Anda di halaman 1dari 3

Lembaga Bina Kelola Lingkungan

Laboratorium Hidup di Pesisir Sangatta


Monday, 04 June 2007

engan umurnya yang 58 tahun, otot dan tulang Ado Tadulako nampak kokoh, meski kulitnya mulai keriput oleh sengatan
terik matahari pantai Sangatta, Kalimantan Timur. Dia masih gesit mengendalikan sampan kecil bermotor tempel
menyusuri muara dangkal Sungai Labuhan.
”Ikan dan kepiting sempat menghilang dari pantai ini,”
katanya. ”Tapi, mulai berdatangan lagi setelah kami tanami pohon bakau.”
Advokasi mitra MFP di Kalimantan Timur berhasil mengajak masyarakat dalam pembelajaran bersama yang hidup dan
memulihkan kembali hutan bakau yang rusak.
Dengan umurnya yang 58 tahun, otot dan tulang Ado Tadulako nampak
kokoh, meski kulitnya mulai keriput oleh sengatan terik matahari pantai Sangatta, Kalimantan Timur. Dia masih gesit
mengendalikan sampan kecil bermotor tempel menyusuri muara dangkal Sungai Labuhan.
”Ikan dan kepiting
sempat menghilang dari pantai ini,” katanya. ”Tapi, mulai berdatangan lagi setelah kami tanami pohon
bakau.”
Dari mulut Sungai Labuhan, laut lepas yang biru mulai kelihatan. ”Itu sapo kami,” kata
Ado. Sapo adalah kata lain untuk rumah di atas air pesisir. Sapo milik Ado seperti menara yang menjulang di tengah
kebun bakau yang masih muda, seperti kebun anggur di atas air layaknya. Jika siang, Ado biasa mengunjungi sapo,
membawa satu-dua dari tujuh cucunya, mengawasi budidaya ikan kerapu, dan mengamati pertumbuhan tanaman bakau
berhektar-hektar. ”Perlu puluhan tahun agar pantai ini menjadi lebat kembali,” katanya.
Ado mungkin
takkan bisa menikmati kembali lebatnya hutan bakau seperti ketika dia kecil. Kini menjadi salah satu penghuni tertua
Dusun Teluk Lombok, Desa Sangkima, Ado ikut orangtuanya hijrah dari Mamuju, pesisir barat Sulawesi, ketika berusia
12 tahun. Pada 1960-an, banyak warga Sulawesi menyeberang Selat Makasar menuju pantai timur Kalimantan untuk
menghindari konflik bersenjata antara Tentara Nasional Indonesia dan Pemberontak Kahar Muzakkar. Mereka umumnya
menghuni wilayah pesisir yang pada 1987 ditetapkan menjadi bagian dari Taman Nasional Kutai.
”Waktu saya
kecil, hutan bakau di pesisir ini masih rimbun,” katanya. ”Tapi kini hanya tersisa sekitar 10% saja. Hutan
bakau ditebangi untuk membuka tambak udang.”
Dusun Teluk Lombok kini masuk wilayah Desa Sangkima,
Kecamatan Sangatta, Kabupaten Kutai Timur. Berpenduduk 120 keluarga (atau 320 jiwa) secara keseluruhan dusun ini
masuk wilayah Taman Nasional Kutai.
Penduduk awal Teluk Lombok tinggal di tepi pantai dengan mata pencaharian
utama menjadi nelayan. Tapi, hilangnya hutan bakau tak hanya mengusir ikan belanak, baronang dan kerapu, tapi juga
membahayakan hidup mereka. Air laut terus menggerus pantai dan memakan fondasi rumah-rumah mereka.
Abrasi
telah memaksa rumah penduduk berkali-kali diangkat menjauhi bibir pantai. Setelah mengalami beberapa kali
perpindahan, akhirnya penduduk memutuskan untuk benar-benar pindah menjauh dari tepi pantai, ke daerah yang
ditempati sekarang, sekitar satu kilometer dari air laut.
Kerusakan hutan bakau merupakan salah satu problem
lingkungan serius, tak hanya di Pesisir Sangatta, tapi juga di seluruh Kalimantan Timur, bahkan pulau-pulau lain di
Indonesia.
Hutan bakau di pantai Propinsi Kalimantan Timur, yang panjang seluruhnya mencapai 1.000 km, terus
menyusut tajam. Salah satu yang kerusakan terparah terjadi di kawasan Delta Mahakam, tempat hutan bakau yang
