Anda di halaman 1dari 370

UPAYA KESEHATAN WAJIB

UPAYA PROMOSI KESEHATAN


1

Penyusun:
Kirana Asmara

(03005131)

Meitty Marisha

(03005143)

BAB I
PENDAHULUAN

Dewasa ini promosi kesehatan (health promotion) telah menjadi bidang yang semakin
penting dari tahun ke tahun. Dalam tiga dekade terakhir, telah terjadi perkembangan yang
signifikan dalam hal perhatian dunia mengenai masalah promosi kesehatan. Pada 21
November 1986, World Health Organization (WHO) menyelenggarakan Konferensi
Internasional Pertama bidang Promosi Kesehatan yang diadakan di Ottawa, Kanada.
Konferensi ini dihadiri oleh para ahli kesehatan seluruh dunia, dan menghasilkan sebuah
dokumen penting yang disebut Ottawa Charter (Piagam Ottawa). Piagam ini menjadi rujukan
bagi program promosi kesehatan di tiap negara, termasuk Indonesia.
Dalam Piagam Ottawa disebutkan bahwa promosi kesehatan adalah proses yang
memungkinkan orang-orang untuk mengontrol dan meningkatkan kesehatan mereka (Health
promotion is the process of enabling people to increase control over, and to improve, their
health, WHO, 1986). Jadi, tujuan akhir promosi kesehatan adalah menanamkan kesadaran
pada masyarakat tentang pentingnya kesehatan bagi mereka sehingga mereka sendirilah yang
akan melakukan usaha-usaha untuk menyehatkan diri mereka.
Promosi kesehatan

menjelaskan bahwa untuk mencapai derajat kesehatan yang

sempurna, baik fisik, mental, maupun sosial, individu atau kelompok harus mampu mengenal
serta mewujudkan aspirasi-aspirasinya untuk memenuhi kebutuhannya agar mampu
mengubah atau mengatasi lingkungannya (lingkungan fisik, sosial budaya, dan sebagainya).
Untuk itu, promosi kesehatan tidak hanya merupakan tanggung jawab dari sektor kesehatan,
akan tetapi jauh melampaui gaya hidup secara sehat untuk kesejahteraan (WHO, 1986).
Penyelenggaraan promosi kesehatan dilakukan dengan mengombinasikan berbagai
strategi yang tidak hanya melibatkan sektor kesehatan belaka, melainkan lewat kerjasama dan
koordinasi segenap unsur dalam masyarakat. Hal ini didasari pemikiran bahwa promosi
kesehatan adalah suatu filosofi umum yang menitikberatkan pada gagasan bahwa kesehatan
yang baik merupakan usaha individu sekaligus kolektif (Taylor, 2003).
Bagi individu, promosi kesehatan terkait dengan pengembangan program kebiasaan
kesehatan yang baik sejak muda hingga dewasa dan lanjut usia (Taylor, 2003). Secara
kolektif, berbagai sektor, unsur, dan profesi dalam masyarakat seperti praktisi medis,
psikolog, media massa, para pembuat kebijakan publik dan perumus perundang-undangan
dapat dilibatkan dalam program promosi kesehatan. Praktisi medis dapat mengajarkan kepada

masyarakat mengenai gaya hidup yang sehat dan membantu mereka memantau atau
menangani risiko masalah kesehatan tertentu.
Para psikolog berperan dalam promosi kesehatan lewat pengembangan bentuk-bentuk
intervensi untuk membantu masyarakat memraktikkan perilaku yang sehat dan mengubah
kebiasaan yang buruk.
Media massa dapat memberikan kontribusinya dengan menginformasikan kepada
masyarakat perilaku-perilaku tertentu yang berisiko terhadap kesehatan seperti merokok dan
mengonsumsi alkohol.
Para pembuat kebijakan melakukan pendekatan secara umum lewat penyediaan
informasi-informasi yang diperlukan masyarakat untuk memelihara dan mengembangkan
gaya hidup sehat, serta penyediaan sarana-sarana dan fasilitas yang diperlukan untuk
mengubah kebiasaan buruk masyarakat. Berikutnya, perumus perundang-undangan dapat
menerapkan aturan-aturan tertentu untuk menurunkan risiko kecelakaan seperti misalnya
aturan penggunaan sabuk pengaman di kendaraan (Taylor, 2003)

BAB II
PENGERTIAN
Promosi kesehatan adalah upaya membantu masyarakat memberdayakan dirinya
untuk memelihara, meningkatkan dan melindungi kesehatannya.
Menurut WHO tahun 1986, Promosi Kesehatan adalah proses yang memberdayakan manusia
untuk mengendalikan dan meningkatkan kesehatan mereka sendiri.
Menurut Green dan Ottoson (1998) Promosi Kesehatan adalah kombinasiberbagai
dukungan menyangkut pendidikan, organisasi, kebijakan, dan peraturan perundangan untuk
perubahan lingkungan dan perilaku yang menguntungkan kesehatan.
Menurut definisi yang selama ini dipakai oleh Pusat Promosi Keehatan, Promosi
Kesehatan itu adalah proses memberdayakan atau memandirikan masyarakat agar mampu
memelihara, meningkatkan, dan melindungi, kesehatannya melalui peningkatan kesadaran,
kemauan dan kemampuan, serta pengembangan lingkungan sehat.

Dalam pengertian Promosi Kesehatan tersebut terkandung beberapa pengertian operasional


sebagai berikut:
Promosi Kesehatan merupakan bagian dari upaya kesehatan masyarakat (Public
Health) secara keseluruhan, yang fokusnya adalah: pemberdayaan masyarakat, yaitu upaya
agar masyarakat dapat memelihara, meningkatkan, dan melindungi kesehatannya. Dengan
demikian, Promosi Kesehatan lebih bersifat upaya promotif-preventif, tanpa
mengesampingkan upaya kuratif-rehabilitatif.
Pemberdayaan dilakukan dengan menumbuhkan kesadaran, kemauan dan
kemampuan mayarakat untuk hidup sehat, sehingga penekanan Promosi Kesehatan pada
pengembangan perilaku dan lingkungan sehat.
Pemberdayaan tersebut merupakan upaya kemitraan berbagai pihak dan merupakan
upaya dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat, sehingga masyarakat aktif sebagai pelaku
atau subyek, bukan pasif menunggu sebagai obyek semata.

Pemberdayaan dilakukan sesuai dengan kondisi dan budaya setempat, sehingga Promosi
Kesehatan diwarnai oleh suasana lokal.

BAB III
TUJUAN
Tujuan Umum
Tercapainya perubahan perilaku individu, keluarga dan masyarakat dalam membina dan
memelihara perilaku sehat dan lingkungan sehat, serta berperan aktif dalam upaya
mewujudkan derajat kesehatan yang optimal, dan juga memberdayakan kemampuan
masyarakat untuk hidup lebih sehat.

Tujuan Khusus
Timbulnya kesadaran penduduk akan nilai kesehatan.
Meningkatnya pengembangan Puskesmas dan pemanfaatannya sebagai sarana pelayanan
kesehatan dan sebagai sumber penerangan dan penyuluhan kesehatan
Terbantunya orang-orang dan masyarakat pada umumnya, dalam menjaga kesehatan mereka
pada tingkat yang sebaik-baiknya.

Tujuan Promosi Kesehatan secara Keseluruhan


Tersosialisasinya program-program kesehatan, terwujudnya masyarakat Indonesia baru yang
berbudaya hidup bersih dan sehat, serta tumbuhnya gerakan hidup sehat di masyarakat,
menuju terwujudnya kabupaten atau kota sehat, propinsi sehat, Indonesia sehat 2010.

Tujuan PHBS
Meningkatnya pengetahuan, kesadaran, kemauan dan kemampuan masyarakat agar
hidup bersih dan sehat, serta meningkatnya peran serta aktif masyarakat termasuk swasta dan
dunia usaha, dalam upaya mewujudkan derajat kesehatan yang optimal.
Tujuan Penyuluhan Kesehatan
6

Tercapainya perubahan perilaku individu, keluarga dan masyarakat dalam membina


dan memelihara perilaku sehat dan lingkungan sehat serta berperan aktif dalam upaya
mewujudkan derajat kesehatan yang optimal.

BAB IV
KEGIATAN
Promosi kesehatan mencakup baik kegiatan promosi (promotif), pencegahan penyakit
(preventif), pengobatan (kuratif), maupun rehabilitasi. Dalam hal ini, orang-orang yang sehat
maupun mereka yang terkena penyakit, semuanya merupakan sasaran kegiatan promosi
kesehatan. Kemudian, promosi kesehatan dapat dilakukan di berbagai ruang kehidupan,
dalam keluarga, sekolah, tempat kerja, tempat-tempat umum, dan tentu saja kantor-kantor
pelayanan kesehatan.
Promosi kesehatan bersifat lebih luas atau lebih makro lagi dan lebih menyentuh sisi
advokasi pada level pembuat kebijakan di mana promosi kesehatan berusaha melakukan
perubahan pada lingkungan dengan harapan terjadinya perubahan perilaku yang lebih baik
(Kapalawi, 2007). Menurut Green dan Ottoson (dalam Iqi, 2008), promosi kesehatan adalah
kombinasi berbagai dukungan menyangkut pendidikan, organisasi, kebijakan, dan peraturan
perundangan untuk perubahan lingkungan dan perilaku yang menguntungkan kesehatan.
Oleh karena itu, lingkup promosi kesehatan dapat disimpulkan sebagai berikut (Iqi, 2008):
1. Pendidikan kesehatan (health education) yang penekanannya pada perubahan/
perbaikan perilaku melalui peningkatan kesadaran, kemauan, dan kemampuan.
2. Pemasaran sosial (social marketing), yang penekanannya pada pengenalan produk/
jasa melalui kampanye.
3. Upaya penyuluhan (upaya komunikasi dan informasi) yang tekanannya pada
penyebaran informasi.
4. Upaya peningkatan (promotif) yang penekanannya pada upaya pemeliharaan dan
peningkatan kesehatan.
7

5. Upaya advokasi di bidang kesehatan, yaitu upaya untuk memengaruhi lingkungan atau
pihak lain agar mengembangkan kebijakan yang berwawasan kesehatan (melalui
upaya legislasi atau pembuatan peraturan, dukungan suasana, dan lain-lain di berbagai
bidang/sektor, sesuai keadaan).
6. Pengorganisasian masyarakat (community organization), pengembangan masyarakat
(community development), penggerakan masyarakat (social mobilization),
pemberdayaan masyarakat (community empowerment), dll.
Kesehatan memerlukan prasyarat-prasyarat yang terdiri dari berbagai sumber daya dan
kondisi dasar, meliputi perdamaian (peace), perlindungan (shelter), pendidikan (education),
makanan (food), pendapatan (income), ekosistem yang stabil (a stable eco-system), sumber
daya yang berkesinambungan (a sustainable resources), serta kesetaraan dan keadilan sosial
(social justice and equity) (WHO, 1986). Upaya-upaya peningkatan promosi kesehatan harus
memerhatikan semua prasyarat tersebut.

WHO, lewat Konferensi Internasional Pertama tentang Promosi Kesehatan di Ottawa


pada tahun 1986, telah merumuskan sejumlah kegiatan yang dapat dilakukan oleh setiap
negara untuk menyelenggarakan promosi kesehatan. Berikut akan disediakan terjemahan dari
Piagam Ottawa pada bagian yang diberi subjudul Health Promotion Action Means. Menurut
Piagam Ottawa, kegiatan-kegiatan promosi kesehatan berarti:
Membangun kebijakan publik berwawasan kesehatan (build healthy public policy)
Promosi kesehatan lebih daripada sekadar perawatan kesehatan. Promosi kesehatan
menempatkan kesehatan pada agenda dari pembuat kebijakan di semua sektor pada semua
level, mengarahkan mereka supaya sadar akan konsekuensi kesehatan dari keputusan mereka
dan agar mereka menerima tanggung jawab mereka atas kesehatan.
Kebijakan promosi kesehatan mengombinasikan pendekatan yang berbeda namun
dapat saling mengisi termasuk legislasi, perhitungan fiskal, perpajakan, dan perubahan
organisasi. Ini adalah kegiatan yang terkoordinasi yang membawa kepada kesehatan,
pendapatan, dan kebijakan sosial yang menghasilkan kesamaan yang lebih besar. Kegiatan
terpadu memberikan kontribusi untuk memastikan barang dan jasa yang lebih aman dan lebih
sehat, pelayanan jasa publik yang lebih sehat dan lebih bersih, dan lingkungan yang lebih
menyenangkan.
8

Menciptakan lingkungan yang mendukung (create supportive environments)


Kesehatan tidak dapat dipisahkan dari tujuan-tujuan lain. Kaitan yang tak terpisahkan
antara manusia dan lingkungannya menjadikan basis untuk sebuah pendekatan sosio-ekologis
bagi kesehatan. Prinsip panduan keseluruhan bagi dunia, bangsa, kawasan, dan komunitas
yang serupa, adalah kebutuhan untuk memberi semangat pemeliharaan yang timbal-balik
untuk memelihara satu sama lain, komunitas, dan lingkungan alam kita.
Promosi kesehatan menciptakan kondisi hidup dan kondisi kerja yang aman, yang
menstimulasi, memuaskan, dan menyenangkan. Penjajakan sistematis dampak kesehatan dari
lingkungan yang berubah pesat.terutama di daerah teknologi, daerah kerja, produksi energi
dan urbanisasi- sangat esensial dan harus diikuti dengan kegiatan untuk memastikan
keuntungan yang positif bagi kesehatan masyarakat. Perlindungan alam dan lingkungan yang
dibangun serta konservasi dari sumber daya alam harus ditujukan untuk promosi kesehatan
apa saja.

Memerkuat kegiatan-kegiatan komunitas (strengthen community actions)


Promosi kesehatan bekerja melalui kegiatan komunitas yang konkret dan efisien
dalam mengatur prioritas, membuat keputusan, merencanakan strategi dan melaksanakannya
untuk mencapai kesehatan yang lebih baik. Inti dari proses ini adalah memberdayakan
komunitas -kepemilikan mereka dan kontrol akan usaha dan nasib mereka. Pengembangan
komunitas menekankan pengadaan sumber daya manusia dan material dalam komunitas
untuk mengembangkan kemandirian dan dukungan sosial, dan untuk mengembangkan sistem
yang fleksibel untuk memerkuat partisipasi publik dalam masalah kesehatan. Hal ini
memerlukan akses yang penuh serta terus menerus akan informasi, memelajari kesempatan
untuk kesehatan, sebagaimana penggalangan dukungan.

Mengembangkan keterampilan individu (develop personal skills)


Promosi kesehatan mendukung pengembangan personal dan sosial melalui
penyediaan informasi, pendidikan kesehatan, dan pengembangan keterampilan hidup.
Dengan demikian, hal ini meningkatkan pilihan yang tersedia bagi masyarakat untuk melatih
dalam mengontrol kesehatan dan lingkungan mereka, dan untuk membuat pilihan yang
kondusif bagi kesehatan.
9

Reorientasi pelayanan kesehatan (reorient health services)


Tanggung jawab untuk promosi kesehatan pada pelayanan kesehatan dibagi di antara
individu, kelompok komunitas, profesional kesehatan, institusi pelayanan kesehatan, dan
pemerintah. Mereka harus bekerja sama melalui suatu sistem perawatan kesehatan yang
berkontribusi untuk pencapaian kesehatan. Peran sektor kesehatan harus bergerak meningkat
pada arah promosi kesehatan, di samping tanggung jawabnya dalam menyediakan pelayanan
klinis dan pengobatan. Pelayanan kesehatan harus memegang mandat yang meluas yang
merupakan hal sensitif dan ia juga harus menghormati kebutuhan kultural. Mandat ini harus
mendukung kebutuhan individu dan komunitas untuk kehidupan yang lebih sehat, dan
membuka saluran antara sektor kesehatan dan komponen sosial, politik, ekonomi, dan
lingkungan fisik yang lebih luas. Reorientasi pelayanan kesehatan juga memerlukan perhatian
yang kuat untuk penelitian kesehatan sebagaimana perubahan pada pelatihan dan pendidikan
profesional. Hal ini harus membawa kepada perubahan sikap dan pengorganisasian pelayanan
kesehatan dengan memfokuskan ulang kepada kebutuhan total dari individu sebagai manusia
seutuhnya.

Bergerak ke masa depan (moving into the future)


Kesehatan diciptakan dan dijalani oleh manusia di antara pengaturan dari kehidupan
mereka sehari-hari di mana mereka belajar, bekerja, bermain, dan mencintai. Kesehatan
diciptakan dengan memelihara satu sama lain dengan kemampuan untuk membuat keputusan
dan membuat kontrol terhadap kondisi kehidupan seseorang, dan dengan memastikan bahwa
masyarakat yag didiami seseorang menciptakan kondisi yang memungkinkan pencapaian
kesehatan oleh semua anggotanya. Merawat, kebersamaan, dan ekologi adalah isu-isu yang
penting dalam mengembangkan strategi untuk promosi kesehatan. Untuk itu, semua yang
terlibat harus menjadikan setiap fase perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi kegiatan
promosi kesehatan serta kesetaraan antara pria dan wanita sebagai acuan utama.
Dari enam hal di atas, setidaknya dapat disimpulkan dua kata kunci kegiatan promosi
kesehatan, yakni advokasi (advocacy) dan pemberdayaan (empowerment).
Advokasi

10

Advokasi terhadap kesehatan merupakan sebuah upaya yang dilakukan orang-orang di


bidang kesehatan, utamanya promosi kesehatan, sebagai bentuk pengawalan terhadap
kesehatan. Advokasi ini lebih menyentuh pada level pembuat kebijakan, bagaimana orangorang yang bergerak di bidang kesehatan bisa memengaruhi para pembuat kebijakan untuk
lebih tahu dan memerhatikan kesehatan. Advokasi dapat dilakukan dengan memengaruhi para
pembuat kebijakan untuk membuat peraturan-peraturan yang bisa berpihak pada kesehatan
dan peraturan tersebut dapat menciptakan lingkungan yang dapat mempengaruhi perilaku
sehat dapat terwujud di masyarakat (Kapalawi, 2007). Advokasi bergerak secara top-down
(dari atas ke bawah). Melalui advokasi, promosi kesehatan masuk ke wilayah politik.
Pemberdayaan
Di samping advokasi kesehatan, strategi lain dari promosi kesehatan adalah pemberdayaan
masyarakat di dalam kegiatan-kegiatan kesehatan. Pemberdayaan masyarakat dalam bidang
kesehatan lebih kepada untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam bidang kesehatan.
Jadi sifatnya bottom-up (dari bawah ke atas). Partisipasi masyarakat adalah kegiatan
pelibatan masyarakat dalam suatu program. Diharapkan dengan tingginya partisipasi dari
masyarakat maka suatu program kesehatan dapat lebih tepat sasaran dan memiliki daya
ungkit yang lebih besar bagi perubahan perilaku karena dapat menimbulkan suatu nilai di
dalam masyarakat bahwa kegiatan-kegiatan kesehatan tersebut itu dari kita dan untuk kita
(Kapalawi, 2007).
Dengan pemberdayaan masyarakat, diharapkan masyarakat dapat berperan aktif atau
berpartisipasi dalam setiap kegiatan. Sebagai unsur dasar dalam pemberdayaan, partisipasi
masyarakat harus ditumbuhkan. Pemberdayaan masyarakat dalam bidang kesehatan pada
dasarnya tidak berbeda dengan pemberdayaan masyarakat dalam bidang-bidang lainnya.

Partisipasi dapat terwujud dengan syarat (Tawi, 2008):


1. Adanya saling percaya antaranggota masyarakat
2. Adanya ajakan dan kesempatan untuk berperan aktif
3. Adanya manfaat yang dapat dan segera dapat dirasakan oleh masyarakat
4. Adanya contoh dan keteladanan dari tokoh/pemimpin masyarakat.

11

Partisipasi itu harus didukung oleh adanya kesadaran dan pemahaman tentang bidang yang
diberdayakan, disertai kemauan dari kelompok sasaran yang akan menempuh proses
pemberdayaan. Dengan begitu, kegiatan promosi kesehatan akan berlangsung dengan sukses.

Pelaksanaan kegiatan di Puskesmas Kecamatan Cilandak


Kegiatan Promkes yang dilakukan di Puskesmas Kecamatan Cilandak

meliputi

kegiatan:Advokasi kesehatan, misalnya adanya kebijakan gerakan PSN-3M selama 30 menit


setiap hari jumat
Gerakan masyarakat, berupa pengenalan masalah kesehatan oleh masyarakat dan
melaksanakan para kader atau tenaga pelaksana yang terlatih, misalnya dengan adanya
Jumantik (Juru Pemantau Jentik) di tingkat RT.
Bina suasana, misalnya melalui berbagai kegiatan penyuluhan (penyuluhan di
Posyandu balita setiap bulan di hari Rabu minggu pertama, Posyandu Lansia setiap hari
Senin minggu pertama), pelatihan kader-kader Posyandu untuk imunisasi Mopping Up Polio,
dan lokakarya.
Berdasarkan kegiatan di lapangan (dalam hal ini di Puskesmas kecamatan Tebet), baik
yang dilakukan di dalam maupun di luar gedung Puskesmas, hasilnya adalah cukup baik.
Namun, petugas yang tersedia masih terbatas. Tanggapan masyarakat terhadap kegiatan yang
diikutinya cukup baik.

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat


PHBS di Rumah Tangga adalah upaya untuk memberdayakan anggota rumah tangga
agar tahu, mau dan mampu mempraktikkan perilaku hidup bersih dan sehat serta berperan
aktif dalam gerakan kesehatan di masyarakat. PHBS di Rumah Tangga dilakukan untuk
mencapai Rumah Tangga ber PHBS yang melakukan 10 PHBS yaitu:
1. Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan
2. Memberi ASI Esklusif
3. Menimbang Bayi tiap bulan
4. Menggunakan air bersih
12

5. Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun


6. Menggunakan jamban sehat
7. Memberantas jentik di rumah seminggu sekali
8. Makan bah dan sayur setiap hari
9. Melakukan aktifitas fisik setiap hari
10. Tidak Merokok di dalam rumah

PHBS di Institusi Kesehatan adalah upaya untuk memberdayakan pasien, masyarakat


pengunjung dan petugas agar tahu, mau dan mampu untuk mempraktikkan Perilaku Hidup
Bersih dan Sehat dan berperan aktif dalam mewujudkan Institusi Kesehatan Sehat dan
mencegah penularan penyakit di institusi kesehatan. Ada beberapa indikator yang dipakai
sebagai ukuran untuk menilai PHBS di Institusi Kesehatan yaitu :
Menggunakan air bersih
Menggunakan Jamban
Membuang sampah pada tempatnya
Tidak merokok di institusi kesehatan
Tidak meludah sembarangan
Memberantas jentik nyamuk
PHBS di Tempat - tempat Umum adalah upaya untuk memberdayakan masyarakat
pengunjung dan pengelola tempat - tempat umum agar tahu, mau dan mampu untuk
mempraktikkan PHBS dan berperan aktif dalam mewujudkan tempat - tempat Umum
Sehat.
Tempat - tempat Umum adalah sarana yang diselenggarakan oleh pemerintah/swasta,
atau perorangan yang digunakan untuk kegiatan bagi masyarakat seperti sarana
pariwisata, transportasi, sarana ibadah, sarana perdagangan dan olahraga, rekreasi dan
sarana sosial lainnya. Ada beberapa indikator yang dipakai sebagai ukuran untuk
menilai PHBS di Tempat - Tempat Umum yaitu :
1. Menggunakan air bersih
2. Menggunakan jamban
3. Membuang sampah pada tempatnya
4. Tidak merokok di tempat umum
13

5. Tidak meludah sembarangan

PHBS di Sekolah adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikkan oleh peserta didik,
guru dan masyarakat lingkungan sekolah atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran,
sehingga secara mandiri mampu mencegah penyakit, meningkatkan kesehatannya, serta
berperan aktif dalam mewujudkan lingkungan sehat. Ada beberapa indikator yang dipakai
sebagai ukuran untuk menilai PHBS di sekolah yaitu:
Mencuci tangan dengan air yang mengalir dan menggunakan sabun

Mengkonsumsi jajanan sehat di kantin sekolah

Menggunakan jamban yang bersih dan sehat


Olahraga yang teratur dan terukur
Memberantas jentik nyamuk
Tidak merokok di sekolah
Menimbang berat badan dan mengukur tinggi badan setiap 6 bulan
Membuang sampah pada tempatnya

PHBS di Tempat kerja adalah upaya untuk memberdayakan para pekerja agar tahu,
mau dan mampu mempraktikkan perilaku hidup bersih dan sehat serta berperan aktif dalam
mewujudkan Tempat Kerja Sehat Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Tempat kerja
antara lain :

Tidak merokok di tempat kerja

Membeli dan mengkonsumsi makanan dari tempat kerja

Melakukan olahraga secara teratur/aktifitas fisik

Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun sebelum makan dan sesudah buang air
besar dan buang air kecil

Memberantas jentik nyamuk di tempat kerja

Menggunakan air bersih

Menggunakan jamban saat buang air kecil dan besar

Membuang sampah pada tempatnya

Mempergunakan Alat Pelindung Diri (APD) sesuai jenis pekerjaan


14

BAB V
SASARAN
15

SASARAN
Digolongkan atas masyarakat yang sudah ada dalam suatu system tertentu yang disebut
sebagai tatanan/pranata
Tatanan

Sasaran Primer

Sasaran Sekunder

Sasaran Tersier

Rumah tangga

Anggota keluarga

Ibu

Kepala keluarga

Institusi pendidikan

Seluruh siswa

Guru,karyawan,OSIS

Kepala sekolah

Tempat kerja

Seluruh karyawan

Pengurus/sarikat

Direksi/pemilik

pekerja
Tempat umum

Pengunjung

Pegawai/karyawan

Direksi/pemilik

Institusi kesehatan

Pasien/pengunjung

Petugas kesehatan

Pimpinan/direktur

Strategi dan manajemen PKM puskesmas


Dalam management PKM, dikenal

3 strategi, yaitu pemberdayaan masyarakat

(empowerment), pembinaan dukungan suasana (social support), dan pendekatan pimpinan/


kelompok (advocacy). Ketiga strategi tersebut harus dilakukan secara bersamaan, saling
mengisi, dan melengkapi. Secara lebih jelas ketiga strategi tersebut dapat dilihat dibawah ini :
Strategi
Pemberdayaaan

Sasaran
Primer

(empowerment)

Tujuan

Cara

Peningkatan

Penyuluhan

pengetahuan sikap dan

perorangan, kelompok

perilaku (PHBS)

dan masal, pelatihan,


distribusi bahan
penyuluhan

Pembinaan suasana

Sekunder

(social support)
Pendekatan pimpinan

Tersier

Pengembangan

Pendekatan

pendapat umum,opini,

peroramngan dan

norma

kelompok

Persetujuan, dukungan

Konsultasi, pertemuan

(advocacy)

Manajemen PKM di puskesmas


Manajemen PKM di puskesmas dilaksanakan melalui 4 fungsi tahapan, yaitu :
Pengkajian
16

Pemantauan dan

Perencanaan

Penilaian

Penggerakan dan
Pelaksanaan

Secara singkat, tahapan manajemen PKM dapat dilihat dalam table berikut:
Tahapan manajemen

Luaran

a. Pengkajian
(i)

Pengkajian masalah kesehatan

10 penyakit terbanyak,factor pendorong

(ii)

Pengkajian masalah PHBS

Pemetaan masalah PHBS

(iii)

Pemetaan wilayah

Masalah strata kesehatan wilayah

(iv)

Pengkajian sumber daya

Ketersediaan SDM

b. Perencanaan

Rumusan tujuan,kegiatan,intervensi dan jadwal


kegiatan

c. Penggerakan dan pelaksanaan

Daftar kegiatan dan penanggung jawab masingmasing kegiatan yang telah disepakati

d. Pemantauan dan penilaian

Rencana pertemuan/supervisi berkala


Rencana evaluasi akhir tahun

Kebijaksanaan Pelaksanaan Penyuluhan Kesehatan Masyarakat


Untuk mencapai tujuan dan sasaran tersebut,kegiatan promosi kesehatan masyarakat
dilaksanakan sebagai berikut :
a. Penyuluhan kesehatan masyarakat merupakan bagian integral dari setiap program
kesehatan dan berfungsi sebagai katalisator program-program tersebut.
b. Peningkatan perilaku penduduk dalam membina hidup sehat juga diarahkan untuk
meningkatkan peran sertanya mewujudkan masyarakat yang mandiri dalam membina
derajat kesehatan yang dimulai dalam keluarganya.

17

c. Penyuluhan kesehatan merupakan upaya yang dilaksanakan baik oleh pemerintah


secar a lintas program dan lintas sektoral, maupun oleh masyarakat termasuk pihak
LSM.
d. Puskesmas dimanfaatkan sebagai pusat pengembangan dan pembinaan kesadaran dan
peran serta masyarakat di bidang kesehatan di wilayahnya.
e. Sikap mental petugas kesehatan, terutama yang akan dikembangkan dan diarahkan
kea rah sikap mental yang partisipatif dan lebih berorientasi pada aspek pencegahan
dan peningkatan.
f. Peningkatan penyuluhan kesehatan pada lembaga-lembaga pendidikan dasar,
pemerintah, dan swasta agar kesadaran dan perilaku hidup sehat dapat ditumbuhkan
dan dibudidayakan sedini mungkin.

Penyuluhan kesehatan masyarakat di puskesmas Kecamatan Cilandak


Agar dapat mencapai tujuan penyuluhan kesehatan masyarakat , maka upaya kegiatan
penyuluhan perlu diselaraskan dengan fungsi dan tugas puskesmas serta kemampuan
daripada sumber tenaga, dana, serta sarana yang dimiliki.
Pelaksanaaan kegiatan puskesmas yang biasa dilaksanakan ialah :
a. Penyuluhan institusi : kegiatan penyuluhan yang dilakukan di institusi bersangkutan
seperti puskesmas, ataupun di rumah tinggal para dokter dan paramedic.
Secara tidak langsung

Secar a langsung

Memberi tauladan serta contoh dari para

Dialog do kamar periksa antara dokter

dokter atau paramedic

dan pasien

Penampilan yang rapih dan sehat dari

Dialog dokter, paramedik, dan keluarga

bangunan puskesmas

pasien tentang hal yang bias dilakukan


pasien atau keluarga pasien

Menggunakan media penyuluhan, seperti

Melakukan penyuluhan kelompok di

poster dll

puskes yang sudah direncanakan.

b. Penyuluhan di masyarakat (di luar gedung puskesmas) : pelaksanaannya dilaksanakan


berdasarkan pendekatan edukatif melalui tahap-tahap berikut:
1. Pertemuan tingkat kecamatan : tujuannya ialah memeperoleh kesepakatan dan
dukungan dari pimpinan wilayah

18

2. Pertemuan tingkat desa : tujuannya ialah memeperoleh kesepakatan dan dukungan


dari kepala desa bererta aparatnya
3. Melakukan survey mawas diri : mendapatkan data dari msyarakat tentang idea tau
program promosi kesehatan yang akan diterapkan kepada mereka.
4. Perencanaan: membuat rencana penyuluhan kesehatan
5. Pelaksanaan penyuluhan : dalam pelaksaan, perlu dilibatkan masyarakat dan
petugas harus mampu menerapkan metode dan tehnik penyuluhan
6. Evaluasi kegiatan penyuluhan : evaluasi dilakukan sesuai dengan tehnik
penyuluhan yang dilakukan.

Metode dan tehnik penyuluhan masyarakat


A. Metode
Secara sederhana pengertiannya adalah cara untuk melaksanakan penyuluhan kepada
masyarakat.Untuk mengetahui metode apa yang dipilih perlu ditentukan terlebih dahulu
tahapan perubahan perilaku yang ingin dicapai :
Metode untuk merubah

Metode untuk merubah sikap Metode untuk merubah

pengetahuan

tindakan

Ceramah

Diskusi kelompok

Latihan sendiri

Kuliah

Tanya jawab

bengKel kerja

Presentasi

Role playing

demonstrasi

Wisata karya

Pemutaran film

experiment

Curah pendapat

Video

Seminar

Tape recorder

Studi kasus

Simulasi

Tugas baca

Symposium

Panel

Konferensi

Menentukan sasaran
Karena keterbatasan sumber daya, maka metode penyuluhan yang paling sering dilakukan
puskesmas adalah ceramah yang disertai Tanya jawab, wawancara dan demonstrasi.
B.Teknik penyampaian
Ceramah
19

Ceramah adalah salah satu cara menerangkan atau menjelaskan suatu ide, pengertian
atau pesan secara lisn kepada suatu kelompok pendengar yang disertai diskusi dan Tanya
jawab, serta dibantu oleh alat peraga.
a. Ciri-ciri ceramah
- ada sekelompok pendengar yang dipersiapkan
- ada suatu pesan yang disampaikan
- ada kesempatan bertanya bagi pendengar
- ada alat peraga yang digunakan
b. langkah langkah melakukan ceramah
- persiapan
-menentukan maksud dan tujuan ceramah
- menentukan sasaran pendengar
- mempersiapkan materi
- topic yang dikemukakan hanya satu
- mempersiapkan alat peraga
- mempersiapkan waktu dan tempat yang tepat
-mempersiapkan undangan
- mempersiapkan bahan bacaan
- pelaksanaan
- perkenalan diri
- mengemukakan maksud dan tujuan
- menjelaskan sistematika ceramah
- men yampaikan ceramah dengan suara jelas
- ciptakan suasana santai
- sediakan waktu untuk Tanya jawab
-menyimpulkan ceramah
- penilaian
Suatu ceramah akan terlihat berhasil bila :
-ada respon dari pendengar
- ada minat pendengar
- ada jawaban pada pengisian angket
20

Wawancara
Adalah suatu metode penyuluhan kesehatan dengan jalan Tanya jawab yang diarahkan
kepada pencapaian tujuan yang telah ditentukan.
a. Cirri ciri wawancara
-

Ada pihak yang bertanya

Ada pihak yang ditanya

Seluruh percakapan dikendalikan oleh pihak interviewer

b. Langkah-langkah melakukan wawancara


-

Persiapan
1. Menentukan tujuan wawancara
2. Menentukan isi pesan yang akan disampaikan
3. Menentukan sasaran
4. Menentukan waktu
5. Menentukan pokok-pokok pertanyaan

Pelaksanaan
1. Memperkenalkan diri
2. Rumuskan pertanyaan dengan sederhana
3. Diarahkan kepada persoalan pokok
4. Gunakan alat peraga
5. Catat jawaban yang dianggap perlu

Penilaian
1. Suasana menyenangkan
2. Kelancaran wawancara
3. Jawaban yang wajar
4. Minat responden

Demonstrasi

21

Adalah suatu cara penyajian yang dipersiapkan dengan teliti untuk memperlihatkan
bagaimana cara melakukan suatu tindakan, adegan atau menggunakan suatu proedur.
Penyajian ini disertai penggunaan alat peraga dan Tanya jawab. Biasanya hanya diberikan
pada individu yang terbatas jumlahnya.

1. Tujuan
-

Memperlihatkan kepada kelompok bagaimana cara membuat sesuatu dengan prosedur


yang benar

Meyakinkan kelompok bahwa ide tersebut bias dilaksanakan

Meningkatkan minat orang untuk belajar

2. Langkah-langkah melakukan demonstrasi


-

Persiapan
a. Menentukan maksut dan tujuan
b. Menentukan materi
c. Menentukan sasaran dengan latar belakang sosioekonomi
d. Menentukan perkiraan lamanya
e. Menentukan alat atau peraga

Pelaksanaan
a. Memperkenalkan diri
b. Menciptakan suasana nyaman
c. Memberi materi
d. Member kesempatan Tanya jawab

Penilaian
a. Banyaknya pertanyaan
b. Adanya permintaan melakukan demonstrasi
c. Hasil pengisian angket

Alat peraga penyuluhan kesehatan masyarakat


-

kemudahan bagi pihak penyuluh


a. memiliki bahan nyata
b. dapat menambah percaya diri
22

c. menghindari kejenuhan
-

kemudahan bagi pihak yang disuluh


a. melihat nyata inti materi
b. menghindari kejenuhan

Beberapa alat bantu peraga yang dapat digunakan adalah :


a. papan tulis
b. OHP
c. Kertas flipchart
d. Poster
e. Flash card
f. Model
g. Leflet, dll

Pemantauan dan penilaian


Pemantauan kegiatan dilakukan secara berkala. Pemantauan dapat juga dilakukan
dengan kunjungan lapangan ke tiap tatanan untuk melakukan perkembangan strata bersih dan
sehat (PHBS) setelah dilakukan intervensi kesehatan masyarakat. Penilaian dilakukan pada
akhir tahun dengan cara pengkajian kembali seperti pada tahap pertama manajemen PKM.
Hasil pengkajian tiap tahun dibandingkan hasil pengkajian awal tahun, keberhasilan dapat
dilihat dari strata PHBS tiap tahun. Evaluasi dapat dilakukan dengan menilai :
a. Kegiatan yang dapat terlaksana dibandingkan dengan perencanaan
b. Indicator masing-masing program yang menjadi topic penyuluhan
c. Strata PHBS di wilayah kerja

Indikator PKM
Dalam kegiatan penilaian, digunakan indicator-indikator tertentu, yaitu petunjuk yang
membatasi focus perhatian suatu penilaian. Indicator yang digunakan adalah sebagai berikut :
Indicator Tatanan Rumah Tangga
a. Ibu :
- pemeriksaan kehamilan oleh petugas minimal 4 kali
- proses melahirkan dibantu oleh petugas kesehatan
23

- ikut KB bag wanita usia subur


- sudah imunisasi TT, bagi ibu muda yang belum punya anak
b. bayi : sudah diimunisasi
c. balita : ditimbang setiap bulan
d. seluruh keluarga buang air besar di jamban
e. tidak ada sampah berserakan
f. seluruh keluarga menggunakan air bersih
g. kuku anggota keluarga pendek dan bersih
h. keluarga biasa makan makanan yang beraneka ragam
i. semua anggota keluarga tidak merokok
j. pernah mendengar AIDS
k. keluarga menjadi anggota dana sehat (JPKM)

Indikator Tatanaan Institusi Pendidikan


Tatanan pendidikan adalah Sekolah Dasar Negeri, Swasta termasuk Madrasah Ibtidaiyah
a. Tersedia jamban yang bersih
b. Tersedia air yang bersih
c. Tidak ada sampah berserakan
d. Ketersediaan UKS
e. Menjadi anggota dana sehat (JPKM)
f. Siswa pada umumnya (60%) kukunya pendek dan bersih
g. Guru tidak merokok
h. Siswa ada yang menjadi dokter kecil

Kesehatan Anak Sekolah dan Remaja


Tatanan istitusi pendidikan adalah Puskesmas atau Puskesmas Pembantu
a. Tatanana air bersih
b. Tersedia jamban yang bersih
c. Tidak ada sampah yang berserakan
d. Tertata poster kesehatan
e. Radio kaset penyuluhan berfungi setiap hari
24

f. Penyuluhan kelompok teratur dilaksanakan


g. Semua petugas tidak merokok
h. Semua petugas kukunya pendek dan bersih
Indikator Tatanan Umum
a. Indicator warung makan
-

Makanan dan minuman tidak menggunakan bahan kimia berbahaya

Makanan dan minuman terhindar dari serangga berbahaya

Tersedia jamban yang bersih

Tersedia air yang bersih

Tidak ada sampah berserakan

Kuku pengelola makanan pendek dan bersih

Menjadi anggota dana sehat

b. Indicator tempat ibadah


-

Sekeliling tempat ibadah dalam keadaan bersih

Tersedia air bersih

Tersedia jamban yang bersih

Tersedia pembuangan air limbah (SPAL)

Kuku pengelola pendek dan bersih

Semua pengelola dan pengunjung tidak merokok

Pernah mendengan AIDS

Tersedia media penyuluhan

c. Indicator pasar
-

Sekeliling pasar dalam keadaan bersih

Tersedia air bersih

Tersedia jamban yang bersih

Tersedia pembuangan air limbah (SPAL)

Cukup pencahayaan dan ada penghawaan

Kuku pengelola pendek dan bersih

Semua pengelola dan pengunjung tidak merokok

Pernah mendengan AIDS


25

Tersedia media penyuluhan

1. Kajian PHBS
- Sasaran

: ibu-ibu balita

- Jumlah sasaran

: 50 orang

- Kajian kuantitatif

: dengan kuisioner

2. Indikator PHBS
- Perilaku tentang KIA
- Perilaku tentang gizi
- Perilaku tentang kesehatan lingkungan
- Perilaku tentang gaya hidup
3. Pengelolaan Program PHBS
1. Tahap persiapan:
a. Sosialisasi dan advokasi kesehatan
b. Persiapan sarana
c. Persiapan administrasi
d. Persiapan pelaksanaan
2. Tahap pengkajian:
a. Pengkajian
3. Tahap perencanaan:
a. Menentukan prioritas
b. Menentukan tujuan
c. Menentukan jenis kegiatan/intervensi
d. Jadwal kegiatan
4. Tahap pergerakan pelaksanaan
5. Pemantauan dan penilaian

4. Tahap Persiapan
No.

Kegiatan

Tujuan

Luaran

26

- Dukungan dana/ kebijakan


1.

Sosialisasi dan advokasi

Agas LS/LP/LSM/ Mitra

politis/ kemitraan

mengetahui program

- Sepakat melaksanakan PHBS

PHBS

- Peran dan fungsi masingmasing jelas

2.

Persiapan sarana

Identifikasi kebutuhan
sarana

- Daftar jenis dan jumlah sarana


yang dibutuhkan
- Kuisioner
- Daftar surat yang diperlukan

3.

Persiapan administrasi

Identifikasi lapangan

- Format pencatatan dan


pelaporan

4.

Persiapan pelaksanaan

Identifikasi, siapa

- Daftar penanggung jawab

melakukan apa

masing-masing kegiatan

5. Tahap Pengkajian
No.

Kegiatan

Tujuan
Untuk mengetahui 10

1.

Pengkajian masalah

penyakit terbanyak,

kesehatan

penyebab, sifat,
epidemiologi masalah

2.

Pengkajian sumber daya

Identifikasi sarana,

Pengkajian PHBS

perilaku keluarga pada


tatanan rumah tangga
Untuk mengetahui

4.

Pengkajian wilayah

- Daftar 10 penyakit terbanyak


- Daftar penyebab sifat,
epidemiologi masalah
- Daftar tenaga, sarana, dan dana

tenaga, dana yang tersedia yang tersedia


Untuk mengetahui

3.

Luaran

klasifikasi PHBS di setiap


wilayah

- Adanya klasifikasi PHBS di


setiap RT
- Adanya klasifikasi wilayah
sehat atau tidak sehat

Tahap Perencanaan
No.
1.

Kegiatan
Rumusan tujuan

Tujuan
Untuk membuat target
yang ingin dicapai

Luaran
Adanya target yang bisa diukur

27

2.

3.

Rumusan rencana kegiatan


intervensi

Pembuatan jadwal kegiatan

Untuk mengembangkan
berbagai alternatif
intervensi

Adanya rencana kegiatan


entervensi yang menyeluruh,
meliputi penyluhan massa/
terpadu dan rancangan media

Untuk menetapkan waktu

Adanya jadwal kegiatan

bagi setiap kegiatan

intervensi

Tahap Pergerakan dan Pelaksanaan


No.

Kegiatan

Tujuan

Luaran

- Untuk mempengaruhi
peraturan dan kebijakan
yang mendukung

1.

Advokasi

pemberdayaan PHBS

- Adanya dukungan politik dari

- Mempengaruhi pihak

pengambilan keputusan

lain agar mendukung

- Adanya kepedulian LSM

PHBS

terhadap PHBS

- Meningkatkan

- Adanya anggaran rutin yang

kerjasama antara

dinamis

masyarakat dan

- Fasilitas umum simakin merata

pemerintah

terutama di daerah kumuh

- menggalang dukungan
lewat pendapat umum
melalui media massa
Untuk menciptakan
berbagai opini yang ada di Terciptanya opini, etika, norma,
2.

Bina suasana

masyarakat yang

dan kondisi masyarakat ber-

mendukung tercapainya

PHBS

PHBS di semua tatanan


Untuk
3.

Pemberdayaan atau gerakan


masyarakat

menumbuhkembangkan

- Mengungkapkan UKBM

potensi masyarakat untuk

- Meningkatkan peserta dana

mendukung dan

sehat (JPKM)

membudayakan PHBS

Pemantauan dan Penilaian


No.

Kegiatan

Tujuan

Luaran

28

Untuk mengetahui
seberapa jauh suatu
1.

Pemantauan

program PHBS berjalan,

adanya laporan bulanan/

mengacu kepada

triwulan/tengah tahun

perncanaan dan
penjadwalan
2.

Penilaian

Untuk mengetahi

adanya hasil pencapaian

seberapa jauh target yang

program PHBS dalam kurun

ditetapkan tercapai

waktu tertentu

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Promosi kesehatan adalah proses memberdayakan atau memandirikan masyarakat
agar mampu memelihara, meningkatkan, dan melindungi kesehatannya melalui peningkatan
kesadaran, kemauan, dan kemampuan, serta pengembangan lingkungan sehat. Dengan
demikian kegiatan promosi kesehatan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari setiap
program yang ada di Puskesmas. Kegiatan yang dilakukan berupa advokasi kesehatan, bina
suasana, dan gerakan masyarakat.

29

Saran
Untuk lebih meningkatkan upaya promosi kesehatan pada masyarakat maka
sebaiknya para petugas kesehatan, terutama pada bagian promosi kesehatan, ditambah. Selain
itu para petugas kesehatan terus berupaya untuk memberikan masukan kepada masyarakat
tentang pentingnya menjaga kesehatan.

DAFTAR PUSTAKA

1. Dachroni, Drs, MPH. Buku Panduan Straegi Promosi Kesehatan di Indonesia. Jakarta
Selatan: Sudin Kesehatan Masyarakat 2003
2. Dachroni, Drs, MPH. Seri PHBS: Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Untuk Petugas
Puskesmas. Jakarta Selatan: Sudin Kesehatan Masyarakat 2003
3. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Kerja Puskesmas 2009
4. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Promosi Kesehatan Online.htm

30

5. Sudin Kesehatan Masyarakat. Surat Keputusan Direktur Jenderal Kesehatan


Masyarakat No: HK.00.06.1.7.1570 tentang Kebijakan Teknis Promosi Kesehatan
2003
6. UU RI no. 23 tahun 1992 tentang kesehatan

UPAYA KESEHATAN LINGKUNGAN

31

Penyusun :
Hawa Fatihah bt CMS

(030.05.257)

Fira Thiodorus

(030.06.094)

Marrietta S. Sadeli

(030.06.157)

BAB I
PENDAHULUAN
Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spritual maupun sosial
yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis.(Pasal 1
butir 1 UU No. 36 Tahun 2009)

32

Kesehatan masyarakat adalah ilmu dan seni (kiat/art) untuk :


1. Mencegah penyakit
2. memperpanjang harapan hidup, dan
3. meningkatkan kesehatan dan efisiensi masyarakat melalui usaha masyarakat yang
terorganisir untuk; sanitasi lingkungan, pengendalian penyakit menular, pendidikan hygiene
perseorangan, mengorganisir pelayanan media dan perawatan agar dapat dilakukan diagnosis
dini dan pengobatan pencegahan, membangun mekanisme sosial, sehingga setiap insan dapat
menikmati standar kehidupan yang cukup baik untuk dapat memelihara kesehatan. Dengan
demikian, setiap warga negara dapat menyadari haknya atas kehidupan yang sehat dan
panjang (Winslow, 1920)

Kesehatan lingkungan adalah suatu kondisi lingkungan yang mampu menopang


keseimbangan ekologis yang dinamis antara manusia dan lingkungan untuk mendukung
tercapainya realitas hidup manusia yang sehat, sejahtera dan bahagia (Himpunan Ahli
Kesehatan Lingkungan)

Ilmu Kesehatan Lingkungan diberi batasan sebagai ilmu yang mempelajari dinamika
hubungan interaktif antara kelompok penduduk atau masyarakat dengan segala macam
perubahan komponen lingkungan hidup seperti spesies kehidupan, bahan, zat atau kekuatan
di sekitar manusia, yang menimbulkan ancaman, atau berpotensi menimbulkan gangguan
kesehatan masyarakat, serta mencari upaya-upaya pencegahan.(Umar Fahmi Achmadi, 1991)

Kesehatan lingkungan adalah upaya untuk melindungi kesehatan manusia melalui


pengelolaan, pengawasan dan pencegahan factor-faktor lingkungan yang dapat mengganggu
kesehatan manusia (Sumengen Sutomo, 1991)

Kesehatan lingkungan adalah ilmu & seni dalam mencapai keseimbangan,


keselarasan dan keserasian lingkungan hidup melalui upaya pengembangan budaya perilaku
sehat dan pengelolaan lingkungansehingga dicapai kondisi yang bersih, aman, nyaman, sehat
dan sejahtera terhindar dari gangguan penyakit, pencemaran dan kecelakaan, sesuai dengan
harkat danmartabat manusia. (Sudjono Soenhadji, 1994 )
33

Untuk menilai keadaan lingkungan dan upaya yang dilakukan untuk menciptakan lingkungan
sehat telah dipilih empat indikator, yaitu persentase keluarga yang memiliki akses air bersih,
presentase rumah sehat, keluarga dengan kepemilikan sarana sanitasi dasar, Tempat Umum
dan Pengolahan Makanan (TUPM) .

Beberapa upaya untuk memperkecil resiko turunnya kualitas lingkungan telah


dilaksanakan oleh berbagai instansi terkait seperti pembangunan sarana sanitasi dasar,
pemantauan dan penataan lingkungan, pengukuran dan pengendalian kualitas lingkungan.

Pembangunan sarana sanitasi dasar bagi masyarakat yang berkaitan langsung dengan
masalah kesehatan meliputi penyediaan air bersih, jamban sehat, perumahan sehat yang
biasanya ditangani secara lintas sektor. Sedangkan dijajaran Dinas Kesehatan Kabupaten
Tangerang kegiatan yang dilaksanakan meliputi pemantauan kualitas air minum, pemantauan
sanitasi rumah sakit, pembinaan dan pemantauan sanitasi tempat-tempat umum (Hotel,
Terminal), tempat pengolahan makanan, tempat pengolahan pestisida dan sebagainya.

BAB II
PENGERTIAN

34

Upaya penyehatan lingkungan dan pemukiman adalah upaya untuk meningkatkan


kualitas kesehatan lingkungan dan pemukiman melalui upaya sanitasi dasar, pengawasan
mutu lingkungan dan tempat umum, termasuk pengendalian pencemaran lingkungan dengan
meningkatkan peran serta masyarakat dan keterpaduan pengelolaan lingkungan melalui
analisis dampak lingkungan.
Lingkungan pemukiman adalah tempat tinggal atau tempat hunian yang dilengkapi
dengan prasarana dan sarana lingkungan.
Tempat umum adalah tempat kegiatan bagi umum yang diselenggarakan oleh badanbadan Pemerintah, Swasta atau Perorangan yang langsung digunakan masyarakat,
mempunyai tempat,sarana dan kegiatan yang tetap.
Penyehatan makanan adalah upaya untuk mengendalikan faktor makanan, orang,
tempat dan perlengkapannya yang dapat atau mungkin dapat menimbulkan penyakit atau
gangguan kesehatan lainnya.
Pendekatan PKMD adalah pendekatan sosio-edukatif dengan langkah-langkah
sebagai berikut :
1. Pertemuan tingkat kelurahan.
2. Survai Diri Masyarakat.
3. Musyawarah Masyarakat Kelurahan.
4. Pelalihan Kader.
5. Pelaksanaan Kader.
6. Pelaksanaan Upaya Kesehatan oleh Masyarakat.
7. Pembinaan & Pelestarian kegiatan

35

BAB III
TUJUAN
Tujuan Umum
Meningkatnya kondisi kesehatan lingkungan melalui upaya pengawasan dan
pengendalian semua unsur fisik, kimia, dan biologis yang terdapat dilingkungan dan
masyarakat yang dapat mempengaruhi derajat kesehatan.

Tujuan Khusus
Meningkatnya kualitas perumahan penduduk yang memenuhi syarat kesehatan.
Terbantunya penyediaan air bersih yang memenuhi syarat kesehatan, pengawasan kualitas air
bagi seluruh masyarakat, serta peningkatan kemampuan masyarakat dalam penyediaan dan
pemanfaatan sarana pembangunan kotoran yang memenuhi syarat kesehatan.
Tersedianya fasilitas pembuangan kotoran yang memenuhi syarat kesehatan, tidak
menimbulkan sarang lalat, nyamuk dan tikus, dan tidak memberi pandangan tidak sedap.
Terwujudnya kondisi tempat-tempat umum yang memenuhi syarat kesehatan, agar
masyarakat, pengunjung dan sekitarnya terhindar dari gangguan kesehatan.
Meningkatnya pengetahuan dan keterampilan masyarakat dan perusahaan makanan dalam
mengelola makanan secara aman dan sehat agar terhindar dari penyakit dan keracunan.
Terjaminnya mutu lingkungan hidup yang dapat menjamin kesehatan masyarakat yang
optimal, bebas dari pengaruh buruk atas pengelolaan pestisida melalui upaya pencegahan dan
pengendalian pencemaran dan keracunan oleh pestisida.

36

BAB IV
KEGIATAN DAN SASARAN
KEGIATAN
Kegiatan-kegiatan utama kesehatan lingkungan yang harus dilakukan oleh Puskesmas
meliputi :
1. Penyehatan air
2. Penyehatan makanan dan minuman
3. Pengawasan pembuangan kotoran manusia
4. Pengawasan dan pembuangan sampah dan limbah
5. Penyehatan pemukiman
6. Pengawasan sanitasi tempat umum
7. Pengamanan polusi industri
8. Pengamanan pestisida
9. Klinik sanitasi

SASARAN
Penyehatan air :
1. Daerah dengan angka penyakit diare dan penyakit kulit tinggi
2. Daerah berpenghasilan rendah
3. Daerah penduduk padat dan kumuh
4. Penyehatan makanan dan minuman :
5. Tempat pengelolaan makanan (TPM) : jasa boga, restoran/rumah makan, sentral
makanan jajanan, pengrajin makanan/indsutri makanan rumah tangga, kantin
termasuk kantin sekolah, pedagang makanan kaki lima, tempat pengelolaan makanan
lainnya.
6. Keluarga
7. Pengawasan pembuangan kotoran manusia :
8. Daerah endemis penyakit perut dan penyakit kecacingan

37

9. Daerah-daerah dengan angka kepemilikan dan pemanfaatan jamban yang memenuhi


syarat kesehatan
10. Pengawasan dan Pembuangan Sampah dan Limbah :
11. Keluarga dan masyarakat di daerah yang angka kepadatan penduduk tinggi dan
produksi sampahnya cukup banyak
12. Daerah endemis penyakit perut (diare, gastroenteritis acuta) dan penyakit-penyakit
bersumber sampah

Penyehatan pemukiman :
1. Daerah dengan

resiko terhadap kemungkinan penularan penyakit-penyakit diare,

kecacingan, TBC paru, ISPA, DBD dan Filariasis


2. Daerah dengan cakupan sanitasi dasarnya rendah
3. Daerah kumuh
4. Daerah pemukiman baru
5. Daerah risiko tinggi terhadap pencemaran

Pengawasan Sanitasi Tempat-tempat Umum :


1. Yang berhubungan dengan sasaran pariwisata, seperti Bioskop, Gedung Pertunjukan,
Hotel, Kolam renang, dsb.
2. Yang berhubungan dengan Transportasi, Terminal, Stasiun dan alat Transportasi
Umum, pool kendaraan
3. Yang berhubungan dengan sarana ibadah : Masjid, Gereja, Pura, Vihara
4. Yang berhubungan dengan sarana perdagangan : Pasar, Toko Swalayan, dsb
5. Yang berhubungan dengan sarana Perawatan/Pemeliharaan: Salon Kecantikan, Panti
Pijat, Tempat Pangkas Rambut, Klinik kesehatan, Puskesmas
6. Yang berhubungan dengan sarana sosial dan pendidikan: Lembaga Pemasyarakatan,
Panti Sosial, Sekolah, Rumah duka, penampungan tenaga kerja, dsb
7. Yang berhubungan dengan sarana olahraga, misal : pusat kebugaran, gelanggang
olahraga, dsb

38

Dalam melakukan kegiatan pengamanan lingkungan akibat pencemaran industry


diutamakan pada pemukiman sekitar daerah industri dan pemukiman yang mempunyai resiko
tinggi terhadap kemungkinan pencemaran industri.
Pengamanan pestisida :
1. Tempat pengelolaan Pestisida (TPP) yang menjadi tanggung jawab Puskesmas adalah
toko/kios pestisida, KUD.
2. Pengguna pestisida: Petani penyemprot hama pertanian di kebun dan sawah
Klinik Sanitasi :
1. Penderita penyakit yang berhubungan dengan masalah kesehatan lingkungan yang
datang ke Puskesmas
2. Masyarakat umum yang mempunyai masalah kesehatan lingkungan yang datang ke
Puskesmas
3. Lingkungan penyebab masalah bagi penderita dan masyarakat sekitarnya

39

BAB V
PELAKSANAAN KEGIATAN
PELAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS KECAMATAN PASAR MINGGU
Uraian Prosedur Pelayanan Kesehatan Lingkungan
A. Penyehatan Perumahan
Tujuan :
1. Termotivasinya masyarakat untuk memiliki / bertempat tinggal di rumah yang
memenuhi syarat kesehatan.
2. Terbantunya masyarakat / keluarga yang kurang mampu untuk membangun / memiliki
rumah sehat.
3. Terlaksananya pemberian penyuluhan tentang rumah sehat bagi keluarga.

Prinsip Kerja :
Memberikan pelayanan dan pembinaan secara profesional, ramah, berwibawa dan
terkoordinasi dengan lintas program / sektor yang terkait.

Sasaran :
Masyarakat di pemukiman kumuh, pemukiman baru perkotaan dan daerah aliran sungai
(DAS).

Kegiatan :
1. Pendataan.
2. Pelatihan dan pembinaan kader.
3. Pemeriksaan perumahan dan lingkungannya.
4. Penyuluhan.
5. Stimulan pembangunan sarana percontohan kesehatan.

Waktu :
Disesuaikan dengan jadwal kegiatan yang disusun.
40

Tenaga :
1. Dokter sebagai koordinator
2. Sanitarian sebagai pelaksana

Tempat :
Pemukiman yang akan menjadi sasaran kegiatan.

Kelengkapan administrasi :
1. Surat Tugas
2. Jadwal kegiatan

Peralatan kerja :
1. Formulir pemantauan.
2. Kartu rumah
3. Alat bantu penyuluhan seperti buku pegangan penyuluhan kesehatan lingkungan ,
poster, leaftlet, flip chard, dll.

Prosedur tetap :
1. Mengadakan pendekatan PKMD
2. Menyiapkan surat tugas
3. Kunjungan dan mengadakan wawancara dan inspeksi
4. Mengisi formulir pemantauan
5. Pencatatan dan pelaporan
6. Menyampaikan umpan balik

B. Penyehatan Air.
Tujuan :
1. Terpantaunya kualitas air meliputi air minum, air bersih, air kolam renang dan
pemandian umum, air badan air, dan air limbah

41

2. Meningkatnya kualitas air melalui perbaikan kualitas air, pencegahan pencemaran dan
percontohan perbaikan.
3. Meningkatnya peran serta masyarakat pemakai air.
4. Meningkatnya ketrampilan dan pengetahuan petugas dalam pengawasan dan
perbaikan kualitas air serta kemampuan dalam pembinaan masyarakat pemakai air
5. Meningkatnya kemampuan masyarakat dalam upaya penyehatan air.

