat pokok saja. Artinya,
pesantren dapat disebut miniatur masyarakat yang memang kurang lengkap.
Sebagian menyebut istilah sub-kultur dari kultur masyarakat yang lebih besar
untuk pesantren. Fasilitas-fasilitas kehidupan masyarakat pesantren juga terbatas.
Yang paling pokok tentulah masjid, bangungan sekolah atau madrasah,
pemondokan atau asrama, dan fasilitas-fasilitas penunjang lainnya. Di pesantren
1

tentu tidak dijumpai sarana-sarana hiburan, seperti taman, mal, cafe, bioskop, dan
fasilitas-fasilitas penunjang kenikmatan hidup lainnya. Tapi justru karena ketidak
lengkapan unsur- unsur sosial dan fasilitas penunjang kenikmatan hidup itulah
pesantren dapat membangun dunia idealnya sendiri. Di pesantren dengan sistem
asrama yang kurang menyatu dengan masyarakat, nuansa dunia ideal atau
baldatunthayyibatun wa rabbun ghafur itu terasa sangat kuat.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana pendekatan sosial budaya dalam praktek kebidanan melalui
pendekatan pesantren?
2. Apa tujuan dan sasaran pendekatan sosial dalam praktek kebidanan melalui
pondok pesantren?
3. Bagaimana Pokok-pokok kegiatan upaya kesehatan santri?
1.3 Tujuan
1. Memberikan pengetahuan kepada pembaca tentang pendekatan sosial budaya
dalam praktek kebidanan melalui pendekatan pesantren
2. Mengetahui tujuan dan sasaran pendekatan sosial dalam praktek kebidanan
melalui pondok pesantren.
3. Untuk mengetahui Pokok-pokok kegiatan upaya kesehatan santri

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pendekatan Sosial Budaya dalam praktek kebidanan melalui pesantren
Kebidanan Kebidanan sendiri merupakan bagian integral dari sistim
kesehatan dan berkaitan dengan segala sesuatu yang menyangkut pendidikan,

praktek dan kode etik bidan dimana dalam memberikan pelayanannya


menyakini bahwa kehamilan dan persalinan adalah suatu proses fisiologi
normal dan bukan merupakan penyakit, walaupun pada beberapa kasus
mungkin berkomplikasi sejak awal karena kondisi tertentu atau komplikasi
bisa timbul kemudian. Fungsi kebidanan adalah untuk memastikan
kesejahteraan ibu dan janin/ bayinya, bermitra dengan perempuan,
menghormati martabat dan memberdayakansegala potensi yang ada padanya,
termasuk proses penjaminan kesehatan ibu danbayinya serta untuk
menghindari kasus gizi buruk bagi bayi.
Kemudian praktek kebidanan adalah asuhan yang diberikan oleh bidan
secara mandiri baik pada perempuan yang menyangkut proses reproduksi,
kesejahteraan ibu dan janin / bayinya, masa antara dalam lingkup praktek
kebidanan juga termasuk pendidikan kesehatan dalam hal proses reproduksi
untuk keluarga dan komunitasnya. Praktek kebidanan berdasarkan prinsip
kemitraan denganperempuan, bersifat holistik dan menyatukannya dengan
pemahaman akan pengaruhsosial, emosional, budaya, spiritual, psikologi dan
fisik

dari

pengalaman

reproduksinya.

Praktek

kebidanan

bertujuan

menurunkan / menekan mortalitasdan morbilitas ibu dan bayi yang


berdasarkan ilmu-ilmu kebidanan, kesehatan,medis dan sosial untuk
memelihara, meningkatkan dan melindungi kesehatan ibudan janin / bayinya.
Pendekatan Sosial Budaya dalam praktek kebidanan melalui pesantren dalam
praktek kebidanan melalui pesantren sebagai salah satu alternatif pemecahan
masalah dalam bidang kesehatan. Saat ini pesantren diharapkan dapat
berperan aktif dalam upaya memberdayakan masyarakat menuju perilaku
hidup bersih dan sehat, karena Pondok pesantren dianggap mampu menjadi
penggerak masyarakat baik di bidang agama, sosial, maupun ekonomi.
Cara Pendekatan sosial budaya dalam praktek kebidanan melalui pendekatan
Agama.
Agama dapat memberikan petunjuk/pedoman pada umat manusia
dalam menjalani hidup meliputi seluruh aspek kehidupan. Selain itu agama

