Anda di halaman 1dari 15

HYPNO-PRESENTATION

(PRESENTASI EFEKTIF YANG MENGHIPNOTIS AUDIENS)*


------------------------------ZAKARIJA ACHMAT**

PENDAHULUAN
Betapa sering kita dihadapkan pada suatu situasi dimana kita diminta untuk
berbicara, menyampaikan suatu informasi kepada orang lain, sedikit atau banyak.
Setidaknya, kita pernah diminta atau merasa perlu untuk memperkenalkan diri kita,
menginformasikan sesuatu mengenai diri kita sendiri.

Dari pengalaman yang kita

miliki, kita tahu bahwa tidak semua orang bisa melakukannya dengan mudah atau
bisa melakukannya dengan baik.

Bahkan tidak sedikit yang tidak berani

melakukannya, entah karena merasa tidak bisa, merasa kurang percaya diri, atau
karena

tidak

tahu

bagaimana

cara

yang

seharusnya

untuk

melakukannya.

Memperkenalkan diri, menginformasikan hal-hal mengenai diri sendiri, merupakan


salah satu bentuk paling sederhana dari presentasi.
Pada situasi tertentu kita perlu mengkomunikasikan sesuatu agar orang lain
mengetahui, karena kita merasa bahwa orang lain perlu mengetahuinya.
disebut presentasi informatif.

Ini yang

Pada situasi yang lain, kita perlu menginformasikan

atau mengkomunikasikan sesuatu karena kita menginginkan orang lain untuk


melakukan sesuatu, setidaknya mempercayai kita sehingga ia merubah pendapatnya
atau kepercayaannya mengenai sesuatu hal. Ini yang disebut presentasi persuasif.
Presentasi atau menyampaikan suatu informasi secara sengaja kepada orang
lain, adalah suatu ketrampilan yang sebenarnya secara alamiah sudah dimiliki oleh
semua orang.

Akan tetapi, tidak semua orang dapat melakukannya dengan baik

karena mungkin mereka tidak mempelajarinya, tidak mengembangkan ketrampilan


yang secara alamiah sebenarnya telah mereka miliki.

Mereka mungkin dapat

melakukannya, tetapi tidak efektif dalam mencapai tujuan presentasinya.

*) Disampaikan

pada

acara

pelatihan

Character

Building

for

All

yang

diselenggarakan oleh UPT P2KK UMM tanggal 2 April 2011


**) Dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang

MENGAPA KETRAMPILAN PRESENTASI DIPERLUKAN?


Ketrampilan presentasi diperlukan pada hampir semua bidang kehidupan, baik
di bidang pendidikan, pekerjaan, maupun kehidupan sosial.

Dalam kehidupan

sehari-hari, kita sering harus melakukan presentasi. Misalnya, ketika suatu saat kita
sedang duduk-duduk di pos ronda, tiba-tiba seorang pengendara motor mendatangi
kita dan menanyakan alamat seseorang.

Ketika menjawab pertanyaan seseorang

tersebut, kita mengkomunikasikan suatu informasi tertentu.

Kita tidak sekedar

sedang berkomunikasi, kita sedang mempresentasikan sesuatu, mempresentasikan


apa yang kita ketahui terkait dengan pertanyaan seseorang tersebut.

Jelas dan

tidaknya jawaban yang kita berikan terhadap seseorang tersebut tidak hanya
bergantung pada tahu dan tidaknya kita mengenai apa yang ditanyakannya.
Bagaimana cara kita mempresentasikan jawaban tersebut akan mempengaruhi
kejelasan jawaban tersebut.
Bagi mereka yang berkecimpung di dunia pendidikan, terutama yang berkaitan
langsung dengan proses belajar mengajar, baik sebagai pengajar maupun yang diajar,
ketrampilan presentasi merupakan ketrampilan yang sangat penting untuk dikuasai.
Bagi pengajar ketrampilan presentasi merupakan ketrampilan yang mutlak harus
dikuasai, karena setiap kali ia harus mempresentasikan materi pengajarannya
kepada para siswa atau mahasiswanya.

Sebaliknya, bagi siswa atau mahasiswa,

tidak jarang mereka juga harus mempresentasikan apa yang telah mereka pelajari,
atau tugas-tugas yang telah mereka kerjakan.
Dalam dunia kerja, ketrampilan presentasi ini juga sangat diperlukan,
terutama untuk posisi pimpinan yaitu supervisor ke atas, dan jenis-jenis pekerjaan
tertentu.