Sasaran :
1. Masyarakat yang rawan air bersih
2. Masyarakat di daerah dengan penyakit diare dan penyakir-penyakit akibat jeleknya
sanitasi air cukup tinggi dan telah endemis.
3. Masyarakat di daerah percontohan dan pemukiman baru.

Kegiatan:
1. Pendataan
2. Inspeksi sanitasi khususnya untuk air bersih rumah tangga
3. Pengambilan dan pengiriman sampel air ke laboratorium
4. Pemeriksaan kualitas di lapangan (a.l sisa chlor dan pH)
5. Pencatatan dan pelaporan
6. Mengadakan rekomendasi, saran dan tindak lanjut berdasarkan hasil kualitas air.
7. Pengawasan kualitas air
8. Perbaikan kualitas air
9. Penggerakan peran serta masyarakat pemakai air
10. Pemantauan dan evaluasi

Waktu :
Disesuaikan dengan jadwal yang disusun atau apabila ada permasalahan.

Kelengkapan administrasi :
1. Buku pencatatan harian
2. Perlengkapan lai sesuai SP2tp dan program
42

3. Surat tugas
4. Jadwal

Tenaga :
1. Dokter sebagai koordinator
2. Sanitarian sebagai pelaksana

Tempat :
Lokasi tempat kegiatan dilaksanakan sesuai sasaran.

Peralatan :
1. Formulir
2. Buku pemeriksaan sanitasi
3. Water test kit
4. Alat pengambil sampel air
5. Field Tool Kit

Prosedur tetap :
1. Mengadakan pendekatan secara PKMD
2. Menyiapkan surat tugas
3. Mengadakan kunjungan sesuai jadwal
4. Inspeksi, wawancara, pemeriksaan dan mengisi formulir
5. Pengambilan dan pengiriman sampel ke laboratorium
6. Memberikan saran perbaikan terhadap hasil yang belum memenuhi syarat baik secara
lisan maupun tulisan
7. Pencatatan dan pelaporan
8. Evaluasi

C. Penyehatan Pembuangan Kotoran


Tujuan:

43

1. Termotivasinya masyarakat untuk menyediakan dan menggunakan sarana


pembuangan kotoran untuk keperluan rumah tangga.
2. Terlaksananya penyuluhan kepada masyarakat tentang pentingnya penyehatan
pembuangan kotoran, sehingga masyarakat tahu, mampu dan mau menggunakan
sarana pembuangan sehat sehari-hari.
3. Terlaksananya penyuluhan tentang sanitasi pembuangan kotoran bagi rumah tangga,
dan masyarakat umum yang berkepentingan.

Prinsip kerja:
Memberikan pelayanan dan pembinaan secara professional, ramah, berwibawadan
terkoordinasi dengan lintas program / sector yang terkait.

Sasaran:
1. Masyarakat di daerah-daerah dengan angka kepemilikan dan pemanfaatan jamban
sehat rendah.
2. Masyarakat di daerah-daerah endemis penyakit perut dan cacing.

Kegiatan:
1. Pendataan
2. Penyuluhan
3. Pembangunan dan pengembangan sarana pembangunan kotoran
4. Pemantauan

Waktu :
Disesuaikan dengan jadwal yang telah disusun.

Tenaga :
1. Dokter sebagai koordinator.
2. Sanitarian sebagai pelaksana.
44

Tempat :
Lokasi kegiatan sesuai sasaran.

Kelengkapan administrasi :
1. Surat tugas
2. Jadwal kegiatan

Peralatan kerja :
1. Buku pegangan kader kesehatan lingkungan
2. Poster, leaflet, dll.
3. Komponen jamban
4. Peralatan yang diperlukan untuk membangun jamban

Prosedur kerja :
1. Pendekatan secara PKMD
2. Menyiapkan surat tugas
3. Mengadakan kegiatan
4. Mengisi formulir pemantauan
5. Pencatatan dan pelaporan
6. Menyampaikan umpan balik

D. Pengelolaan Pembuangan Sampah


Tujuan :
1. Termotivasinya keluarga dan masyarakat untuk menyediakan, menggunakan dan
memelihara sarana pembuangan sampah yang memenuhi syarat kesehatan.
2. Terlaksananya penyuluhan tentang pengelolaan sampah yang memenuhi syarat
kesehatan bagi rumah tangga dan masyarakat.
3. Terlaksananya pengawasan dan pembinaan sarana pembuangan sampah yang
memenuhi syarat kesehatan, serta tata-cara pembuangan sampah sesuai perundangan
yang berlaku.
45

4. Terbantunya keluarga dan masyarakat dalam mendapatkan, menggunakan sehari-hari


dan memelihara sarana untuk penanganan sampah yang memenuhi syarat kesehatan.

Prinsip kerja :
memberikan pelayanan dan pembinaan secara profesiaonal, ramah, berwibawa dan
terkoordinasi dengan lintas program/sector yang terkait.

Sasaran :
1. Masyarakat di daerah dengan angka kepadatan penduduk tinggi dan produksi sampah
yang cukup banyak.
2. Masyarakat di daerah endemis penyakit perut(diare, GE) dan penyakit-penyakit
bersumber sampah.

Kegiatan :
1. Pendidikan kesehatan hygiene dan sanitasi
2. Penyuluhan tentang penanganan sampah
3. Pemantauan melalui pemeriksaan tempat penampungan dan pembuangan sampah

Waktu :
Disesuaikan dengan jadual yang telah disusun
Tempat :
Lokasi kegiatan sesuai sasaran

Tenaga :
1. Dokter sebagai koordinator
2. Sanitarian sebagai pelaksana

Kelengkapan administrasi:
1. Surat tugas
2. Jadwal kegiatan

46

Peralatan kerja :
1. Formulir pemantauan
2. Alat bantu penyuluhan seperti seperti buku pegangan penyuluhan kesehatan
lingkungan, poster, leaflet, flip chart, dll.
3. Fly grill counter, senter, stop watch, dll.

Prosedur kerja:
1. Mengadakan pendekatan secara PKMD
2. Menyiapkan surat tugas
3. Mengadakan kegiatan
4. Mengisi formulir pemantauan
5. Pencatatan dan pelaporan
6. Menyampaikan umpan balik

E. Pengawasan Sanitasi Tempat-Tempat Umum


Tujuan :
1. Termotivasinya masyarakat dan pengelola TTU untuk menyediakan, menggunakan
dan memelihara sarana sanitasi yang memenuhi syarat kesehatan.
2. Terlaksananya penyuluhan tentang sanitasi yang memenuhi syarat kesehatan di TTU
bagi masyarakat dan pengelola TTU
3. Terlaksananya pengawasan dan pembinaan sarana sanitasi yang memenuhi syarat
kesehatan di TTU, sesuai peraturan perundangan yang berlaku.

Prinsip kerja :
Mengadakan pelayanan, pengawasan, pembinaan secara professional, ramah, berwibawa,
serta terkoordinasi dengan lintas sector/program lain yang terkait.

Sasaran :
1. Pengusaha / penanggung-jawab / pengelola sarana kepariwisataan seperti gedung
pertunjukan, penginapan, dll.

47

2. Pengusaha / penanggung-jawab / pengelola usaha transportasi seperti terminal, stasiun


dan alat transportasi umum.
3. Penanggung-jawab / pengelola sarana ibadah : masjid, gereja, pura, vihara.
4. Pengusaha / penanggung-jawab / pengelola sarana perawatan / pemeliharaan seperti :
salon kecantikan, panti pijat, tukang cukur, dll.
5. Pengusaha / penanggung-jawab / pengelola sarana perdagangan seperti : Pasar, dll.
6. Penanggung-jawab / pengelola sarana social seperti : Lembaga Pemasyarakatan.

Kegiatan :
1. Pendataan
2. Pemeriksaan sanitasi Tempat-Tempat Umum
3. Pengolahan, analisa dan pelaporan
4. Penyuluhan terhadap pengelola Tempat-Tempat Umum

Waktu :
Disesuaikan dengan jadwal kegiatan yang disusun

Tenaga :
1. Dokter sebagai koordinator
2. Sanitarian sebagai pelaksana

Tempat :
Lokasi kegiatan sesuai sasaran

Peralatan kerja:
1. Formulir pemeriksaan
2. Petunjuk teknis yang diterbitkan
3. Alat bantu penyuluhan
4. Peralatan lapangan seperti Sanitary Field Kit yang berisi a.l :
5. Water test kit
6. Thermometer
48

7. Hygrometer
8. Light meter
9. Sound level meter

Prosedur kerja:
1. Menghubungi pengelola / pengusaha / penanggungjawab / pengiriman surat
pemberitahuan
2. Menyiapkan surat tugas
3. Mengadakan kunjungan sesuai jadwal yang telah disusun
4. Mengadakan pemeriksaan dan mengisi formulir
5. Memberikan saran perbaikan terhadap hasil yang belum memenuhi syarat secara lisan
maupun tulisan
6. Pencatatan, pelaporan
7. Evaluasi

F. Penyehatan Makanan dan Minuman


Tujuan
1. Termotivasinya masyarakat dan pengelola perusahaan makanan untuk bekerja
memenuhi syarat kesehatan dalam penyiapan, pengelolaan, penyimpanan, penyajian
dan penanganan makanan dan minuman
2. Terlaksananya pemberian penyuluhan dan nasihat tentang hygiene dan sanitasi
makanan dan minuman bagi keluarga, perusahaan dan masyarakat yang memerlukan
3. Terlaksananya pengawasan dan pembinaan tentang hygiene dan sanitasi makanan dan
minuman perusahaan dan pengelolaan makanan dan minuman bagi orang banyak,
sesuai dengan perundangan yang berlaku
4. Terlaksananya tindakan pengamanan terhadap kejadian keracunan makanan dan
minuman

Prinsip kerja
49

Memberikan pelayanan dan pembinaan secara profesional, ramah, berwibawa, dan


terkoordinasi dengan lintas program / sektor yang terkait.

Sasaran
1. Ibu-ibu rumah tangga / masyarakat melalui organisasi masyarakat antara lain PKK,
LKMD, arisan, Pengajian ibu-ibu dan posyandu
2. Pengusaha/ penanggung jawab/ pengelola tempat pengolahan makanan, yang meliputi
3. Tempat pembuangan makanan, yang terdiri dari :
4. Jasaboga / catering
5. Industri kecil makanan
6. Tempat pembuangan makanan di asrama, panti, dapur umum, dll
7. Tempat penjualan makanan, yang terdiri dari :
8. Rumah makan
9. Pedagang kaki lima
10. Pedagang makanan keliling
11. Warung kopi
12. Kantin
13. Snack bar
14. Tempat penjualan makanan dingin, makanan terolah, makanan segar

Kegiatan :
1. Pendataan
2. Pemeriksaan
3. Penyuluhan

Waktu :
Disesuaikan dengan jadwal yang telah disusun atau apabila ada masalah

Kelengkapan administrasi :
1. Surat tugas
2. Jadwal kegiatan
50

Tenaga :
1. Dokter sebagai koordinator
2. Sanitarian sebagai pelaksana

Peralatan kerja :
1. Untuk administrasi seperti formulir, buku pencatatan, dll
2. Food inspection field kit
3. Alat bantu penyuluhan

Prosedur kerja :
1. Menghubungi pengelola / pengusaha / penanggung jawab / pimpinan organisasi /
pengiriman surat pemberitahuan
2. Menyiapkan surat tugas
3. Mengadakan kunjungan sesuai jadwal yang telah disusun
4. Mengadakan pemeriksaan dan mengisi formulir
5. Memberikan saran perbaikan terhadap hasil yang belum memenuhi syarat secara lisan
maupun tulisan
6. Pencatatan dan pelaporan
7. Evaluasi

G. Pengamanan Peredaran dan Penggunaan Pestisida


Tujuan :
1. Termotivasinya masyarakat dalam pengedaran dan penggunaan pestisida secara tepat
dan aman, serta memenuhi syarat kesehatan
2. Terlaksananya penyuluhan tentang pengamanan pengedaran dan penggunaan pestisida
yang memenuhi syarat kesehatan bagi rumah tangga dan masyarakat
3. Terlaksananya pengawasan dan pembinaan terhadap tata cara pengedaran dan
penggunaan pestisida di masyarakat yang memenuhi syarat kesehatan

51

4. Terbantunya masyarakat dalam pengamanan pengedaran dan penggunaan pestisida


sesuai peraturan perundangan yang berlaku

Prinsip kerja :
Memberikan pelayanan dan pembinaan secara profesional, ramah, berwibawa dan
terkoordinasi dengan lintas program / sektor yang terkait
Sasaran :
1. Pengusaha / penanggung-jawab / pengelola unit usaha pengedar pestisida seperti :
Toko / kios pestisida, KUD dan pergudangan pestisida
2. Pengusaha / penanggung jawab / pengelola / masyarakat pengguna pestisida seperti :
petani penyemprotan hama, perusahaan Pest Kontrol, penggunaan pestisida di lokasi
rumah tangga / Pest Kontrol

Kegiatan :
1. Terhadap unit usaha pengedar pestisida :
2. Pendataan TPP (Tempat Pengelola Pestisida)
3. Pemeriksaan
4. Penyuluhan / bimbingan perbaikan
5. Terhadap pengguna pestisida :
6. Pendataan
7. Penanggulangan dan Pencegahan keracunan akut
8. Penyuluhan

Waktu:
Disesuaikan dengan jadwal

Tenaga :
1. Dokter sebagai koordinator
2. Sanitarian sebagai pelaksana

Kelengkapan administrasi :
52

1. Surat tugas
2. Jadwal kegiatan

Peralatan kerja :
1. Buku pegangan kader, formulir, buku pencatatan, dll
2. Alat bantu penyuluhan seperti : alat-alat pelindung pestisida sebagai alat peraga,
poster, leaflet, dll

Prosedur kerja :
1. Menghubungi pengelola / pengusaha / penanggung-jawab / ketua RT-RW / pengiriman
surat pemberitahuan
2. Menyiapkan surat tugas
3. Mengadakan kunjungan sesuai jadwal yang telah disusun
4. Mengadakan pemeriksaan dan mengisi formulir
5. Memberikan saran perbaikan terhadap hasil yang belum memenuhi syarat secara lisan
maupun tulisan
6. Pencatatan dan pelaporan
7. Evaluasi

PELAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS KECAMATAN PASAR MINGGU


KEGIATAN

URAIAN KEGIATAN

PELAKSANA

Penyehatan air

Kegiatan pokok penyehatan air dalam pelaksanaan

Tim pengelola air

Program Penyediaan dan pengelolaan air bersih yaitu bersih Puskesmas


Pengawasan Kualitas Air, Perbaikan Kualitas Air dan Pasar Minggu
Pembinaan Pemakai Air. Untuk dapat melaksanakan
kegiatan pokok tersebut diperlukan kegiatan
pendukung yakni pengembangan sarana dan
prasarana pendukung yang terdiri atas pembinaan
dan pengembangan dan pemantapan informasi
penyehatan air. Hal ini juga melibatkan peran serta
masyarakat.

53

Penyehatan Makanan

Kegiatan pengawasan hygiene dan sanitasi makanan

Tim Pengawasan

dan Minuman

dan minuman dilakukan sesuai jadwal yang

hygiene dan

ditetapkan oleh Puskesmas pada tempat pembuatan

sanitasi makanan

dan penjualan makanan dan minuman termasuk

dan minuman

didalamnya para penjamah makanan. Dalam hal ini

Puskesmas

petugas Puskesmas melakukan evaluasi perihal

Kelurahan dengan

kualitas makanan dan minuman dari berbagai segi,

monitoring dari

yaitu bahan mentah, cara pengolahan, cara penyajian

Puskesmas

dan para penjamah seperti petugas pemasakan

Kecamatan Pasar

maupun penyajian sesuai dengan wilayah kerja

Minggu

Puskesmas.
Pengawasan

Melakukan penataan jumlah sarana pembuangan

Tim pengawas

Pembuangan Kotoran

kotoran yang ada, perkembangan jumlah, serta

pembuangan

Manusia

pemanfaatannya. Mencatat hasil pemantauan dalam

kotoran

buku catatan. Membandingkannya dengan catatan

Puskesmas Pasar

sebelum program dinilai adakah peningkatan jumlah

Minggu

jamban maupun jumlah pemakainya.


Pengawasan dan

Pengumpulan sampah dari masing-masing ruangan

Tim pengelola

Pembuangan Sampah

dilakukan setiap hari oleh masing-masing petugas

dan pengawas

dan Limbah

cleaning service.

sampah dan

Setiap ruangan yang menghasilkan sampah infeksius

limbah

harus mempunyai kardus descartex dan tempat

Puskesmas Pasar

sampah infeksius berwarna kuning. Semua limbah

Minggu

B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) dari Puskesmas


Kecamatan Mampang dapat diolah di Instansi
Pengolahan Limbah.

54

Penyehatan Pemukiman Unsur-unsur yang diperiksa meliputi kesehatan

Tim Puskesmas

rumah (jendela/ventilasi, kelembaban, pencahayaan,

Kecamatan Pasar

tata ruang, kepadatan penghuni), kebersihan

Minggu: Kepala

pekarangan, penempatan kandang ternak lingkungan

Puskesmas,

perumahan serta faktor kepadatan yaitu melihat ada

dokter dan

tidaknya tempat perindukan nyamuk, tikus dan lalat.

stafnya yang

Gerakan PSNDBD 30 menit sekali seminggu (Setiap

bertanggung

Jumat) secara serentak di Provinsi DKI Jakarta

jawab terhadap

dengan memeriksa ada tidaknya jentik (Pemantauan

wilayah tertentu

Jentik Berkala/PJB) dan dikaitkan dengan kejadian

dan co ass.

kasus DBD di RW.

Tim wilayah

PENILAIAN terhadap JENTIK

setempat: Kepala

JUMANTIK

Kelurahan, Ketua

Dilaksanakan di RW yang ada JUMANTIK

RW, Ketua RT,

Seluruh bangunan diperiksa ada/tidaknya jentik/

Jumantik dan

secara total coverage.

masyarakat

Melakukan pemeriksaan jentik pada tempat

setempat.

perindukan nyamuk di setiap rumah/ bangunan


berdasarkan tatanan.
Mencatat hasil pemeriksaan jentik dan melaporkan
ke Puskesmas Kelurahan/ Kecamatan.
Puskesmas Kelurahan/Kecamatan menganalisa dan
melaporkan bulanan ke Sudin Kesmas dan Sudin
Yankes dengan tembusan ke Posko PSN DBD RW,
Lurah dan Camat yang bersangkutan.
Non JUMANTIK
PJB oleh Puskesmas Kelurahan/Kecamatan
Pelaksana adalah petugas Puskesmas Kelurahan/
Kecamatan.
Menentukan sasaran RW lokasi sekaligus data
jumlah rumah/bangunannya masing-masing.
Menyusun jadwal random sampling untuk 100
rumah/bangunan sampling di setiap RW sasaran.
Melakukan pemeriksaan jentik pada tempat
perindukan nyamuk di setiap rumah/bangunan
sampling.
Mencatat dan menganalisa hasil pemeriksan jentik
dan per RW.
Melaporkan hasil setiap 3 bulanan ke Sudin Kesmas
dan Sudin Yankes dengan tembusan Posko DBD RW,
55

Pengawasan Sanitasi

Kegiatan pembinaan tempat-tempat umum dilakukan Tim pengelolaan

Tempat-tempat Umum

oleh tim dari Puskesmas Kecamatan Mampang

dan pembinaan

dengan bantuan dari Puskesmas Kelurahan. Kegiatan tempat-tempat


secara rutin diadakan pada triwulan pertama dan

umum Puskesmas

keempat pada setiap tahunnya dengan melakukan

Kecamatan Pasar

pemantauan serta memberikan penyuluhan kepada

Minggu di bawah

pengelola tempat-tempat umum seperti bioskop,

pengawasan Tim

tempat rekreasi, sekolah, dan lain-lain.

Kesehatan
Lingkungan.

Pengamanan

Unsur-unsur yang diperiksa secara kualitatif dan

Tim pengawas

Lingkungan akibat

kuantitatif berkaitan dengan bahaya pencemaran

pengamanan

Pencemaran Industri

potensial yang berasal dari industry meliputi sumber

lingkungan

air, udara, tanah dan iklim serta kebisingan di sekitar

Puskesmas Pasar

industri.

Minggu.

Tim pengendali hama bekerja setelah melihat check

Tim pengendali

list dan mendapat laporan dari Kepala Unit atau PJ

hama Puskesmas

Ruangan tentang keberadaan hama atau tanda-tanda

Pasar Minggu

Pengamanan Pestisida

keberadaan hama.
Cara pengendalian hama :
Secara fisik: dengan menggunakan perangkap, ligh
trap, ultra sonic.
Secara kimia: dengan menggunakan pestisida
(umpan beracun, sprayer, fogging).

56

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Dari berbagai program pemerintah mengenai kesehatan lingkungan, seluruhnya telah
dilaksanakan oleh Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu. Puskesmas Kecamatan Pasar
Minggu dalam hal ini dapat berperan sebagai pengawas maupun sebagai pelaksana kegiatan
secara langsung. Kegiatan kesehatan lingkungan di Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu
meliputi Penyehatan Air, Penyehatan Makanan dan Minuman, Pengawasan pembuangan
kotoran manusia, Pengawasan dan pembuangan sampah dan limbah, Penyehatan pemukiman
(termasuk Pemberantasan Sarang Nyamuk melalui kegiatan Gerakan Jumat Sehat yang
diadakan tiap hari Jumat), Pengawasan sanitasi tempat umum, Pengamanan polusi industri
dan Pengamanan pestisida. Dalam pelaksanaannya Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu
dibantu oleh Puskesmas Kelurahan, yaitu Puskesmas Kelurahan Kebagusan, Ragunan,
Pejaten Timur, Pejaten Barat, Pasar Minggu, Jati Padang, dan Cilandak Timur.

Saran
Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu dengan kedudukan sebagai Puskesmas Pembina
diharapkan dapat lebih membina peran serta dan memonitoring kinerja dari Puskesmas
Kelurahan setempat dalam rangka melaksanakan berbagai program kesehatan lingkungan,
bahkan jika diperlukan dapat dilakukan berbagai pelatihan kepada para petugas terkait
sebelum waktu pelaksanaannya di lapangan. Dengan adanya koordinasi yang baik antara tim

57

monitoring dan petugas lapangan maka diharapkan seluruh cakupan program kerja dapat
terlaksana dan diperoleh hasil yang lebih baik.

58

DAFTAR PUSTAKA
Standarisasi Pelayanan Kesehatan Puskesmas di DKI Jakarta Pemerintah Daerah Khusus Ibu
Kota Jakarta. Jakarta. P25-38

59

UPAYA KESEHATAN IBU DAN ANAK


SERTA KB

PENYUSUN:
SYAHRINNAQUIAH SAMSUDDIN (030.06.349)
MOHD ZAIRI B ZABRI

(030.06.320)

60

UPAYA KESEHATAN IBU DAN ANAK (KIA)


BAB I
PENDAHULUAN

Upaya kesehatan Ibu dan Anak adalah upaya di bidang kesehatan yang menyangkut
pelayanan dan pemeliharaan ibu hamil, ibu bersalin, ibu menyusui, bayi dan anak balita serta
anak prasekolah.Pemberdayaan Masyarakat bidang KIA merupakan upaya memfasilitasi
masyarakat untuk membangun sistem kesiagaan masyarakat dalam upaya mengatasi situasi
gawat darurat dari aspek non klinis terkait kehamilan dan persalinan. Kesehatan ibu dan anak
merupakan salah satu perhatian dari World Health Organisation (WHO) karena angka
kematian ibu dan anak merupakan bahagian dari negara Asean yang mempunyai angka
kematian Ibu dan Anak yang masih tinggi dibandingkan dengan negara lain.

Menurut SDKI angka kematian ibu (AKI) di Indonesia 307 per 100.000 kelahiran
hidup yaitu 3-6 kali lebih tinggi dari negara ASEAN lainnya. AKI di Indonesia bahkan lebih
jelek dari negara Vietnam yaitu 95 per 100.000 kelahiran hidup. AKI di Indonesia sekitar
18.000 setiap tahun yang berhubungan dengan kehamilan dan persalinan, hal ini berarti setiap
setengah jam seorang perempuan meninggal yang berhubungan dengan kehamilan dan
persalinan, hal ini berarti setiap setengah jam seorang perempuan meninggal yang
berhubungan dengan kehamilan, persalinan dan nifas. Kematian ibu tersebut erat kaitannya
dengan karakteristik ibu yang meliputi umur, pendidikan, paritas dan perilaku yang
berpengaruh terhadap kondisi kesehatan ibu selama hamil yang dapat mempengaruhi proses
persalinan normal atau patologis. Resiko terjadi komplikasi pada persalinan terjadi 12% pada
usia kurang dari 20 tahun dan 26% pada usia 40 tahun. Sementara kematian ibu karena
komplikasi persalinan akibat perdarahan sebelum dan sesudah persalinan meningkat dengan
bertambahnya paritas.

Hasil penelitian Felly dan Snewe, 25,5 % responden yang mengalami persalinan
patologis yang terbesar adalah akibat komplikasi persalinan dengan partus lama. Dari
61

kejadian persalinan patologis tersebut 27,5 % terjadi pada responden yang berumur lebih dari
35 tahun, dan pemeriksaan kehamilan kurang dari 4 kali. Bila kondisi kesehatan ibu selama
hamil tidak baik, ibu mempunyai resiko 3,2 kali mengalami komplikasi dalam persalinan.
Penelitian Sibuea dari 366 ibu yang mengalami persalinan patologis tindakan seksio sesaria
akibat partus tidak maju sebanyak 226 (50,33%) dan (81,5%) tidak melakukan perawatan
tehadap kehamilan. Kematian akibat pesalinan patologis lebih rendah pada umur 20-30 tahun
dan jumlah paritas rendah dari pada ibu yang kurang dari 20 tahun. Tingkat pendidikan yang
rendah pada persalinan patologis lebih tinggi dari pendidikan perguruan tinggi.

Penelitian Ridwan dan Wahyuni komplikasi persalinan yang mengakibatkan


persalinan patologis adalah perilaku ibu selama hamil yang pemeriksaan kehamilan kurang
dari empat kali, tidak makan tablet zat besi dan asupan gizi yang kurang, mengakibatkan ibu
mengalami anemia. Bila ibu mengalami anemia dapat mengakibatkan komplikasi pada
kehamilan dan persalinan yaitu perdarahan sebelum dan sesudah melahirkan, gangguan
kontraksi rahim, partus lama, kurang daya tahan tubuh terhadap infeksi dan produksi air susu
ibu kurang. Penelitian lain tentang perilaku senam selama kehamilan menunjukkan bahwa
ibu yang melakukan senam hamil mengalami persalinan lebih cepat dibanding dengan ibu
hamil yang tidak melakukan senam hamil, karena senam hamil dapat meningkatkan aliran
darah ke uterus, membantu ibu hamil memperoleh power sehingga melancarkan proses
persalinan.

Gulardi H, menyatakan AKI dapat diturunkan sekitar 317 (85%) dari AKI saat ini,
jika ibu berperilaku hidup sehat selama kehamilan yaitu merawat kehamilan dengan baik
melalui asupan gizi yang baik, memakan tablet zat besi, melakukan senam hamil, perawatan
jalan lahir, menghindari merokok dan makan obat tanpa resep. Melakukan kunjungan
minimal empat kali untuk mendapat informasi dari petugas kesehatan tentang perawatan yang
harus dilakukan. Asuhan persalinan yang diberikan pada ibu selama persalinan sejak kala
satu, dua, tiga dan empat, menentukan jenis persalinannya apakah normal, atau patologis.
adapun asuhan yang diberikan adalah informasi tentang proses persalinan, perawatan selama
persalinan, tindakan persalinan dan dukungan persalinan dari keluarga dan petugas. Letsi
menyatakan hanya 2 dari 10 persalinan memerlukan tindakan spesialis kebidanan, atau
62

sekitar 10-15% proses kehamilan dan persalinan berakhir dengan patologis. Ini erat kaitannya
dengan perawatan ibu selama masa kehamilan dan persalinan kurang baik, sehingga dalam
persalinan banyak mengalami masalah bahkan komplikasi sehingga persalinan menjadi
patologis.

Tingginya kejadian persalinan patologis diakibatkan oleh tiga terlambat yaitu


terlambat melihat tanda-tanda bahaya kehamilan, terlambat mengambil keputusan untuk
merujuk, terlambat memperoleh asuhan asuhan persalinan yang tepat setelah sampai di
sarana kesehatan. Selain itu karakteristik ibu juga dapat mempengaruhi persalinan patologis,
yang dikenal dengan empat terlalu yaitu: terlalu muda melahirkan anak, dimana panggul ibu
belum tumbuh secara sempurna sehingga kepala tidak dapat melewati jalan lahir, terlalu tua
melahirkan. Ibu yang melahirkan anak pertama lebih dari umur 35 tahun jalan lahir menjadi
kaku sehingga sulit anak sulit lahir, terlalu banyak melahirkan anak dan terlalu sering
melahirkan (jarak <2 tahun). Kondisi tersebut dapat mengakibatkan gangguan kontraksi
uterus, sehingga dapat mengakibatkan perdarahan setelah persalinan. Di Indonesia kejadian
persalinan patologis 65 % terjadi disebabkan pada salah satu dari empat T tersebut diatas.
Selain itu kurangnya partisipasi masyarakat karena tingkat pendidikan, sosial ekonomi dan
kedudukan wanita dalam keluarga masih rendah, serta sosial budaya yang tidak mendukung.

WHO mengembangkan konsep melalui empat pilar safe motherhood yaitu keluarga
berencana, asuhan antenatal, persalinan bersih dan aman serta pelayanan obstetri dasar.
Tujuan upaya ini adalah untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu hamil, bersalin
dan nifas, disamping menurunkan angka kesakitan dan kematian bayi baru lahir. Untuk
mencapai tujuan tersebut Depkes RI melakukan upaya safe motherhood yaitu berupaya
menyelamatkan wanita agar setiap wanita yang hamil dan bersalin dapat dilalui dengan sehat
dan aman serta menghasilkan bayi yang sehat dan aman. Di Indonesia kejadian persalinan
patologis dengan tindakan seksio sesaria meningkat terus, baik di rumah sakit pendidikan,
maupun rumah sakit swasta. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Gulardi dan
Basamalah terhadap 64 rumah sakit di Jakarta tercatat 17.665 kelahiran hidup, sekitar
35,7-55,3 % melahirkan dengan seksio sesaria. Di Rumah Sakit Umum Cipto
Mangunkusumo Jakarta pada tahun 1999-2000 dari 404 persalinan per bulan 30 % seksio
63

sesaria. Sementara di Rumah Sakit Haji Adam Malik Medan tahun 2005-2006 tercatat dari
712 persalinan, 45,4 % diantaranya adalah persalinan patologis bedah sesaria dan vakum.

Rumah Sakit Umum Sari Mutiara Medan adalah salah satu rumah sakit swasta yang
dipercayakan menerima pasien Jamsostek, Askeskin dan pasien umum. Di rumah sakit ini
angka persalinan patologis juga cukup tinggi yaitu 631 persalinan tahun 2004, 64 %
diantaranya persalinan patologis dan tahun 2005 dari 551 persalinan 67 % merupakan
persalinan patologis. Angka ini jauh lebih tinggi dibanding dengan angka standar yang
ditetapkan oleh Departemen Kesehatan yaitu sebanyak 15 % bagi rumah sakit swasta (Data
Rekam Medik RS Sari Mutiara, 2004 dan 2005). Mengingat pentingnya kesehatan ibu dan
bayi pada tanggal 12 Oktober 2000, pemerintah telah mencanangkan Making Pregnancy
Safer (MPS), Gerakan Nasional Kehamilan yang aman melindungi hak reproduksi dan hak
azazi manusia dengan cara mengurangi beban kesalahan, kecacatan, kematian, yang
berhubungand dengan kehamilan dan persalinan. Oleh karena itu Departemen Kesehatan
melalui dinas kesehatan propinsi menganjurkan kepada setiap penolong persalinan baik di
klinik, puskesmas maupun rumah sakit harus mendapatkan pelatihan dan mempunyai
sertifikat Asuhan Persalinan Normal (APN) supaya ibu mendapat asuhan yang tepat sejak
kala satu, dua, tiga dan empat selama persalinan sehingga persalinan dapat berlangsung
normal.

64

BAB II
PENGERTIAN

Upaya kesehatan ibu dan anak adalah upaya dibidang kesehatan yang melakukan
pelayanan dalam upaya memelihara kesehatan ibu hamil secara teratur dan terus menerus
selama kehamilan, persalinan, maupun nifas, meneteki serta pemeliharaan anak dari mulai
lahir sampai masa pra sekolah.
Pemberdayaan Masyarakat bidang KIA merupakan upaya memfasilitasi masyarakat
untuk membangun sistem kesiagaan masyarakat dalam upaya mengatasi situasi gawat darurat
dari aspek non klinis terkait kehamilan dan persalinan
Dalam pengertian ini tercakup pula pendidikan kesehatan kepada masyarakat, pemuka
masyarakat, pemuka masyarakat serta menambah keterampilan para dukun bayi serta
pembinaan kesehatan akan di taman kanak-kanak.
65

BAB III
TUJUAN

Tujuan Umum
Tercapainya kemampuan hidup sehat melalui peningkatan derajat kesehatan yang
optimal bagi ibu dan keluarganya untuk atau mempercepat pencapaian target Pembangunan
Kesehatan Indonesia yaitu Indonesia Sehat 2015, serta meningkatnya derajat kesehatan anak
untuk menjamin proses tumbuh kembang optimal yang merupakan landasan bagi
peningkatan kualitas manusia seutuhnya.

Tujuan Khusus
66

a. Meningkatnya kemampuan ibu (pengetahuan, sikap dan perilaku) dalam mengatasi


kesehatan diri dan keluarganya dengan menggunakan teknologi tepat guna dalam upaya
pembinaan kesehatan keluarga, Desa Wisma, penyelenggaraan Posyandu dan sebagainya.
b. Meningkatnya upaya pembinaan kesehatan balita dan anak prasekolah secara mandiri di
dalam lingkungan keluarga, Desa Wisma, Posyandu dan Karang Balita, serta di sekolah
TK.
c. Meningkatnya jangkauan pelayanan kesehatan bayi, anak balita, ibu hamil, ibu bersalin,
ibu nifas dan ibu menyusui.
d. Meningkatnya mutu pelayanan kesehatan bagi ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas, ibu
menyusui, bayi dan anak balita.
e. Meningkatnya kemampuan dan peran serta masyarakat, keluarga dan seluruh anggotanya
untuk mengatasi masalah kesehatan ibu, balita, anak prasekolah, terutama melalui
peningkatan peran ibu dalam keluarganya.

BAB IV
KEGIATAN DAN SASARAN

KEGIATAN DAN SASARAN DI PUSKESMAS KECAMATAN PASAR MINGGU


A. Kegiatan

I.

Pelayanan Kesehatan Ibu

a) Pelayanan ANC (Ante Natal Care) atau Asuhan Keperawatan Kehamilan

67

b) Kunjungan pertama harus memenuhi persyaratan 5 T atau memenuhi pemeriksaan


kadar Hb.
c) Kunjungan ulang minimal 4 kali selama kehamilan yaitu pada trimester pertama
sebanyak 1 kali, trimester kedua sebanyak 1 kali dan trimester ketiga sebanyak 2 kali.
Pada ibu hamil dengan resiko tinggi, pemeriksaan dilakukan lebih sering dan intensif.

II. Pelayanan Kesehatan Neonatal


a) Perawatan bayi baru lahir
Penanganan bayi segera setelah lahir
-

Usahakan bernafas spontan

Menjaga bayi tetap hangat

Perawatan lanjutan pada bayi baru lahir


-

Dilakukan rawat gabung (rooming in) yaitu ibu dan bayi berada dalam satu
ruangan

b) Perawatan neonatal dini (1-7 hari)


Timbang, pantau keadaan umum, mekonium keluar dalam 24 jam pertama
c) Pelayanan neonatal lanjut (8-28 hari)
Timbang, imunisasi, pantau keadaan umum
Bila terjadi penyulit segera dirujuk
Kunjungan rumah bagi yang memerlukan

III. Pelayanan Kesehatan Dasar Balita dan Anak Pra Sekolah


a) Pelayanan kesehatan dasar
Pemeriksaan berkala fisik dan tumbuh kembang
-

Umur 1 bulan 11 bulan: 4 kali

Umur 1 tahun 2 tahun : 3 kali

Umur 2 tahun 6 tahun : 2 kali


68

Imunisasi dasar
-

BCG, DPT (3 kali), Polio (4 kali), Campak dan Hepatitis (sesuai protap)

Konsultasi dokter ahli


Rujukan kasus

b) Pemantauan gizi balita


Timbang badan dan pantau dengan KMS
Pemberian vitamin A setiap 6 bulan (Februari dan Agustus)
Pemberian sirup FE
c) Deteksi dan stimulasi tumbuh kembang
Dipantau sesuai kelompok umur
-

1 3 bulan

3 6 bulan

6 9 bulan

9 12 bulan

1 2 tahun

2 3 tahun

3 4 tahun

4 5 tahun

Konsultasi dokter ahli


Rujukan khusus ulang
d) Pengobatan ringan infeksi, diare, dan gangguan makan
e) Membuat pencatatan dan pelaporan

B. Sasaran

69

I.

Pelayanan Kesehatan Ibu

a) Langsung

: Ibu hamil, bersalin dan nifas

b) Tidak langsung : Masyarakat ( Tokoh, Kader, Petugas) dan keluarga ibu hamil

II. Pelayanan Kesehatan Anak


Bayi, balita dan anak sekolah

BAB V
PELAKSANAAN KEGIATAN
PELAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS KECAMATAN PASAR MINGGU
No

Jenis Kegiatan
Pemeriksaan
ANC

Pelayanan ibu
bersalin

Sasaran
Ibu hamil

Ibu hamil

Tempat

Waktu

Pelaksana

- Puskesmas-Poli KIA Sesuai


dengan jam
- Posyandu
kerja
puskesmas
- Rumah ibu

- Dokter

- Puskesmas- Ruang
bersalin (VK)

- Dokter

Sepanjang
waktu

- Bidan
- Perawat

- Bidan
- Perawat
70

Pelayanan ibu
nifas

Ibu nifas

- Rumah ibu nifas

Perawatan bayi
baru lahir

Neonatus

- Puskesmas-Poli KIA Sesuai


dengan jam
- Posyandu
kerja
puskesmas
- Rumah ibu

- Bidan

Perawatan
Neonatus
neonatal dini (1-7
hari)

- Puskesmas-Poli KIA Sesuai


dengan jam
- Posyandu
kerja
puskesmas
- Rumah ibu

- Bidan

Perawatan
neonatal lanjut
(8-28 hari)

Neonatus

- Puskesmas-Poli KIA Sesuai


dengan jam
- Posyandu
kerja
puskesmas
- Rumah ibu

- Bidan

Pelayanan
kesehatan dasar
anak

- 1-11 bln

- Puskesmas-Poli KIA Sesuai


dengan jam
- Posyandu
kerja
- Taman Kanak-kanak puskesmas

- Dokter

- 1-2 thn
- 2-6 thn

Pada minggu - Bidan


pertama dan
- Perawat
kedua masa
nifas

- Perawat

- Perawat

- Perawat

- Bidan
- Perawat

- Kelompok bina
keluarga balita
- Tempat penitipan
anak
Pemantauan gizi
balita

Balita

- Puskesmas-Poli KIA Sesuai


dengan jam
- Posyandu
kerja
- Taman Kanak-kanak puskesmas

- Bidan

- Kelompok bina
keluarga balita
- Tempat penitipan
anak

71

Deteksi dan
- 1-3 bln
stimulasi tumbuh
- 3-6 bln
kembang
- 6-9 bln
- 9-12 bln
- 1-2 thn
- 2-3 thn

- Puskesmas-Poli KIA Sesuai


dengan jam
- Posyandu
kerja
- Taman Kanak-kanak puskesmas

- Dokter
- Bidan
- Kader

- Kelompok bina
keluarga balita
- Tempat penitipan
anak

- 3-4 thn
- 4-5 thn

72

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

KESIMPULAN
Upaya wajib KIA dapat memberikan masyarakat kesempatan untuk memahami
kondisi mereka dan melakukan aksi dalam mengatasi masalah mereka ini disebut dengan
pendekatan belajar dan melakukan aksi bersama secara partisipatif (Participatory Learning
and Action -PLA). Pendekatan ini tidak hanya memfasilitasi masyarakat untuk menggali dan
mengelola berbagai komponen, kekuatan-kekuatan dan perbedaan-perbedaan, sehingga setiap
orang memiliki pandangan yang sama tentang penyelesaian masalah mereka, tetapi
pendekatan ini juga merupakan proses mengorganisir masyarakat sehingga mereka mampu
untuk berpikir dan menganalisa dan melakukan aksi untuk menyelesaikan masalah mereka.
Ini adalah proses pemberdayaan masyarakat sehingga mereka mampu melakukan aksi untuk
meningkatkan kondisi mereka. Jadi, ini merupakan proses dimana masyarakat merubah diri
mereka secara individual dan secara kolektif dan mereka menggunakan kekuatan yang
mereka miliki dari energi dan kekuatan mereka.

SARAN
Puskesmas harus lebih mendekatkan pelayanan kesehatan dasar kepada masyarakat
dalam upaya peningkatan kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi masalahmasalah kesehatan, memandirikan masyarakat dalam mengembangkan perilaku hidup bersih
dan sehat. Selain itu, puskesmas harus menjadikan program-program KIA sebagai budaya
masyarakat agar angka kematian ibu dan anak dapat menurun.

73

UPAYA WAJIB KELUARGA BERENCANA (KB)


BAB 1
PENDAHULUAN

Indonesia adalah salah satu Negara yang menghadapi masalah di bidang


kependudukan, yaitu masih tingginya tingkat pertumbuhan penduduk. Keadaan yang
demikian telah mempersulit usaha peningkatan dan pemerataan kesejahteraan masyarakat.
Semakin tinggi tingkat pertumbuhan penduduk, maka makin besar pula usaha yang harus
dilakukan untuk mempertahankan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu, pemerintah
berupaya untuk mengurangi tingkat pertumbuhan penduduk ini dengan program keluarga
berencana.

Keluarga Berencana (KB) merupakan salah satu pelayanan kesehatan preventif yang
paling dasar dan utama bagi wanita, meskipun tidak selalu diakui demikian. Peningkatan dan
perluasan pelayanan keluarga berencana merupakan salah satu usaha untuk menurunkan
angka kesakitan dan kematian ibu yang sedemikian tinggi akibat kehamilan yang dialami
oleh wanita. Banyak wanita harus menentukan pilihan kontrasepsi yang sulit, tidak hanya
karena terbatasnya jumlah metode yang tersedia tetapi juga karena metode-metode tertentu
mungkin tidak dapat diterima sehubungan dengan kebijakan nasional KB, kesehatan
individual dan seksualitas wanita atau biaya untuk memperoleh kontrasepsi .

Pelayanan Keluarga Berencana yang merupakan salah satu didalam paket Pelayanan
Kesehatan Reproduksi Esensial perlu mendapatkan perhatian yang serius, karena dengan
74

mutu pelayanan Keluarga Berencana berkualitas diharapkan akan dapat meningkatkan tingkat
kesehatan dan kesejahteraan. Dengan telah berubahnya paradigma dalam pengelolaan
masalah kependudukan dan pembangunan dari pendekatan pengendalian populasi dan
penurunan fertilitas menjadi pendekatan yang berfokus pada kesehatan reproduksi serta hak
reproduksi. Maka pelayanan Keluarga Berencana harus menjadi lebih berkualitas serta
memperhatikan hak-hak dari klien/ masyarakat dalam memilih metode kontrasepsi yang
diinginkan\

Sistem kesiagaan merupakan sistem tolong-menolong, yang dibentuk dari, oleh dan
untuk masyarakat, dalam hal penggunaan alat transportasi/ komunikasi (telepon genggam,
telpon rumah), pendanaan, pendonor darah, pencatatan-pemantaun dan informasi KB.
Program keluarga berencana dilaksanakan atas dasar suka- rela serta tidak bertentangan dengan
agama, kepercayaan dan moral Pancasila. Dengan demikian maka bimbingan, pendidikan serta
pengarahan amat diperlukan agar masyarakat dengan kesadarannya sendiri dapat menghargai
dan, menerima pola keluarga kecil sebagai salah satu langkah utama untuk meningkatkan
kesejahteraan hidupnya. Oleh karena itu pelaksanaan program keluarga berencana tidak hanya
menyangkut masalah tehnis medis semata-mata, melainkan meliputi berbagai segi penting
lainnya dalam tata hidup dan kehidupan masyarakat.

Program keluarga berencana ini dilaksanakan dengan menggunakan metode


kontrasepsi. Kontrasepsi adalah metode untuk mencegah kehamilan. Dengan metode ini
maka jumlah dan jarak kehamilan dapat diatur. Dengan program keluarga berencana
diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

75

BAB II
PENGERTIAN
Keluarga berencana adalah perencanaan kehamilan sehingga kehamilan hanya terjadi
pada saat di inginkan oleh suami dan istri. Dapat juga diartikan mengatur jumlah anak sesuai
kehendak dan menentukan sendiri kapan saatnya hamil.
Menurut Kamus BesarBahasa Indonesia, maksud daripada ini adalah gerakan untuk
membentuk keluargayang sehat dan sejahtera dengan membatasi kelahiran. Dengan kata lain
KB adalah perencanaan jumlah keluarga. Pembatasan bisa dilakukan dengan penggunaan
alat-alat kontrasepsi atau penanggulangan kelahiran seperti kondom, spiral, IUD dan
sebagainya

76

Menurut BKKBN keluarga berencana artinya mengatur jumlah anak sesuai kehendak
dan menentukan sendiri kapan saatnya hamil atau salah satu usaha masalah kependudukan
sekaligus merupakan bagian yang terpadu dalam program Pembangunan Nasional dan
bertujuan untuk turut serta menciptakan kesejahteraan ekonomi, spiritual, social budaya
penduduk Indonesia agar dapat dicapai keseimbangan yang baik dengan kemampuan
produksi Nasional.
Menurut undang-undang No. 10/1992, keluarga berencana merupakan Upaya
peningkatkan kepedulian masyarakat dalam mewujudkan keluarga kecil yang bahagia
sejahtera. KB merupakan suatu usaha untuk menjarangkan atau merencanakan jumlah dan
jarak kehamilan dengan memakai kontrasepsi.
Menurut WHO, KB merupakan tindakan yg membantu individu/ pasutri untuk:
Mendapatkan objektif-obketif tertentu, menghindari kelahiran yang tidak diinginkan,
mendapatkan kelahiran yang diinginkan, mengatur interval diantara kehamilan dan
menentukan jumlah anak dalam keluarga.

BAB III
TUJUAN
Tujuan Umum
Meningkatnya kesejahteraan ibu dan anak serta keluarga dalam rangka mewujudkan
keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera melalui peningkatan mutu pelayanan medis dan
pengayoman medis kontrasepsi, pemakaian MKET, peningkatan fungsi pengayoman medis
MKET serta penanggungulangan kasus infertilitas.
Tujuan Khusus
77

a) Meningkatnya kesejahteraan ibu dan anak


b) Meningkatnya harapan hidup
c) Berkurangnya angka kematian bayi
d) Berkurangnya angka kematian ibu hamil

BAB IV
KEGIATAN DAN SASARAN

KEGIATAN DAN SASARAN DI PUSKESMAS KECAMATAN PASAR MINGGU


A. Kegiatan
a) KIE
78

Pemberian KIE medis mengenai bebagai jenis alat, obat kontrasepsi antara lain
cara kerja, efek samping, penyulit yang mungkin terjadi serta cara
penanggulangannya.
b) Pelayanan medis
Konseling pra pelayanan ( KIE)
Pelayanan medis
-

Pemasangan alat kontrasepsi/pemberian obat kontrasepsi yang


diinginkan

Deteksi dini kelainan kesehatan reproduksi ibu (Pap smear)

Penanggulangan infertilitas

c) Pengayoman medis
Berupa simulasi pengayoman medis kontrasepsi efektif terpilih ( Siyomeket)
d) Rujukan

B. Sasaran

a) Langsung: Ibu pada masa interval, PUS yang mempunyai masalah.


b) Tidak langsung: WUS, Kader kesehatan, Tokoh masyarakat/agama, Petugas kesehatan

79

BAB V
PELAKSANAAN KEGIATAN
PELAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS KECAMATAN PASAR MINGGU
1.

KIE

- Ibu pada
masa
interval

- Puskesmas-Poli KB
- Posyandu

- PUS yang
mempunya
i masalah
2.

Pelayanan medis

- Ibu pada
masa
interval

- Puskesmas-Poli KB
- Posyandu

- PUS yang
mempunya
i masalah
3.

Penganyoman
medis dan
rujukan

- Ibu pada
masa
interval
- PUS yang
mempunya
i masalah

- Puskesmas-Poli KB
- Posyandu

Sesuai
dengan jam
kerja
puskesmas

- Dokter

Sesuai
dengan jam
kerja
puskesmas

- Dokter

Sesuai
dengan jam
kerja
puskesmas

- Dokter

- Bidan
- Perawat

- Bidan
- Perawat

- Bidan
- Perawat

80

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

KESIMPULAN
Dengan adanya program KB yang didukung dengan strategi pendekatan dan cara
operasional program pelayanan KB diharapkan dapat menurunkan angka kelahiran dan
meningkatkan kesehatan ibu sehingga di dalam keluarganya akan berkembang Norma
Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera (NKKBS).Dalam upaya pencegahan kehamilan dan dalam
rangka gerakan KeluargaBerencana Nasional dapat dicapai salah satunya dengan KB suntik 3
bulanandan dari melihat kasus/asuhan kebidanan diatas dapat diketahui bahwa KBsuntik 3
bulanan dapat mengalami masalah Amenorhoe.

SARAN
Penyebarluasan informasi yang tepat tentang KB dapat membantu masyarakatmenuju
Keluarga Berencana dan sejahtera selain itu dibutuhkan juga peranserta aktif dari bidan
sebagai tenaga kesehatan dan juga masyarakat pasanganusia subur sebagai pengguna.

81

DAFTAR PUSTAKA
1. Depkes RI; Standarisasi Pelayanan Puskesmas di DKI Jakarta; 2010; Jakarta; Hal.
7-18
2. Depkes RI; Pedoman Pendataan Puskesmas; 2006; Jakarta; Hal. 45-47
3. Scott, James R. Dkk. 2002. Danforth buku saku obstetric dan ginekologi. Jakarta:
Widya medika.
4. Prawirohardjo, Sarwono. 2003. Buku panduan praktis pelayanan kontrasepsi. Jakarta:
Yayasan bina pustaka.
5. Prof dr. Abdul Bari Saifuddin SpOg. MPG. 2003. Buku Panduan Praktis Pelayanan
Kontrasepsi. YBPSP.

82

UPAYA PERBAIKAN GIZI


MASYARAKAT

Penyusun :
Wilma Pratiwi

( 030.05.234 )

Yenovi Desy Selawani

( 030.06.280 )

83

BAB I
PENDAHULUAN
Kesehatan merupakan modal utama dalam kehidupan setiap orang, dimanapun dan
siapapun pasti membutuhkan badan yang sehat, baik jasmani maupun rohani guna menopang
aktifitas kehidupan sehari-hari. Begitu pentingnya nilai kesehatan ini, sehingga seseorang
yang menginginkan agar dirinya tetap sehat harus melakukan berbagai macam cara untuk
meningkatkan derajat kesehatannya, seperti melakukan penerapan pola hidup sehat dan pola
makan yang baik dan benar dalam kehidupan sehari-hari.1
Gizi merupakan salah satu penentu kualitas sumber daya manusia. Kekurangan gizi
akan menyebabkan kegagalan pertumbuhan fisik dan perkembangan kecerdasan, menurunkan
produktivitas kerja dan menurunkan daya tahan tubuh, yang berakibat meningkatnya angka
kesakitan dan kematian. Masalah Gizi di Indonesia sampai saat ini masih memprihatinkan,
terbukti tingginya angka kematian ibu, bayi dan balita serta rendahnya tingkat kecerdasan
yang berakibat pada rendahnya produktifitas, pengangguran, kemiskinan dan akan
menghambat pertumbuhan ekonomi. Hal ini mendasari masalah Gizi menjadi salah satu
faktor penting penentu pencapaian Millenium Development Goals.2
Kecukupan gizi sangat diperlukan oleh setiap individu sejak janin yang masih dalam
kandungan, bayi, anak-anak, masa remaja, dewasa sampai usia lanjut. Ibu atau calon ibu
merupakan kelompok rawan karena membutuhkan gizi yang cukup sehingga harus dijaga
status gizi dan kesehatannya agar dapat melahirkan bayi yang sehat.2
Tahun 2008 jumlah balita yang ada di kota Tanjungpinang sebanyak 23.240 orang.
Jumlah balita yang memiliki KMS (K/S) pada tahun 2008 sebesar 18.927 orang (81,4%). Jika
84

dibandingkan dengan tahun 2004 sampai dengan tahun 2007, maka cakupan jumlah balita
yang memiliki KMS pada tahun 2008 lebih rendah. Sedangkan secara umum, cakupan balita
yang memiliki KMS (K/S) dari tahun 2004 sampai dengan 2008 berada pada angka diatas
80%. Karena nilai persentase K/S kurang dari 100%, kemungkinan jumlah KMS masih
kurang sehingga perlu dilakukan penambahan atau juga distribusi KMS yang belum merata.2
Partisipasi masyarakat (D/S) pada tahun 2008 sebesar 62,0%. Jika dilihat dari tahun
2004 sampai dengan tahun 2008, maka persentase partisipasi masyarakat pada tahun 2008 ini
memiliki angka yang paling kecil. Hal ini menggambarkan bahwa partisipasi masyarakat
masih kurang. Untuk itu perlu dipelajari kenapa mereka tidak datang ke posyandu dan perlu
dimotivasi. Selain itu dari kader posyandu sendiri bersama dengan PKK kelurahan juga
dihimbau agar lebih memotivasi warganya untuk membawa balita ke posyandu setiap bulan.2
Banyak faktor yang menyebabkan masalah gizi kurang antara lain faktor ketersediaan
pangan dalam rumah tangga, asuhan gizi keluarga dan akses keluarga terhadap pelayanan
kesehatan. Dalam dokumen RPJMN 2004-2009, telah ditargetkan penurunan masalah gizi
kurang pada tahun 2009 setinggi-tingginya 20%. 2
Posyandu merupakan bentuk Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM) yang
mempunyai daya ungkit yang besar dalam mengatasi masalah gizi kurang, menurunnya
kinerja posyandu akan berdampak pada menurunnya status gizi. Menyikapi kondisi tersebut,
Pemerintah telah mengeluarkan Surat Edaran Menteri Dalam Negeri No.411.3/1116/SJ
tentang revitalisasi posyandu yang merupakan upaya untuk meningkatkan fungsi dan kinerja
posyadu. Untuk itu Pemerintah perlu menyediakan dukungan dana operasional posyandu.2
Berdasarkan Keputusan Menkes RI No. 116/Menkes/SK/VIII/2003 tentang pedoman
Penyelenggaraan Surveilens Epidemiologi Kesehatan, salah satu sasaran adalah pelaksanaan
Sistem Kewaspadaan Gizi termasuk Sistem Kewaspadaan Dini KLB Gizi Buruk. SK Menkes
RI no. 1457/Menkes/SK/X/2003 tentang kewenangan Wajib Standar Pelayanan Minimal
Bidang Kesehatan, salah satu indikator adalah 80% kecamatan bebas rawan gizi. Gambaran
yang lebih akurat tentang situasi masalah gizi buruk di tingkat masyarakat akan didapat
melalui pelaksanaan surveilens aktif dengan melakukan konfirmasi dan pelacakan kasus.2
Salah satu upaya mempertahankan status gizi bayi dan anak usia 6-23 bulan dan juga
untuk mencegah keadaan gizi menjadi lebih buruk, disediakan Makanan Pendamping Air
Susu Ibu (MP-ASI). MP-ASI tersebut khususnya bagi bayi dan anak usia 6-23 bulan dari
85

keluarga miskin yang berat badannya berdasarkan hasil penimbangan di posyandu tidak naik
(T1). Distribusi MP-ASI sampai ke sasaran memerlukan dukungan dana.2

BAB II
PENGERTIAN
Kata gizi berasal dari bahasa Arab gizzah, dalam bahasa latin nutrire artinya
makanan atau zat makanan sehat. Ilmu gizi adalah ilmu tentang makanan, zat-zat gizi, dan
substansi yang terkandung didalamnya, peran dan keseimbangannya, untuk kesehatan dan
masalah kesehatan. Definisi gizi adalah proses tubuh memanfaatkan makanan yang dimulai
dari mengunyah, menelan, mencerna, menyerap, mendistribusi, menggunakan dan
membuang yang tidak terpakai.3
Zat gizi adalah ikatan kimia yang diperlukan oleh tubuh untuk melakukan fungsi yaitu
menghasilkan energi, membangun sel-sel, memelihara jaringan dan mengatur proses-proses
tubuh. Status gizi adalah keadaan tubuh/ekspresi sebagai akibat komsumsi makanan dan
penggunaan zat-zat gizi. Malnutrisi ( gizi salah ) adalah keadaan patologis akibat kekurangan/
kelebihan secara relatif maupun absolut satu atau lebih zat gizi. 3
Perbaikan gizi merupakan suatu upaya perbaikan gizi masyarakat yang
diselenggarakan secara menyeluruh dan terpadu dalam kerjasama lintas sektoral, peranan
keluarga serta swadaya termasuk swasta untuk meningkatkan status gizi masyarakat dalam
rangka mewujudkan derajat kesehatan yang optimal.5
Gizi seimbang adalah istilah untuk menggambarkan susunan makanan dan minuman
yang jenis maupun jumlahnya menjamin kebutuhan tenaga, sumber pertumbuhan dan
pemeliharaan untuk mencapai status kesehatan optimal.6
86

BAB III
TUJUAN
Tujuan Umum
Tertanggulanginya masalah gizi di masyarakat dan meningkatnya status gizi
masyarakat di wilayah Kecamatan Pasar Minggu.

Tujuan Khusus
1. Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam kegiatan Posyandu.
2. Meningkatnya cakupan vitamin A pada bayi, balita dan bufas.
3. Meningkatnya cakupan Fe pada ibu hamil dan buteki.
4. Meningkatnya status gizi pada balita gizi buruk melalui intervensi gizi.
5. Meningkatnya pengetahuan dan kemampuan petugas gizi kelurahan dalam
melaksanakan dan pelaporan kegiatan gizi.
6. Diselenggarakannya pelayanan gizi di klinik gizi.
7. Meningkatnya kerjasama lintas program dan lintas sektoral.
8. Terlaksananya kegiatan Pos Gizi untuk menurunkan angka balita gizi buruk dengan
dana swadaya masyarakat.

