Anda di halaman 1dari 25

10

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Keperawatan Perioperatif
Keperawatan

Perioperatif

adalah

istilah

yang

digunakan

untuk

menggambarkan keragaman fungsi keperawatan yang berkaitan dengan


pengalaman pembedahan pasien, perioperatif adalah istilah gabungan yang
mencakup

tiga tahap

pembedahan

yaitu

praoperatif,

intraoperatif,

dan

pascaoperatif, setiap fase dimulai dan berakhir pada waktu tertentu dalam
peristiwa yang membentuk pengalaman bedah, dan masing-masing mencakup
tentang prilaku dan aktivitas keperawatan yang luas yang dilakukan perawat
dengan standar praktek keperawatan (Brunner and Suddarth, 2001).
Fase praoperatif dari peran keperawatan perioperatif dimulai ketika
keputusan untuk intervensi bedah dibuat dan berakhir ketika pasien dikirim ke
ruang operasi. Lingkup aktivitas keperawatan selama fase tersebut mencakup
penetapan pengkajian dasar, pengkajian psikososial dan menghilangkan
kecemasan, memberikan pelayanan spiritual dan dorongan pada pasien agar
pasien merasa nyaman dan aman (Brunner and Suddarth, 2001).
Fase Intraoperatif dari keperawatan perioperatif dimulai ketika pasien
masuk atau pindah ke kamar operasi dan berakhir sampai pasien dipindah ke
ruang pemulihan. Pada fase ini lingkup aktivitas keperawatan dapat meliputi
memasang infus, memberikan medikasi intravena, melakukan pemantauan
fisiologis menyeluruh dan menjaga keselamatan pasien, mengatur posisi pasien
STIKes Indramayu

11

diatas meja operasi, aktivitas perawat scrub meliputi cuci tangan, mengatur meja
dan alat-alat steril, menyiapkan alat untuk menjahit luka, dan menjaga daerah
operasi tetap steril (Brunner and Suddath, 2001).
Fase Pascaoperatif dimulai dengan masuknya ke ruang pemulihan dan
berakhir dengan evaluasi tidak lanjut dan serah terima dengan perawat ruangan.
Pada fase ini aktivitas keperawatan mencakup mengkaji efek anestesi, memantau
tanda-tanda vital serta mencegah komplikasi akibat pembedahan dan berfokus
pada peningkatan penyembuhan pasien. Perawat pascaoperatif merupakan tahap
lanjutan dari perawatan pra dan intraoperatif yang dimulai saat pasien diterima
diruang pemulihan

dan berakhir sampai evaluasi selanjutnya (Brunner and

Suddarth, 2001).
Ruang lingkup keperawatan perioperatif sangat bervariasi yakni dari
menyertai pasien ke ruang pemulihan dan memberikan laporan perawatan ke
perawat ruang pemulihan, merawat pasien di area pemulihan pasca anastesi dalam
lingkup bedah, meskipun lingkup praktek bervariasi, perawat perioperatif akan
bekerja sama dengan tim perawatan ruangan untuk memberikan pelayanan
spiritual pada pasien yang akan menjalani operasi untuk memastikan bahwa
kebutuhan psikologis pasien terpenuhi (Rothrock dalam Muttaqin, 2009).
Perawat perioperatif bertanggung jawab dalam memberikan kubutuhan
spiritual dan memberikan perasaan tenang aman dan nyaman pada pasien yang
akan dioperasi, Spiritual pada pasien pre operasi merupakan bentuk keyakinan
atau kepercayaan yang di yakininya agar terhubung dengan Tuhan atau Allah
SWT (Potter dalam Muttaqin, 2009).

STIKes Indramayu

12

B. Peran Perawat Perioperatif Sebagai Pelaksana


Mengingat perawat merupakan orang pertama dan secara konsisten
selama 24 jam sehari menjalin kontak dengan pasien, perawat sangat berperan
dalam

membantu

memenuhi

kebutuhan

spiritual

pasien.

Baik

dengan

mengusahakan kemudahan seperti mendatangkan pemuka agama sesuai dengan


agama yang diyakini pasien, memberi privasi untuk berdoa, maupun memberi
kelonggaran bagi pasien untuk berinteraksi dengan orang lain keluarga dan teman.
Menjalin komunikasi yang terapeutik terhadap pasien yang sedang menghadapi
kesulitan atau kegelisahan juga merupakan bagian dari pemenuhan kebutuhan
spiritual pasien.
Menurut Rando di dalam Ambarwati dan Nasution (2012) memberi
pedoman berkomunikasi secara terapeutik pada pasien menjadi salah satu tugas
perawat dalam memberikan kebutuhan spiritual pada pasien yang akan menjalani
operasi yang menghadapi kesulitan dan ketakutan dalam menghadapi proses
jalannya operasi seperti:
1. Komunikasi sebaiknya dilakukan untuk menormalkan perasaan
pasien.
2. Mendengarkan pasien agar ia mengungkapkan kebutuhannya.
3. Memastikan apa yang ditanyakan pasien dengan mengklarifikasi dan
merefleksikan kembali pertanyaannya.
4. Perawat perlu mengerti penyakit yang dideritanya.
5. Memastikan perawat dan pasien berbicara yang sama, perawat harus
mampu mencocokan pemahaman dan minta umpan balik.
6. Menanyakan pada pasien tentang pertanyaan yang ada dibenaknya.
7. Mengarahkan pasien agar tidak malu untuk mengungkapkan
perasaannya.
8. Usahakan menyediakan waktu jika pasien ingin berbicara walaupun
kadang-kadang tidak menyenangkan.
STIKes Indramayu