tadinya seluas 150.000 hektar kini hanya tersisa sekitar 20.000 hektar saja.
Di banyak pulau lain, kerusakan serupa
terjadi. Di pantai Denpasar, Bali, misalnya, hutan bakau seluas 7,5 hektar disulap menjadi kompleks pertokoan terbesar
di Asia Tenggara. Di Pulau Bakung, Riau, hutan bakau yang pada 1993 seluas 18.000 hektar, kini hanya tersisa 15% saja.
Di pesisir Gorontalo, Sulawesi, hutan bakau menyusut hampir separuhnya dalam kurun dua puluh tahun.
Di
pesisir Aceh, kerusakan hutan bakau telah menjadi malapetaka tersendiri. Ketika tsunami besar menerjang, desa-desa
tepi pantai telanjang tak memiliki pelindung, membuat korban tewas demikian banyak. Sekitar 75% hutan bakau seluas
36.000 hektar musnah dalam dua dasawarsa terakhir.
Masyarakat Teluk Lombok tahu benar pelajaran alam seperti
itu. Berkat kunjungan sejumlah aktivis lingkungan dari berbagai lembaga swadaya masyarakat pada akhir 1980-an,
penduduk Teluk Lombok mulai mengetahui rahasia abrasi laut: yakni hilangnya hutan bakau. Tapi, baru setelah
reformasi, pada 2003, mereka mulai serius bertindak.
Kesadaran baru ini muncul setelah mereka belajar
mengorganisasikan diri dan mencari jalan keluar bersama melalui pertemuan-pertemuan desa. Kegiatan mereka
didukung oleh Yayasan Bina Kelola Lingkungan, atau yang lebih dikenal sebagai Bikal. Yayasan ini dibantu oleh
Program Kehutanan Multipihak (Multi-stakeholders Forestry Programme - MFP), sebuah program kerjasama antara
lembaga Inggris Department for International Development (DFID) dengan Departemen Kehutanan RI.
Pada 2003,
Bikal mengajak beberapa penduduk Sangkima berkunjung ke Sulawesi Selatan untuk melihat bagaimana masayarakat
sebuah desa pesisir berhasil memulihkan hutan bakaunya. Salah satu peserta dalam kunjungan itu adalah Usman, anak
tertua Ado, yang setahun kemudian mewarisi bapaknya dalam mempelopori rehabilitasi hutan bakau di Sangkima.
Sepulang dari Sulawesi Selatan, Usman mulai mencari bibit dan menanam kembali bakau secara swadaya.
“Semula saya dianggap orang gila,” kata Usman. Tapi, kenekadan Usman tak hanya berarti untuk
pelestarian hutan bakau di desanya, melainkan juga punya nilai ekonomi. Usaha pembibitan bakau mulai menghasilkan
uang. Pada awal 2004, ketika warga setempat sepakat membentuk Kelompok Tani Pangkang Lestari, Usman terpilih
menjadi ketuanya. Nama Pangkang diambil dari bahasa mayoritas penduduk setempat, yang artinya
“bakau”.
Pada tahun itu kelompok tani tadi dipercaya untuk menyediakan bibit guna memenuhi
kebutuhan pemulihan hutan bakau di Teluk Lombok melalui Gerakan Rehabilitasi Lahan seluas 10 hektar. ”Kami
bahkan menambah luas program ini dua hektar karena melihat lahan kosong yang bisa kami tanami,” kata
Usman.
Semula dicemooh, kegiatan pembibitan bakau di muara Sungai Labuhan kini meluas melibatkan lebih banyak
warga, perempuan dan anak-anak sepulang mereka dari sekolah. ”Seperti pasar jika musim mencari bibit,”
kata Usman. ”Orang ramai datang ke sini membawa radio mereka.” Secara bisnis mereka mendapat
dukungan dari Mitra Kutai, sebuah konsorsium community development yang dimotori perusahaan-perusahaan swasta
di Kutai Timur.
Hadirnya kembali hutan bakau telah membangkitkan jenis usaha-usaha lain bagi masyarakat
setempat. Ikan dan kepiting datang lagi ke pantai mereka. Kelompok Tani Pangkang Lestari pun mulai tertarik
melakukan budidaya penggemukan kepiting dengan sistem keramba apung. Pengetahuan tentang budidaya ini
http://bikal.org

Powered by Joomla!

