Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PENDAHULUAN

APPENDICSITIS
STASE KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH
RSUD dr. R GGOETHENG TAROENADIBRATA PURBALINGGA

Oleh :
Terra Angganis

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN
JURUSAN KEPERAWATAN
PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI
PURWOKERTO
2012
1

APPENDICSITIS
A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Apendiks adalah organ tambahan kecil yang meyerupai jari dan
melekat pada sekum tepat dibawah katup ileosekal yang panjangnya kira
kira 10 cm (4 inci). Karena ependiks mengosongkan diri dengan tidak
efisien dan lumennya kecil, maka apendik mudah mengalami obstruksi dan
rentan terhadap infeksi. Apendiks ini merupakan bagian dari saluran
gastrointestinal yang juga rentan terhadap inflamasi akut yang disebabkan
oleh bakteri, virus atau jamur, penyebab paling umum inflamasi akut pada
kwadran bawah kanan rongga abdomen sehingga menjadi penyebab umum
untuk dilakukan pembedahan darurat abdomen.
Apendiksitis terjadi kirakira 7 % dari populasi akan mengalami
apendiksitis pada waktu yang bersamaan pada hidup mereka, jenis kelamin
pria lebih sering dari pada wanita dan remaja lebih sering dari pada orang
tua. Appendiksitis lebih sering menyerang pada usia 10 sampai 30 tahun.
Appendiksitis perforasi adalah merupakan komplikasi utama dari
appendiks, dimana appendiks telah pecah sehingga isi appendiks keluar
menuju rongga perineum yang dapat menyebabkan peritonitis atau abses
(Subhan, 2000).
2. Tujuan
Tujuan dari pembuatan laporan pendahuluan adalah:
a. Untuk mengetahui tinjauan teori dari appendiksitis meliputi pengertian,
etiologi, patofisiologi, tanda dan gejala, pemeriksaan penunjang,
pathway.
b. Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada pasien dengan appendiksitis
meliputi diagnosa keperawatan yang mungkin muncul dan rencana
keperawatan.

B. Tinjauan teori
1. Definisi
Appendiks adalah ujung seperti jari yang kecil panjangnya kira-kira
10 cm 94 inci), melekat pada sekum tepat di bawah katup ileosekal.
Appendiks berisi makanan dan mengosongkan diri secara teratur ke dalam
sekum. Karena pengosongannya tidak efektif dan lumennya kecil,
appendiks cenderung menjadi tersumbat dan rentan terhadap infeksi.
Appendikitis merupakan peradangan pada appendiks (umbai cacing).
Appendiksitis perforasi adalah merupakan komplikasi utama dari appendiks,
dimana appendiks telah pecah sehingga isi appendiks keluar menuju rongga
perinium yang dapat menyebabkan peritonitis atau abses (Brunner et al,
2002).
2. Etiologi
a. Penyebab belum pasti
b. Faktor yang berpengaruh:
1) Obstruksi: hiperplasi kelenjar getah bening (60%), fecalit (massa keras
dari feses) 35%, corpus alienum (4%), striktur lumen (1%).
2) Infeksi: E. Coli dan steptococcus.
3) Tumor (Corwin, 2007).
3. Patofisiologi
Apendik belum diketahui fungsinya dan merupakan bagian dari
sekum. Peradangan pada apendik dapat terjadi oleh adanya ulserasi dinding
mukosa atau obstruksi lumen (biasanya oleh fecolif/faeses yang keras).
Penyumbatan pengeluaran sekret mukus mengakibatkan perlengketan,
infeksi dan terhambatnya aliran darah. Dari keadaan hipoksia menyebabkan
gangren atau dapat terjadi ruptur dalam waktu 24-36 jam. Bila proses ini
berlangsung terus-menerus organ disekitar dinding apendik terjadi
perlengketan dan akan menjadi abses (kronik). Apabila proses infeksi sangat
cepat (akut) dapat menyebabkan peritonitis. Peritonitis merupakan
komplikasi yang sangat serius. Infeksi kronis dapat terjadi pada apendik,
tetapi hal ini tidak selalu menimbulkan nyeri di daerah abdomen
(Maurytanis, 2003).
4. Tanda dan gejala
3