Misalnya bagi para salesperson, customer service, public relation, trainer,

konsultan bidang apa saja, dan semua jenis pekerjaan pelayanan masyarakat.
Ketrampilan untuk bisa melakukan presentasi yang efektif pada saat ini telah menjadi
standar minimal bagi kebanyakan organisasi atau perusahaan, sehingga dijadikan
sebagai salah satu metode dalam menyeleksi calon karyawan.
Karena begitu pentingnya ketrampilan presentasi bagi mahasiswa dan untuk
dunia kerja nantinya, Fakultas Psikologi Universitas Indonesia sampai menjadikan
Teknik Presentasi sebagai mata kuliah wajib bagi mahasiswanya. Leslie Rae, seorang
pakar pelatihan internasional yang sangat terkenal sampai menjadikan topik
presentasi sebagai salah satu judul buku dari sekian buku yang ditulisnya dalam

suatu seri, The Art of Training and Development. Ia menuliskan tentang bagaimana
menggunakan presentasi (yang efektif) sebagai salah satu penentu keberhasilan
seorang trainer dalam menjalankan pekerjaannya.
Presentasi merupakan ketrampilan dasar berkomunikasi yang sangat penting,
yang akan sangat berguna dalam menunjang keberhasilan seseorang dalam
pendidikan, pekerjaan dan kehidupan sosial kemasyarakatan pada umumnya.
PERSEPSI DAN SELF DALAM KOMUNIKASI
Bagaimana cara kita memandang diri kita akan mempengaruhi bagaimana kita
berkomunikasi. Cara kita memandang dan menilai diri kita sendiri dipengaruhi oleh
bagaimana orang lain memandang dan memperlakukan kita.

Inilah yang disebut

dengan pembentukan konsep diri, persepsi mengenai diri sendiri, yaitu evaluasi dan
penilaian seseorang mengenai dirinya sendiri.
Konsep diri memiliki dua bagian, yaitu gambaran diri (self image), yaitu
bagaimana seseorang memiliki gambaran, apa yang ia percayai mengenai dirinya
sendiri, dan harga diri (self esteem), yaitu bagaimana seseorang menilai, menghargai,
seberapa ia suka terhadap dirinya sendiri.
Bagaimana kita memahami diri sendiri, akan mempengaruhi kepercayaan diri
kita, yang akan terproyeksi pada cara kita berkomunikasi.

Bagaimana kita

memahami diri kita sendiri dan orang lain, serta sebaliknya bagaimana orang lain
memahami diri kita, ini yang disebut dengan persepsi, akan mempengaruhi
bagaimana kita berkomunikasi.
Persepsi bersifat subjektif, artinya setiap orang membangun makna secara
tersendiri terhadap apa yang ditangkap oleh penginderaannya. Apa yang dipahami
oleh seseorang dan orang lain mengenai suatu stimulus, suatu situasi, atau suatu
pesan, bisa berbeda.

Perbedaan persepsi inilah yang sering menimbulkan

kesalahpahaman dalam proses komunikasi.


Kekurang percayaan diri yang muncul dalam bentuk perasaan cemas ketika
harus melakukan presentasi, bersumber dari persepsi terhadap diri sendiri yang
rendah.

Persepsi ini akan terproyeksi pada perilaku kita yang tampak dan pada

akhirnya dipersepsi oleh orang lain sebagaimana kita mempersepsi diri kita sendiri.
Sebagai hasilnya, kita tidak bisa efektif dalam mengkomunikasikan gagasan-gagasan
kita, kita tidak bisa optimal dalam mencapai tujuan presentasi.

Bagaimana mengatasi situasi yang mencemaskan ketika harus melakukan


presentasi?

Kuncinya pada persepsi.

Perasaan cemas tersebut bersumber dari

persepsi kita mengenai pengendalian terhadap situasi. Kita berpikir bahwa kita tidak
memiliki kendali terhadap situasinya. Leslie Rae menganalogikannya dengan orang
yang takut naik pesawat terbang. Sementara, mengapa tidak ada pilot yang takut
terbang?

Karena pilot memegang kendali, sementara seseorang tersebut, si

penumpang, tidak memiliki kendali. Jadi, untuk mengatasi kecemasan ketika harus
melakukan presentasi, kuncinya ada pada persepsi, yaitu siapa yang memegang
kendali. Dalam suatu presentasi, si pembicaralah yang memegang kendali!
MEMPERSIAPKAN PRESENTASI
Bagaimana mempersiapkan dan melakukan suatu presentasi dapat diawali
dari menjawab pertanyaan berikut ini: MENGAPA ANDA memberitahu KAMI tentang
TOPIK INI dengan CARA DEMIKIAN? Jawaban dari pertanyaan tersebut memberikan
gambaran mengenai lima hal penting yang harus diperhatikan, yaitu:

MENGAPA, menunjuk pada maksud dan tujuan dilakukannya presentasi.

ANDA, menunjuk pada si pembicara, bagaimana kredibilitasnya sebagai sumber.

KAMI, menunjuk pada siapa pendengarnya, perlu dianalisis terlebih dahulu.