13

Dalam hal ini perawat perioperatif sangat diperlukan karena dianggap


sebagai tenaga profesional. Peran perawat pada fase perioperatif bukan hanya
mengkaji riwayat kesehatan dan keadaan fisik saja namun perawat bertanggung
jawab terhadap pemenuhan kebutuhan spiritual pasien yang akan menjalani
operasi, melayani dan menghargai keunikan pasien dalam menjalankan spiritual
sudah tugas perawat perioperatif dalam membantu pasien untuk menentukan
spiritual pasien. Perawat yang memiliki kepercayaan dan harapan personal
terhadap kehidupan biasanya akan lebih dapat membantu pasien mereka (Jakson
dalam Potter dan Perry, 2010).
Penting bagi perawat perioperatif untuk memahami konsep yang
mendasari kesehatan spiritual. Spiritualitas merupakan suatu konsep yang unik
pada masing-masing individu. Manusia adalah mahluk yang mempunyai aspek
spiritual yang akhir-akhir ini banyak perhatian dari masyarakat yang disebut
kesadaran dalam diri seseorang dan rasa terhubung dengan sesuatu yang lebih
tinggi, alami atau kepada berberapa tujuan yang lebih besar dari diri sendiri
(Mauk dan Schmidt dalam Potter dan Perry, 2010).
Spiritualitas adalah faktor penting yang membantu individu mencapai
keseimbangan yang diperlukan untuk memelihara kesehatan dan kesejahteraan,
serta untuk beradaptasi dengan penyakit. Perawat harus menunjukan bahwa
spiritual yang positif memengaruhi dan meningkatkan kesehatan, dan kualitas
hidup, perilaku yang meningkatkan kesehatan dan kegiatan pencegahan penyakit
(Aaron et al dalam Potter dan Perry, 2010).

STIKes Indramayu

14

C. Faktor yang Mempengaruhi Spiritualitas


Menurut Taylor, Craven dan Himle di dalam Ambarwati dan Nasution
(2012), faktor penting yang dapat mempengaruhi spiritualitas seseorang adalah
pertimbangan tahap perkembangan, keluarga, latar belakang etnik dan budaya,
pengalaman hidup sebelumnya, krisis, terpisah dari ikatan spiritual, isu moral
terkait dengan terapi, serta asuhan perawatan yang kurang tepat. Faktor-faktor
tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut:
1. Tahap perkembangan
Berdasarkan hasil penelitian pada anak-anak dengan empat agama yang
berbeda ditemukan bahwa mereka mempunyai persepsi tentang Tuhan dan bentuk
sembahyang yang berbeda menurut usia, seks, agama dan kepribadian anak. Tema
utama yang diuraikan oleh semua anak tentang Tuhan, mencakup hal-hal berikut
ini:
a.

Gambaran tentang Tuhan yang bekerja memlalui kedekatan dengan


manusia dan saling keterikatan dengan kehidupan.

b.

Mempercayai

bahwa

Tuhan

terlibat

dalam

perubahan

dan

pertumbuhan diri serta tranformasi yang membuat dunia tetap segar,


penuh kehidupan, dan berarti.
c.

Meyakini Tuhan mempunyai kekuatan dan selanjutnya merasa takut


menghadapi kekuasaan Tuhan.

d.

Gambaran cahaya.
2. Keluarga

STIKes Indramayu

15

Peran orang tua sangat menentukan perkembangan spiritualitas anak,


yang penting bukan apa yang diajarkan oleh orang tua kepada anaknya tentang
Tuhan, tetapi apa yang anak pelajari mengenai Tuhan, kehidupan, dan diri sendiri
dari prilaku orang tua mereka. Oleh karena itu keluarga merupakan lingkungan
terdekat dan pengalaman pertama anak dalam memersepsikan kehidupan di dunia,
pandangan anak pada umumnya diwarnai oleh pengalaman mereka dalam
berhubungan dengan orang tua dan saudaranya.
3. Latar belakang etnik dan budaya
Sikap, keyakinan, dan nilai dipengaruhi oleh latar belakang etnik dan
sosial budaya. Pada umumnya, seseorang akan mengikuti tradisi agama dan
spiritual keluarga. Anak belajar pentingnya menjalankan kegiatan agama,
termasuk nilai moral dari hubungan keluarga dan peran serta dalam berbagai
bentuk kegiatan keagamaan. Perlu diperhatikan apapun tradisi agama atau sistem
kepercayaan yang dianut individu, tetap saja pengalaman spiritual adalah hal unik
bagi tiap individu.
4. Pengalaman hidup sebelumnya
Pengalaman hidup baik yang positif maupun pengalaman negatif dapat
mempengaruhi seseorang. Sebaliknya, juga dipengaruhi oleh bagaimana
seseorang mengartikan secara spiritual kejadian atau pengalaman tersebut.
Sebagai contoh jika dua orang wanita yang percaya bahwa Tuhan mencintai
umatnya, kehilangan anak mereka karena kecelakaan. Salah satu dari mereka akan
bereaksi dengan mempertanyakan keberadaan Tuhan dan tidak mau sembhayang
lagi. Sebaliknya wanita yang satu terus berdoa dan meminta Tuhan membantunya