a. Nyeri kuadran bawah terasa dan biasanya disrtai dengan demam ringan,
mual, muntah dan hilangnya nafsu makan.
b. Nyeri tekan local pada tititk McBurney bila dilakukan tekanan.
c. Nyeri tekan lepas dijumpai
d. Terdapat konstipasi atau diare
e. Nyeri lumbal, bila appendiks melingkar dibelakang sekum
f. Nyeri defekasi, bila appendiks berada dekat rektal
g. Nyeri kemih, jika ujung appendiks berada di dekat kandung kemih atau
ureter.
h. Pemeriksaan rektal positif jika ujung appendiks berada di ujung pelvis
i. Tanda Rovsing dengan melakukan palpasi kuadran kiri bawah yang
secara paradoksial menyebabkan nyeri kuadran kanan.
j. Apabila appendiks sudah ruptur, nyeri menjadi menyebar, disertai
abdomen terjadi akibat ileus paralitik (Sjamsuhidayat, 1999).

Cemas

Obsruksi lumen

Pembedahan

Appendicitis

Nyeri

sekresi mukus , ekskresi

Inflamasi

Peregangan apendik
Tekanana intra luminal

5. Pathway
Tekanan diafgragma

Distensi abdomen

Hipoksia apendik

Mual dan muntah

Peristaltik

Ulcerasi dan
infasi
4

Kekurangan volume cairan

Konstipasi

Nekrosis

6. Komplikasi
Komplikasi utama appendiksitis adalah perforasi appendiks yang
dapat berkembang menjadi peritonitis atau abses. Insidensi perforasi 1032%. Perforasi terjadi 24 jam setelah awitan nyeri. Gejala mencakup demam
dengan suhu 37,7OC atau lebih tinggi, penampilan toksik dan nyeri abdomen
atau nyeri tekan abdomen yang kontinyu (Soeparman, 1990).
7. Penatalaksanaan
Appendiktomi adalah pengangkatan terhadap appendiks terimplamasi
dengan prosedur atau pendekatan endoskopi.
a. Appendiktomi cito (app akut, abses dan perforasi)
b. Appendiktomi elektif (app kronik)
c. Konservatif kemudian operasi elektif (app infiltrate)
Pembedahan diindikasikan bila diagnosa appendiksitis telah ditegagkan.
Antibiotik dan cairan IV diberikan sampai pembedahan dilakukan.
Analgetik dapat diberikan setelah diagnosa ditegagkan.

Appendiktomi

dilakukan

segera

mungkin

untuk

menurunkan

risiko

perforasi.

Appendiktomi dapat dilakukan dengan spinal anastesi atau anestesi umum


dengan insisi abdomen bawah atau dengan laparoskopi (Barbara, 2000).
8. Pemeriksaan penunjang
a. Pemeriksaan laboratorium
1) Leukosit : 10.000 - 18.000 / mm3
2) Netrofil meningkat 75 %
3) WBC yang meningkat sampai 20.000 mungkin indikasi terjadinya
perforasi (jumlah sel darah merah)
b. Rongent (Barbara, 2000).
C. Asuhan keperawatan
1. Pengkajian
a. Anamnesa
1) Nyeri (mula-mula di daerah epigastrum, kemudian menjalar ke titik
McBurney).
2) Muntah (rangsang visceral)
3) Panas (infeksi akut)
b. Pemeriksaan fisik
1) Status generalis
a) Tampak kesakitan
b) Demam (37,7 oC)
c) Perbedaan suhu rektal > oC
d) Fleksi ringan art coxae dextra
2) Status lokalis
3) Rovsing sign (+) pada penekanan perut bagian kontra McBurney
(kiri) terasa nyeri di McBurney karena tekanan tersebut merangsang
peristaltic usus dan juga udara dalam usus, sehingga bergerak dan
menggerakkan peritonium sekitar apendiks yang sedang meradang
sehingga terasa nyeri.
4) Psoas sign (+) m. Psoas ditekan maka akan terasa sakit di titik
McBurney

(pada

appendiks

retrocaecal)

karena

merangsang

peritonium sekitar app yang juga meradang.