TOPIK INI, menunjuk pada topik yang dipilih untuk dibicarakan.

CARA DEMIKIAN, menunjuk pada pengorganisasian dan penyampaian pesan (isi


pembicaraan).
Maksud dan tujuan dilaksanakannya suatu presentasi pada dasarnya hanya

ada dua, yaitu untuk menyampaikan informasi (presentasi informatif) atau untuk
mempengaruhi (presentasi persuasif).
KREDIBILITAS PEMBICARA
Ketika seseorang menjadi pembicara dalam sebuah presentasi, semuanya
berawal darinya.

Pembicara adalah pembawa pesan.

pembicara, bisa membuat segalanya menjadi berbeda.

Siapa dan apa diri si

Para pendengar tidak ingin

mendengar sesuatu dari seseorang yang mereka tidak menaruh perhatian padanya.
Para pendengar tidak akan mendengarkan dan menyimpan informasi dari seseorang
yang tidak memiliki hak untuk membicarakan sesuatu subjek atau topik.
Kredibilitas adalah tingkat bagaimana seseorang dapat dipercaya. Kredibilitas
pembicara adalah persepsi pendengar terhadap efektivitas seorang pembicara. Ada

empat aspek paling penting kredibilitas pembicara, yaitu kompetensi, tingkat


kepercayaan, dinamisme, dan common ground (kesamaan orientasi atau latar
belakang).
Aspek pertama kredibilitas pembicara adalah kompetensi, yaitu derajat dimana
seorang pembicara dipersepsi sebagai terampil, berpengalaman, memiliki kualifikasi,
memiliki otoritas, reliabel atau ajeg, dan dikenal.

Seorang Trie Utami akan lebih

didengar pendapatnya dibanding Nafa Urbach ketika memberi komentar tentang


penampilan seseorang dalam menyanyi atau menjadi juri di sebuah ajang pencarian
bakat menyanyi.
Aspek

kedua

kredibilitas

pembicara

adalah

tingkat

kepercayaan

(trustworthiness), menunjuk pada derajat dimana seorang pembicara dipersepsi


sebagai jujur, adil, bersahabat, menyenangkan dan perhatian pada orang lain.
Seseorang yang banyak tersenyum ketika berbicara dan menjawab pertanyaan
pendengarnya, akan lebih mendapat perhatian dibanding yang berbicara dengan
ekspresi datar dan kurang bersahabat.
Aspek yang ketiga yaitu dinamisme, menunjuk pada derajat dimana seorang
pembicara dipersepsi sebagai berani, aktif, enerjik, kuat, empatik, dan asertif.
Seorang pembicara yang bisa memainkan intonasi, mendekat kepada penanya ketika
menjawab pertanyaan, menggunakan gerakan tubuhnya untuk mengekspresikan isi
pembicaraannya, lebih dipercaya dibanding pembicara yang hanya duduk di kursi
atau berdiri terpaku di belakang mimbar.
Aspek yang keempat adalah common ground (kesamaan orientasi atau latar
belakang), yaitu derajat dimana nilai-nilai, kepercayaan, sikap, dan ketertarikan
(interes) pembicara dimiliki secara bersama dengan para pendengar. Bagi kalangan
kampus, gagasan-gagasan Prof. Dr. H.M. Amin Rais lebih bisa diterima dibanding
gagasan-gagasan yang dikemukakan oleh Jenderal Wiranto.

Aspek keempat ini

merupakan aspek kredibilitas yang sangat penting terutama dalam presentasi


persuasif.
Kredibilitas bersifat dinamis, bisa berubah dari waktu ke waktu, dari
presentasi ke presentasi. Kredibilitas bergantung pada topik, pendengar dan situasi,
yang bisa sangat berbeda antara sebelum, ketika, dan setelah presentasi. Hal yang
terpenting bagi seorang pembicara terkait dengan kredibilitas adalah bagaimana bisa
memantapkan dan memelihara kredibilitas yang telah terbangun. Seorang pembicara

yang

efektif

akan

terus

belajar

dan

mengambil

langkah-langkah

untuk

memaksimalkan dan memelihara kredibilitasnya pada setiap presentasinya.


MENGANALISIS PENDENGAR
Seorang pembicara perlu mengetahui dengan siapa ia berbicara agar efektif
dalam mencapai tujuan berbicara. Menganalisis pendengar adalah mengumpulkan
dan menginterpretasi karakteristik-karakteristik pendengar melalui berbagai metode,
misalnya observasi, kuesioner atau interview.
Ada empat tingkatan dalam menganalisis pendengar.
1. Analisis tingkat pertama adalah apakah pendengar kita terpaksa atau sukarela.
Pendengar yang terpaksa adalah mereka yang mendengarkan pembicara bukan
karena

keinginannya

sendiri,

misalnya

seorang

kehadirannya karena ditugaskan oleh atasannya.

peserta

seminar

yang

Seorang pembicara perlu

memotivasi terlebih dahulu pendengar jenis ini agar mereka mau mendengarkan.
Pendengar yang sukarela adalah pendengar yang memang menginginkan dan
memilih untuk mendengarkan si pembicara.