Generated: 2 July, 2007, 11:43

Lembaga Bina Kelola Lingkungan

diperoleh di daerah Kariangau, Balikpapan, melalui studi banding pada 2003.


Tapi, budidaya kepiting sering
menyisakan produk yang cacat atau tidak lengkap bagian tubuhnya. Kepiting cacat ini tidak bisa dijual, atau harganya
sangat murah. Kaum perempuan Kelompok Tani belakangan mulai belajar pula bagaimana memanfaatkan barang
murah ini agar lebih bernilai. Mereka mulai membuat usaha kerupuk kepiting. Kini usaha kerupuk kepiting mereka telah
mendapatkan nomor registrasi sesuai standar dinas kesehatan dan telah melalui uji keamanan pangan di Balai
Pengawasan Obat dan Makanan (Balai POM) Samarinda. Dengan kerupuk kepitingnya, pada 2005, kelompok tani ini
mewakili Provinsi Kalimantan Timur dalam lomba nasional teknologi tepat guna.
Program ini memicu proses
pembelajaran lebih jauh dengan melibatkan kaum perempuan anggota kelompok, dan secara tak langsung
meningkatkan kesadaran kelompok perempuan untuk bisa lebih berpartisipasi dalam pengembangan usaha keluarga
dan meningkatkan kemampuan kaum perempuan dalam manajemen organisasi kelompok, serta partisipasi lebih luas di
masyarakat.
”Meski hidup di dalam Taman Nasional, masyarakat setempat belajar bagaimana memanfaatkan hasil
hutan bukan kayu tanpa merusak hutan,” kata Mukti Ali Azis, Direktur Pelaksana Yayasan Bikal. ”Jika ekonomi
mereka membaik, godaan untuk merusak Taman Nasional mengecil.”
Usaha bisnis berkembang lebih
luas lagi. Program budidaya rumput laut dimulai pada Agustus 2005, dan memicu proses belajar yang lain. Kaum
perempuan kelompok tani berinisiatif untuk membuat aneka produk olahan dari rumput laut, antara lain penbuatan
puding dan es rumput laut. Bersama dengan kerupuk kepiting, aneka produk rumput laut ini juga pernah dipesan oleh PT
Kaltim Prima Coal dalam pelaksanaan bazaar besar setempat.
Meski secara ekonomi hasilnya belum memuaskan,
Teluk Lombok telah benyak memicu inovasi dan menjadi laboratorium hidup bagi masyarakat setempat dalam
mengembangkan ekonomi dan melestarikan hutannya.
“Kami ingin terus mengembangkan usaha-usaha
ini,” kata Usman. Kelompok Tani Pangkang Lestari berusaha memperluas jaringan pasar untuk produk-produk
unggulan kelompok, seperti kerupuk kepiting, rumput laut dan aneka produk olahan rumput laut. Bekerjasama dengan
kelompok tani dari lain, mereka juga berencana membudidayakan teripang.
Belajar bersama tiada henti. Dalam usia
tuanya, Ado Tadulako bisa tersenyum bangga. “Saya bisa menyaksikan masyarakat desa ini berinisiatif dan
tumbuh,” katanya. ”Saya sendiri sering diundang ke beberapa daerah di Indonesia untuk berceramah
tentang pelestarian hutan bakau.”[*] * Penulis Pena Indonesia.