87

BAB IV
KEGIATAN DAN SASARAN
KEGIATAN DAN SASARAN DI PUSKESMAS KECAMATAN PASAR MINGGU
Kegiatan
IV.1

Kegiatan Rutin Program Gizi


a. Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK)
1. Penyuluhan gizi pada masyarakat sangat diperlukan karena pengetahuan orang
tua dapat ditambah dengan cara memberikan penyuluhan setiap saat
pertemuan.
2. Pelayanan Gizi di Posyandu
3. Pemberian Vitamin A setiap bulan Februari dan Agustus pada anak - anak
4. Pemberian Vitamin A pada bufas
5. Pemberian tablet tambah darah pada bumil dan buteki dan bufas
6. Pemberian makanan tambahan pemulihan di Posyandu
7. Monitoring dan evaluasi kegiatan penimbangan balita di Posyandu
8. Pelacakan kasus gizi buruk yang ditemukan di wilayah Pasar Minggu
88

b. Usaha Perbaikan Gizi Institusi ( UPGI )


1. Penyuluhan Gizi di SD / MI / SMP / SMA secara terpadu dengan program
UKS/PKPR
2. Pemantauan status gizi anak sekolah dilaksanakan secara terpadu dengan
program UKS melalui screening kesehatan
3. Pelayanan gizi di klinis gizi Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu
c. Kegiatan SPGP ( Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi )
1. Pemantauan status gizi Balita di Posyandu
2. Melakukan survei konsumsi makanan pada masyarakat
3. Rapat koordinasi dengan sektoral
4. Pembinaan kader Posyandu dan petugas kelurahan
IV.2

Kegiatan Program Gizi dengan menggunakan anggaran subsidi


1. Pengadaan vitamin A untuk bayi, balita, dan ibu hamil
2. Pengadaan PM tambahan pemulihan untuk balita BGM
3. Pembentukan pos gizi
4. Pengadaan bahan dan pangan MP-ASI
5. Pembinaan petugas gizi kelurahan
6. Monitoring dan evaluasi program gizi

IV.3

Program Gizi yang berintegrasi dengan program lain


1. KP ibu dengan program kesehatan ibu
2. Posyandu dengan program PSM
3. Gizi anak sekolah dengan program UKS
4. Gizi remaja dengan program PKPR
5. Gizi lansia dengan program lansia

Sasaran
1. Ibu, balita dan buteki yang datang ke Posyandu
2. Lansia yang datang ke Posyandu lansia
3. Ibu hamil dengan class ANC
4. Pada kelompok Pasien DM yang ada di Pasar Minggu
5. Pada kelompok sekolah, remaja, Panti Asuhan
89

6. Pada masyarakat umum

BAB V
PELAKSANAAN KEGIATAN
PELAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS KECAMATAN PASAR MINGGU
1. Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK)

90

Jenis Kegiatan

Sasaran

Tempat

Waktu

Penimbangan balita di

B a y i , Posyand Satu bulan 1x Petugas kesehatan

Posyandu

balita, ibu u

sesuai jadwal

Pelaksana

Puskesmas dan

hamil,

Kader kesehatan/

Pemberian makanan

dan ibu

Posyandu

tambahan di Posyandu

menyusui

Penyuluhan gizi di Posyandu

Pemberian vitamin A pada


balita di Posyandu

Pemberian tablet Fe pada


balita di Posyandu dan PMT
balita

Pencatatan dan pelaporan

Penataan kader
2. Usaha Perbaikan Gizi Pemuda (UPGP)
Jenis kegiatan

Sasaran

Tempat

Waktu

Penyuluhan gizi

O rg a n i s a s i Kecamatan 2x per tahun Tenaga Pelaksana

remaja

pemuda dan

sesuai jadwal

Pelaksana

Gizi Puskesmas

remaja/

Pembina bersama

k a r a n g

sama Dokter

taruna

Puskesmas
Pembina

3. Usaha perbaikan Gizi Sekolah (UPGS)

91

Jenis kegiatan

Sasaran

Tempat

Penyuluhan gizi

M a s y a r a k a t Sekolah Dasar 4 x p e r P e t u g a s

pada masyarakat

Sekolah Dasar/ ( S D ) , S LT P / t a h u n k e s e h a t a n

sekolah

M a d r a s a h T s a n a w i y a h , s e s u a i dan Tenaga
I b t i d i y a h , SLTA/Aliyah

Pembinaan warung / S
kantin sekolah

L T

Waktu

jadwal

Pelaksana

Pelaksana
Gizi (TPG)

Tsanawiyah dan

puskesmas

SLTA/Aliyah
Pemeriksaan Hb
anak SD/MI

Pemberian tablet
tambah darah

Pemantauan status
gizi
4.Usaha Perbaikan Gizi Institusi (UPGI)
Jenis kegiatan

Sasaran

Tempat

Waktu Pelaksana

92

Penyuluhan gizi

Masyarakat panti

Institusi/

2x per

Tenaga

pada masyarakat

asuhan, panti

perusahaan,

tahun

Pelaksana

institusi

jompo, dan

panti, pesantren

sesuai

Gizi (TPG)

pesantren

jadwal Puskesmas

Pemeriksaan Hb
pada Nakerwan

Pembina
Tenaga kerja
wanita

Pemberian tablet

(Nakerwan)

tambah darah pada


Nakerwan

Pemantauan gizi
Nakerwan

5. Klinik Gizi
Jenis kegiatan

Sasaran

Tempat

Anamnesa,

Pasien umum

Poli Gizi 3 hari

diagnose keluhan

dengan kelainan Puskesm dalam

gizi dan nasihat

gizi ganda (gizi

dietetic

lebih dan

Pembina

kurang)
Pengukuran status

Waktu

s seminggu,

Pelaksana
Dokter puskesmas

Tenaga Pelaksana

sesuai jam Gizi (TPG)


kerja

Puskesmas
Pembina

gizi (antropometri

Pasien rujukan

dan laboratorium)

dari RB, BP,


BKIA, dll

Riwayat kebiasaan
makan dan intake

Balita gizi
buruk rujukan
dari posyandu
93

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
VI.1 Kesimpulan
1. Jumlah Posyandu yang rutin melaksanakan kegiatan 98,2 %
2. Jumlah kader Posyandu yang aktif 71,4 %
3. Cakupan D/S = 74,0 % ; K/S = 89,0 % ; N/D = 56,3 % ; N/S = 41,6 %
4. Cakupan Fe I ibu hamil = 81,3 % ; Fe III = 80,9 %
5. Cakupan vitamin A bulan Februari untuk 100.000 UI sebanyak 93,1 % dan 200.000
UI sebanyak 90,4 % serta Agustus untuk 100.000 UI sebanyak 99,1 % da 200.000 UI
sebanyak 95,2 %
6. Rata rata kunjungan klinik gizi 110 orang/bulan
94

7. Kegiatan intervensi gizi dapat memperbaiki gizi buruk dari 64,5 % menjadi 24,4 %
8. Cakupan ASI eksklusif masih rendah sekitar 36,8% sedangkan targetnya 80 %

VI. 2 Saran
1. Meningkatkan sosialisasi ke masyarakat, khususnya para ibu yang memiliki balita
untuk pertumbuhan balitanya melalui kegiatan Posyandu
2. Menjalin komunikasi dan kerjasama yang lebih efektif dengan lintas program dan
lintas sector
3. PMT Pemulihan balita gizi buruk sebaiknya melalui klinik gizi Puskesmas
kecamatan agar memudahkan monitoring dan evaluasi

DAFTAR PUSTAKA

1. Wuna. Evaluasi Pelaksanaan Program Perbaikan Gizi Masyarakat dalam Mencapai Visi
Misi Indonesia Sehat 2010. Kendari ; 2010
2. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Petunjuk Teknis Bantuan Sosial Program
Perbaikan Gizi Masyarakat. Jakarta ; 2008
3. Direktorat Bina Gizi Masyarakat Republik Indonesia. Masalah Gizi di Indonesia dan
Program Perbaikan Gizi Masyarakat. Jakarta ; 2008
4. Juknis SPM Gizi Masyarakat. Program Perbaikan Gizi Masyarakat. Jakarta ; 2008

95

5. Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Standarisasi Pelayanan Kesehatan Puskesmas.


Jakarta ; 2007
6. Persatuan Ahli Gizi Indonesia. Prioritas Peningkatan Pengetahuan dalam Perbaikan Gizi
Masyarakat. Jakarta ; 2011

UPAYA PENCEGAHAN DAN


PEMBERANTASAN PENYAKIT
MENULAR

96

Penyusun :
Fadilah

( 030.06.084)

Rakhma Asih Primadyah

(030.06.209)

BAB I
PENDAHULUAN

Pembangunan kesehatan yang berkualitas merupakan bagian integral dari


pembangunan nasional, dimana masyarakat, bangsa dan negara dapat hidup dalam
lingkungan dan perilaku hidup yang sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau
97

pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata, serta memiliki derajat kesehatan
yang setinggi-tingginya. Usaha peningkatan derajat kesehatan diupayakan melalui upaya
peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan penyakit (preventif), penyembuhan (kuratif),
serta upaya-upaya pemulihan kesehatan (rehabilitatif). Usaha-usaha tersebut dilakukan secara
menyeluruh, terpadu, dan berkesinambungan serta peningkatan sistem pengamatan penyakit,
pengkajian, cara penanggulangan secara terpadu dan penyelidikan terhadap penularan
penyakit.
Dalam mewujudkan pelaksanaan upaya-upaya di atas tentunya harus didukung oleh
sarana dan prasarana serta sumber daya manusia yang berkualitas yang mampu memenuhi
tuntutan dan kebutuhan pembangunan di bidang kesehatan, baik masa kini maupun masa
datang. Salah satu program yang telah ditetapkan untuk mencapai tujuan dan sasaran
pembangunan di bidang kesehatan adalah pencegahan dan pemberantasan penyakit menular.
Program tersebut dilaksanakan untuk mencegah berjangkitnya penyakit atau mengurangi
angka kematian dan kesakitan, dan sedapat mungkin menghilangkan atau mengurangi akibat
buruk dari penyakit
menular tersebut.
Penyakit menular yang juga dikenal sebagai penyakit infeksi dalam istilah medis
adalah sebuah penyakit yang disebabkan oleh sebuah agen biologi (seperti virus, bakteria
atau parasit), bukan disebabkan faktor fisik (seperti luka bakar dan trauma benturan) atau
kimia (seperti keracunan) yang mana bisa ditularkan atau menular kepada orang lain melalui
media tertentu seperti udara (TBC, Infulenza dll), tempat makan dan minum yang kurang
bersih pencuciannya (Hepatitis, Typhoid/Types dll), Jarum suntik dan transfusi darah(HIVAids,Hepatitisdll). Beberapa penyakit menular yang menjadi masalah utama di Indonesia
adalah diare, malaria, demam berdarah dengue, influensa, tifus abdominalis, penyakit saluran
cerna, dan penyakit lainnya.
Adapun penyakit yang tidak menular adalah penyakit yang diderita pasien yang pada
umumnya disebakan bawaan/keturunan, kecacatan akibat kesalahan proses kelahiran,
dampak dari berbagai penggunaan obat atau konsumsi makanan serta minuman termasuk
merokok, kondisi stress yang mengakibatkan gangguan kejiwaan. Beberapa penyakit tidak

98

menular yang menunjukkan kecenderungan peningkatan adalah penyakit jantung koroner,


hipertensi, kanker, diabetes melitus, kecelakaan, dan sebagainya.
Untuk melakukan upaya pemberantasan penyakit menular, penanggulangan Kejadian
Luar biasa (KLB) penyakit dan keracunan, serta penanggulangan penyakit tidak menular
dierlukan suatu sistem surveilens penyakit yang mampu memberikan dukungan upaya
program dalam daerah kerja Kabupaten/Kota, propinsi, dan Nasional.
Pada tahun 1987 telah dikembangkan Sistem Surveilens Terpadu (SST) berbasis data,
Sistem Pencatatan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP), dan Sistem Pelaporan Rumah
Sakit (SPRS), yang telah mengalami beberapa kali perubahan dan perbaikan. Sistem tersebut
disesuaikan dengan ketetapan Undang Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah
Daerah; Undang Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara
Pemerintah Pusat dan Daerah; Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang
Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom; dan Keputusan
Menteri Kesehatan No. 1116/MENKES/SK/VIII/2003 tentang Pedoman Penyelenggaraan
Sistem Surveilens Epidemiologi Kesehatan serta kebutuhan informasi epidemiologi untuk
mendukung upaya pemberantasan penyakit menular dan penyakit tidak menular.

BAB II
99

PENGERTIAN

Penyakit adalah adalah suatu keadaan abnormal dari tubuh atau pikiran yang
menyebabkan ketidaknyamanan, disfungsi atau kesukaran terhadap orang yang
dipengaruhinya. Untuk menyembuhkan penyakit, orang-orang biasa berkonsultasi dengan
seorang dokter.
Penyakit menular adalah penyakit yang dapat ditularkan (berpindah dari orang yang
satu ke orang yang lain) baik secara langsung maupun melalui perantara. Suatu penyakit
dapat berpindah dari satu orang ke orang yang lain karena

adanya penyebab penyakit

(agent), pejamu (host) dan cara penularan (route of transmission). Agent penyakit menular
dapat berupa virus, riketsia, bakteri, protozoa, jamur dan cacing. Agar agent penyebab ini
bias bertahan maka harus terjadi perkembangbiakan, berpindah dari satu host ke host yang
lain, mencapai host yang baru dan menginfeksi host yang baru. Cara penularan yang dapat
dilakukan dengan kontak, inhalasi (air bone infection), kontaminasi (melalui makanan dan
minuman), penetrasi pada kulit dan infeksi melalui plasenta.
Beberapa jenis penyakit yang menular:
Anthrax

Impetigo

Beguk

Influenza

Batuk rejan (pertusis)

Kolera

Beri-beri

Lepra

Cacingan

Malaria

Cacar Air (varicella)

Penyakit Meningokokus

Campak

Penyakit tangan, kaki dan mulut

Chikungunya

Rabies

Demam campak

Radang lambung dan usus

Demam berdarah

Rubeola

Demam kelenjar

Rubella

Diare

Tetanus

Disentri Amuba

Tuberkulosis

Eritema infektiosum (Parvovirus


B19)

Kutu
Konjungtivitis
100

Macam penyakit menular:


Penyakit karantina atau wabah (UU No.1 dan 2 tahun 1962): Kolera, Pes,
Demam kuning, Deman bolak-balik, Tifus Bercak Wabah, Poliomielitis dan
Difteri).
Penyakit menular dengan potensi wabah tinggi: DBD, Diare, Campak, Pertusis dan
Rabies, Avian Influenza, HIV/AIDS.
Penyakit menular dengan potensi wabah rendah: malaria, meningitis,
frambusia, keracunan, influenza, ensefalitis, antraks, tetanus neonatorum
dan tifus abdominalis.
Penyakit menular yang tidak berpotensi wabah : kecacingan, lepra, TBC, Sifilis,
Gonore dan Filariasis.

Penyakit tidak menular adalah penyakit yang tidak disebabkan oleh kuman, tetapi
disebabkan karena adanya problem fisiologis atau metabolisme pada jaringan tubuh manusia.
Penyakit-penyakit tersebut contohnya ialah; batuk, seriawan, sakit perut, dan sebagainya.
Pengalaman menunjukkan bahwa penyakit menular yang terdapat di dalam wilayah
kerja
Puskesmas di Indonesia dapat dikelompokkan menjadi kelompok-kelompok penyakit
menular sesuai dengan sifat penyebarannya di dalam masyarakat wilayah tersebut, ialah:
1. Penyakit menular yang secara endemik berada diwilayah, yang pada waktu tertentu
dapat menimbulkan wabah, yang dapat dikelompokkan ke dalam penyakit-penyakit
menular potensial wabah.
2. Penyakit menular yang berada di wilayah dengan endemisitas yang cukup tinggi
sehingga jika tidak diawasi dapat menjadi anacaman bagi kesehatan masyarakat
umum.
3. Penyakit- penyakit menular lain yang walaupun endemisitasnya tidak terlalu tinggi di
dalam masyarakat, tetapi oleh karena sifat penyebarannya dianggap sangat
membahayakan masyarakat, maka penyakit-penyakit ini perlu diawasi keberadaannya.
Dalam upaya pencegahan terjadinya wabah dan penularan penyakit dalam program
Puskesmas dilaksanakan program P4M (Pencegahan, Pemberantasan, Pembasmian, Penyakit
101

Menular) dengan tujuan eradikasi penyakit sampai ke akarnya. Kemudian diganti menjadi
P3M (Pencegahan, Pencegahan Penyakit menular) dan P2M & PLP (Pemberantasan Penyakit
Menular & Penyehatan Lingkungan Pemukiman).
Penyakit dapat dibedakan menjadi :
a. Penyakit menular
b. Penyakit infeksi
c. Penyakit Kontak
d. Penyakit karantina
e. Penyakit endemi
f. Penyakit epidemi (wabah)
g. Penyakit Pandemi

Penyakit menular adalah penyakit yang disebabkan agent / hasil toxin yang berasal
dari reservoir dan ditularkan ke host yang rentan. Mata rantai penularan terdiri dari :
a. Agent / hasil toksin
b. Reservoir (sumber penularan)
c. Transmisi (cara penularan)
d. Host / penjamu

Kejadian Luar Biasa (KLB) ialah kejadian kesakitan dan atau kematian yang menarik
perhatian umum dan mungkin menimbulkan ketakutan dikalangan mayarakat, atau yang
menurut pengamatan epidemiologik dianggap adanya peningkatan yang berarti dari kejadian
kesakitan/kematian tersebut pada kelompok penduduk dalam kurun waktu tertentu.
Termasuk dalam KLB ialah kejadian kesakitan atau kematian yang disebabkan oleh
penyakit-penyakit baik yang menullar maupun tidak menular dan kejadian bencana alam
yang diserati wabah penyakit.
Secara operasional suatu kejadian dapat disebut KLB bila memenuhi satu atau lebih
ketentuan-ketentuan sebagai berikut :

102

1. Angka kesakitan/kematian suatu penyakit menular di suatu kecamatan menunjukkan


kenaikan dua kali atau lebih selama tiga minggu berturut-turut atau lebih.
2. Jumlah penderita baru dalam satu bulan dari suatu penyakit menular di suatu kecamatan
menunjukkan kenaikan dua kali lipat atau lebih bila dibandingkan dengan angka ratarata sebulan dalam setahun sebelumnya dari penyakit menular yang sama di kecamatan
tersebut.
3. Angka rata-rata bulanan dalam satu tahun dari penderita-penderita baru dari suatu
penyakit menular disuatu kecamatan menunjukkan kenaikan dua kali atau lebih bila
dibandingkan dengan angka rata-rata bulanan dalam tahun sebelumnya dari penyakit
yang sama pula.
4. Case fatality rate dari suatu penyakit menular tertentu dalam suatu kurun waktu tertentu
(hari, minggu, bulan) di suatu kecamatan menujukkan kenaikan 50% atau lebih bila
dibandingkan dengan CFR penyakit yang sama dalam kurun waktu yang sama periode
sebelumnya di kecamatan tersebut.
5. Proportional rate penderita baru dari suatu penyakit menular dalam satu periode tertentu,
dibandingkan dengan proportional rate penderita baru dari suatu penyakit menular yang
sama daam tahun yang lalu dengan periode yang sama menunjukkkan kenaikan dua kali
atau lebih.
6. Khusus penyakit-penyakit kolera, pes, DBD/DSS :
a. Setiap peningkatan jumlah penderita-penderita tersebut diatas, di suatu daerah
endemik yang sesuai dengan ketentua-ketentuan di atas.
b. Terdapatnya satu atau lebih penderita kematian menular tersebut diatas, di suatu
Kecamatan yang telah bebas dari penyakit-penyakit tersebut, paling sedikit bebas
selama 4 minggu berturut-turut.
7. Apabila kesakitan atau kematian oleh keracunan yang timbul di suatu kelompok
masyarakat.
8. Apabila di daerah tersebut terdapat penyakit yang sebelumnya tidak ada. Khusus untuk
kasus AFP (Acute Flaccid Paralysis) dan Tetanus neonatorum ditetapkan sebagai KLB
bila ditemukan satu kasus atau lebih.
Wabah penyakit menular adalah kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam
masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi dari keadaan yang
103

lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka (UU No.4 Tahun
1984 tentang wabah penyakit menular)

Penanggulangan Kejadian Luar Biasa Penyakit Menular dilaksanakan dengan upaya-upaya :


1. Pengobatan, dengan memberikan pertolongan penderita, membangun pos-pos kesehatan
di tempat kejadian dengan dukungan tenaga dan sarana obat yang memadai termasuk
rujukan.
2. Pemutusan rantai penularan atau upaya pencegahan misalnya, abatisasi pada KLB DBD,
kaporisasi pada sumur-sumur yang tercemar pada KLB diare, dsb.
3. Melakukan kegiatan pendukung yaitu penyuluhan pengamatan. Pemantauan dan logistik.
Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit (P2P) terdiri dari kegiatan
pengamatan penyakit, pencegahan termasuk imunisasi serta penanggulangan dan
pemberantasan penyakit. Berbagai cara pencegahan dapat diterapkan salah satunya dengan
membangkitkan kekebalan pada masyarakat melalui pelayanan yang dalam pelaksanaannya
diintegrasikan ke dalam program-program pelayanan perolrangan seperti KIA, UKS, dan
kegiatan imunisasi di luar gedung Puskesmas. Mengingat pentingnya pelayanan imunisasi
ini, maka cakupan imunisasi di dalam masyarakat perlu dimonitor dengan Pemantauan
Wilayah Setempat (PWS) imunisasi Puskesmas menurut distribusi desa.
Ada beberapa cara penularan penyakit menular, yaitu :
1. Penularan secara kontak, baik kontak langsung maupun kontak tidak langsung.
2. Penularah memalui vehicle seperti melalui makanan dan minuman yang tercemar.
3. Penularan melalui vektor.
4. Penularan melalui suntikan, transfusi, tindik, tato.
5. Penularan melalui hubungan seksual.
Surveilans epidemiologi penyakit dapat diartikan sebagai kegiatan pengumpulan data
atau informasi melalui pengamatan terhadap kesakitan atau kematian dan penyebaran serta
faktor-faktor yang mepengaruhinya secara sistematik, terus-menerus dengan tujuan untuk
perencanaan suatu program, mengevaluasi hasil program, dan sistem kewaspadaan dini.
104

Untuk dapat memonitor atau mengamati distribusi penyakit menular di dalam


masyarakat wilayah kerja Puskesmas, dilakukan pencatatan peristiwa kesakitan dan kematian
yang diakibatkan oleh penyakit menular tersebut. Untuk pemantauan penyakit menular
tertentu yang menjadi masalah kesehatan di wilayah Puskesmas disajikan dalam PWS
mingguan Penyakit (contoh PWS [Formulir W2] penyakit campak, diare, DBD, dll). Dengan
penggunaan PWS penyakit sara mingguan ini dapat dikenali atau diketahui secara dini
kenaikan atau distribusi suatu penyakit menular tertentu menurut tempat dan waktu.

BAB III
TUJUAN

A.

Tujuan Umum
Menurunnya angka kesakitan, kematian, dan angka kecacatan akibat penyakit.

B.

Tujuan Khusus
1. Terlaksananya kegiatan pengamatan penyakit menular dan penyakit tidak menular.
2. Terlaksananya kegiatan pencegahan penyakit dan imunisasi.
3. Terlaksananya kegiatan pemberantasan penyakit menular langsung (TBC, Kusta,
Diare dan kecacingan, ISPA, serta Penyakit menular Seksual dan HIV AIDS).
4. Terlaksananya kegiatan pemberantasan penyakit bersumber vektor dan rodent. (DBD,
Malaria, Rabies, dan filaria).

105

BAB IV
KEGIATAN DAN SASARAN

A.

Penyakit Menular

PROGRAM PENGAWASAN TERHADAP PENYAKIT MENULAR


Pokok Persoalan dan Tantangan:
Pemerintah Indonesia telah mengubah sistem pemerintahannya menjadi sistem
desentralisasi yang membahayakan sistem pengawasan Penyakit Menular.
Sasaran:
Memperkuat pengawasan penyakit yang menular melalui hubungan seksual (STI).
Memperkuat pengawasan HIV.

PROGRAM PENCEGAHAN, PEMBERANTASAN DAN PENGAWASAN


TERHADAP PENYAKIT MENULAR
Pokok Persoalan dan Tantangan:
Infeksi Filariasis dan penularannya selalu terdapat di banyak daerah tanpa kegiatan
pengawasan yang cukup. Proyek percobaan untuk ELF memperlihatkan hasil yang
menjanjikan yang perlu ditingkatkan ke tingkat propinsi, sesuai dengan komitmen untuk
target penghapusan global (Mekhong Plus).

106

Infeksi Dengue dan komplikasinya seperti demam berdarah terus meningkat di daerah
kota dan pinggir kota dengan meningkatnya angka kesakitan namun menurunnya angka
kematian yang menjanjikan. Partisipasi dan jaringan masyarakat diperlukan untuk memulai
pengawasan dari penularan dengue (terutama di perkotaan) dan filariasis (terutama di
pedesaan).
Leptospirosis tetap menjadi hal yang serius meskipun tidak ada laporan yang mengancam.
Rabies dan Japanese Encephalitis adalah masalah utama yang memerlukan dukungan dari
sistem pemerintahan untuk memperkuat pengawasan dan vaksin pencegahan.
Frambesia dan kusta adalah penyakit menular yang dapat diobati, namun dengan
penularan utama yang terjadi di daerah yang miskin, terpencil, kurang pelayanannya,
diperlukan kesadaran yang ditingkatkan dan dukungan dari pemerintah setempat, dan juga
tingkat daerah. Helminthiasis yang sangat umum dan sangat endemis dengan pengaruh
kesehatan yang kronik yang dapat secara luas ditingkatkan melalui pemberantasan cacing
yang berulang-ulang secara masal, yang harus dikoordinasikan dengan perawatan ELF
dimanapun memungkinkan.
Sasaran:
Meningkatkan dan mempertahankan kualitas dari komponen-komponen terpilih dan
bidang-bidang yang termasuk dalam program nasional untuk mencegah, mengawasi,
dan menghapuskan penyakit-penyakit yang ditargetkan, termasuk ELF, partisipasi dan
jaringan masyarakat untuk pengawasan dengue dan arbovirus lainnya, antihelminthiasis deworming, leptospirosis, rabies, yaws dan kusta.

PROGRAM PEMBERANTASAN MALARIA


Pokok Persoalan dan Tantangan:
Malaria tetap menjadi salah satu penyakit menular yang utama di sebagian besar
daerah di Indonesia. Ancaman yang muncul kembali telah terjadi di daerah-daerah
pengawasan efektif sebelumnya. Angka kesakitan dan kematian Malaria secara bermakna
mempengaruhi bagian-bagian yang lebih miskin di negara. Sebuah rencana pembangunan
telah dikembangkan, bersama dengan meningkatnya pendanaan yang baru-baru ini disetujui
melalui Global Fund untuk AIDS, TB dan Malaria, namun pelaksanaanya belum dimulai.
Kini desentralisasi sedang berjalan yang memerintahkan pelaksanaan tanggung jawab di
107

tingkat daerah dan propinsi. Unit Malaria di DepKes meneruskan kebutuhan untuk
memperkuat fungsinya sebagai koordinator dari "Gebrak Malaria" dan GFATM. Kebijakan
perawatan obat-obatan perlu terus diawasi dengan timbulnya kembali pola resistansi.
Sasaran:
Meningkatkan dan memelihara kualitas dari komponen-komponen terpilih dan daerah-daerah
yang terjangkau oleh rencana kerjasama "Gebrak Malaria" untuk dilaksanakan dibawah
GFATM dan sumber donatur lainnya.

PROGRAM PEMBERANTASAN TUBERCULOSIS


Pokok Persoalan dan Tantangan:
Indonesia telah mengembangkan dan memulai penerapan rencana pembangunan lima
tahun untuk pemberantasan TB (2002-2006). Telah ada peningkatan marginal dalam kasus
tingkat deteksi selama dua tahun terakhir hanya karena Pusat Kesehatan telah melaksanakan
DOTS. Untuk memperbaiki hal ini, Badan Swasta dan Tempat Kesehatan Masyarakat lainnya
harus terlibat dalam pelaksanaan DOTS. Kualitas pelaksanaan DOTS, terutama sistem
pencatatan dan pelaporan, pada saat ini mengalami beberapa kekurangan yang perlu diatasi
dengan memperkuat dan meluruskan kegiatan DOTS di tingkat pusat, propinsi dan daerah.
Agar dapat menyediakan dukungan teknis yang berkesinambungan untuk mengatasi hal ini,
maka penting untuk memperkuat dukungan teknis dalam negeri dengan menambah staf di
tingkat nasional dan lapangan.
Sasaran:
Memperbaiki pelaksanaan pelayanan DOTS di seluruh negeri dengan membentuk
kemitraan yang efektif dengan provider kesehatan di sektor lain (publik-gabungan
publik & publik - gabungan swasta), dan penyediaan dukungan teknis yang
berkesinambungan.

B.

Penyakit Tidak Menular

PROGRAM PENGAWASAN, PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN


TERHADAP PENYAKIT TIDAK MENULAR
Pokok Persoalan dan Tantangan :
108

Kini suatu upaya yang terpadu sedang berjalan untuk mengembangkan Pengamatan
Risiko Terhadap Penyakit Tidak Menular (NCD Control), dengan mengadaptasi Rencana
Global dan Regional. Tiga komponen utama diadopsi, yaitu: pengamatan faktor-faktor risiko,
upaya peningkatan kesehatan yang terpadu dan penghantaran perawatan kesehatan yang
direformasi. Dokumen ini diharapkan akan selesai sebelum akhir tahun 2003.
Pendekatan STEPwise dari WHO untuk Pengamatan Faktor Risiko telah
diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia selama tahun 2002-03. STEP 1 juga telah
dimasukkan ke dalam Survei Sosial Ekonomi Nasional - Modul Kesehatan sebagai bagian
dari SURKESNAS. Selain itu, dengan pendanaan gabungan dari SEARO dan Kantor Negara,
pendekatan Stepwise telah digunakan di bidang demonstrasi mengarah pada pengembangan
pendekatan yang berbasis komunitas dalam pengawasan penyakit tidak menular. Disamping
itu, instrumen- instrumen ini telah diperkenalkan oleh pemerintah setempat dan juga
universitas guna meningkatkan pengadopsian dari instrumen-instrumen ini untuk penerapan
yang lebih lanjut. Namun, rencana pembangunan nasional tentang pengamatan terhadap
penyakit yang tidak menular yang utama masih perlu dikembangkan untuk mencapai sebuah
konsensus dalam pengamatan terhadap penyakit yang tidak menular. Perbedaan dalam
pendekatan dari dasar penyakit dan fakto risiko berdasarkan pengamatan harus saling
melengkapi dan mendapatkan kepentingan yang seimbang.
Projek uji coba sedang berjalan di Depok dengan gabungan dana dari SEARO dan Kantor
Negara untuk mengembangkan pendekatan yang berbasis komunitas dalam pencegahan dan
pengawasan penyakit yang tidak menular yang utama. Ini adalah projek yang berlangsung
lama, terutama jika kita ingin melihat perubahan perilaku. Maka, upaya yang konsisten harus
ada supaya kita dapat mencapai suatu kesimpulan.
Dalam waktu 2002-3, pertemuan-pertemuan persiapan telah dilakukan untuk
membentuk suatu jaringan nasional untuk pencegahan dan pengawasan dari penyakit yang
tidak menular yang utama. Meskipun sektor publik/ DepKes tetap menjadi agen utama bagi
pergerakan ini, ada potensi yang besar dalam sektor swasta seperti LSM yang sangat aktif
dalam pencegahan dan pengawasan faktor risiko dari penyakit yang tidak menular. Maka dari
itu, jaringan ini perlu didukung lebih jauh lagi.

109

Tantangannya kini adalah untuk melanjutkan upaya-upaya dan untuk menyokong para
pemegang kepentingan yang utama untuk memungkinkan negara untuk mengantisipasi
wabah penyakit yang tidak menular yang akan datang.
Sasaran :
Menerapkan Program Pembangunan Nasional untuk pencegahan dan pengawasan
penyakit yang tidak menular.

PROGRAM PENGAWASAN, PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN


TERHADAP PENYAKIT TIDAK MENULAR 2
Pokok Persoalan dan Tantangan :
Indonesia masih ketinggalan dalam upaya untuk memerangi kebutaan yang
diakibatkan oleh katarak. Dalam kurun waktu 2002-3 beberapa petugas pemerintah telah
mendapatkan pelatihan dalam Program Pengelolaan Perawatan Mata di Madurai dan di
beberapa tempat. Rencana Pembangunan Nasional untuk penanggulangan kebutaan baru saja
dikeluarkan, maka ini harus benar-benar didukung, dan terutama bahwa Penglihatan 2020
bukan program prioritas teratas di negeri ini.
Sasaran :
Penerapan dukungan teknis dalam rencana pembangunan untuk pencegahan dan
penanggulangan kebutaan.

PROGRAM PENGAWASAN TEMBAKAU


Pokok Persoalan dan Tantangan :
Indonesia telah mengalami salah satu peningkatan terbesar dalam konsumsi tembakau
di dunia - 47% selama tahun 1990an. Perokok meningkat dengan pesat di Indonesia. Sekitar
69,1% pria Indonesia berusia 20 tahun atau lebih merokok secara reguler, dengan angka yang
lebih tinggi di daerah pedesaan (74,0%). Di antara anak laki-laki yang disurvei di sekolah
menengah di Jakarta, 69,3% telah mencoba merokok. Perokok reguler di antara anak laki-laki
berusia 15 sampai 19 tahun meningkat dari 36,8% (1997) menjadi 42,6% (2000).

110

Sesuai dengan WHA52.18 Indonesia aktif terlibat dalam Framework Convention on


Tobacco Control (FCTC) bersama dengan negara anggota PBB lainnya. Di tahun 2003,
tujuannya adalah untuk meratifikasi perjanjian internasional pengawasan tembakau.
WHO akan mendukung struktur lembaga untuk membawa ke depan kunci legislatif dan
elemen-elemen kebijakan dari rencana pembangunan, bekerja sama dengan berbagai
departemen pemerintah, LSM dan MPR.
Sasaran :
Mengadopsi dan menerapkan rencana pengendalian tembakau nasional yang lengkap

PROGRAM KECELAKAAN/DISABILITAS
Pokok Persoalan dan Tantangan :
Kecelakaan dan kekerasan telah menjadi masalah kesehatan publik. Data dari Susenas
memperlihatkan bahwa insiden kecelakaan sendiri adalah 0,5% dari satu juta orang. Selain
itu, kecelakaan dan kekerasan yang berhubungan dengan ketidakstabilan politik dianggap
tinggi di area-area yang terkena. Pada saat kini, tidak ada titik pusat yang diidentifikasikan di
dalam DepKes. Sangat baik dimengerti bahwa menanggapi isu-isu kecelakaan dan kekerasan
membutuhkan pendekatan multi-sektor. Namun demikian, kesehatan menduduki posisi yang
paling strategis di bidang ini. WHO SEARO telah mengembangkan beberapa dokumen yang
berhubungan dengan ini, yang dapat digunakan sebagai referensi untuk membentuk kebijakan
dan kapasitas dalam menangani isu-isu ini. WHO telah menonjolkan isu ini dengan
mengeluarkan Laporan Dunia tentang Kekerasan dan Kesehatan di tahun 2002.
Sasaran :
Membentuk kebijakan nasional untuk pencegahan kecelakaan dan kekerasan.

PROGRAM KESEHATAN MENTAL DAN PENYALAHGUNAAN OBAT DAN


BAHAN BERBAHAYA
Pokok Persoalan dan Tantangan :
Masalah kesehatan mental menjadi masalah yang lebih menonjol belakangan ini di
negara, sebagian karena dikeluarkannya Laporan Kesehatan Dunia 2001 tentang Kesehatan
Mental. Ini menjadi ganda dengan adanya perubahan baru-baru ini di dalam DepKes 111

Direktorat Kesehatan Mental dari pendekatan berbasis rumah sakit menjadi berbasis
komunitas.
Maka dari itu, di dalam kurun waktu tahun 2002-03, WHO telah mendukung
pengembangan Kebijakan Kesehatan Mental Nasional dan rencana pembangunannya.
Meskipun adanya upaya ini, program kesehatan mental masih belum mendapatkan anggaran
belanja yang mencukupi. Selain itu, desentralisasi yang mulai diterapkan di tahun 2001
mempersulit masalah ini. Kebingungan juga meningkat karena tidak adanya pola di negara
mengenai program kesehatan mental daerah yang dapat digunakan sebagai contoh. WHO-HQ
baru-baru ini mengembangkan alat-alat pengelola untuk memperkuat program kesehatan
mental daerah melalui Projek Kebijakan Kesehatan Mental.
Kini telah ada upaya untuk mengartikan dan mengadaptasikan dua seri modul, yaitu
Perencanaan dan Penganggaran Belanja Program Kesehatan Mental dan Pengaturan Jasa-Jasa
Kesehatan Mental. Adaptasi ini diharapkan untuk selesai di tahun 2003. Di tahun 2003,
sebuah lokakarya pelatihan telah berhasil diselenggarakan dengan mengikutsertakan peserta
dari pusat dan dari propinsi-propinsi di Jawa dan Bali untuk memperkenalkan modul dan
menggunakan modul untuk mengembangkan program kesehatan mental. Di tahun 2004-05,
beberapa modul lain juga akan menjalani pendekatan yang sama. Disamping itu, beberapa
modul pelatihan untuk pencegahan dan pemberi perawatan utama dalam bidang kesehatan
mental dan penyalahgunaan obat dan bahan berbahaya telah dikembangkan dan dilatih di
beberapa propinsi. Namun tidak ada tanggapan dan pengawasan dari pelaksanaanya.
Penyalahgunaan obat dan bahan berbahaya menjadi lebih menonjol dalam beberapa
tahun terakhir. Pemerintah telah melakukan upaya namun masih belum terlalu efektif. Kantor
WHO di negara bekerja sebagian dalam isu ini, sejumlah panduan telah dikembangkan untuk
para pecandu narkotika, namun ada pengertian yang berkembang bahwa narkotika sangat
berhubungan dengan penyalahgunaan bahan lainnya seperti alkoholisme. Kini tantangannya
adalah untuk meningkatkan kesadaran dan mengembangkan panduan nasional dalam
menghadapi alkoholisme dan penyalahgunaan bahan berbahaya lainnya seperti
metamphetamine, dll.
Sasaran :
Memperkuat program kesehatan mental daerah.

112

Memperbaharui dan mencoba di lapangan panduan nasional dan alat-alat pengelolaan


penyakit mental dan neurologis dan penyalahgunaan bahan berbahaya

113

BAB V
PELAKSANAAN KEGIATAN

PELAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS KECAMATAN TEBET


Pelaksanaan upaya pokok pencegahan pemberantasan penyakit menular dan tidak menular di
puskesmas tingkat kecamatan :

Kegiatan

Sasaran

Tempat

Waktu

Pelaksana

Balita, dewasa

Poli anak dan 1 tahun 1x tiap D o k t e r

Penyuluhan
ISPA

umum, Aula

kunjungan Poli

puskesmas
dan tenaga
kesehatan

Diare

Bayi dan anak

Poli anak, Aula

1 tahun 1x tiap D o k t e r
kunjungan poli

puskesmas
dan tenaga
kesehatan

TBC

I n d i v i d u , Poli paru, Aula 1 tahun 2x tiap D o k t e r


kelompok

dan Puskesmas kunjungan poli

puskesmas

Kelurahan

dan tenaga
kesehatan

Kusta

Dewasa

Aula

1 tahun 1x

D o k t e r
puskesmas
dan tenaga
kesehatan

HIV

Pasien poli dan Poli konsultasi 1 tahun 1x tiap D o k t e r


siswa

r e m a j a d a n kunjungan poli

puskesmas

sekolah

dan tenaga
kesehatan

Imunisasi

114

Imunisasi wajib

Bayi

( 0 - 1 1 Poli imunisasi

bulan)

Tiap Selasa dan T e n a g a


Kamis

I m u n i s a s i
sekolah

Sekolah
Siswa SD (kelas
I,II,III)

TT

kesehatan

Ibu hamil

Tiap kunjungan Bidan


Poli KIA

sebanyak 2x

Pemeriksaan
klinis
S p u t u m Anak
tersangka TB

dewasa

d a n Poli umum, poli Tiap kunjungan D o k t e r


paru dan poli poli

puskesmas

anak
PSN

Masyarakat

Kelurahan

1x tiap minggu D o k t e r
(hari Jumat)

puskesmas,
t e n a g a
kesehatan dan
Jumantik

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

115

A.

Kesimpulan
Penyakit Menular adalah penyakit yang disebabkan agent / hasil toxin yang
berasal dari reservoir dan ditularkan ke host yang rentan. Mata rantai penularan terdiri
dari :
a.

Agent / hasil toksin.

b.

Reservoir (sumber penularan).

c.

Transmisi (cara penularan) .

d.

Host / penjamu
Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit (P2P) terdiri dari kegiatan

pengamatan penyakit, pencegahan termasuk imunisasi serta penanggulangan dan


pemberantasan penyakit.

B.

Saran
Untuk lebih meningkatkan upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit
menular dan tidak menular sebaiknya dilakukan sosialisasi kepada masyarakat secara
rutin serta penambahan SDM yang ada patut dipertimbangkan, agar program yang ada
dapat berjalan dan terlaksana dengan baik dan maksimal.

DAFTAR PUSTAKA

116

1. Departemen kesehatan Republik Indonesia. Pedoman kerja Puskesmas jlid 2, 1999.


2. Pemerintah daerah Khusus ibukota Jakarta. Standarisasi pelayanan Kesehatan Puskesmas
di DKI Jakarta,1999.
3. Dinas kesehatan propinsi DKI Jakarta, standar manajemen pengendalian vektor penyakit,
volume 13 edidi I, 2002.
4. http://penyakit-pengobatan.blogspot.com/2007/12/penyakit-menular-dan-tidakmenular.html
5. Program Pengawasan, Pencegahan dan Penanggulangan Terhadap Penyakit Menular dan
Tidak Menular, available at www.who.com accessed on 17th July 2011.
6. Penyakit, available at www.wikipedia.com accessed on 18th July 2011.

UPAYA PENGOBATAN
117

Penyusun :
Khairun Nisa

( 030 06139)

Shita Hayyuning A.

(030 06 246)

BAB I
118

PENDAHULUAN
Pengobatan

rasional menurut WHO 1987 yaitu pengobatan yang sesuai indikasi,

diagnosis, tepat dosis obat, cara dan waktu pemberian, tersedia setiap saat dan harga
terjangkau.1
Salah satu perangkat untuk tercapainya penggunaan obat rasional adalah tersedianya
suatu pedoman atau standar pengobatan yang dipergunakan secara seragam pada pelayanan
kesehatan dasar atau puskesmas.2
Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas pertama kali diterbitkan pada tahun 1985
dan mendapat tanggapan yang sangat menggembirakan bagi pelaksana pelayanan kesehatan
dasar. Telah pula dicetak ulang beberapa kali dan terakhir tahun 2002 tanpa merubah isinya.2
Oleh karena kemajuan yang pesat dalam ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran
maupun farmasi menuntut tersedianya suatu pedoman yang mengikuti perkembangan,
sehingga perlu merevisi pedoman tersebut.1

Latar Belakang
Pelayanan kesehatan untuk masa yang akan datang semakin kompleks sejalan dengan
adanya perubahan lingkungan dari masyarakat yang menyebabkan perubahan pola penyakit
serta adanya perkembangan ilmu dan teknologi kedokteran.1
Oleh karenanya, puskesmas dalam menjalankan fungsinya untuk meningkatkan taraf
kesehatan masyarakat melalui pembinaan dan pelayanan kesehatan dapat menggunakan
segala macam sumber daya yang ada di wilayah kerja, baik dengan sektor kesehatan maupun
sektor lain yang terkait, serta sektor swasta. Dan agar fungsi puskesmas dapat terlaksana
dengan baik, perlu adanya peningkatan kemampuan manajemen di bidang pelayanan yang
diberikan maupun pengorganisasian yang terintegrasi lebih baik. Dalam makalah ini yang
dibahas adalah upaya pengobatan dasar di puskesmas.

Permasalahan1
Upaya pengobatan di puskesmas sebagian besar berhadapan dengan permasalahan
fisik dan mental yang timbul dalam kehidupan sehari-hari dari Pengguna Jasa Pelayanan
Kesehatan (PJPK) dan keluarganya. Dinamika kehidupan manusia banyak sekali
119

berhubungan dengan masalah kesehatan yang timbul akibat kondisi lingkungan dan status
sosial yang beragam.

Beberapa masalah kesehatan mempunyai insidens yang sering ditemukan pada


pelayanan medik Puskesmas, yaitu pelayanan lini terdepan adalah :
1. penyakit yang dapat hilang dan sembuh sendiri, yaitu penyakit swa sirna (self limiting
diseases)
2. masalah somatik yang timbul oleh pengaruh stress (tekanan psikis)
3. permasalahan penyakit akibat gaya hidup dan budaya
4. penyakit infeksi akut maupun kronik
5. permasalahan usia lanjut
6. permasalahan endokrin
7. permasalahan nutrisi
Prinsip penatalaksanaan pelayanan yang diselenggarakan adalah sesuai dengan manajemen
pelayanan medik menyeluruh terpadu.

120

BAB II
PENGERTIAN
Pengobatan merupakan suatu proses ilmiah yang dilakukan oleh dokter berdasarkan
temuan-temuan yang diperoleh selama anamnesis dan pemeriksaan. Dalam proses
pengobatan terkandung keputusan ilmiah yang dilandasi oleh pengetahuan dan keterampilan
untuk melakukan intervensi pengobatan yang memberi manfaat maksimal dan resiko sekecil
mungkin bagi pasien. Hal tersebut dapat dicapai dengan melakukan pengobatan yang
rasional.1

Pelayanan pengobatan adalah pelayanan medik yang dilakukan oleh pelaksana


pelayanan (dokter) baik secara sendiri ataupun atas koordinasi bersama dengan sesama
profesi maupun pelaksana penunjang pelayanan kesehatan lain sesuai dengan wewenangnya,
untuk menyelesaikan masalah kesehatan dan menyembuhkan penyakit yang ditemukan dari
pengguna jasa pelayanan keshatan, dengan untuk memandang umur dan jenis kelamin yang
dapat diselenggarakan pada ruang masalah. 2

121

BAB III
TUJUAN
Tujuan Umum
Tujuan umum upaya pengobatan adalah meningkatnya derajat kesehatan masyarakat
dengan memberikan pelayanan kuratif.1

Tujuan Khusus
Tujuan Pedoman Pengobatan dikelompokkan dalam beberapa hal:1
a. Mutu Pelayanan Pengobatan.
Oleh karena Pedoman Pengobatan hanya memuat obat yang terpilih untuk masingmasing penyakit / diagnosis.
b. Standar Profesi.
Senantiasa menjadi standar profesi setinggi-tingginya karena disusun dan diputuskan
atas kesepakatan para ahli.
c. Pengamanan Hukum.
Merupakan landasan hukum dalam menjalankan profesi karena disusun dan
disepakati para ahli dan diterbitkan oleh pemerintah.
d. Kebijakan dan Manajemen Obat.
Perencanaan obat yang digunakan akan lebih tepat, secara langsung dapat
mengoptimalkan pembiayaan pengobatan.

122

BAB IV
SASARAN DAN KEGIATAN
Sasaran
Sasaran upaya pengobatan yang diselenggarakan Puskesmas adalah semua anggota
masyarakat dengan tidak memandang umur dan tidak membedakan strata sosial. 1
Ciri masalah yang dilayani :
1. gejala/keluhan dan status klinik yang tidak terlalu ekstrim.
2. dapat diatasi segera.
3. penyebab bukan patologi berat (seperti DM berat, hipertensi tak terkendalikan,
malignansi, adanya gejala sistemik berat, preforasi alat dalam).

Rincian Kegiatan
Kegiatan

Uraian Kegiatan

Anamnesa

Sapa dengan baik PJPK yang datang

Pelaksana

Pahami keluhan dan gejala secara holistik


Perhatikan tanda vital dan profil umum
Biarkan PJPK bercerita sendiri
tentang riwayat penyakitnya dan
pengobatannya

123

Pemeriksaan
secara holistik
dari aspek fisik
mental dan
sosial dari
penyakit

Pemeriksaan secara holistik dari aspek Dokter Puskesmas


fisik, mental dan sosial
Lokasi keluhan
Faktor penentu yang ada :
Risiko bila ada alergi, kehamilan,
kelainan perilaku
Berat ringannya secara klinis
Pengaruh lain dari penyakit
Bila sulit diketahui dapat dilakukan Penata laboran
pemeriksaan laboratorium dan radiologik Penata radiologik
sesuai dengan indikasi dan kemampuan

Diagnosa

Berdasarkan keluhan, hasil pemeriksaan

Dokter Puskesmas

T i n d a k a n : Pengobatan yang dapat diberikan adalah :


Medikamentosa
Anti mikrobiota
Anti fungi
Analgesik-antipiretik
Anti inflamasi non steroid (AINS)
Antiepilepsi, antikonvulsi
Antidepresi, antipsikotik
Anti parkinson
Hipnotik sedatif
Obat antihipertensi dan penyakit
jantung
Obat antisyok
Obat mengatasi keluhan pernafasan
Obat mengatasi dispepsia dan nyeri
abdomen
Antiseptik saluran kemih
Kontraseptik
Antiseptik desinfektans
Obat haematopoitik
Obat untuk kebidanan
Obat topikal kulit
Obat topikal mata
Obat gigi
Obat hemoroid
Vitamin dan mineral, lain-lain
124

T i n d a k a n Persiapan untuk bedah umum ataupun Dokter


P e r s i a p a n tindakan bedah khusus sederhana dapat
operasi :
dikerjakan dokter Puskesmas atas
kerjasama dengan operator
- A n a m n e s a Anamnesa dan rekam medik dikirimkan Dokter, perawat
lengkap
dengan surat rujukan pada operator
- Pemeriksaan
(tindakan
o p e r a s i
dilakukan oleh
ahli yang
sesuai dengan
kasus)

Pemeriksaan bukan sjaa terhadap keluhan


namun semua sistem tubuh,
kardiovaskuler dan respirasi berkaitan
kasus operasi dan tindakan anestesi.
Test laboran : darah lengkap
Radiologik : foto toraks
ECG, usia > 40 th (adanya riwayat
jantung)

O p e r a s i Operasi sito dan operasi yang


direncanakan
direncanakan tidak dapat dilakukan di
Puskesmas, kecuali bedah persalinan oleh
Ahli Kandungan, bila fasilitas pelayanan
persalinan
Bedah minor

Ahli kandungan,
perawat, anestesi,
bidan, dokter spesialis
mata

Minor : sirkumsisi, lipoma, eksisi clavus, Dokter, perawat


abses ekterpasi sederhana pada pelayanan
rawat jalan

T i n d a k a n Konseling padapelayanan terpadu untuk R u a n g k o n s e l i n g


K o n s e l i n g masalah :
khusus Dilaksanakan
khusus
Kebugaran fisik dan kehidupan yang sehat oleh : dokter, perawat
Mental psikospiritual sosial
Kerja
Sanitasi dan lingkungan
Keluarga, marital
Seks
T i n d a k a n Ketepatan dosis/tindakan
e v a l u a s i Kesembuhan
pelayanan
Mutu
T i n d a k a n Pengisian rekam medik
e v a l u a s i Penilaian epidemiologik
administratif
Biaya

125

Komponen Pelayanan
Kegiatan

Petugas Pelaksana

Keterangan

Pelayanan ambulans

Supir, perawat kesehatan, Milik puskesmas


perawat gigi

Pelayanan administrasi

Perawat

Pelayanan obat-obatan

Petugas farmasi

Perlengkapan medik

P e t u g a s / p e r a w a t Minor set jahit


perlengkapan
M a y o r s e t
tindakansederhana

Terapi cairan, inhalasi,


obat; oral suppositoria,
oksigen, infus set,
s u n t i k a n ,
vaksintetanus,antiseptik,
kateter

Bidai
Pelayanan kecelakaan/
muskuloskeletal, trauma
organ lain

D o k t e r p u s k e s m a s , Penanganan luka terbuka


k o n s u l e n p a n g g i l a n , Penanganan fraktur
p e r a w a t , d o k t e r g i g i , sederhana
perawat gigi, penata
radiologik

Kedaruratan medik; penyakit T i m m e d i k u n t u k : Penanganan keadaan


akut, kronis darurat
kegawatan nafas, resusitasi a k u t A B C ( A i r w a y,
j a n t u n g p a r u - o t a k , Breathing, Circulation)
penurunan kesadaran,
status konvulsi
Pemeriksaan laboratorium

P e n a t a l a b o r a t o r i u m , Darah, urin, konsul; faal


perawat
ginjal, elektrolit, kimia
darah

Pemeriksaan ECG

Perawat, dokter

126

BAB V
PELAKSANAAN KEGIATAN
PELAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS KECAMATAN TEBET

Pelayanan yang terdapat di Puskesmas Kecamatan Tebet dilakukan oleh petugas yang
dilaksanakan di dalam gedung puskesmas dan di luar gedung puskesmas (pusling).Berikut ini
adalah 10 penyakit terbanyak di Puskesmas Kecamatan Tebet tahun 2010 :3

SEPULUH PENYAKIT TERBANYAK PUSKESMAS KECAMATAN TEBET TAHUN


20103
NO

KODE

JENIS PENYAKIT

JUMLAH

2200

Penyakit lain

13.260

1302

ISPA

13.183

1303

Penyakit lain saluran napas

9.010

1502

Penyakit pulpa + jaringan apikal

6.359

2002

Penyakit kulit alergi

4.868

0801

Gangguan psikotik

4.448

0102

Diare

3.011

1503

Gingivitis + penyakit periodental 2.637

127

1005

Penyakit mata

2.599

10

1101

Infeksi telinga tengah

2.556

JUMLAH

61.931

1. Penyelesaian masalah infeksi sistemik


Kegiatan

Uraian Kegiatan

Keterangan

Tindakan dan Tetapkan organ sistem tubuh yang terkena Faktor penentu dan
pengobatan
infeksi; kelenjar, sistem hematopoitik, usia jenis kelamin
humoral tubuh
Tetapkan penyebab infeksi (semua golongan P e n y e b a b j e n i s
umur)
mikrobiota, parasit,
virus, cacing, sumber
penyebab manusia
( a n a k - a n a k D P T,
polio, campak,
gondongan, cacar air)
Keadaan keseimbangan elektrolit
Keseimbangan suhu

Rujukan

Host : keadaan
umum, tanda vital,
status gizi, derajat,
malignansi, penyakit
keseimbangan fungsi
organ terpadu

Malignansi penyakit dengan infeksi luka

Lingkungan : hospes
perantara, sumber
penularan manusia

Atasi keluhan dan berikan simptomatik


cegah keadaan untuk menjadi lebih buruk
yaitu tindakan :
untuk menurunkan suhu

Untuk menurunkan
suhu tidak dibenarkan
menggunakan
kompres es, kipas
angin

menyeimbangkan cairan, elektrolit


tubuh
nutrisi tubuh
oksigenasi, pernapasan

128

Pemulihan

Tindakan terhadap penyebab

Kasus infeksi yang


telah merusakkan
organ (misalnya kasus
Penyebab yang tidak jelas atasi secara TBC, PPOK, perlu
rehabilitasi untuk
simptomatik dan perbaiki keadaan umum
mengoptimalkan
fungsi paru)
Bila keadaan tidak dapat diatasi, perlu Pasca stroke dengan
pemeriksaan lanjut dan tindakan pelayanan k e c a c a t a n d a p a t
perawatan ataupun pelayanan lanjutan
menimbulkan trauma
psikis
yang
m e m e r l u k a n
rehabilitasi sosial baik
pengguna jasa
maupun keluarganya
Rehabilitasi fisik, mental dan sosial
tergantung pada dampak penyakit, kronisnya
penyakit, komplikasi penyakit kecacatan
yang ada

Demikian pula infeksi


kusta komunitas harus
dapat menerimanya
tanpa keraguan untuk
menjadi sumber
penularan

2. Gangguan Sistem Pernapasan


Kegiatan

Uraian Kegiatan

P e n i l a i a n Berdasarkan keluhansubjektif; dispnoe,


penapisan
intensitas, rasa tersumbat, rasa tercekik,
hubungan dengan pekerjaan, rasa berat
pada dada (bedakan rasa nyeri dengan),
PPOK, batuk, hemaptoe, suara serak akut,
berulang
Tentukan penyakit dasar

Keterangan
Pernafasan atas
(THT)
Pernafasan bawah/
paru
Penyakit jantung
Penyakit Hematogen
(asidosis, anoksia)

Tanda vital angka respirasi, pergerakan


N e u r o g e n i k ,
dada
psikogenik
Inspeksi saluran nafas atas/bawah/dada
Korpus alinum
(sumbatan jalan
nafas)

129

P e m e r i k s a a n Infeksi sel nafas spesifik TBC, sistem U m u m ; i n f e k s i


semua gol umur DOTS (Direcly Observed Treatment saluran nafas akut,
Shortcourse)
kronik yang non
spesifik; rinitis,
Non infeksi
f a r i n g i t i s ,
Masalah kegawatan nafas
tonsilofaringitis,
b r o n k h i t i s ,
bronkopneumonia,
pleurotiskhiolitis
Tumor paru, tumor
THT, asma bronkhial,
pneumokoniosis
(kedaruratan medik)
Tindakan dan Berikan medikamentosa sesuai dengan
pengobatan
hasil pemeriksaan, atasi penyebab, berikan
obat pelega pernapasan, obat simptomatik
untuk mengurangi penderitaan.