Untuk pendengar jenis ini, akan

lebih mudah bagi seorang pembicara untuk menyampaikan gagasan-gagasannya.


Mengetahui terlebih dahulu apakah pendengarnya terpaksa atau sukarela, penting
bagi seorang pembicara.
2. Analisis tingkat kedua adalah analisis demografis, yaitu pengumpulan dan
interpretasi terhadap data-data mengenai karakteristik pendengar seperti: usia,
jenis kelamin, tingkat pendidikan, agama, pekerjaan, status sosial ekonomi, dsb.
Pengetahuan akan karakteristik demografis ini akan banyak membantu dalam
menemukan common ground.
3. Analisis tingkat ketiga adalah ketertarikan dan pengetahuan pendengar tentang
topik yang dibicarakan.

Ketertarikan di sini adalah relevansi dan pentingnya

suatu topik bagi pendengar, kadang-kadang berhubungan dengan keunikan suatu


topik.

Pengetahuan pendengar adalah seberapa banyak informasi yang dimiliki

oleh pendengar mengenai topik yang dibicarakan.


4. Analisis tingkat keempat adalah sikap, kepercayaan dan nilai-nilai yang dianut
pendengar. Sikap adalah predisposisi untuk merespon secara positif atau negatif
(suka - tidak suka, setuju tidak setuju) terhadap seseorang, suatu objek, sebuah
gagasan, atau suatu kejadian.

Kepercayaan adalah apa yang dipercayai, yang

mendasari sikap seseorang. Nilai adalah dasar dari kepercayaan seseorang.

Ada beberapa metode yang bisa dilakukan untuk menganalisis pendengar.


1. Observasi, yaitu melakukan pengamatan dengan menggunakan seluruh indera
untuk mengumpulkan informasi mengenai pendengar. Seorang pembicara yang
efektif secara terus-menerus melakukan observasi sepanjang presentasi dan
menjadikan hasil pengamatannya sebagai umpan balik untuk terus melakukan
penyesuaian-penyesuaian.
2. Kuesioner, yaitu mengajukan pertanyaan-pertanyaan tertulis untuk memperoleh
data-data mengenai (calon) pendengar, pada umumnya mengenai data demografis
dan informasi tentang sikap.

Bisa juga kuesioner ini digunakan untuk

mengetahui apakah pendengar adalah pendengar yang terpaksa atau sukarela.


3. Interview, yaitu mengajukan pertanyaan-pertanyaan secara langsung kepada para
(calon) pendengar.
Setelah mengumpulkan dan menginterpretasi berbagai informasi mengenai
karakteristik pendengar, selanjutnya yang harus dilakukan oleh seorang pembicara
adalah melakukan penyesuaian-penyesuaian. Penyesuaian tersebut meliputi:

Menyesuaikan

diri

sendiri,

misalnya

dalam

hal

berpakaian,

berperilaku,

berbahasa, dsb.

Menyesuaikan isyarat-isyarat verbal dan nonverbal yang digunakan. Apakah akan


menggunakan

bahasa

yang

formal,

menggunakan

sindiran-sindiran,

menggunakan tanya jawab yang interaktif, menggunakan bahasa-bahasa yang


teknis, banyak menggunakan angka-angka dan statistik? Apakah lebih baik tetap
duduk di kursi atau berdiri di mimbar, atau berjalan ke sisi kiri dan sisi kanan
penggung, atau berkeliling mendekati pendengar?

Apapun pilihannya, harus

didasarkan atas hasil analisis pendengar.

Menyesuaikan topik yang dibicarakan.

Jika ternyata topik yang telah dipilih

untuk diinformasikan telah dimiliki oleh (calon) pendengar, penyesuaian bisa saja
dilakukan dengan memberi penekanan atau menggunakan sudut pandang yang
berbeda dalam membahas topik atau isu tersebut.

Menyesuaikan tujuan.

Sebuah presentasi pada awalnya ditujukan untuk

mempersuasi pendengar untuk merubah sikapnya terhadap poligami, tetapi


ternyata pendengar memiliki sikap negatif yang sangat kuat terhadap poligami.
Tujuan presentasi bisa saja diubah menjadi presentasi informatif, dengan sekedar

memberikan gambaran mengenai dampak negatif dan positif poligami terhadap


kesehatan, misalnya.

Menyesuaikan bahan-bahan pendukung.