STIKes Indramayu

16

untuk mengerti dan menerima kehilangan anaknya. Begitu pula pengalaman hidup
yang menyenangkan sekalipun, seperti pernikahan, pelantikan kelulusan, kenaikan
pangkat atau jabatan dapat menimbulkan rasa bersyukur kepada Tuhan, tetapi ada
juga yang tidak perlu mensyukurinya. Peristiwa dalam kehidupan sering dianggap
sebagai suatu cobaan yang diberikan Tuhan kepada manusia untuk menguji
kekuatan imannya. Pada saat ini, kebutuhan spiritual akan meningkat yang
memerlukan kedalaman spiritual dan kemampuan koping untuk memenuhinya.
5. Krisis dan perubahan
Krisis dan perubahan dapat menguatkan kedalaman spiritual seseorang.
Krisis sering dialami ketika seseorang menghadai penyakit, penderitaan, proses
penuaan, kehilangan, dan bahkan kematian, khususnya pada pasien dengan
penyakit terminal atau dengan prognosis yang buruk. Perubahan dalam kehidupan
dan krisis yang menghadapi tersebut merupakan pengalaman spiritual selain juga
pengalaman yang bersifat fisik dan emosional.
Krisis dapat berhubungan dengan perubahan patofisiologi, terapi atau
pengobatan yang diperlukan atau situasi yang mempengaruhi seseorang.
Diagnosis penyakit atau penyakit terminal pada umumnya akan menimbulkan
pertanyaan tentang sistem kepercayaan seseorang. Jika pasien dihadapkan pada
kematian, keyakinan spiritual dan keinginan untuk sembhayang atau berdoa lebih
tinggi dibandingkan pasien yang menderita penyakit bukan terminal.
6. Terpisah dari ikatan spiritual.
Menderita sakit terutama yang bersifat akut, sering kali membuat
individu merasa terisolasi dan kehilangan kebebasan pribadi dan sistem dukungan

STIKes Indramayu

17

sosial. Pasien yang dirawat merasa terisolasi dalam ruangan yang asing baginya
dan merasa tidak aman. Kebiasaan hidup sehari-hari juga berubah, antara lain,
tidak dapat menghadiri acara resmi, mengikuti kegiatan keagamaan atau tidak
dapat berkumpul dengan keluarga atau teman dekat yang memberikan dukungan
setiap saat diinginkan. Terpisah pasien dari ikatan spiritual dapat berisiko terjadi
perubahan fungsi spiritualnya.
7. Isu moral terkait dengan terapi
Pada kebanyakan agama, proses penyembuhan dianggap sebagai cara
Tuhan untuk menunjukan kesabarannya walaupun ada juga yang menolak
intervensi pengobatan. Prosedur medik sering kali dapat dipengaruhi oleh
pengajaran agama, misalnya sirkumsisi, transplantasi organ, pencegahan
kehamilan dan stirilisasi. Konflik antara jenis terapi dengan keyakinan agama
sering dialami oleh pasien dan tenaga kesehatan.
8. Asuhan keperawatan yang kurang sesuai
Ketika memberikan asuhan keperawatan kepada pasien, perawat
diharapkan peka terhadap kebutuhan spiritual pasien, tetapi dengna berbagai
alasan ada kemungkinan perawat justru menghindar untuk memberi asuhan
spiritual. Alasan tersebut, antara lain karena perawat merasa kurang nyaman
dengan kehidupan spiritualnya, kurang menganggap penting kebutuhan spiritual,
tidak mendapatkan pendidikan tentang aspek spiritrual dalam keperawatan, atau
merasa bahwa pemenuhan kebutuhan spiritual pasien bukan menjadi tugasnya,
tetapi pemuka agama. (Ambarwati dan Nasution, 2012).

STIKes Indramayu

18

D. Pengertian Spiritual
Spiritualitas adalah keyakinan dalam hubungannya dengan Yang Maha
Kuasa dan Maha Pencipta. Menurut Miner-Williams di dalam Potter dan Perry
(2010). spiritualitas meliputi aspek-aspek :
1. Berhubungan

dengan

sesuatu

yang

tidak

diketahui

atau

ketidakpastian dalam kehidupan.


2. Menemukan arti dan tujuan hidup.
3. Menyadari kemampuan untuk menggunakan sumber dan kekuatan
dalam diri sendiri.
4. Mempunyai perasaan keterikatan dengan diri sendiri dan dengan
Yang Maha Tinggi.
Mempunyai kepercayaaan atau keyakinan berarti mempercayai atau
mempunyai komitmen terhadap sesuatu atau seseorang. Konsep kepercayaan
mempunyai dua pengertian, yaitu:
1. Kepercayaan didefinisikan sebagai kultur atau budaya dan lembaga
keagamaan seperti Islam, Kristen, Budha, dan lain-lain.
2. Kepercayaan didefinisikan sebagai sesuatu yang berhubungan dengan
Ketuhanan, kekuatan tertinggi, orang yang mempunyai wewenang
atau kuasa, suatu perasaan yang memberikan alasan tentang
keyakinan (belief) dan keyakinan sepenuhnya (action) (Benner dalam
Potter dan Perry, 2010).