Ditujukan untuk
pengguna jasa
pelayanan kesehatan
(PJPK)

Konseling mengenai penggunaan obat, P J P K


cara pencegahan penularan/memberatnya keluarganya
penyakit, perjalanan penyakit dan cara
mengatasinya, nutrisi dan pola hidup
untuk mempercepat penyembuhan

dan

Terapi paliatif, untuk fisik maupun psikis


Rujukan

Bila fungsi paru memburuk

Pada kasus terminal,


m e n g u r a n g i
Penyakit menjadi kronis
penderitaan perlu
Berhubungan dengan penyakit lain yang
dukungan keluarga.
berat
Perkesmas
Malignansi
Bila perlu peralatan diagnostik canggih
dan tindakan invasif

Tindakan dan Perawatan kasus terminal dirumah


pengobatan
Kasus kronik dengan pengobatan intensif

Dokter bersama
Perkesmas

M e n e r i m a Kasus dispnoe yang dapat segera diatasi


rujukan kembali
T i n d a k a n Pengobatan suplemen
p e n y e l e m a t a n Latihan pernapasan
kehidupan

Mengembalikan
fungsi: pernapasan,
paru,
organ
pernapasan dalam dan
luar

130

Pemulihan

Terapi psikis/ventilasi

Mengembalikan
fungsi sosial

3. Gangguan Sistem Pencernaan dan Organ pendukungnya


Kegiatan
Penilaian pada
berbagai usia

Uraian Kegiatan
gangguan pada gigi dan mulut
keluhan pada abdomen atas :
muntah, dispepsia abdomen; kolik,
nyeri abdomen
berdasarkan keluhan : tentukan
penyebab, dapat terjadi semua
golongan umur yaitu gastritis, diare
non spesifik, pankreatitis
non spesifik; sigelosis, eltor,
demam tifoid, salmonelosis,
infestasi cacing
penyakit hepatobilier : hepatitis A,
B, C, D dan E, fatty liver, sirrhosis
hepatis, kolelitiasis
Keracunan makanan; bakteri,
bahan kimia, intoksikasi obat
Intoleransi dalam metabolisme
makanan : terhadap gula, laktosa,
lemak
Obstipasi dan konstipasi

Keterangan
Bila tidak diawasi
dapat terjadi
dehidrasi, perdarahan
lambung, hipokalemi,
hiponatremi alkalosis

Inkotinensia alvi
Tindakan dan Terapi medikamentosa terhadap kausa dan Medikamentosa yang
pengobatan
simptomatik
r a s i o n a l
Diare dan alat pencernaan; terapi diet (informatorium obat
generik)
yang sesuai, terapi cairan
Edukasi PJPK dan keluarga

Terapi cairan : oralit,


infus
Konseling
Kebutuhan makanan
dan cairan
Kebersihan
Pantangan

131

Pemulihan

Penyesuaian untuk menu yang harus K e l u a rg a d i m i n t a


ditaati, lunak, jumlah cairan, tidak pedas
mementau pola
makan
yang
dianjurkan

4. Gangguan Sistem Kardiovaskuler


Kegiatan

Uraian Kegiatan

Keterangan

Deteksi dini

Penyakit jantung bawaan pada bayi, S i a n o s i s a d a l a h


semua golkongan umur
tindakan untuk segera
dirujuk
Penyakit degeneratif : hipertensi
Penyakit infeksi adalah penyakit jantung
rheumaendokarditis
Gagal jantung

Tindakan dan Memberikan medikamentosa, dietitik D o k t e r, p e r a w a t ,


pengobatan
sesuai dengan diagnosa jantung, vaskular keluarga
ataupun psikosomatik
Konseling pada PJPK dan keluarganya
untuk dapat memperbaiki sistem pompa Puskesmas, dokter
jantung dan aliran pembuluh darah dan
menyelesaikan masalah psikis ataupun
masalah nutrisi, perilaku dan kebiasaan
yang ada
Memberikan edukasi pada pasien dan
keluarganya untuk meningkatkan pola
hidup dan menciptakan suasana keluarga
yang partisipatif dalam menyelesaikan
masalah PJPK
Rujukan

Untuk kasus sistem kardiovaskuler yang


menimbulkan keadaan yang tidak dapat Perawat, instruktur
diatasi, hipertensi yang tidak dapat senam, URM
dikendalikan
Menerima rujukan dari perawat tertier dan
pelayanan sekunder untuk dilakukan,
pemantauan keluhan, tanda-tanda vital dan
sosialisasi PJPK dalam perawatan rawat
jalan
Melakukan perawatan di rumah sesuai
dengan kemampuan fisik PJPK

132

Pemulihan

Menyelenggarakan latihan jantung sehat


agar tidak berkembangnya penyakit sistem
kardiovaskuler juga untuk menjaga
kebugaran fisik.
Pemulihan sosial bagi PJPK, yang telah
mengalami gangguan fungsi sosial akibat
penyakit kardiovaskuler yang dialaminya

5. Gangguan Endokrin dan Metabolisme


Kegiatan

Uraian Kegiatan

Deteksi dini

Diabetes melitus atau tanpa komplikasi

Keterangan

Dokter bersama tim;


Gangguan tiroid : hipertiroid, hipotiroid, p e r a w a t g i z i ,
instruktur senam
struma nodosa, struma difus

Tindakan dan Penatalaksanaan diabetes melitus dengan


pengobatan
mengontrol kadar gula darah dan
mengatur diet serta aktivitas serta
medikamentosa
Penatalaksanaan kasus gangguan tiroid,
dengan menegakkan kasus yang tepat dan
benar, pengobatan spesifik serta diet yang
tepat sesuai dengan keadaan
Pemulihan

Rehabilitasi penderita DM, terutama yang K e l o m p o k s e n a m


telah mengalami komplikasi agar diabetes
melakukan kegiatan keseharian secara
produktif sesuai dengan usia dan
kemampuannya
Rehabilitasi fisik, mental dan sosial P e m a n t a u a n o l e h
penderita gangguan tiroid terutama yang Perkesmas bersama
pernah mengalami gangguan psikis akibat keluarga
penyakitnya

6. Gangguan Mental dan Perilaku


Kegiatan

Uraian Kegiatan

Keterangan

Deteksi dini

Gangguan mental emosional pada anak UKS


usia sekolah, dan usia dewasa
Gangguan belajar pada anak usia sekolah

Tindakan dan Penatalaksanaan medikamentosa, suportif, Dokter Puskesmas


pengobatan
obat psikotropik, konseling keluarga, dan keluarga
sesuai dengan kasus
133

Rujukan intra Untuk kasus yang kronik dan penggunaan B i l a p u s k e s m a s


puskesmas
psikotropik
mempunyai konsultan
Kesehatan Jiwa
Rujukan untuk Kirimkan ke RS bila membahayakan
perawatan
keluarga dan sekitarnya
Pemulihan

Rehabilitasi medik dan sosial untuk P u s k e s m a s d a n


mengembalikan fungsi sosial pasien pada keluarga
komunitasnya dan beraktifitas optimal
sesuai dengan usia dan kemampuannya

7. Gangguan Telinga Hidung dan Tenggorok


Kegiatan

Uraian Kegiatan

Keterangan

Deteksi dini

Gangguan telinga luar akibat trauma, UKS


infeksi telinga tengah (otitis media),
terutama pada anak usia balita,
prasekolah, sekolah dan penyebab ketulian
saat ataupun kedua telinga

Tindakan dan Medikamentosa dan edukasi mencegah P e l a y a n a n


pengobatan
kambuhnya peradangan THT, khususnya pengobatan rasional
telinga agar tidak menjadi kronik dan
infeksi ke otak
Rujukan intra Trauma akibat kerja
Spesialis THT
puskesmas
Untuk perawatan infeksi kronik dan Puskesmas
tindakan
Rujukan untuk Pelayanan hearing Aids
RS/Pelayanan khusus
m e n d a p a t Operasi Mastedoiktomi, endoskopi, untuk bantu dengar
perawatan dan tonsilektomi
tonsilektomi pasca
tindakan invasif
operasi, pelayanan
dapat dilakukan di
Puskesmas
Pemulihan

Terapi wicara dapat dibantu oleh keluarga

Pemantauan oleh
perkesmas

8. Gangguan Mata dan Penglihatan


Kegiatan

Uraian Kegiatan

Keterangan
134

Deteksi dini,
k e l u h a n ;
penglihatan
k u r a n g ,
matamerah,
terasa gatal,
k o t o r, t e r a s a
sakit, mata ada
bercak putih,
sakit kepala

Gangguan refreaksi terutama pada anak UKS dan spesialis


usia sekolah
mata puskesmas
Masalah-masalah infeksi mata; bakteri
konjungtivitis, pseudomonas,
streptococcus, virus : trakhom, herpes
Alergi dan iritasi
Defisiensi Vit. A. Xeroftalmia
Trauma mata; erosi superfisial (tes
fluoresin positif) buta warna

Tindakan dan Kapsul vit A. 200.000, IU pada defisiensi


pengobatan
Resep kaca mata

Optisian/dokter
puskesmas

Operasi pterigium, hordeulum, dilakukan


olaeh dokter mata puskesmas
Konseling keluarga untuk proteksi
kerusakan mata dan buta warna serta
penyakit keturunan
R u j u k u n t u k Penurunan refraksi berat dan kebutaan
tindakan
Glaukoma

Bila puskesmas tak


ada dokter mata maka
pelayanan spesialis
Strabismus pada anak balita dan pra
dirujuk ke fasilitas
sekolah
pelayanan yang
Kekeruhan kornea
lengkap
Penglihatan berkurang perlahan-lahan
Ulkus kornea, laserasi/perforasi mata,
laserasi palpebra, entropion, trauma bakar
Mata merah dengan penurunan visus
Memantau penggunaan kaca mata pada
gangguan refraksi

Pemulihan

Rehabilitas sosial penderita dengan


gangguan mata yang tidak dapat
dikoreksi, agar dapat melakukan kegiatan
sehari-hari sesuai dengan kemampuan dan
kondisinya

Dokter puskesmas/
optisian
Perkesmas dan
keluarga

9. Gangguan Kulit dan Kelamin


Kegiatan

Uraian Kegiatan

Keterangan

135

Deteksi dini,
pastikan bahwa
tidak
ada
penyakit lain
(neoplasma,
DM)

Infeksi non spesifik yang mengenai semua


golongan umur, pioderma, impetigo,
folikulitis, furunkel, karbunkel, erisipelas,
selulitis, eritrasma

Umum bakterial
penyebabnya
Steptococous.
Staphylococous

Penyinfeksi spesifik disebabkan


Virus : varisla, campak, herpes simpleks, Obat topikal kulit :
herpes zoster, rubella
P r i n s i p
pengobatan basah
Menahun ; Lepra ( Morbus Hansen), TBC
dengan kompres
kulit
basah
Jamur : dermatofitosis (tinea kapitis, tinea
Kering dengan
korporis, tinea pedis, tinea kruris), tinea
kering
versikolor, kandidiasis, dermatomikosis
profunda
Parasit : skabies, pedunkulosis kapitis,
pedunkulosis korporis, cutancus larva
migrans
Obat disesuaikan
k u m a n / b i o t a
penyebab
Alergi : urtikaria, erupsi alergi obat
Keturunan ; prurigo hebra (anak-anak)
Dermatitis kontak : sabun, zat kimia
Psikis; neurodennatitis
Kelainan kulit dengan penyakit sistemik
(DM)
Penyakit kulit akibat defisiensi
PHS

Uritritis Non spesifik, Gonore; Herpes


Simpleks, Trikhomoniasis, Vaginosis
bakterial, AIDS, Ulkus Mole, Granuloma
Inguinela, Lymfogranuloma Venereum

Tindakan dan Tindakan yang tepat dengan pemeriksaan


pengobatan
laboratorium; (kerokan kulit, Gonorhea,
dapat dilakukan rujukan ke laboratorium
terdekat)

- Budaya bersih
dapat dipantau di
rumah (Puskemas)

Pengobatan antibiotika, anti fungsi dapat


oral topikal

136

Konseling kebersihan dan perawatan diri


dan menghindari kontak dengan
penyebab.
Rujuk

Infeksi menjadi sistemik tak dapat


diselesaikan pada tingkat primer, gangren

Pemulihan

Rehabilitas fisik dan mental pada


penderita dengan kecacatan fisik akibat
cedera, kosmetik / operasi plastik

10. Gangguan Muskuloskeletal dan Persarafan


Kegiatan

Uraian Kegiatan

Keterangan

Deteksi dini

Masalah persendian dan tulang seperti K e l u h a n


osteroartiritis, gout dan penyakit sendi m u s k u l o s k e l e t a l
lain
selalu disertai rasa
sakit dengan
intensitas yang
tergantung pada
persyarafannya
Gangguan tulang belakang ; hernia
nukleus pulposus
Gangguan otot dan jaringan lunak akibat
trauma, terutama akibat cedera olahraga
Sekuele pasca stroke yang ringan
Kejang yang lama (febris pada anak)
dapat menimbulkan anoksia otak :
tergantung daerahnya, dapat
menyebabkan temaparese, hemiparese
berat dan ringan tergantung tindakan
kedaruratan yang dilaksanakan
Kelelahan yang kronik (chronic fatigue
syndrome) psikogen, farmakologik,
endokrin metabolik, anemia, infeksi,
rheumatoid, gangguan tidur)

Kelelahan kronik,
biasa usia 20-40
tahun dengan
keluhan organik

D i a g n o s t i k ; Tes neurologik dan EEG


Rujukan
ke
k e l a i n a n P e m o t r e t a n t u l a n g / t e n g k o r a k ; pelayanan kesehatan
persyarafan/tulang mikrosefali
terdekat yang
memiliki fasilitas
Otot dan kekuatan, EMG
tersebut
CT Scan

137

T i n d a k a n d a n Memberikan medikamentosa untuk


pengobatan
mengurangi rasa sakit, peradangan yang
timbul
Edukasi untuk melakukan gerakan yang
sesuai untuk tidak menambah sakit dan
menambah trauma
Penyakit dasar (hipertensi, jantung,
DM); obati dengan tepat
Kasus Gout, rheumatik banyak dikaitkan
dengan makanan, karena itu edukasi
untuk makanan yang boleh dimakan dan
dipantang, terasa amat sakit
Konseling bayi dan anak-anak
diperlukan pembentukan vitamin D
dengan bantuan sinar matahari
R u j u k b a g i a n Tirah baring untuk kasus; reposisi
b e d a h T u l a n g tulang, trauma tulang perawatan lokal;
untuk trauma berat otot, jaringan lunak (memar), luka
terbuka
Untuk mencari lokasi, ketepatan Pengobatan epilepsi
tindakan dirujuk
Untuk perawatan tirah baring, pelatihan
otot
Epilepsi untuk ketepatan diagnostik
Trauma kepala
Rujuk ke Spesialis Pasca stroke dengan parese berat
syaraf

138

Pemulihan

rehabilitasi fisik; pelatihan otot


pasca tindakan/trauma
rehabilitasi mental untuk trauma
yang dialami
rehabilitasi sosial untuk dapat
kembali mengerjakan pekerjaan
seperti semula secara bertahap
Pemulihan otot jantung dilakukan
dengan senam yang bertahap
Pemulihan otot pencernaan
dilakukan dengan bentuk diet
yang cair/lunak dan tidak
merangsang
Pemulihan tulang dengan gips/
bidai
Pemulihan sayatan pada otot
dilakukan dengan kompres/obat
topika pasca jahitan dan ditutup
dengan kasa

Dapat dilakukan di
Puskesmas atas
supervisi spesialis
syaraf

URM
(Unit
Rehabilitas Medik)
Perkesmas, keluarga

139

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
KESIMPULAN
Dalam menjalankan fungsinya dokter dan tim pelayanan kesehatan pada kegiatannya
untuk penyelesaian masalah kecelakaan dan kedaruratan medik adalah berupa penerapan
kemampuan untuk mengatasi masalah sistem organ biologik tubuh dan mental psikologikal
dari semua golongan umur yang bersifat segera. Pelayanan ditujukan terhadap pengguna
pelayanan medik yang memerlukan tindakan segera yang kemungkinan dibawa oleh; tim
ambulans, keluarga, petugas di tempat kerja, orang yang di sekitar korban, petugas keamanan
di sekitar korban, disebabkan penyakit yang lanjut ataupun kecelakaan (di rumah, tempat
kerja, jalan) tanpa memandang umur.
Pada pelayanan kedaruratan medik kasus berat di Puskesmas untuk tindakan lanjut
dilakukan pada unit pelayanan lengkap, namun untuk resusitasi jantung paru otak pasang
infus terdahulu, lapangkan jalan nafas dan sistem pengangkutan amat membantu.
SARAN
Semua tenaga kesehatan harus selalu berupaya memberikan upaya pelaksanaan
pengobatan yang sebaik-baiknya terutama di Puskesmas.Hal ini terkait dengan peranan
puskesmas sebagai lini terdepan dalam upaya mewujudkan suatu masyarakat yang sehat.Oleh
karena itu setiap pihak yang terkait ,harus terus berupaya memberikan pelayanan medis yang
sebaik-baiknya sesuai dengan Standarad Pelayanan Medis yang berlaku.

140

DAFTAR PUSTAKA

1. Tambunan , Taralan , Daldiono, Sungkar Saleha,dkk.Pedoman Pengobatan Dasar di


Puskesmas 2007.Jakarta : Departemen Kesehatan RI, 2007.Hal.1-3.

2.Soegianto,Benny. Kebijakan Dasar Puskesmas.Jakarta.2007

3.Puskesmas Kec. Tebet Laporan Tahunan Puskesmas Kecamatan Tebet 2010.Jakarta.

141

UPAYA KESEHATAN
PENGEMBANGAN

142

UPAYA KESEHATAN SEKOLAH (UKS)

Penyusun :
Marcia Dian P

(030.05.139)

Riana Youri

(030.05.191)

Sherly Gunawan

(030.05.208)

143

BAB I
PENDAHULUAN
Pembangunan nasional pada hakekatnya adalah pembangunan manusia Indonesia
yang berkualitas. Salah satu upaya yang strategis untuk meningkatkan kualitas manusia
Indonesia adalah dengan pendidikan. Kualitas pendidikan berkaitan erat dengan sumber daya
manusia yang berkualitas pula. Sumber daya manusia yang berkualitas adalah yang memiliki
jasmani dan rokhani yang sehat. Upaya pengembangan sumber daya manusia yang
berkualitas dan sehat antara lain dengan melaksanakan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS).
Program UKS dilaksanakan pada semua jenis dan jenjang pendidikan, termasuk madrasah.
Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) merupakan bagian dari program kesehatan anak usia
sekolah. Anak usia sekolah adalah anak yang berusia 6 21 tahun, yang sesuai dengan proses
tumbuh kembangnya dibagi menjadi 2 sub kelompok, yakni pra remaja (6-9 tahun) dan
remaja (10-19 tahun).
Pelayanan kesehatan pada UKS adalah pemeriksaan kesehatan umum, kesehatan gigi
dan mulut siswa SD dan setingkat melalui penjaringan kesehatan terhadap murid kelas 1
Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah yang dilaksanakan oleh tenaga kesehatan bersama
dengan guru UKS terlatih dan dokter kecil secara berjenjang (penjaringan awal oleh guru dan
dokter kecil, penjaringan lanjutan oleh tenaga kesehatan).

144

BAB II
PENGERTIAN
Usaha Kesehatan Sekolah ( UKS ) merupakan bagian dari program kesehatan anak
usia sekolah . Anak usia sekolah adalah anak yang berusia 6-21 tahun , yang sesuai dengan
proses tumbuh kembangnya dibagi menjadi 2 subkelompok yakni pra remaja ( 6-9 tahun )
dan remaja ( 10-19 tahun ).
Hidup sehat seperti yang didefinisikan oleh badan kesehatan perserikatan bangsabangsa (PBB) World Health Organization (WHO) adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa,
dan sosial yang memungkinkan orang hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Sedangkan
kesehatan jiwa adalah keadaan yang memungkinkan perkembangan fisik, mental, intelektual,
emosional, dan sosial yang optimal dari seseorang. Dalam Undang Undang Nomor 23 Tahun
1992 pasal 45 tentang Kesehatan ditegaskan bahwa Kesehatan Sekolah diselenggarakan
untuk meningkatkan kemampuan hidup sehat peserta didik dalam lingkungan hidup sehat
sehingga peserta didik dapat belajar, tumbuh dan berkembang secara harmonis dan optimal
sehingga diharapkan dapat menjadikan sumber daya manusia yang berkualitas. Menurut
Sumantri, M. (2007) peserta didik itu harus sehat dan orang tua memperhatikan lingkungan
yang sehat dan makan makanan yang bergizi, sehingga akan tercapai manusia soleh, berilmu
dan sehat (SIS). Dalam proses belajar dan pembelajaran materi pembelajaran berorientasi
pada head, heart dan hand, yaitu berkaitan dengan pengetahuan, sikap/nilai dan keterampilan.
145

Namun masih diperlukan faktor kesehatan (health) sehingga peserta didik memiliki 4 H
(head, heart, hand dan health).
Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) adalah usaha untuk membina dan mengembangkan
kebiasaan dan perilaku hidup sehat pada peserta didik usia sekolah yang dilakukan secara
menyeluruh (komprehensif) dan terpadu (integrative). Untuk optimalisasi program UKS
perlu ditingkatkan peran serta peserta didik sebagai subjek dan bukan hanya objek. Dengan
UKS ini diharapkan mampu menanamkan sikap dan perilaku hidup sehat pada dirinya sendiri
dan mampu menolong orang lain. Dari pengertian ini maka UKS dikenal pula dengan child to
child programme. Program dari anak, oleh anak, dan untuk anak untuk menciptakan anak
yang berkualitas.

BAB III
TUJUAN
Secara umum UKS bertujuan meningkatkan mutu pendidikan dan prestasi belajar
peserta didik dengan meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat serta derajat kesehatan
peserta didik. Selain itu juga menciptakan lingkungan yang sehat, sehingga memungkinkan
pertumbuhan dan perkembangan yang harmonis dan optimal dalam rangka pembentukan
manusia Indonesia berkualitas.
Sedangkan secara khusus tujuan UKS adalah menciptakan lingkungan kehidupan
sekolah yang sehat, meningkatkan pengetahuan, mengubah sikap dan membentuk perilaku
masyarakat sekolah yang sehat dan mandiri. Di samping itu juga meningkatkan peran serta
peserta didik dalam usaha peningkatan kesehatan di sekolah dan rumah tangga serta
lingkungan masyarakat, meningkatkan keterampilan hidup sehat agar mampu melindungi diri
dari pengaruh buruk lingkungan.Memupuk kebiasaan perilaku hidup bersih dan sehat dan
meningkatkan derajat kesehatan siswa, yang mencakup :
1. Memiliki pengetahuan, sikap dan keterampilan untuk melaksanakan prinsip hidup
bersih dan sehat serta berpratisipasi aktif di dalam usaha peningkatan kesehatan di sekolah
perguruan agama, di rumah tangga maupun di lingkungan masyarakat.
146

2. Sehat fisik, mental maupun sosial.


3. Memiliki daya hayat dan daya tangkal terhadap pengaruh buruk penyalahgunaan
NAPZA.

BAB IV
KEGIATAN DAN SASARAN
Sasaran pembinaan dan pengembangan UKS meliputi peserta didik sebagai sasaran
primer, guru pamong belajar/tutor orang tua, pengelola pendidikan dan pengelola kesehatan
serta TP UKS di setiap jenjang sebagai sasaran sekunder. Sedangkan sasaran tertier adalah
lembaga pendidikan mulai dari tingkat pra sekolah/TK/RA sampai SLTA/MA, termasuk
satuan pendidikan luar sekolah dan perguruan tinggi agama serta pondok pesantren beserta
lingkungannya. Sasaran lainnya adalah sarana dan prasarana pendidikan kesehatan dan
pelayanan kesehatan. Sasaran tertier lainnya adalah lingkungan yang meliputi lingkungan
sekolah, keluarga dan masyarakat sekitar sekolah.
Untuk belajar dengan efektif peserta didik sebagai sasaran UKS memerlukan
kesehatan yang baik. Kesehatan menunjukkan keadaan yang sejahtera dari badan, jiwa, dan
sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis.
Kesehatan bagi peserta didik merupakan sangat menentukan keberhasilan belajarnya di
sekolah, karena dengan kesehatan itu peserta didik dapat mengikuti pembelajaran secara terus
147

menerus. Kalau peserta didik tidak sehat bagaimana bisa belajar dengan baik. Oleh karena itu
kita mencermati konsep yang dikemukakan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), bahwa
salah satu indikator kualitas sumber daya manusia itu adalah kesehatan, bukan hanya
pendidikan. Ada tiga kualitas sumber daya manusia, yaitu pendidikan yang berkaitan dengan
berapa lama mengikuti pendidikan, kesehatan yang berkaitan sumber daya manusianya, dan
ekonomi yang berkaitan dengan daya beli. Untuk tingkat ekonomi Indonesia masih berada
pada urutan atau ranking yang sangat rendah yaitu 108 pada tahun 2008, dibandingkan
dengan negara-negara tetangga. Kemajuan ekonomi suatu bangsa biasanya berkorelasi
dengan tingkat kesehatan masyarakatnya. Semakin maju perekonomiannya, maka bangsa itu
semakin baik pula tingkat kesehatannya. Oleh karena itu, jika tingkat ekonomi masih berada
di urutan yang rendah, maka tingkat kesehatan masyarakat pada umumnya belum sesuai
dengan harapan. Begitu pula dengan sumber daya manusianya yang diharapkan berkualitas
masih memerlukan proses dan usaha yang lebih keras lagi.

4.1 Kegiatan UKS (Trias UKS)


yaitu pendidikan kesehatan, pelayanan kesehatan, dan pembinaan lingkungan
sekolah sehat.
4.1.1

Pendidikan Kesehatan:

Kegiatan intra kurikuler adalah melaksanakan pendidikan pada saat jam pelajaran
berlangsung sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Pendidikan ini tidak hanya
diberikan pada saat mata pelajaran Pendidikan Jasmani saja, namun bisa juga
secara integratif pada saat mata pelajaran lainnya disampaikan kepada peserta
didik.
4.1.1.1 Program Dokter Kecil / Kader Kesehatan Remaja (KKR)
Dokter kecil adalah siswa yang memenuhi kriteria dan telah terlatih untuk ikut melaksanakan
sebagian usaha pemeliharaan dan peningkatan kesehatan terhadap diri sendiri, teman,
keluarga dan lingkungannya.Tugas dan kewajiban dokter kecil
1. Selalu bersikap dan berperilaku sehat.
2. Dapat menggerakkan sesama teman-teman siswa untuk bersama-sama menjalankan
usaha kesehatan terhadap dirinya masing-masing.
3. Berusaha bagi tercapainya kesehatan lingkungan yang baik di sekolah maupun di rumah.
148

4. Membantu guru dan petugas kesehatan pada waktu pelaksanaan pelayanan kesehatan di
sekolah.
5. Berperan aktif dalam rangka peningkatan kesehatan ,antara lain : Pekan kebersihan,
Pekan Gizi, Pekan Penimbangan BB dan TB di sekolah, Pekan Kesehatan Gigi, Pekan
Kesehatan Mata, dan lain-lain.
4.1.1.2

Program PMR

4.1.1.3

Program Saka Bakti Husada

4.1.1.4

Kegiatan Penyuluhan Kesehatan

4.1.1.5

Kampanye Kesehatan

2.

Pelayanan Kesehatan

4.1.2.1 Screening Kesehatan Kelas I


4.1.2.2 Pembinaan berkala oleh TP UKS
4.1.2.3 Imunisasi (BIAS)
4.1.2.4 Kegiatan Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS)
4.1.2.5 Pemantauan Status Gizi Anak Sekolah Berkala
4.1.2.6 Pemeriksaan Tes Daya Lihat / Visus Berkala
4.1.2.7 Kegiatan Konseling Kesehatan Remaja
4.1.2.8 Program Pemberantasan Penyakit Cacingan
4.1.2.9 Pertolongan Pertama Kegawatdaruratan Medik meliputi P3P (Pertolongan
Pertama Pada Penyakit) dan P3K (Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan)

3.

Pembinaan Lingkungan Sekolah Sehat

4.1.3.1 Sanitasi Lingkungan Baik


4.1.3.2 Pelaksanaan Gerakan PSN-DBD
4.1.3.3 Penegakan aturan Kawasan Tanpa Asap Rokok
4.1.3.4 Penegakan aturan Larangan Penyalahgunaan Napza
4.1.3.5 Pemberantasaan Penyakit Bersumber Binatang (P2B2)

4.2 Sasaran mutu Program UKS


1.

Angka absensi sakit peserta didik (<1.5%)


149

2.

Kepuasan Pelanggan (85%)

3.

Temuan masalah / komplain UKS ditindaklanjuti (100%)

4.

Tim Pelaksana UKS di Sekolah aktif (80%)

5.

Tim Pembina UKS setiap tingkat aktif (100%)

6.

Sekolah patuh terhadap standar PHBS (100%)

7.

Status gizi peserta didik Baik (90%)

8.

Pelaporan UKS akurat (100%)

9.

Sekolah dengan sanitasi lingkungan Baik (100%)

BAB V
PELAKSANAAN KEGIATAN
PELAKSANAAN KEGIATAN UKS DI PUSKESMAS KECAMATAN TEBET
1. Peningkatan wawasan Petugas Kesehatan Anak
2. Monitoring Program Kesehatan Anak TK Kodya ke Puskesmas (Bintek)
3. Rapat Konsultasi Kesehatan Anak
4. Peningkatan Prestasi Balita Indonesia
5. Sosialisasi MTBS
150

6. Peningkatan Prestasi Dokter Kecil


7. Rapat Konsultasi Petugas UKS
8. Pembinaan Sekolah Unggulan
9. Peningkatan Wawasan Guru TK, SD, SMP, SMA
10. Pembinaan Sekolah Sehat TK,SD, SMP,SMA
11. Sarana UKS Berprestasi
12. Sosialisasi PKPR
13. Peningkatan Wawasan Guru BP, SMP, SMA dan Petugas Puskesmas
14. Pertemuan Petugas MTBS di Puskesmas
15. PembinaanTPUKS Kecamatan
16. Pelatihan MTBS

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
KESIMPULAN
Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) adalah usaha untuk membina dan mengembangkan
kebiasaan dan perilaku hidup sehat pada peserta didik usia sekolah yang dilakukan secara
menyeluruh (komprehensif) dan terpadu (integrative). Untuk optimalisasi program UKS
151

perlu ditingkatkan peran serta peserta didik sebagai subjek dan bukan hanya objek. Dengan
UKS ini diharapkan mampu menanamkan sikap dan perilaku hidup sehat pada dirinya sendiri
dan mampu menolong orang lain. Dari pengertian ini maka UKS dikenal pula dengan child to
child programme. Program dari anak, oleh anak, dan untuk anak untuk menciptakan anak
yang berkualitas.
Upaya mengembangkan Sekolah Sehat (Health Promoting School/HPS) melalui
program UKS perlu disosialisasikan dan dilakukan dengan baik. melalui pelayanan kesehatan
(yankes) yang didukung secara mantap dan memadai oleh sektor terkait lainnya, seperti
partisipasi masyarakat, dunia usaha, dan media massa. Sekolah sebagai tempat
berlangsungnya proses pembelajaran harus menjadi HPS, yaitu sekolah yang dapat
meningkatkan derajat kesehatan warga sekolahnya. Upaya ini dilakukan karena sekolah
memiliki lingkungan kehidupan yang mencerminkan hidup sehat. Selain itu, mengupayakan
pelayanan kesehatan yang optimal, sehingga terjamin berlangsungnya proses pembelajaran
dengan baik dan terciptanya kondisi yang mendukung tercapainya kemampuan peserta didik
untuk beperilaku hidup sehat. Semua upaya ini akan tercapai bila sekolah dan lingkungan
dibina dan dikembangkan

DAFTAR PUSTAKA

1. Departemen Kesehatan. (2008). Pedoman Pelatihan Kader Kesehatan di


Sekolah. Jakarta: Departemen Kesehatan.

152

2. Sumantri, M. (2007). Pendidikan Wanita. Dalam Ali, M., Ibrahim, R., Sukmadinata,
N.S., dan Rasjidin, W. (Penyunting). Ilmu dan Aplikasi Pendidikan: Handbook..
Bandung: Pedagogiana Press (Halaman 1175 1186)
3. Keputusan Bersama Menteri Pendidikan Nasional, Menteri Kesehatan, Menteri
Agama dan Menteri Dalam Negeri. Nomor 26 Tahun 2003 tentang Pembinaan dan
Pengembangan Usaha Kesehatan Sekolah.

UPAYA KESEHATAN OLAHRAGA


153

Penyusun :
Fajar Nursuhud (030.05.090)
Mohd Fahmi bin Mansor (030.06.311)

BAB I
154

PENDAHULUAN
Keberhasilan pembangunan memberi dampak pada perubahaan perilaku masyarakat
antara lain perubahan kebiasaan makan yang salah dan kurang gerak, yang keduanya
memberi andil timbulnya masalah kesehatan pada masyarakat modern, yaitu kecenderungan
timbulnya penyakit-penyakit degeneratif. Berdasarkan SKRT 1992, penyakit jantung dan
pembuluh darah merupakan penyebab kematian nomor dua setelah diare. Penderita rawat
inap penyakit kardiovaskuler meningkat dari tahun ketahun demikian juga dengan diabetes.
Fungsi dokter, terutama dokter Puskesmas sebagai ujung tombak pemerintah untuk
meningkatkan derajat kesehatan di wilayah kerjanya tidak hanya menuliskan resep melainkan
lebih banyak melakukan upaya-upaya pencegahan penyakit agar masyarakat tidak sakit dan
meningkatkan kesehatan mereka. Sebagai salah satu dari 20 upaya pokok kesehatan, upaya
kesehatan olahraga adalah suatu cara untuk meningkatkan kesehatan hidup manusia.
Olahraga sudah menjadi bagian dari budaya kehidupan sejalan dengan kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi yang telah membuktikan adanya hubungan antara latihan fisik
dengan derajat kesehatan.
Kesehatan keluarga merupakan upaya kesehatan yang memanfaatkan olahraga atau
latihan fisik untuk meningkatkan derajat kesehatan. Dengan olahraga atau latihan fisik yang
benar akan dicapai tingkat kesegaran jasmani yang baik dan merupakan modal penting dalam
peningkatan prestasi.
Olahraga yang baik dan benar adalah olahraga yang sesuai dengan kebutuhan
kesehatan, dengan dasar latihan fisik yang baik sehingga ketahanan tubuh dapat ditingkatkan.
Bila ketahanan tubuh seseorang sudah dapat ditingkatkan maka secara tidak langsung
kemampuan fisiknya juga semakin tinggi dan semakin mampu mengatasi beban kerja yang
diberikan kepadanya, sehingga produktivitas kerja orang tersebut juga semakin tinggi.
Telah diketahui bahwa dengan olahraga, seseorang akan mempunyai daya tahan atau
sistem imun yang lebih tinggi sehingga orang tersebut akan mempunyai daya tahan terhadap
penyakit-penyakit infeksi. Ditemukan pula bahwa tingkat kebugaran jasmani merupakan
salah satu faktor yang mempengaruhi produktivitas kerja.

155

Karena itulah, puskesmas sebagai penyedia pelayanan kesehatan dasar di tingkat


pertama perlu mengembangkan suatu upaya kesehatan olahraga bagi masyarakat di wilayah
kerjanya.

156

BAB II
PENGERTIAN
A. Definisi Sehat

Arti kata sehat menurut WHO 1947: Health is a state of complete physical, mental
and social well being and not merely the absence of the disease or infirmity. Adalah
suatu keadaan sejahtera sempurna dari jasmani, rohani dan sosial dan bukan hanya bebas
dari penyakit, cacat dan kelemahan.
Sedangkan sehat menurut undang-undang kesehatan no. 23 tahun 1960 adalah suatu
keadaan sejahtera sempurna dari jasmani, rohani dan sosial yang memungkinkan
seseorang hidup produktif baik sosial maupun ekonomi.
Dalam pengertian tersebut tersurat suatu keadaan tingkat kemampuan fungsional
tubuh manusia yang secara popular dikenal sebagai kemampuan fisik (physical fitness)
atau kesegaran jasmani.

B. Kesehatan Olahraga

Kesehatan olahraga adalah upaya kesehatan yang memanfaatkan olahraga atau latihan
fisik untuk meningkatkan derajat kesehatan. (UU nomor 23 tahun 1992, pasal 46,
Tentang Kesehatan Olahraga)
Kesehatan olahraga adalah upaya kedokteran/kesehatan teori dan praktek yang
menganalisa pengaruh gerakan, latihan dan olahraga termasuk kurang gerak, tertuju
kepada manusia semua umur yang sakit dan yang sehat. (August Kirche dkk,1987)
Kesehatan olahraga berbeda dengan olahraga kesehatan. Dimana kesehatan olahraga
adalah upaya kesehatan yang memanfaatkan olahraga yang bertujuan untuk
meningkatknya derajat kesehatan, sedangkan olahraga kesehatan adalah pelatihan
olahraga atau latihan fisik, biasanya masuk dalam kurikulum sekolah yang dasarnya
bertujuan untuk meningkatnya prestasi.
157

C. Kesegaran Jasmani

Secara umum dapat diartikan sebagai kemampuan tubuh untuk melakukan kegiatan
sehari-hari tanpa kelelahan berlebihan. Dalam pengertian tersebut terkandung tiga hal
pokok yaitu beban kerja pekerjaan harian, cadangan kemampuan/kapasitas dan keadaan
kesehatan/derajat kesehatan

D. Sarana Olahraga

Sarana olahraga adalah tempat yang secara khusus disediakan untuk kegiatan
olahraga, antara lain pusat olahraga, lapangan olahraga, pusat kebugaran dan tempat
tertentu seperti stadion, kolam renang, klub berlatih, kelompok latihan fisik dan
kelompok senam. Sarana lain adalah tempat untuk menyembuhkan atau memulihkan
kesehatan akibat cedera olahraga, meningkatkan kesehatan kelompok masyarakat
tertentu, misalnya kelompok ibu hamil, melalui latihan fisik dan penyebarluasan cara
olahraga yang benar.

E. Olahraga yang teratur menurut WHO aktivitas fisik dibagi 4 kategori :


1) Hidup aktif : setiap hari melakukan aktivitas ringan sampai sedang selama 10
menit atau lebih beberapa kali sehari.
2) Aktivitas untuk sehat : setiap hari melakukan aktivitas sedang selama 30 menit
atau lebih.
3) Latihan fisik untuk bugar : seminggu 3 kali melakukan aktivitas sedang sampai
berat selama 20 menit atau lebih.
4) Latihan fisik untuk olahraga : durasi dan frekuensi tergantung tingkat kebugaran
jasmani seseorang , aktivitas terprogram.

158

BAB III
TUJUAN
A. Tujuan Umum
Berkembangnya upaya peningkatan derajat kesehatan melalui latihan fisik dan
terbantunya/tercapainya upaya peningkatan kesegaran jasmani yang mempunyai
pengaruh langsung terhadap produktifitas kerja, serta terbantunya peningkatan upaya
olahraga pendidikan, olahraga prestasi, olahraga masyarakat dan olahraga tradisional.

B. Tujuan Khusus
a. Meningkatnya kemampuan petugas Puskesmas dalam upaya kesehatan olahraga di
Puskesmas.
b. Meningkatnya jangkauan dan mutu upaya kesehatan olahraga di wilayah kerja
Puskesmas.
c. Meningkatnya koordinasi lintas program dan lintas sektor dalam pembinaan upaya
kesehatan olahraga di wilayah kerja Puskesmas.
d. Meningkatnya partisipasi aktif masyarakatdalam upaya kesehatan olahraga melalui
penggalian potensi/sumber daya masyarakat di wilayah kerja Puskesmas.
e. Meningkatnya informasi kesehatan olahraga di Puskesmas.

159

BAB IV
KEGIATAN DAN SASARAN
A. Kegiatan Upaya Kesehatan Olahraga Meliputi:
1. Pembinaan secara terpadu peran serta masyarakat kelompok potensial, guru sekolah,
kader Posyandu, organisasi mayarakat, LSM dalam kesehatan olahraga.
2. Penyelenggaraan penyuluhan kesehatan olahraga terpadu pada kegiatan penyuluhan
Puskesmas dan di luar Puskesmas.
3. Penyelenggaraan pelayanan rawat jalan Puskesmas terpadu dengan memperhatikan
faktor kesehatan olahraga.
4. Evaluasi terhadap penyelenggaran upaya kesehatan olahraga

B. Langkah-Langkah Penyelanggaraan Kegiatan Upaya Kesehatan Olahraga di atas:


a. Persiapan petugas:
1. Menyiapkan pelatihan tentang upaya kesehatan olahraga
2. Mengumpulkan data kesehatan olahraga di wilayah kerja Puskesmas, dikaitkan
dengan microplaning.
3. Mengolah data kesegaran jasmani, sehingga diperoleh permasalahan kesehatan yang
berkaitan dengan kesehatan olahraga di wilayah Puskesmas.
4. Menentukan prioritas masalah kesehatan yang berkaitan dengan kesehatan olahraga
dan mencari alternatif-alternatif pemecahannya.
160

5. Menghimpun potensi (dana, tenaga, sarana)


6. Memberikan informasi upaya kesehatan olahraga melalui pertemuan-pertemuan.
-

Lintas program di Puskesmas

Lintas sektoral di Kelurahan

Tim pembina UKS di tingkat Kelurahan

7. Melaksanakan diskusi kelompok untuk memperoleh dukungan dari semua pihak


tentang pelaksanaan program kesehatan olahraga melalui:
-

Lintas program di Puskesmas

Lintas sektoral di Kelurahan

Tim pembina UKS di tingkat Kelurahan

8. Membentuk forum koordinasi kesehatan olahraga tingkat Kelurahan dengan


melibatkan unsur dari
-

Puskesmas (dokter/perawat)

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Kepala kantor,Dinas P&P beserta OSIS,


Kakandep Dikbud beserta penilik olahraga.

Departemen Agama (KUA)

Departemen Sosial (petugas sosial masyarakat)

Departemen Penerangan (Jupen)

Departemen Tenaga Kerja (juru penyuluh)

Kelurahan (Lurah, Kaurkesra)

Lembaga Swadaya Masyarakat

9. Menentukan prioritas sasaran kegiatan program kesehatan olahraga di tingkat


Kelurahan.
10. Menyiapkan pengelolaan program dan menyusun rencana kerja pelaksanaan kesehatan
olahraga

b. Persiapan masyarakat:
1. Pertemuan tokoh masyarakat formal dan informal untuk pemahaman dan memperoleh
masukan dalam upaya pelaksanaan kesehatan olahraga di masyarakat.
161

2. Pengumpulan dan pengolahan data serta analisis permasalahan tentang kegiatankegiatan kesehatan olahraga yang ada di masyarakat.
3. Memilih ketua-ketua dari kelompok-kelompok potensial yang ada di masyarakat
untuk dilatih sebagai kader kesehatan olahraga.
4. Melaksanakan Musyawarah Masyarakat Desa (MMD) tentang upaya kesehatan
olahraga
5. Pelatihan Kader Olahraga.

C. Rincian Kegiatan
1. Promotif
Penyuluhan dalam gedung:

Memberi contoh ketauladanan

Memberi contoh katauladanan sikap dan perilaku hidup sehat kepada masyarakat

Memberi contoh ketauladanan dalam hal kebersihan lingkungan fisik Puskesmas

Penyuluhan melalui media

Memasang poster-poster berisi pesan-pesan tentang kesehatan olahraga

Menggunakan radio kaset yang menyiarkan lagu-lagu kesehatan olahraga atau


pesan spot radio dan sebagainya.

Penyuluhan individu di kamar periksa Balai Pengobatan

Penyuluhan kelompok pada acara yang direncanakan.

Pelaksana: Seluruh staf Puskesmas dan Perawat Kesehatan Mahir

Penyuluhan di luar gedung Puskesmas:

Sasaran program adalah masyarakat di wilayah kerja Puskesmas antara lain;


kelompok arisan, pengajian, Posyandu, sanggar senam, kelompok olahraga
tradisional.

Bimbingan teknis dan pengawasan terhadap usaha kesehatan olahraga pada


kelompok-kelompok olahraga di masyarakat.

Pelaksana: Dokter/perawat kesehatan mahir

2. Deteksi dini
162

Pemeriksaan kesehatan:

Skrining kesehatan bagi masyarakat umum untuk menentukan kemampuan


aktivitas fisik.

Skrining kesehatan bagi masyarakat khusus (atlet, penyandang cacat, kelompok


khusus lain)

Pemeriksaan tingkat kesegaran jasmani bagi individu sehat dan bagi individu sakit

Pemeriksaan dosis latihan bagi individu sehat dan bagi individu sakit.

Pelaksana: Dokter dan perawat.


3. Tindakan:Penanganan pertama pada kasus cedera olahraga di Puskesmas
Pelaksana: Dokter dan perawat
4. Pemulihan:

Pencegahan cedera pada pemulihan.

Pelayanan pasca trauma/cedera olahraga (terintegrasi dengan unit rawat jalan)

Pelaksana: Fisioterapis, dokter, perawat.


5. Evaluasi program:

Pembinaan kesehatan olahraga di wilayah.

Pelayanan kesehatan olahraga Puskesmas.

Pelaksana: Pimpinan Puskesmas, puskesmas dan mitra kerja.

D. Indikator Keberhasilan Kegiatan


1. Pembinaan kesehatan wilayah:

Peningkatan kegiatan peran serta masyarakat dalam rangka upaya peningkatan


kesehatan olahraga.

Peningkatan pengetahuan, sikap dan perilaku Kader Kesehatan (Posyandu, guru


sekolah, pengelola klub kebugaran, pelatih senam,dll) yang dibina perihal
kesehatan.

Penurunan angka kecelakaan olahraga di setiap kelompok penyelenggara kegiatan


olahraga dan kebugaran.

2. Pelayanan Puskesmas

Peningkatan kesadaran, kemauan, ketrampilan provider Puskesmas perihal


pelayanan kesehatan olahraga.
163

Terselenggaranya penyuluhan kesehatan olahraga terpadu di Puskesmas dan


wilayahnya

Terselenggaranya pelayanan kesehatan holistik, paripurna, terpadu pada kegiatan


pelayanan rawat jalan Puskesmas dengan memperhatikan faktor kesehatan
olahraga dan pencegahannya.

E. Sasaran Kegiatan
1. Sasaran pokok:
1. Kelompok ibu hamil
2. Kelompok usia balita
3. Usia sekolah
4. Usia Kerja
5. Usia lanjut
6. Kelompok khusus ( atlet, penyandang cacat, dan penderita penyakit tertentu)

2. Sasaran antara:
a. Pengelola klub kebugaran (fitness center)
b. Pengurus/pengelola klub (jantung sehat,senam asma,dll)
c. Pengurus/pengelola kelompok olahraga tradisional.
d. Pengelola sanggar senam
e. Pelatih/instruktur senam.

164

BAB V
PELAKSANAAN KEGIATAN
PELAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS KECAMATAN CILANDAK
Sebagai salah satu upaya pokok Puskesmas, upaya pokok kesehatan olahraga
merupakan salah satu program yang terdapat di Puskesmas Kecamatan Cilandak. Upayaupaya yang telah dilaksanakan oleh Puskesmas antara lain senam, penyuluhan kesehatan dan
pemeriksaan kesehatan yang diikuti oleh baik pasien, karyawan, maupun masyarakat sekitar
Puskesmas Kecamatan Cilandak. Tujuan dari upaya pelaksanaan ini adalah untuk
meningkatkan taraf kesehatan karyawan puskesmas dan masyarakat sekitar puskesmas
Kecamatan Cilandak. Berikut ini adalah tabel upaya kesehatan olahraga di Puskesmas
Kecamatan Cilandak :
No Kegiatan

Waktu

Tempat

Petugas

Peserta

Kegiatan

165

1.

S e n a m S e t i a p h a r i R u a n g Instruktur Ibu hamil S e t e l a h


ibu hamil Senin minggu t u n g g u d a r i t r i m e s t e r s e n a m
I dan III pukul R u m a h fisioterapi III

dilakukan

08.30-09.30

Bersalin

penyuluhan

Puskesmas

kesehatan

Kecamatan

ibu hamil

Cilandak

dan promosi
produk bayi.

2.

S e n a m H a r i s e l a s a Aula lantai Instruktur Pasien poli S e b e l u m


DM

minggu I dan 3
III

d a r i DM

p u k u l Puskesmas fisioterapi

08.30-09.30

s e n a m
dilakukan

Kecamatan

pemeriksaan

Cilandak

gula darah
sewaktu, dan
tekanan
d a r a h .
Setelah
s e n a m
dilakukan
penyuluhan
d

konsultasi
serta terapi
oleh dokter.
3.

S e n a m S e t i a p h a r i Aula lantai Instruktur J a m a a h


haji

rabu dalam 10 3

d a r i calon haji

m i n g g u Puskesmas fisioterapi
m e n j e l a n g Kecamatan
keberangkatan Cilandak
haji pukul
08.00-09.00
166

4.

S e n a m D i l a k u k a n Aula lantai Instruktur Karyawan L a t i h a n


p o c o - setiap hari 3
poco.

d a r i Puskesmas senam poco-

rabu dan jumat Puskesmas fisioterapi Kecamatan poco untuk


m e n j e l a n g Kecamatan

Cilandak.

l o m b a p a d a Cilandak

persiapan
lomba

bulan Juni
2011, pukul
14.00-16.00.
5.

S e n a m D i l a k u k a n L a p a n g a n Instruktur W a r g a Senam.
umum

setiap hari p a r k i r d a r i s e k i t a r
s e l a s a d a n Puskesmas fisioterapi Puskesmas
j u m a t t i a p Cilandak

Kecamatan

minggu pada

Cilandak.

p u k u l
07.30-08.30.

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Upaya kesehatan olahraga di dalam wilayah adalah bagian dari fungsi puskesmas
yang berkaitan dengan upaya pengembangan, pemeliharaan dan peningkatan derajat
kesehatan masyarakat di wilayah kerjanya. Sebagai salah satu upaya pokok Puskesmas,
Upaya Kesehatan Olahraga telah menambah dan meningkatkan pengetahuan masyarakat
tentang arti pentingnya kesehatan olahraga. Telah diyakini bahwa dengan berolahraga dapat
meningkatkan tingkat kesehatan dan produktifitas kerja.

167

Kesehatan olahraga berbeda dengan olahraga kesehatan. Dimana kesehatan olahraga


adalah upaya kesehatan yang memanfaatkan olahraga yang bertujuan untuk meningkatknya
derajat kesehatan, sedangkan olahraga kesehatan adalah pelatihan olahraga atau latihan fisik,
biasanya masuk dalam kurikulum sekolah yang dasarnya bertujuan untuk meningkatnya
prestasi.
Upaya kesehatan olahraga ini akan berhasil jika diikuti oleh peran serta masyarakat
dan semua pihak dengan kesadaran akan pentingnya berolahraga, dengan harapan
terbentuknya manusia Indonesia yang sehat dan tercapainya derajat kesehatan yang setinggitingginya. Sebelumnya di Puskesmas pernah diadakan kegiatan bagi lansia berupa senam,
tetapi sekarang tidak ada lagi karena responden yang bersedia untuk hadir tidak ada.

Saran
Saran yang dapat dijadikan pertimbangan:
Mempertahankan upaya-upaya kesehatan olahraga yang telah dilaksanakan.
Meningkatkan kesadaran, kemauan, ketrampilan provider Puskesmas perihal
pelayanan kesehatan olahraga.
Meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku Kader Kesehatan yang dibina perihal
kesehatan olahraga.
Meningkatkan dan memotivasi peran serta masyarakat akan pentingnya kesehatan
olahraga.
Mengadakan kegiatan bagi para lansia seperti senam, latihan bernyanyi dan tensi
gratis.

DAFTAR PUSTAKA

1. Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Upaya kesehatan Olahraga, Pedoman


Kerja Puskesmas, 1999, Jilid ke-2, Jakarta.
2. Undang-Undang Kesehatan No. 23, pasal 46,tahun 1992, tentang Kesehatan Olahraga.
3. Pemerintah Daerah DKI Jakarta, Upaya Pokok Kesehatan Olahraga, Standarisasi
Pelayanan Kesehatan Puskesmas di DKI Jakarta,1999, Jakarta.

168

4. Mustika, D., Danu, S.S., Ketersediaan Obat Puskesmas pada Dinas Kesehatan
Kabupaten Bengkulu Selatan Pascaotonomi Daerah, Jurnal Manajemen Pelayanan
Kesehatan, 07 (04), hal. 219-224.
5. Tambunan , Taralan , Daldiono, Sungkar Saleha,dkk.Pedoman Pengobatan Dasar di
Puskesmas 2007.Jakarta : Departemen Kesehatan RI, 2007.Hal.1-3.
6. Puskesmas Kecamatan Cilandak.Laporan Tahunan Puskesmas Kecamatan Cilandak
2010.Jakarta.

UPAYA PERAWATAN KESEHATAN


MASYARAKAT
169

Penyusun:
SALWA BINTI ANUWAR

( 030.06.344 )

NUR SYAMILA BINTI SHARRI

( 030.06.334 )

BAB I
PENDAHULUAN

170

Permasalahan kesehatan yang dihadapi sampai saat ini cukup kompleks, karena upaya
kesehatan belum dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Berdasarkan data Riset
Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 diketahui penyebab kematian di Indonesia untuk
semua umur, telah terjadi pergeseran dari penyakit menular ke penyakit tidak menular, yaitu
penyebab kematian pada untuk usia > 5 tahun, penyebab kematian yang terbanyak adalah
stroke, baik di perkotaan maupun di pedesaan. Hasil Riskesdas 2007 juga menggambarkan
hubungan penyakit degeneratif seperti sindroma metabolik, stroke, hipertensi, obesitas dan
penyakit jantung dengan status sosial ekonomi masyarakat (pendidikan, kemiskinan, dan
lain-lain). Prevalensi gizi buruk yang berada di atas rata-rata nasional (5,4%) ditemukan pada
21 provinsi dan 216 kabupaten/kota. Sedangkan berdasarkan gabungan hasil pengukuran gizi
buruk dan gizi kurang Riskesdas 2007 menunjukkan bahwa sebanyak 19 provinsi mempunyai
prevalensi gizi buruk dan gizi kurang di atas prevalensi nasional sebesar 18,4%. Namun
demikian, target rencana pembangunan jangka menengah untuk pencapaian program
perbaikan gizi yang diproyeksikan sebesar 20%, dan target Millenium Development Goals
sebesar 18,5% pada 2015, telah dapat dicapai pada 2007. Sehubungan dengan hal tersebut,
perlu terus ditingkatkan upaya-upaya untuk memperluas jangkauan dan mendekatkan
pelayanan kesehatan kepada masyarakat dengan mutu pelayanan yang baik, berkelanjutan
dan dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat terutama keluarga miskin rawan
kesehatan/risiko tinggi. Upaya pelayanan kesehatan dasar kepada masyarakat melalui upaya
kesehatan wajib dan upaya kesehatan pengembangan. Salah satu upaya kesehatan
pengembangan yang dilakukan oleh Puskesmas Harapan Raya adalah program Perawatan
Kesehatan Masyarakat (Perkesmas). Sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor:
128/Menkes/SK/II/Tahun 2004 tentang kebijakan dasar Puskesmas, upaya perawatan
kesehatan masyarakat merupakan upaya program pengembangan yang kegiatannya
terintegrasi dalam upaya kesehatan wajib maupun upaya kesehatan pengembangan.
Perawatan kesehatan masyarakat (Perkesmas) merupakan bagian integral dari pelayanan
kesehatan dasar yang dilaksanakan oleh Puskesmas. Perkesmas dilakukan dengan penekanan
pada upaya pelayanan kesehatan dasar. Pelaksanaan Perkesmas bertujuan untuk
meningkatkan kemandirian masyarakat dalam mengatasi masalah kesehatan yang dihadapi,
sehingga tercapai derajat kesehatan yang optimal. Untuk mengupayakan terbinanya
kesehatan masyarakat, maka diharapkan 40 % keluarga rawan kesehatan memperoleh
171

kunjungan rumah dan pembinaan kesehatan oleh tenaga kesehatan melalui kegiatan
perkesmas. Sasaran perawatan kesehatan masyarakat adalah individu, keluarga, kelompok
dan masyarakat yang mempunyai masalah kesehatan akibat faktor ketidaktahuan,
ketidakmauan maupun ketidakmampuan dalam menyelesaikan masalah kesehatannya.
Prioritas sasaran adalah yang mempunyai masalah kesehatan terkait dengan masalah
kesehatan prioritas daerah yaitu belum kontak dengan sarana pelayanan kesehatan atau sudah
memanfaatkan tetapi memerlukan tindak lanjut. Fokus utama pada keluarga rawan kesehatan
yaitu keluarga miskin yang rentan dan keluarga yang termasuk resiko tinggi. Keluarga yang
tidak mendapat pelayanan perkesmas merupakan beban sosial dan ekonomi serta dapat
berdampak buruk terhadap masyarakat lainnya. Pemerintah memiliki tanggung jawab
melindungi kesehatan masyarakat dan memberikan akses ke pelayanan kesehatan terutama
bagi keluarga yang memiliki hambatan untuk mencapai pusat-pusat pelayanan kesehatan.
Penduduk rawan ini telah menjadi salah satu bagian sasaran program Perkesmas di
Puskesmas. Berdasarkan penelitian Septino (2007) diketahui beberapa masalah Perkesmas
yang dihadapi pada Puskesmas-Puskesmas di Indonesia antara lain laporan yang tidak sesuai
dari Puskesmas, Puskesmas yang tidak membuat rencana tahunan dan jumlah sasaran tidak
dilakukan pendataan. Tentang masalah dana, Dinas Kesehatan memberikan dana secara block
grand ke Puskesmas berdasarkan usulan kegiatan yang mereka buat. Selanjutnya, tentang
sarana dan prasarana seperti Public Health Nursing (PHN) kit, obat, buku pedoman dan
formulir laporan sudah tersedia, tetapi pencapaiannya masih rendah. Penelitian yang
dilakukan untuk mengetahui pelaksanaan program Perkesmas dan upaya peningkatan kinerja
Perkesmas yang dilaksanakan di Puskesmas Mantrijeron kota Yogyakarta didapatkan bahwa
(1) 18,2% petugas memiliki kemampuan kurang, (2) 27,3 % petugas memiliki motivasi
kurang, (3) tidak ada petugas yang tidak patuh, (4) 27,3 % petugas tidak melakukan
perencanaan dengan baik, (5) 36,4 % petugas kurang baik dalam penggerakan pelaksanaan
Perkesmas, (6) 18,2 % petugas kurang baik dalam pengawasan, pengendalian dan penilaian
Perkesmas.

172

BAB II
PENGERTIAN
Perawatan kesehatan masyarakat (Perkesmas) adalah perpaduan antara keperawatan
dan kesehatan masyarakat dengan dukungan peran serta aktif masyarakat mengutamakan
pelayanan promotif dan preventif secara berkesinambungan tanpa mengabaikan pelayanan
kuratif dan rehabilitatif secara menyuluh dan terpadu, ditujukan kepada individu, keluarga,
kelompok dan masyarakat untuk ikut meningkatkan fungsi kehidupan manusia secara
optimal, sehingga mandiri dalam upaya kesehatannya masyarakat. Menurut WHO Perkesmas
merupakan lapangan perawatan khusus yang merupakan gabungan ketrampilan ilmu
keperawatan, ilmu kesehatan masyarakat dan bantuan sosial, sebagai bagian dari program
kesehatan masyarakat secara keseluruhan guna meningkatkan kesehatan, penyempurnaan
kondisi sosial, perbaikan lingkungan fisik, rehabilitasi, pencegahan penyakit dan bahaya yang
lebih besar, ditujukan kepada individu, keluarga, yang mempunyai masalah dimana hal itu
mempengaruhi masyrakat secara keseluruhan.

Keperawatan adalah bentuk pelayanan di bidang kesehatan yang didasari ilmu dan
kiat keperawatan ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat baik yang
sakit maupun yang sehat, sejak lahir sampai meninggal.

Kesehatan masyarakat adalah bentuk pelayanan yang erat kaitannya dengan


epidemiologi, faktor-faktor penyebab wabah dan penyelesaian masalah kesehatan di
masyarakat.

Keluarga rawan adalah keluarga rentan terhadap kemungkinan timbulnya masalah


kesehatan dan keluarga yang mempunyai individu bermasalah.

173

Promotif adalah suatu upaya untuk meningkatkan taraf kesehatan yang dilakukan
pada saat pejamu sedang sehat dengan tujuan kesehatan / memelihara kesehatan. contohnya
penyuluhan-penyuluhan.

