Anda di halaman 1dari 62

SEBARAN JENIS RAYAP TANAH

DI APARTEMEN TAMAN RASUNA KUNINGAN JAKARTA


DAN POTENSINYA SEBAGAI HAMA
PADA BANGUNAN TINGGI

MIRA YUNILASARI

DEPARTEMEN HASIL HUTAN


FAKULTAS KEHUTANAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2008

RINGKASAN
MIRA YUNILASARI. Sebaran Jenis Rayap Tanah di Apartemen Taman Rasuna
Kuningan Jakarta dan Potensinya sebagai Hama pada Bangunan Tinggi.
Dibimbing oleh M. SURJONO SURJOKUSUMO.
Dahulu rayap dikenal sebagai hama tanaman. Namun kini rayap juga telah
menyerang bangunan. Sasarannya tidak lain adalah komponen-komponen
bangunan yang mengandung selulosa, seperti kusen, pintu, perabotan, maupun
bahan-bahan berselulosa non-kayu lainnya. Secara mengagumkan rayap bukan
hanya menyerang gedung bertingkat dua atau tiga, tapi bangunan tinggi seperti
apartemen, hotel, dan gedung perkantoran. Bahkan rayap yang menyerang
bangunan tinggi ini bukan hanya dari jenis rayap kayu kering, tapi juga dari jenis
rayap tanah. Karenanya, penelitian untuk mengetahui sebaran jenis rayap tanah
pada suatu wilayah pemukiman modern di kota besar, seperti misalnya apartemen,
perlu dilakukan, agar dapat diduga kemampuan daya jelajah dan potensi rayaprayap tanah tersebut sebagai hama bangunan pada bangunan tinggi.
Penelitian ini dilaksanakan di lingkungan Gedung Apartemen Taman
Rasuna, Kuningan, Jakarta Selatan. Identifikasi jenis rayap dilakukan di
Laboratorium Biologi Hasil Hutan, Pusat Studi Ilmu Hayati, Institut Pertanian
Bogor. Waktu yang diperlukan untuk pelaksanaan penelitan adalah selama lima
bulan yaitu dari Bulan September 2005 sampai Bulan Januari 2006. Bahan-bahan
yang digunakan dalam penelitian antara lain kayu umpan (Pinus merkusii Jungh et
de Vriese), cat minyak warna merah dan alkohol 70%. Sedangkan alat-alat yang
digunakan dalam penelitian adalah tabung film, mikroskop dan linggis.
Kayu umpan dibuat dengan ukuran 1x2x28 cm3 dalam keadaan kering
udara. Bagian atas kayu umpan dicat warna terang (merah) untuk membantu
menandai lokasi kayu umpan selama pengamatan dilakukan. Pemasangan kayu
umpan dilakukan pada tanah di sekitar gedung apartemen atau dekat sistem
perakaran tanaman yang diperkirakan tidak terganggu oleh aktifitas yang
dilakukan di sekitarnya. Setiap kayu umpan dibenamkan secara vertikal ke dalam
tanah sedalam 23 cm; bagian kayu umpan yang menyembul di atas permukaan
tanah setinggi 5 cm. Jarak antara masing-masing kayu umpan 5-10 m.
Pengamatan dilakukan 1-2 bulan kemudian. Pada saat pengamatan, kayu umpan
yang terserang rayap dicabut, dan beberapa ekor rayap (kasta prajurit) diambil,
kemudian dimasukkan dalam tabung film dan diberi alkohol 70%. Rayap yang
sudah dikumpulkan diidentifikasi di laboratorium dengan berpedoman pada kunci
identifikasi menurut Thapa (1982) dan Tho (1992).
Rata-rata tingkat keberhasilan pengumpanan pada lokasi penelitian
terbilang rendah, yaitu hanya sebesar 11.48%, sedangkan rata-rata tingkat
keamanan pengumpanan di lokasi tersebut cukup tinggi yaitu sebesar 67.49%.
Dari seluruh lokasi pengumpanan ditemukan tiga jenis rayap subteran, yaitu
Macrotermes gilvus Hagen, Odontotermes javanicus Holmgren dan Coptotermes
curvignathus Holmgren. M. gilvus hanya ditemukan menyerang lokasi penelitian
di lingkungan menara yang terletak di sisi terluar komplek apartemen. C.
curvignathus hanya ditemukan menyerang lokasi penelitian di sekitar lingkungan
menara yang terletak di bagian dalam komplek apartemen. Sedangkan rayap jenis
O. javanicus paling banyak ditemukan di lokasi penelitian.

Dari ketiga jenis rayap tanah yang ditemukan pada lokasi penelitian,
Coptotermes curvignathus Holmgren adalah yang paling berbahaya tingkat
serangannya. Karena selain telah dikenal sebagai hama tanaman, rayap subteran
ini juga berpotensi menjadi hama bangunan pada daerah pemukiman. Bahkan
daya jelajah rayap ini secara vertikal mampu mencapai ketinggian maksimum
bangunan tinggi (bangunan dengan lebih dari delapan lantai) dan tidak
dipengaruhi oleh gravitasi.
Dalam pembangunan sebuah gedung, perlu dilakukan pendekatan rancang
bangun, selain penggunaan penghalang kimia atau penghalang fisik, untuk
meminimalisir kemungkinan terjadinya serangan rayap, terutama rayap tanah.
Kebersihan lahan prakonstruksi juga sebaiknya dijaga agar koloni rayap yang
sudah dibersihkan tidak kembali lagi dengan menjadikan sisa-sisa pengerjaan
bangunan sebagai sumber makanan barunya. Pencegahan serangan rayap jauh
lebih menguntungkan dibandingkan tindakan pengendalian setelah bangunan
rusak terserang rayap. Oleh karena itu tindakan pencegahan ini sangat perlu
dilakukan terutama pada bangunan atau gedung-gedung tinggi dan peruntukkan
kepentingan pemerintah agar umur pakai bangunan dapat ditingkatkan dan biaya
perawatan gedung dapat ditekan.
Kata Kunci : Rayap, Umpan, Peta, Hama, Bangunan.

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Sebaran Jenis Rayap
Tanah di Apartemen Taman Rasuna Kuningan Jakarta dan Potensinya sebagai
Hama pada Bangunan Tinggi adalah benar-benar hasil karya saya sendiri dengan
bimbingan dosen pembimbing dan belum pernah digunakan sebagai karya ilmiah
pada perguruan tinggi maupun lembaga manapun. Sumber informasi yang berasal
atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain
telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian
akhir skripsi ini.

Bogor, Februari 2008

Mira Yunilasari
NRP E24101018

Judul Skripsi

Sebaran Jenis Rayap Tanah di Apartemen Taman


Rasuna Kuningan Jakarta dan Potensinya sebagai
Hama pada Bangunan Tinggi

Nama

Mira Yunilasari

NIM

E 24101018

Menyetujui:
Dosen Pembimbing,

Prof. Ir. H. M. Surjono Surjokusumo, MSF, PhD.


Tanggal :

Mengetahui:
Dekan Fakultas Kehutanan IPB,

Dr. Ir. Hendrayanto, M. Agr.


NIP : 1311578788

Tanggal Lulus :

KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Alah SWT, atas segala
karunia dan kesempatan yang telah diberikanNya, sehingga skripsi ini berhasil
diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan pada bulan
September 2005 sampai Januari 2006 ini adalah sebaran jenis rayap tanah, dengan
judul Sebaran Jenis Rayap Tanah di Apartemen Taman Rasuna Kunigan Jakarta
dan Potensinya sebagai Hama pada Bangunan Tinggi.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Prof. Ir. H. M. Surjono
Surjokusumo, MSF, PhD, selaku pembimbing. Selain itu penghargaan penulis
disampaikan pula kepada Bapak Syawal dari pihak pengelola Apartemen Taman
Rasuna Kuningan, Jakarta, yang telah membantu memberikan izin dan waktu
selama penelitian dilakukan, dan Bapak James Rilatupa yang telah memberikan
bantuan selama penelitian. Tak lupa penulis berterima kasih kepada Bapak Ir.
Endang Ahmad Husaeni selaku dosen penguji dari Departemen Silvikultur, dan
Ibu Dr. Ir. Mirza Dikari Kusrini, MS, selaku dosen penguji dari Departemen
Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata. Ungkapan Terimakasih juga
disampaikan kepada mama (Alm), papa, bunda, nenek, suami, anak, kakak dan
adik tercinta, serta seluruh keluarga dan sahabat atas segala doa dan kasih
sayangnya.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini masih banyak
terdapat kekurangan. Akhirnya kritik dan saran yang membangun sangat penulis
harapkan demi perbaikan tulisan ini selanjutnya.
Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Bogor, Februari 2008


Penulis

RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Jakarta pada tanggal 10 Juni 1983. Penulis
merupakan anak kedua dari empat bersaudara dari keluarga Bapak Ir. H. M. Ali
Akoeb, MSc dan Dra. Keumalawaty Ismuha, MS (Alm). Selain itu penulis juga
memiliki dua orang adik dari Ibunda Faza Maulida.
Pada tahun 2001 penulis lulus dari SMU Negeri 3 Banda Aceh, dan pada
tahun yang sama penulis diterima sebagai mahasiswa jurusan Tekhnologi Hasil
Hutan, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor, melalui jalur Undangan
Seleksi Masuk IPB. Tahun 2002 penulis mengambil Sub-Program Studi
Pengolahan Hasil Hutan dan tahun 2004 penulis bergabung dengan Laboratorium
Keteknikan Kayu dibawah bimbingan Bapak Prof. Ir. H. M. Surjono
Surjokusumo, MSF, PhD. Pada tanggal 26 Febuari 2006 penulis menikah dengan
Ulil Amri, S.Pi dan dikaruniai seorang putri pada tanggal 11 April 2007 bernama
Nadien Putri Amira.
Selama menjadi mahasiswa penulis pernah melaksanakan Praktek
Pengenalan dan Pengelolaaan Hutan (P3H) di Kampus Praktek Umum Universitas
Gajah Mada KPH Getas, BKPH Baturaden dan BKPH Cilacap pada Juli-Agustus
2004. Penulis juga pernah melakukan Praktek Kerja Lapang (PKL) di PT.
Bineatama Kayone Lestari, Tasikmalaya pada tahun 2005.
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan pada
Fakultas Kehutanan IPB, penulis menyusun skripsi yang berjudul Sebaran Jenis
Rayap Tanah di Apartemen Taman Rasuna Kuningan Jakarta dan Potensinya
sebagai Hama pada Bangunan Tinggi.

UCAPAN TERIMA KASIH

Puji dan Syukur tak henti-hentinya penulis panjatkan kepada Allah SWT
yang telah memberikan kesempatan dan curahan kasih sayangNya kepada penulis
hingga penulis berhasil menyelesaikan pendidikan srjana ini. Penulisan skripsi ini
tidak lepas dari bantuan banyak pihak. Karena itu penulis ingin menyampaikan
terima kasih yang tidak terhingga kepada:
1. Keluarga tercinta, mama, papa, bunda, nenek, suami, anak, kakak dan
adik-adik tercinta yang telah senantiasa sabar dalam menemani penulis
dalam suka dan duka.
2. Bapak Prof. Ir. H. M. Surjono Surjokusumo, MSF, PhD, sebagai dosen
pembimbing, yang dengan sabar telah memimbing penulis hingga mampu
menyelesaikan pendidikan sarjana.
3. Bapak Ir. Endang Ahmad Husaeni, selaku Dosen Penguji dari Departemen
Silvikultur.
4. Dr. Ir. Mirza Dikari Kusrini, MS, selaku Dosen Penguji dari Departemen
Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata.
5. Keluarga H. M. Sayrozi, yang telah berlapang hati memberikan dukungan
kepada penulis disaat susah maupun senang.
6. Keluarga Abdul Halim, yang telah begitu banyak memberikan bantuan dan
dukungan kepada penulis.
7. Keluarga M. Yusuf Akoeb, yang dari awal hingga akhir terus memberikan
dukungan dan perhatian kepada penulis.
8. Keluarga Alm. Prof. Ibrahim Hasan, yang telah memberikan bantuan yang
sangat berarti hingga penulis bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang
sarjana.
9. Keluarga H. Rismawan Ismuha, atas segala bantuannya.
10. Laboran dan Staf Pegawai Departemen Hasil Hutan, Mas Irfan, Pak Amin,
Ibu Laya Rahmi, Mas Roni, Pak Ikhsan, Ibu Icot, dll.
11. Sahabat-sahabat THH angkatan 38, Tyas, Intan, Videl, Herdiyan, Jeny,
Isna, Yola, Nisa, Ikhsan, Sukma, Hendrik, Joe, Ery, Poci, Billy, Andy,
Mulyadi, Pii, Aji, Fahmy, Ike, Ade, Ita, Nila, Anita, Demita, Bude, Ludi,
Dukan, Rendy, Penyok, Rina, Izah, Iir, Yuniningsih, Bagas, Dende, Dedi,
Mulyani, Yeni, Rudi, Indu, Reza, Iwan, Su, Eri, N
12. ovyan, Tedy, Muhadi, Puja, Awal tegal, Awal cutter, Ucup, Gunawan,
Nunik, Gunes, Pramu, Tumol, Yanik, Riri, Titin, Boncos, Handari, Abrar,
Firin, Alm. Dudi Hadiansyah dan Alm. Indriani Kamal.
13. Ice, Wira, Nunu, Welly, Wempi, Dina, Yunita, Maya, Sahrul, Fahmy,
Nisa, Fery, teh Rahmy, Maia, dan semua pihak yang tidak mungkin
disebutkan satu persatu di sini.
Akhirnya hanya ucapan Terima Kasih yang mampu penulis sampaikan
kepada semua pihak yang telah membantu secara langsung atau tidak langsung
dalam penyelesaian skripsi ini. Dan semoga tulisan ini bermanfaat. Amin.

iv

DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ..................................................................................... i
DAFTAR TABEL ............................................................................................ v
DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... vi
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... vii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ............................................................................. 1
1.2 Tujuan Penelitian .......................................................................... 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Biologi Rayap ............................................................................... 3
2.2 Ekologi Rayap ............................................................................... 12
2.3 Penyebaran Rayap di Indonesia .................................................... 15
2.4 Rayap sebagai Hama ..................................................................... 18
2.5 Mofologi beberapa Jenis Rayap .................................................... 20
2.6 Rayap sebagai Hama Bangunan .................................................... 21
2.7 Kondisi Umum Gedung Apartemen Taman Rasuna..................... 24
2.8 Pengumpanan Rayap ..................................................................... 25
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Tempat dan Waktu Penelitian ....................................................... 26
3.2 Bahan dan Alat .............................................................................. 26
3.3 Metode Penelitian ......................................................................... 26
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Tingkat Keberhasilan dan Keamanan Pengumpanan .................... 29
4.2 Sebaran Jenis Rayap...................................................................... 32
4.3 Pendugaan Wilayah Jelajah Rayap ............................................... 38
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan ................................................................................... 40
5.2 Saran.............................................................................................. 41
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 42
LAMPIRAN ..................................................................................................... 44

DAFTAR TABEL

No.