Misalnya, pada pendengar dengan

karaktersitik tertentu penggunaan benda-benda konkrit untuk contoh lebih efektif


dibanding menggunakan ilustrasi atau sekedar gambar-gambar.

MEMILIH TOPIK
Memilih topik yang akan dipresentasikan seringkali memakan waktu yang
lama karena dilakukan dengan cara hanya membayang-bayangkannya saja.

Jika

dilakukan menurut langkah-langkah yang tepat, memilih topik tidak membutuhkan


waktu yang lama.
Langkah-langkah yang bisa dilakukan dalam memilih topik presentasi adalah
sebagai berikut:
1. Melakukan brainstorming secara individual, yaitu berpikir dan menuliskan
mengenai sebanyak mungkin topik dalam batas waktu tertentu, kemudian
memilih beberapa di antaranya, hingga akhirnya dapat menentukan satu topik
yang akan cocok untuk diri dan pendengar kita.
2. Melakukan inventarisasi pribadi, yaitu melakukan survei terhadap diri sendiri
mengenai apa saja yang pernah kita baca dan melihat kebiasaan-kebiasaan dan
perilaku kita untuk menemukan topik-topik yang sebenarnya menggambarkan
interes kita. Sebuah presentasi berawal dari diri, apa yang kita tahu, pengalaman
yang kita miliki, atau apa yang ingin kita pelajari. Mulailah dari hal yang paling
kita sukai atau menarik perhatian kita.
3. Mempertimbangkan keterlibatan kita pada topik tersebut. Kita mungkin tertarik
pada beberapa hal, tetapi belum tentu kita memiliki keterlibatan di dalamnya.
Keterlibatan kita pada suatu hal atau topik dapat meningkatkan kredibilitas kita
sebagai pembicara.
4. Memeriksa pengetahuan kita mengenai topik tersebut.

Kita perlu memeriksa

pengalaman kita terkait dengan topik tersebut terlebih dahulu, apakah ada suatu
pengalaman yang belum pernah kita bagi kepada orang lain, kemudian mencoba
membicarakan topik tersebut dengan orang lain yang kita ketahui memiliki
pengetahuan tentang topik yang sama.

Selanjutnya kita perlu memperkuat

pengetahuan tersebut dari sumber-sumber lain seperti buku-buku, majalah,


koran dan internet.
Ketika topik sudah ditentukan, seringkali masih terlalu luas, sehingga perlu
dipersempit. Dengan memilih topik yang lebih sempit, kita bisa lebih fokus dalam
mengumpulkan informasi, dan bisa menyingkirkan banyak informasi yang kurang
relevan.

Cara paling umum dalam mempersempit suatu topik adalah dengan

membuatnya menjadi lebih spesifik dan konkrit.

Salah satu teknik yang bisa

dilakukan untuk mempersempit topik adalah dengan membuat peta konsep.


Kadang-kadang,

seseorang

harus

mempresentasikan

suatu

topik

yang

ditentukan oleh pihak lain, sehingga yang harus dilakukan adalah mempersempit
topiknya dengan menurunkannya pada beberapa subtopik terlebih dahulu, baru
kemudian menempuh langkah-langkah sebagaimana diuraikan di atas.
MENGORGANISASIKAN PRESENTASI
Sebuah presentasi pada dasarnya hanya berisi tiga bagian, pendahuluan
bagian inti kesimpulan.

Selanjutnya akan dibahas bagaimana masing-masing

bagian tersebut dipersiapkan dan dilakukan.


Pendahuluan
Pendahuluan adalah hal yang penting bagi seorang pembicara karena pada
saat tersebut pendengar mengukur pembicara.

Pada beberapa kalimat pertama

pada menit-menit awal dari suatu presentasilah para pendengar memutuskan apakah
ia akan mendengarkan atau tidak dengan mempertimbangkan apakah topik yang
akan dibicarakan menggugah minat mereka atau tidak.

Pada menit-menit yang

menentukan di awal presentasi tersebut seorang pembicara dapat memenjara


perhatian para pendengar dan membuat mereka tetap fokus, atau sebaliknya akan
kehilangan perhatian mereka.
Ada lima fungsi utama pendahuluan dari suatu presentasi, yaitu:
1. mendapatkan

dan

memelihara

perhatian

pendengar,

dengan

melibatkan

pendengar pada topik yang dibicarakan. Beberapa yang bisa disarankan untuk
itu:

membawa suatu objek atau seseorang yang dibicarakan

mengajak peserta untuk berpartisipasi

menggunakan pakaian yang berhubungan dengan topik presentasi

mengajak pendengar berimajinasi

memulai dengan gambar-gambar atau suara-suara tertentu

membangkitkan keingintahuan pendengar

bermain peran (role playing)

menunjukkan beberapa slide atau film atau klip video pendek

menampilkan suatu kutipan pendek yang sudah banyak dikenal atau meminta
pendengar untuk membaca sesuatu yang sudah disiapkan