juga dapat membantu umat manusia dalam memecahkan berbagai masalah


hidup yang sedang dihadapi.
Adapun aspek- aspek pendekatan melalui agama dalam memberikan
pelayanan kebidanan dan kesehatan diantaranya :
1. memberikan petunjuk kepada manusia

untuk

selalu

menjaga

kesehatannya.
2. Agama memberikan dorongan batin dan moral yang mendasar dan
melandasi cita-cita dan perilaku manusia dalam menjalani kehidupan yang
bermanfaat baik bagi dirinya, keluarga, masyarakat serta bangsa.
3. Agama mengharuskan umat manusia untuk beriman dan bertaqwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa dalam segala aktivitasnya.
4. Agama dapat menghindarkan umat manusia dari segala hal- hal/perbuatan
yang bertentangan dengan ajarannya.
Berbagai aspek agama dalam memberikan pelayanan kesehatan terdiri dari
upaya-upaya pelayanan kesehatan yang ditinjau dari segi agama, diantaranya :
1. Upaya pemeliharaan kesehatan
Upaya dini yang dilakukan dalam pemeliharaan kesehatan dimulai
sejak ibu hamil yaitu sejak janin di dalam kandungan. Hal tersebut
bertujuan agar bayi yang dilahirkan dalam keadaan sehat begitu juga
dengan ibunya. Kesehatan merupakan faktor utama bagi umat manusia
untuk dapat melakukan/ menjalani hidup dengan baik sehingga dapat
terhindari dari berbagai penyakit dan kecacatan.
Ada beberapa langkah yang dapat memberikan tuntunan bagi umat
manusia untuk memelihara kesehatan yang dianjurkanoleh agama antara
lain :
1. Makan makanan yang bergizi
2. Menjaga kebersihan (Hadist mengatakan : kebersihan sebagian dari
iman)
3. Berolah raga
4. Pengobatan diwaktu sakit
2. Upaya pencegahan penyakit
Dalam ajaran agama pencegahan penyakit lebih baik dari pada
pengobatan di waktu sakit. Adapun upaya-upaya pencegahan penyakit
antara lain:

1. Dengan pemberian imunisasi Imunisasi dapat diberikan kepada bayi


dan balita, ibu hamil, WUS, murid SD kelas 1 sampai kelas 3.
2. Pemberian ASI pada anak sampai berusia 2 tahun (Surah Al-Baqarah
ayat 233). Ayat tersebut pada dasarnya memerintahkan seorang ibu
untuk menyusui bayinya dengan ASI sampai ia berusia 2 tahun.
3. Memberikan penyuluhan kesehatan. Dapat dilakukan pada kelompok
pengajian, atau kelompok-kelompok kegiatan keagamaan lainnya.
3. Upaya pengobatan penyakit
Nabi saw bersabda : Bagi setiap penyakit yang diturunkan Allah, ada
obat yang diturunkan-Nya . Dalam hal ini umat manusia dianjurkan
untuk berobat jika sakit. Pandangan agama (agama Islam) terhadap
pelayanan Keluarga Berencana. Ada dua pendapat mengenai hal tersebui
yaitu memperbolehkan dan melarang penggunaan alat kontrasepsi. Karena
ada beberapa ulama yang .mengatakan penggunaan alat kontrasepsi itu
adalah sesuatu/hal yang sangat bertentangan dengan ajaran agama karena
berlawanan dengan takdir/kehendak Allah. Pendapat/pandangan agama
(agama Islam) dalam pemakaian IUD.
Ada dua pendapat yaitu memperbolehkan / menghalalkan dan
melarang / mengharamkan. Pendapat / pandangan agama yang
memperbolehkan/menghalalkan pemakaian kontrasepsi IUD :
a. Pemakaian IUD bertujuan menjarangkan kehamilan.
Dengan menggunakan kontrasepsi tersebut keluarga dapat
merencanakan jarak kehamilan sehingga ibu tersebut dapat menjaga
kesehatan ibu, anak dan keluarga dengan baik.
b. Pemakaian IUD bertujuan menghentikan kehamilan.
Jika didalam suatu keluarga memiliki jumlah anak yang
banyak, tentunya sangat merepotkan dan membebani perekonomian
keluarga. Selain itu bertujuan memberikan rasa aman kepada ibu.
Karena persalinan dengan factor resiko/ resiko tinggi dapat
mengancam keselamatan jiwa ibu. Agar ibu dapat beristirahat waktu
keseharian ibu tidak hanya digunakan untuk mengurusi anak dan
keluarga.