STIKes Indramayu

19

Harapan (hope), harapan merupakan suatu konsep multidimensi, suatu


kelanjutan yang sifatnya berupa kebaikan, perkembangan, dan bisa mengurangi
sesuatu yang kurang menyenangkan.
Harapan juga merupakan energi yang bisa memberikan motivasi kepada
individu untuk mencapai sutau prestasi dan berorientasi ke depan (Buckley dan
Herth dalam Potter dan Perry, 2010).
Agama, adalah sebagai sistem organisasi kepercayaan dan peribadatan
dimana seseorang bisa mengungkapkan dengan jelas secara lahiriah mengenai
spiritualitasnya. Agama adalah suatu sistem ibadah yang terorganisasi atau teratur
(Tanyi dalam Potter dan Perry, 2010)..
Definisi

spiritual

setiap

individu

dipengaruhi

oleh

budaya,

perkembangan, pengalaman hidup, kepercayaan dan ide-ide tentang kehidupan.


Spiritualitas juga memberikan suatu perasaan yang berhubungan dengan
intrapersonal (hubungan antara diri sendiri), interpersonal (hubungan antara orang
lain dan lingkungan) dan transpersonal (hubungan yang tidak dapat dilihat yaitu
suatu hubungan dengan ketuhanan yang merupakan kekuatan tertinggi) (MinnerWilliams dalam Potter dan Perry, 2010).
Adapun unsur-unsur spiritualitas meliputi kesehatan spiritual, kebutuhan
spiritual

dan

kesadaran

spiritual.

Dimensi

spiritual

merupakan

suatu

penggabungan yang menjadi satu kesatuan antara unsur psikologi, fisiologi,


budaya, perkembangan atau fisik, sosiologi dan spiritual (Aaron et al dalam Potter
dan Perry, 2010).

STIKes Indramayu

20

Kata spiritual sering digunakan dalam percakapan sehari-hari. Untuk


memahami pengertian spiritual dapat dilihat dari berbagai sumber. Menurut
Potter dan Perry, untuk memahami makna kata spiritual dapat diketahui dari arti
kata-kata seperti persembahan, dimensi supranatural, berbeda dengan dimensi
fisik, perasaan atau pernyataan jiwa, kekudusan, sesuatu yang suci, pemikiran
yang intelektual dan berkualitas, adanya perkembangan pemikiran dan perasaan,
adanya perasaan humor, ada perubahan hidup, dan berhubungan dengan organisasi
keagaamaan. Sedangkan berdasarkan etimologinya, spiritual berarti sesuatu yang
mendasar, penting, dan mampu menggerakan serta memimpin cara berfikir dan
bertingkah laku seseorang (Mcewan dalam Potter dan Perry, 2010) .
Berdasarkan konsep keperawatan, makna spiritual dapat dihubungkan
dengan kata-kata : Kesejahteraan Spiritual, Kepercayaan, Agama, dan Harapan
(Davis dalam Potter dan Perry, 2010). Davis mengamati bahwa perawat
menemukan aspek spiritual tersebut dalam hubungan seseorang dengan dirinya
sendiri, orang lain, dan dengan Tuhan. Menurut Minner-Williams di dalam Potter
dan Perry (2010) spiritual mencakup hubungan intra-, inter-, dan transpersonal.
Spiritual juga diartikan sebagai inti dari manusia untuk mengatasi
tekanan dalam kehidupan sehari-hari dan menemukan kenyamanan, kepercayaan,
harapan, kedamaian dan kekuasaan (Chiu et al dalam Potter dan Perry, 2010).

E. Keterkaitan Antara Spiritual, Kesehatan Dan Sakit

STIKes Indramayu

21

Keyakinan spiritual sangat penting bagi perawat karena dapat


mempengaruhi tingkat kesehatan dan perilaku self-care pasien. Keyakinan
spiritual yang perlu di pahami antara lain:
1. Menuntun kebiasaan hidup sehari-hari
Praktik tertentu pada umumnya yang berhubungan dengan pelayanan
kesehatan mungkin mempunyai makna keagamaan bagi pasien, seperti tentang
makanan diet.
2. Sumber dukungan
Saat stress individu akan mencari dukungan dari keyakinan agamanya.
3. Sumber kekuatan dan penyembuhan
Individu bisa menahan distress fisik yang luar biasa karena mempunyai
keyakinan yang kuat.
4. Sumber konflik
Pada situasi tertentu, bisa terjadi konflik antara keyakinan agama dengan
praktik kesehatan, seperti pandangan penyakit.
Dapat disimpulkan bahwa kebutuhan spiritual merupakan kebutuhan
untuk mencari arti dan tujuan hidup, kebutuhan untuk mencintai dan dicintai serta
rasa keterikatan, dan kebutuhan untuk memberikan dan mendapatkan maaf,
mencintai, menghibur dan memaafkan orang lain (Taylor dan Lillis dalam
Ambarwati dan Nasution, 2012).