Halaman

1. Persamaan dan perbedaan antara rayap dengan serangga sosial dari


Ordo Hymenoptera (Semut, Lebah dan Tawon) ................................

2. Penyebarab jenis rayap di Wilayah DKI Jakarta ................................

17

3. Evaluasi pengumpanan rayap tanah pada setiap menara Apartemen


Taman Rasuna .....................................................................................

29

4. Sebaran jenis rayap subteran yang menyerang pada setiap menara ...

32

vi

DAFTAR GAMBAR
No.

Halaman

1. Diagram filogeni rayap ............................................................................... 8


2. Perkiraan nilai kerugian ekonomis akibat serangan rayap .......................... 22
3. Cara pemasangan kayu umpan di lapangan ................................................ 27
4. Tingkat keberhasilan pengumpanan............................................................ 30
5. Tingkat keamanan pengumpanan ................................................................ 31
6. Jenis-jenis rayap yang menyerang menara apartemen ................................ 33

vii

DAFTAR LAMPIRAN

No.

Halaman

1. Peta sebaran kayu umpan pada lingkungan gedung Apartemen


Taman Rasuna ...................................................................................

45

2. Peta sebaran kayu umpan yang terserang rayap ................................

46

3. Kunci identifikasi Famili Isoptera menurut Khrisna dan Weesner


(1970) ..................................................................................................

47

4. Peta sebaran jenis rayap di wilayah DKI Jakarta ...............................

50

5. Peta lokasi Apartemen Taman Rasuna...............................................

51

BAB I
PENDAHULUAN

1. 1 Latar Belakang
Pada dasarnya, rayap berperan sebagai dekomposer yang memberikan nilai
guna bagi umat manusia. Makanan rayap yang mengandung selulosa berupa
tunggak-tunggak kayu, ranting dan daun-daun yang berguguran banyak tersedia di
alam. Rayap membantu menguraikannya dan mengembalikannya menjadi tanah
dan sumber makanan bagi pohon dan tanaman-tanaman. Namun, peningkatan
jumlah penduduk yang sangat pesat ikut mengubah habitat rayap menjadi rumahrumah dan peruntukkan bangunan untuk fungsi lainnya. Secara tidak sengaja
manusia mengganggu rumah rayap dan mengurangi sumber makanannya,
sehingga rayap pun berusaha bertahan dengan mencari sumber makanan baru
yang mengandung selulosa dengan menyerang apa saja yang ia sukai terlebih
untuk apapun yang tidak memiliki ketahanan alami akan serangannya.
Awalnya, rayap dikenal sebagai hama perkebunan dan kehutanan.
Aktifitas makan rayap dikenal telah banyak menimbulkan kerusakan dan kerugian
pada berbagai tanaman pertanian, perkebunan dan kehutanan. Tidak hanya sampai
di situ, rayap terus memperluas wilayah jelajahnya dalam mencari sumber
makanan. Bukan lagi hanya sekedar menyerang tumbuhan dan tanaman, rayap
kini juga telah menyerang bangunan. Sasarannya tidak lain adalah komponenkomponen bangunan yang mengandung selulosa, seperti kusen, pintu, perabotan,
maupun bahan-bahan berselulosa non-kayu lainnya. Kerugian yang ditimbulkan
akibat serangan rayap pada bangunan pun sangat besar.
Secara mengagumkan rayap juga menyerang bangunan berlantai lebih dari
satu. Bukan hanya gedung bertingkat dua atau tiga lantai, tapi bangunan tinggi
seperti apartemen, hotel, dan gedung perkantoran. Yang mengejutkan adalah,
rayap yang menyerang bangunan tinggi ini bukan hanya dari jenis rayap kayu
kering, yang diketahui memang mampu bertahan hidup pada kayu yang memiliki
Kadar Air rendah, tapi juga dari jenis rayap tanah, yaitu jenis rayap yang
seharusnya hidup dan bersarang di dalam tanah yang kelembabannya tinggi.

Berdasarkan hal tersebut, penelitian untuk mengetahui sebaran jenis rayap


tanah pada suatu wilayah pemukiman modern di kota besar, seperti misalnya
apartemen, perlu dilakukan, agar dapat diduga kemampuan daya jelajah dan
potensi rayap-rayap tanah tersebut sebagai hama bangunan pada bangunan tinggi.

1. 2 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sebaran jenis rayap pada suatu
wilayah pemukiman di kota besar dengan melakukan identifikasi jenis-jenis rayap
yang ditemukan di lokasi penelitian tersebut, dan menggambarkannya dalam
bentuk peta. Penelitian juga bertujuan untuk menduga besarnya potensi rayap
tanah yang ditemukan di lokasi penelitian sebagai hama pada bangunan tinggi.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2. 1 Biologi Rayap
Rayap dikenal sebagai serangga sosial yang berukuran kecil sampai
sedang, hidup dalam koloni-koloni dan membagi kegiatan-kegiatan utamanya
dalam kasta-kasta khusus. Rayap memiliki sayap dua pasang yang menempel
pada bagian dada dengan tekstur seperti selaput serta mempunyai pembuluh sayap
yang bentuknya sederhana dan reticulate. Bentuk dan ukuran sayap depan sama
dengan sayap belakang, karena itulah ordonya dinamakan Isoptera (Iso = sama,
ptera = sayap). Anggota ordo Isoptera seperti serangga lain tubuhnya terdiri dari
tiga bagian yang jelas pembagiannya yaitu kepala, toraks dan abdomen. Diantara
kepala dan toraks terdapat cervix atau leher yang pendek. Kepalanya mencuat ke
depan atau yang lazim disebut prognathus. Sepasang mata majemuk terlihat pada
tahap imago, tapi sangat sedikit berkembang pada tahap-tahap lainnya. Di kepala
terdapat sepasang antena, dan mandibulanya bertipe penggigit. Toraks terdiri dari
tiga segmen yang jelas pembagiannya, masing-masing dengan sepasang kaki.
Pada imago, dua segmen toraks yang terakhir terdapat sepasang sayap yang
hampir sama baik bentuk maupun ukurannya. Pada saat istirahat sayap dilipat
bertumpuk pada bagian belakang abdomen yang memanjang hingga di ujung
abdomen. Abdomen terdiri dari sepuluh segmen. Pada betina di sternit ke tujuh
terjadi pembesaran sedangkan sternit ke delapan dan ke sembilan mereduksi
(Nandika et al. 1991).
Secara filogenetika rayap (ordo Isoptera) dibagi ke dalam dua kelompok,
yaitu rayap tingkat rendah (lower termites) dan rayap tingkat tinggi (higher
termites). Perbedaan antara keduanya antara lain terletak pada tingkat atau
pengaturan

organisasi

di

dalam

koloninya

dan

simbion

pada

sistem

pencernaannya yang berperan dalam proses penguraian selulosa. Pada rayap


tingkat rendah umumnya simbion yang hidup di dalam saluran pencernaannya
adalah dari golongan protozoa sedangkan pada rayap tingkat tinggi peranan
protozoa digantikan oleh bakteri. Rayap tingkat rendah terdiri dari enam famili

yaitu:

Mastotermitidae,

Kalotermitidae,

Hodotermitidae,

Termopsidae,

Rhinotermitidae dan Serretermitidae (Krishna 1989 diacu dalam Arinana 2002).


Menurut Nandika et al. (2003), dibandingkan dengan serangga sosial
lainnya dalam hal ini semut, rayap memiliki beberapa kemiripan. Oleh karena itu,
beberapa orang kerapkali menyebut rayap sebagai semut putih. Namun demikian
perbedaan antara kedua organisme tersebut sesungguhnya cukup banyak, bahkan
semut merupakan salah satu musuh utama rayap. Secara morfologi antara
keduanya juga relatif mudah dibedakan. Rayap memiliki antena yang lurus dan
berbentuk manik-manik, sedangkan semut memiliki antena yang bentuknya
menyiku. Dada dan perut rayap bergabung dengan ukuran yang hampir sama,
sedangkan dada dan perut semut bergabung dengan pinggang yang ramping.
Individu rayap yang bersayap yang lazim disebut laron (atau sulung, alata, alates)
memiliki sepasang sayap yang dalam keadaan diam cara melipatnya memanjang
lurus ke belakang, seperti halnya belalang dan lipas (berbeda dengan semut yang
terlipat dalam beberapa simpul, sebelum memanjang ke belakang). Sayap depan
dan sayap belakang rayap memiliki bentuk, ukuran, dan pola pertulangan yang
serupa, sedangkan sayap depan dan sayap belakang semut memiliki bentuk,
ukuran, dan pola yang berlainan. Dari segi filogenetika, semut lebih mendekati
lebah atau tawon sehingga keduanya dicakup dalam ordo yang sama yaitu
Hymenoptera, sedangkan rayap lebih mendekati lipas dan termasuk Ordo
Isoptera.
Kehidupan rayap sebagai serangga sosial juga memiliki perbedaan dengan
serangga sosial lainnya (semut, lebah, dan tawon). Aktifitas kehidupan stadia pradewasa pada semut, lebah, dan tawon tidak aktif di dalam koloninya, sedangkan
nimfa rayap mempunyai aktifitas yang tinggi. Perbedaan lainnya adalah pada
rayap, raja dan ratu tetap hidup setelah kawin untuk bersama-sama membangun
koloni yang baru walaupun umur raja tetap tidak lebih panjang dari ratunya.
Perbedaan utama antara rayap dengan semut dari segi perilaku adalah dalam hal
mencari makanan. Semut mencari makan dengan cara yang lebih terbuka,
sedangkan rayap relatif tertutup (menutup jalur-jalur kembaranya dengan
tanah). Perbedaan lain antara rayap dan semut masih sangat banyak tapi yang
pasti tidak seperti rayap yang memerlukan kayu (selulosa) sebagai makanan

pokok, semut makanan pokoknya bukan kayu, tapi macam-macam serat dan gula.
Wilson (1971) diacu dalam Nandika et al. (2003) memberikan gambaran yang
rinci mengenai persamaan dan perbedaan antara rayap dengan serangga sosial lain
dari ordo Hymenoptera, yang disajikan pada tabel 1.
Para ahli menduga bahwa rayap memiliki hubungan filogenetika yang
sangat dekat dengan kecoa. Beberapa pustaka bahkan menyebut rayap sebagai
kecoa sosial (social coakroaches). Hal ini terutama ditunjukkan pada rayap
Mastotermes darwinensis, satu-satunya rayap primitif Mastotermitidae yang
memiliki banyak persamaan dengan kecoa primitif khususnya Cryptocercidiae,
seperti pada venasi sayap; struktur luar segmen terakhir abdomen; anatomi
internal dari organ genetalia; mandibel kasta pekerja dan imago; segmentasi
tarsal; serta sistem endokrinnya. Persamaan lain yang dijumpai adalah bahwa dari
25 jenis simbion dari golongan Flagellata hypermastigidae dan Polymastigidae
yang ditemukan pada usus kecoa pemakan kayu Cryptocercus punctulatus
ternyata semuanya dijumpai pada rayap tingkat rendah, khususnya pada M.
darwinensis. Di dalam siklus hidupnya nimfa Cryptocercus secara morfologis
juga sangat mirip dengan rayap kasta pekerja.
Secara sederhana, filogeni rayap menurut Ahmad (1950) dan Emerson
(1955) diacu dalam Nandika et al. (2003) disajikan pada Gambar 1. Kesamaankesamaan tersebut menguatkan dugaan bahwa rayap memang sangat dekat
hubungannya dengan kecoa.
Suatu koloni rayap umumnya terdiri dari tiga kasta, yaitu kasta
reproduktif, kasta prajurit dan kasta pekerja. Kasta reproduktif bersayap akan
muncul dari koloni pada musim-musim tertentu, dan berkumpul di dalam koloni
sebelum bersialang (swarming) ke luar sarang. Beberapa jenis rayap di daerah
tropis bersialang pada awal musim hujan. Masa bersialang ini merupakan masa
perkawinan dimana sepasang imago bertemu dan segera meninggalkan sayapnya
dan mencari tempat yang sesuai di dalam tanah atau kayu. Pemilihan sarang
mungkin pula terjadi sebelum kasta reproduksi berpasangan (Lee & Wood 1971;
Tambunan & Nandika 1989). Kasta reproduktif terbagi menjadi dua yaitu kasta
reproduktif primer dan kasta reproduktif sekunder. Kasta reproduksi primer terdiri
dari serangga dewasa bersayap yang menjadi pendiri koloni (raja dan ratu).