Pendapat/pandangan agama yang melarang/mengharamkan pemakaian


kontrasepsi IUD :
a. Pemakaian IUD bersifat aborsi, bukan kontrasepsi
b. Mekanisme IUD belum jelas, karena IUD dalam rahim tidak
menghalangi pembuahan sel telur bahkan adanya IUD sel mani masih
dapat masuk dan dapat membuahi sel telur (masih ada kegagalan).
c. Pemakaian IUD dan sejenisnya tidak dibenarkan selama masih ada
obat-obatan dan alat lainnya.
Selain itu pada waktu pemasangan dan pengontrolan IUD harus
dilakukan dengan melihat aura wanita. Pelayanan kotrasepsi system
operasi yaitu MOP dan MOW juga mempunyai dua pendapat/pandangan
yaitu

memperbolehkan

dan

melarang.

Pendapat/pandangan

yang

memperbolehkan:
a. Apabila pasangan suami istri dalam keadaan yang sangat terpaksa
dalam kaedah hukum (Islam) mengatakan Keadaan darurat
memperbolehkan

hal-hal

yang

dilarang

dengan

alasan

kesehatan/keselamatan jiwa .
b. Begitu juga halnya mengenai melihat aura orang lain apabila
diperlukan untuk kepentingan pemeriksaan dan tindakan hal tersebut
dapat dibenarkan.
Pandangan/pendapat yang melarang :
a. Sterilisasi berakhir dengan kemandulan. Hal ini bertentangan dengan
tujuan utama perkawinan yang mengatakan bahwa perkawinan
bertujuan untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat juga
untuk mendapatkan keturunan.
b. Mengubah ciptaan Tuhan dengan cara memotong atau mengikat
sebagian tubuh yang sehat dan berfungsi (saluran mani/tuba).
c. Dengan melihat aura orang lain
B. Tujuan dan sasaran pendekatan sosial dalam praktek kebidanan melalui
pondok pesantren.

Bidan harus memiliki keterampilan professional agar dapat memberikan


pelayanan kebidanan yang bermutu untuk memenuhi tuntutan kebutuhan
rasional, agar bidan dapat menjalankan peran fungsiya dengan baik maka
perlu adanya pendekatan social budaya yang dapat menjembati pelayanan
pasien. Tercapainya pelayanan kebidanan yang optimal, perlu adanya tenaga
bidan yang professional dan dapat diandalkan dalam memberikan pelayanan
kebidanan

berdasarkan

kaidah-kaidah

profesi,

antara

lain

memiliki

pengetahuan yang kuat, menggunakan pendekatan asuhan kebidanan. Bidan


dapat menunjukan otonominya dan akuntabilitas profesi melalui pendekatan
sosial dan budaya yang kuat. Bentuk-bentuk pendekatan yang dapat
digunakan oleh bidan dalam pelayanan kesehatan sebagai berikut.
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Pendekatan sosial
Survai mawas diri
Musyawarah masyarakat pondok pesantren
Pelatihan
Pelaksanaan kegiatan
Pembinaan
Pondok