Menyatakan fakta-fakta atau statistik yang mencengangkan

Membuka diri (self disclosure)

Menceritakan suatu cerita, menggunakan narasi

2. membangkitkan ketertarikan pendengar. Cara terbaik untuk ini adalah dengan


menunjukkan dengan jelas bagaimana topik tersebut berhubungan dengan
pendengar, menghubungkan suatu topik dengan pendengarnya
3. menyatakan maksud dan tujuan dari suatu presentasi, terutama pada presentasi
informatif. Dalam presentasi informatif pendengar lebih bisa belajar dan mengerti
jika jelas apa yang kita harapkan dari mereka. Pada presentasi persuasif justru
sebaliknya, maksud dan tujuan sebaiknya tidak dikemukakan di awal.
4. memantapkan kualifikasi kita, dengan mendeskripsikan kualifikasi khusus yang
kita miliki untuk meningkatkan kredibilitas.

Ini bisa dilakukan dengan

menceritakan pengalaman, penelitian-penelitian yang pernah dilakukan, para ahli


yang pernah kita temui,

pendidikan dan pelatihan yang pernah diikuti terkait

dengan topik yang dibicarakan. Perlu berhati-hati untuk tidak terkesan memuji
diri sendiri dan tidak perlu menyatakan bahwa karenanyalah kita memiliki
otoritas untuk berbicara tentang topik tersebut.
5. memberi gambaran di depan bagaimana pengorganisasian presentasi tersebut,
akan berlangsung berapa lama, poin-poin apa saja yang akan dibicarakan,
semacam daftar isi dari sebuah buku. Pendengar akan merasa lebih nyaman jika
mereka mengetahui apa yang bisa mereka harapkan.
Bagian Inti
Bagian inti menempati porsi terbesar dari suatu presentasi dimana kita dapat
menempatkan argumen-argumen dan gagasan-gagasan, bukti-bukti dan contohcontoh,

serta

penggambaran-penggambaran

dan

sesuatu

yang

kita

percayai

10

kebenarannya.

Kebanyakan

pembicara

dalam

menyusun

suatu

presentasi

memulainya dari bagian inti terlebih dahulu, bukan dari pendahuluannya.


Jika informasi dan bahan-bahan sudah terkumpul, kita perlu memutuskan
yang mana yang harus ditempatkan di awal, di tengah atau di akhir dari bagian inti
tersebut.

Menyeleksi, memprioritaskan dan mengorganisasikan merupakan tiga

ketrampilan yang akan digunakan dalam mengembangkan bagian inti presentasi.


Fungsi utama dari bagian inti adalah:
1. meningkatkan

pengetahuan

pendengar

mengenai

suatu

topik

(presentasi

informatif)
2. merubah sikap atau tindakan-tindakan pendengar terkait dengan suatu topik
(presentasi persuasif)
3. menunjukkan sejumlah argumen atau gagasan yang terbatas
4. memberi dukungan pada argumen-argumen atau gagasan-gagasan kita
5. menunjukkan sumber-sumber informasi, argumen, dan bahan-bahan pendukung
Kesimpulan
Bagian ketiga dari presentasi adalah kesimpulan, yaitu telaah ringkas dan
kata-kata akhir yang menantang dari suatu presentasi.

Kesimpulan ini memiliki

beberapa fungsi, antara lain:


1. memberi tanda awal kepada pendengar bahwa kita sudah akan sampai pada
bagian akhir
2. mengingatkan pendengar

gagasan-gagasan

inti

kita

dan poin-poin

utama

presentasi kita
3. mengkhususkan apa yang seharusnya pendengar pikirkan atau lakukan sebagai
respon terhadap presentasi kita
4. mengakhiri presentasi dengan suatu cara yang membuat pendengar ingin berpikir
dan melakukan apa yang kita rekomendasikan
ISYARAT SUARA DAN ISYARAT TUBUH DALAM PRESENTASI
Sebagai salah satu bentuk komunikasi, dalam presentasi juga diperlukan
penggunaan komunikasi nonverbal, baik dalam isyarat suara maupun isyarat
nonverbal yang lain.

Penggunaan isyarat-isyarat nonverbal yang tepat akan

membantu memperkuat penyampaian pesan dalam presentasi.

11

Terkait langsung dengan pesan verbal yang disampaikan, isyarat suara adalah
hal yang sangat penting untuk diperhatikan. Isyarat suara ini meliputi:

Pitch, yaitu tinggi rendahnya nada atau suara.

Pitch inilah yang membedakan

antara Wow ketika kita kagum setelah melihat sesuatu dengan Wow ketika kita
kecewa setelah tahu sesuatu. Pembicara yang baik akan menggunakan rentangan
tinggi rendahnya nada yang luas secara normal.