Seekor ratu dapat hidup 6 sampai 20 tahun, bahkan sampai berpuluh-puluh tahun.
Apabila reproduktif primer mati dan koloni membutuhkan penambahan
reproduktif bagi perluasan koloninya maka akan dibentuk reproduktif sekunder
(neoten). Neoten juga akan terbentuk jika sebagian koloni terpisah (terisolasi) dari
sarang utamanya, sehingga suatu koloni baru akan terbentuk (Nandika et al.
1991). Harris (1971) menyatakan terdapat tiga cara yang berbeda dalam
pembentukan koloni rayap, yaitu: (1) melalui sepasang imago rayap yang
bersayap atau rayap penerbang (laron); (2) melalui pemisahan koloni dari koloni
utama dan membentuk kasta reproduktif suplementer; dan (3) melalui proses
migrasi dari sebagian koloni rayap termasuk kasta reproduktif ke sebuah tempat
baru, selanjutnya koloni yang tertinggal mengembangkan kasta reproduktif
suplementer.
Koloni rayap dapat hidup pada kedalaman tanah hingga 56 m untuk
berlindung dari perubahan cuaca yang kurang menguntungkan. Koloni dapat
mencapai jumlah maksimal 200.000 individu dan pada beberapa spesies tertentu
dapat berjumlah lebih banyak lagi dalam waktu 45 tahun. Ratu rayap dapat hidup
lebih dari 25 tahun dan mampu meninggalkan telur hingga 60.000 butir selama
masa hidupnya. Telur-telur tersebut berwarna putih kekuningan dan siap menetas
setelah masa inkubasi selama 5060 hari (Pearce 1997, diacu dalam Arinana
2002).
Kasta prajurit mudah dikenali karena bentuk kepalanya besar dengan
penebalan kulit (sklerotisasi) yang nyata. Karena mandibelnya demikian besar
maka tidak dapat digunakan untuk menggigit makanannya sendiri, sehingga
makannya harus dilayani oleh kasta pekerja. Secara umum dapat dikatakan bahwa
anggota-anggota kasta ini mempunyai rahang (mandibel atau rostrum) yang kuat
dan besar. Berdasarkan bentuk dari kasta prajurit, rayap dibedakan atas dua
kelompok yaitu tipe mandibulate dan tipe nasuti. Pada tipe mandibulate, prajuritprajurit mempunyai rahang (mandibel) yang kuat dan besar tanpa rostrum,
sedangkan tipe nasuti mempunyai rostrum yang panjang tapi mandibelnnya kecil.
Fungsi kasta prajurit adalah melindungi koloni terhadap gangguan dari luar.

Tabel 1 Persamaan dan perbedaan antara rayap dengan serangga sosial dari ordo
Hymenoptera (semut, lebah dan tawon)
No

Persamaan

Koloni terbagi ke dalam


beberapa kasta;
khususnya pada rayap
dan semut.

Terdapat feromon
penanda jejak (trail
following pheromone)
yang digunakan untuk
menarik individu lain dan
tingkah laku dalam
penandaan jejak adalah
sama seperti semut.
Terdapat feromon yang
berfungsi untuk
pengaturan koloni atau
pembentukan kasta
(primer pheromone) yang
juga dijumpai pada lebah
dan semut.
Grooming antara
individu-individu
seringkali terjadi dan
setidaknya merupakan
salah satu cara untuk
menyebarkan feromon.
Memiliki wilayah jelajah
dan sarang dengan bau
khas tersendiri.

Memiliki struktur sarang


yang kompleks.

Pada waktu tertentu


dapat bersifat kanibal.

Sumber : Nandika et al. 2003

Perbedaan
Rayap
Hymenoptera
Pembentukan kasta
Pembentukan kasta
dikendalikan oleh
dikendalikan oleh
faktor nutrisi, walaupun
feromon dasar.
pada sebagian kasus
feromon juga berperan.
Kasta pekerja terdiri Kasta pekerja hanya
terdiri dari individu
dari individu jantan
betina.
dan betina.

Fase larva dan nimfa


berperan di dalam
kehidupan koloni,
setidak-tidaknya
pada instar akhir.

Fase larva dan pupa


tidak aktif dan berperan
dalam kehidupan
koloni.

Tidak terdapat
dominansi diantara
individu di dalam
koloni yang sama.

Dominansi biasa
terjadi, tapi tidak
umum.

Pertukaran makanan
melalui anus sering
terjadi pada rayap
tingkat rendah.
Pemindahan telur
tidak dikenal.

Pertukaran makanan
melalui anus jarang
terjadi.

Kasta reproduktif
jantan/raja setelah
kawin membantu
ratu membangun
sarang. dan
membentuk koloni.

Pemindahan telur
dilakukan oleh anggota
koloni semut dan lebah.
Kasta reproduktif
jantan/raja segera mati
setelah kawin tanpa
membantu ratu
membangun sarang.

TERMITIDAE

Tidak mempunyai flagellate simbion


KALOTERMITIDAE

RHINOTERMITIDAE
Tidak mempunyai anal lobe
Segmen talsa kedua hilang
Telur diletakkan satu persatu

Mempunyai fontanel
1-2 segmen tarsal hilang

SERRITERMITIDAE
HODOTERMITIDAE

MASTOTERMITIDAE
Telur diletakkan satu persatu
Anal lobe dan coelli hilang
Flagellata simbion dari Genus Metadevesconia
Gigi kedua dan mandible sebelah kiri hilang

Perilaku Sosial
Memiliki kasta

CRYTOCERCIDAE

RAYAP
Sayap hilang
KECOA

Memiliki flagellata simbion

KECOA PRIMITIVE BLATOIDEA

Telur diletakkan berkelompok; segmen tarsal 5 buah;


Ocelli berkembang sempurna; memiliki anal lobe pada sayap belakang;
Bukan serangga sosial

Gambar 1 Diagram filogeni rayap.

Kasta pekerja merupakan anggota terbesar dalam koloni, berbentuk nimfa


dan berwarna keputih-putihan (pucat) dengan kepala hipognath (sumbu kepala
tegak lurus sumbu badan) tanpa mata facet. Mandibel relatif kecil jika
dibandingkan dengan kasta prajurit, sedangkan fungsinya adalah mencari makan,
merawat telur, menyuapi prajurit dan kasta reproduktif serta memelihara sarang.
Mereka mengatur efektivitas koloni dengan jalan membunuh dan memakan
individu-individu yang lemah atau mati untuk menghemat energi dalam

koloninya. Pada prinsipnya kasta pekerja ini tidak memiliki sayap dan matanya
tidak berfungsi dengan baik (Nandika et al. 1991).
Menurut Tambunan dan Nandika (1989), rayap mempunyai beberapa sifat
yang penting untuk diperhatikan, yaitu :
1. Sifat Tropalaksis, yaitu sifat rayap untuk berkumpul saling menjilat dan
mengadakan pertukaran bahan makanan. Borror et al. (1992) menyatakan
bahwa rayap-rayap melakukan satu bentuk yang tak ada duanya dalam
pertukaran

cairan

dubur

(trofalaksis),

dan

dengan

cara

inilah

mikroorganisme usus ditularkan dari satu individu ke individu lainnya.


2. Sifat Cryptobiotik, yaitu sifat rayap untuk menjauhi cahaya. Sifat ini tidak
berlaku untuk rayap yang bersayap (calon kasta reproduktif) dimana
selama periode yang pendek dalam hidupnya mereka memerlukan cahaya.
3. Sifat Kanibalisme, yaitu sifat rayap untuk memakan individu sejenis yang
lemah atau sakit. Sifat ini lebih menonjol bila rayap dalam keadaan
kekurangan makanan.
4. Sifat Necrophagy, yaitu sifat rayap yang memakan bangkai sesamanya.

Berdasarkan habitatnya, rayap dibagi ke dalam beberapa golongan yaitu :


rayap kayu basah (dampwood termites), rayap kayu kering (drywood termites),
rayap pohon (tree termites) dan rayap subteran (subterranean termites).
Rayap kayu basah adalah golongan rayap yang biasa menyerang kayu
busuk atau pohon yang akan mati. Pada dasarnya jenis ini menghendaki
kelembaban (kadar air) yang tinggi. Sarangnya terletak di dalam kayu dan tidak
mempunyai hubungan dengan tanah. Contoh dari golongan ini adalah
Glyptotermes spp. (famili Kalotermitidae).
Rayap kayu kering adalah golongan yang biasa menyerang kayu kering
atau kayu yang kadar airnya rendah, misalnya pada kayu yang digunakan pada
bahan bangunan, perlengkapan rumah tangga, komponen perumahan dan lainlain. Pada umumnya rayap kayu kering hidup dalam kayu kering udara, terutama
kayu yang penggunaannya di bawah atap dan yang mempunyai kadar air 10-12%
atau lebih rendah. Koloni bersarang di dalam kayu dan tidak berhubungan dengan
tanah. Di Indonesia rayap ini dikenal dengan jenis Cryptotermes spp (famili

10

Termitidae). Borror et al. (1992) menyatakan bahwa rayap-rayap kayu kering


yang hidup di atas tanah (tanpa kontak dengan tanah) hidup di patok-patok,
potongan-potongan batang pohon dan bangunan-bangunan yang terbuat dari kayu.
Sumber utama kelembaban adalah air metabolik (air berasal dari oksidasi
makanan).
Rayap pohon adalah golongan rayap yang menyerang pohon-pohon hidup.
Mereka bersarang di dalam pohon dan tidak mempunyai hubungan dengan tanah.
Di Indonesia dikenal jenis rayap pohon yaitu Neotermes tectonae Holmgren dan
Neotermes dalbergiae Kalshoven (famili Kalotermitidae).
Rayap subteran adalah golongan rayap yang membentuk sarang di dalam
tanah tetapi dapat juga menyerang bahan-bahan di atas tanah karena selalu
mempunyai terowongan pipih yang terbuat dari tanah yang menghubungkan
sarang dengan benda yang diserangnya. Yang termasuk golongan rayap subteran
adalah anggota dari famili Rhinotermitidae serta sebagian dari famili Termitidae.
Dari sekian banyak rayap ternyata yang paling banyak menyerang adalah
golongan rayap subteran (Nandika et al.1991).
Kemampuan rayap melakukan adaptasi yang tinggi terhadap kondisi
lingkungan menyebabkan penyebaran rayap di dunia menjadi sangat luas. Di
daerah tropika, rayap ditemukan mulai dari pantai sampai ketinggian 3000 m di
atas permukaan laut. Penyebaran ke daerah temperate telah berlangsung hingga
mencapai batas 50o LU dan 50o LS (Nandika et al. 2003). Hingga saat ini di dunia
terdapat lebih dari 2500 jenis rayap yang terbagi ke dalam tujuh famili, 15 subfamili, dan 200 genus. Pembagian famili dan sub-famili rayap adalah sebagai
berikut (Krishna & Weesner 1969) :
1. Mastotermitidae
2. Kalotermitidae
3. Hodotermitidae
Termopsinae
Stolotermitinae
Porotermitinae
Cretatermitinae (fosil)
Hodotermitinae

11

4. Rhinotermitidae
Psammotermitinae
Heterotermitinae
Stylotermitinae
Coptotermitinae
Termitogetoninae
Rhinotermitinae
5. Serrytermitidae
6. Termitidae
Amitermitinae
Termitinae
Macrotermitinae
Nasutitermitinae

Famili Kalotermitidae termasuk golongan rayap yang paling primitif


diantara jenis-jenis rayap yang terdapat di Indonesia. Pada koloninya tidak
terdapat kasta pekerja, tugas mengumpulkan makanan dan merawat sarang
dilakukan oleh larva dan nimfa yang sudah tua. Dari cara hidupnya, rayap ini
dibedakan menjadi tiga golongan, yaitu rayap kayu lembab, rayap pohon dan
rayap kayu kering. Sedangkan pada famili Rhinotermitidae dan Termitidae lebih
dikenal dengan rayap subteran dan cara hidupnya yang banyak memiliki
persamaan satu sama lainnya. Pusat sarang umumnya terdapat dalam tanah,
walaupun sarangnya dibuat di dalam kayu, humus atau sampah yang terdapat
dalam tanah. Serangan rayap ini dapat mencapai tempat yang jauh dan untuk
melindungi tubuh yang kryptobiotik (tidak suka cahaya) maka dibuat liang
kembara yang berbentuk pipih, dibuat di atas tanah, tembok atau kayu menuju ke
objek serangan. Beberapa jenis rayap subteran membangun gundukan tanah
sebagai sarangnya dan selalu memiliki hubungan dengan sumber air. Anggota
penting dari famili Rhinotermitidae di Indonesia adalah genus Coptotermes,
sedangkan dari famili Termitidae adalah Macrotermes dan Nasutitermes
(Tarumingkeng 1971).