F. Karakteristik Spiritual

STIKes Indramayu

22

Spiritualitas mempunyai suatu karakter, sehingga bisa diketahui


bagaimana tingkat spiritualitas seseorang. Karakteristik spiritual tersebut, antara
lain
1. Hubungan dengan diri sendiri
Pengetahuan diri (siapa dirinya, apa yang dapat dilakukannya). Sikap
(percaya pada diri sendiri, percaya pada kehidupan atau masa depan, harmoni atau
keselarasan diri).
2. Hubungan dengan lingkungan
Mengetahui

tentang

tanaman,

pohon,

margasatwa

dan

iklim.

Berkomunikasi dengan alam (bertanam, berjalan kaki), mengabadikan dan


melindungi alam.
3. Hubungan dengan orang lain
Harmonis
a. Berbagi waktu, pengetahuan dan sumber secara timbal balik.
b. Mengasuh anak, orang tua dan orang sakit.
c. Menyakini kehidupan dan kematian.
Tidak harmonis
a. Konflik dengan orang lain.
b. Resolusi yang menimbulkan ketidakharmonisan dan friksi.
4.

Hubungan dengan Ketuhanan

Agamis atau tidak agamis


a.

Sembahyang atau berdoa atau meditasi.

b.

Perlengkapan keagamaaan.

STIKes Indramayu

23

c.

Bersatu dengan alam.

Dapat disimpulkan bahwa seseorang terpenuhi kebutuhan spiritualnya


apabila mampu :
1. Merumuskan arti personal yang positif tentang tujuan keberadaannya
di dunia atau kehidupan.
2. Mengembangkan arti penderitaan dan menyakini hikmah dari suatu
kejadian atau penderitaan.
3. Menjalin hubungan positif dan dinamis melalui keyakinan, rasa
percaya dan cinta.
4. Membina integritas personal dan merasa diri berharga.
5. Merasakan kehidupan yang terarah yang terlihat melalui harapan.
6. Mengembangkan hubungan antar manusia yang positif walaupun di
saat sedang sangat tertekan (Respati Ambarwati, 2012).

G. Konsep-Konsep yang Terkait Dengan Spiritual


Sebuah isu yang sering muncul dalam konsep keperawatan adalah
kesulitan dalam membedakan antara spiritual dengan aspek-aspek yang lain dalam
diri manusia, khususnya membedakan spiritual dari religi. Selain itu perawat juga
perlu memahami perbedaan dimensi spiritual dengan dimensi psikologi, dan
memperkirakan bagaimana kebudayaan dengan spiritual saling berhubungan
dengan kesejahteraan spiritual, kepercayaan, agama, dan harapan (Mauk dan
Schmidt dalam Potter dan Perry, 2010).

STIKes Indramayu

24

Spiritual merupakan suatu tema yang terintegrasi. Konsep spiritual


seseorang dimulai kesejahteraan spiritual yang sering digambarkan memiliki dua
dimensi, kesejahteraan spiritual adalah horizontal hubungan positif yang
menghubungkan pasien dengan orang lain, dalam dimensi kesejahteraan spiritual
yang kedua vertical yaitu mendukung hubungan yang melampaui antara pasien
dengan Allah SWT (Gray dalam Potter dan Perry, 2010).
Kesejahteraan spiritual memiliki efek yang positif pada kesehatan.
Semua pasien yang mengalami kesejahetraan spiritual akan merasa terhubung
dengan orang lain dan dapat menemukan arti atau tujuan dalam kehidupan
(Hammermeiter et al dalam Potter dan Perry, 2010).
Kesejahteraan spiritual akan menciptakan kesehatan spiritual. Semua
yang sehat spiritual akan merasakan kegembiraan dapat menerima keadaan dan
memiliki pemahaman yang positif tentang kesejahteraan fisik dan emosional
(Tanyi dalam Potter dan Perry, 2010).
Kepercayaan adalah menjadi bagian dari definisi spiritualitas, pada
konsep ini kepercayaan memiliki definisi umum lainya. Kepercayaan merupakan
agama budaya atau intitusional seperti kepercayaan terhadap agamanya agar
terhubung dengan kekuatan tertinggi atau Allah SWT. Kepercayaan bisa diartikan
dengan jiwa yang menghubungkan kepercayaan yang beralasan atau keyakinan
dan kepercayaan yang terpercaya atau tindakan (Benner dalam Potter dan Perry,
2010)
Kepercayaan yang beralasan memberikan kepercayaan akan sesuatu
untuk sesuatu yang tidak memerlukan bukti. Hal ini merupakan suatu penerimaan
terhadap alasan yang tidak dapat dijelaskan. Keyakinan sebagian besar melibatkan