Kecepatan, yaitu kecepatan dalam menyampaikan presentasi.

Berbicara terlalu

cepat menandakan adanya kecemasan. Ukuran cepat atau lambat ini bergantung
kebiasaan, tetapi di dalam presentasi perlu ada variasi, tergantung pada apa
pesannya

dan

siapa

pendengarnya,

tergantung

pada

situasi.

Ketika

menyampaikan sesuatu yang sangat penting dan kompleks, biasanya perlu pelanpelan dan jika perlu ada pengulangan.

Jeda, yaitu diam atau meniadakan suara sejenak untuk memberi efek dramatis,
transisi atau menekankan gagasan.

Hati-hati dengan penggunaan suara tanpa

makna seperti: ee..., ee.., untuk mengisi kesunyian, karena berdampak negatif
pada persepsi pendengar mengenai kompetensi pembicara. Demikian pula dengan
jeda yang terlalu lama bisa dipersepsi negatif.

Sebaliknya, jangan takut

menggunakan jeda hanya karena takut dinilai lupa atau kurang lancar.

Volume, yaitu keras lemahnya suara. Dalam hal ini tidak berarti bahwa dalam
presentasi suara harus selalu keras.

Variasi keras lemahnya suara dapat

menggambarkan emosi, tingkat kepentingan, kekhawatiran dan perubahan


makna.

Pengucapan dan artikulasi, yaitu ketepatan dan kejelasan dalam pengucapan


kata-kata. Ini perlu diperhatikan terutama pada kata-kata yang jarang digunakan
atau kata-kata asing, karena menggambarkan penguasaan pembicara mengenai
yang dibicarakannya.

Kelancaran, yaitu tiadanya kesulitan dalam penyampaian dan bagaimana katakata mengalir tanpa hambatan. Kelancaran dalam penyampaian menggambarkan
penguasaan dan keyakinan pembicara akan apa yang disampaikannya.

Variasi suara, menunjuk pada kualitas suara, pola intonasi (naik turunnya nada),
tinggi rendahnya nada, panjang pendeknya dan pemenggalan suku kata.

Isyarat nonverbal lain yang perlu diperhatikan terkait dengan penyampaian materi
presentasi meliputi:

12

Gestur, yaitu gerakan-gerakan kepala, lengan dan tangan untuk menggambarkan,


menekankan atau menandai gagasan-gagasan.

Ekspresi wajah.

Wajah merupakan bagian tubuh yang paling ekspresif.

Naik

turunnya alis, lebar sempitnya kelopak mata, lengkungan bibir, naik turunnya
pipi, semuanya secara alamiah menggambarkan perasaan seseorang.

Kontak mata, menunjuk pada hubungan yang penuh arti dan terus menerus
dengan mata para pendengar.

Adanya kontak mata menggambarkan perhatian

dan kepercayan diri. Menghindari kontak mata menggambarkan yang sebaliknya.

Perpindahan, yaitu apa yang dilakukan oleh pembicara terhadap tubuhnya.


Kadang-kadang

perpindahan

sulit

dilakukan

karena

pembicara

harus

menggunakan mikrofon yang tak mungkin dipindahkan atau dibawa-bawa,


adanya mimbar atau adanya benda-benda di dalam ruangan yang membatasi.
Perpindahan umumnya diperlukan ketika pembicara harus menggunakan alat
bantu visual, misalnya menunjukkan suatu objek, menulis atau menggambar di
papan tulis.

Yang perlu diperhatikan dalam hal ini adalah jangan sampai

kehilangan kontak mata terlalu lama, dan hati-hati dengan membelakangi


pendengar.
PENGGUNAAN ALAT BANTU VISUAL
Salah satu alasan utama perlunya menggunakan alat bantu visual adalah
bahwa orang cenderung lebih banyak belajar dan mengingat ketika mereka melihat
dan mendengarkan.

Alat bantu visual adalah apa saja yang bisa dilihat oleh

pendengar untuk tujuan memperkuat suatu pesan.


Pembicara yang efektif tahu kapan kata-kata saja tidak mencukupi untuk
membawa suatu pesan. Beberapa pesan lebih efektif jika dikomunikasikan melalui
gambar.

Gunakan alat bantu visual ketika dapat mempermudah pemahaman,

misalnya

menggunakan

grafik

ketika

menjelaskan

statistik

penduduk

atau

perubahan-perubahan kondisi keuangan makro.


Penggunaan alat bantu visual membutuhkan kepekaan kita mengenai apa
yang sulit dipahami pendengar kita jika hanya menggunakan kata-kata. Alat bantu
visual tidak selalu diperlukan pada setiap presentasi.
Alat bantu visual yang bisa digunakan dalam suatu presentasi misalnya:

13

Papan tulis, biasanya merupakan alat bantu visual yang paling siap untuk
digunakan.