12

2. 2 Ekologi Rayap
Khrisna dan Weesner (1970) mengatakan bahwa biotipe atau habitat mikro
suatu rayap merupakan tempat dimana rayap ditemukan dan dimana rayap tinggal
dengan semua komponen biotik dan abiotiknya.
Menurut Nandika et al. (2003) aktivitas rayap di suatu daerah dipengaruhi
oleh berbagai faktor, seperti tanah, tipe vegetasi, faktor iklim dan ketersediaan air.
Di dalam ekosistemnya, rayap merupakan mata rantai yang menghubungkan
siklus biogeochemical (dekomposer bahan organik) yang sangat penting, seperti
siklus karbon, oksigen, nitrogen, sulfur, dan fosfor. Selain itu rayap juga dapat
menghasilkan senyawa anti mikroba untuk melindunginya dari musuh alami.
2. 2. 1 Tipe tanah
Tanah bagi rayap berfungsi sebagai tempat hidup dan dapat
mengisolasi rayap dari suhu serta kelembaban yang sangat ekstrim.
Keberadaan jenis rayap tertentu dapat meningkatkan kesuburan tanah, karena
aktifitas rayap dapat merubah profil tanah, mempengaruhi tekstur tanah dan
mendistribusikan bahan organik. Rayap hidup pada tipe tanah tertentu.
Namun, secara umum rayap tanah lebih menyukai tipe tanah yang banyak
mengandung liat. Serangga ini tidak menyukai tanah berpasir karena tipe
tanah ini memiliki kandungan bahan organik yang rendah. Pada area berpasir,
rayap dapat meningkatkan infiltrasi air dan mengembalikannya ke bagian atas
tanah.
2. 2. 2 Tipe vegetasi
Rayap mampu memodifikasi profil dan sifat kimia tanah sehingga
menyebabkan terjadinya perubahan vegetasi.
2. 2. 3 Bahan organik dan mineral tanah
Karakteristik

tanah

sangat

mempengaruhi

penyebaran

dan

kelimpahan rayap. Tanah dengan kandungan liat dan lempung yang tinggi,
kandungan pasir yang rendah dan karbon di permukaan tanah yang rendah
memiliki kelimpahan rayap yang rendah (Lee & Wood 1971). Selain itu,
rayap dan keberadaannya di dalam tanah juga dapat mempengaruhi bahan
organik dan mineral tanah, seperti nitrogen, mineral, infiltrasi air, dan
produksi metane. Liang kembara rayap dapat mempengaruhi pergerakan air di

13

dalam tanah. Liang kembara dan sarang dapat meningkatkan jumlah udara dan
air di dalam tanah, dan memperbaiki tekstur tanah dengan mencampur tanah
bagian atas dan bagian bawah. Fraksi debu pada sarang rayap mempunyai
kemampuan menyerap air lebih baik dibandingkan tanah di sekelilingnya.
Melalui peningkatan kapasitas air tanah, rayap juga memberikan peluang
untuk masuknya mikroorganisme tanah lain dan mempermudah penyebaran
akar-akar tanaman. Gas metana yang dihasilkan oleh rayap mempunyai
kontribusi penting pada efek rumah kaca yang menyebabkan meningkatnya
pemanasan temperatur global. Rayap dapat menghasilkan gas metana
seperlima dari yang terdapat di dunia. Setiap kayu dan humus yang dimakan
oleh rayap merupakan penyebab dihasilkannya gas metana. Hutan tropis
memilki persediaan kayu dan humus yang sangat tinggi. Oleh karena itu,
hutan tropis menghasilkan gas metana yang lebih tinggi dibandingkan tipe
hutan lainnya. Perbedaan jumlah gas metana yang diproduksi ternyata
dipengaruhi oleh kelimpahan organisme simbion (bakteri atau flagellata) di
dalam saluran pencernaan rayap. Gas metana yang diproduksi akan semakin
meningkat sejalan dengan meningkatnya kelimpahan bakteri atau flagellata di
dalam saluran pencernaan rayap tersebut.
2. 2. 4 Faktor lingkungan
Faktor lingkungan yang mempengaruhi perkembangan populasi
rayap meliputi curah hujan, suhu, kelembaban, ketersediaan makanan, dan
musuh

alami. Faktor-faktor tersebut saling berinteraksi dan saling

mempengaruhi satu sama lain. Kelembaban dan suhu merupakan faktor yang
secara bersama-sama mempengaruhi aktifitas rayap. Perubahan kondisi
lingkungan menyebabkan perubahan perkembangan, aktifitas, dan perilaku
rayap.
2. 2. 4. 1 Curah hujan
Curah hujan merupakan pemicu perkembangan eksternal dan
berguna untuk merangsang keluarnya kasta reproduktif dari sarang. Namun
demikian, curah hujan yang terlalu tinggi dapat juga menurunkan aktifitas
wilayah jelajah rayap. Curah hujan umumnya memberikan pengaruh fisik
secara langsung pada kehidupan koloni rayap, khususnya yang membangun

14

sarang di dalam atau di permukaan tanah. Curah hujan memberikan pengaruh


tidak langsung melalui perubahan kelembaban dan kadar air kayu.
2. 2. 4. 2 Kelembaban
Perubahan kelembaban sangat mempengaruhi aktifitas jelajah
rayap. Pada kelembaban yang rendah, rayap bergerak menuju daerah dengan
suhu yang lebih rendah. Namun demikian, rayap memiliki kemampuan untuk
menjaga kelembaban di dalam liang-liang kembaranya sehingga tetap
memungkinkan rayap bergerak ke daerah yang lebih kering. Di lain pihak, jika
permukaan air tanah rendah, serangga ini hanya sedikit terpengaruh oleh
perubahan iklim termasuk kelembaban.
2. 2. 4. 3 Suhu
Suhu merupakan faktor penting yang mempengaruhi kehidupan
serangga, baik terhadap perkembangan maupun aktifitasnya. Pengaruh suhu
terhadap serangga terbagi menjadi beberapa kisaran. Pertama, suhu
maksimum dan minimum, yaitu kisaran suhu terendah atau tertinggi yang
dapat menyebabkan kematian pada serangga; Kedua adalah suhu estivasi atau
hibernasi, yaitu kisaran suhu di atas atau di bawah suhu optimum yang dapat
mengakibatkan serangga mengurangi aktifitasnya atau dorman; dan Ketiga
adalah kisaran suhu optimum. Pada sebagian besar serangga kisaran suhu
optimum adalah 15-38oC. Rayap yang berbeda genera atau berbeda jenis dari
genera yang sama dapat memiliki toleransi suhu yang berbeda. Suhu dan
kelembaban juga mempengaruhi vegetasi yang pada gilirannya mempengaruhi
rayap di sekitarnya. Di tempat terbuka di mana sinar matahari langsung
menembus permukaan tanah pada tengah hari hingga awal sore hari ketika
suhu berada pada puncaknya, rayap sering berada di bawah tanah atau berada
di dalam sarang. Namun mereka dapat tetap berada di permukaan tanah bila
terdapat naungan yang besar yang menciptakan suhu optimum (thermal
shadow).
Mekanisme pengaturan suhu pada sarang rayap dapat dilakukan
dengan beberapa cara, yaitu : (1) dengan cara isolasi, yaitu dengan
membangun sarang yang tebal, gudang makanan, dan ruangan lain di sekitar
sarang. Dengan isolasi ini suhu sarang menjadi terkontrol dan transfer panas

15

dari luar ke dalam sarang diperlambat; (2) pengaturan suhu dengan cara
mengatur arsitektur sarang (termoregulasi). Dengan adanya termoregulasi,
suhu antar ruangan dalam sarang dapat berbeda-beda dan mampu
dikendalikan oleh rayap; dan (3) adalah dengan mempertahankan kandungan
air tanah penyusun sarang.
2. 2. 5 Musuh alami
Rayap merupakan serangga sosial yang memiliki kepekaan yang
tinggi dalam mendeteksi musuh-musuh alaminya. Musuh alami rayap dapat
dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu predator, parasit, dan patogen. Dalam
siklus hidupnya, fase rayap yang paling rentan terhadap serangan predator dan
parasit adalah pada saat laron terbang (swarming), baik predator di dalam
sarang rayap maupun predator di luar sarang rayap.

2. 3 Penyebaran Rayap di Indonesia


Di Indonesia sampai dengan tahun 1970 sudah ditemukan tidak kurang
dari 200 jenis rayap dari berbagai genus (Tarumingkeng 1971). Menurut Roonwal
dan Maiti (1976) diacu dalam Rismayadi (1999), jenis-jenis rayap yang banyak
dijumpai di daerah tropis seperti di Indonesia adalah sebagai berikut:
Famili Kalotermitidae
1. Genus
Spesies

: Neotermes Holmgren
: N. dalbergia Kalshoven
N. tectonae

2. Genus
Spesies

: Cryptotermes Banks
: C. cynocephalus Light
C. domesticus Haviland
C. dudleyi Banks

Famili Rhinotermitidae
Sub-famili Coptotermitinae
1. Genus
Spesies

: Coptotermes
: C. curvignathus Holmgren
C. kalshoveni Kemner
C. travians Haviland

16

Sub-famili Rhinotermitinae
1. Genus
Spesies
2. Genus
Spesies

: Prorhinotermes Silvestri
: P. ravani
: Schedorhinotermes Silvestri
: S. javanicus Kemner
S. tarakanensis Oshima

Famili Termitidae
Sub-famili Amitermitinae
1. Genus
Spesies

: Microcerotermes Silvestri
: M. dammermani

Sub-famili Termitinae
1. Genus
Spesies

: Capritotermes Wasmann
: C. buitenzori Holmgren
C. mohri Kemner
C. santchini Silvestri

Sub-famili Macrotermitinae
1. Genus
Spesies

: Macrotermes Holmgren
: M. carbonarius Hagen
M. gilvus Hagen
M. malacensis Haviland

2. Genus
Spesies

: Odontotermes Holmgren
: O. grandiceps Holmgren
O. javanicus Holmgren
O. makassarensis Kemner

3. Genus
Spesies

: Microtermes Wasmann
: M. inspiratus Kemner

Sub-famili Nasutitermitinae
1. Genus
Spesies

: Nasutitermes Dudleyi
: N. acutus Holmgren
N. matangensis Haviland
N. matangensisformis Holmgren

17

2. Genus
Spesies

: Bulbitermes Emerson
: B. durianenis Roonwal
B. lakshmani Roonwal dan Maiti

3. Genus
Spesies
4. Genus
Spesies

: Lacessititermes Batavus
: L. batavus Kemner
: Hospitalitermes Holmgren
: H. diurus Kemner

Hasil survey yang dilakukan di berbagai daerah di Indonesia menunjukkan


tidak kurang dari sembilan sampai 15 jenis rayap yang ditemukan. Sebagai contoh
sebaran beberapa jenis rayap yang ditemukan di wilayah DKI Jakarta disajikan
pada tabel 2 dan lampiran 4.

Tabel 2 Penyebaran jenis rayap di wilayah DKI Jakarta


No
1

Wilayah
Jakarta Pusat

Jakarta Utara

Jakarta Barat

Jakarta Selatan

Jakarta Timur

Jenis
Microtermes inspiratus
M. incertoides
Macrotermes gilvus
Odontotermes javanicus
M. inspiratus
M. incertoides
M. gilvus
O. javanicus
M. inspiratus
M. incertoides
M. gilvus
O. javanicus
M. inspiratus
M. incertoides
M. gilvus
O. javanicus
S. javanicus
M. inspiratus
M. incertoides
M. gilvus
O. javanicus

Sumber : Nandika et al. (2003)

Rayap
Schedorhinotermes javanicus
Coptotermes curvignathus
C. havilandi
C. kalshoveni
S. javanicus
C. curvignathus
C. havilandi
O. grandiceps
S. javanicus
C. curvignathus
C. heimi
C. curvignathus
C. havilandi
C. kalshoveni
C. travians
O. malaccensis
S. javanicus
C. curvignathus
C. havilandi

18

2. 4 Rayap sebagai Hama


Di daerah tropika yang lembab, diantara kelompok organisme yang
dominan menghuni tanah, rayap memainkan peranan penting, baik secara
ekologis dan ekonomis. Secara alami rayap menyerang pohon mati, tunggaktunggak, produk kayu dan limbah. Serangan ini dianggap manfaat, karena rayap
menguraikan kembali bahan organik dari pohon mati, tunggak-tunggak dan lainlain ke tanah sehingga membantu dalam laju penghancuran dari sisa-sisa yang tak
terpakai. Rayap seringkali merupakan ancaman bagi hasil-hasil pertanian dan
produknya. Kerusakan potensial dari jenis hama rayap biasanya lebih besar
daripada pengaruh manfaatnya dalam suatu ekosistem (Rudi 1999).
Rayap Coptotermes dikenal sebagai hama tanaman yang utama. Beberapa
jenis tanaman perkebunan yang banyak diserang hama tersebut adalah pohon
kelapa, karet, coklat, dan kelapa sawit. Serangan C. curvignathus pada tanaman
kelapa seringkali menyebabkan kematian. Belum diketahui dengan pasti apakah
kematian tersebut akibat rayap yang memakan jaringan meristem di bawah titik
tumbuh atau akibat patogen yang masuk bersama-sama rayap. Rayap C.
curvignathus ditemukan pula menyerang tanaman kelapa sawit. Pada bagian luar
tanaman kelapa sawit yang terserang biasanya dilapisi oleh lapisan tanah,
sedangkan pada bagian dalamnya terdapat lubang yang dihuni rayap. Lubang ini
mempunyai bentuk khas menyerupai karton, yang merupakan campuran karton
rayap dengan tanah yang diambil dari perakaran tanaman. Seperti rayap lainnya,
C. curvignathus juga tidak suka cahaya. Untuk menghindar dari cahaya, rayap
membuat lorong kembara (galleries) yang gunanya agar bebas dari cahaya.
Serangan C. curvignathus pada tanaman ini dimulai dari akar atau batang di
bawah permukaan tanah dan terus naik ke atas sampai ke pucuk tanaman. Bila
serangan telah sampai ke pucuk tanaman dan bagian bawahnya membengkak serta
lembek karena berisi air, maka pucuk tanaman tersebut akan patah. Gejala seperti
ini terjadi apabila serangan rayap diikuti dengan munculnya bakteri pembusuk.
Selain itu C. curvignathus juga menyerang perkebunan karet yang menyebabkan
kematian terutama pada tanaman muda berumur satu sampai dua tahun. C.
curvignathus merupakan satu-satunya spesies rayap yang menyerang tanaman
karet yang masih hidup di Indonesia dan Malaysia. Di Malaysia rayap ini juga