STIKes Indramayu

25

pada kekuatan tertinggi seperti petunjuk jiwa, Tuhan, Allah SWT (Mauk and
Scmidt dalam Potter dan Perry, 2010).
Kepercayaan juga merupakan sesuatu dimana seseorang memilih untuk
hidup. Keyakinan yang timbul bersama-sama dengan kepercayaan akan
menimbulkan transendensi diri (Perry dalam Potter dan Perry, 2010).
Kepercayaan merupakan tujuan dan arti bagi kehidupan seseorang,
karena bagi pasien yang akan mejalani operasi penyakit dianggap suatu ancaman
dalam hidup dan akan memberikan kepercayaan yang kuat untuk pasien agar bisa
menghadapi tantangan yang akan dihadapinya. Pandangan yang positif pada
pasien akan timbul dengan keyakinannya sendiri untuk mendapatkan suatu
ketenangan dan tujuan dalam hidup (Perry dalam Potter dan Perry, 2010).
Agama adalah suatu yang menghubungkan dengan bagian dari perbuatan
atau suatu system praktik tertentu yang berhubungan dengan umat. Agama
merupakan sistem kepercayaan yang terorganisasi dan pemujaan yang dipraktikan
untuk mengespresikan spiritualitas dari luar (Tanyi dalam potter dan Perry, 2010).
Banyak individu mempraktikan sesuatu kepercayaan atau keyakinan
dalam doktrin dan ekspresi dari agama atau sakte tertentu seperti gereja Lutheran
atau yahudi orthodox. Pasien dari agama yang berbeda memandang spiritualitas
secara berbeda juga (McSherry et al dalam Potter dan Perry, 2010).
Agama memiliki peran penting dalam kepercayaan spiritual pasien
seperti agama budha mempercayai empat kebenaran mulia yang menggambarkan
hidup adalah penderitaan, dalam hal ini penderitaan disebabkan oleh
ketergantungan, penderitaan dapat dihilangkan dengan cara menghilangkan
ketergantungan dan untuk menghilangkan ketergantungan serta penderitaan
seseorang harus mengikuti delapan rangkap jalan. Jalan tersebut bagi agama
budha adalah pemahaman seperti tujuan, bicara, tindakan, mata pencaharian,
STIKes Indramayu

26

usaha, kesadaran, dan konsentrasi yang benar. Jalan kecil ini meningkatkan
kebijaksanaan, prilaku moral dan meditasi (Mauk and Schmidt dalam Potter dan
Perry, 2010).
Seseorang penganut budha lebih mengarah kedalam dan menghargai
kontrol diri, sedangkan penganut agama Kristen melihat cinta tuhan untuk
mencari pencerahan dan tujuan hidup. Dalam hal ini penting bagi perawat dalam
menerapakan peran pelayanan spiritual terhadap pasien perioperatif. Ketika
perawat menyelenggarakan spiritual untuk pasien, penting bagi perawat untuk
memahami perbedaan antara agama dan spiritualitas. Banyak individu cenderung
menggunakan istilah spiritualitas dengan agama secara terbalik. Meskipun sanagat
berhubungan. Istilah ini tidak sama. Praktek agama meliputi spiritualitas. Tetapi
spiritualitas tidak harus melibatkan praktik agama. Pelayanan agama membantu
pasien mempertahankan kesetiaan pasien tehadap system kepercayaan, pelayanan
spiritual membantu pasien untuk menentukan arti dan tujuan hidup serta menjaga
hubungan terhadap agama yang diyakini atau yang dianut oleh pasien sebagai
pendorong hidup.
Menurut Buckley didalam Potter and Perry (2010) kepercayaan sangat
berhubungan dengan harapan. Harapan adalah energy yang memberikan pasien
motivasi untuk mencapai dan sumber daya yang digunakan untuk pencapaian
tujuan.harapan

merupakan

konsep

multidimensional

yang

memberikan

kenyamanan selama pasien menjalani situasi yang mengancam hidup, penderitaan


atau tantangan hidup lainya. Dalam hal ini pasien mengungkapkan harapan dalam
semua aspek kehidupan untuk membantu pasien mengatasi tekanan hidup.harapan

STIKes Indramayu

27

adalah sumber daya personal yang berharga ketika seseorang menghadapi


tantangan yang sulit.
1. Religi
Berdasarkan kamus, religi berarti suatu sistem kepercayaan dan praktek
yang berhubungan dengan Yang Maha Kuasa (Tanyi dalam Potter dan Perry,
2010). Menurut Chiu et al di dalam Potter dan Perry (2010) mendefinisikan religi
sebagai suatu pencarian kebenaran tentang cara-cara yang berhubungan dengan
korban atau persembahan. Seringkali kali kata spiritual dan religi digunakan
secara bertukaran, akan tetapi sebenarnya ada perbedaan antara keduanya. Dari
definisi religi, dapat digunakan sebagai dasar bahwa religi merupakan sebuah
konsep yang lebih sempit daripada spiritual. Mengingat spiritual lebih mengacu
kepada suatu bagian dalam diri manusia, yang berfungsi untuk mencari makna
hidup melalui hubungan intra-, inter-, dan transpersonal (Minner-Williams dalam
Potter dan Perry, 2010). Jadi dapat dikatakan religi merupakan jembatan menuju
spiritual yang membantu cara berfikir, merasakan, dan berperilaku serta
membantu seseorang menemukan makna hidup. Sedangkan praktek religi
merupakan cara individu mengekspresikan spiritualnya.