Preventif adalah suatu upaya yang dilakukan untuk menghalangi terjadinya bencana
dan mencegah bahaya yang ditimbulkannya (dalam hal ini penyakit)
Kuratif adalah upaya yang dilakukan untuk mengurangi/menyembuhkan suatu
penyakit

Rehabilitatif adalah upaya yang dilakukan bila sudah terjadi suatu kerusakan dan
dilakukan untuk mengembalikan penderita agar berguna dalam masyarakat, juga agar
mencegah cacat total setelah terjadi perubahan anatomi dan fisiologi. Rehabilitasi meliputi
fisik, mental dan sosial

174

BAB III
TUJUAN
A. Tujuan Umum
Meningkatnya kemandirian masyarakat dalam mengatasi masalah keperawatan
kesehatan masyarakat untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal.

B. Tujuan Khusus
1. Dipahaminya pengertian sehat dan sakit oleh masyarakat : promotif & preventif.
2. Meningkatnya kemampuan individu, keluarga, kelompok khusus dan masyarakat
untuk melaksanakan keperawatan dasar dalam rangka mengatasi masalah
kesehatan : preventif & kuratif.
3. Tertanganinya keluarga rawan yang memerlukan pembinaan dan pelayanan
perawatan : tim kesehatan lintas program terkait & sektoral terkait (kader
kesehatan, RT, RW) melaksanakan promotif, preventif, kuratif / rehabilitatif.
4. Terlayaninya kelompok khusus / panti yang memerlukan pembinaan dan
pelayanan perawatan : promotif, preventif, dan rehabilitatif.
5. Terlayaninya kasus-kasus yang memerlukan tindak lanjut dan pelayanan
keperawatan.
6. Terlayaninya kasus-kasus resiko tinggi yang memerlukan pelayanan perawatan di
puskesmas dan di rumah.

175

BAB IV
KEGIATAN DAN SASARAN
KEGIATAN DAN SASARAN DI PUSKESMAS KELURAHAN PONDOK LABU
Kegiatan
Adapun bentuk kegiatan Perkesmas antara lain:
1. Asuhan keperawatan pasien (prioritas) kontak Puskesmas yang berada di poliklinik
Puskesmas, Puskesmas pembantu (pustu), Puskesmas keliling (pusling), posyandu, pos kes
desa.
Pengkajian keperawatan pasien sebagai deteksi dini (sasaran prioritas)
Penyuluhan kesehatan
Tindakan Keperawatan (direct care)
Konseling keperawatan
Pengobatan (sesuai kewenangan)
Rujukan pasien/masalah kesehatan
Dokumentasi keperawatan
2. Kunjugan rumah oleh perawat (home visit/home care) terencana, bertujuan untuk
pembinaan keluarga rawan kesehatan. Home visit adalah suatu bentuk pelayanan kesehatan
yang komprehensif bertujuan memandirikan pasien dan keluarganya, pelayanan kesehatan
diberikan di tempat tinggal pasien dengan melibatkan pasien dan keluarganya sebagai subyek
176

yang ikut berpartisipasi merencanakan kegiatan pelayanan, pelayanan dikelola oleh suatu
unit/sarana/institusi baik aspek administrasi maupun aspek pelayanan dengan mengkoordinir
berbagai kategori tenaga profesional dibantu tenaga non profesional, di bidang kesehatan
maupun non kesehatan. Ruang Lingkup home visit yaitu memberi asuhan keperawatan secara
komprehensif, melakukan pendidikan kesehatan pada pasien dan keluarganya,
mengembangkan pemberdayaan pasien dan keluarga. Mekanisme pelayanan home visit:
a) Proses penerimaan kasus.
Home visit menerima pasien dari tiap poliklinik di Puskesmas
Koordinator program Perkesmas menunjuk perawat pelaksana Perkesmas untuk
mengelola kasus
Perawat pelaksana Perkesmas membuat surat perjanjian dan proses pengelolaan
kasus

b) Proses pelayanan home visit:


Persiapan terdiri dari memastikan identitas pasien, bawa denah/petunjuk tempat
tinggal pasien, lengkap kartu identitas unit tempat kerja, memastikan perlengkapan
pasien untuk di rumah, menyiapkan file asuhan keperawatan, menyiapkan alat
bantu media untuk pendidikan Pelaksanaan terdiri dari perkenalan diri dan
jelaskan tujuan, observasi lingkungan yang berkaitan dengan keamanan perawat,
lengkapi data hasil pengkajian dasar pasien, membuat rencana pelayanan, lakukan
perawatan langsung, diskusikan kebutuhan rujukan, kolaborasi, konsultasi dll,
diskusikan rencana kunjungan selanjutnya dan aktifitas yang akan dilakukan,
dokumentasikan kegiatan.
Monitoring dan evaluasi antara lain keakuratan dan kelengkapan pengkajian awal,
kesesuaian perencanaan dan ketepatan tindakan, efektifitas dan efisiensi
pelaksanaan tindakan oleh pelaksana.
Proses penghentian pelayanan home visit, dengan kriteria : tercapai sesuai tujuan,
kondisi pasien stabil, program rehabilitasi tercapai secara maksimal, keluarga
sudah mampu melakukan perawatan pasien, pasien di rujuk, pasien menolak
pelayanan lanjutan, pasien meninggal dunia.
Pembiayaan home visit terdiri dari
177

o Prinsip penentuan tarif antara lain pemerintah/masyarakat bertanggung


jawab dalam memelihara kesehatan, disesuaikan dengan kemampuan
keuangan dan keadaan sosial ekonomi, mempertimbangkan masyarakat
bepenghasilan rendah/asas gotong royong, pembayaran dengan asuransi
ditetapkan atas dasar saling membantu, mencakup seluruh unsur pelayanan
secara proporsional
o Jenis pelayanan yang kena tarip antara lain jasa pelayanan tenaga
kesehatan, imbalan atas pemakaian sarana kesehatan yang digunakan
langsung oleh pasien, dana transportasi untuk kunjungan pasien
3. Kunjungan perawat ke kelompok prioritas terencana (posyandu usila, posyandu balita,
panti asuhan dan lain-lain)
a) Pengkajian keperawatan individu di kelompok
b) Pendidikan/penyuluhan kesehatan di kelompok
c) Pengobatan (sesuai kewenangan)
d) Rujukan pasien/masalah kesehatan
e) Dokumentasi keperawatan
4. Asuhan keperawatan pasien di ruang rawat inap Puskesmas
a) Pengkajian keperawatan individu
b) Tindakan keperawatan langsung (direct care) dan tidak langsung (lingkungan)
c) Pendidikan/penyuluhan kesehatan
d) Pencegahan infeksi di ruangan
e) Pengobatan (sesuai kewenangan)
f) Penanggulangan kasus gawat darurat
g) Rujukan pasien/masalah kesehatan
h) Dokumentasi keperawatan.

Sasaran Perkesmas
Adapun yang menjadi sasaran program Perkesmas ini adalah seluruh masyarakat yang dapat
terbagi menjadi:
1. Individu khususnya individu risiko tinggi (risti): menderita penyakit, balita, lanjut usia
(lansia), masalah mental/jiwa.
178

2. Keluarga khususnya ibu hamil (bumil), lansia, menderita penyakit, masalah mental/
jiwa.
3. Kelompok/masyarakat berisiko tinggi, termasuk daerah kumuh, terisolasi, konflik,
tidak terjangkau pelayanan kesehatan. Fokus sasaran Perkesmas adalah keluarga
rawan kesehatan dengan prioritasnya adalah keluarga rentan terhadap masalah
kesehatan (Gakin), keluarga risiko tinggi (anggota keluarga bumil, balita, lansia,
menderita penyakit).

BAB V
PELAKSANAAN KEGIATAN
PELAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS KELURAHAN PONDOK LABU
Pelaksana Kegiatan Perkesmas
Perawat koordinator Perkesmas di Puskesmas harus mempunyai kualifikasi yaitu
minimal D3 Keperawatan dan pernah mengikuti pelatihan/sertifikasi Perkesmas serta
memiliki pengalaman kerja di Puskesmas yang mempunyai tugas sebagai berikut:
Pertemuan dengan perawat pelaksana Perkesmas/penanggung jawab daerah binaan
(darbin) untuk mengidentifikasi masalah prioritas dengan data epidemiologi,
merencanakan kegiatan Perkesmas, memfasilitasi pembahasan masalah dalam
Refleksi Diskusi Kasus (RDK), membahas masalah keuangan.
Kunjungan lapangan untuk melakukan bimbingan pada perawat pelaksana
179

Penyusunan laporan yang disusun berdasarkan hasil evaluasi pelaksanaan Perkesmas


yang merupakan bahan pertanggung jawaban kepada Kepala Puskesmas.
Sertifikasi bagi perawat Perkesmas yaitu:
Pelatihan Perkesmas
Pelatihan Pengembangan Manajemen Kinerja Klinis (PMKK) untuk perawat
coordinator
Pelatihan gadar (basic)
Pelatihan HIV/AIDS
Pelatihan Keperawatan Kesehatan jiwa Masyarakat (basic)
Pelatihan-pelatihan lainnya (program ISPA, PHBS, gizi, flu burung,dan lain-lain)

Indikator keberhasilan Perkesmas


Indikator keberhasilan kinerja Perkesmas terdiri dari:
1. Indikator kinerja klinik
Ada 4 indikator dalam menilai keberhasilan kinerja klinik Perkesmas yaitu:
Indikator input
Persentasi perawat koordinator (D3 Keperawatan)
Persentasi perawat terlatih keperawatan kesehatan komunitas
Persentasi Penanggung jawab daerah binaan/desa punya PHN kit
Persentasi Puskesmas memiliki pedoman/standard
Tersedia dana operasional untuk pembinaan
Tersedia standar/pedoman/SOP pelaksanaan kegiatan
Tersedia dukungan administrasi (buku register, family folder, formulir
laporan, dan lain-lain)
Indikator proses
Persentasi keluarga rawan mempunyai family folder
Maping (peta) sasaran Perkemas
Rencana kegiatan Perkesmas (POA)
Bukti Pembagian tugas perawat
Ada kegiatan koordinasi dengan petugas kesehatan lain
Catatan keperawatan
180

Kegiatan Refleksi Diskusi Kasus


Hasil pemantauan dan evaluasi
Indikator output (key indicator)
Persentasi keluarga rawan dibina
Persentasi keluarga selesai dibina
Persentasi penderita (prioritas SPM) dilakukan tindak lanjut
keperawatan (follow up care)
Persentasi kelompok dibina
Persentasi daerah binaan di suatu wilayah
Indikator hasil (Outcome) yang ingin dicapai adalah terbentuknya keluarga
mandiri dalam memenuhi kesehatannya/mengatasi masalah kesehatannya yang
terdiri dari 4 tingkatan keluarga mandiri (KM), masing-masingnya mempunyai
kriteria-kriteria sebagai berikut:
Tabel : Kriteria Keluarga Mandiri
Perilaku KM 1 KM II KM III KM IV
No

Perilaku

KM 1

Menerima petugas +

KM 2

KM3

KM 4

Puskesmas + + + +

Menerima yankes sesuai +


rencana + + + +

Menyatakan masalah +
secara benar + + +

181

Memanfaatkan sarana +

kesehatan sesuai
anjuran + + +

Melaksanakan +
perawatan sederhana
sesuai anjuran + + +

Melaksanakan tindakan +

pencegahan secara aktif


+ +

Melaksanakan tindakan +
promotif secara aktif +
2. Indikator kinerja fungsional
Indikator kinerja fungsional yaitu indikator kinerja perawat Puskesmas untuk
mengukur pencapaian angka kredit jabatan fungsionalnya yaitu jumlah angka kredit
yang dicapai sama dengan jumlah kegiatan perawat dalam mencapai indikator klinik
(output) nya.

Pemantauan dan Penilaian Perkesmas


Pemantauan dilaksanakan secara periodik setiap bulan oleh kepala Puskesmas dan
Perawat koordinator Perkesmas. Hasil pemantauan terhadap pencapaian indikator kinerja
menjadi masukan untuk perbaikan dan peningkatan kinerja perawat berikutnya, peningkatan
cakupan dan mutu pelayanan kesehatan. Sedangkan penilaian dilaksanakan minimal setiap
akhir tahun dan hasilnya digunakan untuk masukan dalam penyusunan perencanaan kegiatan
182

Perkesmas pada tahun berikutnya. Untuk memudahkan pemantauan dan penilaian kinerja
Perkesmas maka dilakukan penyajian hasil dengan menggunakan tabel, grafik balok/garis
atau grafik Pemantauan Wilayah Setempat (PWS). Penilaian dilakukan setahun sekali
meliputi semua aspek baik input, output, outcome sebagai masukan penyusunan rencana
kegiatan Perkesmas tahun berikutnya. Untuk memudahkan pemantauan dan penilaian kinerja
Perkesmas maka dilakukan penyajian hasil dengan menggunakan tabel, grafik balok/garis
atau grafik Pemantauan Wilayah Setempat (PWS). Penilaian dilakukan setahun sekali
meliputi semua aspek baik input, output, outcome sebagai masukan penyusunan rencana
kegiatan Perkesmas tahun berikutnya.
A. Identifikasi Masalah.
Menurunya derajat kesehatan masyarakat dalam rangka kegiatan Perawatan
Kesehatan Masyarakat (Perkesmas} diakibatkan oleh meningkatnya angka kesakitan pada
keluarga sasaran khususnya keluarga rawan, keluarga yang rentan terhadap masalah
kesehatan. Hal ini disebabkan karena adanya beberapa faktor, antara lain :
Meningkatnya suatu penyakit di masyarakat.
Kurangnya kegiatan Perawatan Kesehatan Masyarakat oleh petugas.
Kurang akuratnya data yang tersedia
Lingkungan yang tidak sehat dan bersih.
Selanjutnya dapat diidentifikasi masalah yang berhubungan langsung dengan
masalahutama tersebut di atas adalah kurangnya kegiatan Perawatan Kesehatan
Masyarakat oleh petugas yang disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain :
Kurangnya kerjasama lintas program terkait.
Kurangnya sarana dan prasarana yang dibutuhkan.
Kurangnya kemampuan/keterampilan petugas (bidan dan pada perawat)
Kurangnya motivasi petugas.
B. Sasaran.
Dengan adanya identifikasi masalah diatas, maka penulis dapat mengemukakan
sasaran yang ingin dicapai dalam rangka menuju pemecahan masalah . Adapun sasaran
yang dimaksud adalah seperti di bawah ini. Terwujudnya peningkatan derajat kesehatan
masyarakat dalam rangka kegiatan Perkesmas diakibatkan dari tercapainya penurunan

183

angka kesakitan pada keluarga rawan yang rentan terhadap masalah kesehatan. Penurunan
angka kesakitan tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu :
Tertanggulanginya suatu penyakit di masyarakat
Terwujudnya peningkayan kegiatan perawatan kesehatan masyarakat oleh petugas
(bidan dan perawat).
Tersedianya keakuratan data.
Terwujudnya lingkungan yang sehat dan bersih.

Sedangkan yang menyebabkan terwujudnya peningkatan kegiatan perawatan kesehatan


masyarakat oleh petugas adalah :
1. Terwujudnya peningkatan kerjasama lintas program terkait.
Dengan sudah dilaksanakannya pelatihan petugas perawatan kesehatan
masyarakat. Petugas dari perogram terkait sudah memahami dan mengerti tentang
pelaksanaan dari Program Puskesmas. Bahwa program Puskesmas sangat
mendukung untuk program puskesmas lainnya tertutama dalam pencapaian
cakupan program Kesehatan Ibu dan Anak dan program Pemberantasan Penyakit
menular temasuk Imunisasi.Program KIA dan Imunsasi adalah program
primadona. Untuk program KIA dalam hal pencapaian cakupan K.1 dan K.4,
sedangkan untuk pelayanan program Imunisasi petugas Puskesmas melakukan
pembinaan pada keluarga DO (Drop Out).Dari program Gizi petugas Puskesmas
membantu dalam hal pembinaan kelarga yang mempunyai bayi, anak balita, yang
berat badannya berada dibawah garis merah (Balita BGM) dan ibu hamil /ibu
nifas yang kekuranan enegi sera membantu dalam hal pelaksanaan pemberian
makanan tambahan (PMT). Untuk program pemberantasan Penyakit Menular
(P2M) petugas Puskesmas membantu memberikan bimbingan serta tindak lanjut
untuk kasus-kasus penyakit menular maupun tidak menular.
2. Tersedianya sarana dan prasarana yang dibutuhkan.
Dengan terpenuhinya sarana dan prasarana khususnya peralatan medis dan
ruangan yang memadai dalam melaksanakan kegiatan akan menimbulkan suasana
yang nyaman dan leluasa sehingga dapat membuat jiwa kita menjadi tenang.
Adanya peralatan medis khusus untuk kegiatan program Puskesmas yang dipunyai
184

oleh masing-masing petugas (bidan dan perawat) akam memudahkan kegiatan


Puskesmas di masyarakat. Dan program perawatan kesehatan masyarakat bisa
berjalan dengan lancar.
3. Terwujudnya peningkatan kemampuan/keterampilan petugas (bidan dan perawat).
Seperti sudah diuraikan pada bab terdahulu bahwa kendala/hambatan yang ditemui
dalam upaya peningkatan pelaksanaan kegiatan Perkesmas adalah faktor manusia
sebagai pelaksana yang mempunyai kelemahan, yaitu kurangnya kemampuan/
keterampilan petugas untuk melaksanakan tugas keperawatan. Sebagai pendukung
kelancaran dan kemudahan dalam melaksanakan kegiatan Perkesmas bagi petugas
bagi petugas khususnya perawat, bidan dan bidan-bidan didesa perlu adanya
pelatihan, pembinaan yang terus menerus oleh atasan langsung atau dari pihak
yang berkepentingan, melaksanakan petunjuk teknis pelajaran. Dengan adanya
usaha tersebut diatas diharapkan akan meningkatkan kemampuan/keterampilan
bagi petugas Perkesmas, sehingga kegiatan perkesmas dapat dilaksanakan secara
optimal dan pada akhirnya akan terjadi peningkatan, baik disegi pelayanan
terhadap masyarakat maupun disegi pelayanan terhadap masyarakat maupun
disegi pencapaian cakupan/hasil kegiatan.
4. Terwujudnya motivasi kerja petugas.
Terwujudnya motivasi kerja dalam melaksanakan kegiatan Perkesmas tidak lepas
dari kemampuan/keterampilan petugas serta tersedianya sarana dan prasarana
pendukung. Hal ini secara tidak langsung membantu memotivasi petugas untuk
melaksanakan tugas dengan baik. Motivasi kerja petugas dilihat dari keaktifan
petugas dalam membina desa binaan.

C. Alternatif Pemecahan.
Selanjutnya guna mengidentifikasi pemecahan masalah dan penetuan sasaran yang
ingin dicapai, maka perlu dibuat beberapa alternatif sebagai acuan untuk menuju
rangkaian pemecahan masalah sehingga terwujudnya peningkatan kemampuan /
keterampilan petugas Perkesmas khususnya perawat, bidan, dan bidan-bidan desa melalui
kegiatan-kegiatan seperti:
1. Melaksanakan study banding ke Puskesmas teladan.
185

2. Melaksanakan pelatihan petugas perkesmas.


3. Melaksanakan pembinaan.
4. Melaksanakan pembuatan petunjuk teknis pelajaran.
Dari beberapa kegiatan tersebut diatas kegiatan yang bisa dilaksanakan dan
berpengaruh langsung terhadap peningkatan kemampuan/keterampilan petugas
Perkesmas yaitu kegiaatan pelatihan bagi perawat, bidan dan bidan-bidan desa selaku
pelaksana kegiatan Perkesmas.
Dengan adanya peningkatan kemampuan/keterampilan petugas Perkesmas oleh
petugas yang selanjutnya akan memungkinkan tercapainya penurunan angka kesakitan
pada keluarga rawan yang rentan terhadap maslah kesehatan dan pada akhirnya
memungkinkan terwujudnya peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Dengan adanya
strategi pemecahan masalah dari sasaran yang diharapkan, dapatlah ditentukan sasaran
umum dan sasaran khusus dari rencana kerja yang ingin dicapai. Adapun sasaran umum
dan saran khusus yang dapat dirumuskan adalah sebagai berikut :
1. Sasaran Umum :
Terwujudnya peningkatan kemampuan /keterampilan petugas Perkesmas melalui
pelaksanaan pelatihan petugas Perkesmas.
2. Sasaran Khusus :
Terwujudnya peningkatan kemampuan /keterampilan petugas Perawatan
Kesehatan Masyarakat (bidan dan perawat) melalui pelaksanaan pelatihan petugas
Perkesmas

D. Langkah-Langkah Kegiatan.
Kegiatan yang kiranya diselenggarakan guna mencapai sasaran adalah dengan
melaksanakan pelatihan petugas perawatan Kesehatan Masyarakat untuk mewujudkan
peningkatan kemampuan/keterampilan bidan perawat. Kegiatan tersebut diatas
pelaksanaannya dapat dibagi menjadi beberapa tahapan kegiatan antara lain :
Persiapan yang terdiri dari pembentukan panitia, pencairan dana, pembuatan
jadwal, penyiapan perlengkapan serta pemberitahuan peserta pelatihan.
Pelaksanaan terdiri dari pembukaan pelatihan, penyajian materi serta penutup.

186

Pengendalian meliputi pemantauan, penilaian serta pelaporan dari semua kegiatan


yang dilaksanakan.

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

KESIMPULAN
Kegiatan Perkesmas salah satu kegiatan pokok Puskesmas, memberikan pelayanan
keperawatan terhadap individu, keluarga, kelompok dan masyarakat yang mempunyai
masalah kesehatan, dimana tanpa adanya keterpaduan laporan dan kegiatan
pembinaan lintas program/sektor terkait program Perkesmas akan menampilkan hasil
kegiatan dan pengelolaan yang belum optimal.
Hasil pernantauan dapat dimanfaatkan untuk melakukan koreksi, sedangkan hasil
penilaian dimanfaatkan untuk perencanaan kegiatan berikutnya. Kedua hasil tersebut
diperlukan dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

SARAN
Diharapkan dapat memberikan supervisi/bimbingan untuk perbaikan dan peningkatan
penampilan hasil kegiatan Perkesmas di tingkat Puskesmas, agar dapat menilai
kemajuan pelaksanaan program Perkesmas secara teratur dan berkesinambungan, dan
perlu adanya suatu alat untuk rnemantau dan menilai sehingga dapat diidentifikasi
masalah dan penyebabnya.
Diharapkan dapat memberikan sosialisasi secara terus menerus dan
berkesinambungan dengan lintas program/sektor terkait demi terlaksananya kegiatan
Perkesmas di Tingkat Puskesmas secara terpadu.

187

Diharapkan dukungan sepenuhnya dari Kepala Puskesmas dalam memotivasi staf


dalam pelaksanaan kegiatan Perkesmas secara terpadu melalui mini lokakarya lintas
program/sektor.

DAFTAR PUSTAKA
1. Depkes RI, 1993, Jakarta, Petunjuk Pengelolaan Perawatan Kesehatan Masyarakat
Depkes RI, 1996, Jakarta, Pedoman Pemantauan Penilaian Program Perawatan
Kesehatan Masyarakat.
2. www.depkesri.com
3. Sastroasmoro S, Ismael Sofyan. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis.
Jakarta : Sagung Seto.2010; p372-374

188

UPAYA KESEHATAN KERJA

Penyusun:
Putri Kartika Vidya

(030.06.197)

Syahidatul Syakira

(030.06.350)

189

BAB I
PENDAHULUAN

ILO dan WHO (1995) menyatakan kesehatan kerja bertujuan untuk peningkatan dan
pemeliharaan derajat kesehatan fisik, mental dan sosial yang setinggi-tingginya bagi pekerja
di semua jenis pekerjaan; pencegahan terhadap gangguan kesehatan pekerja yang disebabkan
oleh kondisi pekerjaan; perlindungan bagi pekerja dalam pekerjaannya dari resiko akibat
faktor yang merugikan kesehatan ; dan penempatan serta pemeliharaan pekerja dalam suatu
lingkungan kerja yang disesuaikan dengan kondisi fisiologi dan psikologisnya.
Secara ringkas merupakan penyesuaian pekerjaan kepada manusia dan setiap manusia
kepada pekerjaan atau jabatannya. Selanjutnya dinyatakan bahwa fokus utama Kesehatan
Kerja, yaitu :
1) Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan pekerja dan kapasitas kerja.
2) Perbaikan lingkungan kerja dan pekerjaan yang mendukung keselamatan dan
kesehatan.

190

3) Pengembangan organisasi kerja dan budaya kerja kearah yang mendukung kesehatan
dan keselamatan di tempat kerja, juga meningkatkan suasana sosial yang positif dan
operasi yang lancer serta meningkatkan produktivitas perusahaan.
Departemen Kesehatan telah menetapkan upaya khusus kesehatan kerja sebagai
bagian dari pembangunan bidang kesehatan sejak tahun 1998, dicanangkan dengan paradigm
sehat. Pencanangan paradigma sehat ini sejalan dengan pembangunan berwawasan
lingkungan serta pengembangan tenaga kesehatan Sarjana Kesehatan Masyarakat. Bidang
kesehatan kerja mempunyai implikasi luas baik secara mikro maupun makro.
Potensi munculnya berbagai penyakit akibat kerja yang dialami pekerja akan
merugikan perusahaan dari segi biaya kesehatan, absen kerja yang pada ujungnya
mengganggu produktivitas kerja. Perhatian yang baik pada kesehatan kerja dan perlindungan
risiko bahaya di tempat kerja menjadikan pekerja dapat lebih nyaman bekerja. Dalam
Undang-undang No. 23 tahun 1992 pasal 23 dinyatakan bahwa kesehatan kerja
diselenggarakan agar setiap pekerja dapat bekerja secara sehat tanpa membahayakan diri
sendiri dan masyarakat sekelilingnya, agar diperoleh produktivitas kerja yang optimal sejalan
dengan program perlindungan tenaga kerja.

Dalam Permenaker No. 3 tahun 1982 disebutkan tugas pokok kesehatan kerja antara
lain :
1. Pembinaan dan pengawasan atau penyesuaian pekerjaan terhadap tenaga kerja
2. Pembinaan dan pengawasan terhadap lingkungan kerja
3. Pembinaan dan pengawasan perlengkapan sanitasi
4. Pembinaan dan pengawasan perlengkapan kesehatan kerja
5. Memberikan nasehat mengenai perencanaan dan pembuatan tempat kerja, pemilihan
alat pelindung diri yang diperlukan dan gizi serta penyelenggaraan makanan di tempat
kerja.
6. Memberikan laporan berkala tentang pelayanan kesehatan kerja kepada pengurus
7. Memberikan saran dan masukan kepada manajemen dan fungsi terkait terhadap
permasalahan yang berhubungan dengan aspek kesehatan kerja
191

Pada beberapa sektor industi formal berskala menengah dan besar pada umumnya
pelaksanaan kesehatan kerja sudah cukup baik yang dilakukan secara terintegrasi melalui
Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamanatan Kerja ( SMK3 ). Untuk usaha-usaha
informal dan industri-industri kecil, Departemen Kesehatan maupun Departemen Tenaga
kerja dan Transmigrasi sudah melakukan upaya kesehatan kerja, misalnya dalam bentuk
pembinaan dan pelatihan-pelatihan serta penyusunan berbagai pedoman pelaksanaan
kesehatan kerja. Namun, diakui upaya yang telah dilakukan belum bisa menjangkau seluruh
usaha informal dan industri kecil yang jumlahnya cukup besar. Selain adanya persoalan
keterbatasan sumber daya manusia atau petugas dan kesadaran para pengelola usaha dalam
memperhatikan kesehatan kerja.
Peran SKM dalam Kesehatan Kerja
Peran SKM dalam berbagai bentuk upaya kesehatan masyarakat, diantaranya adalah
sebagai pelaksana lapangan, pendidikan, penyuluhan kesehatan masyarakat, pembangunan
model, pengelolaan kesehatan masyarakat, pengelola dan pengendali upaya kesehatan
masyarakat. Upaya kesehatan kerja sebagai bagian dari upaya kesehatan masyarakat seperti
diuraikan di atas dilakukan melalui berbagai upaya atau program-program. Untuk
melaksanakan upaya tersebut dibutuhkan sejumlah profesi, seperti dokter, perawat, ahli
hygiene kerja, ahli toksikologi, ahli ergonomic, ahli epidemiologi dan ahli keselamatan.
Dilihat dari tugas pokok kesehatan kerja dan bentuk pengendalian bahaya kesehatan,
tenaga SKM mempunyai kompetensi yang sangat sesuai karena tenaga SKM dirancang untuk
melakukan tugas pokok atau upaya-upaya yang bersifat promosi, perlindungan dan
pencegahan. Selain itu kemampuan sebagai leader, pengelola program diharapkan akan lebih
mengoptimalkan upaya kesehatan kerja. Jumlah institusi pendidikan tinggi yang
menghasilkan SKM saat ini sangat banyak. Potensi ini akan sangat berarti ketika kita melihat
kenyataan bahwa di Indonesia jumlah angkatan kerja adalah terbesar nomor 4 di dunia, yaitu
berjumlah sekitar 152 juta jiwa ( Survey BPS 2003, untuk penduduk di atas 15 tahun ) dan
jumlah industri yang cukup besar sekitar 102.000 perusahaan. Selain di perusahaan, SKM
dengan kompetensi bidang K3 juga diperlukan di instansi pemerintah baik pusat maupun
daerah dalam menjalankan fungsinya membuat regulasi, melakukan supervise, bimbingan
dan evaluasi.
192

Dalam rangka pemberdayaan masyarakat bidang K3, SKM juga dapat memainkan
peran di LSM-LSM bidang kesehatan yang tentunya dapat membuat program intervensi
kesehatan di tempat kerja. Hal penting untuk dicatat adalah pentingnya pemberdayaan
potensi tenaga SKM sesuai kompetensinya untuk dapat menjadi pelaksana upaya kesehatan
kerja baik bekerja langsung di perusahaan, ditempatkan di instansi pemerintah harus
didukung oleh jaringan terkait. Disamping itu sendiri, juga oleh para pengusaha atau pelaku
usaha dan para pekerja.
Kebutuhan SDM bidang kesehatan kerja selain tenaga medis dan paramedis, seperti
dokter dan perawat juga dibutuhkan tenaga-tenaga yang mampu melakukan upaya-upaya
kesehatan kerja yang lebih bersifat peningkatan, perlindungan dan pencegahan, yaitu tenaga
ini adalah SKM. Perkembangan

pembangunan nasional bangsa Indonesia sekarang ini

dihadapkan pada era etonomi dan desentralisasi. Titik berat yang menjadi perhatian baik
masyarakat maupun pemerintah adalah bidang pendidikan dan kesehatan.

Era globalisasi saat ini juga menuntut adanya kompetensi tenaga kerja dan pentingnya
standarisasi serta sertifikasi. Trend ini sangat relevan dengan pemikiran dan implementasi
peran SKM dalam upaya kesehatan kerja, kita dapat melihatnya dari titik temu antara
kompetensi yang dimiliki SKM khususnya peminatan K3 dengan tujuan dan tugas pokok
kesehatan kerja dan standar upaya kesehatan kerja yang biasa diterapkan di tempat kerja
dalam bentuk Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Kompetensi SKM
sangat sesuai sebagai bagian dari profesi lain dalam upaya kesehatan kerja, yaitu sebagai
pengelola program dan dapat melakukan fungsinya untuk melakukan/ mengkoordinasikan
langkah-langkah identifikasi potensi bahaya kesehatan, penilaian bahaya kesehatan dan

193

pengendalian melalui berbagai program, pembinaan, pengawasan serta pendidikan dan


pelatihan.

BAB II
PENGERTIAN
UPAYA KESEHATAN PENGEMBANGAN
Adalah upaya yang ditetapkan berdasarkan permasalahan kesehatan yang ditemukan
di masyarakat serta yang disesuaikan dengan kemampuan Puskesmas.2

194

UPAYA KESEHATAN KERJA ( UKK )


Merupakan kegiatan pokok Puskesmas yang ditujukan terutama pada masyarakat
pekerja informal di wilayah kerja Puskesmas dalam rangka upaya pencegahan dan
pemberantasan penyakit serta kecelakaan yang berkaitan dengan pekerjaan dan lingkungan
kerja.3

KEGIATAN
Adalah bagian dari program yang dilaksanakan oleh satu atau lebih unit kerja sebagai
bagian dari pencapaian sasaran terukur dari suatu program dan terdiri dari sekumpulan
tindakan pengerahan sumber daya baik yang berupa personal (SDM), barang modal termasuk
peralatan dan teknologi, dana atau kombinasi dari beberapa atau kesemua jenis sumber daya
tersebut sebagai masukan (input) untuk menghasilkan keluaran (output) dalam bentuk barang
atau jasa.2

SASARAN (TARGET)
Adalah hasil yang diharapkan dari suatu program atau keluaran yang diharapkan dari
suatu kegiatan. 2

SEKTOR INFORMAL
Yaitu usaha-usaha ekonomi di luar sektor modern atau sektor formal seperti perusahaan,
pabrik dan sebagainya yang mempunyai ciri : 3
1.

Kegiatan usaha biasanya sederhana, tidak tergantung pada kerja sama banyak

orang bahkan kadang-kadang usaha


2.

Perorangan dan sistem pembagian kerja yang ketat

3.

Skala usaha relative kecil biasanya dimulai dengan modal dan usaha kecil-

kecilan
4.

Biasanya tidak mempunyai izin usaha seperti halnya Firma, PT atau CV

(Payaman Simanjuntak, 1985)

195

BAB III
TUJUAN
196

I. Tujuan umum
Meningkatnya kemampuan untuk menolong dirinya sendiri guna mencapai
derajat kesehatan yang optimal dan peningkatan produktifitas kerja. 3

II. Tujuan khusus


1. Meningkatnya kemampuan masyarakat pekerja dalam upaya pencegahan dan
pemberantasan penyakit dan kecelakaan yang berkaitan dengan pekerjaan dan
lingkungan kerja.
2. Meningkatnya pelayanan kesehatan bagi tenaga kerja informal dan keluarganya yang
belum terjangkau ( Under-served ).
3. Meningkatnya keselamatan kerja dengan mencegah pemajanan bahan-bahan yang
dapat membahayakan lingkungan kerja dan masyarakat sekitar serta menerapkan
prinsip ergonomik. 3

197

BAB IV
KEGIATAN DAN SASARAN
I. Kegiatan
Kegiatan upaya kesehatan kerja meliputi : 2
1. Pelaksanaan K3 di luar Puskesmas :
a.

Pendataan tentang industri dan tenaga kerja

b.

Rapat koordinasi dengan instalasi terkait

c.

Melaksanakan kunjungan pengawasan dan pembinaan

d.

Penyuluhan kesehatan tenaga di tempat kerja sebagai tindak promotif

dan preventif dengan penekanan pada prinsip higiene industry dan ergonomis
e.

Pelayanan kesehatan di Puskesmas

f.

Latihan kader untuk mengembangkan program UKK

g.

Pembentukan pos UKK di tempat kerja

h.

Penilaian upaya kesehatan kerja dan higiene industri di tempat kerja

i.

Penyelenggaraan dana sehat di pos UKK

j.

Melakukan evaluasi

k.

Memberikan umpan balik kepada industri

2. Pelaksanaan K3 di Puskesmas
a. Identifikasi yang bisa menimbulkan bahaya K3
b. Menilai resiko bahaya
c. Melakukan pengendalian resiko agar meminimalisasi bahaya
d. Pengelolaan tanggap darurat di puskesmas, misalnya kebakaran, bencana alam,
komplikasi dan tindakan medis dll
e. Pencatatan setiap ada accident maupun near misses (nyaris)
Pendekatan PKMD
Pembangunan Kesehatan Masyarakat Pekerja dilakukan dengan cara pendekatan
PKMD, yang menampilkan ciri-ciri sebagai berikut : 3
1. Bertumpu pada upaya peran serta masyarakat
2. Terselenggaranya pelayanan dasar kesehatan kerja
3. Terjalin kegiatan kerja sama lintas sektoral
198

Langkah-langkah Pengembangan UKK dengan Pendekatan PKMD


1. Tahap Persiapan
Tahap persiapan masyarakat dilakukan dengan melakukan pertemuan, survei mawas
diri masyarakat dan pelatihan kader.
Pertemuan tingkat Kecamatan/tingkat desa (lintas sektoral), merupakan langkah awal
dari pembinaan tingkat Kecamatan. Pertemuan ini bertujuan untuk diseminasi informasi
mengenai informasi masyarakat Upaya Kesehatan Kerja sebagai upaya meningkatkan
kesehatan masyarakat, khususnya masyarakat pekerja informal. Juga untuk diperolehnya
dukungan dari sektor lain dalam pelaksanaan UKK.
Sedangkan pertemuan tingkat desa bertujuan untuk dikenalnya Upaya Kesehatan
Kerja sebagai upaya untuk meningkatkan kesehatan kerja, dikenalnya masalah kesehatan dan
keselamatan kerja setempat, serta diperolehnya dukungan dari pamong, pemuka masyarakat
dan organisasi tenaga kerja lainnya dalam pelaksanaan UKK.
Survei mawas diri, bertujuan agar tenaga kerja mengenal, mengumpulkan dan
mengkaji masalah kesehatan sendiri. Selain itu agar timbul kesadaran akan adanya hubungan
timbal balik antara pekerjaan dan kesehatan. Dilakukan di desa terpilih dengan memilih
lokasi tertentu yang dapat menggambarkan keadaan desa pada umumnya. Dilaksanakan oleh
masyarakat pekerja setempat/calon kader yang telah ditunjuk dalam pertemuan tingkat desa,
dengan bimbingan petugas Puskesmas dan sektor terkait untuk mengetahui sebanyak
mungkin masalah kesehatan kerja di desa tersebut dan kemudian menentukan prioritas
masalah.
Musyawarah tentang kesehatan kerja, dilaksanakan segera setelah survei mawas diri.
Sebaiknya musyawarah dihadiri oleh seluruh pekerja dan keluarganya, petugas Puskesmas
dan seluruh sektor lain yang terkait seperti Bangdes, Pertanian, Perindustrian, Koperasi/
KUD. Tujuan musyawarah ini adalah agar masyarakat pekerja mengenal masalah kesehatan
di tempat kerjanya, masyarakat bersepakat menanggulangi masalah tersebut dan kemudian
menyusun rencana kerja untuk menanggulangi masalah tersebut.
Latihan kader, bertujuan untuk mempersiapkan kader agar mampu berperan dan
mengembangkan program kesehatan kerjanya dan di lengkungan tempat tinggalnya.

199

2. Tahap Pelaksanaan Kegiatan UKK di Puskesmas


Penyuluhan kesehatan, tindakan promotif dan preventif dengan penekanan pada
prinsip ergonomik. Prosedur pelayanan kesehatan pekerja yang berkunjung ke Puskesmas
seperti pengunjung lainnya. Kartu berobat/register diberi kode khusus untuk memisahkan
dengan pengunjung lainnya. Ini dilakukan untuk catatan jumlah pengunjung tenaga kerja
tertentu ke Puskesmas (petani, nelayan, dll) serta untuk penekanan pelayanan kesehatan
kepada pekerja.
Menyelenggarakanpelayanan kesehatan di Puskesmas, pemeriksaan di arahkan
apakah penyakit yang diderita ada hubungannya dengan pekerjaan. Apabila pada
pemeriksaan ternyata ada hubungannya, maka dilakukan follow-up ke tempat kerja untuk
memberikan penyuluhan mengenai cara pencegahan timbulnya penyakit tersebut.
Melatih kader, bertujuan untuk mempersiapkan kader agar mampu berperan dan
mengembangkan program kesehatan kerja di tempat kerjanya.
Pembentukkan pos UKK di tempat kerja, harus memanfaatkan pranata sosial yang
telah ada, misalnya kelompok tani, kelompok nelayan dan kelompok pengrajin. Untuk setiap
20-30 pekerja dengan jenis pekerjaan yang sesuai dibentuk satu pos UKK.
Secara umum, melalui pos UKK dilakukan tiga hal pokok, yaitu :
a. Komunikasi, Informasi dan Motivasi (KIM) tentang kesehatan dan
keselamatan kerja. Pada garis besarnya, materi KIM yang diberikan
menyangkut tentang prosedur kerja, keselamatan kerja, gizi kerja, kebugaran,
penanggulangan stress, hipertensi, bahaya merokok, pencegahan penyakit
menular, keracunan makanan serta bagaimana bekerja tanpa mencemari
lingkungan dan pokok bahasan lain yang terkait dengan pekerjaannya.
b. Kerjasama lintas sektoral, baik antara petugas maupun antara para kader. Pos
UKK dapat dijadikan sebagai wahana kerjasama lintas sektor untuk ikut
membina produktivitas pekerja dengan cara ikut memeliahara tingkat
kesehatan pekerja dan menciptakan budaya kerja secara sehat dan produktif.
c. Melakukan pelayanan dasar kesehatan yang meliputi, Pertolongan Pertama
Pada Kecalakaan (P3K), Pertolongan pertama pada penyakit, Upaya
pemantauan penggunaan alat-alat keselamatan kerja/alat pelindung diri, Upaya
penyehatan lingkungan kerja.
200

Selain itu, pos UKK dapat juga mempergunakan posyandu yang ada atau
membentuk posyandu lain bagi pekerja terutama kalau pekerja terdiri dari wanita.

II. Sasaran
Sasaran UKK:
1. Tenaga kerja terutama sektor informal
2. Sentral industri kecil
3. Tenaga kerja wanita, khususnya usia muda
4. Tenaga kerja kesehatan di Puskesmas 2
Sasaran Upaya Kesehatan Kerja (UKK) diarahkan kepada pekerja yang
mempunyai dampak besar dalam menunjang ekonomi, tetapi kurang dapat mendapat
pelayanan kesehatan yang memadai. Dengan demikian sasaran upaya kesehatan kerja
diutamakan pada sektor informal yang merupakan lebih dari separuh angkatan kerja,
misalnya tenaga lepas, petani, nelayan, penyelam mutiara, pengrajin industri kecil/industri
rumah tangga, pekerja bangunan, kaki lima, usaha angkutan terutama di kota, dan pekerja
wanita.3

201

BAB V
PELAKSANAAN KEGIATAN
PELAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS KELURAHAN GANDARIA
SELATAN
Setelah dilakukan observasi dan wawancara terhadap Koordinator Program Kesehatan
Lingkungan Puskesmas Kecamatan Cilandak Barat, didapatkan data bahwa di pos UKK di
Puskesmas Kecamatan Cilandak Barat masih dalam tahap pengembangan.Berarti, saat ini
belum ada pos UKK karena di daerah Kecamatan Cilandak bukan merupakan daerah dengan
banyak industri informal.
Akan tetapi di daerah kelurahan Gandaria Selatan dan Pondok Labu banyak terdapat
usaha pangan yaitu tahu, tempe dan kerupuk yang belum diketahui jumlahnya. Puskesmas
Kecamatan Cilandak baru akan mengembangkan pos UKK dengan melihat komunitas dan
jumlah pekerja di daerah ini.

202

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Upaya Kesehatan Kerja ( UKK) merupakan kegiatan pokok puskesmas yang
ditujukan terutama pada masyarakat pekerja informal di wilayah kerja Puskesmas dalam
rangka upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit serta kecelakaan yang berkaitan
dengan pekerjaan dan lingkungan kerja.
Kesehatan kerja bertujuan untuk peningkatan dan pemeliharaan derajat kesehatan
fisik, mental dan sosial yang setinggi-tingginya bagi pekerja di semua jenis pekerjaan,
pencegahan terhadap gangguan kesehatan pekerja yang disebabkan oleh kondisi pekerjaan;
perlindungan bagi pekerja dalam pekerjaannya dari resiko akibat faktor yang merugikan
kesehatan; dan penempatan serta pemeliharaan pekerja dalam suatu lingkungan kerja yang
disesuaikan dengan kondisi fisiologi dan psikologisnya.
Adanya pembangunan kesehatan masyarakat kerja dilakukan dengan cara pendekatan
PKMD, yang menampilkan ciri-ciri sebagai berikut : bertumpu pada upaya peran serta
masyarakat, terselenggaranya pelayanan dasar kesehatan kerja dan terjalinnya kegiatan kerja
sama lintas sektoral.

203

B. Saran
1. Observasi lagi daerah-daerah dengan kelompok pekerja yang sejenis. Misalnya di
daerah Gandaria Selatan dan Pondok Labu dengan banyaknya usaha pangan ( tahu,
tempe, kerupuk ). Apabila jumlahnya memenuhi untuk dibuat pos UKK, maka
sekiranya dapat dibuat pos UKK.
2. Pembentukan kader UKK

DAFTAR PUSTAKA
1. Buku Pedoman Kerja Puskesmas, jilid II, tahun 1993
2. Buku Revitalisasi Puskesmas 2006.
3. Peranan SKM Pada Program UKK. Diunduh dari www.binasehat.co.id pada tanggal 22
Juli 2011

204

UPAYA KESEHATAN GIGI DAN MULUT

Penyusun:
Adisresti Diwyacitta

(030.06.008)

Meri Indriani

(030.06.166)
205

BAB I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG DAN MASALAH

Penyakit gigi dan mulut yang menjadi masalah kesehatan masyarakat dewasa ini
adalah penyakit/kelainan pada jaringan penyangga gigi (periodontal disease) dan karies gigi.
Kedua penyakit tersebut menimbulkan gangguan fungsi mengunyah, yang dapat
menyebabkan terganggunya penyerapan dan pencernaan makanan sehingga akhirnya dapat
menganggu status gizi seseorang.
Gigi gangren (busuk), juga merupakan fokal infeksi yang dapat menimbulkan
penyakit/infeksi pada organ tubuh lainnya. Maka pencegahan dan pengobatan dini penyakit
gigi dan mulut di Puskesmas, sebagai unit pelayanan primer yang memberikan pelayanan
dasar langsung kepada masyarakat mutlak diperlukan.
1. Penyakit periodontal
Pada umumnya penyakit periodontal merupakan akibat dari keadaan kebersihan
mulut yang buruk, penyakit ini merupakan penyebab utama tanggalnya gigi pada usia 35
tahun ke atas. Kebersihan mulut yang buruk berhubungan erat dengan status sosial dan
206

pendidikan yang masih rendah, maka upaya penanggulangan yang paling utama adalah
dengan memberikan pendidikan/penyuluhan kepada masyarakat tentang upaya
pemeliharaan diri (self-care).
2. Karies gigi
Penyakit karies bersifat irreversible, kumulatif, dan progresif. Peningkatan
prevalensi karies gigi berhubungan dengan perubahan sosial, pendidikan, dan diet
(refined carbohydrate). Penyebab utama dari karies gigi adalah bakteri, makanan yang
mengandung banyak gula, kesehatan umum yang buruk pada masa anak-anak, factor
herediter, rendahnya kadar fluor dalam air minum.
Di perkotaan prevalensi penyakit karies lebih tinggi dari pada di pedesaan.
Prevalensi penyakit karies dan periodontal ini di Indonesia bersifat menyeluruh dan
keadaan menjadi lebih tidak menguntungkan karena majemuknya peduduk dan keadaan
geografik. Keadaan higiene mulut pada umumnya kurang baik, pengaruh lingkungan
yang kurang menunjang seperti status gizi, penyediaan air minum, sikap masyarakat yang
kurang menguntungkan bagi kesehatan dan tingkat perkembangan sosial ekonomi dalam
masyarakat itu sendiri sangat mempengaruhi keadaan tersebut.
Dengan meningkatnya prevalensi penyakit periodontal dan karies gigi pada
Pelita IV, naka upaya peningkatan/pencegahandan pembinaan peran serta masyarakat
dalam upaya pemeliharaan diri (self-care) harus dilaksanakan lebih efektif dan terarah
baik terhadap kelompok khusus yang rentan terhadap penyakit gigi dan mulut maupun
terhadap masyarakat umum.

207

208

BAB II
PENGERTIAN
Upaya kesehatan gigi dan mulut di Puskesmas adalah upaya kesehatan gigi dasar
paripurna yang ditujukan kepada individu, keluarga dan masyarakat di wilayah kerja
Puskesmas dengan prioritas masyarakat kelas menengah dan bawah khususnya kelompok
masyarakat yang rawan terhadap penyakit gigi dan mulut.
Upaya tersebut meliputi upaya kesehatan gigi yang bersifat pelayanan khusus yang
hanya dapat dilaksanakan oleh tenaga kesehatan gigi dan upaya kesehatan gigi, yang bersifat
umum yang dapat dilaksanakan terintegrasi dengan kegiatan pokok Puskesmas lainnya serta
dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan lain dengan dukungan partisipasi aktif masyarakat
dengan memanfaatkan teknologi tepat guna.
Di samping memberikan pelayanan khusus tenaga kesehatan gigi juga bertanggung
jawab melaksanakan pembinaan, pengembangan, pengendalian, penilaian upaya kesehatan
gigi secara menyeluruh, baik kegiatan di dalam maupun di luar gedung Puskesmas.

1. Upaya kesehatan gigi dasar paripurna adalah upaya kesehatan gigi esensial yang
terbanyak dibutuhkan oleh masyarakat meliputi upaya peningkatan, pencegahan,
pengobatan, dan pemulihan dengan diutamakan pada upaya peningkatan/pencegahan.
2. Kelompok masyarakat yang rawan terhadap penyakit gigi dan mulut adalah
kelompok ibu hamil/menyususi, anak prasekolah dan anak sekolah dasar.
3. Upaya pelayanan khusus adalah upaya kuratif, rehabilitatif dan upaya perlindungan
khusus (specific protection) dan pelayanan asuhan sistematik kesehatan gigi dan mulut.
4. Upaya kesehatan gigi yang bersifat umum adalah upaya kesehatan gigi dan mulut yang
bersifat peningkatan pencegahan umum (mass prevention) meliputi penyuluhan kesehatan
gigi dan mulut, pemeliharaan kebersihan mulut dan perlindungan (tooth brushing
campaign, kumur-kumur Fluor, Fluoridasi air minum).
5. Pelayanan asuhan sistematik adalah suatu bentuk upaya pembinaan kesehatan gigi dan
mulut yang terarah, terencana ditujukan kepada kelompok tertentu, diikuti dalam suatu
kurun waktu secara berkesinambungan.
6. Yang dimaksud dengan teknologi tepat guna adalah teknologi yang mengacu pada:
209

a) Masalah kesehatan gigi masyarakat setempat


b) Sumber daya yang tersedia di masyarakat (seperti tenaga, peralatan, dana, dan lainlain)
c) Terjangkau oleh masyarakat
d) Diterima oleh masyarakat baik pemberi maupun penerima pelayanan
e) Sesuai dengan azas manfaat secara berdaya guna dan berhasil guna

Untuk meningkatkan fungsi puskesmas sebagai pusat pengembangan, pusat


pembinaan, dan pusat pelaksana upaya kesehatan, maka dalam melaksanakan kegiatan pokok
puskesmas secara terpadu, petugas puskesmas harus bekerja sama dalam tim dan membina
kerja sama lintas program maupun lintas sektoral.
Demikian pula dalam penyelenggaraan upaya kesehatan gigi dan mulut sebagai salah
satu kegiatan pokok puskesmas, perlu adanya kerjasama antara petugas kesehatan gigi
dengan petugas kesehatan lainnya terutama dalam kegiatan-kegiatan yang berhubungan
dengan upaya peningkatan, pencegahan, dan pembinaan peran serta masyarakat.
Penggalangan kerja sama tim ini dilaksanakan dalam bentuk kegiatan Lokakarya Mini
Puskesmas.

210

BAB III
TUJUAN
A. Tujuan Umum:
Tercapainya derajat kesehatan gigi masyarakat yang layak (optimal).

B. Tujuan Khusus:
1. Meningkatnya kesadaran, sikap dan perilaku masyarakat dalam kemampuan pelihara
diri (self-care) di bidang kesehatan gigi dan mulut dan mencari pengobatan sedini
mungkin.
2. Menurunnya prevalensi penyakit gigi dan mulut yang banyak diderita masyarakat
(karies dan periodontitis) dengan upaya perlindungan/pencegahan tanpa mengabaikan
upaya penyembuhan dan pemulihan, terutama pada kelompok masyarakat yang
rawan.
3. Terhindarnya/berkurangnya gangguan fungsi kunyah akibat kerusakan (penyakit) gigi
dan mulut.

211

BAB IV
KEGIATAN DAN SASARAN
KEGIATAN

Untuk mencapai tujuan tersebut, maka upaya kesehatan gigi dan mulut di Puskesmas
dilaksanakan dalam bentuk kegiatan sebagai berikut:

A. Pembinaan/pengembangan kemampuan dan peran serta masyarakat dalam upaya


pelihara diri (self-care), melalui pengembangan upaya lesehatan yang bersumber pada
otoaktifitas masyarakat dengan PKMD dalam wadah LKMD (program UKGM).
Kegiatan diintegrasikan dengan upaya kesehatan lainnya yang berhubungan dengan
pembinaan peran serta masyarakat, yang sejak 1984 secara operasional diintegrasikan
pula melalui Posyandu dan Saka Bhakti Husada.
Langkah-langkah kegiatan adalah sebagai berikut:
1) Kegiatan KIE
Pendekatan lintas program/lintas sektoral
Persiapan desa
Latihan kader
Diagnosis masalah (community self survey)
Umpan balik
Pelaksanaan kegiatan
2) Pelayanan oleh kader
Penyuluhan tentang pemeliharaan tentang kesehatan gigi dan mulut
Pemeriksaan sepintas
Pengobatan sederhana
Rujukan
3) Monitoring

212

B. Pelayanan asuhan pada kelompok rawan


1. Pada anak sekolah
Upaya kesehatan gigi dan mulut pada anak sekolah, pada Pelita IV baru
mencapai anak tingkat pendidikan dasar (STPD), selanjutnya program ini akan
dikembangkan ke tingkat SMTP, SMTA, dan SLB.
Di tingkat STPD upaya kesehatan gigi merupakan suatu paket pelayanan
asuhan sistemik, dengan kegiatan yang bertahap disesuaikan dengan kemampuan
tenaga dan sarana yang ada, sebagai berikut:
Tahap I (Paket Minimal):
Upaya kesehatan gigi di SD yang belum terjangkau oleh tenaga kesehatan gigi,
kegiatan dilaksanakan oleh tenaga kesehatan lain dan guru orkes, berupa:
Upaya promotif oleh guru dengan materi sesuai kurikulum ORKES.
Upaya preventif berupa kegiatan bimbingan, pembinaan pelihara diri (paket sikat
gigi bersama).
Rujukan bagi yang perlu pengobatan
Tahap II (Paket Optimal)
Sudah ada sarana/tenaga kesehatan gigi yang terbatas, kegiatan berupa:
Upaya promotif oleh guru
Upaya preventif (sikat gigi bersama, perlindungan dengan Fluor, pembersihan
karang gigi)
Upaya kuratif (pengobatan dasar pada murid yang memerlukan pengobatan)
Tahap III (Paket Paripurna)
Sudah ada tenaga/sarana kesehatan gigi yang lengkap, kegiatan berupa:
Upaya promotif oleh guru
Upaya preventif (sikat gigi bersama, pembersihan karang gigi, aplikasi Fluor)
Upaya kuratif berupa pengobatan atas permintaan pada murid kelas I-VI dan
pengobatan komprehensif pada murid kelas selektif sesuai kondisi penyakit
setempat.
2. Pada kelompok ibu hamil/menyusui, anak pra-sekolah
213

Kegiatan diintegrasikan dengan kegiatan KIA, baik di dalam maupun di luar


gedung Puskesmas (T.K. Posyandu)

Kegiatan berupa:
Penyuluhan oleh bidan/perawat gigi
Pemeriksaan sepintas oleh bidan
Rujukan
Pemeriksaan dan rencana perawatan oleh tenaga kesehatan gigi (terutama pada ibu
hamil)
Pencatatan

C. Pelayanan Medik Gigi Dasar


Pelayanan medik gigi dasar di Puskesmas dilaksanakan terhadap masyarakat yang
dating mencari pengobatan maupun yang dirujuk. Pelayananan meliputi pengobatan,
pemulihan, pencegahan khusus, di samping penyuluhan secara individu maupun
kelompok terhadap pengunjung Puskesmas.
Untuk memperluas jangkauan pelayanan, bagi masyarakat (penderita) yang jauh
dari Puskesmas dijangkau melalui pelayanan Puskesmas Keliling maupun Klinik Gigi
Lapangan (untuk anak-anak sekolah dasar).
Kegiatan:
Memberikan pelayanan medik gigi dasar pada penderita yang berobat maupun yang
dirujuk
Merujuk kasus-kasus yang tidak dapat ditanggulangi ke sarana pelayanan yang lebih
mampu
Memberikan penyuluhan secara individu maupun kelompok
Memelihara kebersihan (higiene klinik)
Memelihara merawat peralatan/obat-obatan

D. Pencatatan/Pelaporan

214

Berbagai hal yang berkaitan dengan masukan, proses, dan keluaran upaya
kesehatan gigi direkam secara terpadu dalam Sistem Pencatatan dan Pelaporan
Puskesmas.

SASARAN
Dalam melaksanakan kegiatan/upaya kesehatan gigi di Puskesmas, target (sasaran)
yang ingin dicapai, sesuai dengan Stratifikasi Puskesmas adalah sebagai berikut:
Pembinaan peran serta masyarakat dalam upaya pelihara diri (program UKGMD)
dilaksanakan di 60% desa.
Peran serta masyarakat (kader kesehatan) dalam penyuluhan, pengobatan sederhana,
rujukan mencakup 20% penduduk desa binaan.
Frekuensi pembinaan petugas kesehatan ke desa dilaksanakan minimal 3 kali dalam
setahun.
Upaya peningkatan/pencegahan pada anak sekolah (kegiatan menyikat gigi bersama)
dilaksanakan di 80% SD.
Upaya pelayanan pengobatan komperhensif pada anak sekolah mencakup 80% dari
murid kelas selektif yang memerlukan perawatan.
Upaya pelayanan pengobatan mencakup 4% dari penduduk wilayah puskesmas.
Frekuensi pembinaan petugas kesehatan dalam bidang kesehatan gigi dan mulut ke
SD dilaksanakan minimal 2 kali pertahun per SD.

215

BAB V
PELAKSANAAN KEGIATAN
PELAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS LEBAK BULUS
KEGIATAN
1.

Dalam Gedung
a. Pencabutan gigi susu
b. P e n c a b u t a n g i g i t e t a p
sederhana
c. Pencabutan gigi tetap dengan
penyulit
d. Tambalan gigi sementara
e. Tambalan amalgam
f. Tambalan fuji
g. Tambalan light curing (sinar)
h. Alveolectomy
( pembuangan tulang)
i. O p e r a s i g i g i m i r i n g
(odontectomy)
j. Jahit 1-5 simpul
k. Jahit lebih dari 5 simpul
l. Pembuatan gigi palsu
m. Insisi abses
n. Pembersihan karang gigi

2.

Luar Gedung
a. UKGM

b.

UKGS
Tahap 2

Pemeriksaan gigi kelas 1-6

Penyuluhan demonstrasi
sikat gigi

Pembersihan karang gigi

Pencabutan gigi sulung


yang persistensi

Pengobatan atas
permintaan
Tahap 3

Sama dengan tahap 2,


namun pada anak kelas
4-5 terdapat perawatan
paripurna.