Ada 2 cara memeriksa :1. Aktif : Pasien telentang, tungkai kanan lurus
ditahan pemeriksa, pasien memfleksikan articulatio coxae kanan maka
akan terjadi nyeri perut kanan bawah. 2. Pasif : Pasien miring kekiri,
paha kanan dihiperekstensikan pemeriksa, nyeri perut kanan bawah
5) Obturator sign (+) fleksi dan endorotasi articulatio costa pada
posisi supine, bila nyeri berarti kontak dengan m. obturator internus,
artinya appendiks di pelvis. Obturator sign adalah rasa nyeri yang
terjadi bila panggul dan lutut difleksikan kemudian dirotasikan kearah
dalam dan luar (endorotasi articulatio coxae) secara pasif, hal tersebut
menunjukkan peradangan apendiks terletak pada daerah hipogastrium
6) Peritonitis umum (perforasi)
a) Nyeri diseluruh abdomen
b) Pekak hati hilang
c) Bising usus hilang.
7) Rectal touch: (Rothrock, 2000)
2. Diagnosa
Preoperatif:
a. Nyeri akut b.d agen injuri biologi
b. Kekurangan volume cairan berhubungan kehilangan cairan aktif
c. Konstipasi berhubungan dengan penurunan motilitas gastrointestinal
d. Cemas b.d prosedur invasif
e. Kurang pengetahuan tentang penyakit b.d kurang paparan informasi
Pasca operatif:
a.

Nyeri akut b.d agen injuri biologis

b.

Risiko infeksi berhubungan dengan tindakan invasif

c.

PK. Perdarahan

3. Intervensi
No
.

Diagnosa
keperawatan

Tujuan dan kriteria hasil


Preoperatif

Nyeri akut b. d. Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3


x 24 jam, nyeri hilang/terkendali yang dibuktikan
Agen injuri biologi

Pain managem
-

dengan indikator :
No

Indikator

komphrehen
lokasi, karak
frekuensi, k
nyeri dan fa

Awal Akhir
-

2.

Cemas
berhubungan
dengan prosedur
invasif

Mengenali faktor penyebab


Mengenali lamanya (onset)
sakit (skala, intensitas,
frekuensi dan tanda nyeri)
3. Menggunakan metode nonanalgetik untuk
mengurangi nyeri
4. Melaporkan bahwa nyeri
berkurang dengan
menggunakan manajemen
nyeri
5. Ekspresi wajah tampak
rileks
6. Tanda vital dalam rentang
normal
Keterangan:
1. Keluhan ekstrim
2. Keluhan berat
3. Keluhan sedang
4. Keluhan ringan
5. Tidak ada keluhan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1
x 24 jam, di harapkan cemas hilang dengan kriteria
hasil :

lingkungan
seperti suhu
kebisingan

1.
2.

No Indikator
Awal
1
Klien
mampu
mengidentifikasi
dan
mengungkapkan
gejala
cemas
2
Mengidentifikasi,
mengungkapkan
dan
menunjukkan
tehnik
untuk mengontol cemas
3
Vital sign dalam batas
normal
4
Postur tubuh, ekspresi
wajah, bahasa tubuh dan
tingkat
aktivitas
menunjukkan
berkurangnya kecemasan
Keterangan:

Akhir

farmakologi
Vital Sign Moni
-

nadi, suhu, s
Medication Man
-

program the
Environmental
-

ruangan yan
-

Gunakan
menenang
Nyatakan
terhadap p
Jelaskan s
dirasakan
Temani
keamanan
Berikan i
diagnosis,
Libatkan k
klien
Instruksik
mengguna
Dengarkan
Identifikas
Bantu pa
menimbul
Dorong p
perasaan,

3.