pesantren

adalah

lembaga

pendidikan

islam

yang

mengembangkan fungsi pendalaman agama, kemasyarakatan dan penyiapan


sumber daya manusia. Melalui pedidikan agama, pendidikan formal,
pendidikan kesenian.
1. Tujuan umum
Tercapainya pengembangan dan pemantapan kemandirian pondok
pesantren dan masyrakat sekitar dalam bidang kesehatan.
2. Tujuan khusus
Tercapainya pengertian positif pondok pesantren dan masyarakat
sekitarnya tentang norma hidup sehat, meningkatkan peran serta pondok
pesantren dalam menyelenggarakan upaya kesehatan, terwujudnya
keteladanan hidup sehat di lingkungan pondok pesantren.
C. Pokok-pokok kegiatan upaya kesehatan santri

Untuk mendapatkan hasil guna dan daya guna yang optimal


sehubungan dengan peran serta Pesantern untuk melakukan pembinaan
kesehatan santri-santri diperlukan upaya-upaya yang meliputi :
1. Upaya Promotif
a. Pelatihan kader kesehatan Pondok Pesantern yaitu kegiatan pelatihan
santri-santri yang berada di Pondok Pesantren untuk menjadi kader
kesehatan yang akan membantu kegiatan pelayanan kesehatan di
Pondok Pesantren tersebut.
b. Penyuluhan kesehatan yang dilakukan oleh petugas kesehatan dan
pihak Pondok Pesantren tentang pesan-pesan kesehatan guna
meningkatkan pengetahuan sikap dan perilaku santri dan masyarakat
Pondok Pesantren mengenai kesehatn jasmani, mental dan sosial.
c. Perlombaan bidang kesehatn yaitu kegiatan yang sifatnya untuk
meningkatkan minat terhadap kegiatan kesehatn di Pondok Pesantren,
misalnya lomba kebersihan, lomba kesehatan dan lain-lain.
2. Upaya Preventif :
a. Imunisasi
Kegiatan yang dilakukan oleh pihak kesehatn dibantu pihak
Pondok Pesantern dalam rangka pencegahan terhadap penyakit
tertentu pada santri-santri yang masih berusia sekolah, misaln ya
imunisasi DT dan TT pada Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS).
b. Pemberantasan nyamuk dan sarangnya
kegiatan pencegahan penyakit yang disebabkan gigitan
nyamuk dengan jenis kegiatan pemberantasan sarang nyamuk yang
dilaksanakan oleh santri dan petugas serta pihak Pondok Pesantren.
c. Kesehatan lingkungan,
Suatu kegiatan berupa pengawasan dan pemeliharaan
lingkungan Pondok Pesantren berupa tempat pembuangan sampah, air
limbah, kotoran dan sarana air bersih. Kegiatan ini bertujuan guna
meningkatkan kesehatan lingkungan Pondok Pesantren.
d. Penjaringan kesehatan santri baru guna mengetahui status kesehatan
dan sedini mungkin menemukan penyakit yang diderita para santri.

e. Pemeriksaan berkala guna mengevaluasi kondisi kesehatan dan


penyakit para santri di Pondok Pesantren yang dialksanakan oleh
petugas kesehatn dibantu pihak Pondok Pesantren.