19

menyerang perkebunan coklat. Selain itu juga menyerang kebun mangga, durian
dan pepaya.
Pada tahun 1964 rayap C. curvignathus dan C. travians dilaporkan
menyerang tegakan Pinus caribaea dan P. merkusii yang berumur delapan tahun
di Kebun Percobaan Yanlapa, Bogor. Di Malaysia rayap ini juga tergolong hama
primer pada tegakan P. caribaea. Serangan rayap ini hampir dijumpai pada semua
jenis tanah dan serangannya menghebat setelah penutupan tajuk. Adanya serangan
rayap ini baru diketahui ketika bagian kulit pohon yang terserang ditutupi oleh
tanah. Namun demikian pada saat itu kerusakan yang terjadi telah cukup parah
sehingga sulit untuk ditanggulangi. Dengan perkataan lain, pohon yang terserang
rayap C. curvignathus tidak menunjukkan gejala awal yang jelas kecuali pada saat
pohon akan mati yang ditunjukkan oleh perubahan warna daun. Pada umumnya,
bagian pangkal batang pohon yang terserang rayap mengalami kerusakan yang
cukup parah dan dapat dengan mudah patah oleh tiupan angin.
Rayap Macrotermes gilvus Hagen juga merupakan hama penting pada
berbagai tanaman perkebunan khususnya pada perkebunan kelapa dan kelapa
sawit, namun serangannya tidak sampai menimbulkan kematian pada tanaman
inang. M. gilvus termasuk ke dalam famili Termitidae yang dikenal sebagai rayap
tingkat tinggi. Selain M. gilvus, spesies rayap lain dari famili ini yang diketahui
merupakan hama penting pada tanaman perkebunan adalah Odontotermes spp,
walaupun kasus serangannya yang menimbulkan kerugian pada tanaman
perkebunan belum pernah dilaporkan terjadi di Indonesia. Spesies-spesies rayap
ini umumnya menyerang sejumlah tanaman perkebunan termasuk berbagai
spesies legum, kapas, dan kelapa. Rayap M. gilvus dan O. javanicus juga
menyerang beberapa spesies tanaman kehutanan. Pada tahun 1976 di
Tasikmalaya, dilaporkan bahwa M. gilvus dan O. javanicus menyerang tanaman
kayu putih yang menyebabkan kematian hingga mencapai 71% pada tegakan
berumur lima tahun, 81% pada tegakan berumur enam tahun, dan yang berumur
delapan tahun mencapai 91%. Rayap M. gilvus juga menyerang pohon Eucaliptus
alba di kebun percobaan Darmaga dan Demplot HTI Universitas Winaya Mukti
dengan tingkat kematian pada pohon berumur kurang dari enam bulan secara
berturut-turut adalah 60% dan 100% (Nandika et al. 2003).

20

2. 5 Morfologi Beberapa Jenis Rayap


2. 5. 1 Macrotermes gilvus Hagen
Menurut Nandika et al. (2003), M. gilvus memiliki kepala berwarna
coklat tua. Mandibel berkembang dan berfungsi; mandibel kanan dan kiri
simetris dan tidak memiliki gigi marginal. Mandibel melengkung pada
ujungnya dan digunakan untuk menjepit, ujung dari labrum tidak jelas, pendek
dan melingkar. Labrum ini mempunyai hyalin pada ujungnya. Antena terdiri
dari 16-17 ruas.
Ada dua jenis kasta prajurit dari M. gilvus yaitu kasta prajurit yang
besar (major) dan kasta prajurit yang kecil (minor), dengan ciri-ciri sebagai
berikut :
1) Kasta prajurit yang besar
Kepala berwarna coklat kemerahan, dengan lebar 2.88-3.10 mm. Panjang
kepala dengan mandibel 4.80-5.00 mm. Antena 17 ruas, ruas ketiga sama
panjang dengan ruas kedua, ruas ketiga lebih panjang dari ruas keempat
2) Kasta prajurit yang kecil
Kepala berwarna coklat tua dengan lebar 1.52-1.71 mm. Panjang kepala
dengan mandibel 1.84-2.08 mm. Antena 17 ruas, ruas kedua sama panjang
dengan ruas keempat.
2. 5. 2 Odontotermes javanicus Holmgren
Kepala berwarna coklat tua atau coklat kemerahan. Bentuk kepala
melebar, perbandingan antara bagian yang terlebar dengan bagian yang
tersempit lebih besar dari 1.39 mm. Panjang kepala dengan mandibel 3.273.36 mm, panjang kepala tanpa mandibel 2.19-2.44 mm.
Mandibel sama panjang atau lebih pendek dari setengah panjang
kepala. Pada mandibel terdapat gigi marginal. Bagian dalam dari gigi marginal
pada mandibel sebelah kiri sangat cembung. Panjang gigi marginal 0.70 mm.
Lebar dasar mandibel 1.24 mm dan panjang 1.19 mm. Labrum lebih panjang
dari gigi marginal pada mandibel kiri. Antena terdiri dari 17 ruas. Ruas kedua
sama panjang atau lebih pendek dari ruas ketiga. Postmentum tidak
melengkung atau cekung, panjang postmentum 1.45 mm dan lebar 0.72 mm
(Nandika et al. 2003).

21

3. 5. 3 Coptotermes curvignathus Holmgren


Kepala berwarna kuning, antena, labrum, dan pronotum kuning
pucat. Bentuk kepala bulat ukuran panjang sedikit lebih besar daripada
lebarnya, memiliki fontanel yang lebar. Antena terdiri dari 15 segmen; segmen
kedua dan segmen keempat sama panjangnya.
Mandibel berbentuk seperti arit dan melengkung di ujungnya; batas
antara sebelah dalam dari mandibel kanan sama sekali rata. Panjang kepala
dengan mandibel 2.46-2.66 mm, panjang kepala tanpa mandibel 1.56-1.68
mm. Lebar kepala 1.40-1.44 mm dengan lebar pronotum 1.00-1.03 mm dan
panjangnya 0.56 mm. Panjang badan 5.5-6 mm. Bagian abdomen ditutupi
dengan rambut yang menyerupai duri. Abdomen berwarna putih kekuningkuningan (Nandika et al. 2003).

2. 6 Rayap sebagai Hama Bangunan


Menurut Nandika et al, (2003), intensitas serangan rayap dan besarnya
kerusakan pada bangunan gedung akibat serangan rayap secara totalitas sangat
tinggi. Rata-rata persentase serangan rayap pada bangunan perumahan di kotakota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung dan Batam mencapai lebih dari
70%. Laporan penelitian oleh Rakhmawati (1996) menyatakan bahwa kerugian
ekonomis akibat serangan rayap pada bangunan perumahan adalah sebesar 1.67
trilyun per tahun. Sementara itu untuk memperkirakan kerugian ekonomis di
tahun-tahun mendatang dapat digunakan data Biro Pusat Statistik (1990) yang
menyatakan bahwa peningkatan pertumbuhan perumahan adalah 2.4% dan
pertambahan nilai kayu per tahun 8.25%, maka nilai kerugian ekonomis akibat
serangan rayap secara lengkap disajikan pada Gambar 2.
Faktor-faktor yang digunakan untuk memperkirakan kerugian ekonomis
akibat serangan rayap tersebut adalah jumlah rumah yang terserang, nilai kayu di
pasaran, dan konstanta kerugian. Konstanta nilai kerugian ekonomis diperoleh
dari nilai rata-rata kerugian ekonomis akibat serangan rayap per unit rumah. Pada
tahun 1995 dimana populasi rumah sebanyak 45.276 juta, nilai kayu per unit
rumah 294 ribu rupiah, dan konstanta nilai kerugian12,5% maka nilai kerugian
ekonomis mencapai 1,67 trilyun rupiah. Tentunya pada tahun 2007, dengan

22

peningkatan nilai rumah dan nilai ekonomis kayu maka kerugian ekonomis akibat
serangan rayap akan sangat tinggi (Rismayadi & Arinana 2007).
Rayap biasa menyerang kayu yang kurang padat, yaitu bagian kayu awal
dari riap tumbuh tahunan. Apabila kayu awal habis maka rayap siap untuk
memakan kayu akhir. Rayap merobek-robek partikel kayu dengan mandibulanya,
kemudian dicerna menjadi bagian yang lebih halus di dalam badan rayap
(Nicholas 1987). Rayap tanah menyerang kayu dengan membuat liang gerek pada
kayu. Kerusakan kayu seperti honey comb dengan ciri khas adanya partikelpartikel tanah pada liang gerek tersebut (Anderson 1960, diacu dalam Tambunan
& Nandika 1989).

Kerugian Ekonomi (Trilyun Rupiah)

2.5

1.5

0.5

0
1995

1996

1997

1998

1999

2000

Tahun

Gambar 2 Perkiraan nilai kerugian ekonomis akibat serangan rayap

Serangan rayap tanah pada bangunan dan perumahan dapat terjadi melalui
berbagai cara antara lain : (a) hubungan langsung antara tanah dan kayu, misalnya
listrik dan lain-lain, (b) melalui retakan-retakan atau rongga-rongga dalam
tembok, dimana hal ini dapat menimbulkan efek langsung pada struktur balok dan
konstruksi bangunan, atau (c) dengan membuat saluran-saluran dan jalan-jalan
tertutup yang berupa lorong-lorong di atas permukaan kayu, beton, pipa dan
sebagainya (Nandika et al. 1991).

23

Menurut Nandika et al. (1991), apabila rayap tanah menyerang kayu yang
terletak jauh dari pusat sarangnya maka mereka akan membuat jalan-jalan
penghubung yang tertutup dengan tanah tempat hilir mudik pekerja membawa
bahan makanan ke dalam sarang. Hubungan dengan tanah bagi sebagian rayap
subteran merupakan syarat mutlak terutama untuk mempertahankan habitatnya
yang lembab.
Rayap tanah yang sering menyerang bangunan kira-kira mewakili 10%
dari keseluruhan jenis rayap pemakan kayu (Rudi 1999). Harris (1971)
melaporkan 120 jenis menyerang bangunan, 64 jenis diantaranya merupakan
nama yang sangat penting. Rhinotermitidae adalah famili yang jumlah anggotanya
banyak dan sering menyerang bangunan. Dari famili tersebut yang penting dan
terganas adalah Coptotermes curvignathus yang sangat umum terdapat di
Indonesia (Nandika et al. 1985 diacu dalam Rudi 1999).
Sejak awal tahun 2005, pembangunan hunian berlantai banyak (jangkung)
yang akrab disebut apartemen tetap menjadi primadona bisnis properti di Jakarta
yang memiliki luas areal 66.000 hektar. Di Jakarta saat ini sudah ada lebih dari
800 gedung tinggi (lebih dari delapan lantai) yang sebagian besar berfungsi
sebagai gedung perkantoran, hotel dan apartemen (Rilatupa 2007). Adanya rayap
tanah pada suatu bangunan mungkin tidak mudah diketahui, sampai bagian-bagian
kayu yang parah terkena serangannya mulai memperlihatkan kerusakan yang
pasti. Sebaliknya, ada tanda-tanda tertentu, seperti terdapatnya saluran-saluran
dari tanah pada fondasi-fondasi bata, batu atau beton, pipa-pipa pemanas, dan
semacamnya, dan munculnya serangga-serangga pembiak yang bersayap secara
musiman yang seringkali menunjukkan adanya serangan-serangan itu sebelum
serangan tersebut menimbulkan kerusakan yang lebih besar (Tambunan &
Nandika 1989). Menurut Rismayadi dan Arinana (2007), pada bangunan
bertingkat seperti apartemen, kita agak sukar menemukan akses masuk rayap ke
dalam bangunan. Tetapi beberapa kasus yang dijumpai menemukan bahwa rayap
masuk melalui retakan tembok pada lantai atau dinding basement, naik ke atas
melalui lorong lift, shaft, atau instalasi listrik. Ditemukan pula kasus rayap masuk
ke dalam bangunan melalui lapisan perekat silikon pada nat kaca yang dilubangi
oleh rayap atau naik ke atas melalui marmer dinding bangunan.