2. Dimensi Psikologi
Karena fisik, psikologi, dan spiritual merupakan aspek yang saling
terkait, sangat sulit membedakan dimensi psikologi dengan dimensi spiritual.
Akan tetapi sebagai perawat harus mengetahui perbedaan keduanya. Gray dan

STIKes Indramayu

28

Smith di dalam Potter dan Perry (2010) membedakan dua dimensi ini dengan
mengatakan bahwa dimensi psikologi berhubungan dengan hubungan antar
manusia seperti berduka, kehilangan, dan permasalahan emosional. Sedangkan
dimensi spiritual merupakan segala hal dalam diri manusia yang berhubungan
dengan pencarian makna, nilai-nilai, dan hubungan dengan Yang Maha Kuasa.
3. Kebudayaan
Kebudayaan merupakan pengalaman pribadi dalam suatu konteks budaya
(Skalla dan McCoy dalam Potter dan Perry, 2010). Kebudayaan terdiri dari nilai,
kepercayaan, tingkah laku sekelompok masyarakat. Kebudayaan juga meliputi
perilaku, peran, pekerjaan dan praktek keagamaan yang diwariskan turuntemurun. Menurut Pincharoen dan Congdon di dalam Potter dan Perry (2010) ada
tiga pandangan yang menjelaskan hubungan spiritual dengan kebudayaan, yaitu
spiritual dipengaruhi seluruhnya oleh kebudayaan, spiritual dipengaruhi
pengalaman hidup yang tidak berhubungan dengan kebudayaan, dan spiritual
dapat dipengaruhi kebudayaan dan pengalaman hidup yang tidak berhubungan
dengan kebudayaan.

H. Manisfestasi Spiritual
Manifestasi spiritual merupakan cara kita untuk dapat memahami
spiritual secara nyata. Manifestasi spiritual dapat dilihat melalui bagaimana cara
seseorang berhubungan dengan diri sendiri, orang lain, dan dengan Yang Maha

STIKes Indramayu

29

Kuasa, serta bagaimana sekelompok orang berhubungan dengan anggota


kelompok tersebut (Delgado dalam Potter dan Perry, 2010).
Contoh kebutuhan spiritual individu adalah kebutuhan seseorang untuk
mencari tujuan hidup, harapan, mengekspresikan perasaan kesedihan maupun
kebahagiaan, untuk bersyukur, dan untuk terus berjuang dalam hidup dan
memiliki pemahaman positif tentang kesejahtraan fisik dan emosional. Kebutuhan
spiritual menyangkut individu dengan orang lain meliputi keinginan memaafkan
dan dimaafkan serta mencintai dan dicintai (Fisch et al dalam Potter dan Perry,
2010).
Menurut Chiu et al di dalam Potter dan Perry (2010) kebutuhan spiritual
suatu energi yang dibutuhkan untuk menemukan diri mereka, untuk beradaptasi
dengan situasi yang sulit dan untuk memelihara kesehatan.
Dalam kenyataannya, semua manusia memiliki dimensi spiritual, semua
klien akan mengekspresikan dan memanifestasikan kebutuhan spiritual mereka
kepada perawat. Karena kurangnya pemahaman tentang kebutuhan spiritual,
seringkali perawat gagal dalam mengenali ekspresi kebutuhan spiritual klien,
sehingga perawat gagal dalam memenuhi kebutuhan tersebut. Kesejahteraan
Spiritual, merupakan suatu kondisi yang ditandai adanya penerimaan hidup,
kedamaian, keharmonisan, adanya kedekatan dengan Tuhan, diri sendiri,
masyarakat, dan lingkungan sehingga menunjukkan adanya suatu kesatuan untuk
menemukan tujuan dalam kehidupan mereka (Hammermeister et al dalam Potter
dan Perry, 2010). Dalam hierarki kebutuhan dasar manusia, kesejahteraan spiritual
termasuk dalam tingkat kebutuhan aktualisasi diri.

STIKes Indramayu

30

1. Tahap Perkembangan Seseorang


Menurut McEvoy di dalam Potter dan Perry (2010) kepercayaan spiritual
berubah selama seseorang tumbuh dan berkembang, spiritual dimulai saat anakanak belajar tentang dirinya sendiri dan hubungan mereka dengan orang lain.
2. Latar Belakang Etnik dan Budaya
Sikap, keyakinan, dan nilai dipengaruhi oleh latar belakang etnik dan
budaya. Pada umumnya seseorang akan mengikuti tradisi agama dan spiritual
keluarga. seseorang belajar pentingnya menjalankan kegiatan agama termasuk
nilai moral dari hubungan keluarga. Akan tetapi perlu diperhatikan apapun tradisi
agama atau sistem kepercayaan yang dianut individu, tetap saja pengalaman
spiritual unik bagi setiap individu (Jackson dalam Potter dan Perry, 2010).
3. Pengalaman Hidup Sebelumnya
Pengalaman hidup baik yang positif maupun pengalaman negatif dapat
mempengaruhi spiritual seseorang. Pengalaman hidup yang menyenangkan seperti
pernikahan, kelulusan, atau kenaikan pangkat menimbulkan syukur pada Tuhan.
Peristiwa buruk dianggap sebagai suatu cobaan yang diberikan Tuhan pada
manusia untuk menguji imannya (Wright dalam Potter dan Perry, 2010).