SASARAN

WAKTU

TEMPAT

PELAKSANA

Pasien yang
datang
berobat ke
Unit
Pelayanan
Gigi

Senin
Jumat
Pkl : 07.30
selesai

Unit
Pelayanan
Gigi,
Puskesmas
Kelurahan
Lebak Bulus

Dokter gigi dan


perawat gigi

TK

Setiap tahun
ajaran baru

Seluruh TK
se-kelurahan

Dokter gigi,
petugas
Puskesmas,
kader, guru TK

POSYANDU

Tiap bulan

Rumah Kader
yang
ditentukan

PAUD

2-3 kali/
minggu

Rumah kader
yang
ditentukan

Siswa
Sekolah
Dasar kelas
1- 6.

Setiap tahun
ajaran baru

SD setempat,
yang telah
ditentukan
Puskesmas
kecamatan

Dokter gigi,
petugas
Puskesmas,
kader, guru SD

216

INDIKATOR KEBERHASILAN

A.Pembinaan Kesehatan Wilayah


Peningkatan kegiatan peran serta masyarakat dalam upaya peningkatan kesehatan
gigi dan mulut.
Peningkatan pengetahuan, sikap dan perilaku perihal kesehatan gigi mulut dari
kader kesehatan (Posyandu, guru sekolah) yang telah dibina.
Penurunan angka karies di wilayah Puskesmas.

B. Pelayanan Puskesmas
Peningkatan kesadaran, kemauan dan kemampuan provider perihal kesehatan gigi
dan mulut.
Terselenggaranya penyuluhan kesehatan gigi mulut terpadu pada kegiatan di
Puskesmas dan wilayahnya.
Terselenggaranya pelayanan kesehatan holistic, paripurna terpadu pada kegiatan
pelayanan medik rawat jalan dan kesehatan reproduksi dengan perhatian pada
penyakit gigi dan mulut.
Kepuasan pengguna jasa pelayanan kesehatan gigi dan mulut akan pelayanan yang
didapatnya.

217

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
KESIMPULAN

Upaya kesehatan gigi dan mulut di Puskesmas adalah upaya kesehatan gigi dasar
paripurna yang ditujukan kepada individu, keluarga dan masyarakat di wilayah kerja
Puskesmas dengan prioritas masyarakat berpenghasilan rendah khususnya kelompok
masyarakat yang rawan terhadap penyakit gigi dan mulut.
Penyakit gigi dan mulut yang menjadi masalah kesehatan masyarakat dewasa ini
adalah penyakit/kelainan pada jaringan penyangga gigi (periodontal disease) dan penyakit
karies gigi. Kedua penyakit tersebut menimbulkan gangguan fungsi kunyah, yang dapat
menyebabkan terganggunya dalam mengkonsumsi makanan. Oleh karena itu pelayanan
medik gigi dasar di Puskesmas dilaksanakan terhadap masyarakat yang datang mencari
pengobatan maupun yang dirujuk. Pelayananan meliputi pengobatan, pemulihan, pencegahan
khusus, di samping penyuluhan secara individu maupun kelompok terhadap pengunjung
Puskesmas.

SARAN

Supaya tercapainya derajat kesehatan gigi masyarakat yang layak, maka perlu
ditingkatkannya kesadaran, sikap dan perilaku masyarakat dalam kemampuan pelihara diri
(selfcare) di bidang kesehatan gigi dan mulut dan mencari pengobatan sedini mungkin.
Sehingga kelompok masyarakat yang rawan terhadap penyakit gigi dan mulut dapat terhindar
dari penyakit-penyakit ini.

218

DAFTAR PUSTAKA
1. Adyatmaka, A. 1990. Pedoman Kerja Puskesmas Jilid IV. Departemen Kesehatan RI.1-9.
2. Forest, JO. 1995.Pencegahan Penyakit Mulut, alih bahasa drg. Lilian Yawono, Ed. Ke-2.
Hipokrates. Jakarta. 114-115.
3. http://nevhablue.blogspot.com
4. h t t p : / / w w w . k a l b e . c o . i d / f i l e s / c d k / f i l e s /
06_50_KegiatanPenelitianLingkunganDirektoratKesehatanGigi.pdf/
06_50_KegiatanPenelitianLingkunagnDirektoratKesehatanGigi.html
5. h t t p : / / w w w . d e p k e s . g o . i d / i n d e x . p h p ? o p t i o n = a r t i c l e s & t a s k viewarticle&artid=323&Itemid=3

219

LAMPIRAN

220

UPAYA KESEHATAN JIWA

Penyusun :
Hengky

(030.06.111)

Stephanie Salim

(030.06.252)

221

BAB I
PENDAHULUAN
Tujuan pembangunan kesehatan adalah tercapainya kemampuan hidup sehat bagi
setiap penduduk agar dapat mewujudkan terciptanya derajat kesehatan masyarakat yang
optimal. Kesehatan dalam hal ini diartikan sebagai suatu kondisi yang bukan hanya bebas
dari penyakit, cacat dan kelemahan tapi benar-benar merupakan kondisi yang positif dari
kesejahteraan fisik, mental, dan sosial yang memungkinkan seseorang untuk hidup produktif.
Sebagai hasil pembangunan nasional terjadi peningkatan taraf pendidikan dan sosial
masyarakat dan hal ini menimbulkan pergeseran tipe penyakit yang terdapat dalam
masyarakat dari kelompok penyakit menular ke kelompok penyakit tidak menular, dan pada
gilirannya menigkatkan kebutuhan akan pelayanan kesehatan jiwa.
Pertumbuhan penduduk yang tidak seimbang dengan pertumbuhan ekonomi, dapat
menimbulkan berbagai masalah psikososial yang mempengaruhi taraf kesehatan jiwa
masyarakat. Demikian pula halnya dengan adanya penyebaran dan imigrasi penduduk yang
timpang, terutama urbanisasi, perubahan sosial yang cepat, pergeseran nilai-nilai hidup,
polusi informasi dan gaya hidup yang merusak kesehatan seperti merokok, minum alkohol
dan penyalahgunaan obat.
Dari hasil survei epidemiologi gangguan jiwa yang dilakukan di beberapa tempat di
indonesia, didapat angka-angka morbiditas gangguan jiwa sebagai berikut:
1. Prevalensi psikosis: 1,44 per 1000 penduduk di perkotaan dan 4,6 per 1000 penduduk
di pedesaan angka menurut WHO adalah 1-3 per 1000 penduduk.
2. Prevalensi neurosis dan gangguan psikosomatik adalah 98 per 1000 penduduk, sedang
angka WHO untuk neurosis adalah 20-60 per 1000 penduduk.
Pada suatu penelitian yang dilakukan di USA didapatkan bahwa 2-5% dari populasi
menderita ansietas dan 10% dari populasi pernah mengalami depresi.
3. Prevalensi retardasi mental: 1,25 per 1000 penduduk dan menurut WHO adalah 1-3
per 1000 penduduk.
4. Prevalensi penyalahgunaan obat dan alkohol belum ada dengan pasti namun dari data
rumah sakit tercatat 10.000 pasien, dan diperkirakan jumlah pasien penyalahgunaan
obat dan alkohol yang terdapat dalam masyarakat kurang lebih 100.000 orang.
222

5. Prevalensi epilepsi adalah 0,26 per 1000 penduduk, sedang angka menurut WHO
adalah 8-10 per 1000 penduduk.
Angka tersebut diatas menggambarkan bahwa kesehatan jiwa merupakan masalah
masyarakat. Dengan menggunakan azas-azas kesehatan jiwa dalam pelayanan kesehatan di
Puskesmas maka tujuan pelayanan kesehatan paripurna akan tercapai karena pelayanan yang
diberikan adalah sebagai manusia seutuhnya.
Upaya ini dapat berhasil bila mendapat dukungan dan peran serta masyarakat melalui
kerjasama dengan Puskesmas dimana unsur masyarakat merupakan hal yang sangat penting
dan menentukan keberhasilan upaya kesehatan jiwa di Puskesmas.
Kerjasama tersebut dapat dAijabarkan secara operasional dalam lokakarya mini yang
akan menampilkan peranan staf puskesmas yang didukung oleh mobilisasi tenaga, peralatan,
obat, dan teknologi. Dalam pelaksanaan pembinaan dan pengembangan kesehatan jiwa di
puskesmas, masyarakat termasuk swasta yang terkait, merupakan unsur penentu keberhasilan
upaya ini.
Saat ini Puskesmas kelurahan Lebak Bulus belum mempunyai poli khusus ataupun
unit khusus yang melayani kesehatan jiwa, namun skrining gangguan jiwa tetap dilakukan di
unit pelayanan umum. Terdapat pula pelayanan kesehatan jiwa yang disebut dengan CMHN
(Community Mental Health Nursing) lakukan oleh para petugas Puskesmas dimana mereka
mengunjungi rumah-rumah penduduk yang memiliki atau dicurigai memiliki gangguan jiwa
melalui laporan dari penduduk sekitar.
Sedangkan di puskesmas kecamatan Cilandak mempunyai satu poli khusus / unit
pelayanan jiwa yang tergabung di dalam UKKR (unit konsultasi keluarga dan remaja).Unit
pelayanan UKKR merupakan salah satu unit pelayanan semi spesialistik di kecamatan
Cilandak.
Pelayanannya meliputi kesehatan jiwa,vct, harm reduction, napza. Pelayanan
kesehatan jiwa di puskes Cilandak meliputi kegiatan di dalam dan di luar gedung. Kegiatan
dalam gedung meliputi pengobatan, konsultasi pasien-pasien yang datang ke UKKR maupun
pasien-pasien rujukan internal dari unit pelayanan yang lain, dengan tujuan pengenalan dini
gangguan jiwa (early detection),memberikan upaya pertolongan pertama pada pasien-pasien
dengan gangguan jiwa (primary treatment),kegiatan rujukan yang memadai (adequate
referral).
223

Untuk kegiatan luar gedung sama dengan puskesmas kelurahan Lebak Bulus yaitu
CMHN (Community Mental Health Nursing),penyuluhan kesehatan dan perilaku sexsual
yang dilakukan di smu sekecamatan Cilandak dengan tujuan meningkatkan pengetahuan
perilaku sexual yang benar sehingga terjadi penurunan angka penyimpangan sexual di
remaja. Puskesmas juga secara rutin melakukan pencatatan dan pelaporan.

BAB II
PENGERTIAN
A. Kesehatan Jiwa
Sehat ( UU tentang kesehatan no.23/1992 pasal 1):
Sehat adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial, yang memungkinkan setiap
orang hidup produktif secara sosial dan ekonomi.

Kesehatan Jiwa adalah perasaan sejahtera dan bahagia, mampu mengatasi tantangan
kehidupan, dapat menerima orang lain sebagaimana adanya, mempunyai sikap positif
terhadap diri sendiri dan orang lain.

B. Gangguan Kesehatan Jiwa


Gangguan Kesehatan Jiwa:
Terganggunya kesehatan jiwa seseorang, seperti yang dimaksud dengan penjelasan pada
butir 1 di atas, yang dapat berwujud masalah psikososial atau gangguan jiwa.

Masalah psikososial:
Gangguan kesehatan jiwa yang dilatarbelakangi oleh masalah-masalah sosial dan
psikologik, seperti kenakalan remaja, disharmoni keluarga, kriminalitas, dll.

Gangguan Jiwa:
Gangguan jiwa yang dapat dideteksi secara klinis, seperti yang diklasifikasikan dalam
kode diagnosis di Puskesmas, sbb:
0801

Gangguan Psikotik:
gelandangan psikotik, korban pasung, gaduh gelisah;
224

0802

Gangguan Neurotik:
gangguan psikosomatik, neurosa cemas, depresi;

0803

Retardasi Mental:
(ringan, sedang, berat);

0804

Gangguan Kesehatan Jiwa bermula pada bayi, anak dan remaja, dan
perkembangannya

0805

Penyakit Jiwa lainnya:


penyalahgunaan narkotik/ zat adiktif, gangguan kepribadian, gangguan seks;

0806

Epilepsi:
(gran mal, petit mal, psikomotor) , kejang demam pada anak.

C. Upaya Kesehatan Jiwa


(UU Kesehatan no.25/1992 pasal 24)
a. Upaya yang diselenggarakan untuk mewujudkan jiwa yang sehat secara optimal, baik
intelektual, maupun emosional dan sosial, meliputi:
i. pemeliharaan dan peningkatan kesehatan jiwa,
ii. pencegahan dan penanggulangan masalah psikososial dan gangguan
jiwa,
iii.penyembuhan dan pemulihan penderita gangguan jiwa.
b. Kesehatan jiwa dilakukan oleh perorangan, lingkungan keluarga, lingkungan sekolah,
lingkungan pekerjaan, lingkungan masyarakat, didukung sarana pelayanan kesehatan
jiwa dan sarana lainnya.

225

BAB III
TUJUAN
A.TUJUAN UMUM
Tercapainya derajat kesehatan jiwa yang optimal bagi seluruh masyarakat.

B.TUJUAN KHUSUS
1. Meningkatnya mutu pelayanan kesehatan Puskesmas pada umumnya, melalui
peningkatan kesehatan jiwa secara terpadu.
2. Meningkatnya mutu dan jangkauan pelayanan kesehatan jiwa di Puskesmas untuk
mencegah dan mengurangi masalah psikososial dan gangguan kesehatan jiwa di
masyarakat.
Tujuan Pelayanan Kesehatan Jiwa Terpadu:
1. Memberikan perhatian secara menyeluruh dan terinci terhadap semua aspek
kehidupan pasien yang berkunjung, baik dari segi jasmani, maupun segi mentalemosional dan sosialnya.
2. Meningkatkan hubungan interpersonal antar petugas kesehatan Puskesmas dengan
pasien dan keluarganya.
3. Meningkatkan kepekaan petugas agar dapat mendeteksi gangguan kesehatan jiwa
secara dini setiap pengunjung Puskesmas yang berobat.
4. Memberikan pengobatan rasional dan terapi lain yang diperlukan secara lebih
berdaya guna dan berhasil guna.
5. Mengelola kasus gangguan kesehatan jiwa pada pengunjung Puskesmas (bayi,
anak, remaja, dewasa, usila) dengan sebaik-baiknya.
226

Bila mungkin menurunkan atau mempertahankan angka-angka yang telah diperoleh


sesuai dengan survei epidemiologi gangguan jiwa yaitu:
1. Angka psikosis 1,44-4,6 per 1000 penduduk.
2. Angka anxietas 2-5% dari populasi.
3. Angka depresi 1% dari populasi.
4. Angka retardasi mental 1,25 per 1000 penduduk.
5. Jumlah penyalahgunaan obat dan alkohol 100.000 orang.
6. Angka epilepsi 0,26 per 1000 penduduk.

BAB IV
KEGIATAN DAN SASARAN
Upaya kesehatan jiwa di puskesmas adalah upaya kesehatan jiwa yang dilaksanakan
di tingkat puskesmas secara khusus atau terintegrasi dengan kegiatan pokok puskesmas
lainnya, yang dilaksanakan oleh tenaga kesehatan puskesmas dengan dukungan peran serta
masyarakat baik di dalam gedung maupun di luar gedung puskesmas yang ditujukan pada
individu, keluarga, masyarakat dan diutamakan pada masyarakat berpenghasilan rendah,
khususnya kelompok rawan tanpa mengabaikan kelompok lainnya, dengan menggunakan
teknologi tepat guna yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat setempat.
Kegiatan upaya kesehatan jiwa tersebut dilaksanakan melalui:
1. Pengenalan dini gangguan jiwa (early detection);
2. Memberikan upaya pertolongan pertama pada pasien-pasien dengan gangguan jiwa
(primary treatment);
3. Kegiatan rujukan yang memadai (adequate referral).
Selain itu diharapkan juga agar puskesmas dapat melaksanakan terapi lanjutan(follow
up) dari mereka yang sudah selesai perawatannya di rumah sakit jiwa, dengan demikian akan
meringankan beban dari pasien. Dengan adanya pelayanan ini, dapat diperolah gambaran
penyakit dalam masyarakat tertentu yang dapat dipertanggungjawabkan melalui suatu
pengumpulan data di puskesmas.
Mengingat hal tersebut diatas maka dalam pelayanan puskesmas diharapkan dapat:

227

1. Menangani gangguan jiwa baik akut maupun kronik yang dapat terjadi pada setiap
manusia maupun kelompok masyarakat hingga dapat menurunkan angka kesakitan
pasien gangguan jiwa.
2. Menangani gangguan jiwa dari setiap kelompok umur mulai dari anak, remaja,
dewasa dan usia lanjut dengan memanfaatkan azas-azas kesehatan jiwa.
3. Menilai lebih sensitif dan waspada terhadap kemungkinan keterlibatan emosional
pada keluhan-keluhan atau gejala yang ditujukan pasien sewaktu berobat.
4. Memberikan penyuluhan sehingga masyarakat dapat memanfaatkan azas dasar
kesehatan jiwa dalam kehidupannya.

Penjelasan:
1. Kesehatan jiwa (mental health)
Menurut faham ilmu kedokteran pada saat ini, adalah suatu kondisi yang memungkinkan
perkembangan fisik, intelektual, dan emosional yang optimal dari seseorang dan
perkembangan itu berjalan selaras dengan orang lain.
Makna kesehatan jiwa mempunyai sifat-sifat yang harmonis(selaras) dan
memperhatikan semua segi dalam kehidupan manusian dan dalam hubungan dengan
manusia lain.
Untuk mencapai kondisi yang dimaksud maka pemerintah telah mengarahkan
upaya penting antara lain:
a. memelihara kesehatan jiwa dalam pertumbuhan dan perkembangan anak
b. mengusahakan keseimbangan jiwa dengan menyesuaikan penempatan tenaga selaras
dengan bakat dan kemampuan
c. perbaikan tempat dan suasana kerja
d. mempertinggi taraf kesehatan jiwa seseorang dalam hubungannya dengan keluarga
dan masyarakat
Mengingat hal tersebut diatas maka telah digariskan beberapa kebijaksanaan yang
pada prinsipnya menjabarkan dan menterjemahkan lingkup kesehatan jiwa secara praktis
dan kongkrit.
228

2. Pelayanan kesehatan jiwa


Pelayanan kesehatan jiwa yang dilakukan oleh dokter/staf puskesmas terhadap individu
dengan memberikan obat-obat psikofarmaka bila diperlukan serta pemecahan masalah
yang dihadapi pasien dan keluarga.
Secara relatif arti jiwa sehat dan jiwa sakit berbeda menurut pola sosial dan budaya
suatu masyarakat. Hampir semua penyakit fisik mengandung segi kejiwaan dan dengan
pendekatan kesehatan jiwa yang baik akan bermanfaat dalam menghadapu semua
penderita.
Penderita gangguan jiwa tidak selalu abnormal tingkah lakunya, dan sering kelainan
yang ditujukan hanyalah berdasarkan keluhan saja.Oleh karena itu semua petugas
puskesmas sebaiknya mengetahui azas dasar kesehatan jiwa.
Beberapa sifat yang dapat dipakai sebagai pegangan dalam pemeriksaan yaitu
seseorang yang sehat jiwanya adalah seorang yang:
a. mempunyai emosi yang tenang, ia cukup bahagia dalam kehidupannya dan dapat
bergaul dengan baik dalam keluarga dengan anak-anaknya, maupun lingkungan
tempat tinggal atau tempat kerja. Suatu waktu dapat saja ia merasa kurang gembira,
bertengkar, dan marah-marah, tapi pada umumnya ia relatif bebas dari rasa khawatir,
rasa benci dan rasa cemas.
b. dapat memelihara keseimbangan jiwanya secara mantap, yaitu cukup tabah, penuh
pengertian serta dapat mengambi keputusan dan memiliki tanggung jawab. Dengan
demikian, ia menghadapi kehidupan dengan segala persoalan serta ia dapat menikmati
karuniaNya
c. mereka mempunyai masa kanak-kanak yang bahagia, karena tata cara kehidupan pada
masa kanak-kanak adalah sangat penting artinya dalam perkembangan menjadi
dewasa.
Beberapa hal penting yang harus diperoleh dalam masa kanak-kanak
adalah:cinta,kasih sayang, pujian dan dorongan serta disiplin yang sehat.

3. Peran serta masyarakat

229

Peran serta masyarakat adalah peran serta masyarakat baik sebagai key person
maupun sebagai konsumen dalam pemecahan masalah kesehatan jiwa setempat,
perencanaan pelaksanaan, penilaian, pembinaan dan pengembangan upaya kesehatan
jiwa masyarakat setempat.

4. Kegiatan dalam puskesmas


Terpadu dengan kegiatan pokok puskesmas lainnya, serta memberian pelayanan
khusus bila diduga adanya faktor psikologi sebagai penyebab (lihat pelayanan
khusus).

5. Kegiatan diluar puskesmas


Terpadu dengan kegiatan pokok puskesmas lainnya, kegiatan khusus yaitu
penyuluhan kesehatan jiwa dalam rangka pencegahan dan pengobatan gangguan jiwa
sedini mungkin.

Upaya pokok Kesehatan Jiwa di Puskesmas adalah upaya yang dilaksanakan, baik
secara terpadu dalam upaya kesehatan pokok lainnya, maupun seecara khusus oleh
Puskesmas, sebagai kegiatan di dalam gedung dan di luar gedung, terdiri dari kegiatan pokok
dan kegiatan penunjang, sbb:
a. Kegiatan pokok, terdiri dari:
1. Penyuluhan
2. Pelayanan Pengobatan
b. Kegiatan penunjang, terdiri dari:
1. Pencatatan dan Pelaporan
2. Rujukan Kasus
3. Konsultasi Kesehatan Jiwa bagi petugas
4. Kunjungan Rumah

A.KEGIATAN POKOK
1. Penyuluhan
a. Kegiatan:
230

i. Penyuluhan kesehatan jiwa secara terpadu dalam program penyuluhan


kesehatan Puskemas lainnya;
ii. Penyuluhan kesehatan jiwa secara khusus sesuai dengan kebutuhan dan
jadwal kerja;
iii.Pengorganisasian LSM dan potensi masyarakat dalam upaya kesehatan
jiwa.
b. Sasaran:
i. Perorangan pada setiap pasien yang berkunjung ke Puskesmas dan
fasilitas kesehatan lainnya (Posyandu, Pusling, dll);
ii. Kelompok masyarakat:
1. Orang tua,
2. Anak balita/ anak usia SD,
3. Anak usia remaja (SLTP/SLTA),
4. Guru,
5. Tokoh masyarakat,
6. Organisasi kepemudaan (OSIS, Karang Taruna, Pramuka, PMR,
dll),
7. Lembaga swadaya masyarakat.

2. Pelayanan Pengobatan
a. Kegiatan:
Terpadu dalam pelayanan kesehatan umum (BP, KIA, UKS, ASKES, dll).
Prinsip:
i. Petugas kesehatan memandang manusia secara menyeluruh (holistik),
baik aspek fisik, maupun aspek mental-emosional dan sosial, sehingga
kesehatan jiwa memegang peranan yang sangat penting dalam
kesehatan.
ii. Pelayanan kesehatan jiwa dilaksanakan terpadu dalam setiap
pemberian pelayanan kesehatan yang dilaksanakan baik di dalam

231

gedung maupun di luar gedung Puskesmas (BP, KIA, UKS, Pusling,


dll).
iii.Pelayanan tidak ditujukan hanya untuk pasien gangguan jiwa, tetapi
semua pasien yang datang, baik pada anak maupun dewasa.
iv. Petugas Puskesmas bersikap empati, ramah, sopan, terbuka dan
menghargai setiap pasien, sebagai orang yang perlu didengar, ditolong
dan dilayani dengan sebaik-baiknya.
v. Pemeriksaan harus dilaksanakan secara lege artis, dimulai dari
anamnesis, pemeriksaan, diagnosis dan terapi.
vi.Setiap pasien yang datang dengan keluhan gangguan kesehatan
jasmani, perlu dideteksi kemungkinan adanya faktor mental-emosional
yang mempengaruhi keadaan jasmaninya.
vii.Diagnosis kerja dapat bersifat ganda (fisik dan mental) , sehingga
petugas dapat mengelola gangguan kesehatan jiwa yang terdapat pada
setiap pasien yang berobat dengan sebaik-baiknya, mencatat dan
melaporkannya.
viii.Diperlukan ruang anamnesis/ pemeriksaan yang memungkinkan
pasien menyampaikan keluhan pribadinya secara bebas. Untuk itu
pasien diupayakan antri dan tidak bergerombol pada meja petugas.
b. Sasaran:
Semua pasien yang memperoleh pelayanan kesehatan/ pengobatan, baik di
dalam maupun di luar gedung Puskesmas, pada semua golongan umur (bayi,
balita, anak usia SD, remaja, orang dewasa, usila).

B. KEGIATAN PENUNJANG
1. Pencatatan dan Pelaporan
Kegiatan:
a. Mencatat data dan hasil pemeriksaan pelayanan kesehatan jiwa terpadu setiap
pasien pada kartu Status/ Rawat Jalan Puskesmas;
b. Mencatat hasil pemeriksaan pelayanan kesehatan jiwa semi-spesialistik pada
kartu rawat jalan;
232

c. Mengumpulkan data jumlah gangguan kesehatan jiwa setiap hari pada laporan
khusus yang tersedia;
d. Mengirimkan laporan bulanan kepada Suku Dinas/ Dinas Kesehatan pada
setiap akhir bulan;
e. Mencatat dan melaporkan kasus gangguan jiwa pada SP2TP sesuai petunjuk.
Sasaran:
a. Puskesmas Kelurahan;
b. Puskesmas Pembina.
2. Rujukan Kasus
Kegiatan:
a. Mengirim pasien untuk dirujuk;
b. Menerima pasien rujukan.
Sasaran:
a. Pasien yang perlu perawatan inap
b. Pasien yang perlu tindakan khusus/ spesialistik.
3. Konsultasi Kesehatan Jiwa bagi petugas
Kegiatan:
a. Koordinator Jiwa Suku Dinas Kesehata menyiapkan acara konsultasi
kesehatan jiwa di setiap wilayah krjanya (1 bulan 1-2 kali);
b. Setiap Puskesmas menyiapkan masalah yang akan dikonsultasikan, disertai
data dan laporan program selama ini dan psikiater pembina membahas
masalah yang dikonsultasikan;
c. Psikiater pembina membuat laporan konsultasi kesehatan jiwa tersebut dan
melaporkan ke Direktur RS Jiwa Jakarta dan Kepala Pusat Pembinaan
Kesehatan Jiwa Dinas Kesehatan DKI Jakarta sebagai koordinator;
d. Secara berkala konsultasi kesehatan jiwa diadakan di Puskesmas Pembina,
agar dapat menjangkau Puskesmas di sekitarnya.
Sasaran:
a. Dokter/ perawat di Puskesmas Pembina/ Puskesmas yang telah mengikuti
penataran/ pelatihan dan melaksanakan pelayanan BP;
b. Dokter/ perawat Puskesmas lainnya yang berminat.
233

4. Kunjungan Rumah
Kegiatan:
a. Petugas berkoordinasi dengan kader masyarakat (Posyandu, PKK, dll);
b. Petugas melaksanakan kunjungan rumah bersama kader masyarakat secara
terpadu dalam program kunjungan rumah;
c. Petugas menangani kasus gangguan jiwa sesuai dengan kemampuannya;
d. Petugas melaksanakan penyuluhan kesehatan jiwa pada masyarakat sesuai
kebutuhan.
Sasaran:
a. Masyarakat
b. Pasien Puskesmas

Pelayanan Kesehatan Jiwa


1. kegiatan terintegrasi( lihat lampiran 1)
2. kegiatan khusus( lihat lampiran 2)

Untuk menentukan diagnosis gangguan jiwa dari seorang pasien maka hal penting yang harus
dilakukan adalah:
a. anamnesa/pengambilan kisah
1. autoanamnesa
-wawancara langsung dengan pasien tentang hal-hal yang dirasakan/dikeluhkan
-anamnesa kemudian dilanjutkan dengan menyelami latar belakang dan kehidupan
pasien(sosial,ekonomi,pendidikan dan budaya), asal kelahirannya, pekerjaannya dan
beberapa hal yang mungkin menarik perhatian.
-ikut sertakan keluarga dalam wawancara dengan penderita, kecuali bila anda merasa
pasien atau keluarganya meberi kesan bahwa mereka canggung atau

tidak

menginginkannya. Dalam hal demikian adakan wawancara secara terpisah dengan


keluarganya.

2. alloanamnesa
234

wawancara dengan keluargan pasien atau orang yang mengantarkan pasien. Ditanyakan
hal-hal yang berhubungan kemungkinan timbulnya gangguan jiwa pada pasien. Bila
mungkin ditanyakan perjalanan penyakit dari pasien, keadaan kehidupan pasien seharihari, hubungan pasien dengan orang lain dan sebagainya.

b. Pemeriksaan fisik
1. secara umum diperiksa tensi,nadi,suhu dan pernapasan pasien
2. pemeriksaan neurologik dilakukan untuk mengetahui adakah gangguan kesadaran,
kelumpuhan, rudapaksa pada kepala, gangguan fungsi luhur dan perasaan/perabaan pada
tubuh dan gejala neurologik lain seperti kejang, kaku kuduk dan sebagainya.

c. laboratorium
pemeriksaan laboratorium secara rutin untuk mengetahui adakah faktor infeksi, anemia
berat,dsb. Bila dicurigai adanya kalainan organik tertentu dapat dilakukan pemeriksaan
laboratorium tambahan sesuai kebutuhan.
Pemeriksaan ini dilakukan untuk menyingkirkan adanya kelainan organik sebagai
penyebab dari gangguan jiwa tersebut.
Adapun penanganan pasien dengan gangguan jiwa seperti tercantum dalam lampiran 2
ini.

C. peran serta masyarakat


kegiatan dalam bentuk penyuluhan serta pembinaan masyarakat dalam perencanaan,
pelaksanaan, penilaian dan pengembangan kesehatan jiwa setempat dalam rangka
menciptakan kemandirian masyarakat dalam memelihara kesehatan jiwa.

D. Pengembangan
Pengembangan upaya kesehatan jiwa di puskesmas adalah suatu upaya dengan
memanfaatkan data yang ada yaitu yang didapat dari SP2TP, penelitian atau survei.
Upaya ini digunakan untuk mengembangkan peran serta masyarakat dan pelayanan
dibidang kesehatan jiwa.

235

Hal ini dilakukan melalui mini lokakarya dan stratifikasi puskesmas dan micro planning
dalam rangka menciptakan derajat kesehatan jiwa masyarakat yang optimal.

D.Sistem pencatatan dan pelaporan


Berbagai hal yang berkaitan dengan masukan, proses dan keluaran upaya kesehatan jiwa,
direkam secara terpadu dalam SP2TP.

1. Kegiatan terintegrasi

UPAYA KESEHATAN JIWA YANG TERPADU


DENGAN KEGIATAN POKOK PUSKESMAS
Kegiatan

sasaran

Tugas

Perincian kegiatan

tenaga

Alat

pokok

236

1. KIA

Ibu hamil

Promotif

Penyuluhan:umpama

-Dokter

-Poster

dan nifas

preventif

-Cara menyusukan

-Bidan

-Leaflet

dengan kasih sayang

Audiovisu

-Hindari stres/depresi Perawat al


selama kehamilan

-Kader

-Persiapan
melahirkan secara
mantap termasuk
persiapan mental
2. KB

3. Gizi

Individu dan

Promotif

keluarga

preventif

Individu dan

Promotif

keluarga

preventif

Penyuluhan agar

-Dokter

-Poster

tercipta keluarga

-Bidan

-Leaflet

yang bahagia dan

-Film

sejahtera

Perawat
-Kader
-Poster

Penyuluhan:

-Dokter

Leaflet

Memperhatikan gizi

-Ahli

Audiovisu

makanan karena

gizi

al

kekurangan zat

tertentu, umpama

Perawat

jodium dapat

-kader

menyebabkan
gangguan
perkembangan
4.kesehatan

Kelompok

Promotif

mental anak

lingkungan

masyarakat

preventif

cara hidup sehat

dan

secara mental health

5.PPPM

lingKungan

Promotif

6.PKM

Kelompok

preventif

masyarakat

Leaflet
Audiovisu

Penyuluhan:

Dokter

Pentingnya peran

Perawat

al
237

7.pengobatan Individu/
keluarga

Kuratif

Bagi pasien-pasien

Dokter

Obat psiko

rehabilitatif

gangguan jiwa

Perawat Farmaka

diharapkan dapat
minum obat secara
teratur
Penyuluhan
Kesehatan jiwa
Home visit pasien
psikotik

8.PHN

Keluarga

Promotif

Penyuluhan:kesehata

Perawat Leaflet

Masyarakat

Preventif

n jiwa

Kader

Slides/over

Rehabilitati

head

Kendaraan
untuk
home visit

9.UKS

Anak didik

Deteksi dini

Poster

Pendidik&staf Promotif

gangguan kesulitan

Leaflet

nya

preventif

belajar, gangguan

Audiovisu

Orang tua

Rehabilitati

perkembangan

al

Rujuk bila dicurigai


adanya kelainan ke
RS Jiwa

10. Gigi dan

Individu

Pemeriksaan dan

mulut

Keluarga

pengobatan gigi

Alat-alat

Preventif

pasien gangguan jiwa

kedokteran

kuratif

karena mereka sering

gigi

tak mengurus
kebersihan gigi
Menyampaikan pada
238

2. Kegiatan Khusus

PENANGANAN PASIEN DENGAN GANGGUAN JIWA


DIAGNOSIS

GEJALA KLINIS

PENGOBATAN TINDAK LANJUT

239

1.Gangguan psikosis

Gaduh gelisah

Major

Bila dalam waktu 4

Adalah suatu keadaan

Perilaku abnormal tranqulizer

minggu tidak

yang nmenimbulkan

Gangguan tidur

umpama

memperihatkan

ketidakmampuan berat

Rasa curiga

klorpromazine

kemajuan atau pasien

pada seseorang untuk

Keluhan somatik

hingga gejala

sangat gaduh

menilai realitas

yang aneh

klinis berkurang gelisah&membahayaka

Rasa sedih yang

Dosis awal

n diri atau orang

tak wajar

dapat dimulai

sekitarnya, kirim ke RS

Waham/halusinasi

dengan 3x50

Jiwa terdekat

Hilangnya

mg/hari

perhatian terhadap ditingkatkan


kebersihan,keluara secara bertahap
dan pekerjaan

3x100 mg dan
seterusnya
hingga pasien
tenang.dosis
optimal

2.Gangguan kecemasan

1. keluhan fisik

dipertahankan

Bila tidak ada

(anxietas)

a. somatik antara

hingga 4

perbaikan dalam 2

Adalah perasaan tidak

lain:

minggu

minggu rujuk ke bagian

menyenangkan yang

sakit kepala

disebabkan oleh dugaan

pusing

psikiatri RS umum/RS
1.simtomatik

akan bahaya atau frustrasi nyeri atau rasa tak

Sesuai dengan

yang mengancam dan

keluhan pasien

enak didada

akan membahayakan rasa

jiwa terdekat

2.ansiolitika

aman, keseimbangan atau

b. vegetatif antara

Misal diazepam

kehidupan individu. Rasa

lain

3x2 mg atau

cemas ini dirasakan bila

jantung berdebar

dobazam 3x10

individu berusaha

mual

mg

menguasai/menghadapi

diare/abatisasi

3. berikan

suatu situasi atau keadaan keringat dingin

support agar

tertentu

pasien merasa

nafsu makan

240

BAB V
PELAKSANAAN KEGIATAN

No.

1.

Kegiatan

Sasaran

Tempat

Waktu

Pelaksana

Pelayanan semi

Meningkatka

spesialis untuk

n persentase

Puskesmas

Senin-Jumat

Dokter Puskesmas yang

pasien yang

kunjungan

kecamatan

jam

telah mendapat

berkunjung ke

dari 7%

Cilandak

08.00-12.00

pelatihan khusus

UKKR

menjadi 8%

Sosialisasi
Kesehatan jiwa
2.

remaja terkait
dengan masalah
pendidikan
sexual remaja
CMHN
(Community-

3.

Mental Health
Nursing):
kunjungan ke
rumah

Remaja
mengetahui

SMU se-

perilaku

Kecamatan

sexual yang

Cilandak

VCT

Pasien
gangguan
jiwa/ suspek

Rumah Pasien

jiwa

yang
mempunyai

Puskesmas

Senin-Jumat

Dokter Puskesmas yang

kecamatan

jam

telah mendapat

Cilandak

08.00-12.00

pelatihan khusus

Setiap akhir

Dokter dan petugas

bulan

puskes

Puskesmas
IDU meeting

IDU

kecamatan
Cilandak

6.

Konseling IDU

IDU
IDU dan

7.

Petugas puskesmas

gangguan

faktor resiko
5.

Puskesmas

benar

Orang-orang
4.

Dokter dan petugas

Harm

orang yang

Reduction

terinfeksi
HIV

Puskesmas

Senin Jumat

kecamatan

jam

Cilandak

08.00-12.00

Puskesmas

Senin-Jumat

kecamatan

jam

Cilandak

08.00-12.00

Dokter puskes

Dokter puskes

241

8,
9.

Penyuluhan

Penduduk

Tempat-

HIV-AIDS

kec.cilandak

tempat umum

Mobile VCT

Orang yang
beresiko

Panti pijat dll

Tiap bulan
Tiap bulan 2
x

Petugas puskes
Petugas puskes

242

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
KESIMPULAN

Tujuan pembangunan kesehatan adalah tercapainya kemampuan hidup sehat bagi


setiap penduduk agar dapat mewujudkan terciptanya derajat kesehatan masyarakat yang
optimal. Kesehatan dalam hal ini diartikan sebagai suatu kondisi yang bukan hanya bebas
dari penyakit, cacat dan kelemahan tapi benar-benar merupakan kondisi yang positif dari
kesejahteraan fisik, mental, dan sosial yang memungkinkan seseorang untuk hidup produktif.
Oleh karena itu dibutuhkan pelayanan kesehatan jiwa agar terwujud kesejahteraan
mental dan sosial sehingga seseorang dapat hidup produktif. Di Puskesmas telah dibuat unit
pelayanan kesehatan jiwa dengan tujuan memberikan pelayanan keperawatan jiwa
komprehensif,meliputi pencegahan primer, sekunder dan tersier.
Kegiatan di puskesmas terbagi dua di luar dan di dalam Gedung, kegiatan di dalam
gedung terpadu dengan kegiatan pokok puskesmas lainnya, serta memberkian pelayanan
khusus bila diduga adanya faktor psikologi sebagai penyebab.Sedangkan kegiatan diluar
puskesmas terpadu dengan kegiatan pokok puskesmas lainnya, kegiatan khusus yaitu
penyuluhan kesehatan jiwa dalam rangka pencegahan dan pengobatan gangguan jiwa sedini
mungkin. Di puskesmas Cilandak sebagian besar telah melakukan kegiatan seperti yang
dianjurkan depkes.

SARAN
Adapun untuk dapat dilakukan semua kegiatan tersebut diperlukan dana dan tenaga
kerja yang memadai,saat ini mengambil contoh di puskesmas kecamatan Cilandak masih
sangat kekurangan tenaga-tenaga profesional/SDM sehingga dalam pelaksanaan kegiatan
banyak yang double job yang mengakibatkan kurang efisiennya/kurang optimal program
yang sudah ada.
Agar lebih optimal dapat dilakukan :
1. Perlu ditingkatkan penyediaan SDM/kaderisasi yg lebih banyak.
2. Diadakan pelatihan-pelatihan khusus.
243

3. Ruangan UKKR diperbesar dan disekat.

244

DAFTAR PUSTAKA

1. Upaya Pokok Kesehatan Jiwa. Dalam: STANDARISASI PELAYANAN KESEHATAN


PUSKESMAS di DKI Jakarta. Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta. 2001. hlm.
129-152.

245

UPAYA POKOK KESEHATAN MATA

Penyusun :
Andhini Darma Saputri

(030.05.022)

Pritta Diyanti Karyaman

(030.05.170)

Radita Primakirana Sediadi

(030.05.178)

246

BAB I
PENDAHULUAN
Undang-undang No. 36 tahun 2009 mengamanatkan bahwa

pemerintah harus

menyediakan pelayanan kesehatang yang bermutu,aman,efisien,terjangkau dan merata.


Sebagai unit pelaksana tehnis Dinas kesehatan (UPTD), Puskesmas mempunyai 4 fungsi
yaitu sebagai pusat pemberdayaan masyarakat,sebagai pusat pelayanan kesehatan
masyarakat,sebagai pusat pelayanan kesehatan perorangan primer dan sebagai pusat rujukan
kesehatan primer yang bertanggung jawab atas wilayah yang telah ditetapkan. Pelayanan
kesehatan masyarakat sektor Pemerintah di Kabupaten/Kota terdiri atas pelayanan kesehatan
dasar dan rujukan.Puskesmas dengan kegiatan Upaya Kesehatan Masyarakatnya
menyebabkan puskesmas mempunyai peran penting dalam meningkatkan daya ungkit yang
besar dalam pembangunan kesehatan di Indonesia karena Puskesmas menrupakan ujung
tombak pembangunan kesehatan.1,4

Indera penglihatan merupakan salah satu alat tubuh manusia yang mempunyai fungsi
sangat penting untuk memungkinkan manusia menerima informasi dari lingkungan
kehidupan sekitarnya sehingga mampu beradaptasi dan mempertahankan hidup dalam
lingkungannya dan menghindarkan diri dari berbagai ancaman yang mungkin terjadi. Dengan
demikian kesehatan indera penglihatan merupakan salah satu unsur terpenting dalam upaya
meningkatkan kualitas SDM agar terwujud manusia Indonesia yang cerdas, produktif serta
mampu berperan dalam berbagai bidang pembangunan.1,4

Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia


(SDM). Indra Penglihatan merupakan syarat penting bagi upaya peningkata kualitas SDM,
karena mata merupakan jarul informasi utama (83%). Keterbelakangan melakukan koreksi
refraksi terutama pada anak usia sekolah akan sangat mempengaruhi kemampuan menyerap

247

materi pembelajaran dan berkurangnya potensi untuk meningkatkan kecerdasan karena 30%
informasi diserap dengan melihat dan mendengar.2,5

Untuk mewujudkan drajat kesehatan mata yang optimal telah ditetapkan visi, yaitu
gambaran prediksi atau keadaanmasyarakat indonesia pada masa yang akan datang berupa
Mata Sehat 2020/Vision 2020 The Right to Sight (pemenuhan hak untuk melihat dengan
optimal bagi setiap individu). Untuk itu di tetapkan misi mewujutkan mata sehat melalui :
promosi kesehatan dalam rangka pemberdayaan masyarakat tentang mata sehat ;
menanggulangi gangguan penglihatan dan kebutuhan di masyarakat ; memfasilitasi
pemerataan pelayanan kesehatan mata yang bermutu dan terjangkau, menggalang kemitraan
dengan masyarakat dan pihak-pihak terkait di dalam dan di luar negri untuk mewujutkan
mata sehat 2020.2,5

Kesehatan Indera Penglihatan merupakan syarat penting untuk meningkatkan kualitas


sumber daya manusia dalam meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat, dalam kerangka
mewujudkan manusia Indonesia yang cerdas, produktif, maju, mandiri, dan sejahtera lahir
batin.1

WHO memperkirakan terdapat 45 juta penderita kebutaan di dunia, di mana


sepertiganya berada di Asia Tenggara. Survei kesehatan indera penglihatan dan pendengaran
tahun 1993-1996, menunjukkan angka kebutaan 1,5%. Penyebab utama kebutaan adalah
katarak (0,78%), glaukoma (0,20%), kelainan refraksi (0,14%), dan penyakit-penyakit lain
yang berhubungan dengan lanjut usia (0,38 %). Besarnya jumlah penderita katarak di
Indonesia saat ini berbanding lurus dengan jumlah penduduk usia lanjut yang pada tahun
2000 diperkirakan sebesar 15,3 juta (7,4% dari total penduduk). Jumlah dimaksud cenderung
akan bertambah besar karena berdasarkan laporan Biro Pusat Statistik tahun 1993 , jumlah
penduduk usia lanjut di Indonesia pada tahun 2025 akan mengalami peningkatan sebesar
414% dibandingkan dengan keadaan pada tahun 1990. 1

Berdasarkan laporan hasil Riskesdas/ Riset Kesehatan Dasar Nasional tahun 2007,
prevalensi nasional Kebutaan adalah 0,9% (berdasarkan hasil pengukuran, visus < 3/60).
248

Sebanyak 11 provinsi mempunyai prevalensi Kebutaan diatas prevalensi nasional, yaitu


Nangroe Aceh Darussalam, Bengkulu, Lampung, Kepulauan Riau, Jawa Barat, Jawa Tengah,
Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Gorontalo. Prevalensi
nasional penderita Katarak sendiri pada penduduk umur >30 tahun adalah 1,8%.2

Kebutaan bukan hanya mengganggu produktivitas dan mobilitas penderitanya, tetapi


juga menimbulkan dampak sosial ekonomi bagi lingkungan, keluarga, masyarakat dan negara
lebih-lebih dalam menghadapi pasar bebas. Menurut Konsultan WHO, Dr. Konyama,
kebutaan akan menjadi masalah kesehatan masyarakat bila prevalensinya 0,5%-1%. Bila
prevalensi kebutaan > 1% maka kebutaan telah menjadi masalah sosial. Sebaliknya bila
angka kebutaan < 0,5 % maka kebutaan hanya menjadi masalah klinik (medik). 1

Upaya Kesehatan Mata/Pencegahan Kebutaan (UKM/PK) merupakan bentuk dari


pengembangan program RENSTRANAS (Rencana Strategis Nasional) Penanggulangan
Gangguan Penglihatan dan Kebutaan untuk mencapai Vision 2020. Pelayanan Kesehatan
Mata di Puskesmas, Primary Eye Care (P.E.C) ,telah dimulai sejak tahun 1979/1980.
Primary Eye Care merupakan unit terdepan yang merupakan bagian integral dari Puskesmas,
yang meliputi usaha-usaha peningkatan, pencegahan, dan pengobatan terhadap individu atau
masyarakat. 1
Tujuan P.E.C melalui kegiatan pelayanan kesehatan mata yang diintegrasikan di
Puskesmas yangmerupakan pintugerbang utama yang berhubungan langsung
denganmasyarakat sehingga angka kesakitan mata dapatditekan dan angka kebutaan serta
kemunduran fungsipenglihatan dapat dihilangkan. Dengan kebijaksaan untuk penduduk yang
berpenghasilan rendah baik yangtinggal dikota dan di desa mendapat prioritas. Melalui
program ini diharapkan dapat menurunkan angka kebutaan di Indonesia menjadi 1% pada
tahun 2004 dan 0,5% pada tahun 2020.1

Dari masalah kesehatan mata dan kebutaan tersebut mengisyaratkan bahwa upaya
kesehatan mata/pencegahan kebutaan dasar sebagai salah satu kegiatan pokok di Puskesmas
akan melengkapi fungsi Puskesmas dalam memecahkan masalah kesehatan masyarakat

249

khususnya berupa angka kesakitan mata dan kebutaan, sehingga tidak lagi menjadi masalah
kesehatan masyarakat.

BAB II
PENGERTIAN
Upaya Kesehatan Mata / Pencegahan Kebutaan (UKM / PK) Dasar adalah upaya
kesehatan dasar dibidang UKM / PK yang dilaksanakan di tingkat Puskesmas,
diselenggarakan secara khusus ataupun terpadu dengan kegiatan pokok Puskesmas lainnya, di
dalam ataupun di luar gedung oleh tenaga kesehatan Puskesmas dengan didukung oleh peran
serta aktif masyarakat dan ditujukan kepada individu, keluarga, masyarakat di wilayah kerja
Puskesmas.3
Yang dimaksud dengan kegiatan di dalam gedung dalam UKM / PK adalah kegiatan
yang terpadu dengan kegiatan pokok Puskesmas lain atau secara khusus, meliputi
pemeriksaan diagnostik kelainan mata, seperti pemeriksaan retraksi, tonometri, funduskopi,
tes buta warna dan lapang pandang. 3
Sedangkan yang dimaksud dengan kegiatan di luar gedung dalam UKM / PK adalah
kegiatan yang terpadu dengan kegiatan pokok Puskesmas lainnya ataupun secara khusus
meliputi skrining mata, penanggulangan kebutaan katarak, glaucoma dan lain-lain. 3
Peran serta masyarakat adalah peran serta aktif masyarakat baik sebagai pemberi
maupun penerima pelayanan dengan memobilisasi sumber daya yang tersedia dalam

250

pemecahan masalah kesehata mata masyarakat setempat melalui perencanaan, pelaksanaan,


penilaian, pembinaan, dan pengembangan UKM/PK setempat. 3
Tenaga professional mencakup tenaga profesional umum dan khusus. Tenaga
profesional umum yaitu dokter dan perawat, dokter gigi, analis (tenaga Laboratorium),
asisten apoteker, dan sebagainya. Tenaga profesional khusus yaitu tenaga kesehatan dengan
pendidikan khusus atau tambahan di bidang kesehatan mata, seperti perawat mahir mata.
Selain itu terdapat pula tenaga non professional yaitu kader/ tenaga relawan seperti pemuka
masyarakat, dokter kecil, dan sebagainya3
Kebutaan adalah pengelihatan kedua mata dengan koreksi maksimal kurang dari 5 %
pengelihatan normal.

BAB III
TUJUAN
A. Tujuan Umum
Meningkatnya derajat kesehatan mata dalam rangka meningkatkan kualitas
sumberdaya masyarakat.

B. Tujuan Khusus
1. Meningkatnya kesadaran, sikap dan perilaku masyarakat pemeriksaan dirinya
dibidang kesehatan mata dan pencegahan kebutaan.
2. Menurunnya prevalensi kesehatan mata dan kebutaan sehingga tidak lagi menjadi
masalah kesehatan masyarakat.
3. Meningkatnya jangkauan pelayanan refraksi sehingga masyarakat yang
mengalami gangguan fungsi penglihatan dapat terlayani.

251

BAB IV
KEGIATAN DAN SASARAN
Tujuan Upaya Kesehatan Mata/ Pencegahan Kebutaan
Melayani pemeriksaan kesehatan mata dasar dan semi spesialis / spesialis (khusus
untuk Puskesmas Pembina) untuk semua kasus mata, baik yang dirawat jalan ataupun rawat
inap.

Sasaran Upaya Kesehatan Mata/ Pencegahan Kebutaan


Semua golongan umur dengan prioritas pada masyarakat berpenghasilan rendah,
khususunya kelompok yang rawan.

Kegiatan Pelayanan Upaya Kesehatan Mata / Pencegahan Kebutaan


1. Prinsip Kerja
252

Pelayanan diberikan secara cepat, tepat dan nyaman dengan sikap yang ramah dan
bertanggung jawab.

2. Kegiatan
a) Melakukan penyuluhan kesehatan mata termasuk pemasaran sosial di dalam
maupun di luar gedung, baik individu maupun kelompok.
b) Melakukan pemeriksaan mata khusus.
c) Melakukan rujukan ke Laboratorium untuk swab vagina bagi ibu hamil dengan
keluhan fluor albus atau untuk swab sekret mat pada bayi baru lahir dengan
conjungtivitis
d) Melakukan tindakan crede pada bayi baru lahir
e) Pemberian capsul vitamin A dosis tinggi pada Balita setiap 6 bulan
f) Melakukan skrining mata di masyarakat
g) Memberikan pengobatan
h) Melakukan pemeriksaan cisus/refraksi dan mata luar
i) Melakukan pemeriksaan tekanan intraokular
j) Malkukan tes buta warna
k) Melakukan tes anel
l) Melakukan pemeriksaan funduskopi
m) Melakukan pemeriksaan lapang pandang
n) Melakukan pemeriksaan laboratorium pada kasus-kasus tertentu
o) Memberikan resep kaca mata
p) Melakukan operasi katarak
q) Mengobati glaukoma akut
r) Melakukan rujukan untuk kasus-kasus yang tidak bisa ditangani
s) Memotivasi masyarakat dalam UKM/PK
t) Melakukan pencatatan dan pelaporan

3. Waktu Pelayanan
Setiap Hari
a) Untuk rawat jalan mulai dari pukul 08.30-12.00
253

b) Untuk rawat inap mulai pukul 07.30-08.30


Kecuali untuk kasus Gawat Darurat setiap hari

4. Tenaga:
Untuk Puskesmas Pembina:
a) Dokter umum terlatih 1 orang
b) Dokter spesialis mata 1 orang
c) Paramedis terlatih 1 orang
d) Perkarya 1 orang
Untuk di lapangan : Kader, Pemuka Masyakarat, Dokter Kecil, dan lain sebagainya

5. Kelengkapan Administrasi
a) Formulir Register Harian
b) Formulir Rekapitulasi Bulanan
Sesuai SP2TP dan program

6. Peralatan Kerja:
Sesuai standard yang sudah ditetapkan untuk Puskesmas Pembina dan Puskesmas

7. Prosedur Tetap:
a) Puskesmas
Petugas Loket
-

Mendaftar dan membuat/mencari status

Menerima pembayaran sesuai Peraturan Daerah

Membawa Status ke Balai Pengobatan

Mengambil status yang telah diperiksa dari Balai Pengobatan

Mencatat di Buku Register

Perawat
254

Menerima status pasien

Melakukan anamnesa

Melakukan pemeriksaan keperawatan (tensi, nadi R/R, suhu)

Mencatat hasil pemeriksaan di status

Membantu/asisten dokter sewaktu melakukan pemeriksaan

Dokter Umum
-

Melengkapi anamnesa bilamana perlu

Melakukan pemeriksaan umum dan mata khusus

Melakukan penyuluhan individu

Memberikan pengobatan/rujukan dan atau resep kaca mata

b) Puskesmas Pembina
Petugas loket
o Mendaftar dan membuat / mencari status
o Menerima pembayaran sesuai dengan Peraturan Daerah
o Membawa status ke poli mata
o Mendaftar dan membuat / mencari status
o Menerima pembayaran sesuai dengan Peraturan Daerah
o Membawa status ke balai pengobatan
o Mengambil status yang telah diperiksa dari Balai pengobatan
o Mencatat di buku register

Perawat
o Menerima status pasien
o Melakukan Anamnesa
o Melakukan pemeriksaan keperawatan (tensi, nadi, pernafasan, suhu)
o Mencatat hasil pemeriksaan di status
o Membantu atau asisten dokter sewaktu melakukan pemeriksaan
o Mempersiapkan pasien operasi katarak
255

o Asisten operasi
Dokter Umum terlatih dan atau dokter spesialis mata
o Melengkapi anamnesa bilamana perlu
o Melakukan pemeriksaan umum dan mata khusus
o Melakukan penyuluhan individu
o Memberikan pengobatan/rujukan dan atau resep kacamata
Khusus untuk Dokter spesialis mata
o Mekakukan operasi yang diperlukan

Sasaran Upaya Kesehatan Mata/Pencegahan Kebutaan diprioritaskan pada masyarakat


berpenghasilan rendah khususnya kelompok rawan tanpa mengabaikan kelompok lainnya
dengan menggunakan teknologi tepat guna yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan
di tingkat Puskesmas.

Keterpaduan Upaya Kesehatan Mata/Pencegahan Kebutaan Dasar dengan


Kegiatan Pokok Puskesmas Lainnya
Kegiatan
Pokok
1.

KIA

Sasaran

Tugas

Perincian Kegiatan

Tenaga

Alat

Prakonsepsi

Promotif
Preventif

Penyuluhan individu/ T e n a g a
kelompok di bidang p e r a w a t a n ,
kesehatan mata
dokter, kader,
dukun bersalin

Poster, leaflet,
demonstrasi
makanan
sehat (gizi)

Hamil

Promotif
Preventif
Case finding
o Kelainan
mata luar
o Gangguan
pengelihata
n
Rujukan

Penyuluhan individu/
kelompok di bidang
kesehatan mata
Anamnesa keluhan
mata

Poster, leaflet,
demonstrasi
makanan
sehat (gizi)
Pen light
Kapas lidi
Steril
Piringan biak
agar-agar
T h a y e r Martin atau
piringan
coklat

Rujuk
ke
laboratorium, swab
vagina (bila ada
keluhan fluor albus
untuk pencegahan
infeksi gonokokus
pada bayi yang
dilahirkan)
Rujuk ke pengobatan
bila ada keluhan/
kelainan mata

T e n a g a
perawatan,
dokter, kader,
dukun bersalin

256

Persalinan

Promotif

Penyuluhan
kesehatan mata

Preventif
Case finding
Rujukan ke
pengobatan

Tenaga
perawatan,
dokter, dukun
bersalin

Anamnesa keluhan
mata

Poster, leaflet,
demonstrasi
makanan
sehat (gizi)
Pen Light

Pemeriksaan mata
Bila ada keluhan/
kelainan

Nifas

Promotif
Preventif
Case finding

P e n y u l u h a n T e n a g a
kesehatan mata
perawatan,
dokter, kader,
Anamnesa keluhan dukun bersalin
mata
Pemeriksaan mata

Rujukan

Poster, leaflet,
demonstrasi
makanan
sehat (gizi)
Pen Light
Oftalmoskop

Rujuk ke lab : swab


vagina (bila ada fluor
albus)
Rujukan
ke
pengobatan bila ada
keluhan/kelainan

Bayi

Promotif

Crede pada bayi baru Sanitarian


Poster, leaflet,
lahir
demonstrasi
T e n a g a makanan
perawatan
sehat (gizi)

Preventif

Case finding
o

Rujukan

Kelainan
mata

Anamnesa
Pemeriksaan mata

Rujuk ke lab : bila


ada secret pada
konjungtiva

dokter

AgNO3 1 %
tetes mata
a t a u
tetrasiklin
salep mata
Alat-alat lab
(lihat ibu
hamil)

Rujuk ke pengobatan
bila ada keluhan/
kelainan

257

Balita

Promotif

Preventif

Case finding

P e n y u l u h a n T e n a g a Poster, leaflet,
individu/kelompok
perawatan
demonstrasi
makanan
Pembagian kapsul Dokter
sehat (gizi)
vit. A dosis tinggi
Kader
tiap 6 bulan
Kapsul Vit. A
200.000 IU
Anamnesa keluhan
mata

K e l a i n a n Pemeriksaan mata
refraksi

Kelainan
mata luar

Kelainan
bawaan
(katarak,
juling, dll)

Rujukan

Pen Light

Rujuk ke lab
Rujuk ke pengobatan
bila ada kelainan

2.

KB

W.U.S (Wanita Promotif


Usia Subur)
Preventif

P e n y u l u h a n T e n a g a Poster, leaflet,
kesehatan mata
p e r a w a t a n , alat lab (lihat
dokter
ibu hamil)
Individu
Kelompok

Case finding
o

Pemeriksaan mata
F l u o r bila ada keluhan
albus
fluor albus

Rujuk sediaan ke lab

3.

Gizi

Balita

Rujukan

Rujuk ke pengobatan

Promotif

P e n y u l u h a n Tenaga gizi,
kesehatan mata
perawatan,
dokter, kader
Individu

Poster, leaflet,
demonstrasi
makanan
sehat (gizi)

Kelompok

Preventif

Pembagian caps. vit.


A dosis tinggi tiap 6
bulan

I b u h a m i l / Promotif
menyusui
Preventif

P e n y u l u h a n
kesehatan mata
Individu

Kapsul Vit. A
200.000 IU

Poster, leaflet,
demonstrasi
makanan
sehat (gizi)

kelompok

258

4.