Kita bisa menuliskan angka-angka, fakta-fakta, sesuatu yang detil,

yang sulit dikemukakan secara lisan. Kita juga bisa menuliskan kata-kata penting
atau yang tidak biasa, misalnya suatu istilah asing yang kita gunakan dalam
presentasi.

Overhead Projector bisa memproyeksikan tulisan dan gambar pada kertas atau
plastik transparan dengan menggunakan alat tulis khusus.

Yang perlu diingat

adalah besarnya tulisan dan atau gambar harus cukup memadai.

Videoclips dan film. Untuk menggunakan videoclips dan film sebagai alat bantu
visual, pertimbangkan kesiapan peralatannya. Pertimbangkan juga bahwa ketika
kita mengoperasikannya, kadang kita perlu mematikan lampu ruangan tersebut,
sehingga sebagai pembicara kita kurang bisa mengamati reaksi atau respon
pendengar untuk mendapatkan umpan balik. Panjang pendeknya klip video dan
film juga harus dipertimbangkan, jangan sampai lebih panjang dari yang kita
sampaikan

secara

lisan.

Jangan

sampai

klip

video

atau

film

tersebut

menggantikan peran kita sebagai pembicara.

Foto-foto dan gambar-gambar. Untuk foto-foto, gunakan ukuran poster. Memberi


kesempatan kepada pendengar untuk melihat foto-foto secara bergilir bisa
mengganggu perhatian mereka pada presentasi kita.

Model, objek fisik, dan binatang.

Bantuan model dan objek fisik akan sangat

membantu ketika kita mempresentasikan suatu rancangan atau bagaimana


mengoperasikan suatu peralatan tertentu, misalnya rancangan pakaian, atau
bagaimana mengoperasikan alat pemecah biji mede. Membawa binatang sebagai
alat

bantu

dalam

suatu

presentasi,

misalnya

menjelaskan

bagaimana

membedakan ular berbisa dan tidak berbisa dan bagaimana cara menangkapnya,
bisa saja dilakukan.

Yang perlu dipertimbangkan ketika membawa binatang

sebagai alat bantu presentasi adalah jangan sampai ia justru menyita perhatian
pendengar.

Handouts, merupakan salah satu cara yang efektif untuk mengkomunikasikan


pesan-pesan yang sulit disampaikan secara verbal.

Misalnya, akan sulit bagi

pendengar untuk mendengar dan mengingat daftar nama tumbuhan yang bisa
kita jadikan obat penurun panas, atau bagaimana langkah-langkah pertolongan
pertama pada orang yang disengat kalajengking, sehingga penggunaan handout

14

akan sangat membantu. Yang perlu dipertimbangkan adalah kapan sebaiknya ia


dibagikan agar tidak mengganggu perhatian pendengar pada kita sebagai
pembicara, dan juga jangan sampai ia justru menggantikan kita sebagai
penyampai pesan.

Presentasi elektronik, yaitu menggunakan bantuan program perangkat lunak


seperti misalnya Microsoft Power Point.

Penggunaan program perangkat lunak

semacam ini memerlukan ketrampilan tersendiri.

Yang penting diperhatikan

adalah jangan sampai para pendengar justru terkesima dengan kecanggihan


teknologi tersebut sehingga perhatiannya terhadap isi pesan menjadi berkurang.
Yang sering terjadi, dengan Power Point seorang presenter memindahkan naskah
presentasinya ke slide dan kemudian sekedar mengajak pendengar untuk
membacanya bersama-sama. Ingat, teknologi tersebut hanyalah alat bantu kita
dalam presentasi, kitalah yang presentasi, bukan teknologi tersebut.
Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam menggunakan alat bantu
visual:
1. Jangan berbicara pada alat bantu visual kita, tetap arahkan pandangan kita pada
para pendengar.
2. Tampilkan alat bantu visual hanya ketika kita menggunakannya.

Sebelum dan

sesudah didiskusikan, ia biasanya menjadi suatu gangguan yang tidak perlu bagi
para pendengar.
3. Yakinkan bahwa semua orang yang di dalam ruangan dapat melihatnya. Pastikan
juga bahwa kita tidak berdiri di depan alat bantu visual tersebut sehingga
menghalangi pandangan pendengar terhadapnya.
4. Biarkan alat bantu visual di depan para pendengar dalam waktu secukupnya
sehingga mereka dapat menyerap pesannya.
5. Gunakan penunjuk (misalnya laser pointer) atau sisi dalam tangan kita untuk
menunjuk alat bantu visual kita. Menggunakan penunjuk akan menjaga kita agar
tidak menghalangi pandangan pendengar, menggunakan sisi dalam tangan kita
menghindarkan kita dari membelakangi pendengar.

15