24

Upaya pencegahan serangan rayap tanah yang selama ini banyak


dilakukan adalah dengan menggunakan insektisida yang lazim disebut dengan
peracunan tanah (soil treatment). Perlakuan tanah dengan termitisida ini telah
lama dikenal untuk mencegah serangan rayap tanah pada bangunan. Tujuannya
adalah memberikan lapisan beracun di bawah bangunan untuk menghalangi
penembusan rayap tanah ke dalam bangunan. Namun tampaknya peracunan tanah
menimbulkan efek samping terhadap lingkungan yang berupa pencamaran tanah
dan air. Karena perlakuan tersebut banyak menimbulkan masalah kesehatan
manusia dan lingkungan, sejumlah negara telah melarang penggunaan beberapa
jenis bahan kimia beracun tersebut (Sumarni & Ismanto 1992; Sukartana 1998).
Mencegah serangan rayap jauh lebih menguntungkan dibandingkan
dengan tindakan kuratif atau pengendalian yang dilakukan setelah bangunan
rumah rusak terserang rayap. Mencegah serangan rayap juga lebih efektif dan
efisien. Tiga cara mencegah serangan rayap adalah dengan pendekatan rancang
bangun, penggunaaan kayu awet, dan menggunakan penghalang kimia atau
penghalang fisik (Rismayadi & Arinana 2007).
2. 7 Kondisi Umum Gedung Apartemen Taman Rasuna
Apartemen Taman Rasuna berada pada Jl. H. Rasuna Said Kuningan
Jakarta Selatan. Komplek Apartemen yang memiliki 15 menara ini berada di atas
lahan seluas 70.000 m2, dimana masing-masing menara menutupi luas lahan 644
m2. Tiap menara memiliki tinggi 102 m, dan keliling menara adalah 115 m.
Menara 9 dan 11 masing-masing memiliki 34 lantai; menara 2, 3, 7, 10, 14 dan 17
masing-masing memiliki 33 lantai; menara 1, 4, 6, 8, 12, 15 dan 16 masingmasing memiliki 30 lantai; dan menara 12 memiliki 27 lantai. Area parkir
penghuni terdiri dari 5 lantai yang terhubung dengan podium pada lantai 4 dan 5,
dimana podium ini juga merupakan sistem struktur dilatasi sambungan antar
menara. Sementara itu, luas area terbuka seperti taman dan pedestrian pada
komplek apartemen ini adalah 14.490 m2.
Pembangunan Apartemen Taman Rasuna dimulai pada tahun 1995,
dimana kontraktor asing mulai membangun menara 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 14, 15,
16 dan 17. Kesebelas menara ini selesai dibangun pada tahun 1997 dan mulai
dihuni pada akhir tahun 1997. Lalu pembangunan menara 1 dan 2 dilakukan pada

25

akhir tahun 1997 oleh kontraktor lokal dan mulai dihuni pada awal tahun 1998.
Pembangunan menara 3 dan 4 juga kemudian dilakukan oleh kontraktor lokal
pada tahun 1998 dan baru dihuni pada awal tahun 2003.
Sebelum dibangun menjadi gedung apartemen, kawasan ini telah
digunakan sebagai pemukiman rumah-rumah penduduk dan komplek pemakaman
area Menteng Pulo untuk warga DKI (Rilatupa 2007). Untuk lebih jelasnya, peta
lokasi Apartemen Taman Rasuna Jakarta disajikan pada lampiran 5.

2. 8 Pengumpanan Rayap
Metode pengumpanan rayap telah lama dikenal dan sering digunakan
khususnya untuk mengetahui sebaran jenis rayap, daya jelajah atau luas wilayah
jelajah dan jumlah individu suatu koloni rayap. Pada metode pengumpanan
biasanya digunakan kayu umpan dari jenis Pinus merkusii. Kayu pinus atau tusam
diketahui memiliki Berat Jenis (BJ) sedang, yaitu sekitar 0.55, dan Kelas Kuat III,
sehingga tidak terlalu keras dan disukai oleh rayap karena mudah dirobek oleh
mandibula rayap dan mudah dicerna. Selain itu kayu ini memiliki Keawetan
rendah pada Kelas Awet IV, daya tahannya terhadap rayap kayu kering pun
sangat rendah. Kayu Pinus juga sering digunakan sebagai bahan baku bangunan
atau perumahan, lantai, mebel, kotak dan tangkai korek api, potlot (dengan
pengolahan khusus), papan wol kayu dan kayu lapis (Martawijaya et al. 1989).

BAB III
BAHAN DAN METODE

3. 1 Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan di lingkungan Gedung Apartemen Taman
Rasuna, Kuningan, Jakarta Selatan, selama lima bulan, yaitu dari Bulan
September 2005 sampai dengan Bulan Januari 2006. Penelitian dilakukan pada
musim panas untuk menghindari terjadinya hujan yang dapat mempersulit proses
pengambilan atau pengumpulan spesimen rayap dari kayu umpan yang terserang
rayap. Identifikasi jenis rayap dilakukan di Laboratorium Hama dan Penyakit
Hasil Hutan, Fakultas Kehutanan, dan Laboratorium Biologi Hasil Hutan, Pusat
Studi Ilmu Hayati, Institut Pertanian Bogor, pada Bulan Februari sampai dengan
Bulan Maret 2006.

3. 2 Bahan dan Alat


Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain Kayu
Umpan (Pinus merkusii Jungh et de Vriese), Cat minyak warna merah, dan
Alkohol 70%. Sedangkan alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah
Tabung film, Mikroskop, dan Linggis.

3. 3 Metode Penelitian
3. 3. 1 Pembuatan kayu umpan
Kayu Pinus merkusii dibuat dalam ukuran masing-masing 1 x 2 x 28
3

cm sebagai umpan untuk rayap dalam keadaan kering udara. Bagian atas
kayu umpan dicat warna terang (merah) untuk membantu menandai lokasi
kayu umpan selama pengamatan dilakukan.
3. 3. 2 Pemasangan kayu umpan
Pemasangan kayu umpan dilakukan pada tanah di sekitar gedung
apartemen atau dekat sistem perakaran tanaman yang diperkirakan tidak
terganggu oleh aktivitas yang dilakukan di daerah tersebut. Setiap kayu umpan
dibenamkan secara vertikal ke dalam tanah sedalam 23 cm; sehingga bagian

27

Jarak antara masing-masing kayu umpan adalah 5-10 m. Pengamatan kayu


umpan dilakukan satu hingga dua bulan kemudian.

Kayu Umpan
Permukaan Tanah
5 cm

23 cm

Gambar 3 Cara pemasangan kayu umpan di lapangan

3. 3. 3 Pengambilan contoh rayap


Setelah satu hingga dua bulan, dilakukan pengamatan terhadap kayu
umpan. Kayu umpan yang terserang rayap dicabut, dan beberapa ekor rayap
(kasta prajurit) dikumpulkan, kemudian dimasukkan ke dalam tabung film dan
diberi alkohol 70%, setelah terlebih dahulu dibersihkan dari tanah dan
kotoran-kotoran yang menempel yang mungkin ikut terbawa pada saat kayu
umpan dicabut. Satu tabung untuk satu titik pengamatan atau satu kayu
umpan.
3. 3. 4 Identifikasi jenis rayap
Rayap yang sudah dikumpulkan diidentifikasi di laboratorium
dengan berpedoman pada literatur atau kunci identifikasi yang sudah ada.
Pada penelitian ini digunakan knci identifikasi dari Thapa (1982) dan Tho
(1992).
3. 3. 5 Pembuatan peta sebaran jenis rayap
Hasil identifikasi digunakan untuk menyusun peta sebaran jenis
rayap yang ditemukan di lokasi penelitian. Peta dibuat berdasarkan titik-titik
pengamatan kayu umpan yang diserang rayap.

28

3. 3. 6 Tingkat keberhasilan dan keamanan pengumpanan


Tingkat

keberhasilan

pengumpanan

dinyatakan

sebagai

perbandingan antara jumlah kayu umpan yang diserang rayap dengan kayu
umpan yang ada, yaitu selisih antara kayu umpan yang disebar dengan kayu
umpan yang hilang, dinyatakan dalam persen. Sedangkan tingkat kamanan
pengumpanan dinyatakan sebagai persentase perbandingan antara jumlah kayu
umpan yang ada dengan kayu umpan yang disebarkan.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4. 1 Tingkat Keberhasilan dan keamanan pengumpanan


Tingkat keberhasilan pengumpanan dinyatakan sebagai perbandingan
jumlah kayu umpan yang dimakan rayap tanah dengan kayu umpan yang ada,
yaitu selisih kayu umpan yang dipasang dengan kayu umpan yang hilang,
dinyatakan dalam persen. Sedangkan tingkat keamanan pengumpanan dinyatakan
sebagai persentase perbandingan jumlah kayu umpan yang ada dengan jumlah
kayu umpan yang disebar.

Tabel 3

Evaluasi pengumpanan rayap tanah pada setiap menara Apartemen


Taman Rasuna

No.
Menara

1
2
3
4
6
7
8
9
10
11
12
14
15
16
17
Jumlah
Rata-rata

Jumlah
Umpan
Disebar
(Unit)

Jumlah
Umpan
Hilang
(Unit)

Jumlah
Umpan
Dimakan
(Unit)

25
19
11
19
11
8
6
6
11
11
8
2
14
13
25
189

6
3
2
4
6
3
1
1
4
5
4
9
48

5
1
1
1
2
2
2
3
17

Tingkat
Keberhasilan
Rata2 (%)

Tingkat
Keamanan
Rata2 (%)

26.32
0
14.29
12.5
0
20
0
40
0
18.18
0
0
22.22
0
18.75
172.26
11.48

76
84.21
77.78
66.67
45.45
62.5
83.33
83.33
63.63
100
100
100
64.29
69.23
64
1012.29
67.49

27

Dari tabel 3 terlihat bahwa nilai rata-rata untuk tingkat keberhasilan


pengumpanan sangat rendah, yaitu hanya sebesar 11.48%. Hal ini disebabkan
berbagai faktor diantaranya gangguan hewan pemangsa atau predator seperti
semut sebagai musuh alami rayap, faktor lingkungan, maupun gejala alam
lainnya. Sedangkan nilai rata-rata untuk tingkat keamanan pengumpanan cukup
tinggi, yaitu sebesar 67.49%. Hal ini tidak terlepas dari bantuan yang diberikan
oleh pihak pengelola apartemen yang memberikan ijin dan keleluasaan bagi
peneliti untuk menempatkan kayu-kayu umpan di areal apartemen sehingga tidak
ada kekhawatiran kayu-kayu umpan tersebut akan hilang akibat perawatan rutin
yang dilakukan oleh pegawai kebersihan dan tukang kebun apartemen.

TINGKAT KEBERHASILAN RATA-RATA


Keberhasilan Rata-rata (%)

45
40
35
30
25
20
15
10
5
0
1

10

11

12

14

15

16

17

No. Menara

Gambar 4 Tingkat keberhasilan pengumpanan.

Dari gambar 4 terlihat bahwa tingkat keberhasilan pengumpanan pada


areal di sekitar menara 9 memiliki nilai paling tinggi, yaitu sebesar 40%,
sedangkan pada areal di sekitar menara 4 adalah yang paling rendah nilainya,
yaitu hanya sebesar 12.5%. Tingkat keberhasilan pengumpanan pada areal di
sekitar menara 2, 6, 8, 10, 12, 14 dan 16 memiliki nilai 0%, yang artinya tidak ada
umpan yang dipasang pada areal di sekitar menara-menara tersebut yang dimakan
oleh rayap. Sedangkan dari gambar 5 dapat dilihat bahwa tingkat keamanan
pengumpanan pada areal di sekitar menara 11, 12 dan 14 memiliki nilai paling

28

besar yaitu 100%, yang artinya tidak ada kayu umpan yang hilang selama
penanaman di areal sekitar menara-menara tersebut. Sedangkan areal di sekitar
menara 6 adalah yang paling rendah nilai keamannnya yaitu sebesar 45.45%.

Tingkat Keamanan Rata-rata


100

Tingkat Keamanan Rata-rata (%)

90
80
70
60
50
40
30
20
10
0
1

10

11

12

14

15

16

17

No. Menara

Gambar 5 Tingkat keamanan pengumpanan

Rendahnya tingkat keberhasilan pengumpanan pada lokasi penelitian


disebabkan oleh banyak faktor diantaranya adanya gangguan dari binatang
pemangsa atau predator seperti semut. Sebagaimana diketahui bahwa semut
sangat menyukai rayap yang kaya akan protein sebagai salah satu sumber
makanannya. Di lokasi penelitian ditemukan beberapa kayu umpan yang sudah
sebagian atau sedikit dimakan rayap namun tidak ditemukan adanya rayap di
sekitarnya. Sebaliknya di sekitar lokasi pengumpanan yang ditinggalkan
ditemukan banyak semut dan tak jarang ditemukan sarang semut juga. Kayu-kayu
umpan tersebut dapat dikenali telah dimakan oleh rayap, dan bukan oleh hewan
lainnya, dengan adanya tanah lembab di sela-sela kayu umpan. Selain itu beberapa
lokasi pengumpanan yang sama sekali tidak diserang rayap diketahui sedang
mengalami perbaikan dan pembangunan gedung-gedung baru disekitarnya. Hal ini
diduga menimbulkan kebisingan dan getaran-getaran yang cukup besar di dalam

29

tanah sehingga tidak ada rayap yang mau menjelajahi lokasi di sekitar
pembangunan tersebut untuk mencari sumber makanan.
Tingkat keamanan untuk pengumpanan memang terbilang tinggi, yaitu
memiliki nilai rata-rata di atas 50%. Namun demikian, meskipun tidak banyak,
adanya kayu-kayu umpan yang hilang akan tetap mempengaruhi hasil penelitian
dan identifikasi, terutama dalam menentukan sebaran jenis rayap pada kawasan
tersebut. Beberapa kayu umpan yang hilang kemungkinan disebabkan beberapa
faktor, seperti semakin lebatnya tanaman-tanaman di sekitar kayu umpan seiring
berlalunya waktu, sehingga kayu umpan yang ditanam 1 hingga 2 bulan
sebelumnya sulit ditemukan kembali. Selain itu faktor manusia juga menjadi
penyebab hilangnya kayu-kayu umpan tersebut, misalnya beberapa kayu umpan
yang ditanam di areal taman terbuka, bagian ujung atasnya yang menyembul di
atas permukaan tanah tidak sengaja terpotong mesin pemotong rumput petugas
kebersihan sehingga bagian kayu umpan yang berada di dalam tanah tidak
diketahui lagi letaknya. Bahkan ada beberapa tukang kebun apartemen yang tidak
mengetahui bahwa kayu-kayu berujung merah yang ditanam di tempat mereka
bekerja itu adalah untuk kepentingan penelitian sehingga tanpa ragu-ragu mereka
mencabut dan membersihkannya.