Keseha
t a n
lingkun
gan

K e l o m p o k Promotif
masyarakat
d
a
n Preventif
lingkungannya

P e n y u l u h a n Sanitarian,
kesehatan mata
t e n a g a
perawatan,
dokter

Perusahaan
(pabrik)
5.

P2M

K e l o m p o k Promotif
P e n y u l u h a n
masyarakat
kesehatan mata
Preventif
Keluarga
Case holding
Individu
Pemeriksaan mata
o Penyakit mata
luar
P e n g o b a t a n
sederhana (sama
o Buta senja
dengan prokesa)
o

Poster, leaflet,
alat-alat
pelindung
mata (lintas
sektoral)

Juru imunisasi, Poster, leaflet


p e t u g a s
malaria desa, Senter
t e n a g a
perawatan,
dokter

Gangguan
pengelihatan

Rujukan
6.

PKM

K e l o m p o k Promotif
masyarakat
Preventif
Keluarga
Individu

Case finding

P e n y u l u h a n T e n a g a Poster, alat
kesehatan mata
p e n y u l u h peraga
kesehatan,
Nasehat perkawinan p e r a w a t a n ,
(penyakit keturunan) dokter, kader

Kader (Guru
UKS dokter
Bila ada keluhan kecil
dirujuk

259

7.

Pengob Individu
atan

Pengobatan

P e n g o b a t a n D o k t e r , Epilator
terhadap :
perawat mata
Loupe

Konjungtivitis
Senter

Pterigium dan
Speculum
Pinguekula
mata

Defisiensi
Obat-obat
vitamin A
m a t a

Trakhoma tanpa
nonsteroid,
Trikhiasis
Diamox

Blefaritis

Hordeolum

Glaukoma

Tindakan sederhana :

Rujukan

8.

P.H.N

Keluarga

Promotif

Instansi

Preventif

Individu

Case finding
Kuratif
Rehabilitatif

I n s i s i
hordeolum,
tarsotomi,
ekstraksi,
corpus alienum
e k s t r a o k u l e r,
pterigium
ekstirpasi

Pertolongan
pertama gawat
mata

Glaukoma akut

Trauma kimia,
tumpul, tajam

Merujuk kasus
yang tak dapat
diatasi ke RS
atau BKMM.

Penyuluhan
kesehatan mata
Diagnostik 10
penyakit utama mata
Koreksi refraksi
sederhana s/d visus
5/10

Alat insisi
C o r p u s
a l i e n u m
spoed
Pantocain

Formulir
rujukan

T e n a g a Idem 7
perawatan,
kader
Kesehatan
Non kesehatan

Pengobatan
Rujukan ke
pengobatan

260

9.

UKS

Anak sekolah

Promotif
Preventif

Penyuluhan
kesehatan mata
Anamnesa
Pemeriksaan :
o

Kelainan
refraksi

Kelainan mata
luar

Tes buta
warna

Defisiensi vit.
A

T e n a g a UKS kit
perawatan
( p e t u g a s Buku Ishihara
UKS), dokter,
kader

Pengobatan
Rujuk ke Puskesmas
untuk mendapat
pengobatan
10. G i g i / Individu
Mulut
Anak sekolah

Promotif
Preventif

Kelompok
masyarakat

11. Keseha Individu


t a n
Keluarga
Jiwa

P e n y u l u h a n g i g i Dokter gigi,
y a n g b e r k a i t a n perawat gigi,
dengan kesehatan kader
mata
P e n y u l u h a n
hubungan kelainan
gigi sebagai fokal
infeksi mata

Promotif
Preventif

Penyuluhan
kesehatan jiwa yang
berkaitan dengan
kesehatan mata

T e n a g a Poster, leaflet
perawatan,
Senter
dokter, kader

Case finding
Deteksi kelainan
mata pada penderita
kelainan jiwa
Rujukan

Pengobatan mata
Pengobatan
Puskesmas, saran
rujukan

12. Lab

Individu

Case finding

Pemeriksaan
laboratorium pada
specimen yang
berkaitan dengan
kesehatan mata

Petugas lab

Alat-alat lab

261

13. Keseha Individu


t a n
Olah
Raga

Promotif

Penyuluhan

Preventif

Deteksi kelainan
mata akibat olah raga

Case finding

Pengobatan/rujukan

14. Keseha Individu


Promotif
t a n
K e l o m p o k Preventif
Kerja
masyarakat
Case finding

D o k t e r ,
perawat, kader

Peningkatan fungsi
pengelihatan
dikaitkan dengan
olah raga
Pengobatan pada
kelainan/kecelakaan
akibat olah raga
Penyuluhan

D o k t e r ,
perawat, kader

Deteksi dini kelainan


mata akibat kerja
Peningkatan fungsi
pengelihatan
dikaitkan dengan
kesehatan kerja
Pengobatan pada
kelainan mata akibat
kesehatan kerja

15. Usila

Pengobatan/rujukan

Rujukan kasus-kasus
yang tidak dapat
diatasi

Individu

Promotif

Penyuluhan

Keluarga

Preventif

Pelayanan kesehatan
usila

K e l o m p o k Kuratif/rujukan
masyarakat
Rehabilitatif

D o k t e r ,
perawat, kader

Rujukan kasus yang


tak dapat diatasi

Peningkatan Peran Serta Masyarakat


Kegiatannya dalam bentuk penyuluhan kesehatan termasuk pemasaran social, serta
melibatkan masyarakat dalam perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian UKM/PK Dasar
dalam rangka menciptakan kemandirian masyarakat dalam memelihara kesehatan mata
mereka.

Pengembangan Kesehatan Mata Masyarakat


Kegiatan dalam bentuk penampilan berbagai inovasi baru yang ditujukan pada
pemecahan masalah sesuai dengan perkembangan kebutuhan dan ketersediaan sumber daya
setempat dalam rangka menciptakan derajat kesehatan mata masyarakat yang optimal.
262

Pencatatan dan Pelaporan


Berbagai hal yang berkaitan dengan masukan, proses, dan keluaran upaya kesehatan
mata/pencegahan kebutaan dasar direkam secara terpadu dalam SP2TP.

BAB V
PELAKSANAAN KEGIATAN
PELAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS KECAMATAN PASAR MINGGU

No.

Kegiatan

Sasaran

Tempat dan

Pelaksana

Waktu
1

Pemeriksaan penyakit Mata

Semua pasien

Poli Mata

Dokter Umum

yang berkunjung

Senin Jumat

Perawat

08.30 - 12.00

Pelaksana

ke Poliklinik
Mata

Paramedis
263

Pengobatan Penyakit Mata

Semua pasien

Poli Mata

yang berkunjung

Senin Jumat

ke Poliklinik
Mata
3

Pemeriksaan oleh Spesialis

Dokter umum

08.30 - 12.00

Semua pasien

Poli Mata

Dokter Spesialis

yang berkunjung

Senin dan

Mata

ke Poliklinik

Kamis

Mata dan
memerlukan

08.30 - 12.00

pemeriksaan
oleh ahli
4

Pemeriksaan Khusus Mata :

Semua pasien

Poli Mata

Pemeriksaan Visus

yang berkunjung

Senin Jumat

Tonometri

ke Poliklinik
Mata

08.30 - 12.00

Pemeriksaan Khusus Mata :

Semua pasien

Poli Mata

Dokter Spesialis

Funduskopi

yang berkunjung

Senin Jumat

Mata

08.30 - 12.00

Dokter Umum

Semua pasien

Poli Mata

Dokter Spesialis

yang berkunjung

Senin Jumat

Mata

08.30 - 12.00

Dokter Umum

ke Poliklinik
Mata
5

Dokter Umum

Penyuluhan individu

ke Poliklinik
Mata

Perawat
Pelaksana

Penyuluhan Kelompok :

Penderita DM

Aula PKM

Dokter Umum

Retinopati Dabetikum

pada Khususnya

Ps.Minggu

yang ditunjuk

Satu Kali
perbulan
08.00 12.00
264

Penjaringan Kasus Katarak

Khusus pasien

Poli Mata

Dokter Spesialis

Katarak

Senin Jumat

Mata

08.30 - 12.00

Dokter Umum
Perawat
Pelaksana

Rujukan Katarak

Khusus pasien

Poli Mata

Dokter Spesialis

Katarak

Senin Jumat

Mata

08.30 - 12.00

Dokter Umum
Bekerja sama
dengan RSCM

Memberikan Resep Kacamata

Semua pasien

Poli Mata

Dokter Spesialis

yang telah

Senin Jumat

Mata

08.30 - 12.00

Dokter Umum

dilakukan
pemeriksaan
visus dan
memerlukan
kacamata
10

Operasi :

Semua pasien

Poli Mata

Dokter Spesialis

Hordeolum

dengan keluhan

Senin dan

Mata

yang

Kamis

Perawat

08.30 - 12.00

Pelaksana

Pterigium
Corpus Alienum

memerlukan
tindakan bedah

Terlatih

minor
11

Melakukan pencatatan dan

Dokumen PKM

Poli Mata

Perawat

pelaporan

kecamatan Pasar

Senin Jumat

Pelaksana

Minggu

08.30 - 12.00

PENILAIAN HASIL KERJA DOKTER SPESIALIS MATA BULAN JUNI 2011

265

PUSKESMAS KECAMATAN PASAR MINGGU

A. KASUS
N0

Penyakit

Jumlah

Glaukoma

3 Kasus

Katarak

34 kasus

Kelainan Refraksi

80 kasus

Kelainan Kornea

7 kasus

Konjungtivitis

31 kasus

Trauma

4 kasus

Corpus Alienum

3 kasus

Pterygium

2 kasus

Hordeolum

24 kasus

10

Penyakit Mata Lain

104 kasus

B. TINDAKAN
N

Tindakan

Jumlah

Pemeriksaan Visus

77 Kasus

Resep Kacamata

65 Kasus

Funduskopi

9 Kasus

Angkat Corpus Alienum

2 Kasus

Insisi Hordeolum

2 Kasus

Avulsi Pterygium

1 Kasus

Haecting Off

1 Kasus

C. RUJUKAN
N

Penyakit

Jumlah

Glaukoma

3 Kasus

Katarak

9 Kasus

266

Kelainan Refraksi

5 Kasus

Penyakit Mata Lain

5 Kasus

PENCATATAN KASUS PERIODE JANUARI JUNI 2011


PUSKESMAS KECAMATAN PASAR MINGGU

(FOTOKOPI)

267

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN
Upaya Kesehatan Mata/ Pencegahan Kebutaan di Puskesmas merupakan unit
terdepan yang meliputi usaha-usaha peningkatan, pencegahan dan pengobatan mata
268

terhadap

semua golongan umur dengan prioritas pada masyarakat berpenghasilan

rendah, khususunya kelompok yang rawan. Kegiatan ini bertujuan melayani


pemeriksaan kesehatan mata dasar dan semi spesialis / spesialis (khusus untuk
Puskesmas Pembina) untuk semua kasus mata, baik yang dirawat jalan ataupun rawat
inap.
Kegiatannya mencakup melakukan penyuluhan kesehatan mata, pemeriksaan
mata khusus, rujukan ke Laboratorium untuk swab vagina bagi ibu hamil dengan
keluhan fluor albus atau untuk swab sekret mat pada bayi baru lahir dengan
conjungtivitis, tindakan crede pada bayi baru lahir, pemberian capsul vitamin A dosis
tinggi pada Balita setiap 6 bulan, skrining mata di masyarakat, pengobatan,
pemeriksaan refraksi dan mata luar, pemeriksaan tekanan intraokular, tes buta warna,
tes anel, pemeriksaan funduskopi, pemeriksaan lapang pandang, pemeriksaan
laboratorium pada kasus-kasus tertentu, memberikan resep kaca mata , melakukan
operasi katarak, mengobati glaukoma akut, memotivasi masyarakat dalam UKM/PK
serta melakukan pencatatan dan pelaporan.
Diharapkan dengan dilaksanakan pelbagai kegiatan ini masalah Kesehatan
Indera Penglihatan di Indonesia tidak lagi menjadi masalah Kesehatan Masyarakat.

B. SARAN
1. Meningkatkan sarana dan prasarana pemeriksaan kesehatan mata di
Puskesmas.
2. Menambah frekuensi penyuluhan tentang kesehatan mata dalam setiap bagian
di Puskesmas.
3. Mengadakan program anjuran pemeriksaan mata pada hari tertentu yang
ditujukan pada pasien yang datang ke puskemas baik yang mempunyai gejala
penyakit mata maupun tidak.
4. Meningkatkan peran serta setiap keluarga dalam ikut membantu memelihara
kesehatan mata seluruh anggota keluarga.

269

DAFTAR PUSTAKA

270

1. Departemen Ilmu Kesehatan Mata FK USU. Pelayanan Kesehatan Mata Melalui


Puskesmas. Available: http://ebookbrowse.com/sss155-slide-pelayanan-kesehatanmata-melalui-puskesmas-pdf-d68637011
2. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI. Laporan
Hasil Riset Kesehatan Dasar Nasional 2007.
3.

Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Standarisasi Pelayanan Kesehatan


Puskesmas di DKI Jakarta.

4. h t t p : / / p u s t a k a . u n p a d . a c . i d / w p - c o n t e n t / u p l o a d s / 2 0 0 9 / 0 9 /
penanggulangan_kebutaan_katarak_terpadu.pdf
5. Prof. Dr. Azrul Azwar, MPH. Kebijakan Pelayanan Kesehatan mata. Available at : http://
www.ditplb.or.id/profile.php?id=74

271

PROGRAM KEGIATAN USIA LANJUT

Penyusun:
Muh Nurul Muttaqin

(030.05.150)

Adilah Bt. Aziz

(030.06.294)

272

BAB I
PENDAHULUAN

Dalam kehidupan keluarga, usia lanjut merupakan figur tersendiri dalam


kaitannya dengan sosial budaya bangsa. Mereka termasuk dalam golongan yang patut
dihargai dan dihormati sesuai dengan eksistensinya dalam strata kemasyarakatan.
Dalam kehidupan nasional, usia lanjut merupakan sumber daya yang bernilai
sesuai dengan pengetahuan dan pengalaman kehidupan yang dimilikinya yang dapat
dimanfaatkan bagi masyarakat keseluruhan.
Sebagai salah satu hasil pembangunan adalah meningkatnya umur harapan
hidup waktu lahir. Sejalan dengan hal tersebut maka jumlah usia lanjutpun meningkat.
Berdasarkan Undang-Undang No.9 tahun 1960 tentang pokok-pokok
kesehatan bahwa setiap keluarga berhak memperoleh derajat kesehatan setinggitinginya.
Demikian pula dalam SKN bahwa tujuan pembangunan kesehatan adalah
tercapainya kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat
mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal sebagai salah satu unsur
kesejahteraan umum dari tujuan nasional.
Maka dalam upaya pemerataan pelayanan kesehatan bagi seluruh penduduk
Indonesia dilakukan pembinaan kesehatan bagi usia lanjut yang bertujuan
meningkatkan derajat kesehatan usia lanjut agar selama mungkin dapat aktif, mandiri
dan berguna melalui peningkatan fungsi puskesmas.

273

BAB II
PENGERTIAN

Program

Kegiatan Usia Lanjut di Puskesmas adalah merupakan upaya kesehatan

paripurna di bidang kesehatan usia lanjut. Yang dilaksanakan melalui beberapa upaya
KEGIATAN KESEHATAN USIA LANJUT
A. Pelayanan Kesehatan Usia Lanjut :
1. Upaya promotif yaitu upaya menggairahkan semangat hidup bagi usia lanjut agar
mereka tetap dihargai dan tetap berguna bagi dirinya senndiri, keluarga maupun
masyarakat.
2. Upaya Preventif yaitu upaya pencegahan terhadap kemungkinan terjadinya
penyakit maupun komplikasi penyakit yang disebabkan oleh proses penuaan.
3. Upaya kuratif yaitu upaya pengobatan bagi usia lanjut
4. Upaya Rehabilitatif yaitu upaya mengembalikan fungsi organ yang telah
menurun

B. Peningkatan Peran Serta Masyarakat


Dilaksanakn dalam bentuk penyuluhan kesehatan melibatkan masyarakat dalam
perencanaan, pelaksanaan dan penilaian upaya kesehatan usia lanjut, dalam rangka
menciptakan kemandirian masyarakat

C. Pengembangan Upaya Kesehatan Usia Lanjut

274

Pengembangan upaya kesehatan usia lanjut di puskesmas adalah suatu upaya dalam
menggunakan data yang diperoleh dari survey, studi, SP2TP, untuk mengembangkan peran
serta masyarakat dan pelayanan di bidang upaya kesehatan usia lanjut yang dilaksanakan
melalui forum mini lokakarya yang nantinya melalui stratifikasi Puskesmas dan microplanning bila telah dilaksanakn secara nasional dalam rangka mencapai derajat kesehatan usia
lanjut secara optimal.

D. Pencatatan dan pelaporan


Diintegrasikan kedalam sistem pencatatan dan pelaporan terpadu Puskesmas.

Peningkatan Umur harapan hidup dari tahun ketahun semakin meningkat berdasarkan
hasil survei Kesehatan Rumah Tangga ( SKRT ) thn 1995 angka kesakitan pada usia 45-49
tahun sebesar 11,6%,dan angka kesakitan pada usia di atas 60 tahun sebesar 9,2%.
Pengertian Usia Lanjut adalah suatu proses alami yang tidak dapat di hindarkan.

275

BAB III
TUJUAN
A. TUJUAN UMUM :
Meningkatnya derajat kesehatan usia lanjut untuk mencapai masa tua yang
bahagia dan berdaya guna dalam kehidupan keluarga dan masyarakat sesuai dengan
eksistensinya dalam strata kemasyarakatan dalam mencapai mutu kehidupan usia
lanjut yang optimal.

276

B. TUJUAN KHUSUS :
a. Meningkatnya kesadaran pada usia lanjut untuk membina sendiri
kesehatannya
b. Meningkatnya kemampuan dan peran serta masyarakat dalam menghayati
dan mengatasi masalah kesehatan usia lanjut secara optimal
c. Meningkatnya jangkauan pelayanan kesehatan usia lanjut
d. Meningkatnya jenis dan mutu pelayanan kesehatan usia lanjut

277

BAB IV
KEGIATAN DAN SASARAN

I.

KEGIATAN KESEHATAN USIA LANJUT


A. Pelayanan Kesehatan Usia Lanjut :
1. Upaya promotif yaitu upaya menggairahkan semangat hidup bagi usia lanjut agar
mereka tetap dihargai dan tetap berguna bagi dirinya senndiri, keluarga maupun
masyarakat.
Upaya promotif dapat berupa kegiatan penyuluhan tentang :
a. Kesehatan dan pemeliharaan kebersihan diri
b. Makanan dengan menu yang mengandung gizi seimbang
c. Kesegaran jasmani yang dilakukan secara teratur dan disesuaikan
dengan kemampuan usia lanjut agar tetap merasa sehat dan segar
d. Pembinaan mental dalam peningkatan ketaqwaan kepada tuhan Yang
Maha Esa.
e. Membina ketrampilan agar dapat mengembangkan kegemaran sesuai
dengan kemampuan
f. Meningkatkan kegiatan sosial di masyarakat

278

2. Upaya Preventif yaitu upaya pencegahan terhadap kemungkinan terjadinya


penyakit maupun komplikasi penyakit yang disebabkan oleh proses penuaan.
Upaya preventif dapat berupa kegiatan antara lain:
a. Pemeriksaan kesehatan secara berkala dan teratur untuk menemukan
secara dini penyakit-penyakit usia lanjut
b. Kesegaran jasmani yang dilakukan secara teratur dan disesuaikan
dengan kemampuan usia lanjut agar teaep merasa sehat dan segar
c. Penyuluhan tentang penggunaan berbagai alat bantu misalnya:
kacamata, alat bantu dengar dan lain-lain agar usia lanjut tetap
memberikan karya dan tetap merasa berguna
d. Penyuluhan untuk mencegah terhadap kemungkinan terhadap
terjadinya kecelakaan pada usia lanjut
e. Pembinaan mental dalam meningkatkan ketaqwaan kepada tuhan Yang
Maha Esa

3. Upaya kuratif yaitu upaya pengobatan bagi usia lanjut


Upaya kuratif dapat berupa kegiatan sebagai berikut:
a. Pelayanan kesehatan dasar
b. Pelayanan kesehatan spesialistik melalui sistem rujukan

4. Upaya Rehabilitatif yaitu upaya mengembalikan fingsi organ yang telah menurun
Upaya rehabilitatif dapat berupa kegiatan antara lain:
a. Memberikan informasi, pelayanan dan pengetahuan tentang
penggunaan berbagai alat bantu misalnya: kacamata, alat bantu dengar

279

dan lain-lain agar usia lanjut tetap dapat memberikan karya dan tetap
merasa berguna sesuai kebutuhan dan kemampuan
b. Mengembalikan kepercayaan terhadap diri sendiri dan memperkuat
mental penderita
c. Pembinaan usia lanjut dalam hal pemenuhan kebutuhan pribadi,
aktifitas didalam maupun diluar rumah
d. Nasihat cara hidup yang sesuai dengan penyakit yang diderita
e. Perawatan fisioterapi

B. Peningkatan Peran Serta Masyarakat


Dilaksanakn dalam bentuk penyuluhan kesehatan melibatkan
masyarakat dalam perencanaan, pelaksanaan dan penilaian upaya kesehatan
usia lanjut, dalam rangka menciptakan kemandirian masyarakat

C. Pengembangan Upaya Kesehatan Usia Lanjut


Pengembangan upaya kesehatan usia lanjut di puskesmas adalah suatu
upaya dalam menggunakan data yang diperoleh dari survey, studi, SP2TP,
untuk mengembangkan peran serta masyarakat dan pelayanan di bidang upaya
kesehatan usia lanjut yang dilaksanakan melalui forum mini lokakarya yang
nantinya melalui stratifikasi Puskesmas dan micro-planning bila telah
dilaksanakn secara nasional dalam rangka mencapai derajat kesehatan usia
lanjut secara optimal.

280

D. Pencatatan dan pelaporan


Diintegrasikan kedalam sistem pencatatan dan pelaporan terpadu
Puskesmas.

II. SASARAN
1. Sasaran langung :
a. Kelompok usia menjelang usia lanjut (45-54 tahun) atau dalam masa
virilitas, didalam keluarga maupun masyarakat luas dengan paket
pembinaan yang meliputi KIE dan pelayanan kesehatn fisik, gizi agar
dapat mempersiapkan diri dalam menghadapi masa tua
b. Kelompok usia lanjut dalam masa prasenum (55-64 tahun) dalam keluarga,
organisasi masyarakat usia lanjut dan masyarakat pada umumnya, dengan
paket pembinaan yang meliputi KIE dan pelayanan agar dapat
mempertahankan kondisi kesehatannya dan tetap produktif
c. Kelompok usia lanjut dalam masa senescens (> 65 tahun) dan usia lanjut
dengan resiko tinggi (>70 tahun), hidup sendiri, terpencil, menderita
penyakit berat, cacat dan lain-lain, dengan paket pembinaan yang meliputi
KIE dan pelayanan kesehatan agar dapat selama mungkin
mempertahankan kemandiriannya
2. Sasaran tidak langsung :
a. Keluarga dimana usia lanjut berada
b. Organisasi sosial yang berkaitan dengan pembinaan usia lanjut

281

BAB V
PELAKSANAAN DI PUSKESMAS

A. PUSKESMAS KECAMATAN MAMPANG PRAPATAN


Sasaran Pembinaan kesehatan pada kelompok Usia Lanjut di puskesmas
kecamatan mampang:
1. Kelompok Usia 45-59 tahun
2. kelompok Usia lanjut 60-69 tahun
3. Kelompok Usia 70 tahun atau dengan resiko tinggi dengan masalah
Kesehatan.
TABEL.1.DATA LANJUT USIA PER KELURAHAN KECAMATAN MAMPANG
PRAPATAN TAHUN 2010

282

TABEL 2.KEGIATAN LANSIA PUSKESMAS KECAMATAN MAMPANG PRAPATAN


TAHUN 2010

283

TABEL 3.RENCANA KEGIATAN LANJUT USIA

284

285

DIAGRAM.10 PENYAKIT TERTINGGI PADA LANSIA DI PUSKESMAS KECAMATAN


MAMPANG

MASALAH DAN HAMBATAN YANG DIHADAPI DI PUSKESMAS KECAMATAN


MAMPANG:
1.Terbatasnya petugas Lansia di Puskesmas Kecamatan dan Kelurahan
2. Tugas ganda dari petugas
3. Keterbatasan petugas dalam pembinaan terhadap lansia di wilayah binaan
4. Jumlah lansia yang dibina lebih rendah dengan jumlah lansia yang ada di wilayah

286

B.PUSKESMAS LAIN
I.GAMBARAN
Jumlah Lanjut Usia Di Jakarta Selatan 315.951 jiwa
Jumlah yang dibina 13.855 (4.38%)
Jumlah kelompok 154 klp
Dibina 154 klp (100%)
Jumlah Puskesmas 78 PKm
(10 Kec + 68 Kel)
Yg membina lansia 78 PKM (100%)
I.1.KEGIATAN PROGRAM LANSIA JAKARTA SELATAN
Perencanaan
Pelaksanaan
Penilaian/ Evaluasi
Pembinaan
I.2.KEGIATAN PROGRAM LANSIA
DPA Sudin Kesmas Jak Selatan th 2008 :
Pertemuan Berkala Petugas Lansia Kecamatan
Pemberdayaan lanjut Usia
Pertemuan FKLU
Peningkatan wawasan Petugas
Evaluasi Program dan supervisi

287

TABEL 4. PERKEMBANGAN KELOMPOK LANJUT USIA

TABEL 5.JADWAL KEGIATAN LANJUT USIA

288

II.HASIL KEGIATAN
II.1.LANSIA DENGAN KELAINAN :
Kemandirian A : 15 org (0,10%)
B : 431 org (3,11%)
Gangguan mental Emosional : 659 org (4,76%)
Status Gizi (IMT) kurang
IMT lebih

: 640 org (4,62%%)


: 1733 org (12,51%)

Hypertensi : 694 org (5,01%)


Anaemi

: 343 org (2,48%)

DM

: 179 org (1,29%)

Gangguan Ginjal : 8 org (0,06%)


II.2.LANSIA DENGAN KELAINAN,DI OBATI DAN DIRUJUK
Juml Lansia dg Kelainan : 9.987 org
Lansia diobati (kum)
Lansia dirujuk

:13.562 org

: 1.026 org

Kasus konseling baru

: 59 org

Kasus konseling lama : 3.539 org


Penyuluhan
Lansia punya KMS

: 1.298 org
: 4.926 org

289

TABEL 6. PENYAKIT TERBANYAK LANSIA


Usia 45-59

Penyakit

tahun

Usia >60

penyakit

tahun

Sal nafas atas 33.402

Hipertensi 19.962

Hipertensi 21.256

Sal nafas atas 17.958

Rematik 16.687

Rematik 14.501

Gimul 14.899

Gimul 6917

Kulit 11.131

Gastritis 6.762

Gastritis 10.475

Kulit 6400

DM 5.718

Dm 5.123

Mata 3.136

Mata 2.383

Jantung 1.067

Jantung 1.711

10

Anemi 944

10

Anemi 916

11

Lain-lain 22.154

11

Lain lain 15.007

GRAFIK 1. LANSIA YANG DIRUJUK DAN DIOBATI

290

GRAFIK 2. JUMLAH LANJUT USIA

!
GRAFIK 3.STATUS GIZI LANJUT USIA

291

GRAFIK 4.KEMANDIRIAN LANJUT USIA

GRAFIK 5.LANSIA YANG ADA DAN DILAYANI KESEHATAN

292

GRAFIK 6.LANSIA YANG DIRUJUK DAN DIOBATI

JENIS OLAH RAGA LANSIA JAKARTA SELATAN:


Tebet : Tera & pernafasan,Yoga, SKJ, Senam Otak, Osteoporosis
Setiabudi : Tera & pernafasan, SKJ, Kreasi, Mahatma
Mp Prapatan : Tera & pernafasan, SKJ, Kreasi
Pasar Mgg : SSI, Snm Jantung, SKJ, Snm DM, Snm Osteoporosis, Tera & pernafasan,
Kreasi
Kebayoran Baru : Jantung sehat, SKJ, Senam DM, Tera & Pernafasan
Kebayoran Lama : Tera & pernafasan, SKJ,SN, Kreasi
Cilandak : Tera & pernafasan, SKJ, Kreasi
Pancoran :Osteoporosis,Tera ,Jantung sehat, DM, Aerobik, BL, KesJas Lansia, Kreasi
Jagakarsa : SSI, Osteoporosis, SKJ, AyoBersatu, Jantung sehat.

293

Pesanggrahan : PORPRI, Aerobik, Jantung sehat, Tera & pernafasan, SKJ, Kreasi

TABEL.FREKUENSI SENAM DAN ANGGOTA YANG SENAM


FREKUENSI SENAM

PRESENTASE ANGGOTA YANG


SENAM

Tebet 1x / mgg

Tebet 280/2484 (11,27%)

Setiabudi 2-4x/ mgg

Setiabudi 185/417 (44,36%)

Mp Prapatan 2-3x/ mgg

Mp Prapatan 240/554 (43,32%)

Psr Mgg 1/2x/ mgg

Psr Mgg 570/1882 (30,29%)

Keby Baru 1-5x/ mgg

Keby Baru 295/458 (64,62%)

Kby Lama 2x/ mgg

Kby Lama 220/503 (43,74%)

Cilandak 1-2x/ mgg

Cilandak 176/511 (34,44%)

Pancoran 1-3x/ mgg

Pancoran 231/528 (43,75)

Jagakarsa 1-2x/ mgg

Jagakarsa 441/803 (54,92%)

Pesanggrahan 2-4x/ mg

Pesanggr 205/645 (31,78%)


Total 2843/8785 (32,36%)

Keberhasilan Program berdasar indikator (Depkes).


Pelayanan Medis
30% lansia diskrining, pencapaian 50%
100% lansia dipanti diskrining, pencapaian 100%
30% Puskesmas melaksanakan konseling, pencapaian 90% (9 dari 10 Puskesmas
Kecamatan melaksanakan konseling
Kegiatan Non Medis
294

70% Puskesmas membina kelompok lansia, pencapaian 100%


50% Desa mempunyai Kelompok Lansia, pencapaian 22,90%
50% Kelomp Lansia melaksanakan senam , pencapaian 48,70%

Sasaran mutu Lansia


Target 20% penambahan jumlah lansia dibina, pencapaian 27%
Kegiatan Sudin Kesehatan (DASK)
1 dari 6 kegiatan tidak dapat dilaksanakan.

295

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

KESIMPULAN
Keberhasilan berdasar Indikator :
Pelayanan Medis
Skrining pada lansia status kurang (16,75%)
Skrining kesehatan lansia dipanti baik (100%)
Puskesmas yg melaksanakan konseling status baik (90%).
Kegiatan non Medis
Puskesmas membina kelompok lansia, status baik (100%)
Desa yang mempunyai kelompok lansia, status kurang (45,8%)
Kelompok lansia yg senam, status baik (97,4%)
Sasaran mutu lansia
Sasaran mutu tercapai yaitu 27,75% (target 20%).
Kegiatan Sudin Kesehatan (DASK) terealisasi 5 kegiatan dari 6 yg ditargetkan.
SARAN
296

Ada kaderisasi lansia.

Pembinaan terhadap kelompok lansia ditingkatkan.

Meningkatkan Kreatifitas kegiatan lansia sesuai dengan tingkat kemandiriannya.

Pembentukan kelompok lansia di tiap RW.

DAFTAR PUSTAKA
1. Johana E. Prawitasari, Aspek Sosial Psikologi Usia Lanjut Di Indonesia, Buletin
Penelitian kesehatan 21 (4) Hal 73 -83.
2. Pedoman kerja puskesmas Jilid IV, Jakarta: depkes RI, 1998.
3. Upaya kesehatan usia lanjut, laporan tahunan 2010, Jakatra : puskesmas mampang
prapatan; 2010.
4. Usia Lanjut Bagi Petugas Kesehatan, Jakarta : Depkes RI, 1990
5. Undang-Undang RI No 23 Tahun 1992, Tentang Kesehatan, Pasal19 ayat 1
6. Zuhdi Makmun, Pendekatan Komprehensif Terhadap Perawatan Kesehatan
Pada Usia Lanjut Menjelang Tahun 2000, Majalah Kesehatan Masyarakat,
Nomor 59 Tahun 1998.

297

UPAYA PEMBINAAN
PENGOBATAN TRADISIONAL

Penyusun :
Michael Gunawan (03006116)
Raihana Shahar (03006342)

298

BAB I
PENDAHULUAN

Sesuai dengan kebijaksanaan yang ditetapkan, pembinaan pengobatan tradisional


yang mencakup cara atau metode, obat dan pengobatannya, dilaksanakan melalui jaringan
pelayanan kesehatan paripurna mulai dari tingkat rumah tangga, tingkat pelayanan kesehatan
dasar (puskesmas) sampai dengan tingkat rumah sakit sebagai dukungan rujukan.
Di tingkat rumah tangga dan tingkat pelayanan kesehatan dasar, pembinaan
pengobatan tradisional dilaksanakan melalui pendekatan PKMD (Primary Health Care)
dengan salah satu strategi penting adalah teknologi tepat guna metode pengobatan tradisional.
Salah satu upaya di atas adalah pengembangan pengobatan tradisional melalui
pemanfaatan tanaman obat dan pijat akupresur yang merupakan alternative pengobatan dalam
mengatasi masalah kesehatan terutama sebagai upaya pertolongan pertama. Disamping itu
upaya pengobatan tradisional sangat bermanfaat dalam upaya meningkatkan kesehatan
maupun upaya pencegahan dan pemulihan kesehatan.
Selain cara pengobatan tradisional tersebut, keberadaan pengobatan tradisional
mempunyai potensi besar dalam rangka ikut meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Di
samping itu, berperan juga sebagai motivator dan komunikator pembangunan kesehatan.
Dalam rangka meningkatkan kemandirian masyarakat untuk mengatasi masalah
kesehatan, penyebarluasan pengetahuan tentang caracara mengatasi gangguan kesehatan,
dengan pemanfaatan tanaman obat dan akupresur perlu diberikan kepada masyarakat.
Disamping itu, para pengobat tradisional yang berada di wilayah kerja puskesmas perlu
dibina melalui KIE kultural dengan fasilitator petugas puskesmas agar dapat terhindar dari
hal hal yang tidak diinginkan.
Di Indonesia pada saat ini upaya pengobatan tradisional dengan obat tradisionalnya
berperan pada tingkat rumah tangga dan tingkat masyarakat. Pemerintah juga telah
memasukkan obat tradisional ke dalam sistem pelayanan formal.

299

BAB II
PENGERTIAN

Pengobatan tradisional adalah upaya pengobatan dan atau perawatan cara lain diluar
ilmu kedokteran atau ilmu keperawatan yang mencakup cara atau metode, obat, dan
pengobatannya; yang mengacu pada pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan turuntemurun baik itu yang asli maupun yang berasal dari luar Indonesia dan diterapkan sesuai
norma yang berlaku dalam masyarakat (UU Kesehatan No.23/1992).
Obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan
(termasuk tanaman yang ada di sekitar tempat tinggal), bahan hewan, bahan mineral, sediaan
(galenik) atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun temurun telah digunakan
untuk pengobatan berdasarkan pengalaman (UU Kesehatan No.23/1992).
Akupresur adalah tindakan pemijatan yang dilakukan pada titik tertentu di permukaan
tubuh dengan tujuan meningkatkan daya tahan tubuh, mencegah penyakit tertentu, mengatasi
keluhan, dan penyakit ringan, serta memulihkan kondisi tubuh. Titiktitik yang diberi
perlakuan dalam sistem pengobatan akupresur telah terbukti secara medis berpengaruh
terhadap keadaan tubuh, sehingga dengan pemberian rangsangan pada titiktitik tersebut
akan mengubah kondisi fisiologis tubuh. Sinkronisasi antara pemijatan di titik tertentu
dengan kondisi fisiologis tubuh dapat dijelaskan secara ilmiah dan medis.
Pengobatan tradisional (batra) adalah seseorang yang diakui dan dimanfaatkan
sebagai orang yang mampu melakukan pengobatan secara tradisional.
Sesuai hasil inventarisasi jenis tenaga pengobatan tradisional meliputi akupunturis,
akupresuris, tabib, sinshe, batra ramuan, patah tulang, pijat urut, pijat refleksi, jamu gendong,
pangur gigi, batra sunat, tenaga dalam, pendekatan agama, dan paranormal.

300

BAB III
TUJUAN

III.1

Tujuan Umum:
Dilakukannya pembinaan terhadap semua sarana, tenaga, dan kegiatan
pengobatan tradisional, serta akupresur di wilayah tempat kerja.

III.2

Tujuan Khusus:
1. Terbina tenaga potensial dalam masyarakat dalam mengembangkan pengobatan
tradisional dan akupresur.
2. Terbina sarana sarana pengobatan tradisional dan akupresur di wilayah tempat
kerja.
3. Terbina semua tenaga pengobatan tradisional yang ada di wilayah kerja.

301

BAB IV
KEGIATAN DAN SASARAN

IV.1

Kegiatan
a. Pembinaan tenaga potensial masyarakat dalam mengembangkan pengobatan
tradisional dan akupresur.
1. Pelatihan obat tradisional terutama yang berasal dari tanaman obat termasuk
TOGA dan akupresur pada kader PKK atau Kesehatan.
2. Pembinaan dan pengawasan kegiatan kader paska pelatihan.

b. Pembinaan sarana sarana pengobatan tradisional dan akupresur.


1. Pendataan sarana sarana pengobatan tradisional dan akupresur.
2. Pengawasan sarana pengobatan tradisional dan akupresur.

c. Pembinaan semua tenaga pengobatan tradisional yang ada di wilayah kerja.


1. Inventarisasi atau pendataan jenis pengobatan tradisional.
2. Pembinaan batra melalu sarasehan (KIE Kultural).
KIE Kultural adalah suatu forum komunikasi, informasi dan edukasi yang
disesuaikan dengan adat istiadat / budaya setempat dan bersifat kekeluargaan.

IV.2

Sasaran

302

a. Sasaran langsung.
Kader PKK atau Kesehatan, Ibu Rumah Tangga, Pengobat Tradisional.
b. Sasaran tidak langsung.
Masyarakat umum, pemuka masyarakat atau tokoh masyarakat.

303

BAB V
PENATALAKSANAAN KEGIATAN
DI PUSKESMAS KECAMATAN MAMPANG

A. Pembinaan tenaga potensial masyarakat.


Kegiatan
1. Pelatihan Kader

Bentuk kegiatan

Pelaksana

- Persiapan pelatihan

- Dokter

- Pelaksanaan pelatihan: - Perawat


penyuluhan, demonstrasi - Bidan
obat tradisional atau
akupresur, latihan meracik
obat tradisional atau
akupresur, penyuluhan
untuk kasus-kasus
rujukan, pemilihan kasuskasus yang dapat
ditangani dengan obat
tradisional atau pijat
akupresur
2. Pembinaan Kader setelah - Melakukan koordinasi - Dokter
pelatihan

untuk penyelenggaraan - Perawat


penyuluhan kepada
masyarakat oleh kader,
pelaksanaan dan aturan
rujukan kasus yang harus
dirujuk oleh kader

304

3. Pengawasan Kader paska - Kunjungan ke tempat - Perawat


pelatihan

penyuluhan kader

- Bidan

- Membantu memecahkan
masalah yang ditemui
kader
- Mendata kegiatan yang
dilakukan kader
- Mengawasi keracunan
dan kejadian luar biasa
yang mungkin terjadi
- Mengawasi system
rujukan dari kader ke
puskesmas atau fasilitas
pelayanan kesehatan
untuk kasuskasus
tertentu

B. Pembinaan sarana sarana pengobatan tradisional dan akupresur


Kegiatan
1. Pendataan saranasarana -

Bentuk kegiatan

Petugas

Mendata saranasarana - Perawat

pengobatan tradisional

pengobatan tradisional - Bidan

dan akupresur

dan akupresur yang ada di


wilayah kerja

305

2. P e m b i n a a n s a r a n a - M e l a k u k a n u s u l a n - Dokter
sarana pengobatan

perbaikan saran sesuai - Perawat

tradisional dan

dengan syarat kesehatan

akupresur

- Bidan

- Melakukan koordinasi
untuk pengawasan
penyakit menular atau
kejadian luar biasa dan
peristiwa keracunan

3. Pengawasan sarana - Melakukan kunjungan ke - Perawat


sarana pengobatan

saranasarana pengobatan - Bidan

tradisional dan

tradisional atau akupresur,

akupresur

misalnya memonitor
kegiatan yang dilakukan
tenaga terampil yang ada,
keadaan sanitasi
lingkungan
- Membuat catatan kegiatan
yang dilakukan oleh
sarana sarana di atas
- Mengatasi sanitasi
lingkungan di sarana
sarana tersebut

C. Pembinaan seluruh jenis pengobatan tradisional


Kegiatan

Bentuk kegiatan

Pelaksana

306

1. I n v e n t a r i s a s i a t a u - Mendata jenis pengobat - Petugas kesehatan


pendataan

tradisional yang ada di - Kader

jenis

pengobatan tradisional

wilayah tempat kerjanya.


Data yang diambil adalah
jumlah dan jenis data

2. Pendekataan dan seleksi - Hasil inventarisasi dipilih - Petugas kesehatan


batra

10 15 batra untuk ikut


KIE Kultural

3. Pelaksanaan sarasehan - Melakukan penyuluhan - Perawat


a t a u a l i h i n f o r m a s i , - Bidan

(KIE Kultural)

pengetahuan dan
keterampilan dengan
pendekatan kultural
(budaya setempat) sesuai
dengan modul
- Melakukan pemecahan
masalah yang dihadapi
- Semua yang terlibat
dalam proses berada
dalam kedudukan yang
sama baik hak dan
kewajiban
D. Evaluasi program
a. Pembinaan tenaga potensial masyarakat dalam mengembangkan pengobatan
tradisional dan akupresur.
1. Tenaga potensial dalam masyarakat.
-

Jumlah kader PKK atauKesehatan yang sudah mengikuti pelatihan.

Jumlah kader PKK atau Kesehatan yang aktif melakukan penyuluhan obat
tradisional dan akupresur.
307

2. Cakupan penyuluhan yang dapat dilakukan oleh kader.


-

Jumlah ibu ibu rumah tangga/masyarakat yang dibina oleh kader.

Jumlah keluarga yang memiliki tanaman obat tradisional.

Jumlah keluarga yang menggunakan obat tradisional dan akupresur.

3. Penanganan kasus kasus dengan obat tradisional oleh kader.


-

Jumlah kasus yang dapat diatasi dengan obat tradisional dan pijat akupresur.

Jumlah kasuskasus yang harus dirujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan.

b. Pendataan saranasarana
-

Jumlah saranasarana pengobatan tradisional yang ada di wilayah kerja


puskesmas.

Jenis pengobatan tradisional yang ada di wilayah kerja puskesmas.

Jumlah pemberi pelayanan pengobatan tradisional dan akupresur.

c. Pembinaan saranasarana pengobatan tradisional / akupresur


-

Jumlah sarana pengobatan tradisional yang diusulkan untuk diperbaiki sesuai


dengan syarat kesehatan.

d. Pengawasan saranasarana pengobatan tradisional / akupresur


-

Jumlah kunjungan ke saranasarana pengobatan tradisional per tahun per


sarana.

Jumlah kejadian luar biasa yang terjadi selama 1 tahun di sarana pengobatan
tradicional.
308

Jumlah peristiwa keracunan yang terjadi selama 1 tahun di sarana


pengobatan tradicional.

Jumlah sarana pengobatan tradisional yang sudah diperbaiki sesuai usulan


puskesmas.

E. KIE Kultural.
-

Jumlah pengobat tradisional yang telah ikut sarasehan.

Jumlah pengobat tradisional yang memberikan pengobatan sesuai syarat


kesehatan.

Jumlah pengobat tradisional yang aktif sebagai motivator dan komunikator


kesehatan.

309

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

VI.1

Kesimpulan
Pengobatan tradisional merupakan salah satu tingkat pelayanan kesehatan
dasar di puskesmas dimana memiliki potensi yang besar dalam rangka meningkatkan
derajat kesehatan masyarakat. Pengembangan pengobatan tradisional dilakukan
dengan cara pemanfaatan tanaman obat dan pijat akupresur sebagai upaya
pertolongan pertama di masyarakat. Selain itu, dengan adanya pengobatan tradisional
ini menjadi solusi dalam pencegahan dan pemulihan kesehatan. Berdasarkan data
yang didapat, tenaga pengobatan tradisional tersebut terdiri atas akupunturis,
akupresuris, tabib, sinshe, batra ramuan, patah tulang, pijat urut, piat refleksi, jamu
gendong, pangur gigi, batra sunat, tenaga dalam, pendekatan agama, dan paranormal.
Dari data tersebut, akupunturis dan akupresuris lebih sering dimanfaatkan di
puskesmas sebagai pengobatan di luar pengobatan secara medis.

VI.2

Saran
1. Diharapkan orangorang yang memiliki potensi dalam mengembangkan
pengobatan tradisional seperti akupuntur dan akupresur diberdayakan sebagai
tenaga kesehatan di masyarakat, yaitu dengan cara mencari tenaga pelatih untuk
mengembangkan dan membina potensi yang ada pada orangorang tersebut dan
tetap memantau mereka setelah mereka mendapatkan pelatihan tersebut.
2. Mendata semua saranasarana pengobatan tradisional yang ada dan melakukan
kunjungan ke saranasarana pengobatan tradisional serta mencatat kegiatan apa
saja yang mereka lakukan di sarana sarana pengobatan tradisional tersebut.
3. Mendata siapa saja tenaga pengobat tradisional yang ada pada suatu wilayah dan
mengelompokkan mereka berdasarkan keahlian mereka.
310

311

DAFTAR PUSTAKA

1. Departemen Kesehatan RI: Pedoman Kerja Puskesmas; Upaya Pembinaan Pengobatan


Tradisonal. Jilid ke-2. Jakarta; 1999: hal 349 354.
2. Departemen Kesehatan RI. Direktorat Bina Peran Serta Masyarakat Dirjen Pembinaan
Kesehatan Masyarakat: Pemanfaatan Tanaman Obat Untuk Kesehatan Keluarga. Edisi
ke-3. Jakarta; 1996.
3. Departemen Kesehatan RI. Direktorat Bina Peran Serta Masyarakat Dirjen Pembinaan
Kesehatan Masyarakat : Buku Pedoman Praktis Akupresur. Jakarta; 1996.
4. http://www.informasi-obat.com/content. diakses tanggal 18 Juli 2011.
5. http://www.surabaya-ehealth.org/dkksurabaya/berita/pengobatan-tradisionalakupuntur. diakses tanggal 18 juli 2011.

312

UPAYA KESEHATAN PENUNJANG


LABORATORIUM

Penyusun :
Ktut Yoga Wira K (03004126)
Norfashiha Kamarudin (03006329)

313

BAB I
PENDAHULUAN

Dalam rangka mencapai tujuan pembangunan kesehatan untuk meningkatkan derajat


kesehatan masyarakat, telah dilakukan berbagai upaya pelayanan kesehatan masyarakat.
Upaya pelayanan kesehatan terbagi kepada tiga bagan penting yaitu upaya kesehatan wajib,
upaya kesehatan pengembangan dan upaya kesehatan penunjang.
Upaya kesehatan penunjangmerupakan upaya yang sangat penting

dalam rangka

memberikan pelayanan kesehatan pada masyarakat untuk menunjang upaya kesehatan wajib
dan pengembangan. Dengan

pemberian pelayanan kesehatan penunjangsecara cepat dan

tepat diharapkan sebagian besar masalah kesehatan masyarakat dapat

diatasi. Berbagai

pelayanan kesehatan penunjang diagnostik yang dilaksanakan oleh fasilitas pelayanan


kesehatan seperti laboratorium klinik dan laboratorium kesehatan juga pencitraan.
Laboratorium merupakan salah satu fasilitas medik yang disediakan sebagai
penunjang diagnosis penyakit. Laboratorium juga mempunyai fungsi sebagai tempat untuk
berbagai penelitian yang berhubungan dengan pembiakan media-media kuman penyakit,
karena itu lingkungan laboratorium menjadi salah satu tempat yang baik untuk
berkembangnya berbagai penyakit infeksi, antara lain HIV/AIDS.
Di Puskesmas Mampang, fasilitas pemeriksaan penunjang yang tersedia adalah
pemeriksaan laboratorium darah rutin, urin rutin, feces rutin dan kimia darah. Ultrasonografi
juga disediakan. Untuk pencitraan, tidak tersedia di Puskesmas Kecamatan Mampang karena
gedung puskesmasnya sedang direnovasi. Jadi lokasi puskesmas sekarang berada di sebuah
kontrakan yang tidak memungkinkan untuk menyediakan fasilitas rontgen.
314

BAB II
PENGERTIAN

Pelayanan pemeriksaan penunjang merupakan tindakan pemeriksaan kesehatan yang


diselenggarakan guna melengkapi data biologic pengguna jasa yaitu dalam rangka
menegakkan diagnosis, menentukan tindakan penyembuhan dan pemulihan, peningkatan
kesehatan dan pencegahan penyakit serta mengevaluasi hasil intervensi medik.1
Laboratorium (disingkat lab) adalah tempat riset ilmiah, eksperimen, pengukuran
ataupun pelatihan ilmiah dilakukan. Laboratorium biasanya dibuat untuk memungkinkan
dilakukannya kegiatan-kegiatan tersebut secara terkendali. Laboratorium ilmiah biasanya
dibedakan menurut disiplin ilmunya, misalnya laboratorium fisika, laboratorium kimia,
laboratorium biokimia, laboratorium komputer, dan laboratorium bahasa.
Laboratorium klinik atau laboratorium medis ialah laboratorium di mana berbagai macam tes
dilakukan pada spesimen biologis untuk mendapatkan informasi tentang kesehatanpasien.
Pada laboratorium kesehatan masyarakat, dapat dilakukan pemeriksaan seperti pemeriksaan
air minum, air bersih, air limbah, rektal swab pemeriksaan makanan dan minuman, bakteri air
dan usap alat yang bertujuan untuk mengetahui kebersihan/kesehatan dari makanan yang kita
konsumsi maupun peralatan masak yang digunakan.
Sedangkan untuk mikrobiologi dapat dilakukan pemeriksaan mikroskopis, kultur, sensitifitas
antibiotika, BTA, jamur dan pemeriksaan garam bertujuan diantaranya untuk mengetahui

315

pertumbuhan mikroorganisme dalam tubuh ( memastikan adanya infeksi bakteri/jamur),


menemukan antibiotika yang paling sesuai untuk mengatasi penyakit yang anda derita.2
Pelayanan laboratorium di puskesmas terdiri dari:
1. Pelayanan individual pengguna jasa yang berkunjung ke puskesmas
2. Pemeriksaan kelompok atau masyarakat di wilayah kerja

BAB III
TUJUAN
1. Tujuan umum
Didukungnya upaya peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, penyembuhan dan
pemulihan kesehatan yang meliputi deteksi dini, serta pemantauan dan evaluasi terapi
secara efisien dan efektif.
2. Tujuan khusus

a. Ditingkatkannya mutu pelayanan kesehatan perorangan dengan:

i.

Tercapainya diagnosis yang tepat melalui lengkapnya pemeriksaan yang dilakukan

ii. Diketahuinya hasil intervensi medik yang telah diberikan pada pengguna jasa
pelayanan kesehatan/pasien melalui perbandingan hasil pemeriksaan penunjang
sebelumnya dan sesudahnya.

b. Ditingkatkannya kegiatan laboratorium kesehatan di puskesmas, puskesmas


pembantu, puskesmas keliling, posyandu sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya.1

316

BAB IV
KEGIATAN DAN SASARAN

1. Pelayanan laboratorium untuk menunjang pelayanan kesehatan di dalam wilayah kerja

a. Mengumpulkan dan merujuk spesimen untuk diperiksa lebih lanjut terhadap:

i.

Sampel air dari sumber air yang dimanfaatkan oleh umum

ii. Spesimen tinja, untuk menemukan penyebab penyakit saluran pencernaan


iii. Spesimen untuk pemeriksaan kimia klinik sehubungan dengan penyakit-penyakit
yang merupakan masalah umum bagi masyarakat seperti: penyakit hati, penyakit
ginjal, gangguan metabolism dan penyakit kurang gizi.
iv. Spesimen-spesimen untuk keperluan kultur/biakan maupun tes sensitivitas.

317

v.

Serum, untuk keperluan tes antibodi guna menentukan penyakit-penyakit tertentu.

vi. Spesimen lain, misalnya kasus keracunan, program perlindungan akseptor KB.

b. Melaksanakan pemeriksaan laboratorium untuk mendukung program-program lain,


seperti:

i.

Penanggulangan Kejadian Luar Biasa

ii. Survei penyakit-penyakit tertentu

c. Dalam keadaan darurat/kondisi tertentu, melaksanakan rujukan spesimen secara


horizontal antar puskesmas di wilayahnya.

2. Pelayanan laboratorium untuk menunjang pelayanan medik terpadu di puskesmas

a. Pemeriksaan hematologi sederhana antara lain:

i.

Hemoglobin secara ahli

ii. Sediaan apus darah tepi: morfologi sel, hitung jenis lekosit, hitung retikulosit, selsel muda darah
iii. Pemeriksaan hitung eritrosit, hitung lekosit, hitung trombosit
iv. Pemeriksaan laju endap darah (LED)
v.

Pemeriksaan jumlah hematokrit

318

b. Pemeriksaan urine sederhana, antara lain:

i.

Pemeriksaan makroskopik urine

ii.

Pemeriksaan mikroskopik urine

iii.

Kimia urine seperti: protein, nitrat, bilirubin, urobilinogen dan glukosa semi
kuantitatif

iv.

Pemeriksaan kehamilan

c. Pemeriksaan tinja sederhana, antara lain:

i.

Pemeriksaan makroskopik tinja

ii. Pemeriksaan mikroskopik tinja


iii. Pemeriksaan parasitologi

d. Pemeriksaan mikrobiologi sederhana lainnya, antara lain yaitu:

i.

Infeksi parasit: malaria, filaria,skizotomia, trikhomonas vaginalis

ii. Infeksi spesifik: BTA sputum untuk TBC, BTA kerokan kulit untuk lepra, bakteri
gram (+), cairan uretra/secret vagina untuk GO
iii. Infeksi jamur superfisial: tinea versikolor, dermatofita, kandidiasis

e. Pemeriksaan laboratorium lainnya, antara lain:

319

i.

Pemeriksaan cairan serebrospinal: tes Nonne, tes Pandi

ii. Pemeriksaan cairan tubuh lainnya: tes Rivalta pada punksi pleura
3. Bila fasilitas dan tenaga memungkinkan dapat dilakukan pemeriksaan penunjang lainnya

a. Elektrokardiografi (EKG)
b. Rontgen foto (X-ray)
c. USG, dll

4. Evaluasi
Penilaian mutu penyelenggaraan
Sasaran dari semua kegiatan di puskesmas adalah semua pasien yang datang ke puskesmas
untuk berobat, juga masyarakat sekitar yang termasuk dalam wilayah kerja puskesmas.1

320

BAB V
PELAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS

Pelaksanaan kegiatan laboratorium di Puskesmas adalah:


1.Pelayanan laboratorium untuk menunjang pelayanan kesehatan di dalam wilayah kerja
a. Mengumpulkan dan merujuk specimen untuk diperiksa lebih lanjut terhadap:
a. Sampel air dari sumber air yang dimanfaatkan oleh umum
b. Specimen tinja, untuk menemukan penyebab penyakit saluran pencernaan
c. Specimen untuk pemeriksaan kimia klinik sehubungan dengan penyakitpenyakit yang merupakan masalah umum bagi masyarakat seperti: penyakit
hati, penyakit ginjal, gangguan metabolism dan penyakit kurang gizi.
d. Specimen-spesimen untuk keperluan kultur/biakan maupun tes sensitivitas.
e. Serum, untuk keperluan tes antibody guna menentukan penyakit-penyakit
tertentu.
321

f. Spesimen lain, misalnya kasus keracunan, program perlindungan akseptor KB.

b. Melaksanakan pemeriksaan laboratorium untuk mendukung program-program lain,


seperti:
a. Penanggulangan Kejadian Luar Biasa
b. Survei penyakit-penyakit tertentu

c. Dalam keadaan darurat/kondisi tertentu, melaksanakan rujukan specimen secara


horizontal antar puskesmas di wilayahnya.

2. Pelayanan laboratorium untuk menunjang pelayanan medik terpadu di puskesmas


d. Pemeriksaan hematologi sederhana antara lain:
i.

Hemoglobin secara ahli

ii. Sediaan apus darah tepi: morfologi sel, hitung jenis lekosit, hitung
retikulosit, sel-sel muda darah
iii. Pemeriksaan hitung eritrosit, hitung lekosit, hitung trombosit
iv. Pemeriksaan laju endap darah (LED)
v.

Pemeriksaan jumlah hematokrit

e. Pemeriksaan urine sederhana, antara lain:


i.

Pemeriksaan makroskopik urine

ii. Pemeriksaan mikroskopik urine


iii. Kimia urine seperti: protein, nitrat, bilirubin, urobilinogen dan glukosa
semi kuantitatif
322

iv. Pemeriksaan kehamilan


f. Pemeriksaan tinja sederhana, antara lain:
i.

Pemeriksaan makroskopik tinja

ii. Pemeriksaan mikroskopik tinja


iii. Pemeriksaan parasitologi
g. Pemeriksaan mikrobiologi sederhana lainnya, antara lain yaitu:
i.

Infeksi parasit: malaria, filarial,skizotomia, trikhomonas vaginalis

ii. Infeksi spesifik: BTA sputum untuk TBC, BTA kerokan kulit untuk
lepra, bakteri gram (+), cairan uretra/secret vagina untuk GO
iii. Infeksi jamur superficial: tinea versikolor, dermatofita, kandidiasis

3. Pemeriksaan penunjang lainnya


a. USG

4. Evaluasi
i.

Penilaian mutu penyelenggaraan

Pelaksana kegiatan di Puskesmas dilakukan adalah patolog, asisten patolog, manajer


laboratorium, penasehat bagian, teknolog utama, teknolog medis, histoteknolog, teknisi
laboratorium medis, asisten laboratorium medis, ahli flebotomi, transkripsionis, dan prosesor
specimen.
Jika dibandingkan dengan pelaksanaan laboratorium di puskesmas kelurahan, kegiatan di
puskesmas kelurahan tidaklah selengkap kegiatan laboratorium di puskesmas

323

kecamatan.Pada laboratorium puskesmas kelurahan hanya tersedia pemeriksaan darah


lengkap, pemeriksaan hematologi sederhana dan pemeriksaan urine.

