Anda di halaman 1dari 5

Diagnosa Keperawatan Nilai dan Keyakinan

(Lidia L.W Simatupang, 1006672636)

Tahap kedua dari proses keperawatan adalah identifikasi masalah dan


diagnosa keperawatan. Pada fase ini, perawat harus menginterpretasi dan
membuat keputusan tentang data yang dikumpulkan. Perawat mengatur atau
mengumpulkan data ke dalam kategori yang sama untuk mengidentifikasi area
signifikan dan membuat salah satu keputusan berikut:
1. Tidak ada data masalah kesehatan disfungsional; tidak ada

intervensi yang diindikasikan.


2. Ada risiko masalah kesehatan disfungsional; intervensi diperlukan

untuk memfasilitasi peningkatan kesehatan.


3. Data masalah kesehatan fungsional actual; intervensi diperlukan

untuk memfasilitasi peningkatan kesehatan.


Hal ini bisa dilakukan pada diagnosa spiritual. Ketika meninjau ulang
penafsiran spiritual dan mengartikan informasi kedalam diagnosa keperawatan
yang tepat, perawat seharusnya mempertimbangkan status kesehatan klien saat ini
dari pandangan holistic, dengan mempersatukan prinsip kerohanian (spiritual).
Perawat akan menghadapi klien pada tempat yang berbeda-beda selama proses
keperawatan. Bahkan selama peristiwa seperti kelahiran, keadaan sakit, keadaan
nyeri, penderitaan, kegiatan sehari-hari, dan kematian, manusia memiliki
pengalaman yang dijadikan sebagai pilihan. Pilihan hidup seseorang sering sekali
tekait dengan spiritualitasnya (Farran, 1998). Oleh karena itu, distress spiritual
perlu untuk dihindari. Distres spiritual (gangguan spiritual) adalah suatu
keadaan dimana individu atau kelompok mengalami atau berisiko mengalami
gangguan dalam kepercayaan atau sistem nilai yang memberikannya kekuatan,
harapan,

dan arti kehidupan. Contoh diagnosa pada distres spiritual adalah,

Distres fungsional berhubungan:

Berhubungan dengan konflik antara religious atau keyakinan


spiritual dan ketentuan aturan kesehatan.

Berhubungan dengan krisis penyakit/penderitaan/kematian.

Batasan karakteristik pada klien distress spiritual:


1. Mayor (harus terdapat)

Mengalami gangguan dalam system kepercayaan.

2. Minor (Mungkin terdapat)

Bertanya arti kehidupan, kematian, dan penderitaan.

Bertanya tentang kredibilitas system kepercayaan.

Menunjukkan kekecewaan atau putus asa.

Memilih tidak melakukan kebiasaan untuk upacara keagamaan.

Memiliki perasaan ambivalensi tentang kepercayaan.

Mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki alas an untuk hidup.

Merasakan perasaan batin yang kosong.

Menunjukkan emosi yang terpencil dari dirinya sendiri dan


orang lain.

Mengungkapkan perhatian-marah, kebencian, ketakutan-terlalu


mengartikan kehidupan, menderita, kematian.

Mengharap bantuan dorongan semangat untuk gangguannya


dalam system kepercayaan.

Berdasarkan batasan karakteristik di atas, diagnosa keperawatan untuk


distress spiritual berdasarkan NANDA dapat dituliskan seperti:
1. Kerohanian (spiritual), berpotensi untuk ditingkatkan berhubungan
dengan:

Pemulihan dari penyakit akut.

Hampir dekat dengan kematian

Koping dengan penyakit kronik

2. Spiritual distress berhubungan dengan:

Masalah nilai

Isolasi/pengasingan oleh orang lain

Pemisahan dari denominasi agama

3. Koping individu yang tidak efektif berhubungan dengan:

Kurangnya sistem pendukung

Individuasi

Gejala dari penyakit kronik

4. Cemas berhubungan dengan:

Ancaman kematian

Perubahan pada kondisi kesehatan

5. Keputusasaan berhubungan dengan:

Hilangnya kepercayaan pada Tuhan

Ditinggalkan oleh keluarga

6. Gangguan pada harga diri berhubungan dengan:

Kecanduan narkoba

Kehilangan rasa percaya diri

Contoh proses diagnosa keperawatan yang berkaitan dengan


spiritualitas:
Penilaian kegiatan
Minta

klien

Defenisi Karakteristik

Diagnosa

keperawatan
untuk Menyatakan keprihatinan Spritual distress

memberikan deskripsi dengan


arti hidup.

makna

hidup berkaitan dengan

sebagai akibat penyakit menantang


terminal.

keyakinan

dari

penderitaan.
Untuk mendukung klien, perawat seharusnya tidak hanya berfokus pada
perubahan fungsi tubuh klien, tetapi juga harus berfokus pada pilihan yang bisa
memberikan kekuatan, harapan, dan dorongan (kerohanian) selama si klien sakit.
Faktor-faktor yang berhubungan dengan distress spiritual:
a. Patofisiologis
Berhubungan dengan ancaman pada system kepercayaan atau bagian
dari pertalian batin sekunder terhadap:

Kehilangan bagian atau fungsi tubuh

Sakit terminal

Penyakit-penyakit

Nyeri

Trauma/terluka

Keguguran/kelahiran anak

b. Tindakan yang berhubungan dengan distress spiritual:


Berhubungan dengan konflik antara (diuraika aturan spesifik yang
telah ditetapkan) dan kepercayaan:

Aborsi

Transfusi darah

Isolasi

Pembedahan

Amputasi

Situasional (Personal, lingkungan) pada distress fungsional:

Berhubungan dengan kematian atau kesakitan orang terdejat

Berhubungan dengan perasaan bingung untuk melaksanakan


ritual keagamaan

Berhubungan dengan hambatan untuk melakukan ritual


spiritual

Berhubungan dengan kepercayaan yang berlawanan dengan


keluarga, sebaya, memberikan perawatan kesehatan

Berhubungan dengan perceraian, terpisah dari orang yang


dicintainya.

Penyakit kritis dapat mengancam kepercayaan spiritual individu dan dapat


menimbulkan perasaan bersalah, marah, kecewa, dan putus asa. Akan tetpi
penyakit kritis tidak menunjukkan factor penunjang khusus atau tanda adanya
distress spiritual. Sampai faktor-faktor yang berhubungan diketahui, perawat
dapat mencatat diagnose sebagai Distres spiritual yang berhubungan dengan
etiologi tak diketahui, dibuktikan oleh ekspresi keraguan tentang keyakinan

religious. Fokus keperawatan adalah mendengarkan secara aktif pada perasaan


dan rasa takut individu.

Daftar pustaka
Asmadi. (2008). Konsep dasar keperawatan. Jakarta: EGC
Capernito, Lynda. (2000). Nursing diagnosis. Philadelphia: Lippincott
Christensen.J.P., dan Kenney.W.J. (2009). Proses keperawatan. (ed-4). Jakrta:
EGC