4. 2 Sebaran Jenis Rayap Tanah


Dari seluruh kayu umpan yang disebarkan di sekitar gedung Apartemen
Taman Rasuna Kuningan, Jakarta, yaitu sebanyak 189 kayu umpan, berhasil
dikumpulkan 17 kayu umpan yang diserang rayap. Hasil identifikasi dan
determinasi menurut Thapa (1982) dan Tho (1992) menunjukkan bahwa seluruh
spesimen tersebut terdiri dari 3 jenis rayap subteran, yaitu Coptotermes
curvignathus Holmgren (famili Rhinotermitidae), Macrotermes gilvus Hagen dan
Odontotermes javanicus Holmgren (famili Termitidae).
Adapun perincian jenis-jenis rayap subteran yang ditemukan pada seluruh
lokasi penelitian dapat dilihat dengan lebih jelas pada table 4.

30

Tabel 4 Keragaman jenis rayap subteran yang menyerang pada setiap menara
No. Menara
Jenis Rayap yang Menyerang
1
1
Macrotermes gilvus Hagen; Odontotermes javanicus Holmgren
2
3
Coptotermes curvignathus Holmgren
3
4
Coptotermes curvignathus Holmgren
4
7
Odontotermes javanicus Holmgren
Odontotermes javanicus Holmgren; Coptotermes curvignathus
5
9
Holmgren
6
11
Odontotermes javanicus Holmgren
Odontotermes javanicus Holmgren; Coptotermes curvignathus
7
15
Holmgren
8
17
Macrotermes gilvus Hagen; Odontotermes javanicus Holmgren
Dari tabel di atas terlihat bahwa terdapat perbedaan dalam hal sebaran
jenis rayap subteran yang menyerang kayu umpan di areal sekitar masing-masing
menara, dimana pada areal di sekitar menara 1, 9, 15 dan 17 masing-masing
ditemukan 2 jenis rayap subteran. Sedangkan pada areal di sekitar menara 3, 4, 7
dan 11 masing-masing ditemukan 1 jenis rayap subteran. Informasi sebaran jenis
ini dapat dilihat dengan lebih jelas pada gambar 6 berikut.

JENIS RAYAP

JENIS RAYAP YANG MENYERANG

11

15

NO MENARA

Odontotermes javanicus

Macrotermes gilvus

Coptotermes curvignathus
Gambar 6 Jenis-jenis rayap yang menyerang menara apartemen.

17

31

Areal di sekitar menara 1 memiliki serangan terbesar pada jumlah kayu


umpan yang disebarkan dibandingkan dengan areal di sekitar menara-menara
lainnya, yaitu sebanyak 5 kayu umpan yang terserang rayap. Hal ini dapat
dimengerti mengingat menara tersebut berlokasi di sekitar taman bermain yang
memiliki areal kebun yang cukup luas. Selain itu menara tersebut juga terletak di
sisi terluar komplek apartemen sehingga halamannya lebih luas jika dibandingkan
dengan menara-menara lainnya, sehingga jumlah kayu umpan yang disebarkan
juga bisa lebih banyak.
Areal di sekitar menara 1, 9, 15 dan 17 mempunyai keragaman jenis rayap
subteran yang sama, yaitu 2 jenis. Walaupun demikian, komposisi jenis rayap
subteran pada areal di sekitar menara 1 dan 17 tidak sama dengan komposisi rayap
subteran pada areal di sekitar menara 9 maupun 15. Dalam hal ini ada 1 jenis
rayap yang ditemukan menyerang kayu-kayu umpan pada areal di sekitar menara
1 dan 17, tetapi tidak ditemukan menyerang kayu-kayu umpan pada areal di
sekitar menara 9 dan 15. Rayap subteran tersebut adalah Macrotermes gilvus
Hagen. Rayap ini bahkan tidak ditemukan pada areal di sekitar menara-menara
lainnya seperti menara 3, 4, 7 dan 11.
Lokasi menara 1 dan 17 sama-sama berada di sisi terluar komplek
apartemen dan saling berseberangan. Keduanya diketahui sama-sama memiliki
areal lahan tanah yang lebih luas dibandingkan menara-menara lainnya. Hal ini
terlihat dari banyaknya jumlah kayu umpan yang bisa dipasang pada areal di
sekitar kedua menara tersebut, yaitu masing-masing sebanyak 25 kayu umpan.
Selain itu juga diketahui bahwa sudut-sudut lahan di sekitar menara 1 dan 17 ini
sering dijadikan tempat penumpukan sampah kering untuk beberapa waktu
sebelum akhirnya dikumpulkan dan dibuang. Kemungkinan faktor-faktor inilah
yang menjadi pemicu timbulnya serangan rayap M. gilvus, dimana ukuran tubuh
dan sarang jenis rayap ini membutuhkan lahan yang cukup luas, ditambah lagi
rayap ini adalah salah satu jenis rayap yang biasanya memelihara jamur di dalam
sarangnya sebagai alternatif makanan selain selulosa tanaman berkayu.
Sedangkan pada areal di sekitar menara-menara yang terletak di tengahtengah komplek apartemen tidak ditemukan adanya serangan jenis rayap subteran
ini. Hal ini diduga erat hubungannya dengan kondisi fisik dan hayati dari masing-

32

masing areal. Menara 3, 4, 7, 9, 11 dan 15 yang terletak di bagian dalam atau di


tengah-tengah komplek apartemen tidak memiliki areal atau lahan yang cukup
luas, kebanyakan telah dilapisi beton dan digunakan sebagai lahan parkir ataupun
taman-taman kecil, dimana taman-taman tersebut dibangun di atas beton dan
hanya dilapisi tanah tipis. Kondisi fisik tersebut jelas bukanlah habitat yang baik
bagi M. gilvus. Tho (1992) menyatakan bahwa habitat rayap subteran M. gilvus ini
juga terdapat pada daerah pemukiman, terutama di taman dan areal parkir yang
luas. Sehingga dapat dimengerti mengapa jenis rayap subteran ini ditemukan pada
lokasi penelitian yang areal kosongnya lebih luas.
Rayap subteran Coptotermes hanya ditemukan menyerang kayu-kayu
umpan pada areal di sekitar menara-menara yang terletak di bagian dalam
komplek apartemen yaitu di menara 3, 4, 9 dan 15. Sedangkan areal di sekitar
menara 1 dan 17 tidak mengalami serangan dari jenis rayap subteran ini. Areal di
sekitar menara-menara apartemen yang terletak di dalam komplek apartemen
relatif lebih bersih lingkungannya, sehingga tidak ada kayu lapuk maupun serasah,
jenis tanaman yang ada pada umumnya terbatas pada tanaman-tanaman kecil atau
jenis bonsai, dan kelembaban udaranya lebih tinggi dibandingkan dengan areal
atau lahan di sekitar menara-menara yang terletak di sisi terluar komplek
apartemen. Meskipun pada dasarnya Coptotermes merupakan penghuni hutan
tropika dataran rendah yang curah hujannya tinggi dan teratur, namun kolonikoloni rayap subteran ini mampu menyesuaikan diri dengan keadaan-keadaan
yang berbeda dengan habitat asalnya, bahkan beberapa jenis diantaranya dapat
menjadi rayap rumah bila daerahnya diubah menjadi wilayah pemukiman. Kondisi
lingkungan yang sangat terbatas nampaknya bukan halangan bagi Coptotermes
karena memang telah diketahui bahwa jenis rayap ini tidak mutlak harus
berhubungan langsung dengan tanah. Coptotermes diketahui mampu hidup dan
membuat sarang di tempat-tempat yang tidak berhubungan dengan tanah selama
tempat tersebut memiliki kelembaban yang senantiasa terjaga, misalnya tempattempat yang mendapatkan kelembaban dari air bocoran atap, tempat-tempat dekat
kamar mandi, di dekat tempat pembuangan air dari pendingin ruangan, dll.
Rayap subteran lainnya yang ditemukan adalah jenis Odontotermes
javanicus Holmgren. Rayap ini ternyata yang paling banyak ditemukan

33

menyerang kayu umpan yang disebarkan di seluruh lokasi penelitian. Dari 7


lokasi di sekitar menara apartemen yang ditemukan adanya serangan rayap, 6
diantaranya terserang oleh rayap ini. Jenis

rayap

ini

seringkali

ditemukan

bersama-sama dengan M. gilvus. Hal ini dikarenakan cara hidupnya yang hampir
sama, yaitu sama-sama memelihara jamur di dalam sarangnya. Meskipun
demikian, O. javanicus ternyata tidak hanya ditemukan pada areal di sekitar
menara-menara apartemen yang terletak di sisi luar lingkungan apartemen seperti
halnya M. gilvus. O. javanicus ternyata ditemukan juga menyerang lokasi
pengumpanan pada areal di sekitar menara-menara apartemen yang terdapat di sisi
bagian dalam lingkungan apartemen, seperti halnya Coptotermes. Akan tetapi jika
Coptotermes di temukan pada lokasi pengumpanan yang kayu-kayu umpannya
dipasang berdekatan dengan gedung atau bangunan, sebaliknya O. javanicus
ditemukan pada kayu-kayu umpan yang dipasang agak berjauhan dengan gedung.
Rayap ini justru seringkali ditemukan berdekatan dengan sistem perakaran
tanaman. Sehingga kemungkinan besar jenis rayap ini tidak atau belum berperan
besar sebagai hama bangunan, tetapi lebih kepada hama tanaman.

1. Macrotermes gilvus Hagen


Sistematika jenis rayap ini adalah sebagai berikut:
Kelas

Insekta

Ordo

Isoptera

Famili

Termitidae

Subfamili

Macrotermitinae

Genus

Macrotermes

Spesies

Macrotermes gilvus

Kepala rayap Macrotermes gilvus Hagen berwarna coklat tua.


Mandibel kanan dan kiri simetris dan tidak mempunyai gigi marginal. Ujung
dari labrum tidak jelas. Labrum ini mempunyai hyalin pada ujungnya. Antena
terdiri dari 16-17 ruas.
Ada dua jenis kasta prajurit dari Macrotermes gilvus Hagen yaitu
kasta prajurit yang besar (mayor) dan kasta prajurit yang kecil (minor). Kasta
prajurit yang dikumpulkan dari lokasi penelitian adalah kasta prajurit mayor,

34

dengan ciri-ciri kepala berwarna coklat tua kemerahan, dengan lebar 2.80-3.00
mm. Antena terdiri dari 16-17 ruas. Labrum dan antena berwarna coklat tua
kemerahan, hampir sama dengan warna kepala. Mandibel berwarna coklat
gelap. Kepala mempunyai

bulu-bulu yang tersebar. Cangkang kepala

berbentuk oval yang melebar, sisi samping pada bagaian depan menyempit.
Fontanel kecil terletak di bagian tengah.

2. Odontotermes javanicus Holmgren


Sistematika jenis rayap ini adalah sebagai berikut:
Kelas

Insekta

Ordo

Isoptera

Famili

Termitidae

Subfamili

Macrotermitinae

Genus

Odontotermes

Spesies

Odontotermes javanicus

Jenis rayap ini adalah yang paling banyak ditemukan di lapangan.


Morfologi dari rayap ini adalah kepala berwarna coklat tua sampai coklat
kemerahan. Bentuk kepala melebar, dengan panjang kepala 2.152.30 mm,
dan lebarnya 1.501.75 mm. Pada mandibel sebelah kiri terdapat gigi
marginal. Antena terdiri dari 17 ruas. Ruas kedua sama panjang atau lebih
pendek dari ruas ketiga.

3. Coptotermes curvignathus Holmgren


Kedudukan rayap tanah Coptotermes curvignathus Holmgren dalam
klasifikasi serangga menurut Ahmad (1965) adalah sebagai berikut:
Kelas

Insekta

Ordo

Isoptera

Famili

Rhinotermitidae

Subfamili

Coptotermitinae

Genus

Coptotermes

Spesies

Coptotermes curvignathus

35

Kasta prajurit rayap ini memiliki kepala berwarna kuning, antena,


labrum dan pronotum kuning pucat. Bentuk kepala bulat, memiliki fontanel
yang lebar. Antena terdiri dari 15-16 ruas. Mandibel berbentuk seperti arit dan
melengkung di ujungnya. Panjang kepala 1,50-1,65 mm. Lebar kepala 1,101,30 mm. Rayap Coptotermes akan mengeluarkan cairan eksudat berwarna
putih susu dari fontanelnya apabila diganggu untuk mempertahankan dirinya
dari musuh.