Kegiatan

Sasaran

Tempat

Waktu

Pelaksana

324

1. M e n g u m p u l k a n - S p e s i m e n d i Laboratorium J

m patolog, asisten

d a n m e r u j u k a m b i l d a r i puskesmas

p e l a y a n a n patolog, manajer

specimen untuk penderita

puskesmas

laboratorium,

d ip er ik s a leb ih -

penasehat

lanjut terhadap : Penanggulangan

bagian, teknolog

Spesimen tinja, Kejadian Luar

utama, teknolog

Spesimen untuk Biasa

m e d i s ,

pemeriksaan kimia - S u r v e i

histoteknolog,

klinik sehubungan p e n y a k i t -

t e k n i s i

dengan penyakit- p e n y a k i t

laboratorium

p e n y a k i t y a n g tertentu

medis, asisten

m e r u p a k a n

laboratorium

masalah umum

medis, ahli

bagi masyarakat

flebotomi,

seperti: penyakit

transkripsionis,

hati, penyakit

dan prosesor

ginjal, gangguan

specimen.

metabolism dan
penyakit kurang
gizi. Spesimenspesimen untuk
keperluan kultur/
biakan maupun tes
sensitivitas,
Serum, untuk
keperluan tes
antibody guna
menentukan
penyakit- penyakit
tertentu.
Spesimen lain,
misalnya kasus
325

2. Rujukan spesimen

Untuk specimen P u s k e s m a s J
y

g lain

m Dokter

d i pelayanan

pemeriksaannya wilayahnya

puskesmas

tidak ada di
Puskesmas
3. USG

P a d a p a s i e n Di puskesmas

m Dokter spesialis

hamil

p e l a y a n a n obygn
puskesmas

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
326

Kesimpulan
Tersedianya laboratorium klinis di setiap puskesmas diharapkan dapat menunjang
kegiatan pelayanan kesehatan yakni dalam membantu penegakan diagnosis. Laboratorium
juga mempunyai fungsi sebagai tempat untuk berbagai penelitian yang berhubungan dengan
pembiakan media-media kuman penyakit, karena itu lingkungan laboratorium menjadi salah
satu tempat yang baik untuk berkembangnya berbagai penyakit infeksi.
Saran
1. Diharapkan mutu pelayanan kesehatan perorangan dapat ditingkatkan dengan:
ii. Tercapainya diagnosis yang tepat melalui lengkapnya pemeriksaan yang
dilakukan
iii. Diketahuinya hasil intervensi medik yang telah di berikan pada pengguna jasa
pelayanan kesehatan melalui perbandingan hasil pemeriksaan penunjang
sebelumnya dan sesudahnya.
2. Diharapkan kegiatan laboratorium kesehatan di puskesmas, puskesmas pembantu,
puskesmas keliling, posyandu dapat berkembang sesuai dengan kondisi dan
kebutuhannya.
3. Meningkatnya mutu pelayanan laboratorium di puskesmas setempat.
4. Meningkatnya frekuensi pengevaluasian mutu penyelenggaraan

327

DAFTAR PUSTAKA

1. Departemen Kesehatan RI: Pedoman Kerja Puskesmas; Program Penunjang


Puskesmas. Jilid ke-2. Jakarta; 1999: 349 354.
2. Departemen Kesehatan RI. Direktorat Bina Peran Serta Masyarakat Dirjen Pembinaan
Kesehatan Masyarakat : Penunjang Medik. Januari 1, 2010 [cited 2011 July 20]
Av a i l a b l e

at

http://buk.depkes.go.id/index.php?

option=com_docman&task=cat_view&gid=55&Itemid=93

328

UPAYA KESEHATAN PENUNJANG


PELAYANAN (SP2TP SISTEM
PENCATATAN DAN PELAPORAN
TERPADU PUSKESMAS)

Penyusun:
Rina Apriani(03004197)
Raymond(03005183)

BAB I
PENDAHULUAN
329

Dalam era pembangunan, keberadaan data dan informasi memegang peran yang
sangat penting.

Data yg benar-benar akurat, terpercaya, teratur, berkesinambungan, tepat

waktu dan mutakhir, sangat diperlukan dalam pengelolaan program dan proyek serta kegiatan
yang dilakukan.

Untuk dapat merencanakan dan memantau serta evaluasi pelaksanaan

program dengan baik, sangat diperlukan tersedianya seperangkat data dan informasi yang
baik pula.
Pembangunan upaya kesehatan masyarakat dilakukan di seluruh pelosok tanah air,
melalui puskesmas termasuk puskesmas tempat tidur, puskesmas pembantu, puskesmas
keliling dan bidan di desa serta RS dan laboratorium di berbagai tingkatan.

Kelompok

institusi terdepan tersebut tidak sekedar pemberi pelayanan kesehatan saja, namun juga
melaksanakan berbagai program pembangunan kesehatan masyarakat.

Kegiatan bersifat

promotif, preventif, kuratif, bahkan terkadang sampai rehabilitatif. Saat ini ada 18 macam
kegiatan pokok puskesmas. Pencatatan dan pelaporan terpadu puskesmas merupakan salah
satu kegiatan tersebut. Semua kegiatan yang menjadi tugasnya, dicatat dan dilaporkan secara
teratur, tepat waktu, dan dengan data yang benar. Untuk itu disusun sistem pencatatan dan
pelaporan terpadu puskesmas (SP2TP) yang disahkan dengan keputusan menkes no.63/
menkes/II/1981 dan petunjuk pelaksanaan direktur jendral binkesmas no.143/binkesmas/DJ/
II/1981.
Dengan telah ditetapkannya UU nomor 22 tentang Otonomi Daerah, dimana daerah
harus mengembangkan dan melakukan sendiri upaya kesehatan, maka Sistem Informasi
Kesehatan di Kabupaten/Kota akan lebih penting peranannya. Sistem ini harus mampu
menghasilkan data atau informasi yang memadai untuk menunjang perencanaan,
pelaksanaan, pengendalian serta untuk evaluasi berbagai kegiatan kesehatan tingkat
kabupaten/kota.

I.I LATAR BELAKANG

330

Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP) merupakan instrumen


vital dalam sistem kesehatan. Informasi tentang kesakitan, penggunaan pelayanan kesehatan
di puskesmas, kematian, dan berbagai informasi kesehatan lainnya berguna untuk
pengambilan keputusan dan pembuatan kebijakan di tingkat kabupaten atau kota maupun
kecamatan.
Sistem Pencatatan dan Pelaporan Puskesmas mencakup 3 hal: (1)pencatatan,
pelaporan, dan pengolahan; (2) analisis; dan (3) pemanfaatan. Pencatatan hasil kegiatan oleh
pelaksana dicatat dalam buku-buku register yang berlaku untuk masing-masing program.
Data tersebut kemudian direkapitulasikan ke dalam format laporan SP2TP yang sudah
dibukukan.
Koordinator SP2TP di puskesmas menerima laporan-laporan dalam format buku tadi
dalam 2 rangkap, yaitu satu untuk arsip dan yang lainnya untuk dikirim ke koordinator
SP2TP di Dinas Kesehatan Kabupaten. Koordinator SP2TP di Dinas Kesehatan Kabupaten
meneruskan ke masing-masing pengelola program di Dinas Kesehatan Kabupaten. Dari
Dinas Kesehatan Kabupaten, setelah diolah dan dianalisis dikirim ke koordinator SP3 di
Dinas Kesehatan Provinsi dan seterusnya dilanjutkan proses untuk pemanfaatannya.
Frekuensi pelaporan sebagai berikut: (1) bulanan; (2) tribulan; (3) tahunan. Laporan
bulanan mencakup data kesakitan, gizi, KIA, imunisasi, KB, dan penggunaan obat-obat.
Laporan tribulanan meliputi kegiatan puskesmas antara lain kunjungan puskesmas, rawat
tinggal, kegiatan rujukan puskesmas pelayanan medik kesehatan gigi. Laporan tahunan terdiri
dari data dasar yang meliputi fasilitas pendidikan, kesehatan lingkungan, peran serta
masyarakat dan lingkungan kedinasan, data ketenagaan puskesmas dan puskesmas pembantu.
Pengambilan keputusan di tingkat kabupaten dan kecamatan memerlukan data yang
dilaporkan dalam SP2TP yang bernilai, yaitu data atau informasi harus lengkap dan data
tersebut harus diterima tepat waktu oleh Dinas Kesehatan Kabupaten, sehingga dapat
dianalisis dan diinformasikan.
Laporan yang diperoleh Dinas Kesehatan Kabupaten diduga seringkali terlambat,
sehingga data yang diperoleh tidak dapat memberikan informasi yang bermanfaat untuk
pengambilan keputusan.
Balai Pelatihan Kesehatan, menjelaskan bahwa puskesmas merupakan ujung tombak
pelayanan kesehatan pemerintah. Puskesmas memiliki wilayah kerja dan berhubungan
331

langsung dengan keluarga di rumahrumah mereka. Bila terjadi sesuatu yang kurang
menguntungkan dalam masyarakat yang menyangkut masalah kesehatan, maka puskesmas
yang menjadi sasaran utamanya. Meskipun puskesmas sebagai dasar pelayanan kesehatan
bagi masyarakat, namun segala sesuatu di puskesmas sangat terbatas. Terbatas dalam biaya
maupun sarananya, sehingga mengakibatkan keterlambatan dalam pelaporan SP2TP.

I.II PERMASALAHAN

Sejak pelaksanaan SP2TP dari tahun 1981, berbagai permasalahan dihadapi antara
lain banyaknya variabel yang harus dilaporkan sehingga kehadiran Sistem Pencatatan dan
Pelaporan di Puskesmas dilihat sebagai suatu hal yang cukup membebani petugas puskesmas.
Berbagai upaya telah dilakukan guna memecahkan permasalahan yang ada, sampai akhirnya
dikeluarkan Keputusan Direktur Jendral Pembinaan Kesehatan Masayrakat No.590/BM/DJ/
Info/V/96 tentang penyederhanaan Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas.
Sesuai dengan keputusan ini, diperlukan pedoman SP2TP untuk pegangan bagi pelaksana di
berbagai tingkat administrasi, terutama bagi petugas puskesmas sebagai sumber data.
Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP) didalam
pelaksanaannya juga masih terbatas pada data yang merupakan hasil dari interaksi antara
masyarakat dengan fasilitas kesehatan. SP2TP dapat juga membantu dalam perencanaan
program-program kesehatan di puskesmas. Namun dalam kenyataannya belum berjalan
seperti yang harapkan. Evaluasi dilakukan untuk mengkaji pelaksanaan sistem pencatatan dan
pelaporan di Puskesmas, menemukan masalah-masalah yang dihadapi baik dari aspek teknis
dan non teknis.

332

BAB II
PENGERTIAN
Beberapa pengertian sebagai dasar dalam penyelenggaraan Sistem Pencatatan dan
Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP) antara lain:
SP2TP adalah kegiatan pencatatan dan pelaporan data imum, sarana, tenaga, dan
upaya pelayanan kesehatan di Puskesmas yang telah disederhanakan sesuai Keputusan
Direktur Jenderal Pembinaan Kesehatan Masyarakat No. 590/BM/DJ/Info/V/96 tentang
Penyederhanaan SP2TP.
Sistem adalah satu kesatuan yang terdiri dari komponen yang saling berkaitan,
berintegrasi dan mempunyai tujuan tertentu.
Terpadu diartikan sebagai gabungan berbagai macam kegiatan upaya pelayanan
kesehatan Puskesmas yang tidak tumpang tindih, sehingga dapat dihindarkan pencatatan dan
pelaporan lain, yang akan memperberat beban kerja petugas Puskesmas.
II.1 Ruang Lingkup SP2TP
Pelaksanaan SP2TP, menganut konsep wilayah kerja Puskesmas. Oleh karena itu
mencakup semua kegiatan yang dilakukan oleh Puskesmas (Puskesmas Pembantu,
Puskesmas Keliling, termasuk Bidan di desa). Jenis data yang dikumpulkan dan dicatat dalam
SP2TP adalah seluruh kegiatan di Puskesmas yang meliputi data:
1. Umum dan demografi di wilayah kerja Puskesmas
2. Ketenagaan di Puskesmas
3. Sarana yang dimiliki Puskesmas
4. Kegiatan pokok Puskesmas yang dilakukan di dalam dan di luar gedung Puskesmas
Variabel atau indikator yang dilaporkan adalah data/informasi yang sensitif, mudah
diperoleh, spesifik dan sederhana, serta bermanfaat untuk pemantauan dan evaluasi, yang
dapat menggambrkan aksesibilitas, masalh, manajemen dan dampak program. Diharapkan
pencatatan di Puskesmas dan laporan yang diterima di Dinas Kesehatan Dati II, Dinas
Kesehatan Dati I, Kanwil Depkes serta Pusat, diolah dan dimanfaatkan oleh pengambil
keputusan dan penanggung jawab program guna meningkatkan pelaksanaan programnya.

333

Laporan SP2TP mempergunakan system tahun kalender. Periode laporan dari Puskesmas
ke Dati II adalah bulanan dan tahunan. Periode laporan dari Dati II ke Dati I dan Pusat adalah
triwulan.
II.2 Pengorganisasian
Dalam pelaksanaan SP2TP pengorganisasian di tingkat Puskesmas adalah sebagai
berikut.
1. Pengorganisasian
a. Penanggung jawab

: Kepala Puskesmas

b. Koordinator

: Petugas yang ditunjuk Kepala Puskesmas

c. Anggota

: Pelaksana Kegiatan di Puskesmas

2. Tugas Penanggung Jawab SP2TP


a. Kepala Puskesmas bertanggung jawab atas pelaksaan Sistem Pencatatan dan
Pelaporan Terpadu di Puskesmas.
b. Memberikan bimbingan kepada coordinator SP2TP dan para pelaksan kegiatan
di Puskesmas.
3. Tugas Koordinator SP2TP
a. Mengumpulkan laporan masing-masing pelaksana kegiatan
b. Bersama dengan para pelaksana kegiatan membuat laporan bulanan SP2TP
dan mengirimkan laporan tersebut ke Dinas Kesehatan Dati II paling lambat
tanggal 10 bulan berikutnya
c. Bersama dengan para pelaksana kegiatan membuat laporan tahunan SP2TP
dan mengirimkan laporan tersebut ke Dinas Kesehatan Dati II paling lambat
tanggal 31 Januari tahun berikutnya
d. Menyimpan arsip laporan SP2TP dari masing-masing pelaksana kegiatan
e. Bertanggung jawab atas kelancaran pelaksanaan SP2TP kepada Kepala
Puskesmas

334

f. Mempersiapkan pertemuan berkala setiap 3 bulan yang dipimpin oleh Kepala


Puskesmas dengan pelaksana kegiatan untuk menilai pelaksaan kegiatan
SP2TP
4. Tugas Pelaksana Kegiatan
a. Mencatat setiap kegiatan pada kartu individu dan register yang ada
b. Mengadakan bimbingan terhadap Puskesmas Pembantu dan Bidan di desa
c. Melakukan rekapitulasi data dari hasil pencatatan dan laporan Puskesmas
Pembantu serta Bidan di desa menjadi laporan kegiatan yang menjadi
tanggung jawabnya. Hasil dari rekapitulasi ini merupakan bahan untuk
mengisi/membuat laporan SP2TP
d. Setiap tanggal 5 mengisi/membuat laporan SP2TP dari hasil kegiatan masingmasing dalam 2 rangkap dan disampaikan kepada Koordinator SP2TP
Puskesmas. Dengan rincian satu rangkap unyuk arsip Koordinator SP2TP
Puskesmas dan satu rangkap oleh Koordinator SP2TP Puskesmas disampaikan
ke Dinas Kesehatan Dati II
e. Mengolah dan memanfaatkan data hasil rekapitulasi untuk tindak lanjut yang
diperlukan dalam rangka meningkatkan kinerja kegiatan kegiatan yang
menjadi tanggung jawabnya.
f. Bertanggung jawab atas kebenaran isi laporan kegiatannya

BAB III
TUJUAN UMUM DAN TUJUAN KHUSUS
335

III.I TUJUAN UMUM


Didapatnya semua data hasil kegiatan puskesmas (termasuk Puskesmsa
dengan tempat tidur, Puskesmas Pembantu, Puskesmas Keliling, Bidan di desa dan
POSYANDU) dan data yang berkaitan serta dilaporkannya data tersebut kepada
jenjang administrasi diatasnya sesuai kebutuhan secara benar, berkala dan teratur,
guna menunjang pengelolaan upaya kesehatan masyarakat sehingga meningkatnya
kualitas manajemen Puskesmas secara lebih berhasil guna dan berdaya guna melalui
pemanfaatan secara optimal data SP2TP dan informasi lain yang menunjang

III.II TUJUAN KHUSUS


1. Tercatatnya semua data hasil kegiatan Puskesmas dan data yang berkaitan, dalam
formulir yang telah ditentukan secara benar, berkelanjutan dan teratur.
2. Terlaporkannya data tersebut kepada jenjang administrasi yang lebih atas sesuai
kebutuhan, dengan mempergunakan formulir yang telah ditetapkan, secara benar,
berkelanjutan dan teratur.
3. Terolahnya data tersebut menjadi informasi di Puskesmas dan setiap jenjang
administrasi diatasnya, sehingga bermanfaat untuk mengetahui permasalahan
kesehatan yang ada di masyarakat serta merumuskan cara penanggulangannya secara
tepat.
4. Diperolehnya kesamaan pengertian tentang SP2TP, meliputi definisi operasional, tata
cara pengisian formulir, pengolahan data menjadi informasi dan mekanisme
pelaporannya.
5. Tertatanya mekanisme pencatatan di tingkat puskesmas, Puskesmas Pembantu, dan
bidan di desa.
6. Tertatanya alur data di tingkat Puskesmas.
7. Mantapnya pelaksanaan SP2TP di semua jenjang administrasi, sehingga dapat berhasil
guna dan berdaya guna dalam pengelolaan upaya kesehatan masyarakat.
336

8. Dasar penyusunan perencanaan Tk. Puskesmas.


9. Dasar penyusunan rencana pelaksanaan kegiatan pokok puskesmas (Lokakarya mini)
10. Sebagai dasar pemantauan dan evaluasi pelaksanaan kegiatan pokok puskesmas
11. Untuk mengatasi berbagai kegiatan hambatan pelaksanaan kegiatan pokok puskesmas

337

BAB IV
KEGIATAN DAN SASARAN

IV.I.PENCATATAN
Kegiatan pokok puskesmas baik yang dilakukan di dalam gedung maupun di
luar gedung puskesmas, puskesmas tempat tidur dan puskesmas pembantu serta bidan
di desa, harus dicatat. Dengan demikian perlu adanya mekanisme pencatatan yang
baik, formulir yang cukup serta cara pengisian yang benar dan teliti.
1.Formulir pencatatan
Formulir pencatatan SP2TP terdiri dari:
a. Rekam Kesehatan Keluarga (RKK) atau yang disebut Family Folder.
Yang dimaksud RKK adalah himpunan kartu-kartu individu suatu keluarga yang
memperoleh pelayanan kesehatan di puskesmas. Adapun kegunaan RKK adalah:
-

Untuk mengikuti keadaan kesehatan di suatu keluarga

Untuk mengetahui gambaran penyakit di suatu keluarga

Penggunaan RKK diutamakan pada keluarga yang anggotanya mengidap salah


satu penyakit atau kondisi antara lain:
-

Salah satu anggota keluarga adalah penderita TB paru

Salah seorang anggota kelurga adalah penderita kusta


338

Keluarga risiko tinggi yaitu ibu hamil risiko tinggi, neonatus risiko tinggi
(BBLR), bayi kurang energi kronis (KEK)

Salah seorang anggota keluarga adalah penderita gangguan jiwa

Keluarga yang menggunakan RKK diberi kartu tanda pengenal keluarga (KTPK)
yang merupakan alat bantu untuk memudahkan pencarian berkas atau file
keluarga yang telah terdaftar/mendaftarkan pelayanan pada saat meminta
pelayanan ulang di puskesmas

b. Kartu Tanda Pengenal (KTP)


KTP diberikan kepada individu yang berkunjung/berobat ke puskesmas dan
merupakan alat bantu untuk memudahkan pencarian berkas atau file bagi individu
yang telah terdaftar/mendapat pelayanan pada saat meminta pelayanan ulang di
puskesmas.
Khusus untuk akseptor KB, penyakit kusta dan TB paru menggunakan KTP
khusus yaitu kartu KB, kartu penderita kusta dan kartu penderita TB paru, atas
namanya sendiri. Maksud pemberian kartu ini adalah apabila yang bersangkutan
pindah maka kartu dan rekam kesehatannya atau berkasnya dibawa pindah (untuk
memudahkan/mengetahui pelayanan yang telah diberikan atau didapatkan oleh
yang bersangkutan)

c. Kartu Rawat Jalan atau Kartu Rekam Medik Pasien


Merupakan alat untuk mencatat identitas dan status pasien yang berkunjung ke
puskesmas untuk memperoleh pelayanan rawat jalan.

d. Kartu Rawat Tinggal atau Kartu Rekam Medik Pasien


Merupakan alat untuk mencatat identitas dan status pasien yang dirawat di
puskesmas yang mempunyai ruang rawat inap.

339

e. Kartu Penderita Kusta


Kartu ini khusus untuk penderita kusta yang berisi identitas penderita kusta
yang dilayani di gedung puskesmas.

f. Kartu Indeks Penyakit Khusus Kusta


Merupakan alat untuk mengetahui riwayat dan perkembangan penyakit kusta.

g. Kartu Penderita TB Paru


Kartu ini khusus untuk penderita TB paru yang berisi identitas TB paru yang
dilayani di gedung puskesmas.

h. Kartu Indeks Khusus TB Paru


Merupakan alat untuk mengetahui keadaan dan pekembangan penyakit TB
paru pasien yang dilayani di gedung puskesmas.

i. Kartu Ibu
Merupakan alat untuk mengetahui identitas dan status kesehatan serta riwayat
kehamilan ibu sampai kelahiran bayinya.

j. Kartu Anak
Adalah alat untuk mengetahui identitas, status kesehatan dan pelayanan baik
pelayanan preventif-promotif maupun pengobatan dan rehabilitatif yang telah
diberikan kepada balita dan anak prasekolah.

k. KMS balita
Merupakan alat untuk mengetahui identitas dan mencatat pertumbuhan balita
dan pelayanan yang telah diperoleh oleh balita tersebut.
340

l. KMS anak sekolah


Merupakan alat untuk mengetahui identitas dan mencatat pertumbuhan anak
sekolah dan pelayanan yang telah diperoleh oleh anak sekolah tersebut.

m. KMS ibu hamil


Merupakan alat untuk mengetahui identitas dan mencatat perkembangan
kesehatan ibu hamil dan pelayanan kesehatan yang telah diterima yang
bersangkutan.

n. KMS usila
Adalah alat untuk mencatat kesehatan usia lanjut secara pribadi baik fisik
maupun psiko-sosialnya, sehingga dapat digunakan untuk memantau
kesehatannya,

menemukan penyakit pada usia lanjut secara dini dan menilai

kemajuan kesehatan usia lanjut.

o. Kartu Tumbuh Kembang Balita


Adalah alat untuk mencatat tumbuh kembang balita, sehingga apabila terdapat
kelainan dapat dideteksi sedini mungkin.

p. Kartu Rumah
Adalah alat untuk mengetahui dan mengikuti keadaan sanitasi lingkungan
perumahan.

q. Register
341

Adalah formulir untuk mencatat/merekap data kegiatan di dalam dan di luar


gedung puskesmas, yang telah dicatat di kartu-kartu dan catatan lainnya. Jenisjenis register dimaksud adalah:
-

Register Nomor Indeks Pengunjung Puskesmas

Register Kunjungan

Register Rawat Jalan

Register Rawat Inap

Register KIA

Register Kohort Ibu

Register Kohort Balita

Register Deteksi Tumbuh Kembang

Register Gizi

Register Kapsul Minyak Beryodium

Register Pengamatan Penyakit Menular

Register Kusta

Register Pemeriksaan Kontak Penderita Kusta

Register Pemeriksaan Anak Sekolah (untuk penyakit kusta)

Register Malaria

Register PES

Register Antrax

Register Rabies

Register Kohort TB Paru

Register Kasus DBD

Register Pemberantasan Sarang Nyamuk DBD

Register Acute Flaccid Paralysis (AFP)

Register Tetanus Neonatorum


342

Register Frambusia

Register Filaria

Buku Inventarisasi Peralatan Puskesmas

Register Perawatan Gawat Darurat Puskesmas

Register Kohort Pembinaan Keluarga

Register Rawat Jalan Gigi

Register Laboratorium

Register PKM

Register PSM

Register Data Dasar Kesehatan Lingkungan

Register Kegiatan Kesehatan Lingkungan

Rekapitulasi Kegiatan Penjaringan

Register Kegiatan UKS

Register Data Dasar Sekolah

Register Kegiatan Posyandu

Register Pelayanan Kesehatan Olahraga

Register Pembinaan Kelompok/Klub Olahraga

Register Perawatan Kesehatan Masyarakat Untuk Keluarga dan Individu


(Reg.A)

Register Perawatan Kesehatan Masyarakat untuk Kelompok/Masyarakat


(Reg.B)

2. Mekanisme pencatatan
Pada prinsipnya seorang pasien yang berkunjung pertama kali atau kunjungan
ulang ke Puskesmas harus melalui loket untuk mendapatkan Kartu Tanda Pengenal
atau mengambil berkasnya dari petugas loket. Pasien tersebut disalurkan pada unit
pelayanan yang dituju. Apabila pasien mendapatkan pelayanan kesehatan di luar
343

gedung Puskesmas, maka pasien tersebut akan dicatat dalam register yang sesuai
dengan pelayanan yang diterima. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat bagan sebagai
berikut:

MEKANISME PENCATATAN DI PUSKESMAS

LOKET

UNIT PELAYANAN

D
A
L
A
M

- RKK termasuk kartu


status
- KTP
- Registrasi kunjungan
- Kartu KB

REGISTERREGISTER
PELAYANAN
DALAM
GEDUNG

TINDAK LANJUT

RUJUKAN

- Register No. Indeks

E
D
U
N
G

344

L
U
A
R
G
E

REGISTER-REGISTER
PELAYANAN DI LUAR
GEDUNG

BANK DATA PUSKESMAS


PENGOLAHAN/PENYAJIAN
PENYUSUNAN LAPORAN

D
U
N
G

IV.II PELAPORAN
Pelaporan terpadu Puskesmas menggunakan tahun kalender yaitu deri
bulan Januari sampai dengan Desember dalam tahun yang sama.
1.

Formulir Laporan Puskesmas ke Dati II

Laporan Bulanan

a.

Data Kesakitan (LB.1)

b.

Data Obat-obatan (LB.2)

c.

Gizi, KIA, Imunisasi dan Pengamatan Penyakit Menular (LB.3)

d.

Data Kegiatan Puskesmas (LB.4)

Kegiatan Puskesmas meliputi: Kunjungan Puskesmas, Rawat Tinggal, Perawatan


Kesehatan Masyarakat, Pelayana Medik Dasar Kesehatan Gigi, Pelayanan JPKM,
Kesehatan Sekolah, Kesehatan Olah Raga, PKM, Kesehatan Lingkungan dan
Laboratorium.

345

Laporan Sentinel

Bentuk dari laporan sentinel adalah:


a.

Laporan bulanan Sentinel (LB1S)

Laporan ini memuat data penderita penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi
(PD3I), penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan diare, menurut umur dan
status imunisasi.
b.

Laporan bulanan Sentinel (LB2S)

Laporan ini memuat data KIA, Gizi, Tetatus Neonatorum dan penyakit akibat kerja.
Hanya Puskesmas dengan ruang rawat inap (Puskesmas RRI) yang membuat LB2S.

Laporan Tahunan

Laporan ini mencakup:


a.

Data Dasar Puskesmas (LT-1)

b.

Data Kepegawaian (LT-2)

c.

Data Peralatan (LT-3)

2.

Frekuensi Laporan dari Puskesmas ke Dati II

a.

Laporan bulanan LB1, LB2, LB3, dan LB4, dilakukan setiap bulan dan paling

lambat tanggal 10 bulan berikutnya dikirim ke Dinas Kesehatan Dati II.


b.

Laporan bulanan Sentinel LB1S dan LB2S setiap tanggal 10 bulan berikutnya

dikirimkan ke Dinas Kesehatan Dati II, Dati I dan Pusat.


c.

Laporan tahunan (LT-1, LT-2, dan LT-3) dirimkan selambat-lambatnya tanggal

31 Januari tahun berikutnya.


3.

Mekanisme Pelaporan Tingkat Puskesmas

a.

Laporan dari Puskesmas Pembantu dan Laporan dari Bidan di desa

disampaikan ke pelaksana kegiatan di Puskesmas

346

b.

Pelaksana kegiatan merekapitulasi data yang dicatat baik did ala gedung

maupun di luar gedung serta laporan yang diterima dari Puskesmas Pembantu dan
Bidan di desa
c.

Hasil rekapitulasi oleh pelaksana kegiatan demasukkan ke formulir laporan

dalam 2 rangkap, untuk disampaikan kepada koordinator SP2TP


d.

Hasil rekapitulasi oleh pelaksana kegiatan diolah dan dimanfaatkan untuk

tindak lanjut yang diperlukan dalam rangka meningkatkan kinerja kegiatan yang
menjadi tanggung jawabnya.

347

BAB V
PELAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS
DI TINGKAT KECAMATAN&KELURAHAN

SP2PT yaitu sistem pencatatan dan pelaporan terpadu Puskesmas sesuai


dengan SK Dirjen Binkesmas NO.590/BM/DJ/info/V/96 Tentang Penyederhanaan Sistem
Pencatatan dan Pelaporan terpadu Puskesmas yang mulai berlaku tanggal 10 Mei 1996.
Adapun isi keputusan itu:
1. Pencatatan kegiatan PKM
2. Pelaporan Puskesmas

Sedangkan untuk pencatatan ada 2 yaitu diluar gedung dan di dalam gedung:
a. Pencatatan didalam gedung semua kegiatan yang dilaksanakan di dalam gedung itu
sendiri
b. Diluar gedung kegiatan yang berhubungan dengan Posyandu misalnya Posyandu,CHN
dll.

Sedangkan untuk pelaporannya terdiri dari:


a. Laporan bulanan
b. Laporan tahunan

Laporan bulanan terdiri dari:


1. Formulir LB 1 Penyakit
2. Formulir LB 2 Obat
3. Formulir LB 3 Gizi,KIA, dan imunisasi
4. Formulir LB 4 Untuk data kunjungan kegiatan puskesmas

348

Laporan tahunan terdiri dari:


1. Formulir LT 1 untuk data dasar PKM
2. Formulir LT 2 untuk data kepegawaian
3. Formulir LT 3 untuk data peralatan Puskesmas

Tata cara pelaporan:


a. Data yang dihimpun dalam formulir LB 1 s/d LB 4 dilaporkan secara bulanan selambatlambatnya tanggal 5 bulan berikutnya dibuat rangkap 2.
b. Data yang dilaporkan dari puskesmas mencakup hasil kegiatan PKM yang dilaksanakan
selama 1 bulan

Tim SP2PT di PKM:


1. Penanggung jawab
2. Koordinator
3. Anggota

Penanggung jawab:
Yaitu Kepala Bagian Data dan Program yang bertanggungjawab atas pelaksanaan SP2PT di
Puskesmas dan memberikan bimbingan kepada koordinator SP2PT dan para pelaksana
kegiatan di PKM

Koordinator:
Orang yang ditunjuk oleh Kepala Bagian Data dan Program tugasnya yaitu:
1. Mengumpulkan laporan dari masing-masing pelaksana kegiatan

349

2. Membuat laporan bulanan dan tahunan


3. Menyimpan arsip SP2PT dari masing-masing pelaksana kegiatan
4. Bertanggungjawab kepada kepala PKM atas kelancaran pelaksanaan SP2PT
5. Mempersiapkan pertemuan setiap 3 bulan sekali, untuk menilai hasil kegiatan SP2PT
Anggota:
Masing-masing pelaksana Kegiatan PKM merupakan anggota SP2PT PKM dan berkewajiban
yaitu:
1. Mencatat setiap kegiatan yang ada di PKM
2. Melakukan bimbingan tekhnis
3. Melakukan rekapitulasi dari hasil pencatatan dan pelaporan
4. Membuat laporan setiap tanggal/akhir bulan

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

VI.1 KESIMPULAN
Sistem Pencatatan dan Pelaporan Puskesmas mencakup 3 hal: (1)pencatatan,
pelaporan, dan pengolahan; (2) analisis; dan (3) pemanfaatan. Pencatatan hasil kegiatan oleh
pelaksana dicatat dalam buku-buku register yang berlaku untuk masing-masing program.
Data tersebut kemudian direkapitulasikan ke dalam format laporan SP2TP yang sudah
dibukukan.
Dalam pelaksanaan SP2TP pengorganisasian di tingkat Puskesmas adalah sebagai
berikut: penanggung jawab adalah Kepala Puskesmas, Koordinator

adalah Petugas yang

ditunjuk Kepala Puskesmas, Anggota adalah Pelaksana Kegiatan di Puskesmas yang


mempunyai tugasnya masing-masing.
350

Kegiatan pencatatan kegiatan di Puskesmas Mampang ada 2 yaitu diluar gedung dan
di dalam gedung yaitu Pencatatan didalam gedung (semua kegiatan yang dilaksanakan di
dalam gedung itu sendiri) dan diluar gedung (kegiatan yang berhubungan dengan Posyandu
misalnya Posyandu,CHN dll)

Sedangkan untuk pelaporannya terdiri dari laporan bulanan yang dilaporkan secara
bulanan selambat-lambatnya tanggal 5 bulan berikutnya dan laporan tahunan.

VI.2 SARAN
Meningkatkan kualitas SDM tenaga kesehatan agar semua data hasil kegiatan puskesmas
dapat tercatat dalam formulir yang telah ditentukan secara benar, berkelanjutan dan
teratur.
Mengadakan evaluasi rutin terhadap masalah teknis maupun non teknis dalam
pelaksanaan SP2TP

Didapatkannya data dan bisa dilaporkan kepada jenjang administrasi yang lebih atas
sesuai kebutuhan, dengan mempergunakan formulir yang telah ditetapkan, secara benar,
berkelanjutan dan teratur.

351

DAFTAR PUSTAKA
1. Departemen Kesehatan RI: Pedoman Sistem Informasi Manajemen Puskesmas; Sistem
Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas. 1-17. Jakarta (1997).
2. Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas. Diunduh dari http:/www.dinkes.org.
Diakses Desember 2009.

352

JAMINAN PEMELIHARAAN
KESEHATAN MASYARAKAT (JPKM)

Penyusun:
Giri Satriya (03006105)
Pelangi Damayanti ( 03004173 )

353

BAB I
PENDAHULUAN

Kesehatan adalah pangkal kecerdasan, produktifitas, dan kesejahteraan manusia.


Kesehatan adalah penentu kualitas sumber daya insani. Tanpa kesehatan karyawan,
perusahaan kehilangan daya kerja karena absensi sakit meningkat, hingga target produksi
tidak tercapai dan kerugian menjelang. Menurut UNDP, derajat kesehatan bersama taraf
pendidikan dan kemampuan ekonomi masyarakat menjadi penentu index kualitas manusia
(Human Development Index, HDI). Karena itu, kesehatan harus dimiliki dan dilindungi,
menjadi hak fundamental dari setiap individu.
Kesehatan sebagai hak fundamental setiap individu dinyatakan secara global dalam
Konstitusi Organisasi Kesehatan Sedunia, dan secara nasional dalam amandemen UUD 1945
pasal 28-H dan UU No. 23 tahun 1992 tentang kesehatan. Namun pemenuhan hak tersebut
menghadapi kendala biaya, karena pendanaan kesehatan yang amat terbatas disertai kenaikan
biaya pemeliharaan kesehatan.
Solusi masalah pembiayaan kesehatan mengarah pada peningkatan pendanaan
kesehatan agar melebihi 5% PDB sesuai rekomendasi WHO, dengan pendanaan pemerintah
354

yang terarah untuk kegiatan public health seperti pemberantasan penyakit menular dan
penyehatan lingkungan, promosi kesehatan serta pemeliharaan kesehatan penduduk miskin.
Sedangkan pendanaan masyarakat harus diefisiensikan dengan pendanaan gotong royong
untuk baerbagai resiko gangguan kesehatan, dalam bentuk jaminan kesehatan masyarakat.
Telah bertahun-tahun penelitian terhadap sistem pendanaan masyarakat untuk
kesehatan di mancanegara, akhirnya mengantar Indonesia kepada rumusan JPKM sebagai
model jaminan kesehatan yang efektif dan efisien untuk mengatasi masalah akses dan mutu
pelayanan kesehatan. JPKM kemudian dicantumkan dalam UU No. 23 tahun 1992 sebagai
cara yang dijadikan landasan semua bentuk pemeliharaan kesehatan yang pembiayaannya
secara pra-upaya. JPKM diselenggarakan oleh badan-badan penyelenggara berstatus hokum
(PT, Koperasi, BUMN, BUMD, dll) dengan pemerintah yang bertugas membina,
mengembangkan, dan mendorong terselenggaranya JPKM.

BAB II
PENGERTIAN JPKM

2.1 Pengertian JPKM


JPKM yang merupakan singkatan dari Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat,
pada hakekatnya adalah jaminan pelayanan kesehatan paripurna yang diperoleh seseorang
setelah membayar kontribusi/iuran kepada suatu badan penyelenggara yang mengikat kontrak
dan membayar pra upaya jaringan pemberi pelayanan kesehatan berjenjang yang terjaga
mutunya untuk melayani peserta tersebut. Bagi masyarakat, menjadi peserta JPKM mendapat
keuntungan ganda. Kebutuhan kesehatannya akan terpenuhi secara paripurna melalui
pelayanan yang terrjaga mutu dan terkendali biayanya ,dengan membayar iuran ringan dalam
suatu ikatan solidaritas sosial yang dikelola oleh badan penyelenggara profesional.
Penyelenggara JPKM mencakup sedikitnya 3 pelaku utama yakni peserta, badan,
penyelenggara (bapel) dan pemberian pelayanan kesehatan (ppk) serta penerapan 7jurus ,
sebgai berikut :
355

a. 2jurus kendali dana : premi prabayar dan bayar jasa PKK secara praupaya
b. 4 jurus kendali mutu : ikatan kerja / kontrak ,siklus jaga mutu (pengbatan rasional dan
standar pelayanan medik dengan siklus jaga mutunya), pemantauan utilisasi pelayanan dan
penangan seksama terhadap keluhan mengenai pelayanan.
c. 1 jurus kendali pelayanan paripurna
Paket pelayanan paripurna dalam JPKM seperti dinyatakan dalam serangkaian
permenkes dan kepmenkes mencakup pelayanan berjenjang dari tingkat pertama (rawat jalan
oleh dokter umum, dokter gigi, klinik ,dan puskesmas) ,tingkat ke 2 (rawat jalan spesialistik),
tingkat ke 3 (rawat inap spesialistik di rumah sakit) dan meliputi upaya promotif (penuluhan
kesehatan, perbaikan gizi), preventif (imunisasi, kesehatan ibu-anak,KB), kuratif (pengobatan
dan penyembuhan penyakit) serta rehabilitatif (pemulihan cacad, dll), semua gawat darurat
dan pelayanan penunjang diagnostik seperti laboratorium, radiologi dsbnya.
Kandungan jurus-jurus pelayanan paripurna, kendali mutu dan kendali biaya dalam
JPKM membuatnya lebih unggul dinadingkan bentuk jaminan kesehatan lainnya. Misalnya,
kelebihan JPKM dibandingkan asuransi kesehatan indemnitas (ganti rugi) adalah adanya
pembayaran praupaya (prospective payment dalam bentuk anggaran atau kapitasi) kepada
pemberi pelayanan kesehatan (PPK), yang menjadi intensif bagi

PPK untuk menjaga

kesehatan peserta secara efisien-efektif dengan melakukan upaya preventif-promotif yang


seimbang dengan upaya kuratif-rehabilitatif, tanpa memberikan pelayanan berlebih-lebihan
kepada peserta.
Dengan pembayaran praupaya kepada PPK, bapel membebaskan diri dari risiko
kerugian yang dapat timbul kalau membayar PPK berdasarkan tagihan atas jasa pelayanan
yang telah diberikan (bentuk fee for service atau reimbursement).
Kelebihan JPKM itu telah menempatkannya sebagai jaminan kesehatan terpilih dalam
UU No.23/1992 tentang kesehatan. Dalam UU ini, JPKM dinyatakan sebagai cara
penyelenggaraan pemeliharaan kesehatan yang paripurna, berdasarkan asas usaha bersama
dan kekeluargaan, yang berkesinambungan dan dengan mutu yang terjamin serta pembayaran
secara praupaya. Selanjutnya, UU itu menetapkan pula fungsi pemerintah untuk membina,

356

mengembangkan dan mendorong JPKM sebagai cara yang dijadikan landasan untuk setiap
penyelenggaraan pemeliharaan kesehatan.
Sehubungan dengan itu, melalui Kepmenkes 172/1999 yang ditindaklanjuti dengan
edaran Dirjen Binkesmas diproses pembentukan Badan ,Pembina JPKM ditingkat pusat,
propinsi, dan Kab/kota guna menampung tugas tugas pembinaan, pengembangan dan
pendorongan terhadap penyelenggaraan JPKM. Dengan keberadaan badan pembina ini,
bersama 3pelaku terdahulu, terdapat 4 pihak yang bersama sama mendukung
terselenggaranya JPKM.
Ada beberapa kata kunci yang perlu diperhatikan agar mendapatkan pemahaman yang
lebih mendalam tentang pengertian JPKM, yaitu:
1. Jaminan
2. Cara penyelenggaraan
3. Azas usaha bersama dan kekeluargaan
4. Pemeliharaan kesehatan yang paripurna, dan
5. Pembiayaan secara pra-upaya

a. Jaminan
Setiap penyelenggaraan pemeliharaan kesehatan berdasarkan JPKM harus mampu
menjamin:
1. Terselenggaranya pemeliharaan kesehatan paripurna dan berkesinambungan
2. Terjaganya mutu pemeliharaan kesehatan sesuai dengan standar yang disepakati
3. Efisiensi dan kelancarean memperoleh pelayanan kesehatan bagi pesertanya
4. Efektivitas dari upaya pemeliharaan kesehatan bagi peningkatan derajat kesehatan
masyarakat pesertanya

357

b. Cara penyelenggaraan
JPKM merupakan suatu cara penyelenggaraan paya pemeliharaan kesehatan yang
terpadu dengan pembiayaannya. Cara ini mempunyai beberapa mekanisme pelaksanaan
tertentu, yang menjadi cirri khas dari JPKM dan karena itu dapat disebut juga sebagai jurusjurus JPKM.
Jurus-jurus ini harus dilaksanakan secara utuh agar penyelenggaraan upaya
pemeliharaan kesehatan dapat menjamin oeningkatan derajat kesehatan masyarakat
pesertanya melalui terpeliharanya pemerataan, terjaganya mutu

serta terkendalinya

pembiayaan kesehatan, sehingga menguntungkan dan memuaskan semua pihak yang terlibat
dalam penyelenggaraan JPKM.
c. Azas Usaha dan Kekeluargan
Berdasarkan azas usaha bersama dan kekeluargaan yang tercantum dalam
pengertian JPKM menunjukkan bahwa JPKM merupakan usaha bersama, yang menghendaki
peran aktif badan penyelenggara, peserta dan pemberi pelayanan kesehatan untuk bersamasama secara kekeluargaan mengendalikan mutu dan biaya pemeiharaan kesehatan. Dengan
demikian, dapat dijaga keseimbangan dan keserasian dalam membela kepentingan masingmasing.
d. Pemeliharaan Kesehatan yang Paripurna
Dengan terpeliharanya kesehatan masyarakat yang paripurna diartikan bahwa upaya
pemeliharaankesehatan dilaksanakan secara menyeluruh meliputi kegiatan promotifpreventif-kuratif-rehabilitatif, terpadu, dan berkesinambungan. Upaya kesehatan dalam
JPKM tidak dapat dilaksanakan sepotong-sepotong, umpamanya pengobatan rawat jalan saja
atau hanya pengobatan di Rumah Sakit tanpa dukungan upaya preventif atau promotif, karena
hal ini cenderung menurunkan efektivitas dan efisiensi dalam pelaksanaannya.
e. Pembiayaan secara pra-upaya
Pemberian Pelayanan Kesehatan (PPK) dibayar di-muka/ pra-upaya (prepaid) oleh
baan penyelenggara untuk memelihara kesehatan sejumlah peserta berdasarkan paket
pemeliharaan kesehatan yang telah disepakati bersama. Pra-upaya juga berarti bahwa
358

peserta JPKM membayar dimuka sejumlah iuran secara teratur badan penyelenggara agar
kebutuhan pemeliharaan kesehatan terjamin.
Mengingat hal-hal yang tercantum diatas, jelas bahwa tidak hanya merupakan satu
cara pembiayaan kesehatan. JPKM juga merupakan suatu cara penyelenggaraan
pemeliharaan kesehatan, yang terarah dan terencana dengan pengolahan yang efektif dan
efisien dan didukung oleh pembiayaan pra-upaya, yang memungkinkan peningkatan derajat
kesehatan segenap pesertanya.

BAB III
TUJUAN JPKM

3.1 Tujuan Umum


Meningkatnya derajat kesehatan masyarakat merupakan tujuan dari diadakannya JPKM.
359

3.2 Tujuan Khusus


JPKM bertujuan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui :
Jaminan pemeliharaan kesehatan sesuai kebutuhan utama peserta yang
berkesinambungan.
Pelayanan kesehatan paripurna yang lebih bermutu dengan biaya yang hemat dan
terkendali
Pengembangan kemandirian masyarakat dalam membiayai pelayanan kesehatan yang
diperlukannya.
Pembudayaan perilaku hidup bersih dan sehat.

BAB IV
KEGIATAN dan SASARAN

4.1 Kegiatan
a) Pemeliharaan Kesehatan Pegawai Negeri, Penerima Pensiun dan Keluarganya
Upaya ini dimulai tahun 1968 berdasarkan Keppres No. 230 tahun 1968. Badan yang
mengelola upaya ini pada waktu itu dinamakan Badan Penyelenggara Dana
Pemeliharaan Kesehatan atau disingkat BPDPK dan berada dalam lingkungan
Departemen Kesehatan.
360

Sesuai dengan kebijaksanaan Pemerintah dalam hal struktur organisasi badan-badan


pemerintah, maka BPDPK diubah status menjadi Perum Husada Bhakti, kemudian
menjadi PT (Persero) Asuransi Kesehatan Indonesia (PT. ASKES) sampai sekarang.
Kepesertaan program brsifat wajib bagi pegawai negeri, penerima pensiun (baik sipil
maupun ABRI) dengan iuran yang dipotong dari gaji sebesar 2%.
Menurut UU No.2/1992, PT. ASKES adalah badan penyelenggara program asuransi
sosial di bidang kesehatan, yang seperti diatur dalam pasal 14 hanya dapat
dilaksanakan oleh BUMN. Penutupan asuransi atas objek asuransinya bukan
didasarkan kepada kebebasan memilih penanggung melainkan secara wajib
berdasarkan suatu Undang-undang dengan tujuan untuk memberikan perlindungan
dasar bagi kesejahteraan masyarakat (pasal 1 ayat 3 dan pasal 6 ayat 1).
Pemeliharaan kesehatan paripurna diberikan sama kepada semua peserta, tanpa
mempertimbangkan tingkatan pangkat atau kedudukan.
Pelayanan kesehatan peserta disediakan di semua Puskesmas dan Rumah Sakit
Pemerintah. Untuk peserta sukarela disediakan pelayanan oleh dokter keluarga atau
fasilitas keehatan swasta. Cara penyelenggaraan pemeliharaan kesehatan dan cara
pembayaran kepada PPK sudah mengikuti prinsip-prinsip JPKM (untuk Pusskesmas
dilakukan berdasarkan kapitasi dan untuk Rumah Sakit berdasarkan sistem paket).
b) Pemeliharaan Kesehatan bagi Tenaga Kerja dan Keluarganya
Sejak terbitnya UU No.3 tahun 1992 tentang Jamsostek, jaminan pemeliharaan
kesehatan untuk tenaga kerja dan keluarganya wajib dilaksanakan oleh setiap
perusahaan yang memperkrjakan minimal 50 orang karyawan atau yang
mengeluarkan Rp. 1000.000,- minimal sebulan untuk gaji para tenaga kerjanya.
Iuran ditetapkan sebesar 3% dari gaji sebulan untuk pekerja bujangan dan 6% dari
gaji bagi yang sudah berkeluarga. Seluruh iuran ditanggung oleh perusahaan.
Pemeliharaan kesehatan serta cara pembayaran kepada PPK mengikuti pedoman
penyelenggaraan JPKM.
c) Pemeliharaan Kesehatan Swasta
Beberapa pengusaha swasta telah mulai menyelenggarakan upaya pemeliharaan
kesehatan berdasarkan JPKM untuk golongan tertentu dari masyarakat, terutama
segmen yang berpenghasilan menengah keatas. Pemeliharaan kesehatan
361

menggunakan fasilitas swasta dan kepesertaannya relatif masih sedikit.


Pengelolaannya mengikuti pedoman JPKM, meskipun belum sepenuhnya.
d) Pemeliharaan Kesehatan Dari, Oleh, dan Untuk Masyarakat atau Dana Sehat
Dana Sehat adalah suatu upaya pemeliharaan kesehatan dari, oleh, dan untuk
masyarakat umum. Pengelolaan Dana Sehat pada umumnya dilakukan secara sukarela
oleh pengurus yang ditunjuk oleh masyarakat setempat.
Peserta umumnya adalah penduduk berpenghasilan rendah di pedesaan dan perkotaan
dengan iuran yang relatif kecil dan paket pelayanan kesehatan yang masih terbatas.
Cakupan peserta diwujudkan di beberapa DATI II dengan kepesertaan kelompok dan
pengelolaan pofesional kearah JPKM, sehingga benar-banar dapat mandiri dalam
menjaga kesehatan pesertanya.

4.2 Sasaran
Karyawan perusahaan/dunia usaha.
Seluruh anggota keluarga/masyarakat.
Pelajar dan mahasiswa.
Organisasi sosial dan kemasyarakatan

BAB V
PELAKSANAAN

5.1. Pelaksanaan Puskesmas Kecamatan Mampang

362

Pada puskesmas kecamatan Mampang dilaksanakan sistem jaminan pemeliharaan


kesehatan bagi keluarga miskin (JPK GAKIN) dengan pendekatan JPKM.

5.1.1.PELAYANAN KESEHATAN YANG DIJAMIN :


Paket dasar yang bersifat paripurna (meliputi promotif preventif, kuratif, dan
rehabilitatif) meliputi :
A.rawat jalan tingkat pertama (RJTP), jenis pelayanan meliputi
Promosi kesehatan atau penyuluhan
Imunisasi dasar program (BCG, DPT, polio, campak, hepatitis B)
Pelayanan KIA termsuk ANC ,ibu nifas ,ibu menyusui, bayi dan balita
KB dengan alat kontrasepsi standar
Pengobatan penyakit umum atau gigi
Pelayanan rujukan
Pelayanan obat obatan
Pelayanan laboratorium dasar meliputi pemeriksaan darah rutin dan urin
lengkap
Tindakan medis
Pelayanan penunjang diagnostic
Pelayanan partus
Pelayanan spesialistik
Pelayanan gawat darurat

B. Rawat jalan tingkat lanjutan atau spesialis (RJTL) ,jenis pelayanan meliputi :
Konsultasi dan pemeriksaan dokter spesialis
Obat obatan sesuai kebutuhan medis
Pemeriksaan penunjang berdasarkan indikasi medis
Tindakan di poliklinik

C. Rawat Inap di Kelas 3 Rumah Sakit, jenis pelayanan meliputi:


Perawatan kelas 3 di Rumah Sakit yang telah berIKS dengan dinas kesehatan
Visit dokter spesialis atau dokter yang merawat
363

Obat-obatan yang diperlukan (DPHU, Generik, Formularium atau sesuai


indikasi medis dengan surat keterangan komite medik/konsulen bagian atau
departemen)
Penunjang diagnostic dan tindakan yang sesuain dengan indikasi medis
Alat kesehatan dan bahan habis pakai yang diperlukan
D. Perawatan Khusus di Rumah Sakit, jenis pelayanan meliputi:
Perawatan ICU/ICCU/HCU
Unit Perinatologi (NICU)

5.1.2. PELAYANAN KESEHATAN YANG DIJAMIN DENGAN PEMBATASAN :


Potesa dan alat bantu yang sesuai indikasi medis (gigi palsu, alat bantu
dengar, kacamata, dll)

5.1.3. PELAYANAN KESEHATAN YANG TIDAK DIJAMIN


Pelayanan yang tidak sesuai dengan prosedur
Pelayanan atau perawatan yang berkaitan dengan tujuan kosmetik (bedah
plastic, othodontis, dll)
Medical check up
Vitamin atau pemberian suplemen tanpa indikasi medis
Pengobatan alternative (tradisional, terapi alternatif lain)
Pengguguran kandungan tanpa indikasi medis (permintaan sendiri)
Hamil diluar nikah
Pelayanan yang berkaitan dengan infertilitas dan kesuburan
Bunuh diri
Pelaku tindakan kejahatan
Pemegang kartu asuransi lain

5.1.4. 6 KRITERIA KEMISKINAN LOKAL YANG DIGUNAKAN BAGI SKTM


a. Luas lantai per orang kurang dari 4m2
b. Tidak mampu membiayai pengobatan ke sarana kesehatan / bukan Puskesmas
c. Tidak mampu ber-KB secara mandiri
364

d. Penghasilan kurang dari UMP DKI Jakarta per rumah tangga perbulan (kurang dari
600ribu)
e. Terdapat anggota keluarga yang berusia 15tahun keatas buta huruf
f. Terdapat anggota keluarga dengan usia 7 18 tahun yang tidak sekolah atau putus
sekolah

5.2 Pelaksanaan Puskesmas Kecamatan Mampang Prapatan


5.2.1.PELAYANAN KESEHATAN YANG DIJAMIN :
Paket dasar yang bersifat paripurna (meliputi promotif preventif, kuratif, dan
rehabilitatif) meliputi :
A.rawat jalan tingkat pertama (RJTP), jenis pelayanan meliputi
Promosi kesehatan atau penyuluhan
Imunisasi dasar program (BCG, DPT, polio, campak, hepatitis B)
Pelayanan KIA termsuk ANC ,ibu nifas ,ibu menyusui, bayi dan balita
KB dengan alat kontrasepsi standar
Pengobatan penyakit umum atau gigi
Pelayanan rujukan
Pelayanan obat obatan
Pelayanan laboratorium dasar meliputi pemeriksaan darah rutin dan urin
lengkap
Tindakan medis
Pelayanan penunjang diagnostic
Pelayanan partus
Pelayanan spesialistik
Pelayanan gawat darurat

B. Rawat jalan tingkat lanjutan atau spesialis (RJTL) ,jenis pelayanan meliputi :
Konsultasi dan pemeriksaan dokter spesialis
Obat obatan sesuai kebutuhan medis
Pemeriksaan penunjang berdasarkan indikasi medis
365

Tindakan di poliklinik

C. Rawat Inap di Kelas 3 Rumah Sakit, jenis pelayanan meliputi:


Perawatan kelas 3 di Rumah Sakit yang telah berIKS dengan dinas kesehatan
Visit dokter spesialis atau dokter yang merawat
Obat-obatan yang diperlukan (DPHU, Generik, Formularium atau sesuai
indikasi medis dengan surat keterangan komite medik/konsulen bagian atau
departemen)
Penunjang diagnostic dan tindakan yang sesuain dengan indikasi medis
Alat kesehatan dan bahan habis pakai yang diperlukan
D. Perawatan Khusus di Rumah Sakit, jenis pelayanan meliputi:
Perawatan ICU/ICCU/HCU
Unit Perinatologi (NICU)

5.2.2. PELAYANAN KESEHATAN YANG DIJAMIN DENGAN PEMBATASAN :


Potesa dan alat bantu yang sesuai indikasi medis (gigi palsu, alat bantu
dengar, kacamata, dll)

5.2.3. PELAYANAN KESEHATAN YANG TIDAK DIJAMIN


Pelayanan yang tidak sesuai dengan prosedur
Pelayanan atau perawatan yang berkaitan dengan tujuan kosmetik (bedah
plastic, othodontis, dll)
Medical check up
Vitamin atau pemberian suplemen tanpa indikasi medis
Pengobatan alternative (tradisional, terapi alternatif lain)
Pengguguran kandungan tanpa indikasi medis (permintaan sendiri)
Hamil diluar nikah
Pelayanan yang berkaitan dengan infertilitas dan kesuburan
Bunuh diri
Pelaku tindakan kejahatan
Pemegang kartu asuransi lain
366

5.2.4. 6 KRITERIA KEMISKINAN LOKAL YANG DIGUNAKAN BAGI SKTM


a. Luas lantai per orang kurang dari 4m2
b. Tidak mampu membiayai pengobatan ke sarana kesehatan / bukan Puskesmas
c. Tidak mampu ber-KB secara mandiri
d. Penghasilan kurang dari UMP DKI Jakarta per rumah tangga perbulan (kurang dari
600ribu)
e. Terdapat anggota keluarga yang berusia 15tahun keatas buta huruf
f. Terdapat anggota keluarga dengan usia 7 18 tahun yang tidak sekolah atau putus
sekolah

5.3 Pelaksanaan Puskesmas Kelurahan Pela Mampang


Rawat jalan tingkat pertama (RJTP), jenis pelayanan meliputi
Promosi kesehatan atau penyuluhan
Imunisasi dasar program (BCG, DPT, polio, campak, hepatitis B)
Pelayanan KIA termsuk ANC ,ibu nifas ,ibu menyusui, bayi dan balita
KB dengan alat kontrasepsi standar
Pengobatan penyakit umum atau gigi
Pelayanan rujukan
Pelayanan obat obatan
Pelayanan laboratorium dasar meliputi pemeriksaan darah rutin dan urin
lengkap
Tindakan medis
Pelayanan penunjang diagnostic
Pelayanan partus

367

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
JPKM yang merupakan singkatan dari Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat,
pada hakekatnya adalah jaminan pelayanan kesehatan paripurna yang diperoleh seseorang
setelah membayar kontribusi/iuran kepada suatu badan penyelenggara yang mengikat kontrak
dan membayar pra upaya jaringan pemberi pelayanan kesehatan berjenjang yang terjaga
mutunya untuk melayani peserta tersebut.
JPKM bertujuan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui jaminan
pemeliharaan kesehatan sesuai kebutuhan utama peserta yang berkesinambungan, pelayanan
kesehatan paripurna yang lebih bermutu dengan biaya yang hemat dan terkendali,
pengembangan kemandirian masyarakat dalam membiayai pelayanan kesehatan yang
diperlukannya, pembudayaan perilaku hidup bersih dan sehat.

6.2 Saran
Pelayanan-pelayanan yang diberikan harus sesuai dengan keperluan pasien baik secara
promotif,preventif, kuratif, danrehabilitatif.
Membuat dan melakukan semua rencana kegiatan pelayanan kesehatan paripurna agar
biaya dapat hemat dan terkendali
Memberikan informasi yang lengkap terhadap masyarakat tentang JPKM
denganmenggunakan media cetak seperti brosur ataupun secara lisan. Agar
masyarakat lebih mengerti tentang JPKM dan kesehatan masyarakat
Mengevaluasi kegiatan untuk melihat apakah kegiatan kegiatan pelayanan berjalan
dengan baik

368

DAFTAR PUSTAKA

1. Departemen Kesehatan RI: Kumpulan Materi Pelatihan Penyelenggaraan JPKM. 12-15.


Jakarta (2000).
2. Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat. Diunduh dari http:/www.dinkes.org.
Diakses Desember 2009.

369

370