Tas ransel? check. baju ganti? check. air minum? check. sendal jepit? check. caping? check. and last but not least, semangat?
check. OK, semuanya siap! Segera aku meluncur bersama Dendi dan Adam menuju objek wisata Taman Lele untuk rendevouz
dengan tukang loenpia yang lain. Ya, hari ini ada kegiatan bersama teman-teman Loenpia. Bapedal Semarang bekerja sama
dengan Nelayan setempat mengadakan acara penanaman bakau (mangrove) di pantai utara jawa. Loenpia.net sendiri dalam
acara ini ikut nimbrung karena informasi salah satu tukang loenpia, Adi yang ikut aktif dalam acara tersebut.
Waktu menunjukkan sekitar 7.30 ketika akhirnya teman-teman sudah terkumpul semua. Oh iya, kita kedatangan dua teman
dari Belanda, Ellen dan Jessica yang ikut serta dalam acara ini. Perjalanan dilanjutkan ke arah utara, ke arah laut jawa dengan
kondisi jalan yang semakin jelek saja. Kemudian sampai pada titik kendaraaan tidak bisa digunakan lagi, kami meneruskan
perjalanan dengan jalan kaki sampai di jemput oleh perahu yang membawa kita ke pantai. Nah, sampai di sini suasananya
mulai terasa lain, berperahu menyusuri sungai kecil dipayungi oleh kanopi pohon bakau. Pokoknya serasa syuting acara jejak
petualang itu lho , cuma sayangnya sungainya lumayan kotor, banyak sampahnya Setelah sekitar 15 menit berperahu,
tampaklah di depan mata tujuan kita, Pulau Tirang. Pulau ini terletak di daerah Tapak Tugurejo. Karena pengaruh Abrasi ombak
laut, dikhawatirkan pulau ini akan tenggelam dalam waktu dekat ini. Nah untuk mencegahnya maka ditanamlah ribuan bibit
bakau di sekeliling Pulau Tiram tsb.
Acara dimulai dengan pengarahan oleh Mas Rofik, agar kami yang newbie ini bisa benar-benar membantu, bukan malah
nyusahi nantinya. Bibit bakau yang hendak ditanam sudah ditempatkan dalam polybag. Untuk menanamnya, tanah digali
dengan kedalaman kira-kira 20-30 cm, kemudian bakau dipisahkan dari polybag dengan hati-hati jangan sampai akarnya
rusak. Jarak tanam antar bibit adalah sekitar 50cm. Setelah bakau ditanam, kemudian sebatang bambu ditancapkan untuk
melindunginya dari gelombang. (lihat gambar). Jenis bibit bakau yang ditanam di sini adalah jenis bakau yang tahan panas,
nama latinnya Rhyzophora Mucronata. Sedangkan ada jenis lain yang untuk daerah teduh dengan nama latin Rhyzophora
Apiculata. CMIIW yah.
Oke, sekarang saatnya basah, saatnya beraksi! Satu persatu bibit bakau ditanam. Selain yang sudah saya sebutkan diatas,
tukang loenpia lain yang ikut berubah jadi tukang bakau hari ini adalah Lowo, Jhiban, Fany, Sessy, Traju, Fian, Munif, Anhar
(sang reporter kita), serta Rosi dan Aryo. Walaupun anak-anak Loenpia nggak biasanya ada kegiatan yang se-fisik ini tapi
overall kami nggak malu-maluin lah. Lagipula untuk proses penanamannya sendiri tidak sulit, cuma ya itu, kuantitasnya yang
banyak. Padahal menurut mas Adi, jumlah yang kami tanam itu belum apa2 dibandingkan dengan penanaman pada umumnya.

Menjelang pukul 10, kami beristirahat barang sebentar sambil menikmati makanan yang dibawakan oleh Bapedal, sambil
membersihkan badan di pantai. Acara kembali berlanjut sampai menjelang tengah hari. Saat itu cuacanya benar-benar panas,
bersyukurlah aku sudah bawa caping Akhirnya semua bakau tertanam juga. Dan kami menyudahi acara hari ini. Sebenarnya
belum semua bambu pelindung terpasang, tapi kelihatannya kami sudah nggak kuat lagi.. dasar manja! dan pekerjaan
dilanjutkan oleh rekan-rekan Nelayan. Kami menyempatkan diri bermain dipantainya sebentar, pantang bagiku untuk pergi
kepantai tanpa basah full! Kami pulang menggunakan rute yang berbeda, karena rute yang tadi pagi airnya kini tak cukup untuk
menahan perahu.
Menjelang pukul 1 siang kami tiba kembali di basecamp untuk sekedar mandi dan membersihkan diri. Ah selesai juga acara
menanam bakau ini, sebuah pengalaman yang berharga. Walau telapak kaki dan kuku tangan lecet-lecet tapi tetep saja
senang. Lagipula ini tentu saja belum ada apa-apanya dibanding rekan-rekan Nelayan yang masih meneruskan pekerjaan
sementara kami enak-enak menyeruput es sirup di basecamp. Setelah beristirahat, kemudian kami pulang? tentu saja tidak.
Mana mungkin acara Loenpia dilwatkan tanpa makan-makan Dari hutan bakau sekarang setting berpindah ke warung bakso.
Tepatnya di warung Bakso Dunia di jalah arah Ngaliyan. Baksonya enak juga, sampai nambah aku. Yah, sebenarnya waktu itu
makan apa saja pasti aku nambah, lha wong lupaer pol! ini pasti bakau effect! Heegggghhhh.. *glegeken*
Terima kasih teman-teman, hari yang menyenangkan!