4. 3 Pendugaan wilayah jelajah rayap


Dilihat dari sejarah berdirinya gedung Apartemen Taman Rasuna ini,
dimana sebelumnya lahan tersebut digunakan sebagai pemukiman penduduk, dan
sebagian besar berupa komplek pemakaman, dapat diduga bahwa koloni rayaprayap tanah ini sudah berada pada lahan ini sebelum pembangunan gedung
apartemen dimulai. Namun jika dilihat dari struktur gedung apartemen yang
mempunyai basement hingga tiga lantai, ada kemungkinan juga seluruh daerah ini
telah dibersihkan sebelum mulai dibangun kembali menjadi apartemen, termasuk
sarang-sarang rayap di dalam tanah. Tetapi ternyata rayap tanah ini dapat muncul
kembali pada lahan yang telah berubah dan sama sekali berbeda dari habitat
aslinya. Hal ini terjadi diduga karena pembangunan gedung apartemen yang telah
merusak habitatnya, membuat rayap-rayap tersebut harus mampu bertahan hidup
dengan sumber makanan yang terbatas, sehingga rayap-rayap tersebut, khususnya
Coptotermes, mencari sumber makanan lain dengan menerobos masuk ke dalam
bangunan gedung apartemen.
Menurut Rilatupa (2007), permasalahan awal terjadi pada saat pelaksanaan
pembangunan gedung, dimanan pekerjaan pembersihan bekisting di pondasi
basement yang berbentuk bahan wadah seringkali tidak tuntas, sehingga sisa-sisa
bahan bekisting dapat menjadi persediaan makanan rayap serta menjaga
keberadaan habitatnya. Hal ini membuat rayap tetap tinggal dan mulai menjelajah
di dalam bangunan. Pemasangan bahan yang terbuat dari panel yang memiliki
rongga udara pada dinding luar juga merupakan media yang dapat digunakan
rayap untuk menembus masuk ke dalam gedung. Pendugaan media lain yang
dapat digunakan rayap untuk masuk ke dalam gedung adalah fasilitas operasional

36

bangunan, seperti peralatan transportasi vertikal (lift), pekerjaan pipa dan sanitasi
plumbing, tata udara (Air Conditioning), pipa instalasi listrik dalam bangunan,
pipa kabel pencahayaan listrik, pipa instalasi penangkal petir, serta peralatan
untuk pencegahan dan penanggulangan bahaya kebakaran.
Di dalam gedung rayap-rayap tersebut kemudian membuat jalur-jalur
kembara yang berbentuk terowongan pipih dari campuran tanah, kotoran dan air
liur rayap. Liang kembara ini tampak keluar dari celah-celah sambungan antara
dinding dan panel beton. Di dalam gedung, hambatan rayap akan musuh alaminya
sangat kecil. Untuk bisa menjangkau seluruh unit apartemen pada lantai tertentu,
koloni rayap masuk ke bagian ruangan yang lembab seperti kamar mandi, WC dan
ruang cuci. Selain itu, aktifitas penghuni apartemen cenderung rendah, dimana
waktu tinggal penghuni apartemen maksimal hanya delapan jam setiap harinya,
sehingga sumber getaran sebagai salah satu penghambat daya jelajah rayap juga
kecil.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5. 1 Kesimpulan
Hasil penyebaran kayu umpan pada seluruh lokasi penelitian menunjukkan
bahwa terdapat tiga jenis rayap tanah yang menyerang pada areal di sekitar
gedung Apartemen Taman Rasuna Kuningan, Jakarta Selatan. Ketiga rayap
tersebut adalah Coptotermes curvignathus Holmgren dari Famili Rhinotermitidae,
Macrotermesgilvus Hagen dan Odontotermes javaicus Holmgren masing-masing
dari Famili Termitidae. Nilai keberhasilan rata-rata pada pengumpanan tersebut
sangat rendah yaitu hanya sebesar 11.48% sedangkan nilai keamanan rata-ratanya
cukup tinggi yaitu 67.49%.
C. curvignathus diketahui menyerang areal di sekitar menara 3, 4, 9 dan
15. Menara-menara tersebut berada di tengah-tengah komplek apartemen yang
lokasinya relatif lebih bersih dan terawat, serta hanya memiliki lahan tanah yang
terbatas. M. gilvus menyerang areal di sekitar menara 1 dan 17, yang letaknya
saling berseberangan dan pada posisi terluar dari komplek apartemen. Lokasi
kedua menara tersebut memiliki lahan kosong dan tanah yang luas, sehingga
diperkirakan cocok sebagai habitat rayap yang ukuran tubuh dan sarangnya besar
ini. O. javanicus adalah yang paling banyak ditemukan pada lokasi penelitian.
Rayap ini menyerang areal di sekitar menara 1, 7, 9, 11, 15 dan 17. Wilayah
serangannya hampir merata pada seluruh lokasi pengumpanan. Selain ditemukan
menyerang areal di sekitar menara yang terletak di bagian terluar komplek
apartemen, rayap ini juga menyerang areal di sekitar menara yang terletak di
bagian dalam komplek apartemen. Namun tidak seperti Coptotermes yang
ditemukan pada kayu-kayu umpan yang dipasang berdekatan dengan bangunan
apartemen, O. javanicus ditemukan pada kayu-kayu umpan yang dipasang dekat
dengan sistem perakaran tanaman. Oleh karenanya diduga rayap ini masih
berperan sebagai hama tanaman, bukan hama bangunan. O. Javanicus juga
ditemukan berdekatan dengan koloni M. gilvus, diperkirakan karena cara hidup
kedua koloni ini hampir sama, yaitu sama-sama memelihara kebun jamur di dalam
sarangnya.

41

Dari uraian tersebut dapat diambil suatu kesimpulan bahwa dari ketiga
jenis rayap tanah yang ditemukan pada lokasi penelitian di Apartemen Taman
Rasuna Kuningan, Jakarta Selatan, Coptotermes curvignathus Holmgren adalah
yang paling berbahaya tingkat serangannya. Karena selain telah dikenal sebagai
hama tanaman, rayap subteran ini juga telah berubah menjadi hama bangunan
pada daerah pemukiman. Bahkan daya jelajah rayap ini secara vertikal mampu
mencapai ketinggian maksimum bangunan tinggi (bangunan dengan lebih dari
delapan lantai) dan tidak dipengaruhi oleh gravitasi.

5. 2 Saran
Dalam pembangunan sebuah gedung, bangunan tinggi khususnya, perlu
dilakukan pendekatan rancang bangun, selain penggunaan penghalang kimia atau
penghalang fisik, untuk meminimalisir kemungkinan terjadinya serangan rayap,
terutama rayap tanah. Penggunaan kayu awet juga perlu dilakukan untuk
mencegah adanya serangan rayap kayu kering. Kebersihan lahan prakonstruksi
juga sebaiknya dijaga agar koloni rayap yang sudah dibersihkan tidak kembali lagi
dengan menjadikan sisa-sisa pengerjaan bangunan sebagai sumber makanan
barunya.
Pencegahan serangan rayap jauh lebih menguntungkan dibandingkan
tindakan pengendalian setelah bangunan rusak terserang rayap. Oleh karena itu
tindakan pencegahan ini sangat perlu dilakukan terutama pada bangunan atau
gedung-gedung tinggi dan peruntukkan kepentingan pemerintah agar umur pakai
bangunan dapat ditingkatkan dan biaya perawatan gedung dapat ditekan.

DAFTAR PUSTAKA

Arinana. 2002. Keefektifan Nematoda Entomopatogen Stinernema sp. dan


Heterohabditis indica sebagai agen hayati pengendali rayap tanah
Coptotermes curvignathus Holmgren (Isoptera : Rhinotermitidae) [Tesis].
Sekolah Pasca Sarjana IPB. Bogor.
Borror DJ, Triplehorn CA, Johnson NF. 1992. Pengenalan pelajaran serangga Ed.
VI. Diterjemahkan oleh drh. Soetiyono Partosoedjono, MSc. Gadjah Mada
University Press. pp : 295 303.
Harris WV. 1971. Termites: Their recognition and control. Ed ke-2. Longman
Group Limited. London.
Khrisna K, Weesner FM. 1969. Biology of termite. Vol. 1. Academic Press. New
York.
------------------------------. 1970. Biology of termites. Vol. II. Academic Press.
New York and London.
Lee KE, Wood TG. 1971. Termites and soil. Academic Press. London and New
York.
Martawijaya A, Kartasujana I, Mandang YI, Prawira SA, Kadir K. 1989. Atlas
kayu Indonesia, Jilid II. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan.
Departemen Kehutanan. Bogor.
Nandika D. 1982. Keragaman jenis rayap subteran yang merusak tegakan serta
frekuensi serangannya di Hutan Alam dan Hutan Tanaman di Yanlappa
[Tesis]. Program Pasca Sarjana IPB. Bogor.
-------------, Raffiudin R, Husaeni EA. 1991. Biologi rayap perusak kayu. Pusat
Antar Universitas Ilmu Hayati IPB. Bogor.
-------------, Rismayadi Y, Diba F. 2003. Rayap: Biologi dan pengendaliannya.
Muhammadiyah University Press, Surakarta.
Rakhmawati D. 1996. Prakiraan kerugian ekonomis akibat serangan rayap pada
bangunan perumahan di Indonesia. Skripsi Jurusan Hasil Hutan, Fakultas
Kehutanan IPB. Tidak dipublikasikan.
Rilatupa J. 2007. Pendugaan indeks kondisi konstruksi akibat serangan rayap pada
komponen bahan berkayu bangunan tinggi [Disertasi]. Sekolah Pasca
Sarjana IPB. Bogor.

43

Rismayadi Y. 1999. Penelaahan daya jelajah dan ukuran populasi koloni rayap
tanah Schedorhinotermesjavanicus Kemner (Isoptera: Rhinotermitidae) serta
Microtermes inspiratus Kemner (Isoptera: Termitidae) [Tesis]. Sekolah
Pasca Sarjana IPB. Bogor.
--------------, Arinana. 2007. Usir rayap dengan cara baru dan ramah lingkungan.
PT Prima Infosarana Media, Jakarta.
Rudi. 1999. Preferensi makan rayap tanah Coptotermes curvignathus Holmgren
(Isoptera : Rhinotermitidae) terhadap 8 jenis kayu bangunan [Tesis].
Sekolah Pasca Sarjana IPB. Bogor.
Subekti N. 2004. Keragaman genetik rayap tanah genus Coptotermes (Isoptera:
Rhinotermitidae) di Pulau Jawa [Tesis]. Sekolah Pasca Sarjana IPB. Bogor.
Sukartana P. 1998. Penembusan rayap tanah Coptotermes curvignathus Holmgren
(Isoptera : Rhinotermitidae) pada berbagai ukuran butiran pasir. Buletin
Penelitian Hasil Hutan 16 ( 2 ) : 93 99.
Sumarni G, Ismanto A. 1992. Pengaruh kadar air dan suhu tanah terhadap
penyebaran rayap tanah. Jurnal Penelitian Hasil Hutan 10 ( 3 ) : 102 104.
Tambunan B, Nandika D. 1989. Deteriorasi kayu oleh faktor biologis.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Direktorat Jendral Pendidikan
Tinggi. Pusat Antar Universitas Bioteknologi IPB. Bogor.
Tarumingkeng RC. 1971. Biologi dan pengenalan rayap perusak kayu Indonesia.
Lap. Lembaga Penelitian Hutan No. 138.
Thapa RS. 1982. Termite of Sabah (East Malaysia). Entomology Branch, Forest
Research and College. Denhra Dun, India.
Tho YP. 1992. Termites of Peninsular Malaysia. Malayan Forest Records No. 36,
Forest Research Institute Malaysia, Kepong. Kuala Lumpur.

LAMPIRAN

43

Lampiran 1. Peta sebaran kayu umpan di lingkungan gedung Apartemen Taman Rasuna

12

17

15

14

11

1
10

16

Menara Apartemen
Sebaran kayu umpan

44

Lampiran 2. Peta sebaran kayu umpan yang terserang rayap di lingkungan gedung Apartemen Taman Rasuna

12

17

15

14
16

11

1
10

Menara Apartemen
Macrotermes gilvus Hagen
Odontotermes javanicus Holmgren
Coptotermes curvignathus Holmgren

45

Lampiran 3. Kunci identfikasi Famili Isoptera menurut Khrisna dan Weesner (1970).
KEY TO THE FAMILY OF ISOPTERA
A. Imago
1.
Hind wing with anal lobe; tarsi distinctly 5-segmented
Hind wing without anal lobe; tarsi 4-segmented or imperfectly 5-segmented

Mastotermitidae
2

2.
Fontaelle absent
Fontanelle present
3.

4.

Ocelli present; cerci 2-segmented; antennae usually with more than 21 segments;
left imago-worker mandible with two marginal teeth;
right imago-worker mandible without subsidiary tooth
Ocelli absent; cerci 3-to 8- segmented; antennae usually with more than 21 segments;
left imago-worker mandible with three marginal teeth (in Hodotermes,
Microhodotermes, and Anachantotermes second marginal tooth much reduced);
right mandible with subsidiary tooth (except in Hodotermes, Microhodotermes,
and Anacanthotermes)
Fore wing scales large, overlapping the hind wing scales;
wing membrane reticulate
Fore wing scales small, not overlapping hind wing scales;
wing membrane not reticulate

Imago-worker mandibles with short apical teeth;


left mandible with three marginal teeth;
right mandible with a subsidiary tooth at base
between apical and first marginal tooth

3
4

Kalotermitidae

Hodotermitidae
5
Termitidae

5.

Rhinotermitidae

46

Imago worker mandibles with large apical teeth;


left mandible with one marginal tooth;
right mandible without subsidiary tooth

Serritermitidae

B. Soldier
1.
2.
3.

4.

5.

Tarsi 5-segmented
Tarsi 4-segmented
Head without fontanelle
Head with fontanelle
Cerci long, 3 to 8-segmented;
antennae generallywith 22 to 23 segments (except in Stolotermes
and Porotermes where less than 19)

Mastotermitidae
2
3
4

Cerci short, 2-segmented; antennae with 19 to 19 segments

Kalotermitidae

Pronotum flat, without anterior lobes


Pronotum shaddle-shaped, with anterior lobes
Mandibles with serrations along entire inner margin
Mandibles without serrations or inner basal region with a few serrations,
as in Heterotermes and Reticulitermes

Hodotermitidae

5
Termitidae
Serritermitidae
Rhinotermitidae

47

Lampiran 4. Peta sebaran rayap di wilayah DKI Jakarta

48

Lampiran 5. Peta lokasi Apartemen Taman Rasuna