Kurang
pengetahuan
tentang penyakit

1. Keluhan ekstrim
2. Keluhan berat
3. Keluhan sedang
4. Keluhan ringan
5. Tidak ada keluhan
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 1 x
30 menit klien memahami tentang penyakitnya
dengan kriteria hasil :

b.d kurang paparan

No

informasi

1.

Indikator

Awal

Akhi
r

Pasien dan keluarga


menyatakan
pemahaman tentang
penyakit, kondisi,
prognosis dan
program pengobatan
2.
Pasien dan keluarga
mampu melaksanakan
prosedur yang
dijelaskan secara
benar
3.
Pasien dan keluarga
mampu menjelaskan
kembali apa yang
dijelaskan
perawat/tim kesehatan
lainnya
Keterangan:
1. Keluhan ekstrim
2. Keluhan berat
3. Keluhan sedang
4. Keluhan ringan
5. Tidak ada keluhan

1. Kaji tingk
keluarga
2. Jelaskan p
bagaimana
anatomi da
tepat.
3. Gambarka
muncul p
yang tepat
4. Gambarka
cara yang
5. Identifikas
dengan car
6. Sediakan i
kondisi, de
7. Sediakan
tentang ke
yang tepat
8. Diskusikan
penangana
9. Dukung p
atau men
dengan
diindikasik
10. Eksplorasi
dukungan,

4.

Kekurangan
volume cairan
berhubungan
dengan hilangnya
cairan aktif

5.

Konstipasi
penurunan
motilitas
gastrointestinal

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1


x 24 jam, di harapkan keseimbnagan volume
cairan tercapai dengan kriteria hasil :
No
1.

Indikator
Awal Akhir
Tekanan darah, nadi,
suhu tubuh dalam
batas normal
2.
Tidak ada tanda tanda
dehidrasi, Elastisitas
turgor kulit baik,
membran
mukosa
lembab, tidak ada rasa
haus yang berlebihan
3.
Orientasi
terhadap
waktu dan tempat baik
4.
Jumlah dan irama
pernapasan
dalam
batas norma
5.
Elektrolit, Hb, Hmt
dalam batas normal
6.
Intake
oral
dan
intravena adekua
Keterangan:
1. Keluhan ekstrim
2. Keluhan berat
3. Keluhan sedang
4. Keluhan ringan
5. Tidak ada keluhan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3
x 24 jam, di harapkan konstipasi hilang dengan
kriteria hasil :
No
1.

Indikator
Pola BAB dalam batas
normal
2.
Cairan dan serat
adekuat
3.
Aktivitas adekuat
4.
Hidrasi adekuat
Keterangan:
1. Keluhan ekstrim
2. Keluhan berat
3. Keluhan sedang
4. Keluhan ringan

Awal Akhir

10

1. Pertahankan
yang akurat
2. Monitor st
membran m
darah ortost
3. Monitor ha
retensi caira
urin, albumi
4. Monitor vita
5. Kolaborasi p
6. Monitor stat
7. Berikan cair
8. Dorong kelu
makan
9. Atur kemun
10. Persiapan un

1. Identifikasi
menyebabka
2. Monitor
bowel/perito
3. Jelaskan p
tindakan pad
4. Konsultasik
peningkatan
5. Kolaborasi
konstipasi y
6. Jelaskan pad
dan serat) te
7. Jelaskan
menggunaka
lama
8. Kolaburasi
serat dan ca

5. Tidak ada keluhan

9. Dorong pe
optimal
10. Sediakan pr
BAB
Post operatif

1.