4. Krisis dan Perubahan


Krisis dan perubahan dapat menguatkan kedalaman spiritual seseorang.
Krisis sering dialami ketika seseorang menghadapi penyakit, penderitaan, proses
penuaan, kehilangan, dan bahkan kematian. Bila klien dihadapkan pada kematian,

STIKes Indramayu

31

maka keyakinan spiritual dan keinginan untuk sembahyang atau berdoa lebih
meningkat dibandingkan dengan pasien yang berpenyakit tidak terminal
(Adegbola dalam Potter dan Perry, 2010).
5. Terpisah dari Ikatan Spiritual
Menderita sakit terutama yang bersifat akut, seringkali membuat individu
terpisah atau kehilangan kebebasan pribadi dan sistem dukungan sosial.
Kebiasaan hidup sehari-hari juga berubah antara lain tidak dapat menghadiri acara
sosial, mengikuti kegiatan agama dan tidak dapat berkumpul dengan keluarga atau
teman yang biasa memberikan dukungan setiap saat diinginkan. Terpisahnya klien
dari ikatan spiritual beresiko terjadinya perubahan fungsi spiritual (Peters dan
Sellick dalam Potter dan Perry, 2010).
6. Isu Moral Terkait dengan Terapi
Pada kebanyakan agama, proses penyembuhan dianggap sebagai cara
Tuhan untuk menunjukkan kebesaranNya walaupun ada juga agama yang
menolak intervensi pengobatan. Prosedur medis seringkali dapat dipengaruhi oleh
ajaran agama seperti sirkumsisi, transplantasi organ, dan sterilisasi. Konflik antara
jenis terapi dengan keyakinan agama sering dialami oleh klien dan tenaga
kesehatan, konflik juga berkembang seputar kepercayaan dan arti hidup seseorang
seperti

kemarahan

lebih

sering

ditemukan

dan

klien

terkadang

mengungkapkannya dengan melawan tuhan dan keluarga mereka, diri mereka


atau perawat (Grant dalam Potter dan Perry, 2010).

I. Pemenuhan Kebutuhan Spiritual

STIKes Indramayu

32

Menurut Mauk dan Schmidt di dalam Potter dan Perry (2010) Perawat
diharapkan terlebih dahulu terpenuhi kebutuhan spiritualnya dan memehami
perbedaan antara agama dan spritualitas, sebelum membantu pasien dalam
memenuhi kebutuhan spiritual pasien. Dengan hal ini diharapkan perawat dapat
lebih memberikan pelayanan keperawatan yang berkualitas. Beberapa cara yang
dapat dilakukan untuk dapat memenuhi kebutuhan spiritual pasien antara lain
sebagai berikut:
1. Beribadah dalam Suatu Komunitas.
Berpartisipasi dalam suatu komunitas rohani dapat meningkatkan
spiritualitas. Banyak orang merasa asing dengan orang-orang yang memiliki
agama atau kepercayaan sama. Tetapi dengan bergabung dalam suatu komunitas
rohani dapat menimbulkan rasa nyaman dan dapat meningkatkan rasa spiritual.
2. Berdoa.
Berdoa, membaca kitab suci, merenungkan berkat dalam hidup dan
berserah kepada Yang Maha Kuasa merupakan cara yang baik dalam
meningkatkan spiritual.

3. Meditasi.
Beberapa orang mempercayai yoga atau meditasi untuk kembali
menenangkan diri dan memfokuskan pikiran kembali untuk menemukan makna
dari suatu hal.

STIKes Indramayu

33

4. Pembenaran yang Positif.


Pembenaran yang positif dapat membantu seseorang menghadapi situasi
stress. Salah satu cara untuk mendapat pembenaran positif adalah dengan berdiam
diri, dengan membaca kitab suci Al-qur,an atau dengan mendengarkan lagu
sholawat.
5. Menulis Pengalaman Spiritual.
Perawat dapat menyarankan pasien menulis perasaan yang sedang
dirasakan, pengalaman spiritual yang dialami, atau semua inspirasi dan pikiranpikiran yang timbul. Cara ini sangat bermanfaat bagi pasien untuk dapat keluar
dari situasi stress.
6. Mencari Dukungan Spiritual.
Dukungan spiritual dapat datang dari mana saja. Perawat dapat
memberikan dukungan spiritual dari teman dekatnya atau orang tuanya.
Menurut Chiu et al di dalam Potter dan Perry (2010) inti dari pemenuhan
kebutuhan spiritual adalah memberikan individu energy yang dibutuhkan untuk
menemukan diri mereka untuk beradaptasi dengan situasi yang sulit dan untuk
memelihara kesehatan dan menemukan arti dan tujuan hidup. Transendensi diri
(self transcendence) adalah kepercayaan yang merupakan dorongan dari luar dan
lebih besar dari individu, dorongan yang melebihi ruang dan waktu. Individu
biasanya melihat dorongan ini sebagai sesuatu yang positif (Davis dalam Potter
dan

Perry,

2010).

Keterhubungan

(connectedness)

secara

intrapersonal

(keterhubungan dengan diri sendiri) secara interpersonal (keterhubungan dengan


orang lain dan lingkungan) dan transpersonal (keterhubungan dengna yang tidak

STIKes Indramayu

34

terlihat, tuhan atau kekuatan tertinggi) dalam hal ini pasien dapat mengatasi
tekanan dalam kehidupan sehari-hari dan menemukan kenyamanan, kepercayaan,
harapan, kedamaian dan kekuasaan (Miner-Williams dalam Potter dan Perry,
2010).

STIKes Indramayu