3. Upaya Kuratif dan rehabilitatif :


a. Pengobatan dilakukan oleh petugas kesehatan terhadap santri dan
masyarakat Pondok Pesantren yang sakit yang dirujuk pihak Pondok
Pesantren.
b. Rujukan kasus yaitu kegiatan merujuk santri dan mayarakat Pondok
Pesantren yang mmengidap penyakit tertentu ke fasilitas rujukan legih
lanjut untuk mencegah penyakit berkembang lebih lanjut.
Peran serta lain yang biasanya dilakukan oleh pihak Pondok Pesantern
adalah dalam hal pelayanan gizi di Pondok Pesantren dengan cara :
1. Pemantauan status gizi masyarakat Pesantren dengan kegiatan
penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan.
2. Pemanfaatan halaman/pekarangan, yaitu memanfaatkan lahan untuk
pertanian atau perikanan/peternakan guna kelengkapan gizi santri.
3. Penanggulangan masalah gizi. Kegiatan bekerja sama dengan pihak
kesehatan dalam rangka mengatasi masalah gizi utama (Gaki atau
gangguan akibat kekurangan iudiom, Anemia gizi besi, Kurang Energi
Protein, Kekurangan vitamin A).
4. Pengelolaan makanan memenuhi syarat kesehatan
Masalah lain yang juga berhubungan dengan peran serta Pondok
Pesantren guna meningkatkan derajat kesahatan masyarakat Pondok
Pesantern adalah tentang kesehatan lingkungan di Pondok Pesantren yang
meliputi :
1. Lingkungan dan bangunan pondok Pesantren haruslah dalam keadaan
bersih tersedia sarana sanitasi yang memadai dan memenuhi syarat
kesehatan., bangunan yang kukuh.
2. Tata Ruang, sesuai dengan kebutuhan dan perencanaan.
3. Konstruksi bangunan sesuai dengan persyaratan kesehatan.

4. Kamar/ruang cukup untuk dihuni oleh santri dan sesuai dengan


ketentuan kesehatan.
Keterlibatan Pondok Pesantren dalam hal kesehatan yang lain adalah
tersedianya Pos Obat Desa (POD). Pos Obat Desa yang dimaksud adalah
suatu tempat dimana masyarakat warga Pondok Pesantren yang sakit dapat
dengan mudah memperoleh obat untuk mengobati santri dengan murah
dan bermutu. Obat-pbat yang dipakai adalah obat-obat yang diperbolehkan
yaitu sesuai dengan letentuan dari pihak kesehatan. Pengelola POD adalah
kader yang telah dilatih yang berada di Pondok Pesantren.

BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan

10

Ketika pesantren mengaktifkan praktek kebidanan maka ini berarti


pesantren tidak hanya menjadi wadah yang menyampaikan pesan
agamatetapi juga pesantren telah menyampaikan pesan kesehatan dan ini
sesuai dengan nilai-nilai agama islam yang kita anut, dimana agama
menekankan kepada kitauntuk menjaga kebersihan dan kesehatan, karena
merupakan bahagian dari iman.
Jadi dengan adanya peraktek kebidanan dalam pesantern maka
diharapkan hal ini dapat meningkatkan kondisi atau derajat kesehatan dan
status gizi masyarakat yang masih memprihatinkan demi pencapaian
kesejahteraan sosial.
2. Saran
Kebersihan sebagian dari iman. Slogan yang begitu terkenal itu
menjadi pemicu bagi umat untuk senantiasa menjaga kebersihan, rohani
maupun

jasmani.

Barang

siapa

yangdalam

keseharian

mampu

menjalankan pola hidup sehat baik di lingkungan maupunpribadi, maka


hal itu akan berdampak pada peningkatan kualitas imannya. Dan itu
menjadi sebuah langkah efektif ketika diterapkan dalam pondok pesantren
sebagai salah miniatur masyarakat, meskipun kehidupan sosial budaya
dalam pesantren berbeda dengan kebanyakan kehidupan sosial budaya
masyarakat yang ada diluar pesantren.

DAFTAR PUSTAKA
http://infolanijaya.blogspot.com/2009/05/pendekatan-sosial-budaya-dalampraktek.html. Diakses pada tanggal 8 November 2014.

11

http://dheeachtkeyz.blogspot.com/2010/11/cara-pendekatan-sosial-budayadalam.html. Diakses pada tanggal 8 November 2014.


http://bidantari.blogspot.com/2013/03/ilmu-sosial-budaya-dasarkebidanan.html. Diakses tanggal 8 November 2014.
http://bidantari.blogspot.com/2013/03/ilmu-sosial-budaya-dasarkebidanan.html. Diakses tanggal 8 November 2014.

12