Nyeri akut b. d. Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3


x 24 jam, nyeri hilang/terkendali yang dibuktikan
Agen injuri biologi
dengan indikator :
No

Indikator

komphrehen
lokasi, karak
frekuensi, k
nyeri dan fa

Awal Akhir

1.

2.

Pain managem

Mengenali faktor
penyebab
2. Mengenali lamanya
(onset) sakit (skala,
intensitas, frekuensi dan
tanda nyeri)
3. Menggunakan metode
non-analgetik untuk
mengurangi nyeri
4. Melaporkan bahwa nyeri
berkurang dengan
menggunakan manajemen
nyeri
5. Ekspresi wajah tampak
rileks
6. Tanda vital dalam rentang
2
5
normal
Keterangan:
1. Keluhan ekstrim
2. Keluhan berat
3. Keluhan sedang
4. Keluhan ringan
5. Tidak ada keluhan
Resiko
infeksi Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2
x 24 jam pasien tidak mengalami infeksi dengan
berhubungan
kriteria hasil:
dengan tindakan
No
Indikator
Awal Akhir
invasif
1. Klien bebas dari tanda
dan gejala infeksi
2. Menunjukkan
kemampuan
untuk
mencegah timbulnya
infeksi
3. Jumlah leukosit dalam
11

lingkungan
seperti suhu
kebisingan
-

farmakologi
Vital Sign Moni
-

nadi, suhu, s
Medication Man
-

program the
Environmental
-

ruangan yan
-

1. Pertahankan
2. Batasi pengu
3. Cuci tangan
tindakan kep
4. Tingkatkan
5. Berikan tera
6. Monitor tan
dan lokal
7. Pertahankan
8. Inspeksi ku
terhadap kem
9. Monitor ada
10. Dorong mas

batas normal
Menunjukkan perilaku
hidup sehat
5. Status
imun,
gastrointestinal,
genitourinaria dalam
batas normal
Keterangan:
1. Keluhan ekstrim
2. Keluhan berat
3. Keluhan sedang
4. Keluhan ringan
5. Tidak ada keluhan
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 1 x
5 jam diharapkan pendarahan tidak terjadi dengan
kriteria hasil :
4.

3.

PK: perdarahan

Perawat akan menangani atau mengurangi


komplikasi dari perdarahan

12

11. Dorong istir


12. Ajarkan pas
gejala infeks
13. Kaji suhu ba

1. Pantau juml
melalui daer
2. Pantau TTV
dan nadi

DAFTAR PUSTAKA

Barbara, C.L. (2000). Perawatan Medikal Bedah (Suatu Pendekatan proses keperawatan),
Bandung.
Brunner & Suddarth, 2002, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, alih bahasa: Waluyo
Agung., Yasmin Asih., Juli., Kuncara., I.made karyasa, EGC, Jakarta.
Carpenito,Lynda Juall. 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan.EGC. Jakarta.
Corwin, E. K. (2007). Buku Saku Patofisiologi.Jakarta : EGC
Doengoes, M.E. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman untuk Perencanaan dan
Pendokumentasian Perawatan Pasien. EGC. Jakarta.
Kuliah ilmu penyakit dalam PSIK UGM. (2004). Tim spesialis dr. penyakit dalam RSUP
dr.Sardjito, yogyakarta.
Maurytania, A.R, (2003), Buku Saku Ilmu Bedah, Widya Medika, Yogyakarta.
Rothrock,Jane C. (2000). Perencanaan Asuhan Keperawatan Perioperatif. EGC. Jakarta.
Sjamsuhidajat. R & Jong,Wim de.(1999) Buku Ajar Ilmu Bedah. Ed. Revisi. EGC. Jakarta
Soeparman, dkk. (1990). Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. Balai Penerbit FK UI: Jakarta.
Subhan. (2000). Diktat Kuliah Medikal Bedah II. PSIK FK.Unair. TA: 2000/2001.
Surabaya.

13